20 Juli 2010

“Takdir” dan nasib malang Oidipus


Ahad lalu, sewaktu mencari perlengkapan sekolah untuk Sekar yang akan masuk SD, saya menemukan buku menarik: Oidipus Sang Raja karya Sopokles, yang diterjemahkan oleh Rendra. Ini buku terbitan Pustaka Jaya yang sejak lama dikenal sebagai penerbit buku-buku sastra kelas dunia. Banyak buku lama yang diterbitkan kembali oleh Pustaka Jaya. Buku Oidipus ini salah satunya. Buku ini pernah diterbitkan pada 1976 lalu dicetak ulang pada tahun 2009.

Satu tahun belakangan ini saya tertarik dengan mitos-mitos Yunani, jadi buku Oidipus ini langsung menggoda mata. Apalagi diterjemahkan oleh Rendra. Dan sayup-sayup saya seperti ingat ada istilah oidipus complex (atau oedipus complex) kendati saya tidak tahu persis apa artinya. Maka saya belilah buku seharga Rp35.000 itu.

***

Oidipus atau Oedipus adalah sosok yang malang. Sewaktu lahir, dia dibuang oleh orangtuanya. Alasannya, ayahnya yang Raja Thebes itu mendengar ramalan (nujuman atau tujuman) yang menyatakan bahwa dirinya akan dibunuh oleh anaknya dan istrinya akan dikawini oleh anaknya itu.

Oidipus yang masih bayi diberikan kepada penggembala ternak dalam keadaan kaki terpaku (atau terikat dengan ikatan yang dipaku). Namun si gembala ternyata tidak membunuh sang bayi. Dia justru membuka paku yang mengikat sang bayi dan memberikan bayi itu kepada gembala lain di perbatasan negara. Asumsinya, toh bayi ini sudah dibawa begitu jauh dari Thebes, tak mungkin dia akan kembali ke Thebes untuk memenuhi ramalan yang dikhawatirkan itu.

Ternyata gembala dari negeri lain memberikan bayi itu kepada rajanya yang mandul, Raja Corintha. Oidipus, yang konon artinya berkaki cacat—sebagai dampak paku ketika dia dibuang-- dipelihara sebagai anaknya. Dia dianggap sebagai anak dan menganggap diri sebagai anak kandung Raja Corintha.

Sampai suatu ketika dia diejek sebagai bukan anak Raja. Dia marah sekali, lalu mengadu ke Dewa. Dia justru mendapat ramalan alias nujuman alias tujuman yang menggetarkan: Oidipus akan membunuh ayah kandungnya dan menikahi ibu kandungnya, serta akan memiliki anak yang mengerikan.

Oidipus pun ketakutan dengan sabda Dewa itu. Dia melarikan diri dari Corintha untuk menghindari “takdir” buruknya: membunuh ayah dan menikahi ibu kandungnya. Dia menganggap ayahnya adalah Raja Corintha sehingga dia pergi sejauh-jauhnya dari sana. Dan, sialnya, dia justru pergi ke Thebes, tempat ayah dan ibu kandungnya berada tanpa dia ketahui.

Dalam perjalanan dia berjumpa dengan seorang tua dengan lima pengiring yang tak lain adalah Laius, Raja Thebes. Oidipus tidak tahu bahwa orang yang ditemuinya adalah Raja Thebes. Mereka berselisih dan Oidipus membunuh sang raja beserta pengiringnya. Hanya satu pengiringnya yang lolos yaitu si gembala yang kebetulan adalah gembala yang menyelamatkan bayi Oidipus sekian tahun sebelumnya.

Ketika itu Thebes sedang ditimpa masalah terkait dengan Sphink. Oidipus datang dan mengalahkan Sphink. Dia berhasil membebaskan Thebes dari ancaman Sphink. Beberapa waktu sebelumnya negeri itu kehilangan rajanya karena terbunuh di jalan oleh entah siapa, maka Oidipus sang pahlawan pun dinobatkan sebagai Raja Thebes menggantikan Laius. Dia lalu menikahi Jocasta, istri Laius, yang sebenarnya adalah ibunya sendiri.

Gembala yang selamat, ketika kembali ke istana, menemukan bahwa Oidipus sudah menjadi raja. Jadi dia melaporkan bahwa Laius dibunuh oleh sekawanan perampok, lalu dia minta diri untuk hidup menyepi jauh dari pusat kota, menjauh dari Ibukota Thebes.

Maka demikianlah. Laius yang diramal akan dibunuh oleh anaknya sudah berupaya sedemikian rupa mengindarkan diri, namun gagal. Jocasta, istri Laius yang membuang Oidipus, juga telah melakukan upaya semaksimal mungkin, namun tidak berhasil. Adapun Oidipus, yang juga menghindarkan diri dari ramalan itu, ternyata malah mengalami nasib yang jauh lebih tragis daripada dua orangtuanya.

***
Kisah dalam buku Oidipus Sang Raja ini dimulai ketika Oidipus sudah menjadi raja. Dia sudah menikah dengan Jocasta, namun tidak banyak tahu tentang raja sebelumnya, Lauis. Thebes terserang bencana. Oidipus mengutus kerabatnya untuk mencari sabda Dewa di Delphi.

Lalu datanglah petunjuk agar Thebes mengusut siapa pembunuh raja terdahulu, Laius. Karena tidak sadar akan siapa dirinya, Oidipus dengan lantang mengumumkan hukuman sangat berat bagi siapa yang terbukti membunuh raja terdahulu. Dia bersumpah untuk menegakkan hukum itu.

Lalu dimulailah pengusutan. Pertama-tama didatangkan pendeta buta yang ternama. Dia dianggap tahu siapa yang membunuh raja terdahulu. Namun pendeta buta itu bungkam. Katanya, kalau rahasia itu dibuka, kehancuranlah yang terjadi, bencanalah yang akan menimpa Oidipus.

Namun Oidipus justru menganggap pendeta buta itu berkomplot untuk menjatuhkan dirinya. Oleh sang pendeta dia dikutuk untuk menjadi buta seperti dirinya. Oidipus juga menuduh adik iparnya berkomplot. Dialog antara Oidipus dengan adik iparnya, Creon, soal pembagian dan minat terhadap kekuasaan sungguhlah menarik.

Kemudian satu per satu fakta terkuak. Dimulai ketika Jocasta bercerita tentang lokasi kematian Laius yangternyata cocok dengan lokasi Oidipus membunuh seorang tua dan beberapa pengiringnya.

Datanglah utusan dari Corintha yang mengabarkan kematian Raja Corintha dan menjelaskan bahwa Oidipus bukanlah anak raja Corintha. Utusan itulah yang menerima sang bayi Oidipus dari gembala di perbatasan dua negeri.

Terakhir, dipanggillah sang gembala yang juga bekas budak istana Laius. Dialah yang membuka semua rahasia mengenai siapa Oidipus, bagaimana dia dibuang, dipaku, diselamatkan, lalu diberikan kepada orang Corintha.

***
Maka terbukalah fakta-fakta yang sangat menyakitkan. Oidipus yang melarikan diri dari Corintha untuk menghidar dari "takdir” membunuh ayahnya, ternyata justru datang ke Thebes dan menjadi pembunuh Laius.

Dia juga menghindar dari Corintha agar tidak menikahi ibunya, ternyata akhirnya juga menikah dengan Jocasta dan menghasilkan anak-anak yang sekaligus adalah adik-adiknya.

Jocasta yang sangat malu akhirnya bunuh diri. Oidipus yang merasa sangat terhina, sial, celaka, tak dikehendaki kehadirannya di dunia, meminta adik iparnya, yang pernah dia tuduh berkomplot menjatuhkannya, agar membuangnya ke tempat di mana dia dulu hendak dibuang dan dibunuh oleh orang tuanya.

Oidipus merasa tidak sanggup melihat dunia, jadi menusuk kedua matanya hingga buta. Buta seperti pendeta yang dihinanya. Namun dia tak lupa menitipkan anak-anaknya kepada Creon. Oidipus sendiri tidak sanggup menatap anak-anaknya karena anak itu lahir dari rahim ibu kandungnya.

Mengapa tidak bunuh diri saja? Oidipus merasa kalau mati dia akan bertemu dengan arwah ayah ibunya di alam lain. Dia tidak sanggup. Jadi dia memilih hukuman yang lebih berat dari mati. Buta, diasingkan, tanpa ada orang yang berbicara padanya. Bahkan dia pun ingin membuat telinganya tuli, kalau bisa.

Begitulah nasib tragis Oidipus. Orang yang berusaha menghindari "takdir" buruk namun tidak kuasa. Nasib buruknya sudah ditentukan, dan tak bisa dihindari. Duhai alangkah malang kehidupannya.

***
Membaca soal takdir buruk yang diketahui sebelum terjadi itu mengingatkan saya akan kisah Khidr. Khidr, dalam perjalanan yang diikuti Musa, membunuh anak kecil yang, berdasarkan pengetahuan yang diberikan Allah kepada Khidr, diketahui akan menyesatkan orang tuanya kelak bila dia dibiarkan hidup.

Bukankah itu seperti menghindari “takdir” dan ternyata berhasil?

Hal lain yang menarik dari Oidipus adalah istilah oedipus complex yang ternyata digunakan oleh Sigmund Freud untuk menyebut orang yang terobsesi akan ibunya. Kalau merujuk pada kisah karya Sopokles yang diterjemahkan Rendra ini, pemaknaan oedipus compex semacam itu kok jadi kurang pas. Yang seperti itu mungkin lebih tepat disebut sangkuriang complex.

Menarik sekali membaca terjemahan Rendra. Naskah drama itu tetap puitis.
Misalnya, begini kata Oidipus dalam gundahnya:
Aku setuju. Demikianlah hendaknya.
Namun begitu, panggillah si gembala
Buatlah cepat dan jangan tertunda
Sekarang, marilah masuk istana


Dan beginilah jawaban Jocasta
Baiklah, tak akan tertunda
Sekarang marilah masuk istana
Saya akan berbuat segalanya
Asal bisa menghibur Paduka


Dalam buku ini, kita bisa menemukan banyak kata yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya Delphi, Oracle, Apollo, Oedipus (complex).

Wallahu alam. (Setyardi Widodo)

*) Lama sekali rasanya saya tidak menulis khusus untuk blog. Nyaris dua bulan vakum. Kalau boleh beralasan, penyebabnya adalah kesehatan yang menurun dan beban pekerjaan yang meningkat. Saya sempat didera batuk, flu, masuk angin, serta sakit mata. Otomatis kegiatan membaca buku nyaris terhenti, kegiatan menulis juga terganggu. (Memang paling gampang cari pembenaran, hehehe)

06 Juli 2010

Meramal masa depan


Tidak banyak yang tahu bahwa Nokia, perusahaan yang produk ponselnya ada di seluruh penjuru dunia, semula adalah perusahaan pembuat sepatu boot karet.

Perusahaan Finlandia itu didirikan sejak 1865, atau 145 tahun yang lalu. Nokia pernah melakukan investasi besar-besaran dalam bidang industri kertas dan bubur kertas. Pada dekade 1920-an, perusahaan itu meluaskan bisnis ke bidang kabel dan karet, lalu pada dekade 1950-an mulai merambah ke sektor elektronika.

Pada 1970-an, perusahaan itu mulai membuat telepon seluler. Namun langkah paling drastis baru diambil oleh Jorma Ollila yang menjabat sebagai CEO pada dekade 1980-an.
Saat itu Ollila dihadapkan pada masalah rumit karena sebagian besar pelanggannya, yaitu Uni Soviet, terancam bangkrut. Maka Ollila mengambil langkah perubahan drastis dengan memfokuskan bisnis pada sektor telekomunikasi seluler. Nokia melepaskan semua bisnis yang lain dan menggantungkan diri pada bisnis handset seluler yang berbasiskan mikroprosesor.

Langkah besar Ollila ini terbukti berhasil membuat Nokia menjadi pemain terbesar dalam bisnis handset seluler dunia hingga saat ini. Cerita mengenai Nokia oleh Eric Garland dijadikan sebagai salah satu pembuka dalam buku Future Inc.

Garland mengontraskan keberhasilan Nokia ini dengan langkah Eastman Kodak yang dianggapnya tidak berhasil menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia fotografi digital. Padahal pada masa sebelumnya Kodak sangat berkuasa dalam dunia fotografi berbasis film.

Hal yang kontras antara Nokia dan Kodak, menurut Garland, menggambarkan bagaimana masa depan dapat menmpengaruhi bisnis. Ada kehadiran pesaing baru, substitusi produk, dan sebagainya yang mengadang di depan.

Meramal masa depan adalah harapan manusia sejak dahulu kala. Manusia umumnya merasa lebih beruntung bila bisa tahu, atau paling tidak memperkirakan, apa yang akan terjadi di masa depan. Dengan pemahaman yang lebih lengkap mengenai masa depan, orang maupun organisasi berharap bisa melakukan tindakan antisipasi.

Kemampuan meramal masa depan lebih penting lagi bagi para pengambil keputusan. Tentu saja bukan ramalan masa depan seperti yang dilakukan oleh Nostradamus yang terkenal itu. Future Inc menegaskan bahwa meramal masa depan secara spesifik dan detail adalah mustahil. Akan tetapi, Garland mencoba memberi panduan bagaimana memahami tren yang mungkin mengubah hidup dan bisnis.

Dia juga mencoba menjelaskan bagaimana mengevaluasi ramalan-ramalan terbaik dari para ahli, lalu menyatukannya dalam skenario baru tentang masa depan.

Buku karya Garland ini disertai dengan contoh konkret yang memudahkan pembacanya untuk mengerti bagaimana menjadi seorang futuris. Misalnya, dia mengajak pembaca untuk meramal masa depan cokelat melalui analisis STEEP (society, technology, economics, ecology, and politics).

Dalam bidang society atau masyarakat, masa depan cokelat di AS perlu dikaitkan dengan wabah diabetes yang kian menjadi perhatian serta maraknya gejala obesitas pada anak-anak. Dalam hal teknologi perlu dilihat hadirnya cara pengemasan yang lebih canggih dan modern.

Garland memberikan contoh bahwa obesitas pada anak-anak telah mencapai proporsi yang dahsyat di AS sehingga ada kemungkinan masyarakat menyalahkan para pemasar permen cokelat dan memposisikan mereka seperti perusahaan tembakau.

Pada bagian pertama buku ini mengajarkan bagaimana pola pikir futuris, misalnya melalui analisis STEPP. Bagian kedua buku ini menjelaskan perkembangan terbaru yang berpotensi mempengaruhi masa depan. Sebagai contoh, Garland banyak memaparkan mengenai perkembangan bioteknologi, teknologi nano, teknologi informasi, serta pemeliharaan kesehatan.

Versi bahasa Indonesia buku ini cukup enak dibaca kendati ada beberapa istilah teknis yang kadang terasa membingungkan. (Setyardi Widodo)

*) Bisnis Indonesia, 4 Juli 2010

16 Juni 2010

Belajar dari Sang Penakluk


Genghis Khan adalah salah satu penakluk terbesar dunia. Kekuasaan yang dihimpunnya membentang dari Samudra Pasifik hingga Laut Kaspia. Ini setara dengan empat kali lipat pencapaian Iskandar Agung, serta dua kali lipat wilayah kekaisaran Romawi. Anak dan cucu Genghis Khan berhasil melebarkan kekuasaannya hingga menjangkau daratan yang lebih jauh.

Genghis, kadang ditulis sebagai Jenghis atau Chingis, sewaktu muda diberi nama Temujin. Ayah Genghis, seorang pemimpin klan bernama Yusigei, terkesan dengan panglima pasukan musuh bernama Temujin. Maka anaknya yang kelak menjadi pendiri kekaisaran besar itu diberi nama Temujin.

Yusigei tewas ketika Genghis masih sangat muda. Keluarganya disingkirkan oleh rival-rival ayahnya yang sebenarnya berasal dari klan yang sama. Karena ditinggal ayahnya dan disingkirkan oleh pemuka klan, ibunya yang bernama Hoelin mengambil peran besar dalam kehidupan Ghengis.

Ghenghis mengenang ibunya dengan penghormatan yang tinggi. Ibunya terus berperan besar dalam kehidupan Genghis bahkan ketika dia telah menjadi seorang khan. Peran ibunya menonjol terutama dalam konflik-konflik keluarga.

Ketika masih remaja, Genghis bertengkar dengan saudara tirinya. Karena lepas kendali, dia membunuh saudara tirinya, Begter. Ibunya marah besar dalam kejadian ini. Nasihat ibunya dalam kejadian ini terus dikenangnya. Genghis muda belajar banyak dari kasus ini.

Dalam keadaan tersisih dan disingkirkan, Genghis berupaya menghimpun kembali kejayaan ayahnya yang pernah menjadi pemimpin klan. Langkahnya jelas tidak mudah.

John Man berusaha mengidentifikasi kelebihan yang dimiliki Genghis sehingga bisa meraih pencapaian yang luar biasa.

Dia berupaya merumuskan konteks apa yang membentuk Genghis Khan, dan apa yang ingin diubahnya, apa yang ingin dicapainya, perangkat apa yang digunakannya, kharisma dan hakikat daya tariknya, karakter dan sumber kepribadiannya, apa yang berhasil diraihnya, bagaimana moralitasnya, serta bagaimana menilai kelebihannya.

Buku ini memberikan perhatian besar terhadap masa muda, masa pembentukan Genghis. Dia adalah anak tertua dalam keluarga yang ditinggal oleh seorang ayah. Hal ini membentuk karakternya sebagai orang yang harus memikul tanggung jawab besar dalam keluarga.

Menyadari potensi dan posisinya, Genghis berupaya menjalin kembali aliansi dengan para bekas sahabat ayahnya dari klan lain. Salah satunya yang sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan dan nilai tawar Genghis adalah Toghril.

Suatu ketika Genghis muda mengalami masalah karena istrinya, Borte, diculik oleh klan Merkit. Dia meminta bantuan Toghril untuk merebut kembali istrinya melalui operasi militer. Operasi itu sukses, namun berjalan lama. Yang lebih repot, hal itu menyisakan masalah terkait siapakah ayah dari anak tertua Borte yang diberi nama Jochi. Adik-adik Jochi sering menghinanya sebagai anak jadah atau anak Merkit.

Ini sempat menimbulkan konflik keluarga. Di sanalah terlihat peran Borte, Hoelin, dan Jochi begitu menonjol. John Man menggarisbawahi bagaimana langkah Genghis dalam mengatasi konflik keluarga.

Buku ini memberikan uraian menarik mengenai nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Genghis seperti kesetiaan. Lawan dan kawannya tahu persis sikap Genghis dalam menghargai kesetiaan ini. Hal ini terlihat dari cara dia menghukum mati Jamukha, salah seorang sahabatnya di kala muda.

Menyadari keterbatasan kemampuan timnya dalam mengelola negara yang besar dan luas, Genghis pun mempekerjakan ahli-ahli dari China serta kawasan barat yang ditaklukkannya. John Man menyebutnya sebagai kemampuan untuk ‘mempekerjakan yang terbaik’.

John Man menutup buku ini dengan menguaraikan 18 kompetensi pribadi dan kompetisi sosial yang ada dalam diri Genghis Khan. (Setyardi Widodo)

*) Bisnis Indonesia edisi Minggu, 13 Juni 2010

30 Mei 2010

Kemiripan Genghis Khan dengan Ken Arok


Cerita tentang Genghis Khan ternyata memiliki banyak sekali kemiripan dengan cerita tentang Ken Arok. Mereka hidup pada abad yang sama, meraih puncak kejayaan pada dekade yang sama, sama-sama merasa mendapat mandat dari langit, sama-sama mendirikan kerajaan besar, pernah hampir mati dikejar-kejar pasukan musuh waktu masih muda, istri/calon istrinya pernah diculik, dan punya anak pertama yang "bukan anaknya".

Genghis (atau Jenghis atau Chingis) adalah pendiri kekaisaran Mongol. Dialah salah satu penakluk terbesar dunia. Kekuasaannya membentang dari Samudra Pasifik hingga Laut Kaspia, empat kali lebih luas daripada pencapaian Iskandar Agung dan dua kali lipat luas kekaisaran Romawi.

Genghis Khan berhasil menaklukkan Khorazim (atau Khurasan) pada 1220-1221 Masehi. Di negeri muslim itu pasukan Genghis membantai jutaan orang. Seorang sejarawan Persia mencatat 50.000 orang anggota pasukan Mongol itu masing-masing membunuh rata-rata 24 orang di wilayah itu.

Sementara itu, Ken Arok adalah pendiri kerajaan Singasari, kerajaan terbesar di Indonesia pada akhir abad XIII. Dia mencapai puncak kejayaan ketika pada 1222 Masehi berhasil mengalahkan Raja Kertajaya Dhandhang Gendhis dari Kediri dalam perang di daerah Ganter.

Jadi, puncak pencapaian Genghis Khan dan Ken Arok dalam hal menaklukkan wilayah yang sebelumnya dikuasai orang lain praktis hampir bersamaan.

Genghis dan Ken Arok sama-sama pernah hampir mati dikejar-kejar pasukan musuh. Pada tahun 1181, Genghis Khan yang masih berusia 20-an tahun itu sudah sempat tertangkap dan dikurung oleh klan Taychiut. Namun Genghis yang waktu kecil diberi nama Temujin itu berhasil melarikan diri.

Dalam pengejaran dia nyaris tertangkap kembali. Namun beberapa kali dia selamat dari 'lubang jarum'. Salah satu yang paling dikenangnya adalah peristiwa pengejaran di bukit Burkhan Khaldun. Setelah berjaya sebagai penakluk dunia, bukit itu dikeramatkannya.

Sementara itu, Ken Arok muda yang masih merupakan penjahat, berhadapan dengan pasukan Tumapel-Kediri. Dalam keadaan kepepet, menurut cerita rakyat, Ken Arok berhasil menyelamatkan diri dengan cara terbang dari pohon siwalan menyeberangi sungai hanya dengan menggunakan pelepah daun tal/talas.

Berhasil selamat dari ancaman maut, serta keberuntungan dan kemenangan yang berturut-turut mereka alami, membuat keduanya merasa seperti mendapat mandat dari langit atau dewa.

Terkait dengan mandat dari langit, Genghis Khan digambarkan memiliki "api di matanya dan cahaya di wajahnya". Dalam berbagai kesempatan penaklukan, Genghis juga menegaskan bahwa dirinya utusan langit. Kalau bukan utusan langit, bagaimana mungkin dirinya memperoleh pencapaian begitu luar biasa. Begitulah argumen yang sering dikatakan Genghis kepada raja dan penguasa yang berhasil ditaklukkan.

Adapun Ken Arok sering digambarkan sebagai anak Dewa Brahma (kebetulan asal usul keluarganya tidak jelas. Ibunya jelas, namun ayahnya tidak jelas). Cerita-cerita silat bahkan menggambarkan ketika marah dahi Ken Arok memancarkan sinar merah tanda dirinya dinaungi oleh Dewa Brahma.

Mengenai istri yang diculik dan 'anak orang lain' juga ada kesamaan. Genghis Khan menikah dengan Borte. Ketika itu posisi Genghis Khan belumlah kuat. Borte, istri pertama Genghis Khan, diculik oleh klan Merkit. Ini sebenarnya adalah tindakan balasan karena ayah Genghis, Yusigei, menculik ibu Genghis, Hoelun, dari suku Merkit.

Setelah melalui operasi militer besar-besaran, dengan mengajak klan lain, Borte bisa direbut kembali. Namun operasi militer ini memakan waktu lama, dan menyisakan masalah, terutama menyangkut siapa ayah dari anak pertama Borte, Jochi. Adik-adik Jochi sering menghinanya sebagai 'keturunan Merkit' atau 'anak jadah'. Meski begitu, Genghis Khan tetap memperlakukan Jochi seperti anaknya sendiri. Kelak Jochi tewas dalam salah satu pertempuran, justru ketika Genghis Khan masih hidup.

Adapun istri pertama Ken Arok adalah Ken Dedes. Sebelum menjadi istri Ken Arok, Ken Dedes adalah istri Tunggul Ametung, akuwu di Tumapel. Ketika hendak menikahi Ken Dedes, Tunggul Ametung menculik gadis itu dari rumah ayahnya di Panawijen. Tunggul Ametung konon dikutuk untuk mati ditusuk keris. Kelak Ken Aroklah yang membunuh Tunggul Ametung dengan keris sekaligus merebut tahta Tumapel dan memperistri Ken Dedes.

Ketika diperistri Ken Arok, Ken Dedes sudah mengandung anak Tunggul Ametung. Bayinya diberi nama Anusapati. Dialah yang nantinya membunuh Ken Arok dan menggantikan posisinya sebagai raja Singasari.

Beberapa dekade setelah Genghis dan Arok, cicit Ken Dedes dari Anusapati bernama Kertanegara bermusuhan dengan cucu Borte bernama Kubilai Khan. Kubilai Khan mengirimkan utusan untuk menaklukkan Jawa namun utusan itu justru disakiti dan dihina oleh Kertanegara.

Cicit Ken Dedes lainnya (lewat Mahisa Wongateleng, adik Anusapati) yakni Wijaya, justru memanfaatkan kedatangan tentara Mongol untuk mengalahkan lawannya dan mendirikan kerajaan Majapahit. Wijaya yang berhasil mengusir pasukan Mongol adalah keturunan dari Ken Arok dan Ken Dedes.

Kekaisaran Mongol yang dirintis Genghis Khan mulai runtuh dan kocar-kacir sepeninggal cucunya, Kubilai Khan. Hanya diperlukan empat kaisar untuk duduk di sana (Genghis, Ogedei anak Genghis, Monkhe cucu Genghis, dan Kubilai cucu Genghis sekaligus adik Monkhe) untuk berdiri lalu tercerai berai.

Kerajaan Singasari juga hanya melalui lima raja dalam empat generasi (Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, Ranggawuni, serta Kertanegara) untuk runtuh.

Ah, alangkah banyaknya kemiripan di antara mereka itu.(Setyardi Widodo)

Gambar: salah satu cover buku cerita silat Pelangi di Langit Singasari karya SH Mintardja yang menggambarkan dahi Ken Arok memancarkan warna merah. Diambil dari pelangisingosari.worpress.com

Pilih ikan (relatif) besar atau (relatif) kecil?


Pilih mana, menjadi ikan besar di kolam kecil atau menjadi ikan kecil di kolam besar? Begitulah pertanyaan yang sering dilontarkan orang ketika berusaha berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain.

Ada yang memilih menjadi pekerja dengan pangkat rendah di perusahaan besar daripada pekerja dengan pangkat tinggi di perusahaan kecil. Begitu pula sebaliknya.

Bagi pakar jaringan sosial, hal semacam ini menggarisbawahi pentingnya posisi relatif seseorang terhadap orang lain dalam menentukan pilihan. Buku Connected karya A. Christakis dan James Flower banyak menyinggung persoalan semacam ini.

Dalam sebuah percobaan ditemukan bahwa lebih banyak orang yang memilih penghasilan US$33.000 ketika orang lain di perusahaan itu juga berpenghasilan US$33.000, daripada memilih berpenghasilan US$35.000 ketika orang lain di perusahaan yang sama mendapatkan US$38.000.

Lebih banyak orang ingin jadi ikan besar di kolam kecil daripada ikan kecil di kolam besar. Walaupun penghasilan absolut mereka lebih kecil daripada perusahaan kedua, mereka mengira akan lebih bahagia berada di sana.

Dalam hal yang terkait kecantikan bahkan kondisinya lebih ekstrem. Pada sebuah survei orang diminta memilih antara: pertama, kecantikan fisik bernilai 6 ketika orang lain bernilai 4, serta pilihan kedua adalah kecantikan fisik bernilai 8 ketika orang lain bernilai 10.

Sebanyak 75% orang lebih suka berada dalam posisi pertama daripada posisi kedia. Ketika percobaan dilakukan terhadap mahasiswa Harvard, porsi responden yang memilih opsi pertama bahkan mencapai 93%.

***Derajat pengaruh
Buku Connected membahas banyak hal yang terkait dengan peran dan pengaruh orang lain terhadap orang-orang di dalam jaringannya. Penulis buku ini merumuskan teori tentang enam derajat keterpisahan dan tiga derajat pengaruh.

Enam derajat keterpisahan merupakan teori lama yang digagas oleh Stanley Milgram untuk menjelaskan bahwa semua orang saling terhubung dengan jarak rata-rata enam derajat (teman Anda terpisah satu derajat dari Anda, temannya teman Anda dua derajat, dan seterusnya).

Adapun tiga derajat pengaruh menjelaskan bahwa temannya temannya teman Anda punya pengaruh terhadap diri Anda. Pengaruh makin melemah dan dianggap tidak signifikan setelah jarak tiga derajat keterpisahan.

Dengan sangat menarik, penulis buku Connected menjelaskan bagaimana temannya temannya teman Anda bisa lebih berpengaruh terhadap kebahagiaan Anda daripada uang US$5.000 di kantong Anda. Tentu saja ini didasarkan riset terhadap persentase yang mempengaruhi berbagai aspek kebahagiaan.

Buku ini juga memaparkan bagaimana posisi orang yang berada di tengah suatu jaringan pertemanan ketika terjadi epidemi penyakit, misalnya yang menyangkut penyakit menular seksual.

Christakis dan Flower mampu menjelaskan dengan baik bahwa orang-orang yang sama-sama memiliki tiga penghubung dalam jaringan romantis bisa memiliki tingkat risiko tertular yang berbeda.

Mereka berdua juga mampu mengaitkan fenomena jejaring ini dengan fenomena politik, ekonomi, serta perkembangan terbaru di dunia Internet.

Beberapa rumus utama yang dikemukakan dalam buku ini meliputi: Pertama, kita membentuk jaringan kita sendiri. Kita memutuskan siapa yang berhubungan dengan kita, kita mempengaruhi seberapa akrab dengan teman dalam jaringan, serta menentukan seberapas entral posisi kita dalam jaringan.

Aturan kedua, jejaring kita membentuk kita. Orang yang tidak punya teman akan punya kehidupan yang amat berbeda dengan orang yang punya banyak teman.

Aturan ketiga, teman mempengaruhi kita. Bentuk jaringan dan apa yang mengalir melintasi sambungan-sambungan itu sangat menentukan karena manusia punya kecenderungan untuk saling mempengaruhi dan meniru.

Aturan keempat, temannya teman mempengaruhi kita. Ternyata orang tidak hanya meniru teman melainkan juga meniru temannya temannya teman mereka.

Buku ini memamparkan banyak hal baru yang bisa kita petik dari fenomena jaringan sosial yang kini menemukan bentuk baru seiring pemanfaatan Internet dan jaringan sosial dunia maya. Internet membawa apa yang disebut sebagai hyperconnected alis maha-terhubung.

*) Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi Minggu, 30 Mei 2010, halaman resensi dengan judul: Terhubung secara bijak

25 Mei 2010

Anggito dan tragedi Abimanyu


Abimanyu adalah tokoh dengan nasib tragis dalam cerita wayang Baratayudha. Dia mati dengan sangat mengenaskan. Tubuhnya penuh dengan luka.

Orang Jawa menyebutnya luka arang kranjang. Arang artinya jarang, kranjang adalah keranjang, wadah yang sisi-sisinya rapat. Ini kata majemuk yang mengandung paradoks khas Jawa. Artinya, luka yang diderita oleh Abimanyu adalah sangat banyak, begitu rapat seperti sisi-sisi keranjang.

Dia mati ketika terjebak dalam pusaran pasukan Hastina. Dia dikeroyok sehingga penuh luka. Pranoedjoe Poespaningrat dalam Nonton wayang dari berbagai pakeliran, menggambarkan Abimanyu yang luka parah itu tewas setelah Jayadrata menginjakkan kaki gajah tunggangannya sambil memukulkan senjata ke Abimanyu.

Abimanyu adalah anak Arjuna, penengah Pandawa. Kendati bukan anak tertua dalam generasi kedua Pandawa, Abimanyu dianggap sebagai putra mahkota, calon raja ketika Pandawa telah berhasil mengambilalih Hastina dari tangan Kurawa. Kematiannya tentu saja meninggalkan duka mendalam bagi kelompok Pandawa.

Abimanyu punya dua istri. Istri pertama adalah Siti Sendari. Ketika akan menikahi istri kedua, yakni Utari, Abimanyu ditanya apakah sudah punya istri. Dia mengatakan belum punya istri, bahkan mengucapkan kata-kata bahwa dirinya siap mengalami luka yang menyedihkan dalam Baratayudha bila dia sudah menikah sebelum mengawini Utari.

Sebagaimana cerita mitologi Yunani, cerita wayang juga dipenuhi dengan kata bertuah, semacam kutukan.

Maka demikianlah, pernyataannya yang mungkin main-main terhadap Utari ternyata manjur, menjadi kenyataan. Abimanyu tewas dengan luka parah di sekujur tubuhnya ketika perang Baratayudha menginjak hari ke-13. Karena Abimanyu tewas maka kelak tahta Hastina sepeninggal Pandawa diberikan kepada Parikesit, anak Abimanyu dari Utari. Dalam wayang, Abimanyu adalah kisah tentang putra mahkota yang batal naik tahta, tetapi tidak kehilangan hak sebagai raja.

Di luar cerita tentang kematiannya dalam Baratayudha, cerita tentang Abimanyu biasanya happy ending.

Ada adegan rutin dalam wayang Jawa yang disebut sebagai Bambangan Cakil, bertemunya satria lembut dengan raksasa banyak ulah bernama Cakil. Abimanyu, sebagaimana Arjuna ayahnya, sering berperan sebagai sosok bambang atau satria halus dalam adegan Bambangan Cakil itu.

Dalam perebutan berbagai macam wahyu atau karunia besar, Abimanyu juga sering menang, mengalahkan tokoh Hastina seperti Lesmana Mandrakumara.

***Anggito dan Abimanyu
Di negeri ini, salah satu penyandang nama Abimanyu yang populer adalah Anggito Abimanyu.

Sebagai orang kampus, karier Anggito Abimanyu jelas termasuk bagus. Buktinya, dalam penyusunan kabinet seusai pemilihan umum presiden akhir tahun lalu, namanya sempat disebut-sebut sebagai salah satu calon menteri.

Ketika beberapa bulan kemudian muncul rencana tambahan sejumlah jabatan wakil menteri di beberapa kementerian, nama Anggito Abimanyu juga masuk.

Konon Anggito sudah nyaris dilantik. Berita-berita menyebutkan bahwa Anggito sudah menandatangani Pakta Integritas dan beberapa proses lain yang lazim bagi seorang calon wakil menteri. Sayangnya ada ganjalan administrasi yang membuatnya gagal dilantik.

Setelah itu tidak jelas apakah statusnya sebagai calon wakil menteri ditunda atau dibatalkan. Namun, pengumuman mengenai nama Menkeu dan Wakil Menkeu sepeninggal Sri Mulyani Indrawati ternyata tidak menyebut-nyebut nama Anggito Abimanyu.

Belakangan kita mendengar pengunduran dirinya sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal untuk kembali ke kampusnya, Universitas Gadjah Mada. Bisnis Indonesia edisi 25 Mei pada halaman 1 bahkan memampang foto Anggito Abimanyu yang sedang berkemas untuk meninggalkan kantornya di Departemen Keuangan.

Lalu, bagaimana hubungan antara Anggito Abimanyu dan nasib tokoh wayang Abimanyu yang tragis? Wah, mohon maaf, saya belum tahu. Mungkin hanya kesamaan (sebagian) nama saja. Othak-athik gathuk saya belum sampai ke sana, hehehehe. (Setyardi Widodo)

Gambar: Abimanyu tewas dikeroyok pasukan Hastina (Kurawa) dalam perang Baratayudha. Gambar diambil dari Nonton wayang dari berbagai pakeliran, halaman 169.

10 Mei 2010

Ajisaka dan cikal bakal budaya tulis-menulis

Ajisaka adalah nama penting di Tanah Jawa. Namanya dinisbatkan sebagai orang yang menciptakan huruf Jawa. Saya menduga bahwa huruf Jawa adalah satu-satunya huruf di dunia yang memiliki legenda penciptaan dan ada tokoh serta nama yang hadir di sana. Saya belum pernah mendengar legenda tentang penciptaan huruf Latin, huruf Arab, serta huruf Kanji.

Ajisaka punya dua pembantu, Dora dan Sembada. Suatu ketika Ajisaka merantau ke Tanah Jawa, ke kerajaan Medangkamulan. Sembada ditinggalkan dan diminta menjaga keris pusaka. Selain itu, Sembada mendapat pesan untuk tidak menyerahkan keris kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri.

Di Tanah Jawa, Ajisaka menemui negeri yang sedang dicengkam ketakutan. Rajanya adalah Dewata Cengkar. Semula Dewata Cengkar adalah raja yang bijak. Suatu ketika juru masaknya mengalami kecelakaan, jarinya terpotong dan masuk ke dalam sayur yang dimasak. Dewata Cengkar merasakan masakan itu sangat enak. Setelah diusut ternyata dia menyimpulkan bahwa daging manusia itu sangat enak. Sejak itu dia setiap kali minta disediakan daging orang. Maka negeri Medangkamulan pun berubah menjadi negeri terror. Rakyatnya serba katakutan. Takut disembelih dan dimakan oleh Dewata Cengkar.

Lalu datanglah Ajisaka kepada Dewata Cengkar. Dengan cara yang cerdik dia berhasil mengusir Dewata Cengkar ke laut. Konon bahkan Dewata Cengkar kemudian berubah menjadi buaya berwarna putih.

Ajisaka kemudian naik tahta. Dia meminta Dora supaya mengambil keris pusaka yang ditinggalkan pada Sembada. Sembada tidak mau memberikan keris itu karena dia mendapat pesan untuk hanya menyerahkan keris kepada Ajisaka. Sementara Dora merasa mendapat mandat untuk membawa pusaka itu.

Mereka bertengkar. Sama-sama sakti. Lalu sama-sama tewas dalam perkelahian itu. Ajisaka sangat berduka mendengar nasib dua utusannya itu. Lalu dia menyusun huruf, berdasarkan cerita tentang dua pembantunya itu. Masing-masing huruf hanya disebut satu kali. Ada 20 huruf dalam sistem aksara Jawa ini.

Beginilah kisah dalam 20 huruf itu:
hana caraka (ada utusan)= h-n-c-r-k
data sawala (mereka berselisih)= d-t-s-w-l
padha jayanya (sama saktinya) = p-dh-j-y-ny
maga bathanga (keduanya jadi mayat)= m-g-b-th-ng

(Dalam sistem alfabet Jawa, huruf yang asli, tanpa hiasan, dibaca dengan akhiran a. Adapun untuk vocal i, u, e, o diwakili dengan bentuk aksesori huruf. Ada huruf t dan th, ada d dan dh, tetapi tidak ada huruf f, v, x, z)

Jadi, Ajisaka adalah nama yang penting sebagai tokoh yang memperkenalkan huruf di dunia Jawa. Mungkin satu-satunya nama yang dilekatkan pada sistem huruf tertentu. Dengan adanya huruf, komunikasi manusia jadi semakin mudah, transfer ilmu semakin gampang, distorsi makin banyak dikurangi, pendidikan makin maju, peradaban lebih gampang berkembang.

Kesimpulannya, nama Ajisaka adalah nama yang layak disimak dalam perkembangan peradaban manusia.

Buku dengan segudang pertanyaan


Apakah masalah yang rumit, melibatkan banyak faktor, harus diselesaikan dengan cara yang pelik pula? Ternyata, menurut Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner, kebanyakan hal rumit justru dapat diatasi dengan solusi yang amat sederhana.

Beberapa di antara persoalan pelik itu dapat diamati di jalan raya di AS. Pada awal dekade 1950-an, di AS terdapat sekitar 40 juta mobil. Angka kematian tinggi sekali. Pada tahun 1950 saja, ada 40.000 orang tewas karena kecelakaan.Jika dibandingkan dengan panjang jalan yang tersedia saat itu, tingkat kematian per kilometer lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Muncul beragam dugaan dalam mencari penyebab tingginya tingkat kecelakaan. Keadaan mobil yang tidak sempurna, kondisi jalan yang jelek, serta pengemudi yang cerobohlah yang paling banyak disebut.

Tidak banyak yang menyelidiki mekanisme yang terjadi pada suatu tabrakan, hingga hadirnya Robert McNamara ke dalam industri otomotif AS. Orang yang dikenal sebagai menteri pertahanan AS di era Perang Vietnam itu mulai menyelidiki mekanisme tabrakan pada mobil.

Kesimpulannya, kepala dan bagian tubuh lain manusia terlalu lembek untuk dibenturkan ke dashboard dan bodi mobil. Penumpang umumnya mengalami cedera fatal karena terlempar dari kursi lalu membentur kaca, dashboard, maupun kemudi dan bagian mobil lain.

Karena sulit memecahkan dampak dari benturan, McNamara mencari cara agar penumpang tidak terlempar. Lalu, terkait dengan latar belakangnya di bidang aeronautika, McNamara mencoba mengadopsi sabuk pengaman pada pesawat tempur.

Ini solusi yang sangat sederhana dan awalnya sangat sulit diterima. Ada pandangan bahwa sabuk pengaman atau sabuk keselamatan itu tidak nyaman, tidak masuk akal, serta melecehkan kemampuan mengemudi pemakainya.

Kendati akhirnya terbukti bahwa sabuk pengaman telah menyelamatkan sangat banyak nyawa, butuh waktu sangat panjang untuk menyadari arti pentingnya. Sabuk pengaman kemudian terbukti mengurangi risiko kematian hingga 70%, menyelamatkan kira-kira 250.000 nyawa.

Sabuk pengaman, dengan harga US$25 per buah, merupakan salah satu alat penyelamat hidup paling murah yang pernah ditemukan. Solusi yang lebih rumit dan mahal dalam mengatasi benturan dalam kecelakaan adalah kantung udara. Kantung udara menghabiskan US$1,8 juta per nyawa yang diselamatkan, 60 kali lipat lebih mahal daripada yang diperlukan sabuk pengaman. Namun, sabuk pengaman masih menyisakan masalah bagi anak-anak yang ukuran tubuhnya tidak seperti orang dewasa.

Cerita mengenai sabuk pengaman pada mobil hanyalah satu dari puluhan ilustrasi menarik yang dipaparkan Levitt dan Dubner dalam Super Freakonomics.

Ada pula kisah tentang betapa mencemaskannya transportasi yang didominasi kuda di New York pada tahun 1900-an. Angka kecelakaan yang tinggi, kemacetan serta polusi akibat kotoran kuda, seakan-akan tidak dapat dicari lagi jalan keluarnya. Ternyata hal ini terpecahkan dengan kehadiran mobil. Ketika mobil kian populer, kuda pun tergantikan.
Ikan paus pernah menjadi pusat perekonomian yang sangat menentukan di AS pada abad XIX. Sepanjang tahun 1832 hingga 1872, kapal-kapal nelayan telah menangkap 300.000 paus atau rata-rata 7.700 ekor paus per tahun.

Berburu ikan paus telah menjadi industri kelima di AS dengan mempekerjakan 70.000 orang. Seolah terjadi tiba-tiba, populasi paus menyusut. Berburu paus menjadi sangat sulit. Leviit dan Dubner melukiskan kondisi dalam bisnis ikan paus di AS itu seperti ‘too big to fail’ saat ini.

Banyak sekali yang terkena dampak ikutan dari krisis ikan paus yang menjadi sumber minyak, sumber energi, serta sumber berbagai macam produk. Masalah krisis energi paus terpecahkan ketika minyak bumi ditemukan.

Nah, krisis saat ini, termasuk krisis energi minyak bumi dan pemanasan global, menurut Super Freakonomics, punya banyak kemiripan dengan krisis serupa dalam bidang lain yang pernah terjadi sebelumnya.

Buku ini memberikan penjelasan menarik yang seringkali bertentangan dengan logika sederhana. Misalnya, bahwa berjalan kaki sambil mabok ternyata lebih berbahaya daripada mengemudi sambil mabok. Banyak pula pertanyaan mengenai asumsi-asumsi yang digunakan untuk membangun argumentasi tentang betapa berbahayanya pemanasan global.

Super Freakonomics dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan menggelitik. Seringkali tanpa jawaban yang memuaskan. Dua pengarang buku laris sebelumnya, Freakonomics, ini memang pandai memainkan rasa ingin tahu pembacanya. (Setyardi Widodo)

*) tulisan ini dimuat dalam Bisnis Indonesia edisi Minggu, 2 Mei 2010

25 April 2010

Buku komprehensif tentang wayang


Awal April lalu, ketika main ke toko buku diskon di Bandung, saya menemukan buku yang unik. Judulnya Nonton wayang dari berbagai pakeliran, karangan Pranoedjoe Puspaningrat, terbitan Kedaulatan Rakyat. Buku tentang wayang dengan ukuran mendekati kwarto, cober hitam bergambar tokoh wayang Batara Bayu ini menyajikan banyak sisi tentang wayang.*

Diawali dengan sejarah adopsi cerita wayang dari India, posisi negara-negara dunia wayang dalam peta India dan peta pulau Jawa serta beberapa hal yang bersifat filosofis mengenai masuknya wayang dalam budaya Jawa dan penyebaran Islam. (dalam peta itu disebut misalnya Amarta diidentikkan dengan Jepara, Hastina dengan Pekalongan, Dwarawati dengan Pati)

Ada pohon silsilah wayang, ada gambar-gambar yang lengkap dari banyak sekali tokoh yang disebut. Sebagian besar isi buku adalah cerita serba singkat lakon wayang baik Mahabarata maupun Ramayana.

Wayang-wayang yang tidak masuk tokoh utama dalam lakon tetap diceritakan ketika penulis memaparkan nama-nama tokoh yang ada dalam simpingan (dijejer di sebelah kanan/kiri layar)

***Istilah baru
Penulis menyajikan beberapa hal penting soal wayang dengan istilah tepat yang baru pertama kali saya kenal. Contohnya sebagai berikut:

Pathet wayang disebut sebagai expression of mode, wanda wayang disebut expression of mood, gagrak disebut expression of diversity, simpingan dan sunggingan disebut expression of beauty, serta lakon adalah expression of values. Masing-masing hal ini dipaparkan dengan panjang lebar dan sangat menarik.

Uraian mengenai sunggingan disertai gambar yang memadai, termasuk riasan dan hiasan dalam kepala maupun badan wayang kulit. Ini membuktikan betapa detilnya manusia jawa dalam memberikan nama terhadap segala sesuatu. (Bayangkan saja, sumping alias hiasan kuping saja ada tujuh jenis yang masing-masing punya nama sendiri: sumping mangkara, sumping surengpati, sumping gajah ngoling, sumping mangkara terate, sumping pudhak setegal, sumping setegal, serta sumping kudhup tun)

Macam-magam gelung, kelat bahu, serta elemen detil nan kecil dari masing-masing wayang juga diungkapkan dengan gambar.

Uraian mengenai wanda (expression of mood) juga sangat menarik. Betapa sosok Bima punya macam-macam bentuk tergantung moodnya ketika tampil saat itu. Ada sosok untuk perang, ada untuk bertapa, untuk senang, dan sebagainya.

Buku yang tebalnya 278 halaman dengan harga Rp60.000 ini, bagiku, memang salah satu buku paling menarik tentang wayang. Sayangnya ada beberapa kelemahan buku ini. Yang paling menonjol adalah kualitas gambar. Banyak tulisan dan gambar yang kesannya dikerjakan dengan teknologi lama, yaitu tempel dan lem sehingga ada yang tidak jelas, miring-miring dan tidak rapih.

Ada pula bagian-bagian tertentu yang bentuknya seperti tabel. Agaknya editor mengalami kesulitan untuk merapihkan dalam format baru sehingga format yang tampaknya jadul itu dipertahankan. Bagaimana pun, wayang adalah cerita jadul, jadi penggemarnya mungkin dianggap tidak akan terganggu dengan tampilan yang terasa jadul itu, hehehe.. (Setyardi KeLIK Widodo)

*) Ada dua buku dari pengarang dan penerbit yang sama di dalam rak itu. Desain cover dan ukuran buku serta tata letak keduanya mirip sekali. Buku yang satu adalah cerita tentang para tokoh di Jawa sejak jaman Mataram lama hingga zaman Mataram baru dan kemerdekaan. Mula-mula buku itulah yang menarik perhatian. Tak dinyana ada pula buku tentang wayang di sebelahnya. Saya tidak jadi membeli buku tentang tokoh Jawa, ganti dengan membeli buku tentang wayang.

18 April 2010

Sekolah sangat mahal. Tiru Ekalaya saja?


Ketika Pandawa dan Kurawa masih muda, di negeri Hastina ada sebuah perguruan yang sangat disegani. Namanya Padepokan Sokalima. ‘Guru besar’ sekaligus ‘rektor’ di Sokalima adalah Begawan Durna (atau Dorna, atau Drona).

Putra putra terbaik Hastina belajar di sana. Mereka belajar bermacam-macam ilmu yang nantinya diperlukan ketika menjadi pejabat atau pengelola negara. Juga, tentu saja, belajar ilmu beladiri dan ilmu perang.

Salah satu siswa yang paling menonjol adalah Arjuna alias Palguna. Kemampuan Palguna sangat menonjol dalam segala hal, terutama memanah dan ilmu beladiri. Penengah pandawa itu menjadi murid kesayangan Durna.

Lalu datanglah Palgunadi alias Bambang Ekalaya. Dia anak kampung Paranggelung. Dia datang jauh-jauh ke Hastina khusus untuk belajar di Padepokan Sokalima.

Ekalaya anak yang cerdas. Tekadnya kuat. Minat belajarnya tinggi. Sayangnya, dia ditolak masuk ke padepokan Sokalima. Alasannya, dalam kacamata sekarang, bisa dibilang sepele, yaitu dia bukan keturunan Barata. Menurut undang-undang pendidikan Hastina, perguruan itu hanya ditujukan untuk mereka yang memiliki darah Barata. Asal-usul Ekalaya tidak kompatibel dengan persyaratan masuk Padepokan Sukalima.

Ekalaya kecewa, tetapi minat belajarnya tidak surut. Akhirnya dia memilih belajar secara otodidak. Dia membuat patung Durna dan belajar secara mandiri.

“Arjuna berguru pada Durna yang hidup dan menghidupkannya. Aku belajar pada arcanya. Aku yang menghidupkan Durna dalam diriku,” begitulah kata Ekalaya seperti dikutip Pranoedjoe Poespaningrat dari Sujiwo Tejo dalam buku Nonton wayang dari berbagai pakeliran.

Karena kesungguhannya dalam belajar, Ekalaya memiliki kemampuan yang hebat. Dia sangat ahli memanah. Kemampuannya bahkan membuat iri Arjuna, murid terbaik Padepokan Sokalima. Maka dibuatlah siasat untuk membinasakan Ekalaya, agar tidak menjadi penghalang bagi kesuksesan Arjuna.

Begitulah garis besar cerita pewayangan Jawa Palguna-Palgunadi. Ekalaya alias Palgunadi sering dijadikan contoh bagi orang yang memiliki semangat belajar tinggi, memiliki bakat dan potensi, namun ditolak oleh lembaga pendidikan yang diakui, dengan alasan yang bersifat diskriminatif.

***Mencari sekolah
Sekarang banyak pencari sekolah yang mengalami nasib seperti Ekalaya di Sokalima. Tentu saja dengan alasan yang berbeda. Salah satu yang menjadi masalah besar sekarang adalah biaya sekolah semakin mahal dan proses seleksi kian ketat.

Jauh hari sebelum lulus SMA, anak-anak sudah sibuk dengan tes masuk perguruan tinggi favorit. Kendati perkuliahan baru dimulai Agustus mendatang, seleksi sudah dimulai sejak Februari. Ada bermacam-macam model seleksi yang disediakan.

Beberapa bulan sebelum anak lulus SMP, anak sudah harus mendaftar ke SMA. Meskipun pengajaran untuk SMP dan SD baru dimulai bulan Juli, pada bulan April kursi di sekolah-sekolah favorit sudah penuh.

Di kota-kota besar, orang tua harus menyiapkan belasan juta rupiah atau puluhan juta rupiah untuk memasukkan anak ke sekolah favorit. Biaya masuk perguruan tinggi favorit bisa sampai ratusan juta rupiah. Bahkan, hal itu juga berlaku untuk perguruan tinggi negeri setelah era otonomi.

Begitu mahalnya biaya pendidikan sampai-sampai Menteri Keuangan Sri Mulyani pun mengaku kaget menyimak biaya siswa baru di Universitas Indonesia.

"Saya yang menteri saja begitu tahu tuition [biaya masuk] kuliah di almamater saya langsung puyeng. Anggaran pendidikan yang bertriliun-triliun itu lari ke mana? Mengapa masyarakat tidak merasa mendapat apa-apa?" kata Sri Mulyani seperti dikutip Jawa Pos bulan lalu.

Soal pemberian otonomi kepada perguruan tinggi negeri serta pemberlakuan BHMN itu bisa dilacak pada sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu ada wacana mengenai keterbatasaan anggaran negara sehingga kampus-kampus diberi otonomi untuk mencari pendanaan sendiri. Hal itu terutama didasarkan UU Sisdiknas keluaran tahun 1998 serta PP No. 60/1999 dan PP No. 61/1999.

Bukan hanya diberi otonomi, namun ada semacam tuntutan untuk menggali sumber-sumber pendanaan baru. Sejak itu, dibukalah jalur pendaftaran baru di luar UMPTN yang selama beberapa tahun sebelumnya menjadi jalur tunggal. Penerapan BHMN ini diperkuat dengan lahirnya UU Badan Hukum Pendidikan pada 2009.

Jika dalam cerita wayang Ekalaya ditolak karena tidak memiliki darah Barata, maka saat ini banyak anak muda yang ‘tertolak’ oleh sistem. Tidak ada yang secara aktif menolak mereka. Namun keterbatasan membuat mereka tidak bisa mengikuti alur yang tersedia. Mungkin, bahasa kerennya, tidak kompatibel dengan sistem yang ada.

Apakah sekolah dan perguruan tinggi negeri sekarang makin mendekati Sokalima milik Begawan Durna dalam memilih calon murid? Apakah anak-anak yang tidak termasuk ‘darah Barata’ harus kembali meniru cara Ekalaya, yaitu belajar mandiri saja dengan Internet dan alat-alat lain yang kian canggih?

Mahkamah Konstitusi pada akhir Maret lalu membatalkan UU Badan Hukum Pendidikan. Lalu, perguruan tinggi negeri mulai meninjau kembali sistem seleksinya.

"Kemungkinan tahun ini merupakan pelaksanaan seleksi masuk [Simak] yang terakhir," kata Kepala Kantor Komunikasi UI Vishnu Juwono di sela-sela pemantauan pelaksanaan Simak pada Minggu (11 April), seperti dikutip Antara.

Agaknya, masih jauh jalan untuk membuat biaya pendidikan kembali terjangkau kendati negara telah mengalokasikan 20% anggaran untuk pendidikan. Semoga segera ketemu formulasi untuk memungkinkan ‘Ekalaya’ belajar dan berkembang sebagaimana ‘Arjuna’.

*) Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 17 April 2010 halaman 12
**) Gambar adegan Durna memotong jari tangan Ekalaya agar tidak mampu menyaingi Arjuna dalam hal memanah. Difoto dari buku Nonton wayang dari berbagai pakeliran halaman 150.

06 April 2010

Belajar dari cerita bhayangkara

Ada setidaknya dua peristiwa dalam sejarah kerajaan-kerajaan besar di Jawa yang melibatkan nama bhayangkara. Pertama, pemberontakan Kalana Bhayangkara pada masa pemerintahan Raja Kertanegara di Singasari. Kedua, kisah tentang Pasukan Bhayangkara di bawah kepemimpinan Gajah Mada yang menyelamatkan Raja Jayanegara di Majapahit. Kalana Bhayangkara adalah nama yang misterius. Kidung Panji Wijayakrama menyebut namanya lengkap. Kalana berarti pemberontak atau penjahat, adapun bhayangkara berarti penjaga keselamatan raja atau pelindung raja. Pararaton menyebut nama pemberontak itu sebagai Kalana Bhaya, sedangkan Nagarakretagama menyebutnya sebagai Caya Raja yang atinya sama dengan penjaga keselamatan raja. Bhayangkara barangkali satu-satunya pemberontakan gagal yang tercatat dalam sejarah Singasari. Keberadaan kerajaan itu selama sekitar 70 tahun memang diwarnai pemberontakan oleh kerabat dekat raja. Dan uniknya, hampir semua pemberontakan itu berhasil. Raja pertama, Rajasa alias Ken Arok, ditumbangkan oleh Anusapati, anak tirinya. Anusapati dibunuh oleh adik irinya, Panji Tohjaya. Tak lama kemudian Tohjaya digulingkan oleh keponakannya, Ranggawuni. Kertanegara, raja terakhir, adalah anak Ranggawuni. Kertanegara adalah raja terbesar Singasari dan berani menentang kekuasaan Khubilai Khan dari Mongol. Pemberontakan Kalana Bhayangkara terjadi pada masa pemerintahan Kertanegara. Ketika baru naik tahta, Kertanegara melakukan perombakan kabinet. Dia mengubah orientasi kekuasaan menjadi ekspansif dan mencopot Patih Raganata. Dia juga melengserkan Demung Wiraraja dan menempatkannya hanya sebagai bupati di Madura Timur. Banyak pejabat lain yang dipecatnya. Kebijakan ekspansif Kertanegara yang ditentang oleh Raganata itu kelak diwujudkan oleh Gajah Mada melalui Sumpah Palapa. Sejarawan Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan menyimpulkan bahwa pemberontakan Kalana Bhayangkara adalah reaksi atas perombakan pejabat penting pada awal masa pemerintahan Kertanegara, terutama pencopotan Raganata. Pemberontakan yang hanya melibatkan orang-orang di ibukota ini gagal total dan Kalana Bhayangkara terbunuh. Pemberontakan karena alasan yang sama di Singasari baru berhasil ketika Wiraraja, yang juga dicopot dari jabatan penting, bersekutu dengan Jayakatwang dari Kediri. Pemberontakan terakhir ini meruntuhkan kerajaan Singasari. ***Warisan Gajah Mada Cerita tentang bhayangkara pada masa Singasari tidak sepopuler cerita tentang bhayangkara di zaman Majapahit. Pada zaman Majapahit, kata bhayangkara dilekatkan pada Gajah Mada, mahapatih dengan peran politik terbesar sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Nama Gajah Mada dan pasukannya yang bernama bhayangkara mulai dikenal saat terjadi pemberontakan kaum Dharma Putra di bawah kepemimpinan Ra Kuti. Kuti menguasai ibukota Majapahit dan menggulingkan Raja Jayanegara. Gajah Mada, yang ketika itu memimpin pasukan pengawal raja, membantu Jayanegara melarikan diri dari ibukota dan menyembunyikannya dari kejaran pasukan pemberontak. Cerita rakyat menyatakan dalam pelarian di Desa Badander itu, satu dari 15 anggota Pasukan Bhayangkara menyatakan ingin pulang ke ibukota. Gajah Mada melarangnya, namun prajurit itu ngotot. Akhirnya, prajurit itu dibunuh karena diduga akan membelot. Gajah Mada kemudian melancarkan operasi intelijen untuk menyelidiki kondisi ibukota Majapahit di bawah Kuti. Dia menggelar survei kilat untuk memetakan sikap para bangsawan kerajaan terhadap posisi Jayanegara. Dari sana dia tahu bahwa dukungan publik terhadap Jayanegara masih kuat. Dengan bantuan para bangsawan di pusat kota, Gajah Mada bersama Pasukan Bhayangkara berhasil memukul balik Kuti dan mendudukkan kembali Jayanegara ke istana untuk kedua kalinya. Setelah Jayanegara meninggal, Majapahit dipimpin oleh Tribuwana Tunggadewi yang kemudian mengangkat Gajah Mada sebagai mahapatih. Kedudukan mahapatih saat itu kira-kira dapat disamakan dengan perdana menteri dalam era politik modern. Sewaktu diangkat menjadi mahapatih pada tahun 1334, Gajah Mada yang digambarkan oleh Muhammad Yamin sebagai orang gempal berbadan besar itu mengucapkan Sumpah Palapa. Dia berhasil mewujudkan ambisi menundukkan banyak wilayah baru, agak serupa dengan keinginan Kertenagara yang dilawan Kalana Bhayangkara. Karier politik Gajah Mada berakhir setelah dia dianggap salah strategi dalam menundukkan Sunda sehingga menimbulkan tragedi Bubat. Tidak disebutkan apakah nama bhayangkara masih digunakan di Majapahit setelah era Gajah Mada.... *) versi lebih panjang dimuat di Bisnis Indonesia edisi 3 April 2010 **) gambar Candi Singosari diambil dari berwisata.com

Sulitnya bersembunyi dari Google*

Pernah mencoba mencari nama Anda sendiri di Google? Apakah yang ditemukan sesuai harapan? Apa yang akan dan harus kita lakukan kalau menemukan konten-konten yang tidak menyenangkan ketika mencari tentang diri kita pada mesin pencari Internet?

Dalam sebuah workshop jurnalistik tahun lalu, seorang wartawan mengajukan kasus yang menarik. Suatu ketika seorang nara sumber mengajukan keberatan karena ada berita yang dianggap keliru. Lalu pada edisi berikutnya berita itu diralat.

Akan tetapi, nara sumber tidak kunjung puas karena ketika dia mencari berita lewat Google maka yang muncul adalah berita sebelumnya, yang dianggapnya keliru. Ralatnya tidak muncul. Saat itu, tidak ditemukan solusi untuk masalah tersebut, kecuali harus menyerahkan semuanya pada ‘kekuasaan’ Google, si raksasa mesin pencari.

Hal di atas adalah gambaran sederhana mengenai keberatan akan cara kerja Google. Di samping banyak sekali manfaat utama, mesin pencari memang bisa menjadi persoalan. Dan agaknya, keberatan semacam itulah yang menjadi latar belakang sengketa Google dengan pemerintah China. Banyak konten Internet yang tidak menyenangkan pemerintah China. Jadi, Google diminta menyensor.

***Mudah ditemukan
Bagi orang-orang yang berkutat dalam bisnis berbasis Internet, mesin pencari adalah sahabat sejati. Maka muncullah SEO atau search engine optimization. Ini merupakan cara agar suatu produk atau konten mudah ditemukan oleh mesin pencari.

Beragam trik digunakan agar posisi produk atau konten berada pada urutan teratas ketika pengguna Internet mencari informasi yang relevan. Muncullah cara mengoptimalkan kata kunci, memilih key words, mengatur label yang tepat, mengatur sistem pengalamatan postingan, dan sebagainya.

Intinya, berupaya sebisa mungkin agar produk atau kontennya mudah ditemukan. Dengan demikian, peluang orang untuk mampir dan mengklik situsnya menjadi lebih besar.
Dan karena perekonomian berbasis klik ini menjadi andalan, SEO seolah menjadi rumus wajib. Konon, lebih 70% kunjungan ke situs-situs Internet bukan dilakukan oleh pengakses yang setia pada alamat tertentu, melainkan oleh orang yang 'kesasar' ketika menggali informasi lewat mesin pencari.

Kita bisa maklum begitu besarnya peran mesin pencari mengingat Internet berisi triliunan halaman informasi. Tanpa bantuan mesin pencari, alangkah repotnya kita memilah-milah informasi yang relevan. Betapa capeknya kita harus mengingat begitu banyak alamat atau situs yang berisi informasi relevan yang kita perlukan.
Mesin pencari telah menjadi alat yang luar biasa sakti di era ketergantungan terhadap Internet. Google Inc, sebagai mesin pencari terkuat dan terdepan dunia, memainkan posisi kunci bagi perkembangan ekonomi berbasis klik itu.

Teorinya sederhana saja: bila mudah dicari maka mudah ditemukan, lalu mudah diklik. Itulah rumus yang berlaku dalam ‘negara Google’. Rumus dan trik untuk ini banyak diajarkan. Akan tetapi, bagaimana jika kita butuh menyembunyikan sesuatu dari Google. Bagaimana triknya? Semudah cara untuk tampil menonjol kah?

***Pindah ke Hong Kong
China sudah sejak lama memberlakukan pembatasan di dunia maya. Ini tidak hanya berlaku bagi Google, namun juga bagi penyedia konten lainnya.

Dengan ratusan juta jumlah pengguna Internet, China adalah potensi pasar yang besar bagi Google kendati saat ini nilainya masih sangat kecil dibandingkan dengan keseluruhan bisnis Google. Apalagi, bisnis Google juga meluas ke area di luar mesin pencari.

Sebenarnya China juga memiliki mesin pencari lokal, Baidu Inc. Dengan jenis huruf non-Latin dan bahasa non-Inggris, kesempatan untuk mengembangkan konten dan mesin pencari sendiri memang terbuka di China. Ini juga bisa menjadi entry barrier tersendiri bagi pemain internasional seperti Google.

Konflik antara China, negara terbesar di dunia, dengan Google, ‘negeri’ terbesar di dunia maya, memanas sejak awla tahun. Semula Google yang beroperasi di China sejak 2006 itu tunduk dengan ketentuan tentang sensor.

Namun perusahaan yang didirikan oleh Sergey Brin dan Larry Page itu lalu menolak sensor setelah merasa bahwa hacker dari China berusaha mengganggu Google. Google lalu mengalihkan operasi mesin pencarinya ke Hong Kong, wilayah otonomi bekas koloni Inggris.

Pekan lalu, wartawan Associated Press mencoba mengetik ‘Falun Gong’ dalam bahasa China melalui Google di Beijing. Hasilnya, halaman tersebut akan menjadi error dalam waktu semenit. Ketika mengetik kata kunci yang sama dari Hong Kong, yang diperoleh adalah banyak link terkait gerakan spiritual yang dilarang oleh Pemerintah China tersebut.

Dalam sebuah percobaan yang dilakukan AP, pemerintah China menggunakan mekanisme “Great Firewall” yang rumit agar bisa membatasi hal apa yang bisa dilihat masyarakatnya.

Dalam pencarian untuk beberapa topik yang dianggap tabu oleh Beijing, akan tampak tulisan ‘halaman tidak dapat ditampilkan’. Kemudian situs akan eror sekitar satu menit, bahkan lebih, jika pengguna berusaha mengakses beberapa situs terlarang setelahnya. Dengan kata lain, tidak hanya link pada beberapa situs tersebut yang tidak bekerja, tapi hasil pencarian juga tidak ada.

Namun, situs berbahasa Inggris ternyata lebih mudah diakses mungkin karena pemerintah China lebih mencemaskan situs berbahasa China karena mayoritas penduduk masih berbahasa China.

Penemuan ini menggambarkan bagaimana pemerintah China menjalankan sebuah mekanisme penyaring situs. Great Firewall dipandang sebagai metode yang tidak tepat, namun ini dimaksudkan untuk menjauhkan mayoritas masyarakat China dari beberapa topik sensitif yang ada.

Orang-orang berlomba agar mudah ditemukan oleh Google dan pengguna Internet mampir ke sana. Caranya mudah. China, yang ingin menyembunyikan banyak hal dari Google, justru harus menempuh banyak cara sulit. Agaknya, di era maya ini, lebih mudah tampil di Google daripada bersembunyi darinya. (t02/t02)

*) Bisnis Indonesia, edisi 3 April 2010

28 Maret 2010

Cerita tentang pencari berlian


Pria Persia itu bernama Ali Hafid. Dia memiliki lahan pertanian yang sangat luas yang dijadikan kebun buah, ladang gandum, serta kebun bunga. Dia juga memiliki banyak uang. Ali Hafid adalah orang kaya yang bahagia. Dia bahagia karena kaya dan dia kaya karena bahagia.

Suatu ketika datanglah pendeta Budha dari Timur singgah ke rumahnya. Pendeta itu bercerita tentang banyak hal, termasuk, yang istimewa, tentang berlian. Dia bilang kalau Ali Hafid punya sebutir berlian sebesar ibu jari, dia bisa membeli kota. Kalau dia punya tambang berlian, dia bisa membuat anak-anaknya menjadi raja.

Ali Hafid mendengar tentang berlian, sadar betapa tinggi nilai benda tersebut, dan malam itu dia tidur sebagai orang miskin. Dia tidak kehilangan apa pun, tetapi dia miskin karena tidak merasa bahagia dan dia merasa tidak bahagia karena miskin. "Aku harus punya tambang berlian."

Dan semalam suntuk dia tidak bisa tidur.

Esoknya, pagi-pagi sekali dia menemui pendeta dan bertanya di mana dia bisa menemukan tambang berlian. Pendeta menunjukkan tempat yang jauh, berada di antara gunung-gunung, beserta ciri-ciri suatu tambang berlian. Dia percaya kalau Ali Hafid mau mencari maka dia akan menemukannya.

Ali Hafid segera menjual seluruh kebunnya, membawa hasilnya, menitipkan keluarganya kepada tetangga, serta berangkat mencari tambang berlian. Dia menempuh banyak perjalanan, banyak negeri, mencari apa yang diimpikannya. Hasilnya nihil, sampai seluruh perbekalan dan hartanya habis. Akhirnya Ali Hafid menceburkan diri ke laut dan tidak pernah kembali lagi.

***
Suatu hari, orang yang membeli tanah Ali Hafid menuntun untanya ke sungai dangkal yang mengalir di kebun itu. Dia melihat sesuatu berkilat-kilat. Diambilnya. Sebuah batu yang bercahaya. Dia tidak tahu apa benda itu, namun dibawanya benda itu pulang dan disimpannya di ruang tamu.

Tak lama kemudian si pendeta kembali mampir ke rumah bekas Ali Hafid. Melihat benda cemerlang itu dia mengira Ali Hafid sudah kembali dengan membawa berlian. Tentu saja dugaannya keliru. Mereka berdua segera bergegas ke sungai kecil dan menemukan lebih banyak lagi batu-batu bercahaya yang tak lain adalah berlian.

Ternyata di kebun Ali Hafid itulah sebenarnya tersimpan berlian-berlian yang dia cari ke ujung dunia. Demikianlah cerita tentang ditemukannya tambang berlian Golcanda. Konon, berlian-berlian Kohinoor dan Orloff berasal dari tambang ini.

***
Cerita tentang Ali Hafid, serta beberapa cerita lain yang coraknya serupa, dapat kita temukan dalam buku tipis berjudul Acres of Diamonds (Meraih sukses di 'halaman' kita sendiri) karya Russell Conwell. Versi yang saya beli terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2010, tebal 94 halaman, harga Rp20.000 (masih tambah diskon 20%, hehehe).

Dalam buku ini ada cerita tentang anak muda dari Massachusetts yang sekolah pertambangan di Universitas Yale. Dia menjual lahan peninggalan orang tuanya untuk bekerja di perusahaan tambang tembaga. Padahal di tanah yang dia tinggalkan itulah akhirnya ditemukan bijih perak yang berlimpah ruah. Hal yang sama pernah terjadi pada pencari minyak bumi.

Conwell memberi saran agar orang mengoptimalkan lingkungannya sendiri untuk mencari kekayaan dan kebahagiaan. Dia mengajukan rumus sederhana dalam berbisnis: kenalilah apa yang dibutuhkan orang-orang sekitar Anda, sediakan, maka itu akan menjadi bisnis yang menguntungkan.

***
Rumus yang disajikan Conwell itu sederhana dan tepat. Cerita-ceritanya pun menggugah. Jika pemaknaannya diperluas, mungkin kita pernah punya pengalaman agak serupa dengan Ali Hafid dan orang-orang setipe dengannya.

Mungkin kita pernah mengabaikan berlian yang ada di halaman sendiri untuk mengejar mutiara yang belum jelas juntrungnya. Boleh jadi karena kebodohan, mungkin karena kemalasan, mungkin pula karena keserakahan (mungkin juga karena takdir?).

Atau bisa jadi saat ini kita sedang menyia-nyiakan mutiara yang ada di gudang dan kampung halaman (tanpa sadar kalau mutiara itu ada) untuk mengejar mutiara lain yang belum jelas keberadaannya di Ibukota.

Mungkin kita merasa miskin bukan karena miskin absolut, melainkan hanya karena menyadari ada berlian yang begitu berharga yang membuat seluruh kekayaan kita seolah-olah tak berharga. Banyak pelajaran lain yang barangkali bisa kita tangkap dari uraian pendek pendeta kelahiran 1842 itu.

Catatan:
*) Kalau suatu saat terbukti bahwa cerita Conwell tentang Ali Hafid dan orang Massachusetts serta pencari minyak itu keliru, maka tidak berlakulah semua premis utama buku ini. Dan mungkin, ternyata, bahwa berlian itu harus dicari nun jauh di sana. Di pelosok-pelosok yang sepi, di antara hutan, gunung, lautan, serta padang pasir. Jangan menyesal mereka yang mencari. Kalaupun gagal menemukan, setidaknya sudah pernah atau sedang berusaha. Tak perlu menyesal mereka yang 'ditakdirkan' gagal menemukan berlian. Wallahu alam.

22 Maret 2010

Menghargai kemalasan & kelambatan


Jagad raya beroperasi mengikuti asas tindakan terkecil atau the principle of least action. Dalam segala hal, alam ini memilih pelepasan energi sekecil mungkin, sehemat mungkin.

Itu merupakan prinsip dasar yang disepakati oleh para ahli Fisika. Air mengalir ke posisi yang lebih rendah, lintasan dari bola yang dilempar ke udara tidak berkelok-kelok, semua mengikuti prinsip tersebut.

Berdasarkan prinsip itu, Fred Gratzon menafsirkan jagad raya sebagai pemalas dan menyukai serta mendukung kemalasan. Alam tidak menyukai kerja keras. Kerja keras hanya menghasilkan stress dan penderitaan. Kemalasanlah yang akan berbuah sukses.

Begitulah Gratzon mencoba membalik cara berpikir yang telah turun-temurun disepakati di sebagian besar belahan dunia bahwa kesuksesan adalah buah kerja keras. Buku Malas Tapi Sukses (The Lazy Way to Success) adalah penjelasan mengenai pandangan yang berada di luar arus utama itu.

Menurut dia, bekerja adalah hal yang tidak alamiah. Serangan jantung, sakit kepala, kemacetan, keluarga tidak harmonis, insomnia, pola makan tidak teratur, adalah buah dari kerja. Bekerja, bagi Gratzon, adalah pangkal dari berbagai jenis penderitaan.

Jalan terbaik untuk menjalani hidup, katanya, adalah malas. Dunia menjadi maju justru karena orang malas, bukan karena bekerja keras. Orang mendapatkan cara-cara yang lebih efisien, kreatif, menghasilkan banyak penemuan, justru karena menghindari kerja keras.

Akan tetapi, malas bukan berarti tidak melakukan apa pun. Gratzon memaknai kerja sebagai kegiatan yang didasarkan keterpaksaan, menimbulkan stress, tekanan jiwa, memicu penyakit jantung serta depresi. Sebagai lawan dari itu, kemalasan dimaknai sebagai mengerjakan sesuatu dengan kegembiraan, cinta, sepenuh hati, sebagaimana orang sedang menjalani permainan.

Orang akan sukses bila melakukan kegiatan berdasarkan kegembiraan dan suka cita serta cinta, dan tidak akan sukses jika bekerja dalam keadaan tertekan.

Oleh sebab itu, sebagai cara untuk mengubah kemalasan menjadi sukses adalah dengan melakukan apa yang menjadi panggilan jiwa. Gratzon mengajukan usul mengenai bagaimana mengenali panggilan jiwa atau panggilan kehidupan, bagaimana menangkap ilham-ilham jenius lewat kemalasan, mencari keberuntungan, bagaimana berdamai dan memaknai kegagalan agar dapat diubah menjadi sukses, dan berbagai trik lain yang dianggapnya identik dengan kemalasan.

Pada ujung belakang, dia mengajukan banyak paparan mengenai perlunya yoga dan meditasi untuk menangkap ilham dan menghayati kemalasan.

Buku Gratzon ini tampil unik dengan banyak ilustrasi yang digarap apik oleh Lawrence Sheaff. Buku ini banyak mengajukan pertanyaan menggugah yang terkait dengan kerja keras, kemalasan, serta implikasi-implikasinya terhadap kehidupan. Sayangnya, tidak semua pertanyaan itu dijawabnya dengan memuaskan. Salah satu yang bagi saya agak mengganjal adalah soal bagaimana menemukan panggilan hidup.

****Cara lambat
Buku tulisan Gratzon itu senada dengan buku In Praise of Slow karya Carl Honore. Sama-sama mengajukan premis yang bertentangan dengan pandangan arus utama. Jika Gratzon membahas soal kemalasan sebagai lawan kerja keras, Honore membahas soal perlunya kelambatan sebagai lawan dari sikap serba terburu-buru serta pandangan bahwa ‘lebih cepat lebih baik’.

Honore memamparkan perlunya orang menghentikan sikap tergesa-gesa karena ketergesaan telah menimbulkan banyak sekali penderitaan dan bahaya yang tidak perlu.

Beberapa hal yang menurut dia jelas-jelas perlu dilakukan dengan lebih lambat adalah makan, membangun kota, pengobatan, dan sex. Dia juga mengajukan usul tentang perlunya orang bekerja lebih santai, mengoptimalkan waktu luang, serta tidak menggesa pertumbuhan anak-anak.

Akan tetapi, Honore mengingatkan bahwa lambat tidak sama dengan pelan. Lambat dalam versi Honer, saya kira lebih dekat dengan jenak atau tuma’ninah dalam melakukan aktivitas.

Honore memaknai cepat sebagai sibuk, agresif, bergegas, analitis, penuh tekanan, dangkal, tak sabar, aktif, kuantitas mendahului kualitas. Adapun lambat dimaknai sebagai kebalikannya: tenang, hati-hati, reseptif, diam, intuitif, tidak tergesa-gesa, sabar, reflektif, dan kualitas mendahului kuantitas. Lambat juga berarti menjalin hubungan yang nyata dan berarti dengan orang lain, dengan budaya, dengan pekerjaan, makanan, dan segalanya.

Nah, kita selalu mengeluh kehabisan waktu, tetapi masih banyak menghabiskannya untuk menonton televisi. Setiap saat harus mengecek BlackBerry yang mengirimkan ratusan email dan notifikasi jejaring sosial. Alat ini seolah membuat segala hal menjadi urgent (mendesak) untuk dijawab dan diselesaikan. Bangun tidur harus mengecek jam dan memastikan deadline tidak terlewati. Hidup terasa begitu gaduh dan serba kepepet. Di era yang sangat tergesa-gesa seperti saat ini, membaca dua buku di atas tentulah sangat menarik.

Dua buku di atas memberikan saran yang sama bagi upaya membangun ketenangan: meditasi dan yoga.

Saya kira, bagi muslim, jawabannya justru lebih mudah: sholat yang khusyu’ dan tuma’ninah. Embuhlah kebenarannya.

'Mengeksploitasi' beta


Beta adalah huruf kedua dalam alfabet Yunani. Dalam jagad teknologi informasi, versi beta biasa digunakan untuk menyebut produk yang belum sepenuhnya jadi. Versi beta merupakan penyempurnaan dari versi alfa yang berupa bentuk awal sebuah produk. Versi beta adalah perbaikan dari versi alfa namun masih mengandung berbagai kelemahan.

Produk versi beta sudah siap digunakan tetapi dalam skala terbatas. Fungsinya dapat bekerja namun belum maksimal. Versi alfa dan beta merupakan tahap menuju produk final.

Google Inc, salah satu perusahaan global yang berkembang paling pesat dalam 12 tahun kehadirannya, memiliki hubungan sangat erat dengan huruf kedua abjad Yunani itu.

Perusahaan yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin itu, secara khas, selalu meluncurkan produknya dalam versi beta. Produk hebatnya yang mengguncang dunia, termasuk Google Maps dan Google Mail, dilepas ke pasar dalam versi beta. Dan uniknya, tidak jelas kapan status beta dari produk-produk itu dicabut untuk diganti dengan versi final.

Oleh sebab itu, di Silicon Valley berkembang guyonan tentang Google dan versi beta ini: Produk Google akan selalu beta untuk selamanya.

Kita bisa tengok Google Maps dan Google Earth yang diperkenalkan pertama pada 2005 dan kini digunakan sangat luas dan mencakup hampir seluruh permukaan bumi. Sudah banyak sekali aplikasi yang dibangun oleh orang dan perusahaan di luar Google memanfaatkan Google Maps. Tidak jelas kapan status beta pada produk ini dihapuskan.

Begitu pula dengan Google Mail yang diperkenalkan kepada publik pada 1 April 2004. Produk web mail gratis itu awalnya hanya dapat dinikmati mereka yang mendapat undangan. Kehadirannya yang disertai kapasitas penyimpanan pesan hingga ratusan kali lipat di atas penyelenggara lainnya ketika itu, mengguncang pasar web mail. Belakangan, fitur ini dapat dinikmati tanpa undangan.

“Beta adalah cara Google untuk mengatakan bahwa mereka perlu meminta maaf. Itu cara Google untuk mengatakan: pasti ada kesalahan di sini, tolonglah kami dalam menemukan dan memperbaiki untuk meningkatkan kualitas produk,” papar Jeff Jarvis dalam buku What Would Google Do.

Belakangan ini kita dikejutkan oleh Buzz, sebuah beta baru dari Google. Fitur yang dalam beberapa hal mirip dengan Twitter dan dalam hal lain mirip Facebook ini otomatis dapat dinikmati oleh pengguna Gmail dan Gtalk. Tidak banyak gembar-gembor di sekitar hadirnya Buzz, akan tetapi banyak harapan dan kecemasan terhadap fungsinya sebagai microblog maupun jejaring sosial.

***Kesalahan dan inovasi
Izin untuk membuat sesuatu yang keliru adalah rumus inovasi. Tanpa keberanian berbuat salah, tak akan ada inovasi yang dapat dihasilkan. Kultur inovatif itulah agaknya yang ingin dibangun Google di kantor pusatnya, Googleplex.

Google, yang sering menjadi kata pertama bagi banyak orang yang baru mengenal Internet, memiliki aturan yang unik dalam mengelola inovasi. Mereka menyebutnya sebagai Aturan 20%. Para insinyur Google diberi keleluasaan untuk menyisihkan 20% waktunya untuk proyek pribadi yang bebas.

Krisna Bharat, seorang insinyur Google yang memang sejak kuliah keranjingan berita dan terobsesi membuat surat kabar gaya baru, berusaha mengembangkan gagasan memanfaatkan 20% waktu kerjanya. Ternyata konsepnya menarik minat Page dan Brin sehingga mendapat dukungan untuk menjadi salah satu produk unggulan yaitu Google News.

“Jatah waktu 20% sejak awal ditujukan untuk eksplorasi. Orang jadi produktif saat mengerjakan sesuatu yang menurut mereka penting, temuan mereka sendiri, atau sesuatu yang mereka untungkan,” papar Bharat seperti dikutip The Google Story karya David A Vise dan Mark Malseed.

Dan terbukti, Google memperoleh banyak keuntungan dari aturan ini. Suatu ketika, CEO Google Eric Schmidt berkata bahwa dia sudah tidak punya ide lagi untuk pengembangan produk baru. “Tampaknya semua gagasan produk Google berasal dari aturan 20% itu,” ujarnya seperti dikutip Don Tapscott dalam Wikinomics.

Di tengah kompetisi yang kian kuat, time to market menjadi masalah penting, Alih-alih menanti kesempurnaan suatu produk yang entah kapan terwujud, Google lebih suka melemparkan ke pasar, memanfaatkan wisdom of the crowd untuk mendapatkan produk yang baik.

Ada kata-kata legendaris dari pemimpin Google soal kesempatan untuk mencoba dan salah. “Tolong gagallah dengan cepat, agar kamu dapat segera mencoba lagi,” papar Schmidt suatu ketika.

Jadi, seperti nasihat Jarvis, Google adalah contoh bagaimana mengelola sebuah kesalahan secara tepat. “Hidup adalah sebuah beta,” tandasnya.

*) Dimuat di Bisnis Indonesia edisi Minggu, 21 Maret 2010, hal 11: Korporasi

18 Maret 2010

Serba tiga dari Pak KK


Pertengahan Februari lalu saya mendapat kesempatan ngobrol dengan Pak Kusmayanto Kadiman (KK, Kus). Senang sekali mendapat kesempatan menengok kantor beliau setelah tidak lagi menjadi menristek.

Sebagai orang yang merasa tidak sukses ketika kuliah, saya merasa bahwa bertemu dosen atau mantan dosen selalu membuat gugup alias ‘menakutkan’. Akan tetapi tidak demikian bagi saya ketika menemui Pak Kus. Gaya Pak Kus sama sekali tidak terasa mengintimidasi. Betapa mengasyikkan ada kesempatan bertemu mantan dosen tanpa merasa terbebani. Dalam jangka satu pekan saya mendapat kesempatan dua kali bertemu.

(Untungnya lagi, dulu saya tidak pernah mengambil mata kuliah yang diajar Pak Kus. Jadi, setidaknya, beliau, dulu, barangkali, tidak sempat menyadari betapa bodohnya saya. Dulu, kalau secara tak sengaja sedang bimbingan ke Pak Deddy di Ganesha 15 lalu ketemu Pak Kus, saya suka grogi dengan celetukan-celetukannya, hehehe)

Dari cerita ngalor-ngidul yang diselingi Jumatan dan makan siang pada Februari itu, ada banyak hal menarik terungkap. Salah satunya soal pola perjalanan karier mantan rektor ITB dan mantan dosen Teknik Fisika itu. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai siklus tiga tahunan. Hampir semua karier Pak Kus hanya dijalaninya dalam waktu tiga tahun (kuliah tidak termasuk). Setiap tiga tahun ganti jabatan atau bahkan pekerjaan.

“Saya tidak tahan lama di suatu tempat. Baru jadi Menteri ini saja, saya bisa tahan sampai lima tahun. Lainnya paling lama tiga tahun,” akunya. Dan beginilah bagian cerita lainnya:

***
Pak Kus menyelesaikan kuliah S1 di Teknik Fisika ITB selama 4,5 tahun. Menurut Pak Kus, proses ini tidak bisa tiga tahun karena programnya memang sepanjang itu. “Target saya waktu itu adalah tepat waktu. Yang penting tidak ngulang (mata kuliah). Nilai tidak masalah. Nilai saya tidak fantastis. Semua nilai, kecuali E dan F, pernah saya alami.”

Sekolah S2 dan S3 ditempuh dalam waktu 4,5 tahun, tetapi di dua tempat. Dua tahun di Sydney, dua setengah tahun di Canberra karena profesornya pindah kampus. “Profesornya pindah saya ikut pindah.”

Pak Kus pulang dari luar negeri, Februari 1988. Sebentar kemudian ditunjuk jadi pelaksana tugas PINK (Pascasarjana Instrumentasi dan Kontrol, Teknik Fisika ITB). “Murid angkatan pertama program itu salah satunya Suharna (Menristek saat ini).”

Menjelang tiga tahun, yaitu pada akhir 1989, Pak Kus diusulkan untuk menjadi direktur Pusat Komputer ITB. “Saya tadinya mau nolak. Dengan halus saya bilang, kalau digabung Piksi dan Puskom saya mau. Satu teknologinya satu pendidikannya,” kata Pak Kus.

“Sombong sekali kamu,” kata Pak Arifin Wardiman yang mengusulkan nama Pak Kus kepada Rektor ITB.

Usulan pak Arifin itu disetujui Pak Wiranto Arismunandar, rektor ITB saat itu. Pak Wiranto sudah mengenal Pak KK melalui Pak Saswinadi yang dianggap guru oleh Pak KK. (Cerita tentang hubungan Pak Sas dan Pak KK dapat dibaca dalam buku Bentang Ego Alunkan Simfoni)

"Kus, Senin kamu saya lantik pimpin gabungan Puskom dan Piksi,” kata Pak Wiranto.

Pak Arifin tidak mengizinkan Pak Kus keluar dari PINK. “Waduh, gaji kecil, kerjaan banyak sekali, tidak ada proyek. Tapi ya itu pengabdian.”

Tugas sebagai Direktur Piksi dan Puskom selesai dalam tiga tahun, berakhir pada 1993. “Saya tidak mau terus jadi Ketua Piksi karena saya merasa miskin. Saya tidak punya rumah. Kasih saya rumah deh Pak,” pinta pak Kus ke rektor.
“Enggak bisa Kus, kamu telat lahir,” kata Pak Wiranto.

Lalu bergilah pak KK ke swasta selama 3 tahun. (cerita tentang ini juga ada di buku BEOS)

“Tiga tahun kurang dua minggu saya menghadap ke Wiranto (rektor). Saya sudah punya rumah, punya BMW, mercy dan tabungan dalam dollar. Kembali ke kampus saya membangun Laboratorium Kontrol (labkon, di Teknik Fisika).”

Baru dua tahun memimpin labkon, pak Kus diminta rektor untuk pegang Pusat Pengembangan Teknologi (PPT). “Enggak jelas mau ngapain ini. Akhirnya saya pilih teknologi untuk mendukung teknologi seni rupa karena banyak yang jago di situ. Itu sampai 1997, belum 3 tahun.”

***Menjadi rektor
Berikut ini kutipan langsung cerita Pak Kus tentang proses menuju kursi rektor ITB.

“Pak Lilik Hendrajaya (rektor) minta saya jadi sekretaris rektor. Saya bilang prek dengan nama jabatan, yang penting apa tantangannya. Tantangannya membangun kerja sama internasional. Deal, jadi ada dua sekretaris. Sekretaris rektor bidang dalam negeri dan kehumasan yaitu Pak Doddy Abdasah. Saya pegang international cooperation. Saat itulah ITB mulai masuk ke Asia Uninet, Unet, membangun network di Asean, Eropa, dan sebagainya.

Tetapi kesalahan saya anak muda yang penuh semangat tidak pandai membuat bahwa sukses itu adalah sukses pimpinan.

Sebagai anak buah harusnya saya membuat sukses saya adalah sukses pimpinan. Lalu kantor saya mau ditutup dengan cara bujet ditekan jadi nol.

Pada 2001 saya ditawari jadi pembantu rektor 4 tetapi saya tolak karena saya mau maju jadi rektor. Saya ingin jadi rektor termuda, rektor pertama dan satu-satunya tanpa professor, rektor pertama sejak BHMN.

Nah, tahun 2001 itu jadi golden bagi saya. Untuk mengejar itu, saya belajar bagaimana pede, bagaimana pidato. Sampai ikut kursus-kursus pidato, di Jakarta. Saya iku program basic, advanced, serta leadership selama 3 bulan.

Di situ saya berani tampil. Arogansi dikurangi tanpa mengurangi pede. Walaupun orang bilang saya tetap arogan. Tapi menurut saya itu sudah berkurang banyak dibandingkan dulu.

Saya jadi pede, berani pidato. Dulu tdak berani kalau tidak pegang kertas di depan publik. Sekarang, alhamdulillah, bicara dua jam tanpa teks, hayo.

Tahun 2001 majulah saya jadi rektor. Ketika 15 besar saya no 7, dari 5 besar saya nomor 3, dari 3 besar saya nomor 1. Saya jadi rektor tidak lebih dari 3 tahun. Persisnya 3 tahun kurang 2 minggu, dari 9 Nov 2001-22 Oktober 2004.

Jadi angka tiga itu jarang saya lewati.

16 Maret 2010

Belajar loyal lewat randha royal

Di daerah Jawa Tengah dan Yogya, ada penganan yang diberi nama randha royal. Randha royal adalah tape singkong yang digoreng dengan balutan tepung terigu, mirip dengan pisang goreng tepung.

Sebagaimana pisang goreng, makanan semacam ini sangat enak dinikmati dalam keadaan hangat bersama teh manis panas atau kopi sambil duduk bersantai.

Royal dalam bahasa Indonesia, mungkin adopsi dari bahasa Jawa, sering didefinisikan sikap murah hati, mau berderma, tidak banyak menghitung-hitung dalam pemberian. Orang yang royal adalah pemurah yang siap mendermakan banyak hal untuk orang lain. Itu sisi baiknya. Sisi buruknya, royal juga berarti boros dan dekat dengan istilah obral.

Entah mengapa makanan tape goreng itu diberi nama randha alias janda, dan digabung dengan kata royal alias siap mengobral harta bendanya. Saya tidak berhasil menemukan arsip yang menjelaskan asal-muasal penamaan makanan itu.

Dalam Bahasa Inggris, kata royal digunakan untuk menyebut kerabat kerajaan dan hal-hal yang terkait dengan kerajaan, memiliki kesan kemegahan serta kemewahan.

Meski berbeda-beda, kata royal paling tidak mengesankan orang atau pihak banyak harta yang tampil megah, cenderung boros, dermawan, dan rela memberikan harta benda kepada orang atau pihak lain.

Lalu bagaimana hubungan antara royal dan loyal yang hanya berbeda 1 huruf itu?

Loyalitas sering dimaknai sebagai kesetiaan, kesediaan untuk berbuat senasib sepenanggunangan, bersama-sama dalam suka dan duka. Akan tetapi, berbeda dengan kesetiakawanan, dalam loyalitas ada unsur subordinasi antara pihak yang loyal dengan pihak yang menerima loyalitas. Pada zaman Orde Baru dulu, ada istilah monoloyalitas pegawai negeri sipil. Istilah itu merujuk pada keharusan bagi pegawai negeri sipil dalam menentukan pilihan politik.

Nah, di sanalah ada pertemuan antara royalitas dan loyalitas. Sikap royal hanya dapat dilakukan oleh pihak yang memiliki banyak sumber daya alias superordinat, sementara sikap loyal dipersembahkan oleh subordinat. Pihak superordinat dapat memilih bersikap royal dengan harapan mendapatkan sikap loyal dari subordinat.

Di dalam politik, lazim ada trade off yang sering diterjemahkan sebagai dagang sapi. Suatu pertukaran. Praktik-praktik politik yang terjadi saat ini barangkali terlalu kasar untuk disebut sebagai dagang sapi.

Akan tetapi, pernyataan-pernyataan para pemuka partai terkait dengan koalisi dan kondisi politik terkini mengindikasikan ada kaitan antara loyalitas dan royalitas dalam pembagian kue kekuasaan.

***Mencederai loyalitas
Bagi seorang pemimpin, loyalitas bawahan jelas menjadi hal penting untuk bisa menjalankan organisasi. Tanpa loyalitas, organisasi tidak bisa berjalan dengan efektif. Tidak mengherankan apabila seorang presiden mengingatkan soal loyalitas itu ketika melantik para menteri dalam kabinetnya.

Agaknya, belakangan ini loyalitas para pembantu presiden --yang kebetulan mendapat mobil dinas berupa Crown Royal Saloon--sedang diuji. Menarik untuk mencermati apakah sikap keras partai mitra koalisi, khususnya Golkar, PKS, dan PPP, dalam menyikapi kasus bailout Bank Century bisa dianggap mencederai loyalitas.

Banyak pengamat berpendapat koalisi sudah sangat rapuh. Tak sedikit pula usulan reshuffle serta penyusunan ulang peta koalisi. Pada intinya, dengan bahasa trade off, secara tak langsung banyak usulan untuk menimbang kembali pertukaran antara royalitas dan loyalitas. “Mestinya pakai mobil loyal saloon saja, kalau ada, biar loyal,” celetukku.

Bagaimana pun akhir wacana loyalitas, perlu jelas bahwa bagi rakyat, yang terpenting adalah semua pejabat, apa pun posisi dan kedudukannya, bisa berlaku royal sekaligus loyal terhadap rakyat. Rakyatlah boss yang sebenarnya dalam demokrasi, suatu muara bagi loyalitas sejati.

Mungkin kita perlu belajar kepada ahli kuliner, terutama cara membuat penikmat tape goreng selalu loyal terhadap randha royal.

07 Maret 2010

Kekeliruan dalam adopsi dunia Google


Buku What Would Google Do karya Jeef Jarvis cukup memikat, kendati dalam berbagai hal tampak berlebihan.

Saya coba kutipkan beberapa hal yang terkait dengan masa depan koran dan wartawan. Ini merupakan kutipan sporadis, semoga tidak menyebabkan kekeliruan. Versi lebih utuh insya Allah kapan-kapan saya tulis dalam format yang berbeda.

Penulis sepakbola Inggris Rick Waghorn diberhentikan dari korannya di Norwich. Dia mulai menulis blog tentang sepakbola dan komunitasnya dengan beberapa kolega bisnisnya.

Koran lamanya memandang mereka sebagai pesaing. Bodoh. Koran itulah yang telah membangun merek dan pembaca Waghorn. Pada saat mereka memecat Waghorn, mereka kehilangan investasi tersebut berikut kontennya.

Seharusnya tidak perlu begitu. Sebaliknya, koran itu mestinya menjual iklan Waghorn dan mempromosikan situsnya. Koran itu bisa mengambil keuntungan dari keahlian, pekerjaan, reputasi, dan pembaca Waghorn tanpa harus membayar gajinya.

Sementara itu, Waghorn akan mampu membuat sebuah perusahaan. Setiap pihak menang. Kalau saya menjadi orang yang menjalankan koran itu, saya akan berinvestasi pada Waghorn. Saya akan membangun sebuah jaringan Waghorn.

Namun menjadi Waghorn tidaklah semudah itu. Tanpa koran bertindak sebagai promotornya, dia dan orang-orang seperti dia mengalami masa-masa sulit membangun jumlah minimal pembaca dan iklan yang mereka butuhkan.

Walaupun berkembang dalam era “yang kecil adalah yang besar berikutnya”, namun mungkin saja yang kecil itu terlalu kecil. (Hal 103)

***
Pada 2005, Los Angeles Times memutuskan untuk bergaya di dunia Internet dengan membuat wikitorial. Ini sebuah editorial di mana publik diundang untuk ikut serta menulis ulang.

Dalam waktu singkat, kualitas wacana pertama wikitorial turun ke tingkat kerusuhan penjara karena Times telah melakukan kesalahan fundamental: Wiki adalah sebuah alat yang digunakan untuk kolaborasi, tetapi tidak ada yang harus dikolaborasikan dalam topik wikitorial Times, yaitu perang Irak.

Saya melihat segala sesuatunya menjadi hancur dan saya menulis blog bahwa Times seharusnya lebih bijaksana dengan cara menciptakan dua wiki. Satu profesional dan satu lagi lawannya. Jadi terstruktur seperti debat Oxford.

Tantangan yang akan melawan kelompok banyak seharusnya: Beri kami kesempatan terbaik Anda dan biarkan pembaca yang menilai. Berbagai usulan brilian diajukan, termasuk dari pendiri Wikipedia Jimmy Wales, tetapi sudah terlambat.

Times sudah menusuk jantung wikitorial. Sejak saat itu, kalau orang bicara mengenai surat kabar interaktif, seseorang akan menunjuk titik bahaya wikitorial. (Hal 164)

04 Maret 2010

Tips mengunjungi pameran komputer


Pameran komputer makin sering digelar. Berdasarkan pengamatan di Jakarta dan Bandung, pengunjungnya kian hari kian padat. Jumlah stand juga terus meningkat. Jenis produk terus berkembang.

Saya sering merasa sayang untuk melewatkan mengunjungi pameran komputer, kendati hanya melihat-lihat sekilas. Dalam pameran-pameran di Indonesia sih rasanya tidak ada teknologi baru. Tapi banyak produk baru dan merek baru.

Makin hari, kegiatan mengunjungi pameran komputer makin membingungkan. Melelahkan dan bikin frustasi karena padatnya pengunjung dan luasnya tempat pameran. Beberapa hal yang saya rasa perlu diperhatikan ketika mengunjungi pameran komputer sbb:

1. Jangan mengajak anak kecil. Kasihan kalau cape’ dan berdesak-desak. Sebisa mungkin hindari hari libur atau akhir pekan karena jumlah pengunjung kemungkinan besar membeludak.

2. Bawa makanan, minuman, atau bekal. Harga makanan di sekitar lokasi pameran biasanya mahal banget. Bahkan makanan yang di bagian luar juga mahal dan bagi saya sering tidak mengundang selera.

3. Tentukan target apa yang akan dibeli. Survei dulu melalui Internet atau iklan untuk menentukan produk idaman yang ingin dikejar.

4. Kenali pembagian lokasi. Biasanya ada booth untuk merek-merek terkumuka. Ada juga lokasi untuk kumpulan penjual aksesori termasuk PC jangkrik. Aksesori ini bisa berupa kabel-kabel USB, mouse, flash memori, keyboard, tas, kertas foto, cartridge, dan sebagainya.

5. Kalau sudah menentukan produk idaman langsung saja tuju ke booth yang menyediakan merek itu. Bandingkan harga dengan booth lain. Kendati sudah menentukan merek, jangan menutup diri terhadap kemungkinan ada produk baru yang selama ini tidak tampak pada iklan. Seiring perkembangan pasar, banyak produk baru yang tidak tampak dalam iklan-iklan di koran.

6. Jangan terlalu lama di lokasi pameran. Makin lama akan makin melelahkan dan bisa-bisa membuat frustasi berdesak-desakan.

Semoga membantu.