Kita kesal kalau melewati jalan rusak. Bahkan, kalaupun tidak taat dalam membayar pajak, kita toh tetap merasa punya hak untuk diberi jalan yang mulus, bukan dibangunkan jalan jelek nan rusak.
Kalau (sedang) berpikir buruk, sebagai pengguna jalan inginnya mengumpati mereka yang harusnya bertanggungjawab mengelola jalan. Eh, tetapi ternyata jalan itu punya tingkatan-tingkatan. Pengelolanya pun beda-beda.
Ada jalan yang dikelola oleh pemerintah pusat, ada yang ditangani pemerintah provinsi, dan ada pula yang pemeliharaannya di bawah tanggung jawab pemerintah kota/kabupaten. Nah, dalam soal ”menyumpahi” atau ”mengumpat” atau ”mengutuk” ini kan kita juga maunya tepat. Jangan sampai kita menyumpahi pemerintah daerah karena jalan A rusak, eh, ternyata pemeliharaan jalan itu di bawah pemerintah pusat.
Dalam soal memuji pun demikian. Walau pun masyarakat secara umum jarang yang memuji jalan bagus, tetap saja ada toh yang suka memuji. Nah, kita kan juga tidak ingin memuji dengan sasaran yang keliru. Misalkan, kita mengira jalan mulus di jalur selatan Jawa Barat itu karya pemerintah pusat, eh ternyata itu karyanya pemerintah provinsi. Begitu pula dengan jalan yang lainnya.
Oleh sebab itu, saya usul agar di plang nama jalan itu ditambah informasi mengenai siapa yang bertanggungjawab atas jalan itu. Kalau bisa dengan nomor telepon pengaduan kalau-kalau jalan itu rusak. Boleh juga ditambahkan nomor telepon untuk mengirimkan pujian apabila jalan itu mulus terus, atau perbaikan sering dilakukan.
Usul itu saya sampaikan di facebook. Ada teman yang menambahkan sebaiknya biar gampang, warna plang informasi itu dibedakan. Jadi orang bisa langsung lihat, misalnya kalau merah itu tanggung jawab pemerintah pusat, biru pemerintah provinsi, hitam pemerintah kota/kabupaten.
31 Maret 2013
06 Februari 2013
Sanjaya, Si Wartawan dalam Dunia Wayang
Dalam cerita Mahabharata yang di Jawa dikenal sebagai cerita wayang, ada lho yang bertindak sebagai wartawan. Adalah seorang tokoh tak terkenal namun perannya penting bernama Sanjaya. Dia bertugas sebagai pengemudi kereta (sopir lah kalau zaman sekarang) sekaligus penasehat Drestarata.
Drestarata adalah raja Hastina, ayah dari para Korawa sekaligus pakdhe dari para Pandawa. Pak Drestarata ini buta, tidak bisa melihat, jadi perlu orang yang memberikan laporan pandangan mata terhadap segala kejadian di sekitarnya.
Nah, dalam perang di antara keturunan Bharata--yakni antara Pandawa dan Korawa-- yang kemudian disebut Bharatayudha, laporan pandangan mata ini dilakukan oleh Sanjaya. Dia melaporkan apa yang dilihatnya di lapangan kepada Drestarata.
Konon, Sanjaya ini diberi kelebihan berupa kemampuan melihat dan mendengar jauh dengan detail dan jelas. Mungkin dia menguasai teknologi tertentu seperti teropong, alat perekam, alat tulis dsb—yang ketika itu dianggap sebagai kesaktian yang diperoleh melalui tapa brata.
Begitu besar peran Sanjaya, bahkan, dialog Kresna dan Arjuna yang begitu terkenal, adalah hasil rekaman tokoh ini. Jadi, Sanjaya lah yang berjasa mengabadikan dialog nan fenomenal itu.
Begitu sekilas mengenai Sanjaya, Sang Wartawan Mahabharata. Sayangnya dalam versi wayang Jawa, peran Sanjaya ini tidak banyak disebut. Perannya sering tertukar-tukar dengan ayahnya, Widura, yang juga dikenal sebagai adik Drestarata atau penasehat Sang Raja.
Drestarata adalah raja Hastina, ayah dari para Korawa sekaligus pakdhe dari para Pandawa. Pak Drestarata ini buta, tidak bisa melihat, jadi perlu orang yang memberikan laporan pandangan mata terhadap segala kejadian di sekitarnya.
Nah, dalam perang di antara keturunan Bharata--yakni antara Pandawa dan Korawa-- yang kemudian disebut Bharatayudha, laporan pandangan mata ini dilakukan oleh Sanjaya. Dia melaporkan apa yang dilihatnya di lapangan kepada Drestarata.
Konon, Sanjaya ini diberi kelebihan berupa kemampuan melihat dan mendengar jauh dengan detail dan jelas. Mungkin dia menguasai teknologi tertentu seperti teropong, alat perekam, alat tulis dsb—yang ketika itu dianggap sebagai kesaktian yang diperoleh melalui tapa brata.
Begitu besar peran Sanjaya, bahkan, dialog Kresna dan Arjuna yang begitu terkenal, adalah hasil rekaman tokoh ini. Jadi, Sanjaya lah yang berjasa mengabadikan dialog nan fenomenal itu.
Begitu sekilas mengenai Sanjaya, Sang Wartawan Mahabharata. Sayangnya dalam versi wayang Jawa, peran Sanjaya ini tidak banyak disebut. Perannya sering tertukar-tukar dengan ayahnya, Widura, yang juga dikenal sebagai adik Drestarata atau penasehat Sang Raja.
31 Januari 2013
Kisah Presiden Pandu yang Tersandung Sapi
Pandu adalah ayah dari Pandawa. Dia menjadi raja atau presiden di Hastina karena kakaknya, Destarastra, buta dan tidak bisa menjalankan tugas sebagai raja.
Nah, atau Presiden Pandu ini tidak berusia panjang. Dalam Mahabharata versi India, dikisahkan bahwa pandu membunuh kijang yang sedang bercumbu. Kijang yang merupakan penjelmaan seorang brahmana itu mengutuk Pandu akan mati ketika bercumbu dengan istrinya. Oleh sebab kutukan itu, pandu mati muda ketika bercumbu dengan istri mudanya, Madri (atau Madrim).
Dalam cerita wayang Jawa, cerita soal kematian Pandu ini lebih dramatis. Alkisah, Presiden Pandu (lengkapnya Pandu Dewanata) adalah tokoh hebat. Dewa pun berhutang budi padanya karena menyelamatkan kahyangan alias istana dewa dari serbuan raksasa jahat.
Nah, istri kedua Pandu, Dewi Madrim, suatu saat mengajukan permintaan aneh ketika hamil. Dia minta agar bis naik lembu (sapi) Andini. Padahal ini bukan sembarang sapi. Ini sapi adalah kendaraan khusus milik Batara Guru si raja di istana para dewa. Sebuah permintaan yang bisa dibilang kurangajar.
Begitu mendesaknya permintaan Madrim yang sedang nyidam itu, akhirnya dengan berat hati Pandu meminta kepada Batara Guru agar diizinkan meminjam sapi itu. Toh para dewa juga berhutang budi padanya.
Batara Guru mengizinkan permintaan ”kurangajar” ini namun dengan syarat Pandu harus rela berusia singkat (alias cepat mati), dan setelah mati akan dijebloskan ke kawah candradimuka alias neraka. Presiden Pandu yang sudah kepepet itu menyetujui syarat tersebut.
Maka demikianlah, akhirnya Pandu mati muda (tentu saja dengan meningalkan jabatannya sebagai presiden Hastina), lalu dijebloskan ke kawah candradimuka, nerakanya dunia pewayangan. Sepeninggalnya, bangsa kuru (yang diwakili oleh anaknya, Pandawa, serta keponakannya, Kurawa) berselisih dna terlibat perang besar Baratayuda.
***
Saya jadi teringat cerita Presiden Pandu ini ketika menyimak kabar mengejutkan mengenai kasus daging sapi yang menyeret seorang ”presiden”. Duhai, sungguh kabar yang menyedihkan dan mengejutkan.
*) Foto wayang pandu diambil dari wikipedia Indonesia.
Nah, atau Presiden Pandu ini tidak berusia panjang. Dalam Mahabharata versi India, dikisahkan bahwa pandu membunuh kijang yang sedang bercumbu. Kijang yang merupakan penjelmaan seorang brahmana itu mengutuk Pandu akan mati ketika bercumbu dengan istrinya. Oleh sebab kutukan itu, pandu mati muda ketika bercumbu dengan istri mudanya, Madri (atau Madrim).
Dalam cerita wayang Jawa, cerita soal kematian Pandu ini lebih dramatis. Alkisah, Presiden Pandu (lengkapnya Pandu Dewanata) adalah tokoh hebat. Dewa pun berhutang budi padanya karena menyelamatkan kahyangan alias istana dewa dari serbuan raksasa jahat.
Nah, istri kedua Pandu, Dewi Madrim, suatu saat mengajukan permintaan aneh ketika hamil. Dia minta agar bis naik lembu (sapi) Andini. Padahal ini bukan sembarang sapi. Ini sapi adalah kendaraan khusus milik Batara Guru si raja di istana para dewa. Sebuah permintaan yang bisa dibilang kurangajar.
Begitu mendesaknya permintaan Madrim yang sedang nyidam itu, akhirnya dengan berat hati Pandu meminta kepada Batara Guru agar diizinkan meminjam sapi itu. Toh para dewa juga berhutang budi padanya.
Batara Guru mengizinkan permintaan ”kurangajar” ini namun dengan syarat Pandu harus rela berusia singkat (alias cepat mati), dan setelah mati akan dijebloskan ke kawah candradimuka alias neraka. Presiden Pandu yang sudah kepepet itu menyetujui syarat tersebut.
Maka demikianlah, akhirnya Pandu mati muda (tentu saja dengan meningalkan jabatannya sebagai presiden Hastina), lalu dijebloskan ke kawah candradimuka, nerakanya dunia pewayangan. Sepeninggalnya, bangsa kuru (yang diwakili oleh anaknya, Pandawa, serta keponakannya, Kurawa) berselisih dna terlibat perang besar Baratayuda.
***
Saya jadi teringat cerita Presiden Pandu ini ketika menyimak kabar mengejutkan mengenai kasus daging sapi yang menyeret seorang ”presiden”. Duhai, sungguh kabar yang menyedihkan dan mengejutkan.
*) Foto wayang pandu diambil dari wikipedia Indonesia.
28 Januari 2013
Menyimak Mahabarata dan Ramayana “Versi Asli”
Saya baru saja selesai membaca buku Mahabharata dan Ramayana versi India. Dua buku ini karangan C. Rajagopalchari dan di halaman muka ditulisi “Edisi Asli”.
Sebenarnya sudah agak lama saya ingin membeli dua buku itu. Namun desain covernya yang “India banget” membuat saya tidak nyaman. Nah, pekan lalu ada diskon sampai 40% dan saya kebetulan lagi cuti agak panjang, jadi saya beli. Masing-masing buku seharga Rp30.000.
Pertama-tama saya membeli buku Mahabharata dan saya baca sampai selesai. Setelah itu, karena merasa cara bercecitanya menarik, saya membeli yang Ramayana. Sampai selesai membaca dua buku itu, saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan klaim “edisi asli” dalam covernya.
Ini sebenarnya bukan terjemahan karya kuno Walmiki dan Wiyasa, atau pujangga lain pada masa yang lalu. Ini adalah karya pada dekade 1950-an yang ditulis Rajagopalchari untuk generasi muda India. Mungkin yang dimaksud asli adalah asli India, bukan asli terjemahan dari edisi kuno.
Tentu saja semua basisnya adalah karya Walmiki (Ramayana) dan Wiyasa (Mahabharata). Baik Walmiki maupun Wiyasa pada dasarnya bukan sepenuhnya pengarang cerita itu, melainkan orang yang mengumpulkan cerita itu sehingga dapat dirampaikan kepada generasi di bawahnya secara lebih sistematis.
Ada banyak versi Mahabharata dan Ramayana yang berkembang di India. Enaknya, dalam buku ini Rajagopalchari memberikan penjelasan mengenai adanya perbedaan versi. Sebagai contoh, dia menyebut versi Walmiki menjelaskan cerita bagian ini begini, sedangkan versi lain (misalnya versi Kamban) menyebut begitu.
Bahkan kadangkala Rajagopalchari menyebutkan contoh-contoh cerita kekinian (misalnya serangan Jepang ke pearl Harbour) yang dianggapnya relevan untuk menjelaskan mengapa tokoh-tokoh dalam ceritanya mengambil keputusan beini atau begitu.
***
Saya adalah penggemar wayang Jawa yang kisahnya sebagian besar diambil dengan latar belakang Mahabarata serta Ramayana. Namun membaca dua buku ini tidak seperti membaca cerita wayang.
Ini lebih mirip membaca mitologi Yunani atau terjemahan Kalilah wa Dimnah. Untungnya, waktu kecil saya pernah membaca cerita Mahabharata yang ditulis oleh Padmosukoco dan dimuat bersambung selama beberapa tahun oleh Majalah Bahasa Jawa Jayabaya. Cerita Padmosukoco itu mirip dengan versi India.
Ada beberapa perbedaan antara cerita Mahabarata versi India ini dengan Mahabharata versi wayang Jawa. Tokoh punakawan seperti Semar Gareng Petruk Bagong jelas tidak ada dalam versi India. Begitu pula dengan Togok, Batara Guru serta Sanghyang Wenang. Namun tokoh Batara Indra, Wisnu, Brahma, Bayu dan sebagainya, ada dalam versi India.
Dalam wayang Jawa, gandarwa, yaksa, serta raksasa dianggap sama. Dalam cerita India, itu adalah kelompok makhluk yang berbeda.
Dalam cerita Jawa, Pandu adalah anak Abiyasa dan cucu Palasara. Dalam versi India, Pandu adalah cucu Santanu dan keponakan Bhisma. Dalam wayang Jawa, saya merasa tidak pernah jelas bagaimana bubungan antara Bhisma dengan Abiyasa, serta hubungan Palasara dengan Santanu.
Adapun uraian untuk perang Barata Yudha yang berlangsung selama 18 hari versi India terasa amat bertele-tele. Lebih menarik cerita versi wayang Jawa yang menjelaskan siapa yang mati pada hari pertama, hari kedua, dst secara lebih efisien.
***
Saya kira Ramayana versi Rajagopalchari ini sudah diringkas dari versi panjang. Soalnya, tidak ada cerita mengenai Arjuna Sasrabahu, Sumantri, Sukrasana. Juga soal Wisrawa dan Danaraja. Cerita mengenai Parasurama juga hanya dalam konteks pertemuannya dengan Rama.
Cerita Ramayana dalam buku ini langsung dimulai saat kelahiran Rama bersaudara dan kisruh berpangkal dari pewarisan tahta yang gagal dari Dasarata ke Rama.
Menariknya, pengarang cerita ini mencoba memberikan penjelasan mengenai hal-hal kontroversial menyangkut kepahlawanan Rama. Banyak buku—terutama yang kemudian menyebut Rahwana sebagai pahlawan—mempertanyakan kejanggalan sikap Rama.
Hal yang paling menonjol adalah bagaimana Rama dan Lesmana, memperlakukan Sarpanaka, adik perempuan Rahwana, yang jatuh hati kepada Lesmana namun justru diejek dan diperlakukan dengan menyedihkan.
Hal lainnya adalah keputusan Rama untuk membunuh Subali dengan cara membidikkan panah dari belakang ketika Subali sedang berperang-tanding melawan adiknya, Sugriwa. Ini dianggap sikap yang tidak ksatria.
Kontroversi lainnya soal sikap Rama terhadap Sinta setelah menang perang melawan pasukan Rahwana. Dengan kejam Rama mempertanyakan kesucian Sinta yang direspons Sinta membakar diri (dalam versi lain disebut diasingkan ke hutan). Nah, Rajagopalchari mencoba menjelaskan berbagai hal tadi dari sudut pandang Rama. Dia memberikan alasan-alasan yang bisa mematahkan argumen ang menyalahkan Rama.
Sebenarnya sudah agak lama saya ingin membeli dua buku itu. Namun desain covernya yang “India banget” membuat saya tidak nyaman. Nah, pekan lalu ada diskon sampai 40% dan saya kebetulan lagi cuti agak panjang, jadi saya beli. Masing-masing buku seharga Rp30.000.
Pertama-tama saya membeli buku Mahabharata dan saya baca sampai selesai. Setelah itu, karena merasa cara bercecitanya menarik, saya membeli yang Ramayana. Sampai selesai membaca dua buku itu, saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan klaim “edisi asli” dalam covernya.
Ini sebenarnya bukan terjemahan karya kuno Walmiki dan Wiyasa, atau pujangga lain pada masa yang lalu. Ini adalah karya pada dekade 1950-an yang ditulis Rajagopalchari untuk generasi muda India. Mungkin yang dimaksud asli adalah asli India, bukan asli terjemahan dari edisi kuno.
Tentu saja semua basisnya adalah karya Walmiki (Ramayana) dan Wiyasa (Mahabharata). Baik Walmiki maupun Wiyasa pada dasarnya bukan sepenuhnya pengarang cerita itu, melainkan orang yang mengumpulkan cerita itu sehingga dapat dirampaikan kepada generasi di bawahnya secara lebih sistematis.
Ada banyak versi Mahabharata dan Ramayana yang berkembang di India. Enaknya, dalam buku ini Rajagopalchari memberikan penjelasan mengenai adanya perbedaan versi. Sebagai contoh, dia menyebut versi Walmiki menjelaskan cerita bagian ini begini, sedangkan versi lain (misalnya versi Kamban) menyebut begitu.
Bahkan kadangkala Rajagopalchari menyebutkan contoh-contoh cerita kekinian (misalnya serangan Jepang ke pearl Harbour) yang dianggapnya relevan untuk menjelaskan mengapa tokoh-tokoh dalam ceritanya mengambil keputusan beini atau begitu.
***
Saya adalah penggemar wayang Jawa yang kisahnya sebagian besar diambil dengan latar belakang Mahabarata serta Ramayana. Namun membaca dua buku ini tidak seperti membaca cerita wayang.
Ini lebih mirip membaca mitologi Yunani atau terjemahan Kalilah wa Dimnah. Untungnya, waktu kecil saya pernah membaca cerita Mahabharata yang ditulis oleh Padmosukoco dan dimuat bersambung selama beberapa tahun oleh Majalah Bahasa Jawa Jayabaya. Cerita Padmosukoco itu mirip dengan versi India.
Ada beberapa perbedaan antara cerita Mahabarata versi India ini dengan Mahabharata versi wayang Jawa. Tokoh punakawan seperti Semar Gareng Petruk Bagong jelas tidak ada dalam versi India. Begitu pula dengan Togok, Batara Guru serta Sanghyang Wenang. Namun tokoh Batara Indra, Wisnu, Brahma, Bayu dan sebagainya, ada dalam versi India.
Dalam wayang Jawa, gandarwa, yaksa, serta raksasa dianggap sama. Dalam cerita India, itu adalah kelompok makhluk yang berbeda.
Dalam cerita Jawa, Pandu adalah anak Abiyasa dan cucu Palasara. Dalam versi India, Pandu adalah cucu Santanu dan keponakan Bhisma. Dalam wayang Jawa, saya merasa tidak pernah jelas bagaimana bubungan antara Bhisma dengan Abiyasa, serta hubungan Palasara dengan Santanu.
Adapun uraian untuk perang Barata Yudha yang berlangsung selama 18 hari versi India terasa amat bertele-tele. Lebih menarik cerita versi wayang Jawa yang menjelaskan siapa yang mati pada hari pertama, hari kedua, dst secara lebih efisien.
***
Saya kira Ramayana versi Rajagopalchari ini sudah diringkas dari versi panjang. Soalnya, tidak ada cerita mengenai Arjuna Sasrabahu, Sumantri, Sukrasana. Juga soal Wisrawa dan Danaraja. Cerita mengenai Parasurama juga hanya dalam konteks pertemuannya dengan Rama.
Cerita Ramayana dalam buku ini langsung dimulai saat kelahiran Rama bersaudara dan kisruh berpangkal dari pewarisan tahta yang gagal dari Dasarata ke Rama.
Menariknya, pengarang cerita ini mencoba memberikan penjelasan mengenai hal-hal kontroversial menyangkut kepahlawanan Rama. Banyak buku—terutama yang kemudian menyebut Rahwana sebagai pahlawan—mempertanyakan kejanggalan sikap Rama.
Hal yang paling menonjol adalah bagaimana Rama dan Lesmana, memperlakukan Sarpanaka, adik perempuan Rahwana, yang jatuh hati kepada Lesmana namun justru diejek dan diperlakukan dengan menyedihkan.
Hal lainnya adalah keputusan Rama untuk membunuh Subali dengan cara membidikkan panah dari belakang ketika Subali sedang berperang-tanding melawan adiknya, Sugriwa. Ini dianggap sikap yang tidak ksatria.
Kontroversi lainnya soal sikap Rama terhadap Sinta setelah menang perang melawan pasukan Rahwana. Dengan kejam Rama mempertanyakan kesucian Sinta yang direspons Sinta membakar diri (dalam versi lain disebut diasingkan ke hutan). Nah, Rajagopalchari mencoba menjelaskan berbagai hal tadi dari sudut pandang Rama. Dia memberikan alasan-alasan yang bisa mematahkan argumen ang menyalahkan Rama.
08 Januari 2013
Kehidupan dalam Gorong-gorong
Jakarta akan membangun gorong-gorong alias terowongan raksasa? Begitulah yang kita baca dari berita-berita tentang Ibu Kota dalam dua pekan terakhir. Hal ini dipicu oleh pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, ketika meninjau gorong-gorong di sekitar Bundaran Hotel Indonesia kira-kira sepekan sebelum tahun 2012 berakhir.
Rencana membangun gorong-gorong di kota metropolitan ini sontak mengingatkan saya akan cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma berjudul Klandestin. Itu sebuah cerita pendek tentang hidup dan perjuangan “manusia gorong-gorong”.
Cerpen itu dimuat Kompas pada Agustus 1993. Si tokoh yang disebut sebagai “Aku” hidup dalam gorong-gorong di bawah kota yang ternyata berisi banyak manusia.
Para manusia yang hidup seperti di dalam rangkaian gorong-gorong seperti sebuah labirin itu seolah membangun kotanya sendiri. Jadi mereka membangun sebuah kota di bawah kota.
Awalnya, si tokoh ”Aku” merasa tidak nyaman dengan kehidupan perkotaan yang dirasakannya penuh tirani di sekitarnya. Maka dengan senang hati dia bergabung ketika diajak masuk ke dalam kehidupan di bawah tanah itu. ”Aku datang untuk berpikir bebas,” begitulah pernyataannya ketika pertama kali masuk ke dalam gorong-gorong.
Akan tetapi, kemudian muncul banyak hal yang dianggap tidak sesuai dengan pemikiran merdekanya. Ketaatan mutlak, teror, dan perlawanan adalah ”ideologi” dalam dunia gorong-gorong itu.
Si tokoh ingin keluar dan kembali hidup dalam dunia normal di atas tanah, namun dia menemui kesulitan. Tidak mudah untuk bisa menemukan jalan ke luar dari bawah tanah.
Dia terus menggali dan berupaya. Wajahnya sudah penuh dengan tanah. si ”Aku” tetap tidak kunjung pula sampai ke atas tanah. Namun dia tetap berjuang tak kenal lelah.
****
Kita tinggalkan gorong-gorong Klandestin Seno Gumiro. Kita ikuti cerita lain yang juga bertutur mengenai gorong-gorong atau terowongan. Kali ini cerita pewayangan. Dalam lakon wayang Lahirnya Parikesit, ada kisah menarik mengenai upaya membuat terowongan.
Lakon ini berlatar belakang situasi tepat seusai Baratayuda, yakni perang besar antarketurunan Barata yang diwakili oleh Pandawa dari Amarta di satu sisi dan Kurawa yang mempertahankan Hastina di sisi yang lain.
Dalam perebutan Hastina itu, Kurawa kalah. Nyaris semua tokoh pendukung Kurawa tewas. Istana Hastina dikuasai Pendawa. Tinggal tersisa dua orang petinggi Hastina yakni Aswatama dan Kartamarma.
Aswatama adalah anak dari Resi Durna yang amat sakti. Dia mewarisi senjata sakti ayahnya, yakni Cundamanik, dan didukung oleh ibunya, seorang dewi bernama Wilotama.
Nah, Aswatama ingin membalas dendam kepada keluarga Pandawa. Dia berusaha menyusup ke dalam istana. Caranya, dengan membuat terowongan yang langsung tembus ke dalam istana. Sebagaimana khas cerita wayang, Aswatama membuat terowongan ke istana bermodalkan keampuhan senjata Cundamanik dan dukungan Wilotama.
Setelah masuk ke istana, Aswatama membuat onar. Dalam kekacauan itulah tewas beberapa tokoh penting dari pihak Amarta seperti Drestajumena, Pancawala, Sumbadra, Banowati, serta Setyaki.
Terowongan alias gorong-gorong ini memang dibuat dengan fungsi tunggal yakni menyusup ke sarang musuh. Aswatama bersama Kartamarma berhasil memanfaatkan torowongan yang dibuatnya itu dengan efektif.
****
Bila gorong-gorong labirin Klandestin dan terowongan Aswatama adalah cerita fiksi, lain pula dengan rencana Gubernur DKI Jakarta dalam membangun gorong-gorong atau terowongan ini.
Di Jakarta saat ini fungsi utama gorong-gorong adalah sebagai sarana drainase untuk mengalirkan air buangan. Ada fungsi lain juga seperti untuk saluran kabel dan pipa. Secara umum ukuran gorong-gorong ini kecil. Nah, Pak Jokowi ingin mengembangkan gorong-gorong dengan konsep yang agak berbeda.
Gorong-gorong alias terowongan ini, dalam kondisi kering, akan menggabungkan antara saluran air dan jalan dua tingkat. Terowongan juga berfungsi sebagai jalur untuk pipa air bersih, aliran lustrik PLN, gas, kabel telepon, dan sarana utilitas lainnya. Ukuran tunnel ini tentu saja besar. Diameter sekitar 16 meter dan panjangnya 19 kilometer.
Diperlukan biaya sekitar Rp16 triliun untuk membangunnya. Karena posisi Jakarta yang begitu dekat dengan laut dengan permukaan tanah yang relatif landai, maka terowongan air sedalam 40 meter—60 meter itu memerlukan pompa berukuran sangat besar agar air benar-benar bisa mengalir dan dibuang ke laut.
Ada banyak kendala teknis dan biaya yang mengadang pembangunan gorong-gorong alias terowongan besar ini. Akan ada lebih banyak lagi problem sosial yang mengikutinya. Sebagai contoh, masalah yang terkait dengan kebiasaan warga dalam membuang sampah, memperlakukan saluran air, serta penggunaan ruang publik yang mudah diakupansi warga jika tidak dijaga.
****
Gorong-gorong yang dimaksud dalam cerpen Klandestin tentu bukan gorong-gorong harfiah. Ini adalah pengandaian dari kehidupan bawah tanah alias kehidupan klandestin, seperti judul cerpen itu, yang ditulis dengan gaya khas Seno Gumira Ajidarma.
Gorong-gorong Klandestin adalah terowongan jalan hidup, adapun terowongan Aswatama adalah gorong-gorong perang, sedangkan tunnel Jokowi adalah sarana utilitas.
Lalu apa persamaannya? Semuanya dibangun dengan semangat tinggi, keberanian, pengorbanan besar, serta ”kesaktian” baik senjata maupun modal.
*Gambar wayang Aswatama diambil dari wayang dot wordpress dot com
Rencana membangun gorong-gorong di kota metropolitan ini sontak mengingatkan saya akan cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma berjudul Klandestin. Itu sebuah cerita pendek tentang hidup dan perjuangan “manusia gorong-gorong”.
Cerpen itu dimuat Kompas pada Agustus 1993. Si tokoh yang disebut sebagai “Aku” hidup dalam gorong-gorong di bawah kota yang ternyata berisi banyak manusia.
Para manusia yang hidup seperti di dalam rangkaian gorong-gorong seperti sebuah labirin itu seolah membangun kotanya sendiri. Jadi mereka membangun sebuah kota di bawah kota.
Awalnya, si tokoh ”Aku” merasa tidak nyaman dengan kehidupan perkotaan yang dirasakannya penuh tirani di sekitarnya. Maka dengan senang hati dia bergabung ketika diajak masuk ke dalam kehidupan di bawah tanah itu. ”Aku datang untuk berpikir bebas,” begitulah pernyataannya ketika pertama kali masuk ke dalam gorong-gorong.
Akan tetapi, kemudian muncul banyak hal yang dianggap tidak sesuai dengan pemikiran merdekanya. Ketaatan mutlak, teror, dan perlawanan adalah ”ideologi” dalam dunia gorong-gorong itu.
Si tokoh ingin keluar dan kembali hidup dalam dunia normal di atas tanah, namun dia menemui kesulitan. Tidak mudah untuk bisa menemukan jalan ke luar dari bawah tanah.
Dia terus menggali dan berupaya. Wajahnya sudah penuh dengan tanah. si ”Aku” tetap tidak kunjung pula sampai ke atas tanah. Namun dia tetap berjuang tak kenal lelah.
****
Kita tinggalkan gorong-gorong Klandestin Seno Gumiro. Kita ikuti cerita lain yang juga bertutur mengenai gorong-gorong atau terowongan. Kali ini cerita pewayangan. Dalam lakon wayang Lahirnya Parikesit, ada kisah menarik mengenai upaya membuat terowongan.
Lakon ini berlatar belakang situasi tepat seusai Baratayuda, yakni perang besar antarketurunan Barata yang diwakili oleh Pandawa dari Amarta di satu sisi dan Kurawa yang mempertahankan Hastina di sisi yang lain.
Dalam perebutan Hastina itu, Kurawa kalah. Nyaris semua tokoh pendukung Kurawa tewas. Istana Hastina dikuasai Pendawa. Tinggal tersisa dua orang petinggi Hastina yakni Aswatama dan Kartamarma.
Aswatama adalah anak dari Resi Durna yang amat sakti. Dia mewarisi senjata sakti ayahnya, yakni Cundamanik, dan didukung oleh ibunya, seorang dewi bernama Wilotama.
Nah, Aswatama ingin membalas dendam kepada keluarga Pandawa. Dia berusaha menyusup ke dalam istana. Caranya, dengan membuat terowongan yang langsung tembus ke dalam istana. Sebagaimana khas cerita wayang, Aswatama membuat terowongan ke istana bermodalkan keampuhan senjata Cundamanik dan dukungan Wilotama.
Setelah masuk ke istana, Aswatama membuat onar. Dalam kekacauan itulah tewas beberapa tokoh penting dari pihak Amarta seperti Drestajumena, Pancawala, Sumbadra, Banowati, serta Setyaki.
Terowongan alias gorong-gorong ini memang dibuat dengan fungsi tunggal yakni menyusup ke sarang musuh. Aswatama bersama Kartamarma berhasil memanfaatkan torowongan yang dibuatnya itu dengan efektif.
****
Bila gorong-gorong labirin Klandestin dan terowongan Aswatama adalah cerita fiksi, lain pula dengan rencana Gubernur DKI Jakarta dalam membangun gorong-gorong atau terowongan ini.
Di Jakarta saat ini fungsi utama gorong-gorong adalah sebagai sarana drainase untuk mengalirkan air buangan. Ada fungsi lain juga seperti untuk saluran kabel dan pipa. Secara umum ukuran gorong-gorong ini kecil. Nah, Pak Jokowi ingin mengembangkan gorong-gorong dengan konsep yang agak berbeda.
Gorong-gorong alias terowongan ini, dalam kondisi kering, akan menggabungkan antara saluran air dan jalan dua tingkat. Terowongan juga berfungsi sebagai jalur untuk pipa air bersih, aliran lustrik PLN, gas, kabel telepon, dan sarana utilitas lainnya. Ukuran tunnel ini tentu saja besar. Diameter sekitar 16 meter dan panjangnya 19 kilometer.
Diperlukan biaya sekitar Rp16 triliun untuk membangunnya. Karena posisi Jakarta yang begitu dekat dengan laut dengan permukaan tanah yang relatif landai, maka terowongan air sedalam 40 meter—60 meter itu memerlukan pompa berukuran sangat besar agar air benar-benar bisa mengalir dan dibuang ke laut.
Ada banyak kendala teknis dan biaya yang mengadang pembangunan gorong-gorong alias terowongan besar ini. Akan ada lebih banyak lagi problem sosial yang mengikutinya. Sebagai contoh, masalah yang terkait dengan kebiasaan warga dalam membuang sampah, memperlakukan saluran air, serta penggunaan ruang publik yang mudah diakupansi warga jika tidak dijaga.
****
Gorong-gorong yang dimaksud dalam cerpen Klandestin tentu bukan gorong-gorong harfiah. Ini adalah pengandaian dari kehidupan bawah tanah alias kehidupan klandestin, seperti judul cerpen itu, yang ditulis dengan gaya khas Seno Gumira Ajidarma.
Gorong-gorong Klandestin adalah terowongan jalan hidup, adapun terowongan Aswatama adalah gorong-gorong perang, sedangkan tunnel Jokowi adalah sarana utilitas.
Lalu apa persamaannya? Semuanya dibangun dengan semangat tinggi, keberanian, pengorbanan besar, serta ”kesaktian” baik senjata maupun modal.
*Gambar wayang Aswatama diambil dari wayang dot wordpress dot com
28 Desember 2012
Bersepeda Kurang Aman?
Mengapa bersepeda di jalan raya cenderung kurang aman? Karena, dalam berbagai aspek, sepeda sangat berbeda dengan rata-rata kendaraan lain. Ukuran sepeda jauh lebih kecil daripada ukuran rata-rata kendaraan seperti motor dan apalagi mobil atau bahkan bus dan truk.
Kecepatan rata-ratanya juga jauh lebih rendah dibandingkan laju rata-rata kendaraan lain yang dominan di jalan raya.
Akselerasinya pun kalah jauh. Untuk menggenjot dari berhenti menuju kecepatan 20km per jam pada sepeda perlu waktu lebih lama daripada hal serupa pada motor dan mobil. Di sisi lain, kepakeman remnya juga kalah.
Pada dasarnya, berkendara paling aman itu bila kita sama atau mirip dengan rata-rata kendaraan lain baik dalam hal ukuran, kecepatan, akselerasi, maupun pengereman.
Foto sepeda diambil dari sausedo dot net
Wiyasa dan Ganapati
Mahabharata adalah sebuah cerita besar. Di Jawa kebanyakan orang mengertinya sebagai cerita wayang. Mahabharata dikarang oleh Resi Wiyasa atau Begawan Wiyasa atau Vyasa.
Dalam cerita mengenai asal-usul pembukuan Mahabharata, C. Rajagopalachari menyatakan bahwa Resi Wiyasa meminta kepada seseorang bernama Ganapati untuk menjadi juru tulisnya.
Ganapati mengajukan syarat: Wiyasa harus mendiktekan cerita tanpa jeda. Sebab, pena Ganapati tak boleh berhenti.
Nah, bubungan antara Wiyasa dan Ganapati ini menggelitikku. Ganapati bisa menjadi sebuah kiasan mengenai medium yang tak boleh berhenti beredar, tak bisa berhenti turbit. Ini bisa seperti media massa, atau katakanlah koran.
Jadi, hubungan Wiyasa-Ganapati ini bisa mirip hubungan antara penulis cerita bersambung (cembung) dengan pengelola koran. Penulis cerbung gak boleh berhenti berkisah karena tiap hari harus terbit ceritanya.
Memang ada juga sih media yang minta penulis menyelesaikan cerita lengkapnya dulu baru dimuat secara bersambung. Akan tetapi, untuk kasus cerbung yang belasan atau likuran tahun baru tamat, misalnya cerita Api di Bukit Menoreh, tentu pola seperti Wiyasa dan Ganapati lah yang berlaku. Wallahu a’lam.
Gambar wayang Gatotkaca diambil dari IndoArtNet
Antrean dan Kecepatan
Anak sulungku biasanya sangat senang kalau kami berada paling depan dalam antrean kendaraan. Dia mungkin merasa ayahnya, atau kendaraan ayahnya, adalah yang paling hebat karena berada paling depan dalam iring-iringan.
Namun, benarkah paling depan dalam antrean itu paling hebat karena paling cepat?
Saya justru berpikir lain.
Berada paling depan dalam antrean/iring-iringan bukan berarti yang tercepat. Bisa jadi malah yangg paling lambat. Buktinya, semua kendaraan lain bisa menguntit di belakang kita. Bisa jadi kitalah sumber kelambatan atau iring-iringan itu. Kalau saja kita bisa lebih cepat, iring-iringan mungkin tak perlu terjadi. Jalanan lebih lancar. Mungkin ini akan terasa banget ketika kita mengemudikan kendaraan besar yang lambat seperti truk atau traktor. Semua kendaraan lain yang lebih cepat akan nempel di belakang kita. Kalau bisa nyalip dia akan menyalip. Kalau tidak bisa nyalip maka dia akan menjadi ”pengiring” kita.
Sebaliknya, berada paling belakang dalam antrean/iring-iringan kendaraan bukan berarti yang paling lambat. Bisa jadi malah yang tercepat karena terbukti bisa menyusul kendaraan-kendaraan yang di depan.
***
Antrean ada di mana-mana, bukan hanya soal kendaraan. Ada antrean karier, antrean jabatan, antrean kelulusan dan sebagainya. Kalau antrean kendaraan terjadi karena keterbatasan jalan, maka antrean lain juga terjadi karena keterbatasan sumber daya yang bersedia antuk mengakomodasi harapan.
Nah, berada di manakah kita dalam antrean sisi-sisi kehidupan itu? Paling depan atau paling belakang? Paling lambat atau paling cepat?
Foto dikutip dari Solopos
Namun, benarkah paling depan dalam antrean itu paling hebat karena paling cepat?
Saya justru berpikir lain.
Berada paling depan dalam antrean/iring-iringan bukan berarti yang tercepat. Bisa jadi malah yangg paling lambat. Buktinya, semua kendaraan lain bisa menguntit di belakang kita. Bisa jadi kitalah sumber kelambatan atau iring-iringan itu. Kalau saja kita bisa lebih cepat, iring-iringan mungkin tak perlu terjadi. Jalanan lebih lancar. Mungkin ini akan terasa banget ketika kita mengemudikan kendaraan besar yang lambat seperti truk atau traktor. Semua kendaraan lain yang lebih cepat akan nempel di belakang kita. Kalau bisa nyalip dia akan menyalip. Kalau tidak bisa nyalip maka dia akan menjadi ”pengiring” kita.
Sebaliknya, berada paling belakang dalam antrean/iring-iringan kendaraan bukan berarti yang paling lambat. Bisa jadi malah yang tercepat karena terbukti bisa menyusul kendaraan-kendaraan yang di depan.
***
Antrean ada di mana-mana, bukan hanya soal kendaraan. Ada antrean karier, antrean jabatan, antrean kelulusan dan sebagainya. Kalau antrean kendaraan terjadi karena keterbatasan jalan, maka antrean lain juga terjadi karena keterbatasan sumber daya yang bersedia antuk mengakomodasi harapan.
Nah, berada di manakah kita dalam antrean sisi-sisi kehidupan itu? Paling depan atau paling belakang? Paling lambat atau paling cepat?
Foto dikutip dari Solopos
10 Desember 2012
Pembatasan kendaraan berdasar nomor genap ganjil
Yang kupahami, aturan pembatasan berdasar nomor genap-ganjil itu kan masih kerangka. Praktiknya perlu detail soal jam, jalan mana, serta hari apa.
Sama dengan 3 in 1, bukan berarti mobil yang tidak berpenumpang 3 orang tidak boleh masuk Jakarta. Aturan 3 in 1 kan ada jamnya, ada lokasinya, dan ada harinya. Begitu juga car free day.
Kita masih perlu melihat bagaimana detail aturan nomor genap ganjil itu.
Sama dengan 3 in 1, bukan berarti mobil yang tidak berpenumpang 3 orang tidak boleh masuk Jakarta. Aturan 3 in 1 kan ada jamnya, ada lokasinya, dan ada harinya. Begitu juga car free day.
Kita masih perlu melihat bagaimana detail aturan nomor genap ganjil itu.
Antara kereta dan bus
Kereta adalah sosialisme, mobil adalah kapitalisme.
Kereta harus didesain secara holistik antara kendaraan, jalan, terminal, tempat parkir, bengkel, sampai jadwal perjalanannya. Adapun mobil bisa didesain terpisah-pisah. Masing-masing bagian dengan kecenderungan dan keterbatasan sendiri.
Kereta mengatasi macet, mobil bikin macet.
Kereta berbagi, mobil berebut.
Kereta harus didesain secara holistik antara kendaraan, jalan, terminal, tempat parkir, bengkel, sampai jadwal perjalanannya. Adapun mobil bisa didesain terpisah-pisah. Masing-masing bagian dengan kecenderungan dan keterbatasan sendiri.
Kereta mengatasi macet, mobil bikin macet.
Kereta berbagi, mobil berebut.
16 November 2012
Manyatunya penanggalan Jawa dan Hijriah
Tahun baru hijriah telah tiba. Tahun baru Jawa juga tiba. Ini saat yang menarik untuk menengok kembali bagaimana penanggalan hijriah dan penanggalan Jawa menyatu begitu rupa?
Lha, ndilalah, persis di penghujung tahun 1433 Hijriah itu, saya kok menemukan buku yang salah satu bagiannya membahas soal kalender Jawa-Islam. Buku itu tulisan Agus Sunyoto, pengarang Rahuvana Tattwa yang unik dan tidak biasa itu.
Judul bukunya sih provokatif dan terkesan memecah belah: Sufi Ndeso vs Wahabi Kota. Tapi, okelah, lupakan soal perjudulan, toh ini buku sisinya campur aduk, salah satunya ya soal penyatuan kalender Jawa dan Islam.
***
Kalender Hijriah adalah kalender yang berbasis pergerakan bulan terhadap bumi sehingga disebut qomariyah (qomar dalam bahasa Arab berarti bulan). Sistem bulannya sudah ada di Arab sebelum Nabi Muhammad diutus, namun perhitungan tahunnya baru ditetapkan oleh Umar bin Khatab (khalifah setelah Abubakar) dengan berpatokan pada permulaan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.
Sementara itu, di Jawa era kuno, kalender yang dipakai yakni penanggalan Saka yang berbasis pergerakan matahari atau syamsiah (syam dalam bahasa Arab berarti matahari). Penanggalan Saka ini ”ketinggalan” 78 tahun dari penanggalan Masehi. Jadi kalau ada tahun 1200 Masehi berarti sama dengan tahun 1122 Saka. Tahun 1200 Saka berarti 1278 Masehi.
Nah, Islam masuk dalam kekuasaan di Indonesia sejak akhir era Majapahit. Lalu menjadi penguasa terbesar di Jawa pada era Demak, Pajang, dan kemudian Mataram.
Pada masa Mataram (Islam) inilah penanggalan Jawa digabungkan antara Saka dan Hijriah. Hal itu dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram dengan kekuasaan terluas, ketika awal tahun 1555 Saka berlangsung bersamaan dengan awal tahun 1043 Hijriah. Ini terjadi pada Jumat legi, 8 Juli 1633 Masehi.
Dalam penanggalan Jawa model baru itu, angka tahun tetap melanjutkan tahun Saka, namun siklus dalam satu tahun mengacu pada penanggalan hijriah. Jadi awal tahun Jawa bersamaan dengan 1 Muharram. Bulan Muharram dalam penanggalan Jawa disebut bulan Suro (mungkin ada kaitannya dengan Hari Asy-Syura yang jatuh pada 10 Muharram?). Nama beberapa bulan lain ada yang mengacu pada nama Arab (misalnya Sapar, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Sawal, Dulkaidah)
Karena angka tahunnya hanya lanjutan sementara siklusnya berbeda, maka untuk peristiwa setelah 1555 Saka atau 1633 Masehi angka kalibrasinya tidak bisa konstan 68 tahun seperti semula melainkan kian mendekat berhubung jumlah hari pada tahun syamsiah lebih banyak daripada jumlah hari pada tahun qomariyah.
Namun Agus Sunyoto menegaskah bahwa masyarakat Jawa sebelum era Sultan Agung tidak sepenuhnya menggunakan kalender matahari. Mereka juga menggunakan kalender qomariyah. Hal ini terbukti bahwa hampir semua prasasti sejak era Mataram kuno (abad ke-7) menggunakan candrasengkala atau isyarat tahun yang berbasis bulan.
Agus Sunyoto menjelaskan lebih banyak lagi soal penggunaan candrasengkala di Jawa dan asimilasi nama hari serta pasaran Jawa. Jadi, menurutnya, yang dilakukan Sultan Agung bukan mengganti penanggalan Saka dengan Hijriah, melainkan asimilasi berbagai unsurnya menjadi kalender Jawa yang baru. Wallahu a’lam.
Lha, ndilalah, persis di penghujung tahun 1433 Hijriah itu, saya kok menemukan buku yang salah satu bagiannya membahas soal kalender Jawa-Islam. Buku itu tulisan Agus Sunyoto, pengarang Rahuvana Tattwa yang unik dan tidak biasa itu.
Judul bukunya sih provokatif dan terkesan memecah belah: Sufi Ndeso vs Wahabi Kota. Tapi, okelah, lupakan soal perjudulan, toh ini buku sisinya campur aduk, salah satunya ya soal penyatuan kalender Jawa dan Islam.
***
Kalender Hijriah adalah kalender yang berbasis pergerakan bulan terhadap bumi sehingga disebut qomariyah (qomar dalam bahasa Arab berarti bulan). Sistem bulannya sudah ada di Arab sebelum Nabi Muhammad diutus, namun perhitungan tahunnya baru ditetapkan oleh Umar bin Khatab (khalifah setelah Abubakar) dengan berpatokan pada permulaan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.
Sementara itu, di Jawa era kuno, kalender yang dipakai yakni penanggalan Saka yang berbasis pergerakan matahari atau syamsiah (syam dalam bahasa Arab berarti matahari). Penanggalan Saka ini ”ketinggalan” 78 tahun dari penanggalan Masehi. Jadi kalau ada tahun 1200 Masehi berarti sama dengan tahun 1122 Saka. Tahun 1200 Saka berarti 1278 Masehi.
Nah, Islam masuk dalam kekuasaan di Indonesia sejak akhir era Majapahit. Lalu menjadi penguasa terbesar di Jawa pada era Demak, Pajang, dan kemudian Mataram.
Pada masa Mataram (Islam) inilah penanggalan Jawa digabungkan antara Saka dan Hijriah. Hal itu dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram dengan kekuasaan terluas, ketika awal tahun 1555 Saka berlangsung bersamaan dengan awal tahun 1043 Hijriah. Ini terjadi pada Jumat legi, 8 Juli 1633 Masehi.
Dalam penanggalan Jawa model baru itu, angka tahun tetap melanjutkan tahun Saka, namun siklus dalam satu tahun mengacu pada penanggalan hijriah. Jadi awal tahun Jawa bersamaan dengan 1 Muharram. Bulan Muharram dalam penanggalan Jawa disebut bulan Suro (mungkin ada kaitannya dengan Hari Asy-Syura yang jatuh pada 10 Muharram?). Nama beberapa bulan lain ada yang mengacu pada nama Arab (misalnya Sapar, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Sawal, Dulkaidah)
Karena angka tahunnya hanya lanjutan sementara siklusnya berbeda, maka untuk peristiwa setelah 1555 Saka atau 1633 Masehi angka kalibrasinya tidak bisa konstan 68 tahun seperti semula melainkan kian mendekat berhubung jumlah hari pada tahun syamsiah lebih banyak daripada jumlah hari pada tahun qomariyah.
Namun Agus Sunyoto menegaskah bahwa masyarakat Jawa sebelum era Sultan Agung tidak sepenuhnya menggunakan kalender matahari. Mereka juga menggunakan kalender qomariyah. Hal ini terbukti bahwa hampir semua prasasti sejak era Mataram kuno (abad ke-7) menggunakan candrasengkala atau isyarat tahun yang berbasis bulan.
Agus Sunyoto menjelaskan lebih banyak lagi soal penggunaan candrasengkala di Jawa dan asimilasi nama hari serta pasaran Jawa. Jadi, menurutnya, yang dilakukan Sultan Agung bukan mengganti penanggalan Saka dengan Hijriah, melainkan asimilasi berbagai unsurnya menjadi kalender Jawa yang baru. Wallahu a’lam.
27 September 2012
Menyambangi (bekas) Konstantinopel
Dulu waktu berada di sekolah menengah (SMP/SMA), dari pelajaran sejarah saya mendengar tentang kekaisaran Romawi Timur alias Bizantium. Ibukotanya adalah Kontantinopel.
Meskipun saya penggemar sejarah Indonesia, saya blas tidak paham tentang sejarah Eropa. Waktu itu saya juga tidak tahu bahwa Konstantinopel itu ternyata kemudian berubah nama menjadi Istanbul setelah dikuasai Dinasti Utsmaniah/kesultanan Utsmani (Ottomans).
Waktu kecil saya sering mendengar nama Istanbul (atau Istambul atau Stambul) ya justru dari cerita kethoprak atau cerita berlatar belakang Timur Tengah lainnya.
Eh, lhadalah, alhamdulillah, kok beberapa waktu lalu mendapat kesempatan menengok bekas pusatnya Bizantium yang bernama Kontantinopel alias Istanbul itu. Walaupun cuma mampir beberapa jam karena transit, alhamdulillah bisa mengunjungi Obelisk yang berusia 35 abad, Hagia Sophia yang berumur lebih dari 15 abad, serta Mesjid Biru Sultanahmet yang dibangun pada dekade 1610-an (bareng dengan masa kerajaan Demak di Jawa).
Dan pada saat benar-benar berkunjung itulah saya baru menyadari bahwa kota itu adalah kota yang begitu tua, bersejarah, pernah menjadi pusat peradaban dunia pada beberapa abad yang lampau, dan bekas-bekasnya masih benar-benar bisa dilihat dan ditemui. Alhamdulillahirabbil alamiin.
Meskipun saya penggemar sejarah Indonesia, saya blas tidak paham tentang sejarah Eropa. Waktu itu saya juga tidak tahu bahwa Konstantinopel itu ternyata kemudian berubah nama menjadi Istanbul setelah dikuasai Dinasti Utsmaniah/kesultanan Utsmani (Ottomans).
Waktu kecil saya sering mendengar nama Istanbul (atau Istambul atau Stambul) ya justru dari cerita kethoprak atau cerita berlatar belakang Timur Tengah lainnya.
Eh, lhadalah, alhamdulillah, kok beberapa waktu lalu mendapat kesempatan menengok bekas pusatnya Bizantium yang bernama Kontantinopel alias Istanbul itu. Walaupun cuma mampir beberapa jam karena transit, alhamdulillah bisa mengunjungi Obelisk yang berusia 35 abad, Hagia Sophia yang berumur lebih dari 15 abad, serta Mesjid Biru Sultanahmet yang dibangun pada dekade 1610-an (bareng dengan masa kerajaan Demak di Jawa).
Dan pada saat benar-benar berkunjung itulah saya baru menyadari bahwa kota itu adalah kota yang begitu tua, bersejarah, pernah menjadi pusat peradaban dunia pada beberapa abad yang lampau, dan bekas-bekasnya masih benar-benar bisa dilihat dan ditemui. Alhamdulillahirabbil alamiin.
Kebanggaan Ukraina Setelah Piala Eropa
Surat kabar Kyiv Post edisi 31 Agustus 2012 memuat sebuah karikatur menarik di halaman Opini. Karikatur besar itu menggambarkan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych dengan bangga naik balon udara bertuliskan The World Cup in Ukraine.
Lalu para penonton yang berada di bawah dengan sinis menyatakan betapa Sang Presiden telah melambung tinggi jauh dari kenyataan.
Di sisi kanan bawah karikatur itu dijelaskan konteksnya. Pada 29 Agustus 2012, Presiden Yanukovych menyatakan Ukraina siap menjadi tuan rumah acara sepak bola Piala Dunia FIFA setelah sukses menjadi tuan rumah Piala Eropa pada awal musim panas tahun ini. Pernyataan itu disampaikan di Donetsk, salah satu kota yang dijadikan arena pertandingan Piala Eropa yang baru lalu.
Yang menggelikan bagi orang-orang Ukraina dari pernyataan Sang Presiden adalah kenyataan bahwa tuan rumah Piala Dunia FIFA sudah ditetapkan hingga 2022, yakni Brasil pada 2014, Rusia pada 2018, dan Qatar pada 2022. Jadi, pernyataan itu dianggap sebagai impian yang melambung terlalu jauh dari kenyataan, seperti terbang menggunakan balon yang tidak menginjak bumi.
Bagi saya, secara tersirat, karikatur dalam surat kabar berbahasa Inggris terbitan Kiev, ibukota Ukraina, itu menggambarkan betapa keberhasilan bekas bagian Uni Soviet itu bersama dengan Polandia menjadi tuan rumah Piala Eropa membawa pengaruh dan kebanggaan yang tidak sedikit.
Beberapa ulasan dalam surat kabar dan publikasi yang terbit awal September juga masih menyorot dampak pergelaran Piala Eropa bagi citra dan perekonomian negara yang berpenduduk sekitar 45 juta jiwa itu.
*) Tulisan selengkapnya dimuat di Bisnis Indonesia Weekend yang beredar 21 September 2012
Lalu para penonton yang berada di bawah dengan sinis menyatakan betapa Sang Presiden telah melambung tinggi jauh dari kenyataan.
Di sisi kanan bawah karikatur itu dijelaskan konteksnya. Pada 29 Agustus 2012, Presiden Yanukovych menyatakan Ukraina siap menjadi tuan rumah acara sepak bola Piala Dunia FIFA setelah sukses menjadi tuan rumah Piala Eropa pada awal musim panas tahun ini. Pernyataan itu disampaikan di Donetsk, salah satu kota yang dijadikan arena pertandingan Piala Eropa yang baru lalu.
Yang menggelikan bagi orang-orang Ukraina dari pernyataan Sang Presiden adalah kenyataan bahwa tuan rumah Piala Dunia FIFA sudah ditetapkan hingga 2022, yakni Brasil pada 2014, Rusia pada 2018, dan Qatar pada 2022. Jadi, pernyataan itu dianggap sebagai impian yang melambung terlalu jauh dari kenyataan, seperti terbang menggunakan balon yang tidak menginjak bumi.
Bagi saya, secara tersirat, karikatur dalam surat kabar berbahasa Inggris terbitan Kiev, ibukota Ukraina, itu menggambarkan betapa keberhasilan bekas bagian Uni Soviet itu bersama dengan Polandia menjadi tuan rumah Piala Eropa membawa pengaruh dan kebanggaan yang tidak sedikit.
Beberapa ulasan dalam surat kabar dan publikasi yang terbit awal September juga masih menyorot dampak pergelaran Piala Eropa bagi citra dan perekonomian negara yang berpenduduk sekitar 45 juta jiwa itu.
*) Tulisan selengkapnya dimuat di Bisnis Indonesia Weekend yang beredar 21 September 2012
21 September 2012
Kota Seribu Taman
Akhir pekan adalah saat yang menyenangkan untuk bersantai menikmati kota Kiev, ibukota Ukraina, bekas bagian dari Uni Soviet. Di pusat kota ada monumen kemerdekaan.
Di dekat monumen kemerdekaan ini, yakni sepanjang jalan Khreschatyk yang mirip Jalan Thamrin Jakarta, diberlakukan car free day selama Sabtu-Minggu. Orang bebas berjalan-jalan di jalan lebar itu. Asyiknya, pada akhir pekan ada berbagai pertunjukan yang digelar serius.
Di dekat monumen kemerdekaan ini, yakni sepanjang jalan Khreschatyk yang mirip Jalan Thamrin Jakarta, diberlakukan car free day selama Sabtu-Minggu. Orang bebas berjalan-jalan di jalan lebar itu. Asyiknya, pada akhir pekan ada berbagai pertunjukan yang digelar serius.
Akhir pekan yang lalu, misalnya, ada perlombaan loncat tinggi galah. Seperti kita tahu, loncat galah adalah salah satu olahraga kebanggaan Ukraina. Salah satu atlet legendaris adalah Serhiy Bubka, pemegang berkali-kali rekor lompat galah, yang ternyata adalah warga Ukraina. Monumen Bubka telah dibangun dan diresmikan walaupun atlet itu masih hidup.
Perlombaan loncat tinggi dengan galah di arena car free day itu ramai sekali dan padat penonton termasuk anak-anak kecil.
Tidak kalah menarik digelar pula perlombaan sepeda dengan peserta para wanita. Sayang sekali, bahasa dan tulisan dengan huruf cirilik itu tidak bisa kami mengerti. Jadi kami tidak tahu itu pertunjukan dan perlombaan tingkat apa dan siapa pesertanya.
Di ujung jalan Khreschatyk terdapat patung Lenin. Di belakangnya membentang tempat jalan kaki yang diapit jejeran tanaman rimbun. Itu adalah Bulevard Shevchenko. Jika kita susuri sekitar 10 menit akan sampai ke taman Shevchenco yang sangat indah dan bersih. Jika kita lanjutnya menyusuri bulevard itu sekitar 10 menit, kita akan tiba di Botanical Garden. Sepintas mirip rerimbunan pohon Jalan Cilaki Bandung, namun dalam ukuran yang jauh lebih besar.
Ya, di kota Kiev memang banyak sekali taman. Semuanya gratis. Taman Shevchenco dan Botanical Garden hanyalah satu dari belasan atau puluhan taman lain yang tersebar di berbagai sudut kota, baik berukuran besar maupun berukuran kecil.
Pengelola Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia barangkali perlu belajar dari Kiev bagaimana membangun dan mengelola taman-taman di tengah kota agar asri, rimbun dan nyaman.
Namun ada satu hal yang perlu diingat ketika berjalan-jalan sendirian atau dalam rombongan kecil di Kiev, yaitu keamanan. Sebagian lokasi taman sangat sepi, sementara berbagai buku petunjuk wisata mengingatkan soal perlunya menjaga keamanan. Jadi, hati-hati bila berjalan-jalan sendirian.
Meskipun secara umum orang Ukraina ramah, namun jangan kaget bila anda minta tolong untuk difoto di lokasi yang menurut Anda menarik, namun ternyata ditolak oleh orang yang Anda mintai tolong.
Kiev atau Kyiv atau KNIB?
Dalam berbagai plang yang ada di jalan maupun di peta dan petunjuk perjalanan, ibukota Ukraina itu kadang ditulis Kiev dan kadangkala ditulis Kyiv. Kalau ditulis dengan huruf setempat bahkan seolah-olah penulisannya menjadi seperti KNIB.
Surat kabar setempat yang berbahasa Inggris terbitan Public Media LCC memilih nama Kyiv Post bukan Kiev Post.
Ditelisik lebih jauh, ternyata dua kata itu berasal dari bahasa yang berbeda. Penulisan Kyiv mengacu pada bahasa Ukraina sedangkan Kiev mengacu pada Bahasa Rusia. Sayangnya, yang lebih populer secara internasional dan diadopsi Eropa Barat justru Kiev yang mengacu pada logat Rusia, bukan Ukraina.
Sebelum tiba di Ukraina, yang saya bayangkan tentang negeri itu adalah tanah kelahiran “bapak helikopter” Igor Sikorsky, serta tempat berkarya bapak “tabel periodik kimia” Dmitry Mendeleyev. Namun saya tidak menemukan jejak mereka berdua selama hampir sepekan mengunjungi Ukraina.
Posisi Ukraina cukup dekat dengan Ibu Kota Rusia, Moskwa. Dalam hal kesukuan, sekitar 17,3% warganya beretnis Rusia. Jadi, hubungan kedua negara relatif dekat. Ukraina memerdekakan diri pada 1991 setelah Uni Soviet bubar.
Sebenarnya, banyak tokoh Uni Soviet berasal dari Ukraina. Leon Trotsky, misalnya, salah satu tokoh Revolusi Bolshevick selain Vladimir Lenin, adalah orang Ukraina.
Leonid Brezhnev yang pernah menjadi pemimpin tertinggi Uni Soviet, juga orang Ukraina. Nikita Khrushchev pada saat remaja pernah berpindah dari Rusia ke Donetsk dan mendapatkan posisi penting dalam Partai Komunis di Kiev. Sekarang pun surat kabar yang berpusat di Rusia masih beredar luas di Ukraina.
* Tulisan ini dimuat dalam Bisnis Indonesia Weekend yang terbit 21 September
Surat kabar setempat yang berbahasa Inggris terbitan Public Media LCC memilih nama Kyiv Post bukan Kiev Post.
Ditelisik lebih jauh, ternyata dua kata itu berasal dari bahasa yang berbeda. Penulisan Kyiv mengacu pada bahasa Ukraina sedangkan Kiev mengacu pada Bahasa Rusia. Sayangnya, yang lebih populer secara internasional dan diadopsi Eropa Barat justru Kiev yang mengacu pada logat Rusia, bukan Ukraina.
Sebelum tiba di Ukraina, yang saya bayangkan tentang negeri itu adalah tanah kelahiran “bapak helikopter” Igor Sikorsky, serta tempat berkarya bapak “tabel periodik kimia” Dmitry Mendeleyev. Namun saya tidak menemukan jejak mereka berdua selama hampir sepekan mengunjungi Ukraina.
Posisi Ukraina cukup dekat dengan Ibu Kota Rusia, Moskwa. Dalam hal kesukuan, sekitar 17,3% warganya beretnis Rusia. Jadi, hubungan kedua negara relatif dekat. Ukraina memerdekakan diri pada 1991 setelah Uni Soviet bubar.
Sebenarnya, banyak tokoh Uni Soviet berasal dari Ukraina. Leon Trotsky, misalnya, salah satu tokoh Revolusi Bolshevick selain Vladimir Lenin, adalah orang Ukraina.
Leonid Brezhnev yang pernah menjadi pemimpin tertinggi Uni Soviet, juga orang Ukraina. Nikita Khrushchev pada saat remaja pernah berpindah dari Rusia ke Donetsk dan mendapatkan posisi penting dalam Partai Komunis di Kiev. Sekarang pun surat kabar yang berpusat di Rusia masih beredar luas di Ukraina.
* Tulisan ini dimuat dalam Bisnis Indonesia Weekend yang terbit 21 September
20 September 2012
“Mudik” ke Desa Tua Ukraina
Serbuan nyamuk yang ganas. Itulah yang kami rasakan ketika
kemarin petang mengunjungi Pirogovo, sebuah perdesaan tua dekat kota Kiev,
Ukraina, yang dipertahankan sebagai semacam museum.
Kami datang ke sana sebagai bagian dari acara makan malam
hari pertama kegiatan Kongres Surat Kabar Dunia ke-64 sekaligus World Editors
Forum ke-19 yang digelar WAN-IFRA (World Association of Newspapers and News
Publishers).
Kami tiba sekitar pukul 19.45. Seharusnya kami datang lebih cepat, sebelum
udara menjad terlalu gelap. Sekadar informasi, waktu maghrib saat di ini sekitar
Kiev kira-kira pukul 20.00 malam. Jadi kami tiba persis menjelang maghrib. Dan
saat itulah agaknya waktu favorit bagi para nyamuk untuk menyerbu. Maka ratusan
orang peserta kongres yang datang dari segala penjuru dunia dan baru turun bus
itu pun menjadi mangsa yang menyenangkan.
Pirogovo yang disebut sebagai museum arsitektur tradisional
ini berada kira-kira setengah jam perjalanan (bila tidak macet) dari pusat kota
Kiev. Jalan di sekitar lokasi hanya pas untuk bus bersimpangan. Menjelang lokasi
perdesaan itu hanya ada padang rumput yang luas.
Di Pirogovo terdapat belasan rumah yang dipertahankan asli,
mirip dengan perdesaan Indonesia puluhan tahun yang lalu. Rumah-rumah dari kayu
dan batu, dengan perabot di ruang tamu, ruang makan, serta ruang tidur ada di
dalamnya. Peralatan dapur tradisional juga ditempatkan seperti seharusnya.
Sayang sekali ketika kami mulai masuk ke rumah-rumah itu, hari sudah gelap. Dan
tidak ada lampu listrik yang dinyalakan. Jadinya hanya mengandalkan penerangan
dari “senter” berupa lampu ponsel.
Kegiatan makan malam dipusatkan di sebuah lapangan tak jauh
dari rumah-rumah tradisional itu. Disediakan dua buah tenda besar untuk tempat
makan. Di antara tenda itu terdapat beberapa meja yang dipakai penduduk setempat
untuk menjual sovenir. Ada bermacam gerabah khas Ukraina. Juga pakaian
tradisional dari katun dan kulit. Secara umum harga pakaian di Ukraina jauh
lebih mahal daripada di Indonesia. Namun souvenir semacam gerabah tidaklah
mahal. Di Lokasi itu banyak pengunjung yang membeli sovenir dari gerabah namun
tak banyak yang membeli pakaian tradisonal yang bentuknya mirip sekali baju koko
di Indonesia.
Tarian tradisonal yang dinamis dengan puluhan penari berbagai
usia agaknya merupakan tampilan khas. Siang hari pada pembukaan kongres para
peserta disuguhi tarian itu. Malam hari kembali disuguhi tarian serupa. Ada
puluhan orang, dari usia tua hingga anak-anak terlibat menyanyi.
Dengan warna kostum khas paduan antara merah dan putih, para
penarik bergerak sangat dinamis. Ini mirip dengan pertunjukan senam. Tarian
kolosal yang orang-orangnya bisa melompat-lompat secara sangat atraktif.
Barangkali tarian dengan pola semacam ini adalah khas di Eropa Timur dan daerah
sekitar Laut Hitam.
Malam semakin larut dan pertunjukan tari dipindah dari
panggung ke lapangan terbuka. Kali ini pertunjukan tari dengan api. Kalau di
Indonesia mirip dengan pertunjukan obor atau oncor, hanya saja dengan gerakan
yang lebih atarktif serta berbahaya.
Nyamuk-nyamuk tetap saja menggigit ketika semua pertunjukan
usai dan rombongan harus menunggu bus penjemput yang ternyata sangat lama. “Nyamuknya lebih besar daripada nyamuk di
Jakarta, tetapi tidak terlalu gatal,” celetuk seorang peserta dari Jakarta.
*) Tulisan ini dimuat di Harian Jogja
Mushola Sederhana di Kiev
Di salah satu sudut bangunan yang digunakan untuk Kongres Suratkabar se-Dunia ke-64 sekaligus World Editors Forum ke-19 di Kiev, Ukraina,terdapat satu ruangan yang diset sebagai mushola alias moslem prayer room.
Ruangan yang disiapkan sebagai tempat sholat bagi peserta kongres di Ukrainian House di Kota Kiev itu sangat sederhana. Sekitar sepuluh buah sajadah diatur sedemikian rupa sehingga rapih menghadap ke arah kiblat. Sekedar informasi, posisi Ukraina berada di sisi barat laut Arab Saudi. Dengan demikian kiblat menghadap ke arah tenggara, bukan ke arah barat sebagaimana di Indonesia.
Nah, yang paling menarik adalah tempat untuk wudlu. Karena WC dan toilet di Kiev ini tidak dirancang untuk memudahkan orang mengambil wudlu, maka diaturlah beberapa perangkat sederhana untuk berwudhu.
Pertama ada dua galon air yang dilengkapi dengan pompa tangan. Lalu ada sebuah gayung yang ujungnya seperti teko. Kemudian ada ember kecil dan ember besar. Dan terakhir adalah lapisan plastik yang dibentangkan di atas karpet sebagai alas wudlu agar air yang muncrat dari sekitar ember tidak membasahi karpet. Perangkat yang praktis yang unik dan sederhana.
Tentu saja kita harus berhati-hati dalam berwudlu di sini. Jangan sampai air tumpah dan muncrat ke mana-mana. Jumlah air juga perlu dihemat agar orang lain bisa ikut menggunakan.
Di depan mushol ada sebuah meja yang dipenuhi dengan buku-buku dan majalah Islam. Sayang sekali tidak satupun yang berbahasa Inggris. Semuanya berbahasa Ukraina atau Rusia dengan huruf yang tidak sama dengan aksara Latin.
***
Usut punya usut, ternyata mushola di arena kongres WAN-IFRA (World Association of Newspapers and News Publishers) itu disiapkan oleh Religions Administration of Ukrainian Muslims alias RAMU. Kami sempat bertemu dengan Sheikh Rustam Gafuri, Deputi Mufti Ukraina yang juga ketua departemen informasi pada organisasi tersebut.
Pak Rustam ini masih muda dan ternyata pernah berkunjung ke Jakarta pada 5 tahun yang lalu untuk mengikuti salah satu kegiatan yang digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU). Dia pun masih ingat tentang Istiqlal serta tokoh NU Hasyim Muzadi.
Menurut Rustam yang juga Presiden pada The All-Ukrainian Cultural Centre of Turk-Speaking and East Peoples itu, terdapat 2 juta warga muslim di negara bekas wilayah Uni Soviet ini. Itu artinya terdapat sekitar 4 persen-5 persen warga Ukraina yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Informasi dari RAMU menyatakan bahwa agama Islam mulai masuk ke wilayah Ukraina telah melalui sejarah yang panjang. Peninggalan arkeologis yang ditemukan menunjukkan bahwa Islam telah masuk ke wilayah ini sejak abad ke-8.
Sayangnya, selama di bawah kekuasaan Uni Soviet yang ateistik, kehidupan beragama kurang berkembang. Sejumlah mesjid ditutup atau dirusak dan para pemimpin agama dilarang untuk menjalankan ritual agama.
Seiring dengan perkembangan politik yakni bubarnya Uni Soviet dan berdirinya Ukraina sebagai negara tersendiri pada 1991, kehidupan beragama kembali memperoleh tempat.
Rupanya, kegiatan organisasi muslim Ukraina cukup banyak. Rustam bercerita bahwa di Kiev ada sebuah mesjid. Lokasinya agak jauh dari tempat konferensi, yakni sekitar 40 menit berjalan kaki. “Tetapi masjid itu tidak sebesar Istiqlal. Kalau ada waktu, mampirlah ke masjid kami,” ujar Rustam yang fasih mengucapkan kata ‘terima kasih’ ini. Sayang sekali kami tidak memiliki kesempatan untuk menengok mesjid di salah satu bekas wilayah Uni Soviet ini.
*Tulisan ini telah dimuat di Bisnis.com dan Harian Jogja dua pekan lalu
Ruangan yang disiapkan sebagai tempat sholat bagi peserta kongres di Ukrainian House di Kota Kiev itu sangat sederhana. Sekitar sepuluh buah sajadah diatur sedemikian rupa sehingga rapih menghadap ke arah kiblat. Sekedar informasi, posisi Ukraina berada di sisi barat laut Arab Saudi. Dengan demikian kiblat menghadap ke arah tenggara, bukan ke arah barat sebagaimana di Indonesia.
Nah, yang paling menarik adalah tempat untuk wudlu. Karena WC dan toilet di Kiev ini tidak dirancang untuk memudahkan orang mengambil wudlu, maka diaturlah beberapa perangkat sederhana untuk berwudhu.
Pertama ada dua galon air yang dilengkapi dengan pompa tangan. Lalu ada sebuah gayung yang ujungnya seperti teko. Kemudian ada ember kecil dan ember besar. Dan terakhir adalah lapisan plastik yang dibentangkan di atas karpet sebagai alas wudlu agar air yang muncrat dari sekitar ember tidak membasahi karpet. Perangkat yang praktis yang unik dan sederhana.
Tentu saja kita harus berhati-hati dalam berwudlu di sini. Jangan sampai air tumpah dan muncrat ke mana-mana. Jumlah air juga perlu dihemat agar orang lain bisa ikut menggunakan.
Di depan mushol ada sebuah meja yang dipenuhi dengan buku-buku dan majalah Islam. Sayang sekali tidak satupun yang berbahasa Inggris. Semuanya berbahasa Ukraina atau Rusia dengan huruf yang tidak sama dengan aksara Latin.
***
Usut punya usut, ternyata mushola di arena kongres WAN-IFRA (World Association of Newspapers and News Publishers) itu disiapkan oleh Religions Administration of Ukrainian Muslims alias RAMU. Kami sempat bertemu dengan Sheikh Rustam Gafuri, Deputi Mufti Ukraina yang juga ketua departemen informasi pada organisasi tersebut.
Pak Rustam ini masih muda dan ternyata pernah berkunjung ke Jakarta pada 5 tahun yang lalu untuk mengikuti salah satu kegiatan yang digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU). Dia pun masih ingat tentang Istiqlal serta tokoh NU Hasyim Muzadi.
Menurut Rustam yang juga Presiden pada The All-Ukrainian Cultural Centre of Turk-Speaking and East Peoples itu, terdapat 2 juta warga muslim di negara bekas wilayah Uni Soviet ini. Itu artinya terdapat sekitar 4 persen-5 persen warga Ukraina yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Informasi dari RAMU menyatakan bahwa agama Islam mulai masuk ke wilayah Ukraina telah melalui sejarah yang panjang. Peninggalan arkeologis yang ditemukan menunjukkan bahwa Islam telah masuk ke wilayah ini sejak abad ke-8.
Sayangnya, selama di bawah kekuasaan Uni Soviet yang ateistik, kehidupan beragama kurang berkembang. Sejumlah mesjid ditutup atau dirusak dan para pemimpin agama dilarang untuk menjalankan ritual agama.
Seiring dengan perkembangan politik yakni bubarnya Uni Soviet dan berdirinya Ukraina sebagai negara tersendiri pada 1991, kehidupan beragama kembali memperoleh tempat.
Rupanya, kegiatan organisasi muslim Ukraina cukup banyak. Rustam bercerita bahwa di Kiev ada sebuah mesjid. Lokasinya agak jauh dari tempat konferensi, yakni sekitar 40 menit berjalan kaki. “Tetapi masjid itu tidak sebesar Istiqlal. Kalau ada waktu, mampirlah ke masjid kami,” ujar Rustam yang fasih mengucapkan kata ‘terima kasih’ ini. Sayang sekali kami tidak memiliki kesempatan untuk menengok mesjid di salah satu bekas wilayah Uni Soviet ini.
*Tulisan ini telah dimuat di Bisnis.com dan Harian Jogja dua pekan lalu
28 Mei 2012
Mungkinkah kita bisa menjauh dari kematian?
Semakin bertambah umur, semakin dekat pula kita kepada kematian. Begitulah nasihat yang klise namun relevan dalam setiap ulang tahun. Pernyataan itu saya kira didasarkan pada beberapa asumsi.
Pertama, kita selalu mendekat kepada waktu kematian bila waktu kematian itu bersifat fixed dan telah ditentukan, bahkan detik T-nya, jauh hari sebelumnya. Di sini, waktu adalah satu-satunya variabel yang membuat seseorang menjauh atau mendekat dari maut. Dan karena kita tidak bisa memanipulasi waktu, maka satu-satunya yang terjadi adalah kian dekat ke waktu T kematian.
Asumsi kedua, pernyataan itu benar jika kita berhitung mundur ketika kematian itu telah terjadi. Jadi T kematian sebagai acuan, lalu semua baru dihitung terbalik maka pernyataan di atas pasti benar. Segala sesuatu kalau dihitung mundur ya selalu begitu, seperti kita menghitung mundur peristiwa-peristiwa penting dari titik perang dunia. Padahal jika berhitung maju, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghindarkan perang dunia yang amat menghancurkan itu.
***
Nah, pertanyaannya, apalagi buat orang yang baru bertambah usia seperti saya, benarkah dugaan semacam itu bila didekati secara statistik atau pendekatan lainnya? Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa silaturahim memperpanjang umur?
Jika mengacu pada statistik tingkat harapan hidup, maka rumusan Nassim Nicholas Thaleb di bawah ini mungkin relevan: “Di sebuah negara maju, seorang bayi yang baru lahir diperkirakan meninggal 79 tahun kemudian. Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-79, harapan hidupnya, berdasarkan asumsi kesehatannya normal, adalah 10 tahun (bukan nol tahun). Pada usia 90 tahun, dia diharapkan hidup 4,7 tahun lagi (bukan minus 11 tahun). Pada usia 100 tahun, dia diharapkan hidup 2,5 tahun lagi (bukan minus 21 tahun).”
Saya kira kasusnya mirip juga dengan perjalanan menggunakan GPS. Sambil berjalan kita bisa melihat bahwa jarak absolut terus mendekat ke tujuan. Di sana ada prediksi waktu, namun kenyataan seringkali berbeda dengan waktu. Benar bahwa jarak kita lebih dekat ke tujuan, namun waktu tempuh riilnya bisa jadi jauh lebih lama dari prediksi awal.
Misalnya, indikator awal menunjukkan jarak tempuh 10 km dengan prediksi waktu perjalanan 12 menit. Nyatanya, jalan macet. Setelah berjalan 5 menit, karena macet, jarak tempuh masih 9 km lagi dan waktu tersisa masih 10 menit. Setelah berjalan 15 menit, jarak menuju tujuan masih 6 km dan sisa waktu diperkirakan masih 7 menit. Begitu seterusnya sehingga setelah 30 menit baru tiba di tujuan. Jadi, semula jaraknya dari sisi waktu hanya 12 menit, jadinya malah 30 menit. (Tapi analogi ini tidak sepenuhnya klop karena di sini masih ada titik tujuan yang lokasinya fixed)
***
Contoh lain adalah orang yang baru saja sembuh dari penyakit yang berat atau parah. Ketika sakitnya mendera dan belum diobati, maka secara medis tingkat harapan hidupnya rendah dan sisa umurnya pendek. Akan tetapi, ketika pengobatan berhasil, maka tingkat harapan hidupnya meningkat dan sisa hidupnya secara teoritis juga memanjang.
Tentu saja ada faktor-faktor seperti kecelakaan, perang, bencana dan sebagainya yang lebih sulit dihitung namun berdampak fatal. Hal-hal semacam inilah yang membuat perhitungan menjadi lebih rumit dan ungkapan mengenai misteriusnya kedatangan maut lebih menemukan relevansinya.
Orang yang bekerja di arena berisiko tinggi, di dekat zona perang, di bidang yang dekat dengan potensi bahaya, secara teoritis memiliki tingkat kedekatan lebih tinggi terhadap kematian. Orang-orang asuransi tentu lebih pintar dalam menghitung hal semacam ini.
***
Jadi, saya kira, kedekatan kita dengan kematian tidak selalu sebanding dengan umur. Paling tidak, hal itu ditentukan oleh kedekatan ditentukan oleh umur, tingkat kesehatan, serta kegiatan berisiko.
Bisa jadi umur mendorong ke dekat kematian, namun tingkat kesehatan yang membaik justru menariknya jauh dari maut. Lalu, tiba-tiba sebuah kecelakaan kerja berperan mempersingkat semuanya secara mendadak.
Bisa jadi tahun lalu umur mendorong ke dekat maut, lalu kesehatan juga buruk yang membuatnya kian dekat maut, dan kegiatan berisiko banyak dilakukan sehingga makin dekat lagi. Namun tahun ini semua berubah. Umur tetap mendorong ke dekat maut, tetapi kesehatan membaik sehingga menjauh dari maut, dan kegiatan berisiko tidak lagi dilakukan sehingga makin jauh lagi dari maut. Dengan demikian, tahun ini posisinya lebih jauh terhadap maut daripada tahun lalu.
Tapi, embuhlah kebenarannya.
“Dan cukuplah kematian itu sebagai nasihat.”
Wallahu a’lam.
Pertama, kita selalu mendekat kepada waktu kematian bila waktu kematian itu bersifat fixed dan telah ditentukan, bahkan detik T-nya, jauh hari sebelumnya. Di sini, waktu adalah satu-satunya variabel yang membuat seseorang menjauh atau mendekat dari maut. Dan karena kita tidak bisa memanipulasi waktu, maka satu-satunya yang terjadi adalah kian dekat ke waktu T kematian.
Asumsi kedua, pernyataan itu benar jika kita berhitung mundur ketika kematian itu telah terjadi. Jadi T kematian sebagai acuan, lalu semua baru dihitung terbalik maka pernyataan di atas pasti benar. Segala sesuatu kalau dihitung mundur ya selalu begitu, seperti kita menghitung mundur peristiwa-peristiwa penting dari titik perang dunia. Padahal jika berhitung maju, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghindarkan perang dunia yang amat menghancurkan itu.
***
Nah, pertanyaannya, apalagi buat orang yang baru bertambah usia seperti saya, benarkah dugaan semacam itu bila didekati secara statistik atau pendekatan lainnya? Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa silaturahim memperpanjang umur?
Jika mengacu pada statistik tingkat harapan hidup, maka rumusan Nassim Nicholas Thaleb di bawah ini mungkin relevan: “Di sebuah negara maju, seorang bayi yang baru lahir diperkirakan meninggal 79 tahun kemudian. Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-79, harapan hidupnya, berdasarkan asumsi kesehatannya normal, adalah 10 tahun (bukan nol tahun). Pada usia 90 tahun, dia diharapkan hidup 4,7 tahun lagi (bukan minus 11 tahun). Pada usia 100 tahun, dia diharapkan hidup 2,5 tahun lagi (bukan minus 21 tahun).”
Saya kira kasusnya mirip juga dengan perjalanan menggunakan GPS. Sambil berjalan kita bisa melihat bahwa jarak absolut terus mendekat ke tujuan. Di sana ada prediksi waktu, namun kenyataan seringkali berbeda dengan waktu. Benar bahwa jarak kita lebih dekat ke tujuan, namun waktu tempuh riilnya bisa jadi jauh lebih lama dari prediksi awal.
Misalnya, indikator awal menunjukkan jarak tempuh 10 km dengan prediksi waktu perjalanan 12 menit. Nyatanya, jalan macet. Setelah berjalan 5 menit, karena macet, jarak tempuh masih 9 km lagi dan waktu tersisa masih 10 menit. Setelah berjalan 15 menit, jarak menuju tujuan masih 6 km dan sisa waktu diperkirakan masih 7 menit. Begitu seterusnya sehingga setelah 30 menit baru tiba di tujuan. Jadi, semula jaraknya dari sisi waktu hanya 12 menit, jadinya malah 30 menit. (Tapi analogi ini tidak sepenuhnya klop karena di sini masih ada titik tujuan yang lokasinya fixed)
***
Contoh lain adalah orang yang baru saja sembuh dari penyakit yang berat atau parah. Ketika sakitnya mendera dan belum diobati, maka secara medis tingkat harapan hidupnya rendah dan sisa umurnya pendek. Akan tetapi, ketika pengobatan berhasil, maka tingkat harapan hidupnya meningkat dan sisa hidupnya secara teoritis juga memanjang.
Tentu saja ada faktor-faktor seperti kecelakaan, perang, bencana dan sebagainya yang lebih sulit dihitung namun berdampak fatal. Hal-hal semacam inilah yang membuat perhitungan menjadi lebih rumit dan ungkapan mengenai misteriusnya kedatangan maut lebih menemukan relevansinya.
Orang yang bekerja di arena berisiko tinggi, di dekat zona perang, di bidang yang dekat dengan potensi bahaya, secara teoritis memiliki tingkat kedekatan lebih tinggi terhadap kematian. Orang-orang asuransi tentu lebih pintar dalam menghitung hal semacam ini.
***
Jadi, saya kira, kedekatan kita dengan kematian tidak selalu sebanding dengan umur. Paling tidak, hal itu ditentukan oleh kedekatan ditentukan oleh umur, tingkat kesehatan, serta kegiatan berisiko.
Bisa jadi umur mendorong ke dekat kematian, namun tingkat kesehatan yang membaik justru menariknya jauh dari maut. Lalu, tiba-tiba sebuah kecelakaan kerja berperan mempersingkat semuanya secara mendadak.
Bisa jadi tahun lalu umur mendorong ke dekat maut, lalu kesehatan juga buruk yang membuatnya kian dekat maut, dan kegiatan berisiko banyak dilakukan sehingga makin dekat lagi. Namun tahun ini semua berubah. Umur tetap mendorong ke dekat maut, tetapi kesehatan membaik sehingga menjauh dari maut, dan kegiatan berisiko tidak lagi dilakukan sehingga makin jauh lagi dari maut. Dengan demikian, tahun ini posisinya lebih jauh terhadap maut daripada tahun lalu.
Tapi, embuhlah kebenarannya.
“Dan cukuplah kematian itu sebagai nasihat.”
Wallahu a’lam.
22 Mei 2012
Jl Casablanca: Etalase kehebatan rekayasa sipil
Lebih dari satu tahun terakhir, penderitaan para pengguna jalan Casablanca-Dr Satrio, Jakarta, bertambah-tambah. Pasalnya, ada pembangunan jalan layang ruas Kampung Melayu-Tanah Abang.
Sebelum ada proyek, jalan ini sudah dikenal macet pada jam-jam sibuk, terutama di sekitar Mal Ambassador dan ITC Kuningan. Maka bertambahlah kemacetan dengan proyek ini.
Ini merupakan proyek besar. Menurut jadwal, proyek pembangunan jalan layang bukan tol ini akan memakan waktu hampir 2 tahun. Tahun ini diharapkan proyek berakhir dan jalan layang bisa digunakan. Lalu, penderitaan pengguna itu (semoga) berubah menjadi kenyamanan.
Selama proyek berlangsung, lalu lintas tetap berjalan di bawah dan di sampingnya. Ada penyempitan signifikan yang terjadi karena sebagian badan jalan ‘termakan’ tiang pancang atau hal-hal lain terkait proyek.
Saya sering lewat jalan ini dari stasiun Tebet menuju Karet. Dengan menggunakan angkot M44 yang sering menyerobot antrean, perlu waktu sekitar setengah jam menembus kemacetan seputar Casablanca-Satrio selama ada proyek ini. Dari Tebet hingga ke Karet seringkali memerlukan waktu satu jam pada jam sibuk.
***
Kemacetan memberi kesempatan bagi para pengguna jalan untuk mengamati proyek ini. Puluhan alat berat bekerja keras siang malam di sana. Menggali lubang untuk pondasi, memasang penyangga besar, mengangkat material ke atas penyangga, dsb.
Material bahan jalan berbobot puluhan ton berjejer-jejer di lahan proyek. Ada yang baru tiba, ada yang sedang dipasang, ada pula yang telah terpasang dengan manis seolah menggantung di angkasa.
Bagi saya, material yang ukurannya beberapa kali lipat dibandingkan kendaraan-kendaraan yang lewat di dekatnya, menggambarkan kehebatan proyek ini. Ini merupakan etalase kehebatan rekayasa sipil yang dipertontonkan dengan telanjang di atas jalan yang sibuk.
Bagaimana membangun penyangga sebesar dan setinggi itu? Bagaimana mengangkat material badan jalan yang amat berat itu? Bagaimana merekatkan satu material dengan material lain agar kuat namun juga tetap ada ruang untuk pemuaian? Bagaimana mendesain agar pemasangan di satu titik klop dengan pemasangan di titik lain? Bagaimana jika terjadi gempa? Dan masih banyak pertanyaan lain.
****
Di kanan kiri proyek jalan layang itu juga ada proyek-proyek rekayasa sipil yang tidak kalah memukau. Pembangunan mal, apartemen, perkantoran, gedung bertingkat, dan sebagainya berlangsung hampir bersamaan dengan proyek pembangunan jalan itu.
Saya tidak tahu apakah di antara puluhan ribu atau ratusan ribu orang yang tiap hari melewati proyek itu adakah yang tergugah, terinspirasi, sehingga berharap anak atau keponakannya atau keturunannya bisa menjadi insinyur sipil yang mampu membangun infrastruktur lebih hebat daripada jalan layang dan bangunan di kanan kirinya?
Kalau tidak ada, saya kira ini menyedihkan.
Mestinya para insinyur sipil bisa menjadikan proyek besar semacam ini, apalagi di pusat kota, sebagai etalase pengetahuan, sebagai sarana untuk memancing rasa ingin tahu dan kecintaan publik kepada ilmu sipil. Saya bukan insinyur sipil dan tidak tahu apa-apa tentang teknik sipil, namun saya merasakan kehebatan rekayasa sipil dari melihat proyek pembangunan itu.
Tapi, bisa jadi, bagi para insinyur sipil, ini adalah proyek biasa-biasa saja, atau bahkan sepele, sehingga tidak layak untuk pameran dan etalase. Masih banyak proyek-proyek lain yang lebih hebat, lebih prestisius, sebagai sebuah monumen. Entahlah, siapa tahu.
PS: Ada satu hal ‘sepele’ yang agak mengganggu soal penamaan proyek ini. Mengapa selalu disebut jalan layang non-tol? Mestinya kan jalan layang (saja). Apakah semua jalan layang pasti jalan tol sehingga mesti ditambahi kata non-tol?
Melawan arus tidak selalu jelek
Jangan melawan arus. Begitulah salah satu nasihat penting bagi semua pengendara di jalan raya. Larangan ini lebih ditekankan lagi untuk para pengendara sepeda motor yang biasanya enggan mengikuti rambu lalu lintas tanda jalan satu arah.
Akan tetapi jangan salah. Tidak semua yang melawan arus lalu lintas adalah hal buruk. Bahkan, di jalan tol yang jelas-jelas merupakan jalan searah untuk masing-masing lajur, melawan arus malah bisa menjadi solusi.
Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya dan Jasa Marga dalam menangani kemacetan yang seolah tanpa harapan untuk terselesaikan setiap pagi dan sore di tol dalam kota Jakarta. Oleh pihak berwenang, kebijakan ini disebut contra flow.
Seperti kita sadari, setiap pagi dan sore hari terjadi ketidakseimbangan arus lalu lintas masuk dan ke luar dari pusat kota. Bagi siapa saja yang bertempat tinggal di seputar Taman Mini Indonesia Indah, Cibubur, Bogor, serta Bekasi, dan berkantor di sekitar Semanggi, pasti merasakan betapa macetnya tol dalam kota setiap pagi.
Arus dari berbagai lokasi di sebelah timur, selatan, dan tenggara Jakarta tumplek masuk ke tol dalam kota di Cawang. Akibatnya, mobil hanya bisa merayap perlahan menuju arah Semanggi. Sementara pada arah sebaliknya, biasanya sangat lancar.
Makanya informasi lalu lintas di pagi hari tentang kemacetan selalu dihiasi dengan kalimat, “arah sebaliknya lancar.”
Saya sering berpikir, seandainya ‘arah sebaliknya’ itu bisa dimanfaatkan untuk mengurangi kemacetan yang selalu menimpa ‘arah utama’ alangkah menyenangkan.
Ternyata, pihak yang berwenang pun mulai memikirkan dan menerapkan hal itu. Satu lajur jalan dari tol dari arah Semanggi menuju Cawang diberi pembatas dan digunakan untuk kendaraan yang berasal dari arah Cawang menuju ke Semanggi. Maka, kapasitas jalan menuju Semanggi bertambah satu lajur, sedangkan yang menuju Cawang berkurang satu lajur.
Dengan demikian, ruas jalan arah meninggalkan pusat kota yang relatif idle bisa dimanfaatkan untuk menampung arus menuju pusat kota. Hasilnya, kemacetan berkurang, kapasitas jalan pun lebih optimal.
Kebijakan ini mulai diberlakukan 1 Mei di tol dalam kota antara pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Jika dianggap berhasil, akan diperluas ke ruas yang lain di tol dan pada jam yang lain.
Bahkan, pemberlakuannya juga dipertimbangkan di jalan bukan tol yang sering macet seperti di kawasan Sudirman dan Jalan Sultan Iskandar Muda, Jakarta Selatan. Kebijakan melawan arus ini diharapkan bisa mengatasi sebagian masalah utama Jakarta yaitu kemacetan lalu lintas yang kian menggila dan membuat frustasi.
***
Kemacetan memang merupakan masalah besar bagi Jakarta. Dampak dari kemacetan bukan hanya molornya waktu perjalanan melainkan juga pemborosan bahan bakar minyak, berkurangnya produktivitas, berkurangnya daya saing ekonomi, hingga masalah psikologis.
Saling serobot, rebutan jalan, pelanggaran lalu lintas, merupakan efek dari kemacetan yang membuat frustasi. Mudahnya emosi tersulit, mudahnya orang bertengkar di jalanan merupakan dampak lainnya. Belakangan media sosial diramaikan oleh video tentang perselisihan di jalanan yang padat.
Kalau saja lalu lintas lancar dan semua pengendara tertib, kasus pertengkaran di jalan dan pertunjukan arogansi tentu bisa dihindari. Banyak sekali masalah sosial dan kejiwaan yang akan terbantu oleh kelancaran lalu lintas.
Oleh sebab itu, upaya mengurangi kemacetan merupakan hal besar yang layak dihargai. Cara paling sederhana mengurangi kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan, mengurangi persimpangan, serta menghilangkan bottle neck.
Melebarkan jalan serta membuat simpang susun jelas solusi yang mahal dan perlu waktu lama. Sebagai contoh, pembangunan jalan layang nonton Casablanca-Karet memakan biaya triliunan rupiah dan waktu lebih dari satu tahun.
Soal bottle neck berupa penyempitan atau kendaraan umum ngetem perlu mendapat perhatian serius. Sebab, kapasitas sesungguhnya dari sebuah ruas jalan bukanlah kapasitas pada bagian terlebar, melainkan kapasitas pada bagian terkecil alias bottle neck itu.
Contohnya, bila ada ruas jalan yang pada bagian lebarnya mampu menampung 100 mobil per menit, namun di bagian ujungnya ada penyempitan yang membuatnya hanya mampu dilewati 20 mobil per menit, maka kapasitas sesungguhnya dari jalan itu menjadi hanya 20 mobil per unit. Kapasitas bagian jalan yang 100 mobil per unit menjadi seperti tersia-sia. Perlu upaya lebih serius mengenali dan mengurangi ‘leher botol’ dalam arus lalu lintas Jakarta.
Solusi out of the box seperti contra flow itu perlu diperbanyak. Penggunaan lampu lalu lintas yang cerdas, yang mampu mengenali arus mana yang perlu mendapatkan prioritas lampu hijau, mungkin perlu diperbanyak. Seiring dengan tantangan yang kian berat dan dinamis, solusi baru juga perlu terus dicoba dan digali. Semoga dugaan kemacetan total pada 2014 bisa dihindari.
Akan tetapi jangan salah. Tidak semua yang melawan arus lalu lintas adalah hal buruk. Bahkan, di jalan tol yang jelas-jelas merupakan jalan searah untuk masing-masing lajur, melawan arus malah bisa menjadi solusi.
Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya dan Jasa Marga dalam menangani kemacetan yang seolah tanpa harapan untuk terselesaikan setiap pagi dan sore di tol dalam kota Jakarta. Oleh pihak berwenang, kebijakan ini disebut contra flow.
Seperti kita sadari, setiap pagi dan sore hari terjadi ketidakseimbangan arus lalu lintas masuk dan ke luar dari pusat kota. Bagi siapa saja yang bertempat tinggal di seputar Taman Mini Indonesia Indah, Cibubur, Bogor, serta Bekasi, dan berkantor di sekitar Semanggi, pasti merasakan betapa macetnya tol dalam kota setiap pagi.
Arus dari berbagai lokasi di sebelah timur, selatan, dan tenggara Jakarta tumplek masuk ke tol dalam kota di Cawang. Akibatnya, mobil hanya bisa merayap perlahan menuju arah Semanggi. Sementara pada arah sebaliknya, biasanya sangat lancar.
Makanya informasi lalu lintas di pagi hari tentang kemacetan selalu dihiasi dengan kalimat, “arah sebaliknya lancar.”
Saya sering berpikir, seandainya ‘arah sebaliknya’ itu bisa dimanfaatkan untuk mengurangi kemacetan yang selalu menimpa ‘arah utama’ alangkah menyenangkan.
Ternyata, pihak yang berwenang pun mulai memikirkan dan menerapkan hal itu. Satu lajur jalan dari tol dari arah Semanggi menuju Cawang diberi pembatas dan digunakan untuk kendaraan yang berasal dari arah Cawang menuju ke Semanggi. Maka, kapasitas jalan menuju Semanggi bertambah satu lajur, sedangkan yang menuju Cawang berkurang satu lajur.
Dengan demikian, ruas jalan arah meninggalkan pusat kota yang relatif idle bisa dimanfaatkan untuk menampung arus menuju pusat kota. Hasilnya, kemacetan berkurang, kapasitas jalan pun lebih optimal.
Kebijakan ini mulai diberlakukan 1 Mei di tol dalam kota antara pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Jika dianggap berhasil, akan diperluas ke ruas yang lain di tol dan pada jam yang lain.
Bahkan, pemberlakuannya juga dipertimbangkan di jalan bukan tol yang sering macet seperti di kawasan Sudirman dan Jalan Sultan Iskandar Muda, Jakarta Selatan. Kebijakan melawan arus ini diharapkan bisa mengatasi sebagian masalah utama Jakarta yaitu kemacetan lalu lintas yang kian menggila dan membuat frustasi.
***
Kemacetan memang merupakan masalah besar bagi Jakarta. Dampak dari kemacetan bukan hanya molornya waktu perjalanan melainkan juga pemborosan bahan bakar minyak, berkurangnya produktivitas, berkurangnya daya saing ekonomi, hingga masalah psikologis.
Saling serobot, rebutan jalan, pelanggaran lalu lintas, merupakan efek dari kemacetan yang membuat frustasi. Mudahnya emosi tersulit, mudahnya orang bertengkar di jalanan merupakan dampak lainnya. Belakangan media sosial diramaikan oleh video tentang perselisihan di jalanan yang padat.
Kalau saja lalu lintas lancar dan semua pengendara tertib, kasus pertengkaran di jalan dan pertunjukan arogansi tentu bisa dihindari. Banyak sekali masalah sosial dan kejiwaan yang akan terbantu oleh kelancaran lalu lintas.
Oleh sebab itu, upaya mengurangi kemacetan merupakan hal besar yang layak dihargai. Cara paling sederhana mengurangi kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan, mengurangi persimpangan, serta menghilangkan bottle neck.
Melebarkan jalan serta membuat simpang susun jelas solusi yang mahal dan perlu waktu lama. Sebagai contoh, pembangunan jalan layang nonton Casablanca-Karet memakan biaya triliunan rupiah dan waktu lebih dari satu tahun.
Soal bottle neck berupa penyempitan atau kendaraan umum ngetem perlu mendapat perhatian serius. Sebab, kapasitas sesungguhnya dari sebuah ruas jalan bukanlah kapasitas pada bagian terlebar, melainkan kapasitas pada bagian terkecil alias bottle neck itu.
Contohnya, bila ada ruas jalan yang pada bagian lebarnya mampu menampung 100 mobil per menit, namun di bagian ujungnya ada penyempitan yang membuatnya hanya mampu dilewati 20 mobil per menit, maka kapasitas sesungguhnya dari jalan itu menjadi hanya 20 mobil per unit. Kapasitas bagian jalan yang 100 mobil per unit menjadi seperti tersia-sia. Perlu upaya lebih serius mengenali dan mengurangi ‘leher botol’ dalam arus lalu lintas Jakarta.
Solusi out of the box seperti contra flow itu perlu diperbanyak. Penggunaan lampu lalu lintas yang cerdas, yang mampu mengenali arus mana yang perlu mendapatkan prioritas lampu hijau, mungkin perlu diperbanyak. Seiring dengan tantangan yang kian berat dan dinamis, solusi baru juga perlu terus dicoba dan digali. Semoga dugaan kemacetan total pada 2014 bisa dihindari.
Langganan:
Postingan (Atom)









