05 Oktober 2008

Pintu 'neraka' dibuka akhir Ramadhan


Pada akhir Ramadhan dan awal Syawal, pintu ‘neraka’ dibuka lebar-lebar bagi para pemudik.

Bagi pengendara mobil, ‘neraka’ itu berada di Simpang Jomin (Cikampek), Kanci (Cirebon), Nagrek-Ciawi-Malangbong (Jawa Barat), serta beberapa pasar tumpah baik di pantura maupun jalur selatan Jawa. Bagi pengendara kapal, ‘neraka’ ada di pelabuhan (dan mungkin juga di dalam kapal). Bagi pengendara kereta api noneksekutif, ‘neraka’ berada di stasiun dan sepanjang perjalanan yang panas, penuh berdesakan, serta sering telat itu.

Coba saja baca pesan-pesan yang saya terima dalam lebaran kali ini:
"Kami istirahat di sumedang utk lanjut pagi ini ke depok. Kemacetan total kemarin di jalur purwokerto ke prupuk. Kami memutar ke arah selatan dan kembali terjebak macet dari menjelang ciawi sampai malangbong. Kami ambil arah wado dan istirahat di sumedang malam."

"Temen istri berangkat kemarin pagi ke kebumen, pagi ini baru nyampe purwokerto."

***
Lebaran kali ini adalah Lebaran ketiga saya mudik membawa kendaraan pribadi. Perjalanan mudik kali ini, alhamdulillah tidak seberat perjalanan mudik tahun lalu.

Kali ini saya berangkat ke Bandung pada Sabtu siang. Saya pilih siang hari, sekitar jam satu, untuk menghindari kemacetan. Saya yakin jarang orang memilih waktu keberangkatan pada tengah hari saat sedang puasa. Alhamdulillah lancar.

Besoknya, Ahad pagi, saya bersama anak, istri, dan adik, berangkat sepagi mungkin dari Bandung ke arah timur. Kami berangkat sehabis sholat subuh. Berhubung saya tinggal di sisi barat Bandung (dekat tol Pasteur), butuh waktu hampir satu jam untuk mencapai Cileunyi.

Melihat ramainya arus di tol Cileunyi ke arah timur, saya langsung pesimistis. Pasti jalur Nagrek tidak sanggup menampung arus kendaraan sederas itu.

Benar saja, menjelang Nagrek, ternyata sudah macet. Asumsi saya, pagi-pagi itu sisa-sisa laskar macet* dari Jakarta-Cikampek belum tiba di Bandung, jadi sebagian besar pemudik yang lewat Nagrek pagi-pagi itu berasal dari Bandung dan sekitarnya.

Saya dengarkan di radio, semakin siang antrean di gerbang tol Cileunyi semakin panjang. Berarti ‘neraka’ kemacetan siang hari itu di Nagrek pasti sangat gawat. Mungkin segawat tahun lalu, ketika saya harus menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk menempuh Cileunyi-Tasikmalaya.

Saya dengar dan baca berita, ‘neraka’ kemacetan di sekitar Kanci, Cirebon, lebih dahsyat dan lebih lama. Jumat malam kemacetan sudah terjadi, dan Minggu pagi saya dengar masih juga macet. Senin pagi di Purwokerto saya mendapat SMS, ada orang berangkat dari Jakarta Ahad pagi dan baru sampai Purwokerto pada Senin pagi.


Kami melanjutnya perjalanan Purwokerto-Kutoarjo pada Senin siang, mungkin bersamaan dengan sisa-sisa laskar macet yang kalah perang di pantura.

***

Kami kembali ke Bandung dari Kutoarjo pada Jumat. Terpaksa lewat Nagrek. Ini menjali perjalanan balik pertama saya lewat Nagrek. Selama ini saya menghindari melewati Nagrek dari arah timur karena tanjakannya curam dan hampir pasti macet.

Selama di luar Jakarta saya terus memantau berita mengenai arus lalu lintas. Dan saya membaca Nagrek selalu macet baik dari arah barat maupun dari arah timur. Bahkan pada hari H dan hari H+1.

Sampai di Malangbong saya membaca tulisan ‘Nagrek Macet, ke Bandung Silakan Lewat Wado’ tetapi saya jalan terus. Ciawi dan pasar Lewo (yang biasanya macet) berlalu dengan aman. Padat tetapi tetap bisa berjalan.

Lalu kami berhenti untuk sholat dan makan siang. Saat itu sekitar jam dua siang. Kami berhenti sekitar 4 km sebelum Nagrek (berdasarkan pathok tanda jarak yang ada di pinggir jalan).

Ternyata, selepas makan itulah kembali dibukanya pintu ‘neraka’. Padat sekali. Padat merayap**. Nanjak. Banyak pula kendaraan mogok di sekitar tanjakan itu.

Saya membayangkan alangkah malangnya yang terjebak di daerah ini pada malam hari nan gelap, apalagi kalau ditambah hujan pula. Wong macet siang-siang saja sudah sangat melelahkan dan menyebalkan.

***

Dalam kemacetan panjang di tengah perjalanan yang juga panjang itu ada banyak ujian.

Ada ujian kesabaran menghadapi orang-orang yang menyerobot ambil kanan di tengah kemacetan (sebal karena kita sudah tertib antre tetapi dipotong, bahkan juga bias saja penyerobot itu menyebabkan kemacetan parah pada dua arah kalau bertemu dengan kemacetan dari arah sebaliknya).

Ada ujian menghadapi panas dan tidak nyamannya jalan, menahan kebutuhan untuk buang air, makan, dan lain-lain. Apa-apa harus antre dengan ribuan pemudik lain, susah parkir di restoran dan tempat istirahat. Ada pula kesabaran menghadapi halangan pada kendaraan baik dari ban, mesin, AC, maupun lainnya.

Dibutuhkan banyak kesabaran menghadapi ‘neraka’ mudik itu.

Saya berharap para penguasa negara yang memiliki otoritas untuk membangun dan mengatur jalan itu segera mengurangi penderitaan para pemudik. Perlebar jalan sempit, buat jalan layang di atas pasar tumpah, atur persimpangan dengan benar. Manfaatkan teknologi terbaru, gunakan sistem informasi yang andal dan valid, buat simulasi yang akurat, dan sebagainya.

Biarkan pemudik itu menikmati ‘surga’ hingga Syawal (Bukankah pintu surga tanpa tanda kutip sudah dibuka lebar-lebar sejak awal Ramadhan? Jangan ditutup dengan ‘neraka’ dunia berupa kemacetan di mana-mana itu).

Wallahu alam


*) Diplesetkan dari Sisa-sisa Laskar Pajang karya S.H. Mintardja
**) Sebenarnya rayap itu jalannya cepat. Mungkin lebih tepat disebut menyiput daripada merayap.

3 komentar:

nasruni mengatakan...

Wah, jadi begini ya, suka dukanya mudik mas,
untungnya saya tinggal di kampung halaman sendiri, jad ga perlu mudik.. :-)

Channel Youtube mengatakan...

alhamdulillah... sudah sampai lagi...
aneh tapi nyata, kejadian yang berulang, tapi kita selalu mengulangnya...

salut yang punya cadangan kesabaran segudang!

Setyardi Widodo mengatakan...

kang nasruni, kayaknya sampeyan nantinya harus mencari mitra yang akan 'memaksa' sampeyan untuk sering-sering ikut mudik. kalau cari mitranya orang jakarta juga ntar enggak pernah ngalamin mudik lho, hehehe

mbak uci, betul sekali. aneh tapi nyata. tapi banyak hikmahnya lho, hehehe

matur nuwun sadayana