13 November 2008

Sifat pamer dan menyatunya komputer dengan buku


Di Jakarta Convention Center sedang digelar pameran komputer Indocomtech dan pameran buku Book Fair 2008. Ada beberapa hal yang menarik di sana, di antaranya masalah “pamer”, fungsi komputer, serta manfaat buku.

***
Dalam filosofi Jawa pada umumnya, kata pamer (show off) memiliki kesan yang negatif. Orang Jawa dilarang pamer apalagi sampai adigang adigung adiguna.
Akan tetapi pamer-an buku dan komputer justru banyak dicari orang. Hal yang sama agaknya juga terjadi pada pamer-an otomotif, pamer-an property, dan sebagainya.

Sifat pamer dari para produsen dan pedagang dimanfaatkan oleh konsumen untuk mendapatkan harga yang murah. Saling pamer dalam satu arena meningkatkan persaingan dan menekan harga.

Upaya pamer, menonjolkan diri yang membuat orang berbondong-bondong melihat dan mencermati, juga dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh produsen dan pedagang untuk meraih konsumen sebanyak-banyaknya, menjual sebanyak mungkin.

Maka bertemulah sifat-sifat yang sama sekali ‘tidak Jawa’ itu dalam satu pameran yang ternyata mampu menggerakkan perekonomian.

***
Hal menarik lainnya adalah computer dan buku yang semakin menyatu. Komputer merupakan alat untuk menunjang pekerjaan, meningkatkan perikedidupan. Komputer, beserta semua perangkat pendukungnya, dapat digunakan sebagai alat hiburan, alat kerja, alat belajar, dan seterusnya.

Pameran komputer beserta aksesorinya itu menunjukkan bagaimana barang-barang tersebut bisa lebih optimal dalam menunjang perikehidupan penggunanya.

Buku juga merupakan hal yang sangat penting, sebagai sarana belajar, yang juga berujung pada perbaikan diri, meningkatkan kualitas hidup.

Di masa mendatang fungsi buku (fisik) akan banyak digantikan oleh konten (dalam bentuk buku elektronik, email, situs web, blog dan sebagainya). Akan tetapi, di Jakarta ini, buku dan komputer belum benar-benar menyatu. Pamerannya sudah menyatu, tetapi konten dalam buku belum

***
Tidak banyak hal mengesankan dari pameran komputer dan buku kali ini. Setelah muter-muter di sana sekitar satu jam, saya hanya membeli satu buku terbitan lawas yang dijual murah, Oliver Twist karya Charles Dickens.

6 komentar:

Lutfi Zaenudin mengatakan...

sebenarnya saya sedih dengan pameran komputer atau IT di Indonesia. Hampir dipastikan, yang muncul cuma dagangan. Produk dari luar negeri, belum ada bikinan lokal yang nongol. Ada sih yang mengklaim lokal, tapi ya itu, cuma namanya aja, brandnya aja. Teknologi dan barang semuanya dari luar. Jadi buat apa datang ke pameran, kalau tidak ada keperluan beli barang? begitu kata hatiku. Kalau pameran buku baru deh agak menarik, meski bisa dikatakan memindahkan dagangan ke satu tempat...ya begitulah pameran di Indonesia. Padahal, pameran dari awalnya cuma memajang, bukan utamanya jual beli. Tapi ya sudahlah, pameran di Indonesia memang buat tempat jual beli.

Setyardi Widodo mengatakan...

betul pak, pameran kali ini mungkin jadi tempat yang tepat untuk belanja. mumpung dolar belum naik tinggi, mumpung stok lama masih banyak, dan krisis belum banyak menerpa konsumen.

awal tahun depan, atau bahkan pertengahan dan akhir tahun depan, boleh jadi tidak semudah dan semurah kali ini.

terima kasih sudah mampir ke Inspirana.

Anonim mengatakan...

copy-paste from FB

pak kelik, bukan bermaksud mendebat tulisan bapak, tapi usia peradaban buku, tulis menulis sudah sangat mature (bahasa halus kuno). Mulai jaman Nabi2x sampe jaman org bisa jadi milyarder gara2x nulis buku, saya yakin fisik buku akan tetap exist.
tapi bisa jadi keyakinan saya salah juga, maklum bukan futurlog sih ..
anyway, saya salut sama Pak Kelik... Read More, siapa menyangka dulunya belajar applied physics bisa nulis sebagus ini. yg saya tau dan kenal cuma ada 2 org yg bisa begini : Cak Amal dan Pak Kelik. dua2xnya punya kesamaan, thin man from Java :-)

Anonim mengatakan...

copy-paste from FB

yang menarik ketika saya lihat2 sejarah Cina, tahapan penting peradaban Cina terjadi ketika kaisar pertama Cina yang berhasil menyatukan Cina ribuan tahun yang lalu menyatukan aksara Cina yang berbeda2 dari tiap suku ke dalam satu aksara. Jadi kita dengan Sumpah Pemuda terlambat ribuan tahun... Ironisnya kita sekarang tidak menjaga kemurnian Bahasa... Read More Indonesia dan diganti dengan bahasa sinetron. Kalau tidak ada yang melawan, peradaban kita bisa punah. Nah sekarang para wartawan seperti pak Kelik ada di garis depan penyelamatan peradaban Indonesia ini....

Setyardi Widodo mengatakan...

Terima kasih Bapak-bapak. Sampeyan berdua pandai memuji. Saya ini awalnya cuma ingin corat-coret karena habis mengunjungi pameran komputer sekaligus pameran buku. Berhubung sudah kehabisan ide mau tulis apa dari pameran itu, muncullah tulisan kacau balau yang idenya enggak ke sana enggak ke sini itu, hehe.

Pak, saya setuju bahwa buku ... tidak mungkin punah. Komputer tidak memunahkannya sebagaimana Internet (dotcom) tidak sepenuhnya membunuh koran. Tetap ada ruang untuk buku.

Akan tetapi, seiring membaiknya desain (hardware) e-paper, juga semakin bagusnya antar muka untuk e-book, serta kampanye luar biasa untuk paperless, ruang gerak buku tentu saja kian lama kian menyempit. Banyak factor yang menbuat buku tetap diperlukan, apalagi bagi generasi yang tumbuhnya masih bersama buku (belum bersama komputer).

Pak, sampeyan menimpakan beban berat di pundak wartawan.

Anonim mengatakan...

nice posting ... salam kenal ya