Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

02 November 2009

Kacamata di kakilima


Satu lensa kacamata saya pecah ketika liburan Lebaran yang baru lalu. Itu membuat saya terobsesi untuk melihat-lihat banyak alternatif dalam soal perkacamataan. Selama lebih dari 15 tahun berkacamata, ini adalah pengalaman paling intens berurusan dengan tukang kacamata.

Saya ingat zaman mahasiswa. Setiap kali berurusan dengan kacamata selalu meluncur ke jl ABC, Bandung. Urusan frame di tangan kaki lima, sedangtkan lensa di toko optik dekat situ.

Nah, kali ini pun saya kembali ke Jl ABC. Saya mengganti lensa, tarifnya di toko optik di situ paling murah Rp80.000 dengan waktu pengerjaan dua jam.

Ketika saya jalan-jalan tanya ke kaki lima, tarifnya hanya Rp50.000 dengan waktu pengerjaan seperempat jam. Bedanya kaki lima tidak punya tempat untuk pengetesan memastikan mata ini minus berapa. Kalau kita sudah punya data akurat tentang mata, enak banget ke kaki lima itu. Dengan uang Rp80.000 sudah bisa dapat frame bekas dengan lensa baru sampai minus empat.

Di kaki lima itu frame-frame baru dalam berbagai macam merek juga tersedia. Ada Oakley, Tag Heuer, dan sebagainya. (Palsu kali ya?). Harganya murah sekali. Salah satu kacamata dengan tulisan Oakley dipasarkan dengan harga Rp125.000 sudah termasuk lensa hingga minus empat. Sementara itu, frame-frame di toko dipasarkan dengan harga umumnya di atas Rp150.000.

Saya juga sudah bandingkan dengan toko optik di Cibinong. Di Jl ABC Bandung jatuhnya lebih murah dengan kualitas pengerjaan yang –-berdasarkan pengalaman acak—-jauh lebih baik.

Jadi, kalau tidak banyak ngurus gengsi, tidak butuh frame ringan, tidak butuh lensa dengan spesifikasi aneh-aneh, bisa mempertimbangkan penjual kacamata di kakilima ini. Mereka ramah-ramah, harganya murah, pelayanan cepat. Tapi sabar saja, menunggunya sambil berkeringat karena udara kadang panas dan tanpa AC, hehehe.

28 Juni 2009

Perumahan di sisi barat kota Bandung


Saya tulis sedikit pengalaman ini, barangkali berguna untuk mereka yang sedang mencari rumah di kawasan barat Kota Bandung. Selama beberapa bulan terakhir ini saya memang mencermati rumah-rumah yang sedekat mungkin dengan pintu tol Pasteur akan tetapi dengan harga yang tetap terjangkau.

Saya membagi kawasan pengamatan secara umum menjadi dua. Pertama adalah daerah ‘gunung’ yang berhawa sejuk dengan kontur naik turun dan dekat tempat wisata. Wilayah ‘gunung’ ini meliputi Cihanjuang, Cipageran, Cimahi bagian utara, Sariwangi, dan sekitarnya.

Wilayah kedua adalah ‘kota’ yang relatif ramai, padat penduduk, banyak orang berjualan bermacam produk, dekat gerbang tol, dekat ITB. Wilayah yang saya maksud berada di sekitar Jalan Dakota, Jalan Mentor, Cimindi, Kebon Kopi, sisi belakang IPTN, dan sekitarnya.

***
Setelah ditinjau lagi, Cipageran tampaknya terlalu jauh. Jarak perumahan di sana bisa lebih dari 15 kilometer dari gerbang tol Pasteur, padahal sudah menerobos lewat Gunungbatu-Cimindi. Angkutan umum-nya juga tidak sebagus daerah lainnya. Jadi Cipageran dikeluarkan dari daftar.

Kawasan yang paling menarik adalah Cihanjuang. Cihanjuang sedang tumbuh pesat. Ujung depan jalan Cihanjuang berjarak 5 km dari pintu tol Pasteur kalau ditempuh lewat Gunungbatu-Cimindi.

Angkot menyusuri jalan Cihanjuang ada sampai sekitar jam 21.00. Minggu lalu saya mencoba pulang dari arah Cihanjuang jam 20.00 dan tidak mengalami kesulitan mendapatkan angkot.

Daerah ini konon lebih mudah diakses dengan angkutan umum dibandingkan Sariwangi-Ciwaruga yang sudah lebih dahulu tumbuh dan harga jual rumahnya sekarang gila-gilaan. Di Jalan Cihanjuang ada Kebun Strawberry yang jaraknya 8 km dari gerbang tol Pasteur.

***
Di Cihanjuang ada perumahan Artabaha (di jalan Artabahana). Unit yang tersisa tinggal beberapa kapling. Yang paling menarik dari perumahan ini adalah pembeli bisa memilih desain sendiri. Bahkan ukurannya pun bisa diubah. Misalnya, ukuran standar untuk tanah 120 meter adalah rumah tipe 60. Kita bisa nego menjadi tipe 50 dengan harga yang lebih murah. Untuk tipe 50/120 harganya sekitar Rp200 juta.

Perumahan di sini setahu saya termasuk paling murah dibandingkan dengan perumahan lain di sekitar Cihanjuang. Komplek berisi kurang dari 40 rumah ini bersebelahan dengan Perumahan Bumi Sariwangi yang terkenal itu, bahkan ada jalan tembus yang bisa diterobos dengan jalan kaki.

Konsep di perumahan ini adalah kuldesak, satu kluster dengan satu pintu dan ujungnya tembok jalan buntu. Salah satu masalah di sini adalah jauh dari masjid, dekat kuburan Cibaligo.

Perumahan lain yang juga tumbuh adalah Taman Cihanjuang, sekitar 1 km di sebelah utara Artabahana. Jalan masuk perumahan ini besar dan bagus.

Desain rumah-rumah di bagian depan tampak eksotik kendati kecil-kecil. Tapi harganya lumayan juga. Harga untuk tipe 29/93 adalah Rp171 juta, tipe 80/126 rp356 juta. Kapling yang tersisa adalah bagian belakang, berbatasan dengan Jalan Cisasawi. Posisi perumahan ini ada di sebelah barat Jalan Cihanjuang.

Sedikit lebih atas dari taman Cihanjuang ada Selaras Cihanjuang. Posisinya di sebalah timur Jalan Cihanjuang. Ini ready stock. Konsepnya minimalis dan keren. Ada gerbang di depan. Harganya untuk tipe 45/95 rp227 juta, untuk 60/117 rp292 juta, tipe 37/80 sebesar rp189 juta.

Dekat dengan Taman Cihanjuang ada juga Darul Fikri, dekat dengan SDIT Darul Fikri. Ini salah satu sekolah favorit di daerah itu. Pengembangnya sama dengan Artabahana, jadi harganya tidak terpaut terlalu jauh. Lebih murah daripada Taman Cihanjuang maupun Selaras Cihanjuang.

Masalahnya, jarak dari jalan raya Cihanjuang cukup jauh, capek juga kalau jalan kaki. Kontur tanahnya naik turun jadi kadangkala car port ada di bawah, lantainya ada di atas. Indah dan unik. Tapi butuh keahlian tersendiri untuk mengendalikan kendaraan ketika parkir atau maneuver atau bersimpang jalan.

***
Di Sariwangi ada banyak sekali perumahan yang sedang berkembang. Bumi Sariwangi konon akan membangun tipe-tipe kecil yang dipasarkan dengan kisaran Rp300 juta. Tapi, tanah di sana dihargai Rp2 juta per meter persegi dengan harga bangunan Rp2,75 juta per meter persegi.

Ujung barat Jalan Sariwangi yang bertemu dengan Jalan Cihanjuang berjarak sekitar 8,5 km dari pintu tol Pasteur. Saya belum sempat survey lebih banyak tentang daerah Sariwangi. Tetapi berhubung angkotnya tampaknya tidak semudah Cihanjuang, minat saya terhadap perumahan di sini turun.

***
Pengamata berikutnya di daerah kota. Di sana jarang ada perumahan dengan ukuran besar. Kalaupun ada yang besar, harganya tinggi sekali.

Di sekitar Jalan Dakota--Mentor ada pengembang bernama Kurjati membangun rumah ukuran mungil di daerah-daerah yang semula adalah kebon. Sebagian yang lain merupakan revitalisasi dari bangunan lama.

Pengembang semacam ini menarik sekali. Rumah yang saya kontrak sekarang ini adalah hasil karya Kurjati ini. Sekitar sembilan bulan lalu, ketika kami survey, rumah yang kami tempati ini masih berupa kebon. Sekarang sudah berjajar beberapa rumah.

Spanduk yang terpampang beberapa bulan lalu, spanduk terakhir, mencantumkan harga sekitar Rp117 juta untuk tipe 36/50. Tipe yang agak besar ada pada kisaran Rp150 juta. Bangunan dari Kurjati ini tersebar di berbagai penjuru sepanjang Dakota Mentor. Konon, harga perumahan Kurjati ini naik tiap bulan. Jadi entahlah berapa harga sekarang sebab tidak ada lagi spanduk yang terpampang.

Sayangnya, rumah-rumah itu dibangun di lokasi yang tidak bisa dijangkau mobil. Selain itu, skema pembayaran umumnya cash dan sulit mengakomodasi KPR.

Ada juga pengembang besar yang membangun perumahan eksklusif di daerah ini seperti Armala Pasteur serta beberapa bangunan baru di Mega Asri. Tapi harganya, untuk tipe kecil saja bisa di atas Rp300 juta.

***
Nah, di sela-sela hiruk pikuk itu ada juga perumahan kecil yang nyelip. Namanya Puri Matahari. Lokasinya di Google Earth atau Wikimapia masih berupa sawah. Posisinya persis di sebelah bekas pabrik Kerupuk Galunggung. Bisa masuk mobil baik lewat Dakota, Mentor, Babakan Cianjur, Babakan Radio.

Rumah ready stock di sana aslinya tipe 42 dengan ukuran tanah bervariasi antara 76 meter persegi dan 85 meter persegi. Harganya mulai Rp210 juta hingga Rp230-an juta. Konsepnya juga kuldesak alias jalan buntu. Dan kebetulan posisi perumahan ini juga di ujung Jalan Campaka yang buntu.

Jaraknya dengan garis lurus sekitar 700 meter dari gerbang tol Pasteur. Kalau mengikuti jalan yang bisa dilalui mobil jaraknya bervariasi antara 1,5 km dan 2,5km.
Menurut taksiran saya rumah di Puri Matahari relative murah dibandingkan perumahan lain di deerah itu. Tapi entah mengapa sudah setengah tahun, dari sembilan unit yang dibangun kok sampai dua pekan lalu masih tersisa 4 unit. Mungkin mereka tidak agresif berjualan sebab posisi harganya juga tidak banyak berbeda dibandingkan setengah tahun yang lalu.

Kalau mengamati masih banyak sawah di daerah ini, saya yakin dalam waktu dekat akan banyak bermunculan cluster-cluster kecil dengan sekitar 10 rumah di daerah ini. Wallahu alam.

Gambar: Rumah di Puri Matarahi, Babakan Cianjur, sebelah Bandara Hussein Sastranegara.

23 Februari 2009

Bukan Ki Ageng Sela kok dikirimi petir?

Bogor ini kota petir. Stereotipe itu terbukti sudah membuat saya menjadi korban. Jumat sore, 20 Februari, baru beberapa jam saya berada di rumah di bandung, tiba-tiba ada telepon dari nomor tetangga sebelah.

Saya diberitahu bahwa rumah kena petir. Lampu kamar hangus berantakan, lalu tiga rumah listriknya mati semua. Saya harus segera datang.

Panik benar mendengar kabar ini. Terbayang sudah bagaimana petir dengan tegangan ribuan (atau jutaan) Volt menghantam kabel listrik dan merusak semua yang terhubung dengan kabel. Terbayang juga dahsyatnya kalau sampai tiga rumah rusak semua listriknya. Terbayang juga kalau mengingat nada informasinya sayalah yang dianggap salah karena petir menghantam rumah saya dan menyebabkan kerusakan merembet ke tetangga.

Menelepon ke tetangga yang satu lagi, tidak ada orang dewasa yang bisa ditanya atau dimintai tolong secara jelas. Ya sudah deh, harus balik lagi ke Gunungputri, setelah menelepon PLN Citeureup untuk minta perbaikan.

Padahal saya belum bertemu istri karena dia masih di kantor. Padahal lagi saya masih pengen juga main dengan Sekar apalagi karena minggu lalu libur kami tersita oleh berbagai acara yang harus dikunjungi secara terpisah-pisah.

Begitulah. Di tengah hujan itu saya menuju ke BTC Bandung, mencari travel ke arah UKI. Untunglah sebelum travel berangkat masih sempat bertemu istri barang lima menit di ruang tunggu.

Selama dalam perjalanan saya benar-benar tidak bisa tersenyum sepanjang perjalanan. Saya merasa ini “ujian yang sempurna”. Betapa mungkin timingnya kok pas banget, hari di mana saya baru memulai libur bersama keluarga setelah pekan yang sangat melelahkan. Mengapa waktunya sore sehingga hanya tersedia waktu sangat pendek menuju kegelapan? Mengapa Bandung dan Cipularang juga diguyur hujan yang membuat perjalanan terasa begitu dinginnya.

Bagaimana mungkin rumah saya kena petir? Apakah yang diicar oleh petir di rumahku?

****
Tiba di rumah menjelang jam 11 malam setelah perjalanan dan penantian yang serba basah selama hampir 5 jam. Ternyata listrik di kanan kiri rumah menyala. Masuk rumah saya lihat memang ada lampu yang rusak yang mungkin membuat konslet. Saya lepas lampu yang rusak, nyalakan lagi meteran yang anjlok, sudah deh, hidup lagi.

Jadi bisa dipastikan bahwa ini bukan kena petir, tali listrik anjlok. Yang masih belum saya mengerti bagaimana mungkin lebih dari satu rumah anjlk bersamaan ketika hujan deras dan ada petir keras sekali di dekat sini.


****
Soal petir ini mengingatkan saya akan Ki Ageng Sela atau Selo. (Se-pada sela dibaca seperti se pada sehat. La dibaca seperti pada kata lo-mbok.)

Ki Ageng Sela yang disebut-sebut berkerabat dengan keluarga Karebet Hadiwijaya (Sultan Pajang) dan menurunkan keluarga Panembahan Senopati (Mataram)
Itu konon mampu menangkap petir. Mungkin karena begitu saktinya, atau begitu gesitnya geraknya seperti kilat, atau entah karena apa.

Lha, saya ini bukan Ki Ageng Sela, pasti pusing kalau dikirimi petir, meskipun hanya cuma konon…