Tampilkan postingan dengan label bom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bom. Tampilkan semua postingan

21 Juli 2009

Business as usual pascateror

“Sapa to ya yang main-main mercon saat long week end begini. Apa ada kaitan dengan pemilu?? Apa mercon itu akan menaikkan bunga KPR?”

Itulah yang pertama-tama terlintas dalam pikiran ketika saya mendengar informasi adanya bom yang meledak di Ritz-Carlton dan JW Marriot, Jakarta. Ketika itu saya sedang dalam bus yang melaju dari Cibinong ke Bandung.

Bagi saya, bom kali ini memang terasa lebih menyebalkan dibandingkan dengan bom-bom sebelumnya. Mungkin karena sekarang saya lebih mendambakan stabilitas ekonomi karena pengen mengajukan KPR ke bank, hehehe.

Entah apa pun alasannya, saya jadi lebih banyak berpikir tentang teror kali ini dibandingkan dengan teror-teror sebelumnya. Dan saya kira bangsa ini (melalui pemerintah) harus melakukan pendekatan yang sama sekali baru, sama sekali berbeda, dalam menghadapi teror. Sudah terbukti bahwa pendekatan konvensional yang dilakukan selama hampir satu dekade ini tidak berhasil.

***
Hemat saya, cara melawan teror yang paling gampang adalah mengabaikannya. Lakukan semua hal seperti rencana semula sebelum ada teror. Business as usual. Bahkan minimalkan berita atau info apa pun yang terkait teror. Maka teror itu kehilangan pengaruh.

Bukankah peneror itu mengikuti rumus "membelanjakan sedikit dan mengharapkan banyak perhatian". Jadi, harus ditekankan bahwa kita tidak akan memberikan "perhatian" kepada orang-orang yang butuh perhatian (aleman, ngalem) seperti itu.
Dalam soal terror yang berlaku justru: too much information will kill you. Makin banyak informasi akan membuat orang makin takut. Jadi, negara perlu meminimalkan dampak teror dengan meminimalkan informasi yang justru menakutkan. Ganti semua dengan pernyataan optimistik.

Saya kira orang-orang intelijen, militer, pemasaran, ahli psikologi massa (atau psikologi sosial) perlu merumuskan metode non-konvensional untuk melawan peneror. Lupakan metode-metode konvensional yang mudah ditebak para peneror.

Kita butuh cara-cara baru, cara-cara segar yang belum pernah dicoba di Indonesia dalam menghadapi teror. Cara-cara lama boleh sebagai cover saja. Cara baru harus ada.
Contoh cara lama adalah memeriksa semua tamu hotel dan bandara secara detil. Pemeriksaan seperti ini tidak akan tahan lama. Penerapannya pasti membuat macet di mana-mana. Banyak sekali dampak ikutannya.

Cara ini juga saya kira tidak disukai pebisnis hotel dan semacamnya yang mengutamakan layanan dan kenyamanan pelanggan. Yang menanggung biaya ikutannya bukan negara, tapi masyarakat. Akan ada ekonomi biaya tinggi karena banyak orang habis waktu, tenaga, dan biaya.

***
Kalau saya jadi Presiden atau pejabat yang memiliki otoritas tinggi, maka saya akan panggil para pejabat terkait dan meminta mereka hanya mengeluarkan pernyataan optimistik. Dalam setiap peristiwa politik besar selalu ada yang melambung dan terpelanting. Saya tidak akan memberi tempat kepada pejabat mana pun untuk mengambil keuntungan dari perkembangan informasi dan penanganan teror ini.

Saya akan panggil para pemimpin redaksi dan pemilik media massa, terutama televisi. Saya akan minta mereka meminimalkan berita-berita dan analisis yang tidak perlu. Makin banyak informasi, makin banyak pertanyaan orang. Dan semua itu sulit dijawab. Maka muncullah rasa khawatir. Jadi, abaikan teror seolah-olah tidak ada. Yang dimuat hanya pernyataan optimistik.

Saya akan minta semua pihak yang terkait public tetap menjalankan rencana seperti sebelum ada teror. Jangan ubah rencana yang sudah lama disusun. Dengan begitu para peneror akan kehilangan pengaruh. Yang boleh berubah rencana hanyalah pihak-pihak terkait keamanan.

Penerapan single identity number atau pengawasan melekat dan semacamnya saya kira tidak efektif dan justru berbahaya. Sebab, jika negara punya otoritas sangat besar dalam mengontrol warga, bisa terjadi penyelahgunaan kekuasaan sewaktu-waktu.
Belum lama ini kita dengar di koran, konon ketua komisi yang sangat berkuasa memerintahkan penyadapan kepada orang yang tidak terkait korupsi. Kalau suatu saat ada pemimpin yang agak fasis berkuasa ketika negara punya kemampuan kontrol yang tinggi, maka warga bisa berada dalam bahaya.

***
Saya usulkan pendekatan yang sama sekali baru. Benar-benar baru. Akan tetapi saya sendiri belum punya gambaran konkret mengenai pendekatan baru itu. Tapi saya yakin dalam teori-teori psikologi massa, hal-hal semacam itu sudah ada penjelasannya. Wallahu alam.

PS:
Dalam setiap pemboman selalu populer istilah "orang tidak berdosa". Bagi saya yang ndeso dan berpikir linier, istilah ini membingungkan, bertentangan dengan pemahaman keagamaan saya. Setahu saya semua orang, selain nabi yang maksum, pasti berdosa.

Mengapa tidak disebut sebagai orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam konflik? Mungkin memang repot, apalagi, menurut pelajaran PMP jaman dulu, ada pendekatan keamanan semesta sehingga semua bisa menjadi lawan atau kawan. Semua yang dalam semesta menjadi terlibat konflik. Ah, embuhlah adanya…