Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan

11 Juni 2009

Sepeda motor favorit




Sejak pertama kali melihat motor roda tiga di Jepang pada 2007, saya terus berharap motor semacam itu hadir di Indonesia. Di sini memang sudah banyak hadir motor roda tiga, terutama digunakan oleh tukang sayur dan keperluan semacam itu. Akan tetapi, bagi saya, motor roda tiga seperti yang berkembang di sini memiliki banyak kelemahan untuk digunakan keperluan sehari-hari bagi orang yang tidak berdagang. Ukurannya yang terlalu besar dan panjang (sebesar mobil pick up), desainnya yang tidak mungkin dikendarai perempuan, serta merek-nya yang tidak jelas, adalah beberapa di antara kelemahannya.

Saya ingin motor yang kecil, matic, mirip dengan Yamaha Mio atau Honda Vario, namun roda belakangnya ada tiga. Ringan dan kecil, sehingga bisa dipakai pria dan wanita, serta masih layak dibawa ke tempat kerja.

Adanya kaca depan, wiper, serta atap mengurangi risiko terkena angin, panas, serta hujan. Mesin motor membuatnya hemat. Roda tiga membuatnya lebih stabil tanpa harus menurunkan kaki ketika berhenti.

Saya berharap motor roda tiga semacam ini segera masuk ke Indonesia. Bukan motor roda tiga buatan Piaggio yang semahal mobil itu.

Akan tetapi, saya melihat masih ada potensi kendala. Misalnya di Jalan Diponegoro, Jakarta, ada tulisan roda tiga belok dilarang belok kiri. Tampaknya regulasi masih memandang bahwa yang dimaksud roda tiga adalah bemo atau bajaj. Mungkin ini pula yang membuat importir mengalami kendala?

07 November 2008

Hujan dan Jepang


Jakarta sudah masuk musim hujan. Artinya, hampir setiap hari terjadi hujan. Seringkali sangat deras. Seperti Senin lalu, sewaktu saya turun dari travel dalam perjalanan Bandung-Jakarta, hujan mengguyur sangat deras.

Dalam keadaan seperti itu hampir dipastikan banyak air meluap di pinggir jalan. Bagi pejalan kaki, kendati membawa payung atau jas hujan, harus siap kebasahan di bagian sepatu dan sekitarnya.

Senin itu saya agak beruntung karena membawa payung. Meskipun sepatu, kaki, dan bagian luar tas basah kuyup, alhamdulillah baju dan badan bagian atas tetap kering.

Sewaktu saya memasuki sebuah gedung dalam keadaan sepatu basah dan membawa payung yang juga basah, seorang petugas mencegat dan memberikan tas plastik panjang sebagai wadah payung. Ini dia lakukan untuk mencegah menyebarnya air dari payung itu ke lantai-lantai gedung yang saya lewati.

Bagi saya, ada orang memberikan plastik untuk wadah payung dan mencegah basah adalah peritiwa istimewa di Jakarta.

***
Juni tahun lalu saya berkesempatan berkunjung ke Jepang selama dua pekan. Itu adalah saat musim hujan. Karena kami sehari-hari berkunjung ke banyak tempat, sebagian besar mengunakan angkutan umum yaitu kereta, maka setiap hari kami harus membawa payung.

Ada beberapa hal menarik dalam soal perpayungan di Jepang ini. Pertama, banyak payung terbuat dari plastik tembus pandang. Payung-payung semacam ini dijual dengan harga 400 yen-500 yen (sekitar Rp35.000). Sampai sekarang saya masih menyimpan payung dari plastik hasil kunjungan ke Jepang itu. Di Indonesia, saya menemukan payung semacam ini hanya satu kali, yaitu ketika XL berkempanye mengenai Bening. Selanjutnya tidak menjadi tren.

Hal lainnya yang juga menarik di Jepang adalah payung lipat. Mereka membuat desain payung yang dapat dilipat hingga sangat kecil. Harga payung semacam ini agak lebih mahal dibandingan dengan payung plastik yang umumnya panjang-panjang itu. Enaknya, payung kecil bisa masuk dengan sangat mudah ke dalam tas.

Hal ketiga yang paling menarik di Jepang adalah dukungan dari para pengelola gedung terhadap para pemakai payung. Di hampir semua gedung perkantoran tersedia tempat khusus untuk meletakkan payung. Jadi, orang yang kehujanan dan membawa payung basah tinggal meletakkan payung itu di tempat khusus parkir payung alias penitipan payung. Bentuknya beragam dari sekadar bulatan seperti tempat sampah, sampai yang teratur seperti dalam gambar.

***
Nah, Jakarta sekarang sudah masuk musim hujan. Banyak orang bawa payung. Banyak gedung yang perlu melindungi dirinya dari kebasahan payung-payung itu. Kapan kita meniru kreasi Jepang yang bagus dan praktis itu?

Ket: Foto dari firesomeonetoday.com