
Saya menanam tiga pohon buah untuk menandai ulang tahun ke-4 Sekar
Anakku Sekar Nabila Inspirana tepat berusia 4 tahun pada 25 Oktober 2008. Si cantik itu kini sudah sekolah TK A, sudah mengenal sebagian besar huruf, mengerti angka 0-9, bisa naik sepeda roda 4, mengerti apa makna pakaian yang matching, bisa memakai dan melepas pakaian sederhana. Sekar rajin sikat gigi, dan bahkan sekarang sudah berani mandi sendiri. Dia juga tidak pernah ngompol lagi (kecuali dalam kasus khusus seperti habis perjalanan panjang).
Ulang tahun ke-4 ini agak istimewa dibandingkan ulang tahun sebelumnya. Sekarang Sekar sudah sangat mudah diberi pengertian, diingatkan untuk ini dan itu yang dikaitkan dengan mengatakan, “kan sekarang sudah empat tahun”. Sesuatu yang belum bisa dilakukan di masa-masa yang lalu.
***
Saya sudah beberapa pekan (atau bulan?) belakangan ini ingin sekali menanam pohon buah-buahan di halaman belakang rumah Gunungputri. Halaman belakang yang luasnya lebih dari 50 meter persegi itu nyaris kosong melompong. Sepertiganya sudah saya pasangi kon-blok, dua pert tiganya hanya berisi rumput jepang, sebuah pohon palm, serta jemuran yang jumlahnya tak seberapa.
Kondisi ini kontras sekali dengan halaman depan yang hanya sekitar 10 meter persegi namun penuh dengan tanan buah serta bunga.
***
Lalu bertemulah dua momentum itu. Ulang tahun sekar dan keinginan untuk menanam pohon. Kebetulan di dekat rumah kami di Bandung ada banyak penjual tanaman, termasuk Toko Trubus yang ada di Giant, Jl Djundjunan.
Pas ulang tahun itu kami membeli tiga pohon buah yaitu rambutan, nangka, serta durian. Kami membeli di Toko Trubus itu dengan harga masing-masing Rp25.000. Saya membelinya di Bandung, lalu membawanya ke kantor di Jakarta, dan menanamnya di halaman belakang rumah di Gunungputri.
Tinggi pohon nangka dan durian dalam keadaan belum ditanam hampir sama dengan tinggi Sekar anakku. Adapun tinggi durian dalam keadaan ditanam juga nyaris sama dengan tinggi Sekar.
Sebenarnya, membandingkan tingginya anakku dengan ketinggian pohon dalam lima tahun ke depan tentu saja tidak relevan, apalagi dalam 10 tahun ke depan. Pohon bisa mencapai ketinggian 10 meter atau 15 meter, sementara manusia tidak akan lebih tinggi dari 2 meter. Tapi tidak apa.
***
Bagi orang jaman dulu alias jadul, menanam pohon di saat-saat istimewa mungkin merupakan kebiasaan. Ini bisa menjadi semacam penanda di kala kalender belum banyak digunakan dan sebagian besar orang tidak pandai membaca.
Di dalam agama juga ada banyak pernyataan yang menunjukkan keutamaan menanam pohon, apalagi pohon buah-buahan.
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki bertemu Abu Darda' yang sedang menanam pohon. Kemudian, laki-laki itu bertanya kepada Abu Darda', ''Hai Abu Darda', mengapa engkau tanam pohon ini, padahal engkau sudah sangat tua, sedangkan pohon ini tidak akan berbuah kecuali sekian tahun lamanya.'' Abu Darda' menjawab, ''Bukankah aku akan memetik pahalanya di samping untuk makanan orang lain?''
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad menyebut cerita seorang sahabat Rasulullah SAW, ''Saya mendengar Rasulullah SAW membisikkan pada telingaku ini, 'Siapa menanam sebuah pohon kemudian dengan tekun memeliharanya dan mengurusnya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah di sisi Allah SWT'.'' (HR Ahmad).
Nabi Muhammad SAW memesankan kepada para sahabatnya, dalam peperangan janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak, dan jangan menebang/merusak tanaman (pohon).
Wallahu alam.
Selamat ulang tahun Sekar Nabila Inspirana.