
Ada setidaknya dua hal yang saya kenali sebagai mesin waktu dalam kehidupan yang belum benar-benar modern ini.
Mesin waktu pertama, sudah pernah saya tulis di sini, adalah Facebook. Mesin buatan Mark Zuckerberg ini mampu membawa para penggunanya ke masa lalu, bertemu dengan teman, kerabat, kolega, pacar, dan lain-lain yang pernah berurusan di masa lalu.
Facebook mampu membawa penggunanya berbelas atau berpuluh tahun ke belakang, menyajikan foto, cerita kenangan, dan sebagainya dari masa lalu.
Ada mesin waktu satu lagi yang baru saya kenali kemarin, yaitu quick count alias hitung cepat.
Hitung cepat yang populer seiring ramainya pemilu, memenuhi hasrat dan kehausan manusia akan pengetahuan mengenai masa depan. Informasi yang resmi mengenai hasil pemilu baru akan diumumkan oleh KPU beberapa pekan ke depan.
Akan tetapi, siapa yang tahan menunggu hasil (paling tidak hasil kasar, gambaran besar) mengenai hasil kerja yang telah menguras begitu banyak tenaga dan kantong itu hingga berpekan-pekan ke depan? Siapa sanggup terus bertanya-tanya tanpa panduan mengenai peta atau konstelasi besar politik nasional?
Hitung cepat menjadi mesin yang memungkinkan penontonya untuk melompat ke depan. Tidak perlu menunggu leletnya KPU untuk tahu gambaran umum.
***
Sayangnya, sebagaimana Facebook juga memiliki banyak kelemahan dalam menghadirkan masa lalu, quick count pun pun punya banyak kelemahan.
Mesin itu sama sekali tidak detil dalam menyajikan informasi hasil pemilu yang rumit. Ya bagaimana mungkin menyederhanakan sebuah proses rumit itu dalam hasil satu pie chart hasil perolehan suara?
Ada juga persamaan penting antara dua mesin waktu itu. Keduanya sama-sama menjadi mesin uang bagi pembuatnya, bagi penyedia layanannya.
Jadinya, mesin waktu, sekaligus mesin uang. Ayo, kita bikin mesin yang lain lagi, hehehe.