Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

28 Januari 2010

Bagaimana mencari gagasan untuk menulis?


Malcolm Gladwell adalah seorang penulis jempolan. Buku-bukunya sangat memikat. Tiga yang populer adalah Tipping Point, Blink, serta Outliers. Artikel-artikel pendeknya juga sangat memikat. Dia bukan hanya mampu menulis dengan baik, namun juga sangat inspiratif. Tidak menggurui namun memberi perspektif baru bagi pembacanya.

Tadi pagi saya menemukan satu buku barunya, What the Dog Saw. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama setebal 460 halaman ini dijual dengan harga Rp80.000.

Saya ingin mengutip pernyataan Gladwell tentang kegiatan tulis-menulis. Khususnya tentang bagaimana dia menemukan ide untuk menulis dan mengembangkan gagasan hingga menjadi tulisan yang memikat. Berikut ini pernyataan dia dalam pengantar buku What the Dog Saw:

“Ketika sedang tumbuh dewasa, saya tidak pernah ingin jadi penulis. Saya ingin jadi pengacara, lalu pada tahun terakhir kuliah, saya memutuskan untuk masuk dunia periklanan. Saya melamar ke 18 biro iklan di kota Toronto dan memperoleh 18 surat penolakan. Saya berpikir untuk kuliah pascasarjana, tetapi nilai saya kurang bagus. Saya melamar beasiswa agar bisa pergi ke tempat eksotis selama 1 tahun dan ditolak lagi.

Akhirnya saya menulis. Setelah cukup lama, baru saya sadar bahwa menulis bisa dijadikan pekerjaan. Pekerjaan itu serius dan berat. Menulis itu asyik.

Setelah kuliah, saya bekerja selama 6 bulan di majalah kecil di Indiana yang bernama American Spectator. Lalu saya pindah ke Washington DC dan menjadi penulis lepas selama beberapa tahun, dan akhirnya masuk The Washington Post—lalu dari sana ke The New Yorker.

Sejak itu, menulis tidak pernah menjadi tidak asyik. Dan saya berharap semangat yang menggebu-gebu itu bisa terasa dalam artikel-artikel saya.

***
Kunci untuk menemukan gagasan (dalam menulis) adalah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita. Saya bilang kunci tetapi yang saya maksud adalah tantangan, karena amat sulit melakukannya.

Bagaimana pun naluri kita sebagai manusia adalah menganggap sebagian besar hal tidak menarik. Kita berganti-ganti saluran televisi dan menolak sepuluh sebelum memilih satu. Kita pergi ke toko buku dan melihat 20 novel sebelum membeli satu.

Kita menyusun peringkat dan menilai. Padahal ada begitu banyak hal di luar sana. Kalau mau jadi penulis, Anda harus melawan naluri itu saban hari.

Kunci lain untuk mendapatkan gagasan adalah mengetahui perbedaan antara kekuasaan dan pengetahuan. Dari semua yang akan Anda temui dalam buku ini hanya sedikit yang berkuasa.

Jangan mulai dari atas kalau mau tahu duduk perkara. Mulailah dari tengah, karena orang-orang di tengah lah yang benar-benar bekerja di dunia.

27 Januari 2010

Perbandingan pena & pedang menurut Sartre


Benarkah pena lebih tajam daripada pedang? Jeal Paul Sartre dalam Les Mots (Kata-Kata) menulis pandangannya tentang hidup, termasuk tentang kegiatan tulis menulis. Tentu saja ini tidak bisa dimaknai secara harfiah melainkan perlu dilihat dalam konteks kritik terhadap diri sendiri. Bagaimana pun, ungkapannya tentang kegiatan tulis menulis begitu memikat.

“Menulis adalah suatu kebiasaan sekaligus pekerjaan untukku. Lama sekali kuanggap penaku sebagai pedang. Kini aku sudah tahu para penulis tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi itu tidak penting. Yang penting aku menulis. Aku akan menulis buku-buku. Buku harus tetap ada, harus ada. Karena, bagaimana pun, buku punya faedah. Walaupun pengetahuan luas tidak menyelamatkan apa-apa dan siapa-siapa, itu bukanlah pembenaran (untuk berhenti menulis).
(Buku dan pengetahuan) itu adalah hasil usaha manusia. Manusia membangun citra di sekitar itu dan mencerminkan diri di sana. Pengetahuan memberikan kepada manusia suatu pantulan kritik.”


Prof Alex Lanur menulis bahwa salah satu inti dari Les Mots karya Sartre adalah sebagai berikut:

“Sartre mengakui bahwa seluruh karirnya sudah ditandai dengan keadaan tidak riil yang mendasar. Hal itu tampak dari komitmennya yang mendasar terhadap karya tulis, pengunduran dirinya dari dunia, dan khayalannya bahwa dia dapat menyelamatkan dirinya dengan menulis.

Sebagai seorang anak, dia disanjung dan dipuji banyak orang, namun dia tidak sungguh dimengerti. Dia terlepas dari hubungan dengan anak-anak lain, dan menjalani kehidupan dalam ruang belajar kakeknya.

Mula-mula dia merasa kagum akan buku yang begitu banyak dalam ruang belajar itu. Kemudian dia mulai mengambilnya dan belajar membaca. Sartre sungguh membacanya serta memerankan buku-buku itu. Dan akhirnya, dia menjadi penulis. Les Mots menelusuri pilihan mendasar yang diambilnya untuk hidup lebih dalam buku-buku daripada dalam kenyataan.”

26 Januari 2010

Belajar dari Isaac Asimov


Isaac Asimov adalah seorang penulis fiksi ilmiah yang terkemuka. Dia menulis ratusan buku dalam berbagai topik. Karyanya yang paling terkenal adalah trilogi Foundation yang mendapatkan berbagai macam penghargaan sebagai salah satu serial cerita terbaik dunia. Berikut ini pernyataan Isaac Asimov yang bisa kita baca dalam “Faktor-faktor Prestasi”

Sebenarnya kehidupan saya manis seluruhnya. Sebab, bahkan ketika saya muda, sebelum saya mulai menulis, saya bersiap-siap untuk menulis, bahkan tanpa saya ketahui.

Saya membaca semua buku yang saya perlukan untuk otak saya supaya dapat menulis dengan tepat. Sebagian buku itu saya peroleh dari perpustakaan umum. Dan saya beruntung punya waktu untuk membaca. Saya tidak punya uang. Kami hidup dalam apartemen yang sangat miskin dan dan di lingkungan yang tidak terlalu baik. Tetapi saya tidak pernah menyadari bahwa saya kekurangan.

Saya mempunyai kesempatan untuk membaca dan menikmati sekolah, sehingga kehidupan ini semuanya menyenangkan bagi saya. Dan saya menyadari itu. Itu bagian yang penting. Sangat menyedihkan apabila Anda berbaring di tempat tidur untuk mati dan mengatakan: “Ya, saya mempunyai kehidupan yang baik dan saya tidak pernah menghargainya.”

Sedangkan saya selalu menghargai (hidup yang dianugerahkan pada saya). Tiap langkah dalam perjalanan hidup, saya tahu bahwa saya beruntung. Dan kesadaran itu bahkan lebih penting daripada hanya beruntung (tanpa menyadarinya).

08 Januari 2010

Mohon maaf & selamat jalan Pak Satjipto


Berita duka itu saya dengar tadi pagi. Pak Satjipto Rahardjo meninggal dunia. Secara personal saya tidak mengenal guru besar dari Universitas Diponegoro itu. Saya belum pernah berjumpa dengan beliau dan belum pernah pula membaca tulisan beliau secara jenak.

Saya tidak mengerti bidang keahlian yang beliau tekuni, tidak pula menyimak sepak terjang beliau. Akan tetapi, saya merasa perlu menulis catatan tentang beliau karena saya telah bertahun-tahun menempatkan gambar beliau pada salah satu posisi yang penting.

Ini juga semacam permohonan maaf kepada beliau beserta keluarga dan kerabatnya apabila kelakuan saya ini dipandang keliru atau tidak berkenan.

Pada Januari 1997 saya membeli sebuah buku tulis yang tebal. Saya tidak tahu persis berapa tebalnya, namun saya yakin lebih dari 100 lembar. Buku tulis bergaris ukuran setengah kwarto itu saya gunakan untuk mencatat hal-hal menarik yang saya baca di koran serta, terutama, buku-buku.

Waktu itu saya belum punya computer dan tentu saja alat tulis satu-satunya yang dapat diandalkan adalah buku tulis dan pena. Maka buku catatan itu menjadi perangkat yang penting bagi perkembangan intelektualitas saya.

Dalam buku itulah saya menulis kutipan novel-novel Dostoyevski, Albert Camus, Voltaire, Shakespiere, kumpulan tulisan Pakistan, Rusia, dan sebagainya. Di sana pula saya tulis kutipan dialog dari film di televisi, dari radio, dari ceramah orang penting, dari buku-buku tentang menulis, biografi, dan filsafat. Sebagian besar adalah buku pinjaman dari perpustakaan serta taman bacaan.

Di sana pula saya masih simpan beberapa kliping cerpen serta berita atau analisis dari koran-koran yang saya baca waktu itu. Pada intinya, buku itu mewakili penjelajahan intelektual saya pada periode 1997-1999, salah satu periode paling kritis dalam pembentukan pola pikir saya.

Lalu, apa hubungan dengan Pak Satjipto Rahardjo?
Dalam periode itu saya menemukan foto Pak Satjipto di sebuah majalah, kalau tidak salah Tempo. Foto itu diambil dari samping. Foto pria cukup sepuh berkacamata. Saya terkesan dengan foto itu. Saya berpikir bahwa suatu saat wajah saya, kalau dilihat dari samping, akan seperti wajah yang ada dalam foto itu.

Hidungnya, bentuk kepalanya, kacamatanya, struktur wajahnya, rasanya semua mewakili apa yang akan terjadi pada diri saya di kemudian hari. Maka saya tempellah gambar Pak Satjipto itu sebagai cover buku catatan saya itu. Di bawahnya saya tulis: “KeLIK waktu jadi Presiden”

Satu hal yang saya kira perlu memohon maaf adalah karena saya lancang menambahkan kumis dan jenggot pada gambar itu. Asumsinya, saya ini kan berkumis dan berjenggot.

Selamat jalan Pak Satjipto, semoga mendapat ampunan Allah serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Saya mohon maaf atas segala keluputan dan kelancangan saya terhadap Pak Satjipto.

Foto: cover buku catatan saya bergambar Pak Satjipto