
Saat ini ada beberapa layanan akses data Internet unlimited dengan biaya terjangkau di Indonesia.
Firstmedia menyediakan paket Rp100.000 per bulan untuk akses melalui kabel dengan kuota tak dibatasi. Indosat, XL dan Telkomsel dengan Blackbery juga menyediakan akses unlimited melalui akses poin Blackberry.net, dengan biaya sekitar Rp200.000 per bulan. Balakangan Telkomsel menambah pilihan melalui Flash unlimited dengan biaya mulai Rp125.000 per bulan.
Pilihan untuk selalu terhubung ke Internet alias always connected (atau 'nyambung terus' kalau pakai bahasa XL) sudah semakin banyak dan terjangkau.
Paling-paling yang menjadi masalah adalah alat aksesnya saja. Sejauh ini hanya Blackberry yang memungkinkan always connected dalam arti sebenarnya. Akses melalui notebook atau PC desktop masih banyak mengalami kendala bobot dan ruang. Adapun akses melalui ponsel biasa akan mengalami kendala keterbatasan memori dan daya tahan baterai.
***
Saya sudah hampir setengah tahun ini menggunakan Blackberry dengan akses unlimited. Artinya, sudah sampai mabok rasanya mengakses Internet setiap saat, always connected.
Menerima puluhan e-mail dari milis Awak Readksi, IA-ITB yang ramai sekali, milis Lulusan TF-ITB yag juga sangat ramai, milis Telematika, Technomedia. Selain itu, ada beberapa milis yang kurang sibuk seperti Baitnet, Pucangtunggal, Timor-er dan beberapa milis otomotif (karena saya set daily digest saja).
Dan, tentu saja, penanda paling penting bagi siapa pun yang selalu terhubung ke Internet adalah akses ke pesan instan. Yahoo Messenger dan Gtalk yang selalu aktif dengan avatar/foto dan status yang diubah-ubah. Selain itu, Facebook dengan notifikasinya yang selalu dikirim langsung ke Blackbery.
Dalam keadaan seperti itu, sering rasanya saya ingin untuk tidak terhubung, terutama di malam hari. Belakangan ini saya sering mematikan Blackberry di malam hari. Membiarkan diri not connected atau disconnected.
Dulu ingin always connected padahal default-nya not connected atau connection on demand. Sekarang justru ingin disconnected ketika defaultnya always connected.
Memang perasaannya berbeda antara connection on demand dengan not-connected on demand. Masih ada perasaan aman karena sewaktu-waktu butuh sambungan tetap ada. Ini adalah pemutusan sambungan atas keinginan sendiri, bukan dipaksa oleh kondisi jaringan atau keterbatasan akses.
Barangkali kondisinya mirip dnegan orang yang punya mobil pribadi tetapi memilih naik angkot atau bus.
Ketika orang belum punya mobil, naik angkutan umum adalah keterpaksaaan, tidak ada pilihan lain, sesuatu yang harus diterima sebagai keputusan di luar diri. Pemakai angkot akan sering membayangkan, “seandainya punya mobil, gak usah capek-capek nunggu bus di Komdak.”
Tetapi kalau sudah punya mobil, naik angkot menjadi sebuah pilihan. Pilihan yang lebih murah, lebih tenang, lebih damai, meskipun mungkin butuh waktu lebih lama dan berkeringat lebih banyak. Ada ketenangan karena itu merupakan sebuah pilihan. Tidak ada kecemburuan terhadap pemilik mobil
Jadi, disconnected yang merupakan pilihan dapat diterima dengan lebih baik dibandingkan karena keterbatasan atau paksaan dari luar diri (seperti kondisi jaringan itu).
Wallahu a’lam.










