Ada setidaknya dua hal yang agak mengganggu saya dalam menggunakan Blackberry. Pertama adalah banyaknya spam yang masuk melalui alamat e-mail kantor. Spam ini tak kenal waktu dan sering mengganggu tidur. Masalah kedua, adanya signature "sent from my blackberry wireless devices...." yang sangat panjang dan terkesan norak.
Bagi pengguna BES, mungkin masalah ini sangat gampang di atasi. Bagi pengguna ritel BIS seperti saya, sebenarnya hal ini juga gampang diatasi, hanya saja perlu sedikit trik. Begini ceritanya.
Setting signature, filter, dan sebagainya bisa dikelola sendiri setelah kita login ke alamat web operator.blackberry.com (dalam kasus saya adalah xl.blackberry.com) melalui PC.
Akan tetapi, kejadian gagal login adalah masalah yang cukup lama saya alami. Waktu masuk ke alamat xl.blackberry.com melalui PC, saya diminta memasukkan username dan password. Berhubung saya sudah punya alamat widodo@xl.blackberry.net maka saya berasumsi bahwa username dan password mengacu pada account itu. Tetapi upaya saya selalu ditolak.
Setelah gagal login, saya tekan sign up, lalu memasukkan nomor PIN dan IMEI. Langkah ini selalu dijawab "seseorang sudah menggunakan perangkat yang ini".
Ketika saya pencet menu forgot password, ada pilihan untuk memasukkan nomor PIN. saya masukkan nomor PIN, lalu mereka mengirimkan notifikasi ke handset saya. Notifikasi yang masuk menyatakan bahwa "username dan password saya tidak exist".
Sangat membingungkan. Di satu sisi dijawab ada yang pakai device ini, di sisi lain dibilang bahwa username tidak exist.
Saya coba telepon ke 818/817 dan mereka hanya minta PIN. Setelah itu, katanya, password akan dikirim ke handset (via SMS). Ditunggu-tunggu beberapa hari, tidak ada pesan apa-apa yang masuk ke SMS selain iklan,hehe.
***
Akhirnya saya dapat ide untuk masuk ke alamat xl.blackberry.com melalui handset. Ternyata itu adalah alamat untuk setting e-mail, sama dengan ketika kita memencet menu e-mail setting.
Di bagian bawah ada menu untuk semacam "create user name" (saya lupa persisnya bunyi menunya, soalnya begitu kita jalankan dan sukses, menu itu hilang).
Saya pencet menu itu dan ada peringatan bahwa ini akan mengakibatkan perubahan permanen. Saya ikuti saja petunjuknya, memasukkan username dan password baru. Sukses.
Lalu dia minta verifikasi untuk masing-masing alamat email yang ada di situ.Kebetulan saya punya 10 account email yang saya masukkan ke Blackberry, jadi harus memverifikasi 10 alamat email. Alamaaak, capek juga.
Alhamdulillah, cara ini terbukti sukses. Saya akhirnya punya username dan password untuk login ke setting e-mail. Langkah dengan/pada handset selesai sampai di sini.
Pengaturan e-mail lebih jauh harus dilakukan melalui PC. Buka alamat xl.blackberry.com, masukkan username dan password tadi, dan olala.. bisa masuk ke menu setting.
Di sana kita bisa memasukkan parameter untuk filtering email. Misalnya, untuk akun kantor, saya minta email dengan subjek "komentar pada artikel" tidak dikirim ke handset. Lalu email dengan subjek atau pengirim tertentu tidak dikirimkan ke account lainnya, dan seterusnya. Cara ini terbukti bisa menghentikan sebagian besar spam yang masuk ke handset Blackberry ini.
Begitu pun dengan signature. Saya bisa mengubah kalimat "sent from my blackberry wireless device....." bahkan bisa menghapusnya sama sekali.
***
Cara yang sama juga bisa digunakan ketika kita berganti handset. Tinggal masuk ke sana, ada menu change device. Jadi 10 account akan ikut semua ketika kita ganti handset, tanpa perlu lagi setting ulang satu per satu di handset. Itu semacam passport ke layanan Blackberry.
Kalau kita mau bepergian ke luar negeri, menu filter ini juga bisa sangat berguna. Kita bisa membatasi hanya email tertentu saja yang dikirimkan ke handset, dan menetapkan status no-mail untuk account lainnya.
Dengan demikian, kita bisa menghemat bandwidth (sesuatu yang sangat mahal ketika roaming internasional), tanpa kehilangan akses total. Kita juga akan tetap bisa mengirim berita dengan sangat mudah karena blackberry tetap aktif.
Siapa mau mencoba?
10 Juli 2008
Poligadget, tidak harus seadil itu kan?*

Sebuah laporan dari perusahaan riset teknologi informasi IDC memperkenalkan kategori baru para penggemar gadget dan Internet yang disebut sebagai terlampau terhubung (hyperconnected).
Kategori ini dilekatkan kepada mereka yang sudah sangat terhubung dengan dunia Internet melalui beragam cara. Sementara di bagian lain dunia masih banyak orang yang sama sekali belum bisa mengakses Internet, mereka yang terlampau terhubung itu justru kebanjiran sarana akses.
Menurut IDC, mereka yang disebut sebagai terlampau terhubung itu memiliki setidaknya tujuh perangkat untuk mengakses Internet dan memiliki sembilan akun yang dipergunakan secara aktif.
“Masya Allah. Bawa dua hp saja sering yang satu nggak keurus, akhirnya yang efektif cuma satu. Lha ini, seven devices, sodara-sodara,” kata Big Boss saya, Pak Pemred, sambil geleng-geleng.
Ternyata, jumlah mereka yang masuk kategori terlampau terhubung itu ternyata tidak sedikit. IDC menyatakan 16% dari pekerja informasi global sudah terjangkit hyperconnected. Sebanyak 36% lainnya segera bergabung menjadi bagian kelompok ini.
Proporsi mereka yang terlampau terhubung itu bervariasi dari 9% untuk responden di bidang industri kesehatan, hingga 25% di bidang industri tinggi, serta 21% di bidang industri keuangan.
Laporan bertajuk The Hyper-connected: Here They Come itu didasarkan pada survei global terhadap 2.400 pekerja dewasa yang tersebar di 17 negara.
***
Saya coba membayangkan ‘at least seven divices’ itu kira-kira begini: satu desktop di rumah, satu desktop di kantor, satu Macbook (untuk penggemar Mac), satu Netbook (yang murah dan gampang dijinjing sebagai second notebook atau akses darurat), satu Blackberry, satu iPhone atau HTC Touch (untuk penggemar layar sentuh), satu smartphone dengan Windows Mobile atau Symbian, serta satu ponsel jadoel alias ponsel lawas.
Adapun sembilan aplikasi atau account itu mungkin satu akun kantor, satu atau dua akun Yahoo, satu atau dua akun Google, satu akun Facebook, satu akun Blogger/Blogspot, satu aku Flickr, satu aku Friendster, satu Skype, satu Hotmail/MSN, serta beberapa alternatif jejaring sosial.
****
Penelitian IDC yang disponsori Nortel itu menggarisbawahi kemungkinan perubahan pola komunikasi karena mereka yang masuk kategori terlampau terhubung jumlahnya terus bertambah. Mereka kecanduan menggunakan pesan instan serta pesan teks.
Laporan IDC menyatakan migrasi ke arah hyperconnectivity akan bermuara pada munculnya proses bisnis baru, ditandai kehadiran beragam aplikasi dan perangkat akses secara melimpah. Hal ini sudah terlihat pada mereka yang terlampau terhubung, yang menjalankan polygadget hingga minimal tujuh perangkat, serta polyapplication hingga sembilan akun akses.
Salah satu garus bawah laporan IDC adalah peran e-mail sebagai sarana komunikasi bisnis tidak lagi dominan. Peran e-mail akan digantikan pesan teks dan pesan instan.
Sudah barang tentu, melimpahnya jumlah perangkat dan aplikasi tentu menuntut perubahan strategi dan arsitektur bagi penyatuan media komunikasi.
Apalagi, batasan antara ketersambungan untuk keperluan pribadi dan pekerjaan sudah semakin kabur. “Dua per tiga di antara meraka menyatakan menggunakan pesan teks dan pesan instan baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan. Lebih dari sepertiga menggunakan jejaring sosial untuk kedua hal itu.”
Kebebasan untuk menjalankan pekerjaan di sela-sela waktu pribadi akan memaksa perubahan kebijakan TI serta praktik komunikasi bisnis.
Para peneiliti mengingatkan bahwa ketersambungan mungkin menjadi perangkat bagi karyawan untuk meningkatkan produktivitas. Akan tetapi, hal itu juga membawa risiko bahwa informasi sensitif mungkin mudah tersebar ke seluruh dunia.
“Sebanyak 25% dari mereka yang terlampau terhubung menggunakan blog dan miki untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan orang-orang di luar perusahaan,” tulis laporan itu.
Apakah kita semua sedang bergerak ke arah hyperconnectivity yang menuntut penerapan poligadget dan poliaplikasi? Jawabnya hampir pasti iya. Tetapi kita tidak usah terlalu cemas, toh poli yang ini tidak menuntut keadilan yang begitu ketat seperti halnya polixxxx yang tidak disukai kaum perempuan, hehehe. Dan lagi, poli yang ini boleh dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.
*) Versi mirip tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia, edisi 10 Juli 2008. See www.bisnis.com
07 Juli 2008
Impian masa silam dalam Google Maps

Saya mengunduh aplikasi Google Maps pada Blackberry beberapa hari yang lalu. Semula saya tidak tertarik dengan aplikasi-aplikasi peta dalam perangkat genggam ini karena perangkat ini tidak memiliki penerima sinyal GPS. Selain itu, seringkali saya merasa layar ponsel terlalu kecil untuk urusan perpetaan yang biasanya butuh ruang yang luas untuk bisa menikmati dan menjelajah dengan nyaman.
Pandangan ini mulai berubah ketika membaca soal aplikasi Google Maps dan GPS pada Blackberry dalam sebuah review. Saya pun coba mengunduh aplikasi itu.
Dan benar saja, ternyata Google Maps ini bisa tampil mirip dengan Google Earth dalam PC. Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya mencoba-coba Google Earth dan sangat terpesona. Hanya saja, aksesnya lambat dan komputer saya ini seperti kelebihan beban. Makannya sangat mengherankan bahwa layanan semacam Google Earth bisa tersedia pada perangkat genggam nan kecil ini.
***
Ada dua aplikasi peta tersedia pada Blackberry yaitu Blackberry Maps dan Google Maps. Blackberry Maps benar-benar seperti peta dengan nama jalan dan sebagainya. Adapun Google Maps bisa tampil seperti peta (tanpa nama jalan) atau dengan apa yang mereka sebut satellite view (juga tanpa informasi nama jalan).
Saya berhasil menemukan posisi rumah di Gunungputri, posisi rumah masa kecil yang kini ditinggali Ayah, serta makam Ibu, dan rumah kakak. (Setahun yang lalu saya gagal menemukan lokasi-lokasi di Jawa Tengah melalui Google Earth karena peta sekitar Kutoarjo tidak bisa di-zoom).
Uniknya lagi, posisi saya di kantor di Jakarta bisa langsung dikenali meskipun tanpa GPS. Blackberry mengenalinya melalui menara seluler (BTS) terdekat. Enak sekali. Sayangnya fitur ini tidak bisa berjalan di Gunungputri, mungkin karena BTS-nya pakai teknologi kuno.
Enaknya lagi, layanan Blackberry ini kan Internetnya unlimited, sehingga download gambar dari Google yang besar-besar itu pun tidak menjadi masalah. Tidak ada kecemasan biaya meskipun handset ini tidak memiliki akses Wi-Fi. Kecepatannya kira-kira sama dengan akses Google Earth melalui PC lama di kantor.
***
Dari kecil saya sering mengimpikan untuk bisa melihat bumi dari atas. Hal itulah yang mendorong saya untuk menyukai teknologi penerbangan (saya, yang orang desa kluthuk jauh dari ibukota kabupaten ini, mulai mengkliping tulisan mengenai pesawat di Suara Karya, serta mengumpulkan majalah Tarik, TSM, serta Mekatronika sejak SMP).
Saya juga suka melihat dan menggambar peta lokasi. Pokoknya menampilkan view bumi dilihat dari atas. Mungkin ini pula (atau sebaliknya) yang membuat hasil psikotes saya waktu SMA menunjukkan bahwa kemampuan pandangruang (spasial) saya termasuk Sangat Cerdas.
Lah, gabungan berbagai impian masa silam, serta kemudahan penggunaan pada perangkat komunikasi genggam itulah agaknya yang membuat saya benar-benar merasa bisa menikmati Google Maps.
06 Juli 2008
Pakai SKA kok tarif SMS berbeda berdasar tujuan?
Sejak April, biaya SMS sejumlah operator besar turun. Telkomsel yang semula mengenakan biaya Rp250 untuk pascabayar dan Rp300 untuk prabayar mengubahnya menjadi bervariasi antara Rp100 hingga Rp150 per pesan. Hal yang sama juga dilakukan Indosat.
Tetapi, ada pertanyaan yang mengganjal bagi saya mengenai sistem tarif SMS ini. Katanya pola bagi hasilnya masih menganut SKA (sender keep all) di mana semua pendapatan masuk ke kantong operator pengirim Lah, kalau memang demikian, mengapa operator masih mengenakan biaya SMS dibedakan berdasarkan operator tujuan? Bukankah itu tidak relevan?
Bukankah yang lebih masuk akal justru seperti Bakrie Telecom Esia itu, yang mengenakan tarif berdasarkan karakter tanpa peduli operator tujuan?
Mengapa soal upaya mempertahankan pelanggan menjadi justifikasi pembedaan tarif? Di mana peran regulator dalam mengatur hal ini? Kabarnya regulator masih akan mempertahankan pola SKA pula. Ah, mbuh lah adanya…
Tetapi, ada pertanyaan yang mengganjal bagi saya mengenai sistem tarif SMS ini. Katanya pola bagi hasilnya masih menganut SKA (sender keep all) di mana semua pendapatan masuk ke kantong operator pengirim Lah, kalau memang demikian, mengapa operator masih mengenakan biaya SMS dibedakan berdasarkan operator tujuan? Bukankah itu tidak relevan?
Bukankah yang lebih masuk akal justru seperti Bakrie Telecom Esia itu, yang mengenakan tarif berdasarkan karakter tanpa peduli operator tujuan?
Mengapa soal upaya mempertahankan pelanggan menjadi justifikasi pembedaan tarif? Di mana peran regulator dalam mengatur hal ini? Kabarnya regulator masih akan mempertahankan pola SKA pula. Ah, mbuh lah adanya…
Mengapa saya suka Facebook

Saya mengenal Facebook setelah diundang oleh Mbak Dewi Widiyanti (Ericsson) sekitar satu tahun yang lalu. Awalnya saya ragu untuk membuat akun di sana karena saya memandang Facebook, seperti halnya Friendster, adalah mainan anak remaja. Saya cuma buat akun, dengan sangat terlambat, dan membiarkannya kosong melompong.
Tetapi beberapa bulan lalu, seorang teman dari Filipina, Regina Bengco, menanyakan mengenai akun Facebook-ku yang tidak ada infonya apa-apa. Itu menggugahku untuk memperbarui akun Faceook. Pertanyaan itu, setidaknya menggarisbawahi bahwa akun Facebook itu ada manfaatnya untuk komunikasi jarak jauh, atau untuk berkontak dengan orang yang jarang bertemu.
Faktor lainnya adalah Blackberry yang menyediakan aplikasi Facebook. Melalui aplikasi itu saya bisa upload photo, mencari dan mengundang teman, manyetujui ajakan pertemanan, dan sebagainya melalui handset Blackberry secara real time. Sebagai orang yang menganut ‘ideologi’ Serba Mobile, kemudahan semacam ini memberikan dorongan yang sangat besar: Saya bisa mengakses dan memperbarui akun Facebook dari mana saja kapan saja.
Jadi, faktor awalnya ada tiga yaitu: siapa yang memperkenalkan, siapa yang menyadarkan bahwa itu ada gunanya, dan apa yang membuat itu tampak mudah serta keren.
***
Pada dasarnya Facebook sendiri memang menarik. Salah satu yang paling menarik adalah soal status. Kita bisa memperbarui status pada Facebook, dan orang lain tetap bisa melihat status kita itu kendati kita tidak sedang online.
Inilah perbedaan utama dengan status pada pesan instan baik Google Talk maupun Yahoo Messenger. Pada Gtalk, status akan terakhir akan terekam sehingga ketika kita login, maka status yang sebelumnya langsung terpampang. Tetapi ketika kita offline, status tidak muncul.
Pada YM lebih menyebalkan lagi. Kita harus memperbarui status setiap kali login. Kalau jaringan lagi payah, bolak-balik login logout, sebal juga update statusnya.
***
Namun demikian, ada beberapa bagian dari Facebook ini yang tidak menyenangkan bagiku. Khususnya tampilan yang memanjang ke bawah dan seringkali berisi tumpukan gambar-gambar kiriman dari teman-teman yang lain. Saya lihat akun beberapa teman itu kesannya jadi berantakan karena ada banyak sekali gambar berserakan tak beraturan.
Bagaimana pun Facebook ini cukup menarik dan menjadi salah satu aplikasi yang paling sering aku buka di Blackberrry handset.
01 Juli 2008
Tidak bisa terhubung
Saya punya masalah yang sudah lama tidak kunjung terpecahkan. Bagaimana menghubungkan modem IM2 broadband 3,5G merek ZTE dengan Eee PC. Notebook nan murahku ini tidak bisa mengenali modem buatan China itu.
Saya sudah bawa ke service center IM2 di Semanggi tetap enggak bisa. Katanya, yang bisa cuma PC dengan Ubuntu atau Mandriva. Adapun Eee PC dengan Xandros ini belum ketemu cara pemecahannya.
Ada yang bisa membantu?
Saya sudah bawa ke service center IM2 di Semanggi tetap enggak bisa. Katanya, yang bisa cuma PC dengan Ubuntu atau Mandriva. Adapun Eee PC dengan Xandros ini belum ketemu cara pemecahannya.
Ada yang bisa membantu?
23 Juni 2008
Naik kereta api: Yang miskin harus berbagi

Jumat malam hingga Senin pagi ini saya gunakan waktu untuk mengunjungi keluarga dan kerabat di Tulusrejo, Kutoarjo, serta Purwokerto.
Ini adalah akhir pekan di saat liburan sekolah. Jadi wajar jika jumlah penumpang membeludak. Saya coba beli tiket Jumat malam di loket sudah habis. Begitupun pas kembali. Saya mencari tiket untuk Minggu malam (pada Sabtu siang) juga sudah tidak ada. Akhirnya saya beli lewat calo yang menjual tiket tidak sampai 10 meter di depan loket. Tidak ada lagi tiket kelas eksekutif untuk Sawunggalih Utama ini, jadi pulang pergi saya naik kelas bisnis dengan tarif resmi Rp70.000.
Saat berangakt dan pulang kereta dalam keadaan penuh sesak. Banyak orang yang naik tanpa tempat duduk. Mereka berdiri dan duduk di sembarang tempat, di dekat pintu, di WC, serta di sela-sela kursi milik penumpang yang punya tempat duduk. Saya bahkan sampai sama sekali tidak bisa meluruskan kaki karena ada orang tidur tepat di depan kakiku. Dia tiduran di situ sama sekali tidak berpindah sepanjang berjalanan dari Purwokerto ke Jatinegara.
Kondisi semacam ini jelas berbeda dengan gerbong kelas eksekutif. Di kelas eksekutif, jarak antarkursi relatif lebih lebar. Tetapi orang tanpa tempat duduk justru tidak diperkenankan untuk masuk ke gerbong di mana ada tempat penumpang bertempat duduk. Di sini ada kejelasan hak kursi bagi penumpang yang memiliki nomor tempat duduk itu.
Di kelas bisnis tidak ada batasan itu. Hak pemilik kursi ya hanya pada kursinya. Dia tidak punyak hak terhadap kolong dan ruang di sekitar kursi. Bagi penumpang kelas ekonomi lebih parah lagi. Hak atas kursi pun ditentukan oleh siapa yang duduk di situ terlebih dahulu. Selebihnya aturannya sama dengan kelas bisnis.
Jadi, dalam aturan Kereta Api Indonesia, orang-orang paling kaya dan mapan punya otoritas yang dilindungi untuk mempertahankan haknya sebebas dan seluas mungkin. (bahkan di saat Lebaran, di mana penumpang kereta di kelas lain endeng-endengan seperti sarden, penumpang kelas eksekutif tidak merasakan kepadatan mudik Lebaran di dalam gerbong).
Sementara itu, penumpang yang agak miskin, harus rela berbagi. Dan penumpang yang paling miskin justru harus paling banyak berbagi. Logika macam apa ya ini?
****
Naik kereta api di Indonesia ini memang harus membekali diri dengan pengenalan lokasi yang baik. Kereta ditujukan bagi orang-orang yang sudah sering naik dengan tujuan yang sama. Bagi penumpang yang baru pertama kali naik ke jurusan tertentu, silakan siap-siap tersesat. Tidak ada penunjuk yang jelas posisi kereta sudah sampai di mana.
Kalau orang harus bertanya berkali-kali tentu sangat tidak nyaman. Bukan hanya bagi penanya, tetapi juga bagi pihak yang ditanya. Sementara itu, kalau orang berada di gerbong paling belakang, kecil sekali kemungkinan untuk bisa membaca plang di depan stasiun mengingat posisinya seringkali berada di luar stasiun ketika kereta berhenti.
Salah satu alat yang bisa jadi penolong adalah informasi lokasi pada telepon seluler. Di bawah nama operator biasanya ada informasi mengenai lokasi yang sedang dilalui. Hanya saja, karena informasinya detil (kecamatan) seringkali penumpang juga tidak tahu persis ini berada di sekutar kota (besar) mana.
***
Kupikir ada banyak sekali hal yang harus diperbaiki dari perkereta apian. Sebagai penumpang, rasanya banyak kesengsaraan yang harus siap dihadapi bagi siapa saja yang akan menjadi penumpang dalam jangka waktu lama, misalnya semalam suntuk.
Jadwal kereta mestinya bisa lebih tepat. Jumlah kereta juga diharapkan lebih banyak, dengan pilihan kelas lebih banyak (jangan hanya tiga). Sistem informasi juga hendaknya lebih pintar. Dan, tentu saja, sistem penjualan juga mesti diperbaiki. Tetapi, itu semua tentu butuh biaya. Asal jangan banyak yang korupsi, saya kira kita bisa punya banyak uang lebih untuk investasi.
Wallahu alam.
20 Juni 2008
Bola dan media massa?

Yunani tumbang di babak pertama. Juara bertahan Piala Eropa itu pulang tanpa satu nilai pun. Kebobolan lima gol dan hanya memasukkan satu gol hiburan.
Prancis, finalis Piala Dunia 2006, juga tersingkir di babak pertama. Italia, meskipun mampu mengalahkan Prancis di babak penyisihan (seperti halnya mereka juga mengalahkan prancis pada final Piala Dunia dua tahun lalu), juga tertatih-tatih melewati masa yang berat. Jerman, kasusnya mirip dengan Italia, berat sekali untuk bisa lolos dari babak penyisihan.
Tim-tim jagoan, silih berganti menjadi unggulan. Silih berganti menjadi juara, melalui putaran yang cepat. Beberapa nama mengukir prestasi panjang. Ada nama-nama yang selalu muncul dalam setiap turnamen selama puluhan tahun. Tetapi banyak juga yang prestasinya tidak bisa bertahan lama. Muncul karena tangan dingin pelatih brilian (macam GH asal Belanda itu), lalu tenggelam setelah ditinggalkan.
***
Bagaimana dnegan persaingan di dunia koran? Siapakah nama-nama besar yang akan tetap bertahan untuk masa yang panjang? Adakah nama-nama yang bisa tiba-tiba muncul dan meroket? Adakah tangan dingin yang benar-benar menguasai rumus penerbitan koran (macam GH dalam Bola), sehingga apa pun yang dipegangnya bisa menjadi mainan berbahaya?
Apakah dunia koran konvensional, atau dunia koran maya yang akan mengalami masalah seperti turnamen bola itu? Apakah hal-hal yang model bisnisnya sudah mapan atau yang sedang mencari pola yang bisa memunculkan keajaiban sebuah turnamen?
Mari kita pikirkan bersama-sama. Barangkali Anda punya ide?
Wallahu alam.
17 Juni 2008
Haruskah wartawan seperti peneliti?
Dalam proses menulis sesuatu menjadi bermakna dibutuhkan pengetahuan dan penguasaan masalah yang memadai. Semakin mendalam sebuah tulisan, semakin mendalam juga pengetahuan yang diperlukan. Terlebih lagi jika tulisan itu ditujukan kepada publik, masyarakat luas.
Lalu, apakah itu berarti seorang wartawan, yang tiap hari memproduksi tulisan untuk publik, harus punya pengetahuan mendalam seperti halnya peneliti? Saya kira ada perbedaan mendasar antara peneliti dengan wartawan.
Peneliti menangkap sebuah masalah atau ide, kemudian berusaha mencari pemecahan/ solusi/ jalan ke luar sendiri. Untuk itu, dia harus belajar statistika, membuat alat untuk menghasilkan data, kemudian mempersenjatai diri dengan pisau analisis.
Wartawan juga memulai karyanya dengan menangkap masalah atau ide. Tetapi dia tidak perlu berusaha memecahkan sendiri persoalan itu. Dia mencari nara sumber/peneliti dan sebagainya untuk membantunya memecahkan masalah.
Jadi, bagi wartawan, punya pengetahuan mendalam adalah nilai tambah. Ini akan membantunya mudah memahami dan tidak salah interpretasi terhadap paparan peneliti. Bagaimana pun, ada pengetahuan menimal yang perlu diketahui wartawan agar bisa membuat analisis dengan tepat. Ini berlaku untuk pendalaman. Adapun untuk sekadar isu-isu umum, yang diperlukan adalah akal sehat, logika yang lurus, pengetahuan angka, dan alur berpikir yang cukup.
***
Khusus mengenai kewartawanan di dunia TI –khususnya ekonomi TI-- saya ingin mengusulkan semacam workshop untuk pembekalan. Beberapa materi yang hendaknya perlu diberikan kepada wartawan baru di dunia TI setidaknya meliputi.
1. Faktor-faktor dalam bisnis telekomunikasi. (Undang saja orang Mastel atau pengamat untuk berbicara mengenai isu investasi, regulasi, kompetisi, serta faktor-faktor kunci yang menentukan kondisi makro bisnis telekomunikasi)
2. Perkembangan/ evolusi teknologi telekomunikasi.
-Undang vendor, misalnya Ericsson, untuk bicara mengenai evolusi teknologi seluler dari generasi pertama sampai keempat. Mengapa disebut cellular, bagaimana sambungan antara pengguna ke sentral dan kembali lagi ke pengguna, penggunaan frekuensi dan alokasinya.
- Vendor juga diharapkan bisa menjelaskan evolusi teknologi sambungan kabel (dari telepon tembaga, DSL, hingga serat optik. Aplikasi-aplikasi yang berjalan di atasnya dan semacamnya)
3. Faktor-faktor dalam bisnis peranti lunak
Undang akademisi untuk bicara mengenai industri peranti lunak secara umum, pembagiannya, siapa yang dominan, perkembangan dari masa ke masa. Apa arti open source, propreitary, mengapa ada pembajakan. Peranti lunak korporasi, perannya dalam proses produksi, dsb.
4. Faktor-faktor dalam bisnis peranti keras
Undang akademisi untuk bicara mengenai unsur-unsur peranti keras pada komputer dan bagaimana alat itu bekerja. Bagaimana standardisasi peranti keras dibuat. Bagaimana peran perakit lokal, OEM, pabrikan besar dalam industri ini. Bagaimana tren peranti keras ke depannya.
6. Memahami bisnis Internet (minta orang APJII untuk bicara)
- sejarah Internet dunia dan sejarah Internet Indonesia
- faktor-faktor dalam menentukan biaya akses Internet, sewa jaringan dan akses
- nama domain, hosting, content, warnet, game online, dan bisnis yang terkait dengan Internet
- aplikasi di atas Internet, web 2.0, masa depan Internet
7. Riset dan sumber daya TI
Undang akademisi/peneliti untuk berbicara mengenai hal ini.
***
Masalahnya, untuk menggelar sebuah workshop, peserta satu desk dari satu saja perusahaan koran pasti sangat sedikit.
Jalan keluarnya, pengelola rubrik atau desk editor mungkin bisa mulai membuat tulisan mengenai masing-masing item yang diperlukan seperti di atas, sebagai modul-modul pembelajaran bagi wartawan pemula.
Cara yang lebih gampang, cari situs-situs Internet yang bisa memberikan pencerahan seperti di atas. Catat link-link itu, lalu diskusikan secara berkala sesuai target kurikulum (hehehe, kayak sekolah saja….)
Wallahu a’lam.
Lalu, apakah itu berarti seorang wartawan, yang tiap hari memproduksi tulisan untuk publik, harus punya pengetahuan mendalam seperti halnya peneliti? Saya kira ada perbedaan mendasar antara peneliti dengan wartawan.
Peneliti menangkap sebuah masalah atau ide, kemudian berusaha mencari pemecahan/ solusi/ jalan ke luar sendiri. Untuk itu, dia harus belajar statistika, membuat alat untuk menghasilkan data, kemudian mempersenjatai diri dengan pisau analisis.
Wartawan juga memulai karyanya dengan menangkap masalah atau ide. Tetapi dia tidak perlu berusaha memecahkan sendiri persoalan itu. Dia mencari nara sumber/peneliti dan sebagainya untuk membantunya memecahkan masalah.
Jadi, bagi wartawan, punya pengetahuan mendalam adalah nilai tambah. Ini akan membantunya mudah memahami dan tidak salah interpretasi terhadap paparan peneliti. Bagaimana pun, ada pengetahuan menimal yang perlu diketahui wartawan agar bisa membuat analisis dengan tepat. Ini berlaku untuk pendalaman. Adapun untuk sekadar isu-isu umum, yang diperlukan adalah akal sehat, logika yang lurus, pengetahuan angka, dan alur berpikir yang cukup.
***
Khusus mengenai kewartawanan di dunia TI –khususnya ekonomi TI-- saya ingin mengusulkan semacam workshop untuk pembekalan. Beberapa materi yang hendaknya perlu diberikan kepada wartawan baru di dunia TI setidaknya meliputi.
1. Faktor-faktor dalam bisnis telekomunikasi. (Undang saja orang Mastel atau pengamat untuk berbicara mengenai isu investasi, regulasi, kompetisi, serta faktor-faktor kunci yang menentukan kondisi makro bisnis telekomunikasi)
2. Perkembangan/ evolusi teknologi telekomunikasi.
-Undang vendor, misalnya Ericsson, untuk bicara mengenai evolusi teknologi seluler dari generasi pertama sampai keempat. Mengapa disebut cellular, bagaimana sambungan antara pengguna ke sentral dan kembali lagi ke pengguna, penggunaan frekuensi dan alokasinya.
- Vendor juga diharapkan bisa menjelaskan evolusi teknologi sambungan kabel (dari telepon tembaga, DSL, hingga serat optik. Aplikasi-aplikasi yang berjalan di atasnya dan semacamnya)
3. Faktor-faktor dalam bisnis peranti lunak
Undang akademisi untuk bicara mengenai industri peranti lunak secara umum, pembagiannya, siapa yang dominan, perkembangan dari masa ke masa. Apa arti open source, propreitary, mengapa ada pembajakan. Peranti lunak korporasi, perannya dalam proses produksi, dsb.
4. Faktor-faktor dalam bisnis peranti keras
Undang akademisi untuk bicara mengenai unsur-unsur peranti keras pada komputer dan bagaimana alat itu bekerja. Bagaimana standardisasi peranti keras dibuat. Bagaimana peran perakit lokal, OEM, pabrikan besar dalam industri ini. Bagaimana tren peranti keras ke depannya.
6. Memahami bisnis Internet (minta orang APJII untuk bicara)
- sejarah Internet dunia dan sejarah Internet Indonesia
- faktor-faktor dalam menentukan biaya akses Internet, sewa jaringan dan akses
- nama domain, hosting, content, warnet, game online, dan bisnis yang terkait dengan Internet
- aplikasi di atas Internet, web 2.0, masa depan Internet
7. Riset dan sumber daya TI
Undang akademisi/peneliti untuk berbicara mengenai hal ini.
***
Masalahnya, untuk menggelar sebuah workshop, peserta satu desk dari satu saja perusahaan koran pasti sangat sedikit.
Jalan keluarnya, pengelola rubrik atau desk editor mungkin bisa mulai membuat tulisan mengenai masing-masing item yang diperlukan seperti di atas, sebagai modul-modul pembelajaran bagi wartawan pemula.
Cara yang lebih gampang, cari situs-situs Internet yang bisa memberikan pencerahan seperti di atas. Catat link-link itu, lalu diskusikan secara berkala sesuai target kurikulum (hehehe, kayak sekolah saja….)
Wallahu a’lam.
02 Juni 2008
Ketika disconnected justru diinginkan

Saat ini ada beberapa layanan akses data Internet unlimited dengan biaya terjangkau di Indonesia.
Firstmedia menyediakan paket Rp100.000 per bulan untuk akses melalui kabel dengan kuota tak dibatasi. Indosat, XL dan Telkomsel dengan Blackbery juga menyediakan akses unlimited melalui akses poin Blackberry.net, dengan biaya sekitar Rp200.000 per bulan. Balakangan Telkomsel menambah pilihan melalui Flash unlimited dengan biaya mulai Rp125.000 per bulan.
Pilihan untuk selalu terhubung ke Internet alias always connected (atau 'nyambung terus' kalau pakai bahasa XL) sudah semakin banyak dan terjangkau.
Paling-paling yang menjadi masalah adalah alat aksesnya saja. Sejauh ini hanya Blackberry yang memungkinkan always connected dalam arti sebenarnya. Akses melalui notebook atau PC desktop masih banyak mengalami kendala bobot dan ruang. Adapun akses melalui ponsel biasa akan mengalami kendala keterbatasan memori dan daya tahan baterai.
***
Saya sudah hampir setengah tahun ini menggunakan Blackberry dengan akses unlimited. Artinya, sudah sampai mabok rasanya mengakses Internet setiap saat, always connected.
Menerima puluhan e-mail dari milis Awak Readksi, IA-ITB yang ramai sekali, milis Lulusan TF-ITB yag juga sangat ramai, milis Telematika, Technomedia. Selain itu, ada beberapa milis yang kurang sibuk seperti Baitnet, Pucangtunggal, Timor-er dan beberapa milis otomotif (karena saya set daily digest saja).
Dan, tentu saja, penanda paling penting bagi siapa pun yang selalu terhubung ke Internet adalah akses ke pesan instan. Yahoo Messenger dan Gtalk yang selalu aktif dengan avatar/foto dan status yang diubah-ubah. Selain itu, Facebook dengan notifikasinya yang selalu dikirim langsung ke Blackbery.
Dalam keadaan seperti itu, sering rasanya saya ingin untuk tidak terhubung, terutama di malam hari. Belakangan ini saya sering mematikan Blackberry di malam hari. Membiarkan diri not connected atau disconnected.
Dulu ingin always connected padahal default-nya not connected atau connection on demand. Sekarang justru ingin disconnected ketika defaultnya always connected.
Memang perasaannya berbeda antara connection on demand dengan not-connected on demand. Masih ada perasaan aman karena sewaktu-waktu butuh sambungan tetap ada. Ini adalah pemutusan sambungan atas keinginan sendiri, bukan dipaksa oleh kondisi jaringan atau keterbatasan akses.
Barangkali kondisinya mirip dnegan orang yang punya mobil pribadi tetapi memilih naik angkot atau bus.
Ketika orang belum punya mobil, naik angkutan umum adalah keterpaksaaan, tidak ada pilihan lain, sesuatu yang harus diterima sebagai keputusan di luar diri. Pemakai angkot akan sering membayangkan, “seandainya punya mobil, gak usah capek-capek nunggu bus di Komdak.”
Tetapi kalau sudah punya mobil, naik angkot menjadi sebuah pilihan. Pilihan yang lebih murah, lebih tenang, lebih damai, meskipun mungkin butuh waktu lebih lama dan berkeringat lebih banyak. Ada ketenangan karena itu merupakan sebuah pilihan. Tidak ada kecemburuan terhadap pemilik mobil
Jadi, disconnected yang merupakan pilihan dapat diterima dengan lebih baik dibandingkan karena keterbatasan atau paksaan dari luar diri (seperti kondisi jaringan itu).
Wallahu a’lam.
29 Mei 2008
Pukulan telak Telkomsel
Telkomsel selama ini dikenal kurang serius menggarap segmen layanan data Internet, tidak seperti Indosat dan XL.
Setahu saya, Telkomsel tidak memiliki unit khusus yang jualan layanan data sebagaimana Indosat (dengan IM2), serta XL dengan Busol.
Selama beberapa tahun Indosat sudah berkibar-kibar dengan Blackberry korporat, lalu XL berusaha mengejar dengan pengguna BIS (Blackberry Internet Service), sementara Telkomsel tampak adem ayem saja.
Pada masa lalu, Indosat dan XL juga menawarkan bermacam-macam paket layanan data dengan modem 3,5G, HSDPA, paket ini dan itu untuk akses layanan mulai dari Rp99.000 per bulan, Telkomsel juga adem ayem dengan Flash yang relatif mahal.
Tetapi kondisi ini berubah total dalam satu bulan terakhir.
Menjelang masa-masa ulang tahun Telkomsel, operator seluler terbesar Indonesia yang mulai didera oleh pukulan ‘paksaan penurunan tarif’ itu meluncurkan dua jurus jitu yang sanagt telak dalam memukul lawan-lawannya.
Pertama adalah Blackberry prabayar Rp180.000 per bulan akses unlimited seperti yang saya tulis pada posting sebelumnya. Kedua adalah layanan paket Flash unlimited yang dipasarkan mulai harga Rp125.000 per bulan.
Ini benar-benar pukulan bai pesaing mengingat jumlah pelanggan Telkomsel yang hampir dua kali lipat pesaing terdekatnya, serta jangkauan yang sampai ke pelosok-pelosok Nusantara.
Kalau saja belum pakai Blackberry unlimited XL ini mungkin saya akan pakai Blackberry prabayar atau, minimal, Flash unlimited yang paling murah itu. Para pesaing Telkomsel harus menyiapkan jurus lain yang lebih ampuh untuk menangkalnya…
Setahu saya, Telkomsel tidak memiliki unit khusus yang jualan layanan data sebagaimana Indosat (dengan IM2), serta XL dengan Busol.
Selama beberapa tahun Indosat sudah berkibar-kibar dengan Blackberry korporat, lalu XL berusaha mengejar dengan pengguna BIS (Blackberry Internet Service), sementara Telkomsel tampak adem ayem saja.
Pada masa lalu, Indosat dan XL juga menawarkan bermacam-macam paket layanan data dengan modem 3,5G, HSDPA, paket ini dan itu untuk akses layanan mulai dari Rp99.000 per bulan, Telkomsel juga adem ayem dengan Flash yang relatif mahal.
Tetapi kondisi ini berubah total dalam satu bulan terakhir.
Menjelang masa-masa ulang tahun Telkomsel, operator seluler terbesar Indonesia yang mulai didera oleh pukulan ‘paksaan penurunan tarif’ itu meluncurkan dua jurus jitu yang sanagt telak dalam memukul lawan-lawannya.
Pertama adalah Blackberry prabayar Rp180.000 per bulan akses unlimited seperti yang saya tulis pada posting sebelumnya. Kedua adalah layanan paket Flash unlimited yang dipasarkan mulai harga Rp125.000 per bulan.
Ini benar-benar pukulan bai pesaing mengingat jumlah pelanggan Telkomsel yang hampir dua kali lipat pesaing terdekatnya, serta jangkauan yang sampai ke pelosok-pelosok Nusantara.
Kalau saja belum pakai Blackberry unlimited XL ini mungkin saya akan pakai Blackberry prabayar atau, minimal, Flash unlimited yang paling murah itu. Para pesaing Telkomsel harus menyiapkan jurus lain yang lebih ampuh untuk menangkalnya…
27 Mei 2008
Kok Menristek tidak muncul

Saya melihat iklan di Kompas, edisi 25 Mei 2008, halaman 5 (setengah halaman penuh) yang menyinggung soal kebangkitan teknologi, Presidential Lecture dan GLF.
Menarik sekali bahwa iklan itu menyebutkan nama tujuh menteri, tetapi sama sekali tidak menyebutkan nama Menristek Kusmayanto Kadiman.
Memang Microsoft domainnya di TI yang selama ini lebih dekat ke Menkominfo. Tetapi dalam iklan itu yang disebutkan adalah teknologi (tanpa kata informasi), dan ada tujuh menteri lain yang disebutkan (bahkan Menneg Lingkungan Hidup juga disebut)
Apakah menurut Microsoft merasa mungkin mendorong kebangkitan teknologi di sebuah negara tanpa melibatkan Menristeknya? Apakah ada ketidaksamaan visi dalam pemerintahan mengenai pemanfaatan teknologi? Apakah karena Menristek sangat getol mengkampanyekan ‘musuh’ Microsoft? Apakah di dalam pemerintahan ada ‘faksi Microsoft’ dan ‘faksi non-Microsoft’?
Berikut ini kutipan iklan itu
’Indonesia Bangkit dengan Dukungan Teknologi’
Government Leaders Forum-Asia (GLF) 2008 yang diselenggarakan pada 8-9 Mei oleh Microsoft Corporation memilih Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara karena Microsoft percaya, potensi dan semangat bangsa Indonesia sejalan dengan misi Microsoft untuk mendedikasikan teknologi sebagai pendukung kebangkitan bangsa.
Microsoft juga merasa terhormat dan bangga telah turut mendukung program Visit Indonesia Year 2008 melalui kegiatan yang dihadiri oleh 18 pembicara dari 24 negara ini. GLF dan Presidential Lecture telah sukses diselenggarakan berkat dukungan banyak pihak.
Untuk itu, Microsoft Indonesia menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya kepada
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI
Terimakasih kami pula kepada:
Drs HM Yusuf Kalla, Wapres RI
Pembicara GLF
Aburizal Bakrie, Menko Kesra
Mari Pangestu, Mendag
Muh Nuh, Menkominfo
Bambang Sudibyo, Mendiknas
Kombes Petrus Reinhard, Kepala Unit Cybercrime & IT Polri
Surin Pitsuwan, Sekjen Asean
Dukungan dari
Jero Wacik, Menbudpar
Hassan Wirajuda, Menlu
Rachmat Witoelar, Menneg Lingkungan Hidup
....
Bangkit Indonesia. Bangkit dengan dukungan Teknologi
20 Mei 2008
Blackberry prabayar dan biaya SMS per karakter
Pekan lalu, dunia pemasaran telekomunikasi nirkabel di Indonesia mencatat dua perkembangan baru yang sangat inovatif.
Pertama adalah layanan Blackberry untuk kartu prabayar dari Telkomsel. Ini merupakan terobosan luar biasa yang katanya baru pertama di Asia.
Sebagai pemimpin pasar seluler, Telkomsel memang selama ini ketinggalan dalam menggarap pasar Blackberry. Indosat sudah mendahului empat tahun sebelumnya. XL mengikuti di belakang Indosat yang membuat persaingan lebih sehat. Setelah XL masuk, tarif akses Blackberry turun dan pilihan handset semakin bertambah.
Sebenarnya Telkomsel sudah masuk pasar sejak tahun lalu melalui Blackbery untuk kartu Halo dengan tarif lebih murah, namun kuotanya kecil banget, 20MB. Selain itu, tidak ada kerja sama dengan penyedia handset di sana.
Sekarang, setelah pasar Blackberry matang digarap oleh Indosat dan XL, handset juga sudah tersedia melimpah dan gampang sekali didapat, si raksasa masuk dengan tarif lebih murah, cara berlangganan lebih gampang, dan prabayar pula.
Wah, sebuah serbuan yang telak.
***
Inovasi baru lainnya berasal dari Bakrie Telecom melalui tarif SMS yang dikenakan berbasis karakter. Selama ini orang membayar SMS secara gelondongan, per 160 karakter. Sekarang biaya dipecah-pecah menjadi Rp1 per karakter.
Walaupun jatuhnya untuk SMS panjang bisa menjadi lebih mahal, tetapi mungkin kebanyakan orang berkirim SMS secara singkat saja, jadi bisa lebih berhemat.
Memang ini bisa memicu masalah karena interpretasi orang terhadap ‘karakter’ bisa berbeda-beda, misalnya apakah spasi termasuk dalam karakter atau bukan.
Bagaimana pun ini benar-benar terobosan besar. Katanya yang pertama di dunia. (Mungkin nanti pesaingnya akan menawarkan tarif SMS berdasarkan karakter tanpa spasi, hehehe)
Pertama adalah layanan Blackberry untuk kartu prabayar dari Telkomsel. Ini merupakan terobosan luar biasa yang katanya baru pertama di Asia.
Sebagai pemimpin pasar seluler, Telkomsel memang selama ini ketinggalan dalam menggarap pasar Blackberry. Indosat sudah mendahului empat tahun sebelumnya. XL mengikuti di belakang Indosat yang membuat persaingan lebih sehat. Setelah XL masuk, tarif akses Blackberry turun dan pilihan handset semakin bertambah.
Sebenarnya Telkomsel sudah masuk pasar sejak tahun lalu melalui Blackbery untuk kartu Halo dengan tarif lebih murah, namun kuotanya kecil banget, 20MB. Selain itu, tidak ada kerja sama dengan penyedia handset di sana.
Sekarang, setelah pasar Blackberry matang digarap oleh Indosat dan XL, handset juga sudah tersedia melimpah dan gampang sekali didapat, si raksasa masuk dengan tarif lebih murah, cara berlangganan lebih gampang, dan prabayar pula.
Wah, sebuah serbuan yang telak.
***
Inovasi baru lainnya berasal dari Bakrie Telecom melalui tarif SMS yang dikenakan berbasis karakter. Selama ini orang membayar SMS secara gelondongan, per 160 karakter. Sekarang biaya dipecah-pecah menjadi Rp1 per karakter.
Walaupun jatuhnya untuk SMS panjang bisa menjadi lebih mahal, tetapi mungkin kebanyakan orang berkirim SMS secara singkat saja, jadi bisa lebih berhemat.
Memang ini bisa memicu masalah karena interpretasi orang terhadap ‘karakter’ bisa berbeda-beda, misalnya apakah spasi termasuk dalam karakter atau bukan.
Bagaimana pun ini benar-benar terobosan besar. Katanya yang pertama di dunia. (Mungkin nanti pesaingnya akan menawarkan tarif SMS berdasarkan karakter tanpa spasi, hehehe)
14 Mei 2008
Sekejap bersama Zyrex Ubud

Ubud dari Zyrex merupakan salah satu produk yang meramaikan pasar notebook superkecil (UMPC) murah mengiringi EeePC. Ukuran layar sama-sama 7 inci, bobotnya hampir sama dengan Eee PC. Warna yang tersedia hanya hitam dan harganya sekitar Rp5 juta. Menurut orang Zyrex, pesanan terhadap Ubud ini besar sekali sehingga mereka kehabisan stok.
Jika Asus adalah merek Taiwan, maka Zyrex adalah merek lokal Indonesia. Namun kalau tidak salah, Ubud ini menggunakan platform global UMPC Cloudbook (sebagaimana Anoa yang memakai platform Intel Classmate)
Dalam keadaan tertutup, Ubud ini, trlihat lebih menarik dibandingkan dengan Eee PC. Charger yang disertakan pun khas sebagaimana charger notebook. Ini berbeda dengan Eee PC yang menggunakan desain charger mirip cahrger ponsel sehingga kalau dimasukkan ke colokan listrik, kepala charger membebani colokan. Dalam hal ini desain charger Ubud lebih baik, hanya saja bobotnya terlalu besar. Lebih berat dibandingkan dengan charger Eee PC. Soal bobot ini hal sensitif bagi saya yang selalu mengidamkan alat komputasi mobile.
USB slot hanya ada dua, keduanya di sisi kanan. Colokan charger juga berada di kanan. Adapun lubang kartu memori dan slot kabel serial ada di sisi kiri. Sudah ada web cam, Wi-Fi dan Bluetooth. (Eee PC ada Wi-Fi tetapi tanpa Bluetooth)
Ubud dilengkapi Windows Vista Starter Edition. Booting awal terasa lama. Begitupun eksekusi perintah. Mungkin Vista ini terlalu berat untuk ditangani dengan peranti keras yang disertakan.
Berhubung Ubud memakai hard disk, kipas sering sekali nyala. Dan ini membuatnya terasa lebih berisik dibandingkan dengan Eee PC.
Saya mencoba mengetik menggunakan Word Pad pada Zyrex Ubud. Keypad terasa jauh lebih nyaman dibandingkan dengan Eee PC.
Pengguna Ubud harus meluangkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan mouse pola baru yang dipakai. Tidak ada mousepad, hanya ada kotak kecil touchpad yang ditempatkan di sebelah kanan. Klik kiri dan kanan menggunakan tangan kiri. Baik touchpad maupun klk kanan kiri ditempatkan di atas, dekat layar, benar-benar bikin kagok untuk yang biasa biasa menggunakan.
Indikator baterai hanya tampak dalam keadaan notebook dibuka. Jadi kalau melakukan pengisian baterai ketika notebook dimatikan atau diitutup, kita tidak bisa melihat indikator.
Tetapi secara umum, Zyrex Ubud ini sangat menyenangkan asalkan jangan punya ekspektasi berlebihan. Saya selalu menyukai alat komputasi kecil, ringan, apalagi murah. Ini salah satu notebook yang tepat bagi pemula.
13 Mei 2008
Gaji termasuk tabu?

Apa saja yang menentukan besaran gaji dari seorang karyawan? Mungkin ada faktor pendapatan perusahaan, jenis usaha, posisi jabatan karyawan, kondisi perekonomian nasional (kota tempat perusahaan itu berada).
Gaji, di mana pun, termasuk bagian dari tabu dan sangat sensitif, seperti SARA di zaman Orde Baru. Mengetahui gaji seseorang secara rinci itu berarti bisa melihat sejauh mana dan sewajar apa kehidupan orang tersebut.
Maka wajar jika tidak banyak keterbukaan informasi dalam soal penggajian ini di dunia wartawan. Saya hanya menemukan beberapa berita terkait dengan itu. Saya kutipkan di bawah ini. satu lampiran lagi saya tempatkan di bagian komentar, biar postingan tidak panjang-panjang.
"
AJI: Gaji Wartawan Masih di Bawah Standar
Kamis, 1 Mei 2008 - 17:37 wib, Sutarmi - Okezone
JAKARTA - Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) menyimpulkan bahwa hingga peringatan hari buruh tahun 2008 ini, gaji wartawan yang sudah berstatus karyawan masih dibawah standar kebutuhan.
Kordinator Divisi Serikat Pekerja AJI Winuranto Adhi mengatakan upah layak yang ditetapkan AJI pada tahun 2006 sebesar Rp3,1 juta belum mampu dipenuhi media massa di Indonesia, khususnya di luar Jawa.
"Memang tidak semua media mampu memberikan gaji layak. Tapi media yang belum mampu membayar layak harus terbuka dan transparan dalam hal keuangan," ujar Winur sebelum diskusi di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta Timur, Kamis (1/5/2008).
Pada tahun 2008, dari 889 media massa cetak yang layak hanya 30 persen, sedangkan untuk stasiun televisi yang berjumlah 120 dan radio yang berjumlah 20 ribu yang layak 10 persennya saja.
Untuk itu, kata Winur, AJI akan melakukan roadshow ke berbagai manajemen media yang bersangkutan, untuk memperjuangkan upah yang layak.
Winur mengungkapkan, dari hasil berbagai survey yang dilakukan AJI pada sejumlah media massa pada tahun 2008 menempatkan Bisnis Indonesia pada posisi pertama, yaitu perusahaan media yang mampu memberikan gaji layak sebesar Rp4,5 juta.
Posisi kedua disusul Kompas dengan upah Rp4,1 juta, Kontan Rp3,9 juta, Media Indonesia Rp3,1 juta, Jurnas Rp3 juta, dan Antara Rp2,7.
Sedangkan untuk stasiun televisi gaji reporter TV dengan status karyawan tetap rata-rata Rp2,5. Stasiun televise yang dimaksud adalah Trans TV, Trans7, Metro, RCTI, SCTV.
Untuk media online posisi pertama diduduki detik.com dengan Rp2,5 juta, Hukumonline Rp2,5 juta, dan okezone Rp2,3 juta.
Menghadapi naiknya berbagai kebutuhan pokok, lanjutnya, pada tahun 2008 ini AJI akan melakukan roadshow ke berbagai pihak dan manajemen untuk meningkatkan tingkat gaji.
"AJI akan memperjuangkan gaji karyawan. Karena yang bisa dilakukan AJI memberikan dukungan sebagai mediator bagi karyawan dengan pemilik modal media," pungkasnya. (uky)
"
Data dan imajinasi, kunci masa depan
Data merupakan hal penting dalam membuat keputusan yang tepat. Adapun imajinasi sangat penting dalam memperkirakan, mengimpikan sesuatu yang belum terjadi atau tidak dialami. Gabungan antara data dan imajinasi menjadi kunci sukses dalam menghaadapi masa depan yang belum terjadi.
Sayangnya, dalam banyak hal, kita mengalami keterbatasan data yang sangat amat. Dalam mengambil keputusan mengenai jenis sekolah untuk diri sendiri atau anak, memilih jurusan, jenis pekerjaan, bahkan juga memilih pasangan hidup, data yang tersedia umumnya sangat minim.
Selain itu, data kadangkala manipulatif. Maksudnya, mengolah data menjadi informasi dan kesimpulan menuju keputusan, seringkali diwarnai bias pribadi. Bias itu dipengaruhi oleh masa lalu, pendidikan, pengalaman, kedewasaan, dan sebagainya.
Dalam keterbatasan data itu, kita hanya bisa mengandalkan imajinasi (dan ada satu lagi, yaitu doa). Kita harus mampu mempertahankan pikiran agar tetap bisa berimajinasi untuk merekonstruksi apa-apa yang tidak (atau belum) kita alami, dan mempersiapkan diri menghadapinya.
Jika memiliki data yang akurat dan memadai, ditambah imajinasi yang baik, maka kita bisa menyusun visi yang tepat. Pandangan masa depan yang pas, maju, tepat dan benar. Itulah visioner.
Masalahnya, imajinasi manusia itu juga seringkali sangat terbatas. Data terbatas, imajinasi terbatas, jadi gimana donk? Ya, banyak-banyak berdoa saja. Kita berharap mengambil sebagai keputusan yang terbaik (berdasarkan data dan imajinasi yang kita miliki) dan menyerahkan sisanya kepada kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa.
Wallahu a’lam
Sayangnya, dalam banyak hal, kita mengalami keterbatasan data yang sangat amat. Dalam mengambil keputusan mengenai jenis sekolah untuk diri sendiri atau anak, memilih jurusan, jenis pekerjaan, bahkan juga memilih pasangan hidup, data yang tersedia umumnya sangat minim.
Selain itu, data kadangkala manipulatif. Maksudnya, mengolah data menjadi informasi dan kesimpulan menuju keputusan, seringkali diwarnai bias pribadi. Bias itu dipengaruhi oleh masa lalu, pendidikan, pengalaman, kedewasaan, dan sebagainya.
Dalam keterbatasan data itu, kita hanya bisa mengandalkan imajinasi (dan ada satu lagi, yaitu doa). Kita harus mampu mempertahankan pikiran agar tetap bisa berimajinasi untuk merekonstruksi apa-apa yang tidak (atau belum) kita alami, dan mempersiapkan diri menghadapinya.
Jika memiliki data yang akurat dan memadai, ditambah imajinasi yang baik, maka kita bisa menyusun visi yang tepat. Pandangan masa depan yang pas, maju, tepat dan benar. Itulah visioner.
Masalahnya, imajinasi manusia itu juga seringkali sangat terbatas. Data terbatas, imajinasi terbatas, jadi gimana donk? Ya, banyak-banyak berdoa saja. Kita berharap mengambil sebagai keputusan yang terbaik (berdasarkan data dan imajinasi yang kita miliki) dan menyerahkan sisanya kepada kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa.
Wallahu a’lam
Tugas Bill Gates sudah selesai
Sudah tiga dekade Bill Gates mengambil peran sangat penting di dunia teknologi informasi. Impiannya untuk menghadirkan komputer di setiap meja praktis sudah terwujud.
Bahkan, bukan hanya meja, tas dan saku baju di banyak kalangan pun sudah berisi komputer. Jika meja sudah ada desktop PC, tas kerja berisi notebook PC, maka saku baju berisi pocket PC. Sudah terlalu besar peran Bill Gates terhadap dunia ini.
Lha terus, masak kita masih mengharapkan peran lebih besar lagi dari seorong Gates. Saya rasa tugas terbesar Bill Gates sudah selesai lah. Sudah cukup banyak (bahkan terlalu banyak) yang dia lakukan untuk dunia TI.
Sekarang saatnya menunggu Gates-Gates baru. Menunggu orang baru untuk membawa revolusi baru dunia teknologi informasi, atau bahkan revolusi dunia secara umum.
Bahkan, bukan hanya meja, tas dan saku baju di banyak kalangan pun sudah berisi komputer. Jika meja sudah ada desktop PC, tas kerja berisi notebook PC, maka saku baju berisi pocket PC. Sudah terlalu besar peran Bill Gates terhadap dunia ini.
Lha terus, masak kita masih mengharapkan peran lebih besar lagi dari seorong Gates. Saya rasa tugas terbesar Bill Gates sudah selesai lah. Sudah cukup banyak (bahkan terlalu banyak) yang dia lakukan untuk dunia TI.
Sekarang saatnya menunggu Gates-Gates baru. Menunggu orang baru untuk membawa revolusi baru dunia teknologi informasi, atau bahkan revolusi dunia secara umum.
11 Mei 2008
Mencari kesan dari Bill Gates

Gates datang ke Jakarta. Dalam paparan di depan Presiden Yudhoyono yang saya tonton melalui TV One, tidak banyak hal spektakuler yang saya tangkap dari orang yang beberapa tahun menduduki posisi terkaya sedunia ini.
Hal yang paling menarik, menurutku, adalah mengenai perubahan antarmuka komputer. Antarmuka inilah yang menentukan bagaimana manusia berintekasi dengan mesin. Bagaimana manusia memasukkan data dan perintah kepada mesin, dan bagaimana mesin menyajikan data atau keluaran kepada manusia.
Di luar itu, apa yang diampaikannya hanyalah sebuah evolusi yang sudah sangat sering saya dengar. Pemanfaatan TI untuk pendidikan, kesehatan, sambungan Internet untuk mendukung itu semua, dan hal-hal lain terkait dengan itu. Tidak ada revolusi, hanya evolusi yang alamiah.
Bedanya, selama ini hal-hal tersebut saya dengar dari pengamat, penjual, atau ranting ke sekian dari sebuah produk, kali ini bisa didengar langsung dari salah satu orang terpenting, manusia inti yang melahirkan dan menguasai produk super powerful.
***
Tetapi uang tidak ada dalam revolusi. Uang dan bisnis, justru banyak muncul dari evolusi, dari penyempurnaan kecil-kecil (dalam peta besar). Penyempurnaan kecil yang benar-benar membuat orang terpikat atau membuat sesuatu menjadi benar-benar pas, berguna, cocok.
Jadi, tidak ada revolusi bukan berarti tidak ada uang dan bisnis yang sedang dijalankan. Dan saya yakin, ada banyak uang siap bergulir mengiringi kedatangan Gates (entah bergulir dari luar Indonesia atau justru bergulir ke luar Indonesia).
***
Secara sekilas, saya melihat Bill Gates ini agak mirip dengan Gombang Nan Cengka, temanku di kantor. Caranya duduk, caranya berdiri dan berjalan yang agak membungkuk, mirip Gombang.
Dan saya rasa, seandainya ini zaman di mana kitab suci masih turun, mungkin Gates masuk nominasi untuk dimuat di dalamnya. Sebagai orang terkaya dunia dan memiliki peran luar biasa bagi perikehidupan, tentu dia tidak bisa diremehkan.
Mungkin bisa saja suatu saat harta terpendam itu diberi nama harta gates, bukan harta karun saja, hehehe.
05 Mei 2008
Error pada Blackberry
Dalam beberapa hari terakhir ini saya mengalamai tiga kali error yang cukup mengganggu pada Blackberry.
Pekan lalu saya mencoba forward e-mail dari sebuah milis ke satu alamat. Ternyata email itu terkirim sebagai Reply sehingga masuk ke milis dan teman yang saya tuju. Ketika itu saya menduga sumber kesalahan ada pada saya sendiri yang kurang teliti ketika memilih menu Forward yang memang dekat dengan Reply.
Kemarin, waktu saya mencoba kirim pesan lewat Yahoo Messenger kepada seorang teman di Filipina, eh nyasar ke Mbak Ve XL. Lagi-lagi saya menduga itu kesalahan saya yang kurang memperhatikan cursor saat menuliskan pesan pertama.
Tadi pagi, hal yang lebih parah terjadi. Saya mencoba Reply email dari Rahiyan di milis Pucangtunggal dari alamat widodo@xl.blackberry.com, eh terkirim ke milis Baitnet yang saya akses melalui setyardi@gmail.com.
Saat itulah saya sadar bahwa kesalahan bukan ada pada saya, tetapi pada device ini. Rasanya saya tidak mungkin salah kirim dari alamat account yang berbeda ke milis yang juga berbeda.
Ya sudah, saya matikan dulu Blackberry ini. Mungkin BB juga butuh istirahat. Dia capek menangani ratusan e-mail setiap hari dari delapan account yang ada. Apalagi 24 jam hampir tidak pernah mati.
Tapi error semacam ini benar-benar menyebalkan sekaligus menakutkan….
Pekan lalu saya mencoba forward e-mail dari sebuah milis ke satu alamat. Ternyata email itu terkirim sebagai Reply sehingga masuk ke milis dan teman yang saya tuju. Ketika itu saya menduga sumber kesalahan ada pada saya sendiri yang kurang teliti ketika memilih menu Forward yang memang dekat dengan Reply.
Kemarin, waktu saya mencoba kirim pesan lewat Yahoo Messenger kepada seorang teman di Filipina, eh nyasar ke Mbak Ve XL. Lagi-lagi saya menduga itu kesalahan saya yang kurang memperhatikan cursor saat menuliskan pesan pertama.
Tadi pagi, hal yang lebih parah terjadi. Saya mencoba Reply email dari Rahiyan di milis Pucangtunggal dari alamat widodo@xl.blackberry.com, eh terkirim ke milis Baitnet yang saya akses melalui setyardi@gmail.com.
Saat itulah saya sadar bahwa kesalahan bukan ada pada saya, tetapi pada device ini. Rasanya saya tidak mungkin salah kirim dari alamat account yang berbeda ke milis yang juga berbeda.
Ya sudah, saya matikan dulu Blackberry ini. Mungkin BB juga butuh istirahat. Dia capek menangani ratusan e-mail setiap hari dari delapan account yang ada. Apalagi 24 jam hampir tidak pernah mati.
Tapi error semacam ini benar-benar menyebalkan sekaligus menakutkan….
02 Mei 2008
DVD external untuk Eee PC

Salah satu kelemahan Eee PC dibandingkan dengan notebook mahal atau notebook yang lebih besar adalah tidak tersedianya drive untuk memutar VCD atau DVD (RW).
Saya baca-baca di berbagai forum diskusi katanya ada DVD merek LG yang kompatibel. Namun ada berbagai catatan di sana yang membuat saya ragu apakah bisa beroperasi langsung (plug and play) atau harus install sesuatu.
Beberapa hari lalu saat ada kesempatan main ke BEC Bandung saya melihat ada yang jualan DVD External merek LG (tipe GSA-E50L). Saya tawar-tawar katanya harganya Rp890.000.
Sebelum membeli saya coba pastikan dulu bahwa perangkat ini kompatibel benar dengan Eee PC yang pakai Linux Xandros. Penjualnya pun sempat ragu apakah perangkat ini bisa berjalan pada Linux.
Ternyata LG GSA-E50L ini bisa beroperasi dengan baik. Saya bisa menonton Bourne Ultimatum di toko itu. Jadi saya beli. Eh sewaktu membuat kuitansi, dia bilang harganya tidak bisa kurang dari Rp920.000. Wah gawat. Ya sudah, kepalang basah, beli saja.
Setidaknya ini lebih murah dan lebih berguna dibandingkan dengan membeli DVD player 7 inci yang dijual terpisah. Lagian nanti kalau suatu saat saya ganti notebook lain toh barang ini masih bisa dipakai.
***
DVD (R/W) merek LG ini sangat ringan. Mungkin kurang dari 400 gram soalnya lebih ringan dari kamera Canon PowerShot A510 yang saya pakai.
Konektor yang diperlukan juga hanya satu (meskipun dalam paketnya ada dua konektor untuk mengantisipasi kekurangan pasok daya dari kabel USB). Konektor yang digunakan sama dengan penghubung Blackberry serta MP4 player yang saya punya, jadi tidak ada tambahan beban membawa konektor.
Saya coba memutar beberapa VCD, bisa beroperasi dengan baik. Kalau memutar DVD kualitasnya kayaknya kurang bagus terutama suaranya (mungkin kualitas disk-nya yang bermasalah).
Untuk memutar film tinggal masuk ke menu Play, Media Player, terus klik File, pilih DVD from drive atau pilih VCD.
Menu untuk full screen, lompat ke depan, maju lebih cepat, mundur, dan sebagainya. Saya belum mengukur berapa lama daya tahan baterai, tetapi rasanya sih cpat sekali habis.
Saya kira inilah salah satu keunggulan Eee PC yang tidak dapat ditandingi oleh PDA atau smart phone.
Langganan:
Postingan (Atom)