Jalan raya Gunungputri di dekat rumahku sedang diperbaiki. Sebagian jalan yang setiap hari dilewati banyak truk tronton itu sekarang menjadi sangat mulus dan sedikit lebih lebar.
Sebelum diperbaiki, kerusakan yang cukup parah di dekat pintu tol menimbulkan kemacetan yang tidak perlu. Selama masa itu pula saya lebih sering memilih jalan memutar lewat belakang kompleks perumahan tembus ke pintu tol Karanggan yang lebih jauh 1 km-2 km (tergantung jalur dan tujuan yang dipilih).
Saya lalu berpikir alangkah lebih baiknya kalau dari dulu jalan ini diperbaiki. Alangkah banyak yang dapat dihemat (bahan bakar minyak, waktu, spare part kendaraan, emosi dsb) dengan jalan yang lebih mulus dan lebih baik. Bukankah biaya yang dihabiskan untuk memperbaiki sekarang kira-kira sama dengan memperbaiki bulan lalu atau pun bulan depan?
***
Berandai-andai memang sering menyesatkan. Soal biaya itu sekilas memang sama atau berselisih sedikit pakai teori present value, future value, dsb. Berkaca pada kehidupan sehari-hari, bisa jadi biaya untuk perbaikan jalan itu baru tersedia saat ini (lupakan praduga korupsi, proyek dll).
Bagaimana mau memperbaiki jalan dari kemarin kalau dananya baru ada sekarang? Jadi silakan saja sengsara dulu selama satu bulan atau satu tahun menunggu uangnya ada, baru diperbaiki. Jangan mengimpikan efisiensi (jalan mulus lancar hemat waktu hemat bensin hemat spare part) dan hal-hal mewah lainnya dulu. Jangan mengharapkan kegunaan sebelum bisa mengeluarkan modal (untuk perbaikan).
***
Mengharapkan kegunaan terwujud mendahului modal. Sebenarnya itulah impian setiap orang. Semua orang yang dulunya miskin dan sekarang menjadi kaya mungkin saja berpikir seandainya dulu bisa membiayai sekolah dengan lebih baik (memakai uang yang dimiliki sekarang), mungkin kondisinya akan lebih baik. Seandainya dulu bisa mengobati anggota keluarga dengan uang yang dimiliki sekarang alangkah lebih baiknya.
Tetapi cara berpikir itulah dasar munculnya utang alias hutang. Ingin mewujudkan fasilitas sekarang dengan biaya yang dihasilkan belakangan.
Barangkali itulah pula dasar lahirnya kartu kredit (karena kartu kredit itu dasar cara hidup orang modern yang berkiblat ke AS dan belakangan bangkrut). Lha kalau semua-mua dibiayai pakai utang, terus ternyata kemampuannya melempem dalam membayar, bagaimana perekonomian tidak ikut ambruk?.
***
Jadi, kesimpulannya, kalau memang negara dan diri ini sedang tidak punya duit, dan tidak banyak harapan untuk bisa mengumpulkan banyak duit, sabar saja menghadapi ke-papa-an yang muncul karena ketidakpunyaan. Jangan menggesa untuk utang ini itu, apalagi kalau melampaui batas kemampuan. Sabar saja mau jalan rusak, rumah rusak, ponsel jadoel, kendaraan kuno, dan sebagainya. Enggak usah banyak-banyak utang, hehehe..
18 September 2008
Antre gaya Indonesia

Beberapa hari yang lalu saya menulis mengenai perlunya antre (yang bahkan bisa berguna untuk menyelamatkan nyawa). Nah, tadi pagi saya mengalami antrean khas Indonesia. Tidak terlalu menyiksa, tetapi menurut hemat saya masih perlu banyak peningkatan alias perbaikan.
Tadi pagi saya membayar pajak mobil di kantor bersama samsat Cibinong, Bogor. Masuk loket pertama untuk menyerahkan KTP (asli), STNK (asli), serta bukti pembayaran pajak tahun lalu (juga asli). Saya mendapatkan tanda bukti selembar kertas kecil yang harus diisi sendiri.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, saya dipanggil di loket kasir untuk membayar. Alhamdulillah pajak kendaraan tahun ini turun sekitar 10% dibandingkan dengan tahun lalu. (menurut berita di koran-koran katanya naik, mungkin yang naik khusus untuk pajak di Jakarta).
Saya duduk kembali di runag tunggu. Sekitar 20 menit atau setengah jam kemudian saya dipanggil untuk mengambil KTP (asli), STNK (asli), serta bukti pembayaran pajak yang baru (asli). Lalu pulang.
***
Saya rasa proses sekitar satu jam itu cukup cepat melihat begitu banyaknya orang yang mengurus pajak dan STNK. Akan tetapi ada sejumlah kelemahan yang tampak menonjol.
1. Di loket penerimaan ada orang yang hanya menyerahkan dokumen, ada pula yang langsung membayar. Padahal petugasnya sama-sama pakai seragam. Orang yang hanya menyerahkan dokumen (seperti saya) membayar di loket kasir persis sesuai dengan angka yang tertera dalam lembar pembayaran. Entah bagaimana dengan orang yang membayar di loket lain.
2. Ketika menyerahkan KTP, STNK, serta bukti pajak tahun lalu, pembayar hanya memegang bukti secuil kertas yang agak mencemaskan. Padahal dokumen yang diserahkan adalah dokumen sangat penting. Tadinya saya menyerahkan fotocopian. Eh, fotocopian diambil, yang asli juga diminta. Jadi, kalau ada apa-apa, saya tidak punya back up lagi.
3. Selam masa menunggu (terutama menunggu sebelum ada panggilan pertama untuk membayar), pembayar berada dalam posisi tanpa panduan. Kita tidak tahu proses sudah sampai di mana, tidak tahu berapa lama lagi harus menunggu. Semua tergantung ‘panggilan’ petugas. Jadi, mau baca koran, mau ke toilet, atau mau pergi makan (kalau sedang tidak puasa) serba meragukan. Jangan-jangan nanti pas pergi justru dipanggil.
Saya kira beberapa ciri di atas yang saya sebut sebagai antrean khas Indonesia. Kasus yang mirip saya alami kalau mau naik bus malam Sumber Alam. Sumber Alam adalah salah satu perusahaan bus malam terbesar di Jawa tengah bagian selatan dengan tujuan Jakarta, Bogor, Cibinong, Bekasi, dan kota-kota di sekitarnya. Kantor pusatnya di Kutoarjo, 8 km dari rumah orang tuaku.
Kalau naik bus Sumber Alam, kita membeli tiket misalnya pagi hari. Pas sore datang ke sana harus nunggu dipanggil satu per satu dengan urutan yang kita tidak tahu polanya. Ada ratusan orang yang naik bus ke berbagai jurusan (apalagi saat Lebaran dan liburan). Kita tidak tahu setelah panggilan untuk penumpang bus AC jurusan Pulogadung, misalnya, kemudian bus yang mana? Apakah bus Cibinong? Bogor? Citeureup? Cikarang? Atau yang mana?
Semua calon penumpang hanya psrah saja. Beruntung kalau rombongannya lebih dari satu orang. Yang satu bisa ke toilet atau makan atau baca Koran dengan santai ketika yang lain menunggu panggilan. Bagaimana dengan orang yang sendirian?
Pola antrean model begini juga dulu sering saya alami ketika membayar listrik dan PDAM sebelum saya memanfaatkan ATM. Itulah makanya saya sebut antrean khas Indonesia.
***
Untuk loket sekelas kantor bersama samsat, saya pikir seharusnya mereka bisa menerapkan pola seperti loketnya operator seluler. Kalau kita ke Grapari Telkomsel, misalnya, kita ambil antrean dan bias memperkirakan masih berapa orang lagi di depan kita.
Kita tidak perlu menyerahkan dulu dokumen-dokumen penting seperti KTP asli dan sebagainya ketika menunggu.
Mestinya, dokumen itu diserahkan (atau bahkan hanya ditunjukkan saja) nanti ketika nomor urut kita dipanggil, kita duduk di depan CS, sambil menyerahkan dokumen. Bayar ke kasir, balik lagi ke CS, sudah dapat itu bukti pembayaran pajak.
Jadi kita tetap bisa mengawasi KTP dan STNK kita itu di depan mata. Tidak ada kecemasan kehilangan dokumen. Kalau dia tidak betah dengan antrean yang sangat panjang, dia bisa datang lain kali saja tanpa harus kehilangan KTP dll yang ditahan duluan. Saya kira jumlah petugas yang sangat banyak itu sudah mencukupi untuk sistem baru yang lebih baik.
Kapan kah kita dapat menikmati system antrean yang lebih baik, lebih menenangkan, dan tentu saja lebih manusiawi? Masak harus nunggu di akhirat dengan sistem antrean yang dibuat oleh Allah yang Maha Pintar? Wallahu alam.
16 September 2008
Menyelamatkan nyawa dengan antre
Sebanyak 21 orang tewas dan belasan luka-luka dalam antrean penerima zakat di Pasuruan, Jawa Timur, kemarin. Ini kisah yang sangat memilukan. Jumlah korban yang terlalu banyak untuk sebuah antrean sebesar apa pun. Meninggal karena masalah perebutan sesuatu yang mestinya bisa diperoleh dari antrean adalah kisah memilukan sekaligus memalukan.
Terlepas dari banyaknya faktor di balik tragedi itu (seperti kemiskinan, kurang optimalnya lembaga penyalur zakat, tidak berfungsinya aparat keamanan dan petugas negara), saya ingin menyoroti satu persoalan serius yaitu budaya antre.
Saya pikir tragedi semacam ini merupakan momentum bagi bangsa ini, dan seluruh bangsa di dunia, untuk memperhatikan manfaat antre. Kita bisa mengatakan bahwa antre itu dapat menyelamatkan nyawa. Antre, meskipun kelihatan sepele dan dalam banyak hal menyebalkan, manfaatnya bisa benar-benar besar: menghindarkan kematian.
Dalam budaya antre, semua orang merasa setara, oleh sebab itu hanya ada satu variable yang menjadi penentu siapa yang berhak dilayani terlebih dahulu. Variable itu adalah siapa yang terlebih dahulu datang. Variabel lain dianggap setara. Atau, kalaupun akan ditambahkan variable lain, disediakan loket husus misalnya untuk orang tua, orang cacat, ibu hamil, dan sebagainya.
Budaya antre butuh pelaksanaan yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Dalam antrean, kalau ada orang yang tidak mau menghargai orang lain (merasa dirinya lebih penting) akan memicu orang lainnya untuk juga tidak saling menghargai, sehingga kacaulah antrean.
Tidak boleh ada alasan pribadi (misalnya karena merasa lebih miskin, lebih punya jasa, punya jabatan) sebagai pembenaran untuk tidak mematuhi antrean.
***
Di sejumlah negara maju dengan kesadaran berbagi yang tinggi, budaya antre sudah mendarah-daging. Di Jepang, misalnya, orang menunggu di halte bus yang tanpa loket pun dalam bentuk antrean. Tidak ada yang menyuruh maupun mengatur, semua otomatis, atas kesadaran sendiri.
Bahkan, orang berjalan kaki pun membentuk antrean, persis seperti orang mengemudi di jalan tol. Kalau kita berjalan kaki pada jalan sempit dua arah (seperti escalator, jembatan penyebarangan), harus pilih di sebelah kiri, untuk memberi kesempatan orang lain yang ingin mendahului. Tidak boleh jalan kaki bergerombol yang menghalangi orang lain untuk berjalan lebih cepat. Di sinilah semangat berbagi resources public yang terbatas sangat menonjol.
***
Keinginan orang-orang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh untuk menggunakan jalur khusus di luar antrean (dilakukan oleh pejabat, wartawan, atau siapa pun lah itu) dalam hemat saya merupakan salah satu faktor (langsung dan tidak langsung) penghambat berkembangnya budaya antre.
Mari kita belajar antre, demi menyelamatkan banyak nyawa.
*) Pada masyarakat modern, antrean fisik dalam berbagai hal mulai digantikan dengan antrean elektronik atau Internet. tetapi itu di luar bahasan.
*) Saya kadang kepikiran soal antrean di akhirat yang melibatkan miliaran manusia. Bagaimanakah sistem antreannya? Apakah prioritas berdasarkan kebaikan, atau siapa yang lebih dahulu hidup di dunia, atau apa? Allah yang Maha Pintar pasti menyediakan sistem antrean yang top deh.
Terlepas dari banyaknya faktor di balik tragedi itu (seperti kemiskinan, kurang optimalnya lembaga penyalur zakat, tidak berfungsinya aparat keamanan dan petugas negara), saya ingin menyoroti satu persoalan serius yaitu budaya antre.
Saya pikir tragedi semacam ini merupakan momentum bagi bangsa ini, dan seluruh bangsa di dunia, untuk memperhatikan manfaat antre. Kita bisa mengatakan bahwa antre itu dapat menyelamatkan nyawa. Antre, meskipun kelihatan sepele dan dalam banyak hal menyebalkan, manfaatnya bisa benar-benar besar: menghindarkan kematian.
Dalam budaya antre, semua orang merasa setara, oleh sebab itu hanya ada satu variable yang menjadi penentu siapa yang berhak dilayani terlebih dahulu. Variable itu adalah siapa yang terlebih dahulu datang. Variabel lain dianggap setara. Atau, kalaupun akan ditambahkan variable lain, disediakan loket husus misalnya untuk orang tua, orang cacat, ibu hamil, dan sebagainya.
Budaya antre butuh pelaksanaan yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Dalam antrean, kalau ada orang yang tidak mau menghargai orang lain (merasa dirinya lebih penting) akan memicu orang lainnya untuk juga tidak saling menghargai, sehingga kacaulah antrean.
Tidak boleh ada alasan pribadi (misalnya karena merasa lebih miskin, lebih punya jasa, punya jabatan) sebagai pembenaran untuk tidak mematuhi antrean.
***
Di sejumlah negara maju dengan kesadaran berbagi yang tinggi, budaya antre sudah mendarah-daging. Di Jepang, misalnya, orang menunggu di halte bus yang tanpa loket pun dalam bentuk antrean. Tidak ada yang menyuruh maupun mengatur, semua otomatis, atas kesadaran sendiri.
Bahkan, orang berjalan kaki pun membentuk antrean, persis seperti orang mengemudi di jalan tol. Kalau kita berjalan kaki pada jalan sempit dua arah (seperti escalator, jembatan penyebarangan), harus pilih di sebelah kiri, untuk memberi kesempatan orang lain yang ingin mendahului. Tidak boleh jalan kaki bergerombol yang menghalangi orang lain untuk berjalan lebih cepat. Di sinilah semangat berbagi resources public yang terbatas sangat menonjol.
***
Keinginan orang-orang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh untuk menggunakan jalur khusus di luar antrean (dilakukan oleh pejabat, wartawan, atau siapa pun lah itu) dalam hemat saya merupakan salah satu faktor (langsung dan tidak langsung) penghambat berkembangnya budaya antre.
Mari kita belajar antre, demi menyelamatkan banyak nyawa.
*) Pada masyarakat modern, antrean fisik dalam berbagai hal mulai digantikan dengan antrean elektronik atau Internet. tetapi itu di luar bahasan.
*) Saya kadang kepikiran soal antrean di akhirat yang melibatkan miliaran manusia. Bagaimanakah sistem antreannya? Apakah prioritas berdasarkan kebaikan, atau siapa yang lebih dahulu hidup di dunia, atau apa? Allah yang Maha Pintar pasti menyediakan sistem antrean yang top deh.
15 September 2008
Peranan Atmosfer Bumi

Anda mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan mengenai fenomena alam yang terkait dengan cuaca dan iklim dari anak, murid, keponakan, atau rekan? Atau bahkan Anda mengalami kesulitan untuk memahami berita seputar iklim, atmosfer, dan pemanasan global di media massa?
Barangkali buku berjudul 'Peranan Atmosfer Bumi' bisa membantu Anda.
Buku karya Erma Yulihastin ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami anak dan remaja.
Tampilan full colour dengan gambar-gambar indah di setiap halaman membuat buku terbitan Azka Press (Grup Ganeca Exact) ini lebih memikat dan mudah dicerna.
Latar belakang penulis yang alumnus Geofisika dan Meteorologi ITB, serta pekerjaannya sebagai staf peneliti pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menjadi jaminan tersendiri terhadap kualitas konten buku ini.
Adapun pengalaman penulisnya sebagai mantan wartawan (Tempo News Room), aktivitasnya sebagai Ketua Forum Lingkar Pena Kabupaten Bogor, serta konsistensinya dalam membuat tulisan ilmiah populer untuk koran (PR, Tribun, Kompas Jabar, Sindo) membuat penyajian masalah rumit menjadi mudah dimengerti.
Buku itu terdiri atas 52 halaman dalam tujuh bab sebagai berikut.
Satu, menjelaskan mengenai Bumi kita, atmosfer yang selalu bergerak, apa yang menggerakkan atmosfer, bagaimana atmosfer bergerak, manfaat atmosfer, dan susunan atmosfer.
Dua, menguraikan beberapa rahasia penting mengenai atmosfer Indonesia.
Tiga, mengupas singkat tentang ilmu meteorologi dan perkembangan teknologi terkini dari ilmu tersebut.
Empat, menceritakan apa yang dimaksud cuaca dan iklim serta apa saja yang membentuk cuaca dan iklim.
Lima, menggambarkan gejala cuaca dan iklim yang tampak sehari-hari seperti hujan, awan, angin, badai, banjir.
Enam, menerangkan pentingnya informasi cuaca dan iklim untuk keperluan di berbagai bidang seperti penerbangan, pelayaran, transportasi darat, pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kesehatan, industri, lingkungan hidup. Di bagian ini juga dijelaskan tentang kantor cuaca dan iklim yang memberikan layanan informasi cuaca dan iklim di Indonesia.
Tujuh, menjelaskan seputar perubahan iklim dan pemanasan global. Betulkah iklim dunia berubah? Apakah yang menyebabkannya? Bagaimana dengan pemanasan global? Apakah ada kaitan antara pemanasan global dan perubahan iklim? Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi pemanasan global?
Semoga buku ini bermanfaat.
Spesifikasi buku: B5 Full colour, kertas isi MP 100 gram, cover AC/Ivory 210 gram, jilid block lem.
Harga: Rp30.000
08 September 2008
Kaset terjemahan

Sejak sering nyetir dua tahun yang lalu, saya jadi gemar lagi mendengarkan kaset. Sebab, radio di dalam mobilku bunyinya kresek-kresek tidak jelas (mungkin karena tidak ada antenna luar, mungkin juga karena mereknya yang agak abal-abal). Jadi satu-satunya hiburan ya kaset.
Nah, sejak itu saya berusaha mencari kaset murattal dan al-ma’tsurat yang dilengkapi dengan terjemahnya dalam bahasa Indonesia. Murattal adalah bacaan alquran biasa, bukan qiroah. Jadi ini membaca biasa saja. Adapun al-ma’tsurat itu kumpulan doa-doa dari Rasulullah yang dihimpun oleh Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin.
Kalau kaset murattal dan ma’tsurat yang tanpa terjemahan sih sudah banyak. Mencari terjemahan itu yang sulit. Kalaupun ada, terjemahnya dalam bentuk teks, tidak bisa didengarkan, harus dibaca. Jadi, ya praktis tidak dapat disimak sambil nyetir.
Sekitar satu tahun yang lalu saya sempat menemukan al-ma’tsurat yang dilengkapi dengan terjemahnya. Sayang sekali formatnya CD. Padahal sistem audio di dalam mobilku tidak dapat digunakan untuk memutar CD.
***
Nah, awal bulan lalu, waktu jalan-jalan di penjual buku jl Gelapnyawang sebelah Masjid Salman Bandung, saya menemukan murattal Al-Quran yang dilengkapi dengan terjemah.
Kaset yang tersedia hanya juz 29. Murattal oleh Ust Abu Rabbani. Cara membacanya enak sekali didengarkan. Sayangnya, proses pembuatannya kurang memperhatikan perbedaan karakter pengucapan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia.
Bacaan Al-Quran melengking tinggi dengan volume yang juga tinggi, sementara bacaan terjemahnya sangat lunak dan nyaris tanpa intonasi. Jadi, kalau suara terjemah mau terdengar nyaring, bacaan Qurannya harus sangat keras.
Kondisi kurang nyaman ini sangat terasa ketika melewati tol JORR atau Cipularang yang tidak pakai aspal sehingga noise dari ban besar sekali. Kesenjangan suara antara bacaan Al-Quran dan terjemahnya terasa sekali.
Beberapa pekan kemudian, masih di toko yang sama, saya menemukan kaset al-ma’tsurat yang dilengkapi dengan terjemah. Kali ini pembaca Al-Quran dan doa orangnya sama dengan pembaca terjemahnya. Volume dan intonasinya juga tinggi.
Jadi, problem kesenjangan seperti pada kaset Abu Rabbani tidak muncul. Sayangnya, terjemah ini tidak murni bahasa Indonesia. Banyak campurnya dengan bahasa Melayu dengan cara pengucapan yang logatnya khas Melayu (atau Sumatra lah).
Oh iya, satu lagi. Saya menemukan sebuah CD buatan Bandung yang berisi bacaan Al-Quran juz 30 dengan terjemah (saritilawah). Tapi cara pengerjaannya terkesan agak sembarangan. Bacaan dipotong-potong dari murattal yang asli, lalu diselipkan terjemah. Terjemah dibaca oleh wanita.
Mudah-mudahan di masa mendatang ada lebih banyak lagi kaset dan CD murattal, doa, dan sebagainya, yang dilengkapi dnegan terjemah, dan dikerjakan dengan kualitas yang lebih baik. Paling tidak saat ini sudah ada yang memulai. Terima kasih untuk mereka yang sudah membuat terobosan ini.
Saya yakin, mendengarkan bacaan semacam itu secara berulang-ulang tidak membosankan sebagaimana mendengarkan ceramah yang berulang-ulang. Wallahu a’lam.
31 Agustus 2008
Kelegaan dan kesepian seusai cuti panjang

Hari ini saya mengakhiri cuti sangat panjang, nyaris satu bulan penuh. Inilah cuti terpanjang dalam pengalaman saya sebagai karyawan. Bahkan sebagai mahasiswa, rasanya saya tidak pernah benar-benar berlibur sepanjang ini tanpa kegiatan di sekitar kampus.
Di akhir cuti ini ada perasaan sangat lega karena saya berhasil melalui hari-hari yang berat bersama Sekar (tanpa ibunya di sisinya). Namun bersamaan dengan itu ada rasa kesepian yang sangat mencekam saat berpisah dengan anak perempuanku itu setelah hubungan yang sangat intensif dalam satu bulan terakhir ini. Hubungan ayah-anak yang paling intensif yang pernah saya rasakan sepanjang hidup.
***
Empat pekan kebersamaanku dengan sekar dalam masa cuti ini terdiri atas pekan pertama di bandung, pekan kedua di purwokerto, pekan berikutnya kembali ke bandung, sebagian pekan terakhir di gunungputri, serta ujung pekan terakhir di bandung.
Ibunya sekar mulai mengikuti prajabatan dan training pada Senin, 4 Agustus. Selama satu pekan pertama itu kegiatan saya adalah antar-jemput sekar sekolah, membantu urusan-urusan yang terkait dengan sekolah seperti mengisi buku penghubung, mencari celemek untuk kegiatan masak, mencari hadiah ulang tahun ketika ada teman sekolahnya berulang tahun, dan sebagainya.
Siang hari seusai sekolah kadang saya menemaninya tidur siang. Atau saya pergi untuk berbagai urusan dan kembali ke rumah sebelum jam empat sore. Antara jam empat sore sampai pagi hari saya selalu di rumah. Kalau siang hari ada pengasuh di rumah, jadi urusan mandi dan sebagainya sudah ada yang menangani. Tetapi antara sore hingga pagi kami hanya berdua di rumah. Jadi segala urusan seperti ke kamar mandi, menemani bermain, membacakan buku, membuat susu, dan sebagainya menjadi tanggunganku sepenuhnya.
Waktu pagi, ketika sekar sekolah (antara jam 8-12), biasanya saya ke salman ITB untuk sarapan dan membaca buku serta koran di perpustakaan.
Kegiatan yang sama juga terjadi pada pekan ketiga setelah kami pulang dari purwokerto. Pokoknya selama di Bandung kegiatan rutinnya ya seperti itu. Saya beruntung karena di Bandung ada pengasuh yang membantu macam-macam urusan termasuk soal baju untuk sekolah, menyuapi makan, menyiapkan bekal dan sebagainya.
***
Pada pekan kedua, saya mendapat kabar bahwa Bapak harus operasi tulang belakang di purwokerto. Maka berangkatlah saya dan sekar ke sana. Berdua saja membawa mobil yang mesinnya sedang bermasalah ke purwokerto. Mau naik kereta repot karena tidak ada jurusan Bandung-Purwokerto, mau naik bus kasihan Sekar.
Untunglah sekar bersikap sangat dewasa. Bahkan ketika di Ciamis dia muntah di kursi belakang, sama sekali tidak menangis. Dia hanya bilang: “ayah aku muntah”.
Selama di Purwokerto, sekar sama sekali tidak bisa pisah dari diriku, kecuali saat tidur. Bahkan ketika saya ke kamar mandi sekali pun,dia menunggu di depan pintu sambil berpesan: jangan dikunci ya, Yah. Kalau dia terjaga dari tidur dan tidak menemukanku, pasti nangis. Itulah makanya sekar terpaksa ikut menginap dua malam di rumah sakit. Lalu sisanya bermalam di rumah Mas Faqih-Mbak Nanik.
Selama di Purwokerto ini makannya banyak sekali. Kalau ada agar-agar untuk Bapak (Mbah Kakung), selalu dia yang makan. Begitu pun dengan berbagai macam roti yang empuk-empuk yang disediakan untuk Mbah Kakung. Pokoknya makanan untuk Mbah Kakung sering sekali dia makam. Makanya pulang dari sana justru tambah gemuk. (Ayahnya saja yang justru makin kurus). Sekar tidak masuk sekolah sepekan lebih sedikit.
Untung pula purwokerto ada banyak buku cerita anak-anak. Sekar meminjam krayon Mas Hanif mewarnai buku di sana. Selama di purwokerto juga sekar belajar menulis namanya sendiri baik memakai ponsel maupun memakai buku. Dia sudah bisa menulis ‘Sekar Nabila Inspirana’ pada ponsel Blackberry 7290 dengan tepat baik memakai huruf besar maupun kecil. Kesukaannya main tempel-tempel dan membuat kandang kebun binatang juga mendapat penyaluran karena Mas Hanif punya mainan yang mendukung.
***
Pada akhir pekan ketiga dan awal pekan keempat kami tinggal di gunungputri. Ibunya tidak lagi di asrama sehingga malam bisa di rumah. Tetapi di sini tidak ada pengasuh. Jadi dari pagi hingga malam praktis hanya berdua saja.
Kegiatan rutin kami adalah bersepeda keliling-keliling kompleks. Sekar membonceng di belakang sambil nyanyi-nyanyi. Kadang kami berbelanja di Indomart, Asri, atau membeli ikan goreng, atau membeli es campur, atau megambil uang di ATM.
Selama di gunungputri sekar selalu tidur siang, mungkin karena capek. Tetapi makannya tidak sebanyak ketika di bandung atau purwokerto. Jadi, badannya kembali menyusut, tidak segemuk pekan sebelumnya.
***
Selama empat pekan itu saya hampir tidak pernah marah kepada Sekar. Kecuali satu kali ketika baru pulang dari purwokerto. Badan saya lelah serta pusing setelah menyetir dari purwokerto ke bogor. Sementara itu, sekar yang segar bugar (karena banyak tidur dan istirahat di jalan) mengajak bermain terus. Dia tidak mau kalau hanya ditunggui, maunya ditemani bermain. Untunglah kami bisa menyelesaikan masalah ini dengan happy ending.
Sekar pun tidak rewel. Kalau ditanya soal buang air besar dia selalu konfirmasi:” ayah nyuruh aku **k? tapi kalau enggak keluar ya sudah.”
Ibunya sekar menyelesaikan prajab dan pelatihan pada Rabu malam, 26 Agustus. Jadi setelah itu kehidupan praktis normal kembali. Alhamdulillah krisis sudah berakhir dengan baik. Sekar sehat sepanjang satu bulan ini. Nafsu makan sangat baik, tidak ada gangguan kesehatan, tidak ada masalah serta trauma psikologis. Legaa sekali rasanya.
Hari ini saya kembali ke gunungputri karena harus kondangan. Dan besok harus masuk kerja langsung disambut piket dan puasa (liburku terpotong satu hari karena kewajiban piket).
Hari ini di gunungputri, tanpa sekar, saya merasakan kesepian. Setelah hampir satu bulan penuh nyaris tak pernah terpisah dan berada dalam hubungan emosional yang sangat erat, kini harus mulai berpisah lagi. Saya tidak yakin bisa menahan diri dalam satu pekan ke depan tanpa berjumpa dengan anakku yang sangat cantik itu... Ya Allah tolonglah kami untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
27 Juli 2008
Jumatan dan dering telepon

Pekan lalu saya Jumatan di Masjid Salman ITB Bandung. Salah satu hal yang paling menyenangkan dari Salman adalah pengumuman sebelum Jumatan yang fokus, to the point, menggunakan bahasa baku, dan disampaikan secara datar.
Bunyi pengumuman itu, biasanya diawali dengan, ”Assalamualaikum wr wb. Sebelum khatib naik mimbar, ada beberapa pengumuman yang insya Allah bermanfaat bagi jamaah sekalian.”
Itu lugas sekali. Tidak ada pembuka yang berpanjang-panjang. Kalimat di atas adalah kata-kata khas yang sudah saya dengar sejak lima belas tahun yang lalu. Ada pengumuman yang baru saya dnegar belakangan, seiring perkembangan teknologi seluler. Pengumuman itu berbunyi, “..dan mematikan dering handphone.”
Nyaman sekali bagi yang mendengarnya. Kita tidak diminta untuk mematikan handphone, melainkan cukup mematikan deringnya saja.
Juga, ada pengumuman berbunyi, “Selama khatib berkhutbah dimohon tidak berbicara, membaca, atau menggunakan handphone.”
Ini juga sangat penting. Mengingat sekarang ini aktivitas dan perhatian orang di dalam forum seringkali terganggu oleh keinginan untuk ngulik-ngulik handphone. Alangkah tepatnya pengumuman-pengumuman itu.
***
Khutbah Jumat ketika itu diisi oleh pak Irfan Anshori. Saya mengenal nama itu sejak SMA, melalui buku Kimia terbitan Ganeca Exact.
Pak Irfan ini selalu menggunakan pemahanan fisika-kimia dalam menelaah ayat suci. Seiring hadirnya bulan Rajab, beliau menjelaskan oleh-oleh Rasulullah dari Isra’ Mi’raj, yaitu sholat.
Ayat yang sangat mengesankan beliau kutip, yaitu dari Surat Al-Maarij. “Sesungguhnya manusia itu diciptakan dalam keadaan tidak stabil/gelisah/mudah berubah. Bila menerima kegagalan/keburukan mudah berputus asa. Bila menerima kesuksesan/keberhasilan/kebaikan gampang lupa diri. Kecuali orang-orang yang sholat. Yaitu yang terus-menerus/kontinu dalam sholatnya.” *)
Tanpa bahasa vulgar, beliau juga menjelaskan pentingnya mengambil hikmah dari peraturan sholat dalam memilih pemimpin. Boleh memilih yang muda asalkan kapabel (mengingatkan perseteruan media antara Megawati dengan Tifatul Sembiring soal calon presiden dari kalangan muda).
Hendaknya memilih pemimpin yang bisa menjadi imam sholat (mengingatkan saya akan pilkada Kota Bandung yang salah satu calonnya adalah Pak Taufikurrahman, dosen ITB dan mantan pengurus YPM Salman).
Ah, indahnya Jumatan di Bandung.
Catatan:
*) Terjemahan lengkap berdasarkan buku terjemah Departemen Agama RI sebagai berikut:
QS al-Ma'arij (70) : 19-34
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.
Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).
Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.
15 Juli 2008
Morse, aplikasi text to speech paling sederhana
Bagi siapa pun ynag pernah ikut kegiatan Pramuka di sekolah tentu mengenal Morse. Dialah orang yang mempelopori transmisi pesan jarak jauh menggunakan kode yang sangat sederhana.
Dalam kode Morse, pesan dikirimkan per huruf menggunakan tiga komponen dasar yaitu bunyi tombol (dering) panjang, bunyi tombol (dering) pendek, serta spasi (hening). Basis dasar komunikasi ini adalah huruf yang berarti teks. Karena basisnya huruf, maka setiap huruf memiliki bentuk Morsenya sendiri (terdiri atas susunan bunyi panjang dan pendek tertentu).
Mengirimkan pesan Morse itu seperti menulis dengan bebunyian. Bunyi yang tersedia itu unik, mudah dikenali, dan mudah ditangkap oleh siapa saja yang bisa mengubah bunyi itu kembali menjadi huruf.
Dalam Morse, tidak ada logat dan dialek. Tetapi Morse juga tidak bisa digunakan untuk membunyikan suara yang tidak bisa dituliskan (misalnya suara binatang, benda jatuh, dan sebagainya).
***
Di sisi lain, ada teknologi text to speech yang diterapkan pada perangkat komputasi. Manfaat terbesar dari aplikasi ini adalah memberikan peluang bagi orang yang tidak bisa membaca teks (misalnya karena buta).
Text to speech memiliki persoalan serius yang terkait dengan perbedaan cara membaca huruf pada setiap bahasa (misalnya vokal dalam bahasa Indonesia tidak sama dibandingkan dengan bahasa Inggris). Belum lagi faktor logat dan dialek.
Nah, saya berpikir bahwa Morse bisa menjadi jalan keluar atas persoalan logat dan dialek. Speech dalam bentuk signal Morse kan hanya ada dua (panjang dan pendek. Adapun diam berarti tidak ada signal). Berarti langkah pemrosesannya tidak terlalu rumit. Morse mungkin bisa menjadi salah satu bentuk, atau pengantar bentuk, yang paling sederhana bagi aplikasi text to speech. Paling tidak ya text to voice lah, hehehe.
Persoalan lain yang masih mengganjal adalah orang harus belajar Morse dahulu untuk bisa memahami pesan yang dikirimkan. Wallahu a’lam.
Dalam kode Morse, pesan dikirimkan per huruf menggunakan tiga komponen dasar yaitu bunyi tombol (dering) panjang, bunyi tombol (dering) pendek, serta spasi (hening). Basis dasar komunikasi ini adalah huruf yang berarti teks. Karena basisnya huruf, maka setiap huruf memiliki bentuk Morsenya sendiri (terdiri atas susunan bunyi panjang dan pendek tertentu).
Mengirimkan pesan Morse itu seperti menulis dengan bebunyian. Bunyi yang tersedia itu unik, mudah dikenali, dan mudah ditangkap oleh siapa saja yang bisa mengubah bunyi itu kembali menjadi huruf.
Dalam Morse, tidak ada logat dan dialek. Tetapi Morse juga tidak bisa digunakan untuk membunyikan suara yang tidak bisa dituliskan (misalnya suara binatang, benda jatuh, dan sebagainya).
***
Di sisi lain, ada teknologi text to speech yang diterapkan pada perangkat komputasi. Manfaat terbesar dari aplikasi ini adalah memberikan peluang bagi orang yang tidak bisa membaca teks (misalnya karena buta).
Text to speech memiliki persoalan serius yang terkait dengan perbedaan cara membaca huruf pada setiap bahasa (misalnya vokal dalam bahasa Indonesia tidak sama dibandingkan dengan bahasa Inggris). Belum lagi faktor logat dan dialek.
Nah, saya berpikir bahwa Morse bisa menjadi jalan keluar atas persoalan logat dan dialek. Speech dalam bentuk signal Morse kan hanya ada dua (panjang dan pendek. Adapun diam berarti tidak ada signal). Berarti langkah pemrosesannya tidak terlalu rumit. Morse mungkin bisa menjadi salah satu bentuk, atau pengantar bentuk, yang paling sederhana bagi aplikasi text to speech. Paling tidak ya text to voice lah, hehehe.
Persoalan lain yang masih mengganjal adalah orang harus belajar Morse dahulu untuk bisa memahami pesan yang dikirimkan. Wallahu a’lam.
14 Juli 2008
Dulu mail2SMS, sekarang SMS2mail
Tadi siang saya mencoba install aplikasi SMS2mail pada Blackberry Pearl. Aplikasi ini bisa secara otomatis memforward SMS yang saya terima ke alamat e-mail yang dituju. Dengan demikian, pengarsipan SMS menjadi sangat mudah. Bisa diforward ke alamat yang akses melalui PC, kemudian kita tinggal copy-paste untuk mengubahnya menjadi arsip dan semacamnya.
Atau, kita bisa juga membuat satu forder khsus dalam inbox email yang khusus menampung forward SMS itu.
Fasilitas SMS2mail ini semakin menegaskan bahwa pengguna Blackberry benar-benar sangat akrab dengan e-mail. Mereka justru lebih akrab dengan e-mail dibandingkan dengan SMS. Email bisa lebih panjang, lebih murah, dan bisa diberi bermacam almpiran. Apalagi dengan langganan Internet unlimited untuk e-mail, hal itu benar-benar sudah menjadi SMS replacement.
***
Kondisi ini berangkali kontras dengan beberapa tahun yang lalu di mana SMS jauh lebih akrab dibandingkan email. Sejumlah operator memberikan fasilitas notifikasi SMS atas emial yang masuk ke mailbox tertentu.
Dalam konteks ini, email yang semula gratis dikirim (notifikasinya) ke SMS dan menjadi barang berbayar (mahal lagi).
Dunia memang terus bergerak ke arah yang semakin mudah, murah, dan berlimpah informasi.
Atau, kita bisa juga membuat satu forder khsus dalam inbox email yang khusus menampung forward SMS itu.
Fasilitas SMS2mail ini semakin menegaskan bahwa pengguna Blackberry benar-benar sangat akrab dengan e-mail. Mereka justru lebih akrab dengan e-mail dibandingkan dengan SMS. Email bisa lebih panjang, lebih murah, dan bisa diberi bermacam almpiran. Apalagi dengan langganan Internet unlimited untuk e-mail, hal itu benar-benar sudah menjadi SMS replacement.
***
Kondisi ini berangkali kontras dengan beberapa tahun yang lalu di mana SMS jauh lebih akrab dibandingkan email. Sejumlah operator memberikan fasilitas notifikasi SMS atas emial yang masuk ke mailbox tertentu.
Dalam konteks ini, email yang semula gratis dikirim (notifikasinya) ke SMS dan menjadi barang berbayar (mahal lagi).
Dunia memang terus bergerak ke arah yang semakin mudah, murah, dan berlimpah informasi.
13 Juli 2008
Jatuh cinta kedua pada Si Pearl

Ada satu fitur yang membuat saya jatuh cinta pada handset Nokia sejak lima tahun yang lalu. Fitur itu adalah predictive text input dalam Bahasa Indonesia. Dengan penebak kata itu, saya bisa mengetik dengan sangat cepat menggunakan papan ketik tiga kolom, secepat papan ketik QWERTY. Apalagi saya biasa mengetik menggunakan Bahasa Indonesia baku yang sesuai kamus (dan kamus kosa kata yang disertakan), jadi segalanya menjadi sangat mudah.
Predictive text input atau dikenal pula sebagai T9 (Tegic) membuat saya merasa tidak perlu membeli papan ketik QWERTY eksternal. Bahkan saya sampai mengimpikan papan ketik komputer dengan susunan sebagaimana papan ketik (keypad) ponsel. Bisa dioperasikan dengan satu tangan dan biarkan software yang menebak susunan katanya.
***
Setengah tahun terakhir ini praktis kegiatan saya dnegan perangkat mobile berpindah ke Blackberry 8100 (aka) Pearl. Ini Blackberry terkecil, teringan, dan sangat indah. Sebagai penggemar QWERTY dan T9, hal paling merepotkan adalah mengetik dalam Bahasa Indonesia menggunakan Pearl.
Memang ponsel ini sudah dilengkapi penebak kata, tetapi beroperasi dalam Bahasa Inggris (dan beberapa bahasa besar dunia lainnya). Tetapi tidak dalam Bahasa Indonesia. Sebenarnya Pearl bisa mengenali sejumlah kata yang sering dipakai. Tetapi jumlahnya hanya sedikit dan seringkali apa yang dulu diingat belakangan terhapus, tertimpa oleh kata-kata baru yang lebih sering dipakai.
Cara kerja penebak kata Pearl persis sama dengan T9 pada Nokia. Hanya berbeda susunan tombolnya. Kalau Nokia dan ponsel lainnya pakai tiga kolom empat baris, sedangkan Pearl pakai lima kolom empat baris.
Kemarin, di milis pengguna Blackberry Indonesia (ID-BB), ada yang posting mengenai Auto Text dalam Bahasa Indonesia. Auto Text sejatinya adalah fitur yang akan melakukan koreksi otomatis pada kesalahan pengetikan. Misalnya ACN otomatis diubah menjadi CAN.
Akan tetapi, ada orang Indonesia yang sangat kreatif yang memanfaatkan fitur Auto Text ini sebagai kamus untuk penebak kata Bahasa Indonesia. Ingatan pada Auto Text ini tidak bisa dihapus atau ditimpa secara otomatis sebagaimana ingatan pada kosa kata baru.
Di milis ID-BB juga diberitahukan cara download serta instalasinya. Ada pilihan 5.000kata, 25.000 kata, serta 50.000 kata.
Pertama saya mencoba pilihan 50.000 kata. Ternyata butuh memori lebih dari 3MB sehingga gagal diinstall. Saya pilih yang lebih kecil, 25.000 kata dan butuh memori 1,5 MB. Ternyata sukses. Auto Text bisa beroperasi dengan sangat baik.
***
Kemampuan untuk menebak kata dalam Bahasa Indonesia ini benar-benar menyenangkan. Sebagai perangkat akses e-mail dan chatting, device ini sangat butuh alat input text yang andal.
Pearl (Blackberry 81xx) memiliki keunggulan dibandingkan Curve (Blackberry 83xx) dan Huron (Blackberry 88xx) yang memiliki papan ketik QWERTY terintegrasi. Pearl bisa dioperasikan dengan satu tangan, Curve dan Huron tidak bisa.
Tombol Pearl lebih besar (karena jumlahnya lebih sedikit) dibandingkan dengan Huron dan Curve. Secara umum, tombolnya juga lebih lembut. (maka tak heran jika di negara dengan penggunaan Bahasa Inggris, penjualan pearl lebih laris dibandingkan Curve dan Huron).
Adanya penebak kata Bahasa Indonesia ini membuatku benar-benar jatuh cinta kepada Pearl. Ini membuatku kecanduan dan sulit meninggalkannya, sebagaimana aku sangat sulit meninggalkan Nokia.
Penebak kata ini juga menghapuskan keinginan saya untuk membeli keyboard external Blackberry. (Saya pernah punya keyboard bluetooth dan infrared untuk dipasangkan pada beberapa jenis gadget).
Hal ini berarti ada penghematan uang lebih dari Rp1 juta dan penghematan perasaan (repot betul menginginkan sesuatu yang pasti gak ada di Indonesia dan bahkan di dunia juga susah sekali diperoleh. Just FYI, sulit sekali mencapi keyboard external Blackberry di Indonesia).
Alhamdulillah. Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala yang banyak kepada orang yang punya ide memasukkan kosa kata Bahasa indoensia ke dalam Auto Text dan mewujudkan ide itu.
Foto dari GSM Arena (official photo dari RIM)
Membuat filter dan mengubah signature pada Blackberry
Ada setidaknya dua hal yang agak mengganggu saya dalam menggunakan Blackberry. Pertama adalah banyaknya spam yang masuk melalui alamat e-mail kantor. Spam ini tak kenal waktu dan sering mengganggu tidur. Masalah kedua, adanya signature "sent from my blackberry wireless devices...." yang sangat panjang dan terkesan norak.
Bagi pengguna BES, mungkin masalah ini sangat gampang di atasi. Bagi pengguna ritel BIS seperti saya, sebenarnya hal ini juga gampang diatasi, hanya saja perlu sedikit trik. Begini ceritanya.
Setting signature, filter, dan sebagainya bisa dikelola sendiri setelah kita login ke alamat web operator.blackberry.com (dalam kasus saya adalah xl.blackberry.com) melalui PC.
Akan tetapi, kejadian gagal login adalah masalah yang cukup lama saya alami. Waktu masuk ke alamat xl.blackberry.com melalui PC, saya diminta memasukkan username dan password. Berhubung saya sudah punya alamat widodo@xl.blackberry.net maka saya berasumsi bahwa username dan password mengacu pada account itu. Tetapi upaya saya selalu ditolak.
Setelah gagal login, saya tekan sign up, lalu memasukkan nomor PIN dan IMEI. Langkah ini selalu dijawab "seseorang sudah menggunakan perangkat yang ini".
Ketika saya pencet menu forgot password, ada pilihan untuk memasukkan nomor PIN. saya masukkan nomor PIN, lalu mereka mengirimkan notifikasi ke handset saya. Notifikasi yang masuk menyatakan bahwa "username dan password saya tidak exist".
Sangat membingungkan. Di satu sisi dijawab ada yang pakai device ini, di sisi lain dibilang bahwa username tidak exist.
Saya coba telepon ke 818/817 dan mereka hanya minta PIN. Setelah itu, katanya, password akan dikirim ke handset (via SMS). Ditunggu-tunggu beberapa hari, tidak ada pesan apa-apa yang masuk ke SMS selain iklan,hehe.
***
Akhirnya saya dapat ide untuk masuk ke alamat xl.blackberry.com melalui handset. Ternyata itu adalah alamat untuk setting e-mail, sama dengan ketika kita memencet menu e-mail setting.
Di bagian bawah ada menu untuk semacam "create user name" (saya lupa persisnya bunyi menunya, soalnya begitu kita jalankan dan sukses, menu itu hilang).
Saya pencet menu itu dan ada peringatan bahwa ini akan mengakibatkan perubahan permanen. Saya ikuti saja petunjuknya, memasukkan username dan password baru. Sukses.
Lalu dia minta verifikasi untuk masing-masing alamat email yang ada di situ.Kebetulan saya punya 10 account email yang saya masukkan ke Blackberry, jadi harus memverifikasi 10 alamat email. Alamaaak, capek juga.
Alhamdulillah, cara ini terbukti sukses. Saya akhirnya punya username dan password untuk login ke setting e-mail. Langkah dengan/pada handset selesai sampai di sini.
Pengaturan e-mail lebih jauh harus dilakukan melalui PC. Buka alamat xl.blackberry.com, masukkan username dan password tadi, dan olala.. bisa masuk ke menu setting.
Di sana kita bisa memasukkan parameter untuk filtering email. Misalnya, untuk akun kantor, saya minta email dengan subjek "komentar pada artikel" tidak dikirim ke handset. Lalu email dengan subjek atau pengirim tertentu tidak dikirimkan ke account lainnya, dan seterusnya. Cara ini terbukti bisa menghentikan sebagian besar spam yang masuk ke handset Blackberry ini.
Begitu pun dengan signature. Saya bisa mengubah kalimat "sent from my blackberry wireless device....." bahkan bisa menghapusnya sama sekali.
***
Cara yang sama juga bisa digunakan ketika kita berganti handset. Tinggal masuk ke sana, ada menu change device. Jadi 10 account akan ikut semua ketika kita ganti handset, tanpa perlu lagi setting ulang satu per satu di handset. Itu semacam passport ke layanan Blackberry.
Kalau kita mau bepergian ke luar negeri, menu filter ini juga bisa sangat berguna. Kita bisa membatasi hanya email tertentu saja yang dikirimkan ke handset, dan menetapkan status no-mail untuk account lainnya.
Dengan demikian, kita bisa menghemat bandwidth (sesuatu yang sangat mahal ketika roaming internasional), tanpa kehilangan akses total. Kita juga akan tetap bisa mengirim berita dengan sangat mudah karena blackberry tetap aktif.
Siapa mau mencoba?
Bagi pengguna BES, mungkin masalah ini sangat gampang di atasi. Bagi pengguna ritel BIS seperti saya, sebenarnya hal ini juga gampang diatasi, hanya saja perlu sedikit trik. Begini ceritanya.
Setting signature, filter, dan sebagainya bisa dikelola sendiri setelah kita login ke alamat web operator.blackberry.com (dalam kasus saya adalah xl.blackberry.com) melalui PC.
Akan tetapi, kejadian gagal login adalah masalah yang cukup lama saya alami. Waktu masuk ke alamat xl.blackberry.com melalui PC, saya diminta memasukkan username dan password. Berhubung saya sudah punya alamat widodo@xl.blackberry.net maka saya berasumsi bahwa username dan password mengacu pada account itu. Tetapi upaya saya selalu ditolak.
Setelah gagal login, saya tekan sign up, lalu memasukkan nomor PIN dan IMEI. Langkah ini selalu dijawab "seseorang sudah menggunakan perangkat yang ini".
Ketika saya pencet menu forgot password, ada pilihan untuk memasukkan nomor PIN. saya masukkan nomor PIN, lalu mereka mengirimkan notifikasi ke handset saya. Notifikasi yang masuk menyatakan bahwa "username dan password saya tidak exist".
Sangat membingungkan. Di satu sisi dijawab ada yang pakai device ini, di sisi lain dibilang bahwa username tidak exist.
Saya coba telepon ke 818/817 dan mereka hanya minta PIN. Setelah itu, katanya, password akan dikirim ke handset (via SMS). Ditunggu-tunggu beberapa hari, tidak ada pesan apa-apa yang masuk ke SMS selain iklan,hehe.
***
Akhirnya saya dapat ide untuk masuk ke alamat xl.blackberry.com melalui handset. Ternyata itu adalah alamat untuk setting e-mail, sama dengan ketika kita memencet menu e-mail setting.
Di bagian bawah ada menu untuk semacam "create user name" (saya lupa persisnya bunyi menunya, soalnya begitu kita jalankan dan sukses, menu itu hilang).
Saya pencet menu itu dan ada peringatan bahwa ini akan mengakibatkan perubahan permanen. Saya ikuti saja petunjuknya, memasukkan username dan password baru. Sukses.
Lalu dia minta verifikasi untuk masing-masing alamat email yang ada di situ.Kebetulan saya punya 10 account email yang saya masukkan ke Blackberry, jadi harus memverifikasi 10 alamat email. Alamaaak, capek juga.
Alhamdulillah, cara ini terbukti sukses. Saya akhirnya punya username dan password untuk login ke setting e-mail. Langkah dengan/pada handset selesai sampai di sini.
Pengaturan e-mail lebih jauh harus dilakukan melalui PC. Buka alamat xl.blackberry.com, masukkan username dan password tadi, dan olala.. bisa masuk ke menu setting.
Di sana kita bisa memasukkan parameter untuk filtering email. Misalnya, untuk akun kantor, saya minta email dengan subjek "komentar pada artikel" tidak dikirim ke handset. Lalu email dengan subjek atau pengirim tertentu tidak dikirimkan ke account lainnya, dan seterusnya. Cara ini terbukti bisa menghentikan sebagian besar spam yang masuk ke handset Blackberry ini.
Begitu pun dengan signature. Saya bisa mengubah kalimat "sent from my blackberry wireless device....." bahkan bisa menghapusnya sama sekali.
***
Cara yang sama juga bisa digunakan ketika kita berganti handset. Tinggal masuk ke sana, ada menu change device. Jadi 10 account akan ikut semua ketika kita ganti handset, tanpa perlu lagi setting ulang satu per satu di handset. Itu semacam passport ke layanan Blackberry.
Kalau kita mau bepergian ke luar negeri, menu filter ini juga bisa sangat berguna. Kita bisa membatasi hanya email tertentu saja yang dikirimkan ke handset, dan menetapkan status no-mail untuk account lainnya.
Dengan demikian, kita bisa menghemat bandwidth (sesuatu yang sangat mahal ketika roaming internasional), tanpa kehilangan akses total. Kita juga akan tetap bisa mengirim berita dengan sangat mudah karena blackberry tetap aktif.
Siapa mau mencoba?
10 Juli 2008
Poligadget, tidak harus seadil itu kan?*

Sebuah laporan dari perusahaan riset teknologi informasi IDC memperkenalkan kategori baru para penggemar gadget dan Internet yang disebut sebagai terlampau terhubung (hyperconnected).
Kategori ini dilekatkan kepada mereka yang sudah sangat terhubung dengan dunia Internet melalui beragam cara. Sementara di bagian lain dunia masih banyak orang yang sama sekali belum bisa mengakses Internet, mereka yang terlampau terhubung itu justru kebanjiran sarana akses.
Menurut IDC, mereka yang disebut sebagai terlampau terhubung itu memiliki setidaknya tujuh perangkat untuk mengakses Internet dan memiliki sembilan akun yang dipergunakan secara aktif.
“Masya Allah. Bawa dua hp saja sering yang satu nggak keurus, akhirnya yang efektif cuma satu. Lha ini, seven devices, sodara-sodara,” kata Big Boss saya, Pak Pemred, sambil geleng-geleng.
Ternyata, jumlah mereka yang masuk kategori terlampau terhubung itu ternyata tidak sedikit. IDC menyatakan 16% dari pekerja informasi global sudah terjangkit hyperconnected. Sebanyak 36% lainnya segera bergabung menjadi bagian kelompok ini.
Proporsi mereka yang terlampau terhubung itu bervariasi dari 9% untuk responden di bidang industri kesehatan, hingga 25% di bidang industri tinggi, serta 21% di bidang industri keuangan.
Laporan bertajuk The Hyper-connected: Here They Come itu didasarkan pada survei global terhadap 2.400 pekerja dewasa yang tersebar di 17 negara.
***
Saya coba membayangkan ‘at least seven divices’ itu kira-kira begini: satu desktop di rumah, satu desktop di kantor, satu Macbook (untuk penggemar Mac), satu Netbook (yang murah dan gampang dijinjing sebagai second notebook atau akses darurat), satu Blackberry, satu iPhone atau HTC Touch (untuk penggemar layar sentuh), satu smartphone dengan Windows Mobile atau Symbian, serta satu ponsel jadoel alias ponsel lawas.
Adapun sembilan aplikasi atau account itu mungkin satu akun kantor, satu atau dua akun Yahoo, satu atau dua akun Google, satu akun Facebook, satu akun Blogger/Blogspot, satu aku Flickr, satu aku Friendster, satu Skype, satu Hotmail/MSN, serta beberapa alternatif jejaring sosial.
****
Penelitian IDC yang disponsori Nortel itu menggarisbawahi kemungkinan perubahan pola komunikasi karena mereka yang masuk kategori terlampau terhubung jumlahnya terus bertambah. Mereka kecanduan menggunakan pesan instan serta pesan teks.
Laporan IDC menyatakan migrasi ke arah hyperconnectivity akan bermuara pada munculnya proses bisnis baru, ditandai kehadiran beragam aplikasi dan perangkat akses secara melimpah. Hal ini sudah terlihat pada mereka yang terlampau terhubung, yang menjalankan polygadget hingga minimal tujuh perangkat, serta polyapplication hingga sembilan akun akses.
Salah satu garus bawah laporan IDC adalah peran e-mail sebagai sarana komunikasi bisnis tidak lagi dominan. Peran e-mail akan digantikan pesan teks dan pesan instan.
Sudah barang tentu, melimpahnya jumlah perangkat dan aplikasi tentu menuntut perubahan strategi dan arsitektur bagi penyatuan media komunikasi.
Apalagi, batasan antara ketersambungan untuk keperluan pribadi dan pekerjaan sudah semakin kabur. “Dua per tiga di antara meraka menyatakan menggunakan pesan teks dan pesan instan baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan. Lebih dari sepertiga menggunakan jejaring sosial untuk kedua hal itu.”
Kebebasan untuk menjalankan pekerjaan di sela-sela waktu pribadi akan memaksa perubahan kebijakan TI serta praktik komunikasi bisnis.
Para peneiliti mengingatkan bahwa ketersambungan mungkin menjadi perangkat bagi karyawan untuk meningkatkan produktivitas. Akan tetapi, hal itu juga membawa risiko bahwa informasi sensitif mungkin mudah tersebar ke seluruh dunia.
“Sebanyak 25% dari mereka yang terlampau terhubung menggunakan blog dan miki untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan orang-orang di luar perusahaan,” tulis laporan itu.
Apakah kita semua sedang bergerak ke arah hyperconnectivity yang menuntut penerapan poligadget dan poliaplikasi? Jawabnya hampir pasti iya. Tetapi kita tidak usah terlalu cemas, toh poli yang ini tidak menuntut keadilan yang begitu ketat seperti halnya polixxxx yang tidak disukai kaum perempuan, hehehe. Dan lagi, poli yang ini boleh dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.
*) Versi mirip tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia, edisi 10 Juli 2008. See www.bisnis.com
07 Juli 2008
Impian masa silam dalam Google Maps

Saya mengunduh aplikasi Google Maps pada Blackberry beberapa hari yang lalu. Semula saya tidak tertarik dengan aplikasi-aplikasi peta dalam perangkat genggam ini karena perangkat ini tidak memiliki penerima sinyal GPS. Selain itu, seringkali saya merasa layar ponsel terlalu kecil untuk urusan perpetaan yang biasanya butuh ruang yang luas untuk bisa menikmati dan menjelajah dengan nyaman.
Pandangan ini mulai berubah ketika membaca soal aplikasi Google Maps dan GPS pada Blackberry dalam sebuah review. Saya pun coba mengunduh aplikasi itu.
Dan benar saja, ternyata Google Maps ini bisa tampil mirip dengan Google Earth dalam PC. Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya mencoba-coba Google Earth dan sangat terpesona. Hanya saja, aksesnya lambat dan komputer saya ini seperti kelebihan beban. Makannya sangat mengherankan bahwa layanan semacam Google Earth bisa tersedia pada perangkat genggam nan kecil ini.
***
Ada dua aplikasi peta tersedia pada Blackberry yaitu Blackberry Maps dan Google Maps. Blackberry Maps benar-benar seperti peta dengan nama jalan dan sebagainya. Adapun Google Maps bisa tampil seperti peta (tanpa nama jalan) atau dengan apa yang mereka sebut satellite view (juga tanpa informasi nama jalan).
Saya berhasil menemukan posisi rumah di Gunungputri, posisi rumah masa kecil yang kini ditinggali Ayah, serta makam Ibu, dan rumah kakak. (Setahun yang lalu saya gagal menemukan lokasi-lokasi di Jawa Tengah melalui Google Earth karena peta sekitar Kutoarjo tidak bisa di-zoom).
Uniknya lagi, posisi saya di kantor di Jakarta bisa langsung dikenali meskipun tanpa GPS. Blackberry mengenalinya melalui menara seluler (BTS) terdekat. Enak sekali. Sayangnya fitur ini tidak bisa berjalan di Gunungputri, mungkin karena BTS-nya pakai teknologi kuno.
Enaknya lagi, layanan Blackberry ini kan Internetnya unlimited, sehingga download gambar dari Google yang besar-besar itu pun tidak menjadi masalah. Tidak ada kecemasan biaya meskipun handset ini tidak memiliki akses Wi-Fi. Kecepatannya kira-kira sama dengan akses Google Earth melalui PC lama di kantor.
***
Dari kecil saya sering mengimpikan untuk bisa melihat bumi dari atas. Hal itulah yang mendorong saya untuk menyukai teknologi penerbangan (saya, yang orang desa kluthuk jauh dari ibukota kabupaten ini, mulai mengkliping tulisan mengenai pesawat di Suara Karya, serta mengumpulkan majalah Tarik, TSM, serta Mekatronika sejak SMP).
Saya juga suka melihat dan menggambar peta lokasi. Pokoknya menampilkan view bumi dilihat dari atas. Mungkin ini pula (atau sebaliknya) yang membuat hasil psikotes saya waktu SMA menunjukkan bahwa kemampuan pandangruang (spasial) saya termasuk Sangat Cerdas.
Lah, gabungan berbagai impian masa silam, serta kemudahan penggunaan pada perangkat komunikasi genggam itulah agaknya yang membuat saya benar-benar merasa bisa menikmati Google Maps.
06 Juli 2008
Pakai SKA kok tarif SMS berbeda berdasar tujuan?
Sejak April, biaya SMS sejumlah operator besar turun. Telkomsel yang semula mengenakan biaya Rp250 untuk pascabayar dan Rp300 untuk prabayar mengubahnya menjadi bervariasi antara Rp100 hingga Rp150 per pesan. Hal yang sama juga dilakukan Indosat.
Tetapi, ada pertanyaan yang mengganjal bagi saya mengenai sistem tarif SMS ini. Katanya pola bagi hasilnya masih menganut SKA (sender keep all) di mana semua pendapatan masuk ke kantong operator pengirim Lah, kalau memang demikian, mengapa operator masih mengenakan biaya SMS dibedakan berdasarkan operator tujuan? Bukankah itu tidak relevan?
Bukankah yang lebih masuk akal justru seperti Bakrie Telecom Esia itu, yang mengenakan tarif berdasarkan karakter tanpa peduli operator tujuan?
Mengapa soal upaya mempertahankan pelanggan menjadi justifikasi pembedaan tarif? Di mana peran regulator dalam mengatur hal ini? Kabarnya regulator masih akan mempertahankan pola SKA pula. Ah, mbuh lah adanya…
Tetapi, ada pertanyaan yang mengganjal bagi saya mengenai sistem tarif SMS ini. Katanya pola bagi hasilnya masih menganut SKA (sender keep all) di mana semua pendapatan masuk ke kantong operator pengirim Lah, kalau memang demikian, mengapa operator masih mengenakan biaya SMS dibedakan berdasarkan operator tujuan? Bukankah itu tidak relevan?
Bukankah yang lebih masuk akal justru seperti Bakrie Telecom Esia itu, yang mengenakan tarif berdasarkan karakter tanpa peduli operator tujuan?
Mengapa soal upaya mempertahankan pelanggan menjadi justifikasi pembedaan tarif? Di mana peran regulator dalam mengatur hal ini? Kabarnya regulator masih akan mempertahankan pola SKA pula. Ah, mbuh lah adanya…
Mengapa saya suka Facebook

Saya mengenal Facebook setelah diundang oleh Mbak Dewi Widiyanti (Ericsson) sekitar satu tahun yang lalu. Awalnya saya ragu untuk membuat akun di sana karena saya memandang Facebook, seperti halnya Friendster, adalah mainan anak remaja. Saya cuma buat akun, dengan sangat terlambat, dan membiarkannya kosong melompong.
Tetapi beberapa bulan lalu, seorang teman dari Filipina, Regina Bengco, menanyakan mengenai akun Facebook-ku yang tidak ada infonya apa-apa. Itu menggugahku untuk memperbarui akun Faceook. Pertanyaan itu, setidaknya menggarisbawahi bahwa akun Facebook itu ada manfaatnya untuk komunikasi jarak jauh, atau untuk berkontak dengan orang yang jarang bertemu.
Faktor lainnya adalah Blackberry yang menyediakan aplikasi Facebook. Melalui aplikasi itu saya bisa upload photo, mencari dan mengundang teman, manyetujui ajakan pertemanan, dan sebagainya melalui handset Blackberry secara real time. Sebagai orang yang menganut ‘ideologi’ Serba Mobile, kemudahan semacam ini memberikan dorongan yang sangat besar: Saya bisa mengakses dan memperbarui akun Facebook dari mana saja kapan saja.
Jadi, faktor awalnya ada tiga yaitu: siapa yang memperkenalkan, siapa yang menyadarkan bahwa itu ada gunanya, dan apa yang membuat itu tampak mudah serta keren.
***
Pada dasarnya Facebook sendiri memang menarik. Salah satu yang paling menarik adalah soal status. Kita bisa memperbarui status pada Facebook, dan orang lain tetap bisa melihat status kita itu kendati kita tidak sedang online.
Inilah perbedaan utama dengan status pada pesan instan baik Google Talk maupun Yahoo Messenger. Pada Gtalk, status akan terakhir akan terekam sehingga ketika kita login, maka status yang sebelumnya langsung terpampang. Tetapi ketika kita offline, status tidak muncul.
Pada YM lebih menyebalkan lagi. Kita harus memperbarui status setiap kali login. Kalau jaringan lagi payah, bolak-balik login logout, sebal juga update statusnya.
***
Namun demikian, ada beberapa bagian dari Facebook ini yang tidak menyenangkan bagiku. Khususnya tampilan yang memanjang ke bawah dan seringkali berisi tumpukan gambar-gambar kiriman dari teman-teman yang lain. Saya lihat akun beberapa teman itu kesannya jadi berantakan karena ada banyak sekali gambar berserakan tak beraturan.
Bagaimana pun Facebook ini cukup menarik dan menjadi salah satu aplikasi yang paling sering aku buka di Blackberrry handset.
01 Juli 2008
Tidak bisa terhubung
Saya punya masalah yang sudah lama tidak kunjung terpecahkan. Bagaimana menghubungkan modem IM2 broadband 3,5G merek ZTE dengan Eee PC. Notebook nan murahku ini tidak bisa mengenali modem buatan China itu.
Saya sudah bawa ke service center IM2 di Semanggi tetap enggak bisa. Katanya, yang bisa cuma PC dengan Ubuntu atau Mandriva. Adapun Eee PC dengan Xandros ini belum ketemu cara pemecahannya.
Ada yang bisa membantu?
Saya sudah bawa ke service center IM2 di Semanggi tetap enggak bisa. Katanya, yang bisa cuma PC dengan Ubuntu atau Mandriva. Adapun Eee PC dengan Xandros ini belum ketemu cara pemecahannya.
Ada yang bisa membantu?
23 Juni 2008
Naik kereta api: Yang miskin harus berbagi

Jumat malam hingga Senin pagi ini saya gunakan waktu untuk mengunjungi keluarga dan kerabat di Tulusrejo, Kutoarjo, serta Purwokerto.
Ini adalah akhir pekan di saat liburan sekolah. Jadi wajar jika jumlah penumpang membeludak. Saya coba beli tiket Jumat malam di loket sudah habis. Begitupun pas kembali. Saya mencari tiket untuk Minggu malam (pada Sabtu siang) juga sudah tidak ada. Akhirnya saya beli lewat calo yang menjual tiket tidak sampai 10 meter di depan loket. Tidak ada lagi tiket kelas eksekutif untuk Sawunggalih Utama ini, jadi pulang pergi saya naik kelas bisnis dengan tarif resmi Rp70.000.
Saat berangakt dan pulang kereta dalam keadaan penuh sesak. Banyak orang yang naik tanpa tempat duduk. Mereka berdiri dan duduk di sembarang tempat, di dekat pintu, di WC, serta di sela-sela kursi milik penumpang yang punya tempat duduk. Saya bahkan sampai sama sekali tidak bisa meluruskan kaki karena ada orang tidur tepat di depan kakiku. Dia tiduran di situ sama sekali tidak berpindah sepanjang berjalanan dari Purwokerto ke Jatinegara.
Kondisi semacam ini jelas berbeda dengan gerbong kelas eksekutif. Di kelas eksekutif, jarak antarkursi relatif lebih lebar. Tetapi orang tanpa tempat duduk justru tidak diperkenankan untuk masuk ke gerbong di mana ada tempat penumpang bertempat duduk. Di sini ada kejelasan hak kursi bagi penumpang yang memiliki nomor tempat duduk itu.
Di kelas bisnis tidak ada batasan itu. Hak pemilik kursi ya hanya pada kursinya. Dia tidak punyak hak terhadap kolong dan ruang di sekitar kursi. Bagi penumpang kelas ekonomi lebih parah lagi. Hak atas kursi pun ditentukan oleh siapa yang duduk di situ terlebih dahulu. Selebihnya aturannya sama dengan kelas bisnis.
Jadi, dalam aturan Kereta Api Indonesia, orang-orang paling kaya dan mapan punya otoritas yang dilindungi untuk mempertahankan haknya sebebas dan seluas mungkin. (bahkan di saat Lebaran, di mana penumpang kereta di kelas lain endeng-endengan seperti sarden, penumpang kelas eksekutif tidak merasakan kepadatan mudik Lebaran di dalam gerbong).
Sementara itu, penumpang yang agak miskin, harus rela berbagi. Dan penumpang yang paling miskin justru harus paling banyak berbagi. Logika macam apa ya ini?
****
Naik kereta api di Indonesia ini memang harus membekali diri dengan pengenalan lokasi yang baik. Kereta ditujukan bagi orang-orang yang sudah sering naik dengan tujuan yang sama. Bagi penumpang yang baru pertama kali naik ke jurusan tertentu, silakan siap-siap tersesat. Tidak ada penunjuk yang jelas posisi kereta sudah sampai di mana.
Kalau orang harus bertanya berkali-kali tentu sangat tidak nyaman. Bukan hanya bagi penanya, tetapi juga bagi pihak yang ditanya. Sementara itu, kalau orang berada di gerbong paling belakang, kecil sekali kemungkinan untuk bisa membaca plang di depan stasiun mengingat posisinya seringkali berada di luar stasiun ketika kereta berhenti.
Salah satu alat yang bisa jadi penolong adalah informasi lokasi pada telepon seluler. Di bawah nama operator biasanya ada informasi mengenai lokasi yang sedang dilalui. Hanya saja, karena informasinya detil (kecamatan) seringkali penumpang juga tidak tahu persis ini berada di sekutar kota (besar) mana.
***
Kupikir ada banyak sekali hal yang harus diperbaiki dari perkereta apian. Sebagai penumpang, rasanya banyak kesengsaraan yang harus siap dihadapi bagi siapa saja yang akan menjadi penumpang dalam jangka waktu lama, misalnya semalam suntuk.
Jadwal kereta mestinya bisa lebih tepat. Jumlah kereta juga diharapkan lebih banyak, dengan pilihan kelas lebih banyak (jangan hanya tiga). Sistem informasi juga hendaknya lebih pintar. Dan, tentu saja, sistem penjualan juga mesti diperbaiki. Tetapi, itu semua tentu butuh biaya. Asal jangan banyak yang korupsi, saya kira kita bisa punya banyak uang lebih untuk investasi.
Wallahu alam.
20 Juni 2008
Bola dan media massa?

Yunani tumbang di babak pertama. Juara bertahan Piala Eropa itu pulang tanpa satu nilai pun. Kebobolan lima gol dan hanya memasukkan satu gol hiburan.
Prancis, finalis Piala Dunia 2006, juga tersingkir di babak pertama. Italia, meskipun mampu mengalahkan Prancis di babak penyisihan (seperti halnya mereka juga mengalahkan prancis pada final Piala Dunia dua tahun lalu), juga tertatih-tatih melewati masa yang berat. Jerman, kasusnya mirip dengan Italia, berat sekali untuk bisa lolos dari babak penyisihan.
Tim-tim jagoan, silih berganti menjadi unggulan. Silih berganti menjadi juara, melalui putaran yang cepat. Beberapa nama mengukir prestasi panjang. Ada nama-nama yang selalu muncul dalam setiap turnamen selama puluhan tahun. Tetapi banyak juga yang prestasinya tidak bisa bertahan lama. Muncul karena tangan dingin pelatih brilian (macam GH asal Belanda itu), lalu tenggelam setelah ditinggalkan.
***
Bagaimana dnegan persaingan di dunia koran? Siapakah nama-nama besar yang akan tetap bertahan untuk masa yang panjang? Adakah nama-nama yang bisa tiba-tiba muncul dan meroket? Adakah tangan dingin yang benar-benar menguasai rumus penerbitan koran (macam GH dalam Bola), sehingga apa pun yang dipegangnya bisa menjadi mainan berbahaya?
Apakah dunia koran konvensional, atau dunia koran maya yang akan mengalami masalah seperti turnamen bola itu? Apakah hal-hal yang model bisnisnya sudah mapan atau yang sedang mencari pola yang bisa memunculkan keajaiban sebuah turnamen?
Mari kita pikirkan bersama-sama. Barangkali Anda punya ide?
Wallahu alam.
17 Juni 2008
Haruskah wartawan seperti peneliti?
Dalam proses menulis sesuatu menjadi bermakna dibutuhkan pengetahuan dan penguasaan masalah yang memadai. Semakin mendalam sebuah tulisan, semakin mendalam juga pengetahuan yang diperlukan. Terlebih lagi jika tulisan itu ditujukan kepada publik, masyarakat luas.
Lalu, apakah itu berarti seorang wartawan, yang tiap hari memproduksi tulisan untuk publik, harus punya pengetahuan mendalam seperti halnya peneliti? Saya kira ada perbedaan mendasar antara peneliti dengan wartawan.
Peneliti menangkap sebuah masalah atau ide, kemudian berusaha mencari pemecahan/ solusi/ jalan ke luar sendiri. Untuk itu, dia harus belajar statistika, membuat alat untuk menghasilkan data, kemudian mempersenjatai diri dengan pisau analisis.
Wartawan juga memulai karyanya dengan menangkap masalah atau ide. Tetapi dia tidak perlu berusaha memecahkan sendiri persoalan itu. Dia mencari nara sumber/peneliti dan sebagainya untuk membantunya memecahkan masalah.
Jadi, bagi wartawan, punya pengetahuan mendalam adalah nilai tambah. Ini akan membantunya mudah memahami dan tidak salah interpretasi terhadap paparan peneliti. Bagaimana pun, ada pengetahuan menimal yang perlu diketahui wartawan agar bisa membuat analisis dengan tepat. Ini berlaku untuk pendalaman. Adapun untuk sekadar isu-isu umum, yang diperlukan adalah akal sehat, logika yang lurus, pengetahuan angka, dan alur berpikir yang cukup.
***
Khusus mengenai kewartawanan di dunia TI –khususnya ekonomi TI-- saya ingin mengusulkan semacam workshop untuk pembekalan. Beberapa materi yang hendaknya perlu diberikan kepada wartawan baru di dunia TI setidaknya meliputi.
1. Faktor-faktor dalam bisnis telekomunikasi. (Undang saja orang Mastel atau pengamat untuk berbicara mengenai isu investasi, regulasi, kompetisi, serta faktor-faktor kunci yang menentukan kondisi makro bisnis telekomunikasi)
2. Perkembangan/ evolusi teknologi telekomunikasi.
-Undang vendor, misalnya Ericsson, untuk bicara mengenai evolusi teknologi seluler dari generasi pertama sampai keempat. Mengapa disebut cellular, bagaimana sambungan antara pengguna ke sentral dan kembali lagi ke pengguna, penggunaan frekuensi dan alokasinya.
- Vendor juga diharapkan bisa menjelaskan evolusi teknologi sambungan kabel (dari telepon tembaga, DSL, hingga serat optik. Aplikasi-aplikasi yang berjalan di atasnya dan semacamnya)
3. Faktor-faktor dalam bisnis peranti lunak
Undang akademisi untuk bicara mengenai industri peranti lunak secara umum, pembagiannya, siapa yang dominan, perkembangan dari masa ke masa. Apa arti open source, propreitary, mengapa ada pembajakan. Peranti lunak korporasi, perannya dalam proses produksi, dsb.
4. Faktor-faktor dalam bisnis peranti keras
Undang akademisi untuk bicara mengenai unsur-unsur peranti keras pada komputer dan bagaimana alat itu bekerja. Bagaimana standardisasi peranti keras dibuat. Bagaimana peran perakit lokal, OEM, pabrikan besar dalam industri ini. Bagaimana tren peranti keras ke depannya.
6. Memahami bisnis Internet (minta orang APJII untuk bicara)
- sejarah Internet dunia dan sejarah Internet Indonesia
- faktor-faktor dalam menentukan biaya akses Internet, sewa jaringan dan akses
- nama domain, hosting, content, warnet, game online, dan bisnis yang terkait dengan Internet
- aplikasi di atas Internet, web 2.0, masa depan Internet
7. Riset dan sumber daya TI
Undang akademisi/peneliti untuk berbicara mengenai hal ini.
***
Masalahnya, untuk menggelar sebuah workshop, peserta satu desk dari satu saja perusahaan koran pasti sangat sedikit.
Jalan keluarnya, pengelola rubrik atau desk editor mungkin bisa mulai membuat tulisan mengenai masing-masing item yang diperlukan seperti di atas, sebagai modul-modul pembelajaran bagi wartawan pemula.
Cara yang lebih gampang, cari situs-situs Internet yang bisa memberikan pencerahan seperti di atas. Catat link-link itu, lalu diskusikan secara berkala sesuai target kurikulum (hehehe, kayak sekolah saja….)
Wallahu a’lam.
Lalu, apakah itu berarti seorang wartawan, yang tiap hari memproduksi tulisan untuk publik, harus punya pengetahuan mendalam seperti halnya peneliti? Saya kira ada perbedaan mendasar antara peneliti dengan wartawan.
Peneliti menangkap sebuah masalah atau ide, kemudian berusaha mencari pemecahan/ solusi/ jalan ke luar sendiri. Untuk itu, dia harus belajar statistika, membuat alat untuk menghasilkan data, kemudian mempersenjatai diri dengan pisau analisis.
Wartawan juga memulai karyanya dengan menangkap masalah atau ide. Tetapi dia tidak perlu berusaha memecahkan sendiri persoalan itu. Dia mencari nara sumber/peneliti dan sebagainya untuk membantunya memecahkan masalah.
Jadi, bagi wartawan, punya pengetahuan mendalam adalah nilai tambah. Ini akan membantunya mudah memahami dan tidak salah interpretasi terhadap paparan peneliti. Bagaimana pun, ada pengetahuan menimal yang perlu diketahui wartawan agar bisa membuat analisis dengan tepat. Ini berlaku untuk pendalaman. Adapun untuk sekadar isu-isu umum, yang diperlukan adalah akal sehat, logika yang lurus, pengetahuan angka, dan alur berpikir yang cukup.
***
Khusus mengenai kewartawanan di dunia TI –khususnya ekonomi TI-- saya ingin mengusulkan semacam workshop untuk pembekalan. Beberapa materi yang hendaknya perlu diberikan kepada wartawan baru di dunia TI setidaknya meliputi.
1. Faktor-faktor dalam bisnis telekomunikasi. (Undang saja orang Mastel atau pengamat untuk berbicara mengenai isu investasi, regulasi, kompetisi, serta faktor-faktor kunci yang menentukan kondisi makro bisnis telekomunikasi)
2. Perkembangan/ evolusi teknologi telekomunikasi.
-Undang vendor, misalnya Ericsson, untuk bicara mengenai evolusi teknologi seluler dari generasi pertama sampai keempat. Mengapa disebut cellular, bagaimana sambungan antara pengguna ke sentral dan kembali lagi ke pengguna, penggunaan frekuensi dan alokasinya.
- Vendor juga diharapkan bisa menjelaskan evolusi teknologi sambungan kabel (dari telepon tembaga, DSL, hingga serat optik. Aplikasi-aplikasi yang berjalan di atasnya dan semacamnya)
3. Faktor-faktor dalam bisnis peranti lunak
Undang akademisi untuk bicara mengenai industri peranti lunak secara umum, pembagiannya, siapa yang dominan, perkembangan dari masa ke masa. Apa arti open source, propreitary, mengapa ada pembajakan. Peranti lunak korporasi, perannya dalam proses produksi, dsb.
4. Faktor-faktor dalam bisnis peranti keras
Undang akademisi untuk bicara mengenai unsur-unsur peranti keras pada komputer dan bagaimana alat itu bekerja. Bagaimana standardisasi peranti keras dibuat. Bagaimana peran perakit lokal, OEM, pabrikan besar dalam industri ini. Bagaimana tren peranti keras ke depannya.
6. Memahami bisnis Internet (minta orang APJII untuk bicara)
- sejarah Internet dunia dan sejarah Internet Indonesia
- faktor-faktor dalam menentukan biaya akses Internet, sewa jaringan dan akses
- nama domain, hosting, content, warnet, game online, dan bisnis yang terkait dengan Internet
- aplikasi di atas Internet, web 2.0, masa depan Internet
7. Riset dan sumber daya TI
Undang akademisi/peneliti untuk berbicara mengenai hal ini.
***
Masalahnya, untuk menggelar sebuah workshop, peserta satu desk dari satu saja perusahaan koran pasti sangat sedikit.
Jalan keluarnya, pengelola rubrik atau desk editor mungkin bisa mulai membuat tulisan mengenai masing-masing item yang diperlukan seperti di atas, sebagai modul-modul pembelajaran bagi wartawan pemula.
Cara yang lebih gampang, cari situs-situs Internet yang bisa memberikan pencerahan seperti di atas. Catat link-link itu, lalu diskusikan secara berkala sesuai target kurikulum (hehehe, kayak sekolah saja….)
Wallahu a’lam.
02 Juni 2008
Ketika disconnected justru diinginkan

Saat ini ada beberapa layanan akses data Internet unlimited dengan biaya terjangkau di Indonesia.
Firstmedia menyediakan paket Rp100.000 per bulan untuk akses melalui kabel dengan kuota tak dibatasi. Indosat, XL dan Telkomsel dengan Blackbery juga menyediakan akses unlimited melalui akses poin Blackberry.net, dengan biaya sekitar Rp200.000 per bulan. Balakangan Telkomsel menambah pilihan melalui Flash unlimited dengan biaya mulai Rp125.000 per bulan.
Pilihan untuk selalu terhubung ke Internet alias always connected (atau 'nyambung terus' kalau pakai bahasa XL) sudah semakin banyak dan terjangkau.
Paling-paling yang menjadi masalah adalah alat aksesnya saja. Sejauh ini hanya Blackberry yang memungkinkan always connected dalam arti sebenarnya. Akses melalui notebook atau PC desktop masih banyak mengalami kendala bobot dan ruang. Adapun akses melalui ponsel biasa akan mengalami kendala keterbatasan memori dan daya tahan baterai.
***
Saya sudah hampir setengah tahun ini menggunakan Blackberry dengan akses unlimited. Artinya, sudah sampai mabok rasanya mengakses Internet setiap saat, always connected.
Menerima puluhan e-mail dari milis Awak Readksi, IA-ITB yang ramai sekali, milis Lulusan TF-ITB yag juga sangat ramai, milis Telematika, Technomedia. Selain itu, ada beberapa milis yang kurang sibuk seperti Baitnet, Pucangtunggal, Timor-er dan beberapa milis otomotif (karena saya set daily digest saja).
Dan, tentu saja, penanda paling penting bagi siapa pun yang selalu terhubung ke Internet adalah akses ke pesan instan. Yahoo Messenger dan Gtalk yang selalu aktif dengan avatar/foto dan status yang diubah-ubah. Selain itu, Facebook dengan notifikasinya yang selalu dikirim langsung ke Blackbery.
Dalam keadaan seperti itu, sering rasanya saya ingin untuk tidak terhubung, terutama di malam hari. Belakangan ini saya sering mematikan Blackberry di malam hari. Membiarkan diri not connected atau disconnected.
Dulu ingin always connected padahal default-nya not connected atau connection on demand. Sekarang justru ingin disconnected ketika defaultnya always connected.
Memang perasaannya berbeda antara connection on demand dengan not-connected on demand. Masih ada perasaan aman karena sewaktu-waktu butuh sambungan tetap ada. Ini adalah pemutusan sambungan atas keinginan sendiri, bukan dipaksa oleh kondisi jaringan atau keterbatasan akses.
Barangkali kondisinya mirip dnegan orang yang punya mobil pribadi tetapi memilih naik angkot atau bus.
Ketika orang belum punya mobil, naik angkutan umum adalah keterpaksaaan, tidak ada pilihan lain, sesuatu yang harus diterima sebagai keputusan di luar diri. Pemakai angkot akan sering membayangkan, “seandainya punya mobil, gak usah capek-capek nunggu bus di Komdak.”
Tetapi kalau sudah punya mobil, naik angkot menjadi sebuah pilihan. Pilihan yang lebih murah, lebih tenang, lebih damai, meskipun mungkin butuh waktu lebih lama dan berkeringat lebih banyak. Ada ketenangan karena itu merupakan sebuah pilihan. Tidak ada kecemburuan terhadap pemilik mobil
Jadi, disconnected yang merupakan pilihan dapat diterima dengan lebih baik dibandingkan karena keterbatasan atau paksaan dari luar diri (seperti kondisi jaringan itu).
Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)