28 April 2008

ISS08, bagian keenam: Gadget wartawan


Ada 11 wartawan non-Thailand yang ikut acara Intel Solutions Summit 2008 (ISS08) di Bangkok pekan lalu. Sebagian besar (kalau tidak seluruhnya) adalah orang yang sehari-hari meliput bidang teknologi informasi. Beberapa di antaranya memang berasal dari media bidang TI.

Dua wartawan dari Australia, satu di antaranya perempuan, tidak tampak membawa gadget atau barang tentengan yang canggih. Bahkan Julia, si cewek, merekam dengan tape recorder kaset besar yang terkesan kuno. Saya tahu karena kami sama-sama mewawancarai Tom Rompone dalam satu meja.

Dua wartawan dari India, satu di antaranya cewek, juga tidak tampak membawa perangkat yang canggih atau unik.

Dua wartawan dari Taiwan tampak sangat asyik dengan kamera besar SLR. Hampir setiap slide dipotret. Si cowok adalah seorang managing editor pada salah satu media yang membahas peranti keras. Dia menggunakan ponsel Treo 650 yang masih memiliki antena.

Adapun si cewek adalah reporter. Ketika dia lihat saya mengeluarkan Eee PC, dia langsung bilang,”Eee PC,” sambil tersenyum.
Sewaktu ada kesempatan duduk satu meja, dia bilang bahwa dia punya Eee PC warna putih dengan memori 4GB. ”Asustek memberi setiap wartawan satu Eee PC.”
Mbak Monica ini banyak bertanya (meski lewat penerjemah) dan tampak sangat antusias. Dia juga mencantumkan alamat MSN pada kartu namanya.

Dua wartawan dari Filipina tampak sangat santai. Satu di antaranya membawa notebook dan bahkan membuka YahooMail saat satu presentasi sedang berlangsung. Satu lagi membawa perekam digital kecil sekaligus sebagai pemutar musikMP3.

Satu wartawan dari Malaysia menggunakan ponsel Sony Ericsson seri K (mungkin K800) serta PDA Ipaq (versi agak lawas, tetapi lebih baru dari punyaku, warna hitam kotak ukuran 4 inci. Saya lupa serinya).

Wartawan dari Vietnam, tampaknya masih sangat muda, juga asyik dengan kamera (sama dengan wartawan Taiwan maupun wartawan Vietnam lain yang kutemui tahun lalu di Jepang). Teman dari Vietnam ini menggunakan ponsel O2 yang memiliki papan ketik geser.

Saya tidak melihat satu pun wartawan di sini yang menggunakan Blackberry. Juga tidak ada yang menggunakan Nokia Communicator. Bahkan waktu di lift saya ketemu Steve Dallman, salah satu petinggi Intel, masih menggunakan Blackberry model lama (mungkin seri 87xx).

26 April 2008

ISS08, bagian kelima: Balada TKI "R"


Konter check in Garuda baru dibuka mendekati jam 24.00, dua setengah jam sebelum keberangkatan pesawat. Setelah check in saya pun masuk, lalu mampir minum teh hangat serta berjalan-jalan di area pertokoan.

Semula saya menduga bahwa jumlah penumpang Garuda kali ini seperti halnya waktu berangkat, kurang dari 30 orang. Akan tetapi sewaktu boarding saya terkejut, ada banyak sekali orang yang sudah masuk. Sebagian besar penumpang wanitanya memakai pakaian hitam dan berkerudung. Sebagian berbicara dalam bahasa Indonesia serta bahasa Jawa.

Salah satu penumpang pria berteriak dalam bahasa Jawa di dekat pintu boarding, “Jangan pisah-pisah, nanti kamu susah masuk, soalnya paspornya bareng-bareng.”

Sewaktu masuk pesawat saya tanya pramugari di depan pintu, “Wah penumpangnya padat, Mbak.”
'Iya pak, ada rombongan dari Jeddah. Tumben-tumbenan ini.”

Entah mengapa saya diberi tempat duduk 22D, hampir di ujung belakang, bersama para rombongan dari Jeddah ini. Para penumpang non-TKI lainnya setahu saya mendapat posisi di bagian depan. Saya terkepung di antara 'lautan' TKI.

***
Perempuan di sebelah saya bernama R, orang Bojonegoro kelahiran tahun 1977. Saya tahu nama dan tanggal lahirnya karena saya ikut membantu menuliskan formulir kedatangan dan pernyataan untuk bea cukai.

R sudah tiga tahun berada di Saudi Arabia. Ini merupakan kepulangannya pertamakali dan dia tidak berminat kembali ke Saudi. Satu tahun pertama, katanya, dia tidak digaji oleh majikannya. Lalu tahun berikutnya dia dibayar secara bulanan. Tetapi dia mengaku uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari. “Yang jahat itu telepon Mas, bayarnya mahal.”

R sudah punya anak yang kini berusia enam tahun dan tinggal bersama orangtuanya di Bojonegoro. Suaminya belum lama ini menceraikannya dan kawin lagi. “Saya tidak keberatan dia kawin lagi, tetapi cara menceraikannya yang membuat saya dan orangtua tersinggung. Saya kan bukan orang yang ditemui di jalan waktu dinikahi dulu.”

***
Menurut R, dia berangkat dari penampungan TKI sejak Selasa sore. Rabu pagi naik pesawat dari Jeddah ke Oman. Di sana istirahat satu hari. Sampai Bangkok Kamis pagi, lalu berangkat dari Bangkok Jumat pagi. Begitu lamanya perjalanan sehingga R bahkan sudah tidak tahu persis ini hari apa tanggal berapa.

Di Bangkok inilah dia bertemu dengan rombongan lain yang jumlahnya lebih banyak dan sama-sama ke Jakarta. Dia tidak tahu persis berapa orang dalam rombongan besarnya ini.

Di Oman, katanya, ada yang memberi mereka makan dan penginapan. Tetapi di Bangkok ini tidak ada sama sekali. Dia mengaku badannya tidak sehat. Di penampungan TKI sebelum berangkat dia sempat sakit panas tinggi.

Saya lihat sebagian besar TKI yang ada di pesawat dalam kondisi kurang sehat. Batuk-batuk, kelelahan, serta banyak yang mabok, termasuk yang di sebelah R, selang satu bangku dari kursiku.

Para TKI kebingungan ketika harus mengisi formulir kedatangan. Pertama karena hampir tidak ada yang membawa pena. Maka penaku pun beredar dari satu bangku ke bangku lain, dan baru kembali setelah pesawat berhenti.

Masalah lainnya adalah satu paspor digunakan untuk 12 orang. Jadi mereka tidak tahu nomor paspor dan masa berlaku masing-masing kecuali orang yang memegangnya. Dan posisi duduk dari tiap 12 orang itu terpencar-pencar.

Menurut R, paspor itu dibuat oleh petugas kedutaan/konsulat ketika mereka berada di penampungan karena paspor dari Indonesia ditahan oleh majikan. Orang dalam rombongan ini, katanya, adalah orang-orang yang melarikan diri dari majikannya.

“Kalau yang menyerahkan diri seperti saya sudah punya persiapan. Tetapi kalau yang masuk penampungan karena ditangkap polisi mereka tidak punya apa-apa. Uang juga tidak punya. Saya menyerahkan diri karena sudah tiga tahun di sana, sudah boleh pulang.”

R berada di penampungan selama dua pekan. Di penampungan itu, menurut R, ada bermacam-macam orang. “Ada yang hamil, membawa anak kecil, dan bahkan ada yang gila. Untung di rombongan ini tidak ada yang membawa anak kecil.”

Mbak R ini tidak tahu bagaimana dia akan menempuh perjalanan dari Cengkareng ke Bojonegoro. Barang-barang berharganya, seperti Nokia N73, sudah dikirim melalui kargo untuk menghindari pemerasan atau perusakan barang di bandara.


***
Pesawat mendarat di Cengkareng jam 06.00 sesuai jadwal. Saya lihat beberapa orang TKI yang ada di depan saya tidak mengalami masalah dengan imigrasi.

Begitu ambil bagasi, saya langsung ke luar, menunggu bus bandara. Pagi itu udara cerah, bus jurusan kampung rambutan hampir kosong. Jalan melewati pusat kota Jakarta masih sepi, belum macet.

Allah menunjukkan padaku betapa banyak orang yang jauh lebih menderita. Pergi ke negeri yang jauh tanpa kejelasan nasib, malah kehilangan banyak hal-hal yang paling berharga, dan menempuh perjalanan lama dan jauh dalam penderitaan.

Duh, nasib bangsaku, para tetanggaku.

25 April 2008

ISS08 bagian keempat: Paradoks dan keramahan orang Thailand


Dalam acara Gala Dinner Intel Solutions Summit 2008 (ISS08) tadi malam, saya melihat paradoks orang Thailand. Menjelang pintu masuk ke Centara, Bangkok Convention Center, peserta disambut dengan sejumlah tarian. Kalau tidak salah ada lima kelompok penari masing-masing kelompok terdiri atas dua penari dan satu pengiring yang duduk. Meraka seolah-olah ingin menunjukkan kelembutan perempuan dan anak-anak Thailand.

Acara dibuka dengan tarian para bencong, lelaki yang berpakaian dan bergaya perempuan. Lalu di tengah acara diisi dengan tarian kekerasan. Ada tiga pasang lelaki yang berkelahi. Perkelahian pertama antara dua orang bersenjata bambu. Perkelahian kedua antara dua orang bersenjata pedang. Adapun perkelahian ketiga, yang paling lama, antara dua orang setengah telanjang tanpa senjata yang mempertunjukkan Thai Boxing alias Muathai.

Inilah yang saya sebut paradoks Thailand. Ada lelaki yang begitu gemulai di awal acara, dan ada yang begitu macho dengan penampilan penuh kekerasan di tengah acara.

Berhubung saya sudah ngantuk dan acara gala dinner itu menyebalkan (makan sepotong-sepotong begitu lamadengan hidangan yang sama sekali tidak menarik lidahku, saya tinggalkan sebelum selesai. Lagian saya harus hemat energi untuk 'keleleran' pada hari berikutnya.

***
Acara resmi untuk Kkmis pagi tidak banyak. Hanya ada satu presentasi soal pemasaran online dari dua mitra Intel, serta satu workshop soal Intel Classmate. Semua sudah kelar jam 11.30

Sejak pagi saya sudah mengemasi barang. Jadi begitu selesai acara saya langsung check out. Jam 11.45 semua sudah selesai. Saya tinggalkan tas besar di hotel, dan dimulailah petualangan tanpa arah.

Saya mencoba jalan-jalan sesuai lokasi yang disampaikan Na, wartawan The Bangkok Post, via SMS yaitu ke daerah Maboonkrong alias MBK. Udara siang itu terasa luar biasa panasnya. Jauh lebih panas dan lebih menyengat dibandingkan dengan udara Jakarta.

MBK itu sebuah mall besar. Banyak orang berjualan pakaian, sepatu, sandal, souvenir, topi, ponsel, makanan dan sebagainya. Saya keliling-keliling lalu membeli satu topi Jepang dan dua buah rok panjang. Setelah tiga jam jalan-jalan, kaki ini terasa lelah dan pegal sekali. Saya pun mampir ke Mc D, makan kentang goreng dan minum coca cola. Saya duduk-duduk selama sekitar satu jam sambil mencoba tidur, tetapi tidak bisa.

Pukul empat lebih sedikit saya meninggalkan MBK. Sebelumnya sempat sholat dulu. Ternyata udara di luar masih terasa sangat panas. Pada saat saya jalan-jalan tanpa arah itu tak terasa K mengontak lewat SMS. Saya baru sadar ketika sampai di Siam Center, sebelah Siam Paragon,hampir setengah jam kemudian.

***
Menjelang jam lima saya baru menjawab SMS K dan memastikan di mana bisa bertemu. Dalam masa menunggu itu turun hujan. Tampaknya di Bangkok ini hujan sering terjadi sore hari setelah siang yang menyengat. Mirip dengan Jakarta.

K tiba sekitar jam setengah enam. Sosoknya tidak banyak berbeda dibandingkan Juni tahun lalu waktu kami bertemu di Jepang. Sebenarnya selama di Jepang saya tidak cukup akrab dengannya. Dan selama ini jarang juga berkontak. Eh, tapi ternyata dia yang pertamakali bertemu kembali. Dan kami adalah peserta 30th NSK-CAJ Fellowship Program lintasnegara yang pertama melakukan reuni.

Dia mengajakku minum kopi di Starbuck. Wah kasihan juga sebenarnya dia ini, wong ke mana-mana naik bus kok malah nraktir di tempat yang mahal. Dia bahkan membelikan oleh-oleh dan menyambutku dengan penuh keramahan.

Selain bertukar cerita, kami juga mengontak Gina di Filipina dan Thanh di Vietnam, mengabarkan bahwa kami sudah bertemu. Reuni virtual lah.

Rupanya liputan K ini bidang wisata, transportasi, travel dan semacamnya. Dan saya baru tahu kalau dia sebentar lagi akan pindah kerja, tidak lagi di The Nation.

Kantornya jauh dari tempat kami bertemu. Dan rumah kontrakannya jauh dari kantor dan jauh pula dari tempat kami bertemu.

Menjelang jam delapan saya kembali ke hotel. K mengantar jalan kaki sampai saya mengambil barang-barang yang saya titipkan di hotel dan memesan taxi. Dia belum beranjak sampai saya masuk ke dalam taxi.

K benar-benar menunjukkan keramahan orang Thailand.

***
Sebelum pukul sembilan malam saya sudah tiba di Suvarnabhumi Airport. Sopir taxi kali ini sangat berbeda dibandingkan dengan sopir yang mengantarku tiba beberapa waktu lalu.

Petugas di hotel mengatakan taxi ini pakai meter alias argo. Tetapi begitu aku masuk, dia minta saya bayar 500 baht. Wah mahal banget. Saya nego akhirnya jatuhnya 400 baht dan toll dia yang bayar.

Sewaktu turun saya minta kuitansi dia tidak mau kasih. Katanya taksi tidak ada kuitansi. Wah parah sekali. Benar-benar gawat naik taxi di Bangkok ini.Untung saya kemarin pas malam-malam tidak ketemu yang terlalu aneh begini.

***
Masih ada waktu enam jam menunggu penerbangan Garuda jam 02.30. Mau check in konternya belum buka. Jadi tiga tas ini masih harus saya bawa ke mana-mana. Saya mencoba tidur,tidak bisa.

Saya buka sepatu dan kaus kaki biar agak santai. Ada bagian yang agak bengkak (karena terlalu banyak jalan dan bergesakan dengan sepatu, hehehe. Maklum sehari-haripakai sepatu hanya saat berangkat dan pulang kerja sih)

Untuk mengisi waktu kosong ini saya coba tulis cerita ini. Sekarang jam 22.35 waktu Bangkok (sama dengan waktu Indonesia)

23 April 2008

ISS08 bagian ketiga: Sibuk dan siap 'menggelandang'?



Rabu merupakan hari yang sibuk bagiku karena hari ini acara utama Intel Solutions Summit 2008 (ISS08) dimulai.

Pagi-pagi saya ke press room untuk akses Internet. Rungan sepi sekali. Belum ada wartawan lain sama sekali. Tiba-tiba ada petugas hotel menyapa,”Pak Setyardi,ya?”

Saya kaget. Ternyata petugas itu adalah Pak Sammy, orang Indonesia yang bekerja di hotel tersebut. Saya pun berikan kartu nama. Dia lagi tidak bawa kartu nama.Dia hanya bilang dulu tugas di Bali dan sekarang di Grand Hyatt Bangkok.

Beberapa saat kemudian dia datang kembali membawa kartu nama. Ternyata Pak Sammy Carolus ini adalah salah satu direktur di hotel ini. Wah.
“Kalau ada apa-apa hubungi saya ya Pak,” katanya.

***
Jam setengah sembilan sesuai jadwal, acara dimulai. Ternyata acara untuk wartawan berbeda dengan acara utama. Kami 'diasingkan' dengan acara yang full terpisah. Jadi kami tidak bisa melihat dan mengikuti keynote speech seperti yang ada di jadwal. Saya juga sama sekali tidak ketemu orang Indonesia yang mengikuti acara Intel ini, wong beda tempat.

Intel mengajak 11 wartawan non-Thailand serta 7 wartawan lokal untuk meliput acara ini. Saya satu-satunya wartawan ras melayu. wartawan lainnya memiliki ras India, China, Indo China, serta bule (Australia).

Acara untuk wartawan ini sangat padat. Presentasi silih berganti. Menjelang sore melihat-lihat pameran. Tetapi melihat-lihat tidak bisa sembarangan sebab semua dikasih kuisioner yang harus diisi. Kami harus menilai beberapa produk peserta pameran yang ditunjuk. Sebal deh.

Setelah itu masih ada group interview. Mandi sebentar, lalu ada acara lagi sampai malam di lokasi yang berbeda, di luar hotel.

***
Capek sekali rasanya. (Apalagi ada beban menulis berita untuk dotcom dan edisi cetak. Juga kirim foto, hehehe)
Tapi tidak apa-apa. Ada hal yang lebih mencemaskan lagi. Besok ada acara sampai jam 12.
Dan setelah itu harus langsung check out. Sesuai keterangan tertulis dari panitia, check out terakhir jam 12.Kalau mau extend bayar sendiri US$244++. Waduh.

Mencemaskan karena pesawatku baru berangkat Jumat pagi jam 02.30. Jadi di mana aku harus mandi, sholat, makan bekal dan indomie yang kubawa ini?

Aku males lah ngomong dengan panitia, wong jelas-jelas sudah ditulis begitu. Ntar dikira kampungan, ndesit.

Yang salah itu pesanan tiketnya, kenapa mesti pakai Garuda yang jadwalnya hanya satu kali sehari dari dan ke Bangkok. Kenapa tidak pesan penerbangan lain yang 'lebih manusiawi'? Mungkin karena murah?

Aku juga belum dapat kejalasan dari K, wartawan The Nation yang tahun lalu sama-sama jadi peserta NSK-CAJ Fellowship Program di Jepang, apakah dia mau mengajakku jalan-jalan atau tidak.

Bagaimana aku harus mengisi 15 jam di sini tanpa kamar, tanpa akses Internet? Entahlah. Kita tunggu saja perkembangan besok. Hehehe.
Semoga Allah berkenan memberi kemudahan.

Intel Solutions Summit 2008, bagian kedua: Hotel dan pasar


Grand Hyatt Erawan tempat saya menginap ini merupakan hotel bintang lima di pusat kota Bangkok. Tidak jauh dari hotel ini ada hotel Intercontinental, Four Seasons dan sebagainya.

Semua hotel di sekitar sini melakukan pemeriksaan terhadap mobil yang masuk. Satpam membuka bagasi dan memeriksa bagian bawah menggunakan cermin yang berlengan panjang. Bedanya, kalau di Jakarta banyak hotel dan perkantoran dilengkapi tempat pemeriksaan dengan portalpemeriksaan yang seperti benteng, di sini tidak. jalan dan bangunan tidak berubah. Mereka hanya meletakkan beberapa rambu sebagai tanda tempat pemeriksaan.

Tadi malam satpam yang memeriksa taxi hanya satu orang. Siang ini saya lihat dua orang. Kalau di Jakarta, setahu saya, pemeriksaan bisa an biasa dilakukan oleh banyak satpam.

Pengunjung yang membawa tas juga harus mampir ke meja pemeriksaan. Seorang petugas yang membawa detektor logam akan memeriksa isi tas, lalu bilang terimakasih dan menempatkan tangan di dada (tanda salam) sambil membungkuk.

Di kamar yang saya tempati ini tersedia akses Internet, tetapi tidak gratis. Saya baca petunjuknya, biaya dikenakan per menit. Wah, tidak jadi deh browsing, blogging, chatting dan akses email dari kamar. Bisa bangkrut nih.

Untungnya Intel menyediakan satu ruang khusus untuk wartawan yang telah dilengkapi dengan akses Wi-Fi. Tapi ya, itu, di ruang press tidak ada komputer. Sejak awal penyelenggara bilang “bring your own laptop”.

***
Mungkin saya adalah wartawan pertama yang registrasi dan masuk ke ruang wartawan. Buktinya, waktu pagi-pagi saya registrasi, petugasnya masih bingung, bahkan sempat bilang bahwa delegasi dari Indonesia mestinya di Hotel Intercontinental. Saya harus menunggu beberapa lama sebelum akhirnya registrasi kelar.

Rupanya, para undangan yang bukan wartawan sudah punya jadwal sendiri untuk acara Selasa pagi. Mereka ada kesempatan berwisata ke berbagai lokasi. Lah,tapi nama saya kan tidak ada di situ. Saya tahu itu ketika bertemu banyak orang di tempat registrasi.

Adapun pada jadwal kegiatan yang saya pegang (jadwal kegiatan wartawan) hari ini bebas sampai sore. Jadi hanya dipersilakan makan Internet sampai tuntas di ruang wartawan (hehehe).

***
Ya sudah, saya kembali ke kamar untuk mengetik blog dan email. Kemudian saya masuk ke ruang yang diperuntukkan wartawan. Di sana masih kosong. Tidak ada satu orang pun. Masalah teknis mulai timbul.

Saya coba connect ke Internet menggunakan Eee PC yang kubawa ini. Berkali-kali saya coba, Mozilla Firefox pada komputer kecilku ini terus membawa masalah. Saya restart, coba lagi, restart, coba lagi. Akhirnya berhasil masuk ke blog. Eh, di tengah jalan hang lagi. Firefox terus bengong yang merembet ke File Manager dan sebagainya.

Restart lagi. Setelah beberapa kali, berhasil posting tulisan ke blog. Tetapi masalah kembali berulang ketika saya mencoba mengakses email (Gmail). Firefox kembali membuat hang.

Akhirnya saya menyerah. Saya mencoba mengakses Wi-Fi mengunakan Ipaq 4350 yang saya punya. Eh, berhasil. Akses email juga lancar. Alhamdulillah. Ternyata Ipaq yang sudah udzur ini masih jauh lebih andal dibandingkan dengan EeePC. Masalah sempat muncul lagi ketika ada kesulitan memindahkan file dari USB flash disk kekartu SD yang bisa dibaca Ipaq.

***
Waktu kosong menunggu acara sore hari saya isi dengan jalan-jalan. Udara di Bangkok hari ini sangat panas, sedikit lebih menyengat dibandingkan dengan Jakarta.

Di sekitar hotel ada banyak orang berjualan makanan di pinggir jalan. Pedagang kaki lima kalau di Jakarta. Cara orang menunggu bus, naik dan turun, serta keadaan bus (serta metromini) yang ada di sini benar-benar mirip dengan Jakarta. Cara orang-orang berebut naik bus yang tidak benar-benar berhenti benar-benar mengingatkan saya akan suasana Jakarta. Ada perasaan senang dan tenang mengamati orang-orang dengan kultur yang sama ini.

***
Saya beruntung punya dua kawan wartawan di sini yang bisa ditanya lokasi-lokasi belanja murah yang bisa saya kunjungi. Na menyarankan saya untuk berjalan-jalan ke Pratunam, semacam pasar atau mall dekat hotel.

Sepanjang jalan ke Patrunam, saya melintasi banyak sekali pedagang kaki lima. Mereka menjajakan makanan, pakaian, aksesoris, mainan anak-anak, perlengkapan rumah tangga, dan sebagainya. Benar-benar mirip Jakarta. Cara orang berjualan di Pratunam juga mirip dengan ITC Cibinong atau Tamini Square. Wah, pokoknya Jakarta banget deh.

22 April 2008

Intel Solutions Summit 2008, bagian pertama: Naik taxi


Keberangkatan saya ke Bangkok ini dipenuhi dengan banyak kecemasan. Ini perjalanan yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan perjalanan saya ke luar negeri sebelumnya. Salah satu yang terus membebani sebelum saya berangkat adalah jadwal kedatangan dan keberangkatan yang tengah malam.

Garuda GA 866 yang saya tumpangi harus take off pukul 22.00 dan tiba di bandara Suvarnabhumi Bangkok pada 01.30 (tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta). Berhubung sudah terlalu malam, tidak ada jemputan sehingga saya harus naik taxi malam itu atau menunggu matahari terbit di bandara.

Saya membayangkan Bangkok tidak berbeda terlalu jauh dengan Jakarta. Lha wong di Jakarta saja saya masih pikir-pikir untuk naik taxi dari bandara, lha kok ini di Bangkok. Sendirian pula, dhewe emple.

***
Taxi Bluebird yang saya pesan berangkat dari rumah jam 16.10, enam jam sebelum jadwal penerbangan untuk mengantisipasi kemacetan jalan ke bandara. Apalagi perjalanan dari Gunungputri, Bogor, ke bandara harus melewati pusat kota Jakarta pada saat jam bubaran kantor. Pasti muacet, pikirku.

Jam setengah lima lebih sedikit taxi sudah tiba di Kampung Rambutan. Tetapi aneh sekali, tidak ada bus Damri Bandara di terminal bus antarkota terbesar Jakarta itu. Beberapa orang yang juga mau ke bandara menghampiriku, mengajak untuk naik omprengan Carry ke bandara. Ya sudah aku ikut. Aku adalah penumpang ke-7 alias penumpang terakhir sehingga omprengan pun segera berangkat.

Saya tertawakecut dalam hati, berangkat keluar negeri kok naik omprengan Carry duduk berdesakan di kursi belakang. Tetapi omprengan ini berjalan sangat cepat. Menyusup kiri, kanan, melintas bahu jalan tol, menyalip dan mengerem dengan sangat berani. Hasilnya, pukul 18.00 aku sudah tiba di bandara. Empat jam sebelum jadwal penerbangan.

***
Penerbangan Garuda ke Thailand di tengah malam ini memang sepi. Hanya ada sekitar 30 penumpang di pesawat. Jadi sangat longgar. Tiap orang bisa duduk sendiri dalam baris tiga bangku. Bahkan masih banyak juga bangku yang kosong blong. Jadi, sebagian besar penumpang bisa beristirahat dengan baik.

Mendarat di Suvarnabhumi alhamdulillah tidak ada masalah dengan bagasi dan imigrasi. Semua berjalan lancar dan cepat.

Saat ke luar dari imigrasi ini saya hanya bawa uang dollah AS dan rupiah. Semula mau menukarkan uang di Jakarta untuk mengantisipasikemungkinan sulit mencari money changer di bandara Bangkok malam-malam, tetapi kursnya luar biasa rendah, 100 dollar AS hanya dapat 2.500 baht.

Maka saya pun mampir dulu ke money changer dekat pintu ke luar bandara Suvarnabhumi. Alhamdulillah 100 dollar AS masih dihargai 3.200 baht. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Selisihnya hampir 25%.

Lalu saya pun pergi ke tempat pemesanan taxi. Di meja petugas ada tulisan meter + toll payment + 50baht. Artinya penumpang bisa membayar biaya taxi berdasarkan argometer, ditambah tarif toll (entah berapa), ditambah lagi dengan 50 baht. Ini sesuai dengan kata temanku, K, wartawan The Nation Thailand yang saya tanya soal taxi lewat SMS.

Tetapi begitu masuk ke taxi dan saya minta menghidupkan meter, si sopir bilang bayarnya 400 baht sudah semua termasuk toll dan biaya lainnya. Karena sebelumnya saya sudah dapat informasi dari penyelenggara acara dan dari Na, wartawan The Bangkok Post, soal biaya taxi dari bandara yang katanya sekitar itu, saya bilang okay.

Pak sopir ini cukup ramah. Dia berusaha mengajak bicara dan menjalin kontak. Ketika saya sebut Jakarta dan Indonesia, dia langsung bilang banyak muslim di sana ya? Tetapi saya tetap saja masih ketar-ketir dengan pak sopir ini.

Lalu ngobrollah ke sana ke mari, omong antah berantah. Dan tiba-tiba saya melihat di bagian kaca depan bagian atas taxi ada tulisan bismillahi- rrahmani- rrahim dalam huruf Arab (huruf Al Quran). Itu tulisan yang besar dan dibacanya dari depan taxi (bukan dari sisi penumpang).

Saya tanya, apakah dia muslim, dia jawab iya. Lalu dia tanya balik dan saya jawab iya. Tiba-tiba dia bilang assalamu alikum. Alhamdulillah, lega lah saya. Hilang semua kecemasan saya soal taxi, soal kesasar, dan sebagainya.

Pak sopir ini mengaku bernama Sulaiman. Dia punya dua anak lelaki dan satu anak perempuan. Sulaiman berasal dari daerah sekitar Pattaya (saya lupa nama tempat yang di sebut).

Sepanjang perjalanan dia juga menunjukkan ini masjid ini, ini masjid itu, ini kawasan muslim, dan sebagainya. Ternyata banyak juga masjid di Bangkok ini.

Perjalanan sekitar 30 menit ke Hotel Grand Hyatt Erawan itu jadi terasa menyenangkan. Masuk hotel ada pemeriksaan sedikit oleh satpam. Pemeriksaan ketika masuk ke hotel ini mirip dengan di Jakarta tetapi di Bangkok hotel-hotel tidak dipasangi portal, hanya pembatas yang bisa digeser-geser, diangkat dan dijinjing.

Uniknya, pak sopir ini memberi saya kuitansi yang nilainya 450 baht. Dia bilang saya kasih kamu 450 baht. Tetapi ketika saya bayar dengan uang 500 baht dia kembalikan 100 baht. Pak Sulaiman ini ada-ada saja.

***
Check in berjalan lancar. Kartu kredit yang belum pernah satu kali pun saya pakai untuk transaksi di Indonesia, ternyata diterima dengan baik di Bangkok.

Jadi saya tidak perlu diposit dengan uang cash seperti waktu ke Australia dua tahun lalu. Hari itu pun bisa kuakhiri dengan tidur nyenyak di kamar 0714 Grand Hyatt Erawan, Bangkok. Alhamdulillah.

15 April 2008

Lebih murah di Bandung

Sabtu pekan lalu saya berjalan-jalan ke Istana BEC, Bandung. Cukup kaget melihat banyak sekali toko yang menjual Eee PC. Harga yang ditawarkan antara Rp4,1 juta-Rp4,25 juta untuk versi 4GB dengan webcam. Dalam paket penjualan itu ditambahkan case, screen protector, dan sebagainya, tergantung tokonya.

Adapun versi termurah dijual Rp2,9 juta untuk 2GB Surf. Akan tetapi saya hanya menemukan unit model ini di satu toko dan stoknya tinggal satu buah.

Hari ini saya mencoba jalan-jalan ke Ratu Plaza, Jakarta. Ada beberapa toko yang menjual Eee PC di tengah suasana gelap karena listrik mati. Tetapi, masya Allah, mereka menjual dengan harga yang begitu tinggi. Paling murah Rp4,6 juta. Bahkan ada yang mendekati Rp 5 juta.

Saya melanjutkan jalan-jalan ke Ambassador Mall, pusat penjualan komputer dan notebook untuk Jakarta. Banyak juga toko yang menjual Eee PC. Tetapi harganya tidak berselisih jauh dengan Ratu Plaza.

Bahkan ada pedagang di Ambassador yang dengan santainya mengatakan harga Eee PC Rp4,9 juta untuk versi 4GB. Adapun untuk versi 8GB, katanya, Rp7 jutaan. Dia mengatakan itu seolah-olah calon pembelinya itu orang yang sama sekali tidak tahu menahu tentang harga notebook (hehehe)

Sangat mengherankan. Bagaimana mungkin harga barang elektronik seperti notebook kok justru lebih murah daripada di Jakarta? Apakah ini soal daya beli? Maksudnya daya beli orag Jakarta lebih tinggi sehingga bisa membeli barang yang sama dengan harga lebih mahal?

Atau orang di Bandung dianggap lebih well informed, sehingga sulit ditipu dengan harga tinggi? Entahlah.

09 April 2008

Alternatif sederhana untuk mobile office

Saya punya alternatif sederhana untuk penerapan mobile office di perusahaan koran. Saya yakin ini solusi paling efektif dan efisien berdasar ukuran saat ini, khususnya untuk mobile reporting.

1. Semua awak redaksi (reporter dan editor sampai pemred) menggunakan Blackberry Internet Service. Tentu saja kantor lah yang harus membelikan.
2. Semua pengelola halaman tetap memperoleh PC desktop.

3. Jumlah PC desktop untuk reporter dikurangi secara bertahap sampai perbandingan ideal, misalnya 1:5, satu PC desktop untuk 5 orang.
4. Perusahaan memberi bantuan/kemudahan bagi reporter untuk memiliki alat komputasi yang lebih cocok, misalnya notebook kecil. Syukur-syukur kalau bisa sekalian membelikan.

5. Semua proses komunikasi berbasis Blackberry baik BB Messenger maupun email. Semua harus mendapat pelatihan mengenai penggunaan Blackberry sebagai alat yang optimal untuk membuat mendukung kerja.
6. Reporter mendapat pelatihan mengenai bagaimana mengoptimalkan semua channel komunikasi untuk pengiriman berita. Sekali lagi, semua channel.

7. Semua pengelola halaman mendapatkan pelatihan mengenai bagaimana mengoptimalkan semua channel komunikasi untuk menerima berita. Sekali lagi, harus bisa menerima.


Catatan:
1. Hanya reporter yang sudah jadi karyawan tetap, atau punya masa kerja tertentu, memperoleh Blackberry. Bagi reporter dengan usia agak lanjut pasti kesulitan mengetik semua berita dan feature dalam layar kecil. Untuk itu, tetap perlu ada PC desktop untuk bersama.

2. Kalau ada problem dengan email kantor terutama khawatir numpuk di server, migrasi saja ke Yahoogroups. Email di server terhapus otomatis setelah dua pekan atau periode tertentu.

3. Mungkin akan muncul guncangan besar dalam satu bulan pertama yang diikuti dengan riak-riak selama enam bulan berikutnya. Tetapi setelah itu saya yakin semunya jadi stabil, kembali normal dengan cara kerja baru.


Mengapa Blackberry perlu lebih diprioritaskan daripada notebook kecil?
1. Blackberry adalah alat akses komunikasi serba bisa. Bisa browsing, mudah setting, bisa SMS, email sangat powerful, punya keyboard QWERTY.
2. Sangat ringan dibawa-bawa. Sama sekali tidak membebani.

3. Bisa digunakan sebagai alat akses informasi yang sangat powerful. Misalnya mengakses banyak sekali mailing list, langganan RSS tertentu terkait bidang liputan/penguasaan.
4. Keren

Wallahu alam.

02 April 2008

Membayar telepon sesuai penggunaan saja?

Dilihat dari sisi konsumen, terdapat dua variabel yang menentukan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membayar jasa telekomunikasi seluler.

Variabel pertama adalah kuantitas penggunaan atau usage yang ditentukan oleh berapa sering pengguna melakukan panggilan telepon, berapa lama komunikasi berlangsung, berapa banyak SMS telah dikirimkan, serta berapa kb data yang dipakai.

Adapun variable kedua yaitu periode aktif. Bagi pengguna kartu prabayar, hal ini ditentukan oleh lamanya periode aktif setelah melakukan isi ulang pulsa. Adapun bagi pengguna pascabayar, hal ini ditentukan oleh abodemen atau batas penggunaan minimum yang harus dibayarkan setiap bulan.

Dalam pengumuman mengenai tarif promosi, umumnya operator telekomunikasi mengutak-atik masalah tarif yang tergantung usage.

Ada yang Rp600 sampai puas. Ada yang Rp480 sampai puas pada jam-jam tertentu di tengah malam. Ada juga telepon lima menit bayar dua menit, dan seterusnya.

Tetapi sangat sedikit yang benar-benar mengoptimalkan manipulasi periode aktif. Hal ini pernah dilakukan Indosat misalnya melalui Raja Voucher Panjang Umur. Utak-atik lain paling-paling menurunkan denominasi voucher pulsa menjadi semakin rendah, bahkan sampai Rp1.000 untuk sekali isi ulang.

Secara umum utak-atik semacam ini belum lazim dilakukan. Akibatnya, banyak orang yang memiliki usage rendah tetapi dia tetap harus membeli voucher isi ulang karena masa aktifnya sudah habis.

Memang bisa dipahami bahwa penentuan masa aktif itu digunakan oleh operator telepon untuk mempertahankan ARPU alias pendapatan per pelanggan.

Lalu, selama masalah periode aktif masih diberlakukan, bisakah kita benar-benar membayar biaya telepon sesuai dengan usage saja?

Dari sisi operator mungkin mengapuskan periode aktif ini repot karena nomor yang aktif tetap membebani jaringan. Mereka juga harus mencari cara untuk memperoleh justifikasi penghangusan kartu prabayar.

Tetapi benarkah bisa menetapkan tarif ke pelanggan semata-mata berdasarkan usage tanpa batas periode lagi? Benarkah?

31 Maret 2008

Mencari tas untuk notebook

Sejak kuliah saya menyukai tas. Ke mana-mana hampir selalu membawa tas. Kalau tidak membawa tas, rasanya kok seperti pendekar pedang yang ketinggalan pedang. Ada kehampaan dan perasaan tidak siap, tidak berdaya.

Sewaktu kuliah, tas yang saya suka adalah yang ukuran besar (bisa memuat kertas folio atau A4 tanpa terlipat), dan punya banyak saku. Hingga lulus kuliah saya tidak pernah menyukai tas punggung atau ransel. Saya berusaha selalu memilih tas yang dicantolkan ke salah satu bahu saya. (Mungkin ini menyebabkan beban bahu saya tidak seimbang, karena bagian kanan terlalu sering menyangga tas, hehehe)

Sejak menjadi wartawan saya mulai menyukai tas punggung. Tas yang saya suka itu tidak terlalu besar karena fisik saya juga tidak terlalu besar, dan kurus pula. Selain itu, tas harus bisa dicantolkan di dada (bukan punggung) untuk mengantisipasi risiko kecopetan dalam angkutan umum maupun di pusat keramaian.

Tas yang saya suka adalah yang punya banyak saku. Saya harus membawa tape recorder, notes dan pulpen, PDA, ponsel, dompet, serta sedikit kartu memori. Kadangkala harus membawa jaket atau sweater. Selain itu, tas perlu saku khusus guna menampung uang receh untuk pembayaran angkot, bus serta transaksi ringan seperti beli koran, majalah, atau minuman.

***
Sejak memiliki Eee PC dan ingin membawa-bawa notebook, saya jadi kepikiran lagi mengenai tas. Secara umum, tas yang saya inginkan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut

Aspek fisik:
Berbentuk tas punggung (lebih baik kalau bisa juga menjadi tas samping); Ukuran jangan terlalu besar (sesuai dengan ukuran fisik saya, harus tetap pantas untuk disandang di dada); Bahan harus mampu menahan guncangan ringan serta hujan kecil; Dalam keadaan kosong harus ringan; Terbagi dalam minimal dua kompartemen

Bagian luar:
Ada saku untuk receh; Ada tempat untuk wadah payung dan atau botol minuman; Ada tempat untuk notes dan pulpen; Ada tempat untuk kotak kartu nama.

Bagian dalam:
Ada tempat khusus untuk notebook, charger serta mouse; Ada tempat untuk dompet; Ada saku-saku untuk PDA, pemutar MP4, kabel data, dan kabel lainnya.

Tentu saja saya berharap bahwa harga jualnya masih di bawah Rp200.000. Kalau tas yang yang mahal-mahal sih sudah banyak yang sesuai harapan. Yang harga murah ini yang belum banyak.

30 Maret 2008

Akses Internet Rp600 sampai puaasss?

Sekitar lima atau enam tahun lalu, saat ada diskusi hangat mengenai kenaikan tarif telepon (Telkom), muncul beragam alternatif 'aneh' cara perhitungan tarif telepon yang diajukan masyarakat melalui berbagai mailing list.

Saat itu jumlah sambungan telepon saluran tetap (yang tidak banyak beranjak dari 8 juta itu) masih lebih besar dibandingkan dengan jumlah pengguna seluler. Skema tarif yang umum diterapkan masih berbasis pulsa. Tarif seluler yang berbasis detik, apalagi dengan cara perhitungan berdasarkan menit ke sekian dan semacamnya, belum dikenal.

Salah satu usulan yang saya ingat ketika itu adalah biaya akses Internet yang tidak didasarkan pada durasi waktu maupun volume data. Ada yang usul, dalam sebuah milis, agar tarif Internet itu sekali akses sekian rupiah, tidak peduli berapa lama mengakses dan berapa data yang diakses. Saya yakin kala itu tidak ada yang menganggap serius ide semacam itu.

Belakangan sistem tarif operator seluler sangat beragam. Hal tersebut tidak lepas dari kecanggihan billing system yang mereka pakai yang memungkinkan operator membuat beraneka ragam sistem perhitungan tanpa mengganggu pendapatan secara keseluruhan.

Salah satu skema yang sangat menarik adalah tarif yang ditetapkan XL untuk panggilan kartu Bebas ke sesama XL yaitu sebesar Rp600 sampai puas.

“Sampai baterainya habis hanya Rp600,” kata salah satu pejabat XL dalam sebuah diskusi pagi hari di televisi.

Nah, ini dia. Menelepon sampai puas dengan Rp600. Apakah ini mungkin diadopsi untuk tarif Internet? Mungkinkah kita mengakses Internet dengan biaya Rp600 sampai puass?

Secara teoritis mestinya bisa. Misalnya kita pakai sambungan dial up dengan server yang juga menggunakan kartu XL.

Memang mesti disadari bahwa akses dial up GSM itu kan kecepatan teoritisnya sangat rendah, sekitar 14kbps (lebih rendah dari GPRS yang lambat itu). Toh kecepatan segitu sudah memadai kalau sekadar chatting.

Masyarakat bisa menghemat sangat banyak kalau ada layanan semacam ini. Tentu dengan catatan koneksi tidak drop alias disconnected. Untuk menghindari terputusnya sambungan, pengakses sebisa mungkin berada di satu tempat, tidak bergerak atau berpindah dengan kecepatan tinggi.

Katakanlah tarif Rp600 sekali akses itu terlalu murah. Apalagi akan banyak yang berusaha 'mantheng' sambungan terus menerus selama berjam-jam, bahkan puluhan jam. Maka, bisa saja dibuat kebijakan tarif yang lebih masuk akal, misalnya Rp10.000 sampai puas, atau Rp5.000 selama dua jam (hampir sama dengan tarif warnet).

Kalau akses dia up dipandang kurang manusiawi (masak zaman 3G kok masih pakai dial up GSM, hehe), mungkin operator seluler bisa membuka jalur GPRS-nya. Pengguna tinggal REG, dipotong Rp5.000, dapat username dan password yang berlaku selama 2 jam, misalnya.

Atau bahkan tidak perlu username dan password, pokoknya pengguna bisa login ke Internet dalam periode dua jam sejak pertama kali memasukkan registrasinya. (Dalam hal ini tetap harus ada cara perlindungan bagi konsumen untuk mengatasi kemungkinan pembayaran ganda gara-gara disconnected sebelum batas dua jam terlampaui yang disebabkan kualitas jaringan yang buruk).

Masuk akalkah hal semacam itu diterapkan? Kita tunggu saja. Wallahu 'alam

27 Maret 2008

Software Eee PC kurang andal

Saya mengalami dua peristiwa menyebalkan dengan Eee PC dalam satu hari kemarin.

Pertama, terjadi di kantor, saya gagal mengakses Wi-Fi. Biasanya mengakses Wi-Fi bisa berjalan dengan lancar dan mudah. Tetapi kali itu saya coba berulang-ulang kok gagal terus. Yang muncul adalah koneksinya PENDING terus. Padahal orang-orang lain dengan komputer lain tidak mengalami kendala mengakses Wi-Fi.

Ternyata, usut punya usut, Eee PC ini butuh restart. Saya matikan, lalu copop baterai sebentar, nyalakan lagi. Eh, bisa deh nyambung lagi ke Wi-Fi kantor. Alhamdulillah.

Peristiwa begini, yaitu peranti membutuhkan restart, sebenarnya biasa saya alami pada PDA Ipaq yang memakai software Windows Mobile. Tetapi ini terasa menyebalkan terjadi pada Eee PC.

Masalah kedua terjadi malam harinya di rumah. Awalnya saya menggunakan Eee PC untuk mengetik. Sampai selesai satu tulisan (tentang notebook layar tegak) tidak ada masalah.

Lalu saya berusaha memindah file-file foto dari sebuah kartu SD kamera digital. Ketika proses copy, rename, pindah ke folder, tidak ada masalah serius, hanya terasa rada lambat. Tetapi ketika harus membuka file foto (farewell party seorang teman), lalu berusaha mencari menu resize, Eee PC mulai ngambek. Lalu diam.

Saya bisa membuka menu lain seperti home dkk, tetapi akses file gambar tetap bengong. Lama-lama macet semua. Saya mengambil kesimpulan perlu melakukan restart seperti kejadian dengan Wi-Fi siang harinya.

Saya pencet Ctrl+Alt+Del. Maka matilah ini Eee PC. Lalu saya copot baterai. Sialnya, ketika saya nyalakan lagi, Eee PC tetap bengong. Proses booting lama, bahkan berhenti. Macet.

Saya tekan tombol power. Eee PC mati lagi, saya copot baterai. Ketika saya nyalakan, muncul masalah yang sama. Booting macet. Lagi-lagi saya matikan, copot baterai, nyalakan lagi. Kembali lagi macet. Frustasiii deh.

Berhubung waktu itu sudah lewat jam 12 malam, saya tekan power, copot baterai, lalu pasang lagi, tetapi tidak saya nyalakan. Saya tinggal tidur. Saya biarkan USB flash disk, kartu memori, tas, charger dkk berantakan di sekitar Eee PC.

Paginya, ketika saya coba hidupkan, alhamdulillah bisa beroperasi normal. Eee PC bisa digunakan untuk mengetik kembali. Tetapi saya belum berani buka-buka dan coba mengedit foto lagi, hehehe.

Aduh, kenapa ya, Eee PC ini kok kurang andal. Apakah saya memaksanya bekerja terlalu keras? Setahuku PDA Ipaq 4350-ku masih bisa menangani editing file foto dengan lebih cepat dan lebih gampang. Mungkin spec (keterbatasan hardware yang lalu diikuti keterbatasan software) Eee PC ini memang terlalu minimalis. Jangan berharap terlalu banyak dulu deh, hehehe.

Ingin notebook layar tegak

Saya punya dua notebook yaitu Toshiba Satellite dan Eee PC. Dua-duanya menggunakan layar yang mendatar (landscape) dan masuk dalam kategori layar lebar. Layar lebar artinya lebar layar lebih dari 4/3 tingginya.

Ketika menggunakan Toshiba Stellite yang diameternya 14 inchi, saya tidak merasa mengalami masalah dengan posisi layar. Mungkin karena secara keseluruhan layar itu sudah sangat lebar bagi saya. Intinya, ketinggian layar sudah memadai juga.

Tetapi ketika saya sering menggunakan Eee PC dengan diameter 7 inchi, soal posisi layar ini mulai menjadi persoalan.

Posisi yang mendatar, sementara bagian atas dari layar masih dijejali dengan deretan menu, toobar dan kawan-kawannya, membuat layar yang ukurannya kecil ini tampak semakin melebar ke samping. Ini terasa kurang nyaman untuk mengetik, copy/paste lintasfile, maupun ketika menampilkan gambar (foto).

Saya pikir akan lebih menyenangkan kalau layar pada perangkat kecil macam Eee PC ini ditempatkan tegak (portrait) saja.

Bisa jadi masalah ini hanya terjadi pada saya karena soal kebiasaan. Saya belum terbiasa dengan layar melebar. Lha gimana, layar desktop saya yang 17 inchi di kantor itu masih menganut perbandingkan tinggi dan lebar 3:4.

Mungkin juga karena saya kebanyakan nonton TV yang layarnya belum lebar. Atau karena sudah empat tahun saya menggunakan PDA dengan layar portrait. Beberapa smart phone yang pernah kupunyai juga menggunakan layar tegak. (Mungkin kejadiannya agak berbeda kalau saya penggemar Nokia Communicator yang terbiasa dengan perangkat berlayar sangat melebar ke samping)

Hemat saya, layar yang tegak akan lebih nyaman untuk mengetik dan hal lain yang berurusan dengan teks. Itu karena bentuk hard copy teks yang kita kenal kebanyakan tegak.

Perhatikan saja koran yang posisinya tegak dengan kolom-kolom sempit yang membujur begitu. Hal yang sama juga kita temukan pada desain majalah. Begitu pun buku, yang hanya memiliki satu kolom, umumnya juga berdesain tegak, bukan mendatar.

***
Setahu saya, notebook dengan desain layar tegak belum tersedia di pasaran. Yang sudah tersedia adalah smartphone dengan layar yang bisa diubah dari portrait ke landscape dan sebaliknya. Mungkin hal yang sama juga terjadi pada tablet PC.

Hal itu tidak bisa dilepaskan dari desain keyboard. Desain papan ketik QWERTY memang dari 'sononya' sudah melintang mendatar begini. Jadi kalau notebook dibuat dengan layar portrat, harus mengorbankan posisi keyboard. Untuk notebook dengan ukuran layar 7 inchi tegak, keyboardnya harus lebih kecil dibandingkan dengan notebook 7 inchi landscape seperti yang populer saat ini.

Agaknya masih sulit mengharapkan pembuat notebook mengakomodasi notebook dengan layar portrait. Paling-paling yang akan dilakukan adalah inovasi posisi layar agar bisa diputar antara portrait dan landscape. Layar putar sudah banyak tersedia, tetapi tidak untuk mengadopsi penyatuan dengan papan ketik.

Posisi layar tegak juga kemungkinan besar tidak cocok untuk nonton film yang memang didesain untuk layar lebar. Layar tegak lebih cocok untuk penanganan teks, seperti kerjaku sehari-hari.

Jadi, yang lebih realistis barangkali adalah saya harus menyesuaikan diri dengan layar lebar. Sudahlah, jangan terlalu banyak berharap dengan notebook layar tegak, hehehe.

24 Maret 2008

Susahnya mencari panduan beli notebook

Mencari panduan untuk membeli ponsel saat ini sangat mudah. Ada belasan tabloid dan majalah yang menyajikan informasi sangat memadai mengenai ponsel.

Informasi mengenai spesifikasi ponsel, kapan dikenalkan ke pasar, berapa harga baru, harga bekas, harga pekan ini dibandingkan dengan pekan/periode sebelumnya, dan sebagainya.

Dan semua informasi itu sifatnya up-to-date, bisa langsung dibuktikan ke pusat perdagangan ponsel, dan terbukti cukup akurat. Artinya, ada link yang kuat antara apa yang disampaikan dalam media mengenai ponsel itu dengan apa yang ada di pasar. Bahkan sebagian di antaranya bisa mempengaruhi pasar itu sendiri.

Sistematika pengelompokan data ponsel dalam tabloid atau majalah itu juga umumnya sangat mudah dimengerti. Intinya, apa yang tersedia sudah sangat membantu lah.

***
Hal yang berbeda terjadi untuk produk notebook. Saya sendiri bingung kalau ditanya orang mengenai notebook apa yang perlu dia beli dengan anggaran sekian dan spesifikasi begini serta begitu.

Tidak banyak notebook yang seterkenal Asus Eee PC atau Zyrex Ubud. Kebanyakan yang lain hanya diidentifikasi dengan kelompoknya, misalnya Sony Vaio, Toshiba Satellite, Toshiba Portege. Dalam kelompok itu masing-masing, ada berbagai jenis dengan spesifikasi dan rentang harga yang lumayan jauh. Lebih repot lagi sulit untuk memastikan apakah tipe ini dan itu masih ada di pasaran atau tidak.
Contohnya, saya mengalami kesulitan untuk memastikan Toshiba Satellite tipe apa saja yang saat ini dijual di pasar dan berapa harganya.

***
Ada sejumlah majalah yang memuat informasi mengenai produk TI. Tetapi kebanyakan tidak spesifik mengenai notebook. Info Komputer kadang menyajikan ulasan utama mengenai notebook. Tetapi sifatnya tidak kontinu dan tidak bisa dipastikan kapan laporan utama mengenai produk itu akan ditampilkan. Begitu pun dengan majalah lain yang tidak spesifik mengulas notebook.

Tadi pagi saya menemukan majalah baru, namanya Laptop. Ini baru edisi kedua dan dibuat oleh kelompok usaha Gramedia. Majalah ini sudah mendekati harapan. (Mirip dengan majalah PDA Made Easy yang sudah punah, tidak ada kejelasan periode penerbitannya).

Majalah Laptop menyajikan informasi terbaru dan bermanfaat terkait dengan notebook. Di dalamnya ada informasi-informasi dasar bagi pengguna baru notebook.

Tetapi ada sedikit masalah terkait dengan koneksinya ke pasar. Maksudku, informasi mengenai notebook jenis apa yang tersedia di pusat penjualan notebook di Jakarta serta berapa harganya tidak tersedia.

Contoh konkretnya. Ada informasi mengenai notebook 7 inchi buatan Packard Bell yang dijual seharga Rp7 juta. Padahal di sini, produk dengan spesifikasi yang sama dijual oleh Zyrex dengan nama Ubud, seharga Rp5 juta. Kalau mau beli versi Packard Bell di mana tempatnya juga tidak jelas.

Padahal informasi mengenai notebook 7 inci kan saat ini lagi hangat-hangatnya. Lagi banyak yang butuh, apalgi menengok keberhasilan Asus Eee PC. Lha kepriye jal.

***
Jadi, kesimpulan sementara saya, mungkin masih ada celah (walaupun kecil) untuk menyajikan informasi mengenai panduan membeli notebook (entah apa bentuknya, majalah, tabloid, suplemen koran, atau halaman khusus periodik) bagi para pembaca.

Namun demikian, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan untuk membuat media mengenai panduan pembelian notebook.

Pertama, harus punya dukungan lab (untuk test) dan sumber daya manusia dengan kemampuan pengetahuan teknis yang kuat. Kedua, harus punya akses vendor yang baik untuk memperoleh akses mengetes produk-produk terbaru.

Ketiga, punya akses pasar yang kuat. harus bisa menyediakan informasi real time mengenai kondisi pasar notebook barudan notebook bekas. Ini yang belum tersedia pada media yang sudah beredar di pasar. Info tentang notebook bekas ini masih sangat minim, padahal menantang.

Selain itu, pasar untuk panduan notebook tidak sebesar ponsel. Tetapi pasarnya adalah kalangan menengah atas yang memang butuh panduan tertulis. Seiring booming low cost ultraportabel notebook, mungkin pasar akan meluas dan membesar. Penjualan mungkin bisa dilakukan melalui kerja sama dnegan para penjual notebook di pusat penjualan notebook

Kelima, periode penerbitannya tidak bisa sekerap panduan ponsel. Dalam hal konten, klasifikasi dan sistematika pemampangan produk dan infornya harus jelas. Ini akan membantu memberi kemudahan bagi pembaca.

Tetapi sangat jelas bahwa membuat panduang mengenai laptop jauh lebih sulit daripada panduan mengenai ponsel. Di sisi lain, pasarnya lebh kecil. jadi, tantangannya lebih berat. Sudah banyak yang membuktikan bahwa membuat media informasi TERSENDIRI mengenai komputer, seperti PC Magazine dkk, tidak sukses.

Wallahu a’lam

Saatnya PDA mati

Pasar PDA booming di Indonesia sekitar 2002-2004. Saat itu, Ipaq dari Hewlett Packard mendominasi pasar PDA di Indonesia melalui berbagai tipe yang sangat populer, khususnya 2210.

Ketika itu, PDA menjadi alat komputasi bergerak yang paling terjangkau, memenuhi berbagai kebutuhan dasar sebagai alat untuk akses Internet, pengelola PIM dan sinkronisas ke PC, serta dapat di-install berbagai aplikasi terpenting.

Bobotnya sangat nyaman untuk dibawa (di bawah 500 gram termasuk case dan charger), memiliki layar sentuh, dapat dihubungkan ke ponsel baik untuk mengirim/menerima SMS ataupun mengakses Internet. Dapat juga dihubungkan dengan akses point Wi-Fi, perangkat GPS, atau bahkan dengan CF yang membuatnya berguna sebagai ponsel.

Kelemahan PDA ada pada keterbatasan dalam input data. Perangkat ini membutuhkan papan ketik eksternal untuk data digunakan sebagai alat ketik yang nyaman. Keterbatasan lain adalah sarana koneksinya yang umumnya mengandalkan hubungan nirkabel. Tidak bisa mengakses LAN kabel, tidak bisa dihubungkan degan flash disk yang murah, sulit disambungkan ke printer, menjadi keterbatasan yang kadangkala mengganggu optimalisasi PDA.

Belakangan PDA mendapat serbuan dari dua sisi. Sisi pertama adalah ponsel yang semakin cerdas. Sisi kedua adalah notebook ultraportabel yang semakin murah.

Kemampuan pengelolaan PIM, akses Internet secara nirkabel, kemampuan komunikasi teleponi, sepenuhnya digantikan oleh ponsel atau PDA-phone. Sayangnya, harga untuk PDA-phone umumnya masih Rp1-Rp3 juta di atas harga PDA sekelas (tanpa kemampuan teleponi).

Harga PDA ketika itu berkisar antara Rp2 juta dan Rp5 juta. (Bahkan Sony Clie yang termahal dijual degan harga Rp6 juta pada 2004, Ipaq 2210 yan dilengkapi CF dan antena seluler dihargai hampir Rp7 juta). Adapun harga PDA-phone saat ini sekitar Rp3 juta (tanpa layar sentuh) sampai Rp8 juta.

Serangan lain berasal dari notebook ultraportabel yang juga ultramurah. Contohnya adalah Eee PC, Intel Classmate, serta Zyrex Ubud. Harga perangkat ini tidak jauh dari kisaran harga PDA dua tahun lalu, yaitu antara Rp3 juta dan Rp5 juta.

Notebook menjanjikan kenyamanan dalam input data baik melalui papan ketik maupun layarnya yang lebar. Selain itu, kemudahan koneksi melalui USB, kabel LAN, Wi-Fi, menjanjikan fleksibilitas pemanfaatan yang sangat luas.

Selama ini, menghadapi serbuan ponsel cerdas yang semakin powerful saja PDA (stand alone) sudah keteteran. Pasarnya terus turun. Bagaimana lagi menghadapi low cost ultra portable notebook?

Tampaknya sekarang ini benar-benar menjadi saat matinya PDA (stand alone). Wallahu a’lam

16 Maret 2008

Workshop TI untuk wartawan?

Ide mengenai perlunya workshop TI untuk wartawan ini dilontarkan oleh Pak Suryatin (mantan direktur Telkom) ketika kami ngobrol mengenai kesulitan-kesulitan teknis yang dihadapi wartawan ketika berhadapan dengan perangkat TI.

Wartawan, media apa pun, adalah orang yang dituntut untuk bisa mengirimkan dan menerima konten informasi/berita secepat mungkin. Jadi, wartawan mestinya adalah orang yang sangat akrab dengan teknologi pengiriman dan penerimaan pesan terbaru. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Problem yang sering saya temui di kalangan wartawan antara lain: kesulitan setting email dalam ponsel, tidak tahu masalah dan cara pemecahan ketika ada trouble dalam pengiriman berita, tidak bisa setting/akses wi-fi, tidak bisa memindahkan data dari ponsel ke komputer, tidak tahu bagaimana menggunakan ponselnya sebagai alat penerima berita dari reporternya.

Hal-hal lain yang sebenarnya bisa digunakan sebagai cara optimalisasi teknologi untuk meningkatkan kualitas keluaran kerja tetapi belum dimanfaatkan, misalnya kamus online, pesan instan, fasilitas penyimpanan online, pencarian data, dan sebagainya.

Saya pikir ada sejumlah tema yang perlu dibahas khusus dalam suatu workshop TI untuk wartawan. Ketika sebuah institusi media menetapkan rencana mobile office maka wartawan pada institusi yang bersangkutan harus sudah dibekali beberapa kemampuan dasar. Mereka perlu kemampuan untuk memberikan ‘pertolongan pertama’ kepada diri sendiri ketika berada di luar kantor.

Jadi, secara umum, mereka perlu tahu:

1. Cara terhubung ke Internet
a. Setting GPRS pada ponsel
b. Ponsel sebagai modem notebook atau PDA
c. Setting dan akses Wi-Fi

2. Pengiriman dan penerimaan berita
a.Membuat account email POP3 dan web based
b.Setting dan akses email pada ponsel
c.Setting dan akses email melalui notebook
d.Setting dan akses pesan instan (YM, Gtalk, dan aplikasi pihak ketiga)

3.Menerima dan memindah pesan
a.Mengubah SMS menjadi file tersendiri tanpa mengetik ulang
b.Memindahkan file/data/SMS dari ponsel ke PC/notebook
c.Konversi data dari file non-Word (pdf, txt, ppt...) menjadi Word
d.Memindahkan file foto dari kamera/ponsel ke komputer

4.Mengoptimalkan fitur yang tersedia di Internet
a.Fasilitas penyimpanan di Google dan Yahoo
b.Kamus online, translater dan KBBI
c.Newsletter dan milis terkait profesi, interes, atau bidang liputan
d.Situs2 berita, kantor berita, dan sumber-sumber informasi tepercaya

Pengguna Blackberry butuh push newspaper

Pengguna Blackberry bisa mengakses email dengan sangat mudah, sama dengan mengakses SMS. Mereka tida perlu melakukan apa pun agar informasi-informasi melalui email sampai ke dalam genggaman. Jika mereka berlanganan mailing list (berapa pun banyaknya sesuai kebutuhan, interes, atau keinginan), semua informasnya dapat langsung masuk dan dibaca setiap waktu.

Tetapi ada sedikit hal yang mereka (para pengguan Blackberry itu) belum bisa dapatkan, yaitu informasi (seperti berita) yang sifatnya didorong ke alamat email mereka. Semacam newsletter tetapi yang kandungannya sama dengan atau mirip dengan koran.

Mengapa mereka membutuhkan itu? Saat ini, kebanyakan mereka menggantungkan perolehan informasi pada perangkat genggamnya. Nah, ketika mereka berpindah-pindah, melakukan perjalanan ke berbagai lokasi, seringkali males atau tidak sempat membawa koran edisi cetak.
Mereka bisa saja mengakses melalui situs web. Tetapi itu agak ‘berlawanan dengan ideology Blackberry’ yang serba push. Mengakses situs web itu butuh usaha tersendiri. Dan karena konten web biasanya kaya (akan iklan dan flash), proses akses sering menjengkelkan (kecuali mengakses RSS. RSS pun masih butuh usaha, meskipun lebih nyaman daripada browsing biasa).

Saya sering ke Bandung di akhir pekan. Biasanya berangkat Kamis malam atau Jumat pagi. Begitu meninggalkan rumah dan kantor, langsung kehilangan kontak dengan koran langganan yang biasa dikirimkan ke rumah.
Kalaupun saya membeli koran di bandung, pengennya ya koran lokal. Padahal di sisi lain saya tetap butuh koran Jakarta untuk update berbagai informasi terbaru sebelum saya tiba kembali ke Jakarta pada Minggu siang.

Saya berasumsi bahwa banyak pengguna Blackberry yang membutuhkan hal serupa. Mereka ingin resume dari isi koran langganannya itu bisa di-push ke perangkat genggamnya seperti halnya newsletter yang dilanggani. Jadi, pagi-pagi tidak perlu cari koran, informasi sudah tersaji dalam salah satu mailboxnya.

Alangkah nyamannya kalau Bisnis, Kompas, dan PR bisa menyediakan layanan push newspaper bagi pengguna Blackberry…

Catatan:
Satu koran kontennya banyak, bisa dipilah-pilah, satu email berisi satu rubrik. Berlangganan bisa seluruhnya, bisa per rubrik. Bayar sama dengan DetikWAP (terutama untuk pelanggan koran edisi cetak, sebagai nilai tambah saja)

13 Maret 2008

Televisi dalam genggaman

Saya baru benar-benar merasakan televisi dalam genggaman ketika mencoba My-G 660.

My-G merupakan satu dari banyak merek lokal Indonesia yang ditempelkan pada produk buatan China. Jadi, secara umum kita bisa berasumsi bahwa ini merupakan salah satu dari berbagai model ponsel televisi yang sedang marak belakangan ini.

Susunan menu pada perangkat ini agak aneh. Urutan dan pengelompokannya tidak seperti ponsel-ponsel buatan Eropa atau vendor terkemuka lain. Susunan menu ketika perangkat ini dipasangi kartu SIM juga berbeda dengan susunan menu ketika tidak ada kartu SIM. Secara umum menu masih mudah dipahami.

Tetapi setelah beberapa hari saya masih kebingungan bagaimana mengubah wallpaper serta tampilan dan suara ketika start dan shut down.

Susunan papan kunci (keypad) juga terasa aneh. Ada bulatan navigasi di tengah yang membuat susunan keypad jadi terkesan berantakan. Pada baris pertama ada angka 1 2 3 4, baris kedua hanya 5 6, baris ketiga 7 8, baris terakhir ada 9 * # 0. Untuk orang yang gemar dan terbiasa berkirim SMS dengan HP buatan Eropa, pasti akan kebingungan dengan susunan tombol seperti My-G 660 ini.

Kejutan menyenangkan yang saya temukan pada wadah adalah kelengkapannya. Terdapat dua baterai, satu charger yang pakai model colokan USB, serta satu charger eksternal yang dapat digunakan untuk mengisi baterai cadangan. Ada juga charger mobil. Sangat mewah dibandingkan kelengkapan ponsel buatan vendor Eropa.

Konektor yang tersedia pada perangkat ini merupakan konektor serbaguna. Bisa digunakan untuk charging, sambungan ke komputer, maupun sarana untujk menyambung ke earphone yang telah disertakan.

Tetapi buku panduan yang disediakan sangat tidak membantu. Ada satu konektor yang saya tidak tahu harus dihubungkan ke mana, apakah sebagai output ke televisi, input dari pemutar DVD, atau sambungan ke antena. Saya coba-coba tidak ada yang klop. Saya cari di buku panduan tidak ketemu.

Fitur yang paling ditonjolkan dalam produk ini adalah akses televisi analog. Menonton TV tanpa kehilangan pulsa, slogan mereka.
Daya tangkap siaran televisi ini bagus juga. Lumayan untuk sebuah perangkat bergerak yang tanpa antena luar. Proses pendeteksian sinyal otomatis pada awal setting perangkat juga berlangsung cepat.
Suara yang muncul sangat nyaring. Gambar relatif bagus.

Kalau semula kita terpaku pada posisi televisi di sudut tertentu dalam rumah, maka dengan televisi semungil ini, tidak ada lagi ikatan posisi. Kita bisa 'mendengarkan' televisi di mana saja. Di kamar tidur, kamar mandi, sambil masak, sambil menunggu angkutan umum dll. Pokoknya menjanjikan pengalaman baru bertelevisi deh.(Tapi masih ada sedikit ganjalan: apakah nonton/mendengarkan TV banyak gunanya)

Sebenarnya dalam perangkat ini tertanam juga fitur radio FM, pemutar MP3, MP4, kamera, perekam suara dan sebagainya. tetapi saya malas mau mencoba-coba.

Kayaknya para produsen asal China ini berusaha memasukkan semua fitur elektronika dan multimedia ke dalamponsel sebagai nilai tambah agar mampu bersaing dengan vendor Eropa di samping menonjolkan keunggulan dalam hal harga. Selamat deh untuk inovasi manufaktur China.

Gadget paling berpengaruh

Terdapat setidaknya empat gadget yang paling berpengaruh dalam membangun 'ideologi mobile' pada diriku. Empat perangkat itu meliputi Sony Ericsson P800 (2002), Hewlett Packard Ipaq 4350 (2004), Research In Motion Blackberry (2007), serta (mudah-mudahan) Asus Eee PC (2008).

Sony Ericsson P800 memberikan pelajaran bagaimana integrasi antara komputasi dengan seluler terjadi. Memberikan gambaran yang nyata mengenai masa depan teknologi seluler (ketika itu). Memberikan gambaran konkrit mengenai hal-hal apa yang bisa dilakukan oleh/dengan sebuah perangkat komunikasi bergerak yang digabungkan dengan komputasi bergerak.

Ipaq 4350 merupakan perangkat yang paling lama menemani kehidupan mobile-ku. Sama sekali tak tergantikan selama lebih dari empat tahun. Memberikan perpektif mengenaiperangkat komputasi mungil yang powerful.

Perangkat yang bisa dikawinkan dengan beragam aksesoris dan perangkat lain seperti keyboard, modem, ponsel, penerima GPS, dan sebagainya. Bisa melakukan banyak sekali hal menarik dan berguna dalam bentuk yang dalam kurun empat tahun lalu termasuk ideal.


Adapun RIM Blackberry beserta BIS benar-benar mewujudkan sebagian besar dari impian mengenai mobile communication yang telah kupelajari dari Sony Ericsson P800 dan Ipaq4350.
Fitur push e-mail, always connected, instant messaging, browsing etc merupakan hal impian yang hanya sekali-kali bisa dinikmati melalui P800 dan Ipaq 4350. Dengan Blackberry, hal ini bisa dinikmati kapan saja di mana saja. Praktis tanpa batas waktu dan tanpa kecemasan mengenai tagihan dan semacamnya.

Asus Eee PC menambal banyak keterbatasan koneksi fixed dari Ipaq 4350,menambal kekurangnyamanan dalam input text pada Ipaq (yang sebenarnya sudah jauh lebih nyaman dibandingkan perangkat seangkatan lainnya), serta mengajarkan padaku mengenai pentingnya sebuah notebook. FYI, saya sudah punya notebook berat dan serius sejak setengah tahun yang lalu, tetapi Toshiba Satellite itu kurang impresif.

Perangkat sepeti Eee PC ini merupakan impianku sejak lima tahun lalu. Digabungkan dengan Blackberry, kedua perangkat ini akan menjadi senjata mobilitas yang sangat tangguh. Sangat sulit mencari alasan untuk 'tidak bisa terhubung' ketika menggunakan dua perangkat ini secara bersama-sama.

Uniknya lagi, semua yang melihat Eee PC ini langsung terpesona. Dan begitu saya kasih tahu harganya, semua jadi pengen beli.

03 Maret 2008

Eee PC bermasalah

Hal yang tidak menyenangkan terjadi pada hari ke-10 penggunaan Eee PC ini. Perangkat buatan Asus ini tiba-tiba tidak bisa membuka file dari segala jenis memori eksternal.

Saya mencoba menggunakan kartu MMC, SD, berbagai jenis USB flash disc. Semuanya bisa dideteksi tetapi perangkat ini tidak bisa membuka file di dalamnya. Ini sungguh menyebalkan dan agak membingungkan.

Saya mencoba reset ke setting awal seperti yang tertera pada buku petunjuk, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Problem tetap terjadi. Mau format memori dan install ulang semua tidak bisa karena tidak punya pembaca cakram optik eksternal.

Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah membawanya ke service center masterdata, distributor Asus di Indonesia. Kesimpulannya, masalah ada pada peranti lunak, bukan peranti keras.

Sayangnya, peranti lunak tidak termasuk dalam garansi. Jadi harus ada biaya yang dikeluarkan. Alamaak, naik Rp100.000 deh harga perangkat ini.

Saya tidak habis pikir bagaimana sistem operasi pada perangkat ini begitu rapuhnya sehingga bisa corrupted pada fungsi yang begitu pentingnya.