23 Juni 2008

Naik kereta api: Yang miskin harus berbagi


Jumat malam hingga Senin pagi ini saya gunakan waktu untuk mengunjungi keluarga dan kerabat di Tulusrejo, Kutoarjo, serta Purwokerto.

Ini adalah akhir pekan di saat liburan sekolah. Jadi wajar jika jumlah penumpang membeludak. Saya coba beli tiket Jumat malam di loket sudah habis. Begitupun pas kembali. Saya mencari tiket untuk Minggu malam (pada Sabtu siang) juga sudah tidak ada. Akhirnya saya beli lewat calo yang menjual tiket tidak sampai 10 meter di depan loket. Tidak ada lagi tiket kelas eksekutif untuk Sawunggalih Utama ini, jadi pulang pergi saya naik kelas bisnis dengan tarif resmi Rp70.000.

Saat berangakt dan pulang kereta dalam keadaan penuh sesak. Banyak orang yang naik tanpa tempat duduk. Mereka berdiri dan duduk di sembarang tempat, di dekat pintu, di WC, serta di sela-sela kursi milik penumpang yang punya tempat duduk. Saya bahkan sampai sama sekali tidak bisa meluruskan kaki karena ada orang tidur tepat di depan kakiku. Dia tiduran di situ sama sekali tidak berpindah sepanjang berjalanan dari Purwokerto ke Jatinegara.

Kondisi semacam ini jelas berbeda dengan gerbong kelas eksekutif. Di kelas eksekutif, jarak antarkursi relatif lebih lebar. Tetapi orang tanpa tempat duduk justru tidak diperkenankan untuk masuk ke gerbong di mana ada tempat penumpang bertempat duduk. Di sini ada kejelasan hak kursi bagi penumpang yang memiliki nomor tempat duduk itu.

Di kelas bisnis tidak ada batasan itu. Hak pemilik kursi ya hanya pada kursinya. Dia tidak punyak hak terhadap kolong dan ruang di sekitar kursi. Bagi penumpang kelas ekonomi lebih parah lagi. Hak atas kursi pun ditentukan oleh siapa yang duduk di situ terlebih dahulu. Selebihnya aturannya sama dengan kelas bisnis.

Jadi, dalam aturan Kereta Api Indonesia, orang-orang paling kaya dan mapan punya otoritas yang dilindungi untuk mempertahankan haknya sebebas dan seluas mungkin. (bahkan di saat Lebaran, di mana penumpang kereta di kelas lain endeng-endengan seperti sarden, penumpang kelas eksekutif tidak merasakan kepadatan mudik Lebaran di dalam gerbong).

Sementara itu, penumpang yang agak miskin, harus rela berbagi. Dan penumpang yang paling miskin justru harus paling banyak berbagi. Logika macam apa ya ini?

****
Naik kereta api di Indonesia ini memang harus membekali diri dengan pengenalan lokasi yang baik. Kereta ditujukan bagi orang-orang yang sudah sering naik dengan tujuan yang sama. Bagi penumpang yang baru pertama kali naik ke jurusan tertentu, silakan siap-siap tersesat. Tidak ada penunjuk yang jelas posisi kereta sudah sampai di mana.

Kalau orang harus bertanya berkali-kali tentu sangat tidak nyaman. Bukan hanya bagi penanya, tetapi juga bagi pihak yang ditanya. Sementara itu, kalau orang berada di gerbong paling belakang, kecil sekali kemungkinan untuk bisa membaca plang di depan stasiun mengingat posisinya seringkali berada di luar stasiun ketika kereta berhenti.

Salah satu alat yang bisa jadi penolong adalah informasi lokasi pada telepon seluler. Di bawah nama operator biasanya ada informasi mengenai lokasi yang sedang dilalui. Hanya saja, karena informasinya detil (kecamatan) seringkali penumpang juga tidak tahu persis ini berada di sekutar kota (besar) mana.

***

Kupikir ada banyak sekali hal yang harus diperbaiki dari perkereta apian. Sebagai penumpang, rasanya banyak kesengsaraan yang harus siap dihadapi bagi siapa saja yang akan menjadi penumpang dalam jangka waktu lama, misalnya semalam suntuk.

Jadwal kereta mestinya bisa lebih tepat. Jumlah kereta juga diharapkan lebih banyak, dengan pilihan kelas lebih banyak (jangan hanya tiga). Sistem informasi juga hendaknya lebih pintar. Dan, tentu saja, sistem penjualan juga mesti diperbaiki. Tetapi, itu semua tentu butuh biaya. Asal jangan banyak yang korupsi, saya kira kita bisa punya banyak uang lebih untuk investasi.

Wallahu alam.

20 Juni 2008

Bola dan media massa?


Yunani tumbang di babak pertama. Juara bertahan Piala Eropa itu pulang tanpa satu nilai pun. Kebobolan lima gol dan hanya memasukkan satu gol hiburan.

Prancis, finalis Piala Dunia 2006, juga tersingkir di babak pertama. Italia, meskipun mampu mengalahkan Prancis di babak penyisihan (seperti halnya mereka juga mengalahkan prancis pada final Piala Dunia dua tahun lalu), juga tertatih-tatih melewati masa yang berat. Jerman, kasusnya mirip dengan Italia, berat sekali untuk bisa lolos dari babak penyisihan.

Tim-tim jagoan, silih berganti menjadi unggulan. Silih berganti menjadi juara, melalui putaran yang cepat. Beberapa nama mengukir prestasi panjang. Ada nama-nama yang selalu muncul dalam setiap turnamen selama puluhan tahun. Tetapi banyak juga yang prestasinya tidak bisa bertahan lama. Muncul karena tangan dingin pelatih brilian (macam GH asal Belanda itu), lalu tenggelam setelah ditinggalkan.

***
Bagaimana dnegan persaingan di dunia koran? Siapakah nama-nama besar yang akan tetap bertahan untuk masa yang panjang? Adakah nama-nama yang bisa tiba-tiba muncul dan meroket? Adakah tangan dingin yang benar-benar menguasai rumus penerbitan koran (macam GH dalam Bola), sehingga apa pun yang dipegangnya bisa menjadi mainan berbahaya?

Apakah dunia koran konvensional, atau dunia koran maya yang akan mengalami masalah seperti turnamen bola itu? Apakah hal-hal yang model bisnisnya sudah mapan atau yang sedang mencari pola yang bisa memunculkan keajaiban sebuah turnamen?

Mari kita pikirkan bersama-sama. Barangkali Anda punya ide?
Wallahu alam.

17 Juni 2008

Haruskah wartawan seperti peneliti?

Dalam proses menulis sesuatu menjadi bermakna dibutuhkan pengetahuan dan penguasaan masalah yang memadai. Semakin mendalam sebuah tulisan, semakin mendalam juga pengetahuan yang diperlukan. Terlebih lagi jika tulisan itu ditujukan kepada publik, masyarakat luas.

Lalu, apakah itu berarti seorang wartawan, yang tiap hari memproduksi tulisan untuk publik, harus punya pengetahuan mendalam seperti halnya peneliti? Saya kira ada perbedaan mendasar antara peneliti dengan wartawan.

Peneliti menangkap sebuah masalah atau ide, kemudian berusaha mencari pemecahan/ solusi/ jalan ke luar sendiri. Untuk itu, dia harus belajar statistika, membuat alat untuk menghasilkan data, kemudian mempersenjatai diri dengan pisau analisis.

Wartawan juga memulai karyanya dengan menangkap masalah atau ide. Tetapi dia tidak perlu berusaha memecahkan sendiri persoalan itu. Dia mencari nara sumber/peneliti dan sebagainya untuk membantunya memecahkan masalah.

Jadi, bagi wartawan, punya pengetahuan mendalam adalah nilai tambah. Ini akan membantunya mudah memahami dan tidak salah interpretasi terhadap paparan peneliti. Bagaimana pun, ada pengetahuan menimal yang perlu diketahui wartawan agar bisa membuat analisis dengan tepat. Ini berlaku untuk pendalaman. Adapun untuk sekadar isu-isu umum, yang diperlukan adalah akal sehat, logika yang lurus, pengetahuan angka, dan alur berpikir yang cukup.


***
Khusus mengenai kewartawanan di dunia TI –khususnya ekonomi TI-- saya ingin mengusulkan semacam workshop untuk pembekalan. Beberapa materi yang hendaknya perlu diberikan kepada wartawan baru di dunia TI setidaknya meliputi.

1. Faktor-faktor dalam bisnis telekomunikasi. (Undang saja orang Mastel atau pengamat untuk berbicara mengenai isu investasi, regulasi, kompetisi, serta faktor-faktor kunci yang menentukan kondisi makro bisnis telekomunikasi)

2. Perkembangan/ evolusi teknologi telekomunikasi.
-Undang vendor, misalnya Ericsson, untuk bicara mengenai evolusi teknologi seluler dari generasi pertama sampai keempat. Mengapa disebut cellular, bagaimana sambungan antara pengguna ke sentral dan kembali lagi ke pengguna, penggunaan frekuensi dan alokasinya.
- Vendor juga diharapkan bisa menjelaskan evolusi teknologi sambungan kabel (dari telepon tembaga, DSL, hingga serat optik. Aplikasi-aplikasi yang berjalan di atasnya dan semacamnya)

3. Faktor-faktor dalam bisnis peranti lunak
Undang akademisi untuk bicara mengenai industri peranti lunak secara umum, pembagiannya, siapa yang dominan, perkembangan dari masa ke masa. Apa arti open source, propreitary, mengapa ada pembajakan. Peranti lunak korporasi, perannya dalam proses produksi, dsb.

4. Faktor-faktor dalam bisnis peranti keras
Undang akademisi untuk bicara mengenai unsur-unsur peranti keras pada komputer dan bagaimana alat itu bekerja. Bagaimana standardisasi peranti keras dibuat. Bagaimana peran perakit lokal, OEM, pabrikan besar dalam industri ini. Bagaimana tren peranti keras ke depannya.

6. Memahami bisnis Internet (minta orang APJII untuk bicara)
- sejarah Internet dunia dan sejarah Internet Indonesia
- faktor-faktor dalam menentukan biaya akses Internet, sewa jaringan dan akses
- nama domain, hosting, content, warnet, game online, dan bisnis yang terkait dengan Internet
- aplikasi di atas Internet, web 2.0, masa depan Internet

7. Riset dan sumber daya TI
Undang akademisi/peneliti untuk berbicara mengenai hal ini.

***
Masalahnya, untuk menggelar sebuah workshop, peserta satu desk dari satu saja perusahaan koran pasti sangat sedikit.

Jalan keluarnya, pengelola rubrik atau desk editor mungkin bisa mulai membuat tulisan mengenai masing-masing item yang diperlukan seperti di atas, sebagai modul-modul pembelajaran bagi wartawan pemula.

Cara yang lebih gampang, cari situs-situs Internet yang bisa memberikan pencerahan seperti di atas. Catat link-link itu, lalu diskusikan secara berkala sesuai target kurikulum (hehehe, kayak sekolah saja….)

Wallahu a’lam.

02 Juni 2008

Ketika disconnected justru diinginkan


Saat ini ada beberapa layanan akses data Internet unlimited dengan biaya terjangkau di Indonesia.

Firstmedia menyediakan paket Rp100.000 per bulan untuk akses melalui kabel dengan kuota tak dibatasi. Indosat, XL dan Telkomsel dengan Blackbery juga menyediakan akses unlimited melalui akses poin Blackberry.net, dengan biaya sekitar Rp200.000 per bulan. Balakangan Telkomsel menambah pilihan melalui Flash unlimited dengan biaya mulai Rp125.000 per bulan.

Pilihan untuk selalu terhubung ke Internet alias always connected (atau 'nyambung terus' kalau pakai bahasa XL) sudah semakin banyak dan terjangkau.

Paling-paling yang menjadi masalah adalah alat aksesnya saja. Sejauh ini hanya Blackberry yang memungkinkan always connected dalam arti sebenarnya. Akses melalui notebook atau PC desktop masih banyak mengalami kendala bobot dan ruang. Adapun akses melalui ponsel biasa akan mengalami kendala keterbatasan memori dan daya tahan baterai.

***
Saya sudah hampir setengah tahun ini menggunakan Blackberry dengan akses unlimited. Artinya, sudah sampai mabok rasanya mengakses Internet setiap saat, always connected.

Menerima puluhan e-mail dari milis Awak Readksi, IA-ITB yang ramai sekali, milis Lulusan TF-ITB yag juga sangat ramai, milis Telematika, Technomedia. Selain itu, ada beberapa milis yang kurang sibuk seperti Baitnet, Pucangtunggal, Timor-er dan beberapa milis otomotif (karena saya set daily digest saja).

Dan, tentu saja, penanda paling penting bagi siapa pun yang selalu terhubung ke Internet adalah akses ke pesan instan. Yahoo Messenger dan Gtalk yang selalu aktif dengan avatar/foto dan status yang diubah-ubah. Selain itu, Facebook dengan notifikasinya yang selalu dikirim langsung ke Blackbery.

Dalam keadaan seperti itu, sering rasanya saya ingin untuk tidak terhubung, terutama di malam hari. Belakangan ini saya sering mematikan Blackberry di malam hari. Membiarkan diri not connected atau disconnected.

Dulu ingin always connected padahal default-nya not connected atau connection on demand. Sekarang justru ingin disconnected ketika defaultnya always connected.

Memang perasaannya berbeda antara connection on demand dengan not-connected on demand. Masih ada perasaan aman karena sewaktu-waktu butuh sambungan tetap ada. Ini adalah pemutusan sambungan atas keinginan sendiri, bukan dipaksa oleh kondisi jaringan atau keterbatasan akses.

Barangkali kondisinya mirip dnegan orang yang punya mobil pribadi tetapi memilih naik angkot atau bus.

Ketika orang belum punya mobil, naik angkutan umum adalah keterpaksaaan, tidak ada pilihan lain, sesuatu yang harus diterima sebagai keputusan di luar diri. Pemakai angkot akan sering membayangkan, “seandainya punya mobil, gak usah capek-capek nunggu bus di Komdak.”

Tetapi kalau sudah punya mobil, naik angkot menjadi sebuah pilihan. Pilihan yang lebih murah, lebih tenang, lebih damai, meskipun mungkin butuh waktu lebih lama dan berkeringat lebih banyak. Ada ketenangan karena itu merupakan sebuah pilihan. Tidak ada kecemburuan terhadap pemilik mobil

Jadi, disconnected yang merupakan pilihan dapat diterima dengan lebih baik dibandingkan karena keterbatasan atau paksaan dari luar diri (seperti kondisi jaringan itu).

Wallahu a’lam.

29 Mei 2008

Pukulan telak Telkomsel

Telkomsel selama ini dikenal kurang serius menggarap segmen layanan data Internet, tidak seperti Indosat dan XL.

Setahu saya, Telkomsel tidak memiliki unit khusus yang jualan layanan data sebagaimana Indosat (dengan IM2), serta XL dengan Busol.
Selama beberapa tahun Indosat sudah berkibar-kibar dengan Blackberry korporat, lalu XL berusaha mengejar dengan pengguna BIS (Blackberry Internet Service), sementara Telkomsel tampak adem ayem saja.

Pada masa lalu, Indosat dan XL juga menawarkan bermacam-macam paket layanan data dengan modem 3,5G, HSDPA, paket ini dan itu untuk akses layanan mulai dari Rp99.000 per bulan, Telkomsel juga adem ayem dengan Flash yang relatif mahal.

Tetapi kondisi ini berubah total dalam satu bulan terakhir.
Menjelang masa-masa ulang tahun Telkomsel, operator seluler terbesar Indonesia yang mulai didera oleh pukulan ‘paksaan penurunan tarif’ itu meluncurkan dua jurus jitu yang sanagt telak dalam memukul lawan-lawannya.

Pertama adalah Blackberry prabayar Rp180.000 per bulan akses unlimited seperti yang saya tulis pada posting sebelumnya. Kedua adalah layanan paket Flash unlimited yang dipasarkan mulai harga Rp125.000 per bulan.

Ini benar-benar pukulan bai pesaing mengingat jumlah pelanggan Telkomsel yang hampir dua kali lipat pesaing terdekatnya, serta jangkauan yang sampai ke pelosok-pelosok Nusantara.

Kalau saja belum pakai Blackberry unlimited XL ini mungkin saya akan pakai Blackberry prabayar atau, minimal, Flash unlimited yang paling murah itu. Para pesaing Telkomsel harus menyiapkan jurus lain yang lebih ampuh untuk menangkalnya…

27 Mei 2008

Kok Menristek tidak muncul


Saya melihat iklan di Kompas, edisi 25 Mei 2008, halaman 5 (setengah halaman penuh) yang menyinggung soal kebangkitan teknologi, Presidential Lecture dan GLF.
Menarik sekali bahwa iklan itu menyebutkan nama tujuh menteri, tetapi sama sekali tidak menyebutkan nama Menristek Kusmayanto Kadiman.

Memang Microsoft domainnya di TI yang selama ini lebih dekat ke Menkominfo. Tetapi dalam iklan itu yang disebutkan adalah teknologi (tanpa kata informasi), dan ada tujuh menteri lain yang disebutkan (bahkan Menneg Lingkungan Hidup juga disebut)

Apakah menurut Microsoft merasa mungkin mendorong kebangkitan teknologi di sebuah negara tanpa melibatkan Menristeknya? Apakah ada ketidaksamaan visi dalam pemerintahan mengenai pemanfaatan teknologi? Apakah karena Menristek sangat getol mengkampanyekan ‘musuh’ Microsoft? Apakah di dalam pemerintahan ada ‘faksi Microsoft’ dan ‘faksi non-Microsoft’?

Berikut ini kutipan iklan itu

’Indonesia Bangkit dengan Dukungan Teknologi’
Government Leaders Forum-Asia (GLF) 2008 yang diselenggarakan pada 8-9 Mei oleh Microsoft Corporation memilih Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara karena Microsoft percaya, potensi dan semangat bangsa Indonesia sejalan dengan misi Microsoft untuk mendedikasikan teknologi sebagai pendukung kebangkitan bangsa.

Microsoft juga merasa terhormat dan bangga telah turut mendukung program Visit Indonesia Year 2008 melalui kegiatan yang dihadiri oleh 18 pembicara dari 24 negara ini. GLF dan Presidential Lecture telah sukses diselenggarakan berkat dukungan banyak pihak.

Untuk itu, Microsoft Indonesia menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya kepada
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI
Terimakasih kami pula kepada:
Drs HM Yusuf Kalla, Wapres RI
Pembicara GLF
Aburizal Bakrie, Menko Kesra
Mari Pangestu, Mendag
Muh Nuh, Menkominfo
Bambang Sudibyo, Mendiknas
Kombes Petrus Reinhard, Kepala Unit Cybercrime & IT Polri
Surin Pitsuwan, Sekjen Asean

Dukungan dari
Jero Wacik, Menbudpar
Hassan Wirajuda, Menlu
Rachmat Witoelar, Menneg Lingkungan Hidup
....
Bangkit Indonesia. Bangkit dengan dukungan Teknologi

20 Mei 2008

Blackberry prabayar dan biaya SMS per karakter

Pekan lalu, dunia pemasaran telekomunikasi nirkabel di Indonesia mencatat dua perkembangan baru yang sangat inovatif.

Pertama adalah layanan Blackberry untuk kartu prabayar dari Telkomsel. Ini merupakan terobosan luar biasa yang katanya baru pertama di Asia.

Sebagai pemimpin pasar seluler, Telkomsel memang selama ini ketinggalan dalam menggarap pasar Blackberry. Indosat sudah mendahului empat tahun sebelumnya. XL mengikuti di belakang Indosat yang membuat persaingan lebih sehat. Setelah XL masuk, tarif akses Blackberry turun dan pilihan handset semakin bertambah.

Sebenarnya Telkomsel sudah masuk pasar sejak tahun lalu melalui Blackbery untuk kartu Halo dengan tarif lebih murah, namun kuotanya kecil banget, 20MB. Selain itu, tidak ada kerja sama dengan penyedia handset di sana.

Sekarang, setelah pasar Blackberry matang digarap oleh Indosat dan XL, handset juga sudah tersedia melimpah dan gampang sekali didapat, si raksasa masuk dengan tarif lebih murah, cara berlangganan lebih gampang, dan prabayar pula.
Wah, sebuah serbuan yang telak.

***
Inovasi baru lainnya berasal dari Bakrie Telecom melalui tarif SMS yang dikenakan berbasis karakter. Selama ini orang membayar SMS secara gelondongan, per 160 karakter. Sekarang biaya dipecah-pecah menjadi Rp1 per karakter.

Walaupun jatuhnya untuk SMS panjang bisa menjadi lebih mahal, tetapi mungkin kebanyakan orang berkirim SMS secara singkat saja, jadi bisa lebih berhemat.

Memang ini bisa memicu masalah karena interpretasi orang terhadap ‘karakter’ bisa berbeda-beda, misalnya apakah spasi termasuk dalam karakter atau bukan.

Bagaimana pun ini benar-benar terobosan besar. Katanya yang pertama di dunia. (Mungkin nanti pesaingnya akan menawarkan tarif SMS berdasarkan karakter tanpa spasi, hehehe)

14 Mei 2008

Sekejap bersama Zyrex Ubud


Ubud dari Zyrex merupakan salah satu produk yang meramaikan pasar notebook superkecil (UMPC) murah mengiringi EeePC. Ukuran layar sama-sama 7 inci, bobotnya hampir sama dengan Eee PC. Warna yang tersedia hanya hitam dan harganya sekitar Rp5 juta. Menurut orang Zyrex, pesanan terhadap Ubud ini besar sekali sehingga mereka kehabisan stok.

Jika Asus adalah merek Taiwan, maka Zyrex adalah merek lokal Indonesia. Namun kalau tidak salah, Ubud ini menggunakan platform global UMPC Cloudbook (sebagaimana Anoa yang memakai platform Intel Classmate)

Dalam keadaan tertutup, Ubud ini, trlihat lebih menarik dibandingkan dengan Eee PC. Charger yang disertakan pun khas sebagaimana charger notebook. Ini berbeda dengan Eee PC yang menggunakan desain charger mirip cahrger ponsel sehingga kalau dimasukkan ke colokan listrik, kepala charger membebani colokan. Dalam hal ini desain charger Ubud lebih baik, hanya saja bobotnya terlalu besar. Lebih berat dibandingkan dengan charger Eee PC. Soal bobot ini hal sensitif bagi saya yang selalu mengidamkan alat komputasi mobile.

USB slot hanya ada dua, keduanya di sisi kanan. Colokan charger juga berada di kanan. Adapun lubang kartu memori dan slot kabel serial ada di sisi kiri. Sudah ada web cam, Wi-Fi dan Bluetooth. (Eee PC ada Wi-Fi tetapi tanpa Bluetooth)

Ubud dilengkapi Windows Vista Starter Edition. Booting awal terasa lama. Begitupun eksekusi perintah. Mungkin Vista ini terlalu berat untuk ditangani dengan peranti keras yang disertakan.

Berhubung Ubud memakai hard disk, kipas sering sekali nyala. Dan ini membuatnya terasa lebih berisik dibandingkan dengan Eee PC.

Saya mencoba mengetik menggunakan Word Pad pada Zyrex Ubud. Keypad terasa jauh lebih nyaman dibandingkan dengan Eee PC.

Pengguna Ubud harus meluangkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan mouse pola baru yang dipakai. Tidak ada mousepad, hanya ada kotak kecil touchpad yang ditempatkan di sebelah kanan. Klik kiri dan kanan menggunakan tangan kiri. Baik touchpad maupun klk kanan kiri ditempatkan di atas, dekat layar, benar-benar bikin kagok untuk yang biasa biasa menggunakan.

Indikator baterai hanya tampak dalam keadaan notebook dibuka. Jadi kalau melakukan pengisian baterai ketika notebook dimatikan atau diitutup, kita tidak bisa melihat indikator.

Tetapi secara umum, Zyrex Ubud ini sangat menyenangkan asalkan jangan punya ekspektasi berlebihan. Saya selalu menyukai alat komputasi kecil, ringan, apalagi murah. Ini salah satu notebook yang tepat bagi pemula.

13 Mei 2008

Gaji termasuk tabu?


Apa saja yang menentukan besaran gaji dari seorang karyawan? Mungkin ada faktor pendapatan perusahaan, jenis usaha, posisi jabatan karyawan, kondisi perekonomian nasional (kota tempat perusahaan itu berada).

Gaji, di mana pun, termasuk bagian dari tabu dan sangat sensitif, seperti SARA di zaman Orde Baru. Mengetahui gaji seseorang secara rinci itu berarti bisa melihat sejauh mana dan sewajar apa kehidupan orang tersebut.

Maka wajar jika tidak banyak keterbukaan informasi dalam soal penggajian ini di dunia wartawan. Saya hanya menemukan beberapa berita terkait dengan itu. Saya kutipkan di bawah ini. satu lampiran lagi saya tempatkan di bagian komentar, biar postingan tidak panjang-panjang.


"
AJI: Gaji Wartawan Masih di Bawah Standar
Kamis, 1 Mei 2008 - 17:37 wib, Sutarmi - Okezone
JAKARTA - Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) menyimpulkan bahwa hingga peringatan hari buruh tahun 2008 ini, gaji wartawan yang sudah berstatus karyawan masih dibawah standar kebutuhan.

Kordinator Divisi Serikat Pekerja AJI Winuranto Adhi mengatakan upah layak yang ditetapkan AJI pada tahun 2006 sebesar Rp3,1 juta belum mampu dipenuhi media massa di Indonesia, khususnya di luar Jawa.

"Memang tidak semua media mampu memberikan gaji layak. Tapi media yang belum mampu membayar layak harus terbuka dan transparan dalam hal keuangan," ujar Winur sebelum diskusi di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta Timur, Kamis (1/5/2008).

Pada tahun 2008, dari 889 media massa cetak yang layak hanya 30 persen, sedangkan untuk stasiun televisi yang berjumlah 120 dan radio yang berjumlah 20 ribu yang layak 10 persennya saja.

Untuk itu, kata Winur, AJI akan melakukan roadshow ke berbagai manajemen media yang bersangkutan, untuk memperjuangkan upah yang layak.

Winur mengungkapkan, dari hasil berbagai survey yang dilakukan AJI pada sejumlah media massa pada tahun 2008 menempatkan Bisnis Indonesia pada posisi pertama, yaitu perusahaan media yang mampu memberikan gaji layak sebesar Rp4,5 juta.

Posisi kedua disusul Kompas dengan upah Rp4,1 juta, Kontan Rp3,9 juta, Media Indonesia Rp3,1 juta, Jurnas Rp3 juta, dan Antara Rp2,7.

Sedangkan untuk stasiun televisi gaji reporter TV dengan status karyawan tetap rata-rata Rp2,5. Stasiun televise yang dimaksud adalah Trans TV, Trans7, Metro, RCTI, SCTV.

Untuk media online posisi pertama diduduki detik.com dengan Rp2,5 juta, Hukumonline Rp2,5 juta, dan okezone Rp2,3 juta.

Menghadapi naiknya berbagai kebutuhan pokok, lanjutnya, pada tahun 2008 ini AJI akan melakukan roadshow ke berbagai pihak dan manajemen untuk meningkatkan tingkat gaji.

"AJI akan memperjuangkan gaji karyawan. Karena yang bisa dilakukan AJI memberikan dukungan sebagai mediator bagi karyawan dengan pemilik modal media," pungkasnya. (uky)
"

Data dan imajinasi, kunci masa depan

Data merupakan hal penting dalam membuat keputusan yang tepat. Adapun imajinasi sangat penting dalam memperkirakan, mengimpikan sesuatu yang belum terjadi atau tidak dialami. Gabungan antara data dan imajinasi menjadi kunci sukses dalam menghaadapi masa depan yang belum terjadi.

Sayangnya, dalam banyak hal, kita mengalami keterbatasan data yang sangat amat. Dalam mengambil keputusan mengenai jenis sekolah untuk diri sendiri atau anak, memilih jurusan, jenis pekerjaan, bahkan juga memilih pasangan hidup, data yang tersedia umumnya sangat minim.

Selain itu, data kadangkala manipulatif. Maksudnya, mengolah data menjadi informasi dan kesimpulan menuju keputusan, seringkali diwarnai bias pribadi. Bias itu dipengaruhi oleh masa lalu, pendidikan, pengalaman, kedewasaan, dan sebagainya.

Dalam keterbatasan data itu, kita hanya bisa mengandalkan imajinasi (dan ada satu lagi, yaitu doa). Kita harus mampu mempertahankan pikiran agar tetap bisa berimajinasi untuk merekonstruksi apa-apa yang tidak (atau belum) kita alami, dan mempersiapkan diri menghadapinya.

Jika memiliki data yang akurat dan memadai, ditambah imajinasi yang baik, maka kita bisa menyusun visi yang tepat. Pandangan masa depan yang pas, maju, tepat dan benar. Itulah visioner.

Masalahnya, imajinasi manusia itu juga seringkali sangat terbatas. Data terbatas, imajinasi terbatas, jadi gimana donk? Ya, banyak-banyak berdoa saja. Kita berharap mengambil sebagai keputusan yang terbaik (berdasarkan data dan imajinasi yang kita miliki) dan menyerahkan sisanya kepada kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa.

Wallahu a’lam

Tugas Bill Gates sudah selesai

Sudah tiga dekade Bill Gates mengambil peran sangat penting di dunia teknologi informasi. Impiannya untuk menghadirkan komputer di setiap meja praktis sudah terwujud.

Bahkan, bukan hanya meja, tas dan saku baju di banyak kalangan pun sudah berisi komputer. Jika meja sudah ada desktop PC, tas kerja berisi notebook PC, maka saku baju berisi pocket PC. Sudah terlalu besar peran Bill Gates terhadap dunia ini.

Lha terus, masak kita masih mengharapkan peran lebih besar lagi dari seorong Gates. Saya rasa tugas terbesar Bill Gates sudah selesai lah. Sudah cukup banyak (bahkan terlalu banyak) yang dia lakukan untuk dunia TI.

Sekarang saatnya menunggu Gates-Gates baru. Menunggu orang baru untuk membawa revolusi baru dunia teknologi informasi, atau bahkan revolusi dunia secara umum.

11 Mei 2008

Mencari kesan dari Bill Gates


Gates datang ke Jakarta. Dalam paparan di depan Presiden Yudhoyono yang saya tonton melalui TV One, tidak banyak hal spektakuler yang saya tangkap dari orang yang beberapa tahun menduduki posisi terkaya sedunia ini.

Hal yang paling menarik, menurutku, adalah mengenai perubahan antarmuka komputer. Antarmuka inilah yang menentukan bagaimana manusia berintekasi dengan mesin. Bagaimana manusia memasukkan data dan perintah kepada mesin, dan bagaimana mesin menyajikan data atau keluaran kepada manusia.

Di luar itu, apa yang diampaikannya hanyalah sebuah evolusi yang sudah sangat sering saya dengar. Pemanfaatan TI untuk pendidikan, kesehatan, sambungan Internet untuk mendukung itu semua, dan hal-hal lain terkait dengan itu. Tidak ada revolusi, hanya evolusi yang alamiah.

Bedanya, selama ini hal-hal tersebut saya dengar dari pengamat, penjual, atau ranting ke sekian dari sebuah produk, kali ini bisa didengar langsung dari salah satu orang terpenting, manusia inti yang melahirkan dan menguasai produk super powerful.

***
Tetapi uang tidak ada dalam revolusi. Uang dan bisnis, justru banyak muncul dari evolusi, dari penyempurnaan kecil-kecil (dalam peta besar). Penyempurnaan kecil yang benar-benar membuat orang terpikat atau membuat sesuatu menjadi benar-benar pas, berguna, cocok.

Jadi, tidak ada revolusi bukan berarti tidak ada uang dan bisnis yang sedang dijalankan. Dan saya yakin, ada banyak uang siap bergulir mengiringi kedatangan Gates (entah bergulir dari luar Indonesia atau justru bergulir ke luar Indonesia).

***
Secara sekilas, saya melihat Bill Gates ini agak mirip dengan Gombang Nan Cengka, temanku di kantor. Caranya duduk, caranya berdiri dan berjalan yang agak membungkuk, mirip Gombang.

Dan saya rasa, seandainya ini zaman di mana kitab suci masih turun, mungkin Gates masuk nominasi untuk dimuat di dalamnya. Sebagai orang terkaya dunia dan memiliki peran luar biasa bagi perikehidupan, tentu dia tidak bisa diremehkan.

Mungkin bisa saja suatu saat harta terpendam itu diberi nama harta gates, bukan harta karun saja, hehehe.

05 Mei 2008

Error pada Blackberry

Dalam beberapa hari terakhir ini saya mengalamai tiga kali error yang cukup mengganggu pada Blackberry.

Pekan lalu saya mencoba forward e-mail dari sebuah milis ke satu alamat. Ternyata email itu terkirim sebagai Reply sehingga masuk ke milis dan teman yang saya tuju. Ketika itu saya menduga sumber kesalahan ada pada saya sendiri yang kurang teliti ketika memilih menu Forward yang memang dekat dengan Reply.

Kemarin, waktu saya mencoba kirim pesan lewat Yahoo Messenger kepada seorang teman di Filipina, eh nyasar ke Mbak Ve XL. Lagi-lagi saya menduga itu kesalahan saya yang kurang memperhatikan cursor saat menuliskan pesan pertama.

Tadi pagi, hal yang lebih parah terjadi. Saya mencoba Reply email dari Rahiyan di milis Pucangtunggal dari alamat widodo@xl.blackberry.com, eh terkirim ke milis Baitnet yang saya akses melalui setyardi@gmail.com.

Saat itulah saya sadar bahwa kesalahan bukan ada pada saya, tetapi pada device ini. Rasanya saya tidak mungkin salah kirim dari alamat account yang berbeda ke milis yang juga berbeda.

Ya sudah, saya matikan dulu Blackberry ini. Mungkin BB juga butuh istirahat. Dia capek menangani ratusan e-mail setiap hari dari delapan account yang ada. Apalagi 24 jam hampir tidak pernah mati.

Tapi error semacam ini benar-benar menyebalkan sekaligus menakutkan….

02 Mei 2008

DVD external untuk Eee PC


Salah satu kelemahan Eee PC dibandingkan dengan notebook mahal atau notebook yang lebih besar adalah tidak tersedianya drive untuk memutar VCD atau DVD (RW).

Saya baca-baca di berbagai forum diskusi katanya ada DVD merek LG yang kompatibel. Namun ada berbagai catatan di sana yang membuat saya ragu apakah bisa beroperasi langsung (plug and play) atau harus install sesuatu.

Beberapa hari lalu saat ada kesempatan main ke BEC Bandung saya melihat ada yang jualan DVD External merek LG (tipe GSA-E50L). Saya tawar-tawar katanya harganya Rp890.000.

Sebelum membeli saya coba pastikan dulu bahwa perangkat ini kompatibel benar dengan Eee PC yang pakai Linux Xandros. Penjualnya pun sempat ragu apakah perangkat ini bisa berjalan pada Linux.

Ternyata LG GSA-E50L ini bisa beroperasi dengan baik. Saya bisa menonton Bourne Ultimatum di toko itu. Jadi saya beli. Eh sewaktu membuat kuitansi, dia bilang harganya tidak bisa kurang dari Rp920.000. Wah gawat. Ya sudah, kepalang basah, beli saja.

Setidaknya ini lebih murah dan lebih berguna dibandingkan dengan membeli DVD player 7 inci yang dijual terpisah. Lagian nanti kalau suatu saat saya ganti notebook lain toh barang ini masih bisa dipakai.

***
DVD (R/W) merek LG ini sangat ringan. Mungkin kurang dari 400 gram soalnya lebih ringan dari kamera Canon PowerShot A510 yang saya pakai.

Konektor yang diperlukan juga hanya satu (meskipun dalam paketnya ada dua konektor untuk mengantisipasi kekurangan pasok daya dari kabel USB). Konektor yang digunakan sama dengan penghubung Blackberry serta MP4 player yang saya punya, jadi tidak ada tambahan beban membawa konektor.

Saya coba memutar beberapa VCD, bisa beroperasi dengan baik. Kalau memutar DVD kualitasnya kayaknya kurang bagus terutama suaranya (mungkin kualitas disk-nya yang bermasalah).
Untuk memutar film tinggal masuk ke menu Play, Media Player, terus klik File, pilih DVD from drive atau pilih VCD.

Menu untuk full screen, lompat ke depan, maju lebih cepat, mundur, dan sebagainya. Saya belum mengukur berapa lama daya tahan baterai, tetapi rasanya sih cpat sekali habis.

Saya kira inilah salah satu keunggulan Eee PC yang tidak dapat ditandingi oleh PDA atau smart phone.

28 April 2008

ISS08, bagian keenam: Gadget wartawan


Ada 11 wartawan non-Thailand yang ikut acara Intel Solutions Summit 2008 (ISS08) di Bangkok pekan lalu. Sebagian besar (kalau tidak seluruhnya) adalah orang yang sehari-hari meliput bidang teknologi informasi. Beberapa di antaranya memang berasal dari media bidang TI.

Dua wartawan dari Australia, satu di antaranya perempuan, tidak tampak membawa gadget atau barang tentengan yang canggih. Bahkan Julia, si cewek, merekam dengan tape recorder kaset besar yang terkesan kuno. Saya tahu karena kami sama-sama mewawancarai Tom Rompone dalam satu meja.

Dua wartawan dari India, satu di antaranya cewek, juga tidak tampak membawa perangkat yang canggih atau unik.

Dua wartawan dari Taiwan tampak sangat asyik dengan kamera besar SLR. Hampir setiap slide dipotret. Si cowok adalah seorang managing editor pada salah satu media yang membahas peranti keras. Dia menggunakan ponsel Treo 650 yang masih memiliki antena.

Adapun si cewek adalah reporter. Ketika dia lihat saya mengeluarkan Eee PC, dia langsung bilang,”Eee PC,” sambil tersenyum.
Sewaktu ada kesempatan duduk satu meja, dia bilang bahwa dia punya Eee PC warna putih dengan memori 4GB. ”Asustek memberi setiap wartawan satu Eee PC.”
Mbak Monica ini banyak bertanya (meski lewat penerjemah) dan tampak sangat antusias. Dia juga mencantumkan alamat MSN pada kartu namanya.

Dua wartawan dari Filipina tampak sangat santai. Satu di antaranya membawa notebook dan bahkan membuka YahooMail saat satu presentasi sedang berlangsung. Satu lagi membawa perekam digital kecil sekaligus sebagai pemutar musikMP3.

Satu wartawan dari Malaysia menggunakan ponsel Sony Ericsson seri K (mungkin K800) serta PDA Ipaq (versi agak lawas, tetapi lebih baru dari punyaku, warna hitam kotak ukuran 4 inci. Saya lupa serinya).

Wartawan dari Vietnam, tampaknya masih sangat muda, juga asyik dengan kamera (sama dengan wartawan Taiwan maupun wartawan Vietnam lain yang kutemui tahun lalu di Jepang). Teman dari Vietnam ini menggunakan ponsel O2 yang memiliki papan ketik geser.

Saya tidak melihat satu pun wartawan di sini yang menggunakan Blackberry. Juga tidak ada yang menggunakan Nokia Communicator. Bahkan waktu di lift saya ketemu Steve Dallman, salah satu petinggi Intel, masih menggunakan Blackberry model lama (mungkin seri 87xx).

26 April 2008

ISS08, bagian kelima: Balada TKI "R"


Konter check in Garuda baru dibuka mendekati jam 24.00, dua setengah jam sebelum keberangkatan pesawat. Setelah check in saya pun masuk, lalu mampir minum teh hangat serta berjalan-jalan di area pertokoan.

Semula saya menduga bahwa jumlah penumpang Garuda kali ini seperti halnya waktu berangkat, kurang dari 30 orang. Akan tetapi sewaktu boarding saya terkejut, ada banyak sekali orang yang sudah masuk. Sebagian besar penumpang wanitanya memakai pakaian hitam dan berkerudung. Sebagian berbicara dalam bahasa Indonesia serta bahasa Jawa.

Salah satu penumpang pria berteriak dalam bahasa Jawa di dekat pintu boarding, “Jangan pisah-pisah, nanti kamu susah masuk, soalnya paspornya bareng-bareng.”

Sewaktu masuk pesawat saya tanya pramugari di depan pintu, “Wah penumpangnya padat, Mbak.”
'Iya pak, ada rombongan dari Jeddah. Tumben-tumbenan ini.”

Entah mengapa saya diberi tempat duduk 22D, hampir di ujung belakang, bersama para rombongan dari Jeddah ini. Para penumpang non-TKI lainnya setahu saya mendapat posisi di bagian depan. Saya terkepung di antara 'lautan' TKI.

***
Perempuan di sebelah saya bernama R, orang Bojonegoro kelahiran tahun 1977. Saya tahu nama dan tanggal lahirnya karena saya ikut membantu menuliskan formulir kedatangan dan pernyataan untuk bea cukai.

R sudah tiga tahun berada di Saudi Arabia. Ini merupakan kepulangannya pertamakali dan dia tidak berminat kembali ke Saudi. Satu tahun pertama, katanya, dia tidak digaji oleh majikannya. Lalu tahun berikutnya dia dibayar secara bulanan. Tetapi dia mengaku uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari. “Yang jahat itu telepon Mas, bayarnya mahal.”

R sudah punya anak yang kini berusia enam tahun dan tinggal bersama orangtuanya di Bojonegoro. Suaminya belum lama ini menceraikannya dan kawin lagi. “Saya tidak keberatan dia kawin lagi, tetapi cara menceraikannya yang membuat saya dan orangtua tersinggung. Saya kan bukan orang yang ditemui di jalan waktu dinikahi dulu.”

***
Menurut R, dia berangkat dari penampungan TKI sejak Selasa sore. Rabu pagi naik pesawat dari Jeddah ke Oman. Di sana istirahat satu hari. Sampai Bangkok Kamis pagi, lalu berangkat dari Bangkok Jumat pagi. Begitu lamanya perjalanan sehingga R bahkan sudah tidak tahu persis ini hari apa tanggal berapa.

Di Bangkok inilah dia bertemu dengan rombongan lain yang jumlahnya lebih banyak dan sama-sama ke Jakarta. Dia tidak tahu persis berapa orang dalam rombongan besarnya ini.

Di Oman, katanya, ada yang memberi mereka makan dan penginapan. Tetapi di Bangkok ini tidak ada sama sekali. Dia mengaku badannya tidak sehat. Di penampungan TKI sebelum berangkat dia sempat sakit panas tinggi.

Saya lihat sebagian besar TKI yang ada di pesawat dalam kondisi kurang sehat. Batuk-batuk, kelelahan, serta banyak yang mabok, termasuk yang di sebelah R, selang satu bangku dari kursiku.

Para TKI kebingungan ketika harus mengisi formulir kedatangan. Pertama karena hampir tidak ada yang membawa pena. Maka penaku pun beredar dari satu bangku ke bangku lain, dan baru kembali setelah pesawat berhenti.

Masalah lainnya adalah satu paspor digunakan untuk 12 orang. Jadi mereka tidak tahu nomor paspor dan masa berlaku masing-masing kecuali orang yang memegangnya. Dan posisi duduk dari tiap 12 orang itu terpencar-pencar.

Menurut R, paspor itu dibuat oleh petugas kedutaan/konsulat ketika mereka berada di penampungan karena paspor dari Indonesia ditahan oleh majikan. Orang dalam rombongan ini, katanya, adalah orang-orang yang melarikan diri dari majikannya.

“Kalau yang menyerahkan diri seperti saya sudah punya persiapan. Tetapi kalau yang masuk penampungan karena ditangkap polisi mereka tidak punya apa-apa. Uang juga tidak punya. Saya menyerahkan diri karena sudah tiga tahun di sana, sudah boleh pulang.”

R berada di penampungan selama dua pekan. Di penampungan itu, menurut R, ada bermacam-macam orang. “Ada yang hamil, membawa anak kecil, dan bahkan ada yang gila. Untung di rombongan ini tidak ada yang membawa anak kecil.”

Mbak R ini tidak tahu bagaimana dia akan menempuh perjalanan dari Cengkareng ke Bojonegoro. Barang-barang berharganya, seperti Nokia N73, sudah dikirim melalui kargo untuk menghindari pemerasan atau perusakan barang di bandara.


***
Pesawat mendarat di Cengkareng jam 06.00 sesuai jadwal. Saya lihat beberapa orang TKI yang ada di depan saya tidak mengalami masalah dengan imigrasi.

Begitu ambil bagasi, saya langsung ke luar, menunggu bus bandara. Pagi itu udara cerah, bus jurusan kampung rambutan hampir kosong. Jalan melewati pusat kota Jakarta masih sepi, belum macet.

Allah menunjukkan padaku betapa banyak orang yang jauh lebih menderita. Pergi ke negeri yang jauh tanpa kejelasan nasib, malah kehilangan banyak hal-hal yang paling berharga, dan menempuh perjalanan lama dan jauh dalam penderitaan.

Duh, nasib bangsaku, para tetanggaku.

25 April 2008

ISS08 bagian keempat: Paradoks dan keramahan orang Thailand


Dalam acara Gala Dinner Intel Solutions Summit 2008 (ISS08) tadi malam, saya melihat paradoks orang Thailand. Menjelang pintu masuk ke Centara, Bangkok Convention Center, peserta disambut dengan sejumlah tarian. Kalau tidak salah ada lima kelompok penari masing-masing kelompok terdiri atas dua penari dan satu pengiring yang duduk. Meraka seolah-olah ingin menunjukkan kelembutan perempuan dan anak-anak Thailand.

Acara dibuka dengan tarian para bencong, lelaki yang berpakaian dan bergaya perempuan. Lalu di tengah acara diisi dengan tarian kekerasan. Ada tiga pasang lelaki yang berkelahi. Perkelahian pertama antara dua orang bersenjata bambu. Perkelahian kedua antara dua orang bersenjata pedang. Adapun perkelahian ketiga, yang paling lama, antara dua orang setengah telanjang tanpa senjata yang mempertunjukkan Thai Boxing alias Muathai.

Inilah yang saya sebut paradoks Thailand. Ada lelaki yang begitu gemulai di awal acara, dan ada yang begitu macho dengan penampilan penuh kekerasan di tengah acara.

Berhubung saya sudah ngantuk dan acara gala dinner itu menyebalkan (makan sepotong-sepotong begitu lamadengan hidangan yang sama sekali tidak menarik lidahku, saya tinggalkan sebelum selesai. Lagian saya harus hemat energi untuk 'keleleran' pada hari berikutnya.

***
Acara resmi untuk Kkmis pagi tidak banyak. Hanya ada satu presentasi soal pemasaran online dari dua mitra Intel, serta satu workshop soal Intel Classmate. Semua sudah kelar jam 11.30

Sejak pagi saya sudah mengemasi barang. Jadi begitu selesai acara saya langsung check out. Jam 11.45 semua sudah selesai. Saya tinggalkan tas besar di hotel, dan dimulailah petualangan tanpa arah.

Saya mencoba jalan-jalan sesuai lokasi yang disampaikan Na, wartawan The Bangkok Post, via SMS yaitu ke daerah Maboonkrong alias MBK. Udara siang itu terasa luar biasa panasnya. Jauh lebih panas dan lebih menyengat dibandingkan dengan udara Jakarta.

MBK itu sebuah mall besar. Banyak orang berjualan pakaian, sepatu, sandal, souvenir, topi, ponsel, makanan dan sebagainya. Saya keliling-keliling lalu membeli satu topi Jepang dan dua buah rok panjang. Setelah tiga jam jalan-jalan, kaki ini terasa lelah dan pegal sekali. Saya pun mampir ke Mc D, makan kentang goreng dan minum coca cola. Saya duduk-duduk selama sekitar satu jam sambil mencoba tidur, tetapi tidak bisa.

Pukul empat lebih sedikit saya meninggalkan MBK. Sebelumnya sempat sholat dulu. Ternyata udara di luar masih terasa sangat panas. Pada saat saya jalan-jalan tanpa arah itu tak terasa K mengontak lewat SMS. Saya baru sadar ketika sampai di Siam Center, sebelah Siam Paragon,hampir setengah jam kemudian.

***
Menjelang jam lima saya baru menjawab SMS K dan memastikan di mana bisa bertemu. Dalam masa menunggu itu turun hujan. Tampaknya di Bangkok ini hujan sering terjadi sore hari setelah siang yang menyengat. Mirip dengan Jakarta.

K tiba sekitar jam setengah enam. Sosoknya tidak banyak berbeda dibandingkan Juni tahun lalu waktu kami bertemu di Jepang. Sebenarnya selama di Jepang saya tidak cukup akrab dengannya. Dan selama ini jarang juga berkontak. Eh, tapi ternyata dia yang pertamakali bertemu kembali. Dan kami adalah peserta 30th NSK-CAJ Fellowship Program lintasnegara yang pertama melakukan reuni.

Dia mengajakku minum kopi di Starbuck. Wah kasihan juga sebenarnya dia ini, wong ke mana-mana naik bus kok malah nraktir di tempat yang mahal. Dia bahkan membelikan oleh-oleh dan menyambutku dengan penuh keramahan.

Selain bertukar cerita, kami juga mengontak Gina di Filipina dan Thanh di Vietnam, mengabarkan bahwa kami sudah bertemu. Reuni virtual lah.

Rupanya liputan K ini bidang wisata, transportasi, travel dan semacamnya. Dan saya baru tahu kalau dia sebentar lagi akan pindah kerja, tidak lagi di The Nation.

Kantornya jauh dari tempat kami bertemu. Dan rumah kontrakannya jauh dari kantor dan jauh pula dari tempat kami bertemu.

Menjelang jam delapan saya kembali ke hotel. K mengantar jalan kaki sampai saya mengambil barang-barang yang saya titipkan di hotel dan memesan taxi. Dia belum beranjak sampai saya masuk ke dalam taxi.

K benar-benar menunjukkan keramahan orang Thailand.

***
Sebelum pukul sembilan malam saya sudah tiba di Suvarnabhumi Airport. Sopir taxi kali ini sangat berbeda dibandingkan dengan sopir yang mengantarku tiba beberapa waktu lalu.

Petugas di hotel mengatakan taxi ini pakai meter alias argo. Tetapi begitu aku masuk, dia minta saya bayar 500 baht. Wah mahal banget. Saya nego akhirnya jatuhnya 400 baht dan toll dia yang bayar.

Sewaktu turun saya minta kuitansi dia tidak mau kasih. Katanya taksi tidak ada kuitansi. Wah parah sekali. Benar-benar gawat naik taxi di Bangkok ini.Untung saya kemarin pas malam-malam tidak ketemu yang terlalu aneh begini.

***
Masih ada waktu enam jam menunggu penerbangan Garuda jam 02.30. Mau check in konternya belum buka. Jadi tiga tas ini masih harus saya bawa ke mana-mana. Saya mencoba tidur,tidak bisa.

Saya buka sepatu dan kaus kaki biar agak santai. Ada bagian yang agak bengkak (karena terlalu banyak jalan dan bergesakan dengan sepatu, hehehe. Maklum sehari-haripakai sepatu hanya saat berangkat dan pulang kerja sih)

Untuk mengisi waktu kosong ini saya coba tulis cerita ini. Sekarang jam 22.35 waktu Bangkok (sama dengan waktu Indonesia)

23 April 2008

ISS08 bagian ketiga: Sibuk dan siap 'menggelandang'?



Rabu merupakan hari yang sibuk bagiku karena hari ini acara utama Intel Solutions Summit 2008 (ISS08) dimulai.

Pagi-pagi saya ke press room untuk akses Internet. Rungan sepi sekali. Belum ada wartawan lain sama sekali. Tiba-tiba ada petugas hotel menyapa,”Pak Setyardi,ya?”

Saya kaget. Ternyata petugas itu adalah Pak Sammy, orang Indonesia yang bekerja di hotel tersebut. Saya pun berikan kartu nama. Dia lagi tidak bawa kartu nama.Dia hanya bilang dulu tugas di Bali dan sekarang di Grand Hyatt Bangkok.

Beberapa saat kemudian dia datang kembali membawa kartu nama. Ternyata Pak Sammy Carolus ini adalah salah satu direktur di hotel ini. Wah.
“Kalau ada apa-apa hubungi saya ya Pak,” katanya.

***
Jam setengah sembilan sesuai jadwal, acara dimulai. Ternyata acara untuk wartawan berbeda dengan acara utama. Kami 'diasingkan' dengan acara yang full terpisah. Jadi kami tidak bisa melihat dan mengikuti keynote speech seperti yang ada di jadwal. Saya juga sama sekali tidak ketemu orang Indonesia yang mengikuti acara Intel ini, wong beda tempat.

Intel mengajak 11 wartawan non-Thailand serta 7 wartawan lokal untuk meliput acara ini. Saya satu-satunya wartawan ras melayu. wartawan lainnya memiliki ras India, China, Indo China, serta bule (Australia).

Acara untuk wartawan ini sangat padat. Presentasi silih berganti. Menjelang sore melihat-lihat pameran. Tetapi melihat-lihat tidak bisa sembarangan sebab semua dikasih kuisioner yang harus diisi. Kami harus menilai beberapa produk peserta pameran yang ditunjuk. Sebal deh.

Setelah itu masih ada group interview. Mandi sebentar, lalu ada acara lagi sampai malam di lokasi yang berbeda, di luar hotel.

***
Capek sekali rasanya. (Apalagi ada beban menulis berita untuk dotcom dan edisi cetak. Juga kirim foto, hehehe)
Tapi tidak apa-apa. Ada hal yang lebih mencemaskan lagi. Besok ada acara sampai jam 12.
Dan setelah itu harus langsung check out. Sesuai keterangan tertulis dari panitia, check out terakhir jam 12.Kalau mau extend bayar sendiri US$244++. Waduh.

Mencemaskan karena pesawatku baru berangkat Jumat pagi jam 02.30. Jadi di mana aku harus mandi, sholat, makan bekal dan indomie yang kubawa ini?

Aku males lah ngomong dengan panitia, wong jelas-jelas sudah ditulis begitu. Ntar dikira kampungan, ndesit.

Yang salah itu pesanan tiketnya, kenapa mesti pakai Garuda yang jadwalnya hanya satu kali sehari dari dan ke Bangkok. Kenapa tidak pesan penerbangan lain yang 'lebih manusiawi'? Mungkin karena murah?

Aku juga belum dapat kejalasan dari K, wartawan The Nation yang tahun lalu sama-sama jadi peserta NSK-CAJ Fellowship Program di Jepang, apakah dia mau mengajakku jalan-jalan atau tidak.

Bagaimana aku harus mengisi 15 jam di sini tanpa kamar, tanpa akses Internet? Entahlah. Kita tunggu saja perkembangan besok. Hehehe.
Semoga Allah berkenan memberi kemudahan.

Intel Solutions Summit 2008, bagian kedua: Hotel dan pasar


Grand Hyatt Erawan tempat saya menginap ini merupakan hotel bintang lima di pusat kota Bangkok. Tidak jauh dari hotel ini ada hotel Intercontinental, Four Seasons dan sebagainya.

Semua hotel di sekitar sini melakukan pemeriksaan terhadap mobil yang masuk. Satpam membuka bagasi dan memeriksa bagian bawah menggunakan cermin yang berlengan panjang. Bedanya, kalau di Jakarta banyak hotel dan perkantoran dilengkapi tempat pemeriksaan dengan portalpemeriksaan yang seperti benteng, di sini tidak. jalan dan bangunan tidak berubah. Mereka hanya meletakkan beberapa rambu sebagai tanda tempat pemeriksaan.

Tadi malam satpam yang memeriksa taxi hanya satu orang. Siang ini saya lihat dua orang. Kalau di Jakarta, setahu saya, pemeriksaan bisa an biasa dilakukan oleh banyak satpam.

Pengunjung yang membawa tas juga harus mampir ke meja pemeriksaan. Seorang petugas yang membawa detektor logam akan memeriksa isi tas, lalu bilang terimakasih dan menempatkan tangan di dada (tanda salam) sambil membungkuk.

Di kamar yang saya tempati ini tersedia akses Internet, tetapi tidak gratis. Saya baca petunjuknya, biaya dikenakan per menit. Wah, tidak jadi deh browsing, blogging, chatting dan akses email dari kamar. Bisa bangkrut nih.

Untungnya Intel menyediakan satu ruang khusus untuk wartawan yang telah dilengkapi dengan akses Wi-Fi. Tapi ya, itu, di ruang press tidak ada komputer. Sejak awal penyelenggara bilang “bring your own laptop”.

***
Mungkin saya adalah wartawan pertama yang registrasi dan masuk ke ruang wartawan. Buktinya, waktu pagi-pagi saya registrasi, petugasnya masih bingung, bahkan sempat bilang bahwa delegasi dari Indonesia mestinya di Hotel Intercontinental. Saya harus menunggu beberapa lama sebelum akhirnya registrasi kelar.

Rupanya, para undangan yang bukan wartawan sudah punya jadwal sendiri untuk acara Selasa pagi. Mereka ada kesempatan berwisata ke berbagai lokasi. Lah,tapi nama saya kan tidak ada di situ. Saya tahu itu ketika bertemu banyak orang di tempat registrasi.

Adapun pada jadwal kegiatan yang saya pegang (jadwal kegiatan wartawan) hari ini bebas sampai sore. Jadi hanya dipersilakan makan Internet sampai tuntas di ruang wartawan (hehehe).

***
Ya sudah, saya kembali ke kamar untuk mengetik blog dan email. Kemudian saya masuk ke ruang yang diperuntukkan wartawan. Di sana masih kosong. Tidak ada satu orang pun. Masalah teknis mulai timbul.

Saya coba connect ke Internet menggunakan Eee PC yang kubawa ini. Berkali-kali saya coba, Mozilla Firefox pada komputer kecilku ini terus membawa masalah. Saya restart, coba lagi, restart, coba lagi. Akhirnya berhasil masuk ke blog. Eh, di tengah jalan hang lagi. Firefox terus bengong yang merembet ke File Manager dan sebagainya.

Restart lagi. Setelah beberapa kali, berhasil posting tulisan ke blog. Tetapi masalah kembali berulang ketika saya mencoba mengakses email (Gmail). Firefox kembali membuat hang.

Akhirnya saya menyerah. Saya mencoba mengakses Wi-Fi mengunakan Ipaq 4350 yang saya punya. Eh, berhasil. Akses email juga lancar. Alhamdulillah. Ternyata Ipaq yang sudah udzur ini masih jauh lebih andal dibandingkan dengan EeePC. Masalah sempat muncul lagi ketika ada kesulitan memindahkan file dari USB flash disk kekartu SD yang bisa dibaca Ipaq.

***
Waktu kosong menunggu acara sore hari saya isi dengan jalan-jalan. Udara di Bangkok hari ini sangat panas, sedikit lebih menyengat dibandingkan dengan Jakarta.

Di sekitar hotel ada banyak orang berjualan makanan di pinggir jalan. Pedagang kaki lima kalau di Jakarta. Cara orang menunggu bus, naik dan turun, serta keadaan bus (serta metromini) yang ada di sini benar-benar mirip dengan Jakarta. Cara orang-orang berebut naik bus yang tidak benar-benar berhenti benar-benar mengingatkan saya akan suasana Jakarta. Ada perasaan senang dan tenang mengamati orang-orang dengan kultur yang sama ini.

***
Saya beruntung punya dua kawan wartawan di sini yang bisa ditanya lokasi-lokasi belanja murah yang bisa saya kunjungi. Na menyarankan saya untuk berjalan-jalan ke Pratunam, semacam pasar atau mall dekat hotel.

Sepanjang jalan ke Patrunam, saya melintasi banyak sekali pedagang kaki lima. Mereka menjajakan makanan, pakaian, aksesoris, mainan anak-anak, perlengkapan rumah tangga, dan sebagainya. Benar-benar mirip Jakarta. Cara orang berjualan di Pratunam juga mirip dengan ITC Cibinong atau Tamini Square. Wah, pokoknya Jakarta banget deh.

22 April 2008

Intel Solutions Summit 2008, bagian pertama: Naik taxi


Keberangkatan saya ke Bangkok ini dipenuhi dengan banyak kecemasan. Ini perjalanan yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan perjalanan saya ke luar negeri sebelumnya. Salah satu yang terus membebani sebelum saya berangkat adalah jadwal kedatangan dan keberangkatan yang tengah malam.

Garuda GA 866 yang saya tumpangi harus take off pukul 22.00 dan tiba di bandara Suvarnabhumi Bangkok pada 01.30 (tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta). Berhubung sudah terlalu malam, tidak ada jemputan sehingga saya harus naik taxi malam itu atau menunggu matahari terbit di bandara.

Saya membayangkan Bangkok tidak berbeda terlalu jauh dengan Jakarta. Lha wong di Jakarta saja saya masih pikir-pikir untuk naik taxi dari bandara, lha kok ini di Bangkok. Sendirian pula, dhewe emple.

***
Taxi Bluebird yang saya pesan berangkat dari rumah jam 16.10, enam jam sebelum jadwal penerbangan untuk mengantisipasi kemacetan jalan ke bandara. Apalagi perjalanan dari Gunungputri, Bogor, ke bandara harus melewati pusat kota Jakarta pada saat jam bubaran kantor. Pasti muacet, pikirku.

Jam setengah lima lebih sedikit taxi sudah tiba di Kampung Rambutan. Tetapi aneh sekali, tidak ada bus Damri Bandara di terminal bus antarkota terbesar Jakarta itu. Beberapa orang yang juga mau ke bandara menghampiriku, mengajak untuk naik omprengan Carry ke bandara. Ya sudah aku ikut. Aku adalah penumpang ke-7 alias penumpang terakhir sehingga omprengan pun segera berangkat.

Saya tertawakecut dalam hati, berangkat keluar negeri kok naik omprengan Carry duduk berdesakan di kursi belakang. Tetapi omprengan ini berjalan sangat cepat. Menyusup kiri, kanan, melintas bahu jalan tol, menyalip dan mengerem dengan sangat berani. Hasilnya, pukul 18.00 aku sudah tiba di bandara. Empat jam sebelum jadwal penerbangan.

***
Penerbangan Garuda ke Thailand di tengah malam ini memang sepi. Hanya ada sekitar 30 penumpang di pesawat. Jadi sangat longgar. Tiap orang bisa duduk sendiri dalam baris tiga bangku. Bahkan masih banyak juga bangku yang kosong blong. Jadi, sebagian besar penumpang bisa beristirahat dengan baik.

Mendarat di Suvarnabhumi alhamdulillah tidak ada masalah dengan bagasi dan imigrasi. Semua berjalan lancar dan cepat.

Saat ke luar dari imigrasi ini saya hanya bawa uang dollah AS dan rupiah. Semula mau menukarkan uang di Jakarta untuk mengantisipasikemungkinan sulit mencari money changer di bandara Bangkok malam-malam, tetapi kursnya luar biasa rendah, 100 dollar AS hanya dapat 2.500 baht.

Maka saya pun mampir dulu ke money changer dekat pintu ke luar bandara Suvarnabhumi. Alhamdulillah 100 dollar AS masih dihargai 3.200 baht. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Selisihnya hampir 25%.

Lalu saya pun pergi ke tempat pemesanan taxi. Di meja petugas ada tulisan meter + toll payment + 50baht. Artinya penumpang bisa membayar biaya taxi berdasarkan argometer, ditambah tarif toll (entah berapa), ditambah lagi dengan 50 baht. Ini sesuai dengan kata temanku, K, wartawan The Nation Thailand yang saya tanya soal taxi lewat SMS.

Tetapi begitu masuk ke taxi dan saya minta menghidupkan meter, si sopir bilang bayarnya 400 baht sudah semua termasuk toll dan biaya lainnya. Karena sebelumnya saya sudah dapat informasi dari penyelenggara acara dan dari Na, wartawan The Bangkok Post, soal biaya taxi dari bandara yang katanya sekitar itu, saya bilang okay.

Pak sopir ini cukup ramah. Dia berusaha mengajak bicara dan menjalin kontak. Ketika saya sebut Jakarta dan Indonesia, dia langsung bilang banyak muslim di sana ya? Tetapi saya tetap saja masih ketar-ketir dengan pak sopir ini.

Lalu ngobrollah ke sana ke mari, omong antah berantah. Dan tiba-tiba saya melihat di bagian kaca depan bagian atas taxi ada tulisan bismillahi- rrahmani- rrahim dalam huruf Arab (huruf Al Quran). Itu tulisan yang besar dan dibacanya dari depan taxi (bukan dari sisi penumpang).

Saya tanya, apakah dia muslim, dia jawab iya. Lalu dia tanya balik dan saya jawab iya. Tiba-tiba dia bilang assalamu alikum. Alhamdulillah, lega lah saya. Hilang semua kecemasan saya soal taxi, soal kesasar, dan sebagainya.

Pak sopir ini mengaku bernama Sulaiman. Dia punya dua anak lelaki dan satu anak perempuan. Sulaiman berasal dari daerah sekitar Pattaya (saya lupa nama tempat yang di sebut).

Sepanjang perjalanan dia juga menunjukkan ini masjid ini, ini masjid itu, ini kawasan muslim, dan sebagainya. Ternyata banyak juga masjid di Bangkok ini.

Perjalanan sekitar 30 menit ke Hotel Grand Hyatt Erawan itu jadi terasa menyenangkan. Masuk hotel ada pemeriksaan sedikit oleh satpam. Pemeriksaan ketika masuk ke hotel ini mirip dengan di Jakarta tetapi di Bangkok hotel-hotel tidak dipasangi portal, hanya pembatas yang bisa digeser-geser, diangkat dan dijinjing.

Uniknya, pak sopir ini memberi saya kuitansi yang nilainya 450 baht. Dia bilang saya kasih kamu 450 baht. Tetapi ketika saya bayar dengan uang 500 baht dia kembalikan 100 baht. Pak Sulaiman ini ada-ada saja.

***
Check in berjalan lancar. Kartu kredit yang belum pernah satu kali pun saya pakai untuk transaksi di Indonesia, ternyata diterima dengan baik di Bangkok.

Jadi saya tidak perlu diposit dengan uang cash seperti waktu ke Australia dua tahun lalu. Hari itu pun bisa kuakhiri dengan tidur nyenyak di kamar 0714 Grand Hyatt Erawan, Bangkok. Alhamdulillah.