01 September 2009

Menghentikan siklus Langan & Lintang

Orang baik yang siap menolong dengan upaya sporadis seperti para relawan dan sponsor BIUS itu selalu ada. Akan tetapi, pasti lebih utama jika ada kebijakan yang cerdas dari negara yang baik agar cerita pilu Langan dan Lintang tidak terulang-ulang dengan tokoh yang berganti-ganti.

***
Chris Langan adalah seorang pria dengan IQ 195, lebih tinggi daripada IQ Einstein yang sebesar 150. Akan tetapi, cerita tentang Langan adalah cerita ketidakberuntungan. Orang dengan IQ setinggi itu, tidak tercatat sebagai manusia berprestasi di dunia, bahkan akhirnya berprofesi sebagai tukang pukul dan penjaga sebuah peternakan kuda.

Langan bukan tidak mencoba untuk sukses. Dia gagal mendapatkan kesempatan dan tidak berhasil meraih dukungan yang diperlukan.

Dia berasal dari keluarga broken home yang miskin. Ketika kuliah tingkat kedua, beasiswanya dihentikan karena soal sepele: ibunya lupa mengisi formulir yang diperlukan. Langan mencoba bernegosiasi dengan pihak kampus tapi ditolak, dia drop out.

Tahun berikutnya dia mencoba kuliah di kampus lain sambil bekerja. Langan mencoba memindahkan jam kuliahnya agar bisa mendapat angkutan ke kampus dengan mudah karena dia punya kendala kendaraan. Langan kembali gagal. Begitulah, yang dia peroleh adalah akumulasi “kegagalan” atau “kesialan”.

Cerita mengenai Chris Langan dapat kita simak pada buku Outliers karya Malcolm Gladwell. Menurut Gladwell, Langan tidak cukup memililiki kecerdasan praktis. Dia tidak berhasil mengatasi masalah-masalah praktis yang lazimnya dapat dipecahkan bahkan oleh orang-orang yang kecerdasan analitisnya di bawah dia.

Sebenarnya dia butuh dukungan sebagaimana yang diperlukan orang-orang lain untuk sukses. Dia tak sanggup menghadapi keruwetan hidupnya itu sendirian. Gladwell mengaitkan kasus Langan ini dengan dukungan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya.

Gladwell mengidentifikasi bahwa ada orang miskin umumnya bukan hanya lemah dalam memberikan dukungan dana, namun juga dukungan moral untuk melakukan negosiasi dengan lingkungan serta orang-orang yang berwenang. Contoh orang yang memiliki wewenang adalah guru di sekolah.

***Barrier to entry
Indonesia punya banyak sekali anak cerdas yang berpotensi untuk mengalami nasib menyedihkan seperti Langan. Dalam cerita Laskar Pelangi karya Andrea Hirata kita bisa menyaksikan betapa pilunya nasib Lintang, anak cerdas yang memiliki semangat belajar luar biasa tinggi, harus tersisih karena keterbatasan biaya.

Cerita Laskar Pelangi sudah difilmkan dan sangat populer. Bahkan pemainnya dijadikan ikon dalam iklan Depdiknas tentang perlunya sekolah. Ini mestinya mampu menggugah semua pihak untuk bertindak lebih sistematis dalam mengatasi biaya pendidikan.

Dalam kasus Langan, negara memberikan kesempatan yang sangat luas agar orang miskin dapat kesempatan sekolah setinggi mungkin. Sayangnya, keluarga dan orang terdekat tidak mampu mendukung. Dalam kasus Lintang, anak pintar gagal mendapatkan dukungan negara maupun dukungan lingkungan terdekat.

Agustus dan September, masa daftar ulang di kampus-kampus unggulan seperti saat ini, menjadi ujian adakah Langan dan Lintang lain yang harus terjatuh karena kemiskinan dan kurangnya dukungan lingkungan.

Kita tahu bahwa biaya kuliah di Indonesia saat ini, termasuk di kampus-kampus milik negara, sudah melambung tinggi. Ada jalur-jalur khusus yang disediakan hanya bagi mereka yang berkantong tebal.
Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) mewajibkan kampus negara menyisihkan sedikitnya 20% kursi bagi mahasiswa kurang mampu. Selalu ada klaim dari para penyelenggara kampus untuk menyediakan sekian persen kursinya bagi siswa yang tidak mampu.

Akan tetapi, sebelum mencapai tahap untuk memperoleh beasiswa, toh para siswa itu harus berpikir puluhan kali bagaimana datang ke pusat-pusat pengetahuan dengan bekal dana sangat minim. Tidak mudah bagi orang perdesaan memberanikan diri ke kampus sekadar mengandalkan beasiswa yang masih harus diusahakan.

Adalah menjadi tugas negara dan para pemilik sumber daya untuk benar-benar menghilangkan kecemasan dari anak-anak pintar yang kurang mampu. Perlu upaya serius agar barrier to entry pusat-pusat pengetahuan itu sepenuhnya hilang.

Apa yang dilakukan oleh sejumlah alumni ITB dengan menggalang Beasiswa ITB untuk Semua (BIUS) layak ditiru. Bukan hanya menggalang dana, tim ini mengerahkan para relawan untuk menemukan anak-anak berprestasi, memastikan mereka ikut tes, membiayai perjalanan mereka.

Tim juga memberi bimbingan ‘kecerdasan praktis’ ketika mereka diterima agar tidak mengalami gegar budaya ketika menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Jadi, anak-anak potensial itu benar-benar diharapkan worry free.

Tetapi, bukankah lebih afdol jika negara benar-benar mampu menghapuskan barrier to entry yang didasarkan pemilahan kaya dan miskin di pusat-pusat pengetahuan itu?

Orang baik yang siap menolong dengan upaya sporadis seperti para relawan dan sponsor BIUS itu selalu ada. Akan tetapi, pasti lebih utama jika ada kebijakan yang cerdas dari negara yang baik agar cerita pilu Langan dan Lintang tidak terulang-ulang dengan tokoh yang berganti-ganti.

Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 1 September 2009, hal m6

Tidak ada komentar: