Orang baik yang siap menolong dengan upaya sporadis seperti para relawan dan sponsor BIUS itu selalu ada. Akan tetapi, pasti lebih utama jika ada kebijakan yang cerdas dari negara yang baik agar cerita pilu Langan dan Lintang tidak terulang-ulang dengan tokoh yang berganti-ganti.
***
Chris Langan adalah seorang pria dengan IQ 195, lebih tinggi daripada IQ Einstein yang sebesar 150. Akan tetapi, cerita tentang Langan adalah cerita ketidakberuntungan. Orang dengan IQ setinggi itu, tidak tercatat sebagai manusia berprestasi di dunia, bahkan akhirnya berprofesi sebagai tukang pukul dan penjaga sebuah peternakan kuda.
Langan bukan tidak mencoba untuk sukses. Dia gagal mendapatkan kesempatan dan tidak berhasil meraih dukungan yang diperlukan.
Dia berasal dari keluarga broken home yang miskin. Ketika kuliah tingkat kedua, beasiswanya dihentikan karena soal sepele: ibunya lupa mengisi formulir yang diperlukan. Langan mencoba bernegosiasi dengan pihak kampus tapi ditolak, dia drop out.
Tahun berikutnya dia mencoba kuliah di kampus lain sambil bekerja. Langan mencoba memindahkan jam kuliahnya agar bisa mendapat angkutan ke kampus dengan mudah karena dia punya kendala kendaraan. Langan kembali gagal. Begitulah, yang dia peroleh adalah akumulasi “kegagalan” atau “kesialan”.
Cerita mengenai Chris Langan dapat kita simak pada buku Outliers karya Malcolm Gladwell. Menurut Gladwell, Langan tidak cukup memililiki kecerdasan praktis. Dia tidak berhasil mengatasi masalah-masalah praktis yang lazimnya dapat dipecahkan bahkan oleh orang-orang yang kecerdasan analitisnya di bawah dia.
Sebenarnya dia butuh dukungan sebagaimana yang diperlukan orang-orang lain untuk sukses. Dia tak sanggup menghadapi keruwetan hidupnya itu sendirian. Gladwell mengaitkan kasus Langan ini dengan dukungan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya.
Gladwell mengidentifikasi bahwa ada orang miskin umumnya bukan hanya lemah dalam memberikan dukungan dana, namun juga dukungan moral untuk melakukan negosiasi dengan lingkungan serta orang-orang yang berwenang. Contoh orang yang memiliki wewenang adalah guru di sekolah.
***Barrier to entry
Indonesia punya banyak sekali anak cerdas yang berpotensi untuk mengalami nasib menyedihkan seperti Langan. Dalam cerita Laskar Pelangi karya Andrea Hirata kita bisa menyaksikan betapa pilunya nasib Lintang, anak cerdas yang memiliki semangat belajar luar biasa tinggi, harus tersisih karena keterbatasan biaya.
Cerita Laskar Pelangi sudah difilmkan dan sangat populer. Bahkan pemainnya dijadikan ikon dalam iklan Depdiknas tentang perlunya sekolah. Ini mestinya mampu menggugah semua pihak untuk bertindak lebih sistematis dalam mengatasi biaya pendidikan.
Dalam kasus Langan, negara memberikan kesempatan yang sangat luas agar orang miskin dapat kesempatan sekolah setinggi mungkin. Sayangnya, keluarga dan orang terdekat tidak mampu mendukung. Dalam kasus Lintang, anak pintar gagal mendapatkan dukungan negara maupun dukungan lingkungan terdekat.
Agustus dan September, masa daftar ulang di kampus-kampus unggulan seperti saat ini, menjadi ujian adakah Langan dan Lintang lain yang harus terjatuh karena kemiskinan dan kurangnya dukungan lingkungan.
Kita tahu bahwa biaya kuliah di Indonesia saat ini, termasuk di kampus-kampus milik negara, sudah melambung tinggi. Ada jalur-jalur khusus yang disediakan hanya bagi mereka yang berkantong tebal.
Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) mewajibkan kampus negara menyisihkan sedikitnya 20% kursi bagi mahasiswa kurang mampu. Selalu ada klaim dari para penyelenggara kampus untuk menyediakan sekian persen kursinya bagi siswa yang tidak mampu.
Akan tetapi, sebelum mencapai tahap untuk memperoleh beasiswa, toh para siswa itu harus berpikir puluhan kali bagaimana datang ke pusat-pusat pengetahuan dengan bekal dana sangat minim. Tidak mudah bagi orang perdesaan memberanikan diri ke kampus sekadar mengandalkan beasiswa yang masih harus diusahakan.
Adalah menjadi tugas negara dan para pemilik sumber daya untuk benar-benar menghilangkan kecemasan dari anak-anak pintar yang kurang mampu. Perlu upaya serius agar barrier to entry pusat-pusat pengetahuan itu sepenuhnya hilang.
Apa yang dilakukan oleh sejumlah alumni ITB dengan menggalang Beasiswa ITB untuk Semua (BIUS) layak ditiru. Bukan hanya menggalang dana, tim ini mengerahkan para relawan untuk menemukan anak-anak berprestasi, memastikan mereka ikut tes, membiayai perjalanan mereka.
Tim juga memberi bimbingan ‘kecerdasan praktis’ ketika mereka diterima agar tidak mengalami gegar budaya ketika menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Jadi, anak-anak potensial itu benar-benar diharapkan worry free.
Tetapi, bukankah lebih afdol jika negara benar-benar mampu menghapuskan barrier to entry yang didasarkan pemilahan kaya dan miskin di pusat-pusat pengetahuan itu?
Orang baik yang siap menolong dengan upaya sporadis seperti para relawan dan sponsor BIUS itu selalu ada. Akan tetapi, pasti lebih utama jika ada kebijakan yang cerdas dari negara yang baik agar cerita pilu Langan dan Lintang tidak terulang-ulang dengan tokoh yang berganti-ganti.
Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 1 September 2009, hal m6
Tampilkan postingan dengan label rektor itb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rektor itb. Tampilkan semua postingan
01 September 2009
30 Agustus 2009
Jebakan bagi para teknolog (ITB)

Beberapa tahun lalu saya membaca buku Bentang Ego, Alunkan Simfoni (BEAS) yang bercerita bagaimana kiprah Pak Kusmayanto Kadiman sebagai dosen di Teknik Fisika ITB dan (terutama) sebagai Rektor ITB.
Banyak hal menggugah yang saya dapatkan dari buku itu. Belakangan saya menjadi tergoda untuk membaca kembali buku itu terutama karena dalam perbincangan, baik lisan maupun tertulis, Pak Kus yang sekarang jadi Menristek itu sering merujuk pada ide yang tertuang dalam buku BEAS.
Sulit untuk meringkas buku yang sudah sangat padat dan kaya itu. Tapi saya akan fokus pada tiga ide yang terasa paling mengena sejak pertama kali membaca buku BEAS. (Bagi saya, buku itu solah-olah berjudul: Bentangkan Egomu, Alunkan Sinfonimu).
Membaca ulang buku ini sekarang –setelah agak sering berinteraksi secara langsung--juga menjadi lebih mudah karena saya bisa membayangkan bagaimana kira-kira intonasi dan tekanan Pak Kus ketika berbicara tentang apa yang tertuang dalam buku itu.
Tiga ide yang saya maksud meliputi: perangkap business as usual, jebakan kaum nerdish, serta kriteria insinyur. Berikut ini kutipan paparan Pak Kus mengenai tiga bidang di atas dalam buku BEAS.
***Business as usual
Perangkap terbesar yang ada dalah orang itu suka sekali dengan yang disebut business as usual, entah dalam aturan-aturan atau dalam apa. Orang itu maunya melakukan hal yang sama. Seperti yang sudah-sudah, seperti yang kemarin-kemarin saja. Kalau dia junior saya, ya sudah, lakukan seperti yang senior saya lakukan. Itu perangkap yang terbesar.
Saya mengatakan bahwa kita sudah lama bahagia memerangkap diri, diperangkap oleh diri kita sendiri. Tidak ada yang mau melakukan evaluasi. Mereka memandang bahwa itulah dunia mereka, dan tidak mau sebentar keluar dari dunia itu.
Selain itu, dalam business as usual, senoritas menjadi sangat penting. Kaidah yang berlaku do what I say, tetapi don’t do what I do. Kita mengajar begitu saja apa-apa yang sudah kita baca, tetapi tidak pernah mempersoalkan apakah cara mengajarnya sudah benar. Mendasar sekali sebenarnya pertanyaan how can I perform today better than yesterday.
Padahal, feed back is very important element of life. Kalau sesorang pergi ke lapangan, ketika balik ke kantor, dia menulis apa yang kita sebut back to office report. Itu dilakukan sebagai bentuk kontrak Anda. Apa yang Anda janjikan Anda tulis di situ. Sesudah itu, Anda mendapatkan feed back dari orang-orang lain. Nah, ketika tidak ada ukuran-ukuran, kita tidak peduli dengan evaluasi.
Kutipan:
Insanity: doing the same thing over and over again, and expecting different results. (Albert Einstein)
What gets measured gets done, what gets measured and feed back gets done well, what gets rewarded gets repeated. (John E. Jones)
***Nerd dan gaul
Membangun relasi merupakan satu aspek kehidupan yang menarik. Saya merasa bahwa manusia diciptakan tidak untuk sendirian. Jadi saya mengindahkan betul apa yang disebut nerd. Makna asli kata ini adalah cicak. Dalam Kamus Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “kutu buku”.
Jadi “kutu buku” itu orang yang tidak peduli dengan lingkungannya, yang merasa serba cukup dengan hidup sendirian. Saya percaya sikap ini bukan sebab, melainkan akibat. Saya tidak percaya orang dilahirkan untuk menjadi seorang nerd. Dia menjadi nerdish itu, salah satu sebabnya, karena faktor pengalaman masa kecil sehingga dia berkaya, “I don’t trust society.”
Dia merasa lebih aman dengan being alone, bergumul dengan buku, bergumul dengan alat, dia membuat dunianya sendiri. Kemudian, mengapa dia memilih menjadi nerd? Itu karena dia tidak percaya lagi akan society. Dia merasa akan lebih bermanfaat kalau tidak mengendalikan atau dikendalikan society. Hal itu membuat dia memilih hidup sendirian, tidak bersosialisasi dengan manusia lain.
Pilihan itu dia pilih karena merasa tidak punya kendali, atau tidak mau dikendalikan. Sementara itu, kalau dia bermain dengan buku, atau dengan alat-alat tidak bernyawa, dia merasa, “I have control.” Hal yang dia tidak dapatkan dari manusia, dia dapatkan dari situ.
Nah, saya ingin menjadi pelengkap dari para nerd ini. Saya percaya menjadi anggota society itu penting sekali. Bahkan dalam pernyataan yang sering saya lontarkan, saya sampaikan bahwa meskipun dari sudut pandang uang saya jauh di bawah orang yang paling kaya, tetapi dalam soal pertemanan saya boleh merasa bangga. Dan saya mengucapkan puji syukur. Saya adalah salah satu orang “terkaya” di dunia ini dalam hal kebertemanan.
Kebertemanan ini, kata kuncinya adalah interrelasi. Untuk saya, saya bentuk yang namanya interpersonal skill. Ini adalah soft skill yang mesti saya punya.
Lalu apa yang menjadi modal? Pertama adalah melihat sesuatu apa adanya, bukan dari kacamata saya. To see things as they are, not as the way I want. Itu yang menjadi falsafah.
Seorang yang “gaul” itu kalau saya kasih kertas dan pena, saya minta menuliskan 1.000 orang temannya, maka dalam orde menit dia akan bisa menulis 1.000 nama teman. Bagi mahasiswa ITB, mengenali 1.000 orang mestinya tidak sulit, oleh karena populasi total ITB kan mendekati 20.000 orang. Seribu orang itu kan hanya 5% dari 20.000 orang.
Kutipan:
Loving is the only sure road out of darkness, the only serum known that cures self-centeredness. (Roger M’Ckuen)
One of the most valuable things we can do to heal one another is: listen to each other’s stories. (Rebecca Falls)
***Kriteria insinyur
Saya memilih jurusan Teknik Fisika karena saya tidak tahu apa itu bidang Teknik Fisika. Sampai sekarang saya merasa kalau “salah jurusan”. Sebabnya saya tidak tahu sekarang bisa apa. Saya tidak tahu kekuatan saya sekarang ini dalam bidang apa. Namun, saya yakin, apa pun jurusan yang saya pilih pada waktu itu, tetap saja akan merasa “salah jurusan”.
Mestinya bidang Teknik Fisika adalah yang benar-benar bisa mencapai frontier dari bidang engineering. Sebenarnya sudah lama saya mengerti apa itu Teknik Fisika. Namun sampai sekarang saya merasa tidak mampu menjadi seroang engineering physicist. Menurut saya, ilmu seperti instrumentasi dan kontrol yang saya geluti sudah tidak cocok lagi di Departemen Teknik Fisika.
Kalau seseorang itu mengatakan dirinya insinyur, maka dia harus tahu apa sih kemampuan minimum yang harus dipunyi seorang insinyur. Menurut saya, seseorang hanya boleh menyebut dirinya insinyur kalau dia mempunyai kemampuan untuk merancang sesuatu.
“To design” adalah kata kunci yang tidak pernah lepas dari keinsinyuran. Nah, kalau kita bicara tentang Teknik Fisika, insinyur Teknik Fisika itu merancang apa? Kalau insiyur Teknik Sipil merancang konstruksi bangunan, insinyur Teknik Kimia merancang pabrik, jelas.
Bagaimana dengan Teknik Fisika? What kind of design yang bisa menjadi ciri khas seorang insiyur Teknik Fisika? Itulah yang menyebabkan sampai saat ini saya mengatakan bahwa saya salah jurunan.
Namun, kalau dikatakan saya insinyur instrumentasi dan kontrol, Im very proud of it. Namun menurut saya, it just a fraction dari spectrum Teknik Fisika yang begitu luas. Akan sangat takabur kalau saya yang hanya tahu sedikit tentang Teknik Fisika mengaku sebagai “insinyur Teknik Fisika”.
Jadi saya berani mengatakan “I'm an engineer in instrumentation and control, not in engineering physics. Not yet.”
Kutipan:
Engineering is not merely knowing and being knowledgeable. Engineers operate at the interface between science and society. (Dean Gordon Brown)
To educate a man in mind and not in morals is to educate a menace society. (Theodore Roosevelt)
Label:
alunkan simfoni,
beas,
bentang ego,
KK,
kusmayanto kadiman,
menristek,
rektor itb,
teknik fisika
02 Agustus 2009
Jumpa ketiga

Pekan lalu saya dipanggil kembali oleh Pak Menristek. Pertemuan kali ini menjadi pertemuan ketiga dalam jangka waktu satu pekan. Lebih intensif daripada bimbingan tugas akhir saya kira, hehehe.
Pak Menteri membawa saya masuk ke ruang pribadinya. Di sana ada meja dengan banyak buku di atasnya. Di sebelahnya ada almari. Dari tepi jendela kita bisa melihat pemandangan ke arah monas.
Kali ini kami ngobrol hanya berdua saja. Seolah-olah seperti perwalian jaman kuliah dulu. Beliau bercerita sangat terbuka tentang keluarganya, anak, cucu. Juga tentang perjalanan karirnya, mengapa memilih berhenti dari ITB. Beliau paparkan pengalamannya terpilih jadi dosen teladan ITB yang berpeluang menjadi profesor termuda, namun kemudian jalur kepangkatannya justru macet.
Sebagian cerita beliau sudah dapat disimak pada buku “Bentang Ego, Alunkan Simfoni,” sehingga saya berani tulis di blog ini. Akan tetapi, bagi saya, jelas berbeda mengetahui cerita dari buku dengan mendengar langsung oleh tokoh yang menjadi inti cerita.
Ada banyak hal yang beliau ceritakan dan beliau tanyakan dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu. Bagi saya ini hal yang sangat mengesankan dan sulit dilupakan. Sebagai orang yang pernah kuliah di Jurusan Teknik Fisika ketika beliau menjadi dosen, ini seperti perwalian sesungguhnya, dalam bentuk yang lain.
Saya merasa beliau sedang berusaha “membombong” hati saya yang sering mengkeret sekecil menir dan minder itu. Saya merasa bahwa beliau berharap saya bisa berprestasi baik, beliau mencoba mengungkit hal-hal yang mungkin selama ini tersembunyi dan tidak mampu saya lihat sendiri.
Pada kesempatan itu, Pak Menteri memberi saya hadiah sebuah baju batik motif fractal warna biru, dua buah buku, serta dua buah CD musik. Terima kasih banyak Pak Kus untuk segala sesuatunya.
Label:
KK,
kusmayanto,
kusmayanto kadiman,
menristek,
mentor,
perwalian,
rektor,
rektor itb,
teknik fisika
26 Juli 2009
Mencari sistem inovasi nasional

Kreatif tidak sama dengan inovatif, meskipun inovasi membutuhkan kreativitas. Seseorang yang kreatif belum tentu inovatif, apalagi jika kreativitas itu semata-mata bermotivasikan kesenangan diri sendiri, atau justru untuk merugikan orang lain. Jadi, teori tentang inovasi berbeda dengan teori tentang kreativitas.
Inovasi, jika terjadi, serang merupakan hasil kolektif, bukan hasil individual. Oleh karena itu, dalam literature akademik, teori-teori inovasi merujuk pada gagasan kesisteman melalui system inovasi (innovation system) atau jejaring inovasi (innovation network).
Itulah cuplikan yang sangat menggugah dalam prakata buku Simfoni Inovasi, Cita & Realita karya Kusmayanto Kadiman. Pak Kus alias Pak KK yang mantan Rektor ITB itu sekarang menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi.
Buku ini saya peroleh langsung dari beliau ketika mantan dosen Teknik Fisika ITB itu memanggil saya untuk ikut makan siang bersama di kantornya, pekan lalu.
Buku terbitan 2008 ini tidak tebal, hanya 224 halaman. Tapi sampul dan penampilannya lux karena menggunakan hard cover yang dilapisi pula dengan sampul luar terpisah. Formatnya unik. Sebagian besar berisi dialog antara Pak Kus dengan nara sumber yang dia pilih.
Kemudian pada bagian awal, tengah, serta akhir, Pak Kus berusaha menarik benang merah dari dialog dengan nara sumber, para pelaku di bidang industri dan social yang terkemuka, mengenai ide dasar pembentukan sistem inovasi nasional.
Ini format penulisan buku yang bagi saya agak baru. Buku yang mirip, misalnya, adalah karya para wartawan yang berisi kumpulan dialog dengan banyak nara sumber. Bedanya, kalau wartawan umumnya lebih banyak bertanya, kalau ini lebih banyak pertukaran pikiran antara dua atau tiga belah pihak.
Adanya pengantar dan upaya menjelaskan benang merah juga membuat dialog yang kadangkala melenceng ke sana dan ke sini bisa tetap menghasilkan kesimpulan yang selaras dengan topik utama.
**Kocak dan mendalam***
Ada keunggulan yang muncul dari format dialog ini. Yang paling menonjol adalah sikap atau pendapat spontan dari para nara sumber. Ini jelas berbeda jika yang bersangkutan diminta menulis tentang tema tertentu yang sifatnya searah. Selain itu ada diskusi, ada penggalian, ada pertukaran yang terjadi.
Format dialog semacam ini juga lebih mudah dicerna oleh akal saya yang pendek ini. Lebih menukik ke inti masalah, dengan contoh konkret berdasarkan pengalaman dan kearifan nara sumber.
Sifat spontan dalam dialog ini juga kadang memicu orang untuk berbicara lebih terbuka mengenai hal-hal yang tampak sensitive, misalnya menyangkut lambannya mesin birokrasi.
Karena sifatnya yang spontan, banyak juga dialog yang terkesan kocak. Misalnya, kata-kata Dirut PT Pindad Budi Santoso.
“Pesawat Hercules kita usianya sudah lebih tua dari pilotnya. Maka pilotnya harus baik-baik dengan pesawatnya [seperti baik-baik pada orang yang lebih tua].”
Banyak cerita yang menggugah, mengharukan, tapi juga membuat tertawa seperti cerita Dirut Pindad ketika belajar peluru kendali.
“Seluruh staf saya tidak ada yang tahu cara membuat peluru kendali. Sampai akhirnya saya minta peluru kendari dari TNI yang sudah tidak terpakai. Saya harus menandatangani perjanjian bahwa kalau peluru itu meledak, harus bertanggungjawab. Dan ketika peluru itu datang, kami semua bingung. Kami bingung bagaimana cara membongkarnya, mana bagian depannya, mana belakangnya. Kalau salah kan bisa meledak.”
Ada juga kutipan-kutipan filosofis seperti mengtip teori chaos bahwa kepakan kupu-kupu di satu belahan bumi bisa jadi berpengaruh besar terhadap kejadian di belahan bumi lain.
Ada kutipan Einstein bahwa penyederhanaan itu memberikan kepastian, tetapi bukan kenyataan. Kenyataan tidak bisa disederhanakan sehingga menimbulkan ketidakpastian. Dalam ketidakpastian itu terkandunglah banyak informasi tentang kehidupan.
Dialog dengan Arifin panigoro, CEO Medco, memberi saya banyak sekali informasi baru mengenai energi, pengembangan energi, energi alternatif, serta kebijakan yang tumpang tindih dalam mengaturnya.
Diskusi dengan Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Jamu Sido Muncul, membuka wawasan mengenai ilmu pengobatan yang berbeda paradigma dnegan ilmu kedokteran.
Apakah tidak lagi merasa sakit sama dengan sembuh dari sakit? Apakah kita tahu persis bagaimana cara obat itu bekerja dan bagaimana cara tubuh bereaksi? Bisakah kita mengukur “kadar kesakitan” itu? Dan banyak sekali hal menarik, pertanyaan-pertanyaan mengelitik tentang macam-macam hal.
*Beda pendekatan*
Pemaparan Pak Kus mengenai pendekatan instrumental dan pendekatan kapabilitas yang kita anut dalam beberapa dekade memberikan gambaran yang menarik.
Pendekatan instrumental menekankan perlunya alat, instrument, dalam hubungan manusia dengan iptek. Dalam pendekatan ini, ketika iptek sudah di tangan masyarakat, maka perubahan akan segera terjadi tanpa perlu upaya yang signifikan.
Pendekatan ini mirip dengan mengatakan bahwa dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ada bebarapa varian dalam pendekatan ini yang dijelaskan pada bagian awal buku itu.
Pendekatan lain adalah pendekatan kapabilitas yang dimotori Amartya Sen. Dalam konteks ini yang berlaku adalah “di balik bangsa yang maju terdapat iptek yang maju.” Dalam pendekatan ini, jiwa yang sehat merupakan faktor intrinsik yang diperlukan untuk menyehatkan badan.
Pak Kus juga memaparkan bagaimana lintasan inovasi yang ditempuh oleh AS dan China dengan melihatnya berdasarkan empat variable yang diwakili empat sumbu yaitu Tarikan pasar, kepentingan swasta, dorongan kebijakan, serta misi negara.
Penjelasan tentang itu sangat menarik dan membuka mata saya mengenai hubungan-hubungan antara elemen akademisi (A), bisnis dan industi (B), serta pemerintah (G). Dari dulu, Pak Kus memang selalu mengkampanyekan kerja sama ABG ini. Terima kasih Pak Kus.
Label:
inovasi,
inovatif,
kadiman,
kreatif,
kusmayanto,
menristek,
rektor itb,
teknik fisika
Langganan:
Postingan (Atom)