Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan

31 Januari 2010

Menanti diary petinggi negeri


Membaca catatan harian seperti yang ditulis Zlata, Anne Frank, Wahib, atau Soe Hok Gie, membawa kita menghayati apa yang bergolak dalam diri mereka maupun suasana yang berkembang di sekitarnya. Hal itu juga membuat kita mengerti bagaimana mereka mengambil keputusan.

***
“Bapak mengajukan pemikiran yang agak nakal terkait bail out Bank Century. Apakah Bapak kecewa tidak memenangkan perdebatan dalam rapat itu,” demikianlah kurang lebih salah satu pertanyaan anggota Pansus Angket Century DPR terhadap Marsillam Simandjuntak.

Marsillam yang mantan kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi hanyalah satu dari banyak pejabat tinggi yang dipanggil sebagai saksi dalam sidang yang digelar berhari-hari oleh pansus itu.

Banyak pertanyaan lain dengan pola serupa yang diajukan kepada para saksi seperti “Apakah yang Anda pikirkan ketika itu”, “Apa posisi Saudara saat itu”, “apakah Saudara menyesal” dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mengingatkan saya mengenai isi diary dan kaitannya dengan jabatan politis seseorang.

Mengacu pada kategorisasi yang dibuat Nassim Nicholas Taleb dalam Black Swan, pekerjaan yang terkait dengan politik umumnya memiliki tingkat keacakan yang tinggi. Orang yang bekerja dengan tingkat keacakan yang tinggi, paparnya, memiliki peluang besar untuk dihantui oleh penyesalan di masa mendatang.

Para politisi dan pemegang jabatan politis bertindak berdasarkan data, informasi, dan pertimbangan yang tersedia saat itu. Namun, papar Taleb, di kemudian hari politisi sangat berpeluang untuk dihantui oleh rasa menyesal karena mendasarkan pertimbangan baru dengan apa yang diketahui belakangan ketika semua sudah terungkap.

Kalau mengamati seringnya keputusan politik dipersoalkan, tampak sekali bahwa peluang adanya penyesalan itu besar sekali.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa para pengambil keputusan dalam kasus Century akan menyesal. Kasus Century diambil hanya sebagai contoh paling hangat bagaimana sebuah keputusan dipersoalkan secara politis dan memaksa orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk mengingat kembali dengan detail bagaimana keputusan di masa lalu diambil.

Ada saran sederhana namun sangat mengena dari Nassim Taleb soal cara mengatasi rasa bersalah dan penyesalan saat orang mengambil keputusan penting. Menurut dia, salah satu yang perlu dilakukan orang dengan pekerjaan yang memiliki tingkat keacakan tinggi adalah menulis diary.

Diary adalah catatan pribadi yang ditulis ketika peristiwa itu, pengambilan keputusan penting --yang sangat mungkin berpengaruh besar terhadap nasib diri sendiri, nasib partai, nasib konstituen, nasib negara--dipertaruhkan. Ini berbeda dengan memoar yang seringkali ditulis sekian lama setelah peristiwa terjadi.

Menurut Taleb, menulis diary adalah cara yang tampaknya sederhana, tapi kadangkala terasa berat dilakukan untuk mengobati banyak masalah psikologis, terutama menyangkut tekanan-tekanan yang berat. “Saya sering mendengar psikolog menyarankan orang melakukan terapi diary untuk meringankan beban psikologis pasien,” papar Nasim Taleb.

Bagi orang lain, membaca diary juga membuat orang bisa lebih mengerti, empati, terhadap si penulis. Orang bisa melihat ‘dari dalam’ atau ‘dari sisi sang politisi’ sehingga mudah mengerti mengapa dia mengambil keputusan yang barangkali kontroversial atau tidak populer.

***
Ada beberapa orang yang menjadi sangat terkenal karena memberikan banyak pelajaran kepada publik melalui diary yang ditulisnya. Di Bosnia ada Zlata Filipovic, seorang anak berusia 11 tahun yang tinggal di Sarajevo dan menyaksikan masa-masa pahit perang Bosnia-Serbia.

Catatan-catatan Zlata memberikan prespektif yang orisinil dan otentik dari anak yang sama sekali tidak memiliki kepentingan politik terkait dengan perang dan pembantaian pada dekade 1990-an itu.

Zlata kadang disebut sebagai Anne Frank-nya Bosnia. Keduanya sama-sama masih belasan tahun dan menulis pengalaman pribadi di tengah tragedi kemanusian yang ditimbulkan oleh perang.

Anne Frank adalah anak perempuan Yahudi yang tinggal di Belanda yang keluarganya menjadi korban kekejaman Nazi. Anak yang memiliki nama lengkap Annelies Marie Anne Frank itu dikenang karena catatannya tentang tragedi yang menimpa keluarganya pada periode 1942-1944.

Di Indonesia, setidaknya ada dua anak muda yang menjadi sangat terkenal setelah diary-nya diterbitkan, yaitu Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie. Dua-duanya meninggal dunia di usia muda dan catatan hariannya diterbitkan setelah mereka meninggal dunia.

Wahib, yang meninggal pada 1973 dalam usia 31 tahun, dikenang melalui catatan harian yang dibukukan dan diberi judul Pergolakan Pemikiran Islam. Adapun Soe Hok Gie dikenal dengan Catatan Seorang Demonstran.

Membaca catatan harian seperti yang ditulis Zlata, Anne Frank, Wahib, atau Soe Hok Gie, membawa kita menghayati apa yang bergolak dalam diri mereka maupun suasana yang berkembang di sekitarnya. Hal itu juga membuat kita mengerti bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan di saat-saat genting.

Sebenarnya di dunia yang sudah modern dengan banyak peralatan canggih ini upaya menulis diary baik yang terbuka maupun tertutup sangat dimudahkan. Ada blog, microblogging, jaringan sosial, ada komputer, alat perekam suara, perekam gambar, dan sebagainya yang sangat mungkin digunakan sebagai sara untuk menulis diary digital.

Nah, apakah para elite dan pejabat politik kita cukup memiliki waktu untuk menulis diary sehingga suatu saat rakyat --yang hanya melihat aktivitas mereka lewat media massa--bisa menangkap apa yang bergolak dalam hati para elite tersebut ketika mengambil keputusan?

Pasti menarik bisa membaca diary para politisi yang ditulis saat-saat peristiwa penting terjadi atau diputuskan. Sayangnya, yang lebih mudah kita temui adalah memoar yang ditulis belakangan.

16 Juli 2009

Empat kelompok dalam kabinet


Di tengah gencarnya rumors mengenai kabinet jilid-2 SBY, ingatan ini melayang pada apa yang saya tuliskan pada halaman belakang diary pada 1994. Lima belas tahun yang lalu, saya menulis pada halaman belakang buku “Inilah Jalanku” kalimat yang berbunyi “Akhirnya Jadi Presiden.”

Kala itu, saya memang terobsesi untuk menjadi seorang presiden. Maka, saat ini saya mencoba membayangkan seandainya diri ini menjadi seorang Presiden dan sedang menyusun sebuah kabinet.

***
Jika berhasil menjadi Kepala Negara yang dipilih secara langsung oleh rakyat dengan dukungan sejumlah partai politik, maka susunan kabinet yang akan saya bangun kira-kira terdiri atas empat kelompok

Empat kelompok itu meliputi kelompok teman dekat, kelompok garansi partai, kelompok garansi teman, serta kelompok experimental.

Kelompok teman dekat akan mewakili seperempat atau maksimal sepertiga dari isi kabinet. Posisi kunci yang akan menentukan “nasib” pemerintahan akan saya isi dengan teman dekat yang benar-benar tepercaya. Termasuk dalam posisi itu adalah seluruh menko atau menteri utama.

Adapun kelompok garansi partai sudah banyak dibahas di media massa. Pada intinya, ini merupakan semacam kompensasi atas dukungan partai yang telah diberikan selama masa pencalonan maupun selama pemerintahan berjalan. Secara keseluruhan, kelompok ini akan mewakili seperampat dari jumlah menteri. Sebagian memimpin departemen, dan sebagian lagi menteri negara.

Posisi untuk kelompok ini adalah departemen atau kementerian yang relatif rumit namun tidak menentukan “nasib” pemerintahan secara keseluruhan. Dengan demikian saya tetap bisa menjaga posisi aman jika partai melakukan maneuver-manuver yang tidak sejalan dengan target saya, misalnya ketika saya harus mengambil keputusan yang tidak populer. Saya tidak ingin memelihara “anak macan”.

***
Kelompok garansi teman adalah posisi yang akan saya isi dengan para professional di bidangnya. Sebagai manusia biasa, sudah barang tentu saya tidak mengenal semua ahli yang menonjol di berbagai bidang sehingga perlu penghubung dan penjamin para ahli yang akan saya tempatkan dalam kabinet. Ada ribuan doktor, belasan ribu master, serta puluhan ribu sarjana di negeri ini. Ada ratusan atau ribuan manusia unggul yang mungkin tepat untuk mengisi kursi departemen atau kementerian.

Dalam teori mengenai keterpisahan, konon, jarak antara satu manusia dengan seluruh manusia lain hanya terpaut maksimum enam langkah. Dalam lingkup kaum professional dan intelektual yang terbatas dan berpotensi masuk dalam kabinet, jarak maksimal saya perkirakan sekitar tiga atau empat penghubung. Kalau saya bisa minta garansi teman atas temannya teman, maka setidaknya saya bisa menjangkau sepersepuluh dari kaum intelektual berpotensi. Artinya, mungkin saya menjangkau 30% atau 50% dari seluruh orang yang berpotensi masuk kabinet.

Saya ingin meniru cerita tentang Pak SBY yang konon waktu memilih salah satu Menteri Perhubungan meminta pendapat dan garansi dari mantan presiden Habibie. Saya kira ini salah satu cara yang baik sekali dalam menyeleksi calon menteri yang secara personal tidak saya kenal langsung. Saya ingin memilih outliers di lini masing-masing dengan cara yang tepat dan tidak meleset. Kaum outliers akan mewakili seperempat hingga sepertiga posisi kabinet.

Berhubung saya sudah membaca buku Blink karya Malcolm Gladwell, saya sudah belajar untuk tidak mudah terpesona pada kesan pertama, namun juga tidak terkecoh pada tampilan luar yang kurang meyakinkan atas siapa-siapa yang sempat diusulkan untuk duduk dalam kabinet.

Kelompok keempat adalah kelompok eksperimental. Saya sebut demikian karena saya akan membuat sejumlah terobosan mengenai jabatan-jabatan baru dalam struktur organisasi pemerintahan. Ini berguna untuk menampung bermacam-macam ide liar yang saya dapatkan dari buku-buku, Internet, dan lintasan-lintasan pemikiran, yang barangkali banyak gunanya di masa depan. Porsi untuk kursi ini adalah 15%-20%. Ini saya umpamakan seperti CSR (country social responsibility) atau USO (universal service obligation) dalam volume yang besar.

Posisi ini juga berguna untuk menampung inovasi-inovasi baru serta kemungkinan-kemungkinan baru yang diadopsi dari negara lain. Pada posisi ini akan ditempatkan orang-orang muda yang paling inovatif dan kreatif. Syukur-syukur kalau posisi ini juga dapat digunakan untuk mengakomodasi partai politik pendukung.

***
Prinsip-prinsip yang akan saya pegang dalam menyusun kabinet adalah akomodasi, revitalisasi, regenerasi, dan reorientasi.

Akomodasi akan diwakili oleh kelompok partai, revitalisasi diwakili oleh kelompok garansi teman alias para professional. Regenerasi bisa diwakili oleh semua kelompok, sedangkan reorientasi diwakili oleh kelompok eksperimental.

Saya tidak mau disetir oleh rumors, namun sebagai orang yang pernah bekerja di media massa, saya akan melakukan uji publik melalui media massa. Saya juga akan mengoptimalkan fungsi jejaring sosial dan blog (ataupun blogger) dalam melakukan uji publik.

Publik akan saya biarkan untuk tahu persis calon menteri pada beberapa posisi. Namun saya akan menjaga penuh rahasia pada sebagian besar posisi sampai pada hari H pengumuman susunan kabinet.

Saya punya cukup banyak waktu untuk menyusun kabinet, jadi tidak perlu terburu-buru seperti Pak Habibie sewaktu membuat kabinet sebelas tahun yang lalu. Saya juga tidak ingin meniru cabinet 100 menteri seperti zaman Orde Lama.

21 Mei 2009

Menanti diary para politisi

Politisi adalah jenis pekerjaan dengan tingkat keacakan tinggi. Mereka berpeluang besar untuk dihantui rasa bersalah atau penyesalan yang berkepanjangan di masa mendatang. Konon, menulis diary adalah salah satu cara mengatasi masalah semacam ini.

***

Para politisi kelas atas, petinggi partai politik, orang-orang yang berada di teras kekuasaan negeri ini, sedang sibuk. Rapat sepanjang siang dan malam, lobby sana-sini, membangun koalisi. Mereka datang ke acara diskusi demi diskusi, terutama yang disorot kamera televisi.

Ada yang begitu percaya diri, ada yang tampak seperti oportunis. Ada yang ngotot, seolah-olah main gertak, menaikkan nilai tawar, dan ada pula yang terkesan plin-plan. Ada yang setia ada yang membelot.

Seusai pemilu legislatif dan menjelang pilpres, aktivitas elite politik memang tampak meningkat. Manuver jungkir balik terus berlangsung, sebagian besar berada di bawah sorotan media, sebagian lainnya di ruang-ruang tertutup entah di mana.

Meningkatnya suhu politik seusai pileg bisa dipahami karena perebutan sumber daya yang makin terbatas. Pemilu legislatif memperebutkan setidaknya 500 jabatan DPR dan ribuan jabatan DPRD I, DPRD II, serta DPD. Adapun dalam pilpres hanya ada satu lowongan presiden, satu wakil presiden (tidak seperti bank yang punya puluhan VP), serta beberapa menteri yang akan ikut terbawa dalam gerbong pemerintahan periode mendatang.

Pemilu legislatif melibatkan sangat banyak orang untuk melakukan kampanye dan sosialisasi calon anggota legistaltif, sementara lobi-lobi pilpres pada tahap sekarang lebih banyak dilakukan oleh elite parpol.

Sebagian upaya lobbi para petinggi itu berada dalam sorotan media. Ada yang berhasil memanfaatkan media sebagai sarana komunikasi, ada yang ingin tapi tampak gagal, dan ada yang barangkali tidak ingin dan memang gagal total.

Ada politisi yang seolah-olah tampak menggertak sana-sini, tapi tidak terbukti, bahkan tidak mengakui. Mungkin sebenarnya kalimat-kalimat “gertakan” itu ditujukan ke mitra atau lawan politik. Mereka yang disasar mungkin bisa menangkap dengan tepat. Akan tetapi, karena semua dilakukan di depan sorotan kamera televisi dan muncul di koran-koran, publik dan konsituen juga menangkap pesannya. Sayangnya, bisa jadi apa yang ditangkap itu berbeda dengan apa yang dimaksud oleh sang politisi.

***
Politisi adalah pekerjaan dengan tingkat keacakan yang tinggi. Kalau ada 50 orang elite politik dijejer, pasti relatif sulit bagi kita untuk memprediksi siapa yang benar-benar akan sukses sebagai pemenang dan siapa yang menjadi pecundang.

Dan orang yang bekerja dengan tingkat keacakan yang tinggi, mengacu pada kategorisasi dalam Black Swan-nya Nassim Nicholas Taleb, memiliki peluang besar untuk dihantui oleh penyesalan di masa mendatang.

Mereka bertindak berdasarkan data, informasi, dan pertimbangan yang tersedia saat ini. Namun jika gagal, di kemudian hari sangat berpeluang untuk terus dihantui oleh rasa menyesal karena mendasarkan pertimbangan dengan apa yang diketahui saat itu (saat mendatang itu ketika semua sudah terbukti, sudah nyata mana yang menang dan kalah).

Kalau mengacu pada seringnya politisi berusaha meluruskan apa yang dianggap sebagai kekeliruan, salah persepsi, salah tangkap dari apa yang beredar dalam opini public, tampak sekali bahwa peluang adanya penyesalan itu besar sekali.

Ada saran sederhana namun sangat mengenai dari Nassim Taleb soal cara mengatasi rasa bersalah dan penyesalan ini. Menurut dia, salah satu yang perlu dilakukan orang dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kecakan tinghi adalah menulis diary atau catatan harian. Diary adalah catatan pribadi yang ditulis ketika peristiwa itu, pengambilan keputusan penting (yang sangat mungkin berpengaruh besar terhadap nasib diri sendiri, nasib partai, nasib konstituen, nasib negara) dipertaruhkan. Ini berbeda dengan memoar yang seringkali ditulis sekian lama setelah peristiwa terjadi.

Diary adalah cara (yang tampaknya sederhana, tapi kadangkala terasa berat dilakukan) untuk mengobati banyak masalah psikologis, terutama menyangkut tekanan-tekanan yang berat. Saya sering mendengar psikolog menyarankan orang melakukan terapi diary untuk meringankan beban psikologis pasien.

Membaca diary orang lain juga membuat orang bisa lebih mengerti, empati, terhadap si penulis. Orang bisa melihat “dari dalam” atau “dari sisi sang politisi” sehingga mudah mengerti mengapa dia mengambil keputusan yang barangkali kontroversial atau tidak popular.

***
Nah, apakah para elite politik kita cukup memiliki waktu untuk menulis diary sehingga suatu saat kita, para rakyat yang hanya melihat aktivitas mereka lewat media mssa ini, menangkap apa yang bergolak dalam hati para elite tersebut ketika mengambil keputusan? Sayangnya, saya kok tidak yakin.

Sebenarnya di dunia yang sudah modern dengan bnayak peraatan canggih ini upaya menulis diary (yang terbuka maupun tertutup) sangat dimudahkan. Ada blog, ada jaringan social, ada microblogging, ada computer, ada alat perekam suara, pereka gambar, video dan sebagainya yang sangat mungkin digunakan sebagai sara untuk menulis digital diary.

Pak politisi tingkat tinggi, saya menanti diary Anda. Terima kasih.
Wallahu alam.