Tampilkan postingan dengan label black swan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label black swan. Tampilkan semua postingan

31 Januari 2010

Menanti diary petinggi negeri


Membaca catatan harian seperti yang ditulis Zlata, Anne Frank, Wahib, atau Soe Hok Gie, membawa kita menghayati apa yang bergolak dalam diri mereka maupun suasana yang berkembang di sekitarnya. Hal itu juga membuat kita mengerti bagaimana mereka mengambil keputusan.

***
“Bapak mengajukan pemikiran yang agak nakal terkait bail out Bank Century. Apakah Bapak kecewa tidak memenangkan perdebatan dalam rapat itu,” demikianlah kurang lebih salah satu pertanyaan anggota Pansus Angket Century DPR terhadap Marsillam Simandjuntak.

Marsillam yang mantan kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi hanyalah satu dari banyak pejabat tinggi yang dipanggil sebagai saksi dalam sidang yang digelar berhari-hari oleh pansus itu.

Banyak pertanyaan lain dengan pola serupa yang diajukan kepada para saksi seperti “Apakah yang Anda pikirkan ketika itu”, “Apa posisi Saudara saat itu”, “apakah Saudara menyesal” dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mengingatkan saya mengenai isi diary dan kaitannya dengan jabatan politis seseorang.

Mengacu pada kategorisasi yang dibuat Nassim Nicholas Taleb dalam Black Swan, pekerjaan yang terkait dengan politik umumnya memiliki tingkat keacakan yang tinggi. Orang yang bekerja dengan tingkat keacakan yang tinggi, paparnya, memiliki peluang besar untuk dihantui oleh penyesalan di masa mendatang.

Para politisi dan pemegang jabatan politis bertindak berdasarkan data, informasi, dan pertimbangan yang tersedia saat itu. Namun, papar Taleb, di kemudian hari politisi sangat berpeluang untuk dihantui oleh rasa menyesal karena mendasarkan pertimbangan baru dengan apa yang diketahui belakangan ketika semua sudah terungkap.

Kalau mengamati seringnya keputusan politik dipersoalkan, tampak sekali bahwa peluang adanya penyesalan itu besar sekali.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa para pengambil keputusan dalam kasus Century akan menyesal. Kasus Century diambil hanya sebagai contoh paling hangat bagaimana sebuah keputusan dipersoalkan secara politis dan memaksa orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk mengingat kembali dengan detail bagaimana keputusan di masa lalu diambil.

Ada saran sederhana namun sangat mengena dari Nassim Taleb soal cara mengatasi rasa bersalah dan penyesalan saat orang mengambil keputusan penting. Menurut dia, salah satu yang perlu dilakukan orang dengan pekerjaan yang memiliki tingkat keacakan tinggi adalah menulis diary.

Diary adalah catatan pribadi yang ditulis ketika peristiwa itu, pengambilan keputusan penting --yang sangat mungkin berpengaruh besar terhadap nasib diri sendiri, nasib partai, nasib konstituen, nasib negara--dipertaruhkan. Ini berbeda dengan memoar yang seringkali ditulis sekian lama setelah peristiwa terjadi.

Menurut Taleb, menulis diary adalah cara yang tampaknya sederhana, tapi kadangkala terasa berat dilakukan untuk mengobati banyak masalah psikologis, terutama menyangkut tekanan-tekanan yang berat. “Saya sering mendengar psikolog menyarankan orang melakukan terapi diary untuk meringankan beban psikologis pasien,” papar Nasim Taleb.

Bagi orang lain, membaca diary juga membuat orang bisa lebih mengerti, empati, terhadap si penulis. Orang bisa melihat ‘dari dalam’ atau ‘dari sisi sang politisi’ sehingga mudah mengerti mengapa dia mengambil keputusan yang barangkali kontroversial atau tidak populer.

***
Ada beberapa orang yang menjadi sangat terkenal karena memberikan banyak pelajaran kepada publik melalui diary yang ditulisnya. Di Bosnia ada Zlata Filipovic, seorang anak berusia 11 tahun yang tinggal di Sarajevo dan menyaksikan masa-masa pahit perang Bosnia-Serbia.

Catatan-catatan Zlata memberikan prespektif yang orisinil dan otentik dari anak yang sama sekali tidak memiliki kepentingan politik terkait dengan perang dan pembantaian pada dekade 1990-an itu.

Zlata kadang disebut sebagai Anne Frank-nya Bosnia. Keduanya sama-sama masih belasan tahun dan menulis pengalaman pribadi di tengah tragedi kemanusian yang ditimbulkan oleh perang.

Anne Frank adalah anak perempuan Yahudi yang tinggal di Belanda yang keluarganya menjadi korban kekejaman Nazi. Anak yang memiliki nama lengkap Annelies Marie Anne Frank itu dikenang karena catatannya tentang tragedi yang menimpa keluarganya pada periode 1942-1944.

Di Indonesia, setidaknya ada dua anak muda yang menjadi sangat terkenal setelah diary-nya diterbitkan, yaitu Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie. Dua-duanya meninggal dunia di usia muda dan catatan hariannya diterbitkan setelah mereka meninggal dunia.

Wahib, yang meninggal pada 1973 dalam usia 31 tahun, dikenang melalui catatan harian yang dibukukan dan diberi judul Pergolakan Pemikiran Islam. Adapun Soe Hok Gie dikenal dengan Catatan Seorang Demonstran.

Membaca catatan harian seperti yang ditulis Zlata, Anne Frank, Wahib, atau Soe Hok Gie, membawa kita menghayati apa yang bergolak dalam diri mereka maupun suasana yang berkembang di sekitarnya. Hal itu juga membuat kita mengerti bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan di saat-saat genting.

Sebenarnya di dunia yang sudah modern dengan banyak peralatan canggih ini upaya menulis diary baik yang terbuka maupun tertutup sangat dimudahkan. Ada blog, microblogging, jaringan sosial, ada komputer, alat perekam suara, perekam gambar, dan sebagainya yang sangat mungkin digunakan sebagai sara untuk menulis diary digital.

Nah, apakah para elite dan pejabat politik kita cukup memiliki waktu untuk menulis diary sehingga suatu saat rakyat --yang hanya melihat aktivitas mereka lewat media massa--bisa menangkap apa yang bergolak dalam hati para elite tersebut ketika mengambil keputusan?

Pasti menarik bisa membaca diary para politisi yang ditulis saat-saat peristiwa penting terjadi atau diputuskan. Sayangnya, yang lebih mudah kita temui adalah memoar yang ditulis belakangan.

05 Agustus 2009

Pembebasan absurd ala Mbah Surip


Mestinya ini bukan lagu tentang “menggendhong”, melainkan tentang “nggondheli” alias memegangi yang membuat orang tidak bisa bergerak.

***
Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya Black Swan membagi jenis pekerjaan dalam dua kelompok yaitu scalable dan nonscalable.

Gaji seorang karyawan pabrik mudah dihitung berdasarkan jumlah jam kerjanya. Gampang sekali mengetahui batas atas nilai pendapatan dari jenis pekerjaan semacam ini. Omzet pengelola restoran mudah untuk dihitung berdasarkan jumlah tempat duduk yang tersedia. Yang macam ini, masih masuk dalam nonscalable. Harus ada upaya dua kali lipat untuk mendapatkan gaji dua kali lipat (tempat duduk dilipatduakan, atau jam kerja dinaikkan dua kali lipat).

Di sisi lain ada pekerjaan yang scalable. Penambahan usaha yang sedikit (atau bahkan tanpa penambahan sama sekali) meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Hal ini, misalnya, terjadi pada pengarang buku serta artis dan penyanyi. Kita sulit membedakan seberapa besar selisih usaha antara pengarang buku yang best seller dan tidak best seller dalam menghasilkan karya. Begitu pula dengan penyanyi yang top dan tidak top.

“Profesi yang scalable hanya baik kalau Anda sukses. Situasinya sangat kompetitif, menghasilkan ketidaksamaan yang luar biasa antara yang sukses dan yang gagal. Disparitas sangat besar antara usaha dan imbalan. Sebagian kecil pemain dapat mengambil kue sangat besar sehingga sebagian besar pemain yang lain hanya kebagian kue sangat sedikit,” papar Taleb dalam buku itu.

***
Mbah Surip yang populer lewat lagu-lagu absurd semacam “Tak Gendhong” itu masuk dalam ranah scalable.

Saya kira sulit membedakan seberapa keras usahanya dalam membuat lagu dan menyanyi antara tahun 1997-an ketika dia belum dikenal luas, dengan upayanya di tahun 2009 ketika ketenaran mulai datang. Apakah lagunya lebih bagus? Apakah kualitas suaranya meningkat?

Jawabnya, hemat saya, pasti tidak. Lagu-lagunya sama-sama absurd. Lagu dan sosoknya tidak beda-beda amat dengan sepuluh tahun yang lalu. Memang belakangan kesibukannya meningkat. Tapi itu terjadi setelah ketenaran sudah datang dan terus meningkat secara akumulatif sehingga dia, konon, kelelahan.

Mbah Surip, tanpa memperbaiki lagunya puluhan kali lipat, tanpa menghasilkan karya yang mutunya meningkat ratusan kali, bisa mendapatkan imbalan yang berpuluh atau beribu kali lipat dibandingkan imbalannya sepuluh tahun yang lalu. Menurut kabar, Mbah Surip mendapat imbalan Rp4,5 miliar per bulan dari ringback tone saja. Ringback tone 'Tak Gendong' digunakan 500.000 pelanggan Telkomsel, 100.000 pelanggan Indosat, dan 70.000 pelanggan Excelcomindo Pratama (XL).

Akan tetapi, inilah karakter dari jenis pekerjaan yang scalable. Dan inilah pula, menurut buku Black Swan, bagian dari dunia extremistan.

***
Saya pertama kali ‘ngeh’ tentang Mbah Surip sekitar dua bulan lalu. Ketika itu saya lihat status seorang teman chatting Gtalk di kantor yang mengutip lagu “Tak Gendhong” disertai foto seorang pria gondrong. Saya tanya tentang pria tua gondrong yang sekilas mirip pemain bola Rudd Gullit itu. Maka mengalirlah penjelasan tentang sang seniman.

Beberapa hari kemudian pagi-pagi saya lihat teve dan muncullah lagu “Tak Gendhong”. Syairnya bagi saya absurd, tidak jelas maksudnya. Klip video yang melengkapi lagu itu berisi sosok gondrong yang seolah-olah tidak terlihat, seperti makhluk halus, sedang memegangi bagian tubuh seseorang. Itu khas gambar seekor hantu yang memegang anggota tubuh seseorang sehingga orang yang bersangkutan tidak bisa bergerak seperti yang dia inginkan.

Melihat gambar itu, saya pikir mestinya ini bukan lagu tentang “menggendhong”, melainkan tentang “nggondheli” alias memegangi yang membuat orang tidak bisa bergerak.

Kata gendhong, bagi saya, punya konotasi tersendiri yang terkait dengan hantu dan makhluk halus. Didesa-desa di Jawa, kalau ada orang menebang pohon besar atau mengusik tempat keramat, sering diiringi munculnya mitos tentang hantu.

Konon, hantu sering marah dan orang harus meminta hantu itu untuk pindah ke tempat lain yang jauh dari manusia. Banyak hantu yang menjengkelkan dan mengajukan macam-macam syarat. Syarat yang umum adalah dia minta digendhong ke tempat baru. Sang dukun biasanya harus mengerahkan segenap tenaga untuk menggendhong si hantu dari tempat asal ke tempat baru, sama beratnya seperti menggendhong orang.

Inilah kesan saya terhadap kata gendhong yang dipakai Mbah Surip dengan klip video yang menyangkut makhluk halus.

***
Kembali ke soal fenomena meroketnya ketenaran orang yang memiliki nama asli Urip Ariyanto itu. Saya kira penjelasan mengenai hal itu dapat samar-samar disimak pada buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell.

Ketenaran Mbah Surip beredar secara gethok tular versi modern yang bukan saja mengandalkan mulut melainkan mengandalkan teve, Internet, serta media massa. Dalam epidemi gagasan semacam penyebaran tren, menurut Gladwell, selalu ada komponen berupa para bijak bestari (the mavens), para penghubung (connectors), serta para penjaja (salesperson).

Saya kira, penyokong popularitas Mbah Sirup berhasil mengenali mana-mana elemen dari masyarakat yang mampu bertindak sebagai mavens, connectors, dan salesperson, sehingga berhasil mendongkrak popularitas secara cepat dan luar biasa.

Mereka berhasil menggali keunikan dan mengangkat hal-hal khas (seperti kesederhanaan, penderitaan, gaya apa adanya, orisinalitas, dan sebagainya) yang mampu menarik simpati publik. Bukankah seperti kata Distoyevsky, orang cenderung menghargai penderitaan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga dan para pendukung atau pengagum Mbah Surip, saya menilai kepergian beliau juga merupakan pembebasan masyarakat dari lagu-lagu absurd yang bagi saya sulit dimengerti makna dan mutunya.

Semoga Mbah Surip diampuni dosa-dosanya dan bisa ber-hahahaha di dunia lain. Wallahu alam. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

Versi lain tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 8 Agustus, halaman 12

31 Mei 2009

Jatah umur dan teori tentang menunggu

Momentum ulang tahun mengingatkan saya mengenai jatah umur. Selalu ada teman yang dengan bijak menyatakan bahwa saat ulang tahun adalah saat di mana pengurangan usia kita justru diperingati. Momentum makin dekat dengan kematian tidak selayaknya dirayakan.

Dengan matematika sederhana tentu saja kita semua setuju bahwa berjalannya waktu yang ditandai dengan bertambahnya umur mendekatkan kita pada waktu ajal. Akan tetapi, pikiran saya terusik mengenai asumsi bahwa waktu ajal yang dijadikan acuan itu fixed. Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa silaturahim memanjangkan umur?

Yang juga menggelitik saya adalah tulisan Nassim Nicholas Thaleb mengenai menunggu dalam bukunya Black Swan.

“Makin lama Anda menunggu, makin lama pula Anda diharapkan menunggu. Misalkan Anda mengirimkan sepucuk surat kepada seorang pengarang terkenal. Anda tahu bahwa dia sibuk dan mungkin baru dua pekan ke depan dapat menjawab pesan Anda. Jika tiga pekan ke depan kotak pos Anda masih kosong, jangan berharap surat balasan akan datang besok. Sebaiknya Anda berharap surat itu akan datang kira-kira tiga pekan lagi. Jika tiga bulan kemudian surat balasan itu tidak datang, Anda harus menunggu satu tahun lagi. Tiap hari akan membawa Anda makin dekat kematian, namun makin jauh dari menerima surat balasan.”

Ini pernyataan lainnya yang lebih menarik. “Di sebuah negara maju, seorang bayi yang baru lahir diperkirakan meninggal 79 tahun kemudian. Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-79, harapan hidupnya, berdasarkan asumsi kesehatannya normal, adalah 10 tahun (bukan nol tahun). Pada usia 90 tahun, dia diharapkan hidup 4,7 tahun lagi (bukan minus 11 tahun). Pada usia 100 tahun, dia diharapkan hidup 2,5 tahun lagi (bukan minus 21 tahun).”

Jadi, harapan hidupnya memang berkurang, akan tetapi acuan batas kehidupannya juga bergerak, sesuai dengan pergerakan usianya.

Nah, kalau banyak ajang silaturahim (termasuk silaturahim virtual pada saat ulang tahun), tidakkah ini juga bisa dimaknai bahwa ada kemungkinan batas acuan kehidupan ikut bergerak ke depan kendati sisa harapan hidupnya berkurang? Atau bahkan ada kondisi tertentu yang membuat angka harapan hidup juga meningkat seriing berjalannya waktu, misalnya karena hidupnya semakin sehat??

Wallahu alam.

21 Mei 2009

Menanti diary para politisi

Politisi adalah jenis pekerjaan dengan tingkat keacakan tinggi. Mereka berpeluang besar untuk dihantui rasa bersalah atau penyesalan yang berkepanjangan di masa mendatang. Konon, menulis diary adalah salah satu cara mengatasi masalah semacam ini.

***

Para politisi kelas atas, petinggi partai politik, orang-orang yang berada di teras kekuasaan negeri ini, sedang sibuk. Rapat sepanjang siang dan malam, lobby sana-sini, membangun koalisi. Mereka datang ke acara diskusi demi diskusi, terutama yang disorot kamera televisi.

Ada yang begitu percaya diri, ada yang tampak seperti oportunis. Ada yang ngotot, seolah-olah main gertak, menaikkan nilai tawar, dan ada pula yang terkesan plin-plan. Ada yang setia ada yang membelot.

Seusai pemilu legislatif dan menjelang pilpres, aktivitas elite politik memang tampak meningkat. Manuver jungkir balik terus berlangsung, sebagian besar berada di bawah sorotan media, sebagian lainnya di ruang-ruang tertutup entah di mana.

Meningkatnya suhu politik seusai pileg bisa dipahami karena perebutan sumber daya yang makin terbatas. Pemilu legislatif memperebutkan setidaknya 500 jabatan DPR dan ribuan jabatan DPRD I, DPRD II, serta DPD. Adapun dalam pilpres hanya ada satu lowongan presiden, satu wakil presiden (tidak seperti bank yang punya puluhan VP), serta beberapa menteri yang akan ikut terbawa dalam gerbong pemerintahan periode mendatang.

Pemilu legislatif melibatkan sangat banyak orang untuk melakukan kampanye dan sosialisasi calon anggota legistaltif, sementara lobi-lobi pilpres pada tahap sekarang lebih banyak dilakukan oleh elite parpol.

Sebagian upaya lobbi para petinggi itu berada dalam sorotan media. Ada yang berhasil memanfaatkan media sebagai sarana komunikasi, ada yang ingin tapi tampak gagal, dan ada yang barangkali tidak ingin dan memang gagal total.

Ada politisi yang seolah-olah tampak menggertak sana-sini, tapi tidak terbukti, bahkan tidak mengakui. Mungkin sebenarnya kalimat-kalimat “gertakan” itu ditujukan ke mitra atau lawan politik. Mereka yang disasar mungkin bisa menangkap dengan tepat. Akan tetapi, karena semua dilakukan di depan sorotan kamera televisi dan muncul di koran-koran, publik dan konsituen juga menangkap pesannya. Sayangnya, bisa jadi apa yang ditangkap itu berbeda dengan apa yang dimaksud oleh sang politisi.

***
Politisi adalah pekerjaan dengan tingkat keacakan yang tinggi. Kalau ada 50 orang elite politik dijejer, pasti relatif sulit bagi kita untuk memprediksi siapa yang benar-benar akan sukses sebagai pemenang dan siapa yang menjadi pecundang.

Dan orang yang bekerja dengan tingkat keacakan yang tinggi, mengacu pada kategorisasi dalam Black Swan-nya Nassim Nicholas Taleb, memiliki peluang besar untuk dihantui oleh penyesalan di masa mendatang.

Mereka bertindak berdasarkan data, informasi, dan pertimbangan yang tersedia saat ini. Namun jika gagal, di kemudian hari sangat berpeluang untuk terus dihantui oleh rasa menyesal karena mendasarkan pertimbangan dengan apa yang diketahui saat itu (saat mendatang itu ketika semua sudah terbukti, sudah nyata mana yang menang dan kalah).

Kalau mengacu pada seringnya politisi berusaha meluruskan apa yang dianggap sebagai kekeliruan, salah persepsi, salah tangkap dari apa yang beredar dalam opini public, tampak sekali bahwa peluang adanya penyesalan itu besar sekali.

Ada saran sederhana namun sangat mengenai dari Nassim Taleb soal cara mengatasi rasa bersalah dan penyesalan ini. Menurut dia, salah satu yang perlu dilakukan orang dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kecakan tinghi adalah menulis diary atau catatan harian. Diary adalah catatan pribadi yang ditulis ketika peristiwa itu, pengambilan keputusan penting (yang sangat mungkin berpengaruh besar terhadap nasib diri sendiri, nasib partai, nasib konstituen, nasib negara) dipertaruhkan. Ini berbeda dengan memoar yang seringkali ditulis sekian lama setelah peristiwa terjadi.

Diary adalah cara (yang tampaknya sederhana, tapi kadangkala terasa berat dilakukan) untuk mengobati banyak masalah psikologis, terutama menyangkut tekanan-tekanan yang berat. Saya sering mendengar psikolog menyarankan orang melakukan terapi diary untuk meringankan beban psikologis pasien.

Membaca diary orang lain juga membuat orang bisa lebih mengerti, empati, terhadap si penulis. Orang bisa melihat “dari dalam” atau “dari sisi sang politisi” sehingga mudah mengerti mengapa dia mengambil keputusan yang barangkali kontroversial atau tidak popular.

***
Nah, apakah para elite politik kita cukup memiliki waktu untuk menulis diary sehingga suatu saat kita, para rakyat yang hanya melihat aktivitas mereka lewat media mssa ini, menangkap apa yang bergolak dalam hati para elite tersebut ketika mengambil keputusan? Sayangnya, saya kok tidak yakin.

Sebenarnya di dunia yang sudah modern dengan bnayak peraatan canggih ini upaya menulis diary (yang terbuka maupun tertutup) sangat dimudahkan. Ada blog, ada jaringan social, ada microblogging, ada computer, ada alat perekam suara, pereka gambar, video dan sebagainya yang sangat mungkin digunakan sebagai sara untuk menulis digital diary.

Pak politisi tingkat tinggi, saya menanti diary Anda. Terima kasih.
Wallahu alam.

17 Mei 2009

Mencari kesempatan dalam Black Swan (iii)


Saya tergoda untuk mengutip beberapa hal unik yang terungkap dalam buku Black Swan karya Nassem Nicholas Taleb.

Apabila Anda bekerja dalam sebuah profesi yang sarat dengan keacakan, Anda akan menderita rasa bersalah akibat terus menerus menilai kembali langkah-langkah yang sudah lewat berdasarkan yang kemudian Anda kerjakan. Menulis buku harian adalah cara paling baik dalam mengatasi situasi ini.

Makin lama Anda menunggu, makin lama pula Anda diharapkan menunggu. Misalkan Anda mengirimkan sepucuk surat kepada seorang pengarang terkenal. Anda tahu bahwa dia sibuk dan mungkin baru dua pekan ke depan dapat menjawab pesan Anda. Jika tiga pekan ke depan kotak pos Anda masih kosong, jangan berharap surat balasan akan datang besok. Sebaiknya Anda berharap surat itu akan datang kira-kira tiga pekan lagi. Jika tiga bulan kemudian surat balasan itu tidak datang, Anda harus menunggu satu tahun lagi. Tiap hari akan membawa Anda makin dekat kematian, namun makin jauh dari menerima surat balasan.

Jurnalis dan cendekiawan publik dalam masyarakat yang gemar membuat ringkasan tidak membuat dunia menjadi lebih sederhana. Justru sebaliknya, hampir semuanya membuat segala sesuatu tampak lebih rumit daripada yang sesungguhnya.

Berhati-hatilah dengan hasrat Anda. Bisa jadi Anda lebih bahagia sebelum mendapatkan Black Swan yang Anda impikan. Dan banyak hal bersifat asimetris. Drogo membutuhkan waktu 35 tahun untuk menunggu peristiwa beberapa jam yang entah di mana, dan ternyata tidak pernah terwujud.

Para pembaca tidak akan bersedia membayar 26,95 dolar untuk sebuah cerita tentang kegagalan, bahkan andai Anda meyakinkan bahwa buku itu mengandung trik yang lebih berguna ketimbang sebuah kisah sukses. Makanya lebih sulit berkaca dari kegagalan orang dibandingkan belajar dari kesuksesan yang banyak ditulis orang.

Spesies manusia dipengaruhi oleh kebiasaan meremehkan yang kronis tentang kemungkinan masa mendatang menyimpang dari arah yang ditetapkan atau diharapkan.

Informasi adalah pengetahuan yang buruk. Ketika Anda mengembangkan pandangan-pandangan berdasarkan bukti yang lemah, Anda akan kesulitan menfasirkan informasi selanjutnya yang bertentang dangan pandangan ini. Bahkan jika informasi baru ini jelas lebih akurat. Maka, menahan diri untuk tetap skeptis, tidak buru-buru membuat penilaian atau memberikan pandangan, lebih baik.

14 Mei 2009

Mencari kesempatan dalam Black Swan (ii)


Rumus utama dalam menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan adalah “terima takdir Anda”. Kata NNT, ketika Anda ketinggalan kereta, tidak perlu berlari-lari mengejarnya. Ketinggalan kereta hanya menyakitkan ketika Anda berusaha mengejarnya. Begitu pula, tidak memenuhi gagasan tentang sukses seperti yang diharapkan oleh orang lain dari Anda hanya menyakitkan jika memang itu yang Anda kejar.

***
NNT dalam buku Black Swan membagi dunia secara umum dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah ranah mediocristan, dan kelompok kedua berada dalam ranah extremistan.

Di ranah mediocristan, distribusi (serta jenis pekerjaan) umumnya nonscalable, keacakan tipe sedang, anggota paling tipikal bersifat medioker, pemenang mendapatkan sedikit bagian dari keseluruhan hasil (misalnya jumlah penonton biduan di era sebelum gramapon), dan peristiwa terdistribusi mengikuti kurva lonceng (distribusi normal?)

Pada ranah extremistan, distribusi umumnya scalable, keacakan tipe liar, tidak ada anggota yang tipikal, memiliki efek ‘pemenang mendapatkan semuanya’ (misal jumlah penikmat lagu di era pascagramapon), dan peristiwa terdistribusi secara sangat acak.

Contoh distribusi yang scalable adalah perbandingan antara pendapatan orang terkaya dunia dengan orang yang paling miskin. Perbandingannya bisa sangat ekstrem. Rasio semacam itu tidak bisa kita temua ketika kita membandingkan berat badan orang tergemuk dengan orang terkurus. Distribusi berat badan masuk mediocristan, sedangkan distribusi kekayaan masuk dalam extremistan.

***
Ada beberapa jenis pekerjaan yang dimasukkan oleh NNT dalam kelompok nonscalable. Gaji seorang karyawan pabrik mudah dihitung berdasarkan jumlah jam kerjanya. Gampang sekali mengetahui batas atas nilai pendapatan dari jenis pekerjaan semacam ini. Omzet pengelola restoran mudah untuk dihitung berdasarkan jumlah tempat duduk yang tersedia. Yang macam ini, masih masuk dalam nonscalable. Harus ada upaya dua kali lipat untuk mendapatkan gaji dua kali lipat (tempat duduk dilipatduakan, atau jam kerja dinaikkan dua kali lipat).

Ada juga jenis pekerjaan lain yang scalable. Penambahan usaha yang sedikit (atau bahkan tanpa penambahan sama sekali) meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Hal ini, misalnya, terjadi pada buku best seller. (Di Indonesia mungkin kita bisa berkaca pada kasus Laskar Pelangi Andrea Hirata atau Ayat-ayat Cinta Habiburrahman AS).

Pekerjaan lain, di Indonesia yang tampaknya masuk scalable adalah politisi. Orang yang semula tidak signifikan bisa meloncat menjadi sangat penting ketika menjadi politisi. Pekerjaan lainnya lagi yang masuk scalable, yang baru populer beberapa pekan belakangan, tampaknya adalah caddy golf, hehehe.
Sayangnya, beberapa jenis pekerjaan scalable yang saya sebut di atas umumnya berawal dari pekerjaan sampingan.

***
Sejumlah trik dianjurkan oleh NNT menghadapi Black Swan. Trik pertama, saya tulis pada paragraf pertama tulisan seri satu. Intinya, jangan sia-siakan setiap datangnya peluang besar yang muncul di depan mata.

Trik kedua, buat pembedaan antara Black Swan negatif dan positif. Kalau seseorang menjadi tentara, misalnya, risiko terbesarnya adalah kematian, sementara potensi keuntungan maksimalnya kita bisa hitung. Itu masuk Black Swan negatif. Menulis buku, potensi keuntungannya bisa besar sekali (bila menjadi best seller), dan potensi kerugian maksimalnya bisa kita hitung. Hal yang sama bisa berlaku untuk memilah-milah jenis Black Swan yang mungkin terjadi.

Trik ketiga, jangan mencari yang terlalu rinci di tempat yang terbatas. Jangan berpikiran sempit. Mengutip kata Pasteur: peluang berpihak pada siapa yang siap. Terbukalah terhadap peluang, jangan membatasi diri pada hal-hal yang terlalu detil dan sempit.

Trik keempat, berhati-hatilah dengan prediksi jangka panjang yang terlalu detil, apalagi jika itu datang dari pemerintah. Trik kelima, percayalah bahwa ketelitian perkiraan ekonom dan para analis saham umumnya menurun seiring berjalannya waktu.

***
Untungnya, di tengah berbagai kenyataan dunia extremistan di mana pemenang meraih hamper semuanya, masih ada peluang bagi pemain kecil untuk mengambil keuntungan. Itulah yang dikutip buku ini dari teori the long tail.

Kendati sebagian besar hanya membuka Google dan sejumlah situs khas lain ketika mengakses Internet, masih tersedia ruang pagi penyedia konten lain yang khas untuk maju. Ada lingkungan yang memungkinkan orang kecil tak bermakna untuk mencoba meraih sukses luar biasa. Selama hayat dikandung badan, masih ada harapan.

Dalam dunia Internet, misalnya, web mendorong munculnya inverse Google yang memungkinkan orang menemukan pelanggan yang mantap walaupun kecil. The long tail menyiratkan makna bahwa kaum yang kecil, secara kolektif, pastilah mengendalikan sebuah segmen besar kultur dan perdagangan.

***
Nassim Nicholas Taleb memberikan gambaran yang gamblang sekali mengenai bagaimana sulitnya memahami dunia, memahami sejarah beserta faktor-faktornya.

Dia memberikan contoh sebagai berikut:
Eksperimen 1: Bayangkan sebuah kubus es dan pikirkan bagaimana dia meleleh dalam dua jam ke depan. Cobalah bayangkan bentuk genangan yang muncul kemudian.

Eksperimen 2: Ada sebuah genangan air di lantai lalu cobalah rekonstruksi seperti apakah bentuk padatan es yang barangkali pernah berada di situ. Perhatikan bahwa genangan air itu bisa jadi bukan berasal dari genangan es.

Operasi yang kedua jauh lebih sulit dan mudah salah dibandingkan dengan operasi pertama.

Kehidupan berjalan seperti eksperimen yang kedua. Kita tidak bisa duduk-duduk saja sambil membaca persamaan yang mengatur jagad raya. Yang bisa kita lakukan adalah mengamati data dan membuat asusmsi mengenai proses yang harus ada, lalu melakukan “kalibrasi” dengan menyesuaikan persamaan yang kita buat dengan informasi tambahan.

Dengan cara inilah NNT benar-benar membuktikan bahwa dunia ini berjalan dengan mekanisme yang lebih banyak tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui. Sikap terlalu ‘sok tahu” dan mengandalkan teorema yang sudah ada untuk memahami keacakan dunia bisa jadi adalah sikap yang terlalu naïf.

Rumus utama dalam menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan adalah “terima takdir Anda”. Menurut NNT, ketika Anda ketinggalan kereta, tidak perlu berlari-lari mengejarnya. Ketinggalan kereta hanya menyakitkan ketika Anda berusaha mengejarnya. Begitu pula, tidak memenuhi gagasan tentang sukses seperti yang diharapkan oleh orang lain dari Anda hanya menyakitkan jika memang itu yang Anda kejar. Demikianlah saran NNT.

Wallahu alam.

Mencari kesempatan dalam Black Swan (i)


Carilah kesempatan atau apa pun yang mirip kesempatan. Yang seperti ini langka, jauh lebih langka dari yang Anda kira. Ingat bahwa untuk beruntung Anda harus berada di tempat yang tepat untuk menerimanya. Banyak orang tidak sadar bahwa mereka mendapatkan keberuntungan dalam hidup justru saat mendapatkannya. Jika seorang penerbit besar atau tokoh besar atau eksekutif besar mengusulkan sebuah pertemuan dengan Anda, batalkan apa pun kegiatan lain yang telah Anda rencanankan: Anda mungkin tidak akan pernah menemukan jendela seperti ini terbuka lagi.

Begitulah salah satu saran Nassim Nicholas Taleb dalam buku Black Swan. Pria kelahiran Lebanon keturunan Yunani ini mengungkapkan hal-hal yang bagi saya sangat mengejutkan dan memikat dalam buku setebal 480 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama itu. Bagi saya, ini salah satu buku yang sangat berguna untuk memahami betapa kehidupan ini tidak bisa diramalkan dan manusia sering terjebak untuk sok tahu.

Black Swan digunakan untuk menyebut peristiwa besar yang terjadi secara acak dan berdampak besar bagi kehidupan. Munculnya buku best seller, kehadiran Internet, Google, resesi ekonomi, perang besar, adalah sebagian di antara Black Swan.

Tiga karakteristik Black Swan yang disebut NNT adalah: tidak dapat diramalkan; memberikan dampak yang masif; dan setelah terjadi, mendorong kita untuk membuat penjelasan bahwa peristiwa itu bukan kebetulan, dan lebih bisa diramalkan daripada sesungguhnya.

Lalu, mengapa dipilih nama Black Swan untuk menyebut peristiwa besar yang tidak lazim itu? Konon, sebelum benua Autralia ditemukan oleh orang Eropa, mereka yakin bahwa semua angsa berwarna putih. Semua ahli di “Dunia Lama” meyakini hal itu didasarkan pada segala pengamatan dan data dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, cukup diperlukan seekor angsa hitam untuk meruntuhkan pandangan umum yang berasal dari pengamatan banyak ornag terhadap jutaan angsa putih selama berpuluh-puluh abad. Hal yang diperlukan hanya seekor angsa hitam. Itulah Black Swan.

NNT berusaha menjelaskan bahwa kehidupan berjalan lebih banyak ditentukan oleh hal-hal yang tidak kita ketahui daripada sebaliknya. Jenis pekerjaan yang kita jalani saat ini, pasangan hidup yang ada di sebelah kita, kondisi kota yang kita diami, menunjukkan bukti betapa semua itu tidak seperti yang kita ramalkan beberapa puluh tahun yang lalu. Kenyataan menunjukkan betapa lemah kemampuan manusia dalam meramal masa depan.

***
Ada beberapa cerita menarik yang diungkapkan NNT. Salah satunya adalah soal kalkun yang diadopsi dari tulisan Russel soal ayam.

Seekor kalkun dipelihara dengan penuh perhatian selama 1.000 hari lalu disembelih pada hari ke-1.001. Bagi kalkun, data selama 1.000 hari pertama menunjukkan bahwa ekstrapolasi untuk hari ke-1.001 adalah perlakuan yang sama baiknya atau lebih baik. Disembelih pada hari ke-1.001 adalah kejutan, bertentangan dengan semua data yang dihimpunnya mengenai perlakuan si tuan selama 1.000 hari pertama.
Akan tetapi, bagi peternak, perlakuan pada hari ke-1.001 sudah sesuai rencana, tidak bertentangan dengan perlakuan pada hari-hari sebelumnya. Ini hanya masalah jadwal dan cakupan pemahaman.

Seorang kawan berseloroh mengenai hal ini: bagi konsumen, kerusakan ponsel pada tahun ke-2 adalah musibah, sementara bagi produsen, hal itu sudah sesuai rencana. Dalam kehidupan nyata, banyak yang lebih rumit dibandingkan kerusakan ponsel yang (bagaimana pun) masih dapat diduga sebelumnya.
Jadi, penting untuk tetap skeptis, tidak terlalu percaya pada ramalan dan data-data yang sejauh ini menunjukkan semuanya baik-baik saja. Bisa jadi ada variable lebih penting, lebih besar, yang tidak atau belum diungkapkan.

***
Kisah lainnya yang juga menarik adalah mengenai Geovanni Drogo. Tokoh fiktif dalam novel karya (penulis fiktif) Yevgenia. Karakter utama dalam cerita Il Deserto itu begitu siap menghadapi Black Swan yang ternyata, tragisnya, tidak pernah datang. Drogo adalah seorang perwira muda yang penuh semangat. Pada awal karirnya ditempatkan di sebuah benteng perbatasan di pinggir padang pasir. Dalam penugasan selama empat bulan itu, semula dia merasa tidak nyaman. Akan tetapi, lama-lama dia menikmati penantian sebuah peristiwa besar.

Dia kerasan tinggal di benteng dan menantikan serbuan musuh yang akan membuatnya menjadi pahlawan. Dia terus menunggu dan menunggu hingga 35 tahun. Dan, tragisnya, dia justru tidak berada di tempat ketika peristiwa besar yang telah dinantikan bertahun-tahun itu terjadi.

Di dunia nyata, hampir semua orang mengira bahwa perang besar yang (akhirnya) terjadi bertahun-tahun (seperti Perang Dunia I & II) itu semula hanya akan berlangsung beberapa hari. Para korban mengungsi dengan harapan beberapa pecan kemudian dapat kembali ke tempat tinggalnya. Ternyata, berpuluh tahun kemudian, mereka masih tinggal di pengungsian.

Banyak orang menjadi pengamen dengan harapn sekian bulan ke depan dapat menemukan pekerjaan lain yang lebih baik. Ternyata, bertahun kemudian, dia masih juga mengamen. Banyak juga pilihan karir lain yang bentuknya serupa.

***
Cerita berikutnya mengenai Giacomo Cassanova. Cassanova yang menyebut dirinya sebagai Jaques, Chevalier de Seingalt, adalah sosok yang sangat ingin menjadi intelektual namun dikenal sebagai penggoda perempuan.

Dia digambarkan sebagai orang yang lebih licin daripada Teflon: kemalangan tidak pernah singgah kepadanya. Sastrawan yang dikenal dengan 12 jilid buku berjudul History of My life itu mengungkapkan cerita tentang serangkaian nasib baik yang mengubah jalan hidupnya.

Ketika sesuatu menjadi buruk baginya, entah bagaimana dia akan bertemu dengan seseorang di tampuk kekuasaan yang menawarkan kerja sama bisnis dengannya, seorang penyandang dana baru yang belum pernah dia khianati dalam perjumpaan sebelumnya, atau seorang yang cukup dermawan dengan ingatan yang cukup lemah untuk melupakan kesalahan-kesalahannya di masa lalu.

Cassanova seolah-olah dipilih oleh takdir untuk selalu lolos dari bahaya. NNT berusaha menjelaskan bahwa keberuntungan yang terus menerus seperti Cassanova itu mungkin terjadi dalam dunia yang pada hakekatnya adalah acak ini. (Bersambung, insya Allah)

Gambar: Gramedia Matraman