Tampilkan postingan dengan label harga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harga. Tampilkan semua postingan

26 Mei 2009

Mouse kok semahal keyboard?


Saya baru saja membeli mouse untuk Eee PC. Warnanya klop banget dengan warna Eee PC. Beli di salah satu toko di Ratu Plaza, Jakarta, harga Rp85.000, ukuran kecil, merek Touch Link, kabel gulung. Nyaman sekali digunakan bersama dengan papan ketik eksternal. Serasa mengetik pakai PC saja. Hanya ukuran layar yang lebih kecil. Ukuran mouse serta keyboard secara keseluruhan sedikit dipangkas, tapi ukuran per tombol tetap sama. Jadinya nyaman sekali.

Mengapa saya tidak dari dulu mendapatkan kenikmatan mengetik di Eee PC dengan bantuan mouse? Mengapa begitu berhemat atau begitu pelit? Bukankah saya sudah lama pakai mouse, sejak pertama kali mengenal komputer. Lalu mengapa tidak dari dulu membeli mouse untuk mendapatkan kemudahan dalam mengetik, memproduksi informasi? Jadi tidak perlu merana terlalu lama karena touch pad yang tidak intuitif, yang tidak nyaman itu?

Sebenarnya saya bukannya pelit. Saya sudah beberapa kali punya mouse untuk Eee PC sebelum sampai pada titik yang sekarang ini. Mouse saya yang pertama, kecil, putih, ringan, keren, ada lampunya. Tapi ada beberapa masalah. Masalah pertama, sering error ketika dipakai pada Eee PC ini. Saya tidak tahu persis apakah ada masalah dengan OS bawaannya. Masalah terakhir, ada bagian pada mouse yang koneksinya tidak mantap. Jadi putus nyambung, begitu deh.

Mouse saya yang kedua warna merah, harga murah, bukan optik, ukuran lebih besar, baru dipakai sebentar sudah error. Kali ini yang error bagian klik kirinya. Ya sudah, langsung pensiun. Kayaknya ada satu mouse lagi yang juga error tapi entah sudah di mana benda itu. Saya juga sudah lama warnya.

Beberapa pengalaman dengan mouse yang dibawa-bawa itu menyebabkan saya sebal. Saya bandingkan dengan mouse yang di kantor yang jarang rewel.

Ada hal yang masih mengganjal dan sulit saya mengerti. Harga mouse bermerek ternyata mahal. Masak sih harga mouse bisa sama atau bahkan lebih mahal daripada harga keyboard? Harga mouse bisa lebih mahal juga daripada dongle Bluetooth? Apakah sensor gerak dan semacamnya dalam mouse itu masih begitu mahalnya?

01 April 2009

Mencari rasionalitas iPhone 3G


Sasaran pertama yang paling potensial untuk memakai iPhone 3G adalah para pengguna Mac serta iPod (existing). Mereka sudah merasakan 'nikmatnya' memakai produk Apple dan umumnya menjadi fanatik. Masalahnya,berapa banyak jumlahnya saat ini?

***
Salah satu hal paling hangat di jadat gadget Indonesia bulan ini adalah hadirnya iPhone 3G. Telkomsel yang sejak awal tahun mengirimkan SMS kepada para pelanggannya mengenai akan hadirnya produk prestisius dari Apple itu akhirnya mewujudkan janjinya pada pertengahan Maret.

Operator dengan jumlah pengguna lebih dari 50 juta nomor itu menyediakan dua tipe iPhone 3G, yaitu versi 8GB dan versi 16 GB. Ada empat skema pembayaran yang disediakan untuk masing-masing tipe (jadi seluruhnya ada 8 skema). Tiga skema (atau 6 untuk 2 tipe) disediakan bagi pelanggan pascabayar Halo. Adapun satu (atau 2) skema sisanya untuk pengguna prabayar.

Agak rumit untuk menghitung nilai paket bundle beserta berbagai bonusnya. Jadi, yang paling gampang untuk menganalisis adalah menggunakan harga bagi pelanggan prabayar Simpati. Memang ada bonus akses data 500MB (per bulan?) untuk pengguna prabayar. Tapi, setidaknya, harga yang ditetapkan untuk prabayar adalah harga yang paling dekat dengan 'nilai keekonomian' iPhone 3G.

Harga untuk iPhone 3G versi 8GB adalah Rp9,6 juta, sedangkan untuk 16GB sebesar Rp11,2 juta.

***
Barangkali benar bahwa Indonesia pernah menjadi 'surga' bagi sebagian pembuat gadget mahal. Sekian tahun lalu, salah satu tipe Communicator Nokia dipasarkan dengan harga awalan sekitar Rp10 juta dan terbukti laris. Namun sekian bulan kemudian harganya turun menjadi jauh lebih rendah.

Adapun untuk iPhone, saya tidak yakin akan ada penurunan harga signifikan dalam satu tahun ke depan. HTC dan Dopod pernah juga meluncurkan gadget dengan harga sekitar Rp11 juta. Tapi, mini notebook dengan kemampuan teleponi buatan Taiwan itu tidak terdengar mengesankan di pasaran.

Betul sekali bahwa Apple memang berbeda dari produsen gadget lain. Dan iPhone merupakan salah satu master piece yang menyediakan banyak sekali pengalaman mengagumkan bagi penggunanya. Selain gengsi yang sangat tinggi, ada kenikmatan, keindahan dan hal-hal unik yang tidak dapat dinikmati pengguna gadget lain untuk saat ini.

Akan tetapi, bagi para pengguna yang benar-benar fokus mencari fungsi serta mencari alat untuk mendukung pekerjaan, tentu saja fungsi utama yang ada pada iPhone 3G bisa juga diperoleh dengan gadget lain. Bahkan mungkin memang lebih efektif menggunakan gadget lain dalam mendukung pekerjaan.

Bagi saya, harga yang ditetapkan ini sangat tinggi. Tadinya, ketika Telkomsel menyebarkan SMS mengenai pemesanan iPhone 3G saya menduga harga jualnya ada pada kisaran di bawah Rp7 juta supaya benar-benar mampu bersaing dengan produk yang sudah beredar di pasaran seperti Blackberry Bold maupun Nokia E90.

Dengan uang Rp11,2 juta, pengguna sebenarnya bisa mendapatkan dua unit Blackberry 8310, satu hampir satu unit sepeda motor, atau dua buah netbook layar 10 inchi, atau membeli 9 kulkas ukuran kecil, atau 6 mesin cuci, atau 13 unit televisi warna 14 inchi. Bahkan dengan uang sebesar itu,seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri bisa membayar SPP selama satu tahun (mungkin ditambah dengan biaya kos selama beberapa bulan atau bahkan satu tahun).

Bagi saya, sulit sekali mencari alasan rasional untuk memahami bagaimana orang akan berduyun-duyun membeli iPhone 3G. Jadi, sementara ini, saya tidak yakin bahwa iPhone 3G akan mampu berkembang sesukses Communicator sekian tahun lalu atau sesukses Blackberry Bold tahun lalu. Saya belum yakin Indonesia akan menjadi 'surga' berikutnya bagi iPhone. Maaf, saya merasa terlalu bodoh untuk bisa memahami harga jual iPhone 3G di Indonesia.

Wallahu alam. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

PS:
*) Mungkinkah akan muncul skema baru dalam cara penjualan iPhone 3G. Misalnya, operator lain juga menyediakan iPhone 3G dengan skema yang lebih murah, lalu operator lain lagi ikut nimbrung, kemudian harga semakin murah dan iPhone jadi booming? Hal seperti ini pernah terjadi pada Blackberry yang pada awal masuknya juga tampak sangat mahal. Lalu muncul persaingan dan akhirnya harga servicenya menjadi sangat terjangkau dan harga unitnya cukup terjangkau meskipun masih di atas kebanyakan ponsel. Tapi butuh lebih dari 4 tahun bagi Blackberry untuk booming. Bagaimana dengan iPhone?

*) Sasaran pertama yang paling potensial untuk memakai iPhone 3G adalah para pengguna Mac serta iPod (existing). Mereka sudah merasakan 'nikmatnya' memakai produk Apple dan umumnya menjadi fanatik. Masalahnya,berapa banyak jumlahnya saat ini?

*) Para pengguna Blackberry umumnya meninggalkan telepon biasa karena hampir semua fungsi telepon biasa (dan smartphone) sudah dapat ditemukan pada Blackberry. Saya menduga para pengguna iPhone justru mempertahankan ponsel lamanya untuk dipakai pada fungsi-fungsi teleponi tertentu.

Foto: letsgodigital.com