Tampilkan postingan dengan label hariff. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hariff. Tampilkan semua postingan

06 Mei 2009

Apa salahnya mendukung WiMax lokal?

Banyak kontroversi mengenai pemilihan pita frekuensi dan varian teknologi pita lebar nirkabel WiMax yang akan digunakan di Indonesia. Di sana ada standar internasional dengan pemain-pemain utama yang sudah tersohor, sementara di sini ada standar berbeda dengan pemain yang baru memulai.

Kekhawatiran yang sering muncul jika Indonesia memiliki standar (frekuensi) sendiri adalah tidak comply dengan standar internasional. Tapi, saya ingin membalik pertanyaan: apa ruginya sih sebenarnya kalau sekarang kita kembangkan standar sendiri yang agak unik sebagai entry barrier untuk pemain internasional?

Ada beberapa hal yang perlu dicermati
1. Bahwa pasar untuk WiMax di dunia ini belum matang. Nilainya masih sangat kecil dibandingkan dengan 3G dan GSM yang sudah menjangkau segala penjuru bumi. Bahkan dibandingkan dengan pasar untuk Wi-Fi pun WiMax masih kecil sekali. Saya yakin, butuh waktu paling tidak lima tahun ke depan untuk memungkinkan WiMax tumbuh menjadi raksasa (dengan asumsi yang sangat optimistis, berlaku di seluruh penjuru bumi)

2. Penetapan standar khas Indonesia toh tidak akan menghalangi perkembangan WiMax yang mengikuti standar internasional (WiMax Forum). Biar saja pemain internasional tetap menjalankan standar mereka, toh kita tidak diisolasi. Bukankah kita bisa setiap saat bergabung ke standar internasional kalaulah eksperimen dengan standar lokal gagal.


3. Katakanlah kita mencoba mengembangkan standar lokal ini untuk tiga tahun atau lima tahun ke depan. Mungkin kita bisa menguji dan mengoptimalkan sumber daya lokal untuk mengembangkan pasar domestik. Berapa besarnya investasi yang mungkin tersia-sia? Kita bisa lihat nilai pasarnya saja. Biaya langganan rata-rata yang bisa dianggap pas untuk kantong orang Indonesia kira-kira Rp100.000 per bulan. Dengan asumsi volume pasar yang matang adalah 2 juta sambungan, maka dalam keadaan pasar yang matang, omzet jasa yang tersedia sekitar Rp2 triliun per tahun. Katakanlah butuh lima tahun menuju volume pasar itu. Investasi sebelum masa itu saya kira di bawah Rp1 triliun per tahun (termasuk untuk riset, pabrikan, dan sebagainya). Artinya, nilai uang yang mungkin terbuang jika gagal adalah sekitar Rp5 triliun dalam 5 tahun. Nilai ini sebenarnya tidak besar-besar amat dibandingkan nilai uang yang sudah terbuang untuk pembangunan CDMA, 3G dan sebagainya. Jadi, siapa takut?

4. Apakah pengguna pada masa percobaan akan rugi? Mungkin saja rugi. Dia sudah beli dongle, access point dan sebagainya. Sama dengan orang beli handphone lalu layanannya mati. Tapi saya kira tidak terlalu besar kerugiannya. Toh pada saat yang sama pengguna individu masih bisa memakai 3G, dan pengguna korporasi bisa memakai Speedy.

Tentu saja lebih fair untuk membandingkannya dengan keuntungan apa saja yang mungkin kita dapatkan dari WiMax. Potensi keuntungan itu benar-benar perlu dieksplorasi dengan cerdas. Kalau memang mau pakai model proyek-proyekan seperti jaman dulu (asal tidak dikorupsi), kalau semua kantor pemerintah dan sekolah dilengkapi dengan koneksi WiMax, wah berapa besar pasar yang bisa diselamatkan?

Saya kira, sedekat dan sependek pengetahuan saya, dengan analisis yang sangat dangkal ini, tidak ada salahnya saat ini menetapkan standar WiMax yang khas Indonesia. Kondisinya mungkin berbeda kalau kita menetapkan standar unik itu tiga tahun mendatang. Wallahu alam.