Tampilkan postingan dengan label wimax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wimax. Tampilkan semua postingan

07 Februari 2010

WiMax & dilema pengembangan kapabilitas lokal

WiMax adalah teknologi telekomunikasi nirkabel pita lebar yang dianggap memiliki potensi besar di masa mendatang. Sebagian pihak memandangnya sebanding dengan seluler generasi keempat (4G) dan bisa menjadi solusi untuk penggelaran Internet murah hingga ke perdesaan.

WiMax atau worldwide interoperability for microwave access memungkinkan transfer data dengan kapasitas lebih besar dan jangkauan lebih jauh daripada Wi-Fi (wireless fidelity).

Teknologi ini berpotensi untuk menciptakan ketersambungan maksimal. Akan tetapi, di Indonesia, WiMax juga dimaknai sebagai kontoversi maksimal.

Pasar untuk WiMax di dunia belum matang (mature). Nilai bisnisnya masih sangat kecil dibandingkan dengan 3G dan GSM yang sudah menjangkau segala penjuru bumi. Bahkan dibandingkan dengan pasar untuk Wi-Fi pun WiMax masih kecil. Diperlukan waktu paling tidak lima tahun ke depan untuk memungkinkan WiMax tumbuh menjadi raksasa sebagaimana Wi-Fi dan seluler.

Teknologi WiMax tidak dikuasai oleh segelintir pemain seperti halnya teknologi seluler. Dalam industri peranti jaringan seluler dikenal beberapa pemain dominan dunia dan sulit dimasuki pemain kecil.

Sifatnya yang lebih terbuka, potensinya yang besar, serta belum ada pemain dominan membuka peluang bagi praktisi teknologi di Indonesia untuk mengambil peran lebih besar. Pemerintah dan para idealis tidak ingin pengalaman dalam bisnis seluler, di mana belanja modal lebih dari Rp40 triliun per tahun hampir seluruhnya digunakan untuk produk teknologi impor, terulang pada WiMax.

Akan tetapi, keinginan untuk menjadi pemain di halaman sendiri itulah yang kemudian berbuntut kontroversi panjang.

***Mencari kisah sukses
Pemerintah ingin meningkatkan kandungan lokal, menghemat devisa dengan meminimalkan produk impor, meningkatkan penyerapan sumber daya manusia domestik, serta menegakkan kemandirian teknologi.

Untuk itu, pemerintah menetapkan jenis teknologi dan standar yang berbeda dari standar yang paling banyak dianut pemain global. Dengan penetapan frekuensi yang khas Indonesia, vendor global menjadi sulit masuk. Hal ini sebenarnya mirip dengan langkah China yang mengembangkan sendiri standar seluler 3G yang khas, yaitu TD-SCDMA (time division synchronous code division multiple access).

Keinginan pemerintah ini mendapat dukungan sejumlah ahli dan manufaktur domestik yang menyatakan siap menyediakan perangkat WiMax lokal. Di sisi lain, penetapan standar yang unik ini memicu protes terutama karena pemain global sulit masuk, padahal produk global sudah siap menyerbu.

Protes bertambah ketika digelar tender penyelenggaraan layanan. Pemenangnya memiliki hak untuk menyediakan layanan berbasis teknologi WiMax bagi masyarakat.

Untuk bisa menang tender, calon penyelenggara harus membayar biaya frekuensi yang tidak murah kepada negara. Guna mengembalikan biaya modal, mereka butuh waktu penggelaran yang cepat (aspek time to market), perangkat yang murah, serta ada jaminan untuk bisnis yang berkelanjutan.

Kontroversi berlanjut karena pemain lokal sulit memenuhi harapan calon penyelenggara layanan. Dengan ukuran pasar Indonesia yang relatif kecil dibandingkan seluruh pasar global, harga yang ditawarkan vendor lokal sulit untuk bersaing dengan pemain yang menyasar pasar besar. Ada masalah skala perekonomian (economic of scale) di sini. Kecepatan produksi untuk memasok permintaan calon penyelenggara ini pun menjadi isu sendiri.

Di sisi lain, vendor global memandang Indonesia sebagai pasar potensial. Sayang sekali bila tidak bisa digarap. Sekarang memang masih kecil, akan tetapi di masa mendatang bisa sangat besar. Apalagi, apa yang disediakan vendor global tampaknya klop dengan kebutuhan para calon penyelenggara. Jadilah tarik-ulur menjadi semakin keras.

Sebenarnya, tarik menarik antara kepentingan pemerintah, vendor lokal, calon penyelenggara layanan, serta vendor global merupakan hal lumrah dalam proses pembangunan industri berteknologi tinggi di dalam negeri.

Sayangnya, Indonesia tidak punya banyak cerita sukses pembanguann kapasitas di bidang teknologi tinggi. Pembangunan industri kapal terbang kandas. Industri strategis lain juga belum benar-benar membuat mandiri di bidangnya masing-masing.

Akan tetapi, bukan berarti tidak ada kesempatan atau alasan untuk mencoba kembali setelah terjadi beragam kegagalan. Bukankah banyak negara lain terbukti berhasil dalam proses pembangunan kapasitas di bidang teknologi tinggi.

China, misalnya, dikenal sangat ketat menjaga pasar domestik dari masuknya pemain asing, serta memiliki bargaining position tinggi terhadap pemain global yang ingin masuk ke pasar dengan lebih 1 miliar konsumen itu.

Membangun kemampuan lokal, apalagi dalam industri tinggi seperti WiMax, memang membutuhkan proses panjang yang konsisten, sabar, dan seringkali menelan banyak pengorbanan.

Jika sukses, ada banyak sekali keuntungan yang bisa dinikmati masyarakat. Kalaupun akhirnya gagal, ada banyak pelajaran yang diambil oleh para pelakunya sebagai modal sosial untuk membangun kesuksesan di bidang lain. Saya percaya tidak ada yang sia-sia dalam upaya mewujudkan idealisme mengenai pembangunan kapasitas domestik.


Fokus perhatian pihak-pihak dan bisnis WiMax:
Penyedia jasa -->harga perangkat, time to market, sustainability
Vendor lokal -->peningkatan kapabilitas, economic of scale, insentif & kepastian regulasi
Pemerintah -->kandungan lokal, devisa, penyerapan SDM & kemandirian teknologi
Vendor global/importer -->market size, keterbukaan, standar internasional

06 Mei 2009

Apa salahnya mendukung WiMax lokal?

Banyak kontroversi mengenai pemilihan pita frekuensi dan varian teknologi pita lebar nirkabel WiMax yang akan digunakan di Indonesia. Di sana ada standar internasional dengan pemain-pemain utama yang sudah tersohor, sementara di sini ada standar berbeda dengan pemain yang baru memulai.

Kekhawatiran yang sering muncul jika Indonesia memiliki standar (frekuensi) sendiri adalah tidak comply dengan standar internasional. Tapi, saya ingin membalik pertanyaan: apa ruginya sih sebenarnya kalau sekarang kita kembangkan standar sendiri yang agak unik sebagai entry barrier untuk pemain internasional?

Ada beberapa hal yang perlu dicermati
1. Bahwa pasar untuk WiMax di dunia ini belum matang. Nilainya masih sangat kecil dibandingkan dengan 3G dan GSM yang sudah menjangkau segala penjuru bumi. Bahkan dibandingkan dengan pasar untuk Wi-Fi pun WiMax masih kecil sekali. Saya yakin, butuh waktu paling tidak lima tahun ke depan untuk memungkinkan WiMax tumbuh menjadi raksasa (dengan asumsi yang sangat optimistis, berlaku di seluruh penjuru bumi)

2. Penetapan standar khas Indonesia toh tidak akan menghalangi perkembangan WiMax yang mengikuti standar internasional (WiMax Forum). Biar saja pemain internasional tetap menjalankan standar mereka, toh kita tidak diisolasi. Bukankah kita bisa setiap saat bergabung ke standar internasional kalaulah eksperimen dengan standar lokal gagal.


3. Katakanlah kita mencoba mengembangkan standar lokal ini untuk tiga tahun atau lima tahun ke depan. Mungkin kita bisa menguji dan mengoptimalkan sumber daya lokal untuk mengembangkan pasar domestik. Berapa besarnya investasi yang mungkin tersia-sia? Kita bisa lihat nilai pasarnya saja. Biaya langganan rata-rata yang bisa dianggap pas untuk kantong orang Indonesia kira-kira Rp100.000 per bulan. Dengan asumsi volume pasar yang matang adalah 2 juta sambungan, maka dalam keadaan pasar yang matang, omzet jasa yang tersedia sekitar Rp2 triliun per tahun. Katakanlah butuh lima tahun menuju volume pasar itu. Investasi sebelum masa itu saya kira di bawah Rp1 triliun per tahun (termasuk untuk riset, pabrikan, dan sebagainya). Artinya, nilai uang yang mungkin terbuang jika gagal adalah sekitar Rp5 triliun dalam 5 tahun. Nilai ini sebenarnya tidak besar-besar amat dibandingkan nilai uang yang sudah terbuang untuk pembangunan CDMA, 3G dan sebagainya. Jadi, siapa takut?

4. Apakah pengguna pada masa percobaan akan rugi? Mungkin saja rugi. Dia sudah beli dongle, access point dan sebagainya. Sama dengan orang beli handphone lalu layanannya mati. Tapi saya kira tidak terlalu besar kerugiannya. Toh pada saat yang sama pengguna individu masih bisa memakai 3G, dan pengguna korporasi bisa memakai Speedy.

Tentu saja lebih fair untuk membandingkannya dengan keuntungan apa saja yang mungkin kita dapatkan dari WiMax. Potensi keuntungan itu benar-benar perlu dieksplorasi dengan cerdas. Kalau memang mau pakai model proyek-proyekan seperti jaman dulu (asal tidak dikorupsi), kalau semua kantor pemerintah dan sekolah dilengkapi dengan koneksi WiMax, wah berapa besar pasar yang bisa diselamatkan?

Saya kira, sedekat dan sependek pengetahuan saya, dengan analisis yang sangat dangkal ini, tidak ada salahnya saat ini menetapkan standar WiMax yang khas Indonesia. Kondisinya mungkin berbeda kalau kita menetapkan standar unik itu tiga tahun mendatang. Wallahu alam.