Tampilkan postingan dengan label kedu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kedu. Tampilkan semua postingan

09 Oktober 2009

Ketika tulisan-tulisan itu ‘menagih janji’


Bisakah tulisan itu menagih janji? Ternyata bisa. Hal semacam itulah yang saya almi selama Lebaran kemarin. Belum lama ini saya menulis tentang Kedu, lalu saat liburan itu ternyata saya harus kembali lewat di Kedu, Temanggung, seperti beberapa tahun yang lalu.

Belum lama ini saya menulis tentang system informasi mudik untuk mengatasi kemacetan dan penderitaan pemudik yang luar biasa. Dan lebaran kali ini saya mengalami kerepotan perjalanan yang secara absolute mungkin agak lebih berat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun karena sedikit lebih siap dan menghadapinya dnegan lebih rileks, maka penderitaan itu tampaknya berkurang.

Saya juga menulis mudik sebagai mesin waktu. Nah kali ini ada beberapa undangan reuni yang, sayangnya, tidak bisa saya hadiri. Untuk kasus yang terakhir ini saya berhasil ‘melarikan diri’ dari tagihan janji sang tulisan, hehehehe.

Foto: Jalan utama Kedu, tempat banyak orang jual ayam cemani.

13 Agustus 2009

Ketika pengetahuan dikalahkan mitos


Candi Prambanan adalah produk nyata yang bisa kita lihat, namun cerita yang lebih berkembang dari mulut ke mulut mengenai proses pembangunannya adalah mitos tentang pria perkasa Bandung Bondowoso yang membangun 999 candi dalam satu malam karena permintaan Roro Jonggrang. Bagaimana mungkin popularitas mitos justru mengalahkan kenyataan?
***
Ini cerita tentang tiga wajah Kedu dikaitkan dengan waktu. Kedu masa kini, Kedu zaman penjajahan Belanda, serta Kedu pada 14 abad yang lalu.

Kedu masa kini adalah nama sebuah desa dan kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Posisinya antara Kota Temanggung dan Parakan. Kecamatan Kedu terdiri atas 13 desa dengan ibukota kecamatan di Desa Kedu.

Di daerah ini ada ayam unik yang disebut ayam cemani. Ayam cemani galur murni memiliki ciri khas serba hitam. Bulunya hitam, kulitnya hitam, jenggernya hitam. Konon, tulangnya pun hitam.

Di desa Kedu inilah pada tanggal 8 bulan 8, Densus 88 membekuk orang yang kemudian diumumkan sebagai Ibrohim, pengurus bunga di hotel Ritz Carlton. Selama satu pekan terakhir nama Kedu selalu muncul dalam pemberitaan di televisi karena kasus kekerasan yang mengatasnamakan perjuangan agama serta dibumbui dengan ledakan.

Adapun Kedu pada masa akhir penjajahan Belanda adalah nama sebuah karesidenan di sisi selatan Jawa Tengah. Bagian timur Karesidenan Kedu berbatasan dengan Yogyakarta, sedangkan sisi barat berbatasan dengan Banyumas.

Wilayah eks-karesidenan Kedu meliputi Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, serta Kabupaten Kebumen.
Wilayah yang ditandai dengan nomor polisi kendaraan dengan awalan AA ini secara ekonomi tidaklah menonjol di Jawa Tengah. Namun secara politik, posisinya cukup penting mengingat Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo serta Wakil Gubernur Rustriningsih berasal dari eks-karesidenan Kedu.

Pada pemilu legislatif lalu, eks-karesidenan Kedu—minus Kebumen—masuk dalam Dapil Jateng VI. Anggota parlemen yang terpilih dari daerah ini antara lain Angelina Sondakh, Catur Sapto Edy, serta Abdul Kadir Karding.

***
Wajah ketiga adalah Kedu di masa lalu. Bagi saya inilah yang paling menarik. Kedu adalah nama yang memiliki sejarah panjang di Tanah Jawa. Mungkin salah satu yang tertua yang tercatat dalam sejarah. Di sanalah, konon, kerajaan Mataram Lama berpusat.

Selama tiga abad, penguasa Mataram Lama memimpin peradaban di Jawa sebelum munculnya generasi baru yang dipelopori Mpu Sindok di Jawa Timur, 1.000 tahun yang lalu.
Prasasti Kedu yang dibuat pada masa Dyah Balitung memuat silsilah raja-raja Mataram Lama dari Sanjaya, Panangkaran, Panunggalan, Warak, Garung, Pikatan, Kayuwangi, Watuhumalang, hingga Dyah Balitung.

Prasasti Canggal di Magelang menyatakan bahwa kerajaaan Mataram Lama didirikan oleh Sanna. Dua wangsa yang paling populer adalah Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya. Peninggalan paling prestisius dari Mataram Lama adalah Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Pada akhir abad X, kerajaaan Mataram yang berpusat di (eks-karesidenan) Kedu berakhir setelah tiga abad yang mengesankan. Selama lima abad berikutnya, kekuasaan di Jawa berpusat di Jawa Timur melalui Mpu Sindok, Airlangga, Jenggala, Kediri, Singasari, maupun Majapahit. Pusat kekuasaan kembali ke Jawa Tengah melalui kerajaan Demak pada abad XV yang diteruskan oleh Pajang dan Mataram Baru. Tetapi tidak pernah kembali ke Kedu.

***
Para sejarawan berpendapat kerajaan yang berpusat di (eks-karesidenan) Kedu itu runtuh karena dua faktor. Faktor pertama adalah konflik dalam keluarga kerajaan yang melibatkan sentimen keagamaan, yaitu Hindu Syiwa dan Budha. Faktor lainnya adalah letusan Gunung Merapi, salah satu gunung api paling aktif dunia. Begitu dahsyatnya letusan Merapi pada akhir abad X atau awal abad XI itu sehingga menguburkan candi Borobudur.

Kita melihat mencuatnya nama Kedu dalam satu pekan terakhir juga disebabkan dua faktor yang mirip: konflik yang membawa-bawa nama agama, serta letusan (bom).
Mengemukanya nama Kedu menyisakan pertanyaan menarik tentang peradaban masa lalu yang begitu hebat. Kita sulit membayangkan bagaimana insnyur-insinyur di (eks-karesidenan) Kedu ini pada abad VII dan VIII mampu membuat bangunan dari batu yang begitu besar seperti Borobudur dan Prambanan.

Bangsa pernah memililiki teknologi tinggi pada zamannya, pengetahuan tinggi yang bahkan sulit untuk ditiru hingga saat ini. Bagaimana menyusun dan merekatkan batu-batu besar hingga mampu bertahan selama ratusan tahun? Apa alat trasportasi yang digunakan untuk membawa gelondongan batu-batu besar itu?

Pertanyaan utama adalah ke manakah teknologi dan peradaban begitu tinggi yang ditinggalkan oleh para insinyur itu.

Ah, sayang sekali bahwa para empu dan insinyur di masa lalu itu tidak bisa mendokumentasikan kesaktiannya sehingga dapat dengan mudah diwarisi oleh generasi yang lebih muda. Sayang mereka belum menerapkan apa yang belakangan ini populer sebagai knowledge management, dokumentasi pengetahuan, serta transfer pengetahuan dengan cara-cara yang mudah.

Kalau kita cermati, Prambanan adalah produk nyata yang bisa kita lihat, namun cerita yang lebih berkembang dari mulut ke mulut mengenai proses pembangunannya adalah mitos tentang pria perkasa Bandung Bondowoso yang membangun 999 candi dalam satu malam karena permintaan Roro Jonggrang. Ini mitos tentang pria yang dikecewakan wanita, mirip cerita Sangkuriang di Jawa Barat. Bagaimana mungkin popularitas mitos justru mengalahkan kenyataan.

Bagi saya pribadi, daripada membahas peristiwa dar-der-dor yang penuh duga-duga di Kedu, lebih menarik merangkai sejarah mengenai teknologi masa lalu di daerah ini yang ikut lenyap bersama runtuhnya peradaban Mataram Lama. Mari merdekakan diri dari mitos.

*) Versi ringkas tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 15 Agustus halaman 12

09 Agustus 2009

Cerita Kedu di masa lalu


Kedu memiliki akar sejarah yang panjang. Mungkin salah satu yang paling panjang di Tanah Jawa. Di sanalah, konon, negeri Mataram Lama bercokol.

Di tempat itulah Pikatan, Panangkaran, Syailendra, serta keturunannya membangun peradaban yang luar biasa pada abad VII, 14 abad yang lalu. Sebagian peninggalan dari generasi itu, sekaligus bukti peradaban yang tinggi, adalah candi Borobudur dan candi Prambanan.

Kedu pada jaman penjajahan Belanda adalah ibukota karesidenan. Karesidenan itu meliputi Kabupaten Temangggung, Kabupatan Wonosobo, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo, serta kabupaten Kebumen.

Nomor polisi kendaraan di eks karesidenan Kedu diawali dengan AA. Pada Pemilu Legislatif yang baru lalu, sebagian daerah ini, kecuali Kebumen, masuk ke Dapil Jateng VI.

Ada ayam khas daerah Kedu yang serba hitam. Namanya ayam cemani. Bulunya hitam, kulitnya pun hitam, jenggernya juga hitam. Serba hitam. Konon, tulangnya pun hitam.
Pada 2006, ketika melintas Kedu dari temanggung ke arah Parakan, saya bersama keluarga sempat membeli beberapa ekor ayam cemani muda.

***
Pada tanggal 8 bulan 8, Densus 88 membekuk apa yang diduga sebagai para pengebom. Pengebom itu terkait erat dengan kamar 18-08 hotel JW Marriot yang rebut-ribut tanggal 17 Juli lalu.

Bagi saya, daripada mengikuti berita dar der dor yang berisi duga1, dikalikan duga2, dikalikan duga3, lalu dirangkai menjadi duga pangkat delapan, lebih asyik menyimak kembali cerita Kedu masa lalu.

Lebih enak menyimak bagaimana Sannaha, Pikatan dan keturunannya membangun daerah yang kini secara politis ekonomis itu tidak lagi memiliki posisi kuat.

Lebih menarik mencari-cari tautan yang hilang (missing link) antara hancurnya kekuasaan Mataram Lama pada abad X dan hadirnya kekuasaan baru di Jawa Timur pada abad XI di bawah Mpu Sendok.

Silsilah antara Mpu Sendok yang dilanjutkan oleh Airlangga, lalu pecah menjadi Jenggala dan Kediri, diwarisi oleh Singasari, lalu Majapahit, hingga Pajang, Mataram, Surakarta dan Yogyakarta dapat dilacak dengan mudah. Akan tetapi kaitan antara raja Mataram Lama terakhir dengan Mpu Sendok sulit dilacak.

Ah Kedu, lebih menarik ceritamu tentang masa lalu.