Bisnis Indonesia edisi 18 September 2009
Mesin waktu diimpikan banyak orang sejak beberapa abad lalu. Dalam berbagai cerita fiksi, mesin waktu biasanya digambarkan sebagai sebuah kendaraan atau sebuah kotak mirip lift yang bisa membawa penumpangnya menembus batas waktu dan ruang. Kadang penumpang dibawa maju ke masa depan, kadang dibawa mundur ke masa silam.
Sudah banyak ahli yang mempelajari relativitas waktu serta teori tentang Lubang Cacing Stephen Hawking yang konon menjadi bibit-bibit bagi penjelajahan lintaswaktu, namun hingga kini mesin waktu belum benar-benar terwujud.
Kalaulah suatu saat benar-benar ada mesin waktu, bentuk dan cara mengendarainya pasti berbeda sama sekali dengan mesin waktu dalam cerita-cerita fiksi. Sama halnya kita membandingkan bentuk sedan saat ini yang sangat berbeda dengan kereta tanpa kuda ketika awalnya diimpikan. Mengendarai pesawat terbang sangat berbeda dengan naik kuda sembrani yang diimpikan beberapa ratus tahun lalu.
Mesin waktu yang bisa membawa fisik manusia lintaswaktu memang belum ada. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada metode atau aplikasi atau perangkat yang bisa membawa jiwa atau pikiran manusia menembus batas waktu.
Aktivitas mudik yang membawa orang-orang ke tanah kelahiran, jejaring sosial Facebook yang mempertemukan orang-orang dari masa silam, serta quick count yang menggesa hasil pemilihan umum, adalah semacam pseudo mesin waktu. Sampai pengertian tertentu, tiga hal tersebut bisa berfungsi seolah-olah mesin waktu. Mesin waktu “gadungan”.
Kita lihat Facebook sangat populer dalam 1 tahun --2 tahun terakhir, quick count menjadi primadona setiap pemilihan umum baik tingkat pusat maupun daerah dalam 10 tahun terakhir. Adapun mudik adalah aktivitas yang sudah sangat tua, setua urbanisasi di Indonesia.
Facebook dan mudik membawa kita ke masa silam, bisa puluhan tahun ke belakang. Sedangkan quick count membawa kita satu bulan atau dua bulan ke depan, menjelang hasil akhir sebuah pemilihan ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum.
***Mesin waktu = mesin uang
Quick count, Facebook, dan mudik memiliki kesamaan: menjadi mesin uang bagi sang host. Facebook dan quick count memiliki host tunggal, sedangkan mudik diselenggarakan secara kolosal oleh seluruh masyarakat.
Quick count yang populer seiring ramainya pemilu berhasil memenuhi hasrat dan kehausan manusia akan pengetahuan mengenai masa depan. Siapa yang tahan menunggu hasil kampanye yang telah menguras begitu banyak tenaga dan kantong itu hingga berpekan-pekan ke depan? Siapa sanggup terus bertanya-tanya tanpa panduan mengenai peta atau konstelasi besar politik nasional?
Quick count menjadi mesin yang memungkinkan penontonnya untuk melompat ke depan. Tidak perlu menunggu leletnya KPU untuk tahu gambaran umum hasil pemilu. Sudah barang tentu ada ratusan miliar rupiah dana yang diperlukan untuk membangun dan menggerakkan mesin waktu bernama quick count itu.
Facebook adalah jejaring sosial (social networking) yang berkembang paling cepat di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Sepanjang 2008, menurut Frost & Sullivan, jumlah penggunanya di Indonesia meningkat 645% sehingga mencapai 810.000 orang pada akhir 2008.
Meningkatkan promosi yang saling menguntungkan antara industri seluler dengan Facebook secara teoritis membuat pertumbuhan jumlah pengguna jejaring sosial itu pada 2009 akan lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2008. Di tingkat global, jumlah pengguna Facebook hingga Agustus 2009 mencapai 250 juta orang.
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg yang baru berusia 25 tahun, adalah miliarder termuda dunia saat ini. Mesin waktu bernama Facebook juga mendorong tumbuhnya pengembang di 180 negara yang menyediakan lebih dari 350.000 aplikasi. Facebook terbukti menjadi mesin uang yang luar biasa.
Adapun mudik, yang tahun ini diperkirakan menggerakkan 27 juta jiwa orang untuk kembali ke masa lalu guna menengok asal-usulnya, menimbulkan perputaran uang yang sangat besar. Sebanyak 16,25 juta orang diperkirakan menggunakan angkutan umum yang tarifnya dikenai tuslag dan menghasilkan bisnis triliunan rupiah.
Mudik adalah aktivitas kolosal yang tak tergantikan di tengah urbanisasi yang kian menggila. Mungkin butuh kecanggihan besar untuk menciptakan sesuatu yang mampu menggantikan atau mengalihkan aktivitas mudik.
Mesin waktu Facebook sampai taraf tertentu mampu secara efektif menggantikan sebagian fungsi silaturahim, SMS, e-mail, dan mailing list, namun sama sekali belum bisa menggantikan efektivitas mudik. Mungkin suatu saat ketika telah hadir jejaring kekerabatan--bukan semata-mata jejaring sosial-- maka aktivitas mudik dapat digantikan dengan aplikasi komputer.
Akhirnya, selamat mudik, selamat menelusuri masa silam, menjelajahi lorong waktu, dan membelanjakan banyak uang.
*) Setyardi Widodo
Tampilkan postingan dengan label mudik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mudik. Tampilkan semua postingan
08 Oktober 2009
14 September 2009
Mendambakan sistem informasi mudik terintegrasi
Antrean lalu lintas mirip dengan antrean pembeli di depan loket swalayan. Tim Harford dalam Undercover Economist memberi penjelasan menarik tentang antrean semacam itu. Dia memulai dengan mengajukan pertanyaan: Antrean mana yang paling cepat di antara semua antrean di toko swalayan besar yang sibuk?
Menurut Harford, seandainya ada loket tertentu yang mudah dikenali sebagai loket yang paling cepat, para pengunjung akan berebut ke sana, dan loket itu tidak lagi menjadi loket yang paling cepat. Jadi, dalam kasus semacam ini, tidak ada gunanya memilih. Berdiri dalam antrean yang mana pun hasilnya akan sama.
Akan tetapi, jika semua orang menganggap berdiri di mana pun sama, akan muncul pola-pola tertentu yang dapat dieksploitasi oleh ahli belanja. Misalnya, antrean di dekat pintu masuk lebih pendek daripada antrean yang jauh dari pintu masuk.
Lalu, jika banyak pengunjung juga kemudian mengenali pola ini, mereka tidak akan pasrah dan tak berdiri acak lagi. Mereka akan memilih antrean yang paling pendek itu, dan sesaat kemudian antrean itu akan berubah menjadi antrean yang panjang.
Harford memberi saran dalam kasus semacam ini: berdiri saja di antrean mana pun lalu jangan cemaskan apapun yang terjadi. Orang-orang yang gesit dan berpengalaman akan sedikit lebih cepat dalam menentukan antrean paling lancar. Tetapi, selisih waktunya tidak akan terlalu banyak.
Pilihan rute jalan mirip dengan pilihan antrean di toko swalayan. Jika orang bisa mengenali rute lalu lintas mana yang paling lancar maka dia akan memilih rute itu. Akan tetapi jika sangat banyak orang tahu informasi yang sama dan memilih rute itu, maka rute tersebut tidak lagi menjadi jalur yang lancar. Apalagi jika jumlah orang yang memilih rute itu melebihi kapasitas jalan yang ditempuh.
Dalam kasus antrean di pasar swalayan, yang dipertaruhkan hanya beberapa menit. Dalam pilihan rute ke tempat kerja oleh kebanyakan warga Jakarta dan sekitarnya, waktu yang dipertaruhkan mungkin 1 jam atau 2 jam.
Akan tetapi, bagi para pemudik yang meninggalkan Jakarta dengan tujuan ratusan kilometer ke arah timur atau barat, rute dan waktu yang keliru bisa berarti terjebak macet belasan jam.
Pada puncak arus mudik tahun lalu, misalnya, jarak Bandung-Ciamis yang normalnya dapat ditempah dalam waktu 3 jam-4 jam harus ditempuh hingga 12 jam atau bahkan 16 jam. Belasan jam dihabiskan dalam antrean yang menyedihkan.
***Kesabaran pemudik
Mudik adalah aktivitas kolosal yang melibatkan jutaan orang. Departemen Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini 27 juta orang.
Manusia sebanyak itu ingin berpindah bersama-sama dalam jangka waktu satu pekan, berjejal dalam ribuan kendaraan. Bahkan, puncak arus mudik terjadi dalam 2--3 hari tertentu. Selama masa itu mungkin 30% dari seluruh jumlah pemudik meninggalkan kota besar secara bersamaan.
Cara sederhana untuk mengatasi hal ini adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan sehingga lebih besar dari volume kendaraan saat puncak arus mudik maupun arus balik. Tetapi perlu biaya puluhan triliun atau ratusan triliun rupiah untuk meningkatkan kapasitas jalan yang hanya terpakai sesaat.
Opsi lain adalah membuat kebijakan komprehensif yang mendorong agar proses mudik tidak memuncak pada dua atau tiga hari tertentu, melainkan tersebar dalam jangka lama.
Jika hal ini tak dapat dilakukan optimal, semua terpaksa kembali kepada kearifan para pemudik yang pasti sudah menyiapkan kesabaran segudang.
***Tawakal saja
Dalam segala keterbatasan, yang paling diperlukan pemudik adalah sistem informasi yang akurat dan realtime. Bayangkan jika kita memiliki sistem informasi lalu lintas yang terintegrasi, berupa model matematis yang memperhitungkan kapasitas tiap-tiap ruas jalan, digabungkan dengan data dan prediksi mengenai volume kendaraan yang akan melintas.
Bentuk idealnya adalah simulasi dalam bentuk peta yang memberikan informasi real time kondisi semua ruas jalan utama dan dapat diakses publik. Simulasi diharapkan juga dapat menyediakan informasi mengenai kondisi yang belum terjadi, misalnya prediksi kondisi pada hari tertentu atau prediksi kondisi 10 jam mendatang, serta memberikan informasi real time mengenai berapa panjangnya kemacetan.
Lebih baik lagi bila model ini bersifat dinamis, menerima umpan balik data-data terbaru secara terus menerus, misalnya data kecelakaan yang menyebabkan pengurangan kapasitas jalan dalam kurun waktu tertentu.
Akan tetapi, membangun model matematis, apalagi yang mampu memprediksi potensi kemacetan, sama sulitnya dengan membuat model matematis untuk melihat tren harga saham. Di sana ada kehendak, sentimen, kepentingan, dan hasrat manusia dalam jumlah banyak yang menjadi variabel yang sulit diperhitungkan.
Mungkin untuk saat ini kita bisa cukup puas dengan informasi dari para penyiar radio, sesama pemudik, video streaming titik-titik tertentu, serta informasi kasar mengenai prediksi pola mudik.
Dalam kondisi serba terbatas ini, saran awal Tim Harford barangkali sangat berguna: pilih rute yang mana saja dan jangan cemaskan apa pun. Tawakal saja. Wallahu alam.
*) Versi lebih ringkas dimuat Bisnis Indonesia edisi 8 September 2009
Menurut Harford, seandainya ada loket tertentu yang mudah dikenali sebagai loket yang paling cepat, para pengunjung akan berebut ke sana, dan loket itu tidak lagi menjadi loket yang paling cepat. Jadi, dalam kasus semacam ini, tidak ada gunanya memilih. Berdiri dalam antrean yang mana pun hasilnya akan sama.
Akan tetapi, jika semua orang menganggap berdiri di mana pun sama, akan muncul pola-pola tertentu yang dapat dieksploitasi oleh ahli belanja. Misalnya, antrean di dekat pintu masuk lebih pendek daripada antrean yang jauh dari pintu masuk.
Lalu, jika banyak pengunjung juga kemudian mengenali pola ini, mereka tidak akan pasrah dan tak berdiri acak lagi. Mereka akan memilih antrean yang paling pendek itu, dan sesaat kemudian antrean itu akan berubah menjadi antrean yang panjang.
Harford memberi saran dalam kasus semacam ini: berdiri saja di antrean mana pun lalu jangan cemaskan apapun yang terjadi. Orang-orang yang gesit dan berpengalaman akan sedikit lebih cepat dalam menentukan antrean paling lancar. Tetapi, selisih waktunya tidak akan terlalu banyak.
Pilihan rute jalan mirip dengan pilihan antrean di toko swalayan. Jika orang bisa mengenali rute lalu lintas mana yang paling lancar maka dia akan memilih rute itu. Akan tetapi jika sangat banyak orang tahu informasi yang sama dan memilih rute itu, maka rute tersebut tidak lagi menjadi jalur yang lancar. Apalagi jika jumlah orang yang memilih rute itu melebihi kapasitas jalan yang ditempuh.
Dalam kasus antrean di pasar swalayan, yang dipertaruhkan hanya beberapa menit. Dalam pilihan rute ke tempat kerja oleh kebanyakan warga Jakarta dan sekitarnya, waktu yang dipertaruhkan mungkin 1 jam atau 2 jam.
Akan tetapi, bagi para pemudik yang meninggalkan Jakarta dengan tujuan ratusan kilometer ke arah timur atau barat, rute dan waktu yang keliru bisa berarti terjebak macet belasan jam.
Pada puncak arus mudik tahun lalu, misalnya, jarak Bandung-Ciamis yang normalnya dapat ditempah dalam waktu 3 jam-4 jam harus ditempuh hingga 12 jam atau bahkan 16 jam. Belasan jam dihabiskan dalam antrean yang menyedihkan.
***Kesabaran pemudik
Mudik adalah aktivitas kolosal yang melibatkan jutaan orang. Departemen Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini 27 juta orang.
Manusia sebanyak itu ingin berpindah bersama-sama dalam jangka waktu satu pekan, berjejal dalam ribuan kendaraan. Bahkan, puncak arus mudik terjadi dalam 2--3 hari tertentu. Selama masa itu mungkin 30% dari seluruh jumlah pemudik meninggalkan kota besar secara bersamaan.
Cara sederhana untuk mengatasi hal ini adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan sehingga lebih besar dari volume kendaraan saat puncak arus mudik maupun arus balik. Tetapi perlu biaya puluhan triliun atau ratusan triliun rupiah untuk meningkatkan kapasitas jalan yang hanya terpakai sesaat.
Opsi lain adalah membuat kebijakan komprehensif yang mendorong agar proses mudik tidak memuncak pada dua atau tiga hari tertentu, melainkan tersebar dalam jangka lama.
Jika hal ini tak dapat dilakukan optimal, semua terpaksa kembali kepada kearifan para pemudik yang pasti sudah menyiapkan kesabaran segudang.
***Tawakal saja
Dalam segala keterbatasan, yang paling diperlukan pemudik adalah sistem informasi yang akurat dan realtime. Bayangkan jika kita memiliki sistem informasi lalu lintas yang terintegrasi, berupa model matematis yang memperhitungkan kapasitas tiap-tiap ruas jalan, digabungkan dengan data dan prediksi mengenai volume kendaraan yang akan melintas.
Bentuk idealnya adalah simulasi dalam bentuk peta yang memberikan informasi real time kondisi semua ruas jalan utama dan dapat diakses publik. Simulasi diharapkan juga dapat menyediakan informasi mengenai kondisi yang belum terjadi, misalnya prediksi kondisi pada hari tertentu atau prediksi kondisi 10 jam mendatang, serta memberikan informasi real time mengenai berapa panjangnya kemacetan.
Lebih baik lagi bila model ini bersifat dinamis, menerima umpan balik data-data terbaru secara terus menerus, misalnya data kecelakaan yang menyebabkan pengurangan kapasitas jalan dalam kurun waktu tertentu.
Akan tetapi, membangun model matematis, apalagi yang mampu memprediksi potensi kemacetan, sama sulitnya dengan membuat model matematis untuk melihat tren harga saham. Di sana ada kehendak, sentimen, kepentingan, dan hasrat manusia dalam jumlah banyak yang menjadi variabel yang sulit diperhitungkan.
Mungkin untuk saat ini kita bisa cukup puas dengan informasi dari para penyiar radio, sesama pemudik, video streaming titik-titik tertentu, serta informasi kasar mengenai prediksi pola mudik.
Dalam kondisi serba terbatas ini, saran awal Tim Harford barangkali sangat berguna: pilih rute yang mana saja dan jangan cemaskan apa pun. Tawakal saja. Wallahu alam.
*) Versi lebih ringkas dimuat Bisnis Indonesia edisi 8 September 2009
Label:
antre,
belanja,
macet,
mudik,
sistem informasi,
tim harford,
undercover economist
Langganan:
Postingan (Atom)