Tampilkan postingan dengan label tim harford. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tim harford. Tampilkan semua postingan

14 September 2009

Mendambakan sistem informasi mudik terintegrasi

Antrean lalu lintas mirip dengan antrean pembeli di depan loket swalayan. Tim Harford dalam Undercover Economist memberi penjelasan menarik tentang antrean semacam itu. Dia memulai dengan mengajukan pertanyaan: Antrean mana yang paling cepat di antara semua antrean di toko swalayan besar yang sibuk?

Menurut Harford, seandainya ada loket tertentu yang mudah dikenali sebagai loket yang paling cepat, para pengunjung akan berebut ke sana, dan loket itu tidak lagi menjadi loket yang paling cepat. Jadi, dalam kasus semacam ini, tidak ada gunanya memilih. Berdiri dalam antrean yang mana pun hasilnya akan sama.

Akan tetapi, jika semua orang menganggap berdiri di mana pun sama, akan muncul pola-pola tertentu yang dapat dieksploitasi oleh ahli belanja. Misalnya, antrean di dekat pintu masuk lebih pendek daripada antrean yang jauh dari pintu masuk.

Lalu, jika banyak pengunjung juga kemudian mengenali pola ini, mereka tidak akan pasrah dan tak berdiri acak lagi. Mereka akan memilih antrean yang paling pendek itu, dan sesaat kemudian antrean itu akan berubah menjadi antrean yang panjang.

Harford memberi saran dalam kasus semacam ini: berdiri saja di antrean mana pun lalu jangan cemaskan apapun yang terjadi. Orang-orang yang gesit dan berpengalaman akan sedikit lebih cepat dalam menentukan antrean paling lancar. Tetapi, selisih waktunya tidak akan terlalu banyak.

Pilihan rute jalan mirip dengan pilihan antrean di toko swalayan. Jika orang bisa mengenali rute lalu lintas mana yang paling lancar maka dia akan memilih rute itu. Akan tetapi jika sangat banyak orang tahu informasi yang sama dan memilih rute itu, maka rute tersebut tidak lagi menjadi jalur yang lancar. Apalagi jika jumlah orang yang memilih rute itu melebihi kapasitas jalan yang ditempuh.

Dalam kasus antrean di pasar swalayan, yang dipertaruhkan hanya beberapa menit. Dalam pilihan rute ke tempat kerja oleh kebanyakan warga Jakarta dan sekitarnya, waktu yang dipertaruhkan mungkin 1 jam atau 2 jam.

Akan tetapi, bagi para pemudik yang meninggalkan Jakarta dengan tujuan ratusan kilometer ke arah timur atau barat, rute dan waktu yang keliru bisa berarti terjebak macet belasan jam.

Pada puncak arus mudik tahun lalu, misalnya, jarak Bandung-Ciamis yang normalnya dapat ditempah dalam waktu 3 jam-4 jam harus ditempuh hingga 12 jam atau bahkan 16 jam. Belasan jam dihabiskan dalam antrean yang menyedihkan.

***Kesabaran pemudik
Mudik adalah aktivitas kolosal yang melibatkan jutaan orang. Departemen Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini 27 juta orang.

Manusia sebanyak itu ingin berpindah bersama-sama dalam jangka waktu satu pekan, berjejal dalam ribuan kendaraan. Bahkan, puncak arus mudik terjadi dalam 2--3 hari tertentu. Selama masa itu mungkin 30% dari seluruh jumlah pemudik meninggalkan kota besar secara bersamaan.

Cara sederhana untuk mengatasi hal ini adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan sehingga lebih besar dari volume kendaraan saat puncak arus mudik maupun arus balik. Tetapi perlu biaya puluhan triliun atau ratusan triliun rupiah untuk meningkatkan kapasitas jalan yang hanya terpakai sesaat.

Opsi lain adalah membuat kebijakan komprehensif yang mendorong agar proses mudik tidak memuncak pada dua atau tiga hari tertentu, melainkan tersebar dalam jangka lama.

Jika hal ini tak dapat dilakukan optimal, semua terpaksa kembali kepada kearifan para pemudik yang pasti sudah menyiapkan kesabaran segudang.

***Tawakal saja
Dalam segala keterbatasan, yang paling diperlukan pemudik adalah sistem informasi yang akurat dan realtime. Bayangkan jika kita memiliki sistem informasi lalu lintas yang terintegrasi, berupa model matematis yang memperhitungkan kapasitas tiap-tiap ruas jalan, digabungkan dengan data dan prediksi mengenai volume kendaraan yang akan melintas.

Bentuk idealnya adalah simulasi dalam bentuk peta yang memberikan informasi real time kondisi semua ruas jalan utama dan dapat diakses publik. Simulasi diharapkan juga dapat menyediakan informasi mengenai kondisi yang belum terjadi, misalnya prediksi kondisi pada hari tertentu atau prediksi kondisi 10 jam mendatang, serta memberikan informasi real time mengenai berapa panjangnya kemacetan.

Lebih baik lagi bila model ini bersifat dinamis, menerima umpan balik data-data terbaru secara terus menerus, misalnya data kecelakaan yang menyebabkan pengurangan kapasitas jalan dalam kurun waktu tertentu.

Akan tetapi, membangun model matematis, apalagi yang mampu memprediksi potensi kemacetan, sama sulitnya dengan membuat model matematis untuk melihat tren harga saham. Di sana ada kehendak, sentimen, kepentingan, dan hasrat manusia dalam jumlah banyak yang menjadi variabel yang sulit diperhitungkan.

Mungkin untuk saat ini kita bisa cukup puas dengan informasi dari para penyiar radio, sesama pemudik, video streaming titik-titik tertentu, serta informasi kasar mengenai prediksi pola mudik.

Dalam kondisi serba terbatas ini, saran awal Tim Harford barangkali sangat berguna: pilih rute yang mana saja dan jangan cemaskan apa pun. Tawakal saja. Wallahu alam.

*) Versi lebih ringkas dimuat Bisnis Indonesia edisi 8 September 2009

24 Agustus 2009

Ketika konsumen diperdaya produsen


Kalau belanja di supermarket yang mewah menghabiskan lebih banyak uang, itu terjadi bukan karena kesalahan dalam memilih lokasi belanja, melainkan karena kurangnya pengendalian diri dan ketelitian si pembeli. Harford menyarankan pembeli untuk lebih jeli dan teliti, alih-alih memilih lokasi belanja yang kurang bagus.

***
Benarkan harga jual selalu sebanding dengan biaya produksi? Apakah operator kereta api menyediakan kelas dua dan kelas tiga untuk mengakomodasi orang miskian atau justru memanjakan orang kaya? Benarkan supermarket menyediakan produk dengan kemasan jelek harga murah agar pembeli berkantong tipis tetap bisa membeli produk?

Buku Detektif Ekonomi karya Tim Harford menjungkirbalikkan semuanya. Dia membayar trik-trik harga dalam industri TI, supermarket, maupun penyedia jasa transportasi.

***Bidang TI
Kita mengenal software versi mahal --kadang disebut versi profesional atau versi bisnis, atau sebutan lain yang keren-- dan ada versi lebih rendah (massal). Software versi profesional memiliki fitur lengkap dengan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan software versi massal yang dipasarkan dengan banderol harga lebih murah.

Benarkah biaya produksi software versi tinggi itu memang lebih besar daripada biaya produksi peranti lunak versi rendah? Ternyata, menurut Tim Harford dalam buku Detektif Ekonomi, pembuat peranti lunak justru software menghabiskan biaya lebih besar untuk versi murah daripada untuk versi mahal.

Menurut Harford, peranti lunak versi profesional dirancang lebih dahulu. Lalu, dibuatlah versi murah dari modifikasi atas versi profesional dengan menghilangkan fitur-fitur tertentu. Jadi, biaya untuk versi murah adalah biaya versi profesional ditambah biaya pemangkasan fitur.

Hal ini tidak hanya berlaku pada industri peranti lunak. Dalam industri peranti keras hal itu juga bisa terjadi. Suatu ketika, produsen prosesor komputer membuat dua chip komputer dengan desain yang mirip namun dipasarkan dengan harga jauh berbeda.
Chip inferior dibuat dari chip superior yang diberi perlakukan khusus sehingga sebagian fasilitasnya tidak bekerja. Produsen menghabiskan biaya produksi yang lebih besar untuk chip inferior.

Sebuah produsen printer terkemuka juga pernah melakukan hal serupa. Mereka merancang dua model printer yang pada dasarnya adalah sama. Printer yang lebih murah sebenarnya adalah printer mahal yang ditambah dengan chip khusus untuk membuatnya bekerja lebih lambat. Mereka sengaja menjual lebih murah barang yang biaya produksinya lebih tinggi.

Sebenarnya bisa saja produsen software, prosesor, atau printer membuat produk yang seragam, berlaku untuk semua orang dan dipasarkan dengan harga yang sama. Tetapi, ini agak bertentangan dengan prinsip mencari untung sebanyak-banyaknya dengan cara yang sesopan mungkin. Produsen ingin melakukan diversifikasi atau price targeting (atau apa pun istilah bagusnya) disesuaikan dengan daya beli.

Intinya, mereka ingin agar orang yang peka harga membeli sesuai kantong tipisnya, sementara orang yang royal dan bersedia membayar lebih diberi kesempatan untuk membayar banyak. Jika konsumen rela membayar Rp1 juta mengapa diberi harga Rp500.000?
Produsen, papar Harford, memandang orang-orang yang royal ini perlu ‘dilindungi’ agar tidak berpindah memilih barang yang dijual dengan harga murah. Maka dibuatlah perbedaan-perbedaan fitur yang tujuan utamanya membiarkan orang kaya nyaman dengan pembayaran lebihnya.

Bagi produsen, ini kesimpulan yang sangat sinis dan subversif. Akan tetapi, kadangkala, konsumen yang cerdas memang terpaksa harus banyak bercuriga, agar dapat membebaskan diri dari berbagai macam jebakan halus.


***Tiket kereta api
Trik-trik penetapan harga lebih menarik lagi dikaji di sektor jasa, transportasi, obat-obatan, serta toko serba ada. Mengapa fasilitas kereta api kelas dua di Inggris begitu buruk dan kelas tiga begitu menyedihkan? Mengapa ruang tunggu bandara dan stasiun kereta api banyak yang dibiarkan tidak nyaman dan membuat penumpang tidak kerasan?

Menurut Harford, itu terjadi karena para penyelenggara kereta api tidak rela penumpang yang banyak uang, gemar kemewahan, dan biasa duduk di kelas satu pindah ke kelas dua atau kelas tiga yang tarifnya lebih murah.

Jika ruang tunggu biasa dibuat nyaman maka orang kaya tidak lagi tertarik menggunakan ruang tunggu eksekutif. Jika kereta kelas dua dilengkapi fasilitas bagus, penumpang eksekutif akan pindah.

Ini adalah bagian dari upaya memperbesar selisih antara layanan biasa dan layanan terbaik. Hal itu diperlukan agar konsep price-targeting (harga terarah) tercapai.
Pada intinya, price targeting adalah penetapan harga yang berbeda dengan berdasarkan pada asumsi kesediaan membayar yang berbeda dari tiap-tiap kelompok konsumen. Orang yang peka harga diberi tawaran harga ekonomis, sedangkan orang yang bersedia membayar lebih diberi kesempatan untuk membayar lebih mahal.

Penetapan semacam ini bukan tanpa masalah. Mudah membuat orang yang peka harga menjauh dari produk yang diberi banderol harga tinggi. Namun, tidak mudah mencegah orang berduit untuk tidak memilih produk murah. Kalau orang berduit justru memilih produk yang murah, itu disebut terjadi kebocoran dalam price targeting. Sasaran tidak tercapai.

Untuk mencegah kebocoran semacam itu, menjaga agar orang berduit memilih produk yang lebih mahal, disusunlah bermacam strategi anti kebocoran. Salah satu contohnya, menurut buku itu, adalah memperbesar selisih fasilitas dalam kereta api di Inggris seperti paparan di atas.

“Orang miskin menjadi korban, bukan karena niat menyakiti mereka, melainkan untuk menakut-nakuti orang kaya,” begitu salah satu kesimpulan sangat lugas dan tajam pada salah satu bagian buku ini.


***Trik supermarket
Contoh lebih nyata dipaparkan Harford dalam kasus supermarket. Mereka kadangkala membuat produk dengan kemasan jelek. Bukan karena memreka tidak bisa membayar desainer yang bagus. Namun mereka sengaja menggiring konsumen yang memiliki uang lebih agar membeli produk lain dengan harga yang lebih tinggi –kendati isinya sebenarnya sama saja.

Para pengelola supermarket juga menata dagangan sedemikian rupa agar pembeli sulit sekali membanding harga barang yang mirip-mirip. Kadang sengaja dipisahkan jauh atau dicampuraduk dengan produk lain yang sulit diingat.

Cara dan waktu dalam menentukan harga diskon—seperti yang kita amat menjelang Lebaran—dibuat acak sedemikian rupa agar pembeli susah mengenali polanya.

Ada satu trik sangat menarik yang dipaparkan Harford. Dia mengamati orang yang ingin hemat cenderung memilih toko atau supermarket yang lebih kumuh. Padahal, menurut penelitiannya, untuk produk yang sama, harga yang ditetapkan oleh supermarket yang relatif kumuh sama saja dengan harga di supermarket yang megah dan mewah. Bedanya, supermarket yang megah menyajikan lebih banyak pilihan barang yang lebih mahal.

Jadi, kalau hasilnya adalah belanja di supermarket yang mewah menghabiskan lebih banyak uang, itu terjadi bukan karena kesalahan memilih lokasi belanja, melainkan karena kurangnya pengendalian diri dan ketelitian si pembeli. Dia menyarankan pembeli untuk lebih jeli dan teliti, alih-alih memilih lokasi belanja yang murang bagus.


***Tidak sederhana
Banyak konsumen yang begitu lugu memandang bahwa barang yang lebih mahal pasti lebih bagus. Seperti orang Jawa bilang ana rega ana rupa. Arti harfiahnya adalah ada harga ada rupa.

Maksudnya, dari sisi konsumen berharap bahwa harga yang dibayarkan sebanding dengan nilai yang diberikan oleh apa yang dibelinya. Kalau mau barang bagus belilah yang mahal. Kalau tidak mau mengeluarkan banyak uang silakan nikmati barang bermutu rendah.

Dalam dunia yang semakin canggih dan rumit ini, rumus sederhana itu sering tidak berlaku. Yang diperlukan adalah konsumen cerdas yang dapat memilah dan memilih secara teliti sebelum membeli.

Buku karangan mantan editor Financial Times ini semacam buku wajib untuk konsumen. Buku ini memberikan penjelasan gamblang tentang persoalan ekonomi sederhana yang kita hadapi sehari-hari baik sebagai konsumen maupun sebagai warga negara.
Paparan yang bergaya jurnalistik itu mudah dicerna dan dimengerti. Bahasanya tidak rumit, tidak menggurui, tidak menggunakan teori-teori ekonomi yang ruwet. Namun, apa yang disampaikannya sangat mengena dan mampu menyadarkan pembacanya untuk menjadi konsumen yang ‘lebih cerdas’.

Buku Detektif Ekonomi yang dijual dengan harga Rp60.000 ini terdiri atas sepuluh bab. Ada bab yang membahas persoalan sehari-hari sebagai konsumen, misalnya mengenai penetapan harga kopi di stasiun Waterloo, serta rik-trik penetapan harga di supermarket.

Ada juga yang mengupas masalah globalisasi, serta kesenjangan antarnegara, termasuk bagaimana China menjadi kaya. Hampir semua bagiannya sangat menarik. Uraiannya mengenai teori permainan dan lelang frekuensi sangat mengena.

Penjelasan mengenai kerugian yang diderita orang lain ketika kita naik mobil di kota yang macet, serta bagaimana cara menghitung kompensasinya, sangat penting disimak. Paparannya tentang harga mobil bekas dan asuransi yang mengandalkan “kesaling-tidak-tahuan” amat memikat.

Buku dengan judul asli The Undercover Economist ini merupakan bacaan segar yang penting bagi konsumen yang ingin lebih cerdas dan belajar ilmu ekonomi dengan cara sederhana. Sayangnya buku ini dikemas dengan cover yang pas-pasan, tidak seindah isinya. Saya jadi ingat petuah: don’t judge the book from the cover.

Bagaimana kaitan harga frekuensi dengan tarif layanan?


Dalam buku karangan Tim Harford berjudul Detektif Ekonomi (judul asli The Undercover Economist) saya menemukan paparan sangat menarik mengenai lelang frekuensi 3G di Inggris. Pada bab VII berjudul Orang yang Tahu Nilai di Balik yang Tidak Berharga, Harford secara panjang lebar mengulas teori lelang dan teori permainan.

Contoh kasus yang memikat adalah lelang frekuensi 3G di Inggris yang dianggap salah satu lelang paling sukses di dunia modern. Lelang frekuensi 3G di Inggris berlangsung alot dan menghasilkan dana 22 miliar pound sterling bagi pemerintah, sebuah nilai yang sangat besar.

Ada dua pertanyaan utama yang mengiringi lelang yang berlangsung pada tahun 2000 dan menjadi benchmark bagi lelang 3G di seluruh dunia. Pertama, apakah biaya frekuensi yang begitu besar membuat tarif layanan ke konsumen menjadi mahal? Pertanyaan kedua, apakah setoran yang begitu besar tidak akan membuat operator telekomunikasi kelebihan beban atau bahkan bangkrut?

Harford menyimpulkan bahwa biaya lisesni hasil lelang tidak berpengaruh terhadap tarif yang dibebankan konsumen. Menurut dia, hal yang lebih dominan dalam menentukan tarif layanan adalah persaingan dan kuasa kelangkaan (the power of scarcity).

Dengan lima operator yang mendapatkan lisensi 3G (empat di antaranya operator yang sudah mapan), dia berpendapat ada banyak pilihan bagi konsumen. Tidak ada kelangkaan layanan 3G di pasar. Sehingga biaya frekuensi yang dibayarkan kepada pemerintah tidak berpengaruh signifikan terhadap tarif ke konsumen. Secara ekstrem dia membandingkan seandainya pemerintah menggratiskan frekuensi, toh operator tidak akan menggratiskan layanan. Bahkan, kalau pemerintah membayar operator agar mendapatkan frekuensi, operator juga tidak akan membayar kepada konsumen.

Adapun mengenai kebangkrutan, Harford menyatakan sektor telekomunikasi memang menghadapi masalah yang berat sepanjang tahun 2000-2002 karena pasar saham yang sedang terpukul. Namun, dia beralasan sebagian besar perusahaan yang mengalami masalah serius pada masa itu (seperti NTL dan Telewest) bukanlah pemenang lelang 3G. Para pemenang lisensi, misalnya Vodafone, kendati mengalami pukulan, tetaplah perkasa.

Jadi, menurut Harford, lelang dengan hasil mahal itu tidak menimbulkan beban tambahan untuk konsumen dan tidak menyebabkan operator telekomunikasi bangkrut.

***
Soal yang paling hangat dalam kasus lelang frekuensi adalah WiMax. Benarkah hasil lelang yang 10 kali di atas harga penawaran awal akan membuat biaya Internet pita lebar nirkabel itu tidak bisa murah? Atau akankah biaya itu membuat operator (dan calon operator) bangkrut??

Dalam kondisi seperti apa nilai lelang WiMax itu berpengaruh signifikan terhadap tarif Internet ke konsumen? Dalam kondisi apa operator WiMax bisa bangkrut gara-gara biaya lisensi itu?