22 November 2010

Kebranang ing Gegayusan

Dulu, waktu saya masih SD hingga awal kuliah, ada acara tv yang sangat digemari orang desa di seputar Yogya dan Jawa Tengah bagian selatan. Itulah acara kethoprak yang ditayangkan TVRI stasiun Yogyakarta setiap malam Minggu.

Ketika itu di desa saya belum banyak pesawat tv. Di sekitar tempat saya tinggal hanya Pak Lurah yang punya. (Saya menyebutnya Mbah Lurah karena masih termasuk kerabat dengan level mbah. Waktu saya kelas 6 SD, Mbah Lurah membeli tv baru dan tv lama yang hitam putih merek Johnson diakuisi oleh orang tua saya).

Maka di rumah Mbah Lurah itulah setiap malam Minggu berkumpul puluhan warga dari orang dewasa hingga anak-anak lain untuk nonton kethoprak.

Di desa saya waktu itu belum ada listrik. Jadi, tv dihidupkan dengan aki (accu). Beberapa hari sekali harus diisi ulang ke desa lain yang sudah ada listrik PLN.

***

Pada masa akhir kejayaan kethoprak itu, TVRI Yogya pernah menanyangkan kethoprak sayembara. Saya lupa persisnya tahun berapa. Barangkali untuk mengantisipasi munculnya stasiun tv swasta yang siarannya lebih variatif.

TVRI menggandeng penulis cerita ternama untuk bergabung. Termasuk di antaranya SH Mintardja yang dikenal publik Yogya dan Jawa Tengah sebagai penulis cerita Nagasasra & Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, dan Pelangi di Langit Singasari sebagainya. (bisa lihat tulisan-tulisan beliau di adbmcadangan.wordpress.com)

Dua karya SH Mintardja yang digelar untuk kethoprak sayembara itu, yang saya ingat, adalah “Ampak-ampak Kaligawe” serta “Kebranang ing Gegayuhan”. Seingat saya, TVRI dalam menggelar sayembara juga melibatkan majalah berbahasa Jawa “Djaka Lodhang”.

***
Cerita “Kebranang ing Gegayuhan” ini paling menarik. Secara harfiah, kebranang artinya terbakar atau tergoda. Gegayuhan artinya harapan, angan-angan, cita-cita. Pokoknya sesuatu yang ingin digayuh atau dicapai. “Kebranang ing Gegayuhan” kira-kira artinya yang paling pas dengan cerita adalah “terbakar oleh angan-angan”.

Ini cerita tentang seseorang atau sekelompok orang yang karena tergiur dengan jabatan yang tinggi lalu menempuh cara-cara nista. Dia menghalalkan segala cara termasuk mencelakakan orang lain, orang dekat, melakukan pembunuhan, dan sebagainya.

Dalam sayembara, pertanyaannya adalah tentang siapa yang menjadi dalang pembunuhan seorang pejabat di Kadipaten Kateguhan. Sebagai cerita sayembara, banyak kejutan yang ditampilkan.

Entah mengapa inilah satu-satunya cerita yang kethoprak sayembara yang nama tokoh-tokohnya masih saya catat. Saya lupa persisnya bagaimana bisa mencatat nama tokoh-tokoh dalam cerita itu di salah satu buku yang memang saya khususnya untuk mencatat kutipan buku, ceramah orang, serta bacaan-bacaan menarik.

Tokoh-tokoh yang masih tercatat antara lain Rantamsari, Senapati Sanggayuda, Rembono, Sasongko, Wignyono, Wismoyo, Madyasto, Wicitro. Lalu ada Tumenggung Reksadrana, Wiradapa, serta Demang Panjer.

Sebagai kejutan, ternyata dalang kekisruhan itu adalah Rantamsari, istri Adipati Kateguhan. (Nama si wanita mengandung makna yang terkait erat dengan kata gegayuhan). Sebenarnya, saya kira, yang lebih terbakar oleh angan-angan bukanlah Rantamsari melainkan orang-orang suruhannya yang mendapatkan banyak iming-iming untuk melakukan tindakan yang mencelakakan orang lain.

***
Lalu, kalau mengingat cerita berkembang di media massa belakangan ini, tentang orang-orang yang lupa daratan karena angan-angan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya, saya kok jadi ingin mengubah cerita SH Mintardja itu menjadi “Kebranang ing Gegayusan.”


PS: Gambar diambil dari cover salah satu cerita karya SH Mintardja, Panasnya Bunga Mekar.

Mobil adalah kendaraan yang sangat tidak efisien

Untuk mengangkut satu atau dua orang yang bobotnya masing-masing kurang dari 100 kg, diperlukan mobil dengan bobot 1 ton atau 2 ton.

Jadi, bobot kendaraan rata-rata bisa 10 kali lipat dari bobot pengemudi atau pengendaranya. Bahkan, untuk kasus saya, rasio itu bisa meningkat menjadi 20 kali lipat.

Bukankah itu berarti sebagian besar energi dari mobil itu digunakan untuk menggerakkan dirinya sendiri, bukan untuk menggerakkan atau membawa penumpang?

Memang betul, ada mobil-mobil yang sangat efisien. Satu mobil omprengan bisa diisi dengan 9 orang. Satu angkot bisa diisi hingga 14 orang. Satu bus bisa diisi dengan puluhan orang.

Dalam kasus semacam itu rasio antara bobot kendaraan dengan bobot penumpang mungkin sangat rendah, 2:1 atau bahkan mendekati 1:1. Ini sangat efisien.


Akan tetapi, pada kenyataanya, tidaklah terlalu banyak mobil dengan rasio rendah semacam itu. yang banyak terjadi, dan paling banyak terjadi, dan yang membuat kemacetan begitu besar, adalah rasio pembuangan energi yang luar biasa besar.

Ini berarti, peluang perbaikan lingkungan dari satu titik di atas masih sangat terbuka. Jika bobot mobil bisa dikurangi setengahnya, dengan penggunaan material yang ringan tapi kuat, penghematan energi akan besar sekali. Penghematan bahan bakar juga besar.

Mari dukung riset dan pencarian material (bahan) baru yang lebih ringan untuk kendaraan-kendaraan agar mobil bisa menjadi kendaraan yang efisien. (Setyardi Widodo)

Foto: Sebuah mobil di dekat labtek sekian

04 Oktober 2010

Sekar bisa naik sepeda roda 2, alhamdulillah

Pekan pertama bulan Oktober saya kira menjadi salah satu hari penting dalam perkembangan motorik Sekar. Sekar sudah bisa naik sepeda.

Hari Sabtu dia bisa naik 19 gowesan tanpa menyentuhkan kaki di tanah. Dan hari Minggu, saya berani menyebutnya sebagai ‘bisa naik sepeda’. Tandanya, antara lain: sudah bisa menentukan sendiri kapan berhenti (bukan terpaksa berhenti karena mau nabrak), bisa menentukan kapan harus menginjakkan kaki ke tanah (bukan karena sepeda miring sehingga kaki harus menyangga), dan bisa melakukan gerakan manuver memutar di jalan datar selebar 3 meter.

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Ini sekaligus menjadi hadiah bagi dirinya sendiri menjelang ulang tahun ke-6.


***
Sekar sudah biasa membonceng sepeda. Sejak TK dua tahun yang lalu, dia diantar jemput dengan sepeda onthel. Lalu sejak 10 bulan yang lalu, dia diantar jemput ke sekolah dengan sepeda listrik. Jadi, sebagai penumpang sepeda, dia sudah biasa.

Namun minatnya untuk mengendarai sendiri sepeda tidak segera muncul. Sudah lebih dari setahun dia dapat lungsuran sepeda dari kakak sepupunya. Sepeda yang bisa disetel apakah dengan 2 roda atau 4 roda (2 roda kecil sebagai penyangga). Hanya sesekali dia mencoba naik sepeda roda 4 itu. Malah sepeda jadi lebih banyak dipakai teman-teman sepermainan yang lebih besar.

Lalu entah mengapa minatnya naik sepeda muncul pada September, ketika 2 roda penyangga dilepas. Lalu puncak semangat itu tampak membara pada akhir September.

Pagi, siang, sore, ngajak belajar naik sepeda. Bahkan pada akhir pekan terakhir bulan September, subuh-subuh dia sudah minta ditemani belajar naik sepeda.
Awalnya tentu saja tertatih-tatih.

***
Menurut pengamatan saya, ada dua hal yang harus dipunyai pengendara sepeda yaitu daya dorong dan keseimbangan.

Ternyata menggowes sepeda butuh tenaga yang lumayan juga. Setidaknya pada awal masa belajar. Misalnya, Sekar bisa mendorong dengan kaki menginjak tanah, namun ketika mennggowes pedal kurang kuat.

Lalu soal lain adalah keseimbangan. Saya kira melatih keseimbangan dengan meluncur di jalan menurun lebih baik daripada orang dewasa memegangi sepeda dari belakang. Memang ada risiko jatuh. Tetapi, meluncur di turunan, asal tidak terlalu curam, langsung mengajarkan cara menjaga keseimbangan sepeda agar tidak roboh.

Tampak betul bagaimana anak yang belajar naik sepeda mencoba mencari formula yang pas antara daya dorong dan keseimbangan. Sebagai conoth, ketika dia mengerahkan tenaga menggowes, keseimbangan tak terjaga. Ketika harus konsentrasi menjaga kesimbangan, tenaga gowes tidak terurus.

***
Mengamati dia belajar, sebagai orang tua, saya ingin Sekar segera bisa. Kalau sudah bisa, berarti tidak perlu jatuh-jatuh lagi. Tidak mendebarkan lagi.

Bisa naik sepeda berarti di masa mendatang dia lumayan terbebas dari ketergantungan terhadap ojek, angkot, dan pengantar. Dia bisa membawa kendaraan sendiri yang sehat, ramah lingkungan, murah, bisa masuk ke gang, dan sebagainya. Kemungkinan besar dia juga akan bisa naik sepeda motor, insya Allah.

Mengamati semangat anak belajar naik sepeda itu perasaan juga campur aduk. Saya sempat bertanya-tanya darimana semangat belajar yang tak kenal lelah itu berasal? (Beberapa kali jatuh, tetapi alhamdulillah tidak fatal. Cuma nangis sebentar. Sejam kemudian sudah belajar lagi)

Saya sempat mikir apakah ada masalah dengan sepeda yang dia gunakan untuk berlatih? Apakah dia perlu sepeda baru yang lebih ringan, lebih baik, lebih nyaman daripada yang digunakannya untuk latihan? Dan sebagainya.

Belajar naik sepeda saya kira salah satu cara terbaik melatih motoriknya. Sekar ini mungkin mewarisi sifat penakut ayahnya: terlalu banyak pertimbangan sebelum melakukan gerakan yang agak ekstrem. Tetapi selama belajar naik sepeda, ketakutan semacam itu tidak tampak. Juga, nafsu makannya meningkat pesat.

Saya kira ini juga menjadi salah satu prototipe tentang bagaimana mempelajari keterampilan tertentu.

Menemani anak belajar naik sepeda ini juga mengingatkan saya bahwa saya belum pernah mencoba mencari formula bagaimana belajar naik sepeda yang efisien. Sudah agak lupa bagaimana dulu saya belajar naik sepeda (sepeda jengki besar, saat kelas 4 sd, usia 9 tahun atau 10 tahun).

Mungkin anak akan lebih cepat dalam belajar kalau pelatihnya benar-benar mengenali mana yang harus dipelajari terlebih dahulu, bagaimana triknya, variable penentunya, serta hal-hal lainnya.

Bagaimanapun, alhamdulillah, Sekar sudah bisa naik sepeda. Kehidupannya tentu tidak sama lagi dengan masa lalu ketika dia hanya bisa menjadi penumpang sepeda.

"Segala puji bagi Allah. Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya." (ini dikutip dari salah satu doa naik kendaraan)--Setyardi Widodo

Foto: Sekar sedang belajar naik sepeda pada akhir September. Ketika itu belum bisa. Dia masih mendorong sepeda dengan kaki ke tanah, belum gowes. Tempat latihan sempit dan tidak rata, bergelombang.

06 September 2010

Begitu ringankah mengatakan perang?

Banyak orang bicara tentang perang. Saya jadi teringat novel Dua Belas Pasang Mata karya Sakai Tsuboi. Ini cerita tentang seorang guru yang begitu mencintai murid-muridnya yang masih muda. Murid-murid yang terpaksa maju perang untuk sesuatu yang bisa diselesaikan dengan cara lain.

Saya baca novel ini belasan tahun yang lalu di Bandung. Buku terbitan Pantja Simpati itu entah saya pinjam dari perpustakaan atau taman bacaan yang mana. Yang jelas, saya masih mencatat beberapa kutipan dari buku ini yang sangat menentang penyelesaian masalah melalui perang.

Di samping buku ini, ada beberapa novel, terutama yang ditulis di negeri militan, negeri yang represif atau dilanda perang, yang begitu terasa penentangannya terhadap perang. Perang, adalah sesuatu yang mengerikan dengan dampak yang seringkali sulit diperkirakan sebelumnya. Orang-orang yang mengagungkan penyelesaian melalui senjata barangkali kurang imajinatif dalam membayangkan dampak langsung dan dampak ikutan yang sangat besar dari perang.

***
Berikut ini sebagian dari kutipan buku Dua Belas Pasang Mata yang masih saya catat:

Kalau perang terus berlangsung, lalu apa artinya mencintai dan membesarkan anak-anak itu? Mengapa orang dilarang menghormati hidup manusia dan menghindarkan mereka dari serangan peluru dan dihancurleburkan? (halaman 144)

“Tetapi, bagaimana pun, perang sudah berakhir. Bukankah hal itu merupakan hal yang baik,” kata Bu Oishi.
“Meskipun kita kalah?” tanya Daikichi.
“Ya, memang. Tetapi bukankah dengan itu tak akan ada lagi orang yang terbunuh dalam perang?”
“Kita tidak berpegang pada semboyan: lebih baik mati daripada menyerah?”
“Lebih baik kita tidak berpegang pada semboyan itu.” (halaman 146)

“Tetapi, engkau juga tidak akan dapat mengakhiri perang dengan cara menjadi penjual gula-gula, bukan?” (halaman 124)

Tetapi di balik bicaranya yang berubah-ubah itu terdapatlah kecintaan yang luar biasa terhadap hidup manusia. (halaman 125)

“Nasib ibu masih lebih baik daripada saya. Coba lihat saya ini. saya telah mengajar murid-murid itu terus menerus sejak kelas satu. Tetapi sekarang lebih dari separuh di antara anak laki-laki itu ingin menjadi serdadu (dalam perang). Kupikir apa artinya mengajar?” (halaman 124)

“Jagalah dirimu baik-baik. Jangan engkau gugur sebagai pahlawan, tetapi pulanglah dengan selamat.” (halaman 146)


Sebagai seorang anak di tengah bangsa militant, tentu saja ia akan mempertahankan gengsinya. Ia prihatin terhadap kata-kata dan sikap ibunya. (halaman 156)

***
Omong-omong, saya punya sedikit pertanyaan nih, mumpung Ramadhan. Barangkali ada yang berkenan menjawab. Orang yang berpuasa kan dilarang berkelahi. Ada haditsnya. Tetapi, benarkah boleh berperang karena dalam sejarah ada beberapa perang yang dilakukan pada bulan mulia itu.

Wallahu a’lam. Terima kasih.

Ajisaka Falasiva

Alhamdulillah, telah lahir anak kedua kami, laki-laki, pada Kamis, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431 H), pukul 05.00. Panjang 48 cm, bobot 3,3 kg. Lahir melalui operasi caesar di Bandung. Kami berencana memberinya nama Ajisaka Falasiva.

Ajisaka diambil dari nama dalam legenda penciptaan huruf Jawa. Cerita lebih lengkap mengenai Ajisaka bisa disimak melalui http://inspirana.blogspot.com/2010/05/ajisaka-dan-cikal-bakal-budaya-tulis.html

Beberapa hal yang kami pikir perlu digarisbawahi tentang tokoh tersebut antara lain:

*Ajisaka adalah seorang inventor-innovator, pencipta huruf Jawa. Huruf, kita tahu, adalah sarana andal untuk transfer pengetahuan, transfer informasi, sarana pengajaran dan pendidikan. Huruf adalah komponen sangat penting bagi kemajuan perikehidupan manusia.

*Ajisaka adalah manusia bertindak, bukan semata-mata pemikir dan inventor. Buktinya, dia tidak berdiam diri menghadapi kesewenang-wenangan Raja Dewata Cengkar. Dia mengalahkan Dewata Cengkar, sang pemangsa manusia, melalui cara yang sangat berani sekaligus cerdik.

*Ajisaka adalah seorang yang menjadi raja bukan karena keturunan. Menurut legenda, dia merantau ke Pulau Jawa dari Negeri Majethi. Dia menjadi raja setelah perjuangan mengalahkan Dewata Cengkar.

Adapun Falasiva diambil dari bahasa Arab, artinya para filosof. Filosof adalah orang yang biasa berpikir mendalam, berusaha mencari makna di balik fenomena. Dipilih kata falasiva, bukan filosof, failasuf, atau falasifah, supaya lebih estetis dalam penulisan dan pengucapan. Bukankah selain memikirkan hakikat, mempertimbangkan estetika juga tetap penting?

Di sisi lain, suku kata fa, la, dan si merupakan penyusun nada. Nada, bila kombinasinya tepat, adalah alat bagi terbentuknya keindahan yang bersifat universal. (Pokoke agak othak-athik gathuk lah, hehehe)

Nama panggilannya saka yang dalam bahasa Jawa berarti tiang. Saka juga sering disebut sebagai sistem kalender (Jawa). Ndilalah anak ini kok lahirnya persis usia 40 pekan menurut kalender kehamilan yang sederhana itu. Nama panggilannya tidak jauh-jauh amat dari nama kakaknya, Sekar.

Mohon berkenan mendoakan agar anak yang lahir pada bulan Ramadhan ini memenuhi harapan seperti tersirat dalam namanya, mampu menjadi qurrota a’yun bagi kedua orangtuanya, serta menjadi kebanggaan keluarga dan bangsanya. Semoga Ajisaka Falasiva menjadi manusia yang sehat, kuat, baik, saleh, cerdas, pintar, rupawan, berani, beruntung, dan bahagia.

Terima kasih banyak. (Setyardi Widodo & Erma Yulihastin)

27 Agustus 2010

Dupa & bambu gila di Natsepa*

Tujuh pria bertelanjang dada memeluk sebatang bambu dengan panjang sekitar 3 meter. Semuanya mengenakan celana merah. Di depan mereka, seorang pria berbaju hitam membaca mantera sambil terus meniupkan dupa.


Di bagian luar arena, ada lima orang yang menabuh alat musik perkusi. Empat orang memukul semacam kendang atau beduk kecil dengan tongkat pendek. Satu orang lainnya memukul semacam bende atau bonang.

Di tengah kegaduhan musik itu bambu pun mulai bergerak dengan sendirinya. Tak ada tenaga penggerak yang tampak oleh mata telanjang.

Makin lama gerakan makin cepat dan liar. Gerakannya seolah tanpa pola. Kadang ke kanan, kadang ke kiri, ke depan, ke belakang, berputar-putar. Kadang seperti mau menabrak ke arah penonton, saat lain ke arah tiang yang ada di sisi tempat pertunjukan.

Tujuh pria perkasa itu tampak kuwalahan, sedang pria baju hitam terus sibuk membaca mantera dan meniupkan dupa ke sekujur badan bambu. Seorang pria lain yang berbaju merah ikut menjaga agar gerakan bambu tidak membahayakan, tidak menabrak ke arah penonton.

Bambu terus bergerak ke sana-ke mari. Setelah setengah jam, pertunjukan usai. Bambu bergerak ke pinggir lapangan. Lalu tujuh pria itu tengkurap berjajar sambil tetap memeluk bambu. Bambu diangkat. Satu per satu pria itu dibangunkan, seperti dipijat. Kemudian mereka pun istirahat.


Begitulah sekilas pertunjukan bambu gila atau crazy bamboo. Pertunjukan khas Maluku itu ditampilkan di hotel Aston Natsepa, Maluku, dalam gala dinner Simposium Indonesia-Australia dalam rangka Sail Banda. Bagi orang Jawa, pertunjukan magis ini mungkin mengingatkan mekanisme yang mirip dengan kuda lumping maupun boneka jailangkung. Benda-benda mampu bergerak dengan sendirinya.

Bambu gila hanyalah salah satu pertunjukan menarik yang bisa dinikmati para pelancong di Maluku. Dalam kesempatan simposium itu sempat ditampilkan pula tarian sahureka reka.

Bila bambu gila dimainkan seluruhnya oleh pria, maka tarian ini dimainkan seluruhnya oleh perempuan. Empat perempuan muda berbaris masing-masing membawa bambu sepanjang 3 meter. Empat perempuan lainnya berada pada sisi yang lain. Lalu mereka mulai berbaur dan menari.

Ada gerakan-gerakan berbahaya yang membutuhkan kecekatan, keteraturan, serta disiplin keempat pemain. Empat penari yang membawa bambu berjongkok dan membuat semacam salib dengan masing-masing dua batang bambu. Keempat bambu digerakkan saling berbenturan. Empat perempuan lain menari-nari di sela-sela bambu itu.


Jika lengah dan tidak sesuai irama, kaki mereka pasti akan terjepit di antara bambu-bambu yang dibenturkan dan menimbulkan suara keras itu. Gerakan semakin berbahaya ketika bambu diangkat. Gerakan seperti tadi diulang, hanya saja kini posisinya setinggi leher. Jadi, jika penari lengah, maka yang berpeluang untuk terjepit bambu-bambu berwarna coklat itu bukan lagi kaki, melainkan leher.

Di luar bambu gila dan sahureka-reka, di sela-sela acara Sail Banda yang puncak acaranya digelar awal Agustus lalu, saya berkesempatan menyaksikan tarian lain menggambarkan cara nelayan menangkap ikan. Ada empat penabuh bedug kecil serta lima penari bercaping. Semuanya pria. Gerakan mereka begitu gagah, dinamis, serta energik....

*) Artikel selengkapnya dimuat di Bisnis Indonesia Minggu yang beredar hari ini. Tulisan lain soal Ambon ada juga "Makan patita dan ribuan resep kerukunan" yang beredar beberapa pekan lalu.

17 Agustus 2010

Apakah saya masih menyukai cerpen?

Ada periode ketika saya sangat suka cerpen. Puncaknya mungkin sekitar 10—13 tahun yang lampau. Saya lupa persisnya. Yang jelas pada masa puncak kesukaan itu, saya sampai mengkliping dan menyimpan hard copy cerpen-cerpen yang menurut saya baik.

Kesukaan pada cerpen itu, agaknya, pada awalnya, agak dekat dengan kecintaan pada novel. Tentu saja kesukaan pada cerpen lebih dahulu, karena mbacanya pendek, ringan, cepat selesai (sekali pukul, dalam waktu beberapa menit saja).


Tetapi cerpen dalam pengertian yang dimuat surat kabar, ternyata berbeda dengan cerpen yang dimuat dalam buku-buku kumpulan cerpen (terjemahan). Cerpen dalam surat kabar lokal dibatasi oleh space yang umumnya tidak lebih dari tiga per empat halaman koran. Kira-kira panjangnya kurang dari 15.000 karakter. Kalau dicetak ulang dalam bentuk buku dengan kapasitas 1.500 karakter per halaman, paling-paling menghabiskan 10 halaman per cerita.

Adapun cerpen terjemahan seringkali sangat panjang. Bisa sampai puluhan halaman buku. Setidaknya itu yang saya temui pada kumpulan cerpen (dari beberapa negeri) seperti yang sering diterbitkan Yayasan Obor. Juga kumpulan cerpen dari tokoh sastrawan besar dunia (yang sering diterbitkan pula oleh Obor).

***
Saya coba mengingat-ingat, apakah yang membuat saya (pernah begitu) suka cerpen.

Ada cerpen yang dimuat Kompas tahun 1993 yang membuat saya begitu terkesan. Ada cerpen-cerpen tertentu yang saya rasa sangat mewakili apa yang bergejolak pada jiwa muda saya. Ada cerpen lain lagi yang saya rasa mewakili impian-impian masa depan saya tentang keluarga dan tentang kehidupan.

Cerita-cerita itu umum penuh dengan semangat kesederhanaan, kerendahhatian, kedermawanan, perjuangan tak kenal lelah, serta sifat-sifat mulia lainnya.

Nama-nama seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Ahmad Tohari, Agus Noor, Danarto, Gus tf Sakai pun terasa begitu akrab. Merekalah pesohor dunia cerpen di surat kabar Ibukota.

Lalu, mengapa sekarang saya tidak lagi begitu menyukai cerpen? Saya kira saya tidak bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi menyukai cerpen. Saya masih suka cerpen, tetapi tidak seintens beberapa tahun yang lalu. Saya tidak lagi rutin membaca cerpen yang dimuat koran edisi akhir pekan.

Mungkin saya merasa tidak banyak lagi cerpen yang mewakili impian dan gejolak di hati saya (ataukah impian dan gejolak itu masih ada? Sudah padam? Embuhlah adanya). Apakah saya tidak lagi menyukai kesederhanaan, kerendahhatian, serta kebaikan-kebaikan yang diajarkan lewat cerpen-cerpen itu? (lagi-lagi, embuhlah adanya)

Yang jelas saya sering merasa cerpen-cerpen fiktif itu ceritanya mbulet, terasa muter-muter, dan absurd. Begitu fiktif dan abstraknya sampai-sampai sulit dicerna. Saya masih menyukai cerpen yang sederhana, yang lucu, yang dekat dengan kenyataan.

***
Baru-baru ini saya mendapat hadiah buku kumpulan cerpen dari Pak Kusmayanto Kadiman. Ini satu dari beberapa buku yang beliau kirimkan lewat pos. (Terima kasih pak KK). Judulnya Cerpen Kompas Pilihan 2009: Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian. Pak KK menjadi salah satu juri yang memilih 15 cerpen terbaik itu. Ada penjelasan Pak Kus tentang repotnya orang teknik menjadi juri yang harus memilih karya sastra.

Saya mendapat buku ini dua hari sebelum berangkat ke Ambon. Dan karena saya masih punya buku lain yang perlu dibaca, buku ini baru saya baca pekan lalu, di rumah sakit, pada hari pertama Sekar menginap di sana.

Ada beberapa cerpen yang sudah saya baca sewaktu cerpen itu terbit di korannya. Dan saya (kebetulan) memang suka dengan cerpen itu. Namun sebagian besarnya belum saya baca. (Apalagi pada Ahad pagi saya lebih sering membaca Tribun Jabar di Bandung daripada Kompas cetak, hehehehe.)

Salah satu cerita yang sangat memikat dalam buku ini adalah Menanti Kematian. Ini cerita yang memilukan, mengharukan, sekaligus kocak. Suatu cerita yang terasa begitu dekat. Utang, kemiskinan, mencari pekerjaan yang layak, mendapat pekerjaan namun banyak tantangan tak terduga, perusahaan minyak, kematian, campur menjadi satu. Jujur Prananto merangkai dengan indah, dengan pas. Saya sudah membacanya pada edisi koran, dan kemarin membaca ulang. Tetap menikmati.

Begitu pula dengan cerpen Kaki yang Terhormat karya Gus tf Sakai. Ini juga sudah saya baca dan sukai sejak edisi koran. Sayangnya latar belakangnya Minang, ada Mak Etek, Atuak, dan beberapa istilah yang kurang familiar bagi saya. Tetapi saya tetap bisa menikmatinya, bahkan merasa cerita ini lebih menarik daripada Blarak yang berlatar belakang Jawa dan mistis karya Yanusa Nugroho. Blarak baru saya baca pada kumpulan cerpen ini.

Pada intinya, saya merasa masih bisa menyukai dan menikmati cerpen, meskipun tidak seperti dulu. Mudah-mudahan ini berarti saya masih punya hati, tidak hanya robot, hehehe (menyitir judul tulisan Pak Kus di halaman belakang: Cerpen, membuat robot punya hati)

06 Agustus 2010

Soal economic hit man (bagian 2)

“Economic hit men (EHM) adalah para professional berpenghasilan sangat tinggi yang menipu negara-negara di seluruh dunia triliunan dollar AS. Mereka menyalurkan uang dari Bank Dunia, USAID, dan organisasi ‘bantuan’ luar negeri lainnya menjadi dana-dana korporasi raksasa dan pendapatan beberapa keluarga kaya yang mengendalikan sumber daya alam planet bumi ini.

Sarana mereka meliputi laporan keuangan yang menyesatkan, pemilihan yang curang, penyuapan, pemerasan, seks dan pembunuhan. Mereka menjalankan permainan yang sama tuanya dengan kekuasaan, sebuah permainan yang telah menentukan dimensi baru dan mengerikan selama era globalisasi. Aku tahu itu. Aku adalah seorang (EHM).”

***
Begitulah John Perkins memulai paparannya dalam buku Confessions of an Economic Hit Man. Ini buku yang menghebohkan karena dengan terus terang berusaha membuka kedok badan-badan ekonomi dunia seperti World Bank, sekaligus menelanjangi kecurangan para penguasa politik dan ekonomi AS ketika berhadapan dengan negara-negara lain khususnya dunia ketiga.

Tulisan saya ini hanyalah kelanjutan dari review saya sebelumnya atas buku ini. Review sebelumnya bisa ditengok melalui http://inspirana.blogspot.com/2010/08/buku-tentang-perusak-ekonomi-dunia.html

Kalimat pembuka buku Perkins itu langsung menohok dan menjelaskan posisi yang ingin dipaparkan. Ini semacam pengakuan dari ‘seorang penjahat yang telah bertobat’.

Seperti saya tulis sebelumnya, buku ini agak bergaya Hollywood. Salah satunya, adalah adanya cerita yang memaparkan kapan persisnya dia ditahbiskan menjadi seorang EHM. Kapan dia menyeberang dari seorang ‘baik-baik’ menjadi seorang penjahat yang keji dalam bidang ekonomi, menjadi seorang ‘penjahat statistik’.

Selain paparannya yang cukup detil namun melelahkan untuk dibaca tentang aktivitasnya di banyak negara, bagian akhir buku ini, menurut saya sangat memikat. Dia mengajukan sejumlah langkah yang barangkali bisa kita ambil untuk mengurangi efek merusak dari EHM. Langkah-langkah yang sifatnya pribadi. Tetapi saya meragukan bagaimana bisa efektif langkah personal menghadapi suatu konspirasi global yang begitu kuat yang dipaparkan pada rausan lembar tulisan sebelumnya.

***
Perkins banyak menyorot perusahaan minyak sebagai pelaku kejahatan yang sangat serius baik di Ekuador, Arab Saudi, Irak, maupun belahan dunia lain. Maka salah satu rekomendasinya adalah: kurangi konsumsi minyak Anda. Dia menyatakan konsumsi minyak di AS justru meningkat 50% setelah invasi ke Irak. Mengurangi konsumsi minyak adalah imbauan yang masuk akal.

Imbauan lainnya adalah kurangi belanja. Gantikan dengan kegiatan membaca buku, berolahraga dan bermeditasi. (Bagian ini saya juga sangat amat setuju sekali). Kalau terpaksa belanja, cobalah untuk ‘terlibat secara pribadi’.

Kurangi ukuran rumah Anda, dan kurangi pula ukuran lemari, pakaian, mobil, kantor, serta kebanyakan benda lainnya dalam kehidupan Anda. Proteslah perjanjian perdagangan bebas dan perusahaan yang mengeksploitasi masyarakat di negara lain agar membanting tulang untuk mencari sesuap nasi.

Dia juga mengajak para pembacanya untuk menyebarkan pandangannya baik melalui diskusi, berbicara, menulis e-mail, menulis artikel. Dia meminta orang-orang untuk menyampaikan keprihatinan tentang aksi EHM melalui telepon, melalui dewan sekolah, komisi pemerintah setempat, peraturan dan sebagainya.

Rekomendasi dan saran-saran lain dari Perkins kayaknya lebih nyaman kalau baca sendiri, hehehehe. (Setyardi Widodo)

Amerika dalang konspirasi ekonomi dunia?

Semula saya ragu untuk membeli buku Confessions of an Economic Hit Man ketika pertama kali melihatnya di toko buku pada pekan lalu. Di sebelahnya ada buku-buku yang bagus pula dan lebih baru, misalnya buku berjudul Lobby Israel yang sangat tebal.

Saya baca-baca sekilas tulisan di cover belakang serta bagian awal buku karya John Perkins ini. Rasanya saya sudah terlalu banyak membaca buku yang menjelek-jelekkan Amerika dan kawan-kawannya. Sudah belasan tahun membacai buku semacam itu. Lalu apalagi yang bisa diharapkan dari buku yang juga tidak terlalu baru ini?

Tetapi saya tidak bisa menahan godaan untuk tetap membeli buku yang sangat terkenal ini. Covernya bagus. Ukuran kertasnya juga menarik. Buku ini menjadi perbincangan di mana-mana, bagaimana mungkin saya melewatkan diri untuk membacanya?

Akhirnya, beberapa hari sebelum berangkat ke Ambon, saya membeli buku setebal 278 halaman dengan harga Rp75.000 ini. Saya baca pelan-pelan dan baru saya selesaikan di Ambon, di sela-sela acara, saat menunggu ini dan itu.

***
Buku ini bercerita tentang pengalaman penulis, John Perkins, selama bekerja sebagai konsultan internasional. Dia bekerja sebagai seorang ekonom yang bertugas membuat prediksi dan tinjauan tentang perekonomian suatu negara. Prediksi dan tinjaunya itu haruslah masuk akal untuk memuluskan hadirnya proyek-proyek dari perusahaan multinasional milik AS.

Misalnya, mendorong elektrifikasi, eksploitasi minyak, pembuatan bendungan, serta proyek infrastruktur lainnya. Nasihat-nasihatnya itu pulalah yang membuat banyak negara terjerumus dalam utang jangka panjang yang sangat besar, yang membuat suatu negara tidak berkutik lagi menghadapi negara-negara donor, khususnya menghadapi AS.

Dia menguraikan bagaimana hal itu dilakukan, bagaimana para penguasa –baik yang lunak maupun yang keras terhadap AS—ditundukkan melalui cara halus, agak kasar, sampai cara kasar seperti pembunuhan politik serta invasi militer. Perkins bercerita tentang peran AS di Panama, Ekuador, Arab Saudi, Indonesia, Irak dan Kolumbia. Juga bercerita tentang peran Nixon, Reagen, Bush senior terhadap perusahaan multinasional dan nasib negara-negara itu.

Dia menempatkan perusahaan-perusahaan minyak pada posisi yang sangat buruk. Misalnya ketika bercerita tentang Ekuador. “Untuk minyak mentah senilai US$100 yang dimabil dari hutan Ekuador, perusahaan minyak menerima US$75. Dari US$25 sisanya, tiga per empat untuk membayar utang luar negeri. Sebagian besar untuk yang tersisa berikutnya untuk biaya militer dan biaya pemerintah lainnya. Hanya tersedia kurang dari US$3 yang diperuntukkan bagi orang-orang yang paling memerlukan, yakni mereka yang terdampak paling buruk dari hadirnya bendungan, pengeboran, dan perpipaan.”

***

Sebagai orang Indonesia, kendati uarian pada pengantar dan cover belakang buku ini kurang menarik, bab-bab awal justru menjadi bagian paling memikat. Ini cerita tentang perjalanan Perkins ke Indonesia pada awal dekade 1970-an dengan peran sebagai konsultan elektrifikasi.

Indonesia, khususnya Bandung, saya pikir mendapat tempat yang cukup terhormat dalam buku tulisan Perkins ini (setidaknya dalam versi Bahasa Indonesia yang saya baca). Dia punya kesan khusus tentang perjalanannya ke Indonesia, khususnya ke Bandung. Sayang, saya tidak banyak tahu tentang sejarah Indonesia era 1970-an jadi tidak bisa mengukur seberapa akurat paparan Perkins tentang Indonesia ketika itu.

Bagian-bagian lain saya kira biasa saja, khas sebuah paparan teori konspirasi. Bedanya, ini penerapan teori konspirasi dari sisi salam pelaku konspirasi itu sendiri.

Soal peran Bank Dunia juga disorot. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana ya kira-kira reaksi Mbak Sri yang jadi petinggi World Bank itu kala membaca buku Perkins ini?

***
Buku ini bergaya memoar, bukan diary. Mungkin karena itu jadi ada beberapa hal yang terasa janggal. Paparan dalam buku terasa terlalu bijak. Dalam beberapa hal agak menghakimi dan terlalu arif.

Perjalanan karier tanpak terlalu mudah. Konflik tidak menonjol. Mungkin karena gaya memoar, jadi banyak konflik dan suasana jiwa yang kurang tergambar dengan baik. Tentu berbeda dengan catatan harian yang ditulis pada saat konflik dan pergulatan jiwa sedang terjadi.

Secara umum saya dapat menerima ide dasar paparan dasar buku ini. Namun, seperti komentar teman baru saya, buku ini terlalu bergaya Hollywood.

Ada beberapa hal menarik yang ingin saya kutip dari epilog buku Confessions of An Economic Hit Man ini, namun agaknya tulisan sudah terlalu panjang. Mungkin saya tulis pada posting lanjutan saja. (Setyardi Widodo)

01 Agustus 2010

Menginjakkan kaki di Ambon

Ini adalah malam ketiga saya menginap di Ambon. Bagian dari pengalaman pertama saya berkunjung ke kota ini. Ini kota yang baru beberapa tahun lalu tercabik oleh kerusuhan mengerikan. Ini juga kota yang berabad sebelumnya terkemuka di antara para penjajah pencari rempah-rempah.

Ambon, ibukota Maluku, berada bukan di pulau terbesar. Pulau terbesar di kawasan ini adalah Seram, di sebelah utara Ambon. Dari bandara, posisi pusat kota Ambon sebenarnya dekat kalau ditempuh lurus lewat laut. Namun karena posisi pantai yang mengelilingi Teluk Ambon seperti huruf U, maka jalan darat menjadi jauh.

Jalan raya ini ukurannya cukup lebar. Mobil bisa bersimpangan dan ngebut dengan mudah. Konon jalan ini baru saja diperlebar untuk menyambut acara Sail Banda. Saya dengar dari sorang pejabat bahwa ada miliaran rupiah proyek PU yang dialokasikan untuk Maluku terkait dengan penggelaran Sail Banda.

Perlu waktu lebih dari 40 menit perjalanan tanpa macet dari Bandara hingga kota Ambon. Sepanjang jalan rasanya saya jarang sekali menemukan mobil sedan. Mobil yang dibuat sebelum tahun 2000-an juga jarang. Paling-paling kijang kotak model lama. Esoknya baru saya lihat ada sedan Timor. Mobil yang dominan di sini adalah Innova dan Avanza. Sebagian besar mobil buatan setelah tahun 2000. Populasi sedan agaknya memang tidak banyak.

Saya belum banyak melihat-lihat sudut kota Ambon ini. Sisa-sisa kerusuhan hebat beberapa tahun lalu katanya sebagian besar sudah hilang. Yang masih tersisa justru bekas keributan Piala Dunia yang baru lalu. Bulan lalu itu. Saya masih bisa melihat bekas rumah yang dibakar oleh pendukung salah satu tim.

Pemandu kami yang setia mengantar kami ke berbagai penjuru dengan Kijang Innovanya, bercerita tentang serunya dukung-mendukung selama perhelatan besar sepakbola tersebut. Dalam Piala Dunia itu, banyak warga yang membela tim Belanda, tetapi banyak juga yang memihak lawan-lawan Belanda.

Beberapa bagian kota ini tampak ramai dan bahkan macet. Namun muncul juga kesan semrawut. Banyak becak dan ojek di Ambon ini.

Di belakang hotel tempat saya menginap ada masjid. Tiap menjelang maghrib masjid itu menyetel kaset murattal yang tampaknya akrab dengan yang bisa kita dengan di Jawa. Saya lupa itu suara qori siapa (mungkin Ustadz Al-Matrud atau Al-Ghamidi? Yang jelas bukan As-Sudais/Suraim maupun Mahmud Khalil Al-Khusori)

Saya sempat ikut sholat Jumat di sini. Di sebuah sekolah di pinggir laut. Ah, saya lupa tidak mencatat nama sekolah itu beserta lokasi persisnya. Padahal baru saja Menteri Kelautan dan Perikanan, Pak Fadel Muhamad yang alumni Teknik Fisika ITB itu, meresmikan acara tanam bakau di sekolah itu. (saya baca di koran lokal, nama tempatnya Tanjung Martha Alfons, Teluk Ambon)

Khatib mengingatkan tentang hati yang mengeras karena banyak dosa. Tentang kaum yang dihancurkan karena terang-terangan melakukan dosa. Sebelum sholat kami sempat makan siang di atas keramba. Posisinya sekitar 50 meter dari pantai, harus naik perahu yang ditarik dengan tambang untuk datang dan meninggalkan keramba itu. Jumatan ini dimulai sudah mendekati jam satu siang waktu Maluku (saat itu di Jakarta baru jam 11 siang)

Masih beberapa malam lagi saya insya Allah menginap di sini. Sampai puncak acara Sail Banda yang (rencananya) akan dihadiri Presiden SBY ini berakhir. Saya belum menemukan barang yang konon khas Maluku, yaitu minyak kayu putih.

Meskipun judulnya liputan Sail Banda, kayaknya saya tidak akan berkesempatan mengunjungi Pulau Banda Neira yang dikenal sebagai tempat pembuangan Bung Hatta dan Sjahrir. Konon butuh waktu 7 jam dengan kapal untuk sampai ke sana. Pulang pergi berarti sehari penuh.

Maluku ini dekat tetapi jauh. dekat karena satu negeri. Hanya berjarak dua jam dari Jakarta (Maksudnya berselisih waktu dua jam. Kalau di Jakarta jam 8 maka di Maluku sudah jam 10). Maluku terasa jauh karena untuk terbang ke sana membutuhkan waktu yang sama atau bahkan lebih lama daripada ke Hong Kong. Saya berangkat naik Sriwijaya Air, transit dulu di Makassar. Perlu waktu lebih dari lima jam perjalanan.

Cerita lebih detil dan berbau berita tentang perjalanan ke Maluku tentu saja akan saya buat untuk koran tempat saya bekerja, yaitu Bisnis Indonesia. Sayangnya, Internet di sini terasa sulit. Wi-Fi kurang lancar. Sinyal handphone juga sering SOS. Kadang ada tulisan EDGE tetapi untuk mengakses Internet sulit.

Semoga warga Maluku ini semakin makmur dan sejahtera. Jauh dari bencana dan malapetaka.

*) Karena ada masalah dengan Internet, ada jeda waktu lumayan antara tulisan ini saya buat dan saya upload.

25 Juli 2010

Legenda Candra Kirana dan Sekar Taji


Jika Oidipus adalah kisah tentang orang yang berupaya menghindari "takdir" buruk dan gagal, maka kisah Candra Kirana versi Ajib Rosidi adalah kisah tentang orang yang berupaya menghindari "takdir" baik (yang disangkanya buruk) dan jatuh dalam nasib buruk. Dalam pengetahuan yang penuh keterbatasan, mungkin manusia memang perlu mempertahankan prasangka baik dan kerelaan berkorban menghadapi "takdir" yang belum diketahui baik buruknya.

******
Sambil menunggu anak pulang dari sekolah pada Jumat lalu saya sempat mampir ke toko buku. Mata saya tertumbuk pada buku berjudul Candra Kirana, sebuah saduran atas cerita panji, karya Ajib Rosidi. Sebenarnya saya sudah pernah melihat dan membuka-buka buku ini sekian tahun lalu di perpustakaan (mungkin perpus ITB, mungkin perpus Salman), namun ketika itu saya tidak tertarik membacanya. Alasannya berbau SARA, Candra Kirana ini kan cerita Panji dari Jawa Timur, kok yang nulis Ajib Rosidi yang sastrawan Sunda?

Namun kini suasana berbeda. Saya tertarik membeli buku ini karena sekitar sepekan yang lalu, Kang Ery Djunaedy sempat memforward sebuah pertanyaan mengenai cerita Sekar Taji (yang dalam cerita rakyat adalah nama lain dari Candra Kirana) dan saya merasa tidak bisa menjawab dengan baik.

Alasan lain, kami sempat mempertimbangkan kata "kirana", yang diambil dari cerita Candra Kirana alias Sekar Taji, untuk calon nama anak kedua kami yang ketika itu belum jelas jenis kelaminnya. Secara harfiah "kirana" berarti cantik, jelita, atau bercahaya. Dua anak perempuan, satunya pakai nama Sekar (Taji), lalu adiknya (Candra) Kirana, alangkah pasnya jika demikian.

Maka begitulah, buku Candra Kirana karya Ajib Rosidi setebal 246 halaman seharga Rp39.000 (sebelum diskon) ini saya beli. Saya baca sambil nunggu Sekar pulang sekolah pada jam tiga sore.


***
Tokoh utama dari cerita versi Ajib Rosidi adalah Panji Kuda Waneng Pati, putra mahkota kerajaan Jenggala. Tokoh wanita yang banyak diceritakan adalah Sekar Taji, putri raja Kediri, serta Anggraeni, istri pertama Panji Kuda Waneng Pati.

Jenggala dan Kediri adalah pecahan dari kerajaan Kahuripan. Kahuripan dipecah menjadi dua oleh Airlangga karena dia memiliki dua anak lelaki yang sama-sama punya hasrat kuat terhadap kekuasaan. Negara dibagi dua menurut rumus yang dibuat oleh Mpu Baradha. Satu bagian disebut Jenggala atau Daha, satunya lagi disebut Kediri. Cerita Panji berlatar belakang dua negara ini.

Ayah Kuda Waneng Pati dan ayah Sekar Taji sepakat untuk menikahkan keduanya guna menyatukan kembali negeri yang dibelah oleh kakek mereka. Kesepakatan itu dibuat sejak Kuda Waneng Pati dan Sekar Taji masih kecil.

Kuda Waneng Pati (artinya kuda yang berani menghadapi mati) tumbuh menjadi anak yang suka mengembara. Berguru dari satu padepokan ke padepokan lain, meniru kakeknya, Airlangga. Ndilalah, dalam salah satu padepokan, dia bertemu dengan Dewi Anggraeni. Dan terpikatlah dia pada gadis gunung itu.

"Adakah yang lebih indah dalam hidup ini daripada mereguk keindahan alami sepanjang hayat dikandung badan? Adakah yang lebih bahagia daripada duduk berdampingan dengan bunga jelita itu menyusuri sisa usia," begitulah Ajib Rosidi membuka halaman pertama buku dengan judul bab Dewi Anggraeni.

Kuda Waneng Pati menikahi Anggraeni dengan diam-diam, tanpa restu orangtuanya yang telah menjalin kesepakatan dengan raja Kediri. Raja Jenggala marah dengan tindakan Kuda Waneng Pati. Raja Kediri pun marah terhadap Raja Jenggala karena dianggap inkar janji.

Lalu mulai muncullah prasangka dan gugatan Kuda Waneng Pati terhadap "takdir"-nya. Mengapa dia mesti menjadi putra mahkota? Mengapa dia mesti berkorban untuk menyatukan dua negara? Mengapa dia yang harus disalahkan bila dua negara berselisih dan perang karena merasa ada yang ingkar janji? Bukankah itu kesalahan Airlangga yang dulu membagi negara?Bukankah dirinya punya hak untuk bahagia dengan jalan hidupnya sendiri? Bukankah dia berhak untuk memilih Anggraeni daripada Sekar Taji?

Sebenarnya Raja Jenggala dan Kediri pun sepakat untuk membiarkan Kuda Waneng Pati menikah dengan Anggraeni asalkan dia tetap menikah dengan Sekar Taji dan menjadikannya permaisuri. Namun, Kuda Waneng Pati yang sudah punya prasangka dan gugatan itu tetap menolak. Dia ingin mempertahankan hanya Anggraeni semata, sebagai satu-satunya.

Lalu bermainlah kekuasaan. Raja Jenggala mengatur siasat untuk membunuh Anggraeni. Kuda Waneng Pati lalu menjadi gila. Dalam keadaan hilang ingatan, hanya ditemani seorang pengiring setia, dia naik ke perahu. Dan perahu itu dilanda badai. Kuda Waneng Pati lenyap dari Jenggala, tetapi jenasahnya tidak pernah ditemukan. Datanglah masa-masa suram.

Raja Jenggala merasa kehilangan semangat hidup, lalu meninggalkan kekuasaan, pergi menyepi. Penggantinya yang tidak pernah menemukan jasad Kuda Waneng Pati tetap berpegang pada perjanjian.

Kemudian timbullah masalah di Kediri. Dan,seperti dalam cerita wayang, muncullah seorang ksatria hebat nan sakti yang menuntaskan segala perkara. Dia tak lain adalah Kuda Waneng Pati yang kini bergelar Jayeng Sari. Jayeng Sari berhasil menuntaskan masalah yang melanda Kediri dan menyelesaikan sengketa Kediri dengan Jenggala.

Kuda Waneng Pati yang sudah sembuh dari gila dinikahkan dengan Sekar Taji yang ternyata sangat mirip dengan Anggraeni. Sekar Taji dan Anggraeni sama-sama disebut sebagai Candra Kirana.

Kuda Waneng Pati berpikir, andai dulu tidak menolak, maka dia bisa mendapatkan rembulan di kanan dan matahari di kiri (serakah ya?? hehehe), dan tak perlulah hiruk-pikuk segala kerepotan yang melelahkan dan memakan banyak korban itu.

***
Cerita Candra Kirana versi Ajib Rosidi ini berbeda dengan cerita yang sering saya temui sebelumnya dalam cerita bertutur baik melalui kethoprak, sandiwara radio, majalah-majalah bahasa Jawa, maupun buku legenda cerita rakyat yang beredar.

Dalam cerita bertutur, tokoh pria dalam cerita ini bernama Panji Inu Kertapati dan populer disebut sebagai Panji Asmarabangun. Adapun tokoh wanitanya bernama Sekar Taji yang diberi julukan Candra Kirana karena konon kecantikannya seperti rembulan. Tidak ada Anggraeni, apalagi disebut sebagai istri tokoh utama pria.

Cerita Sekar Taji saling kait dengan cerita tentang Keong Emas serta cerita Ande-Ande Lumut. Semuanya tentang penyamaran dan kesetiaan dua tokoh itu. Lurus tidak ada gangguan internal seperti dalam cerita versi Ajib Rosidi. Konon nama Panji Inu Kertapati ini dikenal hingga Thailand dan Vietnam.

Cerita bertutur memang umumnya sederhana, serba lurus, dan mudah dicerna oleh anak-anak. Adapun cerita versi Ajip Rosidi ini lebih kompleks, mengandung banyak dialog tentang kekuasaan dan kehidupan, serta ditujukan untuk pembaca dewasa (atau minimal remaja).

Jika Oidipus yang saya review pekan lalu adalah kisah tentang orang yang berupaya menghindari "takdir" buruk dan gagal, maka kisah Candra Kirana versi Ajib Rosidi adalah kisah tentang orang yang berupaya menghindari "takdir" baik yang disangkanya buruk, lalu jatuh dalam nasib buruk (meski ujung akhirnya happy alias tidak buruk-buruk amat, saya menangkap ini sekadar untuk membuktikan bahwa persangkaan awal si tokoh adalah keliru dan terlalu terburu-buru).

Dalam pengetahuan yang penuh keterbatasan, manusia memang seringkali harus mempertahankan prasangka baik dan kerelaan berkorban dalam menghadapi "takdir" yang belum diketahui baik buruknya.

Wallahu alam. (Setyardi Widodo)

20 Juli 2010

“Takdir” dan nasib malang Oidipus


Ahad lalu, sewaktu mencari perlengkapan sekolah untuk Sekar yang akan masuk SD, saya menemukan buku menarik: Oidipus Sang Raja karya Sopokles, yang diterjemahkan oleh Rendra. Ini buku terbitan Pustaka Jaya yang sejak lama dikenal sebagai penerbit buku-buku sastra kelas dunia. Banyak buku lama yang diterbitkan kembali oleh Pustaka Jaya. Buku Oidipus ini salah satunya. Buku ini pernah diterbitkan pada 1976 lalu dicetak ulang pada tahun 2009.

Satu tahun belakangan ini saya tertarik dengan mitos-mitos Yunani, jadi buku Oidipus ini langsung menggoda mata. Apalagi diterjemahkan oleh Rendra. Dan sayup-sayup saya seperti ingat ada istilah oidipus complex (atau oedipus complex) kendati saya tidak tahu persis apa artinya. Maka saya belilah buku seharga Rp35.000 itu.

***

Oidipus atau Oedipus adalah sosok yang malang. Sewaktu lahir, dia dibuang oleh orangtuanya. Alasannya, ayahnya yang Raja Thebes itu mendengar ramalan (nujuman atau tujuman) yang menyatakan bahwa dirinya akan dibunuh oleh anaknya dan istrinya akan dikawini oleh anaknya itu.

Oidipus yang masih bayi diberikan kepada penggembala ternak dalam keadaan kaki terpaku (atau terikat dengan ikatan yang dipaku). Namun si gembala ternyata tidak membunuh sang bayi. Dia justru membuka paku yang mengikat sang bayi dan memberikan bayi itu kepada gembala lain di perbatasan negara. Asumsinya, toh bayi ini sudah dibawa begitu jauh dari Thebes, tak mungkin dia akan kembali ke Thebes untuk memenuhi ramalan yang dikhawatirkan itu.

Ternyata gembala dari negeri lain memberikan bayi itu kepada rajanya yang mandul, Raja Corintha. Oidipus, yang konon artinya berkaki cacat—sebagai dampak paku ketika dia dibuang-- dipelihara sebagai anaknya. Dia dianggap sebagai anak dan menganggap diri sebagai anak kandung Raja Corintha.

Sampai suatu ketika dia diejek sebagai bukan anak Raja. Dia marah sekali, lalu mengadu ke Dewa. Dia justru mendapat ramalan alias nujuman alias tujuman yang menggetarkan: Oidipus akan membunuh ayah kandungnya dan menikahi ibu kandungnya, serta akan memiliki anak yang mengerikan.

Oidipus pun ketakutan dengan sabda Dewa itu. Dia melarikan diri dari Corintha untuk menghindari “takdir” buruknya: membunuh ayah dan menikahi ibu kandungnya. Dia menganggap ayahnya adalah Raja Corintha sehingga dia pergi sejauh-jauhnya dari sana. Dan, sialnya, dia justru pergi ke Thebes, tempat ayah dan ibu kandungnya berada tanpa dia ketahui.

Dalam perjalanan dia berjumpa dengan seorang tua dengan lima pengiring yang tak lain adalah Laius, Raja Thebes. Oidipus tidak tahu bahwa orang yang ditemuinya adalah Raja Thebes. Mereka berselisih dan Oidipus membunuh sang raja beserta pengiringnya. Hanya satu pengiringnya yang lolos yaitu si gembala yang kebetulan adalah gembala yang menyelamatkan bayi Oidipus sekian tahun sebelumnya.

Ketika itu Thebes sedang ditimpa masalah terkait dengan Sphink. Oidipus datang dan mengalahkan Sphink. Dia berhasil membebaskan Thebes dari ancaman Sphink. Beberapa waktu sebelumnya negeri itu kehilangan rajanya karena terbunuh di jalan oleh entah siapa, maka Oidipus sang pahlawan pun dinobatkan sebagai Raja Thebes menggantikan Laius. Dia lalu menikahi Jocasta, istri Laius, yang sebenarnya adalah ibunya sendiri.

Gembala yang selamat, ketika kembali ke istana, menemukan bahwa Oidipus sudah menjadi raja. Jadi dia melaporkan bahwa Laius dibunuh oleh sekawanan perampok, lalu dia minta diri untuk hidup menyepi jauh dari pusat kota, menjauh dari Ibukota Thebes.

Maka demikianlah. Laius yang diramal akan dibunuh oleh anaknya sudah berupaya sedemikian rupa mengindarkan diri, namun gagal. Jocasta, istri Laius yang membuang Oidipus, juga telah melakukan upaya semaksimal mungkin, namun tidak berhasil. Adapun Oidipus, yang juga menghindarkan diri dari ramalan itu, ternyata malah mengalami nasib yang jauh lebih tragis daripada dua orangtuanya.

***
Kisah dalam buku Oidipus Sang Raja ini dimulai ketika Oidipus sudah menjadi raja. Dia sudah menikah dengan Jocasta, namun tidak banyak tahu tentang raja sebelumnya, Lauis. Thebes terserang bencana. Oidipus mengutus kerabatnya untuk mencari sabda Dewa di Delphi.

Lalu datanglah petunjuk agar Thebes mengusut siapa pembunuh raja terdahulu, Laius. Karena tidak sadar akan siapa dirinya, Oidipus dengan lantang mengumumkan hukuman sangat berat bagi siapa yang terbukti membunuh raja terdahulu. Dia bersumpah untuk menegakkan hukum itu.

Lalu dimulailah pengusutan. Pertama-tama didatangkan pendeta buta yang ternama. Dia dianggap tahu siapa yang membunuh raja terdahulu. Namun pendeta buta itu bungkam. Katanya, kalau rahasia itu dibuka, kehancuranlah yang terjadi, bencanalah yang akan menimpa Oidipus.

Namun Oidipus justru menganggap pendeta buta itu berkomplot untuk menjatuhkan dirinya. Oleh sang pendeta dia dikutuk untuk menjadi buta seperti dirinya. Oidipus juga menuduh adik iparnya berkomplot. Dialog antara Oidipus dengan adik iparnya, Creon, soal pembagian dan minat terhadap kekuasaan sungguhlah menarik.

Kemudian satu per satu fakta terkuak. Dimulai ketika Jocasta bercerita tentang lokasi kematian Laius yangternyata cocok dengan lokasi Oidipus membunuh seorang tua dan beberapa pengiringnya.

Datanglah utusan dari Corintha yang mengabarkan kematian Raja Corintha dan menjelaskan bahwa Oidipus bukanlah anak raja Corintha. Utusan itulah yang menerima sang bayi Oidipus dari gembala di perbatasan dua negeri.

Terakhir, dipanggillah sang gembala yang juga bekas budak istana Laius. Dialah yang membuka semua rahasia mengenai siapa Oidipus, bagaimana dia dibuang, dipaku, diselamatkan, lalu diberikan kepada orang Corintha.

***
Maka terbukalah fakta-fakta yang sangat menyakitkan. Oidipus yang melarikan diri dari Corintha untuk menghidar dari "takdir” membunuh ayahnya, ternyata justru datang ke Thebes dan menjadi pembunuh Laius.

Dia juga menghindar dari Corintha agar tidak menikahi ibunya, ternyata akhirnya juga menikah dengan Jocasta dan menghasilkan anak-anak yang sekaligus adalah adik-adiknya.

Jocasta yang sangat malu akhirnya bunuh diri. Oidipus yang merasa sangat terhina, sial, celaka, tak dikehendaki kehadirannya di dunia, meminta adik iparnya, yang pernah dia tuduh berkomplot menjatuhkannya, agar membuangnya ke tempat di mana dia dulu hendak dibuang dan dibunuh oleh orang tuanya.

Oidipus merasa tidak sanggup melihat dunia, jadi menusuk kedua matanya hingga buta. Buta seperti pendeta yang dihinanya. Namun dia tak lupa menitipkan anak-anaknya kepada Creon. Oidipus sendiri tidak sanggup menatap anak-anaknya karena anak itu lahir dari rahim ibu kandungnya.

Mengapa tidak bunuh diri saja? Oidipus merasa kalau mati dia akan bertemu dengan arwah ayah ibunya di alam lain. Dia tidak sanggup. Jadi dia memilih hukuman yang lebih berat dari mati. Buta, diasingkan, tanpa ada orang yang berbicara padanya. Bahkan dia pun ingin membuat telinganya tuli, kalau bisa.

Begitulah nasib tragis Oidipus. Orang yang berusaha menghindari "takdir" buruk namun tidak kuasa. Nasib buruknya sudah ditentukan, dan tak bisa dihindari. Duhai alangkah malang kehidupannya.

***
Membaca soal takdir buruk yang diketahui sebelum terjadi itu mengingatkan saya akan kisah Khidr. Khidr, dalam perjalanan yang diikuti Musa, membunuh anak kecil yang, berdasarkan pengetahuan yang diberikan Allah kepada Khidr, diketahui akan menyesatkan orang tuanya kelak bila dia dibiarkan hidup.

Bukankah itu seperti menghindari “takdir” dan ternyata berhasil?

Hal lain yang menarik dari Oidipus adalah istilah oedipus complex yang ternyata digunakan oleh Sigmund Freud untuk menyebut orang yang terobsesi akan ibunya. Kalau merujuk pada kisah karya Sopokles yang diterjemahkan Rendra ini, pemaknaan oedipus compex semacam itu kok jadi kurang pas. Yang seperti itu mungkin lebih tepat disebut sangkuriang complex.

Menarik sekali membaca terjemahan Rendra. Naskah drama itu tetap puitis.
Misalnya, begini kata Oidipus dalam gundahnya:
Aku setuju. Demikianlah hendaknya.
Namun begitu, panggillah si gembala
Buatlah cepat dan jangan tertunda
Sekarang, marilah masuk istana


Dan beginilah jawaban Jocasta
Baiklah, tak akan tertunda
Sekarang marilah masuk istana
Saya akan berbuat segalanya
Asal bisa menghibur Paduka


Dalam buku ini, kita bisa menemukan banyak kata yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya Delphi, Oracle, Apollo, Oedipus (complex).

Wallahu alam. (Setyardi Widodo)

*) Lama sekali rasanya saya tidak menulis khusus untuk blog. Nyaris dua bulan vakum. Kalau boleh beralasan, penyebabnya adalah kesehatan yang menurun dan beban pekerjaan yang meningkat. Saya sempat didera batuk, flu, masuk angin, serta sakit mata. Otomatis kegiatan membaca buku nyaris terhenti, kegiatan menulis juga terganggu. (Memang paling gampang cari pembenaran, hehehe)

06 Juli 2010

Meramal masa depan


Tidak banyak yang tahu bahwa Nokia, perusahaan yang produk ponselnya ada di seluruh penjuru dunia, semula adalah perusahaan pembuat sepatu boot karet.

Perusahaan Finlandia itu didirikan sejak 1865, atau 145 tahun yang lalu. Nokia pernah melakukan investasi besar-besaran dalam bidang industri kertas dan bubur kertas. Pada dekade 1920-an, perusahaan itu meluaskan bisnis ke bidang kabel dan karet, lalu pada dekade 1950-an mulai merambah ke sektor elektronika.

Pada 1970-an, perusahaan itu mulai membuat telepon seluler. Namun langkah paling drastis baru diambil oleh Jorma Ollila yang menjabat sebagai CEO pada dekade 1980-an.
Saat itu Ollila dihadapkan pada masalah rumit karena sebagian besar pelanggannya, yaitu Uni Soviet, terancam bangkrut. Maka Ollila mengambil langkah perubahan drastis dengan memfokuskan bisnis pada sektor telekomunikasi seluler. Nokia melepaskan semua bisnis yang lain dan menggantungkan diri pada bisnis handset seluler yang berbasiskan mikroprosesor.

Langkah besar Ollila ini terbukti berhasil membuat Nokia menjadi pemain terbesar dalam bisnis handset seluler dunia hingga saat ini. Cerita mengenai Nokia oleh Eric Garland dijadikan sebagai salah satu pembuka dalam buku Future Inc.

Garland mengontraskan keberhasilan Nokia ini dengan langkah Eastman Kodak yang dianggapnya tidak berhasil menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia fotografi digital. Padahal pada masa sebelumnya Kodak sangat berkuasa dalam dunia fotografi berbasis film.

Hal yang kontras antara Nokia dan Kodak, menurut Garland, menggambarkan bagaimana masa depan dapat menmpengaruhi bisnis. Ada kehadiran pesaing baru, substitusi produk, dan sebagainya yang mengadang di depan.

Meramal masa depan adalah harapan manusia sejak dahulu kala. Manusia umumnya merasa lebih beruntung bila bisa tahu, atau paling tidak memperkirakan, apa yang akan terjadi di masa depan. Dengan pemahaman yang lebih lengkap mengenai masa depan, orang maupun organisasi berharap bisa melakukan tindakan antisipasi.

Kemampuan meramal masa depan lebih penting lagi bagi para pengambil keputusan. Tentu saja bukan ramalan masa depan seperti yang dilakukan oleh Nostradamus yang terkenal itu. Future Inc menegaskan bahwa meramal masa depan secara spesifik dan detail adalah mustahil. Akan tetapi, Garland mencoba memberi panduan bagaimana memahami tren yang mungkin mengubah hidup dan bisnis.

Dia juga mencoba menjelaskan bagaimana mengevaluasi ramalan-ramalan terbaik dari para ahli, lalu menyatukannya dalam skenario baru tentang masa depan.

Buku karya Garland ini disertai dengan contoh konkret yang memudahkan pembacanya untuk mengerti bagaimana menjadi seorang futuris. Misalnya, dia mengajak pembaca untuk meramal masa depan cokelat melalui analisis STEEP (society, technology, economics, ecology, and politics).

Dalam bidang society atau masyarakat, masa depan cokelat di AS perlu dikaitkan dengan wabah diabetes yang kian menjadi perhatian serta maraknya gejala obesitas pada anak-anak. Dalam hal teknologi perlu dilihat hadirnya cara pengemasan yang lebih canggih dan modern.

Garland memberikan contoh bahwa obesitas pada anak-anak telah mencapai proporsi yang dahsyat di AS sehingga ada kemungkinan masyarakat menyalahkan para pemasar permen cokelat dan memposisikan mereka seperti perusahaan tembakau.

Pada bagian pertama buku ini mengajarkan bagaimana pola pikir futuris, misalnya melalui analisis STEPP. Bagian kedua buku ini menjelaskan perkembangan terbaru yang berpotensi mempengaruhi masa depan. Sebagai contoh, Garland banyak memaparkan mengenai perkembangan bioteknologi, teknologi nano, teknologi informasi, serta pemeliharaan kesehatan.

Versi bahasa Indonesia buku ini cukup enak dibaca kendati ada beberapa istilah teknis yang kadang terasa membingungkan. (Setyardi Widodo)

*) Bisnis Indonesia, 4 Juli 2010

16 Juni 2010

Belajar dari Sang Penakluk


Genghis Khan adalah salah satu penakluk terbesar dunia. Kekuasaan yang dihimpunnya membentang dari Samudra Pasifik hingga Laut Kaspia. Ini setara dengan empat kali lipat pencapaian Iskandar Agung, serta dua kali lipat wilayah kekaisaran Romawi. Anak dan cucu Genghis Khan berhasil melebarkan kekuasaannya hingga menjangkau daratan yang lebih jauh.

Genghis, kadang ditulis sebagai Jenghis atau Chingis, sewaktu muda diberi nama Temujin. Ayah Genghis, seorang pemimpin klan bernama Yusigei, terkesan dengan panglima pasukan musuh bernama Temujin. Maka anaknya yang kelak menjadi pendiri kekaisaran besar itu diberi nama Temujin.

Yusigei tewas ketika Genghis masih sangat muda. Keluarganya disingkirkan oleh rival-rival ayahnya yang sebenarnya berasal dari klan yang sama. Karena ditinggal ayahnya dan disingkirkan oleh pemuka klan, ibunya yang bernama Hoelin mengambil peran besar dalam kehidupan Ghengis.

Ghenghis mengenang ibunya dengan penghormatan yang tinggi. Ibunya terus berperan besar dalam kehidupan Genghis bahkan ketika dia telah menjadi seorang khan. Peran ibunya menonjol terutama dalam konflik-konflik keluarga.

Ketika masih remaja, Genghis bertengkar dengan saudara tirinya. Karena lepas kendali, dia membunuh saudara tirinya, Begter. Ibunya marah besar dalam kejadian ini. Nasihat ibunya dalam kejadian ini terus dikenangnya. Genghis muda belajar banyak dari kasus ini.

Dalam keadaan tersisih dan disingkirkan, Genghis berupaya menghimpun kembali kejayaan ayahnya yang pernah menjadi pemimpin klan. Langkahnya jelas tidak mudah.

John Man berusaha mengidentifikasi kelebihan yang dimiliki Genghis sehingga bisa meraih pencapaian yang luar biasa.

Dia berupaya merumuskan konteks apa yang membentuk Genghis Khan, dan apa yang ingin diubahnya, apa yang ingin dicapainya, perangkat apa yang digunakannya, kharisma dan hakikat daya tariknya, karakter dan sumber kepribadiannya, apa yang berhasil diraihnya, bagaimana moralitasnya, serta bagaimana menilai kelebihannya.

Buku ini memberikan perhatian besar terhadap masa muda, masa pembentukan Genghis. Dia adalah anak tertua dalam keluarga yang ditinggal oleh seorang ayah. Hal ini membentuk karakternya sebagai orang yang harus memikul tanggung jawab besar dalam keluarga.

Menyadari potensi dan posisinya, Genghis berupaya menjalin kembali aliansi dengan para bekas sahabat ayahnya dari klan lain. Salah satunya yang sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan dan nilai tawar Genghis adalah Toghril.

Suatu ketika Genghis muda mengalami masalah karena istrinya, Borte, diculik oleh klan Merkit. Dia meminta bantuan Toghril untuk merebut kembali istrinya melalui operasi militer. Operasi itu sukses, namun berjalan lama. Yang lebih repot, hal itu menyisakan masalah terkait siapakah ayah dari anak tertua Borte yang diberi nama Jochi. Adik-adik Jochi sering menghinanya sebagai anak jadah atau anak Merkit.

Ini sempat menimbulkan konflik keluarga. Di sanalah terlihat peran Borte, Hoelin, dan Jochi begitu menonjol. John Man menggarisbawahi bagaimana langkah Genghis dalam mengatasi konflik keluarga.

Buku ini memberikan uraian menarik mengenai nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Genghis seperti kesetiaan. Lawan dan kawannya tahu persis sikap Genghis dalam menghargai kesetiaan ini. Hal ini terlihat dari cara dia menghukum mati Jamukha, salah seorang sahabatnya di kala muda.

Menyadari keterbatasan kemampuan timnya dalam mengelola negara yang besar dan luas, Genghis pun mempekerjakan ahli-ahli dari China serta kawasan barat yang ditaklukkannya. John Man menyebutnya sebagai kemampuan untuk ‘mempekerjakan yang terbaik’.

John Man menutup buku ini dengan menguaraikan 18 kompetensi pribadi dan kompetisi sosial yang ada dalam diri Genghis Khan. (Setyardi Widodo)

*) Bisnis Indonesia edisi Minggu, 13 Juni 2010

30 Mei 2010

Kemiripan Genghis Khan dengan Ken Arok


Cerita tentang Genghis Khan ternyata memiliki banyak sekali kemiripan dengan cerita tentang Ken Arok. Mereka hidup pada abad yang sama, meraih puncak kejayaan pada dekade yang sama, sama-sama merasa mendapat mandat dari langit, sama-sama mendirikan kerajaan besar, pernah hampir mati dikejar-kejar pasukan musuh waktu masih muda, istri/calon istrinya pernah diculik, dan punya anak pertama yang "bukan anaknya".

Genghis (atau Jenghis atau Chingis) adalah pendiri kekaisaran Mongol. Dialah salah satu penakluk terbesar dunia. Kekuasaannya membentang dari Samudra Pasifik hingga Laut Kaspia, empat kali lebih luas daripada pencapaian Iskandar Agung dan dua kali lipat luas kekaisaran Romawi.

Genghis Khan berhasil menaklukkan Khorazim (atau Khurasan) pada 1220-1221 Masehi. Di negeri muslim itu pasukan Genghis membantai jutaan orang. Seorang sejarawan Persia mencatat 50.000 orang anggota pasukan Mongol itu masing-masing membunuh rata-rata 24 orang di wilayah itu.

Sementara itu, Ken Arok adalah pendiri kerajaan Singasari, kerajaan terbesar di Indonesia pada akhir abad XIII. Dia mencapai puncak kejayaan ketika pada 1222 Masehi berhasil mengalahkan Raja Kertajaya Dhandhang Gendhis dari Kediri dalam perang di daerah Ganter.

Jadi, puncak pencapaian Genghis Khan dan Ken Arok dalam hal menaklukkan wilayah yang sebelumnya dikuasai orang lain praktis hampir bersamaan.

Genghis dan Ken Arok sama-sama pernah hampir mati dikejar-kejar pasukan musuh. Pada tahun 1181, Genghis Khan yang masih berusia 20-an tahun itu sudah sempat tertangkap dan dikurung oleh klan Taychiut. Namun Genghis yang waktu kecil diberi nama Temujin itu berhasil melarikan diri.

Dalam pengejaran dia nyaris tertangkap kembali. Namun beberapa kali dia selamat dari 'lubang jarum'. Salah satu yang paling dikenangnya adalah peristiwa pengejaran di bukit Burkhan Khaldun. Setelah berjaya sebagai penakluk dunia, bukit itu dikeramatkannya.

Sementara itu, Ken Arok muda yang masih merupakan penjahat, berhadapan dengan pasukan Tumapel-Kediri. Dalam keadaan kepepet, menurut cerita rakyat, Ken Arok berhasil menyelamatkan diri dengan cara terbang dari pohon siwalan menyeberangi sungai hanya dengan menggunakan pelepah daun tal/talas.

Berhasil selamat dari ancaman maut, serta keberuntungan dan kemenangan yang berturut-turut mereka alami, membuat keduanya merasa seperti mendapat mandat dari langit atau dewa.

Terkait dengan mandat dari langit, Genghis Khan digambarkan memiliki "api di matanya dan cahaya di wajahnya". Dalam berbagai kesempatan penaklukan, Genghis juga menegaskan bahwa dirinya utusan langit. Kalau bukan utusan langit, bagaimana mungkin dirinya memperoleh pencapaian begitu luar biasa. Begitulah argumen yang sering dikatakan Genghis kepada raja dan penguasa yang berhasil ditaklukkan.

Adapun Ken Arok sering digambarkan sebagai anak Dewa Brahma (kebetulan asal usul keluarganya tidak jelas. Ibunya jelas, namun ayahnya tidak jelas). Cerita-cerita silat bahkan menggambarkan ketika marah dahi Ken Arok memancarkan sinar merah tanda dirinya dinaungi oleh Dewa Brahma.

Mengenai istri yang diculik dan 'anak orang lain' juga ada kesamaan. Genghis Khan menikah dengan Borte. Ketika itu posisi Genghis Khan belumlah kuat. Borte, istri pertama Genghis Khan, diculik oleh klan Merkit. Ini sebenarnya adalah tindakan balasan karena ayah Genghis, Yusigei, menculik ibu Genghis, Hoelun, dari suku Merkit.

Setelah melalui operasi militer besar-besaran, dengan mengajak klan lain, Borte bisa direbut kembali. Namun operasi militer ini memakan waktu lama, dan menyisakan masalah, terutama menyangkut siapa ayah dari anak pertama Borte, Jochi. Adik-adik Jochi sering menghinanya sebagai 'keturunan Merkit' atau 'anak jadah'. Meski begitu, Genghis Khan tetap memperlakukan Jochi seperti anaknya sendiri. Kelak Jochi tewas dalam salah satu pertempuran, justru ketika Genghis Khan masih hidup.

Adapun istri pertama Ken Arok adalah Ken Dedes. Sebelum menjadi istri Ken Arok, Ken Dedes adalah istri Tunggul Ametung, akuwu di Tumapel. Ketika hendak menikahi Ken Dedes, Tunggul Ametung menculik gadis itu dari rumah ayahnya di Panawijen. Tunggul Ametung konon dikutuk untuk mati ditusuk keris. Kelak Ken Aroklah yang membunuh Tunggul Ametung dengan keris sekaligus merebut tahta Tumapel dan memperistri Ken Dedes.

Ketika diperistri Ken Arok, Ken Dedes sudah mengandung anak Tunggul Ametung. Bayinya diberi nama Anusapati. Dialah yang nantinya membunuh Ken Arok dan menggantikan posisinya sebagai raja Singasari.

Beberapa dekade setelah Genghis dan Arok, cicit Ken Dedes dari Anusapati bernama Kertanegara bermusuhan dengan cucu Borte bernama Kubilai Khan. Kubilai Khan mengirimkan utusan untuk menaklukkan Jawa namun utusan itu justru disakiti dan dihina oleh Kertanegara.

Cicit Ken Dedes lainnya (lewat Mahisa Wongateleng, adik Anusapati) yakni Wijaya, justru memanfaatkan kedatangan tentara Mongol untuk mengalahkan lawannya dan mendirikan kerajaan Majapahit. Wijaya yang berhasil mengusir pasukan Mongol adalah keturunan dari Ken Arok dan Ken Dedes.

Kekaisaran Mongol yang dirintis Genghis Khan mulai runtuh dan kocar-kacir sepeninggal cucunya, Kubilai Khan. Hanya diperlukan empat kaisar untuk duduk di sana (Genghis, Ogedei anak Genghis, Monkhe cucu Genghis, dan Kubilai cucu Genghis sekaligus adik Monkhe) untuk berdiri lalu tercerai berai.

Kerajaan Singasari juga hanya melalui lima raja dalam empat generasi (Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, Ranggawuni, serta Kertanegara) untuk runtuh.

Ah, alangkah banyaknya kemiripan di antara mereka itu.(Setyardi Widodo)

Gambar: salah satu cover buku cerita silat Pelangi di Langit Singasari karya SH Mintardja yang menggambarkan dahi Ken Arok memancarkan warna merah. Diambil dari pelangisingosari.worpress.com

Pilih ikan (relatif) besar atau (relatif) kecil?


Pilih mana, menjadi ikan besar di kolam kecil atau menjadi ikan kecil di kolam besar? Begitulah pertanyaan yang sering dilontarkan orang ketika berusaha berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain.

Ada yang memilih menjadi pekerja dengan pangkat rendah di perusahaan besar daripada pekerja dengan pangkat tinggi di perusahaan kecil. Begitu pula sebaliknya.

Bagi pakar jaringan sosial, hal semacam ini menggarisbawahi pentingnya posisi relatif seseorang terhadap orang lain dalam menentukan pilihan. Buku Connected karya A. Christakis dan James Flower banyak menyinggung persoalan semacam ini.

Dalam sebuah percobaan ditemukan bahwa lebih banyak orang yang memilih penghasilan US$33.000 ketika orang lain di perusahaan itu juga berpenghasilan US$33.000, daripada memilih berpenghasilan US$35.000 ketika orang lain di perusahaan yang sama mendapatkan US$38.000.

Lebih banyak orang ingin jadi ikan besar di kolam kecil daripada ikan kecil di kolam besar. Walaupun penghasilan absolut mereka lebih kecil daripada perusahaan kedua, mereka mengira akan lebih bahagia berada di sana.

Dalam hal yang terkait kecantikan bahkan kondisinya lebih ekstrem. Pada sebuah survei orang diminta memilih antara: pertama, kecantikan fisik bernilai 6 ketika orang lain bernilai 4, serta pilihan kedua adalah kecantikan fisik bernilai 8 ketika orang lain bernilai 10.

Sebanyak 75% orang lebih suka berada dalam posisi pertama daripada posisi kedia. Ketika percobaan dilakukan terhadap mahasiswa Harvard, porsi responden yang memilih opsi pertama bahkan mencapai 93%.

***Derajat pengaruh
Buku Connected membahas banyak hal yang terkait dengan peran dan pengaruh orang lain terhadap orang-orang di dalam jaringannya. Penulis buku ini merumuskan teori tentang enam derajat keterpisahan dan tiga derajat pengaruh.

Enam derajat keterpisahan merupakan teori lama yang digagas oleh Stanley Milgram untuk menjelaskan bahwa semua orang saling terhubung dengan jarak rata-rata enam derajat (teman Anda terpisah satu derajat dari Anda, temannya teman Anda dua derajat, dan seterusnya).

Adapun tiga derajat pengaruh menjelaskan bahwa temannya temannya teman Anda punya pengaruh terhadap diri Anda. Pengaruh makin melemah dan dianggap tidak signifikan setelah jarak tiga derajat keterpisahan.

Dengan sangat menarik, penulis buku Connected menjelaskan bagaimana temannya temannya teman Anda bisa lebih berpengaruh terhadap kebahagiaan Anda daripada uang US$5.000 di kantong Anda. Tentu saja ini didasarkan riset terhadap persentase yang mempengaruhi berbagai aspek kebahagiaan.

Buku ini juga memaparkan bagaimana posisi orang yang berada di tengah suatu jaringan pertemanan ketika terjadi epidemi penyakit, misalnya yang menyangkut penyakit menular seksual.

Christakis dan Flower mampu menjelaskan dengan baik bahwa orang-orang yang sama-sama memiliki tiga penghubung dalam jaringan romantis bisa memiliki tingkat risiko tertular yang berbeda.

Mereka berdua juga mampu mengaitkan fenomena jejaring ini dengan fenomena politik, ekonomi, serta perkembangan terbaru di dunia Internet.

Beberapa rumus utama yang dikemukakan dalam buku ini meliputi: Pertama, kita membentuk jaringan kita sendiri. Kita memutuskan siapa yang berhubungan dengan kita, kita mempengaruhi seberapa akrab dengan teman dalam jaringan, serta menentukan seberapas entral posisi kita dalam jaringan.

Aturan kedua, jejaring kita membentuk kita. Orang yang tidak punya teman akan punya kehidupan yang amat berbeda dengan orang yang punya banyak teman.

Aturan ketiga, teman mempengaruhi kita. Bentuk jaringan dan apa yang mengalir melintasi sambungan-sambungan itu sangat menentukan karena manusia punya kecenderungan untuk saling mempengaruhi dan meniru.

Aturan keempat, temannya teman mempengaruhi kita. Ternyata orang tidak hanya meniru teman melainkan juga meniru temannya temannya teman mereka.

Buku ini memamparkan banyak hal baru yang bisa kita petik dari fenomena jaringan sosial yang kini menemukan bentuk baru seiring pemanfaatan Internet dan jaringan sosial dunia maya. Internet membawa apa yang disebut sebagai hyperconnected alis maha-terhubung.

*) Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi Minggu, 30 Mei 2010, halaman resensi dengan judul: Terhubung secara bijak

25 Mei 2010

Anggito dan tragedi Abimanyu


Abimanyu adalah tokoh dengan nasib tragis dalam cerita wayang Baratayudha. Dia mati dengan sangat mengenaskan. Tubuhnya penuh dengan luka.

Orang Jawa menyebutnya luka arang kranjang. Arang artinya jarang, kranjang adalah keranjang, wadah yang sisi-sisinya rapat. Ini kata majemuk yang mengandung paradoks khas Jawa. Artinya, luka yang diderita oleh Abimanyu adalah sangat banyak, begitu rapat seperti sisi-sisi keranjang.

Dia mati ketika terjebak dalam pusaran pasukan Hastina. Dia dikeroyok sehingga penuh luka. Pranoedjoe Poespaningrat dalam Nonton wayang dari berbagai pakeliran, menggambarkan Abimanyu yang luka parah itu tewas setelah Jayadrata menginjakkan kaki gajah tunggangannya sambil memukulkan senjata ke Abimanyu.

Abimanyu adalah anak Arjuna, penengah Pandawa. Kendati bukan anak tertua dalam generasi kedua Pandawa, Abimanyu dianggap sebagai putra mahkota, calon raja ketika Pandawa telah berhasil mengambilalih Hastina dari tangan Kurawa. Kematiannya tentu saja meninggalkan duka mendalam bagi kelompok Pandawa.

Abimanyu punya dua istri. Istri pertama adalah Siti Sendari. Ketika akan menikahi istri kedua, yakni Utari, Abimanyu ditanya apakah sudah punya istri. Dia mengatakan belum punya istri, bahkan mengucapkan kata-kata bahwa dirinya siap mengalami luka yang menyedihkan dalam Baratayudha bila dia sudah menikah sebelum mengawini Utari.

Sebagaimana cerita mitologi Yunani, cerita wayang juga dipenuhi dengan kata bertuah, semacam kutukan.

Maka demikianlah, pernyataannya yang mungkin main-main terhadap Utari ternyata manjur, menjadi kenyataan. Abimanyu tewas dengan luka parah di sekujur tubuhnya ketika perang Baratayudha menginjak hari ke-13. Karena Abimanyu tewas maka kelak tahta Hastina sepeninggal Pandawa diberikan kepada Parikesit, anak Abimanyu dari Utari. Dalam wayang, Abimanyu adalah kisah tentang putra mahkota yang batal naik tahta, tetapi tidak kehilangan hak sebagai raja.

Di luar cerita tentang kematiannya dalam Baratayudha, cerita tentang Abimanyu biasanya happy ending.

Ada adegan rutin dalam wayang Jawa yang disebut sebagai Bambangan Cakil, bertemunya satria lembut dengan raksasa banyak ulah bernama Cakil. Abimanyu, sebagaimana Arjuna ayahnya, sering berperan sebagai sosok bambang atau satria halus dalam adegan Bambangan Cakil itu.

Dalam perebutan berbagai macam wahyu atau karunia besar, Abimanyu juga sering menang, mengalahkan tokoh Hastina seperti Lesmana Mandrakumara.

***Anggito dan Abimanyu
Di negeri ini, salah satu penyandang nama Abimanyu yang populer adalah Anggito Abimanyu.

Sebagai orang kampus, karier Anggito Abimanyu jelas termasuk bagus. Buktinya, dalam penyusunan kabinet seusai pemilihan umum presiden akhir tahun lalu, namanya sempat disebut-sebut sebagai salah satu calon menteri.

Ketika beberapa bulan kemudian muncul rencana tambahan sejumlah jabatan wakil menteri di beberapa kementerian, nama Anggito Abimanyu juga masuk.

Konon Anggito sudah nyaris dilantik. Berita-berita menyebutkan bahwa Anggito sudah menandatangani Pakta Integritas dan beberapa proses lain yang lazim bagi seorang calon wakil menteri. Sayangnya ada ganjalan administrasi yang membuatnya gagal dilantik.

Setelah itu tidak jelas apakah statusnya sebagai calon wakil menteri ditunda atau dibatalkan. Namun, pengumuman mengenai nama Menkeu dan Wakil Menkeu sepeninggal Sri Mulyani Indrawati ternyata tidak menyebut-nyebut nama Anggito Abimanyu.

Belakangan kita mendengar pengunduran dirinya sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal untuk kembali ke kampusnya, Universitas Gadjah Mada. Bisnis Indonesia edisi 25 Mei pada halaman 1 bahkan memampang foto Anggito Abimanyu yang sedang berkemas untuk meninggalkan kantornya di Departemen Keuangan.

Lalu, bagaimana hubungan antara Anggito Abimanyu dan nasib tokoh wayang Abimanyu yang tragis? Wah, mohon maaf, saya belum tahu. Mungkin hanya kesamaan (sebagian) nama saja. Othak-athik gathuk saya belum sampai ke sana, hehehehe. (Setyardi Widodo)

Gambar: Abimanyu tewas dikeroyok pasukan Hastina (Kurawa) dalam perang Baratayudha. Gambar diambil dari Nonton wayang dari berbagai pakeliran, halaman 169.

10 Mei 2010

Ajisaka dan cikal bakal budaya tulis-menulis

Ajisaka adalah nama penting di Tanah Jawa. Namanya dinisbatkan sebagai orang yang menciptakan huruf Jawa. Saya menduga bahwa huruf Jawa adalah satu-satunya huruf di dunia yang memiliki legenda penciptaan dan ada tokoh serta nama yang hadir di sana. Saya belum pernah mendengar legenda tentang penciptaan huruf Latin, huruf Arab, serta huruf Kanji.

Ajisaka punya dua pembantu, Dora dan Sembada. Suatu ketika Ajisaka merantau ke Tanah Jawa, ke kerajaan Medangkamulan. Sembada ditinggalkan dan diminta menjaga keris pusaka. Selain itu, Sembada mendapat pesan untuk tidak menyerahkan keris kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri.

Di Tanah Jawa, Ajisaka menemui negeri yang sedang dicengkam ketakutan. Rajanya adalah Dewata Cengkar. Semula Dewata Cengkar adalah raja yang bijak. Suatu ketika juru masaknya mengalami kecelakaan, jarinya terpotong dan masuk ke dalam sayur yang dimasak. Dewata Cengkar merasakan masakan itu sangat enak. Setelah diusut ternyata dia menyimpulkan bahwa daging manusia itu sangat enak. Sejak itu dia setiap kali minta disediakan daging orang. Maka negeri Medangkamulan pun berubah menjadi negeri terror. Rakyatnya serba katakutan. Takut disembelih dan dimakan oleh Dewata Cengkar.

Lalu datanglah Ajisaka kepada Dewata Cengkar. Dengan cara yang cerdik dia berhasil mengusir Dewata Cengkar ke laut. Konon bahkan Dewata Cengkar kemudian berubah menjadi buaya berwarna putih.

Ajisaka kemudian naik tahta. Dia meminta Dora supaya mengambil keris pusaka yang ditinggalkan pada Sembada. Sembada tidak mau memberikan keris itu karena dia mendapat pesan untuk hanya menyerahkan keris kepada Ajisaka. Sementara Dora merasa mendapat mandat untuk membawa pusaka itu.

Mereka bertengkar. Sama-sama sakti. Lalu sama-sama tewas dalam perkelahian itu. Ajisaka sangat berduka mendengar nasib dua utusannya itu. Lalu dia menyusun huruf, berdasarkan cerita tentang dua pembantunya itu. Masing-masing huruf hanya disebut satu kali. Ada 20 huruf dalam sistem aksara Jawa ini.

Beginilah kisah dalam 20 huruf itu:
hana caraka (ada utusan)= h-n-c-r-k
data sawala (mereka berselisih)= d-t-s-w-l
padha jayanya (sama saktinya) = p-dh-j-y-ny
maga bathanga (keduanya jadi mayat)= m-g-b-th-ng

(Dalam sistem alfabet Jawa, huruf yang asli, tanpa hiasan, dibaca dengan akhiran a. Adapun untuk vocal i, u, e, o diwakili dengan bentuk aksesori huruf. Ada huruf t dan th, ada d dan dh, tetapi tidak ada huruf f, v, x, z)

Jadi, Ajisaka adalah nama yang penting sebagai tokoh yang memperkenalkan huruf di dunia Jawa. Mungkin satu-satunya nama yang dilekatkan pada sistem huruf tertentu. Dengan adanya huruf, komunikasi manusia jadi semakin mudah, transfer ilmu semakin gampang, distorsi makin banyak dikurangi, pendidikan makin maju, peradaban lebih gampang berkembang.

Kesimpulannya, nama Ajisaka adalah nama yang layak disimak dalam perkembangan peradaban manusia.

Buku dengan segudang pertanyaan


Apakah masalah yang rumit, melibatkan banyak faktor, harus diselesaikan dengan cara yang pelik pula? Ternyata, menurut Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner, kebanyakan hal rumit justru dapat diatasi dengan solusi yang amat sederhana.

Beberapa di antara persoalan pelik itu dapat diamati di jalan raya di AS. Pada awal dekade 1950-an, di AS terdapat sekitar 40 juta mobil. Angka kematian tinggi sekali. Pada tahun 1950 saja, ada 40.000 orang tewas karena kecelakaan.Jika dibandingkan dengan panjang jalan yang tersedia saat itu, tingkat kematian per kilometer lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Muncul beragam dugaan dalam mencari penyebab tingginya tingkat kecelakaan. Keadaan mobil yang tidak sempurna, kondisi jalan yang jelek, serta pengemudi yang cerobohlah yang paling banyak disebut.

Tidak banyak yang menyelidiki mekanisme yang terjadi pada suatu tabrakan, hingga hadirnya Robert McNamara ke dalam industri otomotif AS. Orang yang dikenal sebagai menteri pertahanan AS di era Perang Vietnam itu mulai menyelidiki mekanisme tabrakan pada mobil.

Kesimpulannya, kepala dan bagian tubuh lain manusia terlalu lembek untuk dibenturkan ke dashboard dan bodi mobil. Penumpang umumnya mengalami cedera fatal karena terlempar dari kursi lalu membentur kaca, dashboard, maupun kemudi dan bagian mobil lain.

Karena sulit memecahkan dampak dari benturan, McNamara mencari cara agar penumpang tidak terlempar. Lalu, terkait dengan latar belakangnya di bidang aeronautika, McNamara mencoba mengadopsi sabuk pengaman pada pesawat tempur.

Ini solusi yang sangat sederhana dan awalnya sangat sulit diterima. Ada pandangan bahwa sabuk pengaman atau sabuk keselamatan itu tidak nyaman, tidak masuk akal, serta melecehkan kemampuan mengemudi pemakainya.

Kendati akhirnya terbukti bahwa sabuk pengaman telah menyelamatkan sangat banyak nyawa, butuh waktu sangat panjang untuk menyadari arti pentingnya. Sabuk pengaman kemudian terbukti mengurangi risiko kematian hingga 70%, menyelamatkan kira-kira 250.000 nyawa.

Sabuk pengaman, dengan harga US$25 per buah, merupakan salah satu alat penyelamat hidup paling murah yang pernah ditemukan. Solusi yang lebih rumit dan mahal dalam mengatasi benturan dalam kecelakaan adalah kantung udara. Kantung udara menghabiskan US$1,8 juta per nyawa yang diselamatkan, 60 kali lipat lebih mahal daripada yang diperlukan sabuk pengaman. Namun, sabuk pengaman masih menyisakan masalah bagi anak-anak yang ukuran tubuhnya tidak seperti orang dewasa.

Cerita mengenai sabuk pengaman pada mobil hanyalah satu dari puluhan ilustrasi menarik yang dipaparkan Levitt dan Dubner dalam Super Freakonomics.

Ada pula kisah tentang betapa mencemaskannya transportasi yang didominasi kuda di New York pada tahun 1900-an. Angka kecelakaan yang tinggi, kemacetan serta polusi akibat kotoran kuda, seakan-akan tidak dapat dicari lagi jalan keluarnya. Ternyata hal ini terpecahkan dengan kehadiran mobil. Ketika mobil kian populer, kuda pun tergantikan.
Ikan paus pernah menjadi pusat perekonomian yang sangat menentukan di AS pada abad XIX. Sepanjang tahun 1832 hingga 1872, kapal-kapal nelayan telah menangkap 300.000 paus atau rata-rata 7.700 ekor paus per tahun.

Berburu ikan paus telah menjadi industri kelima di AS dengan mempekerjakan 70.000 orang. Seolah terjadi tiba-tiba, populasi paus menyusut. Berburu paus menjadi sangat sulit. Leviit dan Dubner melukiskan kondisi dalam bisnis ikan paus di AS itu seperti ‘too big to fail’ saat ini.

Banyak sekali yang terkena dampak ikutan dari krisis ikan paus yang menjadi sumber minyak, sumber energi, serta sumber berbagai macam produk. Masalah krisis energi paus terpecahkan ketika minyak bumi ditemukan.

Nah, krisis saat ini, termasuk krisis energi minyak bumi dan pemanasan global, menurut Super Freakonomics, punya banyak kemiripan dengan krisis serupa dalam bidang lain yang pernah terjadi sebelumnya.

Buku ini memberikan penjelasan menarik yang seringkali bertentangan dengan logika sederhana. Misalnya, bahwa berjalan kaki sambil mabok ternyata lebih berbahaya daripada mengemudi sambil mabok. Banyak pula pertanyaan mengenai asumsi-asumsi yang digunakan untuk membangun argumentasi tentang betapa berbahayanya pemanasan global.

Super Freakonomics dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan menggelitik. Seringkali tanpa jawaban yang memuaskan. Dua pengarang buku laris sebelumnya, Freakonomics, ini memang pandai memainkan rasa ingin tahu pembacanya. (Setyardi Widodo)

*) tulisan ini dimuat dalam Bisnis Indonesia edisi Minggu, 2 Mei 2010