27 Januari 2010

Perbandingan pena & pedang menurut Sartre


Benarkah pena lebih tajam daripada pedang? Jeal Paul Sartre dalam Les Mots (Kata-Kata) menulis pandangannya tentang hidup, termasuk tentang kegiatan tulis menulis. Tentu saja ini tidak bisa dimaknai secara harfiah melainkan perlu dilihat dalam konteks kritik terhadap diri sendiri. Bagaimana pun, ungkapannya tentang kegiatan tulis menulis begitu memikat.

“Menulis adalah suatu kebiasaan sekaligus pekerjaan untukku. Lama sekali kuanggap penaku sebagai pedang. Kini aku sudah tahu para penulis tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi itu tidak penting. Yang penting aku menulis. Aku akan menulis buku-buku. Buku harus tetap ada, harus ada. Karena, bagaimana pun, buku punya faedah. Walaupun pengetahuan luas tidak menyelamatkan apa-apa dan siapa-siapa, itu bukanlah pembenaran (untuk berhenti menulis).
(Buku dan pengetahuan) itu adalah hasil usaha manusia. Manusia membangun citra di sekitar itu dan mencerminkan diri di sana. Pengetahuan memberikan kepada manusia suatu pantulan kritik.”


Prof Alex Lanur menulis bahwa salah satu inti dari Les Mots karya Sartre adalah sebagai berikut:

“Sartre mengakui bahwa seluruh karirnya sudah ditandai dengan keadaan tidak riil yang mendasar. Hal itu tampak dari komitmennya yang mendasar terhadap karya tulis, pengunduran dirinya dari dunia, dan khayalannya bahwa dia dapat menyelamatkan dirinya dengan menulis.

Sebagai seorang anak, dia disanjung dan dipuji banyak orang, namun dia tidak sungguh dimengerti. Dia terlepas dari hubungan dengan anak-anak lain, dan menjalani kehidupan dalam ruang belajar kakeknya.

Mula-mula dia merasa kagum akan buku yang begitu banyak dalam ruang belajar itu. Kemudian dia mulai mengambilnya dan belajar membaca. Sartre sungguh membacanya serta memerankan buku-buku itu. Dan akhirnya, dia menjadi penulis. Les Mots menelusuri pilihan mendasar yang diambilnya untuk hidup lebih dalam buku-buku daripada dalam kenyataan.”

26 Januari 2010

Belajar dari Isaac Asimov


Isaac Asimov adalah seorang penulis fiksi ilmiah yang terkemuka. Dia menulis ratusan buku dalam berbagai topik. Karyanya yang paling terkenal adalah trilogi Foundation yang mendapatkan berbagai macam penghargaan sebagai salah satu serial cerita terbaik dunia. Berikut ini pernyataan Isaac Asimov yang bisa kita baca dalam “Faktor-faktor Prestasi”

Sebenarnya kehidupan saya manis seluruhnya. Sebab, bahkan ketika saya muda, sebelum saya mulai menulis, saya bersiap-siap untuk menulis, bahkan tanpa saya ketahui.

Saya membaca semua buku yang saya perlukan untuk otak saya supaya dapat menulis dengan tepat. Sebagian buku itu saya peroleh dari perpustakaan umum. Dan saya beruntung punya waktu untuk membaca. Saya tidak punya uang. Kami hidup dalam apartemen yang sangat miskin dan dan di lingkungan yang tidak terlalu baik. Tetapi saya tidak pernah menyadari bahwa saya kekurangan.

Saya mempunyai kesempatan untuk membaca dan menikmati sekolah, sehingga kehidupan ini semuanya menyenangkan bagi saya. Dan saya menyadari itu. Itu bagian yang penting. Sangat menyedihkan apabila Anda berbaring di tempat tidur untuk mati dan mengatakan: “Ya, saya mempunyai kehidupan yang baik dan saya tidak pernah menghargainya.”

Sedangkan saya selalu menghargai (hidup yang dianugerahkan pada saya). Tiap langkah dalam perjalanan hidup, saya tahu bahwa saya beruntung. Dan kesadaran itu bahkan lebih penting daripada hanya beruntung (tanpa menyadarinya).

24 Januari 2010

Pengalaman bersama sepeda listrik Betrix


Setelah melalui banyak keraguan, akhirnya pada Desember lalu kami memutuskan untuk membeli sepeda listrik merek Betrix tipe Ice. Saya coba tulis pengalaman satu bulan bersama Betrix, barangkali berguna bagi pembaca yang tertarik mempertimbangkan sepeda listrik.

***
Ada banyak pertanyaan dan keraguan yang hinggap sebelum kami membeli sepeda listrik: Apakah harga yang hampir Rp5 juta cukup layak? Apakah tidak lebih andal membeli sepeda motor bekas atau sepeda motor China atau sepeda onthel yang bagus sekalian? Apakah jarak tempuhnya memadai? Bagaimana kalau baterai habis di jalan? Apakah mesin, baterai, serta penggeraknya cukup awet dan andal? Dan seterusnya.

Bagi saya, memakai sepeda motor bensin itu ribet. Sebab, harus ada STNK, SIM, helm, dan surat menyurat yang merepotkan. Apalagi untuk orang yang tinggal di lebih dari satu kota seperti saya. Beli di kota A, pakai di kota B. Jika motor dipakai oleh orang lain, misalnya keluarga atau kerabat, yang bersangkutan juga harus punya SIM. Intinya, banyak kerepotan di balik motor.

Sepeda listrik seperti halnya sepeda onthel, tidak perlu surat menyurat. Ini salah satu pertimbangan membeli sepeda listrik. Meskipun harga sepeda listrik hampir sama (atau bahkan lebih mahal dari) sepeda motor China yang baru, namun motor China toh tetap butuh surat-menyurat.

Lain lagi perbandingan dengan sepeda onthel. Sepeda onthel baru dengan kualitas bagus harganya toh hampir Rp2 jutaan (bahkan lebih). Jadi, dengan asumsi sepeda listrik body-nya tidak kalah dari sepeda onthel yang baik, selisih harganya masih cukup masuk akal.

***
Kami memilih sepeda listrik yang bentuknya semirip mungkin dengan sepeda onthel, paling ringan, serta harganya paling murah. Selain tidak ingin dianggap sebagai sepeda motor oleh polisi, pilihan model ini juga mempertimbangkan kemungkinan baterai habis di jalan. (Saya pernah punya pengalaman buruk dengan sepeda listrik bentuk motor yang habis baterai di jalan. Berat betul gowesnya. Tapi itu mereknya bukan Betrix)

Model Ice yang kami pilih memang mirip sekali dengan sepeda onthel. Di belakang ada boncengan panjang, tapi di depan tidak ada keranjang Boncengan belakang agak panjang sehingga saya bisa pasang kursi untuk anak, lalu di belakangnya lagi saya pasang keranjang (hasil pindahan dari sepeda onthel). Kelebihan lain adalah ada lampu depan serta klakson.

Sepeda listrik Betrix dapat dijalankan dengan dua mode. Saya menyebutnya sebagai mode sepeda motor dan mode sepeda onthel. Dalam mode sepeda motor, yang berperan sebagai penentu gerak adalah putaran gas. Gas dikendalikan dengan tangan kanan, mirip dengan gas pada motor.

Mode ini cocok untuk kondisi jalan macet dan rusak yang menutut stop and go. Maju dikit, berhenti lagi, maju lagi dikit, berhenti lagi, dan seterusnya. Ini juga cocok untuk jalan di gang sempit seperti di kota-kota besar.

Mode lain yang saya sebut sebagai mode sepeda onthel adalah pedal assist. Menggunakan mode ini seperti kita naik sepeda onthel biasa dengan tenaga pendorong di belakangnya. Dalam kondisi jalan rata dan sepi, mode ini sangat enak. Persis seperti naik sepeda onthel yang sangat ringan. Untuk melewati tanjakan juga cukup kuat.

Akan tetapi, mode ini sangat berbahaya di jalan macet atau rusak. Masalahnya ada pada respons-nya yang tidak seketika. Ada delay barang 2-3 detik dari saat awal menggowes sehingga kadang kita sudah mau berhenti karena di depan ada kemacetan dia justru tiba-tiba mendorong keras. Dorongan ini seperti diset untuk mencapai kecepatan tertentu yang kita tidak tahu atau di luar ekspektasi pengendara. Akibatnya, dorongan ini kadang terasa keras dan mengagetkan.

Bagi pengguna yang terbiasa dengan sepeda onthel dan tidak terbiasa dengan sepeda motor seperti saya, mode pedal assist sangat menarik. Tapi, ya itu, kalau tidak terbiasa dengan mode lain akan kerepotan saat melewati jalan padat yang macet. Khusus untuk jalan yang sepi dan lancar, kita bisa juga setel cruise control agar kecepatan konstan.

Karena sepeda listrik merupakan barang baru bagi saya, cara penggunaanya pun serba coba-coba. Perlu waktu untuk mengenali bagaimana cara kerja, respons, serta karakteristik mesinnya.

Sejauh ini, pengalaman menggunakan sepeda listrik cukup menyenangkan. Dengan pemakaian rata-rata 10km—15 km per hari, indikator baterai umumnya menunjukkan simpanan tenaga masih banyak (4 bar).

Namun demikian, ada beberapa kelengkapan yang menurut saya perlu diberikan untuk sebuah sepeda seharga Rp4,7 juta itu. Kelengkapan itu di antaranya keranjang depan, spion, serta –kalau memungkinkan—speedometer.

***
Indikator baterai terdiri atas 4 titik. Jika baterai penuh, keempatnya akan menyala. Jumlah lampu yang menyala berkurang seiring berkurangnya tenaga yang tersimpan dalam baterai. Sayangnya, hanya itulah indikator yang bisa kita amati untuk memantau besarnya tenaga yang tersimpan. Saya berharap di masa yang akan datang indikator ini akan lebih kaya informasi.

Lubang kabel untuk ke luar dan masuk dari kotak baterai hanya 1 slot. Ketika mengisi baterai, charger dicolok ke slot ini. Ketika sepeda akan dipakai, kabel yang menghubungkan mesin gantian dicolok.

Dan karena sepeda tiap hari dipakai dan dicharge, maka setiap hari harus lepas pasang kabel ke slot itu. Saya sungguh khawatir cara colok mencolok seperti ini lama-lama akan membuat lubang colokan aus dan dol. Mudah-mudahan pada sepeda listrik generasi mendatang bagian ini diperbarui.

Dalam satu bulan pemakaian, sepeda listrik Ice kami sempat macet. Lampu indikator tidak nyala. Kadang nyala 5 menit lalu mati. Baru jalan 200 meter, mati. Padahal baterai penuh.

Ketika kami bawa ke penjualnya, kotak baterai langsung dilepas dan dibongkar. Ternyata ada connector di dalam kotak baterai yang kendor. Akibatnya, muncul percikan api karena arusnya cukup besar. Lama-lama bagian itu terbakar. Solusinya ya ganti connector, disolder ulang, bayar Rp10.000.

Keluhan lain adalah sedel. Saya berharap sedel standar bisa lebih baik dan lebih nyaman digunakan.

19 Januari 2010

Sulitnya menghentikan e-gethok tular


Maraknya penggunaan jejaring sosial sebagai salah satu elemen penting dalam mempengaruhi kebijakan public menjadi tonggak keberadaan gethok tular electronic atau e-gethok tular. Kasus Bibit-Chandra serta Prita Mulyasari menegaskan hadirnya fenomena itu.

Gethok tular adalah kosa kata Bahasa Jawa yang artinya kira-kira setara dengan penyebaran informasi dari mulut ke mulut alias word of mouth.

Jejaring sosial seperti Facebook awalnya berkembang melalui gethok tular. Seseorang tergoda menggunakan Facebook, terpesona, lalu mengajak kawan yang kemudian terpesona pula, lalu mengajak rekan yang lain lagi. Begitu seterusnya.

Kini jumlah pengguna jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg itu di Indonesia, menurut CheckFacebook.com, sudah melampaui 11,7 juta akun.

Uniknya, selain tumbuh melalui gethok tular, jejaring sosial juga menjadi alat penghubung bagi suatu gethok tular. Jika semula berkembang dari mulut ke mulut, menjadi informasi dari satu akun ke akun lain, dari satu status ke status lain, satu catatan ke catatan lain. Barangkali bolehlah kita sebuat word of electronic-mouth.

Berdasarkan pengamatan, sebagai suatu gethok tular, gerakan yang berbasis Facebook hanya sukses apabila mendapat dukungan pula dari media massa arus utama.

Selain itu, sebagaimana rumus gethok tular pada umumnya, formulasi yang disebarkan bersifat sederhana dan mudah dicerna. Ide sederhana itu, misalnya, copot si X, bebaskan si Y, atau dukung si Z.

Kalau kasus kompleks dengan jalinan banyak pihak yang juga ruwet, sulit di-gethok tular-kan. Sebab, salah satu sifat alamiah gethok tular adalah distorsi. Jika informasinya kompleks, distorsi bisa mengacaukan segala sesuatunya.

***Biarkan saja
Ada beberapa gagasan generik yang dianggap mudah menyebar seperti wabah. Gagasan itu di antaranya adalah ide mengenai bunuh diri, merokok, narkoba, serta tren fesyen. Barangkali sekarang bisa ditambahkan satu lagi: tren pemanfaatan fitur tertentu di dunia Internet.

Dalam soal bunuh diri, dikenal istilah Werther Effect. Werther adalah sebuah karakter dalam novel karya Johann Wolfgang von Goethe. Dalam cerita Penderitaan Pemuda Werther, Goethe berkisah mengenai seorang pria cerdas, lembut, mudah terharu, yang mengalami kehidupan tragis.

Setelah kegagalannya dalam karir, Werther yang muda mengalami kegagalan cinta. Begitu dalam penderitaannya sehingga Werther memilih bunuh diri sebagai upaya mengakhiri tekanan batiniah.

Cerita mengenai Werther ini dipublikasikan lebih dari 200 tahun yang lalu dan menjadi karya yang sangat digandrungi banyak orang. Namun, cerita yang sangat memikat ini juga dipersalahkan sebagai pemicu bagi sekitar 2.000 bunuh diri di kalangan remaja di Eropa.

Begitu kuatnya pengaruh tulisan Goethe itu sehingga Werther Effect digunakan untuk menyebut bunuh diri ikutan. Agaknya, hal serupa belakangan ini sedang terjadi di Indonesia.

Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point menyebut bagaimana mudahnya gagasan tentang bunuh diri menyebar di kalangan generasi muda. Ada banyak pola kemiripan antara penyebaran gagasan sebagai wabah dan penyebaran wabah penyakit. Begitulah pendapat Gladwell.

Tipping Point memberikan penjelasan bagaimana gagasan bisa menyebar seperti wabah. Adapun ulasan bagaimana wabah bisa berhenti, barangkali bisa kita simak pada Sampar karya Albert Camus. Kendati bukan buku ilmiah mengenai wabah penyakit, Sampar memberikan perspektif lain. Sebab, buku ini membahas bagaimana wabah datang secara tiba-tiba dan terhenti dengan sendirinya.

“Sampar mungkin berhenti karena sampar tidak memiliki khayalan,” papar salah satu tokoh dalam novel itu.

Agaknya, upaya menghentikan sesuatu yang berkembang lewat e-gethok tular adalah sesuatu yang jauh lebih sulit, karena hal itu dikendalikan oleh imajinasi manusia. Mengacu pada Sampar, salah satu cara manjur mengatasinya adalah membiarkannya berhenti dengan sendirinya, secara alamiah.

Jumlah akun pengguna jejaring sosial di Indonesia terus meningkat. Di sisi lain mulai muncul pula kebosanan para pengguna lama. Sebagai sebuah gagasan, penjalaran jejaring sosial melalui gethok tular mungkin bisa saja terhenti. Akan tetapi sulit untuk menghilangkan perannya sebagai penghubung suatu e-gethok tular.

18 Januari 2010

Antara hotel prodeo dan penjera*


Rubashov dijebloskan ke dalam penjara. Dia dimasukkan ke sel nomor 404. Sendirian dan tidak kenal siapa-siapa. Mantan pejabat negara itu menyebut tetangganya berdasarkan nomor sel seperti si-406, si-402. Tentu saja dia pun hanya disebut sebagai si-404. Dalam penjara itu, nama sudah berubah menjadi nomor.

Mengikuti hasrat alamiahnya untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, pria dengan nama lengkap Nicolas Salmanovitch Rubashov itu berusaha menjalin kontak dengan penghuni kamar sebelahnya.

Caranya, mereka mengembangkan komunikasi dengan ketokan pada tembok yang tebal. Rubashov menyebutnya sebagai abjad persegi.

Mereka membagi dinding dalam lima baris. Jika diketok baris ke paling atas, artinya antara huruf A sampai E. Satu kali ketok artinya A, dua kali artinya B, tiga kali artinya C, dan seterusnya. Dan itu berlaku untuk baris-baris selanjutnya hingga 26 huruf.

Komunikasi dilakukan bergantian dan tentu saja lambat. Pengiriman dan penerimaan harus dilakukan dengan cermat agar tidak salah mengerti atau salah tebak.

Begitulah cerita tentang salah satu kerepotan hidup di penjara dalam novel Gerhana Tengah Hari karya Arthur Koestler. Dalam cerita itu, Rubashov adalah seorang mantan Komisaris Rakyat. Ini sebuah jabatan sangat tinggi di negara komunis. Dia dibui karena konflik politik, sesuatu yang lazim pada pertengahan abad XX.

Dalam novel yang edisi Indonesia-nya setebal 306 halaman itu, Koestler bercerita tentang hari-hari yang dilalui oleh Rubashov sejak pertama masuk penjara hingga dia diadili dan dihukum mati.

Cerita klasik lain yang dramatik tentang bagaimana hari-hari dilalui oleh seorang narapidana dapat kita baca dalam Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati karya Victor Hugo.

Hugo bercerita tentang tokoh utama yang disebut sebagai Aku. Tokoh dalam cerita itu adalah seorang penjahat sejak muda. Pernah dihukum 15 tahun, lalu dibebaskan tetapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Jadilah dia penjahat lagi, ditangkap kembali, melarikan diri lagi, lalu ditangkap dan dihukum mati.

Baik cerita Hugo maupun Koestler sama-sama bercerita tentang pergulatan batin seseorang yang dipenjara dan akan dihukum mati. Bedanya, Rubashov dalam cerita Koestler banyak menyoal kebijakan politik, sedangkan Aku dalam cerita Hugo lebih banyak berkutat dengan persoalan psikologis sebagai orang yang akan dihukum mati-orang yang harus menyiapkan kepalanya untuk dipenggal demi hukum.

Keduanya bercerita tentang betapa orang menderita batiniah ketika badannya dikurung. Terasing, sulit berkomunikasi, dan dipisahkan dari orang-orang dekat yang selama bertahun-tahun sebelumnya menjadi kawan akrab.

Dalam perspektif mana pun, penjara selalu dipandang sebagai tempat yang tidak menyenangkan. Terisolasi dan segala hal dibatasi. Kondisi riilnya tentu saja berbeda-beda di setiap zaman dan tiap lokasi. Apa yang terungkap dalam novel di atas hanyalah fiksi yang didasarkan pada kenyataan di zaman dan tempat yang diamati sang penulis cerita.

***Penjara dunia

Data dari Pemerintah AS (Bureau of Prison) menyatakan saat ini ada 9 juta orang yang sedang dipenjara di seluruh dunia dan tersebar di 211 negara. Sebanyak 50% dari pesakitan itu berada di AS, Rusia, serta China.

Tingkat populasi penghuni penjara di AS merupakan yang tertinggi di dunia yaitu 714 orang setiap 100.000 penduduk. Posisi di bawahnya ditempati Rusia dengan 532 orang untuk setiap 100.000 penduduk. Sebanyak 58% negara yang ditinjau menunjukkan tingkat populasi penghuni penjara berada pada level 150 per 100.000 penduduk atau di bawah itu. Data lain menyatakan sekitar 70% penghuni penjara AS berasal dari kasus narkoba.

Di Indonesia, penjara sering disebut pula sebagai hotel prodeo yang artinya hotel gratis atau cuma-cuma. Nama resmi penjara yang dilekatkan pemerintah Indonesia adalah lembaga pemasyarakatan. Sebutan ini dicetuskan oleh Rahardjo, Menteri Kehakiman pada dekade 1960-an.

Data dari laman situs Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (ditjenpas.go.id) mengungkapkan jumlah penghuni lembaga pemasyarakatan saat ini lebih dari 105.700 orang. Jumlah ini terdiri dari tahanan dewasa lebih dari 46.200 orang, tahanan anak lebih dari 1.900 anak, narapidana lebih dari 54.900 orang dan anak didik lebih dari 2.500 anak.

Kendati jumlah penghuni lembaga pemasyarakatan meningkat dari 92.497 pada 2005 menjadi di atas 105.700 pada 2009, kapasitasnya tetap bertahan pada angka 76.550 orang.

Penjara berkonotasi dengan kurungan dan hilangnya kebebasan, sebagai bentuk lain hukuman dera. Konon, akar kata penjara sama dengan penjera, artinya sesuatu yang membuat orang jera alias kapok melanggar hukum.

Temuan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum dalam inspeksi mendadak awal pekan ini mengingatkan kembali tentang makna lembaga pemasyarakatan. Selain menegaskan kesan terkurung dan suasana berjejal-jejal yang melampaui daya tampung, penjara tertentu juga memiliki sisi-sisi mewah di dalamnya. Sebuah cermin kesenjangan seperti yang ada pula di luar penjara.

Para pejabat dan tokoh publik menyatakan banyak hal perlu dibenahi dalam penyelenggaraan lembaga pemasyarakatan sebagai salah satu muara dari proses penegakan hukum yang panjang. Apakah perlu pula dipakai istilah baru untuk penjara agar lebih sesuai dengan kenyataan dan cita-cita pembentukannya? Wallahualam.

*) Dimuat di Bisnis Indonesia edisi 14 Januari 2010

08 Januari 2010

Mohon maaf & selamat jalan Pak Satjipto


Berita duka itu saya dengar tadi pagi. Pak Satjipto Rahardjo meninggal dunia. Secara personal saya tidak mengenal guru besar dari Universitas Diponegoro itu. Saya belum pernah berjumpa dengan beliau dan belum pernah pula membaca tulisan beliau secara jenak.

Saya tidak mengerti bidang keahlian yang beliau tekuni, tidak pula menyimak sepak terjang beliau. Akan tetapi, saya merasa perlu menulis catatan tentang beliau karena saya telah bertahun-tahun menempatkan gambar beliau pada salah satu posisi yang penting.

Ini juga semacam permohonan maaf kepada beliau beserta keluarga dan kerabatnya apabila kelakuan saya ini dipandang keliru atau tidak berkenan.

Pada Januari 1997 saya membeli sebuah buku tulis yang tebal. Saya tidak tahu persis berapa tebalnya, namun saya yakin lebih dari 100 lembar. Buku tulis bergaris ukuran setengah kwarto itu saya gunakan untuk mencatat hal-hal menarik yang saya baca di koran serta, terutama, buku-buku.

Waktu itu saya belum punya computer dan tentu saja alat tulis satu-satunya yang dapat diandalkan adalah buku tulis dan pena. Maka buku catatan itu menjadi perangkat yang penting bagi perkembangan intelektualitas saya.

Dalam buku itulah saya menulis kutipan novel-novel Dostoyevski, Albert Camus, Voltaire, Shakespiere, kumpulan tulisan Pakistan, Rusia, dan sebagainya. Di sana pula saya tulis kutipan dialog dari film di televisi, dari radio, dari ceramah orang penting, dari buku-buku tentang menulis, biografi, dan filsafat. Sebagian besar adalah buku pinjaman dari perpustakaan serta taman bacaan.

Di sana pula saya masih simpan beberapa kliping cerpen serta berita atau analisis dari koran-koran yang saya baca waktu itu. Pada intinya, buku itu mewakili penjelajahan intelektual saya pada periode 1997-1999, salah satu periode paling kritis dalam pembentukan pola pikir saya.

Lalu, apa hubungan dengan Pak Satjipto Rahardjo?
Dalam periode itu saya menemukan foto Pak Satjipto di sebuah majalah, kalau tidak salah Tempo. Foto itu diambil dari samping. Foto pria cukup sepuh berkacamata. Saya terkesan dengan foto itu. Saya berpikir bahwa suatu saat wajah saya, kalau dilihat dari samping, akan seperti wajah yang ada dalam foto itu.

Hidungnya, bentuk kepalanya, kacamatanya, struktur wajahnya, rasanya semua mewakili apa yang akan terjadi pada diri saya di kemudian hari. Maka saya tempellah gambar Pak Satjipto itu sebagai cover buku catatan saya itu. Di bawahnya saya tulis: “KeLIK waktu jadi Presiden”

Satu hal yang saya kira perlu memohon maaf adalah karena saya lancang menambahkan kumis dan jenggot pada gambar itu. Asumsinya, saya ini kan berkumis dan berjenggot.

Selamat jalan Pak Satjipto, semoga mendapat ampunan Allah serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Saya mohon maaf atas segala keluputan dan kelancangan saya terhadap Pak Satjipto.

Foto: cover buku catatan saya bergambar Pak Satjipto

04 Januari 2010

Enaknya berada di ketinggian


Ketinggian memang memberi perspektif yang lebih luas, jelas, dan menyeluruh. Posisi yang tinggi memudahkan orang mengerti 'gambar besar'.

***
Melihat bumi dari ketinggian. Itulah salah satu yang ditawarkan kereta gantung. Dan itu pula yang saya alami di Taman Mini Indonesia Indah pada liburan jelang akhir tahun 2009.

Rombongan kami tiba di TMII siang hari, sekitar jam 11. Kami menyusuri sisi utara taman sehingga melewati terminal kereta gantung barat laut, lalu snow bay yang sangat ramai, beberapa rumah tradisional Sumatra hingga sampai di taman burung pada sisi timur laut.

Kami naik kereta gantung dari sisi ini. Sisi timur laut. Kondisinya sangat sepi, nyaris tidak antre. Ini berbeda sekali dengan naik kereta gantung dari sisi barat (barat laut maupun barat daya) yang dari luar saja sudah tampak ramai.

Maka demikianlah. Dari kotak yang tergantung itu kami bisa melihat gelaran TMII, khsususnya sisi sebelah utara. Tampak danau buatan, pulau-pulau Indonesia, pesawat di sekitar rumah-rumah Aceh, dan seterusnya. Lalu sampailah saya pada kesimpulan di awal tulisan yaitu bahwa ketinggian memberi perspektif yang lebih luas, jelas, dan menyeluruh. Posisi yang tinggi memudahkan orang mengerti 'gambar besar'.

Posisi yang tinggi baik baik secara harfiah maupun maknawiyah memang menguntungkan dalam hal kesempatan memperoleh pandangan yang lebih luas.

Posisi tinggi dalam organisasi, dalam institusi, atau dalam birokrasi memang banyak memberi keuntungan. Begitu pun dengan pendidikan yang tinggi, sekolah yang lebih tinggi, serta salary yang lebih tinggi.

Mungkin itulah sebabnya semua orang berlomba-lomba meraih posisi yang tinggi. Agar dapat memahami dunia dan hiruk pikuknya ini dengan lebih baik. Serpihan-serpihan yang terlihat di daratan seperti puzzle yang terserak akan mudah direkonstruksi jika dilihat secara menyeluruh dari ketinggian.

Naik kereta gantung di TMII merupakan kesempatan kedua bagi saya berada dalam kotak tergantung yang disebut sebagai sky lift itu. Saya naik kereta gantung pertama di Genting High Land, Malaysia, pada 2003.

***
Waktu remaja, salah satu impian saya adalah melihat bumi dari atas. Sebagai orang dusun, saya tidak pernah naik pesawat (saya naik pesawat pertama kali pada usia 25 tahun, setelah jadi wartawan). Jadi yang sering saya bayangkan adalah menempatkan suatu kamera pengintip pada layang-layang yang saya terbangkan ke berbagai penjuru.

Gambaran nyata tentang melihat bumi dari atas paling-paling saya alami kalau memanjat pohon, itupun hanya lima meter dari tanah. Saya dibesarkan di daerah dekat pantai yang datar, tanpa bukit tanpa gunung sama sekali, jadi tidak bisa melihat bagian tanah lain dari ketinggian.

Impian melihat bumi dari atas ini pula yang membuat saya sangat menyukai pesawat terbang. Dulu, waktu saya SD dan SMP, koran Suara Karya yang jadi langganan wajib bagi SD tempat ayah dan ibu saya mengajar, menyajikan ulasan mengenai penerbangan setiap Senin.

Ada satu atau dua halaman penuh tentang penerbangan, umumnya tentang pesawat tempur. Salah satu penulis yang saya ingat adalah Mei Kartyono. Waktu saya SMP, saya juga sering membaca tulisan Mei Kartyono ini melalui Tarik, majalah teknologi serba guna terbitan Yogyakarta yang sering saya baca (beli di toko buku Succcess Kutoarjo).

Selama SMP dan SMA saya membuat kliping tentang pesawat terbang (sampai sekarang kliping masih ada, tapi sebagian sudah dimakan rayap). Rasanya semua buku tentang pesawat terbang di perpustakaan SMA pernah saya pinjam. Adapun majalah yang sangat menarik adalah Tarik, TSM (Teknologi dan Strategi Militer), Sigma, serta Mekatronika.

Ketika SMP saya sering membuat miniatur pesawat. Belakangan saya baru tahu kalau itu disebut origami, seni lipat dan mengelem kertas.

Waktu SMA saya ingin membuat karya tulis akhir tentang pesawat terbang. Saya sudah buat kerangkanya. Tapi karena pak guru waktu itu meminta tulisan hal yang biasa saja, yang konkret-konkret saja, saya membatalkan rencana menulis soal itu. Sayang sekali. Sampai sekarang saya kadang masih menyesali hal ini. (Tetapi saya tidak menyesal memilih TF, bukan PN)

Sebenarnya sata ini ada fasilitas gratis yang mewakili impian saya untuk melihat bumi dari atas. Itu diwujudkan oleh Google melalui Google Maps. Dengan fitur satellite view, kita bisa melihat hampir seluruh bagian bumi ini dengan resolusi yang memadai.

Mungkin karena keinginan untuk melihat bumi dari atas itu saya suka menunjukkan arah atau ditunjuki arah dalam bentuk peta. Salah satu yang saya beli pertama kali ketika datang ke Jakarta adalah peta.

29 Desember 2009

Pergantian tahun & teka-teki waktu*


Dzulhijjah berlalu, disambung dengan Muharram. Desember pun segera pergi, disusul dengan datangnya Januari. Pergantian tahun dari 1430 ke 1431 serta dari 2009 ke 2010 mengingatkan kita akan perhitungan waktu.

Perhitungan kalender yang menjadi penanda waktu, baik versi hijriah maupun versi masehi, didasarkan pada pergerakan dalam tata surya terutama Bumi, Matahari, serta Bulan.

Bagi manusia zaman sekarang, pernyataan bahwa planet Bumi bergerak mengelilingi pusat tata surya berupa Matahari dengan periode satu tahun, serta satelit yang bernama Bulan mengelilingi Bumi setiap satu bulan sekali, bukan lagi tanda tanya.

Akan tetapi, proses menuju kepada pengetahuan itu ternyata lama, dan memakan banyak korban. Kita tentu ingat tragedi yang menimpa Galileo Galilei ketika menyatakan bahwa pusat tata surya bukanlah Bumi melainkan Matahari.

Manusia terus mencari cara perhitungan waktu yang lebih presisi. Misalnya, 1 detik semula didefinisikan sebagai 1 per 86.400 hari, lalu diubah menjadi 9.192.631.770 kali periode radiasi atom tertentu pada keadaan tertentu.

Ukuran fisis seperti gerakan atom dan tata surya di atas hanyalah salah satu cara untuk mencari pegangan dalam mengarungi waktu. Manusia juga berupaya mencari makna yang lebih dalam mengenai bagaimana memperlakukan waktu yang dimilikinya.

Terkait dengan pamaknaan itu, filosof Prancis Voltaire dalam novelet Suratan Takdir menyajikan kisah menarik. Suatu kali, Pendeta Agung Babilonia menggelar sayembara dengan mengajukan cangkriman alias teka-teki.

“Apakah di antara yang di dunia ini yang paling panjang namun sekaligus paling pendek. Paling cepat namun juga paling lambat. Paling terbagi-bagi namun juga paling luas. Paling disepelekan tetapi juga paling disesalkan. Tanpa hal itu tak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan. Dia melahap segala yang kecil, namun mengabadikan yang besar.”

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan dalam sayembara itu hingga muncul seorang tokoh bernama Zadiq. Dia berpendapat jawab atas pertanyaan Pendeta Agung adalah waktu.

“Tidak ada yang dirasakan lebih panjang karena waktu adalah ukuran keabadian. Tidak ada yang lebih pendek karena selalu dirasa kurang untuk mewujudkan rencana-rencana kita. Tak ada yang lebih lambat bagi mereka yang sedang menunggu. Tak ada yang lebih cepat berlalu untuk mereka yang menikmati hidup.”

Zadiq menambahkan, waktu terbentang luas tak terkirakan, juga terbagi dalam ukuran sekecil-kecilnya. Semua orang menyepelekannya, namun menyesali kehilangannya. Tak ada yang dapat dilakukan tanpa waktu. Waktu membuat semua yang tak patut dikenang terlupakan, dan semua yang pantas diingat menjadi abadi.

***Relativitas waktu
Pergantian tahun biasanya menjadi momentum untuk merenungi waktu yang sudah lewat dan membuat rencana mengisi waktu yang tersisa. Ini mirip dengan ulang tahun. Bedanya, ulang tahun direnungi sendiri-sendiri, pergantian tahun dirayakan bersama-sama.

Banyak cara untuk mencari kejelasan mengenai waktu. Salah satu tokoh yang paling didengar dalam kajian mengenai waktu adalah fisikawan Albert Einstein yang dikenal melalui teori relativitas. Teori ini menyinggung relativitas waktu yang akan terasa sangat menonjol pada objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya.

Kisah terkenal dalam menjelaskan relativitas waktu adalah Paradoks Si Kembar, cerita tentang dua orang kembar yang mengalami beda usia signifikan karena yang satu tetap di bumi sementara yang lain menjelajahi angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Bagi saya, apa yang diungkapkan Zadiq dalam cerita Voltaire di awal tulisan ini merupakan bentuk lain mengenai relativitas waktu. Ini semacam formulasi psikologis dari relativitas waktu.

Orang yang sedang menunggu akan merasa bahwa pergerakan waktu lambat, sedangkan orang sibuk dengan banyak pekerjaan merasa kekurangan waktu. Orang menderita merasakan waktunya panjang, orang bahagia merasa waktu berjalan terlalu cepat.

Waktu, sebagaimana hidup, memang seringkali diterima orang tanpa ucapan terima kasih dan dinikmati tanpa tahu persis bagaimana caranya. Maka benar sekali saran agar berkaca kepada pelari sprinter untuk mengerti arti rentang waktu seperseratus detik. Juga, bertanya kepada orang yang tertinggal kereta api atau pesawat terbang untuk tahu arti pentingnya satu menit.

Berarti atau tidaknya waktu dalam hidup ini juga sangat ditentukan oleh seberapa bisa manusia memaknai peristiwa-peristiwa yang mengisi waktu. Barangkali menarik untuk menyimak pernyataan pendiri Pakistan, Sir Muhammad Iqbal, di bawah ini.

“Aku menilai hari-hari, bulan dan tahun dari pengalaman yang mereka [hari, bulan, tahun] berikan untukku. Kadang aku terkejut mendapati bahwa satu saat peristiwa tertentu lebih berharga dibandingkan dengan waktu setahun penuh,” paparnya dalam Stray Reflections.

*) Dimuat di Bisnis Indonesia (www.bisnis.com) edisi 29 Desember 2009

23 Desember 2009

Di bawah bayang-bayang Sun Yat Sen


Patung Sun Yat Sen berdiri megah di salah satu sudut pelabuhan Qinzhou. Sekilas, patung setinggi 13,88 meter itu mirip dengan Patung Lenin yang ramai dirobohkan di beberapa sudut Rusia ketika Uni Soviet runtuh pada 1989.

Bila ditambah dengan penyangganya, keseluruhan patung Sun Yat Sen tersebut tingginya mencapai 29,68 meter. Untuk mencapai patung, pengunjung harus mendaki ratusan tangga. Kalau saya tidak salah hitung, terdapat 208 undakan yang harus dilewati untuk sampai ke patung itu.

Setelah melewati 96 undakan pertama, pengunjung akan sampai ke teras. Lalu 76 undakan kedua membawa pengunjung ke golden ding altar, kemudian 37 undakan terakhir mengantar ke patung. Dari posisi patung di ketinggian itu pengunjung bisa melihat gelaran Pelabuhan Qinzhou.

Sun Yat Sen yang lahir pada 1866 adalah bapak pendiri Republik Rakyat China atau China modern. Dia mendirikan partai Kuomintang dan menjadi pejabat presiden para tahun 1912 serta tahun 1923-1925.

Lalu mengapa ditempatkan patung Sun Yat Sen di sudut pelabuhan itu? Pengelola pelabuhan menyatakan bapak pendiri RRC itu pernah menulis dalam satu artikelnya pada 1915 bahwa Qinzhou suatu saat akan menjadi pelabuhan terbesar di China bagian selatan.

Kini, pemerintah China berupaya mewujudkan harapan Sun Yat Sen tentang Qinzhou, bagian penting bagi China selatan dalam hubungannya dengan Asia Tenggara.

Kota Qinzhou memiliki sejarah panjang, lebih dari 1.600 tahun. Pada tahun 420, kota ini dikenal dengan nama Songshojun, kemudian diubah menjadi Anzhou pada tahun 502. Sebelum tahun 1950, Qinzhou merupakan bagian dari Provinsi Guangdong. Akan tetapi, setelah masa transisi, pada 1965 Qinzhou resmi dimasukkan sebagai bagian dari Provinsi Quan Xi bersama dengan Nanning...

Selengkapnya ada di Bisnis.com

22 Desember 2009

Sulitnya mencari motor di China


China punya banyak kota besar dan memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Akan tetapi, sulit mencari sepeda motor di kota-kota besar di China. Yang mudah sekali kita temui adalah sepeda listrik, seperti betrix di Indonesia.

Ternyata ada banyak sekali pembatasan untuk motor yang membuat warga di sana tidak leluasa menggunakan kendaraan roda dua bermesin bensin itu. Kalau ketahuan melanggar aturan, didenda.

Saya menduga barangkali itu salah satu sebab mengapa motor China tidak bisa bersaing dengan motor Jepang. Lha di negaranya sendiri saja tidak bisa tumbuh, tidak banyak pengguna, jadi pasti tidak banyak feed back yang bisa ditangkap para pembuatnya.

Di sisi lain, ada pemanfaatan motor roda tiga yang bagi saya terkesan sangat cerdas. Di beberapa sudut kota Qinzhou di dekat laut China selatan, kita bisa mudah menemukan motor roda tiga yang dimodifikasi menjadi angkutan umum. Jadi fungsinya mirip bemo di Indonesia.

Ada atap yang lancip ke depan hingga melindungi si sopir. Di kotak bagian belakang ada kursi berhadap-hadapan. Ya persis bemo di Jakarta lah. Saya kira ini layak dicontoh di Jakarta. Mesinnya kecil, fleksibel, dan harganya murah. Serta lebih sehat daripada bemo dan bajaj.

Saya kira karena banyak penggunaan motor roda tiga di China maka motor roda tiga juga berkembang baik di Indonesia, lebih baik daripada motor China yang gagal bveberapa tahun lalu. Wallahu alam.

Foto: Motor roda tiga sebagai angkot

Bekal ke China: gula & tissue


Kalau berkunjung di China, jangan lupa bawa banyak tissue dan gula. Jika perlu bawa pula teh bagi yang gemar teh (serta rokok bagi perokok berat).

Demikianlah kesimpulan saya setelah sepekan menjelajahi beberapa kota di China selatan. Sebenarnya pada 2003 saya sudah pernah ke China selama beberapa hari. Tapi kesan kunjungan ke Shanghai ketika itu tidak seperti kunjungan enam hari pada pecan lalu.

Gula adalah hal penting bagi saya sehingga saya sudah menyiapkan gula dalam kemasan sachet dari Indonesia. Demikian pula dengan teh. Tidak demikian halnya dengan tissue.
Biasanya, hotel-hotel yang bagus menyediakan gula di kamar serta, minimal, di tempat sarapan. Namun pengalaman mengunjungi hotel Days Inn di Shenzhen, White Dolphin di Qinzhou, serta Metro Park di Makau, saya tidak menemukan gula di tempat sarapan.

Satu hotel lainnya, yaitu Mingyuan Xindu (Majestic) di Nanning menyediakan gula di tempat sarapan, namun saya menduga itu dilakukan karena hotel tersebut menjadi tempat menginap utama delegasi dari Asean sehingga mereka menyediakan gula serta makanan-makanan khas Asean di lokasi itu. Dalam keadaan normal saya menduga soal gula akan menjadi masalah yang sama di hotel Majestic itu.

***
Kesulitan yang sama juga terjadi dalam mendapatkan tissue. Bahkan di sejumlah restoran yang cukup besar pun kita akan kesulitan mendapatkan tissue. Setidaknya itu yang saya lihat di Guangzhou, Nanning, Shenzhen, serta Qinzhou. Ini hal yang sangat kontras dengan Indonesia. Kalau sudah begitu, ya kita pakai cara bar-bar saja, menjadikan taplak meja sebagai tissue.

Soal hemat tissue ini tampaknya bisa benar-benar menjadi masalah serius, terutama di toilet. Di hotel-hotel besar tissue toilet mungkin tidak menjadi persoalan. Akan tetapi kalau kita harus menempuh banyak perjalanan darat selama berjam-jam, mampir ke toilet-toilet umum, maka itu bisa menjadi masalah serius.

Agaknya orang-orang di sana benar-benar jorok. Air di toilet pun sangat amat minimnya. Benar-benar kacau.

Adapun soal rokok, saya justru setuju dengan gaya China. Rokok di kaki lima di berbagai lokasi di China itu sangat mahal. Ada yang dijual sampai 60 yuan (hampir Rp100.000). sedikit saja yang dijual di bawah 30 yuan (Rp45.000).

Mungkin itu sebabnya jumlah perokok di China tidak sebanyak di Indonesia. Lha gaji mereka tidak lebih baik daripada gaji orang Jakarta sementara harga rokoknya mahal banget. Mana mungkin mereka menghambur-hamburkan uang untuk merokok.

Ancaman (China) di balik kepalsuan*


Ajiek Tarmidzi sudah tidak sabar untuk segera berkunjung ke Lou Hu. Kunjungan ke salah satu sudut kota Shenzhen untuk mengamati batu giok, kain sutra, serta obat-obatan tradisional selama dua jam terasa begitu menyiksa baginya.

Ada apa di Lou Hu? Lou Hu adalah sebuah pusat perbelanjaan lima lantai di salah satu sisi kota Shenzhen. Di dalam pusat berbelanjaan itu kita bisa menemukan banyak sekali barang dagangan baik berupa barang elektronika, pakaian, sepatu, sepeda, hingga tas dan makanan.

Akan tetapi, barang yang paling menarik bagi Ajiek, yang membuatnya ingin segera sampai ke tempat belanja itu adalah 'iPhone' China. Dia sudah tidak sabar untuk membeli telepon seluler unik itu dengan harga sangat murah.

Ajiek hanyalah salah satu dari beberapa anggota rombongan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi)--yang sedang berkunjung ke China dalam rangka pertemuan Asean-China Young Entrepreneur Association Forum 2009--yang kebelet untuk memborong 'iPhone'.

Sebab, malam sebelumnya, beberapa anggota rombongan itu berhasil membeli iPhone, di Dong Men, sebuah pusat perbelanjaan lain di kota Shenzhen, dengan harga antara 260 yuan dan 300 yuan per buah atau Rp390.000--Rp450.000 per unit.

Fitur yang disediakan juga sangat menarik. Tampilan persis seperti iPhone buatan Apple, dan mampu menyediakan menu serta navigasi geser dan goyang yang mirip dengan iPhone kebanggaan Steve Jobs.

Ponsel 'iPhone' itu bahkan sudah dilengkapi pula dengan fitur Bahasa Indonesia dan bahasa lain di negara-negara Asia Tenggara.

Maka tak heran jika Ajiek dan beberapa anggota rombongan lain membeli beberapa unit 'iPhone' model China itu. Ternyata hasil tawar menawar Senin siang, 14 Desember, itu lebih 'sadis' dari pada tawar menawar hari sebelumnya. Pedagang di Lou Hu bersedia menjual dengan harga 250 yuan, lebih murah 10 yuan dibandingkan pedagang yang ditemui di Dong Men.

"Sebagai oleh-oleh untuk anak buah, kerabat, dan saudara ini sudah bagus sekali," ujar Jhonson Simbolon, pengurus Hipmi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang juga membeli beberapa unit 'iPhone' itu seperti halnya Ajiek.

Saking memesonanya 'iPhone' itu hingga menit-menit terakhir sebelum meninggalkan Shenzhen pun masih ada beberapa anggota rombongan menyempatkan diri membeli iPhone tiruan itu.

Selain menjual iPhone, para pedagang di Dong Men dan Lou Hu juga menjual ponsel berkelas seperti BlackBerry dan Vertu. 'BlackBerry Javelin' dengan tambahan fitur televisi analog bisa didapat dengan harga 460 yuan (sekitar Rp700.000), dan Vertu dapat dibawa pulang dengan 500 yuan (sekitar Rp750.000).

Fenomena 'iPhone' di atas memberi gambaran yang sangat jelas mengenai kemampuan China dalam meniru dan memasarkan produk tiruan itu dengan harga yang sangat rendah. Dalam kasus 'iPhone', konsumen bisa memperoleh produk dengan harga hanya 10% dari harga iPhone asli buatan Apple.

Kecepatan dan daya tiru China memang sudah diakui di segala penjuru. Kadangkala hanya diperlukan waktu seminggu untuk memalsu produk-produk dengan tingkat kerumitan tinggi.

Produk palsu pun seringkali sulit dibedakan dengan produk asli, seperti kata Alexander Theil, Direktur Investigasi General Motors Asia Pasifik. "Kami harus membongkarnya atau melakukan analisis kimia untuk mengetahui bahwa produk itu bukan produk asli," paparnya seperti dikutip Pete Engardio dalam bukunya Chindia.

Pemalsuan bukan hanya terjadi pada produk sederhana. Bahkan juga untuk antarmuka router buatan Cisco Systems. "Jika Anda bisa membuatnya, mereka bisa memalsukannya," kata David Fernyhough, Diretur Perlindungan Merek Hill & Associates Ltd Hong Kong, dalam buku tersebut.



***Terkait ACFTA

David Tampubolon, Wakil Ketua Panitia Hipmi Goes To China, mencoba mengaitkan fenomena 'iPhone' tadi dengan perjanjian perdagangan bebas Asean-China.

FTA Asean-China ini akan berlaku pada 2010 bagi China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, Singapura, dan Filipina. Adapun bagi Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam, perjanjajian itu dijadwalkan berlaku 2015.

David mengkhawatirkan membanjirkan produk murah dari China yang akan memukul para produsen di Indonesia. "Bayangkan, kalau mereka bisa menjual 'iPhone' dengan harga 300 yuan berarti biaya produksinya jauh lebih rendah lagi. Bagaimana kita bisa bersaing dengan produsen seperti itu?" tanyanya retoris.

Bagi negara-negara Asean termasuk Indonesia, FTA Asean-China bisa menjadi ancaman yang luar biasa. Di pusat perbelanjaan Lou Hu kita memang tidak hanya bisa melihat iPhone dan BlackBerry tiruan, melainkan juga bermacam produk bermerek palsu.

Daya tiru yang tinggi, digabungkan dengan kecepatan produksi yang luar biasa serta harga yang sangat murah, merupakan senjata ampuh bagi China.

Rasanya sangat mudah untuk memahami logika sederhana di atas. Repotnya lagi, ancaman itu menjadi lebih serius karena daya tiru, kecepatan produksi (time to market), serta harga murah itu juga kadang diiringi banyak kecurangan. Setidaknya itu yang tercermin dalam proses jual beli beberapa unit 'iPhone' yang saya amati di Lou Hu.

Membeli barang di sana haruslah sangat hati-hati. Bahkan pemandu kami, seorang wanita kelahiran Pulau Alor yang menetap di China sejak 1960, mewanti-wanti agar mencatat nomor seri uang yang diserahkan serta memastikan barang yang benar yang dimasukkan ke kemasan.

"Kadang mereka suka bohong soal jumlah uang yang sudah dibayarkan atau menuduh uang itu palsu," ujarnya.

Soal kecurangan bahkan juga sempat menimbulkan insiden kecil persis di depan konter check in penerbangan dari Shenzhen menuju Nanning, ketika seorang penjual 'iPhone' berupaya menipu salah satu anggota rombongan Hipmi.

Tampaknya fenomena 'iPhone' beserta liku-liku cara penjualannya benar-benar mewakili ancaman serius yang dibawa China. Siapa sanggup melawan?

*) Dimuat di Bisnis Indonesia edisi 21 Desember 2009
**) Foto: 'BlackBerry' China dan 'iPhone' China

10 Desember 2009

The Werther effect


Werther adalah sebuah karakter dalam novel karya Johann Wolfgang von Goethe. Dalam cerita Penderitaan Pemuda Werther, Goethe berkisah mengenai seorang pria cerdas, baik, lembut, mudah terharu, yang mengalami kehidupan tragis.

Setelah kegagalannya dalam karir, Werther yang muda mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan. Begitu dalam penderitaannya sehingga Werther memilih bunuh diri sebagai upaya mengakhiri tekanan batiniah.

Werther sudah menyatakan rencananya untuk membunuh diri sebagai bentuk ancaman bagi Lotte. Akan tetapi Lotte mengabaikannya. Werther pun menjalankan rencana bunuh dirinya dengan cara menembak kepala.

Cerita mengenai Werther ini dipublikasikan lebih dari 200 tahun yang lalu dan menjadi karya yang sangat digandrungi banyak orang. Namun, cerita yang sangat memikat ini juga dipersalahkan sebagai pemicu bagi sekitar 2.000 bunuh diri di kalangan remaja di Eropa.

Begitu kuatnya pengaruh tulisan Goethe itu sehingga dalam kajian mengenai bunuh diri dikenal Werther effect. Istilah ini digunakan untuk menyebut pengaruh tulisan atau pemberitaan yang memicu bunuh diri ikutan.

Pemerintah Inggris pernah melarang pemberitaan detil mengenai cara orang membunuh diri untuk menghindari apa yang disebut sebagai Werther effect itu.

Dalam kasus bunuh diri, pemberitaan dianggap sebagai faktor pendorong bagi orang-orang yang impulsif untuk mewujudkan rencana bunuh dirinya. Ada semacam peniruan setelah menemukan model, apalagi jika modelnya adalah orang ternama.

02 Desember 2009

BlackBerry 8120 memang nyaman


Sudah sejak lama saya mendengar kehebatan BlackBerry Pearl tipe 8120. Di milis pengguna BlackBerry, gadget ini sering dipuji sebagai handset yang kecil, ringan, keypad-nya super empuk. Ditambah lagi ada Wi-Fi.

Saya sudah membuktikan bahwa Pearl 8120 benar-benar peranti hebat. Ukurannya sangat mirip dengan 8100, bobotnya hanya 91 gram, dan keypadnya empuk sekali. Mungkin ini ponsel dengan keypad paling empuk yang pernah saya kenal.

Ada tambahan jenis huruf yang membuat tampilan teksnya jauh lebih enak dibaca daripada 8100. Begitu pula dengan tampilan browser. Enaknya lagi, harga Pearl jenis ini di bawah Rp2 juta. Bahkan harga bekasnya bisa di bawah Rp1,5 juta. Sejatinya, 8120 memang BlackBerry jadul. Sudah sulit sekali menemukan handset ini dalam keadaan baru di pasaran.

Hal yang mengkhawatirkan calon pengguna dari seri pearl adalah keypadnya yang tipe qwerty SureType. SureType hanya bisa dioptimalkan kalau ada basis data sesuai bahasa yang digunakan sang pemakai. Bagi konsumen Indonesia, perlu ada ‘suntikan’ basis data Bahasa Indonesia. Tanpa itu, SureType akan menyiksa. Dan untungnya, saya sudah berpengalaman dengan Pearl 8100 sehingga tidak canggung menggunakan 8120.

Masalah lain adalah baterai. Pengguna BlackBerry yang intensif hampir pasti butuh baterai cadangan. Sayangnya, baterai non-ori untuk tipe Pearl ini termasuk yang mahal dan jarang dijumpai. Ini berbeda sekali dengan bateri untuk BlackBerry 83xx Curve yang gampang sekali ditemui di toko-toko aksesoris ponsel.

Gambar: BB 8120 dari GSM Arena

01 Desember 2009

Gadget jadul tetap powerful


Jadul adalah singkatan dari jaman dulu. Ini akronim yang biasa dipakai anak gaul untuk menyebut produk atau fenomena yang ketinggalan zaman. Kadangkala anak-anak baru gede menuliskannya sebagai zadoel.

Gadget merupakan produk teknologi informasi yang memiliki siklus hidup relatif singkat sehingga cepat menyandang sebutan jadul.

Sebagai contoh, produk BlackBerry buatan Research In Motion dalam dua tahun terakhir mengalami siklus produk cepat sekali. Siklus yang cepat ditandai dengan penyediaan produk baru serta kejatuhan harga produk lama. Produk yang tersisih segera menjadi jadul.

Hingga pertengahan 2008, harga jual BlackBerry 8320, 8310, serta 8820 dan 8707v masih di atas rp6 juta. Ketika itu, pilihan bagi konsumen juga tidak banyak.

Setelah kehadiran BlackBerry Bold, harga jual produk di atas turun drastis. Harganya semakin tertekan setelah keluar produk Javelin yang kemudian diikuti dengan Gemini serta Onyx.

Sekarang, kita bisa mendapatkan harga untuk produk di atas pada kisaran harga di bawah rp3 juta untuk baru (meskipun sulit dan harus lewat distributor) serta di bawah rp2 juta untuk produk bekas.

Fungsi utamanya sebagai alat akses push e-mail, BBM, pesan instan, jejaring sosial, browser relatif sama saja dengan produk baru. Bagi mereka yang mengutamakan fungsi, saatnya untuk membeli BlackBerry edisi 2008 itu. Fungsinya dapat, sedangkan harga hanya setengah atau bahkan sepertiga dari model baru. Hanya saja, gensi serta beberapa fitur tambahan tidak bisa diperoleh.

Sejauh pengalaman dan pengamatan, alat-alat yang terkesan jadul itu juga masih sangat fungsional.

***Netbook
Contoh lain adalah netbook. Dalam satu tahun terakhir ini ada belasan tipe netbook yang diusung dengan belasan merek. Sebagian tergolong branded, sebagian lagi merupakan merek baru yang bermunculan dengan memanfaatkan popularitas produk notebook kecil nan murah itu.

Harga netbook baru masih bertengger di atas rp4 juta untuk branded dan di atas rp3 juta untuk merek yang kurang ternama. Harga ini relatif sama dengan harga waktu netbook pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2007. Waktu itu harga Eee PC 2GB masih di atas rp3 juta dengan layar 7 inci dan sistem operasi Linux Xandros.

Sekarang, kendati harganya sama, fitur yang diusung oleh netbook jauh lebih hebat. Layar lebih lebar, memori lebih besar, prosesor lebih cepat.
Apakah itu berarti sudah waktunya pemilik netbook generasi pertama untuk berganti ke netbook generasi mutakhir? Kesimpulan saya sejauh ini ternyata tidak perlu ganti.

Memang ada godaan besar sekali untuk berganti netbook. Akan tetapi, kalau benar-benar dikaji secara seksama, jika keperluannya hanya untuk mengolah kata atau mengisi waktu kosong di perjalanan, netbook generasi pertama masih memadai. Saya bahkan masih menggunakan netbook Asus versi 2GB dan sejauh ini baik-baik saja.

Produk jadul seringkali ketinggalan zaman, tapi masih banyak cara untuk mengoptimalkannya. Saya bahkan mengetik tulisan ini menggunakan produk sangat jadul, PDA iPaq 4355 yang pernah dipilih sebagai best product oleh PC Magazine pada 2004. Siapa takut mengoptimalkan produk jadul.

Gambar: iPaq 4350

19 November 2009

Mengimpikan klakson masa depan


Bulan lalu, selama hampir dua pekan saya tinggal di Bandung dan menggunakan sepeda onthel sebagai sarana transportasi utama ke sekolah anak, ke ITB, dan ke beberapa lokasi di sekitarnya.

Ini merupakan kesempatan tersendiri mengonthel sepeda jengki rata-rata 10 km sehari di jalan-jalan utama kota besar. Sepeda saya model jenki dengan keranjang di depan. Tidak punya klakson maupun lampu dim.

Sebagai alat transportasi tanpa mesin dengan kecepatan maksimal jauh lebih rendah dibandingkan kecepatan rata-rata kendaraan arus utama, sepeda memunculkan kendala tersendiri.

Saya berterima kasih kepada para pengguna mobil dan motor yang cukup sabar untuk memberi jalan serta toleran terhadap keterbatasan para pengontel sepeda.

Namun izinkan saya untuk juga menyampaikan kesebalan terhadap para pengguna motor dan mobil yang tidak sabaran, yang mudah sekali menyalakan klakson nan keras, suka menyalib lalu tiba-tiba berhenti, serta enggan memberi jalan kepada para penyeberang.

Selain sebagai pengonthel sepeda, saya juga pejalan kaki yang cukup setia. Dan apa yang dialami oleh pejalan kaki seringkali mirip dengan para pengonthel sepeda. Klakson yang mengagetkan, zebra cross yang kurang teperhatikan, serta pengendara yang kurangsabaran.

***Segala arah
Secara khusus saya ingin menyoroti klakson. Beberapa kali saya lihat orang-orang dengan mobil hebat, mewah, sangat tidak sabaran. Kena hambatan sedikit saja menyalakan klakson begitu keras, terus menerus, memekakkan telinga pejalan kaki yang tidak tahu menahu persoalan. Kadang menyalakan klakson yang suaranya seperti sirine atau seperti klakson polisi.

Penglakson yang berada di dalam mobil tertutup (sehingga suara dari luar teredam), berada di balik arah klakson (sehingga suara yang dia dengar tidak terlalu keras) sering tidak menyadari dampak sebuah klakson bagi pengendara sepeda onthel atau pejalan kaki. Klakson bisa sangat mengagetkan dan membuat panik. Padahal klakson itu belum tentu diarahkan kepada orang yang bersangkutan.

Klakson yang tersedia sekarang ini memang sifatnya menyebar (broadcast) sehingga jumlah pendengar yang tidak dituju lebih banyak daripada jumlah pendengar yang dituju.

Selain itu, sifatnya tidak timbal balik. Kalau si X mengklakson seseorang di jalan, kemudian si Y juga mengklakson, maka kita tidak bisa menyimpulkan apakah Y mengklakson si X atau mengklakson orang yang sama dengan yang dimaksud oleh si X.

***Klakson portabel
Karena sebal dengan klakson-klakson itu, saya punya ide mengenai klakson portable. Ini klakson yang bisa ditenteng oleh para pengonthel sepeda maupun pejalan kaki. Jadi, kalau dia sebal dengan penglakson yang ada di dalam mobil atau di atas motor, dia bisa klakson balik.

Paling tidak ini bisa mengatasi rasa tak berdaya sebagai pejalan kaki atau pengonthel sepeda yang tiba-tiba harus meloncat atau bermanuver sebagai reaksi atas klakson kendaraan yang lebih besar.

Kalau ada klakson portabel maka pejalan kaki bisa klakson balik. Klakson portabel—sebaiknya digabung dengan senter sehingga bisa menjadi lampu dim juga—harus mampu mengeluarkan suara keras sekeras klakson mobil supaya mereka yang ada dalam mobil tertutup bisa tetap mendengar.

Kalau produsen ponsel China tahu soal ini, saya kira mereka juga akan menambahkan fitur senter dan klakson ke dalam ponsel-TV-qwerty yang sekarang sedang populer itu, hehehe.

***Klakson terarah
Solusi lain adalah alat komunikasi yang terarah dan timbal balik sebagai gantinya klakson. Kalau saja mobil-mobil ini seperti ponsel dengan Bluetooth yang bisa mengenali mobil-mobil sekitarnya pada jarak tertentu, misalnya 100 meter, maka mereka bisa saling berkomunikasi.

Seandainya ada sebuah layar yang seperti radar 2 dimensi atau 3 dimensi yang menggambarkan kondisi riil di jalan. Jadi, kalau dia memencet klakson, cukup kendaraan yang dituju saja yang mendengar. Sama seperti kita kirim pesan dalam instant messenger. Orang-orang lain tidak perlu ikut bising. Bunyi pesan juga bisa diset agar tidak mengejutkan atau menyebalkan.

Tapi khusus untuk yang belakangan ini tentu saja masih butuh waktu lama dan biaya besar. Selain itu, ini hanyalah teknologi sampingan dari sebuah teknologi yang benar-benar baru mengenai cara komunikasi di jalan raya. Jika sebagai teknologi yang dikenbangkan sendiri, biayanya akan sangat mahal.

Jadi, untuk sementara, untuk mengobat kekesalan spikologi, yang diperlukan adalah suatu klakson potabel seperti senter. Bisa ditenteng, masuk saku, atau ditempelkan di tas, agar mudah dipencet. Wallahu alam.

PS: Solusi paling murah dan mudah, beli sempritan tukang parkir yang suaranya bisa kuerasss banget, hehehe.

15 November 2009

Pahlawan formal prosedural


Sutomo yang dikenal dengan nama Bung Tomo adalah ironi kepahlawanan di Indonesia. Cerita Sutomo juga cermin kalahnya kenyataan yang cetho welo-welo oleh prosedur formal yang berbelit.

Bung Tomo merupakan orator ulung dikenal sebagai penggerak arek-arek Surabaya dalam perjuangan melawan pasukan Sekutu yang didomplengi tentara Belanda pada November 1945. Dalam peristiwa itu, Brigjen Mallaby tewas dan pasukan Sekutu berhasil diusir dari Surabaya.

Peristiwa perlawanan rakyat Surabaya itulah yang menjadi dasar penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Akan tetapi, Bung Tomo baru diberi gelar resmi sebagai pahlawan nasional pada 2008, atau 63 tahun setelah peristiwa heroik di Surabaya dan 27 tahun setelah dia meninggal dunia.

Mengapa penetapan Bung Tomo sebagai pahlawan perlu waktu yang begitu lama? Konon karena banyak prosedur formal yang harus ditempuh sebelum seseorang ditetapkan sebagai pahlawan.

Untuk menjadi pahlawan nasional, seseorang harus diusulkan oleh sekelompok masyarakat, kemudian dibahas dulu dalam suatu seminar, lalu diteliti dan diusulkan berbagai instansi pemerintah seperti Badan Penelitian Pahlawan Nasional. Persyaratan prosedural formal itu baru terpenuhi pada 2008.

Sejarah, cerita rakyat, serta dunia pewayangan bertaburan dengan kisah kepahlawan menurut versi masing-masing. Dalam dunia pewayangan Jawa, terdapat beberapa tokoh yang dikenal sebagai pahlawan kontroversial seperti Karna dan Kumbakarna.

Karna adalah anak Kunthi, jadi merupakan saudara seibu dengan tiga ksatria Pandawa. Akan tetapi, sejak muda dia bergaul dengan para Kurawa. Dalam perang Baratayudha, Karna berpihak pada Kurawa, melawan adik-adiknya, Pandawa. Dalam perang Baratayuda, Karna yang berhasil membunuh Gatotkaca akhirnya tewas oleh senjata Arjuna, adiknya sendiri.

Adapun Kumbakarna adalah adik Rahwana dari negeri Alengka. Kumbakarna sebenarnya menentang langkah Rahwana menculik Dewi Shinta, istri Rama, yang menimbulkan sengketa besar. Akan tetapi, dalam perang antara Rahwana dengan Rama, Kumbakarna membela negerinya, Alengka, dari serbuan pasukan kera yang memihak Rama.

Karna dan Kumbakarna, sering digambarkan sebagai penganut nasionalisme fanatik sempit. Mereka berdua mengikuti prosedur formal sebagai rakyat yang harus membela negaranya. Padahal, membela negara dalam konteks kerajaan semacam itu seringkali identik dengan membela pemimpinnya, bukan membela rakyatnya.

“Benar atau salah yang penting prosedur [sebagai warga negeri pewayangan] terpenuhi,” begitulah barangkali dasar berpikirnya, seperti ditafsirkan seorang rekan yang sangat cerdas di milis Lulusan TF-ITB.

Penyederhaan birokrasi
Dalam organisasi, prosedur diperlukan untuk memastikan bahwa semua upaya berlangsung objektif, terbebas dari kepentingan dan kelemahan pribadi-pribadi yang terlibat. Akan tetapi, prosedur yang terlalu banyak sering membuat lumpuh organisasi.

Penerapan tertib prosedural kadang membuat proses organisasi berjalan lambat. Harapannya, proses akan berlangsung lebih cermat, akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan. Sialnya, harapan ini sering hampa.

Negara adalah sebuah organisasi sangat besar. Dan akumulasi prosedur yang ada dalam birokrasi sebuah negara bisa besar sekali. Schumatcher dalam Kecil itu Indah memberi gambaran bagus sekali mengenai tidak nyamannya tumpukan prosedur dalam sebuah birokrasi.

“Tidak ada orang yang menyukai organisasi besar. Tidak ada orang yang suka menerima perintah dari orang yang menerima perintah dari seorang kepala yang juga menerima perintah dari kepalanya yang menerima perintah pula. Kalaupun peraturan-peraturan yang dibuat oleh birokrat itu sangat berperikemanusiaan, tak ada orang yang suka diatur oleh peraturan—artinya oleh orang yang kalau ada keluhan selalu menjawab: Saya tidak membuat peraturan. Saya hanya melaksanakan peraturan,” paparnya.

Dalam konteks ini Schumatcher memandang birokrasi yang ruwet sebagai hambatan bagi terobosan, kemajuan, dan inovasi. Banyak pemborosan yang terjadi karena prosedur birokrasi yang rumit. Banyak energi terbuang, uang terhambur, sumber daya tersia-sia.
Krisis hukum yang mencuat belakangan ini, serta ancaman kelangkaan pupuk seperti yang diberitakan Bisnis edisi 11 November, tak lepas dari kerumitan prosedur formal. Dalam dunia yang semakin kompleks ini, slogan ‘benar atau salah ikut prosedur formal’ tampak sudah tidak relevan lagi.

Kita butuh pahlawan model baru, mereka yang dapat mengurangi kerumitan hidup rakyat, mampu menyederhanakan beragam prosedur tak perlu yang harus dihadapi rakyat ketika berhadapan dengan birokrasi negara.

Mampukan partai politik dan lembaga-lembaga formal di Indonesia melepaskan diri dari belitan prosedur dan birokrasi sebagaimana lembaga swadaya masyarakat, elemen-elemen masyarakat madani, serta media massa belakangan ini?

Debirokratisasi mungkin terkesan usang, tapi tetap relevan. Pasti menggembirakan kalau ada pahlawan baru yang sanggup menerapkan slogan lama KISS alias keep it simple, Smart!

*) Foto di Tokyo, tempat perdana menteri Jepang biasa memberikan pidato penting
**) Tulisan ini semacam manivesto dari seorang yang baru saja diingatkan oleh seorang mantan menteri mengenai visi lamanya waktu mahasiswa: “akhirnya jadi Presiden”.

08 November 2009

Mencuci sendiri


Sekar yang baru saja berulang tahun ke-5 begitu mendiri. Dia mencuci piring sendiri atas inisiatifnya sendiri. Semoga Sekar menjadi manusia yang cerdas, pintar, sehat, cantik, beruntung, berbakti, dan bahagia.

03 November 2009

Bila Trunojoyo merasa dicatut*

Cerita tentang Trunojoyo adalah kisah tentang sadisme. Kisah Trunojoyo juga merupakan cerita tentang pembantaian ribuan ulama penjaga moral bagi bumi pertiwi. Trunojoyo yang kemudian bergelar Panembahan Maduretno adalah seorang pemberontak besar dan pahlawan pada zamannya. Dia melawan kekuasaan Raja Mataram Amangkurat I, anak Sultan Agung sekaligus cucu Panembahan Senopati. Hebatnya, Trunojoyo berhasil mengalahkan Amangkurat I yang kemudian meninggal dunia dalam pelariannya di Tegalwangi sehingga sering pula disebut sebagai Amangkurat Tegalarum. Trunojoyo menentang kekuasaan Amangkurat I dengan dukungan Karaeng Galesong dan Pangeran Giri. Ulama besar Buya Hamka dalam bukunya Dari Perbendaharaan Lama, menyebut Trunojoyo sebagai pemimpin perang sabil. Untuk menghadapi Trunojoyo, Amangkurat I menggandeng VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dengan menyediakan imbalan 250.000 rial dan 3.000 pikul beras. Karena perang lebih lama dari perkiraan, Amangkurat harus menambah lagi 20.000 rial. Dan sejak itu VOC dibebaskan dari biaya cukai memasukkan barang ke seluruh pelabuhan di Jawa, serta berhak mendirikan loji (kantor) di berbagai lokasi. Amangkurat II sebagai penerus Amangkurat I berkoalisi dengan VOC dan Aru Palaka. Mereka berhasil memukul balik Trunojoyo. Kapten Yonker, orang Ambon yang jadi pemimpin pasukan Belanda, dapat menangkap Trunojoyo di Gunung Kelud pada 27 Desember 1679. Yonker berjanji akan memperlakukan Trunojoyo sebagai tawanan perang. Namun apa daya, Amangkurat II justru memilih cara sangat sadis untuk menghabisi Sang Pahlawan. Hukuman mati terhadap Trunojoyo juga diikuti dengan hukuman mati terhadap Pangeran Giri beserta ribuan ulama penjaga moral di Jawa. Seperti kita tahu, Giri sejak zaman akhir Majapahit hingga awal berdirinya Mataram adalah otoritas keagamaan yang paling disegani di Jawa. Hamka menyebutkan Yonker yang kecewa dengan perlakuan Amangkurat II terhadap tawanannya akhirnya berkomplot menentang VOC dan 10 tahun kemudian dia dihukum mati di Batavia. Babad Tanah Jawi mengungkapkan betapa sadis perlakuan Amangkurat terhadap tawanannya yang pernah memberontak itu. Tubuh Trunojoyo hancur dihujani keris oleh puluhan orang, lalu jantungnya dibagi-bagikan untuk dimakan mentah-mentah oleh para kerabat raja. Kepalanya dipenggal, dijadikan alas kaki untuk para abdi dalem, kemudian dihancurkan. Amangkurat lalu menyerbu Giri dan membunuh ratusan santri yang mendukung Pangeran Giri dan Trunojoyo. H. J. De Graaf menyebutkan bahwa pembunuhan ribuan ulama dan santri mula-mula dilakukan oleh Amangkurat I yang memicu banyak ketidakpuasan terhadap kepemimpinannya. Putra Mahkota (yang kemudian menjadi Amangkurat II) bersekutu dengan Trunojoyo untuk menyingkirkan Amangkurat I. Langkah ini berhasil menggulingkan Amangkurat I, namun Putra Mahkota ingkar janji dan kemudian berselisih dengan Trunojoyo. Dan pembunuhan terhadap para ulama tetap terjadi pada pemerintahan Amangkurat II. ***Melawan penguasa Baik versi De Graaf, versi Hamka, maupun Babad Tanah Jawi, menggambarkan Trunojoyo sebagai seorang pemberani. Dia sanggup melawan otoritas tertinggi di wilayahnya, baik otoritas politik berupa Raja Mataram maupun otoritas ekonomi bernama VOC. Trunojoyo sempat berhasil secara gemilang meskipun kemudian kalah telak. Namanya pun diabadikan sebagai pahlawan di negara yang terbentuk 266 tahun setelah dia meninggal... *) Dimuat di Bisnis Indonesia, edisi Selasa 03 November 2009, Halaman 8.

02 November 2009

Kacamata di kakilima


Satu lensa kacamata saya pecah ketika liburan Lebaran yang baru lalu. Itu membuat saya terobsesi untuk melihat-lihat banyak alternatif dalam soal perkacamataan. Selama lebih dari 15 tahun berkacamata, ini adalah pengalaman paling intens berurusan dengan tukang kacamata.

Saya ingat zaman mahasiswa. Setiap kali berurusan dengan kacamata selalu meluncur ke jl ABC, Bandung. Urusan frame di tangan kaki lima, sedangtkan lensa di toko optik dekat situ.

Nah, kali ini pun saya kembali ke Jl ABC. Saya mengganti lensa, tarifnya di toko optik di situ paling murah Rp80.000 dengan waktu pengerjaan dua jam.

Ketika saya jalan-jalan tanya ke kaki lima, tarifnya hanya Rp50.000 dengan waktu pengerjaan seperempat jam. Bedanya kaki lima tidak punya tempat untuk pengetesan memastikan mata ini minus berapa. Kalau kita sudah punya data akurat tentang mata, enak banget ke kaki lima itu. Dengan uang Rp80.000 sudah bisa dapat frame bekas dengan lensa baru sampai minus empat.

Di kaki lima itu frame-frame baru dalam berbagai macam merek juga tersedia. Ada Oakley, Tag Heuer, dan sebagainya. (Palsu kali ya?). Harganya murah sekali. Salah satu kacamata dengan tulisan Oakley dipasarkan dengan harga Rp125.000 sudah termasuk lensa hingga minus empat. Sementara itu, frame-frame di toko dipasarkan dengan harga umumnya di atas Rp150.000.

Saya juga sudah bandingkan dengan toko optik di Cibinong. Di Jl ABC Bandung jatuhnya lebih murah dengan kualitas pengerjaan yang –-berdasarkan pengalaman acak—-jauh lebih baik.

Jadi, kalau tidak banyak ngurus gengsi, tidak butuh frame ringan, tidak butuh lensa dengan spesifikasi aneh-aneh, bisa mempertimbangkan penjual kacamata di kakilima ini. Mereka ramah-ramah, harganya murah, pelayanan cepat. Tapi sabar saja, menunggunya sambil berkeringat karena udara kadang panas dan tanpa AC, hehehe.