22 Maret 2010

Menghargai kemalasan & kelambatan


Jagad raya beroperasi mengikuti asas tindakan terkecil atau the principle of least action. Dalam segala hal, alam ini memilih pelepasan energi sekecil mungkin, sehemat mungkin.

Itu merupakan prinsip dasar yang disepakati oleh para ahli Fisika. Air mengalir ke posisi yang lebih rendah, lintasan dari bola yang dilempar ke udara tidak berkelok-kelok, semua mengikuti prinsip tersebut.

Berdasarkan prinsip itu, Fred Gratzon menafsirkan jagad raya sebagai pemalas dan menyukai serta mendukung kemalasan. Alam tidak menyukai kerja keras. Kerja keras hanya menghasilkan stress dan penderitaan. Kemalasanlah yang akan berbuah sukses.

Begitulah Gratzon mencoba membalik cara berpikir yang telah turun-temurun disepakati di sebagian besar belahan dunia bahwa kesuksesan adalah buah kerja keras. Buku Malas Tapi Sukses (The Lazy Way to Success) adalah penjelasan mengenai pandangan yang berada di luar arus utama itu.

Menurut dia, bekerja adalah hal yang tidak alamiah. Serangan jantung, sakit kepala, kemacetan, keluarga tidak harmonis, insomnia, pola makan tidak teratur, adalah buah dari kerja. Bekerja, bagi Gratzon, adalah pangkal dari berbagai jenis penderitaan.

Jalan terbaik untuk menjalani hidup, katanya, adalah malas. Dunia menjadi maju justru karena orang malas, bukan karena bekerja keras. Orang mendapatkan cara-cara yang lebih efisien, kreatif, menghasilkan banyak penemuan, justru karena menghindari kerja keras.

Akan tetapi, malas bukan berarti tidak melakukan apa pun. Gratzon memaknai kerja sebagai kegiatan yang didasarkan keterpaksaan, menimbulkan stress, tekanan jiwa, memicu penyakit jantung serta depresi. Sebagai lawan dari itu, kemalasan dimaknai sebagai mengerjakan sesuatu dengan kegembiraan, cinta, sepenuh hati, sebagaimana orang sedang menjalani permainan.

Orang akan sukses bila melakukan kegiatan berdasarkan kegembiraan dan suka cita serta cinta, dan tidak akan sukses jika bekerja dalam keadaan tertekan.

Oleh sebab itu, sebagai cara untuk mengubah kemalasan menjadi sukses adalah dengan melakukan apa yang menjadi panggilan jiwa. Gratzon mengajukan usul mengenai bagaimana mengenali panggilan jiwa atau panggilan kehidupan, bagaimana menangkap ilham-ilham jenius lewat kemalasan, mencari keberuntungan, bagaimana berdamai dan memaknai kegagalan agar dapat diubah menjadi sukses, dan berbagai trik lain yang dianggapnya identik dengan kemalasan.

Pada ujung belakang, dia mengajukan banyak paparan mengenai perlunya yoga dan meditasi untuk menangkap ilham dan menghayati kemalasan.

Buku Gratzon ini tampil unik dengan banyak ilustrasi yang digarap apik oleh Lawrence Sheaff. Buku ini banyak mengajukan pertanyaan menggugah yang terkait dengan kerja keras, kemalasan, serta implikasi-implikasinya terhadap kehidupan. Sayangnya, tidak semua pertanyaan itu dijawabnya dengan memuaskan. Salah satu yang bagi saya agak mengganjal adalah soal bagaimana menemukan panggilan hidup.

****Cara lambat
Buku tulisan Gratzon itu senada dengan buku In Praise of Slow karya Carl Honore. Sama-sama mengajukan premis yang bertentangan dengan pandangan arus utama. Jika Gratzon membahas soal kemalasan sebagai lawan kerja keras, Honore membahas soal perlunya kelambatan sebagai lawan dari sikap serba terburu-buru serta pandangan bahwa ‘lebih cepat lebih baik’.

Honore memamparkan perlunya orang menghentikan sikap tergesa-gesa karena ketergesaan telah menimbulkan banyak sekali penderitaan dan bahaya yang tidak perlu.

Beberapa hal yang menurut dia jelas-jelas perlu dilakukan dengan lebih lambat adalah makan, membangun kota, pengobatan, dan sex. Dia juga mengajukan usul tentang perlunya orang bekerja lebih santai, mengoptimalkan waktu luang, serta tidak menggesa pertumbuhan anak-anak.

Akan tetapi, Honore mengingatkan bahwa lambat tidak sama dengan pelan. Lambat dalam versi Honer, saya kira lebih dekat dengan jenak atau tuma’ninah dalam melakukan aktivitas.

Honore memaknai cepat sebagai sibuk, agresif, bergegas, analitis, penuh tekanan, dangkal, tak sabar, aktif, kuantitas mendahului kualitas. Adapun lambat dimaknai sebagai kebalikannya: tenang, hati-hati, reseptif, diam, intuitif, tidak tergesa-gesa, sabar, reflektif, dan kualitas mendahului kuantitas. Lambat juga berarti menjalin hubungan yang nyata dan berarti dengan orang lain, dengan budaya, dengan pekerjaan, makanan, dan segalanya.

Nah, kita selalu mengeluh kehabisan waktu, tetapi masih banyak menghabiskannya untuk menonton televisi. Setiap saat harus mengecek BlackBerry yang mengirimkan ratusan email dan notifikasi jejaring sosial. Alat ini seolah membuat segala hal menjadi urgent (mendesak) untuk dijawab dan diselesaikan. Bangun tidur harus mengecek jam dan memastikan deadline tidak terlewati. Hidup terasa begitu gaduh dan serba kepepet. Di era yang sangat tergesa-gesa seperti saat ini, membaca dua buku di atas tentulah sangat menarik.

Dua buku di atas memberikan saran yang sama bagi upaya membangun ketenangan: meditasi dan yoga.

Saya kira, bagi muslim, jawabannya justru lebih mudah: sholat yang khusyu’ dan tuma’ninah. Embuhlah kebenarannya.

'Mengeksploitasi' beta


Beta adalah huruf kedua dalam alfabet Yunani. Dalam jagad teknologi informasi, versi beta biasa digunakan untuk menyebut produk yang belum sepenuhnya jadi. Versi beta merupakan penyempurnaan dari versi alfa yang berupa bentuk awal sebuah produk. Versi beta adalah perbaikan dari versi alfa namun masih mengandung berbagai kelemahan.

Produk versi beta sudah siap digunakan tetapi dalam skala terbatas. Fungsinya dapat bekerja namun belum maksimal. Versi alfa dan beta merupakan tahap menuju produk final.

Google Inc, salah satu perusahaan global yang berkembang paling pesat dalam 12 tahun kehadirannya, memiliki hubungan sangat erat dengan huruf kedua abjad Yunani itu.

Perusahaan yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin itu, secara khas, selalu meluncurkan produknya dalam versi beta. Produk hebatnya yang mengguncang dunia, termasuk Google Maps dan Google Mail, dilepas ke pasar dalam versi beta. Dan uniknya, tidak jelas kapan status beta dari produk-produk itu dicabut untuk diganti dengan versi final.

Oleh sebab itu, di Silicon Valley berkembang guyonan tentang Google dan versi beta ini: Produk Google akan selalu beta untuk selamanya.

Kita bisa tengok Google Maps dan Google Earth yang diperkenalkan pertama pada 2005 dan kini digunakan sangat luas dan mencakup hampir seluruh permukaan bumi. Sudah banyak sekali aplikasi yang dibangun oleh orang dan perusahaan di luar Google memanfaatkan Google Maps. Tidak jelas kapan status beta pada produk ini dihapuskan.

Begitu pula dengan Google Mail yang diperkenalkan kepada publik pada 1 April 2004. Produk web mail gratis itu awalnya hanya dapat dinikmati mereka yang mendapat undangan. Kehadirannya yang disertai kapasitas penyimpanan pesan hingga ratusan kali lipat di atas penyelenggara lainnya ketika itu, mengguncang pasar web mail. Belakangan, fitur ini dapat dinikmati tanpa undangan.

“Beta adalah cara Google untuk mengatakan bahwa mereka perlu meminta maaf. Itu cara Google untuk mengatakan: pasti ada kesalahan di sini, tolonglah kami dalam menemukan dan memperbaiki untuk meningkatkan kualitas produk,” papar Jeff Jarvis dalam buku What Would Google Do.

Belakangan ini kita dikejutkan oleh Buzz, sebuah beta baru dari Google. Fitur yang dalam beberapa hal mirip dengan Twitter dan dalam hal lain mirip Facebook ini otomatis dapat dinikmati oleh pengguna Gmail dan Gtalk. Tidak banyak gembar-gembor di sekitar hadirnya Buzz, akan tetapi banyak harapan dan kecemasan terhadap fungsinya sebagai microblog maupun jejaring sosial.

***Kesalahan dan inovasi
Izin untuk membuat sesuatu yang keliru adalah rumus inovasi. Tanpa keberanian berbuat salah, tak akan ada inovasi yang dapat dihasilkan. Kultur inovatif itulah agaknya yang ingin dibangun Google di kantor pusatnya, Googleplex.

Google, yang sering menjadi kata pertama bagi banyak orang yang baru mengenal Internet, memiliki aturan yang unik dalam mengelola inovasi. Mereka menyebutnya sebagai Aturan 20%. Para insinyur Google diberi keleluasaan untuk menyisihkan 20% waktunya untuk proyek pribadi yang bebas.

Krisna Bharat, seorang insinyur Google yang memang sejak kuliah keranjingan berita dan terobsesi membuat surat kabar gaya baru, berusaha mengembangkan gagasan memanfaatkan 20% waktu kerjanya. Ternyata konsepnya menarik minat Page dan Brin sehingga mendapat dukungan untuk menjadi salah satu produk unggulan yaitu Google News.

“Jatah waktu 20% sejak awal ditujukan untuk eksplorasi. Orang jadi produktif saat mengerjakan sesuatu yang menurut mereka penting, temuan mereka sendiri, atau sesuatu yang mereka untungkan,” papar Bharat seperti dikutip The Google Story karya David A Vise dan Mark Malseed.

Dan terbukti, Google memperoleh banyak keuntungan dari aturan ini. Suatu ketika, CEO Google Eric Schmidt berkata bahwa dia sudah tidak punya ide lagi untuk pengembangan produk baru. “Tampaknya semua gagasan produk Google berasal dari aturan 20% itu,” ujarnya seperti dikutip Don Tapscott dalam Wikinomics.

Di tengah kompetisi yang kian kuat, time to market menjadi masalah penting, Alih-alih menanti kesempurnaan suatu produk yang entah kapan terwujud, Google lebih suka melemparkan ke pasar, memanfaatkan wisdom of the crowd untuk mendapatkan produk yang baik.

Ada kata-kata legendaris dari pemimpin Google soal kesempatan untuk mencoba dan salah. “Tolong gagallah dengan cepat, agar kamu dapat segera mencoba lagi,” papar Schmidt suatu ketika.

Jadi, seperti nasihat Jarvis, Google adalah contoh bagaimana mengelola sebuah kesalahan secara tepat. “Hidup adalah sebuah beta,” tandasnya.

*) Dimuat di Bisnis Indonesia edisi Minggu, 21 Maret 2010, hal 11: Korporasi

18 Maret 2010

Serba tiga dari Pak KK


Pertengahan Februari lalu saya mendapat kesempatan ngobrol dengan Pak Kusmayanto Kadiman (KK, Kus). Senang sekali mendapat kesempatan menengok kantor beliau setelah tidak lagi menjadi menristek.

Sebagai orang yang merasa tidak sukses ketika kuliah, saya merasa bahwa bertemu dosen atau mantan dosen selalu membuat gugup alias ‘menakutkan’. Akan tetapi tidak demikian bagi saya ketika menemui Pak Kus. Gaya Pak Kus sama sekali tidak terasa mengintimidasi. Betapa mengasyikkan ada kesempatan bertemu mantan dosen tanpa merasa terbebani. Dalam jangka satu pekan saya mendapat kesempatan dua kali bertemu.

(Untungnya lagi, dulu saya tidak pernah mengambil mata kuliah yang diajar Pak Kus. Jadi, setidaknya, beliau, dulu, barangkali, tidak sempat menyadari betapa bodohnya saya. Dulu, kalau secara tak sengaja sedang bimbingan ke Pak Deddy di Ganesha 15 lalu ketemu Pak Kus, saya suka grogi dengan celetukan-celetukannya, hehehe)

Dari cerita ngalor-ngidul yang diselingi Jumatan dan makan siang pada Februari itu, ada banyak hal menarik terungkap. Salah satunya soal pola perjalanan karier mantan rektor ITB dan mantan dosen Teknik Fisika itu. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai siklus tiga tahunan. Hampir semua karier Pak Kus hanya dijalaninya dalam waktu tiga tahun (kuliah tidak termasuk). Setiap tiga tahun ganti jabatan atau bahkan pekerjaan.

“Saya tidak tahan lama di suatu tempat. Baru jadi Menteri ini saja, saya bisa tahan sampai lima tahun. Lainnya paling lama tiga tahun,” akunya. Dan beginilah bagian cerita lainnya:

***
Pak Kus menyelesaikan kuliah S1 di Teknik Fisika ITB selama 4,5 tahun. Menurut Pak Kus, proses ini tidak bisa tiga tahun karena programnya memang sepanjang itu. “Target saya waktu itu adalah tepat waktu. Yang penting tidak ngulang (mata kuliah). Nilai tidak masalah. Nilai saya tidak fantastis. Semua nilai, kecuali E dan F, pernah saya alami.”

Sekolah S2 dan S3 ditempuh dalam waktu 4,5 tahun, tetapi di dua tempat. Dua tahun di Sydney, dua setengah tahun di Canberra karena profesornya pindah kampus. “Profesornya pindah saya ikut pindah.”

Pak Kus pulang dari luar negeri, Februari 1988. Sebentar kemudian ditunjuk jadi pelaksana tugas PINK (Pascasarjana Instrumentasi dan Kontrol, Teknik Fisika ITB). “Murid angkatan pertama program itu salah satunya Suharna (Menristek saat ini).”

Menjelang tiga tahun, yaitu pada akhir 1989, Pak Kus diusulkan untuk menjadi direktur Pusat Komputer ITB. “Saya tadinya mau nolak. Dengan halus saya bilang, kalau digabung Piksi dan Puskom saya mau. Satu teknologinya satu pendidikannya,” kata Pak Kus.

“Sombong sekali kamu,” kata Pak Arifin Wardiman yang mengusulkan nama Pak Kus kepada Rektor ITB.

Usulan pak Arifin itu disetujui Pak Wiranto Arismunandar, rektor ITB saat itu. Pak Wiranto sudah mengenal Pak KK melalui Pak Saswinadi yang dianggap guru oleh Pak KK. (Cerita tentang hubungan Pak Sas dan Pak KK dapat dibaca dalam buku Bentang Ego Alunkan Simfoni)

"Kus, Senin kamu saya lantik pimpin gabungan Puskom dan Piksi,” kata Pak Wiranto.

Pak Arifin tidak mengizinkan Pak Kus keluar dari PINK. “Waduh, gaji kecil, kerjaan banyak sekali, tidak ada proyek. Tapi ya itu pengabdian.”

Tugas sebagai Direktur Piksi dan Puskom selesai dalam tiga tahun, berakhir pada 1993. “Saya tidak mau terus jadi Ketua Piksi karena saya merasa miskin. Saya tidak punya rumah. Kasih saya rumah deh Pak,” pinta pak Kus ke rektor.
“Enggak bisa Kus, kamu telat lahir,” kata Pak Wiranto.

Lalu bergilah pak KK ke swasta selama 3 tahun. (cerita tentang ini juga ada di buku BEOS)

“Tiga tahun kurang dua minggu saya menghadap ke Wiranto (rektor). Saya sudah punya rumah, punya BMW, mercy dan tabungan dalam dollar. Kembali ke kampus saya membangun Laboratorium Kontrol (labkon, di Teknik Fisika).”

Baru dua tahun memimpin labkon, pak Kus diminta rektor untuk pegang Pusat Pengembangan Teknologi (PPT). “Enggak jelas mau ngapain ini. Akhirnya saya pilih teknologi untuk mendukung teknologi seni rupa karena banyak yang jago di situ. Itu sampai 1997, belum 3 tahun.”

***Menjadi rektor
Berikut ini kutipan langsung cerita Pak Kus tentang proses menuju kursi rektor ITB.

“Pak Lilik Hendrajaya (rektor) minta saya jadi sekretaris rektor. Saya bilang prek dengan nama jabatan, yang penting apa tantangannya. Tantangannya membangun kerja sama internasional. Deal, jadi ada dua sekretaris. Sekretaris rektor bidang dalam negeri dan kehumasan yaitu Pak Doddy Abdasah. Saya pegang international cooperation. Saat itulah ITB mulai masuk ke Asia Uninet, Unet, membangun network di Asean, Eropa, dan sebagainya.

Tetapi kesalahan saya anak muda yang penuh semangat tidak pandai membuat bahwa sukses itu adalah sukses pimpinan.

Sebagai anak buah harusnya saya membuat sukses saya adalah sukses pimpinan. Lalu kantor saya mau ditutup dengan cara bujet ditekan jadi nol.

Pada 2001 saya ditawari jadi pembantu rektor 4 tetapi saya tolak karena saya mau maju jadi rektor. Saya ingin jadi rektor termuda, rektor pertama dan satu-satunya tanpa professor, rektor pertama sejak BHMN.

Nah, tahun 2001 itu jadi golden bagi saya. Untuk mengejar itu, saya belajar bagaimana pede, bagaimana pidato. Sampai ikut kursus-kursus pidato, di Jakarta. Saya iku program basic, advanced, serta leadership selama 3 bulan.

Di situ saya berani tampil. Arogansi dikurangi tanpa mengurangi pede. Walaupun orang bilang saya tetap arogan. Tapi menurut saya itu sudah berkurang banyak dibandingkan dulu.

Saya jadi pede, berani pidato. Dulu tdak berani kalau tidak pegang kertas di depan publik. Sekarang, alhamdulillah, bicara dua jam tanpa teks, hayo.

Tahun 2001 majulah saya jadi rektor. Ketika 15 besar saya no 7, dari 5 besar saya nomor 3, dari 3 besar saya nomor 1. Saya jadi rektor tidak lebih dari 3 tahun. Persisnya 3 tahun kurang 2 minggu, dari 9 Nov 2001-22 Oktober 2004.

Jadi angka tiga itu jarang saya lewati.

16 Maret 2010

Belajar loyal lewat randha royal

Di daerah Jawa Tengah dan Yogya, ada penganan yang diberi nama randha royal. Randha royal adalah tape singkong yang digoreng dengan balutan tepung terigu, mirip dengan pisang goreng tepung.

Sebagaimana pisang goreng, makanan semacam ini sangat enak dinikmati dalam keadaan hangat bersama teh manis panas atau kopi sambil duduk bersantai.

Royal dalam bahasa Indonesia, mungkin adopsi dari bahasa Jawa, sering didefinisikan sikap murah hati, mau berderma, tidak banyak menghitung-hitung dalam pemberian. Orang yang royal adalah pemurah yang siap mendermakan banyak hal untuk orang lain. Itu sisi baiknya. Sisi buruknya, royal juga berarti boros dan dekat dengan istilah obral.

Entah mengapa makanan tape goreng itu diberi nama randha alias janda, dan digabung dengan kata royal alias siap mengobral harta bendanya. Saya tidak berhasil menemukan arsip yang menjelaskan asal-muasal penamaan makanan itu.

Dalam Bahasa Inggris, kata royal digunakan untuk menyebut kerabat kerajaan dan hal-hal yang terkait dengan kerajaan, memiliki kesan kemegahan serta kemewahan.

Meski berbeda-beda, kata royal paling tidak mengesankan orang atau pihak banyak harta yang tampil megah, cenderung boros, dermawan, dan rela memberikan harta benda kepada orang atau pihak lain.

Lalu bagaimana hubungan antara royal dan loyal yang hanya berbeda 1 huruf itu?

Loyalitas sering dimaknai sebagai kesetiaan, kesediaan untuk berbuat senasib sepenanggunangan, bersama-sama dalam suka dan duka. Akan tetapi, berbeda dengan kesetiakawanan, dalam loyalitas ada unsur subordinasi antara pihak yang loyal dengan pihak yang menerima loyalitas. Pada zaman Orde Baru dulu, ada istilah monoloyalitas pegawai negeri sipil. Istilah itu merujuk pada keharusan bagi pegawai negeri sipil dalam menentukan pilihan politik.

Nah, di sanalah ada pertemuan antara royalitas dan loyalitas. Sikap royal hanya dapat dilakukan oleh pihak yang memiliki banyak sumber daya alias superordinat, sementara sikap loyal dipersembahkan oleh subordinat. Pihak superordinat dapat memilih bersikap royal dengan harapan mendapatkan sikap loyal dari subordinat.

Di dalam politik, lazim ada trade off yang sering diterjemahkan sebagai dagang sapi. Suatu pertukaran. Praktik-praktik politik yang terjadi saat ini barangkali terlalu kasar untuk disebut sebagai dagang sapi.

Akan tetapi, pernyataan-pernyataan para pemuka partai terkait dengan koalisi dan kondisi politik terkini mengindikasikan ada kaitan antara loyalitas dan royalitas dalam pembagian kue kekuasaan.

***Mencederai loyalitas
Bagi seorang pemimpin, loyalitas bawahan jelas menjadi hal penting untuk bisa menjalankan organisasi. Tanpa loyalitas, organisasi tidak bisa berjalan dengan efektif. Tidak mengherankan apabila seorang presiden mengingatkan soal loyalitas itu ketika melantik para menteri dalam kabinetnya.

Agaknya, belakangan ini loyalitas para pembantu presiden --yang kebetulan mendapat mobil dinas berupa Crown Royal Saloon--sedang diuji. Menarik untuk mencermati apakah sikap keras partai mitra koalisi, khususnya Golkar, PKS, dan PPP, dalam menyikapi kasus bailout Bank Century bisa dianggap mencederai loyalitas.

Banyak pengamat berpendapat koalisi sudah sangat rapuh. Tak sedikit pula usulan reshuffle serta penyusunan ulang peta koalisi. Pada intinya, dengan bahasa trade off, secara tak langsung banyak usulan untuk menimbang kembali pertukaran antara royalitas dan loyalitas. “Mestinya pakai mobil loyal saloon saja, kalau ada, biar loyal,” celetukku.

Bagaimana pun akhir wacana loyalitas, perlu jelas bahwa bagi rakyat, yang terpenting adalah semua pejabat, apa pun posisi dan kedudukannya, bisa berlaku royal sekaligus loyal terhadap rakyat. Rakyatlah boss yang sebenarnya dalam demokrasi, suatu muara bagi loyalitas sejati.

Mungkin kita perlu belajar kepada ahli kuliner, terutama cara membuat penikmat tape goreng selalu loyal terhadap randha royal.

07 Maret 2010

Kekeliruan dalam adopsi dunia Google


Buku What Would Google Do karya Jeef Jarvis cukup memikat, kendati dalam berbagai hal tampak berlebihan.

Saya coba kutipkan beberapa hal yang terkait dengan masa depan koran dan wartawan. Ini merupakan kutipan sporadis, semoga tidak menyebabkan kekeliruan. Versi lebih utuh insya Allah kapan-kapan saya tulis dalam format yang berbeda.

Penulis sepakbola Inggris Rick Waghorn diberhentikan dari korannya di Norwich. Dia mulai menulis blog tentang sepakbola dan komunitasnya dengan beberapa kolega bisnisnya.

Koran lamanya memandang mereka sebagai pesaing. Bodoh. Koran itulah yang telah membangun merek dan pembaca Waghorn. Pada saat mereka memecat Waghorn, mereka kehilangan investasi tersebut berikut kontennya.

Seharusnya tidak perlu begitu. Sebaliknya, koran itu mestinya menjual iklan Waghorn dan mempromosikan situsnya. Koran itu bisa mengambil keuntungan dari keahlian, pekerjaan, reputasi, dan pembaca Waghorn tanpa harus membayar gajinya.

Sementara itu, Waghorn akan mampu membuat sebuah perusahaan. Setiap pihak menang. Kalau saya menjadi orang yang menjalankan koran itu, saya akan berinvestasi pada Waghorn. Saya akan membangun sebuah jaringan Waghorn.

Namun menjadi Waghorn tidaklah semudah itu. Tanpa koran bertindak sebagai promotornya, dia dan orang-orang seperti dia mengalami masa-masa sulit membangun jumlah minimal pembaca dan iklan yang mereka butuhkan.

Walaupun berkembang dalam era “yang kecil adalah yang besar berikutnya”, namun mungkin saja yang kecil itu terlalu kecil. (Hal 103)

***
Pada 2005, Los Angeles Times memutuskan untuk bergaya di dunia Internet dengan membuat wikitorial. Ini sebuah editorial di mana publik diundang untuk ikut serta menulis ulang.

Dalam waktu singkat, kualitas wacana pertama wikitorial turun ke tingkat kerusuhan penjara karena Times telah melakukan kesalahan fundamental: Wiki adalah sebuah alat yang digunakan untuk kolaborasi, tetapi tidak ada yang harus dikolaborasikan dalam topik wikitorial Times, yaitu perang Irak.

Saya melihat segala sesuatunya menjadi hancur dan saya menulis blog bahwa Times seharusnya lebih bijaksana dengan cara menciptakan dua wiki. Satu profesional dan satu lagi lawannya. Jadi terstruktur seperti debat Oxford.

Tantangan yang akan melawan kelompok banyak seharusnya: Beri kami kesempatan terbaik Anda dan biarkan pembaca yang menilai. Berbagai usulan brilian diajukan, termasuk dari pendiri Wikipedia Jimmy Wales, tetapi sudah terlambat.

Times sudah menusuk jantung wikitorial. Sejak saat itu, kalau orang bicara mengenai surat kabar interaktif, seseorang akan menunjuk titik bahaya wikitorial. (Hal 164)

04 Maret 2010

Tips mengunjungi pameran komputer


Pameran komputer makin sering digelar. Berdasarkan pengamatan di Jakarta dan Bandung, pengunjungnya kian hari kian padat. Jumlah stand juga terus meningkat. Jenis produk terus berkembang.

Saya sering merasa sayang untuk melewatkan mengunjungi pameran komputer, kendati hanya melihat-lihat sekilas. Dalam pameran-pameran di Indonesia sih rasanya tidak ada teknologi baru. Tapi banyak produk baru dan merek baru.

Makin hari, kegiatan mengunjungi pameran komputer makin membingungkan. Melelahkan dan bikin frustasi karena padatnya pengunjung dan luasnya tempat pameran. Beberapa hal yang saya rasa perlu diperhatikan ketika mengunjungi pameran komputer sbb:

1. Jangan mengajak anak kecil. Kasihan kalau cape’ dan berdesak-desak. Sebisa mungkin hindari hari libur atau akhir pekan karena jumlah pengunjung kemungkinan besar membeludak.

2. Bawa makanan, minuman, atau bekal. Harga makanan di sekitar lokasi pameran biasanya mahal banget. Bahkan makanan yang di bagian luar juga mahal dan bagi saya sering tidak mengundang selera.

3. Tentukan target apa yang akan dibeli. Survei dulu melalui Internet atau iklan untuk menentukan produk idaman yang ingin dikejar.

4. Kenali pembagian lokasi. Biasanya ada booth untuk merek-merek terkumuka. Ada juga lokasi untuk kumpulan penjual aksesori termasuk PC jangkrik. Aksesori ini bisa berupa kabel-kabel USB, mouse, flash memori, keyboard, tas, kertas foto, cartridge, dan sebagainya.

5. Kalau sudah menentukan produk idaman langsung saja tuju ke booth yang menyediakan merek itu. Bandingkan harga dengan booth lain. Kendati sudah menentukan merek, jangan menutup diri terhadap kemungkinan ada produk baru yang selama ini tidak tampak pada iklan. Seiring perkembangan pasar, banyak produk baru yang tidak tampak dalam iklan-iklan di koran.

6. Jangan terlalu lama di lokasi pameran. Makin lama akan makin melelahkan dan bisa-bisa membuat frustasi berdesak-desakan.

Semoga membantu.

22 Februari 2010

Pandai membuat, pandailah pula menjual


Dunia dipenuhi kisah tentang produk hebat yang tidak laku dijual. Banyak pula kisah tentang inventor luar biasa yang sebagian kreasinya gagal melaju di pasar.

Dean Kamen adalah perancang skuter Segway. Skuter Segway adalah kendaraan roda dua yang dapat berdiri tegak meskipun tanpa penyangga, dan bisa menyesusikan diri dengan posisi pengendara.

Skuter ini memakau para pemilik modal, pengamat, manajemen perusahaan, serta mendapat ulasan dan publikasi luar biasa sebagai produk yang akan mengubah cara orang berkendara. Namun, banyak faktor yang membuatnya tidak sukses di pasaran.

Contoh lain adalah Steve Jobs, CEO Apple Computer Inc. Dia sukses merancang banyak produk, namun gagal dalam membangun komputer NeXT. Edwind Land yang hebat dalam memimpin Polaroid ternyata tidak berhasil menyukseskan film instan.

Phil Baker mencoba menjelaskan hal-hal semacam itu melalui buku Mengubah Ide Menjadi Uang. Baker adalah pakar dalam soal pengembangan produk. Dia punya pengalaman belasan tahun di Polaroid, ikut pengembangan produk Newton MesssagePad dan Power Book dari Apple, serta mendirikan beberapa perusahaan bidang TI. Jadi, ulasan Baker layak disimak.

Salah satu produk rancangan Baker adalah keyboard lipat Stowaway. Keyboard ini merupakan aksesori PDA (personal digital assistant) terlaris di dunia sepanjang popularitas perangkat komputasi genggam itu pada 2000-2005.

***Hanya berperan 5%
Salah satu nasihat utama Baker dalam buku ini adalah penilaian tentang betapa sedikitnya peran ide terhadap kesuksesan akhir suatu produk. Menurut dia, ide brilian hanya berperan sekitar 5% dari keseluruhan proses. Sisanya ditentukan oleh perencanaan, perekayasaaan, hingga distribusi dan pemasaran yang tepat.

Momentum juga memegang peranan yang penting. Terlambat masuk ke pasar sama fatalnya dengan terlalu cepat menggarap pasar yang belum matang.

Bagi Baker, kampanye pemasaran yang pas juga sangat penting. Kasus kegagalan PDA Newton tidak lepas dari kesalahan dalam perkenalan awal. Pembuat Newton menonjolkan perangkat itu sebagai alat yang mampu mengenali tulisan tangan.

“Kalau produk itu dikampanyekan sebagai komputer saku, tanpa menonjolkan kemampuan penganalan tulisan tangan, akan lebih sukses karena orang tidak menjadi kelebihan harapan,” paparnya.

Baker juga menyertakan banyak rekomendasi praktis dalam pengembangan produk, terutama bagi perusahaan manufaktur TI. Contohnya, bagaimana cara berhubungan dengan mitra-mitra di China yang kini menjadi sasaran alih daya perusahaan-perusahaan AS. Dia bahkan melengkapi bukunya dengan daftar nama beberapa perusahaan China yang layak dipercaya menangani alih daya.

***Faktor luar
Ada pula kegagalan produk yang terjadi karena faktor yang sama sekali di luar kendali sang inventor. Contohnya, Baker yang telah sukses mengembangkan keybord lipat berencana menggabungkan perangkat itu ke PDA. Maka mereka mengembangkan PDA Polo, sebuah PDA yang dilengkapi dengan keyboard lipat terintegrasi. Sesuatu yang pasti sangat disukai oleh para penggemar PDA.

Sayangnya, ketika produk itu baru pada tahap prototype dan belum ke luar ke pasar, Hewlett Packard mengakuisisi Compaq. Karena dua perusahaan tiu adalah pemain terdepan di pasar PDA, akuisisi itu mengubah arah industri PDA.

Banyak pekerja HP yang semula mendukung pengembangan Polo pindah ke perusahaan lain. Gelombang perpindahan pekerja, sebagai dampak akuisisi itu, juga melanda perusahaan Baker. Maka lenyaplah sudah impian untuk memasarkan PDA Polo.

*) versi singkat tulisan ini dimuat pada Bisnis Indonesia edisi Minggu, 21 Februari 2010 halaman resensi

17 Februari 2010

Mengapa kutukan lebih makbul?


Secara kebetulan, ketika lihat-lihat rak buku, saya menemukan kembali buku lama berjudul Narsisus. Ini buku karya Sunindyo, terbitan Pustaka Jaya, 1975. Saya sudah lupa kapan dan di tukang loak yang mana membeli buku ini. Mungkin di loak buku sekitar Cikapundung, atau Alun-alun, atau sekitar Kebon Kalapa, Bandung.

Buku ini tipis, hanya 88 halaman. Narsisus yang dijadikan judul buku hanyalah satu dari 12 cerita Yunani yang dimuat. Buku jadul ini menggunakan struktur model lama. Tidak ada pengantar. Daftar isi diletakkan di halaman paling belakang. Tidak disebutkan latar belakang pengarangnya dan dari mana cerita-cerita Yunani itu dihimpun.

***
Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan dari buku tipis ini. Ketika membaca cerita berjudul Seres dan Proserpine, rasanya ada déjà vu dengan membaca cerita lain.

Alkisah, Pluto sedang berjalan-jalan. Lalu Venus si dewi cinta memerintahkan anaknya, Kupido, untuk melepaskan panah cinta ke jantung Venus.

“Kalau engkau ingin menambah kekuasaanku dan kekuasaanmu, buatlah agar Pluto jatuh cinta kepada Proserpine, anak Seres,” kata Venus pada Kupido.

Maka demikianlah. Panah cinta tepat mengenai jantung Pluto. Dalam perjalanan ke Sisilia, ketika melihat Proserpine, Pluto pun jatuh cinta. Segera dibawanya Proserpine lari. Ikat pinggang Proserpine tertinggal di danau.

Begitu menyadari anak perempuannya hilang dan hanya menemukan ikat pinggang, Seres menjadi sangat marah. Dia mengutuk negeri Sisilia karena dianggap tidak mau menolong anaknya. Maka berubahkan Sisilia dari negara makmur dengan buah dan tumbuhan menjadi negeri tandus dengan tumbuhan ilalang.

Adapun Proserpine yang diculik kini ditempatkan di istana Pluto. Meskipun sedih, dia dilimpahi kekuasaan. Proserpine menjadi isteri dari dewa yang paling berkuasa. Karena sudah menikmati buah-buahan dari istana Pluto, Proserpine tidak bisa lagi dikembalikan ke bumi.

Nah, saya jadi ingat tentang cerita penculikan Ken Dedes oleh raja kecil Tumapel bernama Tunggul Ametung. Kebetulan saya belum lama membaca cerita itu melalui Pelangi di Langit Singasari karya SH Mintardja (http://pelangisingosari.wordpress.com).

Dalam cerita Pelangi di Langit Singasari itu, Tunggul Ametung terbujuk mendukung upaya Kuda Sempana menculik Ken Dedes dari desa Panawijen. Akan tetapi, sesampai di istana Tumapel, Tunggul Ametung justru merebut Ken Dedes. Istilah diplomatis yang digunakan adalah “membebaskan dari tangan Kuda Sempana”.

Lalu diangkatlah Ken Dedes sebagai permaisuri dan bahkan diberi kekuasaan untuk memerintah. Semua dilakukan demi “menghibur” Ken Dedes yang berduka cita sangat mendalam karena diculik. (Di kemudian hari, Ken Arok yang saling terpikat dengan Ken Dedes “membebaskan” si jelita itu dari tangan Tunggul Ametung sekaligus merebut kekuasaannya.)

Mpu Purwo, ayah Ken Dedes, ketika tahu anaknya hilang, marah besar. Dia merasa orang-orang Panawijen tidak mau menolong anaknya. Mereka tidak tahu berterima kasih. Maka dirusaklah bendungan yang puluhan tahun lalu dia bangun untuk rakyat Panawijen. Dengan demikian, desa itu berubah, kembali menjadi desa gersang.

Nah, alangkah miripnya dua cerita di atas. Senjata-senjata yang digunakan oleh Tunggul Ametung dan pengawalnya dalam cerita itu adalah panah, mirip dengan senjata Kupido.

***
Hal lain yang saya amati dari cerita-cerita Yunani itu adalah tentang doa dan kutukan. Cerita Yunani kuno itu dihiasi dengan banyak sekali kutukan. Dan tampaknya begitu mudah terkabul.

Di sisi lain, permohonan kebaikan, tidak mudah terkabul. Ada semacam “trade off” alias pertukaran atau imbalan untuk keberhasilan permohonan yang baik.

Contohnya ya Seres yang mudah mengutuk Sisilia menjadi tanah tandus itu. Kutukan lain terjadi pada Narsisus. Narsisus yang sangat tampan jatuh cinta pada dirinya sendiri karena dikutuk oleh Ekho (gema) yang begitu mencintai Nersisus namun selalu ditolaknya.

Contoh permintaan baik yang sulit adalah Orpheus. Dia kehilangan istrinya, Eridise, yang mati dipatuk ular. Karena kasihan, para dewa mengizinkan Orpheus menjemput istrinya di negeri orang mati.

Akan tetapi ada syaratnya. Selama perjalanan membawa kembali Eridise, dia dilarang menoleh ke belakang. Padahal Eridise berjalan di belakangnya. Karena begitu sayangnya Orpheus akan Eridise, suatu ketika menolehnya dia ke belakang. Lalu lenyaplah kembali belahan jiwanya itu. Alangkah kejamnya para dewa, ngasih kok pakai syarat-syarat aneh, hehehe.

Begitu pula dengan cerita Hipomenes dan Atalanta. Hipomenes berdoa meminta kepada dewi cinta Venus membantunya memenangi sayembara yang digelar Atalanta agar bisa memperistrinya. Venus memberikan bantuan. Tetapi begitu harapan Hipomenes tercapai, dia lupa berterima kasih kepada Venus. Lalu marahlah Venus dan mengutuk pasangan itu menjadi sepasang singa. Lha, dewa kok mudah dendam dan menuntut terima kasih.

Begitulah, permintaan baik diberi syarat, sedangkan kutukan terkabul begitu saja. Hampir semua cerita dalam buku diwarnai kutukan yang terkabul dengan mudah (baik kutukan besar maupun kecil), permintaan baik yang dibebani syarat, serta penyesalan atas tragedi yang memilukan.

***
Sewaktu kecil hingga remaja, saya sangat benci cerita-cerita Yunani (dan cerita-cerita Eropa kuno). Entah mengapa perut saya terasa mual dan kepala agak pening kalau melihat gambar yang bergaya Romawi dan Yunani itu. Juga kalau membacai nama-nama dengan akhiran us, ius, es dan nama-nama lain khas Eropa kuno. Lha saya dari dulu sukanya wayang dan cerita sejarah Jawa.

Tetapi belakangan saya kok jadi suka membaca tragedi Yunan kuno ini. Rasanya cerita-cerita itu menjadi lebih hidup. Terasa benar bahwa kehidupan itu absurd, seperti yang dipaparkan Albert Camus. Dan cerita-cerita Yunani itu menjadi gambaran yang paling menarik mengenai absurditas, kendati nama-namanya makin sulit diingat oleh otak saya yang sudah dijejali dengan nama tokoh wayang dan kethoprak Jawa ini.

12 Februari 2010

Salah paham soal mesin pintar*


Komputer memiliki kecepatan transfer sinyal lebih cepat daripada jaringan dalam otak manusia. Komputer juga memiliki kapasitas perhitungan yang lebih besar daripada otak manusia. Lalu, mengapa komputer tidak bisa benar-benar pintar seperti manusia?

Sebagai buktinya, manusia bisa dengan mudah mengenali wajah orang lain dengan seketika, dari mana pun dia memandang. Adapun komputer yang paling canggih sekali pun, butuh ribuan atau jutaan pola untuk mengenali wajah seseorang.

Manusia bisa langsung mengenali ada kerusakan di pintu rumahnya hanya dengan merasakan gesekan atau bunyi derait yang tidak biasa. Kalau hal itu dilakukan oleh komputer, benda itu akan melakukan proses yang sangat lama, mempertimbangkan ratusan atau ribuan variabel, dan hasil diagnosisnya tentang kerusakan pada pintu pun masih meragukan.

Jeff Hawkins berusaha menjelaskan masalah itu. Menurut dia, ada banyak paradigma yang salah tentang bagaimana membangun mesin pintar. Kesalahan paradigma itu termasuk pula dalam pengembangan artificial intelligence (AI), suatu bidang yang sangat populer selama beberapa dekade lalu.

Jeff Hawkins merupakan perancang PalmPilot dan telepon PDA Treo. PalmPilot merupakan komputer genggam yang pertama kali populer di pasar pada dekade 1990-an. Adapun Treo adalah merek bagi ponsel cerdas dengan sistem operasi Palm yang merajai pasar sebelum dikalahkan oleh Windows Mobile dan BlackBerry. Hawkins menulis buku On Intelligence dengan bantuan Sandra Blakeslee, seorang penulis ilmiah.

Menurut Hawkins, untuk bisa membangun mesin pintar, orang harus sungguh-sunguh belajar tentang otak dan cara kerjanya. Dia mengaku sudah tergila-gila dengan otak sejak remaja. Dia pernah bekerja di Intel Corp dan mengajukan usulan khusus kepada pendiri perusahaan pembuat chip itu, Gordon Moore, agar membentuk kelompok riset khusus tentang otak.

Namun usulan itu ditolak dan Hawkins patah hati. Dia pun mendaftarkan diri ke Massachusetts Institute of Technology untuk mewujudkan minatnya dalam mengembangkan penelitian mengenai otak. Namun dia kecewa karena tujuannya untuk memperlajari otak justru tidak mendapat tempat.

"Mereka tidak percaya Anda harus mempelejari otak betulan untuk memahami inteligensia dan membangun mesin pintar. Pada tahun 1981, universitas itu menolak saya," paparnya di halaman 5.

Akhirnya dia mempelajari sendiri segala macam jurnal ilmiah tentang otak. Dia juga menghadiri seminar, pembahasan, kajian tentang otak serta menemui para ahli.
Menurut dia, komputer dan otak dibuat dengan prinsip yang sangat berbeda. Yang satu deprogram, sedangkan satu lagi belajar sendiri. Yang satu bekerja dengan benar-benar sempurna dan tidak toleran atas kesalahan, sementara yang satu fleksibel dan toleran terhadap kegagalan. Yang satu memiliki prosesor sentral, sementara yang satu lagi tidak memiliki pengendali terpusat.

Komputer besar Deep Blue mampu mengalahkan juara dunia catur Gary Kasparov bukan karena lebih pintar. Deep Blue tidak memiliki indra tentang sejarah permainan itu, dan tidak apa pun tentang lawannya. Benda itu memainkan catur tapi tidak mengerti tentang catur, sama seperti kalkulator menghitung aritmatika tetapi tidak mengerti tentang matematika.

Menurut Hawkins, orang salah memahami masa depan mesin pintar karena menerima gambaran-gambaran keliru yang sering muncul dalam cerita fiksi. Orang takut mesin pintar akan menolak ‘diperbudak’ oleh manusia karena manusia tidak suka diperbudak. Mereka takut mesin pintar akan menguasai dunia karena orang pintar sepanjang sejarah mencoba menguasai dunia.

Namun ketakutan ini didasarkan pada analogi yang keliru. Mesin tidak akan memiliki ambisi pribadi. Dia tidak akan memiliki selera makan, kecanduan, atau ganguan emosional. Untuk meyakinkan pendapatnya, Hawkins membahas tentang apa itu intelegensia, apa makna kreativitas, peran memori, cara kerja otak, dan sebagainya.


Hawkins berpendapat mesin pintar layak dibuat karena alasan kecepatan, kapasitas, serta replikabilitas. Mesin pintar akan bisa berpikir jutaan kali lebih cepat daripada manusia. Pikiran seperti itu akan mampu membaca seluruh isi perpustakaan dan hal-hal lain yang bisa dilakukan manusia bertahun-tahun, menjadi beberapa menit saja.
Ini bukan suatu yang ajaib. Otak biologis mengalami dua hambatan yang terkait dengan waktu, sementara mesin pintar tidak mengalami masalah. Dua hambatan itu adalah kecepatan dalam berpikir, serta kecepatan dunia berubah.

Hawkins percaya bahwa umat manusia akan mendapatkan kegunaan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya dari mesin pintar. Dia berpendapat sekarang adalah sata yang tepat untuk mengembangkan konsep baru mengenai mesin pintar.

*) Versi lebih ringkas dimuat di Bisnis Indonesia Minggu yang beredar pada 12 Februari, halaman Resensi, dgn judul: Mesin pintar yang disalahpahami

09 Februari 2010

‘Terpelanting di tikungan’


Saya sedang menyetir pelan-pelan di sebuah tikungan yang menyempit ketika sebuah Suzuki Karimun menyalip. Dalam pandangan saya, Karimun itu melakukan manuver yang berbahaya. Berbahaya bagi saya dan bagi dirinya.

Saya lihat dari belakangnya, tampaknya yang mengemudi adalah seorang wanita. Ah, wanita memang begitu. “Suka melakukan hal yang membahayakan dirinya dan orang lain,” begitu pikirku.

Lalu, saya teringat tentang menyalip di tikungan. Istilah yang sering dipakai oleh Nurcholis Madjid untuk menyebut langkah tertentu dalam bidang politik dan kenegaraan.

Menyalip di tikungan, dalam politik, sering dimaknai sebagai mengambil kesempatan ketika orang lain (atau orang banyak, atau kawan-kawannya, atau organisasinya, atau partainya) sedang mengalami kesempitan. Ketika orang-orang lain sedang dipusingkan dengan 'tikungan'. Seingat saya, Cak Nur selalu menolak melakukan hal-hal yang bisa ditafsirkan sebagai 'menyalip di tikungan'.

Lalu, kalau ada urusan salip-menyalip, apakah ada juga yang terjerembab di tikungan? Bukankah selalu ada gaya sentrifugal pada setiap kendaraan yang menikung? (Sentrifugal berarti menjauhi pusat). Adakah pula yang terpelanting ketika kendaraan politik atau organisasinya sedang menikung? Mengapa istilah ‘terpelanting di tikungan’ tidak populer? Embuhlah adanya.

07 Februari 2010

WiMax & dilema pengembangan kapabilitas lokal

WiMax adalah teknologi telekomunikasi nirkabel pita lebar yang dianggap memiliki potensi besar di masa mendatang. Sebagian pihak memandangnya sebanding dengan seluler generasi keempat (4G) dan bisa menjadi solusi untuk penggelaran Internet murah hingga ke perdesaan.

WiMax atau worldwide interoperability for microwave access memungkinkan transfer data dengan kapasitas lebih besar dan jangkauan lebih jauh daripada Wi-Fi (wireless fidelity).

Teknologi ini berpotensi untuk menciptakan ketersambungan maksimal. Akan tetapi, di Indonesia, WiMax juga dimaknai sebagai kontoversi maksimal.

Pasar untuk WiMax di dunia belum matang (mature). Nilai bisnisnya masih sangat kecil dibandingkan dengan 3G dan GSM yang sudah menjangkau segala penjuru bumi. Bahkan dibandingkan dengan pasar untuk Wi-Fi pun WiMax masih kecil. Diperlukan waktu paling tidak lima tahun ke depan untuk memungkinkan WiMax tumbuh menjadi raksasa sebagaimana Wi-Fi dan seluler.

Teknologi WiMax tidak dikuasai oleh segelintir pemain seperti halnya teknologi seluler. Dalam industri peranti jaringan seluler dikenal beberapa pemain dominan dunia dan sulit dimasuki pemain kecil.

Sifatnya yang lebih terbuka, potensinya yang besar, serta belum ada pemain dominan membuka peluang bagi praktisi teknologi di Indonesia untuk mengambil peran lebih besar. Pemerintah dan para idealis tidak ingin pengalaman dalam bisnis seluler, di mana belanja modal lebih dari Rp40 triliun per tahun hampir seluruhnya digunakan untuk produk teknologi impor, terulang pada WiMax.

Akan tetapi, keinginan untuk menjadi pemain di halaman sendiri itulah yang kemudian berbuntut kontroversi panjang.

***Mencari kisah sukses
Pemerintah ingin meningkatkan kandungan lokal, menghemat devisa dengan meminimalkan produk impor, meningkatkan penyerapan sumber daya manusia domestik, serta menegakkan kemandirian teknologi.

Untuk itu, pemerintah menetapkan jenis teknologi dan standar yang berbeda dari standar yang paling banyak dianut pemain global. Dengan penetapan frekuensi yang khas Indonesia, vendor global menjadi sulit masuk. Hal ini sebenarnya mirip dengan langkah China yang mengembangkan sendiri standar seluler 3G yang khas, yaitu TD-SCDMA (time division synchronous code division multiple access).

Keinginan pemerintah ini mendapat dukungan sejumlah ahli dan manufaktur domestik yang menyatakan siap menyediakan perangkat WiMax lokal. Di sisi lain, penetapan standar yang unik ini memicu protes terutama karena pemain global sulit masuk, padahal produk global sudah siap menyerbu.

Protes bertambah ketika digelar tender penyelenggaraan layanan. Pemenangnya memiliki hak untuk menyediakan layanan berbasis teknologi WiMax bagi masyarakat.

Untuk bisa menang tender, calon penyelenggara harus membayar biaya frekuensi yang tidak murah kepada negara. Guna mengembalikan biaya modal, mereka butuh waktu penggelaran yang cepat (aspek time to market), perangkat yang murah, serta ada jaminan untuk bisnis yang berkelanjutan.

Kontroversi berlanjut karena pemain lokal sulit memenuhi harapan calon penyelenggara layanan. Dengan ukuran pasar Indonesia yang relatif kecil dibandingkan seluruh pasar global, harga yang ditawarkan vendor lokal sulit untuk bersaing dengan pemain yang menyasar pasar besar. Ada masalah skala perekonomian (economic of scale) di sini. Kecepatan produksi untuk memasok permintaan calon penyelenggara ini pun menjadi isu sendiri.

Di sisi lain, vendor global memandang Indonesia sebagai pasar potensial. Sayang sekali bila tidak bisa digarap. Sekarang memang masih kecil, akan tetapi di masa mendatang bisa sangat besar. Apalagi, apa yang disediakan vendor global tampaknya klop dengan kebutuhan para calon penyelenggara. Jadilah tarik-ulur menjadi semakin keras.

Sebenarnya, tarik menarik antara kepentingan pemerintah, vendor lokal, calon penyelenggara layanan, serta vendor global merupakan hal lumrah dalam proses pembangunan industri berteknologi tinggi di dalam negeri.

Sayangnya, Indonesia tidak punya banyak cerita sukses pembanguann kapasitas di bidang teknologi tinggi. Pembangunan industri kapal terbang kandas. Industri strategis lain juga belum benar-benar membuat mandiri di bidangnya masing-masing.

Akan tetapi, bukan berarti tidak ada kesempatan atau alasan untuk mencoba kembali setelah terjadi beragam kegagalan. Bukankah banyak negara lain terbukti berhasil dalam proses pembangunan kapasitas di bidang teknologi tinggi.

China, misalnya, dikenal sangat ketat menjaga pasar domestik dari masuknya pemain asing, serta memiliki bargaining position tinggi terhadap pemain global yang ingin masuk ke pasar dengan lebih 1 miliar konsumen itu.

Membangun kemampuan lokal, apalagi dalam industri tinggi seperti WiMax, memang membutuhkan proses panjang yang konsisten, sabar, dan seringkali menelan banyak pengorbanan.

Jika sukses, ada banyak sekali keuntungan yang bisa dinikmati masyarakat. Kalaupun akhirnya gagal, ada banyak pelajaran yang diambil oleh para pelakunya sebagai modal sosial untuk membangun kesuksesan di bidang lain. Saya percaya tidak ada yang sia-sia dalam upaya mewujudkan idealisme mengenai pembangunan kapasitas domestik.


Fokus perhatian pihak-pihak dan bisnis WiMax:
Penyedia jasa -->harga perangkat, time to market, sustainability
Vendor lokal -->peningkatan kapabilitas, economic of scale, insentif & kepastian regulasi
Pemerintah -->kandungan lokal, devisa, penyerapan SDM & kemandirian teknologi
Vendor global/importer -->market size, keterbukaan, standar internasional

Politik kerbau dan kerbau politik*


Karier politik Karebet dari anak desa hingga menjadi Sultan Pajang tidak bisa dilepaskan dari cerita tentang kerbau. Beberapa kerabat dekatnya juga menggunakan nama kebo yang artinya adalah kerbau.

Karebet adalah anak dari Kebo Kenanga dan keponakan dari Kebo Kanigara. Kebo Kenanga yang dikenal pula dengan sebutan Handayaningrat terbunuh dalam konflik melawan kelompok Sunan Kudus di Demak. Adapun Kebo Kanigara tetap mempertahankan agama leluhurnya dan menyepi di pegunungan.

Sepeninggal ayahnya, Karebet di asuh oleh kerabatnya, seorang wanita kaya dari Desa Tingkir, sehingga anak Kebo Kenanga itu ketika remaja dikenal pula dengan sebutan Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir mulai masuk lingkaran istana setelah Sultan Treng gana dari Demak terkesan oleh kehebatan anak muda itu.

Namun, karier Karebet yang hebat itu tidak berjalan mulus. Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Karebet dipersalahkan karena membunuh Dadung awuk ketika pria itu men jalani tes sebagai calon prajurit.

Dadungawuk dibunuh dengan tusuk kondhe, sebuah peralatan rias yang secara nalar tidak mungkin digunakan untuk membunuh. Para ahli sejarah menafsirkan tusuk kondhe sebagai kiasan bahwa Karebet diusir dari istana Demak karena bermain api dengan putri Sultan. Nah, setelah diusir dari istana itulah muncul cerita tentang kerbau.

H. J. De Graaf dalam bukunya Awal Kebangkitan Mataram menyebutkan Karebet pergi menemui Ki Buyut Banyubiru. Di sana dia mendapat siasat agar diterima kembali ke dalam lingkungan istana Demak.

Cerita bertutur menyatakan Karebet membawa segumpal tanah yang telah diberi mantera dari Banyubiru. Sampai di Demak, dia memasukkan tanah itu ke mulut seekor kerbau yang segera mengamuk di sekitar istana.

Para prajurit kewalahan menangani kerbau perkasa yang terus mengamuk hingga 3 hari itu. Lalu muncullah Karebet mendekati si kerbau yang disebut sebagai kebo danu. Dia menjinakkannya kemudian memukul kepala kerbau itu hingga hancur.

Karebet berhasil menarik simpati Sultan Trenggana sehingga diterima kembali ke istana, bahkan kemudian diangkat menjadi menantu Sultan. Di kemudian hari, Karebet menjadi pewaris kekuasaan Demak namun memimpin dari Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

Sebagaimana cerita tentang membunuh calon prajurit dengan tusuk kondhe, cerita tentang membunuh kerbau yang mengamuk ini pun kadang dianggap sebagai kiasan belaka.

Cerita silat yang sangat terkenal di Jawa, Nagasasra & Sabukinten, dalam hemat saya adalah upaya pengarangnya, Singgih Hadi Mintardja, untuk menafsirkan cerita tentang kerbau itu.

Dalam versi Nagasasra & Sabukinten, kerbau yang mengamuk dimaknai sebagai upaya Banyubiru memberontak terhadap Demak. Makanya dalam salah satu adegan cerita itu, pemimpin Banyubiru berteriak, "Akulah kebo danu dari Banyubiru!"

Jadi, Karebet sengaja meman cing kesalahpahaman antara Demak dan Banyubiru sehingga pemimpin Banyubiru menyerang Sultan Trenggana. Lalu datanglah Karebet yang memberi jalan tengah sehingga dia diterima kembali masuk istana.

Cerita bertutur dan cerita rakyat Jawa umumnya percaya bahwa kerbau Banyubiru yang disebut dalam Babad Tanah Jawi adalah kerbau betulan, bukan kerbau kiasan.

***Kambing hitam

Cerita lain tentang raja Jawa yang juga memanfaatkan 'kebo' untuk mendaki puncak kekuasaan bisa kita simak dari Ken Arok. Ken Arok adalah pendiri dinasti Singasari, kerajaan terbesar di Jawa pada abad XIII.

Ken Arok awalnya adalah seorang penjahat yang diterima masuk sebagai pengawal Raja Tumapel, Tunggul Ametung. Di dalam istana ada orang sombong dan suka pamer yang bernama Kebo Ijo.

Ken Arok meminjamkan sebuah keris sakti bernama Kiai Gandring kepada Kebo Ijo. Dasar tukang pamer, keris hebat itu dibawa-bawa dan ditunjukkan oleh Kebo Ijo kepada teman-temannya seolah-olah keris itu miliknya.

Tak lama kemudian Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan meninggalkan keris sakti itu di tempat kejadian. Karena semua orang tahu keris itu milik Kebo Ijo maka dialah yang menjadi kambing hitam, dituduh dan dihukum atas pembunuhan itu.

Adapun Ken Arok justru naik tahta menggantikan Tunggul Ametung, lalu mendirikan kerajaan Singasari pada tahun 1222. Maka, barangkali, terjemahan tepat untuk 'kambing hitam' dalam Bahasa Jawa adalah kebo ijo yang arti harfiahnya adalah kerbau berwarna hijau.

Cerita ekspansi Majapahit di bawah kepemimpinan Gajah Mada juga diwarnai cerita tentang kerbau. Pasukan Majapahit yang ingin mewujudkan Sumpah Palapa menyatukan Nusantara ternyata gagal dalam adu kerbau di Sumatra. Lagi-lagi, kerbau menjadi alat politik.

Nah, sepekan belakangan ini soal kerbau hangat dibicarakan dalam konteks politik. Pemicunya adalah demonstran yang membawa-bawa hewan ternak itu dalam demonstrasi. Ada bermacam penafsiran baik terhadap makna kerbau itu sendiri maupun terhadap tata tertib demonstrasi sebagai elemen demokrasi.

Cerita berlatar belakang abad XIII, XIV dan XVI, baik melalui Kebo Ijo, adu kerbau, maupun kerbau Banyubiru menunjukkan bahwa kebo memang bisa menjadi kendaraan politik di Jawa. Tinggal pilih mana, meraih simpati seperti Karebet atau gagal total seperti pasukan Majapahit.

*) Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi tanggal 8 Februari 2010 Hal 8 dengan judul: Melacak jejak politik kerbau
http://web.bisnis.com/artikel/2id2777.html

02 Februari 2010

Managing Your Boss


Ungkapan ‘mengelola atasan’ dalam pengertian tradisional biasa dianggap bernada negatif. Di dalamnya kadang ada konotasi menjilat atau main politik tertentu. Namun John J. Gabbaro dan John P. Kotter memaparkan cara mengelola atasan dalam pengertian yang sama sekali tanpa konotasi negatif.

Berikut ini kutipan bebas dari artikel Managing Your Boss tulisan dua orang itu yang dimuat Harvard Business Review. Edisi Indonesia saya baca melalui terbitan Amara Books suntingan A. Usmara. Dalam buku yang sama ada beberapa artikel yang diambil dari Harvard Business Review.

“Istilah managing your boss digunakan untuk merujuk pada proses bekerja secara sadar dengan atasan untuk mendapatkan hasil yang paling memungkinkan bagi Anda, atasan, serta perusahaan. Aspek ini justru sering diabaikan oleh manajer yang berbakat dan bersemangat. Sebagian manajer secara aktif dan efektif mengawasi bawahan, produk, pasar, dan teknologi, namun bersikap reaktif dan pasif terhadap atasan.

Mengelola atasan menuntut Anda untuk memiliki pemahaman tentang atasan dan konteksnya, seperti halnya situasi Anda sendiri. Seorang manajer melakukan ini pada taraf tertentu, tetapi sebagian tidak cukup menyeluruh.

Pada tingkat minimum, Anda perlu menghargai tujuan dan tekanan antasan Anda, kelebihan serta kekurangannya. Apa tujuan pribadi dan tujuan organisasi atasan Anda, dan apa tekanannya, khususnya tekanan dari atasannya dan orang lain pada tingkat yang sama. Apa kelebihan dan kekurangan atasan Anda? Gaya kerja apa yang disenangi? Apakah atasan Anda senang mendapatkan informasi melalui memo, rapat resmi, atau telepon? Apakah dia suka mengembangkan konflik atau berusaha meminimalkannya?

Tanpa informasi ini, seorang manajer kesulitan ketika berhubungan dengan atasan, sehingga konflik yang tidak perlu, kesalahpahaman, dan masalah menjadi tidak terelakkan.

Manajer yang efektif mencari informasi mengenai berbagai tujuan dan masalah serta tekanan atasan. Mereka siap mengambil kesempatan untuk bertanya kepada atasan dan kepada orang lain di sekitarnya untuk menguji asumsi mereka. Mereka menaruh perhatian pada tanda-tanda dalam perilaku atasan.

Meskipun penting sekali bahwa mereka melakukan hal ini khususnya ketika mereka mulai kerja dengan atasan baru, para manajer yang efektif juga melakukan hal ini terus-menerus. Mereka juga mengakui berbagai prioritas dan pertimbangan berubah.

Peka terhadap gaya kerja atasan menjadi sangat penting, khususnya ketika atasan tersebut baru. Misalnya, seorang presiden baru yang mengorganisir dan formal dalam pendekatannya ditunjuk menggantikan seorang yang bersifat informal dan intuitif. Ini bukan soal kemampuan adaptasi, melainkan kepekaan dalam memahami gaya kerja atasan.

Namun demikian, atasan hanyalah setengah dari hubungan. Setengah lainnya adalah Anda sendiri. Mengembangkan hubungan kerja yang efektif selanjutnya menuntut Anda untuk mengetahui kebutuhan, kelebihan, dan kelemahan, serta gaya pribadi Anda sendiri.”

01 Februari 2010

Kediktatoran


Kata diktator berasal dari bahasa Latin, dictare, yang bermakna bersabda atau berkata. Sebagai jabatan politik, kata diktator dipakai pertama kali pada tahun 501 sebelum Masehi. Saat itu, dua konsul dari suatu daerah di Republik Roma terpaksa tidak dapat hadir suatu pertemuan karena harus memimpin tentara di medan perang. Mereka berdua mengangkat seorang wakil dengan kekuasaan penuh atas namanya. Kepada wakil inilah, untuk pertama kalinya, sebutan dictator digunakan.

Istilah diktator kemudian berkembang. Masa-masa ketika Roma harus berperang, mereka juga mengangkat seorang diktator yang harus menguasai tentara sekaligus memutuskan segala persoalan penduduk biasa.

Ketika dua orang konsul membagi kekuasaan sama besar, penduduk punya pilihan untuk mempertimbangan keputusan satu konsul dengan konsul lain. Tetapi adanya seorang diktator tidak memungkinkan hal itu.

“Tidak ada tempat lain yang bisa kita mintai tolong. Pilihannya hanya harus patuh padanya,” papar sejarawan Roma, Livy, seperti tertuang dalam buku berjudul Diktator karya Jules Archer.

Dalam saat genting, kediktatoran ini menguntungkan karena tidak buang-buang waktu dalam mengambil keputusan. Keputusan tunggal dalam keadaan semacam itu memang lebih menguntungkan.

Dari semula memegang kekuasaan kecil tunggal, peran seorang diktator meluas menjadi pejabat tinggi, hakim agung, serta panglima. Untungnya, rakyat Roma sadar benar akan pengaruh merugikan dari kekuasaan seperti itu. Mereka menolak mengizinkan setiap diktator berkuasa lebih lama dari enam bulan. Peraturan ini tetap dipertahankan hingga tahun-tahun terakhir keruntuhan Republik Roma.

Diktator pertama yang memegang kekuasaan secara tidak sah di Eropa adalah Sulla. Dia membunuh musuh-musuhnya dan bertahan di puncak kekuasaan pada tahun 82 sebelum Masehi hingga 79 sebelum Masehi.

Adapun diktator betulan—menurut pengertian modern-- dalam sejarah Eropa, pertama kali dikenal melalui Julius Caesar yang mengangkat diri sebagai diktator seumur hidup.

Biasanya, janji-janji untuk memperbaiki perekonomian menjadi senjata calon diktator untuk mempertahankan kekuasaan.

31 Januari 2010

Menanti diary petinggi negeri


Membaca catatan harian seperti yang ditulis Zlata, Anne Frank, Wahib, atau Soe Hok Gie, membawa kita menghayati apa yang bergolak dalam diri mereka maupun suasana yang berkembang di sekitarnya. Hal itu juga membuat kita mengerti bagaimana mereka mengambil keputusan.

***
“Bapak mengajukan pemikiran yang agak nakal terkait bail out Bank Century. Apakah Bapak kecewa tidak memenangkan perdebatan dalam rapat itu,” demikianlah kurang lebih salah satu pertanyaan anggota Pansus Angket Century DPR terhadap Marsillam Simandjuntak.

Marsillam yang mantan kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi hanyalah satu dari banyak pejabat tinggi yang dipanggil sebagai saksi dalam sidang yang digelar berhari-hari oleh pansus itu.

Banyak pertanyaan lain dengan pola serupa yang diajukan kepada para saksi seperti “Apakah yang Anda pikirkan ketika itu”, “Apa posisi Saudara saat itu”, “apakah Saudara menyesal” dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mengingatkan saya mengenai isi diary dan kaitannya dengan jabatan politis seseorang.

Mengacu pada kategorisasi yang dibuat Nassim Nicholas Taleb dalam Black Swan, pekerjaan yang terkait dengan politik umumnya memiliki tingkat keacakan yang tinggi. Orang yang bekerja dengan tingkat keacakan yang tinggi, paparnya, memiliki peluang besar untuk dihantui oleh penyesalan di masa mendatang.

Para politisi dan pemegang jabatan politis bertindak berdasarkan data, informasi, dan pertimbangan yang tersedia saat itu. Namun, papar Taleb, di kemudian hari politisi sangat berpeluang untuk dihantui oleh rasa menyesal karena mendasarkan pertimbangan baru dengan apa yang diketahui belakangan ketika semua sudah terungkap.

Kalau mengamati seringnya keputusan politik dipersoalkan, tampak sekali bahwa peluang adanya penyesalan itu besar sekali.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa para pengambil keputusan dalam kasus Century akan menyesal. Kasus Century diambil hanya sebagai contoh paling hangat bagaimana sebuah keputusan dipersoalkan secara politis dan memaksa orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk mengingat kembali dengan detail bagaimana keputusan di masa lalu diambil.

Ada saran sederhana namun sangat mengena dari Nassim Taleb soal cara mengatasi rasa bersalah dan penyesalan saat orang mengambil keputusan penting. Menurut dia, salah satu yang perlu dilakukan orang dengan pekerjaan yang memiliki tingkat keacakan tinggi adalah menulis diary.

Diary adalah catatan pribadi yang ditulis ketika peristiwa itu, pengambilan keputusan penting --yang sangat mungkin berpengaruh besar terhadap nasib diri sendiri, nasib partai, nasib konstituen, nasib negara--dipertaruhkan. Ini berbeda dengan memoar yang seringkali ditulis sekian lama setelah peristiwa terjadi.

Menurut Taleb, menulis diary adalah cara yang tampaknya sederhana, tapi kadangkala terasa berat dilakukan untuk mengobati banyak masalah psikologis, terutama menyangkut tekanan-tekanan yang berat. “Saya sering mendengar psikolog menyarankan orang melakukan terapi diary untuk meringankan beban psikologis pasien,” papar Nasim Taleb.

Bagi orang lain, membaca diary juga membuat orang bisa lebih mengerti, empati, terhadap si penulis. Orang bisa melihat ‘dari dalam’ atau ‘dari sisi sang politisi’ sehingga mudah mengerti mengapa dia mengambil keputusan yang barangkali kontroversial atau tidak populer.

***
Ada beberapa orang yang menjadi sangat terkenal karena memberikan banyak pelajaran kepada publik melalui diary yang ditulisnya. Di Bosnia ada Zlata Filipovic, seorang anak berusia 11 tahun yang tinggal di Sarajevo dan menyaksikan masa-masa pahit perang Bosnia-Serbia.

Catatan-catatan Zlata memberikan prespektif yang orisinil dan otentik dari anak yang sama sekali tidak memiliki kepentingan politik terkait dengan perang dan pembantaian pada dekade 1990-an itu.

Zlata kadang disebut sebagai Anne Frank-nya Bosnia. Keduanya sama-sama masih belasan tahun dan menulis pengalaman pribadi di tengah tragedi kemanusian yang ditimbulkan oleh perang.

Anne Frank adalah anak perempuan Yahudi yang tinggal di Belanda yang keluarganya menjadi korban kekejaman Nazi. Anak yang memiliki nama lengkap Annelies Marie Anne Frank itu dikenang karena catatannya tentang tragedi yang menimpa keluarganya pada periode 1942-1944.

Di Indonesia, setidaknya ada dua anak muda yang menjadi sangat terkenal setelah diary-nya diterbitkan, yaitu Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie. Dua-duanya meninggal dunia di usia muda dan catatan hariannya diterbitkan setelah mereka meninggal dunia.

Wahib, yang meninggal pada 1973 dalam usia 31 tahun, dikenang melalui catatan harian yang dibukukan dan diberi judul Pergolakan Pemikiran Islam. Adapun Soe Hok Gie dikenal dengan Catatan Seorang Demonstran.

Membaca catatan harian seperti yang ditulis Zlata, Anne Frank, Wahib, atau Soe Hok Gie, membawa kita menghayati apa yang bergolak dalam diri mereka maupun suasana yang berkembang di sekitarnya. Hal itu juga membuat kita mengerti bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan di saat-saat genting.

Sebenarnya di dunia yang sudah modern dengan banyak peralatan canggih ini upaya menulis diary baik yang terbuka maupun tertutup sangat dimudahkan. Ada blog, microblogging, jaringan sosial, ada komputer, alat perekam suara, perekam gambar, dan sebagainya yang sangat mungkin digunakan sebagai sara untuk menulis diary digital.

Nah, apakah para elite dan pejabat politik kita cukup memiliki waktu untuk menulis diary sehingga suatu saat rakyat --yang hanya melihat aktivitas mereka lewat media massa--bisa menangkap apa yang bergolak dalam hati para elite tersebut ketika mengambil keputusan?

Pasti menarik bisa membaca diary para politisi yang ditulis saat-saat peristiwa penting terjadi atau diputuskan. Sayangnya, yang lebih mudah kita temui adalah memoar yang ditulis belakangan.

28 Januari 2010

Bagaimana mencari gagasan untuk menulis?


Malcolm Gladwell adalah seorang penulis jempolan. Buku-bukunya sangat memikat. Tiga yang populer adalah Tipping Point, Blink, serta Outliers. Artikel-artikel pendeknya juga sangat memikat. Dia bukan hanya mampu menulis dengan baik, namun juga sangat inspiratif. Tidak menggurui namun memberi perspektif baru bagi pembacanya.

Tadi pagi saya menemukan satu buku barunya, What the Dog Saw. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama setebal 460 halaman ini dijual dengan harga Rp80.000.

Saya ingin mengutip pernyataan Gladwell tentang kegiatan tulis-menulis. Khususnya tentang bagaimana dia menemukan ide untuk menulis dan mengembangkan gagasan hingga menjadi tulisan yang memikat. Berikut ini pernyataan dia dalam pengantar buku What the Dog Saw:

“Ketika sedang tumbuh dewasa, saya tidak pernah ingin jadi penulis. Saya ingin jadi pengacara, lalu pada tahun terakhir kuliah, saya memutuskan untuk masuk dunia periklanan. Saya melamar ke 18 biro iklan di kota Toronto dan memperoleh 18 surat penolakan. Saya berpikir untuk kuliah pascasarjana, tetapi nilai saya kurang bagus. Saya melamar beasiswa agar bisa pergi ke tempat eksotis selama 1 tahun dan ditolak lagi.

Akhirnya saya menulis. Setelah cukup lama, baru saya sadar bahwa menulis bisa dijadikan pekerjaan. Pekerjaan itu serius dan berat. Menulis itu asyik.

Setelah kuliah, saya bekerja selama 6 bulan di majalah kecil di Indiana yang bernama American Spectator. Lalu saya pindah ke Washington DC dan menjadi penulis lepas selama beberapa tahun, dan akhirnya masuk The Washington Post—lalu dari sana ke The New Yorker.

Sejak itu, menulis tidak pernah menjadi tidak asyik. Dan saya berharap semangat yang menggebu-gebu itu bisa terasa dalam artikel-artikel saya.

***
Kunci untuk menemukan gagasan (dalam menulis) adalah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita. Saya bilang kunci tetapi yang saya maksud adalah tantangan, karena amat sulit melakukannya.

Bagaimana pun naluri kita sebagai manusia adalah menganggap sebagian besar hal tidak menarik. Kita berganti-ganti saluran televisi dan menolak sepuluh sebelum memilih satu. Kita pergi ke toko buku dan melihat 20 novel sebelum membeli satu.

Kita menyusun peringkat dan menilai. Padahal ada begitu banyak hal di luar sana. Kalau mau jadi penulis, Anda harus melawan naluri itu saban hari.

Kunci lain untuk mendapatkan gagasan adalah mengetahui perbedaan antara kekuasaan dan pengetahuan. Dari semua yang akan Anda temui dalam buku ini hanya sedikit yang berkuasa.

Jangan mulai dari atas kalau mau tahu duduk perkara. Mulailah dari tengah, karena orang-orang di tengah lah yang benar-benar bekerja di dunia.

27 Januari 2010

Perbandingan pena & pedang menurut Sartre


Benarkah pena lebih tajam daripada pedang? Jeal Paul Sartre dalam Les Mots (Kata-Kata) menulis pandangannya tentang hidup, termasuk tentang kegiatan tulis menulis. Tentu saja ini tidak bisa dimaknai secara harfiah melainkan perlu dilihat dalam konteks kritik terhadap diri sendiri. Bagaimana pun, ungkapannya tentang kegiatan tulis menulis begitu memikat.

“Menulis adalah suatu kebiasaan sekaligus pekerjaan untukku. Lama sekali kuanggap penaku sebagai pedang. Kini aku sudah tahu para penulis tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi itu tidak penting. Yang penting aku menulis. Aku akan menulis buku-buku. Buku harus tetap ada, harus ada. Karena, bagaimana pun, buku punya faedah. Walaupun pengetahuan luas tidak menyelamatkan apa-apa dan siapa-siapa, itu bukanlah pembenaran (untuk berhenti menulis).
(Buku dan pengetahuan) itu adalah hasil usaha manusia. Manusia membangun citra di sekitar itu dan mencerminkan diri di sana. Pengetahuan memberikan kepada manusia suatu pantulan kritik.”


Prof Alex Lanur menulis bahwa salah satu inti dari Les Mots karya Sartre adalah sebagai berikut:

“Sartre mengakui bahwa seluruh karirnya sudah ditandai dengan keadaan tidak riil yang mendasar. Hal itu tampak dari komitmennya yang mendasar terhadap karya tulis, pengunduran dirinya dari dunia, dan khayalannya bahwa dia dapat menyelamatkan dirinya dengan menulis.

Sebagai seorang anak, dia disanjung dan dipuji banyak orang, namun dia tidak sungguh dimengerti. Dia terlepas dari hubungan dengan anak-anak lain, dan menjalani kehidupan dalam ruang belajar kakeknya.

Mula-mula dia merasa kagum akan buku yang begitu banyak dalam ruang belajar itu. Kemudian dia mulai mengambilnya dan belajar membaca. Sartre sungguh membacanya serta memerankan buku-buku itu. Dan akhirnya, dia menjadi penulis. Les Mots menelusuri pilihan mendasar yang diambilnya untuk hidup lebih dalam buku-buku daripada dalam kenyataan.”

26 Januari 2010

Belajar dari Isaac Asimov


Isaac Asimov adalah seorang penulis fiksi ilmiah yang terkemuka. Dia menulis ratusan buku dalam berbagai topik. Karyanya yang paling terkenal adalah trilogi Foundation yang mendapatkan berbagai macam penghargaan sebagai salah satu serial cerita terbaik dunia. Berikut ini pernyataan Isaac Asimov yang bisa kita baca dalam “Faktor-faktor Prestasi”

Sebenarnya kehidupan saya manis seluruhnya. Sebab, bahkan ketika saya muda, sebelum saya mulai menulis, saya bersiap-siap untuk menulis, bahkan tanpa saya ketahui.

Saya membaca semua buku yang saya perlukan untuk otak saya supaya dapat menulis dengan tepat. Sebagian buku itu saya peroleh dari perpustakaan umum. Dan saya beruntung punya waktu untuk membaca. Saya tidak punya uang. Kami hidup dalam apartemen yang sangat miskin dan dan di lingkungan yang tidak terlalu baik. Tetapi saya tidak pernah menyadari bahwa saya kekurangan.

Saya mempunyai kesempatan untuk membaca dan menikmati sekolah, sehingga kehidupan ini semuanya menyenangkan bagi saya. Dan saya menyadari itu. Itu bagian yang penting. Sangat menyedihkan apabila Anda berbaring di tempat tidur untuk mati dan mengatakan: “Ya, saya mempunyai kehidupan yang baik dan saya tidak pernah menghargainya.”

Sedangkan saya selalu menghargai (hidup yang dianugerahkan pada saya). Tiap langkah dalam perjalanan hidup, saya tahu bahwa saya beruntung. Dan kesadaran itu bahkan lebih penting daripada hanya beruntung (tanpa menyadarinya).

24 Januari 2010

Pengalaman bersama sepeda listrik Betrix


Setelah melalui banyak keraguan, akhirnya pada Desember lalu kami memutuskan untuk membeli sepeda listrik merek Betrix tipe Ice. Saya coba tulis pengalaman satu bulan bersama Betrix, barangkali berguna bagi pembaca yang tertarik mempertimbangkan sepeda listrik.

***
Ada banyak pertanyaan dan keraguan yang hinggap sebelum kami membeli sepeda listrik: Apakah harga yang hampir Rp5 juta cukup layak? Apakah tidak lebih andal membeli sepeda motor bekas atau sepeda motor China atau sepeda onthel yang bagus sekalian? Apakah jarak tempuhnya memadai? Bagaimana kalau baterai habis di jalan? Apakah mesin, baterai, serta penggeraknya cukup awet dan andal? Dan seterusnya.

Bagi saya, memakai sepeda motor bensin itu ribet. Sebab, harus ada STNK, SIM, helm, dan surat menyurat yang merepotkan. Apalagi untuk orang yang tinggal di lebih dari satu kota seperti saya. Beli di kota A, pakai di kota B. Jika motor dipakai oleh orang lain, misalnya keluarga atau kerabat, yang bersangkutan juga harus punya SIM. Intinya, banyak kerepotan di balik motor.

Sepeda listrik seperti halnya sepeda onthel, tidak perlu surat menyurat. Ini salah satu pertimbangan membeli sepeda listrik. Meskipun harga sepeda listrik hampir sama (atau bahkan lebih mahal dari) sepeda motor China yang baru, namun motor China toh tetap butuh surat-menyurat.

Lain lagi perbandingan dengan sepeda onthel. Sepeda onthel baru dengan kualitas bagus harganya toh hampir Rp2 jutaan (bahkan lebih). Jadi, dengan asumsi sepeda listrik body-nya tidak kalah dari sepeda onthel yang baik, selisih harganya masih cukup masuk akal.

***
Kami memilih sepeda listrik yang bentuknya semirip mungkin dengan sepeda onthel, paling ringan, serta harganya paling murah. Selain tidak ingin dianggap sebagai sepeda motor oleh polisi, pilihan model ini juga mempertimbangkan kemungkinan baterai habis di jalan. (Saya pernah punya pengalaman buruk dengan sepeda listrik bentuk motor yang habis baterai di jalan. Berat betul gowesnya. Tapi itu mereknya bukan Betrix)

Model Ice yang kami pilih memang mirip sekali dengan sepeda onthel. Di belakang ada boncengan panjang, tapi di depan tidak ada keranjang Boncengan belakang agak panjang sehingga saya bisa pasang kursi untuk anak, lalu di belakangnya lagi saya pasang keranjang (hasil pindahan dari sepeda onthel). Kelebihan lain adalah ada lampu depan serta klakson.

Sepeda listrik Betrix dapat dijalankan dengan dua mode. Saya menyebutnya sebagai mode sepeda motor dan mode sepeda onthel. Dalam mode sepeda motor, yang berperan sebagai penentu gerak adalah putaran gas. Gas dikendalikan dengan tangan kanan, mirip dengan gas pada motor.

Mode ini cocok untuk kondisi jalan macet dan rusak yang menutut stop and go. Maju dikit, berhenti lagi, maju lagi dikit, berhenti lagi, dan seterusnya. Ini juga cocok untuk jalan di gang sempit seperti di kota-kota besar.

Mode lain yang saya sebut sebagai mode sepeda onthel adalah pedal assist. Menggunakan mode ini seperti kita naik sepeda onthel biasa dengan tenaga pendorong di belakangnya. Dalam kondisi jalan rata dan sepi, mode ini sangat enak. Persis seperti naik sepeda onthel yang sangat ringan. Untuk melewati tanjakan juga cukup kuat.

Akan tetapi, mode ini sangat berbahaya di jalan macet atau rusak. Masalahnya ada pada respons-nya yang tidak seketika. Ada delay barang 2-3 detik dari saat awal menggowes sehingga kadang kita sudah mau berhenti karena di depan ada kemacetan dia justru tiba-tiba mendorong keras. Dorongan ini seperti diset untuk mencapai kecepatan tertentu yang kita tidak tahu atau di luar ekspektasi pengendara. Akibatnya, dorongan ini kadang terasa keras dan mengagetkan.

Bagi pengguna yang terbiasa dengan sepeda onthel dan tidak terbiasa dengan sepeda motor seperti saya, mode pedal assist sangat menarik. Tapi, ya itu, kalau tidak terbiasa dengan mode lain akan kerepotan saat melewati jalan padat yang macet. Khusus untuk jalan yang sepi dan lancar, kita bisa juga setel cruise control agar kecepatan konstan.

Karena sepeda listrik merupakan barang baru bagi saya, cara penggunaanya pun serba coba-coba. Perlu waktu untuk mengenali bagaimana cara kerja, respons, serta karakteristik mesinnya.

Sejauh ini, pengalaman menggunakan sepeda listrik cukup menyenangkan. Dengan pemakaian rata-rata 10km—15 km per hari, indikator baterai umumnya menunjukkan simpanan tenaga masih banyak (4 bar).

Namun demikian, ada beberapa kelengkapan yang menurut saya perlu diberikan untuk sebuah sepeda seharga Rp4,7 juta itu. Kelengkapan itu di antaranya keranjang depan, spion, serta –kalau memungkinkan—speedometer.

***
Indikator baterai terdiri atas 4 titik. Jika baterai penuh, keempatnya akan menyala. Jumlah lampu yang menyala berkurang seiring berkurangnya tenaga yang tersimpan dalam baterai. Sayangnya, hanya itulah indikator yang bisa kita amati untuk memantau besarnya tenaga yang tersimpan. Saya berharap di masa yang akan datang indikator ini akan lebih kaya informasi.

Lubang kabel untuk ke luar dan masuk dari kotak baterai hanya 1 slot. Ketika mengisi baterai, charger dicolok ke slot ini. Ketika sepeda akan dipakai, kabel yang menghubungkan mesin gantian dicolok.

Dan karena sepeda tiap hari dipakai dan dicharge, maka setiap hari harus lepas pasang kabel ke slot itu. Saya sungguh khawatir cara colok mencolok seperti ini lama-lama akan membuat lubang colokan aus dan dol. Mudah-mudahan pada sepeda listrik generasi mendatang bagian ini diperbarui.

Dalam satu bulan pemakaian, sepeda listrik Ice kami sempat macet. Lampu indikator tidak nyala. Kadang nyala 5 menit lalu mati. Baru jalan 200 meter, mati. Padahal baterai penuh.

Ketika kami bawa ke penjualnya, kotak baterai langsung dilepas dan dibongkar. Ternyata ada connector di dalam kotak baterai yang kendor. Akibatnya, muncul percikan api karena arusnya cukup besar. Lama-lama bagian itu terbakar. Solusinya ya ganti connector, disolder ulang, bayar Rp10.000.

Keluhan lain adalah sedel. Saya berharap sedel standar bisa lebih baik dan lebih nyaman digunakan.

19 Januari 2010

Sulitnya menghentikan e-gethok tular


Maraknya penggunaan jejaring sosial sebagai salah satu elemen penting dalam mempengaruhi kebijakan public menjadi tonggak keberadaan gethok tular electronic atau e-gethok tular. Kasus Bibit-Chandra serta Prita Mulyasari menegaskan hadirnya fenomena itu.

Gethok tular adalah kosa kata Bahasa Jawa yang artinya kira-kira setara dengan penyebaran informasi dari mulut ke mulut alias word of mouth.

Jejaring sosial seperti Facebook awalnya berkembang melalui gethok tular. Seseorang tergoda menggunakan Facebook, terpesona, lalu mengajak kawan yang kemudian terpesona pula, lalu mengajak rekan yang lain lagi. Begitu seterusnya.

Kini jumlah pengguna jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg itu di Indonesia, menurut CheckFacebook.com, sudah melampaui 11,7 juta akun.

Uniknya, selain tumbuh melalui gethok tular, jejaring sosial juga menjadi alat penghubung bagi suatu gethok tular. Jika semula berkembang dari mulut ke mulut, menjadi informasi dari satu akun ke akun lain, dari satu status ke status lain, satu catatan ke catatan lain. Barangkali bolehlah kita sebuat word of electronic-mouth.

Berdasarkan pengamatan, sebagai suatu gethok tular, gerakan yang berbasis Facebook hanya sukses apabila mendapat dukungan pula dari media massa arus utama.

Selain itu, sebagaimana rumus gethok tular pada umumnya, formulasi yang disebarkan bersifat sederhana dan mudah dicerna. Ide sederhana itu, misalnya, copot si X, bebaskan si Y, atau dukung si Z.

Kalau kasus kompleks dengan jalinan banyak pihak yang juga ruwet, sulit di-gethok tular-kan. Sebab, salah satu sifat alamiah gethok tular adalah distorsi. Jika informasinya kompleks, distorsi bisa mengacaukan segala sesuatunya.

***Biarkan saja
Ada beberapa gagasan generik yang dianggap mudah menyebar seperti wabah. Gagasan itu di antaranya adalah ide mengenai bunuh diri, merokok, narkoba, serta tren fesyen. Barangkali sekarang bisa ditambahkan satu lagi: tren pemanfaatan fitur tertentu di dunia Internet.

Dalam soal bunuh diri, dikenal istilah Werther Effect. Werther adalah sebuah karakter dalam novel karya Johann Wolfgang von Goethe. Dalam cerita Penderitaan Pemuda Werther, Goethe berkisah mengenai seorang pria cerdas, lembut, mudah terharu, yang mengalami kehidupan tragis.

Setelah kegagalannya dalam karir, Werther yang muda mengalami kegagalan cinta. Begitu dalam penderitaannya sehingga Werther memilih bunuh diri sebagai upaya mengakhiri tekanan batiniah.

Cerita mengenai Werther ini dipublikasikan lebih dari 200 tahun yang lalu dan menjadi karya yang sangat digandrungi banyak orang. Namun, cerita yang sangat memikat ini juga dipersalahkan sebagai pemicu bagi sekitar 2.000 bunuh diri di kalangan remaja di Eropa.

Begitu kuatnya pengaruh tulisan Goethe itu sehingga Werther Effect digunakan untuk menyebut bunuh diri ikutan. Agaknya, hal serupa belakangan ini sedang terjadi di Indonesia.

Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point menyebut bagaimana mudahnya gagasan tentang bunuh diri menyebar di kalangan generasi muda. Ada banyak pola kemiripan antara penyebaran gagasan sebagai wabah dan penyebaran wabah penyakit. Begitulah pendapat Gladwell.

Tipping Point memberikan penjelasan bagaimana gagasan bisa menyebar seperti wabah. Adapun ulasan bagaimana wabah bisa berhenti, barangkali bisa kita simak pada Sampar karya Albert Camus. Kendati bukan buku ilmiah mengenai wabah penyakit, Sampar memberikan perspektif lain. Sebab, buku ini membahas bagaimana wabah datang secara tiba-tiba dan terhenti dengan sendirinya.

“Sampar mungkin berhenti karena sampar tidak memiliki khayalan,” papar salah satu tokoh dalam novel itu.

Agaknya, upaya menghentikan sesuatu yang berkembang lewat e-gethok tular adalah sesuatu yang jauh lebih sulit, karena hal itu dikendalikan oleh imajinasi manusia. Mengacu pada Sampar, salah satu cara manjur mengatasinya adalah membiarkannya berhenti dengan sendirinya, secara alamiah.

Jumlah akun pengguna jejaring sosial di Indonesia terus meningkat. Di sisi lain mulai muncul pula kebosanan para pengguna lama. Sebagai sebuah gagasan, penjalaran jejaring sosial melalui gethok tular mungkin bisa saja terhenti. Akan tetapi sulit untuk menghilangkan perannya sebagai penghubung suatu e-gethok tular.