30 Mei 2011

Cerita tentang penantian visa


Lebih dari 40 hari sudah paspor saya ‘tersimpan’ di kedutaan besar negara XX di Jakarta. Tepat 41 hari lalu saya menjalani wawancara dan menerima selembar kertas putih bolak-balik yang intinya menyataan aplikasi visa saya disetujui dan paspor dapat diambil dalam 2-7 hari setelah wawancara.

Akan tetapi, kenyataan bicara lain. Sampai saat ini saya belum menerima visa itu. Saya telah batal berangkat ke salah satu kota paling eksotik di dunia pada akhir April-awal Mei lalu. Sekarang saya juga terancam batal berangkat ke salah satu kota paling gemerlap di dunia.

Sudah habis terlalu banyak waktu, perhatian, energi, sekadar untuk mencermati hal yang entah kapan akan bisa saya terima. Sudah begitu lama saya menahan diri untuk tidak menulis soal ini dan soal negara itu, namun penantian tak jelas ini benar-benar tidak menyenangkan.

*Foto paspor diambil dari bisnis-jabar.com

10 April 2011

Logika di balik hal tidak logis*

Mengapa para boss digaji amat tinggi, meski tidak pintar? Menurut Harford itu untuk memicu para calon boss, bukan semata-mata untuk si boss itu sendiri.

Lalu mengapa orang tetap tinggal di perkotaan yang padat dan sesak? Karena di situlah pertukaran pengetahuan berjalan intensif dan murah. Juga peluang-peluang baru.

***
Mengapa orang masih setia tinggal di kota besar seperti Jakarta? Biaya hidup jauh lebih besar dibandingkan daerah lain, kepadatan penduduk lebih tinggi, kemacetan jauh lebih parah, waktu yang dihabiskan di jalan raya juga jauh lebih banyak.

Banyak ragam jawaban untuk pertanyaan semacam itu. Jakarta hanyalah satu dari puluhan atau ratusan kota besar dunia yang terus menyedot warga sekitar untuk datang.
Salah satu jawaban akan daya tarik kota besar bisa kita baca dalam buku Logika Hidup, Logika ekonomi di balik seks, kejahatan, rasisme, dan politik kantor karya Tim Harford.

Dalam bab Dunia Tajam, Harford menyoroti mengapa kebanyakan orang memilih tinggal di New York daripada di Rock Island. Padahal, untuk tinggal di New York orang harus mengeluarkan biaya tambahan 14% dari penghasilannya untuk menyewa atau membeli rumah yang sama dengan rumah siap huni di tempat lain di AS.

Pajak yang lebih tinggi di New York mencapai hampir 6% dari penghasilan. Harga untuk biaya listrik, air, bahan makanan, dan kebutuhan pokok lainnya memerlukan biaya tambahan 4% lagi. Lalu ada biaya tambahan pula untuk gaya hidup yang lebih sulit diukur dan diperbandingkan.

Dengan berbagai perhitungan, maka US$1 di New York kira-kira hanya bernilai setara dengan 61,2 sen di tempat lain. Betul bahwa gaji pegawai di New York lebih tinggi dari gaji rata-rata nasional AS, namun selisihnya hanya 15%.

Disimpulkan bahwa daya beli sesunguhnya dari orang yang tinggal di New York hanya kira-kira tiga per empat dari apa yang seharusnya dia nikmati jika tinggal di tempat lain di AS.

Menurut Harford, kuncinya ada pada inovasi. Inovasilah yang membuat orang memilih tinggal di kota besar, kendati banyak hal yang harus dikorbankan, atau banyak hal yang bisa didapatkan di tempat lain.

Salah satu bagian dari inovasi dan hal-hal yang mendorong inovasi di kota besar adalah kesempatan untuk bertemu dengan orang yang lebih pandai dan lebih ahli secara mudah. Dengan demikian, perputaran pengetahuan dan kesempatan saling belajar menjadi lebih mudah.

Harford menggambarkan bagaimana seorang tokoh media yang baru, Jeff Jarvis, bisa secara kebetulan bertemu dengan Rupert Murdoch di sebuah jalan di Manhattan. Bagaimana si penulis, Harford, bisa bertemu dengan mitranya yang banyak membantunya dalam menyusun buku, Stephen McGroarty. “Jika saya tinggal dan bekerja di kota kecil, keberuntungan {semacam itu} tak akan datang.”

Di kota-kota besar, katanya, eksternalitas positif lebih banyak tersedia. Kesempatan untuk mendatangi forum-forum penyebaran pengetahuan dengan biaya murah atau bahkan gratis tersedia secara melimpah.

Para pekerja di kota besar juga dinilai lebih produktif karena ada faktor kedekatan dengan para mitra dan kolega. Pertemuan-pertemuan juga menjadi lebih mudah dilakukan.

Harford berupaya menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi, yang dipahami sebagai alat untuk membuat jarak menjadi kurang bermakna dalam komunikasi, ternyata tidak mengurangi hasrat orang untuk saling bertemu. Bahkan, informasi lokasi yang saling dibagi cenderung membuat orang menjadi lebih mudah untuk bertemu.

Tidak semua penjelasan Harford mengenai motivasi orang untuk memilih tinggal di kota besar yang padat daripada di kota kecil yang memiliki biaya hidup murah itu memuaskan, namun setidaknya dia berhasil mengungkap sisi-sisi yang selama ini banyak diabaikan.

Bos dibayar tinggi
Harford membuat satu bab khusus yang sangat provokatif mengenai hal yang sering menjadi pertanyaan banyak orang: mengapa seorang bos dibayar lebih mahal daripada bawahannya, padahal dia tidak lebih pintar?

Dia memulai dengan menjelaskan perkembangan sistem penggajian CEO di AS. Para CEO memang dibayar amat mahal. Sebagai contoh, CEO Walt Disney Corp, Michael Eisner, dibayar 400 juta pound sterling selama 13 tahun.

Sebagai ekonom, Harford berupaya menelusuri hal itu dari apa yang bisa memotivasi para pekerja. Dia memaparkan tentang apa yang disebut sebagai teori turnamen, ketika seorang pekerja seolah-olah harus bersaing satu dengan yang lain untuk mendapat promosi atau penilaian yang memuaskan.

Pada intinya, menurut dia, gaji CEO yang sangat besar bukanlah semata-mata ditujukan bagi si CEO. Gaji itu justru dijadikan pemicu bagi orang-orang di bawah CEO, para manajer tingkat menengah, agar berlomba guna meraih posisi yang lebih tinggi. Dengan demikian, uang 400 juta pound sterling akan memicu kekayaan yang jauh lebih besar.

Logika Hidup dibagai dalam sembilan bab. Semuanya dengan judul dan bahasan yang amat provokatif. Misalnya, Apakah perceraian selalu diremehkan pada Bab III.
Harford juga mempertanyakan mengapa manusia masih mau merokok dan berjudi, atau mengkonsumsi narkoba atau jatuh cinta. Dia berupaya menjelaskan bahwa semua itu rasional menurut logika ekonomi.

Buku yang ditulis Harford ini seolah kelanjutan dari buku sebelumnya, Undercover Economist. Meski tetap menarik, buku kedua ini tidak semenarik buku pertamanya. Banyak pula penjelasan yang terasa berbelit dan terlalu bertele-tele.

*) dimuat pada Bisnis Indonesia edisi Minggu, 10 April 2011, halaman resensi. gambar cover di atas dari gramedia online

05 April 2011

Memakrokan blog mikro: Kumpulan status 2


Oleh Setyardi Widodo

---------------
Mesin waktu itu bernama quick count & facebook. Quick count membawa kita ke depan, fb membawa kita ke masa lalu... Dua2nya jg jadi mesin uang bg pemiliknya.

Bebek2ku/ mari ke mari/ ikutlah aku ke kebun bibi/ di sana banyak kesukaanmu/ cacing yg gemuk/ ayo diserbu/ berebut berebut/ bersuka ria (Cicha Koeswoyo)

Mobile phone, mobile computing, mobile office, mobile banking, mobile commerce, mobile resident, mobile voter, mobile election, mobile legislator, mobile leader, mobile apa lagi ya?
--------

Bagaimana kalau kita bangun sendiri open quick count hasil election pakai google earth. Biar semua bisa berpartisipasi. Semua bisa mengawasi quick countnya.

Apa hubungan antara accounting dengan two countings, quick counting, and the real counting?

Setuju adanya electoral threshold, tapi bertanya2 mengapa ada parliamentary threshold yg membuat 15 percent suara hilang percuma secara otomatis?

Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung.

Di bumi ada bulan purnama. Apakah di bulan ada bumi purnama? Berapa periodanya? Sebulan sekali? Sebumi sekali? Sebumi= berapa bulan= berapa jam?
--------

Demokrat unggul, sby berlanjut jadi presiden, maka harga property di gunung putri meningkat. Perbaiki jalan, akses transportasi, serta sarana pendidikan di sana donk.

Sby menjabat lagi? Harga properti di gunungputri tambah tinggi. Jalan pendidikan dan transportasi, harus diperbaiki. Di sini. Antara cikeas, citeureup, dan cileungsi. Cibubur ikut menikmati.

Senang Palringo jalan di windows mobile 2003 shg PDA tua ipaq 4355 terbitan 2004 itu bisa dipakai chatting multiple platform. Ym, gtalk, facebook jalan bareng. Yang tua tetap berguna.

Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa. itulah Suryomentaram. tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung.

Yang lebih kita perlukan adalah pembaruan di sisi jaringan para operator dibandingkan penggantian handset atau gadget untuk mengaksesnya bukan? Gadget lama masih bisa dipakai.
--------

Industrialisasi memang membuat hidup tdk manusiawi. Tapi kemana kita bisa pergi? Sekolah & hobi-nya sudah terlanjur begini. Masak mau lari?

Media massa adalah medium inovasi. Karena produknya bisa kita perbaiki setiap hari, kita perbarui setiap kali, kita tambahi setiap pagi.

Salah strategi. Habis long week end ke jakarta pagi pagi. Ya macet begini. Mana jalan ditutupi.

Lebih murah, lebih canggih, lebih luas, lebih luwes,

Mencari tas dengan banyak saku, tahan air, dan membuat beban yang berat menjadi terasa ringan.
--------

Siap2 ditinggal ke negeri singa. Semoga semua tetap sehat dan ceria. Selalu lancar aman nyaman sehat selamat. Amiin.

Solusi kemacetan: facebookan di jalan. tahu2 sudah sampai tujuan, macetnya tidak terasa. jadi, bangun saja broadband sepanjang jalan macet.

Tidak perlu menunggu alat yg lebih baik, orang yg lebih banyak, dana yg lebih besar, akses yg lebih mudah, dst. Lakukan saja, sekarang! Seadanya.

Benarkah PDA keluaran 2003-2004 baik windows mobile, palm, maupun linux, tidak kalah fungsinya dibandingkan MID/tablet yang sekarang diunggulkan nokia, Intel dkk?

Di jalan, mikir yang enggak enggak.

Ingin merakit HP sendiri. Pilih monitor, casing, body, prosesor, install OS sendiri dst. Kapan ada HP customized begini ya?

Mencoba melihat sisi2 baiknya.
----------

ingin mengendarai mesin waktu yang bisa memperpendek masa duka, memperpanjang masa suka, memperpendek masa sengsara, memperpanjang masa jaya. Sudah adakah mesin itu?

Bersimpati pada para caleg, para pejuang partai. Juga bg mereka yg tdk masuk dpt. Untuk nyaleg butuh pengorbanan. Tp utk golput tidak perlu ideologi, cukup kesalahan teknis.

ingin berganti semesta. Di manakah lorong lubang cacing itu? Di manakah tujuan? Di mana titik untuk kembali?

Jumlah pengguna blackberry di indonesia tumbuh 494% pada 2008? penyebarannya Telkomsel 75.000, Indosat 80.000, dan XL 55.000? Iphone juga masuk. Apa kabar nokia & pemain2 eropa?

Facebook generasi kedua harusnya: bisa grouping friend lalu bedakan notifikasinya; ada fitur untuk meeting, reuni, termasuk tools untuk presentasi, mematangkan rencana acara etc.
-----------

AP - Two technology research groups say worldwide personal computer shipments fell (6,5% and 7,5%) in the first quarter.

Reuters - More than half of U.S. adults used the Internet to participate in the 2008 election -- the first time that threshold has been crossed, according to a study released Wednesday

(AFP) US telecom giant AT&T Inc is seeking to extend until 2011 the deal with Apple making it the exclusive service provider for the iPhone in US, The WSJ said Wednesday.

10 tahun mendatang akan ada acara "zona facebook" seperti zona 80 sekarang. Ketika itu orang mengenang fb sebagai tempat ketemu kawan lama, pasangan, kerabat, pekerjaan, atau malah dipecat dr kantor.

merasa kehilangan parameter mengenai hidup normal dan sehat...
----------

Ayo kita siapkan facebook generasi keempat. Di sana kita bukan hanya melihat teman or chat, tapi ada fitur bertamu ke rumah, makan bersama, reuni, dsb secara virtual. Fasilitas integrated dgn GPS, google earth & 3D. Ayo donk

Mengapa kita diberi ingin yang tak terbatas tapi dijebloskan pada kenyataan yang serba terbatas? Itu hukum atau hukuman?

Ternyata dia tidak suka ide2 gilaku. Apakah pikiranku memang aneh & tidak normal?

Pilih mana: sambungannya putus2 atau putusannya nyambung2? Hihihi

Politik itu penuh permainan kata-kata, apa kita harus percaya apa adanya?
-------------

Bentar lagi 3 manusia terserak di 4 kota, 2 negara. Semoga semua tetap sehat ceria, bahagia sejahtera, tak kurang suatu apa. Tuhan, mohon, jagalah mereka.

Berhentilah berusaha memprediksi masa depan, ambil saja keuntungan dari ketidakpastian yang ada. (black swan)

Bahkan bandung bondowoso yang perkasa itu pun gagal...

Enggak kebayang deh rasanya jadi CS grapari dengan antrean konsumen yang luar biasa begini... semua yang antre ini mau mengeluh lho...

ingin membeli kebahagiaan, kalau harganya murah & terjangkau kantong orang miskin....
-------------

Kita lebih memerlukan pencegahan daripada pengobatan. Tapi tidak banyak imbalan untuk pencegahan. Manusia adalah makhluk yg sangat tidak adil. (the black swan)

Kita membatasi pikiran dgn hal2 tidak relevan, sementara peristiwa2 besar terus terjadi dan mengejutkan kita. (the black swan)

Dia sudah di sana, di negeri singa. Semoga membawa guna. Yang di sini pun sehat ceria. Adapun yang di situ, tak beda.

Belajar banyak dari sekar, anakku yang belum genap 5 tahun...

Tidak percaya teori, sangat skeptis, dan mengandalkan bukti.
-------------

Menikmati anugerah sebagai manusia yang kalah.

Apa yg kita raih sekarang adalah buah dari apa yg kita utamakan 5-10 tahun lalu. Apa yg kita pikirkan sekarang utk 5-10 tahun ke depan? Kurva waktu blm bisa dibalik..

Sumimasen, moshiwake arimasen, wakarimasen.

Memakrokan blog mikro: Kumpulan status


Sejak ada Facebook, saya bisa disebut rutin update status. Sehari bisa beberapa kali update. Status adalah tulisan berisi ungkapan campur aduk atas apa yang mencuat di kepala. Bila di masa sebelumnya perlu medium seperti diary, atau mesin ketik, lalu komputer untuk menulis kilatan-kilatan pikiran, kesan di perjalanan, dan lain-lain, kini ada medium yang lebih sederhana.

Dengan modal Blackberry yang always connected ke Internet, menulis status adalah hal yang amat mudah. Jadi Facebook itu semacam diary terbuka. Belakangan hal yang sama ada di Twitter yang disebut sebagai blog mikro.

Terkait komentar beberapa rekan serta belajar dari tulisan Nassim Nicholas Taleb (Ranjang Prokrustes), saya jadi tergoda untuk memampangkan kumpulan status sebagai upaya mengisi blog. Apalagi blog saya dalam tiga bulan terakhir nyaris kosong.

Sayangnya, di Facebook tidak ada fitur untuk menyusun status-status yang pernah kita buat di masa lalu menjadi jajaran kalimat status berurutan. Selalu saja bercampur dengan komentar dan segala macam aktivitas yang kita lakukan di Facebook. Di Twitter saya belum terlalu banyak aktivitas. Twitter bisa menyusun timeline status meskipun urutannya terbalik.

***
Saya beruntung bahwa menulis sebagian besar status lewat Blackberry. Karena ada bermacam kesulitan teknis dalam menyusun status sambil online di mobile web Facebook, saya biasa menulis dulu status itu dalam Notes, baru saya copy ke situs Facebook. Jadi, kalau ada kegagalan koneksi, saya masih punya back up. Bahkan banyak komentar saya di facebook pun saya simpan dengan cara yang sama. Maklum, pakai Blackberry Pearl yang semi-qwerty itu ada kesulitan tambahan dalam mengetik secara online.

Tapi ya itu, ada untungnya, saya jadi punya arsip yang tersimpan dalam format txt. Seluruhnya ada lebih dari 50 file. Masing-masing file berisi puluhan status.

Masalah lainnya adalah susunannya yang terbalik. Kalimat yang lama ada di bagian bawah. Yang baru ada di atas, supaya cepat mengetiknya. Akhirnya susunannya ya seperti timeline di Twitter. Terbalik semua.
Saya berusaha membalik kalimat-kalimat itu, namun tidak semua berhasil. Lha buanyak sekali. Capek juga rupanya. Berikut saya unggah secara berseri saja status facebook sejak 2008-an. Paling tidak ini berguna untuk refleksi pribadi saja. Ini semacam me-makro-kan kembali hasil microblogging.

Sampai saat ini ada setidaknya 55 file txt berisi kumpulan status sejak Februari 2009 hingga Maret 2011. File pertama ini saya unggah hampir utuh. Tetapi saya tidak yakin file-file lain akan saya unggah (dan apalagi lengkap).

***

File status 1

*santai bersama sekar & erma. melupakan keruwetan dengan martabak, teh manis panas, ikan mujair, kondangan, etc. alangkah muktinya.

*Bolehkah ikut2an senang mendengar ada orang teknik fisika jadi dirut pertamina?

*memulai pada bagian yang paling mudah sesuai keahliannya. Bagian2 yang sulit segera mengadang?

*ada yg tahu bagaimana mendapatkan kaset anak2 dari PAS Salman edisi pertama yg terbit sekitar 1991/1992? Lagunya a.l. "aku bangga jadi anak islam"

*sleeps like a server, works like a router. mau tidur seperti server setelah bekerja sebagai router. Besok mulai menjalankan fungsi sebagai admin pula. Belajar multitasking nih...

*Kasihan dirut pertamina. Orang TF pertama jadi dirut pertamina. Wanita pertama juga. Eh dikuyo-kuyo oleh anggota dpr.
-------

*"If you don't know where you're going, it doesn't matter which road you take." (cuma ngutip)

*Belum terbayang bagaimana memecahkan masalah yang akan muncul di akhir april itu.

*mencoba rileks, mengusir ketegangan, menyingkirkan rasa bersalah, melupakan tuntutan.

*Sampai kapan buffer itu diperlukan? Sampai ada mesin yang bisa menggantikan secara otomatis. Sampai tegangan antara output box a dan input box b sesuai.

*Pikiran itu seperti parasut. Dia hanya berfungsi baik bila terbuka. (lord thomas dewar)

*Keponthal-ponthal, terbirit-birit, termehek-mehet, terlunta-lunta. Apalagi kata2 yang mirip?

*Jumlah pengguna gtalk di kantor sudah masuk economic of scale untuk jualan mic. Cepet kulakan di mega bazaar computer gih, whahahaha33x

*Ruwet dengan email yg terlalu banyak di inbox? Ayo buat Mail Folder lalu set Mail Rule agar semua terpilah secara otomatis. Saya siap bantu deh.

*Hobbylah yang jadi alat penyelamat. Pembuka pintu2 baru. Selalu

*Dalam komunitas yg cenderung chaos, siapa yg paling banyak meraih kue? Yg berada di puncak struktur? Yg paling ambisius? Teknokrat?

*ingin bermuka badak dan berhati singa. tabah, tegar, tanpa malu dan tanpa beban menghadapi apa saja.
-------

*Kalau takut tidak bisa adil, mestinya takut juga punya banyak anak. Anak harus diperlakukan secara adil juga bukan? Jadi yg punya banyak anak otomatis siap adil donk, hehe...

*Membayangkan netbook kecil yang dilengkapi push email serta semua fitur blackberry, termasuk ketahanan baterainya. Netbook rasa BB atau BB rasa netbook.

*Madhep marep manteb mulih nyang mban...

*Pada harta orang kaya, ada hak orang miskin. Pada kepandaian orang pintar, ada bagian untuk orang bodoh??

*Orang yang setia pada hal2 kecil, akan demikian pula terhadap hal2 besar. (Andre Gide)
*Perpisahan yang mana pun akan lebih berat tanpa disertai ucapan selamat tinggal (seorang tokoh dalam sebuah film)

*Saat belajar adalah saatnya gagal, tapi bukan berarti gagal dalam belajar. Apa parameter keberhasilan proses belajar?

*Kebranang ing gegayuhan
*Tunggak waru aku ora melu2, godong dadap aku ora melu nggarap

*Segala sesuatu pasti, hanya kita belum tahu matematikanya. Segala sesuatu punya rumus, hanya kita belum tahu teorinya.

*Mencoba percaya bahwa selalu ada gambar besar, desain besar, di balik semua yang terjadi. Biar tenang...

*Sebenarnya suka baju dengan banyak saku. Tapi mau pakai rompi kok kesannya norak ya.

*Apakah bedanya dunia maya dengan dunia imajiner serta dunia proyeksi (d aksen) dan dunia yang dibuat-buat?
------

*Biasanya orang besar yang memaklumi kesalahan orang kecil atau justru orang kecil yang harus memaklumi kesalahan orang besar? Atau saling memaklumi?

*Kagum & heran dgn selera tvri. Jam segini kok wayangan. "Buta Pandawa tata gati wisaya. Indriyaksa sara maruta. Pawana bana margana samirana"

*Jas merah= jangan sekali2 melupakan sejarah. Jaket merah= jangan kaget baca sejarah. Baju merah= bapak2 juga baca sejarah. Kaos merah= kadang orang suka sejarah

*Bete. Gagal terus setting BB sebagai modem eee pc windows XP via bluetooth dongle. Tidak ketemu kolom untuk memasukkan "dial string"

*Kenapa majalah/tabloid ti-seluler bejibun tapi majalah iptek nyaris tak ada? Apa ke depan jumlah profesor TI lbh byk drpd prof iptek? Bppt jadi bppti? Itb jadi itib?

*ingat Suara Karya tahun 1987an yang tiap senin menampilkan hal teknologi penerbangan 1-2 halaman. Penulis khasnya Mei Kartyono.
--------

*Berapa banyak kenaikan traffic dan revenue penyedia Internet (jasa & jaringan) karena facebook? Berapa banyak sih pengguna facebook di indonesia?

*Mengapa semua jalan jadi seperti halaman facebook yang penuh gambar wajah orang? Ini namanya facestreet donk?

*Pengen hidup santai tapi kok malah mengumpulkan alat yang membuat hidupnya sulit santai. Ironis

*Hidup di kota besar umumnya tidak sehat. Tapi, pendidikan mengajari (atau menuntun atau menuntut) orang (desa) untuk pindah ke kota besar...

*Kalau ada orang tiba2 jadi kaya raya, negara akan mengusut kekayaannya itu dengan segala cara & alat. Kalau ada yg tiba2 jatuh miskin, apa yg akan negara lakukan?

*Saatnya foto2 mengabadikan facestreet (jalanan penuh gambar wajah). Setelah 5 april tidak ada lagi.
*Trapped at the center of troubles. Sangat menantang. Siap digantung sewaktu2 deh...

*mulat sarira hangrasa bingung

*A woman marries a man expecting he will change, but he doesn't. A man marries a woman expecting that she won't change, and she does. (kutipan yang lupa di mana sumber aslinya)

*Bagaimana kira2 bentuk social networking di era post-facebook? Ayo kita bikin biar bisa mengalahkan si zuckerberg itu, hehe......
--------

*Banyak orang pintar berpendidikan tinggi menetapkan kriteria terlalu tinggi dalam memilih partai atau caleg. Akibatnya malah golput. Adakah tools untuk membantu mengatasi masalah ini?

*Banyak orang protes tdk kenal caleg, protes byk gambar di jalan, tapi tdk mau datang kampanye, tdk mau dengar or nonton kampanye. Lalu golput. Piye to? Cara apa lagi biar caleg dikenal?

*Harga iphone 3G= harga motor= 2x Blackberry 8310= 2x netbook= 10x tv 14 inchi= 8x kulkas= 7x mesin cuci= biaya kuliah 1 tahun?

*Save our (very limited) badwidth

*Jarak masih menjadi masalah. Inginnya rumah-kantor tidak lebih dari 15 km, tanpa macet. Siapa harus mendekat? Hehehe. Jakarta oh jakarta.
------

*Benarkah the cost of doing nothing bisa lebih mahal daripada cost of doing something?

*Mengimpikan perkembangan mekatronika & material yg memungkinkan hadirnya sepeda motor (elektrik?) lipat yg dpt dimasukkan koper.

*Bahagia tanpa bersenang senang. (samakah dengan kaya tanpa harta, menang tanpa mengalahkan, mikir tanpa otak? Hehehe)

*Bersyukur Allah berkenan menjaga & melindungi keluarganya melalui 3 pekan yg rumit. Dan memohon perlindungan untuk 2 pekan yang mungkin lebih rumit di akhir bulan.

*Bagaimana kalau pemilu diserahkan ke eo swasta atau multinational company saja ya?

*Ternyata salah satu kunci untuk sukses adalah tidak tahu malu. Bisa karena culun, lugu, naïve, atau memang muka badak.

*Bisa kah tenang di hari tenang?

*Mana tahan? mana paham? Mana bahan? Mana saham? Mana lahan.
*La la la la, la la la mana paham. Mana bisa paham?

*Inilah saatnya mengucap syukur pada ilahi & terimakasih pada setiap hati. Damailah dlm pelukan malam, krn pagi nanti akan kita tanamkan kembali benih2 arti kehidupan... (radio mara)

*Haruskah setiap hari mohon maaf untuk kesalahan2nya maupun kesalahan2 orang lain? Mohon maaf, sorry, punten, nyuwun pangaksami, afwan, sumimasen, es tut sehr mir leid.

*Selamat pagi, jakarta. Di pintumu kau tak sambut tanganku. Hanya suara tawamu terdengar parau, jakarta. Dan nafasmu gemuruh gemerlapan. Seperti sengaja kau ciptakan untukku. Sementara masih tersisa gema doa di mulutku (ebiet)

*Inikah jakarta? Hanya beginikah sikapmu jakarta? Atau aku yang salah kalau ku katakan kau tak ramah? (ebiet)

*Matinya pull mail. Heran mengapa sampai sekarang tidak ada yang benar2 serius menggarap push mail service selain RIM. Yang lain terkesan amatiran. Amateur push mail service?

*Mengapa penjualan blackberry di Indonesia tidak terkena krisis?

01 April 2011

Belajar dari “Si Skeptis”


Buku berjudul “Ranjang Prokrustes” karangan Nassim Nicholas Taleb ini benar-benar mempesona. Yang pertama-tama menarik dari buku ini adalah penulisnya, Nassim Taleb. Dia adalah penulis buku “Black Swan”. Dua setengah tahun lalu, saya beberapa kali menulis mengenai buku itu. Buku kali ini pun memiliki cover yang mirip dengan Black Swan, warna dasar putih dengan warna huruf merah serta hitam.

Nassim adalah orang yang sangat kritis dan menyebut dirinya sebagai orang yang skeptis. Tulisan-tulisannya dalam buku ini penuh sindiran tajam. Penuh “pembalikan logika awam”. Terasa sangat cerdas, namun juga sinis, dan kadang menyakitkan.

Prokustes (bahkan mengucapkannya pun terasa susah bagi saya) yang dipakai sebagai judul adalah tokoh dalam legenda Yunani. Dia dikenal dengan sikapnya yang suka menjamu tamu. Namun semua tamu dia bawa ke ranjangnya. Dan ranjang itulah yang mengerikan. Jika orang yang dibaringkan lebih panjang dari ranjang, dia akan memotong kaki tamunya agar pas. Bila tamunya terlalu pendek, dia akan merentangkan tubuh tamunya hingga pas. Prokustes secara harfiah berarti sang perentang.

Nassim Taleb yang skeptis itu menilai banyak hal terjadi di dunia seperti ranjang sang perentang. Banyak hal disesuaikan dengan cara yang justru berkebalikan dengan seharusnya. Ibarat tukang jahit yang mengklaim bahwa semua bajunya selalu pas dengan pemakai. Padahal yang dia lakukan bukan menyesuaikan baju jahitan terhadap tubuh melainkan menyesuaikan tubuh pemakai dengan baju karyanya. Begitulah Nassim Taleb menyindir kehidupan.

Sebenarnya buku ini bukanlah buku dalam arti sesungguhnya. Ini adalah kumpulan kalimat sindiran Taleb. Ada 383 kalimat yang disusun dalam buku ini. Kalimat begitu saja, seperti peribahasa atau kata bijak, tanpa penjelasan, dan saling terpisah-pisah.

Kalau di era jejaring sosial sekarang, ini semacam kumpulan status (Facebook, misalnya) yang dihimpun jadi buku. Atau semacam timeline Twitter (yang tanpa respons follower ataupun tanpa keterangan tambahan).

**
Ada kalimat yang sifatnya sederhana dan pribadi, ada yang menyangkut bisnis, ekonomi, ada soal sosial, filsafat, modernitas, dan sebagainya.

Beberapa di antaranya, seperti berikut:

“Anda lebih gampang mengingat e-mail yang Anda kirim tanpa dijawab orang daripada e-mail orang lain yang tidak Anda jawab.”

“Sebenarnya sikap yang dianggap banyak orang sebagai kerendahhatian adalah kesombongan yang tertutupi dengan sukses.”

“Benci itu cinta dengan salah ketik di dalam kode komputernya. Bisa dibetulkan tapi susah dicari di mana letak salahnya.”

“Benci lebih susah dipalsu daripada cinta. Cinta palsu sudah biasa terdengar, kalau benci palsu tidak pernah kedengaran.”

“Benci tak berbalas itu jauh lebih menyakitkan daripada cinta tak berbalas.”

“Jika seiring waktu amarah Anda berkurang sedikit demi sedikit, itu artinya Anda telah berbuat tidak adil; jika yang terjadi sebaliknya yaitu amarah Anda meningkat, artinya Anda menderita ketidakadilan.”

“Saat paling menyakitkan bukanlah yang kita habiskan bersama orang-orang yang tidak menarik, melainkan yang kita habiskan bersama orang-orang tak menarik yang berusaha menjadi menarik.”

****
“Dalam sains, Anda perlu memahami dunia. Dalam bisnis, Anda perlu orang lain yang salah dalam memahami dunia.”

“Penyakit zaman sekarang adalah keliru menyamakan yang tidak bisa diamati dengan hal yang memang tak ada. Namun wabah yang lebih parah adalah keliru menyamakan yang tidak diamati dengan yang tidak dapat diamati.”

“Untuk membuat bangkrut orang yang bodoh, beri saja dia informasi.”

“Dahulu orang mengenakan pakaian biasa pada hari biasa, dan pakaian resmi pada saat beribadah. Sekarang yang terjadi sebaliknya.”

“Buku adalah satu-satunya media yang belum dirusak oleh duniawi: apa pun yang bisa dilihat selainnya, memanipulasi Anda dnegan iklan.”

“Kita bertanya ‘mengapa dia kaya (atau miskin)’ bukan bertanya ‘mengapa dia tidak lebih kaya (atau lebih miskin); Kita bertanya ‘mengapa krisisnya parah’ bukan ‘mengapa krisisnya tidak lebih parah?’

“Lawan keberhasilan bukan kegagalan, melainkan kehilangan nama.”

“Sebagai orang berpandangan luas, Karl Marx menyadari bahwa budak bisa lebih mudah dikendalikan kalau dia meyakinkan bahwa dirinya adalah pegawai.”

“Perbedaan antara cinta dan kebahagiaan: mereka yang bicara cinta cenderung sedang jatuh cinta; mereka yang bicara kebahagiaan cenderung sedang tidak bahagia.”

“Modernitas menghadirkan narasi konyol bagi sejumlah kegiatan. Sekarang kita “berjalan untuk olahraga” bukan semata “berjalan” tanpa perlu adanya pembenaran sama sekali.”

“Daripada mencari penyebab kematian yang menewaskan orang lebih baik kita mencari penyebab kehidupan ketika orangnya masih ada.”

“Tiga kecanduan paling berbahaya adalah kecanduan heroin, kecanduan karbohidrat, serta kecanduan gaji bulanan.”

“Banyak orang sangat tidak orisinil sampai-sampai mereka belajar sejarah untuk mencari kesalahan yang bisa diulang.”

***
“Tandingan hukum Moore: tiap sepuluh tahun, kebijakan kolektif merosot sampai separuh.”

“Tragedi adalah ketika banyak hal yang Anda anggap acak sebenarnya berada dalam kendali Anda. Dan yang lebih parah, kebalikannya juga berlaku.”

“Kalau ingin membuat kesal seorang penyair, jelaskan pusinya.” [ini benar-benar versi lain ungkapan Iqbal dalam Stray Reflections]

“Kita sepakat menilai seseorang yang menyombongkan pencapaiannya sebagai orang berselera buruk. Tetapi ketika negara melakukannya, kita menyebutnya sebagai kebanggaan nasional.”

“Orang lemah bertindak untuk memenuhi kebutuhan, orang kuat bertindak untuk memenuhi kewajiban.” [ini juga mirip kalimat Iqbal soal orang kuat]

“Negara-bangsa suka perang, negara-kota suka perdagangan, keluarga suka kestabilan, dan individu suka hiburan.”

“Waktu datang ke hotel saya melihat ada ytamu yang dibawakan barangnya oleh porter. Belakangan saya lihat tamu itu angkat beban di gym.”

“Masalah pengetahuan terletak pada lebih banyaknya buku tentang burung yang ditulis ahli burung daripada buku tentang burung yang ditulis burung dan buku tentang ahli burung yang ditulis burung.”

“Ahli matematika memulai dengan masalah dan membuat penyelesaian; konsultan memulai dengan menawarkan penyelesaian dan membuat masalah.”

“Kelompok kiri menganggap bahwa karena pasar itu bodoh maka model yang digunakan haruslah pintar. Kelompok kanan percaya bahwa model yang digunakan itu bodoh maka pasar haruslah pintar. Sayang, kedua kelompok ini tak pernah berpikir bahwa pasar dan model sama-sama sangat bodoh.”

***
Masih ada ratusan kalimat lain yang amat menarik dan menggugah. Tentu tidak semuanya menarik, tetapi sebagian besar menarik. Betapa sulit kita menemukan kalimat-kalimat pendek dari satu orang (bahkan kalimat Tolstoy sekali pun) yang hampir semuanya menarik. Barangkali itulah salah satu kekuatan Nassim “Si Skeptis” Taleb.

Membaca buku ini mengingatkan saya akan buku Stray Reflections karya Iqbal (edisi Indonesia terbit pada awal dekade 1990an dengan judul Sisi Manusiawi Iqbal, Mizan). Nuansa kalimatnya, cara membahas filsafat, kekuatan, modernitas, ekonomi, benar-benar mirip gaya Iqbal. Kuat, sinis, membuat dahi mengkerut.

Buku Taleb setebal 156 halaman itu diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan dijual dengan harga Rp45.000.

PS: Lebih dari dua bulan saya tidak menulis di blog maupun note Facebook. Sebagai orang yang lebih 10 tahun bekerja di bidang tulis menulis, belasan tahun belajar agak serius menulis, serta tiga tahun ngeblog, ini adalah hal yang memalukan. Bagaimana mungkin orang semacam ini kok semangat menulisnya masih tergantung mood? Maka saya berterima kasih kepada Nassim Taleb yang berhasil menggugah semangat menulis ini, meski pendek saja.

Padahal dalam rentang beberapa bulan ini ada beberapa buku dan peristiwa yang layak pula untuk dielaborasi dalam tulisan, misalnya “Logika Hidup-logika ekonomi di balik seks, kejahatan, rasisme, dan politik kantor” karya Tim Harford, “Gratis” karya Chris Anderson pengarang Long Tail, “Never Eat Alone” karya Keith Ferrazi, atau “The Next 50 Years” tulisan Richard Watson.

25 Januari 2011

Pilih cluster kecil atau perumahan besar?


Saya membagi perumahan dalam tiga kelompok. Pertama adalah perumahan besar dengan lebih 1.000 rumah di dalamnya. Kedua adalah perumahan sedang dengan jumlah rumah 50-1.000-an. Ketiga adalah cluster kecil dengan jumlah rumah di bawah 50 unit.

Cluster yang berada dalam perumahan besar saya masukkan dalam kelompok perumahan besar. Bagaimana trennya kan perumahan besar dibagi-bagi dalam cluster-cluster.

Masing-masing perumahan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya tidak ingin menggeneralisasi. Akan tetapi, saya coba mengenali berdasarkan pengamatan. Barangkali berguna untuk mereka yang sedang menimbang-nimbang atau mencari rumah untuk dibeli.

*Perumahan besar
Kelebihan:
-Biasanya terkenal, punya nama besar, mudah dicari dan ditemukan dalam peta atau ketika akan dikunjungi.
-Biasanya prasarana lengkap seperti sekolah, tempat belanja, tempat olahraga. Tetapi itu hanya terjadi jika perumahan sudah masuk tahap matang, bukan baru dibangun.
-Mungkin saja gengsinya lebih tinggi dibandingkan perumahan sedang atau kecil
-Enak untuk jalan-jalan atau sepedaan di dalam kompleks

Kekurangan:
-Biasanya jarak rumah dengan pintu masuk cukup jauh. Tidak bermasalah untuk yang setiap saat pergi pulang naik mobil atau motor. Akan tetapi repot kalau naik angkot dan mahal kalau naik ojeg.
-Karena perumahan besar, posisinya biasanya di lahan yang sama sekali baru. Kadang akses menuju perumahan juga sulit atau belum dijangkau dengan angkutan umum, terutama malam hari.
-Iuran bulanan untuk kebersihan dll, konon, mahal.

*Perumahan sedang
Kelebihan:
-Posisinya tidak terlalu terpencil karena lahan yang diperlukan tidak luas-luas amat.
-Relatif cepat penuh sehingga ‘kematangan’ lebih cepat tercapai. Biasanya lokasi belanja dan semacamnya segera terbangun.

Kekurangan:
-Tidak seterkenal perumahan besar sehingga posisinya sedikit lebih sulit ditemukan di peta daripada perumahan besar.
-Mungkin harganya lebih miring. Tetapi gengsinya juga sering kalah.


*Cluster kecil
Saya ingin menyoroti ini. Sebagai orang yang banyak mengandalkan angkot dan sering pulang malam, maka lokasi perumahan yang dekat angkot dan fasilitas umum menjadi pilihan.

Konsekuensinya, perumahan besar-besar rasanya tidak cocok. Jika posisi rumah dalam perumahan besar itu dekat jalan dan strategis, biasanya sudah sangat mahal. Atau perumahan sudah lama sehingga yang ada adalah rumah second. Perumahan sedang mungkin cocok. Tetapi tidak banyak yang cocok.

Saya merasa solusinya ada pada perumahan-perumahan kecil. Cluster kecil. Cluster itu kadang memang kecil banget, hanya 3 rumah, 5 rumah. Ada juga yang 9 rumah, 13 rumah, sampai 40-an rumah.

Perumahan dalam cluster kecil begini bisa mengambil posisi strategis karena memanfaatkan lahan kosong yang sempit. Lahan 1.000 meter persegi, misalnya, dibagi 10 rumah, dikasih gerbang, dibuatkan jalan.

Di daerah-daerah yang tampaknya sudah jenuh atau padat, masih sering ada perumahan kecil seperti ini, cluster-cluster kecil ini.

Misalnya di Depok masih ada Bukit Depok Permai (13 rumah) di Jalan Bahagia, Mutiara Buana (50-an rumah) di Jl Haji Dimun, Villa Juanda (15 rumah) dekat jalan Juanda, Martani (3 rumah) di RTM, Kania (7 rumah) di RTM, Hexa (5 rumah) di RTM, Arroyan (9 rumah) di Jalan Kebahagiaan Kompleks Hankam.

Di Bandung, seputaran Pasteur yang padat juga ada cluster kecil semacam ini, misalnya Puri Matahari (10 rumah, sudah penuh).

Kalau kita googling dengan kata kunci “cluster murah di …” biasanya kita akan sampai ke iklan dan informasi mengenai cluster-cluster kecil semacam ini.

Karena perumahannya kecil, nilai investasinya juga kecil, sehingga sulit menemukan iklan di media cetak. Iklannya paling ada di spanduk seputaran lokasi atau di Internet. Jadi upaya mencarinya juga perlu lebih gigih. Perlu lebih sering survey di seputaran lokasi. Dan survey mesti benar-benar jeli. Syukurlah ada bantuan Internet yang sangat membantu, ada google maps dan wikimapia yang jadi senjata ampuh untuk survey lokasi secara virtual sebelum benar-benar datang ke tempat perumahan itu.

Sayangnya perumahan kecil semacam ini, biasanya jalan masuknya juga kecil. Karena lingkungan sudah padat, jalan masuk kecil dan kelak-kelok pun tak apa. Yang penting dekat dengan pusat segala macam yang diperlukan: sekolah bagus, toko-toko, rumah sakit, perkantoran, tempat jualan makanan besar makanan kecil, tempat jual koran, bengkel, kantor pos, tempat fotocopy, dan sebagainya.

Karena perumahan sangat kecil, biasanya fasilitas umum/sosial ikut ke perumahan/perkampungan yang sudah ada. Juga tidak perlu membuat RT sendiri, ikut saja ke kampung. Iuran untuk kebersihan, keamanan, dan sebagainya biasanya tidak mahal karena ikut ke kampung yang sudah ada.

***
Pada akhirnya semua kembali pada selera, kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang, ketekunan dalam survey, kecocokan harga, serta mood si pencari rumah itu sendiri. Yang jelas, jangan fokus pada perumahan besar yang megah-megah. banyak opsi lain yang kecil-kecil. tetap gigih mencari alternatif dan memanfaatkan Internet. Gunakan SMS untuk mengontak penjualnya guna mendapatkan informasi lebih detil mengenai lokasi, harga, spesifikasi bangunan, dan aspek-aspek lain.

Wallahu alam

27 Desember 2010

Menelanjangi China


Banyak orang menyepelekan produk China. Motor dan alat komunikasi buatan China barangkali termasuk yang punya citra kurang baik di Indonesia.

Paul Midler, pria Amerika Serikat yang beberapa tahun berada di China, mencoba memberikan gambaran nyata tentang bagaimana perusahaan manufaktur China beroperasi.
Di antara banyak buku yang bercerita tentang kehebatan China dengan perekonomian, jumlah penduduk, serta kemamuan menirunya yang luar biasa, buku "Abal-abal Produk Cina" ini adalah salah satu reportasi terbaik.

Para pengusaha China—buku ini menggunakan ejaan Cina—memiliki budaya dan cara komunikasi unik yang mungkin sulit dipahami oleh para mitranya dari Barat. Midler juga mampu menggambarakan kesalahpahaman dan miskomunikasi itu dengan baik.

Midler banyak ke luar masuk ke pabrik-pabrik di China. Suatu ketika dia datang ke sebuah perusahaan kimia. Ada bau sangat menyengat yang meliputi seluruh pabrik.
Dia kelepasan nyeletuk ketika mengunjungi pabrik itu. “bau sekali,” keluh Midler yang pandai berbahasa mandarin itu.

Mendengar kata-kata Midler, pemilik pabrik langsung membunag rokoknya dan berkata,” Anda orang asing. Anda datang ke China dan mengeluh tentang polusi, tetapi saya ttidak tahu apa sebabnya.”

Kemudian, dia menunjuk ke sekeliling yang berkabut dan berkata, “Bagi saya, tempat ini baunya seperti uang.”

Bagi sebagian besar orang China yang memimpikan kehidupan yang lebih baik, papar Midler, bau di pabrik berkaitan dengan peluang ekonomi yang lebih baik. Sudut kota yang lebih miskin, yang baunya segar atau sama seklai tidak berbau, tidak perlu dicemburui, melainkan dikasihani.

**Memberi kemudahan
China banyak sekali memberikan kemudahan bagi orang asing yang ingin berbisnis. Dan di negara totaliter itu, kesadaran untuk memperlakukan orang asing dengan sebaik-baiknya serta semudah-mudahnya sudah merambah ke segenap penjuru masyarakat.

Midler bercerita ketika dia harus membantu temannya di As untuk menjalin kerja sama dengan calon mitranya di China. Dalam pemesanan hotel, begitu tahu bahwa mereka akan melakukan kerja sama bisnis, pengelola langsung memberikan fasilitas berupa diskon yang besar.

Dalam keterbatasan cara komunikasi, para pengusaha China juga menyadari bahwa mereka perlu memberikan kemudahan bagi calon mitranya dalam mengirimkan barang dari China, mencari alamat, sistem pembayaran, penginapan, dan sebagainya. Perizinan juga nyaris tidak diperlukan sama sekali.

Para pengusaha di China umumnya tidak menyukai komunikasi email atau telepon. Mereka juga tidak suka membuat janji bertemu. Menurut Midler, mereka lebih suka mengandalkan pertemuan yang bersifat spontan. Janji bertemu akan dipandang sebagai salah satu hambatan untuk mendapartkan peluang lain yang mungkin saja datang tiba-tiba.

Karena ada perbedaan huruf dan bahasa yang signifikan, pemilik pabrik di China kadangkala tidak tahu persis benda apa yang sedang mereka buat. Tetapi seperti kata Midler, mereka nyaris bisa membuat apa saja. “Yang kami butuhkan hanyalah contoh produk Anda.”

Namun di tengah kesulitan cara dan model komunikasi, barangkali bahasa paling mudah dalam bisnis adalah uang. Agaknya itulah bahasa universal yang mampu mengalahkan beragam perbedaan budaya dan cara komunikasi.

**Pintar meniru
Kehebatan China sebagai surga peniruan ternyata juga membawa masalah tersendiri diantara para pengusaha.

Karena meniru sudah begitu merajalela, para pengusaha China kadang berkelakuan aneh. Mereka sangat khawatir para pesaing akan mencuri desain yang mereka peroleh dari Eropa.

Di sebuah pabrik sepatu, misalnya, para pegawai diberi kesempatan membeli sepatu dengan diskon, tetapi mereka tidak diizinkan membawa sepatu itu ke luar pabrik selama satu tahun penuh, sampai desain sepatu tersebut dikenal luas di pasaran.

Midler menggambarkan betapa pengusaha China mampu meniru apa pun, bahkan tanpa mengerti apa fungsi benda yang dibuatnya. Dia mengungkapkan cerita yang mengelikan tentang pesanan sepatu dari Turki.

Syahdan, pemesan dari Turki kebingunan ketika menemukan semua sepatu yang dipesannya tertancap paku pada sisi kiri. Usut punya usut, ternyata masalah ada pada sepatu contoh yang dibawa pemesan dari Turki. Pada sepatu contoh itu tertancap paku untuk menggantungkannya di ruang pamer. Itulah joke untuk menggambarkan betapa orang China hanya berorientasi untuk meniru semirip mungkin, tanpa peduli fungsi benda itu.

Hal-hal yang membingungkan para mitra di Barat seperti pabrik yang tiba-tiba hilang, kontak yang tiba-tiba sulit dihubungi, e-mail tidak dibalas, dijelaskan oleh Midler dengan memikat. (Setyardi Widodo)

*) Versi lebih singkat dimuat di Bisnis Indonesia edisi awal Desember 2010

14 Desember 2010

Terjemah Al-Quran dalam format MP3


Dalam perjalanan ke Bandung, saya menemukan penjual CD Al-Quran dalam format MP3 di masjid pada tempat istirahat Km 57.

Salah satu produk yang paling menarik dan memang sudah lama saya cari adalah CD yang berisi bacaan Al-Quran disertai dengan bacaan terjemah dalam Bahasa Indonesia.

Bagi saya, ini sangat membantu dibandingkan bacaan murattal yang dilengkapi terjemah dalam bentuk teks. Terjemah dalam bentuk teks membuat kita harus melihat ke layar untuk mengerti isi ayat yang dibaca. Ini sulit diakses di kendaraan atau sambil mengerjakan hal lain yang tidak memelototi layar.

CD Al-Quran yang saya beli itu terdiri atas 4 keping dalam satu wadah. Harganya Rp75.000. Sayangnya tidak bisa dibeli terpisah. Harus satu set. Wadahnya bagus. Anak saya sampai mengira itu buku karena wadahnya memang seperti buku.

Terjemah dibaca untuk masing-masing ayat. Dibaca satu ayat lalu dibaca terjemahnya. Masing-masing surat berada dalam satu file. Jadi kalau kita tekan next akan berlanjut ke surat berikutnya.

Salah satu yang menarik adalah kita bisa copy masing-masing file itu ke dalam komputer atau flash disk. Jadi, kalau kita khawatir CD-nya rusak, kita masih punya back up di perangkat penyimpan yang lain. File copynya, tanpa maksud membajak, bisa diputar di MP3 player atau pemutar musik yang bisa ditenteng ke mana-mana dengan ringan.


Murattal itu dibaca oleh Musyarii Rasyid. Bacaannya enak, intonasi enak. Suara jelas. Tidak terlalu cepat. Juga tidak terlalu lambat sebagaimana qiroah.

Adapun terjemah dibaca oleh seorang wanita yang tidak disebutkan namanya (Bagiku ini tanda tanya. Mengapa mesti perempuan yang membacanya?) Intonasinya datar (nyaris tanpa intonasi). Sebagai pembanding, saya pernah punya kaset berisi bacaan Quran dengan terjemah dibaca pria. Satu kaset berisi beberapa surat pilihan. Bacaan terjemahnya tegas, dengan intonasi kuat. Namun logatnya terlalu Melayu. Nah, pada CD MP3 ini, bacaan terjemahnya menurut saya terlalu lembut.

Kualitas perekaman bacaan terjemah ini juga kurang bagus. Banyak noise dan dengung, tidak sejelas bacaan Qurannya.

Alhamdulillah. Untuk para commuter yang setiap hari menghabiskan lebih dari 3 jam di jalan, CD MP3 Al-Quran beserta terjemahannya ini bisa menjadi opsi menarik. Apalagi jiga isinya dipindahkan ke pemutar MP3 yang bobotnya hanya beberapa gram dengan memori 16 GB. (Setyardi Widodo, inspirana.blogspot.com, wikeliks.blogspot.com)

13 Desember 2010

‘Lebih baik menyadari dirinya ningrat’

Di Yogya, perdebatan mengenai apakah demokrasi bertentangan dengan aristokrasi; adakah monarki; serta bagaimana keningratan berperan, belakangan memanas.

Saya jadi teringat dengan sebuah buku dengan sampul merah dan kertas berat terbitan Ina Publikatama, Jakarta, Mei 2004. Buku setebal 360 halaman itu berjudul Masa Depan Kebebasan, Penyimpangan Demokrasi di Amerika dan Negara Lain.

***

Fareed Zakaria dalam Masa Depan Kebebasan mengungkapkan cerita sisi lain dari tragedi Titanic. Apa yang diungkapkan oleh Zakaria berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam versi film yang amat laris.

Dalam film, para penumpang kelas pertama berebutan naik sekoci yang jumlahnya sedikit. Hanya karena kekerasan hati para kelasi yang menggunakan senapan untuk menghalangi para elit ini maka para wanita dan anak-anak dapat diselamatkan.

Zakaria, berdasarkan cerita dari orang-orang yang selamat, menyatakan bahwa prosedur ‘para wanita dan anak-anak dahulu’ diikuti tanpa kecuali oleh kalangan kelas atas.

Data dari kecelakaan mendukung hal ini. Di kelas pertama, setiap anak berhasil diselamatkan. Dari 144 wanita hanya 5 yang gagal diselamatkan. Tiga dari 5 orang itu memang memilih tinggal bersama suaminya di kapal yang tenggelam. Sebaliknya, 70% para pria kelas pertama tewas.

Di kelas kedua yang juga diisi kalangan profesional kaya, 80% dari para wanitanya diselamatkan namun 90% prianya tewas tenggelam.

Para pria yang ada dalam kapal Titanic sebenarnya masuk dalam Forbes 400 pada waktu itu. Bahkan ada kisah sangat heroik tentang John Jacob Astor dan Benjamin Guggenheim yang berenang menyelamatkan istrinya dan memberikan tempat duduknya untuk orang lain.

Menurut Zakaria, pembuat film mengubah cerita karena berpendapat bahwa orang zaman sekarang tidak akan percaya kisah yang sebenarnya mengenai kisah orang-orang elit itu. Dalam wacana masa kini, mereka para orang super kaya itu hanyalah seperti kita semua, orang biasa.

***
Fareed Zakaria mengungkapkan cerita tentang tragedi Titanic untuk mendukung hipotesisnya mengenai perbedaan sikap antara orang yang sejak semula sudah lahir dari kalangan elit dengan orang kaya baru yang awalnya berasal dari kalangan kebanyakan.

Perdebatan antara demokrasi dan keningratan sudah sejak lama dibahas para filosof. Meski Aristoteles tidak percaya bila kekuasaan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat awam, arus utama yang menang di dunia saat ini tentu saja demokrasi di mana semua orang memiliki hak yang sama.

Agaknya Zakaria mengamati kelemahan dari penyerahan kekuasaan sepenuhnya kekuasaan kepada rakyak kebanyakan. Itu tampak pada perkembangan sosial di AS beberapa dekade belakangan ini.

Dia mengamati para elit baru AS adalah sekumpulan keluaran universitas yang cerdas. Kalangan elit ini lebih heterogen, meritokratis, dan dinamis dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Sayangnya, orang-orang di dalamnya bukanlah orang yang sejak awal telah sadar mengenai ststus elit mereka. Jika mereka dikatakan sebagai elit, mereka malah menyangkalnya.

Selama bertahun-tahun dia menjadi salah seorang terkaya sedunia, Bill Gates hanyalah memandang dirinya sebagai bagian dari kelas menengah ke atas biasa.

Dan sampai baru-baru ini, ketika kekuasaan mereka menjadi terlalu besar untuk diabaikan, negara memandang dia dan para taipan baru yang dia wakili sebagaimana mereka memandang diri mereka: sebagai orang iasa yang kebetulan memiliki uang.

Namun gambaran ini, menurut Zakaria, salah dan menyesatkan. Kelompok orang yang relatif kecil –barangkali 1 juta atau 0,5 persen dari populasi AS— menjalankan sebagian besar lembaga utama dan memiliki pengaruh dalam banyak hal.

Jika mereka atau negara tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya adalah elit, maka mereka juga tidak akan menysuaikan diri dengan status mereka.

***
Sebagai kesimpulan dan penegasan, Fareed Zakaria mengingatkan soal kesadaran dari kalangan elit. Menurut dia, pada dasarnya orang kaya dan berkuasa akan selalu ada. Kita hanya bisa meminta agar mereka menyadari bahwa dengan hak-hak istimewa yang mereka miliki ada tanggung jawab tertentu. (Setyardi Widodo)

*Foto diambil lewat googling, tidak jelas sumbernya.

09 Desember 2010

Ketika data benar-benar terbuka


Sejak awal kehadirannya, Internet dan jaringan komputer sudah diramal akan membawa manusia ke dunia yang kian terbuka. Kehadiran situs web dengan berita-berita real time merupakan awal dari era keterbukaan itu.

Selain sampah informasi makin banyak, keterbukaan juga kian nyata di dunia maya. Para pesohor di dunia hiburan mungkin termasuk kelompok yang paling sering menjadi ‘korban’ keterbukaan informasi.

Banyak privacy dan hal-hal pribadi rahasia para pesohor itu yang terungkap secara lugas di Internet sehingga bisa menjadi konsumsi umum. Sesuatu yang memalukan sering nongol di dunia maya sehingga mengganggu kehidupan nyata si pesohor.

Belakangan ini, keterbukaan dunia maya kembali menghentak. Kali ini bukan hanya pesohor dari dunia hiburan yang dibikin kelabakan. Para politisi penting dunia, para penguasa panggung politik dunia, serta pejabat teras di negara-negara besar pun dibuat pusing.

Keterbukaan yang belakangan dihadirkan oleh WikiLeaks memang menjadi guncangan tersendiri sekalipun kita sudah belasan tahun mengenal Internet yang sejak awal kehadirannya diprediksi akan membawa manusia ke dunia yang lebih terbuka.

Tak banyak yang menyangka bahwa dokumen-dokumen yang semua dianggap super rahasia ternyata bisa mudah saja ditampilkan ke publik. Hal-hal yang pada masa lalu baru bisa diakses oleh masyarakat setelah 30 tahun dari penerbitan dokumen itu, kini bisa diakses dalam rentang beberapa tahun saja.

Itulah salah satu hal penting yang dibawa oleh WikiLeaks.

Dan dalam mengadang Wikileaks, akhirnya, tindakan biasa dalam politik—semacam penangkapan, tuduhan ini itu—lah yang digunakan untuk menutup keterbukaan. (sumber wikeliks.blogspot.com)

Foto dari AP, diambil lewat news.yahoo.com

29 November 2010

"Taken" di Bioskop TransTV

Tadi malam ada film bagus yang diputar di Bioskop TransTV. Sebuah film barat tentu saja. Judulnya sangat pendek, TAKEN.

Ini cerita tentang perjuangan seorang ayah (Bryan Mills) untuk merebut kembali anak perempuan semata wayangnya (Kim) dari tangan sindikat penculik.

Kim hidup bersama ibunya (Lenore) yang menikah lagi dengan seorang pria kaya raya. Film itu diawali dengan adegan ulang tahun Kim. Ayahnya memberikan hadiah semacam alat karaoke karena mengingat Kim waktu kecil ingin jadi penyanyi. Ayah tirinya yang kaya raya memberinya hadiah kuda yang tentu saja mahal, bagus dan menyenangkan.

Agaknya, hubungan antara Bryan yang agen intel dan menjadi pekerja keamanan dengan Lenore tidaklah bagus. Itu tampak sekali ketika ibu Kim mendesak Bryan untuk mengizinkan anak perempuannya yang tinggal di California itu berwisata ke Prancis.

Bryan yang merasa sudah melihat dunia yang luas sangat khawatir dengan kepergian Kim yang berusia 17 tahun hanya berdua dengan temannya, Amanda, yang seumuran. Kim dan ibunya bahkan menyembunyikan rencana untuk tidak hanya ke Paris melainkan ke berbagai kota dan tanpa ditemani orang dewasa.

Semula Bryan tidak mengizinkan anaknya itu pergi. Bryan dianggap terlalu paranoid karena sifat pekerjaannya. Tapi akhirnya dia mengizinkan anaknya pergi ke Prancis dengan mengajukan sejumlah syarat, termasuk membekalinya dengan telepon internasional yang memudahkan mereka berkomunikasi.

Lalu terjadilah apa yang dikhawatirkan Bryan. Kim dan Amanda dapat kenalan baru di bandara yang ternyata adalah sindikat penculik gadis-gadis belia.

Kim diculik persis saat ayahnya berusaha meneleponnya. Lalu terjadilah aksi heroik Sang Ayah untuk membebaskan anaknya hanya dalam batas waktu 96 jam. Berbekal informasi sepotong yang direkam dari percakapan telepon dengan anaknya ketika sedang diculik itulah dia melacak sedikit demi sedikit sindikat yang berasal dari Eropa Timur itu (buat film Amerika, paling gampang memang melekatkan sindikat-sindikat itu dengan Eropa Timur).

Proses pencarian hingga menemukan anaknya itu keras dan brutal. Tidak bagus ditonton anak-anak. Bryan juga terkesan terlalu tangguh seperti Bourne dalam film lain. Menembak sekali lawan langsung mati, ditembak berkali-kali tidak kena. Sekali memukul lawan tersungkur, dipukul berkali-kali tidak kunjung kena.

***
Terlepas dari kebrutalan serta kemampuan terlalu tangguh khas film action, inti cerita dalam film ini, menurut saya, sangatlah bagus. Sebuah bukti kecintaan seorang ayah terhadap putrinya semata wayang. Sebuah cinta tulus yang membuatnya rela mengorbankan apa saja untuk keselamatan dan kebaikan buah hatinya itu.

Saya kira film yang judulnya mirip bahasa Jawa, tekan, ini salah satu film terbaik yang pernah diputar Bioskop Trans TV.

Film yang dibintangi Liam Neeson, Maggie Grace, serta Famke Janssen, dengan sutradara Pierre Morel dan penulis Luc Besson serta Robert Mark Kamen ini memang bagus dan menarik. (Setyardi Widodo)

25 November 2010

Antara Seoul dan Pyongyang

Datanglah datanglah. Siapa yang ingin berperang. Ke antara Seoul dan Pyongyang.
Dengarlah dengarlah. Hymne perang berlagu kencang. Kian hari kian meluas.


Persaudaraan, keberanian, keserakahan. Tercecer jadi puing
Di sana yang lemah bisa kuat. Yang kuat bisa saja kalah.

Lihatlah lihatlah. Amerika ditendang China. Jepang pun payah di Laut Kuning.

Tahukah tahukah. Obama, Hu Jianto. Kan, Kim Jong-il serta Kim Jong-un.
Siapa yang jadi pahlawan ? Atau semuanya sia-sia?

Bilakah semua kan berakhir? Kehancuran atau kebangkitan?

*Dimodifikasi dari lagu Bimbo: Antara Kabul dan Beirut
Foto dari AP

22 November 2010

Kebranang ing Gegayusan

Dulu, waktu saya masih SD hingga awal kuliah, ada acara tv yang sangat digemari orang desa di seputar Yogya dan Jawa Tengah bagian selatan. Itulah acara kethoprak yang ditayangkan TVRI stasiun Yogyakarta setiap malam Minggu.

Ketika itu di desa saya belum banyak pesawat tv. Di sekitar tempat saya tinggal hanya Pak Lurah yang punya. (Saya menyebutnya Mbah Lurah karena masih termasuk kerabat dengan level mbah. Waktu saya kelas 6 SD, Mbah Lurah membeli tv baru dan tv lama yang hitam putih merek Johnson diakuisi oleh orang tua saya).

Maka di rumah Mbah Lurah itulah setiap malam Minggu berkumpul puluhan warga dari orang dewasa hingga anak-anak lain untuk nonton kethoprak.

Di desa saya waktu itu belum ada listrik. Jadi, tv dihidupkan dengan aki (accu). Beberapa hari sekali harus diisi ulang ke desa lain yang sudah ada listrik PLN.

***

Pada masa akhir kejayaan kethoprak itu, TVRI Yogya pernah menanyangkan kethoprak sayembara. Saya lupa persisnya tahun berapa. Barangkali untuk mengantisipasi munculnya stasiun tv swasta yang siarannya lebih variatif.

TVRI menggandeng penulis cerita ternama untuk bergabung. Termasuk di antaranya SH Mintardja yang dikenal publik Yogya dan Jawa Tengah sebagai penulis cerita Nagasasra & Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, dan Pelangi di Langit Singasari sebagainya. (bisa lihat tulisan-tulisan beliau di adbmcadangan.wordpress.com)

Dua karya SH Mintardja yang digelar untuk kethoprak sayembara itu, yang saya ingat, adalah “Ampak-ampak Kaligawe” serta “Kebranang ing Gegayuhan”. Seingat saya, TVRI dalam menggelar sayembara juga melibatkan majalah berbahasa Jawa “Djaka Lodhang”.

***
Cerita “Kebranang ing Gegayuhan” ini paling menarik. Secara harfiah, kebranang artinya terbakar atau tergoda. Gegayuhan artinya harapan, angan-angan, cita-cita. Pokoknya sesuatu yang ingin digayuh atau dicapai. “Kebranang ing Gegayuhan” kira-kira artinya yang paling pas dengan cerita adalah “terbakar oleh angan-angan”.

Ini cerita tentang seseorang atau sekelompok orang yang karena tergiur dengan jabatan yang tinggi lalu menempuh cara-cara nista. Dia menghalalkan segala cara termasuk mencelakakan orang lain, orang dekat, melakukan pembunuhan, dan sebagainya.

Dalam sayembara, pertanyaannya adalah tentang siapa yang menjadi dalang pembunuhan seorang pejabat di Kadipaten Kateguhan. Sebagai cerita sayembara, banyak kejutan yang ditampilkan.

Entah mengapa inilah satu-satunya cerita yang kethoprak sayembara yang nama tokoh-tokohnya masih saya catat. Saya lupa persisnya bagaimana bisa mencatat nama tokoh-tokoh dalam cerita itu di salah satu buku yang memang saya khususnya untuk mencatat kutipan buku, ceramah orang, serta bacaan-bacaan menarik.

Tokoh-tokoh yang masih tercatat antara lain Rantamsari, Senapati Sanggayuda, Rembono, Sasongko, Wignyono, Wismoyo, Madyasto, Wicitro. Lalu ada Tumenggung Reksadrana, Wiradapa, serta Demang Panjer.

Sebagai kejutan, ternyata dalang kekisruhan itu adalah Rantamsari, istri Adipati Kateguhan. (Nama si wanita mengandung makna yang terkait erat dengan kata gegayuhan). Sebenarnya, saya kira, yang lebih terbakar oleh angan-angan bukanlah Rantamsari melainkan orang-orang suruhannya yang mendapatkan banyak iming-iming untuk melakukan tindakan yang mencelakakan orang lain.

***
Lalu, kalau mengingat cerita berkembang di media massa belakangan ini, tentang orang-orang yang lupa daratan karena angan-angan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya, saya kok jadi ingin mengubah cerita SH Mintardja itu menjadi “Kebranang ing Gegayusan.”


PS: Gambar diambil dari cover salah satu cerita karya SH Mintardja, Panasnya Bunga Mekar.

Mobil adalah kendaraan yang sangat tidak efisien

Untuk mengangkut satu atau dua orang yang bobotnya masing-masing kurang dari 100 kg, diperlukan mobil dengan bobot 1 ton atau 2 ton.

Jadi, bobot kendaraan rata-rata bisa 10 kali lipat dari bobot pengemudi atau pengendaranya. Bahkan, untuk kasus saya, rasio itu bisa meningkat menjadi 20 kali lipat.

Bukankah itu berarti sebagian besar energi dari mobil itu digunakan untuk menggerakkan dirinya sendiri, bukan untuk menggerakkan atau membawa penumpang?

Memang betul, ada mobil-mobil yang sangat efisien. Satu mobil omprengan bisa diisi dengan 9 orang. Satu angkot bisa diisi hingga 14 orang. Satu bus bisa diisi dengan puluhan orang.

Dalam kasus semacam itu rasio antara bobot kendaraan dengan bobot penumpang mungkin sangat rendah, 2:1 atau bahkan mendekati 1:1. Ini sangat efisien.


Akan tetapi, pada kenyataanya, tidaklah terlalu banyak mobil dengan rasio rendah semacam itu. yang banyak terjadi, dan paling banyak terjadi, dan yang membuat kemacetan begitu besar, adalah rasio pembuangan energi yang luar biasa besar.

Ini berarti, peluang perbaikan lingkungan dari satu titik di atas masih sangat terbuka. Jika bobot mobil bisa dikurangi setengahnya, dengan penggunaan material yang ringan tapi kuat, penghematan energi akan besar sekali. Penghematan bahan bakar juga besar.

Mari dukung riset dan pencarian material (bahan) baru yang lebih ringan untuk kendaraan-kendaraan agar mobil bisa menjadi kendaraan yang efisien. (Setyardi Widodo)

Foto: Sebuah mobil di dekat labtek sekian

04 Oktober 2010

Sekar bisa naik sepeda roda 2, alhamdulillah

Pekan pertama bulan Oktober saya kira menjadi salah satu hari penting dalam perkembangan motorik Sekar. Sekar sudah bisa naik sepeda.

Hari Sabtu dia bisa naik 19 gowesan tanpa menyentuhkan kaki di tanah. Dan hari Minggu, saya berani menyebutnya sebagai ‘bisa naik sepeda’. Tandanya, antara lain: sudah bisa menentukan sendiri kapan berhenti (bukan terpaksa berhenti karena mau nabrak), bisa menentukan kapan harus menginjakkan kaki ke tanah (bukan karena sepeda miring sehingga kaki harus menyangga), dan bisa melakukan gerakan manuver memutar di jalan datar selebar 3 meter.

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Ini sekaligus menjadi hadiah bagi dirinya sendiri menjelang ulang tahun ke-6.


***
Sekar sudah biasa membonceng sepeda. Sejak TK dua tahun yang lalu, dia diantar jemput dengan sepeda onthel. Lalu sejak 10 bulan yang lalu, dia diantar jemput ke sekolah dengan sepeda listrik. Jadi, sebagai penumpang sepeda, dia sudah biasa.

Namun minatnya untuk mengendarai sendiri sepeda tidak segera muncul. Sudah lebih dari setahun dia dapat lungsuran sepeda dari kakak sepupunya. Sepeda yang bisa disetel apakah dengan 2 roda atau 4 roda (2 roda kecil sebagai penyangga). Hanya sesekali dia mencoba naik sepeda roda 4 itu. Malah sepeda jadi lebih banyak dipakai teman-teman sepermainan yang lebih besar.

Lalu entah mengapa minatnya naik sepeda muncul pada September, ketika 2 roda penyangga dilepas. Lalu puncak semangat itu tampak membara pada akhir September.

Pagi, siang, sore, ngajak belajar naik sepeda. Bahkan pada akhir pekan terakhir bulan September, subuh-subuh dia sudah minta ditemani belajar naik sepeda.
Awalnya tentu saja tertatih-tatih.

***
Menurut pengamatan saya, ada dua hal yang harus dipunyai pengendara sepeda yaitu daya dorong dan keseimbangan.

Ternyata menggowes sepeda butuh tenaga yang lumayan juga. Setidaknya pada awal masa belajar. Misalnya, Sekar bisa mendorong dengan kaki menginjak tanah, namun ketika mennggowes pedal kurang kuat.

Lalu soal lain adalah keseimbangan. Saya kira melatih keseimbangan dengan meluncur di jalan menurun lebih baik daripada orang dewasa memegangi sepeda dari belakang. Memang ada risiko jatuh. Tetapi, meluncur di turunan, asal tidak terlalu curam, langsung mengajarkan cara menjaga keseimbangan sepeda agar tidak roboh.

Tampak betul bagaimana anak yang belajar naik sepeda mencoba mencari formula yang pas antara daya dorong dan keseimbangan. Sebagai conoth, ketika dia mengerahkan tenaga menggowes, keseimbangan tak terjaga. Ketika harus konsentrasi menjaga kesimbangan, tenaga gowes tidak terurus.

***
Mengamati dia belajar, sebagai orang tua, saya ingin Sekar segera bisa. Kalau sudah bisa, berarti tidak perlu jatuh-jatuh lagi. Tidak mendebarkan lagi.

Bisa naik sepeda berarti di masa mendatang dia lumayan terbebas dari ketergantungan terhadap ojek, angkot, dan pengantar. Dia bisa membawa kendaraan sendiri yang sehat, ramah lingkungan, murah, bisa masuk ke gang, dan sebagainya. Kemungkinan besar dia juga akan bisa naik sepeda motor, insya Allah.

Mengamati semangat anak belajar naik sepeda itu perasaan juga campur aduk. Saya sempat bertanya-tanya darimana semangat belajar yang tak kenal lelah itu berasal? (Beberapa kali jatuh, tetapi alhamdulillah tidak fatal. Cuma nangis sebentar. Sejam kemudian sudah belajar lagi)

Saya sempat mikir apakah ada masalah dengan sepeda yang dia gunakan untuk berlatih? Apakah dia perlu sepeda baru yang lebih ringan, lebih baik, lebih nyaman daripada yang digunakannya untuk latihan? Dan sebagainya.

Belajar naik sepeda saya kira salah satu cara terbaik melatih motoriknya. Sekar ini mungkin mewarisi sifat penakut ayahnya: terlalu banyak pertimbangan sebelum melakukan gerakan yang agak ekstrem. Tetapi selama belajar naik sepeda, ketakutan semacam itu tidak tampak. Juga, nafsu makannya meningkat pesat.

Saya kira ini juga menjadi salah satu prototipe tentang bagaimana mempelajari keterampilan tertentu.

Menemani anak belajar naik sepeda ini juga mengingatkan saya bahwa saya belum pernah mencoba mencari formula bagaimana belajar naik sepeda yang efisien. Sudah agak lupa bagaimana dulu saya belajar naik sepeda (sepeda jengki besar, saat kelas 4 sd, usia 9 tahun atau 10 tahun).

Mungkin anak akan lebih cepat dalam belajar kalau pelatihnya benar-benar mengenali mana yang harus dipelajari terlebih dahulu, bagaimana triknya, variable penentunya, serta hal-hal lainnya.

Bagaimanapun, alhamdulillah, Sekar sudah bisa naik sepeda. Kehidupannya tentu tidak sama lagi dengan masa lalu ketika dia hanya bisa menjadi penumpang sepeda.

"Segala puji bagi Allah. Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya." (ini dikutip dari salah satu doa naik kendaraan)--Setyardi Widodo

Foto: Sekar sedang belajar naik sepeda pada akhir September. Ketika itu belum bisa. Dia masih mendorong sepeda dengan kaki ke tanah, belum gowes. Tempat latihan sempit dan tidak rata, bergelombang.

06 September 2010

Begitu ringankah mengatakan perang?

Banyak orang bicara tentang perang. Saya jadi teringat novel Dua Belas Pasang Mata karya Sakai Tsuboi. Ini cerita tentang seorang guru yang begitu mencintai murid-muridnya yang masih muda. Murid-murid yang terpaksa maju perang untuk sesuatu yang bisa diselesaikan dengan cara lain.

Saya baca novel ini belasan tahun yang lalu di Bandung. Buku terbitan Pantja Simpati itu entah saya pinjam dari perpustakaan atau taman bacaan yang mana. Yang jelas, saya masih mencatat beberapa kutipan dari buku ini yang sangat menentang penyelesaian masalah melalui perang.

Di samping buku ini, ada beberapa novel, terutama yang ditulis di negeri militan, negeri yang represif atau dilanda perang, yang begitu terasa penentangannya terhadap perang. Perang, adalah sesuatu yang mengerikan dengan dampak yang seringkali sulit diperkirakan sebelumnya. Orang-orang yang mengagungkan penyelesaian melalui senjata barangkali kurang imajinatif dalam membayangkan dampak langsung dan dampak ikutan yang sangat besar dari perang.

***
Berikut ini sebagian dari kutipan buku Dua Belas Pasang Mata yang masih saya catat:

Kalau perang terus berlangsung, lalu apa artinya mencintai dan membesarkan anak-anak itu? Mengapa orang dilarang menghormati hidup manusia dan menghindarkan mereka dari serangan peluru dan dihancurleburkan? (halaman 144)

“Tetapi, bagaimana pun, perang sudah berakhir. Bukankah hal itu merupakan hal yang baik,” kata Bu Oishi.
“Meskipun kita kalah?” tanya Daikichi.
“Ya, memang. Tetapi bukankah dengan itu tak akan ada lagi orang yang terbunuh dalam perang?”
“Kita tidak berpegang pada semboyan: lebih baik mati daripada menyerah?”
“Lebih baik kita tidak berpegang pada semboyan itu.” (halaman 146)

“Tetapi, engkau juga tidak akan dapat mengakhiri perang dengan cara menjadi penjual gula-gula, bukan?” (halaman 124)

Tetapi di balik bicaranya yang berubah-ubah itu terdapatlah kecintaan yang luar biasa terhadap hidup manusia. (halaman 125)

“Nasib ibu masih lebih baik daripada saya. Coba lihat saya ini. saya telah mengajar murid-murid itu terus menerus sejak kelas satu. Tetapi sekarang lebih dari separuh di antara anak laki-laki itu ingin menjadi serdadu (dalam perang). Kupikir apa artinya mengajar?” (halaman 124)

“Jagalah dirimu baik-baik. Jangan engkau gugur sebagai pahlawan, tetapi pulanglah dengan selamat.” (halaman 146)


Sebagai seorang anak di tengah bangsa militant, tentu saja ia akan mempertahankan gengsinya. Ia prihatin terhadap kata-kata dan sikap ibunya. (halaman 156)

***
Omong-omong, saya punya sedikit pertanyaan nih, mumpung Ramadhan. Barangkali ada yang berkenan menjawab. Orang yang berpuasa kan dilarang berkelahi. Ada haditsnya. Tetapi, benarkah boleh berperang karena dalam sejarah ada beberapa perang yang dilakukan pada bulan mulia itu.

Wallahu a’lam. Terima kasih.

Ajisaka Falasiva

Alhamdulillah, telah lahir anak kedua kami, laki-laki, pada Kamis, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431 H), pukul 05.00. Panjang 48 cm, bobot 3,3 kg. Lahir melalui operasi caesar di Bandung. Kami berencana memberinya nama Ajisaka Falasiva.

Ajisaka diambil dari nama dalam legenda penciptaan huruf Jawa. Cerita lebih lengkap mengenai Ajisaka bisa disimak melalui http://inspirana.blogspot.com/2010/05/ajisaka-dan-cikal-bakal-budaya-tulis.html

Beberapa hal yang kami pikir perlu digarisbawahi tentang tokoh tersebut antara lain:

*Ajisaka adalah seorang inventor-innovator, pencipta huruf Jawa. Huruf, kita tahu, adalah sarana andal untuk transfer pengetahuan, transfer informasi, sarana pengajaran dan pendidikan. Huruf adalah komponen sangat penting bagi kemajuan perikehidupan manusia.

*Ajisaka adalah manusia bertindak, bukan semata-mata pemikir dan inventor. Buktinya, dia tidak berdiam diri menghadapi kesewenang-wenangan Raja Dewata Cengkar. Dia mengalahkan Dewata Cengkar, sang pemangsa manusia, melalui cara yang sangat berani sekaligus cerdik.

*Ajisaka adalah seorang yang menjadi raja bukan karena keturunan. Menurut legenda, dia merantau ke Pulau Jawa dari Negeri Majethi. Dia menjadi raja setelah perjuangan mengalahkan Dewata Cengkar.

Adapun Falasiva diambil dari bahasa Arab, artinya para filosof. Filosof adalah orang yang biasa berpikir mendalam, berusaha mencari makna di balik fenomena. Dipilih kata falasiva, bukan filosof, failasuf, atau falasifah, supaya lebih estetis dalam penulisan dan pengucapan. Bukankah selain memikirkan hakikat, mempertimbangkan estetika juga tetap penting?

Di sisi lain, suku kata fa, la, dan si merupakan penyusun nada. Nada, bila kombinasinya tepat, adalah alat bagi terbentuknya keindahan yang bersifat universal. (Pokoke agak othak-athik gathuk lah, hehehe)

Nama panggilannya saka yang dalam bahasa Jawa berarti tiang. Saka juga sering disebut sebagai sistem kalender (Jawa). Ndilalah anak ini kok lahirnya persis usia 40 pekan menurut kalender kehamilan yang sederhana itu. Nama panggilannya tidak jauh-jauh amat dari nama kakaknya, Sekar.

Mohon berkenan mendoakan agar anak yang lahir pada bulan Ramadhan ini memenuhi harapan seperti tersirat dalam namanya, mampu menjadi qurrota a’yun bagi kedua orangtuanya, serta menjadi kebanggaan keluarga dan bangsanya. Semoga Ajisaka Falasiva menjadi manusia yang sehat, kuat, baik, saleh, cerdas, pintar, rupawan, berani, beruntung, dan bahagia.

Terima kasih banyak. (Setyardi Widodo & Erma Yulihastin)

27 Agustus 2010

Dupa & bambu gila di Natsepa*

Tujuh pria bertelanjang dada memeluk sebatang bambu dengan panjang sekitar 3 meter. Semuanya mengenakan celana merah. Di depan mereka, seorang pria berbaju hitam membaca mantera sambil terus meniupkan dupa.


Di bagian luar arena, ada lima orang yang menabuh alat musik perkusi. Empat orang memukul semacam kendang atau beduk kecil dengan tongkat pendek. Satu orang lainnya memukul semacam bende atau bonang.

Di tengah kegaduhan musik itu bambu pun mulai bergerak dengan sendirinya. Tak ada tenaga penggerak yang tampak oleh mata telanjang.

Makin lama gerakan makin cepat dan liar. Gerakannya seolah tanpa pola. Kadang ke kanan, kadang ke kiri, ke depan, ke belakang, berputar-putar. Kadang seperti mau menabrak ke arah penonton, saat lain ke arah tiang yang ada di sisi tempat pertunjukan.

Tujuh pria perkasa itu tampak kuwalahan, sedang pria baju hitam terus sibuk membaca mantera dan meniupkan dupa ke sekujur badan bambu. Seorang pria lain yang berbaju merah ikut menjaga agar gerakan bambu tidak membahayakan, tidak menabrak ke arah penonton.

Bambu terus bergerak ke sana-ke mari. Setelah setengah jam, pertunjukan usai. Bambu bergerak ke pinggir lapangan. Lalu tujuh pria itu tengkurap berjajar sambil tetap memeluk bambu. Bambu diangkat. Satu per satu pria itu dibangunkan, seperti dipijat. Kemudian mereka pun istirahat.


Begitulah sekilas pertunjukan bambu gila atau crazy bamboo. Pertunjukan khas Maluku itu ditampilkan di hotel Aston Natsepa, Maluku, dalam gala dinner Simposium Indonesia-Australia dalam rangka Sail Banda. Bagi orang Jawa, pertunjukan magis ini mungkin mengingatkan mekanisme yang mirip dengan kuda lumping maupun boneka jailangkung. Benda-benda mampu bergerak dengan sendirinya.

Bambu gila hanyalah salah satu pertunjukan menarik yang bisa dinikmati para pelancong di Maluku. Dalam kesempatan simposium itu sempat ditampilkan pula tarian sahureka reka.

Bila bambu gila dimainkan seluruhnya oleh pria, maka tarian ini dimainkan seluruhnya oleh perempuan. Empat perempuan muda berbaris masing-masing membawa bambu sepanjang 3 meter. Empat perempuan lainnya berada pada sisi yang lain. Lalu mereka mulai berbaur dan menari.

Ada gerakan-gerakan berbahaya yang membutuhkan kecekatan, keteraturan, serta disiplin keempat pemain. Empat penari yang membawa bambu berjongkok dan membuat semacam salib dengan masing-masing dua batang bambu. Keempat bambu digerakkan saling berbenturan. Empat perempuan lain menari-nari di sela-sela bambu itu.


Jika lengah dan tidak sesuai irama, kaki mereka pasti akan terjepit di antara bambu-bambu yang dibenturkan dan menimbulkan suara keras itu. Gerakan semakin berbahaya ketika bambu diangkat. Gerakan seperti tadi diulang, hanya saja kini posisinya setinggi leher. Jadi, jika penari lengah, maka yang berpeluang untuk terjepit bambu-bambu berwarna coklat itu bukan lagi kaki, melainkan leher.

Di luar bambu gila dan sahureka-reka, di sela-sela acara Sail Banda yang puncak acaranya digelar awal Agustus lalu, saya berkesempatan menyaksikan tarian lain menggambarkan cara nelayan menangkap ikan. Ada empat penabuh bedug kecil serta lima penari bercaping. Semuanya pria. Gerakan mereka begitu gagah, dinamis, serta energik....

*) Artikel selengkapnya dimuat di Bisnis Indonesia Minggu yang beredar hari ini. Tulisan lain soal Ambon ada juga "Makan patita dan ribuan resep kerukunan" yang beredar beberapa pekan lalu.

17 Agustus 2010

Apakah saya masih menyukai cerpen?

Ada periode ketika saya sangat suka cerpen. Puncaknya mungkin sekitar 10—13 tahun yang lampau. Saya lupa persisnya. Yang jelas pada masa puncak kesukaan itu, saya sampai mengkliping dan menyimpan hard copy cerpen-cerpen yang menurut saya baik.

Kesukaan pada cerpen itu, agaknya, pada awalnya, agak dekat dengan kecintaan pada novel. Tentu saja kesukaan pada cerpen lebih dahulu, karena mbacanya pendek, ringan, cepat selesai (sekali pukul, dalam waktu beberapa menit saja).


Tetapi cerpen dalam pengertian yang dimuat surat kabar, ternyata berbeda dengan cerpen yang dimuat dalam buku-buku kumpulan cerpen (terjemahan). Cerpen dalam surat kabar lokal dibatasi oleh space yang umumnya tidak lebih dari tiga per empat halaman koran. Kira-kira panjangnya kurang dari 15.000 karakter. Kalau dicetak ulang dalam bentuk buku dengan kapasitas 1.500 karakter per halaman, paling-paling menghabiskan 10 halaman per cerita.

Adapun cerpen terjemahan seringkali sangat panjang. Bisa sampai puluhan halaman buku. Setidaknya itu yang saya temui pada kumpulan cerpen (dari beberapa negeri) seperti yang sering diterbitkan Yayasan Obor. Juga kumpulan cerpen dari tokoh sastrawan besar dunia (yang sering diterbitkan pula oleh Obor).

***
Saya coba mengingat-ingat, apakah yang membuat saya (pernah begitu) suka cerpen.

Ada cerpen yang dimuat Kompas tahun 1993 yang membuat saya begitu terkesan. Ada cerpen-cerpen tertentu yang saya rasa sangat mewakili apa yang bergejolak pada jiwa muda saya. Ada cerpen lain lagi yang saya rasa mewakili impian-impian masa depan saya tentang keluarga dan tentang kehidupan.

Cerita-cerita itu umum penuh dengan semangat kesederhanaan, kerendahhatian, kedermawanan, perjuangan tak kenal lelah, serta sifat-sifat mulia lainnya.

Nama-nama seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Ahmad Tohari, Agus Noor, Danarto, Gus tf Sakai pun terasa begitu akrab. Merekalah pesohor dunia cerpen di surat kabar Ibukota.

Lalu, mengapa sekarang saya tidak lagi begitu menyukai cerpen? Saya kira saya tidak bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi menyukai cerpen. Saya masih suka cerpen, tetapi tidak seintens beberapa tahun yang lalu. Saya tidak lagi rutin membaca cerpen yang dimuat koran edisi akhir pekan.

Mungkin saya merasa tidak banyak lagi cerpen yang mewakili impian dan gejolak di hati saya (ataukah impian dan gejolak itu masih ada? Sudah padam? Embuhlah adanya). Apakah saya tidak lagi menyukai kesederhanaan, kerendahhatian, serta kebaikan-kebaikan yang diajarkan lewat cerpen-cerpen itu? (lagi-lagi, embuhlah adanya)

Yang jelas saya sering merasa cerpen-cerpen fiktif itu ceritanya mbulet, terasa muter-muter, dan absurd. Begitu fiktif dan abstraknya sampai-sampai sulit dicerna. Saya masih menyukai cerpen yang sederhana, yang lucu, yang dekat dengan kenyataan.

***
Baru-baru ini saya mendapat hadiah buku kumpulan cerpen dari Pak Kusmayanto Kadiman. Ini satu dari beberapa buku yang beliau kirimkan lewat pos. (Terima kasih pak KK). Judulnya Cerpen Kompas Pilihan 2009: Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian. Pak KK menjadi salah satu juri yang memilih 15 cerpen terbaik itu. Ada penjelasan Pak Kus tentang repotnya orang teknik menjadi juri yang harus memilih karya sastra.

Saya mendapat buku ini dua hari sebelum berangkat ke Ambon. Dan karena saya masih punya buku lain yang perlu dibaca, buku ini baru saya baca pekan lalu, di rumah sakit, pada hari pertama Sekar menginap di sana.

Ada beberapa cerpen yang sudah saya baca sewaktu cerpen itu terbit di korannya. Dan saya (kebetulan) memang suka dengan cerpen itu. Namun sebagian besarnya belum saya baca. (Apalagi pada Ahad pagi saya lebih sering membaca Tribun Jabar di Bandung daripada Kompas cetak, hehehehe.)

Salah satu cerita yang sangat memikat dalam buku ini adalah Menanti Kematian. Ini cerita yang memilukan, mengharukan, sekaligus kocak. Suatu cerita yang terasa begitu dekat. Utang, kemiskinan, mencari pekerjaan yang layak, mendapat pekerjaan namun banyak tantangan tak terduga, perusahaan minyak, kematian, campur menjadi satu. Jujur Prananto merangkai dengan indah, dengan pas. Saya sudah membacanya pada edisi koran, dan kemarin membaca ulang. Tetap menikmati.

Begitu pula dengan cerpen Kaki yang Terhormat karya Gus tf Sakai. Ini juga sudah saya baca dan sukai sejak edisi koran. Sayangnya latar belakangnya Minang, ada Mak Etek, Atuak, dan beberapa istilah yang kurang familiar bagi saya. Tetapi saya tetap bisa menikmatinya, bahkan merasa cerita ini lebih menarik daripada Blarak yang berlatar belakang Jawa dan mistis karya Yanusa Nugroho. Blarak baru saya baca pada kumpulan cerpen ini.

Pada intinya, saya merasa masih bisa menyukai dan menikmati cerpen, meskipun tidak seperti dulu. Mudah-mudahan ini berarti saya masih punya hati, tidak hanya robot, hehehe (menyitir judul tulisan Pak Kus di halaman belakang: Cerpen, membuat robot punya hati)