Jangan melawan arus. Begitulah salah satu nasihat penting bagi semua pengendara di jalan raya. Larangan ini lebih ditekankan lagi untuk para pengendara sepeda motor yang biasanya enggan mengikuti rambu lalu lintas tanda jalan satu arah.
Akan tetapi jangan salah. Tidak semua yang melawan arus lalu lintas adalah hal buruk. Bahkan, di jalan tol yang jelas-jelas merupakan jalan searah untuk masing-masing lajur, melawan arus malah bisa menjadi solusi.
Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya dan Jasa Marga dalam menangani kemacetan yang seolah tanpa harapan untuk terselesaikan setiap pagi dan sore di tol dalam kota Jakarta. Oleh pihak berwenang, kebijakan ini disebut contra flow.
Seperti kita sadari, setiap pagi dan sore hari terjadi ketidakseimbangan arus lalu lintas masuk dan ke luar dari pusat kota. Bagi siapa saja yang bertempat tinggal di seputar Taman Mini Indonesia Indah, Cibubur, Bogor, serta Bekasi, dan berkantor di sekitar Semanggi, pasti merasakan betapa macetnya tol dalam kota setiap pagi.
Arus dari berbagai lokasi di sebelah timur, selatan, dan tenggara Jakarta tumplek masuk ke tol dalam kota di Cawang. Akibatnya, mobil hanya bisa merayap perlahan menuju arah Semanggi. Sementara pada arah sebaliknya, biasanya sangat lancar.
Makanya informasi lalu lintas di pagi hari tentang kemacetan selalu dihiasi dengan kalimat, “arah sebaliknya lancar.”
Saya sering berpikir, seandainya ‘arah sebaliknya’ itu bisa dimanfaatkan untuk mengurangi kemacetan yang selalu menimpa ‘arah utama’ alangkah menyenangkan.
Ternyata, pihak yang berwenang pun mulai memikirkan dan menerapkan hal itu. Satu lajur jalan dari tol dari arah Semanggi menuju Cawang diberi pembatas dan digunakan untuk kendaraan yang berasal dari arah Cawang menuju ke Semanggi. Maka, kapasitas jalan menuju Semanggi bertambah satu lajur, sedangkan yang menuju Cawang berkurang satu lajur.
Dengan demikian, ruas jalan arah meninggalkan pusat kota yang relatif idle bisa dimanfaatkan untuk menampung arus menuju pusat kota. Hasilnya, kemacetan berkurang, kapasitas jalan pun lebih optimal.
Kebijakan ini mulai diberlakukan 1 Mei di tol dalam kota antara pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Jika dianggap berhasil, akan diperluas ke ruas yang lain di tol dan pada jam yang lain.
Bahkan, pemberlakuannya juga dipertimbangkan di jalan bukan tol yang sering macet seperti di kawasan Sudirman dan Jalan Sultan Iskandar Muda, Jakarta Selatan. Kebijakan melawan arus ini diharapkan bisa mengatasi sebagian masalah utama Jakarta yaitu kemacetan lalu lintas yang kian menggila dan membuat frustasi.
***
Kemacetan memang merupakan masalah besar bagi Jakarta. Dampak dari kemacetan bukan hanya molornya waktu perjalanan melainkan juga pemborosan bahan bakar minyak, berkurangnya produktivitas, berkurangnya daya saing ekonomi, hingga masalah psikologis.
Saling serobot, rebutan jalan, pelanggaran lalu lintas, merupakan efek dari kemacetan yang membuat frustasi. Mudahnya emosi tersulit, mudahnya orang bertengkar di jalanan merupakan dampak lainnya. Belakangan media sosial diramaikan oleh video tentang perselisihan di jalanan yang padat.
Kalau saja lalu lintas lancar dan semua pengendara tertib, kasus pertengkaran di jalan dan pertunjukan arogansi tentu bisa dihindari. Banyak sekali masalah sosial dan kejiwaan yang akan terbantu oleh kelancaran lalu lintas.
Oleh sebab itu, upaya mengurangi kemacetan merupakan hal besar yang layak dihargai. Cara paling sederhana mengurangi kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan, mengurangi persimpangan, serta menghilangkan bottle neck.
Melebarkan jalan serta membuat simpang susun jelas solusi yang mahal dan perlu waktu lama. Sebagai contoh, pembangunan jalan layang nonton Casablanca-Karet memakan biaya triliunan rupiah dan waktu lebih dari satu tahun.
Soal bottle neck berupa penyempitan atau kendaraan umum ngetem perlu mendapat perhatian serius. Sebab, kapasitas sesungguhnya dari sebuah ruas jalan bukanlah kapasitas pada bagian terlebar, melainkan kapasitas pada bagian terkecil alias bottle neck itu.
Contohnya, bila ada ruas jalan yang pada bagian lebarnya mampu menampung 100 mobil per menit, namun di bagian ujungnya ada penyempitan yang membuatnya hanya mampu dilewati 20 mobil per menit, maka kapasitas sesungguhnya dari jalan itu menjadi hanya 20 mobil per unit. Kapasitas bagian jalan yang 100 mobil per unit menjadi seperti tersia-sia. Perlu upaya lebih serius mengenali dan mengurangi ‘leher botol’ dalam arus lalu lintas Jakarta.
Solusi out of the box seperti contra flow itu perlu diperbanyak. Penggunaan lampu lalu lintas yang cerdas, yang mampu mengenali arus mana yang perlu mendapatkan prioritas lampu hijau, mungkin perlu diperbanyak. Seiring dengan tantangan yang kian berat dan dinamis, solusi baru juga perlu terus dicoba dan digali. Semoga dugaan kemacetan total pada 2014 bisa dihindari.
22 Mei 2012
10 Mei 2012
Cerita Fabel Kalilah wa Dimnah yang memukau
Kata Kalilah wa Dimnah rasanya akrab dalam telingaku. Ini adalah cerita yang sangat terkenal di Timur Tengah. Maka, ketika ke toko buku baru-baru ini, dan menemukan buku terjemahan dengan subjudul Kalila wa Dimna, saya langsung tertarik.
Sayangnya, ada hambatan, yakni cara penulisan judulnya menunjukkan bahwa ini bukan terjemahan dari Bahasa Arab, melainkan dari Bahasa Inggris. Kalau dari Arab pasti ditulis Kalilah, bukan Kalila.
Setelah hampir satu jam muter-muter di toko buku, saya tidak menemukan buku lain yang menarik sekaligus murah. Ada buku sangat menarik tentang sejarah masa lalu dunia, namun harganya hampir Rp200 ribu, jadi batal saya beli. Akhirnya, pilihan jatuh ke buku ini, Kalila & Dimna 2, fabel tentang Pertikaian dan Intrik.
Ini buku seri kedua. Saya tidak menemukan buku seri pertamanya. Agaknya, buku seri pertama tidak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia karena selang terbitnya antara seri pertama dan kedua dalam edisi aslinya adalah 30 tahun. Dan pada akhirnya saya berkesimpulan tidak ada masalah membaca langsung pada seri kedua.
***
Buku ini karangan Ramsay Wood, seorang humanis yang berasal dari keluarga diplomat dan pernah tinggal di beberapa negara Asia Tenggara dan Eropa. Menurutnya, Kalilah wa Dimnah aslinya bukan berasal dari Arab melainkan dari India, yang kemudian menyebar ke Persia, lalu ke Arab. Dari sana lah, pada masa kejayaan Islam, cerita ini lalu menyebar ke seluruh dunia.
Sepanjang membaca buku ini, saya tidak menemukan cerita tentang kalila maupun dimna dan tidak ketemu apa yang dimaksud dengan kalila dan apa pula dimna. Tetapi, itu tidak mengurangi maknanya.
Kalila & Dimna adalah cerita fabel. Cerita dengan tokoh utama para hewan. Tentu saja juga dengan tokoh para manusia. Manusia dan hewan bisa berkomunikasi seperti umumnya cerita fabel.
Nah, dalam buku inilah saya bisa menemukan kembali cerita-cerita yang pernah saya dengar di masa kecil. Cerita yang menyebar ke seluruh dunia dan mengalami berbagai modifikasi, kini menemukan kerangka besarnya dalam Kalilah wa Dimnah. Apalagi ini diceritakan dalam bahasa dan konteks kekinian yang melibatkan statistik dan sebagainya.
Melalui buku inilah saya bisa membaca cerita utuh tentang hubungan buaya dan monyet cerdik, soal menghindar dari pembunuhan dengan mengaku jantungnya tertinggal; cerita tentang seorang ibu yang membunuh musang yang membunuh ular karena mengira si musang memakan bayinya; dan banyak cerita lainnya.
***
Cerita-cerita ini bukan hanya dibingkai dengan apik dan indah secara bertingkat-tingkat, melainkan juga disusupkan pemaknaan filosofis dalam bahasa yang indah oleh sang penulis. (penerjemahnya saya kira juga hebat).
Misalnya, bagaimana orang bisa begitu mudahnya jatuh dalam kesengsaraan dan kehilangan, dan bagaimana pula bisa pulih dari penderitaan. Betapa berisikonya berharap yang berlebihan, ekspektasi yang keliru tentang masa depan. Juga tentang kecurangan, keculasan, intrik, dan sebagainya yang digambarkan dengan sangat mencerahkan.
Kutipan seperti:
“Bukan urusan kita untuk mempertanyakan alasannua. Urusan kita adalah mensyukurinya”
“Penjelasan bukanlah pengganti atas pengalaman”
“Kesabaran dalam diam yang dikenal pula sebagai ketergemingan yang terlatih”
“Kau melihat sesuatu tidak otomatis berarti kau memahaminya”
“Kita kehilangan kesabaran dan tergesa-gesa dalam bertindak tanpa memperhatikan konsekuensinya”
“Prediktibilitas akan mengarah pada kebosanan”
dan masih banyak lagi lainnya.
Sungguh, buku yang di bagian atasnya ditulisi “fabel tentang pertikaian dan Intrik” ini memang sangat mempesona. Ini adalah salah satu buku cerita terbaik yang pernah saya baca.
Mencerahkan, mempesona, namun tidak menggurui. Dan tentu saja, merangkai kembali fabel yang pernah saya dengar atau baca pada masa lalu dalam kerangka yang lebih holistik dan filosofis.
Saya rekomendasikan Anda untuk membaca buku setebal 270-an halaman dan seharga Rp48 ribu ini. Saya yakin tidak akan menyesal.
Sayangnya, ada hambatan, yakni cara penulisan judulnya menunjukkan bahwa ini bukan terjemahan dari Bahasa Arab, melainkan dari Bahasa Inggris. Kalau dari Arab pasti ditulis Kalilah, bukan Kalila.
Setelah hampir satu jam muter-muter di toko buku, saya tidak menemukan buku lain yang menarik sekaligus murah. Ada buku sangat menarik tentang sejarah masa lalu dunia, namun harganya hampir Rp200 ribu, jadi batal saya beli. Akhirnya, pilihan jatuh ke buku ini, Kalila & Dimna 2, fabel tentang Pertikaian dan Intrik.
Ini buku seri kedua. Saya tidak menemukan buku seri pertamanya. Agaknya, buku seri pertama tidak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia karena selang terbitnya antara seri pertama dan kedua dalam edisi aslinya adalah 30 tahun. Dan pada akhirnya saya berkesimpulan tidak ada masalah membaca langsung pada seri kedua.
***
Buku ini karangan Ramsay Wood, seorang humanis yang berasal dari keluarga diplomat dan pernah tinggal di beberapa negara Asia Tenggara dan Eropa. Menurutnya, Kalilah wa Dimnah aslinya bukan berasal dari Arab melainkan dari India, yang kemudian menyebar ke Persia, lalu ke Arab. Dari sana lah, pada masa kejayaan Islam, cerita ini lalu menyebar ke seluruh dunia.
Sepanjang membaca buku ini, saya tidak menemukan cerita tentang kalila maupun dimna dan tidak ketemu apa yang dimaksud dengan kalila dan apa pula dimna. Tetapi, itu tidak mengurangi maknanya.
Kalila & Dimna adalah cerita fabel. Cerita dengan tokoh utama para hewan. Tentu saja juga dengan tokoh para manusia. Manusia dan hewan bisa berkomunikasi seperti umumnya cerita fabel.
Nah, dalam buku inilah saya bisa menemukan kembali cerita-cerita yang pernah saya dengar di masa kecil. Cerita yang menyebar ke seluruh dunia dan mengalami berbagai modifikasi, kini menemukan kerangka besarnya dalam Kalilah wa Dimnah. Apalagi ini diceritakan dalam bahasa dan konteks kekinian yang melibatkan statistik dan sebagainya.
Melalui buku inilah saya bisa membaca cerita utuh tentang hubungan buaya dan monyet cerdik, soal menghindar dari pembunuhan dengan mengaku jantungnya tertinggal; cerita tentang seorang ibu yang membunuh musang yang membunuh ular karena mengira si musang memakan bayinya; dan banyak cerita lainnya.
***
Cerita-cerita ini bukan hanya dibingkai dengan apik dan indah secara bertingkat-tingkat, melainkan juga disusupkan pemaknaan filosofis dalam bahasa yang indah oleh sang penulis. (penerjemahnya saya kira juga hebat).
Misalnya, bagaimana orang bisa begitu mudahnya jatuh dalam kesengsaraan dan kehilangan, dan bagaimana pula bisa pulih dari penderitaan. Betapa berisikonya berharap yang berlebihan, ekspektasi yang keliru tentang masa depan. Juga tentang kecurangan, keculasan, intrik, dan sebagainya yang digambarkan dengan sangat mencerahkan.
Kutipan seperti:
“Bukan urusan kita untuk mempertanyakan alasannua. Urusan kita adalah mensyukurinya”
“Penjelasan bukanlah pengganti atas pengalaman”
“Kesabaran dalam diam yang dikenal pula sebagai ketergemingan yang terlatih”
“Kau melihat sesuatu tidak otomatis berarti kau memahaminya”
“Kita kehilangan kesabaran dan tergesa-gesa dalam bertindak tanpa memperhatikan konsekuensinya”
“Prediktibilitas akan mengarah pada kebosanan”
dan masih banyak lagi lainnya.
Sungguh, buku yang di bagian atasnya ditulisi “fabel tentang pertikaian dan Intrik” ini memang sangat mempesona. Ini adalah salah satu buku cerita terbaik yang pernah saya baca.
Mencerahkan, mempesona, namun tidak menggurui. Dan tentu saja, merangkai kembali fabel yang pernah saya dengar atau baca pada masa lalu dalam kerangka yang lebih holistik dan filosofis.
Saya rekomendasikan Anda untuk membaca buku setebal 270-an halaman dan seharga Rp48 ribu ini. Saya yakin tidak akan menyesal.
15 Maret 2012
Seluruh dunia satu zona waktu saja
Kita yang tinggal di dekat khatulistiwa menikmati berbagai kemudahan terkait dengan waktu. Kita memulai hari pada tengah malam, mulai beraktivitas jam 5 pagi, sholat dzuhur dan istirahat pada jam 12 siang, pulang kerja sekitar maghrib, dan seterusnya. Definisi hari mudah dipahami dan dirasakan tanpa hambatan. Begitu pula dengan musim yang tidak mengenal ekstrem.
Orang di sekitar khatulistiwa biasa berpuasa sekitar 14 jam pada musim apa pun. Paling-paling pergeseran waktu sahur dan buka puasa hanya setengah jam.
Kondisi ini jelas berbeda dengan mereka yang tinggal jauh dari khatulistiwa, bahkan dekat dengan kutub. Ada masa ketika siang sangat panjang atau malam sangat panjang. Puasa kadang waktunya singkat, kadang sangat amat panjang. Orang di dekat kutub bahkan bisa mengalami siang terus selama berhari-hari pada musim panas, dan malam terus selama berhari-hari pada musim dingin.
Di lokasi tertentu negara-negara tertentu bahkan diberlakukan day light saving. Waktu digeser 1 jam pada tanggal tertentu lalu dikembalikan lagi beberapa bulan kemudian (misalnya 1 Maret dimajukan 1 jam dan 1 November diundurkan kembali 1 jam). Dan mereka biasa saja, bisa menyesuaikan diri dengan baik, tidak banyak masalah.
Nah, Indonesia berencana menyatukan 3 zona waktu menjadi satu zona waktu, yakni mengacu GMT+8 yang sekarang berlaku di WITA. Ada bermacam perdebatan soal ini.
***
Menurut saya, sebenarnya permukaan bumi ini bersifat kontinyu, tidak putus-putus. Jadi, waktu ideal kalau mengacu bentuk permukaan bumi adalah berubah secara kontinyu bukan diskrit. Zona waktu yang dibag-bagi per jam adalah sistem diskrit. Misalnya GMT+7, ada juga GMT+8. kalau kontinyu mestinya ada GMT+7 jam 15 menit dan 12 detik. Ada juga GMT+3jam 12 menit dan 16 detik, dan seterusnya.
Sistem waktu yang kontinyu itu masih diacu oleh orang islam dalam jadwal sholat. Misalnya jadwal sholat untuk Bandung adalah 3 menit lebih awal daripada Jakarta. Orang Jakarta tidak boleh sholat mengacu pada waktu bandung atau bahkan waktu Denpasar atau Balikpapan. Itu sistem waktu yang kontinyu.
Sistem diskrit yang membagi dunia dengan zona-zona per jam memang jauh lebih sederhana daripada sistem kontinu.
Secara teknis, pembagian zona waktu merupakan keputusan yang bersifat ilmiah yang didasarkan pada pergerakan relatif bumi terhadap matahari. Akan tetapi praktiknya sering merupakan keputusan politik dan ekonomi.
Keputusan untuk menetapkan waktu global mengacu pada Greenwich Mean Time adalah putusan politik. Mengapa tidak membuat batasan waktu/hari di tempat lain?
Penetapan zona waktu di satu negara juga tak lepas dari masalah politik. Mengapa, misalnya, China yang begitu luas hanya memiliki satu zona waktu? Pernah juga sebuah negara di Pasifik yang mengubah zona waktu sehingga maju satu hari. Mereka berada di dekat perbatasan hari sehingga mengubah zona waktu tidak tanggung-tanggung, tidak Cuma satu jam, malahan satu hari. Nyebrang ke zona lain.
***
Secara pribadi, saya malah lebih suka jika seluruh dunia memakai satu zona waktu saja. Tidak perlu lagi ada garis zona waktu dan garis di mana orang bertetangga namun mengalami hari yang berbeda. Kita mulai saja perubahan hari, misalnya mengacu pada jam 00.00 waktu GMT (GMT saat ini, setelah itu gak ada lagi GMT).
Memang akan muncul perbedaan pergantian hari. Ada yang mengalami hari baru pada pagi, ada yang memulai hari baru pada siang, ada yang sore, dan seterusnya. Definisi hari memang akan berubah. Mungkin sebaiknya hari dihapuskan saja, diganti dengan tanggal. Hari hanya dipertahankan untuk hal-hal yang bersifat keagamaan, misalnya sholat Jumat.
Ini saya kira tidak terlalu rumit mengingat selama ini umat Islam juga sudah mengacu pada sistem waktu yang berbeda. Misalnya, hari menurut penanggalan bulan (qomariah) dimulai saat maghrib bukan jam 00.00 (makanya definisi harinya kan berbeda).
Memang akan terjadi sedikit kebingungan, namun saya kira tidak lama. Dan sistem waktu tunggal di seluruh dunia segala sesuatu terkait perhitungan waktu akan lebih sederhana. Juga dengan sejarah dan semacamnya.
Kredit foto: www dot nist dot time dot dov
Orang di sekitar khatulistiwa biasa berpuasa sekitar 14 jam pada musim apa pun. Paling-paling pergeseran waktu sahur dan buka puasa hanya setengah jam.
Kondisi ini jelas berbeda dengan mereka yang tinggal jauh dari khatulistiwa, bahkan dekat dengan kutub. Ada masa ketika siang sangat panjang atau malam sangat panjang. Puasa kadang waktunya singkat, kadang sangat amat panjang. Orang di dekat kutub bahkan bisa mengalami siang terus selama berhari-hari pada musim panas, dan malam terus selama berhari-hari pada musim dingin.Di lokasi tertentu negara-negara tertentu bahkan diberlakukan day light saving. Waktu digeser 1 jam pada tanggal tertentu lalu dikembalikan lagi beberapa bulan kemudian (misalnya 1 Maret dimajukan 1 jam dan 1 November diundurkan kembali 1 jam). Dan mereka biasa saja, bisa menyesuaikan diri dengan baik, tidak banyak masalah.
Nah, Indonesia berencana menyatukan 3 zona waktu menjadi satu zona waktu, yakni mengacu GMT+8 yang sekarang berlaku di WITA. Ada bermacam perdebatan soal ini.
***
Menurut saya, sebenarnya permukaan bumi ini bersifat kontinyu, tidak putus-putus. Jadi, waktu ideal kalau mengacu bentuk permukaan bumi adalah berubah secara kontinyu bukan diskrit. Zona waktu yang dibag-bagi per jam adalah sistem diskrit. Misalnya GMT+7, ada juga GMT+8. kalau kontinyu mestinya ada GMT+7 jam 15 menit dan 12 detik. Ada juga GMT+3jam 12 menit dan 16 detik, dan seterusnya.
Sistem waktu yang kontinyu itu masih diacu oleh orang islam dalam jadwal sholat. Misalnya jadwal sholat untuk Bandung adalah 3 menit lebih awal daripada Jakarta. Orang Jakarta tidak boleh sholat mengacu pada waktu bandung atau bahkan waktu Denpasar atau Balikpapan. Itu sistem waktu yang kontinyu.
Sistem diskrit yang membagi dunia dengan zona-zona per jam memang jauh lebih sederhana daripada sistem kontinu.
Secara teknis, pembagian zona waktu merupakan keputusan yang bersifat ilmiah yang didasarkan pada pergerakan relatif bumi terhadap matahari. Akan tetapi praktiknya sering merupakan keputusan politik dan ekonomi.
Keputusan untuk menetapkan waktu global mengacu pada Greenwich Mean Time adalah putusan politik. Mengapa tidak membuat batasan waktu/hari di tempat lain?
Penetapan zona waktu di satu negara juga tak lepas dari masalah politik. Mengapa, misalnya, China yang begitu luas hanya memiliki satu zona waktu? Pernah juga sebuah negara di Pasifik yang mengubah zona waktu sehingga maju satu hari. Mereka berada di dekat perbatasan hari sehingga mengubah zona waktu tidak tanggung-tanggung, tidak Cuma satu jam, malahan satu hari. Nyebrang ke zona lain.
***
Secara pribadi, saya malah lebih suka jika seluruh dunia memakai satu zona waktu saja. Tidak perlu lagi ada garis zona waktu dan garis di mana orang bertetangga namun mengalami hari yang berbeda. Kita mulai saja perubahan hari, misalnya mengacu pada jam 00.00 waktu GMT (GMT saat ini, setelah itu gak ada lagi GMT).
Memang akan muncul perbedaan pergantian hari. Ada yang mengalami hari baru pada pagi, ada yang memulai hari baru pada siang, ada yang sore, dan seterusnya. Definisi hari memang akan berubah. Mungkin sebaiknya hari dihapuskan saja, diganti dengan tanggal. Hari hanya dipertahankan untuk hal-hal yang bersifat keagamaan, misalnya sholat Jumat.
Ini saya kira tidak terlalu rumit mengingat selama ini umat Islam juga sudah mengacu pada sistem waktu yang berbeda. Misalnya, hari menurut penanggalan bulan (qomariah) dimulai saat maghrib bukan jam 00.00 (makanya definisi harinya kan berbeda).
Memang akan terjadi sedikit kebingungan, namun saya kira tidak lama. Dan sistem waktu tunggal di seluruh dunia segala sesuatu terkait perhitungan waktu akan lebih sederhana. Juga dengan sejarah dan semacamnya.
Kredit foto: www dot nist dot time dot dov
Sekilas tentang netbook Elevo R7
Elevo R7 sangat menarik. Pertama, karena ukurannya yang kecil dan bobotnya yang ringan. Ini lebih kecil dan lebih ringan daripada netbook Asus Eee PC generasi pertama (yang benar-benar pertama meluncur di segmen netbook lho).
Kedua, karena harganya yang sangat murah. Harga aslinya di Jakarta Rp1,25 juta. Akan tetapi harga setelah diskon hanya setengahnya. Ini bahkan lebih murah daripada tablet termurah yang dijual saat ini.
Elevo R7 dijual dalam tiga pilihan. Pertama dengan sistem operasi Android (yang gak jelas versi berapa). Kedua adalah Windows CE saja. Ketiga adalah Windows CE yang dilengkapi dengan beberapa software pendidikan untuk anak SD.
Netbook ini dilengkapi dengan WiFi, dua port USB, ada port untuk earphone dan mic, namun tidak ada port LAN.
Netbook yang dilengkapi Windows CE sudah menyertakan Office (di dalamnya ada WordPad juga). Namun, kata penjualnya, ini tidak bisa mengenal modem. Jadi Internetnya akan tergantung pada WiFi.
Adapun yang versi Android belum ada program pengolah kata untuk mengetik, namun bisa mengenali modem tertentu. Saya pilih yang versi Android. Itulah satu-satunya unit Elevo R7 Android yang tersisa di toko tempat saya membeli.
***
Netbook ini menyenangkan karena sangat ringan. Chargernya juga ringan seperti charger ponsel saja. Keyboardnya lengkap namun ukurannya sekitar 80% dari keyboard pada umumnya. Untuk mengetik lebih nyaman daripada layar sentuh, namun terasa agak keras dan ceplak-ceplok.
Yang paling menyebalkan, bagian layar hanya bisa dibuka sekitar 130 derajat terhadap bagian keyboard. Akibatnya, kalau melihat ke layar seolah-olah mengintip atau netbook ini agak dimiringkan. Desain fisik yang aneh sekali dan sangat mengganggu. Dengan kondisi ini, netbook itu hanya cocok digunakan pada meja yang tinggi.
Secara umum kinerja netbook ini lumayan. Bisa mengenali WiFi dengan baik, bisa juga mendeteksi modem Huawei yang saya punya. Koneksi internet sempat tersendat entah kenapa. Connected tetapi browsernya tidak bisa buka ke mana-mana. Dan entah mengapa hal ini terpecahkan dengan sendirinya. Koneksi pun berlangsung lancar.
Soal penggunaan, masalah muncul karena saya belum terbiasa dengan Android. Selain itu, antarmuka Android agaknya didesain untuk layar sentuh. Jadi untuk netbook tanpa layar sentuh malah jadi agak ribet.
Menurut pembuatnya, Elevo R7 memiliki Processor ARM9 (533MHz), layar 7 inchi 800x480pixels, RAM 128MB, Storage 2GB, Wifi 802.11b/g, 2 usb port, 2 in1 SD Card, Audio port in/out, baterai Li Polymer yang tahan sampai 3 jam pemakaian.
Kredit foto: Elevo dot co dot id
Kedua, karena harganya yang sangat murah. Harga aslinya di Jakarta Rp1,25 juta. Akan tetapi harga setelah diskon hanya setengahnya. Ini bahkan lebih murah daripada tablet termurah yang dijual saat ini.
Elevo R7 dijual dalam tiga pilihan. Pertama dengan sistem operasi Android (yang gak jelas versi berapa). Kedua adalah Windows CE saja. Ketiga adalah Windows CE yang dilengkapi dengan beberapa software pendidikan untuk anak SD.
Netbook ini dilengkapi dengan WiFi, dua port USB, ada port untuk earphone dan mic, namun tidak ada port LAN.
Netbook yang dilengkapi Windows CE sudah menyertakan Office (di dalamnya ada WordPad juga). Namun, kata penjualnya, ini tidak bisa mengenal modem. Jadi Internetnya akan tergantung pada WiFi.
Adapun yang versi Android belum ada program pengolah kata untuk mengetik, namun bisa mengenali modem tertentu. Saya pilih yang versi Android. Itulah satu-satunya unit Elevo R7 Android yang tersisa di toko tempat saya membeli.
***
Netbook ini menyenangkan karena sangat ringan. Chargernya juga ringan seperti charger ponsel saja. Keyboardnya lengkap namun ukurannya sekitar 80% dari keyboard pada umumnya. Untuk mengetik lebih nyaman daripada layar sentuh, namun terasa agak keras dan ceplak-ceplok.Yang paling menyebalkan, bagian layar hanya bisa dibuka sekitar 130 derajat terhadap bagian keyboard. Akibatnya, kalau melihat ke layar seolah-olah mengintip atau netbook ini agak dimiringkan. Desain fisik yang aneh sekali dan sangat mengganggu. Dengan kondisi ini, netbook itu hanya cocok digunakan pada meja yang tinggi.
Secara umum kinerja netbook ini lumayan. Bisa mengenali WiFi dengan baik, bisa juga mendeteksi modem Huawei yang saya punya. Koneksi internet sempat tersendat entah kenapa. Connected tetapi browsernya tidak bisa buka ke mana-mana. Dan entah mengapa hal ini terpecahkan dengan sendirinya. Koneksi pun berlangsung lancar.
Soal penggunaan, masalah muncul karena saya belum terbiasa dengan Android. Selain itu, antarmuka Android agaknya didesain untuk layar sentuh. Jadi untuk netbook tanpa layar sentuh malah jadi agak ribet.
Menurut pembuatnya, Elevo R7 memiliki Processor ARM9 (533MHz), layar 7 inchi 800x480pixels, RAM 128MB, Storage 2GB, Wifi 802.11b/g, 2 usb port, 2 in1 SD Card, Audio port in/out, baterai Li Polymer yang tahan sampai 3 jam pemakaian.
Kredit foto: Elevo dot co dot id
14 Maret 2012
Pilih netbook atau tablet murah?

Belum lama ini saya sempat jalan-jalan ke pusat pertokoan komputer untuk melihat perkembangan tablet dan netbook. Ternyata yang paling ramai dijajakan, dipromosikan besar-besaran, serta dipasang di lemari display adalah tablet.
Dalam hal tablet, yang paling banyak muncul di display adalah Advan (Vandroid) T2 dan T1c. Yang T2 speknya lumayan, tetapi tidak dilengkapi dengan 3G. Harga Vandroid T2 berkisar antara Rp1.150 hingga Rp1.500 (tergantung toko dan paket yang disertakan). Adapun T1C seharga Rp2 juta.
Opsi lain adalah tablet IMO. Ini agak jarang tetapi bisa ditemui, misalnya IMO X1 seharga Rp1,7 juta sudah dual SIM, 3G, serta ada TV analog. Softwarenya pun Android 2.3. Sayang prosesornya di bawah 1GHz.
Yang juga agak menarik tablet dari A*Note. Tablet termurahnya seharga Rp1 juta (Vtab VT-751) sudah dapat keyboard, case, serta kabel penghubung dari slot ke lubang USB dan LAN. Ini menarik karena juga memungkinkan pemakaian mouse. Dalam satu paket lengkap, bentuknya jadi mirip netbook, Cuma ada konektor dan kabel nongol yang membuatnya kurang indah.
***
Sejatinya saya lebih tertarik dengan netbook daripada tablet. Menurut saya, tablet lebih cocok untuk memproduksi informasi, menulis, ngeblog, nyetatus dan semacamnya. Adapun tablet lebih nyaman untuk mengkonsumsi informasi, lebih ringan. Dan keunggulan utamanya adalah menawarkan pengalaman baru misalnya karena layar sentuhnya atau software Androidnya.
Jadi, saya berusaha mencari informasi tentang netbook yang ukurannya benar-benar kecil dan ringan. Saya masih terkesna dengan Asus Eee PC generasi pertama yang layarnya 7 inchi dan terutama bobotnya cuma 900 gram sudah termasuk baterai. Dengan charger pun bobotnya paling 1,1 kg.
Ternyata sulit menemukan netbook seringan itu sekarang. Rata-rata netbook memiliki layar 10 inchi dan bobotnya di atas 1,3 kg. Bahkan kalau dengan baterai 6 sel atau dengan charger, bobotnya kebanyakan di atas 1,6kg. Terlalu berat untuk ditenteng-tenteng.
Ada sih netbook ringan, Asus Eee PC seri X101 yang bobotnya di bawah 1 kg, softwarenya MeeGo (yang diskontinu), dan harganya paling menawan: Rp1,7 juta. Sayangnya, unit ini hanya ada di brosur. Sudah tidak ada lagi yang menjual dalam format baru.
***
Setelah jalan ke sana ke mari saya melihat ada yang jual Elevo R7, ukuran 7 inchi dan harga yang dicantumkan cuma Rp1,2 juta. Ini sangat menarik. Apalagi di situ tertulis softwarenya Android.
Setelah tanya-tanya, ternyata harga yang benar adalah diskon besar-besaran, yakni Rp600 ribu. Mencengangkan.
Ada tiga pilihan yakni pakai Android, pakai Windows CE, serta pakai Windows CE plus software pembelajaran. Ini jelas pilihan menarik, bahkan lebih murah daripada tablet termurah.
Begitulah sekilasan hasil jalan-jalan ke pertokoan komputer.
***
Kredit foto: PonselIMO dot com
Sekilas tentang Nokia Asha 200

Saya beli Nokia Asha 200 sekitar sebulan yang lalu. Saya beli dua buah di tempat yang berbeda. Harga dan bonusnya ternyata juga berbeda. Di BEC Bandung harganya Rp750.000 (sudah paling murah setelah muter-muter di berbagai tempat). Dapat bonus kartu Simpati baru.
Beberapa hari kemudian saya bel dii Depok harganya Rp730.000 sudah dapat bonus kartu memori 2GB dengan isi ratusan lagu (lagunya band baru-baru, kebanyakan saya enggak ngerti).
Nokia itu satu untukku, satu untuk istriku. Kebetulan hapeku dan hape istriku rusak hampir bersamaan. Sama-sama Nokia pula. Jadi saya beli hape Nokia lagi. Nokia terbukti bandel, baterai dan charger penggantinya mudah didapat dan murah.
Saya pilih ponsel yang dual SIM karena di satu sisi harus mempertahankan nomor lama, di sisi lain ingin mencoba SIM card baru yang menawarkan berbagai bonus seperti yang sering muncul di iklan. Ini dual SIM namun SIM pertama harus dipasang agar SIM kedua bisa aktif. SIM kedua bersifat hot swap, artinya bisa dilepas pasang tanpa mematikan ponsel.
Saya juga pilih ponsel dengan keyboard QWERTY karena saya lebih suka menulis SMS daripada menelepon. Sudah lama saya tidak akrab dengan ponsel non-QWERTY, jadi pasti menyiksa kalau memasrahkan diri pada keypad numerik atau layar sentuh murahan.
Nah, Nokia Asha 200 itu adalah produk termurah yang memenuhi syarat di atas: Nokia, dual SIM, keyboard QWERTY.
Maka begitulah, saya memilih Nokia Asha 200. Asha berasal dari bahasa India (Sanskrit??) yang artinya harapan. Ini line up baru yang cukup menarik dari Nokia.
Hal yang agak mengecewakan dari ponsel ini antara lain
*Tingkat terang layar tidak bisa disetel. Terlalu menyilaukan buatku. Solusinya ya pasang pelindung layar plastik gelap, Rp35.000.
*Keypadnya lebih kecil dari keypad Blackberry Huron, dan tidak terlalu empuk. Capek buat mengetik pesan agak panjang. Dalam hal ini saya masih mengagumi kualitas keyboard Blackberry jadoel yang jauh lebih empuk dan nyaman untuk mengetik.
*Beberapa menu tidak sehebat handphone dengan software Nokia40 versi terdahulu. Agaknya beberapa fitur dihilangkan untuk meminimalkan biaya atau dianggap tidak penting.
*Browsernya terasa lelet. Mungkin termasuk wajar untuk handset yang belum mendukung 3G.
*Banyak ponsel China/lokal yang lebih murah dengan fitur yang serupa. Bahkan belakangan Samsung juga mengeluarkan ponsel lebih murah dengan fitur yang tak jauh beda dengan Nokia Asha 200.
Begitulah review sekilasan.
Terima kasih
Kredit foto: GSMArena
Menulis lagi setelah jeda panjang sekali
Sudah hampir 4 bulan saya tidak menulis untuk blog ini. Saya masih membuat catatan singkat di beberapa tempat (FB, diary) namun tidak untuk mengisi blog ini. Sangat menyedihkan, sekaligus memalukan. Ini adalah masa jeda alias kekosongan terlama salam sejarah saya ngeblog.
Mungkin betul juga sinyalemen bahwa lebih gampang mengisi blog mikro (twitter atau nyetatus di FB/ Google+) daripada ngeblog yang perlu waktu lebih lama dan konsentrasi lebih panjang.
Apapun alasannya (kesibukan, kesehatan, hal-hal besar yang tidak bisa ditinggalkan) adalah memalukan untuk tidak menulis. Untung saya tidak mengklaim diri sebagai blogger sejati, Cuma blogger pinggiran.
Maka inilah. Saya berusaha mengisi kembali blog ini. Dan tema yang paling gampang serta cepat untuk dipakai memulai adalah tentang ponsel. Saya akan menulis tentang Nokia Asha 200.
Mungkin betul juga sinyalemen bahwa lebih gampang mengisi blog mikro (twitter atau nyetatus di FB/ Google+) daripada ngeblog yang perlu waktu lebih lama dan konsentrasi lebih panjang.
Apapun alasannya (kesibukan, kesehatan, hal-hal besar yang tidak bisa ditinggalkan) adalah memalukan untuk tidak menulis. Untung saya tidak mengklaim diri sebagai blogger sejati, Cuma blogger pinggiran.
Maka inilah. Saya berusaha mengisi kembali blog ini. Dan tema yang paling gampang serta cepat untuk dipakai memulai adalah tentang ponsel. Saya akan menulis tentang Nokia Asha 200.
28 November 2011
Rahwana sebagai pahlawan kebaikan

Rahuvana Tattwa adalah kisah mengenai pertentangan Rama dengan Rahwana, namun dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan apa yang dipahami masyarakat pada umumnya mengenai kisah Ramayana. Rahuvana Tattwa artinya kisah sejati tentang Rahwana.
Rahwana selama ini dikenal sebagai tokoh raksasa yang menculik Sinta dari suaminya, Rama. Rahwana dikenal memiliki 10 wajah (dasamuka) dan digambarkan sebagai tokoh jahat yang menebar kerusakan. Anehnya, dalam perang Rahwana didukung oleh semua kerabat dan punggawanya kecuali Wibisana.
Adapun Rama selalu digambarkan sebagai tokoh baik, teraniaya, mengembara menembus hutan. Dia didukung oleh pasukan kera di bawah kepemimpinan Sugriwa ---yang merebut kuasa dari kakaknya, Subali.
Agus Sunyoto, pengarang Rahuvana Tattwa, menyajikan pendekatan yang berbeda. Menurut dia, kisah Ramayana yang populer beredar, yang berpangkal dari karya Walmiki, merupakan karya yang terlalu mengagungkan pemenang, yakni Rama dan sekutunya.
Agus mencoba memahami cerita dari sisi Rahwana. Dia digambarkan sebagai tokoh pribumi (suku Dravida) yang berjuang melawan Rama yang berasal dari bangsa Arya.
Rahwana berasal dari keturunan Dewi Raksa (sehingga disebut Raksasa). Adapun Rama berasal dari keturunan Mannu (sehingga disebut Mannussa). Rahwana adalah tokoh yang mendapat dukungan kuat dari seluruh kerabat, bangsa, dan pasukannya, berbeda dengan Rama yang hanya didukung oleh adiknya, Laksmana, serta para kera. Bagaimana mungkin raja lalim justru mendapat dukungan begitu kuat sementara raja yang baik justru minim dukungan keluarga?
Rahwana memperlakukan Sinta selalu dengan baik dan lembut, dalam versi cerita mana pun, karena dia berasal dari kebudayaan matrilineal. Adapun Rama justru memperlakukan Sinta dengan dingin (menolaknya setelah pembebasan seusai perang, mengizinkannya membakar diri, kemudian mengucilkannya sehingga Sinta memilih agar ditelan bumi dalam gempa) karena Rama berasal dari budaya yang terlalu mengagungkan lelaki.
Dalam konteks itu pula pertentangan antara Sarpanaka (adik Rahwana) yang menyatakan tertarik kepada Rama dan Laksmana dipahami, namun menimbulkan salah paham bagi pengikut budaya patriark.
Rahuvana digambarkan sebagai penyembah Siwa, sedangkan Rama merupakan penyembah Wisnu (dalam cerita biasanya Rama memang digambarkan sebagai titisan Wisnu). Saya tidak begitu mengerti perbedaan di antara keduanya, namun cerita memang mengisahkan pertentangan di antara mereka.
Rahuvana berasal dari negeri dengan banyak bangunan megah (yang dibakar dalam kerusuhan yang dibuat oleh Hanuman dengan dukungan Bibisana), sedangkan Rama berkelana di hutan dengan dukungan kelompok Sugriwa yang tinggal di gua-gua.
Buku ini juga mempertanyakan sikap Rama yang selama ini dianggap tokoh baik dan ksatria, kok membokong Subali ketika Subali justru dicurangi oleh adiknya, Sugriwa.
***
Agus Sunyoto adalah orang Indonesia, namun cerita ini tampak dikemas dengan penguasaan bahasa Sansekerta yang baik. Banyak nama disertai arti bahasanya. Misalnya, Rahuvana artinya kendaraan (dewa) Rahu, Indrajit artinya penakluk Indra, Danaswara artinya tuan dari orang kaya (dalam wayang jawa disebut Danaraja), dan seterusnya.
Cerita ini juga dikemas dengan semua tokohnya berupa manusia, hanya berbeda wangsa. Misalnya wangsa raksasa, wangsa wanara (dalam cerita biasa disebut kera), wangsa gandarwa, dan sebagainya. Tidak ada kera, demon, burung, seperti dalam cerita Ramayana pada umumnya.
Cerita menjadi lebih masuk akal karena melibatkan intrik politik seperti yang ditempuh Wibisana dalam upaya menggulingkan kakaknya, Sugriwa dalam merebut kuasa dari Subali. Juga menarik mengamati bagaimana gaya membual para tokoh Kiskindha yang berasal dari wangsa wanara.
Meski begitu, secara umum cerita ini masih seperti cerita wayang pada umumnya. Ada dewa-dewa yang campur aduk kuasanya dengan manusia hebat, ada orang-orang sakti, ada supata alias kutukan, serta ada berbagai keajaiban.
Bagi saya yang tidak mengerti geograsi dan demografi India, cerita Rahuvana Tattwa ini amatlah menarik. Buku setebal 744 halaman terbitan LKiS yang dijual amat murah di pameran, Rp15 ribu, ini benar-benar menawarkan sudut pandang baru yang tidak linier.
27 November 2011
Si malang dan si sial (antara beruntung & bersyukur)

Membaca buku Luck Factor mengingatkan saya tentang cerita mengenai orang bernasib sengsara yang saya baca dalam majalah bahasa Jawa, Jaya Baya, sewaktu saya kecil.
Ceritanya kira-kira begini. Ada orang yang nasibnya dikenal malang terus menerus. Miskin dan banyak sial. Suatu ketika Raja ingin membantu orang tersebut, namun dengan cara terselubung.
Sang Raja menghadiahkan sebuah blewah (semacam semangka) yang di dalamnya telah diisi dengan emas dan barang berharga. Bukannya dibawa pulang, buah blewah itu malah dijual di pasar sehingga si orang malang itu tidak jadi menikmati emas yang semula ditujukan untuk dirinya.
Sang Raja pun mencoba cara lain. Kali ini si orang malang itu diberi sebatang bambu. Tentu saja di dalamnya juga diisi dengan emas, uang, dan barang berharga. Bukannya dibawa pulang, dipakai, atau dibuka, bambu itu malah diberikan pada orang lain karena si orang yang malang itu merasa bahwa batang bambu itu terlampau berat.
Kalau tidak salah, ada satu langkah lagi yang ditempuh Sang Raja untuk membantu si orang yang malang itu tanpa terlihat. Tapi lagi-lagi gagal. Lalu sampailah pada kesimpulan bahwa orang itu memang malang. Tidak kuat menerima kekayaan, kebahagiaan dan semacamnya.
***Kesempatan sama, hidup berbeda
Richard Wiseman, seorang psikolog dan pesulap, mencoba membuat eksperiman yang menyangkut keberuntungan. Dia telah membuat berbagai kuesioner lalu mendapatkan dua orang responden yang akan diuji.
Responden pertama diambil dari orang-orang yang mengaku bahwa dirinya dan hidupnya penuh keberuntungan, sedangkan responden kedua diambil dari orang yang merasa bahwa kehidupannya penuh kemalangan.
Dua orang itu diundang ke restoran yang sama dan dipasangi ‘jebakan’ yang sama. Ada uang yang diletakkan di dekat pintu masuk. Lalu ada empat meja yang masing-masing sudah diduduki oleh anggota tim Wiseman. Salah satu meja itu diduduki oleh anggota tim yang merupakan seorang pengusaha sukses, dan tiga lainnya diduduki orang biasa.
Hasilnya ternyata kok mirip cerita rakyat waktu saya kecil dulu. Yang beruntung enak terus, sementara orang yang merasa malang dapat sialnya terus.
Orang yang merasa hidupnya beruntung datang lebih awal dan menemukan ada uang tergeletak di dekat pintu. Dia lalu masuk dan duduk memilih kursi di sebelah pengusaha sukses. Bukannya diam, dia membuka percakapan lalu mengalirlah banyak informasi dan komunikasi yang menyenangkan.
Kesannya tentang acara yang dijalaninya pun serba menyenangkan.
Lain lagi dengan kondisi orang yang malang. Sebelum orang malang itu datang, seseorang yang di luar rencana ternyata melihat ada uang di depan pintu, lalu mengambilnya. Tim Wiseman menaruh kembali uang yang lain di tempat itu. Ketika orang malang itu datang, ternyata dia tidak melihat ada uang di sana. Dia terus saja masuk ke restoran.
Sama dengan orang yang beruntung, dia juga duduk satu meja dengan pengusaha sukses. Alih-alih membuka percakapan dan komunikasi, orang yang malang itu diam dan sibuk dengan dirinya sendiri. Waktu terus berlalu dan tidak ada komunikasi yang terjadi antara dirinya dengan si pengusaha sukses.
Ketika ditanya kesannya tentang acara yang dijalaninya, tidak ada hal menarik yang didapatkan.
***Prinsip keberuntungan
Wiseman menyimpulkan bahwa Martin dan Brenda, dua orang relawan yang ikut dalam eksperimen itu, mendapat kesempatan yang sama namun menjalani hidup yang berbeda.
Kira-kira, Martin si merasa beruntung, memiliki beberapa sifat yang kadarnya lebih besar daripada Brenda, si malang, dalam hal:
1. Bercakap-cakap dengan orang asing yang baru dikenal. Buktinya dia ngobrol dengan orang asing yang duduk di dekatnya di dalam restoran atau café itu.
2. Kecenderungan untuk khawatir dan merasa gelisah tentang hidup. Rileks menghadapi hidup itulah yang memungkinkan orang bisa menemukan uang di jalan dan melihat hal-hal yang tidak dilihat oleh orang yang cenderung ‘tegang’ menjalani hidup seperti Brenda.
3. Keterbukaan terbuka mencoba pengalaman baru.
Ada bermacam pengamatan dan percobaan yang diungkapkan Wiseman dalam mengenali ciri-ciri orang yang beruntung. Dia meringkasnya dalam 12 subprinsip yang tergabung dalam empat prinsip besar. Tiga subprinsip di atas merupakan bagian dari empat prinsip besar. Prinsip dan subprinsip keberuntungan menurut Wiseman sebagai berikut:
A. Memaksimalkan kesempatan keberuntungan
1. Orang yang beruntung menjaga jaringan keberuntungan yang kuat
2. Orang beruntung menjalani hidup lebih santai
3. Orang yang beruntung terbuka terhadap pengalaman baru
B. Mendengarkan prinsip keberuntungan
4. Orang yang beruntung mendengarkan insting dan perasaan mereka
5. Orang yang beruntung mengambil langkah untuk meningkatkan intuisi mereka
C. Harapan kemujuran
6. Orang beruntung berharap kemujuran mereka berlanjut pada masa mendatang.
7. Orang beruntung berusaha meraih sasaran mereka, bahkan ketika kemungkinannya tampak kecil.
8. Orang beruntung berharap interaksi mereka dengan orang lain akan berhasil dan menguntungkan.
D. Ubah kemalangan menjadi kemujuran
9. Orang beruntung melihat sisi positif dari kemalangan mereka.
10. Orang yang beruntung yakin kemalangan apa pun dalam hidup mereka, dalam jangka panjang, akan menjadi kebaikan.
11. Orang yang beruntung tidak lama-lama meratapi kemalangan mereka.
12. Orang yang beruntung mengambil langkah membangun untuk mencegah datangnya kemalangan pada masa mendatang.
***Bersyukur
Nah, dalam prinsip D (nomor 9-12), saya melihat yang dimaksud dengan orang beruntung dalam banyak hal adalah orang yang pandai bersyukur. Intinya, mereka menyadari bahwa ada hal lebih buruk yang bisa jadi menimpa mereka. Untungnya mereka kok cuma mendapat kemalangan segitu. Coba kalau tertimpa kemalangan yang lebih besar. Dari sanalah muncul perasaan merasa beruntung alias bersyukur itu.
Wiseman mencoba membuktikan itu dengan mewawancarai banyak orang dan membandingkan respons berbeda antara orang yang merasa beruntung dengan merasa sial atas suatu peristiwa yang mirip.
***Rileks
Pengarang buku ini juga mengungkapkan temuan menarik mengenai orang yang lebih rileks menghadapi hidup. Beberapa relawan ditanya mengenai jumlah foto yang dimuat dalam sebuah koran. Semua orang sibuk menghitung foto, dan tidak satupun yang menemukan bahwa di salah satu halaman termuat tulisan besar bahwa jumlah foto ada 43 buah. Juga, tidak ada yang menemukan tulisan yang bisa membuat mereka mendapatkan hadiah 100 pounsterling jika berhasil menemukannya.
Semua orang fokus pada sesuatu yang diperintahkan otak, kurang rileks, sehingga tidak melihat ada peluang lain yang lebih menguntungkan. Wiseman yang tukang sulap memperkuat dugaannya ini dengan permainan kartu yang memang khas tukang sulap.
Buku ini memang menarik. Kalau mau beli, harga normalnya Rp48 ribu. Kalau di pameran buku atau toko buku diskon harganya tentu lebih murah. Wallahu a’lam.
21 November 2011
Penumpang nan mencurigakan
Saya naik bus dari terminal sekitar jam 12 malam. Saya duduk di baris kedua dari depan, posisi pinggir gang lajur sebelah kiri. Sebelah kiri saya, kursi yang dekat kaca, kosong. Bus juga tidak padat. Banyak kursi jejer dua yang cuma diisi satu orang. Kabin gelap dan saya tidur.
Saya terbangun karena ada orang yang mau duduk di sebelah. Agak kaget karena kurasa sebelumnya bus tidak berhenti untuk menaikkan penumpang. Jadi kemungkinan besar penumpang itu berasal dari kursi lain. Dua kursi di kanan belakang saya kosong melompong.
Keanehan pertama bapak di sebelah itu bertanya: berapa, tiket? Saya jawab dengan nada heran: sekian ribu. (Mungkin dia ingin mengesankan diri baru naik ke bus dan tidak biasa naik kendaraan itu?)
Lalu dia mulai melakukan gerakan aneh. Meletakkan tas di depan agak menyodok ke arah saya. Lalu tidurnya menghadap ke kaca, muter ke depan, balik lagi ke belakang. Pokoknya heboh. Ada bau minyak yang agak menyengat. Dia juga menengok-nengok ke arah kanan belakang saya yang kursinya kosong. (Seolah-olah dia ingin saya pindah ke sana. Saya pikir kenapa tidak dia saja yang ke sana)
Terakhir dia (pura-pura) tidur dan ambruk ke arah saya. Saya kan mangkel. Saya bangunkan dia. Habis saya bangunkan, dia seperti mau pindah ke kursi lain. Saya kasih jalan. Eh begitu sampai gang, dia balik lagi lalu tanpa ngomong apa-apa, mendesak saya supaya pindah ke kursi pinggir kaca.
Saya mangkel banget. Tapi daripada repot, saya pindah saja ke pinggir kaca. Saya tidak bisa tidur. Kursi di pinggir itu tidak bisa diatur kemiringannya.
Setelah duduk di bekas tempat duduk saya, orang itu agak tenang. Tapi posisi tidurnya agak aneh. Badannya menempel ke kursi di depannya, di kursi baris pertama.
Mungkin sekitar seperempat jam kemudian dia pindah ke kursi yang kosong di kanan belakang. Saya pun kembali ke kursi saya semula. Eh, baru dua menit, dia balik lagi sambil memencet tombol AC. Saya marah, kubilang: Bapak ini maunya apa sih?
“Saya mau turun.”
Saya kembali ke pinggir kaca. Dia duduk lagi di bekas kursiku, sekitar 2 menit. Lalu dia kasih aba-aba ke sopir untuk berhenti. Caranya memberi aba-aba tanpa suara.
Dia pun turun di tengah jalan tol. Saya cek semua barang saya aman.
Saya pun duduk kembali dengan tenang di tempat semula. Sekitar lima menit kemudian bapak-bapak yang duduk di depan saya, baris pertama, terkaget-kaget menyadari laptopnya hilang. Tas laptopnya robek.
Waduh. Bapak yang kehilangan laptop memang tidurnya nyenyak. Tapi tas laptop itu dikempit lho di dadanya. Jadi tidak ditaruh di tempat lain. Jadi yang merobek tas dan mengambilnya pasti lihai.
Kasihan banget Si Bapak yang kehilangan laptop itu. Dia Cuma tanya: tadi ada yang turun, ya Pak? Awak bus menjawab iya.
Saya terbangun karena ada orang yang mau duduk di sebelah. Agak kaget karena kurasa sebelumnya bus tidak berhenti untuk menaikkan penumpang. Jadi kemungkinan besar penumpang itu berasal dari kursi lain. Dua kursi di kanan belakang saya kosong melompong.
Keanehan pertama bapak di sebelah itu bertanya: berapa, tiket? Saya jawab dengan nada heran: sekian ribu. (Mungkin dia ingin mengesankan diri baru naik ke bus dan tidak biasa naik kendaraan itu?)
Lalu dia mulai melakukan gerakan aneh. Meletakkan tas di depan agak menyodok ke arah saya. Lalu tidurnya menghadap ke kaca, muter ke depan, balik lagi ke belakang. Pokoknya heboh. Ada bau minyak yang agak menyengat. Dia juga menengok-nengok ke arah kanan belakang saya yang kursinya kosong. (Seolah-olah dia ingin saya pindah ke sana. Saya pikir kenapa tidak dia saja yang ke sana)
Terakhir dia (pura-pura) tidur dan ambruk ke arah saya. Saya kan mangkel. Saya bangunkan dia. Habis saya bangunkan, dia seperti mau pindah ke kursi lain. Saya kasih jalan. Eh begitu sampai gang, dia balik lagi lalu tanpa ngomong apa-apa, mendesak saya supaya pindah ke kursi pinggir kaca.
Saya mangkel banget. Tapi daripada repot, saya pindah saja ke pinggir kaca. Saya tidak bisa tidur. Kursi di pinggir itu tidak bisa diatur kemiringannya.
Setelah duduk di bekas tempat duduk saya, orang itu agak tenang. Tapi posisi tidurnya agak aneh. Badannya menempel ke kursi di depannya, di kursi baris pertama.
Mungkin sekitar seperempat jam kemudian dia pindah ke kursi yang kosong di kanan belakang. Saya pun kembali ke kursi saya semula. Eh, baru dua menit, dia balik lagi sambil memencet tombol AC. Saya marah, kubilang: Bapak ini maunya apa sih?
“Saya mau turun.”
Saya kembali ke pinggir kaca. Dia duduk lagi di bekas kursiku, sekitar 2 menit. Lalu dia kasih aba-aba ke sopir untuk berhenti. Caranya memberi aba-aba tanpa suara.
Dia pun turun di tengah jalan tol. Saya cek semua barang saya aman.
Saya pun duduk kembali dengan tenang di tempat semula. Sekitar lima menit kemudian bapak-bapak yang duduk di depan saya, baris pertama, terkaget-kaget menyadari laptopnya hilang. Tas laptopnya robek.
Waduh. Bapak yang kehilangan laptop memang tidurnya nyenyak. Tapi tas laptop itu dikempit lho di dadanya. Jadi tidak ditaruh di tempat lain. Jadi yang merobek tas dan mengambilnya pasti lihai.
Kasihan banget Si Bapak yang kehilangan laptop itu. Dia Cuma tanya: tadi ada yang turun, ya Pak? Awak bus menjawab iya.
15 November 2011
Hawaii adalah Jawa kecil

Tidak banyak yang tahu hubungan erat antara Hawaii dengan Indonesia, khususnya Jawa. Padahal, menurut George Armitage dalam A Brief History of Hawaii, ada hubungan yang khusus antara dua tempat yang berjarak 14 jam penerbangan itu.
Hawaii terdiri atas beberapa pulau yang oleh para ahli diduga terjadi karena peristiwa vulkanik. Pulau-pulau di itu seolah puncak gunung yang menjulang dari dasar laut hingga menyembul ke permukaan.
Tanahnya berbatu-batu dan relatif tandus. Ada sedikit kandungan bahan mineral namun tidak ditemukan minyak maupun batu bara. Diperkirakan penduduk asli masih hidup seperti “zaman batu” ketika peradaban Barat mulai menyentuhnya.
Tanaman asli di sana pun tak banyak. Paling terkenal adalah nanas dan pisang. Hewan liar juga nyaris tidak ada. Lalu pertanyaan muncul mengenai asal usul orang Hawaii. Dari mana datangnya para penghuni pulau yang berada jauh dari benua Amerika, jauh dari Asia maupun Australia itu?
Ada bermacam jawaban untuk pertanyaan ini. Salah satu versi menyatakan bahwa asal mula orang Hawaii haruslah dari peradaban yang sesuai untuk bertahan hidup dalam keterbatasan alam Hawaii.
Salah satu jawaban paling masuk akal adalah orang India atau bagian lain dari sisi selatan benua Asia. Dugaan ini didukung adanya nama-nama khas Hawaii seperti Oahu konon juga masih ditemukan di India Timur.
Lalu dari mana nama Hawaii? Masih menurut versi yang sama, Hawaii berasal dari kata Jawa-i’i yang berarti Jawa kecil. Nah, disinilah kita menemukan hubungan yang erat antara Jawa dan Hawaii.
Banyak yang ragu dengan pandangan di atas. Muncul pula hipotesis bahwa Hawaii berasal dari Havaii di dekat Tahiti. Meskipun dua tempat itu berjarak 2.000 km, ada hal di Hawaii diperkirakan berasal dari Tahiti. Contohnya, nama Kealaikahiki Channel yang berada di antara Lanai dan Kahoolawe, memiliki arti jalan ke Tahiti.
Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana sejarah Hawaii di masa lalu sebelum orang Barat masuk. Apalagi karena budaya tulis menulis tidak ditemukan di sana.
Sejarah baru mulai jelas ketika masuknya peradaban barat. Salah satu tokoh yang paling terkenal dalam menaklukkan Hawaii adalah Kapten James Cook, penjelajah asal Inggris yang tiba di sana pada 1778.
Sampai kini bendera Kapten Cook masih mudah ditemui di berbagai tempat penjualan souvenir di Hawaii. Dengan hal-hal ajaib yang dimilikinya seperti kapal besar yang dianggap pulau mengapung, mulut yang menyemburkan asap (rokok), menyatukan tangan ke tubuh (dengan cara memasukkan ke saku baju), serta senapan kuno, dia bisa menguasai orang Hawaii.

Kepulauan di tengah Samudra Pasifik itu menjadi perhatian dunia pada era perang Dunia II ketika Jepang menyerbu Pearl Harbour. Sampai saat ini masih banyak warga keturunan Jepang tinggal di sana.
Apa pun asal-usul Hawaii dan orangnya, dan bagaimana pun sejarahnya, yang jelas semua orang sepakat bahwa Hawaii memang indah. Keindahan itu relatif terjaga oleh kesadaran akan ketertiban serta kebersihan.
*) Selengkapnya bisa dibaca di Bisnis Indonesia Weekend edisi 13 November 2011 halaman 30-31, TRIP
09 November 2011
Persiapan untuk bepergian

Bepergian ke negeri yang jauh, kadang membawa kejutan tersendiri, bahkan untuk orang yang sudah berkali-kali ke luar negeri. Hal-hal kecil seperti charger yang mati, colokan listrik yang tidak cocok, sampai dengan koneksi Wi-Fi, Internet serta seluler yang tidak sesuai perkiraan bisa menjadi masalah.
Kesempatan charging yang singkat sementara perjalanan luar ruang yang lama perlu menjadi perhatian. Demikian pula dengan kemungkinan masalah peranti lunak serta kompatibilitas perangkat.
Berikut ini beberapa hal yang menurut saya perlu disiapkan dengan baik. Persiapan yang relatif mudah dan murah di Indonesia, namun harganya ketika di sana (baik harga harfiah maupun harga sosialnya) bisa sangat tinggi.
1. Baterai cadangan untuk telepon seluler. Baterai sebaiknya bisa dicharge secara terpisah. Bisa benar-benar berupa baterai yang tinggal dipasangkan, bisa juga dengan power bank. Alangkah baiknya jika peralatan ini bisa juga menjadi alternatif opsi charging untuk mengantisipasi kemungkinan sewaktu-waktu charger mati di sana. Beberapa kali ke luar negeri, baru kali terakhir bulan lalu lah saya mengalami charger ponsel mati dan tidak ada serepnya. Untung bisa ngecharge lewat televisi di kamar hotel yang memiliki colokan USB.
2. Colokan universal untuk mengantisipasi bentuk-bentuk colokan yang tidak sesuai dengan charger hape atau charger laptop.
3. Pembagi sambungan agar bisa ngecharge hape, baterai cadangan, serta laptop dalam waktu bersamaan terutama pada malam hari ketika tidur. Kegiatan di luar kota atau di luar negeri biasanya padat dan kesempatan charging hanya pada malam hari. Kalau colokan cuma satu sementara perangkat yang harus discharge cukup banyak maka harus berkali-kali bangun di malam hari untuk nyolok listrik.
4. Bawa ponsel lebih dari satu mungkin termasuk salah satu opsi. Meskipun jarang sekali ada orang mengalami masalah serius dengan hape ketika dalam perjalanan singkat, namun bagi orang-orang yang harus selalu online, membawa cadangan hape termasuk hal yang perlu dipertimbangkan. Tidak harus yang sama, yang amat murah juga tak apa. Sebaiknya yang baterai atau colokannya bisa sharing sehingga tidak memperberat beban.
5. Bagi wartawan yang perlu banyak menulis namun terlalu berat membawa laptop, maka tablet atau ponsel dengan fitur USB on the go bisa jadi pilihan. Membawa ponsel USB on the go plus keyboard PC kayaknya lebih ringan daripada membawa laptop.
02 November 2011
Menyoal utang piutang
*Zaman sekarang, mencari utang adalah hal mudah. Iklan, SMS, dan penawaran begitu banyak. Akan tetapi tidak mudah mencari utang dengan provisi murah, bunga amat rendah, serta tanpa biaya ini itu yang memberatkan.
*Utang piutang telah menjadi industri. Bahkan, barangkali, utang piutang itulah salah satu inti dari industri keuangan.
*Selain menjadi industri, utang juga telah menjadi gaya hidup. Orang punya rumah baru di zaman kini, bukan berarti punya harta senilai rumah itu. Yang lebih tepat: utangnya hampir pasti lebih besar dari setengah nilai rumah baru itu. Demikian pula dengan pemilik kendaraan baru: utangnya hampir pasti lebih dari setengah nilai kendaraan itu.
*Pada dasarnya, fitur para penyedia utangan hanyalah permainan matematika. Semua hanya permainan variabel antara bagian yang dibayar di muka, bagian yang dicicil, besarnya cicilan, serta besarnya penalti dan biaya penggantian bila utang dijadwal ulang. Ada yang provisinya kecil, tetapi bunga tinggi. Ada yang bunga rendah, namun kalau melunasi di tengah jalan jatuhnya jadi lebih mahal.
*Ternyata, mencari utang senilai X untuk pembelian kendaraan bisa lebih susah daripada mencari utang senilai 2X untuk membeli rumah. Mungkin karena kendaraan adalah barang bergerak sementara rumah adalah barang yang tidak bergerak.
*Kadangkala, jika posisi tak setara, pemberi utang bisa menekan si pengutang. Tekanan bisa berupa persyaratan yang mengada-ada, penambahan syarat pada last minute ketika sudah tidak ada opsi lain atau tak mungkin dibatalkan, atau penambahan biaya seperti asuransi, proteksi, atau istilah apa lainnya.
*Utang piutang telah menjadi industri. Bahkan, barangkali, utang piutang itulah salah satu inti dari industri keuangan.
*Selain menjadi industri, utang juga telah menjadi gaya hidup. Orang punya rumah baru di zaman kini, bukan berarti punya harta senilai rumah itu. Yang lebih tepat: utangnya hampir pasti lebih besar dari setengah nilai rumah baru itu. Demikian pula dengan pemilik kendaraan baru: utangnya hampir pasti lebih dari setengah nilai kendaraan itu.
*Pada dasarnya, fitur para penyedia utangan hanyalah permainan matematika. Semua hanya permainan variabel antara bagian yang dibayar di muka, bagian yang dicicil, besarnya cicilan, serta besarnya penalti dan biaya penggantian bila utang dijadwal ulang. Ada yang provisinya kecil, tetapi bunga tinggi. Ada yang bunga rendah, namun kalau melunasi di tengah jalan jatuhnya jadi lebih mahal.
*Ternyata, mencari utang senilai X untuk pembelian kendaraan bisa lebih susah daripada mencari utang senilai 2X untuk membeli rumah. Mungkin karena kendaraan adalah barang bergerak sementara rumah adalah barang yang tidak bergerak.
*Kadangkala, jika posisi tak setara, pemberi utang bisa menekan si pengutang. Tekanan bisa berupa persyaratan yang mengada-ada, penambahan syarat pada last minute ketika sudah tidak ada opsi lain atau tak mungkin dibatalkan, atau penambahan biaya seperti asuransi, proteksi, atau istilah apa lainnya.
25 Oktober 2011
Ketika penguasa tersandung tukang rumput
Hiruk pikuk tentang tukang kebun atau tukang rumput dan pembesar membawa ingatan saya terhadap cerita tentang Bupati Semarang, Adipati Pandanaran, yang berkuasa lima abad yang lalu.
Adipati Pandanaran adalah orang yang hebat. Selain berkuasa, dia juga pandai berbisnis serta berdagang. Hartanya melimpah ruah. Sebagai orang kaya dan berkuasa, dia punya kuda yang hebat dan mahal.
Suatu hari, pekathik yang bertugas memelihara kuda berhalangan. Jadi kuda-kuda mahal belum diberi rumput. Lalu datanglah tukang rumput yang baru dikenalnya. Si tukang rumput menjual rumput bagusnya dengan harga di bawah pasaran.
Esoknya, hal yang sama kembali terjadi. Tukang rumput datang lebih pagi dan menawarkan rumput yang lebih bagus. Ketika ditanya, si tukang rumput mengaku berasal dari tempat yang jauh. Adipati Pandanaran pun tidak percaya tukang bisa datang dari tempat yang begitu jauh sepagi itu.
Sebelum pergi, tukang rumput minta sedekah. Ketika diberi uang, dia tidak mau. Yang diminta adalah bunyi beduk di kota Semarang yang berarti meminta Adipati Pandanaran agar membangun mesjid.
Tentu saja hal itu ditolak. Lalu terjadilah dialog sengit yang intinya mempersoalkan peran harta. Si tukang rumput menyatakan bahwa harta bukanlah hal penting, dia bisa mencangkul emas di tanah.
Sang Adipati marah dan meminta tukang rumput itu membuktikan ucapannya. Lalu mencangkullah si tukang rumput. Dan ajaib, dari bongkahan tanah itu benar-benar muncul emas.
Maka bertobatlah sang Adipati. Tukang rumput itu tak lain adalah Sunan Kalijaga yang mendapat tugas dari para wali untuk mengingatkan penguasa Semarang.
Singkat cerita, Adipati Pandanaran berguru pada Sunan Kalijaga, meninggalkan semua harta kekayaannya, dan pada akhirnya dikenal dengan nama Sunan Bayat atau Sunan Tembayat.
Kisah perjalanan Adipati Pandanaran dalam berguru ini menjadi cerita mengenai asal usul daerah Salatiga dan beberapa tempat di sekitarnya.
***
Ada juga versi lain soal bertobatnya Adipati Pandanaran. Konon ada tukang rumput tua yang biasa mengirimkan rumput untuk kuda Sang Adipati, namun di dalamnya terselip emas dan barang berharga.
Beberapa kali hal itu terjadi, sampai suatu saat tukang rumput tua menghentikan pasoknya. Sang Adipati memaksa tukang rumput memberikan rumput yang disertai emas. Lalu sang tukang rumput yang tak lain adalah Sunan Kalijaga menunjukkan keajaiban dengan cara mencangkul tanah yang di dalamnya muncul emas.
Intinya sama-sama menunjukkan bahwa Sunan Kalijaga menyamar jadi tukang rumput, ada keajaiban dalam mencangkul tanah, serta penguasa yang gila harta itu bertobat dan kemudian menjadi pengikut utama dari Sang Wali.
***
Belakangan ini kita dikejutkan oleh berita tentang tukang kebun, kadang disebut pula tukang rumput, yang diamankan karena melintas di hadapan pembesar.
Soal hubungan tukang kebun dengan penguasa atau pembesar ini, mungkin kita bisa belajar dari cerita tentang Bupati Semarang Adipati Pandanaran alias Sunan Bayat alias Sunan Tembayat itu.
*) Gambar Sunan Kalijaga diambil dari forumsejarah.blogspot.com
Adipati Pandanaran adalah orang yang hebat. Selain berkuasa, dia juga pandai berbisnis serta berdagang. Hartanya melimpah ruah. Sebagai orang kaya dan berkuasa, dia punya kuda yang hebat dan mahal.
Suatu hari, pekathik yang bertugas memelihara kuda berhalangan. Jadi kuda-kuda mahal belum diberi rumput. Lalu datanglah tukang rumput yang baru dikenalnya. Si tukang rumput menjual rumput bagusnya dengan harga di bawah pasaran.
Esoknya, hal yang sama kembali terjadi. Tukang rumput datang lebih pagi dan menawarkan rumput yang lebih bagus. Ketika ditanya, si tukang rumput mengaku berasal dari tempat yang jauh. Adipati Pandanaran pun tidak percaya tukang bisa datang dari tempat yang begitu jauh sepagi itu.Sebelum pergi, tukang rumput minta sedekah. Ketika diberi uang, dia tidak mau. Yang diminta adalah bunyi beduk di kota Semarang yang berarti meminta Adipati Pandanaran agar membangun mesjid.
Tentu saja hal itu ditolak. Lalu terjadilah dialog sengit yang intinya mempersoalkan peran harta. Si tukang rumput menyatakan bahwa harta bukanlah hal penting, dia bisa mencangkul emas di tanah.
Sang Adipati marah dan meminta tukang rumput itu membuktikan ucapannya. Lalu mencangkullah si tukang rumput. Dan ajaib, dari bongkahan tanah itu benar-benar muncul emas.
Maka bertobatlah sang Adipati. Tukang rumput itu tak lain adalah Sunan Kalijaga yang mendapat tugas dari para wali untuk mengingatkan penguasa Semarang.
Singkat cerita, Adipati Pandanaran berguru pada Sunan Kalijaga, meninggalkan semua harta kekayaannya, dan pada akhirnya dikenal dengan nama Sunan Bayat atau Sunan Tembayat.
Kisah perjalanan Adipati Pandanaran dalam berguru ini menjadi cerita mengenai asal usul daerah Salatiga dan beberapa tempat di sekitarnya.
***
Ada juga versi lain soal bertobatnya Adipati Pandanaran. Konon ada tukang rumput tua yang biasa mengirimkan rumput untuk kuda Sang Adipati, namun di dalamnya terselip emas dan barang berharga.
Beberapa kali hal itu terjadi, sampai suatu saat tukang rumput tua menghentikan pasoknya. Sang Adipati memaksa tukang rumput memberikan rumput yang disertai emas. Lalu sang tukang rumput yang tak lain adalah Sunan Kalijaga menunjukkan keajaiban dengan cara mencangkul tanah yang di dalamnya muncul emas.
Intinya sama-sama menunjukkan bahwa Sunan Kalijaga menyamar jadi tukang rumput, ada keajaiban dalam mencangkul tanah, serta penguasa yang gila harta itu bertobat dan kemudian menjadi pengikut utama dari Sang Wali.
***
Belakangan ini kita dikejutkan oleh berita tentang tukang kebun, kadang disebut pula tukang rumput, yang diamankan karena melintas di hadapan pembesar.
Soal hubungan tukang kebun dengan penguasa atau pembesar ini, mungkin kita bisa belajar dari cerita tentang Bupati Semarang Adipati Pandanaran alias Sunan Bayat alias Sunan Tembayat itu.
*) Gambar Sunan Kalijaga diambil dari forumsejarah.blogspot.com
Cerita dari Marshall Island
Pesawat dengan nomor registrasi PK-GFR itu mendarat mulus di sebuah pulau kecil di tengah Samudra Pasifik. Landas pacu dan tempat parkir pesawat menghabiskan hampir seluruh wilayah pulau yang memang sangat kecil itu.
Begitu pintu dibuka dan belalai gajah dipasang, seorang wanita berpakaian sederhana dan terkesan ndeso segera naik, diikuti beberapa pria berbadan tegap. Mereka adalah petugas pabean, imigrasi, serta karantina setempat.
Mereka memeriksa berbagai dokumen pesawat dan penumpang. Awak pesawat tak lupa sudah telah menyiapkan ‘upeti’ berupa satu kardus wine. Setelah sekitar 5 menit berbincang yang memberikan apa yang mereka minta, para penumpang pun diizinkan turun dari pesawat dan pesawat mengisi bahan bakar.
Itulah bagian dari perjalanan ferry flight pesawat Boeing 737-800NG yang diterima maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Seattle 17 Oktober waktu setempat. Usai serah terima, pesawat langsung diterbangkan Ke Honolulu, Hawaii, dan menempuh penerbagan sekitar 5 jam.
Dari Honolulu pesawat menuju ke bandara Amata Kabua, Majuro Toll, Republik Marshall Island yang berada di Samudra Pasifik, 5 jam penerbangan dari Honolulu. Di bandara yang dipimpin seorag pria brewok asal Austria itulah cerita di atas berlangsung.
Zona waktu Marshall Island 5 jam di depan Jakarta dan 2 jam di belakang Hawaii (dengan mengabaikan perbedaan tanggal atau hari).
Posisinya yang strategis membuatnya menjadi persinggahan bagi pesawat yang akan menyeberangi Pasifik namun tidak sanggup menjalani penerbagan langsung.
Marshall Island menjadi persinggahan yang paling singkat sekaligus menegangkan dibandingkan dengan persinggahan lain dari ferry flight tersebut. Kondisinya jelas berbeda dengan persinggahan di Honolulu yang disambut kalungan bunga, persinggahan di Biak yang disambut oleh Bupati Biak Numfor disertai tarian tradisional Wor, serta pendaratan di Jakarta yang disambut upacara wah.
Di Marshall Island, penumpang memang diizinkan turun, namun tidak boleh jauh dari pesawat. Bahkan berfoto di bawah plang nama bandara dan nama wilayah pun semula mereka larang.
Rute Seattle-Hawaii-Marshall Island-Biak-Jakarta merupakan rute standar bagi pesawat Boeing 737-800NG yag diambil dari Renton, Seattle, untuk dibawa ke Jakarta. Pesawat jenis ini tidak bisa melintasi Pasifik tanpa mengisi bahan bakar di perjalanan...
*) Selengkapnya bisa dibaca di Bisnis Indonesia halaman i5 edisi 25 Oktober 2011 dengan judul "Berpacu meremajakan armada".
Begitu pintu dibuka dan belalai gajah dipasang, seorang wanita berpakaian sederhana dan terkesan ndeso segera naik, diikuti beberapa pria berbadan tegap. Mereka adalah petugas pabean, imigrasi, serta karantina setempat.
Mereka memeriksa berbagai dokumen pesawat dan penumpang. Awak pesawat tak lupa sudah telah menyiapkan ‘upeti’ berupa satu kardus wine. Setelah sekitar 5 menit berbincang yang memberikan apa yang mereka minta, para penumpang pun diizinkan turun dari pesawat dan pesawat mengisi bahan bakar.Itulah bagian dari perjalanan ferry flight pesawat Boeing 737-800NG yang diterima maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Seattle 17 Oktober waktu setempat. Usai serah terima, pesawat langsung diterbangkan Ke Honolulu, Hawaii, dan menempuh penerbagan sekitar 5 jam.
Dari Honolulu pesawat menuju ke bandara Amata Kabua, Majuro Toll, Republik Marshall Island yang berada di Samudra Pasifik, 5 jam penerbangan dari Honolulu. Di bandara yang dipimpin seorag pria brewok asal Austria itulah cerita di atas berlangsung.
Zona waktu Marshall Island 5 jam di depan Jakarta dan 2 jam di belakang Hawaii (dengan mengabaikan perbedaan tanggal atau hari).
Posisinya yang strategis membuatnya menjadi persinggahan bagi pesawat yang akan menyeberangi Pasifik namun tidak sanggup menjalani penerbagan langsung.
Marshall Island menjadi persinggahan yang paling singkat sekaligus menegangkan dibandingkan dengan persinggahan lain dari ferry flight tersebut. Kondisinya jelas berbeda dengan persinggahan di Honolulu yang disambut kalungan bunga, persinggahan di Biak yang disambut oleh Bupati Biak Numfor disertai tarian tradisional Wor, serta pendaratan di Jakarta yang disambut upacara wah.
Di Marshall Island, penumpang memang diizinkan turun, namun tidak boleh jauh dari pesawat. Bahkan berfoto di bawah plang nama bandara dan nama wilayah pun semula mereka larang.
Rute Seattle-Hawaii-Marshall Island-Biak-Jakarta merupakan rute standar bagi pesawat Boeing 737-800NG yag diambil dari Renton, Seattle, untuk dibawa ke Jakarta. Pesawat jenis ini tidak bisa melintasi Pasifik tanpa mengisi bahan bakar di perjalanan...
*) Selengkapnya bisa dibaca di Bisnis Indonesia halaman i5 edisi 25 Oktober 2011 dengan judul "Berpacu meremajakan armada".
Kesan tentang Hawaii
Hawaii tidak masuk dalam radar harapan untuk saya kunjungi. Lha pikiran saya menyatakan mau meliput apa ke Hawaii. Mana ada acara konferensi dan semacamnya yang digelar di surga pariwisata itu?
Ternyata takdir bicara lain. Kepulangan dari Seattle ternyata harus lewat Hawaii, selain Majuro Atoll di Republik Marshall Island. Baik Hawaii maupun Marshall Island sama-sama berada di Samudra Pasifik. Sebuah tempat yang bolehlah dibilang antah berantah.
Turun dari pesawat kami disambut dengan kalungan bunga. Masuk hotel kalungan bunga lagi. Berbeda dengan Seattle yang sama sekali tidak ada macet, kedatangan kami ke Honolulu langsung bertemu dengan kemacetan. Jalan dari bandara ke hotel harus menembus kemacetan panjang.
Mobil-mobil di Hawaii besar-besar, khas Amerika. Salah satu mobil yang menjemput kami adalah Cadillac yang jumlah seatnya sama dengan Avanza/Xenia, namun ukurannya sebesar truk. Di jalanan banyak mobil limo berupa sedan yang panjangnya tak kalah dengan truk besar di Indonesia.
Kendaraan umumnya mulus dan baru. Tapi di sana-sini sempat terlihat pula mobil tua. Ini tidak saya temui selama 3 hari sebelumnya di Seattle.
Jalanan bersih. Lingkungan juga tampak bersih. Tidak ada sampah. Selama 2 hari di Hawaii kami sempat disambut hujan gerimis yang berganti dengan mendung, ganti lagi dengan cerah, lalu hujan deras. Konon begitulah cuaca Hawaii sepanjang tahun. Tidak ada bedanya antara musim dingin dan musim panas, antara musim hujan dan kemarau. Hawaii tetap hangat di musim dingin, dan tidak menyengat pada musim panas.
Sama dengan hotel di Seattle, hotel di Hawaii pun tidak menyediakan sikat gigi dan odol. Padahal ini hotel yang besar dan bagus, jauh lebih besar daripada hotel di Seattle. Saya tidak tahu apakah memang begini aturan perhotelan di AS.
Business center juga sudah tutup jam 5 sore. Ini berbeda dengan hotel di Seattle yang menyediakan 2 komputer bebas pakai 24 jam di lobby. Memang kita bisa minta dibukakan business centre dan meminjam komputer serta Internet secara gratis di sana. Namun tetap ada proses dan prosedur yang harus ditempuh. Memang sebaiknya ke AS itu membawa laptop. (Dan tanpa stiker juga mungkin gak papa lho)
Ternyata takdir bicara lain. Kepulangan dari Seattle ternyata harus lewat Hawaii, selain Majuro Atoll di Republik Marshall Island. Baik Hawaii maupun Marshall Island sama-sama berada di Samudra Pasifik. Sebuah tempat yang bolehlah dibilang antah berantah.
Mobil-mobil di Hawaii besar-besar, khas Amerika. Salah satu mobil yang menjemput kami adalah Cadillac yang jumlah seatnya sama dengan Avanza/Xenia, namun ukurannya sebesar truk. Di jalanan banyak mobil limo berupa sedan yang panjangnya tak kalah dengan truk besar di Indonesia.
Kendaraan umumnya mulus dan baru. Tapi di sana-sini sempat terlihat pula mobil tua. Ini tidak saya temui selama 3 hari sebelumnya di Seattle.
Jalanan bersih. Lingkungan juga tampak bersih. Tidak ada sampah. Selama 2 hari di Hawaii kami sempat disambut hujan gerimis yang berganti dengan mendung, ganti lagi dengan cerah, lalu hujan deras. Konon begitulah cuaca Hawaii sepanjang tahun. Tidak ada bedanya antara musim dingin dan musim panas, antara musim hujan dan kemarau. Hawaii tetap hangat di musim dingin, dan tidak menyengat pada musim panas.
Sama dengan hotel di Seattle, hotel di Hawaii pun tidak menyediakan sikat gigi dan odol. Padahal ini hotel yang besar dan bagus, jauh lebih besar daripada hotel di Seattle. Saya tidak tahu apakah memang begini aturan perhotelan di AS.
Business center juga sudah tutup jam 5 sore. Ini berbeda dengan hotel di Seattle yang menyediakan 2 komputer bebas pakai 24 jam di lobby. Memang kita bisa minta dibukakan business centre dan meminjam komputer serta Internet secara gratis di sana. Namun tetap ada proses dan prosedur yang harus ditempuh. Memang sebaiknya ke AS itu membawa laptop. (Dan tanpa stiker juga mungkin gak papa lho)
24 Oktober 2011
Kesan tentang AS

Alhamdulillah penantian visa selama hampir enam bulan tak sia-sia. Persis pada hari saya mengambil paspor yang sudah bervisa AS, muncul undangan ke AS dengan permintaan wartawan yang telah memiliki visa AS. Dan ini adalah perjalanan menarik karena melewati banyak tempat dan banyak lokasi yang semuanya baru buat saya.
Perjalanan berangkat dari Jakarta melalui Taipei (Taiwan) lanjut ke Seattle. Pulangnya dari Seatlle ke Honolulu, Hawii, lalu berlanjut ke Majuro, Marshall Island, di Samudra Pasifik, terus ke Biak, Papua.
Berikut ini beberapa kesan saya tentang AS yang dalam beberapa hal agak berbeda dibandingkan dengan asumsi atau dugaan awal.
*Soal imigrasi. Alhamdulillah proses di imigrasi Seattle lancar dan singkat sekali. Barangkali mereka sebenarnya ingin jawaban yang singkat satu dua buah kata saja. Mungkin karena kami berada di bagian terakhir dari antrean. Mungkin mereka sudah males, capek, atau memang merasa kami semua baik-baik saja. Proses di depan petugas paling cuma 1 menit, sama dengan di negara-negara lain.
Kebingungan sempat muncul soal mengisi check list keperluan. Kalau di negara lain, liputan biasanya kita bilang bisnis. Tetapi berhubung di AS ada visa wartawan yang berbeda dengan visa turis dan visa bisnis, jadi rada ragu. Mau dijawab bisnis takut ditanya soal perolehan uang, pembayaran pajak dll. Akhirnya saya centang yes saja bahwa acara bisnis.
Saya tak berani membawa laptop yang tidak berstiker software resmi. Apalagi Seattle kan kantor pusat Mikocok. Tapi ternyata di imigrasi kedatangan tidak ada scanning barang tentengan tuh.
*Mobil-mobil besar. Di tempat penjemputan di bandara Seattle, kesan pertama saya adalah mobil-mobil yang amat besar. Mobil penjemputnya sebesar truk di Indonesia. Di jalan raya, kendaraan juga besar-besar. Tidak ada city car di Seattle, kecuali Smart yang unik itu.
Harrier, Camry dan mobil-mobil yang di Jakarta termasuk besar di Seattle mah termasuk biasa atau bahkan kecil. Banyak sekali mobil yang lebih besar daripada itu. itulah makanya AS adalah konsumen minyak yang amat besar. Boros dan memancing krisis minyak dunia.
Kalau mereka bisa dipaksa pakai kendaraan yang lebih kecil, mungkin kebutuhan minyak dunia tidak besar-besar amat. Tapi bagaimana lagi, kebanyakan tubuh mereka memang besar-besar. Kegemukan dan jarang jalan kaki agaknya merupakan gejala umum.
*Barang mahal. AS termasuk yang anti barang bajakan dan barang palsu. Nah, merek-merek terkenal banyak dijual di mal seperti di Nordstrom, Norsdtrom Rack (yang diskon), serta Factory Outlet/ Premium Outlet di Tulalip dekat perbatasan dengan Kanada.
Nah, di tempat-tempat itu ternyata banyak diskon dan banyak barang bermerek yang dijual jauh lebih murah daripada di Indonesia. Tas Samsonite, misalnya, diskonnya ada yang sampai 50%. Merek-merek lain berbagai jenis pakaian, sepatu, tas, juga ada. Tapi saya yang ndeso ini tidak mengerti dan tidak beli.
Tapi, kesimpulan saya, AS adalah salah satu surga belanja juga bagi mereka yang hobi shopping dan banyak uang.
Souvenir murah juga ada dan cukup banyak. Tetapi umumnya itu buatan Chna, atau Honduras, atau negara dunia ketiga yang kemudian diimpor oleh AS.
*Angkutan umum. Ada asumsi bahwa di negara maju angkutan umum begitu banyak dipakai dan orang lebih memilihnya daripada kendaraan pribadi. Itu memang benar di Jepang, Singapura, dan mungkin sebagian Eropa. Tapi agaknya itu tidak berlaku di Seattle.
Kami menginap di dekat bandara, agak jauh dari down town. Katanya, yang pakai bus Cuma orang Asia. Itu pun nunggu bus bisa sampai 2 jam baru datang. Mana cuaca dingin pula. Jadi bus bukanlah kendaraan pilihan. Orang kebanyakan pakai mobil pribadi atau kendaraan sewaan. Enak juga wong jalanan lengang, tidak ada kemacetan.
*Penyeberang jalan. Salah satu budaya yang saya sangat suka adalah mereka sangat menghormati pejalan kaki. Kalau ada orang mau nyeberang jalan atau dekat tempat parkir, memerak jauh-jauh sudah mengerem dan memberi jalan. Sama sekali berebeda dengan orang Indonesia.
Benar-benar terasa bahwa pengendara mobil itu mengalah dan bersedia memberi kesempatan kepada pejalan kaki, bahkan kalau pejalan kaki itu kurang menyadari ada mobil yang telah menunggunya agar segera lewat. Tidak ada suara klakson karena memencet klakson konon dimaknai sebagai kemarahan besar yang akan dibalas dengan kemarahan balik. (Bersambung)
03 Oktober 2011
Cerita (lanjutan) tentang sepotong visa

Akhirnya visa AS ini keluar juga. Saya mengambilnya akhir September, lebih dari 5 bulan sejak wawancara pada pertengahan April 2011. Bagi saya, ini penantian terpanjang proses pengurusan visa. Saya kira bagi kebanyakan orang, masa 6 bulan (sejak awal pengurusan) itu termasuk sangat amat lama.
Sejatinya saya mendapat tugas ke AS pada Maret (untuk keberangkatan akhir April ke Orlando). Berhubung masa berlaku paspor saya tinggal 6 bulan, maka sekalian saya buat paspor yang baru. Waktu wawancara paspor, petugas di imigrasi bertanya mau ke negara mana. Begitu dengar AS, dia langsung nyeletuk, “Katanya bisa lama, ya, Mas. Ada yang sampai satu tahun nunggu visa.”
Waktu itu saya tidak menggubris. Tidak percaya bahwa proses pembuatan visa bisa begitu lama. Sekarang saya bisa maklum pernyataan Pak Petugas itu.
***
Saya mendapat jadwal wawancara pertengahan April. Karena ada data yang kurang lengkap pada formulir DS-160, saya harus melengkapinya, dan akhirnya dapat jadwal wawancara empat hari kemudian.
Saat itu semua terasa baik-baik saja. Saya dapat kertas putih yang menunjukkan permohonan visa disetujui dan paspor dapat diambil antara 2-7 hari ke depan di kantor RPX. Ternyata sampai hari H, tujuh hari berlalu, tetap paspor belum ada di RPX. Selidik punya selidik saya kena apa yang disebut “pemeriksaan administrasi tambahan.”
Nah proses ini tidak bisa dipastikan kapan selesainya. Saya tidak perlu melakukan apa pun dan tidak perlu melengkapi dokumen apa pun. Benar-benar membingungkan.
Repotnya, ada penugasan lagi untuk pergi ke Las Vegas, awal Juni. Sampai saat itu pun belum ada kabar soal visa dan saya tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Juli ada tugas untuk ke Jepang. Sementara paspor masih ‘tertahan’ di kedutaan AS. Saya harus meminjam paspor milik saya sendiri. Caranya dengan kirim email yang menjelaskan untuk apa dan kapan paspor itu digunakan. Proses ini lancar, cepat, dan mudah.
Sepulang dari Jepang ada momentum puasa dan lalu Lebaran. Saya sudah enggak ngarep lagi untuk dapat visa mengingat waktunya sudah lewat dari 100 hari, dan sistem pengecekan online berubah sehingga saya tidak bisa melakukan pengecekan mandiri.
***
Nah, pertengahan September saya kok ndilalah iseng mencoba kirim email lagi sekadar bertanya apakah masih berpeluang mendapat visa mengingat waktunya sudah begitu lama, sekalian bertanya apakah perlu mengembalikan paspor.
Kali ini jawabannya luar biasa. Terkaget-kaget rasanya ketika muncul kalimat yang menyatakan “proses administrasi tambahan” atas nama saya sudah selesai. Saya diminta segera mengembalikan paspor ke RPX. Nah, titik cerah mulai muncul.
Pada kesempatan pertama paspor langsung saya bawa ke RPX. Lalu sepiii lagi. Seminggu kok tidak ada kabar apa-apa. Bukankah biasanya kalau paspor sudah bisa diambil kembali di RPX seorang pemohon visa mendapat notifikasi?
Saya coba kirim email. Eh, ternyata jawabannya kembali mengejutkan: paspor sudah dikembalikan ke RPX dua hari sejak saya serahkan.
Waah, langsung, segera saja saya meluncur ke jalan raya Ciputat. Kalau biasanya saya nauk busway dan sambung metromini ke sana, kali ini saya naik taxi. Tidak sabar rasanya naik metromini yang banyak berhenti.
Walaah, ternyata di RPX antre panjang, tidak seperti pekan sebelumnya waktu menyerahkan paspor. Ada sekitar 15 nomor di depan saya. Sebagian dilayani dengan lama karena kebetulan petugas yang biasanya ada di sana sedang tidak masuk. Nasib, nasib.
Bagaimana pun, akhirnya, semua itu tertebus ketika paspor sudah di tangan. Visa sudah benar-benar mewujud. Berlaku selama satu tahun (lumayan, nunggu setengah tahun berlaku satu tahun. Masih lebih lama masa berlaku daripada masa tunggunya, hehehe).
Ternyata, wujud fisik visa AS tidak seindah yang saya bayangkan. Wujudnya kalah menarik daripada visa Jepang yang mengkilap dan indah. Alhamdulillah penantian berakhir. Mudah-mudahan segera ada kesempatan menggunakan visa itu.
Mudah-mudahan cerita ini berguna bagi mereka yang mengurus visa AS, terutama yang prosesnya juga molor dan tertunda tanpa juntrung. Bisa menjadi pembanding bahwa sangat mungkin penantian memerlukanw aktu berbulan-bulan. Wallahu a’lam.
22 Agustus 2011
Belajar kembali menjadi commuter
Sejak awal Ramadhan saya menjalani rutinitas baru. Meninggalkan posisi sebagai anak kos dekat kantor yang cukup berjalan kaki pulang pergi, lalu menempati posisi lama yang beberapa bulan saya tinggalkan: menjadi commuter sejati.
Saya ingin membandingkan beberapa moda angkutan baru yang saya tempuh. Sebagai pengguna baru, saya kira inilah momentum tepat untuk membandingkan dengan lebih tepat beberapa moda transportasi umum yang kebetulan bisa sama-sama diakses dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ini masa bulan madu saya dengan berbagai jenis angkutan baru.
Akan berbada halnya jika review ini saya buat, misalnya, satu tahun setelah saya menjalaninya. Pasti ada faktor kelembaman, kombinasi dengan pengelanan lokasi yang lebih mapan, serta faktor-faktor non-angkutan lainnya.
Ada bebarapa rute dan moda angkutan umum yang bisa saya tempuh dari rumah di Depok ke kantor di Karet, Jakarta.
Pertama:
Bus ¾ Depok-Rambutan, disambung bus patas AC 70A sampai Jalan Sudirman, lalu angkot Karet-Roxi. Total biayanya Rp3.000 + Rp6.000 + Rp2.000=Rp11.000
Waktu tempuh mendekati 2 jam dan sebagian besar atau seluruhnya dalam posisi duduk. Dalam bus AC70A posisi duduk penumpang menghadap ke depan. Dengan pola yang mirip dengan kebiasaan saya sebelumnya, mudah sekali untuk tidur di bus AC ukuran besar yang melaju lewat tol dari Rambutan hingga Komdak ini.
Kedua:
Bus ¾ Depok-Rambutan, disambung Transjakarta Pasar Rebo-Kampung Melayu, lalu angkot Kampung Melayu-Karet. Total biayanya Rp3.000+ Rp3.500 +Rp3.000 =Rp9.500
Waktu tempuh kadang 2 jam lebih. Faktor penghambatnya adalah jalur busway lewat Kramat Jati yang tidak steril sehingga bus ikut kena macet. Selain itu kemacetan di Casablanca yang menjadi jalur angkot. Naik Transjakarta, bahkan dari Pasar Rebo, sering tidak kebagian tempat duduk. Duduk di bus ini tidak senyaman di bus patas AC, apalagi berdiri.
Jalur ini lebih nyaman untuk arah pulang karena ada jaminan duduk ketika naik busway dari Kampung Melayu serta naik bus ¾ dari pasar Rebo ke arah Depok.
Ketiga:
Naik angkot Simpangan-Stasiun Depokbaru, disambung kereta Commuter Line Depok-Tanah Abang. Total biayanya Rp3.000 +Rp6.000=Rp9.000. Total waktu tempuh sekitar 70menit-90 menit. Jalur kembalinya juga sama.
Naik angkot ada jaminan duduk. Naik kereta kecil peluangnya untuk duduk di kursi, namun bisa duduk beralas koran, beralas sepatu, atau membawa kursi lipat. Guncangan di kereta jauh lebih kecil dibandingkan guncangan di busway. Jadi, naik kereta jauh lebih nyaman dan tidak se-melelahkan naik bus patas ataupun Transajakarta
Kelemahan bagi pemula seperti saya, repot saat pulang. Tidak semua kereta dilengkapi dengan petunjuk suara mengenai lokasi. Jadi sering bingung ini sudah sampai mana. Melihat ke luar kaca kalau sudah maghrib tak tampak jelas. Mencoba tanya ke GPS tidak dapat signal satelit. Acuannya ya cuma waktu tempuh kira-kira, serta lampu-lampu kaki lima yang berderet banyak jika sudah sampai di stasiun Depok baru.
Sejauh ini saya belum bisa tidur di kereta. Selain ingin melihat-lihat dan mengenali lokasi, posisi duduknya juga tidak senyaman bus untuk tidur.
Keempat:
Alternatif keempat merupakan rute alternatif. Untuk keberangkatan misalnya bisa memilih lewat Komdak. Opsinya biasanya dari Pasar Rebo. (salah satu yang saya suka dari Depok Timur dekat Jalan raya Bogor adalah akses ke Pasar Rebo yang hidup 24 jam dengan banyak pilihan angkot).
*Dari Pasar Rebo bisa naik bus patas hijau, Rp3.000 sampai Komdak. Jalur kembalinya juga sama. Kalau sudah malam, misalnya piket sampai jam 12 malam, bus ini juga masih banyak dari arah Grogol ke Rambutan/Pasar Rebo.
*Dari Pasar Rebo bisa juga naik bus Transjakarta ke arah Grogol dengan berganti bus di halte UKI atau sekitarnya. Tapi berganti-ganti kendaraan semacam ini jelas mengurangi peluang untuk bisa duduk dan apalagi tidur di bus.
*Dari Komdak bisa naik 602 langsung ke depan kantor, namun menunggu lama. Bisa juga naik 640 lalu sambung angkot dengan biaya 2x lipat namun tanpa perlu menunggu.
Saya ingin membandingkan beberapa moda angkutan baru yang saya tempuh. Sebagai pengguna baru, saya kira inilah momentum tepat untuk membandingkan dengan lebih tepat beberapa moda transportasi umum yang kebetulan bisa sama-sama diakses dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ini masa bulan madu saya dengan berbagai jenis angkutan baru.
Akan berbada halnya jika review ini saya buat, misalnya, satu tahun setelah saya menjalaninya. Pasti ada faktor kelembaman, kombinasi dengan pengelanan lokasi yang lebih mapan, serta faktor-faktor non-angkutan lainnya.
Ada bebarapa rute dan moda angkutan umum yang bisa saya tempuh dari rumah di Depok ke kantor di Karet, Jakarta.
Pertama:
Bus ¾ Depok-Rambutan, disambung bus patas AC 70A sampai Jalan Sudirman, lalu angkot Karet-Roxi. Total biayanya Rp3.000 + Rp6.000 + Rp2.000=Rp11.000
Waktu tempuh mendekati 2 jam dan sebagian besar atau seluruhnya dalam posisi duduk. Dalam bus AC70A posisi duduk penumpang menghadap ke depan. Dengan pola yang mirip dengan kebiasaan saya sebelumnya, mudah sekali untuk tidur di bus AC ukuran besar yang melaju lewat tol dari Rambutan hingga Komdak ini.
Kedua:
Bus ¾ Depok-Rambutan, disambung Transjakarta Pasar Rebo-Kampung Melayu, lalu angkot Kampung Melayu-Karet. Total biayanya Rp3.000+ Rp3.500 +Rp3.000 =Rp9.500
Waktu tempuh kadang 2 jam lebih. Faktor penghambatnya adalah jalur busway lewat Kramat Jati yang tidak steril sehingga bus ikut kena macet. Selain itu kemacetan di Casablanca yang menjadi jalur angkot. Naik Transjakarta, bahkan dari Pasar Rebo, sering tidak kebagian tempat duduk. Duduk di bus ini tidak senyaman di bus patas AC, apalagi berdiri.
Jalur ini lebih nyaman untuk arah pulang karena ada jaminan duduk ketika naik busway dari Kampung Melayu serta naik bus ¾ dari pasar Rebo ke arah Depok.
Ketiga:
Naik angkot Simpangan-Stasiun Depokbaru, disambung kereta Commuter Line Depok-Tanah Abang. Total biayanya Rp3.000 +Rp6.000=Rp9.000. Total waktu tempuh sekitar 70menit-90 menit. Jalur kembalinya juga sama.
Naik angkot ada jaminan duduk. Naik kereta kecil peluangnya untuk duduk di kursi, namun bisa duduk beralas koran, beralas sepatu, atau membawa kursi lipat. Guncangan di kereta jauh lebih kecil dibandingkan guncangan di busway. Jadi, naik kereta jauh lebih nyaman dan tidak se-melelahkan naik bus patas ataupun Transajakarta
Kelemahan bagi pemula seperti saya, repot saat pulang. Tidak semua kereta dilengkapi dengan petunjuk suara mengenai lokasi. Jadi sering bingung ini sudah sampai mana. Melihat ke luar kaca kalau sudah maghrib tak tampak jelas. Mencoba tanya ke GPS tidak dapat signal satelit. Acuannya ya cuma waktu tempuh kira-kira, serta lampu-lampu kaki lima yang berderet banyak jika sudah sampai di stasiun Depok baru.
Sejauh ini saya belum bisa tidur di kereta. Selain ingin melihat-lihat dan mengenali lokasi, posisi duduknya juga tidak senyaman bus untuk tidur.
Keempat:
Alternatif keempat merupakan rute alternatif. Untuk keberangkatan misalnya bisa memilih lewat Komdak. Opsinya biasanya dari Pasar Rebo. (salah satu yang saya suka dari Depok Timur dekat Jalan raya Bogor adalah akses ke Pasar Rebo yang hidup 24 jam dengan banyak pilihan angkot).
*Dari Pasar Rebo bisa naik bus patas hijau, Rp3.000 sampai Komdak. Jalur kembalinya juga sama. Kalau sudah malam, misalnya piket sampai jam 12 malam, bus ini juga masih banyak dari arah Grogol ke Rambutan/Pasar Rebo.
*Dari Pasar Rebo bisa juga naik bus Transjakarta ke arah Grogol dengan berganti bus di halte UKI atau sekitarnya. Tapi berganti-ganti kendaraan semacam ini jelas mengurangi peluang untuk bisa duduk dan apalagi tidur di bus.
*Dari Komdak bisa naik 602 langsung ke depan kantor, namun menunggu lama. Bisa juga naik 640 lalu sambung angkot dengan biaya 2x lipat namun tanpa perlu menunggu.
11 Juli 2011
Kompas biologis orang Jawa
Ada satu yang khas dari orang Jawa bila berkunjung ke tempat yang asing. Mereka selalu bertanya tentang arah. “Ini rumah menghadap ke mana? Itu jalan membentang ke arah mana? Sholat kok perasaan menghadap ke selatan. Menurutku rumah kakakmu menghadap ke selatan, padahal yang benar ke timur.”
Begitulah orang Jawa. Pertanyaan atau keluhan semacam itu bukan hanya dilontarkan sekali. Kadang sampai berkali-kali. Begitu pindah tempat kembali lagi bertanya atau memastikan arah.
Bila salah dalam merasakan arah, mereka akan menyebutnya sebagai orang bingung. Jadi, bingung dalam terminologi Jawa bukanlah tidak tahu jalan, melainkan memiliki orientasi arah yg tidak sesuai kenyataan.
Teman saya Estananto menyebut ini bukan khas Jawa, melainkan khas masyarakat agraris memandang ruang. Akan tetapi, sejauh ini saya belum pernah menemukan orang agraris non-Jawa yang sibuk dengan orientasi arah sebagaimana orang Jawa melakukannya. Jadi saya pikir ini memang khas Jawa.
***
Ada istilah terkait dengan kerja tubuh yang disebut sebagai jam badan atau jam biologis. Nah, barangkali orang Jawa itu memiliki kompas badan atau kompas biologis. Ada sesuatu yang tertanam dalam pikiran orang Jawa yang terkait dengan orientasi atau arah.
Setiap kali berpindah lokasi atau posisi, kompas biologis itu berusaha melakukan kalibrasi, membandingkan dengan arah yang benar. Persis dengan jam badan ketika kita bertanya sekarang jam berapa atau ketika kita menengok jam.
Kalibrasi semacam ini kadang agak sulit mengingat jalan-jalan di tempat padat di perkotaan sering menceng, tidak lurus ke arah tertentu. Jadi banyak rumah atau bangunan yang arahnya serong.
Maka alangkah baiknya bila orang-orang Jawa perantauan menyediakan kompas magnetik di rumahnya, agar memudahkan kalibrasi bila sewaktu-waktu ada kerabat yang kompas biologisnya memerlukan kalibrasi.
***
Bagi saya soal arah ini juga penting. Terkait dengan posisi matahari terhadap bumi, arah rumah, misalnya, perlu dipertimbangkan amat. Dalam pandangan saya, untuk posisi di Jakarta dan Bandung yang berada kira-kira 6 derajat di selatan katulistiwa dan tidak terhalang gunung, rumah yang ideal mestilah menghadap ke timur atau ke selatan.
Bila rumah menghadap ke timur maka terasnya akan kena cahaya hangat pagi hari dan terlindung dari panas menyengat pada sore hari. Adapun rumah menghadap ke selatan maka matahari akan lebih sering berada di belakang rumah (posisi utara) yaitu sepanjang Februari sampai Oktober (7-8 bulan). Matahari akan berada di depan (selatan) pada periode yang lebih pendek (4-5 bulan)
Wallahu a’lam.
Begitulah orang Jawa. Pertanyaan atau keluhan semacam itu bukan hanya dilontarkan sekali. Kadang sampai berkali-kali. Begitu pindah tempat kembali lagi bertanya atau memastikan arah.
Bila salah dalam merasakan arah, mereka akan menyebutnya sebagai orang bingung. Jadi, bingung dalam terminologi Jawa bukanlah tidak tahu jalan, melainkan memiliki orientasi arah yg tidak sesuai kenyataan.
Teman saya Estananto menyebut ini bukan khas Jawa, melainkan khas masyarakat agraris memandang ruang. Akan tetapi, sejauh ini saya belum pernah menemukan orang agraris non-Jawa yang sibuk dengan orientasi arah sebagaimana orang Jawa melakukannya. Jadi saya pikir ini memang khas Jawa.
***
Ada istilah terkait dengan kerja tubuh yang disebut sebagai jam badan atau jam biologis. Nah, barangkali orang Jawa itu memiliki kompas badan atau kompas biologis. Ada sesuatu yang tertanam dalam pikiran orang Jawa yang terkait dengan orientasi atau arah.
Setiap kali berpindah lokasi atau posisi, kompas biologis itu berusaha melakukan kalibrasi, membandingkan dengan arah yang benar. Persis dengan jam badan ketika kita bertanya sekarang jam berapa atau ketika kita menengok jam.
Kalibrasi semacam ini kadang agak sulit mengingat jalan-jalan di tempat padat di perkotaan sering menceng, tidak lurus ke arah tertentu. Jadi banyak rumah atau bangunan yang arahnya serong.
Maka alangkah baiknya bila orang-orang Jawa perantauan menyediakan kompas magnetik di rumahnya, agar memudahkan kalibrasi bila sewaktu-waktu ada kerabat yang kompas biologisnya memerlukan kalibrasi.
***
Bagi saya soal arah ini juga penting. Terkait dengan posisi matahari terhadap bumi, arah rumah, misalnya, perlu dipertimbangkan amat. Dalam pandangan saya, untuk posisi di Jakarta dan Bandung yang berada kira-kira 6 derajat di selatan katulistiwa dan tidak terhalang gunung, rumah yang ideal mestilah menghadap ke timur atau ke selatan.
Bila rumah menghadap ke timur maka terasnya akan kena cahaya hangat pagi hari dan terlindung dari panas menyengat pada sore hari. Adapun rumah menghadap ke selatan maka matahari akan lebih sering berada di belakang rumah (posisi utara) yaitu sepanjang Februari sampai Oktober (7-8 bulan). Matahari akan berada di depan (selatan) pada periode yang lebih pendek (4-5 bulan)
Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)
