23 Februari 2009

Bukan Ki Ageng Sela kok dikirimi petir?

Bogor ini kota petir. Stereotipe itu terbukti sudah membuat saya menjadi korban. Jumat sore, 20 Februari, baru beberapa jam saya berada di rumah di bandung, tiba-tiba ada telepon dari nomor tetangga sebelah.

Saya diberitahu bahwa rumah kena petir. Lampu kamar hangus berantakan, lalu tiga rumah listriknya mati semua. Saya harus segera datang.

Panik benar mendengar kabar ini. Terbayang sudah bagaimana petir dengan tegangan ribuan (atau jutaan) Volt menghantam kabel listrik dan merusak semua yang terhubung dengan kabel. Terbayang juga dahsyatnya kalau sampai tiga rumah rusak semua listriknya. Terbayang juga kalau mengingat nada informasinya sayalah yang dianggap salah karena petir menghantam rumah saya dan menyebabkan kerusakan merembet ke tetangga.

Menelepon ke tetangga yang satu lagi, tidak ada orang dewasa yang bisa ditanya atau dimintai tolong secara jelas. Ya sudah deh, harus balik lagi ke Gunungputri, setelah menelepon PLN Citeureup untuk minta perbaikan.

Padahal saya belum bertemu istri karena dia masih di kantor. Padahal lagi saya masih pengen juga main dengan Sekar apalagi karena minggu lalu libur kami tersita oleh berbagai acara yang harus dikunjungi secara terpisah-pisah.

Begitulah. Di tengah hujan itu saya menuju ke BTC Bandung, mencari travel ke arah UKI. Untunglah sebelum travel berangkat masih sempat bertemu istri barang lima menit di ruang tunggu.

Selama dalam perjalanan saya benar-benar tidak bisa tersenyum sepanjang perjalanan. Saya merasa ini “ujian yang sempurna”. Betapa mungkin timingnya kok pas banget, hari di mana saya baru memulai libur bersama keluarga setelah pekan yang sangat melelahkan. Mengapa waktunya sore sehingga hanya tersedia waktu sangat pendek menuju kegelapan? Mengapa Bandung dan Cipularang juga diguyur hujan yang membuat perjalanan terasa begitu dinginnya.

Bagaimana mungkin rumah saya kena petir? Apakah yang diicar oleh petir di rumahku?

****
Tiba di rumah menjelang jam 11 malam setelah perjalanan dan penantian yang serba basah selama hampir 5 jam. Ternyata listrik di kanan kiri rumah menyala. Masuk rumah saya lihat memang ada lampu yang rusak yang mungkin membuat konslet. Saya lepas lampu yang rusak, nyalakan lagi meteran yang anjlok, sudah deh, hidup lagi.

Jadi bisa dipastikan bahwa ini bukan kena petir, tali listrik anjlok. Yang masih belum saya mengerti bagaimana mungkin lebih dari satu rumah anjlk bersamaan ketika hujan deras dan ada petir keras sekali di dekat sini.


****
Soal petir ini mengingatkan saya akan Ki Ageng Sela atau Selo. (Se-pada sela dibaca seperti se pada sehat. La dibaca seperti pada kata lo-mbok.)

Ki Ageng Sela yang disebut-sebut berkerabat dengan keluarga Karebet Hadiwijaya (Sultan Pajang) dan menurunkan keluarga Panembahan Senopati (Mataram)
Itu konon mampu menangkap petir. Mungkin karena begitu saktinya, atau begitu gesitnya geraknya seperti kilat, atau entah karena apa.

Lha, saya ini bukan Ki Ageng Sela, pasti pusing kalau dikirimi petir, meskipun hanya cuma konon…

27 Januari 2009

Kenyataan dan harapan

Hidup adalah kenyataan. Tapi untuk menjalaninya, orang butuh harapan. Konon, hidup tidak asyik kalau tidak ada harapan. Dan, pesan Tuhan, manusia tidak boleh putus harapan.

Lalu, mengapa ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan? Mengapa manusia harus mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan harapannya? Mengapa kita diizinkan, bahkan disuruh, punya harapan, akan tetapi harus juga siap untuk kecewa?

Ini adalah pertanyaan tua. Sudah muncul sejak manusia ada. Dan sudah berpuluh, beribu, berjuta orang pandai berusaha menjawabnya. Tetapi, setiap orang toh tetap juga butuh penjelasan yang berdasarkan pengalamannya sendiri. Jadi, saya pikir, tidak apa saya berbagi mengenai hal-hal yang sudah banyak dikupas oleh para ahli agama, para filosof, para penulis cerita, para orang tua, maupun para manusia biasa.

***
Benarkah kenyataan itu selalu lebih baik daripada harapan?

Kenyataan (atau takdir atau apa yang terjadi) memang selalu lebih baik daripada harapan. Kalau pun sekilas tampak sebaliknya, itu hanya karena perbedaan sudut pandang saja.

Kenyataan itu dibangun oleh sangat banyak variable riil, sedangkan harapan diuntai dengan sedikit variable yang seringkali tidak riil atau bahkan tidak masuk akal.
Misalnya, kenyataan bahwa kita bertemu seorang kawan lama di sebuah toko, itu dibangun oleh banyak peristiwa sebelumnya. Bisa jadi sangat banyak peristiwa sebelumnya seperti kebutuhan untuk ke toko, pemilihan waktu belanja, kendaraan yang digunakan, toko yang dipilih, dan sebagainya. Harapan, biasanya tidak mempertimbangkan begitu banyak hal detil.

Dengan demikian, kenyataan memang suatu yang masuk akal. Suatu hal yang selalu bisa dirunut kronologinya maupun sebab akibatnya. Itu sebabnya kenyataan bisa dijelaskan secara ilmiah melalui teori-teori ilmu eksakta maupun non eksakta. Kenyataan itu masuk akal, sedangkan harapan seringkali berdasarkan impian yang muluk-muluk, menafikan berbagai realitas, serta mengandalkan imajinasi yang tidak dibatasi hukum alam.

Kesimpulan sementara, kenyataan itu suatu hal yang terbaik untuk seluruh alam semesta. Adapun harapan, mungkin saja terbaik untuk satu atau beberapa elemen saja, misalnya terbaik untuk yang berharap saja, tetapi bukan terbaik untuk seluruh elemen alam semesta.

Wallahu alam.

15 Januari 2009

Lagu, ngelmu, serta laku

Ada lagu Jawa berbentuk Pocung yang sangat menarik. Saya mengingatnya kembali setelah seorang kawan sekaligus guru saya memasang status mengenai lagu ini di YM dan Gtalknya.

Salah satu lagu Pocung yang sangat menarik itu bunyinya begini:

Ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyentosani
Setyabudya pangekese dur angkara

Arti (harfiah) versi saya kira-kira sebagai berikut:
Hikmah/ pengetahuan/ kefahaman itu tercapai melalui laku/ perjuangan/ prihatin/ bertapa
Modalnya/ permulaaanya dengan kas
Maksudnya kas adalah tekad yang kuat sentosa
Telaten/ tabah/ istiqomah dalam menekan nafsu dan kejahatan

Terjemah versi lainnya sbb
Ngelmu itu terlaksana dengan penghayatan,
Penerapannya harus dengan sungguh-sungguh,
Artinya, benar-benar dapat memberikan kesentosaan,
Dengan kesadaran yang kokoh untuk menaklukkan angkara murka

***
Memang bisa saja ada tafsir dan terjemahnya berbeda di luar paragraph pertama, karena kata-kata yang dipakai tidak lazim. Akan tetapi, dalam hal “laku”, hampir semua sepaham bahwa yang dimaksud adalah semacam sikap sungguh-sungguh, sepenuh hati, penuh penghayatan, dijalankan dengan prihatin, mengekang diri.

“Laku”, dalam bentuk yang ringan, biasanya dijalankan dengan mengurangi makan, mengurangi tidur, mengurangi hal-hal yang berbau kenikmatan hidup (kasukan), lalu menenggelamkan diri ke dalam prihatin, belajar, serta merenung. “Laku” dalam bentuk yang berat adalah bertapa.
Sejalan dengan pemahaman Jawa semacam itu maka tokoh kesatria yang sakti dalam pewayangan umumnya ditampilkan dalam sosok yang kecil, kurus, kalau menginjak kapas pun seolah tidak tertekan (midak kapuk ora pendeng) karena begitu ringan tubuhnya, namun mampu mengalahkan raksasa sabrang dan tokoh-tokoh lain yang bertubuh besar.

***
Begitulah, kendati ada penafsiran berbeda dalam paragraph bawah lagu tersebut, semua sepakat bahwa ada kandungan makna yang mendalam di sana. Ada pelajaran dan nasihat sangat berharga (dari terjemahan versi mana pun) di dalam lagu itu.

Lagu di atas adalah salah satu dari sedikit lagu jawa yang sangat populer waktu saya kecil. Populer lewat pelajaran di sekolah maupun lewat berbagai buku bacaan di masa kecil. (Salah satu bacaan favorit keluarga kami adalah majalah berbahasa jawa Panjebar Semangat dan Jaya Baya.)

Lagu Jawa jaman dulu itu dikelompokkan secara baku menurut jumlah susu kata dan akhiran. Makanya ada lagu Pocung, Dhandanggula, Kinanthi, Megatruh, dan sebagainya. Berbeda dengan lagu pop jaman sekarang yang tidak lagi terikat kaidah jumlah susu kata maupun bunyi akhiran kalimat.

Nah, sekarang ini saya merasa lagu Jawa dalam bentuk pop, yaitu campur sari, mencapai popularitas yang jauh melampaui lagu Jawa popular di masa lalu. Sayangnya, lagu pop itu, baik bahasa Jawa atau bahasa lainnya, relatif sama saja. Yang dipaparkan adalah masalah cinta yang tidak habis-habis itu. Nyaris tidak ada (atau bahkan memang sama sekali tidak ada) lagu populer yang berisi ajaran sangat menarik seperti dalam lagu Pocung tentang “Ngelmu” itu.

Saya masih merindukan lagu-lagu Jawa semacam “Ngelmu” itu. (Lagu dalam bahasa Jawa disebut sebagai tembang atau sekar).

12 Januari 2009

16 Rumah dalam 20 tahun


Pindah rumah lagi. Itulah yang kujalani akhir pekan lalu. Rumah kontrakan di Bandung sudah habis waktunya dan kami harus berpindah ke tempat baru.

Kalau dihitung-hitung, setidaknya sudah ada 16 (atau bahkan 17) rumah yang pernah kutinggali selain rumah orang tuaku sendiri. Empat (atau bahkan lima) di antaranya saya tempati setelah menikah. Sepuluh di antaranya berada di Bandung.

Dalam 20 tahun terakhir, saya pernah tinggal pada 16 alamat yang berbeda di lima kota yang berbeda. Kalau pindah kamar dalam alamat yang sama juga dihitung maka jumlahkan akan lebih banyak lagi.

Betapa nomadennya saya ini. Justru di era modern seperti ini saya menjalani masa-masa yang terus saja berpindah-pindah. Entah masih berapa alamat lagi harus saya gunakan.

Ada banyak hal baru yang muncul mengiringi hadirnya alamat baru. Ada pengalaman baru, kenalan baru, dan sebagainya. Akan tetapi, juga selalu ada residu, ada pemborosan resources, ada pelepasan energi dalam jumlah besar yang mengiringi perpindahan itu.

Juga, selalu ada pertanyaan apakah kepindahan semacam ini selalu mendekat ke arah yang lebih lebih sehat, lebih baik, lebih nyaman, lebih mulia, lebih bernilai?

Dalam kesempatan ini perkenankan saya berterima kasih dan mohon maaf kepada Bapak-Ibu pemilik rumah yang pernah saya sewa atau kontrak, para tetangga dan kerabat sekalian.

11 Januari 2009

Maling dan keteledoran


Kamis pagi. Saya berangkat ke kantor dan bertemu dengan empat hal yang bukan peristiwa keseharian. Pertama saya melihat kecelakaan di jalan tol Jagorawi. Sebuah truk box berisi dua air mineral terguling dan badannya melintang di jalanan menyebabkan kemacetan panjang. Tiga lainnya, saya temui di sepanjang jalan Casablanca-Karet, tiga rombongan iring-iringan pemakaman jenazah.

Sebagai hal yang berdiri sendiri, empat hal itu adalah peristiwa lazim. Tetapi terjadi dalam satu kali keberangkatan ke tempat kerja adalah gabungan yang menjadi baru bagiku.

***
Kamis malam. Saya meninggalkan kantor menjelang pukul 22.00 dan langsung menuju ke Bandung. Sepanjang jalan hujan mengguyur nyaris tiada berhenti. Dari kantor di Karet, jakarta, sampai parkir di Bandung sama sekali tidak bertemu dengan jalan yang kering. Semua basah.

Jalanan gelap sekali, saya jalan pelan-pelan saja. Sampai di Bandung menjelang pukul 01.30. saya pun parkir di pinggir jalan Sukaxxxxx seperti biasanya. Malam sudah sangat larut, jadi jalan itu sangat amat sepi. Saya parkir di sisi kanan jalan, persis depan gang yang mengarah ke kontrakan.

Berkali-kali saya coba telepon ke HP istri, nadanya sibuk terus. Biasanya saya telepon tidak seperti ini. Ketika saya masuk rumah, saya periksa HP aktif seperti biasa. Wah, saya pikir layanan seluler ini makin lama makin parah.

***
Malam itu, sesuai rencana, adalah malam terakhir saya tinggal di rumah kontrakan lama. Pagi-pagi saya mulai angkut-angkut barang ke rumah kontrakan yang baru. Barang yang pertama saya angkat ke mobil adalah meja pendek.

Begitu sampai di mobil, alangkah terkejutnya. Kaca pada pintu bagian kanan belakang sudah pecah berantakan. Sebagian besar onggokannya berada di luar mobil. Pecahan kaca juga berserak di bagian dalam mobil. Radio-tape sudah lenyap dengan kabel yang terburai. Sebagian besar uang receh lenyap. Sisanya berantakan di jok dan lantai. Innalillahi wa inaa ilaihi rajiun.

Saya sudah satu tahun biasa parkir di tempat itu. Dan malam itu adalah malam terakhir saya tinggal di sana. Wah, agaknya ada yang ingin memberi kenang-kenangan.

***
Jumat siang. Saya sudah bolak-balik lima kali membawa barang dari kontrakan lama ke kontrakan baru. Ketika meninggalkan kontrakan baru untuk kembali membawa barang, saya meletakkan dompet di atas tembok pagar. Sebab, tangan saya masih ribet untuk memasang gembok. Ketika meletakkan itu saya sudah khawatir jangan-jangan saya nanti lupa.

Maka demikianlah. Sekitar setengah jam kemudian, ketika masih dalam perjalanan yang macet, saya baru ingat bahwa dompet hitam tidak ada di saku celana. Stress lah saya ini. Di sana ada KTP, SIM, STNK, beberapa kartu ATM, dan sebagainya. Saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Alhamdulillah Allah masih memperkenankan saya bertemu dengan dompet itu dalam keadaan utuh. Saya terhindar dari kepahitan yang lebih berat daripada peristiwa malamnya.

Minggu pagi, ketika menjelang keberangkatan saya ke Jakarta, hal yang hampir sama, dengan lokasi yang berbeda terjadi lagi. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memegang kembali dompet itu.

***
Saya tidak punya banyak pengalaman berurusan dengan maling, copet dan semacamnya. Peristiwa pahit kehilangan dompet saya alami sewaktu kuliah di Bandung. Saya baru tiba naik kereta dari Jawa Tengah. Turun di stasiun Kiara Condong lalu naik angkot putih ke arah Dago. Di sepanjang jalan itu ada orang agak aneh duduk di sebelah kiri saya. Kata-katanya aneh, tidak saya mengerti, dan bergaya seperti mau muntah. Saya tidak menduga bahwa itu tanda-tanda copet. Saya baru sadar ketika saya cek dompet sudah lenyap.

Suatu ketika saya berjalan di dekat perempatan Grogol, Jakarta, dengan tas di punggung. Saya merasa tas seperti bergerak-gerak. Saya tengok, salah satu saku sudah terbuka. Alhamdulillah orang yang santai berjalan di belakang saya itu belum bisa mengambil tape recorder.

Saat yang lain saya berjalan di depan Dharmala, Jl Sudirman, sekitar jam 8 malam. Tas di punggung juga terasa bergerak-gerak. Saya tengok ke belakang, ponsel saya sudah berada di tangan orang yang ada di belakang saya. Tampaknya dia terkejut sehingga HP itu dikembalikan dan dia langsung lari naik ke metromini.

***
Kejadian yang agak lebih mengerikan pernah saya lihat di dekat stasiun Senin. Dari atas bus saya lihat seseroang menjambret kalung seorang wanita di tengah keramaian. Tidak ada orang yang berani menolong.

Pernah juga saya lihat di perempatan Grogol seorang penjahat dikejar oleh orang yang baru turun dari mobil. Penjahat itu sempat melawan, lalui lari lagi ke arah selokan dan tidak dapat dikejar lagi.

***
Waktu kecil di desa saya sering ada maling. Maling di desa itu, menurut mitos, sukanya nggangsir. Artinya masuk ke rumah dengan menggali tanah/pondasi. Seperti diketahui, rumah jalam dulu tidak memiliki pondasi yang kuat sehingga mudah digali.

Di desa, kalau malam menjelang pagi turunlah embun. Suaranya cetok-cetok memukul dedaunan sering membuat saya takut. Saya sering membayangkan suara itu sebagai suara maling yang sedang berjalan kaki. Di desa juga ada burung bence. Ada mitos kalau burung itu berbunyi maka ada maling yang sedang lewat.

***
Ada satu lagu Jawa yang sangat saya sukai, yaitu Rama Ana Maling (Ayah, Ada Maling). Ini lagu yang sangat kocak, tetapi juga mengena dan mendalam. Lagi ini berkisah tentang seorang gadis yang atine digondhol maling (hatinya telah tercuri)

09 Desember 2008

Langkah tepat downgrade produk ala Nokia


Nokia mengumumkan produk E63 yang bentuknya sama dengan E71 namun fiturnya lebih dekat ke E61i. Karena diluncurkan setelah E71 yang mahal dan lengkap itu, produk ini disebut sebagai downgrade dan dipasarkan dengan harga yang jauh lebih murah. Bagi saya, ini menunjukkan perilaku responsif Nokia.

Sependek ingatan saya, E71 adalah produk ketiga Nokia yang mengadopsi desain QWERTY dan fisik mirip Blackberry. Sebelumnya, vendor dari Finlandia itu sudah membuat seri E61 yang berukuran besar, lalu disempurnakan dengan E61i yang ukurannya tetap besar akan tetapi lebih tipis dan sudah memiliki kamera.

Nokia E71 banyak dipuji sebagai terobosan bagus Nokia dalam menggarap pasar kelas atas. Akan tetapi, harganya yang kelewat mahal dibandingkan rival-rivalnya menurunkan minat konsumen. Apalagi sebagian konsumen yang menyukai desain QWERTY dan fisik E71 justru sudah mendapat kepuasan melalui Blackberry. Data terakhir menunjukkan harga Nokia E71 masih di atas Rp4,5 juta (sebelum dollar gonjang-ganjing).

Saya suka dengan desain E71. Saya juga suka dengan WiFi, sambungan 3,5G yang tertanam, kamera, serta bobotnya yang ringan serta ukurannya yang relatif mungil dibandingkan dengan E61 maupun E61i.

Akan tetapi saya tidak tertarik dengan harganya yang mahal, serta fitur GPS yang tidak bisa dipakai tanpa peta terpasang atau tanpa sambungan Internet tak terbatas untuk akses peta online.

Saya suka kamera pada ponsel. Tetapi resolusi 3 mega piksel bagiku berlebihan. Jadi, penghilangan GPS serta penurunan kualitas kamera seperti pada E63 sangat menarik bagiku. Apalagi, menurut pengumuman, harga jual E63 jauh di bawah E71. Bahkan juga di bawah E61i yang baru (kalau ada atau masih beredar).

***
Saya sebenarnya juga berharap langkah downgrade dilakukan oleh LG untuk produk Communicator KT610. Produk LG itu sebetulnya sudah termasuk Communicator murah, yaitu harga peluncuran sekitar Rp3,5 juta.

Akan tetapi, fitur GPS tidak berguna dan ketiadaan WiFi membuatnya kurang kompetitif. Apalagi potensi jual kembalinya tidak seperti merek Nokia. Kalau LG berhasil downgrade Communicator kemudian menjualnya dengan harga Rp2 jutaan, mungkin akan lebih laris.

Wallahu alam
Sumber gambar: GSMArena

Sakti sama dengan cepat?


Di tengah siang yang kesepian menjelang hari raya Idul Adha, saya sempat menonton pertandingan antara Oscar De La Hoya melawan Manny Pacquiao. Orang Filipina yang berwajah sangat ndeso itu membuktikan bahwa kesaktian jaman sekarang diwakili oleh kecepatan pukulan.

Tinju adalah perkelahian antara dua orang yang tidak saling memiliki masalah. Mereka bisa bersalaman dan ngobrol dengan damai atau santai, tidak punya masalah pribadi, tetapi bersedia berkelahi dan saling pukul sampai berdarah-darah, karena disuruh. Mereka itu pagmatis sekali: Kalau ada yang bersedia membayar dengan nilai tertentu maka mereka siap bertarung.

Oscar Dela La Hoya memiliki wajah yang tampan serta bentuk fisik yang ideal. Wajahnya yang tampak lembut membuatnya disebut sebagai 'Golden Boy'. Cara berbicaranya ketika diwawancara seusai pertandingan juga khas orang mapan. Orang yang sudah matang sebagai pesohor.

Sementara lawannya, Manny si orang Filipina, berwajah sangat ndeso, kayak wajah petani di Grabag sana. Kalau diamat-amati, wajahnya mirip dengan karakter kartun pendekar Betawi yang muncul dari komik karya Man. Dan ndesonya makin lengkap karena kata-katanya ketika diwawancara tidak serunut La Hoya.

Saya melihat pertarungan ini seperti melihat Surya Saputra melawan petani di kampungku. Tetapi begitulah, Manny Pacquiao ternyata berhasil mengalahkan La Hoya dengan cara TKO pada akhir ronde ke-8. Kemenangan yang tak terbantahkan dan tidak kontroversial. Telak.

Manny memiliki tubuh lebih kecil, bobot lebih ringan, jangkauan tangan lebih pendek. Akan tetapi, dia jauh lebih lincah dengan pukulan lebih keras. Sejak ronde pertama, dia sudah mengejutkan dengan keberhasilannya untuk memasukkan pukulan secara efektif ke wajah La Hoya.

Saya masih bisa mengamati dengan baik pukulan La Hoya. Namun setiap kali saya terkejut bagaimana si Manny yang berwajah ndeso itu bisa memasukkan pukulan tepat di muka La Hoya. Benar-benar sangat cepat dari arah yang tak terduga-duga.

Manny ternyata membuktikan bahwa keskatian di arena tinju diwujudkan melalui gerakan tubuh dan pukulan yang sangat sangat cepat.

Dan pertandingan ini sangat bersih. Tidak ada pelanggaran. Tidak ada rangkul-rangkulan, tidak ada pukulan ke arah belakang kepala, tidak ada bantingan dan sikutan, bahkan tidak ada satu pukulan pun yang sempat terlempar pas ketika bel berbunyi. Benar-benar bersih. Saya rasa ini termasuk tinju yang mengagumkan.

Sumber gambar: The Guardian

Mencari cara mengakali baterai netbook


Netbook adalah perangkat komputasi mobil yang enak ditenteng-tenteng. Fungsi dan harganya mirip dengan PDA, namun bentuk, sistem operasi, dan antar mukanya mengadopsi notebook. Ini peranti yang benar-benar mobile. Masalahnya, kalau baterainya hanay tahan 2 jam untuk mengetik, pengguna intensif (heavy user) harus mencari akal untuk mengatasi baterai ini.

Penggunaan baterai pada netbook, khususnya Eee PC yang saya pakai ini, menjadi lebih besar karena banyak periperal yang dipasang secara eksternal melalui USB. Sambungan eksternal itu di antaranya keyboard eksternal, DVD-RW external, modem, serta USB flash. Saya coba-coba, untuk mengetik thok, baterai habis kira-kira dalam dua jam. Ini bisa menyebalkan untuk kegiatan “mobile ngetiking” alias mengetik di dalam perjalanan.

Hal yang saya lakukan untuk menghemat baterai ketika mengetik adalah menurunkan tingkat kecerahan (brisgtness) hingga sekecil mungkin. Asal masih terlihat jelas saja sudah cukup. Lalu saya matikan WiFi, speaker, serta mikropon.

Saya sudah mencoba mencari baterai eksternal. Ternyata harganya mahal. Baterai cadangan untuk Eee PC generasi pertama dijual dengan harga Rp675.000 sampai Rp750.000 per buah.

Cara terakhir yang saya coba lakukan adalah memudahkan sambungan ke colokan listrik sefleksibel mungkin. Charger Eee PC itu modelnya mirip dengan charger ponsel, yaitu njendhol di depan. Jadi kalau digantungkan ke colokan, beban terberat ada di lubang colokan listrik. Ini mengurangi fleksibilitas, apalagi panjang kabelnya hanya 2 meter.

Nah, saya mencoba mencari kabel yang bisa menghubungkan ujung depan yang besar dari charger itu ke colokan listrik yang jaraknya agak jauh.

Bagian depan colokan charger bisa dibuka dan muncullan colokan pipih. Nah, saya muter-muter di Mangga Dua dan sekitarnya mencari kabel yang bisa menghubungkan colokan pipih dua ke colokan listrik biasa, ternyata tidak ada. Kayaknya ini tidak menjadi standar atau bahkan tidak dianggap masalah oleh oleh Listrik Arus Kuat jadi tidak dibuat penghubung yang berkabel.

Akhirnya saya terpaksa membuat sendiri sambungan ini. Saya beli gulungan kabel yang ujungnya ada colokan dan ukuran kabelnya kecil agar ringan. Lalu bagian belakangnya saya akali dengan gabungan dari dua jenis konektor yang bisa dibeli di tukang listrik dengan harga Rp3.000. Jadi deh tambahan kabel seharga Rp20.000 yang membuat saya bisa jalan-jalan hingga 5 meter dari colokan listrik.

Saya berharap sebagian masalah daya tahan baterai ini bisa teratasi. Lebih tepatnya, teratasi dengan murah dan ringan.

Memanfaatkan Auto Text pada Blackberry

Blackberry memiliki fitur Auto Text yang unik nan menarik dan tidak ada pada ponsel lain. Fitur ini dapat diakses melalui Options (gambar kunci Inggris)--> AutoText.

Fungsi AutoText bawaan yang paling banyak berguna adalah sebagai korektor kalau kita melakukan kesalahan ketik. AutoText menjadi semacam kamus disesuaikan dengan jenis bahasa yang tersedia atau yang dipilih.

Akan tetapi, Auto Text juga berguna untuk memudahkan pengetikan hal unik yang panjang. Kombinasi huruf unik yang diset by default pada AutoText itu di antaranya:

LT (diikuti spasi) akan otomatis berubah menjadi jam.

LD (diikuti spasi) akan otomatis menunjukkan har/tanggal

mypin (diikuti pasi) menunjukkan nomor PIN. Kalau ada orang mengajak chatting melalui Blackberry Messenger dan bertanya mengenai PIN, kita tinggal jawab dengan mengetik mypin (diikuti spasi).

myver (diikuti spasi) untuk menunjukkan versi peranti lunak yang dipakai

***
Dengan pengesetan khusus kita bisa masukkan singkatan atau kata-kata baru dalam AutoText.
Misalnya, kita bisa mengeset singkatan khusus untuk otomatis diubah menjadi alamat rumah, alamat kantor, alamat email, signature email, tanda terima kasih, dan sebagainya.

Masuk ke Option-Auto text—new. Masukkan singkatan dan kepanjangannya.

Saya, memasukkan 'sw' agar otomatis diubah menjadi signature email yang berbunyi 'Setyardi Widodo, alamat email ini, nomor telepon itu, blog ono, dikirim jam sekian tanggal segitu..'

Saya mengeset kata 'thx' agar otomatis diubah menjadi 'terima kasih, matur nuwun, hatur nuhun, dsb...'

Dengan berbagai penyetelan yang dilakukan sendiri, pengetikan kata-kata yang sering kita pakai (pada badan berita atau pada email) bisa lebih cepat dan mudah.

Selamat memanfaatkan AutoText.

01 Desember 2008

Papan ketik tambahan untuk Eee PC



Salah satu hal yang sangat tidak saya sukai dari Eee PC generasi pertama versi lowest end 2GB ini adalah papan ketiknya yang tidak nyaman. Tombol spasi sangat menyebalkan dan ukuran tombol yang lebih kecil dibandingkan ukuran keyboard normal mengurangi kecepatan dan refleks dalam mengetik.

Saya mendapat ide untuk memecahkan masalah ini dengan membeli papan ketik eksternal atau papan ketik tambahan. Ide ini muncul ketika berjalan-jalan ke BEC (Bandung Electronics Centre) beberapa hari yang lalu. Saya sempat mencoba dan memegang papan ketik yang terpangkas (maksudnya tidak ada tombol khusus angka pada sisi kanan).

Sayangnya, saat itu saya tidak membawa unit Eee PC yang akan saya pasangkan. Sayangnya lagi, pada dus papan ketik seharga Rp70.000 itu hanya tertulis mendukung berbagai jenis program Windows. Penjualnya pun tidak bisa memastikan bahwa barang itu kompatibel dengan Eee PC yang menggunakan Linux Xandros. Maka saya batal membeli.

Pulang dari Bandung saya naik travel dan terlalu pagi sampai di Jakarta. Akhirnya saya mampir ke Ratu Plaza, salah satu pusat belanja produk TI di jakarta yang sudah sekitar setengah tahun tidak saya kunjungi.

Di situ saya menemukan sebuah papan ketik USB yang kecil nan tipis. Pada bungkusnya tertulis merek Komic made in China. Tulisan yang lebih penting adalah âNotebook Keyboardâ. Artinya barang ini memiliki ukuran rata-rata notebook mainstream dan kemungkinan besar kompatibel dengan sebagian besar notebook.

Apalagi tidak ada tulisan bahwa barang ini mendukung Windows. Asusmsi saya, papan ketik ini hampir pasti mendukung Linux Xandros.

Kebetulan barang ini dijual di toko yang tidak memungkinkan untuk mencoba barang. Jadi setelah membeli, ada waktu satu pekan untuk komplain jika ada masalah. Saya membeli papan ketik ini seharga Rp89.000.

***
Sampai rumah saya segera mencoba papan ketik ini. Alhamdulillah, sangat nyaman. Semua tombolnya berfungsi dengan baik kecuali short cut di baris sebelah kanan atas.

Mengetik dengan papan ketik eksternal ini terasa enak sekali. Sensasi aneh yang selama ini saya rasakan ketika mengetik menggunakan Eee PC hilang sama sekali dan berganti menjadi sensasi nyaman seolah mengetik menggunakan desktop di meja kerja di kantor.

Mungkin posisi keyboard yang bisa digeser-geser, layar yang agak jauh dan berdiri sendiri, ukuran keyboard 100%, ketukan yang terasa saat memencet keyboard, posisi mouse, dan sebagainya ikut mendukung munculnya sensasi nyaman seperti mengetik di desktop.

Dan soal sensasi ini jelas merupakan hal penting bagi orang yang sehari-hari bergulat dengan teks di komputer. Kenyamanan dalam mengetik atau mengedit menjadi hal yang ikut menentukan ketahanan duduk dan kualitas pekerjaan bagi seseorang yang telah bertahun-tahun bergulat dengan teks dan suasana tertentu.

Menemukan keyboard eksternal sebagi solusi pengetikan ini benar-benar karunia bagiku. Bobotnya yang kurang dari 300 gram membuatnya enak untuk dibawa-bawa ke mana saja.

Harganya yang murah juga membuat kita tidak merasa perlu memperlakukannya secara istimewa. Bisa diperlakukan 'agak sembarangan' saja.

***
Sebenarnya sejak enam tahun yang lalu saya sudah akrab dengan papan ketik eksteranl. Saya pernah mencoba papan ketik eksteral yang terhubung melalui port khusus pada PDA, pernah memiliki papan ketik eksternal dengan bluetooth, maupun papan ketik yang terhubung dengan infra merah.

Sampai sekarang saya masih menyimpan dan kadang-kadang menggunakan papan ketik eksternal dengan inframerah. Papan ketik itu dapat dilipat menjadi seukuran PDA sehingga gampang dibawa. Secara berkala saya menggunakannya untuk mengetik di PDA Ipaq 4350 yang masih saya pertahankan.

Akan tetapi, papan ketik PDA umumnya harganya mahal. Papan ketik inframerah Palm saya beli sekian tahun lalu dengan harga sekitar Rp750.000. Papan ketik Bluetooth harganya sekitar Rp1 juta. Bahkan yang merek China sekali pun harganya masih di atas Rp600.000.

Koneksi yang tidak mantap (sangat tergantung posisi) dan penempatan layar PDA yang agak sulit untuk mencapai kondisi ideal cukup mengganggu optimalisasi papan ketik eksternal. Kesulitan semaaam itu tidak saya temui pada papan ketik eksternal untuk Eee PC.

Layar Eee PC bisa tetap tegak dengan ideal tanpa gangguan. Ukuran layarnya yang 7 inci masih cukup nyaman asalkan kita set ukuran huruf sekitar 16.

Kelemahan yang ada pada merek Komic ini adalah suaranya yang terasa berisik (saya mengetik jam 11 malam di rumah yang sangat sepi). Selain itu, ujung-ujungnya yang tajam terasa berbahaya dan bisa berpotensi melukai atau menggores bagian kulit pengguna jika tidak hati-hati. Mengetik dengan keyboard eskternal harus dilakukan di meja, tidak mungkin dilakukan di pangkuan.

Kelebihannya yang belum saya tulis di atas masih banyak. Kecepatan mengetik meningkat tajam. Kenyamanan luar biasa. Rasa capek sangat berkurang. Pengetikan juga terhindar dari rasa panas pada netbook Eee PC.

Papan ketik tambahan ini benar-benar menegaskan fungsi Eee PC sebagai pengganti peran PDA sebagai perangkat komputasi bergerak.

Saya belum menguji pengaruhnya terhadap daya tahan baterai pada Eee PC. Pasti ada pengaruhnya. Saya kira salah satu masalah yang harus segera dipecahkan adalah memiliki baterai cadangan untuk Eee PC agar tidak terlalu cemas ketika harus mengetik di perjalanan atau di tempat yang asing.

Saya mengetik tulisan ini juga menggunakan papan ketik eksternal tersebut.

***
Saya kira harga papan ketik yang murah ini tidak lepas dari hadirnya teknologi USB sebagai konektor universal. Standar USB mampu menghububngkan banyak sekali perangkat masukan dengan murah. Papan ketik, mouse, serta DVD-ROM external merupakan sebagian alat yang saya miliki sebagai pasangan Eee PC yang dihubungkan melalui USB.

Saya sering membayangkan agar ponsel (seperti Blackberry) yang sudah memiliki sambungan micro/mini USB agar mengoptimalkan sambungan itu untuk sarana masukan. Jadi, USB pada Blackberry mestinya bukan hanya untuk sambungan Desktop manager atau charger, melainkan bisa digunakan utnuk keyboard external dan lain-lain.

Jika para pembuat ponsel bisa mengembangkan USB sebagaimana pembuat komputer memanfaatkan USB, alangkah banyaknya manfaat dan penghematan yang bisa dinikmati pengguna.

Semoga makin banyak kemudahan yang bisa kita nikmati yang pada ujungnya mampu meningkatkan dayaguna perangkat sekaligus meningkatkan produktivitas pemakai. Semoga

27 November 2008

Mesin waktu itu bernama Facebook

Serbuan virtual dari masa lalu. Begitulah saya menyebut masuknya masa lalu dalam kehidupan masa kini melalui Facebook. Dan serbuan semacam ini bisa bertubi-tubi. Semakin banyak masa lalu kita berurusan dengan orang-orang yang melek Internet, semakin deras pula serbuan itu akan muncul.

Facebook benar-benar menjadi semacam ‘mesin waktu’ bagiku saat ini. Hal-hal yang sudah berbelas tahun lenyap dari agenda, bahkan tidak pernah muncul dalam pikiran, tiba-tiba hadir di hadapan. Hadir dengan format yang sama dengan bentuknya sekian tahun yang lalu.

Serbuan ini belum berakhir. Baru dimulai. Dan tampaknya tak akan berakhir sampai menemukan keseimbangan baru.

Sebenarnya, serbuan semacam itu bukan hanya muncul melalui Facebook melainkan juga melalui mailing list, pesan instant (YM, Gtalk) dan sebagainya. Akan tetapi, kekuatan mesin buatan Mark Zuckerberg dalam menghadirkan masa lalu memang luar biasa, jauh melampaui channel lainnya.

Jadi, bagaimana kita harus mengelola ‘mesin waktu’ itu? Ada saran?

13 November 2008

Sifat pamer dan menyatunya komputer dengan buku


Di Jakarta Convention Center sedang digelar pameran komputer Indocomtech dan pameran buku Book Fair 2008. Ada beberapa hal yang menarik di sana, di antaranya masalah “pamer”, fungsi komputer, serta manfaat buku.

***
Dalam filosofi Jawa pada umumnya, kata pamer (show off) memiliki kesan yang negatif. Orang Jawa dilarang pamer apalagi sampai adigang adigung adiguna.
Akan tetapi pamer-an buku dan komputer justru banyak dicari orang. Hal yang sama agaknya juga terjadi pada pamer-an otomotif, pamer-an property, dan sebagainya.

Sifat pamer dari para produsen dan pedagang dimanfaatkan oleh konsumen untuk mendapatkan harga yang murah. Saling pamer dalam satu arena meningkatkan persaingan dan menekan harga.

Upaya pamer, menonjolkan diri yang membuat orang berbondong-bondong melihat dan mencermati, juga dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh produsen dan pedagang untuk meraih konsumen sebanyak-banyaknya, menjual sebanyak mungkin.

Maka bertemulah sifat-sifat yang sama sekali ‘tidak Jawa’ itu dalam satu pameran yang ternyata mampu menggerakkan perekonomian.

***
Hal menarik lainnya adalah computer dan buku yang semakin menyatu. Komputer merupakan alat untuk menunjang pekerjaan, meningkatkan perikedidupan. Komputer, beserta semua perangkat pendukungnya, dapat digunakan sebagai alat hiburan, alat kerja, alat belajar, dan seterusnya.

Pameran komputer beserta aksesorinya itu menunjukkan bagaimana barang-barang tersebut bisa lebih optimal dalam menunjang perikehidupan penggunanya.

Buku juga merupakan hal yang sangat penting, sebagai sarana belajar, yang juga berujung pada perbaikan diri, meningkatkan kualitas hidup.

Di masa mendatang fungsi buku (fisik) akan banyak digantikan oleh konten (dalam bentuk buku elektronik, email, situs web, blog dan sebagainya). Akan tetapi, di Jakarta ini, buku dan komputer belum benar-benar menyatu. Pamerannya sudah menyatu, tetapi konten dalam buku belum

***
Tidak banyak hal mengesankan dari pameran komputer dan buku kali ini. Setelah muter-muter di sana sekitar satu jam, saya hanya membeli satu buku terbitan lawas yang dijual murah, Oliver Twist karya Charles Dickens.

07 November 2008

Hujan dan Jepang


Jakarta sudah masuk musim hujan. Artinya, hampir setiap hari terjadi hujan. Seringkali sangat deras. Seperti Senin lalu, sewaktu saya turun dari travel dalam perjalanan Bandung-Jakarta, hujan mengguyur sangat deras.

Dalam keadaan seperti itu hampir dipastikan banyak air meluap di pinggir jalan. Bagi pejalan kaki, kendati membawa payung atau jas hujan, harus siap kebasahan di bagian sepatu dan sekitarnya.

Senin itu saya agak beruntung karena membawa payung. Meskipun sepatu, kaki, dan bagian luar tas basah kuyup, alhamdulillah baju dan badan bagian atas tetap kering.

Sewaktu saya memasuki sebuah gedung dalam keadaan sepatu basah dan membawa payung yang juga basah, seorang petugas mencegat dan memberikan tas plastik panjang sebagai wadah payung. Ini dia lakukan untuk mencegah menyebarnya air dari payung itu ke lantai-lantai gedung yang saya lewati.

Bagi saya, ada orang memberikan plastik untuk wadah payung dan mencegah basah adalah peritiwa istimewa di Jakarta.

***
Juni tahun lalu saya berkesempatan berkunjung ke Jepang selama dua pekan. Itu adalah saat musim hujan. Karena kami sehari-hari berkunjung ke banyak tempat, sebagian besar mengunakan angkutan umum yaitu kereta, maka setiap hari kami harus membawa payung.

Ada beberapa hal menarik dalam soal perpayungan di Jepang ini. Pertama, banyak payung terbuat dari plastik tembus pandang. Payung-payung semacam ini dijual dengan harga 400 yen-500 yen (sekitar Rp35.000). Sampai sekarang saya masih menyimpan payung dari plastik hasil kunjungan ke Jepang itu. Di Indonesia, saya menemukan payung semacam ini hanya satu kali, yaitu ketika XL berkempanye mengenai Bening. Selanjutnya tidak menjadi tren.

Hal lainnya yang juga menarik di Jepang adalah payung lipat. Mereka membuat desain payung yang dapat dilipat hingga sangat kecil. Harga payung semacam ini agak lebih mahal dibandingan dengan payung plastik yang umumnya panjang-panjang itu. Enaknya, payung kecil bisa masuk dengan sangat mudah ke dalam tas.

Hal ketiga yang paling menarik di Jepang adalah dukungan dari para pengelola gedung terhadap para pemakai payung. Di hampir semua gedung perkantoran tersedia tempat khusus untuk meletakkan payung. Jadi, orang yang kehujanan dan membawa payung basah tinggal meletakkan payung itu di tempat khusus parkir payung alias penitipan payung. Bentuknya beragam dari sekadar bulatan seperti tempat sampah, sampai yang teratur seperti dalam gambar.

***
Nah, Jakarta sekarang sudah masuk musim hujan. Banyak orang bawa payung. Banyak gedung yang perlu melindungi dirinya dari kebasahan payung-payung itu. Kapan kita meniru kreasi Jepang yang bagus dan praktis itu?

Ket: Foto dari firesomeonetoday.com

03 November 2008

RIM perlu buat Blackberry low end

Indonesia mengalami booming Blackberry sebagaimana pernah mengalami booming Nokia Communicator. Pertama-tama, Blackberry saat ini dianggap sebagai perangkat bergengsi tinggi, melebihi Communicator. Ada rumors para pejabat dan mitra pejabat belakangan lebih suka Blackberry karena lebih aman dari sadapan.

Kedua, Blackberry mampu menghadirkan mobile Internet yang sesungguhnya, yang dulu diimpikan orang untuk terwujud melalui 3G. Ternyata layanan itu bisa hadir kendati tanpa 3G. Hadirnya ya melalui Blackberry ini.

Seiring dengan perkembangan itu, ada dua pertanyaan besar saya sekarang. Pertama, bagaimana daya dukung RIM terhadap potensi booming perangkat ini? Kedua, bagaimana strategi RIM dalam menggarap segmen pasar yang lebih bawah sebagaimana para produsen ponsel telah melakukannya.

Soal daya dukung ini saya lihat memang Indonesia masih kecil dibandingkan dengan keseluruhan pasar dunia. Akan tetapi, melihat perkembangannya, Indonesia akan menjadi salah satu pasar terbesar. Mungkin saat ini pasarnya sudah lebih besar daripada Singapura. Ditambah lagi, pertumbuhan di segmen ritel (BIS) juga tampak pesat banget. Saya belum melihat RIM memiliki kemampuan produksi dan distribusi sebagaimana Nokia di masa lalu dalam mengantisuipasi lonajakn permintaan. Yang jelas, saya mempertanyakan kemampuan RIM dalam mendukung hal ini.

Berikutnya, soal harga. Gengsi memang untuk barang yang harganya tinggi. Akan tetapi, harga jual di Indonesia ini mahal sekali. Di AS saja, Bold dipasarkan dengan harga di bawah US$300 per unit melalui sistem bundle, dan ditujukan untuk segmen korporasi. Di Indonesia, Bold dijual dengan harga di atas US$800 per unit, dan ditujukan untuk segmen ritel, kadang dengan ikatan berlangganan satu tahun.

Mahal sekali. Di AS saja mereka ‘takut’ menjual Bold dengan harga terlalu jauh di atas iPhone 3G. Produk lain seperti Curve dan Huron juga dijual rata-rata dengan harga di atasa US$500 per unit. Sangat mahal bagi kebanyakan orang Indonesia.

Mengapa RIM tidak membuat produk low end saja? Mengapa tidak seperi produsen ponsel lain yang mengurangi fitur untuk bisa menyasar segmen yang lebih bawah? Kenapa tidak dibuat Blackberry versi murah dengan fitur terbatas? Apakah mereka ingin seperi Apple yang membuat produk sangat terbatas untuk segmen yang memang terbatas?

Ataukah ini terkait dengan daya dukung produksi RIM yang tidak terlalu besar? Mereka tidak sanggup membuat produk yang terlalu banyak, terlalu murah? Atau mereka membiarkan saja harga tinggi untuk produk baru dan memaksa orang yang berkantong cekak menggunakan Blackberry model lama yang harganya sudah turun? (Sudah turun pun masih mahal lho)

Atau mereka menunggu datangnya pesaing signifikan yang mampu memaksa perusahaan Kanada itu menurunkan harga handsetnya? Entahlah, yang jelas saya sangat mengharapkan RIM menyediakan handset murah dengan fitur seadanya saja (pakai kamera seadanya atau tidak ada kamera sekalian, tidak ada GPS, layar tidak harus berwarna, dan pengurangan lain untuk menekan harga dengan fungsi utama tetap berjalan).

Calon pembunuh warnet itu bernama Blackberry?


Telepon seluler yang kian murah dan merakyat terbukti telah ‘membunuh’ warung telekomunikasi atau wartel. Apakah Blackberry dan layanan mobile Internet lainnya akan membunuh warnet?

Warnet sebagai layanan yang lokasinya tetap, memang memiliki kemiripan dengan wartel. Wartel booming ketika ada keterbatasan telepon saluran tetap, sementara telepon seluler masih sangat mahal.

Warnet juga booming ketika kebanyakan orang sulit mendapatkan akses Internet yang murah baik karena keterbatasan perangkat maupun ketersambungan.

Ancaman dari keduanya hampir sama, yaitu dari layanan telekomunikasi bergerak. Saat ini harga telepon seluler sangat terjangkau, banyak yang di bawah Rp500.000 dengan tariff yang juga sangat terjangkau. Hal itu terjadi setelah sekitar lebih satu dekade sejak pertama kali seluler diperkenalkan di Indonesia.

Belakangan, layanan Internet melalui perangkat bergerak meningkat pesat. Salah satu pemicunya adalah sistem layanan Blackberry yang volume aksesnya tidak dibatasi (unlimited) sehingga orang bisa memanfaatkan hampir semua kegunaan Internet yang biasa dilakukan melalui PC.

Pengguna bisa mengakses dan mengirim e-mail, chatting, akses jejaring sosial, browsing, dan sebagainya melalui perangkat komunikasi bergeraknya. Dengan demikian, untuk saat ini, layanan Blackberry lah yang bisa dianggap paling representatif mewakili fungsi Internet bergerak.

Perkembangan Blackberry yang sangat pesat (ditandai dengan lakunya Bold XL hingga 1.500 unit dalam waktu satu bulan), dengan tarif sangat murah.(harian bisa Rp5.000 unlimited, sama dengan ke warnet satu atau dua jam) bisa menjadi indikator sendiri.
Tarif berlangganan Blackberry yang tersedia di pasaran saat ini bervariasi mulai dari Rp180 (Telkomsel, masa aktif 30 hari), Rp175.000 dan Rp160.000 (Indosat, masa aktif 30 hari), Rp50.000 (Indosat, masa aktif 7 hari), hingga Rp5.000 (XL, masa aktif 1 hari).

Adapun jumlah pengguna Blackberry saat ini berkisar 60.000 nomor, beberapa puluh kali lipat dibandingkan jumlah warnet.
Di masa mendatang sangat mungkin bermunculan vendor lain yang dapat menyediakan perangkat dan layanan serupa.

***
Akan tetapi, untuk menjadi ‘pembunuh’ warnet, Blackberry dan layanan Internet bergerak lain harus memenuhi sejumlah syarat.

Menurut Irwin Day, Ketua Umum Asosiasi Warnet Indonesia, harga Blackberry masih jauh untuk menjadi warnet killer. “Tidak semua pekerjaan bisa di Blackberry. yang sudah terjadi adalah ponsel murah dan pulsa murah menjadi wartel killer.

Irwin mengakui dunia sedang menuju ke penggunaan ponsel pintar dan serbaguna. “Tapi saya kok masih nggak yakin kalau Blackberry akan mendorong perubahan besar atau menjadi warnet killer application dalam waktu dekat. Karena mereka yang menggunakan Blackberry pada dasarnya memang bukan pengguna warnet,” tambahnya.

Ahli Internet Onno W. Purbo yang dikenal sebagai Bapak Warnet dan pelopor RT/RW Net, juga mengemukakan pandangan senada. “Ya enggak lah, hari ini berapa orang sih yang bisa beli Blackberry yang harganya Rp4 juta-Rp7 juta itu,” ujarnya retoris.

Menurut Onno, kalau harga Blackberry Rp200.000-Rp300.000 seperti ponsel saat ini maka layanan itu dapat mematikan warnet. “Sama lah kira-kira kaya ponsel mematikan wartel hari ini. Cuma, kan butuh waktu belasan tahun sebelum harga ponsel bisa turun sampai serendah itu,” tambahnya.

Irwin dan Onno masih optimistis terdap masa depan warnet. Akan tetapi, si calon pembunuh sudah lahir. Barangkali hanya soal waktu untuk memungkinkan layanan Blackberry serta Internet bergerak lainnya booming dan menghasilkan harga yang murah.

Warnet kembali mendapat tantangan dan harus menyediakan layanan beragam yang sulit diakses dari perangkat komunikasi bergerak.

Wallahu a’lam
Keterangan: Gambar diambil dari geardiary.com

31 Oktober 2008

Antara Facebook & Pucang Tunggal (4)

Saya yakin dalam waktu 5 tahun atau 10 tahun mendatang, semua orang akan saling terhubung melalui Facebook (atau aplikasi jejaring sosial lain), sama seperti kita pakai e-mail sekarang ini. Kita akan kembali berkontak dengan semua teman lama, asalkan mereka bisa terhubung ke Internet. Kelebihan facebook adalah: bisa ditanyai.

***
Facebook memang luar biasa. Saat-saat pertama saya mengenalnya, saya hanya berusaha mengontak orang-orang terdekat yang benar-benar kenal. Teman lama, teman sekantor, nara sumber, contohnya. Pokoknya teman-teman yang secara fisik memang kenal.

Dari sana pun sudah terasa banyak sekali manfaatnya. Saya bisa tahu data-data personal yang sebelumnya tidak saya tahu tentang masing-masing orang itu, misalnya tanggal lahir, foto-foto keluarga, dan sebagainya.

Semakin lama, manfatanya semakin banyak. Kita bisa mengontak orang yang hanya kita kenal melalui televisi atau koran. Yang paling mengasyikkan adalah menemukan orang-orang yang sudah lama belum bertemu. Kemudian kita bisa berkontak lewat wall, kirim pesan seperti chatting, melihat profilnya secara lengkap (tergantung seberapa detil dia menulis di sana), membaca Note (semacam blog) di sana, dan sebagainya.

Memang benar bahwa selama ini kita juga bisa bertemu kembali dengan teman lama melalui telepon, SMS, atau e-mail. Tetapi kita tidak mungkin bertanya ke operator telepon, misalnya Telkomsel, eh nomor telepon teman saya bernama xyz itu berapa?
Kita juga tidak bisa bertanya ke server Yahoo atau Gmail, email saya si abc itu apa ya? Kita harus tahu e-mailnya dulu, baru berkontak.

Nah, di Facebook, lain cerita.
Kita bisa bertanya teman saya bernama eyd itu sudah gabung dengan Facebook atau belum? Kalau sudah, langsung bisa add/invite sebagai teman. Setelah approve, kita bisa lihat profil lengkap dan info terbaru, serta tentu saja bisa berkomunikasi dengannya.

Itulah hebatnya. Jejaring sosial semacam Facebook bisa ditanyai. Dan itulah sebabnya orang-orang malah jadi antusias untuk menggunakan nama asli. Kalau kita mendaftar Facebook tanpa nama asli, orang lain yang mencari nama asli kita, misalnya teman sekolah, tidak ada bisa menemukan kita. Hilanglah peluang untuk berkontak (opportunity loss).

***
Jejaring sosial memang tidak hanya Facebook. Masih ada Friendster dll. Masih butuh waktu untuk mencari mana di antara jejaring itu yang bertahan melalui seleksi alam. Atau mungkin nantinya akan muncul antarmuka yang bisa menghubungkan berbagai jejaring dalam satu wadah tunggal, atau minimal wadah yang saling terhubung.

Kecanduan Facebook juga membuat kita terobsesi untuk menambah terus jumlah teman, entah kenal fisik atau tidak. Kadang kita ingin add orang ternama sebagai teman kita, padahal orang tersebut tidak mengenal kita secara pribadi. Dia accept saja.

Sebaliknya, kadang ada orang yang tidak kita kenal ingin memasukkan kita sebagai temannya. Ya, kita berprasangka baik saja, sebagaimana kita juga sering minta orang ternama sebagai teman.

Kalau jumlah teman sudah terlaklu banyak (Mbak Fira, misalnya, yang baru-baru ini sudah tembus 5.000) maka sudah tidak jelas lagi itu teman beneran atau bukan. Kita juga pusing kalau refresh pengen melihat aktivitas teman-teman dekat lagi pada ngapain (pada menu status). Terlalu banyak yang muncul, kebanyakan bukan yang prioritas, jadi makin bikin pusing, hehe.

Walau bagaimana pun, ayo, mari bergabung ke Facebook
Wallahu a’lam.

27 Oktober 2008

Pohon dan ulang tahun Sekar


Saya menanam tiga pohon buah untuk menandai ulang tahun ke-4 Sekar

Anakku Sekar Nabila Inspirana tepat berusia 4 tahun pada 25 Oktober 2008. Si cantik itu kini sudah sekolah TK A, sudah mengenal sebagian besar huruf, mengerti angka 0-9, bisa naik sepeda roda 4, mengerti apa makna pakaian yang matching, bisa memakai dan melepas pakaian sederhana. Sekar rajin sikat gigi, dan bahkan sekarang sudah berani mandi sendiri. Dia juga tidak pernah ngompol lagi (kecuali dalam kasus khusus seperti habis perjalanan panjang).

Ulang tahun ke-4 ini agak istimewa dibandingkan ulang tahun sebelumnya. Sekarang Sekar sudah sangat mudah diberi pengertian, diingatkan untuk ini dan itu yang dikaitkan dengan mengatakan, “kan sekarang sudah empat tahun”. Sesuatu yang belum bisa dilakukan di masa-masa yang lalu.

***
Saya sudah beberapa pekan (atau bulan?) belakangan ini ingin sekali menanam pohon buah-buahan di halaman belakang rumah Gunungputri. Halaman belakang yang luasnya lebih dari 50 meter persegi itu nyaris kosong melompong. Sepertiganya sudah saya pasangi kon-blok, dua pert tiganya hanya berisi rumput jepang, sebuah pohon palm, serta jemuran yang jumlahnya tak seberapa.

Kondisi ini kontras sekali dengan halaman depan yang hanya sekitar 10 meter persegi namun penuh dengan tanan buah serta bunga.

***
Lalu bertemulah dua momentum itu. Ulang tahun sekar dan keinginan untuk menanam pohon. Kebetulan di dekat rumah kami di Bandung ada banyak penjual tanaman, termasuk Toko Trubus yang ada di Giant, Jl Djundjunan.

Pas ulang tahun itu kami membeli tiga pohon buah yaitu rambutan, nangka, serta durian. Kami membeli di Toko Trubus itu dengan harga masing-masing Rp25.000. Saya membelinya di Bandung, lalu membawanya ke kantor di Jakarta, dan menanamnya di halaman belakang rumah di Gunungputri.

Tinggi pohon nangka dan durian dalam keadaan belum ditanam hampir sama dengan tinggi Sekar anakku. Adapun tinggi durian dalam keadaan ditanam juga nyaris sama dengan tinggi Sekar.

Sebenarnya, membandingkan tingginya anakku dengan ketinggian pohon dalam lima tahun ke depan tentu saja tidak relevan, apalagi dalam 10 tahun ke depan. Pohon bisa mencapai ketinggian 10 meter atau 15 meter, sementara manusia tidak akan lebih tinggi dari 2 meter. Tapi tidak apa.

***
Bagi orang jaman dulu alias jadul, menanam pohon di saat-saat istimewa mungkin merupakan kebiasaan. Ini bisa menjadi semacam penanda di kala kalender belum banyak digunakan dan sebagian besar orang tidak pandai membaca.

Di dalam agama juga ada banyak pernyataan yang menunjukkan keutamaan menanam pohon, apalagi pohon buah-buahan.
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki bertemu Abu Darda' yang sedang menanam pohon. Kemudian, laki-laki itu bertanya kepada Abu Darda', ''Hai Abu Darda', mengapa engkau tanam pohon ini, padahal engkau sudah sangat tua, sedangkan pohon ini tidak akan berbuah kecuali sekian tahun lamanya.'' Abu Darda' menjawab, ''Bukankah aku akan memetik pahalanya di samping untuk makanan orang lain?''

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad menyebut cerita seorang sahabat Rasulullah SAW, ''Saya mendengar Rasulullah SAW membisikkan pada telingaku ini, 'Siapa menanam sebuah pohon kemudian dengan tekun memeliharanya dan mengurusnya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah di sisi Allah SWT'.'' (HR Ahmad).

Nabi Muhammad SAW memesankan kepada para sahabatnya, dalam peperangan janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak, dan jangan menebang/merusak tanaman (pohon).

Wallahu alam.
Selamat ulang tahun Sekar Nabila Inspirana.

23 Oktober 2008

Lepasnya roda mobil kami



Tadi malam saya mengalami hal yang mengerikan sebagai pengendara mobil. Salah satu roda mobil saya terlepas ketika mobil sedang berjalan di Tol Jagorawi di tengah malam yang gelap gulita.

Saya pulang dari kantor sekitar jam 21.15. Jalanan, termasuk tol dalam kota, relatif lancer. Sampai di Tol Jagorawi (sekitar km 9 atau 10, menjelang pintu tol Cibubur), saya merasakan sesuatu yang aneh pada ban.

Ada suara keras (wuk-wuk-wuk) dan goyang-goyang seperti ban kempes. Saya dan Hendra (teman kantor yang rumahnya di Cibinong yang kebetulan pulang bersama) segera turun. Kami periksa roda dan kaki-kaki. Tidak tampak gejala yang aneh. Ban tidak kempes, tidak ada tanda-tanda besi yang patah. Kami tidak memeriksa mur roda, karena tidak ada pemikiran ke arah itu. Saya coba goyang-goyangkan roda, tidak menemukan hal yang aneh. Tampaknya posisinya kokoh. Suasana gelap, kami hanya mengandalkan lampu dari kendaraan yang lewat.

Kami coba naik kembali, lalu mobil saya jalankan sekitar 10 meter. Muncul suara yang aneh-aneh dari sisi kiri bawah. Kami pun turun kembali. Saya menduga ada bagian dari kaki-kaki mobil yang mungkin patah.

Lalu saya naik ke mobil, menjalankan kendaraan barang 10 meter, Hendra mengawasi dari luar, melihat apa yang kira-kira salah dengan mobil ini. Tidak menemukan apa-apa.

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan saja pelan-pelan ke arah rumah yang masih 16 km atau 17km di depan sana. Posisi Hendra saya minta pindah dari kiri depan ke kanan belakang karena tampaknya masalah ada pada sisi kiri mobil.

Sebuah mobil derek mendekat, tetapi petugasnya tidak turun. Mereka membayangi kami dari belakang.

Saya jalan pelan-pelan melalui bahu jalan (jalur darurat) sekitar setengah kilometer. Tidak lagi muncul suara-suara aneh. Saya berharap mudah-mudahan semuanya aman. Mobil derek masih terus mengikuti kami.

Saya pikir kalau jalan terus di bahu jalan, bisa ditilang polisi dan disuruh keluar di pintu tol Cibubur. Repot betul. Jadi saya coba ambil ke kanan, masuk ke lajur paling kiri. Berjalan dengan kecepatan 30km per jam-40km per jam, merayap di belakang truk-truk.

Tiba-tiba, muncul suara sangat keras dari salah satu bagian mobil. Disusul dengan posisi mobil yang agak miring ke kiri, serta deritan keras hasil gesekan antara logam dengan aspal. Saya rem sebisanya dan kami pun menepi, persis di depan proyek pembangunan tempat istirahat menjelang pintu tol Cibubur.

Begitu keluar dari mobil saya merasakan bau menyengat karet terbakar. Lalu tampak di belakang sana, sekitar 50 meter di belakang mobilku, seorang petugas dari mobil derek sedang mengamankan sebuah roda yang tergeletak antara jalur darurat dengan lajur paling kiri.

Saya periksa roda, masya Allah, roda kiri belakang saya sudah lepas.

***
Kami tentu saja bersyukur bahwa kami tidak mengalami cedera karena masalah ini. Roda juga tidak meluncur ke tengah jalan yang bisa menyebabkan kecelakaan beruntun bagi kendaraan yang menabraknya. Alhamdulillah, terima kasih Yaa Allah.

Saya sempat bingung bagaimana cara memasang satu roda ini tanpa mur. Lalu saya ingat iklan sebuah produk susu. Tiap roda sebenarnya memiliki 4 mur-sekrup. Hilang 4 berarti masih ada 12 mur untuk 4 roda. Jadi, kami ambil satu mur dari masing-masing roda yang tersisa, lalu kami pasang pada roda yang lepas. Alhamdulillah. Masalah untuk sementara teratasi dan saya bisa pulang sampai rumah dengan selamat.

Paginya mobil saya bawa ke bengkel. Pasang 4 mur baru. Ternyata bemper belakang rusak karena terpukul roda yang lepas, pipa rem juga rusak karena benturan. Ada karet di bagian kaki-kaki yang juga rusak karena bergesekan dengan aspal.

Semuanya habis biaya Rp180.000. Porsi mahal ternyata adalah spooring (setting ulang posisi kaki-kaki) yang menghabiskan lebih dari setengah biaya itu.

***
Problem pada roda kanan belakang ini sebenarnya bisa dilacak sejak mudik Lebaran. Ketika pulang dari mudik, ban belakang sempat kempes di Cielunyi dan saya ganti di tol. Saya pasang sendiri ban serep yang sudah agak gundul karena ban aslinya benar-benar rusak tidak bisa dipakai lagi.

Beberapa hari kemudian saya beli ban bekas yang tidak gundul. Nah sejak pengalaman mengganti ban di tol itu, lalu membeli ban bekas, saya seperti terobsesi untuk mencoba mengganti ban sendiri lagi. Saya merasa teknik saya mengganti ban ketika itu ada yang keliru. Saya ingin mempraktikan teknik baru yang lebih baik dalam mengganti ban.

Setelah sekian lama keinginan itu mendesak, ditambah kekhawatiran akan ban gundul yang masih terpasang, maka kemarin pagi saya beranikan diri mengganti ban sendiri di rumah.

Kesalahan terbesar saya adalah tidak memasang mur dengan benar-benar kuat. Saya merasa sudah cukup kuat untuk mengikat roda sekaligus tidak terlalu sulit untuk sewaktu-waktu dibuka kembali. Saya memilih posisi tengah-tengah ini.

Dan begitulah hasilnya.

***
Sebenarnya secara teoritik saya sudah tahu cukup banyak soal mengganti ban. Saya baca bahwa uliran mur minimal tujuh kali. Saya juga pernah mendengar cerita seorang teman kantor bahwa ponakannya membawa mobil dan rodanya lepas. Seorang teman lain menimpali bahwa roda lepas itu pasti ada gejalanya.

Saya sudah ingat itu semua ketika mengganti roda. Semua teori itu benar-benar sudah nglothok dan saya fahami luar kepala. Tetapi ketika mengalami, saya tidak menduga bahwa persoalan bunyi-bunyi dan segala gejala itu berasal dari mur yang kendor, mur yang kurang kuat dipasangnya.

Jadi, pengetahuan teoritis itu saja ternyata tidak cukup. Perlu pengalaman riil atau melihat sendiri untuk tahu apa yang dimaksud dengan gejala-gejala dari sebuah kerusakan teknis pada mobil.

Dalam hal ini saya kembali bersyukur. Gusti Allah mengajarkan pengalaman yang sangat berharga ini kepada saya tanpa harus membuat saya (dan orang lain) celaka. Bandingkan dengan berita yang kita dengar sepanjang masa mudik, ada begitu banyak kecelakaan yang terjadi, fatal dan menyebabkan banyak nyawa meninggal, karena masalah ban dan roda ini. Alhamdulillah, terima kasih, yaa Allah.

***
Roda lepas ini sebenarnya bukan pengalaman gawat pertama saya berurusan dengan mobil. Pada Juni lalu, mobil yang sama ini mengalami putus timing belt di Tol Jagorawi km 16-km 17 di tengah malam.

Saat itu mobil melaju sekitar 70km per jam-80km per jam di lajur tengah. Tiba-tiba t-belt putus, mesin langsung mati dan semua system hidrolik, termasuk rem, tidak berfungsi. Jadi pedal rem sama sekali tidak bisa diinjak. Saya hanya mengandalkan rem tangan dan pasrah saja atas apa yang terjadi. Alhamdulillah semua baik-baik saja, saya berhasil menepi dengan aman. Putusnya t-belt ini sama sekali tidak terduga mengingat pemakaian baru sekitar 12.000 km, jauh di bawah standar usia t-belt yang rata-rata 40.000 km.

Bulan Agustus, masih merupakan dampak dari putusnya t-belt, mobil sempat mogok di Purwokerto malam-malam ketika saya pulang dari rumah sakit hanya bersama Sekar. Alhamdulillah, akhirnya masih bisa sampai rumah kakak dengan sangat pelan-pelan, gigi satu. Ternyata ada masalah dnegan kompresi dan mesin harus turun setengah.

Tahun lalu, sewaktu mengendarai mobil kakak (Mitsubishi Kuda) dari rumah sakit di Purworejo saya juga mengalami putus t-belt.

Empat tahun yang lalu, ketika ikut mudik kakak, ada masalah juga dengan kaki-kaki. Ada satu bagian kaki-kaki mobil yang tiba-tiba patah sehingga mobil langsung belok kanan tanpa bisa dicegah, dan menabrak motor. Untung tidak ada cidera yang serius. Lokasinya di daerah pedesaan sekitar Subang di jalur alternatif yang kecil ke arah Wado.

***
Mobilku ini memang sudah tua, hampir 9 tahun, dengan intensitas penggunaan sangat tinggi. Dalam keadaan normal, setiap pekan rata-rata saya memacunya 700 km (400 km untuk pulang pergi ke kantor 5 kali, serta 300 km untuk oulang pergi ke Bandung). Spedometernya sudah menunjukkan angka lebih dari 400.000 km, berarti sudah setara dengan 10 kali keliling bumi melalui Katulistiwa.

Kinerjanya sangat baik untuk harga yang sangat murah itu. Bagaimana pun, mengendarai mobil ini jauh lebih aman dan nyaman dibandingkan ke kantor naik motor. Naik mobil sendiri juga lebih menenangkan dibandingkan naik bus. Kalau naik bus setiap pulang saya selalu was-was masih ada bus ke Cibinong atau tidak malam ini karena pulang kantor hamper selalu mepet atau bahkan sesudah jadwal bus terakhir.

***
Setelah menjalani beberapa peristiwa gawat seputar mobil, ditambah dengan berbagai macam kerusakan yang tampaknya sepele di sana-sana, saya merasa sebaiknya para pengendara (atau pemilik) mobil mengetahui soal-soal teknis minimal dalam pengelolaan kendaraan.

Orang harus tahu hal-hal terpenting yang terkait dengabn mesin, roda, kaki-kaki, lampu, serta hal-hal dasar lainnya. Dan pengetahuan itu mestinya juga diberikan ketika seseorang baru belajar nyetir. Harus ada panduan baku mengenai soal-soal teknis semacam itu.

Majalah dan tabloid bidang otomotif mestinya berada pada garda terdepan dalam memberikan pendidikan soal-soal teknis penting itu, bukan hanya menonjolkan keuntungan dan kehebatan produk baru yang menjadi seperti iklan dan menggenjot sifat konsumtif.

Wallahu a’lam.

15 Oktober 2008

Laskar Pelangi & masa depan Andrea Hirata


Sebelum mengenal Laskar Pelangi saya sudah mengenal beberapa istilah/frase/kalimat yang menggunakan kata laskar. Pertama tentu saja Laskar Pajang (serta Laskar Banyubiru, Laskar Menoreh, dsb dalam cerita silat karangan SH Mintardja). Kemudian muncul Laskar Jihad yang sangat popular ketika kerusuhan Maluku. Belakangan ada pula Laskar FPI, dan Las-kar-bit (las karbit saingannya las listrik, hehe)

Saya menonton film Laskar Pelangi pada Sabtu malam lalu di BTC Bandung. Tadinya mau nonton siang/sore, ternyata tiket siang itu sudah habis.

Ini sebuah kisah yang inspiratif, bernilai, membangun, mengharukan, mengajarkan hal-hal yang berguna. Ada pertentangan tetapi tidak ada tokoh antagonis. Bagiku, ini sangat menarik. Ternyata dunia (dan cerita), bisa tetap menarik kendati tanpa ada tokoh yang benar-benar antagonis dan layak dibenci.

Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di dusun yang jauh dari peradaban kota, kemudian mendapat kesempatan untuk mendapat pendidikan terbaik di negeri ini, serta melihat-lihat pusat peradaban dunia dan menikmati produk-produk paling modern, saya bersyukur ada orang yang berhasil mendokumentasikan perjuangannya melalui Laskar Pelangi. Ada banyak “Laskar Pelangi” lain di negeri ini yang tidak terdokumentasi dengan baik, dan akibatnya tidak memiliki efek bola salju seperti kisah anak-anak Balitong itu.

***
Namun demikian, ada beberapa kritik kecil atas film itu.
Kritik utamaku adalah dipilihnya pemain-pemain yang sudah terlanjur terlalu dikenal publik dengan citra tertentu. Dalam hal ini misalnya adalah Rieke Diah Pitaloka (Oneng) sebagai ibu Ikal, serta Tora Sudiro (sebagai salah satu guru di SD PN). Mereka sudah terlalu dikenal di TV sebagai komedian dsb. Mereka sudah punya citra sendiri yang berbeda dnegan citra dalam Laskar Pelangi.

Beruntung saya kurang mengenal Cut Mini, Slamet Rahardjo, dan beberapa pemain lainnya sehingga citra mereka tidak menggangguku dalam memahami cerita.

Kalau tidak salah, ending cerita itu juga berbeda dengan yang ada di buku.

Sejujurnya saya juga ingin tahu bagaimana pandangan anggota Laskar Pelangi (selain Ikal dan Lintang) mengenai film itu. Ada seberapa besar modifikasinya dari kisah nyata (film dan atau novel selalu menggunakan dramatisasi, jadi sangat mungkin ada penambahan sana-sini pada kisahnya)

Yang juga sedikit menggangu adalah logat Melayu (atau Sumatra? Atau Riau) yang kurang akrab di telinga saya.

***
Satu lagi hal yang menjadi tanda tanya, yaitu masa depan Andrea Hirata. Masih muda, (kabarnya) belum menikah, kok otobiografinya sudah terkenal sebesar itu. Bagaimana dia harus membangun ‘kebesaran’ sisa kehidupannya? Bagaimana dia mempertahankan ‘kesuksesan’ dan ‘keajaiban’ itu di masa depan? Bagaimana dia akan menanggung beban itu?

Tetralogi Laskar Pelangi tentu berbeda pola dengan Harry Potter karya Rowling, atau Da Vinci Code dari Brown. Bahkan dibandingkan dengan karya-karya berbasis kenyataan yang ditulis oleh Tolstoy, Chekov, Pasternak, dll juga sangat berbeda. Karya para penulis yang telah lampaui itu jelas-jelas dinyatakan sebagai fiksi (kendati berbasis fakta) sehingga beban bagi penulisnya juga berbeda.

Wallahu alam.

14 Oktober 2008

Hukum ‘kekekalan’ kekuasaan


Jumlah energi tetap, hanya dapat dipindah-pindah atau diubah bentuknya. Begitulah hukum 'kekekalan' energi. Saya kira, jumlah kekuasaan dalam satu sistem juga tetap, hanya dapat dipindah-pindahkan, didistribusikan, atau dikumpulkan.

Jika ada seorang penguasa yang kuat, misalnya diktator, tumbang dan digantikan oleh penguasa yang tidak kuat, maka kekuasaannya akan tersebar ke elemen lain.

Pak Harto jatuh, kekuasaan DPR yang semula sangat kecil tiba-tiba membesar seiring kekuasaan presiden-presiden pengganti yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan Pak Harto. Kekuasaan yang dulu terkumpul pada penguasa yang sangat kuat itu kemudian menyebar dikangkangi oleh banyak pihak lain.

Panembahan Senopati yang membangun Mataram mengumpulkan kekuasaan sedikit demi sedikit. Dia membangun Mataram (Yogya) di pedalaman, kemudian pelan-pelan menguasai Bagelen (Purworejo), berlanjut ke Pajang (Solo dan Boyolali), Jipang (Blora), Demak, Pati, Jepara. Lalu ekspansi ke Madiun dan Surabaya.

Seiring melebarnya kekuasaan Panembahan Senopati, mereduplan kekuasaan Sultan Hadiwijaya di Pajang (serta Benawa sebagai penggantinya). Meredup pula Penjawi dan Pragola di Pati, Pangiri di Demak, Pangeran Timur alias Panembahan Madiun di Madiun, dan sebagainya. Tidak ada kota dan kerajaan baru di wilayah ini, jadi jumlah total kekuasaan pada masa itu bisa dibilang tetap.

Dalam satu perusahaan, hal yang sama pun berlaku. Jika ada dua orang wakil pemimpin redaksi (wapemred) maka mereka harus berbagi kekuasaan. Jika wapemred adalah jabatan baru maka jabatan baru itu akan mengurangi sebagian kekuasaan pemred (yang ada di atasnya) dan sebagian kekuasaan redpel (yang ada di bawahnya).

Jika muncul jabatan baru deputi direktur, maka dia akan mengurangi kekuasaan direktur sekaligus mengurangi kekuasaan general manager atau vice president atau senior vice president yang persis berada di bawahnya.

***
Kekuasaan dapat diciptakan dengan membuat sistem baru. Jika kita bisa membangun sebuah kerajaan baru di tempat yang sebelumnya tidak berpenduduk, maka kita bisa menciptakan kekuasaan.

Sistem baru itu bisa berupa negara, bisa berupa perusahaan baru. Bahkan, sistem itu juga bisa berupa sebuah ‘kerajaan virtual’. Sebuah sistem virtual yang sama sekali baru di dalam sebuah sistem yang sudah ada. Seperti ‘negara di dalam negara’.

Orang-orang yang sangat kreatif mampu menciptakan hal-hal baru yang belum pernah digarap orang lain di dalam sistem existing. Menggarap hal-hal baru, menciptakan ladang baru, berarti berkreasi membuat kekuasaan baru. Dan agar tidak mengganggu kesetimbangan kekuasaan di sekitarnya, dia harus membatasi sistemnya secara virtual. Pembatasan itu juga untuk mengamankan ‘sistemnya’ agar tidak terganggu oleh keterbatasan yang ada pada sistem existing.

Wallahu a’lam