11 Agustus 2009

Kehilangan salah satu media darling


Tadi malam saya sempat ikut acara dinner spesial. Ini adalah dinner terakhir bagi Pak Johnny Swandi Sjam (JSS) dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama Indosat. Hari ini, 11 Agustus, saat serah terima jabatan, Pak JSS mengakhiri karirnya pada operator telekomunikasi kedua terbesar di Indonesia itu.

Pada kesempatan dinner itu saya didaulat mewakili teman-teman wartawan untuk menyerahkan kenang-kenangan. Konon karena saya adalah wartawan yang paling lama mengenal Pak JSS di antara belasan wartawan yang hadir malam itu. Sudah pasti bahwa saya bukanlah yang paling tua, umur saya baru 34, tapi mungkin benar bahwa sayalah yang mengenal beliau paling awal.

Saya kenal Pak JSS pada 2001 atau 2002 ketika heboh-heboh lisensi VoIP. Beliau adalah pejabat di Indosat yang menangani penerapan VoIP. Kalau tidak salah jabatannya setingkat VP. Lalu tak lama kemudian, ketika Indosat dapat lisensi telepon saluran tetap, pria Minang itu dapat tugas memimpin proyek penggelarannya. VoIP dan fixed line Indosat adalah isu sangat menarik ketika itu. Apalagi saat itu belum banyak koran harian yang punya rubrik TI.

Perkenalan paling intens adalah ketika Pak JSS jadi direktur Satelindo dan kemudian menjadi direktur utama sebelum operator seluler itu dimerger vertikal dengan IM3 dan Indosat.

Setelah Pak JSS kembali ke Indosat, intensitas komunikasi turun. Apalagi setelah itu saya tidak banyak liputan TI lagi. Meski begitu, di antara semua direktur utama Indosat yang saya kenal (Pak Hari Kartana, Pak Widya Purnama, Pak Hasnul, Pak JSS), ya beliau inilah yang secara personal, bagi saya, punya keterikatan paling dekat. Paling tidak ucapan selamat Lebaran, selamat berpuasa, say hello, masih terus mengalir.

Ketika ada pengumuman mengenai pergantian jabatan Dirut Indosat beberapa bulan lalu, saya langsung merasa bahwa salah satu “media darling” akan pergi. Tetapi kalau diingat bahwa usia Pak JSS masih muda (49 tahun pada Sabtu besok), ditambah lagi pernyataanya bahwa dunianya adalah dunia TI, saya kira masih akan mudah menemukan kiprahnya di masa-masa yang akan datang. Entah di mana dan apa posisisnya. Ya semoga Pak JSS menemukan tempat berkiprah yang semakin bermakna. Selamat umrah Pak.

Foto dari Mira Putri Wardhani

09 Agustus 2009

Cerita Kedu di masa lalu


Kedu memiliki akar sejarah yang panjang. Mungkin salah satu yang paling panjang di Tanah Jawa. Di sanalah, konon, negeri Mataram Lama bercokol.

Di tempat itulah Pikatan, Panangkaran, Syailendra, serta keturunannya membangun peradaban yang luar biasa pada abad VII, 14 abad yang lalu. Sebagian peninggalan dari generasi itu, sekaligus bukti peradaban yang tinggi, adalah candi Borobudur dan candi Prambanan.

Kedu pada jaman penjajahan Belanda adalah ibukota karesidenan. Karesidenan itu meliputi Kabupaten Temangggung, Kabupatan Wonosobo, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo, serta kabupaten Kebumen.

Nomor polisi kendaraan di eks karesidenan Kedu diawali dengan AA. Pada Pemilu Legislatif yang baru lalu, sebagian daerah ini, kecuali Kebumen, masuk ke Dapil Jateng VI.

Ada ayam khas daerah Kedu yang serba hitam. Namanya ayam cemani. Bulunya hitam, kulitnya pun hitam, jenggernya juga hitam. Serba hitam. Konon, tulangnya pun hitam.
Pada 2006, ketika melintas Kedu dari temanggung ke arah Parakan, saya bersama keluarga sempat membeli beberapa ekor ayam cemani muda.

***
Pada tanggal 8 bulan 8, Densus 88 membekuk apa yang diduga sebagai para pengebom. Pengebom itu terkait erat dengan kamar 18-08 hotel JW Marriot yang rebut-ribut tanggal 17 Juli lalu.

Bagi saya, daripada mengikuti berita dar der dor yang berisi duga1, dikalikan duga2, dikalikan duga3, lalu dirangkai menjadi duga pangkat delapan, lebih asyik menyimak kembali cerita Kedu masa lalu.

Lebih enak menyimak bagaimana Sannaha, Pikatan dan keturunannya membangun daerah yang kini secara politis ekonomis itu tidak lagi memiliki posisi kuat.

Lebih menarik mencari-cari tautan yang hilang (missing link) antara hancurnya kekuasaan Mataram Lama pada abad X dan hadirnya kekuasaan baru di Jawa Timur pada abad XI di bawah Mpu Sendok.

Silsilah antara Mpu Sendok yang dilanjutkan oleh Airlangga, lalu pecah menjadi Jenggala dan Kediri, diwarisi oleh Singasari, lalu Majapahit, hingga Pajang, Mataram, Surakarta dan Yogyakarta dapat dilacak dengan mudah. Akan tetapi kaitan antara raja Mataram Lama terakhir dengan Mpu Sendok sulit dilacak.

Ah Kedu, lebih menarik ceritamu tentang masa lalu.

05 Agustus 2009

Pembebasan absurd ala Mbah Surip


Mestinya ini bukan lagu tentang “menggendhong”, melainkan tentang “nggondheli” alias memegangi yang membuat orang tidak bisa bergerak.

***
Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya Black Swan membagi jenis pekerjaan dalam dua kelompok yaitu scalable dan nonscalable.

Gaji seorang karyawan pabrik mudah dihitung berdasarkan jumlah jam kerjanya. Gampang sekali mengetahui batas atas nilai pendapatan dari jenis pekerjaan semacam ini. Omzet pengelola restoran mudah untuk dihitung berdasarkan jumlah tempat duduk yang tersedia. Yang macam ini, masih masuk dalam nonscalable. Harus ada upaya dua kali lipat untuk mendapatkan gaji dua kali lipat (tempat duduk dilipatduakan, atau jam kerja dinaikkan dua kali lipat).

Di sisi lain ada pekerjaan yang scalable. Penambahan usaha yang sedikit (atau bahkan tanpa penambahan sama sekali) meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Hal ini, misalnya, terjadi pada pengarang buku serta artis dan penyanyi. Kita sulit membedakan seberapa besar selisih usaha antara pengarang buku yang best seller dan tidak best seller dalam menghasilkan karya. Begitu pula dengan penyanyi yang top dan tidak top.

“Profesi yang scalable hanya baik kalau Anda sukses. Situasinya sangat kompetitif, menghasilkan ketidaksamaan yang luar biasa antara yang sukses dan yang gagal. Disparitas sangat besar antara usaha dan imbalan. Sebagian kecil pemain dapat mengambil kue sangat besar sehingga sebagian besar pemain yang lain hanya kebagian kue sangat sedikit,” papar Taleb dalam buku itu.

***
Mbah Surip yang populer lewat lagu-lagu absurd semacam “Tak Gendhong” itu masuk dalam ranah scalable.

Saya kira sulit membedakan seberapa keras usahanya dalam membuat lagu dan menyanyi antara tahun 1997-an ketika dia belum dikenal luas, dengan upayanya di tahun 2009 ketika ketenaran mulai datang. Apakah lagunya lebih bagus? Apakah kualitas suaranya meningkat?

Jawabnya, hemat saya, pasti tidak. Lagu-lagunya sama-sama absurd. Lagu dan sosoknya tidak beda-beda amat dengan sepuluh tahun yang lalu. Memang belakangan kesibukannya meningkat. Tapi itu terjadi setelah ketenaran sudah datang dan terus meningkat secara akumulatif sehingga dia, konon, kelelahan.

Mbah Surip, tanpa memperbaiki lagunya puluhan kali lipat, tanpa menghasilkan karya yang mutunya meningkat ratusan kali, bisa mendapatkan imbalan yang berpuluh atau beribu kali lipat dibandingkan imbalannya sepuluh tahun yang lalu. Menurut kabar, Mbah Surip mendapat imbalan Rp4,5 miliar per bulan dari ringback tone saja. Ringback tone 'Tak Gendong' digunakan 500.000 pelanggan Telkomsel, 100.000 pelanggan Indosat, dan 70.000 pelanggan Excelcomindo Pratama (XL).

Akan tetapi, inilah karakter dari jenis pekerjaan yang scalable. Dan inilah pula, menurut buku Black Swan, bagian dari dunia extremistan.

***
Saya pertama kali ‘ngeh’ tentang Mbah Surip sekitar dua bulan lalu. Ketika itu saya lihat status seorang teman chatting Gtalk di kantor yang mengutip lagu “Tak Gendhong” disertai foto seorang pria gondrong. Saya tanya tentang pria tua gondrong yang sekilas mirip pemain bola Rudd Gullit itu. Maka mengalirlah penjelasan tentang sang seniman.

Beberapa hari kemudian pagi-pagi saya lihat teve dan muncullah lagu “Tak Gendhong”. Syairnya bagi saya absurd, tidak jelas maksudnya. Klip video yang melengkapi lagu itu berisi sosok gondrong yang seolah-olah tidak terlihat, seperti makhluk halus, sedang memegangi bagian tubuh seseorang. Itu khas gambar seekor hantu yang memegang anggota tubuh seseorang sehingga orang yang bersangkutan tidak bisa bergerak seperti yang dia inginkan.

Melihat gambar itu, saya pikir mestinya ini bukan lagu tentang “menggendhong”, melainkan tentang “nggondheli” alias memegangi yang membuat orang tidak bisa bergerak.

Kata gendhong, bagi saya, punya konotasi tersendiri yang terkait dengan hantu dan makhluk halus. Didesa-desa di Jawa, kalau ada orang menebang pohon besar atau mengusik tempat keramat, sering diiringi munculnya mitos tentang hantu.

Konon, hantu sering marah dan orang harus meminta hantu itu untuk pindah ke tempat lain yang jauh dari manusia. Banyak hantu yang menjengkelkan dan mengajukan macam-macam syarat. Syarat yang umum adalah dia minta digendhong ke tempat baru. Sang dukun biasanya harus mengerahkan segenap tenaga untuk menggendhong si hantu dari tempat asal ke tempat baru, sama beratnya seperti menggendhong orang.

Inilah kesan saya terhadap kata gendhong yang dipakai Mbah Surip dengan klip video yang menyangkut makhluk halus.

***
Kembali ke soal fenomena meroketnya ketenaran orang yang memiliki nama asli Urip Ariyanto itu. Saya kira penjelasan mengenai hal itu dapat samar-samar disimak pada buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell.

Ketenaran Mbah Surip beredar secara gethok tular versi modern yang bukan saja mengandalkan mulut melainkan mengandalkan teve, Internet, serta media massa. Dalam epidemi gagasan semacam penyebaran tren, menurut Gladwell, selalu ada komponen berupa para bijak bestari (the mavens), para penghubung (connectors), serta para penjaja (salesperson).

Saya kira, penyokong popularitas Mbah Sirup berhasil mengenali mana-mana elemen dari masyarakat yang mampu bertindak sebagai mavens, connectors, dan salesperson, sehingga berhasil mendongkrak popularitas secara cepat dan luar biasa.

Mereka berhasil menggali keunikan dan mengangkat hal-hal khas (seperti kesederhanaan, penderitaan, gaya apa adanya, orisinalitas, dan sebagainya) yang mampu menarik simpati publik. Bukankah seperti kata Distoyevsky, orang cenderung menghargai penderitaan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga dan para pendukung atau pengagum Mbah Surip, saya menilai kepergian beliau juga merupakan pembebasan masyarakat dari lagu-lagu absurd yang bagi saya sulit dimengerti makna dan mutunya.

Semoga Mbah Surip diampuni dosa-dosanya dan bisa ber-hahahaha di dunia lain. Wallahu alam. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

Versi lain tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 8 Agustus, halaman 12

03 Agustus 2009

Mencari nalar China dan nalar India


China memiliki kemampuan meniru yang luar biasa. Kadangkala hanya diperlukan waktu seminggu untuk memalsu produk-produk dengan tingkat kerumitan tinggi. Produk palsu pun seringkali sulit dibedakan dengan produk asli, seperti kata Alexander Theil, Direktur Investigasi General Motors Asia Pasifik. "Kami harus membongkarnya atau melakukan analisis kimia untuk mengetahui bahwa produk itu bukan produk asli."

Pemalsuan bukan hanya terjadi pada produk sederhana. Bahkan juga untuk antarmuka router buatan Cisco Systems. "Jika Anda bisa membuatnya, mereka bisa memalsukannya," kata David Fernyhough, Diretur Perlindungan Merek Hill & Associates Ltd Hong Kong.

Di sisi lain, India memiliki kemampuan memasok ahli-ahli di bidang teknologi informasi dan jasa. Bangalore, Pune, Hyderabad menjadi pusat-pusat penting bagi perusahaan seperti General Electric, Microsoft, SAP, Intel, Texas Instruments, dan lainnya.

Ketika IBM memecat 14.000 karyawan di Eropa Barat, AS dan Jepang, perusahaan itu tetap menambah tenaga kerjanya di India. Di negara itu, Accenture memiliki 14.000 karyawan dan Hewlett Packard memiliki 10.000 karyawan.
Saat sebagian besar orang Amerika tertidur, para profesional keuangan, pemasaran, dan teknologi India menyelesaikan banyak pekerjaan yang menuntut keahlian bagi perusahaan AS.

***
Uraian lengkap mengenai hal-hal di atas dapat kita temui dalam buku Chindia: Strategi China dan India Menguasai Bisnis Global karya Pete Engardio. Saya beli buku itu di Gramedia Bandung pada Sabtu lalu. Buku ini berisi cerita panjang tentang China dan India. Dua negara yang kalau jumlah penduduknya digabungkan akan mewakili sepertiga dari warga Bumi.

Paparan dalam buku seharga Rp125.000 ini bergaya jurnalistik. Populer namun sarat dengan data. Pilihan judul, pemenggalan bab dan subbab, semuanya khas laporan sebuah majalah. Memang pada dasarnya ini adalah versi panjang dari laporan komprehensif majalah Business Week.

Setiap premis utama selalu ditunjang dengan banyak bukti. Bahkan, saya kira, terlalu banyak bukti yang membuat seolah-olah terjadi banyak pengulangan pembahasan dalam buku setelah 446 halaman ini.

Sayangnya, dengan gaya uraian seperti itu, saya merasa akar kekuatan China dan India kurang tergali. Memang ada sangat banyak paparan mengenai keunggulan dan kehebatan dua negara itu beserta ciri khasnya masing-masing. Namun saya gagal menemukan akar penyebabnya di luar satu bab tentang Tantangan Pendidikan.

Saya merasa sulit menemukan model penguatan diri yang dapat ditiru oleh negara lain dengan penduduk yang sangat banyak di tengah belitan kemiskinan seperti Indonesia. Gambar besar proses menuju kondisi saat ini tidak terpapar dengan baik. Sebagian besar buku ini bercerita tentang apa yang sedang terjadi, bukan apa di balik yang terjadi atau bagaimana hal itu menjadi mungkin terjadi.

Buku ini terdiri atas 11 bab. Bagi saya, bagian yang paling menarik adalah Bab III Paradigma Global Baru, Bab IV Model Korporasi Baru, lalu Bab VI Lompatan ke Depan, BabVIII Tantangan Pendidikan, serta BabXI Tantangan Kompetitif Baru.

****
China dan India memiliki keunggulan yang serupa yaitu tenaga kerja yang murah. Begitu murahnya sehingga jika gaji tenaga kerja di China dan India dinaikkan 10% tiap tahun, dalam 20 tahun ke depan nilainya belum akan menyamai gaji tenaga kerja dengan kemampuan serupa di AS.

China menikmati ledakan investasi yang sangat tinggi sehingga mampu membangun menara-menara perkantoran, hotel mewah, jalan tol, terminal, pusat perbelanjaan dengan mencengangkan. Negara itu juga membangun pabrik-pabrik modern di bidang petrokomia, silikon, mobil, baja, kapal, dan barang padat modal lain.

Adapun pasar India tidak sebesar China. Pendapatan per kapita India hanya sepertiga China. Konsumen India lebih suka barang berkualitas dengan harga murah. "Siapa pun yang mampu menjual jasa global dengan harga India, dia bisa bersaing di mana saja."

India tidak sanggup membangun menara-menara kemewahan seperti dilakukan China. China sangat kuat dalam manufaktur termasuk baja, mobil, kimia, serta semikonduktor dan elektronika, sementara India sangat kuat dalam industri peranti lunak, jasa dan desain. Banyak perangkat dengan tulisan depan "made in China" di dalamnya mengandung peranti lunak dan teknologi multimedia buatan India.

China dan India memiliki tantangan kependudukan yang berbeda. China dalam 20 tahun ke depan akan memiliki 300 juta penduduk berusia di atas 60 tahun dan lima per enamnya tanpa jaminan pensiun. Komposisi yang tidak seimbang ini terjadi karena pelaksanaan kebijakan satu anak. India dalam 40 tahun ke depan akan memiliki 1,7 miliar penduduk namun tidak menghadapi masalah serumit China. Pendidikan menjadi masalah serius di India. Negara itu juga menghadapi kesenjangan sosial yang makin lebar.

Keduanya sama-sama menghadapi persoalan ekologis. Pabrik-pabrik di China menghabiskan bahana bakar lima kali lipat dari pabrik serupa di Barat. Sebanyak 20% kredit bank di China macet.
India yang membangun dengan kekurangan, lebih efisien. Akan tetapi India mengalami kekurangan investasi dari luar negeri sehingga tidak mampu membangun infrastruktur megah seperti halnya China. Tingkat polusi di berbagai kota India juga sangat tinggi.

China dan India sama-sama memiliki problem birokrasi. Di China, intervensi pemerintah dan partai terlalu kuat, sementara di India aturan yang sangat keras dan ketat membatasi gerak investor.

***
Judul buku ini saya rasa kurang lengkap. Mestinya judul yang dipakai adalah Chindias: China, India, serta AS. Sebab, hampir semua pembahasan mengenai China dan India dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap AS.

China dan India sama-sama mendapat limpahan pekerjaan dari AS. Manufaktur yang menjadi keunggulan China, mewakili 14% keluaran dan 11% serapan tenaga kerja AS. Adapun jasa yang menjadi keunggulan India, mewakili 60% ekonomi AS dan dua per tiga serapan tenaga kerja.
Keduanya sama-sama memiliki tenga ahli dengan IQ tinggi dan rela dibayar murah. Tenaga kerja India memiliki keunggulan dalam Bahasa Inggris dibandingkan tenaga kerja China.

Ada paparan sangat menarik dalam buku yang mengungkapkan bagaimana sudut pandang India dan AS bisa bertabrakan dalam merespons perkembangan industri teknologi informasi. Pete Engardio menggambarkan bagaimana perjalanan seorang anak muda India mendapatkan order dan pekerjaan di bidang TI dari AS. Sementara di sisi lain, digambarkan bagaimana anak muda di AS, yang juga kuliah di bidang teknologi informasi, pada saat yang bersamaan justru kehilangan peluang gara-gara 'serbuan' tenaga kerja India baik dalam bentuk fisik maupun outsourcing secara online.

Apakah itu berarti China dan India akan menjadi adidaya baru dan AS harus bersiap-siap menjadi calon "negara dunia ketiga" baru?
Engardio menghibur publik AS dengan menyatakan bahwa prediksi di atas kertas seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Prediksi serupa pernah juga dilekatkan ke Jepang pada dekade 1980-an. Prediksi negatif juga pernah dilekatkan ke Inggris pada dekade 1970-an. Tetapi yang terjadi pada Jepang tidak sehebat yang diperkirakan dan yang terjadi pada Inggris tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Halaman di bagian akhir buku ini ditutup dengan rekomendasi bagi AS bagaimana mempertahankan diri terhadap serbuan China dan India.

Hal yang harus dilakukan oleh AS, menurut Pete Engardio, antara lain orang AS perlu menabung lebih banyak agar tidak bergantung pada pnjaman luar negeri; mencoba taktik baru menjinakkan yuan; menerapkan aturan perdagangan dengan lebih agresif misalnya untuk ; melindungi industri kecil; memperketat perlingdungan hak atas kekayaan intelektual; serta membuka kembali kesepatakan WTO.

(mudah-mudahan bisa bersambung, terutama dengan ulasan mengenai Tantangan Pendidikan)

02 Agustus 2009

Jumpa ketiga


Pekan lalu saya dipanggil kembali oleh Pak Menristek. Pertemuan kali ini menjadi pertemuan ketiga dalam jangka waktu satu pekan. Lebih intensif daripada bimbingan tugas akhir saya kira, hehehe.

Pak Menteri membawa saya masuk ke ruang pribadinya. Di sana ada meja dengan banyak buku di atasnya. Di sebelahnya ada almari. Dari tepi jendela kita bisa melihat pemandangan ke arah monas.

Kali ini kami ngobrol hanya berdua saja. Seolah-olah seperti perwalian jaman kuliah dulu. Beliau bercerita sangat terbuka tentang keluarganya, anak, cucu. Juga tentang perjalanan karirnya, mengapa memilih berhenti dari ITB. Beliau paparkan pengalamannya terpilih jadi dosen teladan ITB yang berpeluang menjadi profesor termuda, namun kemudian jalur kepangkatannya justru macet.

Sebagian cerita beliau sudah dapat disimak pada buku “Bentang Ego, Alunkan Simfoni,” sehingga saya berani tulis di blog ini. Akan tetapi, bagi saya, jelas berbeda mengetahui cerita dari buku dengan mendengar langsung oleh tokoh yang menjadi inti cerita.

Ada banyak hal yang beliau ceritakan dan beliau tanyakan dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu. Bagi saya ini hal yang sangat mengesankan dan sulit dilupakan. Sebagai orang yang pernah kuliah di Jurusan Teknik Fisika ketika beliau menjadi dosen, ini seperti perwalian sesungguhnya, dalam bentuk yang lain.

Saya merasa beliau sedang berusaha “membombong” hati saya yang sering mengkeret sekecil menir dan minder itu. Saya merasa bahwa beliau berharap saya bisa berprestasi baik, beliau mencoba mengungkit hal-hal yang mungkin selama ini tersembunyi dan tidak mampu saya lihat sendiri.

Pada kesempatan itu, Pak Menteri memberi saya hadiah sebuah baju batik motif fractal warna biru, dua buah buku, serta dua buah CD musik. Terima kasih banyak Pak Kus untuk segala sesuatunya.

26 Juli 2009

Mencari sistem inovasi nasional


Kreatif tidak sama dengan inovatif, meskipun inovasi membutuhkan kreativitas. Seseorang yang kreatif belum tentu inovatif, apalagi jika kreativitas itu semata-mata bermotivasikan kesenangan diri sendiri, atau justru untuk merugikan orang lain. Jadi, teori tentang inovasi berbeda dengan teori tentang kreativitas.
Inovasi, jika terjadi, serang merupakan hasil kolektif, bukan hasil individual. Oleh karena itu, dalam literature akademik, teori-teori inovasi merujuk pada gagasan kesisteman melalui system inovasi (innovation system) atau jejaring inovasi (innovation network).

Itulah cuplikan yang sangat menggugah dalam prakata buku Simfoni Inovasi, Cita & Realita karya Kusmayanto Kadiman. Pak Kus alias Pak KK yang mantan Rektor ITB itu sekarang menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Buku ini saya peroleh langsung dari beliau ketika mantan dosen Teknik Fisika ITB itu memanggil saya untuk ikut makan siang bersama di kantornya, pekan lalu.

Buku terbitan 2008 ini tidak tebal, hanya 224 halaman. Tapi sampul dan penampilannya lux karena menggunakan hard cover yang dilapisi pula dengan sampul luar terpisah. Formatnya unik. Sebagian besar berisi dialog antara Pak Kus dengan nara sumber yang dia pilih.

Kemudian pada bagian awal, tengah, serta akhir, Pak Kus berusaha menarik benang merah dari dialog dengan nara sumber, para pelaku di bidang industri dan social yang terkemuka, mengenai ide dasar pembentukan sistem inovasi nasional.

Ini format penulisan buku yang bagi saya agak baru. Buku yang mirip, misalnya, adalah karya para wartawan yang berisi kumpulan dialog dengan banyak nara sumber. Bedanya, kalau wartawan umumnya lebih banyak bertanya, kalau ini lebih banyak pertukaran pikiran antara dua atau tiga belah pihak.

Adanya pengantar dan upaya menjelaskan benang merah juga membuat dialog yang kadangkala melenceng ke sana dan ke sini bisa tetap menghasilkan kesimpulan yang selaras dengan topik utama.

**Kocak dan mendalam***
Ada keunggulan yang muncul dari format dialog ini. Yang paling menonjol adalah sikap atau pendapat spontan dari para nara sumber. Ini jelas berbeda jika yang bersangkutan diminta menulis tentang tema tertentu yang sifatnya searah. Selain itu ada diskusi, ada penggalian, ada pertukaran yang terjadi.

Format dialog semacam ini juga lebih mudah dicerna oleh akal saya yang pendek ini. Lebih menukik ke inti masalah, dengan contoh konkret berdasarkan pengalaman dan kearifan nara sumber.

Sifat spontan dalam dialog ini juga kadang memicu orang untuk berbicara lebih terbuka mengenai hal-hal yang tampak sensitive, misalnya menyangkut lambannya mesin birokrasi.

Karena sifatnya yang spontan, banyak juga dialog yang terkesan kocak. Misalnya, kata-kata Dirut PT Pindad Budi Santoso.
“Pesawat Hercules kita usianya sudah lebih tua dari pilotnya. Maka pilotnya harus baik-baik dengan pesawatnya [seperti baik-baik pada orang yang lebih tua].”

Banyak cerita yang menggugah, mengharukan, tapi juga membuat tertawa seperti cerita Dirut Pindad ketika belajar peluru kendali.
“Seluruh staf saya tidak ada yang tahu cara membuat peluru kendali. Sampai akhirnya saya minta peluru kendari dari TNI yang sudah tidak terpakai. Saya harus menandatangani perjanjian bahwa kalau peluru itu meledak, harus bertanggungjawab. Dan ketika peluru itu datang, kami semua bingung. Kami bingung bagaimana cara membongkarnya, mana bagian depannya, mana belakangnya. Kalau salah kan bisa meledak.”
Ada juga kutipan-kutipan filosofis seperti mengtip teori chaos bahwa kepakan kupu-kupu di satu belahan bumi bisa jadi berpengaruh besar terhadap kejadian di belahan bumi lain.

Ada kutipan Einstein bahwa penyederhanaan itu memberikan kepastian, tetapi bukan kenyataan. Kenyataan tidak bisa disederhanakan sehingga menimbulkan ketidakpastian. Dalam ketidakpastian itu terkandunglah banyak informasi tentang kehidupan.
Dialog dengan Arifin panigoro, CEO Medco, memberi saya banyak sekali informasi baru mengenai energi, pengembangan energi, energi alternatif, serta kebijakan yang tumpang tindih dalam mengaturnya.

Diskusi dengan Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Jamu Sido Muncul, membuka wawasan mengenai ilmu pengobatan yang berbeda paradigma dnegan ilmu kedokteran.
Apakah tidak lagi merasa sakit sama dengan sembuh dari sakit? Apakah kita tahu persis bagaimana cara obat itu bekerja dan bagaimana cara tubuh bereaksi? Bisakah kita mengukur “kadar kesakitan” itu? Dan banyak sekali hal menarik, pertanyaan-pertanyaan mengelitik tentang macam-macam hal.

*Beda pendekatan*
Pemaparan Pak Kus mengenai pendekatan instrumental dan pendekatan kapabilitas yang kita anut dalam beberapa dekade memberikan gambaran yang menarik.

Pendekatan instrumental menekankan perlunya alat, instrument, dalam hubungan manusia dengan iptek. Dalam pendekatan ini, ketika iptek sudah di tangan masyarakat, maka perubahan akan segera terjadi tanpa perlu upaya yang signifikan.

Pendekatan ini mirip dengan mengatakan bahwa dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ada bebarapa varian dalam pendekatan ini yang dijelaskan pada bagian awal buku itu.

Pendekatan lain adalah pendekatan kapabilitas yang dimotori Amartya Sen. Dalam konteks ini yang berlaku adalah “di balik bangsa yang maju terdapat iptek yang maju.” Dalam pendekatan ini, jiwa yang sehat merupakan faktor intrinsik yang diperlukan untuk menyehatkan badan.

Pak Kus juga memaparkan bagaimana lintasan inovasi yang ditempuh oleh AS dan China dengan melihatnya berdasarkan empat variable yang diwakili empat sumbu yaitu Tarikan pasar, kepentingan swasta, dorongan kebijakan, serta misi negara.

Penjelasan tentang itu sangat menarik dan membuka mata saya mengenai hubungan-hubungan antara elemen akademisi (A), bisnis dan industi (B), serta pemerintah (G). Dari dulu, Pak Kus memang selalu mengkampanyekan kerja sama ABG ini. Terima kasih Pak Kus.

21 Juli 2009

Business as usual pascateror

“Sapa to ya yang main-main mercon saat long week end begini. Apa ada kaitan dengan pemilu?? Apa mercon itu akan menaikkan bunga KPR?”

Itulah yang pertama-tama terlintas dalam pikiran ketika saya mendengar informasi adanya bom yang meledak di Ritz-Carlton dan JW Marriot, Jakarta. Ketika itu saya sedang dalam bus yang melaju dari Cibinong ke Bandung.

Bagi saya, bom kali ini memang terasa lebih menyebalkan dibandingkan dengan bom-bom sebelumnya. Mungkin karena sekarang saya lebih mendambakan stabilitas ekonomi karena pengen mengajukan KPR ke bank, hehehe.

Entah apa pun alasannya, saya jadi lebih banyak berpikir tentang teror kali ini dibandingkan dengan teror-teror sebelumnya. Dan saya kira bangsa ini (melalui pemerintah) harus melakukan pendekatan yang sama sekali baru, sama sekali berbeda, dalam menghadapi teror. Sudah terbukti bahwa pendekatan konvensional yang dilakukan selama hampir satu dekade ini tidak berhasil.

***
Hemat saya, cara melawan teror yang paling gampang adalah mengabaikannya. Lakukan semua hal seperti rencana semula sebelum ada teror. Business as usual. Bahkan minimalkan berita atau info apa pun yang terkait teror. Maka teror itu kehilangan pengaruh.

Bukankah peneror itu mengikuti rumus "membelanjakan sedikit dan mengharapkan banyak perhatian". Jadi, harus ditekankan bahwa kita tidak akan memberikan "perhatian" kepada orang-orang yang butuh perhatian (aleman, ngalem) seperti itu.
Dalam soal terror yang berlaku justru: too much information will kill you. Makin banyak informasi akan membuat orang makin takut. Jadi, negara perlu meminimalkan dampak teror dengan meminimalkan informasi yang justru menakutkan. Ganti semua dengan pernyataan optimistik.

Saya kira orang-orang intelijen, militer, pemasaran, ahli psikologi massa (atau psikologi sosial) perlu merumuskan metode non-konvensional untuk melawan peneror. Lupakan metode-metode konvensional yang mudah ditebak para peneror.

Kita butuh cara-cara baru, cara-cara segar yang belum pernah dicoba di Indonesia dalam menghadapi teror. Cara-cara lama boleh sebagai cover saja. Cara baru harus ada.
Contoh cara lama adalah memeriksa semua tamu hotel dan bandara secara detil. Pemeriksaan seperti ini tidak akan tahan lama. Penerapannya pasti membuat macet di mana-mana. Banyak sekali dampak ikutannya.

Cara ini juga saya kira tidak disukai pebisnis hotel dan semacamnya yang mengutamakan layanan dan kenyamanan pelanggan. Yang menanggung biaya ikutannya bukan negara, tapi masyarakat. Akan ada ekonomi biaya tinggi karena banyak orang habis waktu, tenaga, dan biaya.

***
Kalau saya jadi Presiden atau pejabat yang memiliki otoritas tinggi, maka saya akan panggil para pejabat terkait dan meminta mereka hanya mengeluarkan pernyataan optimistik. Dalam setiap peristiwa politik besar selalu ada yang melambung dan terpelanting. Saya tidak akan memberi tempat kepada pejabat mana pun untuk mengambil keuntungan dari perkembangan informasi dan penanganan teror ini.

Saya akan panggil para pemimpin redaksi dan pemilik media massa, terutama televisi. Saya akan minta mereka meminimalkan berita-berita dan analisis yang tidak perlu. Makin banyak informasi, makin banyak pertanyaan orang. Dan semua itu sulit dijawab. Maka muncullah rasa khawatir. Jadi, abaikan teror seolah-olah tidak ada. Yang dimuat hanya pernyataan optimistik.

Saya akan minta semua pihak yang terkait public tetap menjalankan rencana seperti sebelum ada teror. Jangan ubah rencana yang sudah lama disusun. Dengan begitu para peneror akan kehilangan pengaruh. Yang boleh berubah rencana hanyalah pihak-pihak terkait keamanan.

Penerapan single identity number atau pengawasan melekat dan semacamnya saya kira tidak efektif dan justru berbahaya. Sebab, jika negara punya otoritas sangat besar dalam mengontrol warga, bisa terjadi penyelahgunaan kekuasaan sewaktu-waktu.
Belum lama ini kita dengar di koran, konon ketua komisi yang sangat berkuasa memerintahkan penyadapan kepada orang yang tidak terkait korupsi. Kalau suatu saat ada pemimpin yang agak fasis berkuasa ketika negara punya kemampuan kontrol yang tinggi, maka warga bisa berada dalam bahaya.

***
Saya usulkan pendekatan yang sama sekali baru. Benar-benar baru. Akan tetapi saya sendiri belum punya gambaran konkret mengenai pendekatan baru itu. Tapi saya yakin dalam teori-teori psikologi massa, hal-hal semacam itu sudah ada penjelasannya. Wallahu alam.

PS:
Dalam setiap pemboman selalu populer istilah "orang tidak berdosa". Bagi saya yang ndeso dan berpikir linier, istilah ini membingungkan, bertentangan dengan pemahaman keagamaan saya. Setahu saya semua orang, selain nabi yang maksum, pasti berdosa.

Mengapa tidak disebut sebagai orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam konflik? Mungkin memang repot, apalagi, menurut pelajaran PMP jaman dulu, ada pendekatan keamanan semesta sehingga semua bisa menjadi lawan atau kawan. Semua yang dalam semesta menjadi terlibat konflik. Ah, embuhlah adanya…

20 Juli 2009

Kecilnya manusia, besarnya semesta, agungnya Pencipta


Menjelang libur Isra’ Mi’raj saya mendapat kesempatan untuk membaca-baca buku ‘Menjelajahi Tata Surya’ karya A. Gunawan Admiranto. Sebenarnya ini buku istri saya. Kebetulan penulis buku ini bekerja sebagai peneliti matahari dan astronomi di Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), sekantor dengan istri saya.

Buku setebal 302 halaman terbitan Kanisius ini sangat enak dibaca. Bahasanya ringan dan renyah. Cara pemaparannya mudah sekali dimengerti. Memang ada cukup banyak istilah matematika maupun fisika (serta astronomi) yang dipakai di sana. Akan tetapi saya kira asalkan kita pernah belajar dasar-dasar fisika dan astronomi dengan baik di masa SMA akan bisa mengikuti paparan buku ini dengan baik.

Saya menemukan banyak fakta-fakta mengejutkan yang digambarkan dengan sangat indah dalam buku ini. Sebagian di antaranya, seperti suhu inti matahari, sudah sering kita dengar. Akan tetapi penulis buku ini memberikan gambaran yang lebih mudah dicerna mengenai apa arti suhu sekian juta derajat celcius itu. Banyak juga fakta menarik mengenai massa jenis Saturnus dkk yang lebih rendah dibandingkan dengan massa jenis air.

Kutipan bebas atas beberapa hal menarik saya tulis di bawah ini.

“Andaikan Anda sedang mengendarai pasawat ruang angkasa melewati sebuah planet besar yang warna-warni lalu ingin mampir ke planet itu. Anda turun menembus atmosfernya dengan harapan dapat menemukan tempat yang tepat untuk pendaratan. Anda bergerak turun, terus turun, turun terus, tetapi tidak pernah menemukan tempat untuk mendaratkan pesawat.
Saat Anda menyadari hal itu, Anda sudah jauh menembus atmosfernya atau bahkan mungkin sudah “masuk” ke dalam planet itu. Begitulah situasi yang akan Anda alami jika mampir ke Yupiter, planet terbesar dalam tata surya kita. Ini terjadi karena kerapatan Yupiter yang renggang. Kerapatan Yupiter hanya 1,33 gram per cm kubik, jauh lebih rendah dibandingkan bumi yang 5,5 gram per cm kubik.
Begitu besarnya ukuran Yupiter sehingga kita bisa memasukkan 1.300 benda seukuran Bumi ke dalamnya. Yupiter memiliki massa 318 kali massa bumi atau setara dengan 2/3 massa tata surya di luar Matahari.”

“Merkurius, Venus dan Bumi memiliki massa jenis besar. Massa jenis Bumi sekitar 5x massa jenis air. Adapun Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus memiliki massa jenis rendah. Bahkan, Saturnus bisa mengambang di atas air kalau dicemplungkan ke kolam super besar.”

“Inti matahari bertemperatur 16 juta derajat Celcuis. Menurut George Gamow, jika sebuah ujung jarum memiliki panas setinggi itu maka daerah di sekitarnya akan ikut terbakar hingga radius 100 km.”

“Komet Halley memiliki massa 10 pangkat 16 kilogram. Setiap lewat dekat Matahari, komet ini kehilangan sekitar 100 triliun kilogram massa akibat hembusan angin surya.”

“Ekor sebuah komet bisa mencapai panjang 150 juta km sehingga komet dapat menjadi benda terbesar yang ada di tata surya kita.”

“Tata surya didominasi oleh Matahari karena massa seluruh planet hanya 0,0014 kali massa matahari. Konon, ditinjau dari fisika bintang, matahari tidak banyak memiliki aspek yg dpt menarik perhatian ahli astronomi penghuni bintang lain (kalau penghuni itu ada).”

“Ternyata, sejauh ini, tidak ada satu pun sistem keplanetan yang konfigurasinya mirip dengan tata surya kita. Setiap sistem keplanetan itu bersifat unik.”

16 Juli 2009

Empat kelompok dalam kabinet


Di tengah gencarnya rumors mengenai kabinet jilid-2 SBY, ingatan ini melayang pada apa yang saya tuliskan pada halaman belakang diary pada 1994. Lima belas tahun yang lalu, saya menulis pada halaman belakang buku “Inilah Jalanku” kalimat yang berbunyi “Akhirnya Jadi Presiden.”

Kala itu, saya memang terobsesi untuk menjadi seorang presiden. Maka, saat ini saya mencoba membayangkan seandainya diri ini menjadi seorang Presiden dan sedang menyusun sebuah kabinet.

***
Jika berhasil menjadi Kepala Negara yang dipilih secara langsung oleh rakyat dengan dukungan sejumlah partai politik, maka susunan kabinet yang akan saya bangun kira-kira terdiri atas empat kelompok

Empat kelompok itu meliputi kelompok teman dekat, kelompok garansi partai, kelompok garansi teman, serta kelompok experimental.

Kelompok teman dekat akan mewakili seperempat atau maksimal sepertiga dari isi kabinet. Posisi kunci yang akan menentukan “nasib” pemerintahan akan saya isi dengan teman dekat yang benar-benar tepercaya. Termasuk dalam posisi itu adalah seluruh menko atau menteri utama.

Adapun kelompok garansi partai sudah banyak dibahas di media massa. Pada intinya, ini merupakan semacam kompensasi atas dukungan partai yang telah diberikan selama masa pencalonan maupun selama pemerintahan berjalan. Secara keseluruhan, kelompok ini akan mewakili seperampat dari jumlah menteri. Sebagian memimpin departemen, dan sebagian lagi menteri negara.

Posisi untuk kelompok ini adalah departemen atau kementerian yang relatif rumit namun tidak menentukan “nasib” pemerintahan secara keseluruhan. Dengan demikian saya tetap bisa menjaga posisi aman jika partai melakukan maneuver-manuver yang tidak sejalan dengan target saya, misalnya ketika saya harus mengambil keputusan yang tidak populer. Saya tidak ingin memelihara “anak macan”.

***
Kelompok garansi teman adalah posisi yang akan saya isi dengan para professional di bidangnya. Sebagai manusia biasa, sudah barang tentu saya tidak mengenal semua ahli yang menonjol di berbagai bidang sehingga perlu penghubung dan penjamin para ahli yang akan saya tempatkan dalam kabinet. Ada ribuan doktor, belasan ribu master, serta puluhan ribu sarjana di negeri ini. Ada ratusan atau ribuan manusia unggul yang mungkin tepat untuk mengisi kursi departemen atau kementerian.

Dalam teori mengenai keterpisahan, konon, jarak antara satu manusia dengan seluruh manusia lain hanya terpaut maksimum enam langkah. Dalam lingkup kaum professional dan intelektual yang terbatas dan berpotensi masuk dalam kabinet, jarak maksimal saya perkirakan sekitar tiga atau empat penghubung. Kalau saya bisa minta garansi teman atas temannya teman, maka setidaknya saya bisa menjangkau sepersepuluh dari kaum intelektual berpotensi. Artinya, mungkin saya menjangkau 30% atau 50% dari seluruh orang yang berpotensi masuk kabinet.

Saya ingin meniru cerita tentang Pak SBY yang konon waktu memilih salah satu Menteri Perhubungan meminta pendapat dan garansi dari mantan presiden Habibie. Saya kira ini salah satu cara yang baik sekali dalam menyeleksi calon menteri yang secara personal tidak saya kenal langsung. Saya ingin memilih outliers di lini masing-masing dengan cara yang tepat dan tidak meleset. Kaum outliers akan mewakili seperempat hingga sepertiga posisi kabinet.

Berhubung saya sudah membaca buku Blink karya Malcolm Gladwell, saya sudah belajar untuk tidak mudah terpesona pada kesan pertama, namun juga tidak terkecoh pada tampilan luar yang kurang meyakinkan atas siapa-siapa yang sempat diusulkan untuk duduk dalam kabinet.

Kelompok keempat adalah kelompok eksperimental. Saya sebut demikian karena saya akan membuat sejumlah terobosan mengenai jabatan-jabatan baru dalam struktur organisasi pemerintahan. Ini berguna untuk menampung bermacam-macam ide liar yang saya dapatkan dari buku-buku, Internet, dan lintasan-lintasan pemikiran, yang barangkali banyak gunanya di masa depan. Porsi untuk kursi ini adalah 15%-20%. Ini saya umpamakan seperti CSR (country social responsibility) atau USO (universal service obligation) dalam volume yang besar.

Posisi ini juga berguna untuk menampung inovasi-inovasi baru serta kemungkinan-kemungkinan baru yang diadopsi dari negara lain. Pada posisi ini akan ditempatkan orang-orang muda yang paling inovatif dan kreatif. Syukur-syukur kalau posisi ini juga dapat digunakan untuk mengakomodasi partai politik pendukung.

***
Prinsip-prinsip yang akan saya pegang dalam menyusun kabinet adalah akomodasi, revitalisasi, regenerasi, dan reorientasi.

Akomodasi akan diwakili oleh kelompok partai, revitalisasi diwakili oleh kelompok garansi teman alias para professional. Regenerasi bisa diwakili oleh semua kelompok, sedangkan reorientasi diwakili oleh kelompok eksperimental.

Saya tidak mau disetir oleh rumors, namun sebagai orang yang pernah bekerja di media massa, saya akan melakukan uji publik melalui media massa. Saya juga akan mengoptimalkan fungsi jejaring sosial dan blog (ataupun blogger) dalam melakukan uji publik.

Publik akan saya biarkan untuk tahu persis calon menteri pada beberapa posisi. Namun saya akan menjaga penuh rahasia pada sebagian besar posisi sampai pada hari H pengumuman susunan kabinet.

Saya punya cukup banyak waktu untuk menyusun kabinet, jadi tidak perlu terburu-buru seperti Pak Habibie sewaktu membuat kabinet sebelas tahun yang lalu. Saya juga tidak ingin meniru cabinet 100 menteri seperti zaman Orde Lama.

14 Juli 2009

Kembali ke sepeda


Senin pagi saya membeli sepeda bekas di Jl Malabar, dekat pasar Kosambi, Bandung. Sepeda bekas dengan bentuk yang dulu saya kenal sebagai sepeda jenki itu saya beli seharga Rp250.000. Ini bisa disebut sebagai sepeda perempuan dengan keranjang di depan, boncengan di belakang, andang yang rendah, bentuk yang feminin.

Saya coba menggowesnya dari Kosambi hingga Gunungbatu melalui jalan Jawa, BIP, Wastukencana, Pasteur, Djundjunan, Sukaraja. Alhamdulillah, ternyata kaki ini tidak merasa pegal sama sekali.

Ini merupakan sepeda keempat di rumahku. Selain sepeda anak-anak untuk Sekar, ada tiga sepeda lain. Satu di antaranya di Gunungputri. Sepeda terakhir ini saya beli dengan harga yang lebih murah dibandingkan sepeda dengan bentuk sama yang saya beli di tempat yang sama beberapa bulan lalu.

***
Bagi saya, sepeda adalah kendaraan paling natural. Saya mengenalnya sejak kecil, melebih segala jenis kendaraan lain. Jadi, saya merasa mengenalnya benar-benar secara alamiah. Hal yang sangat berbeda dengan pengenalanku terhadap mobil maupun motor, apalagi pesawat terbang.

Konon, 200 tahun yang lalu, ketika pertama kali ditemukan, sepeda adalah kendaraan yang cukup berbahaya. Perbandingan roda depan dan belakang yang aneh, kemudi yang belum sebagus sekarang, serta rem dan rantai yang belum canggih, membutnya menjadi kendaraan yang hanya dapat dinaiki oleh sangat sedikit orang.

Penambahan berbagai system kendali membuatnya menjadi kendaraan personal yang nyaman, menyehatkan, aman, serta bebas polusi.

07 Juli 2009

Pepsi dan presiden tampan Warren Harding

(bagian ketiga review buku Blink)

Harry Daugherty, seorang politisi kawakan yang pintar menilai peluang politik, suatu ketika bertemu dengan Warren Harding. Harding, ketika itu, adalah pria berusia 35 tahun, seorang redaktur pada surat kabar kecil di kota kecil Marion, Ohio.

Daugherty mengamati Harding dan dalam sekejab terpesona dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat Harding sebagai sosok yang layak diorbitkan ke panggung politik.

Harding yang tampan dan gagah itu bukanlah orang yang sangat cerdas. Dia gemar main poker, golf, minum-minum sampai mabok, dan hampir selalu memanfaatkan kelebihannya untuk merayu perempuan. Selama menjalankan karir politik, dia sama sekali tidak pernah sengaja menonjolkan diri. Dia peragu dan plin plan dalam hal-hal menyangkut kebijakan. Pidato-pidatonya, kelak digambarkan sebagai "serangkaian ungkapan kosong yang baru sampai tahap mencari gagasan."

Pada 1914 dia terpilih menjadi anggota senat, lalu pada 1920 dia terpilih menjadi presiden AS. Komentar yang sering muncul terhadap Harding sebelum dia terkenal adalah: "Lihat, tampangnya seperti senator" "Bukankah penampilannya mirip seorang calon presiden?"

Menurut buku Blink karya Malcoml Gladwell, sebagian besar sejarawan setuju bahwa Warren Harding adalah salah satu presiden sangat buruk dalam sejarah AS.

Gladwell berpendapat kesalahan bangsa Amerika sampai memilih Warren Harding sebagai presiden merupakan sisi gelap dari pemahaman cepat (rapid cognition). Pangkalnya sebagian besar adalah prasangka dan diskriminasi. Prasangka bahwa orang yang tepat menjadi pemimpin negeri haruslah sosok yang gagah, tampan, berbadan proporsional, dan seterusnya.

***
Kasus kesalaham memaknai kesan pertama sering juga terjadi pada para penjual yang kurang berpengalaman. Dalam penjualan mobil, orang yang berpenampilan petani dengan pakaian lusuh seringkali diabaikan. Padahal orang seperti ini justru mampu membeli kendaraan secara cash. Seorang anak muda yang datang siang hari dengan gaya tidak meyakinkan, ternyata malam harinya datang bersama orangtuanya untuk membeli sebuah mobil. Dan seorang gadis yang tampak centil ternyata adalah orang yang ditunjuk oleh keluarganya untuk memilih mobil keluarga yang tepat.

Dalam sebuah penelitian di Chicago terungkap bahwa para penjual mobil cenderung menawarkan harga yang lebih tinggi terhadap pembeli wanita dan pembeli kulit hitam. Alasannya, ada prasangka bahwa pembeli semacam itulah yang lebih mudah dibodohi.

Gladwell menyimpulkan bahwa para pemberi suara dalam pemilu 1920 di AS tidak mengira bahwa mereka "dibodohi" oleh ketampanan Warren Harding, sama seperti para penjual mobil di Chicago tidak sadar telah melakukan kejahatan karena berusaha "membodohi" para pembeli perempuan dan kulit hitam.

***
Gladwell dengan pintar sekali memberikan banyak sekali contoh ketika snap judgement serta rapid cognition berpeluang salah. Dalam kasus riset pemasaran, hal ini telah membawa korban perusahaan besar.

Coke dari Coca Cola merupakan minuman ringan paling populer di AS ketika Pepsi berusaha merebut pangsa pasarnya. Pepsi meluncurkan strategi pemasaran melalui apa yang disebut sebagai Tantangan Pepsi. Mereka menantang masyarakat untuk mencicipi produk minuman ringan dan menentukan mana yang lebih enak. Dalam sebagian besar testimoni terbukti bahwa Pepsi lebih disukai daripada Coke.

Pangsa pasar Pepsi meningkat. Hal ini menggelisahkan Coca cola. Bahkan dalam uji cicip yang sama yang dilakukan Coca cola, peserta memang cenderung memilih Pepsi. Maka Coca cola bekerja keras berusaha menemukan formula baru, resep baru, yang kemudian diberi nama New Coke

Ternyata produk baru ini justru membuat Coca cola semakin terpuruk. New Coke tidak disukai pelanggannya. Hal ini memaksa Coca cola kembali ke resep lama dengan label Classic Coke.

***
Menurut Gladwell, apa yang dialami oleh Coca cola menunjukkan respons yang keliru dalam memahami snap judgement. Pada kenyataannya, orang memang lebih senang dengan Pepsi ketika mencicipi. Akan tetapi, mencicipi tidak sama dengan meminum satu botol sampai tuntas. Apalagi meminumnya sehari-hari di rumah.

Uji cicip ini, menurut Gladwell, baru akan mencerminkan respons yang tepat jika pencicip diberi sekerat minum dan diminta membawa pulang, lalu baru diminta mengisi kuisioner setelah satu kerat itu habis.

Hal yang mestinya dilakukan Coca cola ketika menanggapi Tantangan Pepsi bukanlah mengubah resep, melainkan menciptakan srategi kampanye pemasaran lain yang bisa menangkal sistem cicip ala Pepsi itu.

***
Kasus lain di mana kesan pertama telah "menipu" adalah kasus produk kursi Herman Miller. Herman Miller berusaha menciptakan kursi yang ergonimis dengan desain yang sama sekali baru. Akan tetapi hasilnya adalah produk yang bertentangan sama sekali dengan stereotipe mengenai kursi nyaman yang ada dalam masyarakat AS seperti empuk, menggunakan busa, tebal, dan sebagainya.

Dalam berbagai uji pemasaran, produk ini selalu mendapat nilai jeblok. Penyebabnya, orang yang diuji tidak bisa membedakan mana yang disebut sebagai jelek dan mana yang disebut aneh. Apalagi kuisioner yang disedikan umumnya juga tidak menampung ungkapan "aneh". Ketika orang melihat desain yang aneh, ketika dituntut menjelaskan, maka yang keluar kemudian adalah kesimpulan bahwa produk itu jelek.

Gladwell mengajak kita berhati-hati dalam memaknai kesan pertama. Dalam banyak kasus, orang tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya pada kesan pertama, sama dengan kenyataan bahwa orang tidak bisa menggambarkan wajah orang lain semata-mata dari kata-kata. Jadi, ketika meminta mereka menjelaskan alasan di balik snap judgement, peluang terjadi kesalahan sangatlah besar.

***
Kembali ke kasus Warren Harding yang sangat relevan dengan pemilihan Presiden di Indonesia. Saya berpendapat bahwa "prasangka", "stereotip", "kesan" masih akan sangat menentukan hasil pemilu di Indonesia.

Prasangka suku ini suku itu, sosok yang seperti ini, kesantunan, kerendahatian, gaya yang pas atau tidak pas ketika berbicara, masih sangat menentukan bagi kebanyakan pemilih.

Mungkin ketika menimbang-nimbang, orang cenderung pada pilihan X yang agak radikal, menawarkan debirokratisasi, dan sebagainya. Akan tetapi, sampai bilik suara, kembali ke alam bawah sadar yang sangat dipengaruhi prasangka dan stereotip. Hehehehe. Wallahu alam.

Gambar: northvalleymagazine.com

03 Juli 2009

Dari Soros hingga nikah tanpa pacaran

(Bagian kedua dari review buku Blink)

Putra pemodal superkaya George Soros bercerita tentang cara ayahnya mengambil keputusan. “Ayah saya bisa duduk dan memberi Anda teori-teori untuk menerangkan mengapa dia berbuat begini dan begitu. Namun saya berpikir setidak-tidaknya separuh dari penjelasanya adalah konyol. Maksud saya, keputusan-keputusannya untuk menjual atau membeli saham adalah karena punggungnya tiba-tiba nyeri sekali. Dia betul-betul mengalami kejang, dan baginya ini sebuah peringatan dini.”

Ini merupakan salah satu penjelasan mengapa George Soros begitu hebat dalam pekerjaannya. Dia orang yang sadar tentang hasil-hasil pemikiran bawah sadarnya. Akan tetapi, di sisi lain, jika kita menanamkan uang bersama Soros, pasti akan selalu was-was kalau penjelasan yang diberikannya tentang pengambilan keputusannya adalah karena rasa nyeri di punggung.

Hal di atas menggambarkan banyak hal bawah sadar yang sulit dijelaskan oleh orang yang mengalaminya. Demikianlah yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell dalam buku Blink pada bab mengenai Pintu yang terkunci. Intinya, kita perlu menghormati kenyataan bahwa kita bisa mengetahui sesuatu tanpa tahu mengapa kita tahu dan menerima bahwa kita kadang-kadang lebih baik membiarkannya demikian.

Hal yang mirip itu juga dialami oleh pakar benda seni Bernard Berenson. Dia tidak bisa merumuskan bagaimana dia dapat melihat cacat kecil atau kelainan kecil yang menunjukkan bahwa karya itu palsu. Bahkan, dalam suatu persidangan, dia hanya mengatakan bahwa perutnya mulas, telinganya berdengung, dan dia merasa sangat tertekan ketika berhadapan dengan benda seni palsu.

Penulis buku Outliers dan Tipping Point itu menjelaskan bahwa kesimpulan sekejab (snap judgement) serta pemahaman cepat (rapid cognition) berlangsung di balik pintu terkunci. Gladwell dalam Blink memberikan penjelasan lebih menarik lagi ketika mengungkapkan apa yang terungkap dalam pencarian jodoh melalui program kencan kilat (speed dating)

***
Dalam sebuah program kencan kilat (atau mungkin lebih tepatnya disebut kenalan kilat), setiap peserta pria diberi kesempatan untuk bertemu dengan peserta wanita dalam waktu enam menit.

Jika dalam enam menit itu seorang wanita atau pria merasa tertarik dia diminta memberi tanda tertentu kepada penyelenggara. Jika si pria memberi tanda tentang seorang wanita dan si wanita juga memberikan tanda tentang si pria, mereka masing-masing diberi alamat e-mail untuk meneruskan proses mereka.

Proses ini pada prinsipnya banyak kemiripan dengan proses pada biro jodoh atau proses pernikahan tanpa pacaran. Hanya teknisnya tentu saja berbeda tergantung sistem nilai pergaualan yang dianut.

Menurut Gladwell, proses kencan kilat atau kenalan kilat yang kian populer itu merupakan penerapan dari kemampuan membuat kesimpulan sekejab dalam memilih pasangan.

Dalam sebuah eksperimen, seorang peserta wanita diminta menuliskan kriteria teman pria yang didambakannya. Dia menulis bahwa yang diharapkannya adalah pria yang cerdas dan tulus.

Akan tetapi, dalam praktiknya, lelaki yang dia pilih ternyata justru yang paling jenaka, sama sekali jauh dari kesan cerdas maupun tulus. Esok harinya, ketika ditanya kenapa memilih orang tersebut, sang wanita menjawab bahwa dia menyukai pria yang menarik dan jenaka. Masalahnya, ketika satu bulan ditanyakan kembali criteria pria macam apa yang dia sukai, sang wanita kembali menjawab bahwa dia suka pria yang cerdas dan tulus.

Tampaknya ini menjadi membingungkan. Dan kasus semacam ini, kasus di mana kriteria logis yang dapat dia jelaskan tidak sesuai dengan kenyataan yang dia pilih, terjadi pada banyak sekali peserta yang diamati.

***

Jadi, lelaki macam apa yang sebenarnya diinginkan oleh si wanita? Pribadi asli yang manakah yang sebenarnya ada pada si perempuan? Apakah pribadi yang mengajukan syarat awal atau pribadi yang menjatuhkan pilihan?

Ada yang berpendapat bahwa pribadi yang asli adalah yang terungkap dalam aksi, bukan ketika berpikir. Gladwell mencoba menjelaskan hal ini. Menurut dia, apa yang diungkapkan si wanita tentang kriteria lelaki idaman tidak salah, hanya kurang lengkap.

Apa yang diungkapkan sebelum acara dan sebulan kemudian adalah gagasan berdasarkan pikiran sadarnya. Itu adalah apa yang diyakininya sebagai keinginannya ketika dia merenung. Masalahnya, dia tidak menyadari adanya preferensi lain yang membentuk alam bawah sadarnya. Uraian mengenai apa yang ada dalam pilihan bawah sadarnya ada dalam pintu tertutup.

Hal yang sama sering terjadi pada orang-orang hebat, orang-orang sangat terkenal, ketika ternyata mereka tidak berhasil menjelaskan dengan jelas tentang pengambilan keputusan sekejab-nya.

Saya kira apa yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell ini penting untuk disimak oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang perjodohan atau mak comblang dari pernikahan tanpa pacaran. (semoga bisa bersambung)

30 Juni 2009

Tahu sedikit bisa berarti banyak



Blink mengungkapkan bahwa orang-orang yang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses informasi paling banyak atau sengaja menghabiskan waktu paling lama. Mereka adalah orang-orang yang telah terlatih untuk menyempurnakan seni membuat cuplikan tipis, menyaring sesedikit mungkin faktor terpenting dari segunung kemungkinan.

***
John Gottman, seorang psikolog yang pernah belajar matematika di MIT, mampu meramalkan apakah sebuah pasangan akan langgeng atau tidak hanya dengan mengamati video komunikasi antara anggota pasangan itu dalam sekejab.

Konon, jika dia sempat mengamati komunikasi sebuah pasangan dalam waktu satu jam, ketepatan ramalan Gottman adalah 95%. Kalau dia mengamati dalam waktu 15 menit, ketepatan ramalannya adalah 90%.

Gottman, dalam buku Blink: Kemampuan berpikir tanpa berpikir karya Malcolm Gladwell, dijadikan contoh bagaimana orang mengembangkan kemampuan pemahaman cepat (rapid cognition) serta cuplikan tipis (thin-slicing).

Cuplikan tipis merujuk pada kemampuan bawah sadar kita untuk menemukan pola-pola dalam situasi-situasi dan perilaku-perilaku berdasarkan pengalaman yang sangat singkat. Menurut eksperimen Gottman, sebuah perkawinan dapat dipahami melalui pengamatan sekilas. Begitu pula banyak situasi yang lain.

Bagi kebanyakan kita, melihat video percakapan sebuah pasangan tidak bisa menghasilkan informasi yang signifikan mengenai bagaimana masa depan hubungan pasangan itu. Kita umumnya memandang perkawinan sebagai hal yang kompleks sehingga butuh waktu pengamatan berminggu-minggu dalam berbagai situasi—bahagia, lelah, marah, tersinggung, tertekan, dan sebagainya—untuk memahami pasangan itu. Begitupun kesimpulan kita terhadap banyak hal lain.

***
Gottman yang menulis buku Mathematics of Divorce mengembangkan semacam teori matematis untuk menghitung potensi perceraian melalui pengamatan atas cara komunikasi pasangan yang direkam dalam video.

Dia mengembangkan sistem pengkodean yang menggambarkan emosi sesorang terhadap pasanganya. Misalnya, dia memberi nilai untuk rasa jijik dengan 1, merendahkan 2, marah 7, defensive 10, dan seterusnya.

Secara garis besar ada empat hal yang dapat diamati sebagai penentu ketidaklanggengan pasangan. Keempatnya adalah sikap defensive (defensiveness), tidak menjawab atau asal menjawab (stonewalling), sikap mencela (criticism), serta sikap merendahkan (contempt). Sikap keempat, merendahkan, adalah yang paling menentukan. Jika Gottman menangkap ada sikap merendahkan atau jijik dalam komunikasi itu, sudah cukup baginya untuk menyimpulkan adanya masalah.

Perempuan umumnya mudah mencela, sedangkan pria lebih sering asal menjawab. Adapun mengenai merendahkan tidak ada preferensi gendernya. Malcolm Gladwell dalam buku Blink memberikan penjelasan cukup panjang dan menarik mengenai teori yang dikembangkan oleh Gottman dalam mengamati cara komunikasi pasangan. Bagian ini sangat menarik.


***
Pada dasarnya Blink adalah buku mengenai dua detik pertama yang paling menentukan ketika kita mengamati sesuatu. Dua detik yang memberikan pemahaman dalam sekejab karena kemampuan bawah sadar.

Inilah yang disebut oleh Gladwell sebagai “kemampuan berpikir tanpa berpikir”. Keputusan sekejab ini didapat dari informasi yang sedikit namun akurat melalui snap judgment dan thin slicing.

Blink mengungkapkan bahwa orang-orang yang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses informasi paling banyak atau sengaja menghabiskan waktu paling lama. Mereka adalah orang-orang yang telah terlatih untuk menyempurnakan seni membuat cuplikan tipis, menyaring sesedikit mungkin faktor terpenting dari segunung kemungkinan.

Blink menyatakan bahwa kemampuan membuat cuplikan tipis bukanlah bakat yang langka. Kita melakukan cuplikan tipis setiap kali berjumpa dengan orang baru, atau harus memahami sesuatu dengan cepat, atau harus berhadapan dengan situasi baru.

Kita melakukan cuplikan tipis karena seharusnya demikian. Dan kita akan mengandalkan kemampuan tersebut karena banyak sekali informasi tersirat di dalamnya. Perhatian yang cermat dan rinci terhadap cuplikan setipis apa pun, bahkan yang tidak lebih dari satua atau dua detik, dapat berbicara banyak sekali.

***
Belum lama ini sekelomok psikolog meneliti lagi uji prediksi perceraian Gottman. Mereka meminjam sejumlah rekaman video Gottman dan menunjukkan rekaman itu ke kalangan yang bukan pakar.

Tapi, kali ini, mereka memberikan sedikit bantuan. Mereka memberikan semacam daftar emosi yang harus dicari. Mereka memecah-mecah rekaman menjadi semacam potongan sepanjang tiga puluh detik dan memperbolehkan setiap pemeriksa menonton dua kali, pertama untuk memusatkan perhatian pada pria dan kedua untuk memberikan perhatian pada wanita.

Lalu apa yang terjadi? Kali ini para pemeriksa mampu menebak mana pasangan yang sukses dalam perkawinan dengan ketepatan di atas 80%. Itu belum sehebat kemampuan Gottman. Namun, menurut Gladwell, hasil itu sangat mengesankan dan bukan suatu kebetulan. Dia menyimpulkan bahwa kita sebenarnya tidak asing dengan seni cuplikan tipis itu.

Gladwell dalam Blink menyimpulkan bahwa demikianlah cara kerja bawah sadar kita. Ketika kita tiba-tiba mengambil keputusan atau mendapatkan firasat tertentu, bawah sadar kita bekerja seperti yang dimaksudkan oleh Gottman.

Sistem itu menyaring situasi yang kita hadapi, mengabaikan banyak hal yang tidak penting, kemudian memustakan pada inti masalah. Dan sesungguhnya bawah sadar kita piawai sekali melakukan perkara ini. Sampai-sampai, metode cuplikan tipis sering bisa menghadirkan jawaban lebih baik ketimbang melalui proses berpikir yang lama dan melelahkan.

Wallahu alam. (semoga bisa bersambung)

28 Juni 2009

Perumahan di sisi barat kota Bandung


Saya tulis sedikit pengalaman ini, barangkali berguna untuk mereka yang sedang mencari rumah di kawasan barat Kota Bandung. Selama beberapa bulan terakhir ini saya memang mencermati rumah-rumah yang sedekat mungkin dengan pintu tol Pasteur akan tetapi dengan harga yang tetap terjangkau.

Saya membagi kawasan pengamatan secara umum menjadi dua. Pertama adalah daerah ‘gunung’ yang berhawa sejuk dengan kontur naik turun dan dekat tempat wisata. Wilayah ‘gunung’ ini meliputi Cihanjuang, Cipageran, Cimahi bagian utara, Sariwangi, dan sekitarnya.

Wilayah kedua adalah ‘kota’ yang relatif ramai, padat penduduk, banyak orang berjualan bermacam produk, dekat gerbang tol, dekat ITB. Wilayah yang saya maksud berada di sekitar Jalan Dakota, Jalan Mentor, Cimindi, Kebon Kopi, sisi belakang IPTN, dan sekitarnya.

***
Setelah ditinjau lagi, Cipageran tampaknya terlalu jauh. Jarak perumahan di sana bisa lebih dari 15 kilometer dari gerbang tol Pasteur, padahal sudah menerobos lewat Gunungbatu-Cimindi. Angkutan umum-nya juga tidak sebagus daerah lainnya. Jadi Cipageran dikeluarkan dari daftar.

Kawasan yang paling menarik adalah Cihanjuang. Cihanjuang sedang tumbuh pesat. Ujung depan jalan Cihanjuang berjarak 5 km dari pintu tol Pasteur kalau ditempuh lewat Gunungbatu-Cimindi.

Angkot menyusuri jalan Cihanjuang ada sampai sekitar jam 21.00. Minggu lalu saya mencoba pulang dari arah Cihanjuang jam 20.00 dan tidak mengalami kesulitan mendapatkan angkot.

Daerah ini konon lebih mudah diakses dengan angkutan umum dibandingkan Sariwangi-Ciwaruga yang sudah lebih dahulu tumbuh dan harga jual rumahnya sekarang gila-gilaan. Di Jalan Cihanjuang ada Kebun Strawberry yang jaraknya 8 km dari gerbang tol Pasteur.

***
Di Cihanjuang ada perumahan Artabaha (di jalan Artabahana). Unit yang tersisa tinggal beberapa kapling. Yang paling menarik dari perumahan ini adalah pembeli bisa memilih desain sendiri. Bahkan ukurannya pun bisa diubah. Misalnya, ukuran standar untuk tanah 120 meter adalah rumah tipe 60. Kita bisa nego menjadi tipe 50 dengan harga yang lebih murah. Untuk tipe 50/120 harganya sekitar Rp200 juta.

Perumahan di sini setahu saya termasuk paling murah dibandingkan dengan perumahan lain di sekitar Cihanjuang. Komplek berisi kurang dari 40 rumah ini bersebelahan dengan Perumahan Bumi Sariwangi yang terkenal itu, bahkan ada jalan tembus yang bisa diterobos dengan jalan kaki.

Konsep di perumahan ini adalah kuldesak, satu kluster dengan satu pintu dan ujungnya tembok jalan buntu. Salah satu masalah di sini adalah jauh dari masjid, dekat kuburan Cibaligo.

Perumahan lain yang juga tumbuh adalah Taman Cihanjuang, sekitar 1 km di sebelah utara Artabahana. Jalan masuk perumahan ini besar dan bagus.

Desain rumah-rumah di bagian depan tampak eksotik kendati kecil-kecil. Tapi harganya lumayan juga. Harga untuk tipe 29/93 adalah Rp171 juta, tipe 80/126 rp356 juta. Kapling yang tersisa adalah bagian belakang, berbatasan dengan Jalan Cisasawi. Posisi perumahan ini ada di sebelah barat Jalan Cihanjuang.

Sedikit lebih atas dari taman Cihanjuang ada Selaras Cihanjuang. Posisinya di sebalah timur Jalan Cihanjuang. Ini ready stock. Konsepnya minimalis dan keren. Ada gerbang di depan. Harganya untuk tipe 45/95 rp227 juta, untuk 60/117 rp292 juta, tipe 37/80 sebesar rp189 juta.

Dekat dengan Taman Cihanjuang ada juga Darul Fikri, dekat dengan SDIT Darul Fikri. Ini salah satu sekolah favorit di daerah itu. Pengembangnya sama dengan Artabahana, jadi harganya tidak terpaut terlalu jauh. Lebih murah daripada Taman Cihanjuang maupun Selaras Cihanjuang.

Masalahnya, jarak dari jalan raya Cihanjuang cukup jauh, capek juga kalau jalan kaki. Kontur tanahnya naik turun jadi kadangkala car port ada di bawah, lantainya ada di atas. Indah dan unik. Tapi butuh keahlian tersendiri untuk mengendalikan kendaraan ketika parkir atau maneuver atau bersimpang jalan.

***
Di Sariwangi ada banyak sekali perumahan yang sedang berkembang. Bumi Sariwangi konon akan membangun tipe-tipe kecil yang dipasarkan dengan kisaran Rp300 juta. Tapi, tanah di sana dihargai Rp2 juta per meter persegi dengan harga bangunan Rp2,75 juta per meter persegi.

Ujung barat Jalan Sariwangi yang bertemu dengan Jalan Cihanjuang berjarak sekitar 8,5 km dari pintu tol Pasteur. Saya belum sempat survey lebih banyak tentang daerah Sariwangi. Tetapi berhubung angkotnya tampaknya tidak semudah Cihanjuang, minat saya terhadap perumahan di sini turun.

***
Pengamata berikutnya di daerah kota. Di sana jarang ada perumahan dengan ukuran besar. Kalaupun ada yang besar, harganya tinggi sekali.

Di sekitar Jalan Dakota--Mentor ada pengembang bernama Kurjati membangun rumah ukuran mungil di daerah-daerah yang semula adalah kebon. Sebagian yang lain merupakan revitalisasi dari bangunan lama.

Pengembang semacam ini menarik sekali. Rumah yang saya kontrak sekarang ini adalah hasil karya Kurjati ini. Sekitar sembilan bulan lalu, ketika kami survey, rumah yang kami tempati ini masih berupa kebon. Sekarang sudah berjajar beberapa rumah.

Spanduk yang terpampang beberapa bulan lalu, spanduk terakhir, mencantumkan harga sekitar Rp117 juta untuk tipe 36/50. Tipe yang agak besar ada pada kisaran Rp150 juta. Bangunan dari Kurjati ini tersebar di berbagai penjuru sepanjang Dakota Mentor. Konon, harga perumahan Kurjati ini naik tiap bulan. Jadi entahlah berapa harga sekarang sebab tidak ada lagi spanduk yang terpampang.

Sayangnya, rumah-rumah itu dibangun di lokasi yang tidak bisa dijangkau mobil. Selain itu, skema pembayaran umumnya cash dan sulit mengakomodasi KPR.

Ada juga pengembang besar yang membangun perumahan eksklusif di daerah ini seperti Armala Pasteur serta beberapa bangunan baru di Mega Asri. Tapi harganya, untuk tipe kecil saja bisa di atas Rp300 juta.

***
Nah, di sela-sela hiruk pikuk itu ada juga perumahan kecil yang nyelip. Namanya Puri Matahari. Lokasinya di Google Earth atau Wikimapia masih berupa sawah. Posisinya persis di sebelah bekas pabrik Kerupuk Galunggung. Bisa masuk mobil baik lewat Dakota, Mentor, Babakan Cianjur, Babakan Radio.

Rumah ready stock di sana aslinya tipe 42 dengan ukuran tanah bervariasi antara 76 meter persegi dan 85 meter persegi. Harganya mulai Rp210 juta hingga Rp230-an juta. Konsepnya juga kuldesak alias jalan buntu. Dan kebetulan posisi perumahan ini juga di ujung Jalan Campaka yang buntu.

Jaraknya dengan garis lurus sekitar 700 meter dari gerbang tol Pasteur. Kalau mengikuti jalan yang bisa dilalui mobil jaraknya bervariasi antara 1,5 km dan 2,5km.
Menurut taksiran saya rumah di Puri Matahari relative murah dibandingkan perumahan lain di deerah itu. Tapi entah mengapa sudah setengah tahun, dari sembilan unit yang dibangun kok sampai dua pekan lalu masih tersisa 4 unit. Mungkin mereka tidak agresif berjualan sebab posisi harganya juga tidak banyak berbeda dibandingkan setengah tahun yang lalu.

Kalau mengamati masih banyak sawah di daerah ini, saya yakin dalam waktu dekat akan banyak bermunculan cluster-cluster kecil dengan sekitar 10 rumah di daerah ini. Wallahu alam.

Gambar: Rumah di Puri Matarahi, Babakan Cianjur, sebelah Bandara Hussein Sastranegara.

11 Juni 2009

Sepeda motor favorit




Sejak pertama kali melihat motor roda tiga di Jepang pada 2007, saya terus berharap motor semacam itu hadir di Indonesia. Di sini memang sudah banyak hadir motor roda tiga, terutama digunakan oleh tukang sayur dan keperluan semacam itu. Akan tetapi, bagi saya, motor roda tiga seperti yang berkembang di sini memiliki banyak kelemahan untuk digunakan keperluan sehari-hari bagi orang yang tidak berdagang. Ukurannya yang terlalu besar dan panjang (sebesar mobil pick up), desainnya yang tidak mungkin dikendarai perempuan, serta merek-nya yang tidak jelas, adalah beberapa di antara kelemahannya.

Saya ingin motor yang kecil, matic, mirip dengan Yamaha Mio atau Honda Vario, namun roda belakangnya ada tiga. Ringan dan kecil, sehingga bisa dipakai pria dan wanita, serta masih layak dibawa ke tempat kerja.

Adanya kaca depan, wiper, serta atap mengurangi risiko terkena angin, panas, serta hujan. Mesin motor membuatnya hemat. Roda tiga membuatnya lebih stabil tanpa harus menurunkan kaki ketika berhenti.

Saya berharap motor roda tiga semacam ini segera masuk ke Indonesia. Bukan motor roda tiga buatan Piaggio yang semahal mobil itu.

Akan tetapi, saya melihat masih ada potensi kendala. Misalnya di Jalan Diponegoro, Jakarta, ada tulisan roda tiga belok dilarang belok kiri. Tampaknya regulasi masih memandang bahwa yang dimaksud roda tiga adalah bemo atau bajaj. Mungkin ini pula yang membuat importir mengalami kendala?

08 Juni 2009

Peran Aturan 150 dalam epidemi sosial

(Bagian ketiga dari review buku Tipping Point)

“Angka 150 tampaknya menyatakan jumlah maksimum individu yang memungkinkan seseorang mempunyai hubungan sosial murni, yakni jenis hubungan yang memungkinkan seseorang saling mengenal dengan baik. Dengan kata lain, ini jumlah orang yang tidak akan membuat Anda merasa kikuk ketika datang ke sebuah pesta tanpa undangan resmi.”

Konon itulah yang mendasari mengapa unit-unit satuan tempur fungsional militer umumnya berisi tidak lebih dari 200 orang. Organisasi sosial yang tumbuh pesat perlu mewaspadai setiap mencapai titik kritis jumlah anggota sekitar 150 orang.

***
Dalam salah satu bagian buku Tipping Point, Malcolm Gladwell menjelaskan mengenai transactive memory. Sebagian besar hapalan sebenarnya berada di luar otak. Kita hanya menyimpan sedikit nomor telepon di otak, sedangkan ratusan nomor lain kita serahkan pengingatannya pada buku catatan atau phonebook atau addressbook. Dalam banyak hal kita saling berbagi tugas pengelolaan informasi dengan orang terdekat.

Sebuah pasangan yang sudah akrab, atau satu keluarga, umumnya cenderung melakukan “pembagian tugas” dalam mengingat sesuatu. Ada hal-hal yang seolah-olah secara otomatis langsung menjadi tugas sang pria untuk mengingat, ada hal lain yang otomatis menjadi tugas wanita untuk mengingat, serta ada hal-hal tertentu yang otomatis menjadi tugas anak remajanya.

Dalam banyak kasus kita bahkan hanya mengingat sedikit sekali rincian. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, kita tahu ke mana harus datang atau bertanya atau minta pertolongan ketika kita membutuhkannya.

Misalnya, seorang ibu mengandalkan anak lelakinya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan problem komputer dan Internet. Si anak juga secara otomatis, seolah-olah mendapatkan tugas untuk menangani setiap infortmasi baru yang terkait dengan computer dan semacamnya. Dia secara otomatis telah ditunjuk untuk menangani hal semacam itu.

Kaum wanita cenderung menjadi pakar dalam hal pengasuhan anak, bahkan dalam masayarakat modern di mana suami maupun istri sama-sama bekerja. Wanita umumnya diandalkan untuk menyimpan informasi seputar anak. “Masing-masing domain ditangani oleh sesedikit mungkin orang dengan kemampuan terbaik di bidangnya.”

Nah, kembali ke angka 150. Konon, pola pembagian mengikuti transactive memory hanya efektif untuk jumlah di bawah 150 orang. Lebih dari itu perlu melibatkan pembagian tugas yang njelimet.

Dalam kaitan dengan epidemi sosial, kata Gladwell, kita dapat meningkatkan secara dramatis penerimaan atas gagasan-gagasan baru dengan cara memanipulasi jumlah individu pada tiap-tiap kelompok sosial. Wallahu alam.

04 Juni 2009

Dorongan kecil memicu epidemi sosial


(Bagian kedua dari review buku Tipping Point)

"Coba perhatikan dunia sekitar Anda. Kelihatannya sulit untuk diubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian. Dengan dorongan seringan-ringannya, asal di tempat yang tepat, apa pun dapat diungkit."

***
Orang ekonomi sering berbicara mengenai hukum 80/20, yaitu gagasan bahwa pada umumnya, 80% "pekerjaan" dilakukan hanya oleh 20% orang yang terlibat. Dalam masyarakat pada umumnya, 80% kejahatan dilakukan oleh 20% penjahat; 80% kecelakaan lalu lintas dilakukan oleh 20% pengendara, 80% kekayaan dikuasai oleh 20% warga, dan seterusnya.

Akan tetapi, ketika berbicara mengenai epidemi, ketidakseimbangan itu semakin ekstrem. Seluruh pekerjaan hanya dilakukan oleh segelintir orang. Itulah yang disebut sebagai hukum tentang yang sedikit (the law of the few). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa epidemi gonore di Colorado yang berpenduduk 100.000 orang dipicu secara dramatis hanya oleh ulah 168 orang di empat kawasan permukiman yang senang berkunjung ke enam bar yang sama.

Epidemi sosial bekerja dengan cara yang sama, yaitu digerakkan oleh upaya dan ulah segelintir orang saja. Gladwell dan Tipping Point mengungkapkan setidaknya ada tiga kelompok penting yang menentukan menjalarnya sebuah epidemi sosial. Mereka adalah para penghubung (the connector), para bijak bestari (the mavens), serta para penjaja (salesmen).

****
Ada sebuah teori yang menyatakan manusia terkait satu dengan yang lain dalam enam tingkat (six degrees of separation). Intinya, kira-kira, kalau saya dan Anda tidak saling kenal dan berada dalam kota yang berbeda maka sangat mungkin bahwa kawan dari kawan dari kawan dari kawan dari kawan saya mengenal Anda. Jumlah penghubung ini bisa lebih pendek dari enam. Hampir semua orang di dunia terhubung dengan cara seperti ini.

Namun dalam enam derajat keterpisahan (atau keterhubungan) ini, ada orang-orang tertentu yang memiliki koneksi jauh lebih banyak dibandingkan yang lain. Mereka lah yang disebut sebagai penghubung, orang-orang dengan bakat khusus yang memungkinkan dunia saling terhubung. Di setiap kalangan selalu ada orang yang dikaruniai bakat luar biasa untuk bergaul dan berkenalan. Mereka lah yang dalam the law of the few bertindak sebagai para penghubung.

Ketika mengungkapkan mengenai keterhubungan ini Malcolm Gladwell menyinggung mengenai kekuatan koneksi lemah (weak ties). Dia menyatakan bahwa dalam mendapatkan informasi baru atau gagasan baru, koneksi lemah selalu lebih penting daripada koneksi kuat.

Koneksi kuat adalah orang yang menghabiskan banyak hidupnya bersama kita seperti teman kantor atau keluarga dekat. Sebagian besar informasi yang mereka ketahui juga sudah kita ketahui. Adapun koneksi lemah, seperti kenalan yang jarang bertemu, sangat mungkin tahu lebih banyak mengenai hal-hal yang tidak kita ketahui. Dalam hal mencari pekerjaan baru dan peluang baru, konon koneksi lemah sering lebih bermanfaat.

***
Selain para penghubung, elemen pemicu epidemi sosial, kata Gladwell, adalah para bijak bestari (the mavens) dan para penjaja (salesmen).

Dalam konteks pemasaran produk, mavens adalah orang-orang yang mempunyai informasi mengenai banyak produk, harga, atau tempat yang berbeda-beda. Mereka tahu banyak sekali mengenai spesifikasi suatu produk, kelebihan dan kekurangannya dibandingkan dengan produk lain, di mana bisa membeli dan mendapatkan produk itu, dan seterusnya. Orang ini senang berbagi informasi dengan konsumen dan menjawab pertanyaan orang-orang lain.

Mavens bukanlah pembujuk, mereka menyebarkan informasi dan menolong tanpa pamrih penjualan. Dalam pandangan saya, di era sekarang ini, banyak blogger atau aktivis mailing list yang bertindak sebagai mavens, mereka memberikan informasi yang sangat detil dan berguna tanpa bermaksud membujuk atau menjual.

Adapun elemen ketiga adalah para penjaja (salesmen). Mereka memang memiliki keahlian khusus dalam menjual, memasarkan ide, gagasan, atau produk.

***
Gladwell menyatakan jika kita ingin memicu sebuah epidemi sosial secara gethok tular (word of mouth), segala sumber daya harus dipusatkan pada tiga kelompok ini (connector, mavens, serta salesmen). Yang lain tidak terlalu penting.

Kemudian, seperti yang saya tulis pada review bagian pertama (kekuatan konteks dalam peidemi gagasan), perlu sekali menempatkan konteks yang benar. Dalam kasus banyak orang tahu terjadinya kejahatan, masing-masing orang tahu bahwa orang lain peduli, tetapi mengira bahwa orang lain pula yang turun tangan.

Tipping Point menegaskan bahwa dengan memanipulasin ukuran kelompok, penerimaan gagasan bisa meningkat drastis. Dengan penyajian informasi yang tepat, kelekatannya dapat meningkat pesat. Dengan memanfaatkan orang yang pergaulannya luas, sebuah epidemi sosial dapat dikembangkan.

Kutipan yang sangat menarik di bagian akhir adalah: "Coba perhatikan dunia sekitar Anda. Kelihatannya sulit untuk diubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian. Dengan dorongan seringan-ringannya, asal di tempat yang tepat, apa pun dapat diungkit."

***
Bagi saya, ide dasar dalam buku ini sangat menarik. Dari dulu saya selalu tertarik untuk belajar mengenai bagaimana penyebaran suatu gagasan terjadi. Sayang sekali, buku yang terbit pada 2007 sebelum Malcolm Gladwell populer di sini dengan buku Outliers dan Blink itu tidak banyak membahas peran alat-alat baru seperti Internet, email, maupun jejaring sosial (semacam Facebook, Friedster) dalam penyebaran gagasan.

Pasti menarik untuk membahas bagaimana Facebook menjadi epidemi (digunakan begitu banyak orang) dan bagaimana perannya sebagai alat merekayasa epidemi yang lain. Facebook berkembang lewat gethok tular dan sekaligus menjadi alat gethok tular.

Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini dicetak dengan kertas tebal yang berat serta ada banyak sekali salah ketik (bahkan di halaman cover belakang ada salah ketik).

Berpuluh-puluh halaman buku ini dihabiskan untuk menjelaskan siaran televisi di AS yang (meskipun sebagian dikenal pula di sini seperti Sesame Street dan Blue's Clues) bagi saya tetap sulit ditangkap konteksnya.

Bagaimana pun, buku ini tetap menarik.

03 Juni 2009

Dhuh Gusti…

Pada dasarnya saya suka lagu-lagu Jawa. Senang sekali ketika sekian tahun lalu saya menemukan semacam nasyid yang full Jawa. Sebenarnya bukan nasyid karena ada musik tradisionalnya. Betul bahwa sejak lama ada nasyid yang mengandung lagu Jawa, tapi tidak full, hanya beberapa lagu. Lagu kutipan seperti Tamba Ati, itu sudah biasa saya dengar sejak kecil lewat masjid di dekat rumah di kampung saya. Jadi tidak lagi menarik.

Nah, lagu-lagu dalam kaset ini benar-benar baru saya kenal. Dan enak sekali. Sayangnya cover kaset lagu Jawa ini sudah hilang. Saya senang karena pengucapannya benar-benar Jawa, tidak dibuat-buat seperti orang Jakarta yang kadang sok Jawa di tivi-tivi itu. Sayangnya lagi, beberapa lagu di sana agak berbau Syiah, terlihat dari penekanan pada Ahlul bait (Katanya, dua hal yang harus dipegang bukan Al-Quran dan As-Sunnah melainkan Al-Quran dan Ahlul bait)

Inilah kutipan lagu yang paling saya sukai

Dhuh Gusti, inkang damel gesang
Dosa kula sapirang-pirang
Taat kula namung arang-arang
Amal ibadah kadang-kadang, mboten karuan

Manah kula taksih pepet
Awak kula taksih ribet
Akal kula taksih cupet
Paringana dalan kang padhang
Ampun tambah dhedhet

Dhuh Gusti, nyuwun pitulungan
Gaman kula namung tangisan
Donga kula namung ketaatan
Pusaka kula mung panyuwunan lan pangarepan

Dadosaken kawula abdi
Ingkang sae nasibipun
Tambah jembar rejekinipun
Tansaya pareg anggene ngabekti dhateng sinuwun

Dhuh Gusti, kula nyuwun ngapura
Saking sedaya dosa
Ingkang ndadosaken mala

Dhuh Gusti, dosa kula sawiyaring segara
Namung ngapura Paduka punika luwih amba

Dhumateng sinten malih
Kajawi dhateng Sinuwun
Gusti Kang Maha Agung
Pangapuranipun

02 Juni 2009

Kekuatan konteks dalam epidemi gagasan


Suatu ketika di New York, seorang peserta kontes kecantikan bernama Ketty Genovese dikejar-kejar oleh para pembunuh bayaran. Dia dianiaya sampai tiga kali di jalanan selama setengah jam, sementara 38 tetangganya menyaksikan kejadian itu dari jendela masing-masing. Tidak seorang pun dari 38 saksi itu mengangkat telepon untuk menghubungi polisi.

Penjelasan paling umum mengenai kejadian semacam ini adalah ketidakpedulian orang kota terhadap tetangganya. Ini cermin dari gaya hidup individualis khas kota besar.

Akan tetapi, ada penjelasan lain yang dapat kita baca dalam buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Mengutip sebuah penelitian, hal semacam ini terkait erat dengan kekuatan konteks: sejauh mana para saksi mengerti konteks kejadian dan memperkirakan tindakan saksi-saksi lain.

Dalam sebuah penelitian, Bibb Latane dan John Darley mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura mengalami epilepsi.

Hasilnya:
1. Apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tidak tahu bahwa ada orang lain di tempat kejadian, peluang orang itu untuk memberikan bantuan adalah 85%.
2. Akan tetapi, jika orang itu tahu ada 4 tetangganya lain yang menurut perkiraannya mendengar gejala serangan epilepsy, peluang untuk menolong turun menjadi 31%

Dalam eksperimen lain, orang yang melihat asap mengepul dari sebuah pintu mempunyai peluang 75% untuk melaporkan kejadian itu ketika dia sendirian. Peluangnya tinggal 38% ketika saksi mata tahu bahwa di sekitarnya ada banyak saksi mata yang lain.

Dengan kata lain, ketika para saksi mata tidak sendirian, tanggung jawab untuk mengambil tindakan menyebar. Masing-masing mengandalkan orang lain untuk mengambil tindakan pertolongan.

Kembali ke kasus Ketty Genovese, psikolog berpendapat kalau saja dia diserang di jalanan sepi dan seseorang menyaksikan atau mendengar kejadian itu, sang gadis mungkin justru mendapat pertolongan.

Dengan kata lain, agar peduli dengan musibah tetangganya, barangkali orang perlu informasi sesedikit mungkin tentang situasi yang sesungguhnya. Informasi yang terlalu banyak, kadangkala justru membuat orang menempatkan diri pada konteks yang tidak tepat.

***
Bagitulah salah satu paparan menarik dari buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Dalam buku ini, Gladwell berupaya menjelaskan bagaimana sebuah gagasan, produk, dan pesan berkembang menjadi epidemi. Epidemi itu bisa berwujud tren fesyen, transformasi buku menjadi sangat laris, meredanya gelombang kejahatan, penyebaran kebiasaan merokok, dan sebagainya.

Penulis buku Outliers itu mencermati ada tiga karakteristis epidemi. Pertama, sifat menular. Kedua, perubahan kecil dapat bermakna besar. Ketiga, perubahan berlangsung dramatis, tidak bertahap.

Semua epidemi memiliki tipping point. Tipping point adalah istilah yang digunakan untuk menyebut massa kritis, saat tercapainya ambang batas atau titik pergolakan dari suatu gagasan, produk, maupun pesan. Fokus dari pembahasan dalam buku ini dalah penyebaran melalui gethok tular atau word of mouth.

Ada tiga kaidah dasar bagi menjalarnya epidemi yaitu hukum tentang yang sedikit, faktor kelekatan, serta kekuatan konteks. Bagian paling awal dalam tulisan ini, cerita mengenai kematian tragis Ketty Genovese, merupakan salah satu uraian dalam menjelaskan peran kekuatan konteks terhadap penerimaan orang atas suatu gagasan. (Mudah-mudahan bisa bersambung)

Mana yang lebih baik

Slogan yang diusung oleh pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) ‘lebih cepat lebih baik’ memang sangat menarik. Dan slogan ini mudah sekali untuk dimodifikasi serta disesuaikan dengan berbagai bidang yang lain. Kalau JK-Win menang, saya yakin slogan semacam ini akan dipakai beramai-ramai oleh bermacam produsen untuk mendongkrak penjualannya. Kalaupun tidak menang, slogan semacam ini masih dapat digunakan juga.

Saya mencoba membuat bermacam-macam varian atas slogan lebih cepat lebih baik itu.

kapitalis: lebih kaya lebih baik;
komunis: lebih kenyang lebih baik;
sosialis: lebih merata lebih baik;
individualis: lebih egois lebih baik;
populis: lebih disukai lebih baik;
darwinis: lebih fit lebih baik;
pluralis: lebih toleran lebih baik;
neoliberalis: lebih bebas lebih baik;
ekonomi kerakyatan-is: lebih banyak kuda lebih baik;
fasis: lebih taat lebih baik;
eksistansialis: lebih absurd lebih baik;
platonis: lebih teoritis lebih baik;
pragmatis: lebih menguntungkan lebih baik;
eksibisionis: lebih megah lebih baik;
kompromis: lebih banyak persamaan lebih baik;
santri-is: lebih taqwa lebih baik;

progressif-is: lebih muda lebih baik;
konservatif-is: lebih kuno lebih baik;
generalis: lebih luas lebih baik;
spesialis: lebih fokus lebih baik;
narsis: lebih bergaya lebih baik;
necis: lebih rapih lebih baik;
Javanese: lebih sopan lebih baik;
turis: lebih indah lebih baik;
selebritis: lebih cakep lebih baik;

sinetron: lebih cantik lebih baik;
dokter: lebih sehat lebih baik;
insinyur: lebih canggih lebih baik;
akuntan: lebih banyak kuitansi lebih baik;
auditor: lebih teliti lebih baik;
binaragawan: lebih kekar lbh baik;
kolumnis: lebih sering dimuat lebih baik;

teh celup: lebih kental lebih baik;
balsem: lebih panas lebih baik;
rumah: lebih besar lbh baik;
company: lebih flexibel lebih baik;
sambal: lebih pedas lebih baik;