Orang baik yang siap menolong dengan upaya sporadis seperti para relawan dan sponsor BIUS itu selalu ada. Akan tetapi, pasti lebih utama jika ada kebijakan yang cerdas dari negara yang baik agar cerita pilu Langan dan Lintang tidak terulang-ulang dengan tokoh yang berganti-ganti.
***
Chris Langan adalah seorang pria dengan IQ 195, lebih tinggi daripada IQ Einstein yang sebesar 150. Akan tetapi, cerita tentang Langan adalah cerita ketidakberuntungan. Orang dengan IQ setinggi itu, tidak tercatat sebagai manusia berprestasi di dunia, bahkan akhirnya berprofesi sebagai tukang pukul dan penjaga sebuah peternakan kuda.
Langan bukan tidak mencoba untuk sukses. Dia gagal mendapatkan kesempatan dan tidak berhasil meraih dukungan yang diperlukan.
Dia berasal dari keluarga broken home yang miskin. Ketika kuliah tingkat kedua, beasiswanya dihentikan karena soal sepele: ibunya lupa mengisi formulir yang diperlukan. Langan mencoba bernegosiasi dengan pihak kampus tapi ditolak, dia drop out.
Tahun berikutnya dia mencoba kuliah di kampus lain sambil bekerja. Langan mencoba memindahkan jam kuliahnya agar bisa mendapat angkutan ke kampus dengan mudah karena dia punya kendala kendaraan. Langan kembali gagal. Begitulah, yang dia peroleh adalah akumulasi “kegagalan” atau “kesialan”.
Cerita mengenai Chris Langan dapat kita simak pada buku Outliers karya Malcolm Gladwell. Menurut Gladwell, Langan tidak cukup memililiki kecerdasan praktis. Dia tidak berhasil mengatasi masalah-masalah praktis yang lazimnya dapat dipecahkan bahkan oleh orang-orang yang kecerdasan analitisnya di bawah dia.
Sebenarnya dia butuh dukungan sebagaimana yang diperlukan orang-orang lain untuk sukses. Dia tak sanggup menghadapi keruwetan hidupnya itu sendirian. Gladwell mengaitkan kasus Langan ini dengan dukungan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya.
Gladwell mengidentifikasi bahwa ada orang miskin umumnya bukan hanya lemah dalam memberikan dukungan dana, namun juga dukungan moral untuk melakukan negosiasi dengan lingkungan serta orang-orang yang berwenang. Contoh orang yang memiliki wewenang adalah guru di sekolah.
***Barrier to entry
Indonesia punya banyak sekali anak cerdas yang berpotensi untuk mengalami nasib menyedihkan seperti Langan. Dalam cerita Laskar Pelangi karya Andrea Hirata kita bisa menyaksikan betapa pilunya nasib Lintang, anak cerdas yang memiliki semangat belajar luar biasa tinggi, harus tersisih karena keterbatasan biaya.
Cerita Laskar Pelangi sudah difilmkan dan sangat populer. Bahkan pemainnya dijadikan ikon dalam iklan Depdiknas tentang perlunya sekolah. Ini mestinya mampu menggugah semua pihak untuk bertindak lebih sistematis dalam mengatasi biaya pendidikan.
Dalam kasus Langan, negara memberikan kesempatan yang sangat luas agar orang miskin dapat kesempatan sekolah setinggi mungkin. Sayangnya, keluarga dan orang terdekat tidak mampu mendukung. Dalam kasus Lintang, anak pintar gagal mendapatkan dukungan negara maupun dukungan lingkungan terdekat.
Agustus dan September, masa daftar ulang di kampus-kampus unggulan seperti saat ini, menjadi ujian adakah Langan dan Lintang lain yang harus terjatuh karena kemiskinan dan kurangnya dukungan lingkungan.
Kita tahu bahwa biaya kuliah di Indonesia saat ini, termasuk di kampus-kampus milik negara, sudah melambung tinggi. Ada jalur-jalur khusus yang disediakan hanya bagi mereka yang berkantong tebal.
Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) mewajibkan kampus negara menyisihkan sedikitnya 20% kursi bagi mahasiswa kurang mampu. Selalu ada klaim dari para penyelenggara kampus untuk menyediakan sekian persen kursinya bagi siswa yang tidak mampu.
Akan tetapi, sebelum mencapai tahap untuk memperoleh beasiswa, toh para siswa itu harus berpikir puluhan kali bagaimana datang ke pusat-pusat pengetahuan dengan bekal dana sangat minim. Tidak mudah bagi orang perdesaan memberanikan diri ke kampus sekadar mengandalkan beasiswa yang masih harus diusahakan.
Adalah menjadi tugas negara dan para pemilik sumber daya untuk benar-benar menghilangkan kecemasan dari anak-anak pintar yang kurang mampu. Perlu upaya serius agar barrier to entry pusat-pusat pengetahuan itu sepenuhnya hilang.
Apa yang dilakukan oleh sejumlah alumni ITB dengan menggalang Beasiswa ITB untuk Semua (BIUS) layak ditiru. Bukan hanya menggalang dana, tim ini mengerahkan para relawan untuk menemukan anak-anak berprestasi, memastikan mereka ikut tes, membiayai perjalanan mereka.
Tim juga memberi bimbingan ‘kecerdasan praktis’ ketika mereka diterima agar tidak mengalami gegar budaya ketika menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Jadi, anak-anak potensial itu benar-benar diharapkan worry free.
Tetapi, bukankah lebih afdol jika negara benar-benar mampu menghapuskan barrier to entry yang didasarkan pemilahan kaya dan miskin di pusat-pusat pengetahuan itu?
Orang baik yang siap menolong dengan upaya sporadis seperti para relawan dan sponsor BIUS itu selalu ada. Akan tetapi, pasti lebih utama jika ada kebijakan yang cerdas dari negara yang baik agar cerita pilu Langan dan Lintang tidak terulang-ulang dengan tokoh yang berganti-ganti.
Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 1 September 2009, hal m6
01 September 2009
30 Agustus 2009
Jebakan bagi para teknolog (ITB)

Beberapa tahun lalu saya membaca buku Bentang Ego, Alunkan Simfoni (BEAS) yang bercerita bagaimana kiprah Pak Kusmayanto Kadiman sebagai dosen di Teknik Fisika ITB dan (terutama) sebagai Rektor ITB.
Banyak hal menggugah yang saya dapatkan dari buku itu. Belakangan saya menjadi tergoda untuk membaca kembali buku itu terutama karena dalam perbincangan, baik lisan maupun tertulis, Pak Kus yang sekarang jadi Menristek itu sering merujuk pada ide yang tertuang dalam buku BEAS.
Sulit untuk meringkas buku yang sudah sangat padat dan kaya itu. Tapi saya akan fokus pada tiga ide yang terasa paling mengena sejak pertama kali membaca buku BEAS. (Bagi saya, buku itu solah-olah berjudul: Bentangkan Egomu, Alunkan Sinfonimu).
Membaca ulang buku ini sekarang –setelah agak sering berinteraksi secara langsung--juga menjadi lebih mudah karena saya bisa membayangkan bagaimana kira-kira intonasi dan tekanan Pak Kus ketika berbicara tentang apa yang tertuang dalam buku itu.
Tiga ide yang saya maksud meliputi: perangkap business as usual, jebakan kaum nerdish, serta kriteria insinyur. Berikut ini kutipan paparan Pak Kus mengenai tiga bidang di atas dalam buku BEAS.
***Business as usual
Perangkap terbesar yang ada dalah orang itu suka sekali dengan yang disebut business as usual, entah dalam aturan-aturan atau dalam apa. Orang itu maunya melakukan hal yang sama. Seperti yang sudah-sudah, seperti yang kemarin-kemarin saja. Kalau dia junior saya, ya sudah, lakukan seperti yang senior saya lakukan. Itu perangkap yang terbesar.
Saya mengatakan bahwa kita sudah lama bahagia memerangkap diri, diperangkap oleh diri kita sendiri. Tidak ada yang mau melakukan evaluasi. Mereka memandang bahwa itulah dunia mereka, dan tidak mau sebentar keluar dari dunia itu.
Selain itu, dalam business as usual, senoritas menjadi sangat penting. Kaidah yang berlaku do what I say, tetapi don’t do what I do. Kita mengajar begitu saja apa-apa yang sudah kita baca, tetapi tidak pernah mempersoalkan apakah cara mengajarnya sudah benar. Mendasar sekali sebenarnya pertanyaan how can I perform today better than yesterday.
Padahal, feed back is very important element of life. Kalau sesorang pergi ke lapangan, ketika balik ke kantor, dia menulis apa yang kita sebut back to office report. Itu dilakukan sebagai bentuk kontrak Anda. Apa yang Anda janjikan Anda tulis di situ. Sesudah itu, Anda mendapatkan feed back dari orang-orang lain. Nah, ketika tidak ada ukuran-ukuran, kita tidak peduli dengan evaluasi.
Kutipan:
Insanity: doing the same thing over and over again, and expecting different results. (Albert Einstein)
What gets measured gets done, what gets measured and feed back gets done well, what gets rewarded gets repeated. (John E. Jones)
***Nerd dan gaul
Membangun relasi merupakan satu aspek kehidupan yang menarik. Saya merasa bahwa manusia diciptakan tidak untuk sendirian. Jadi saya mengindahkan betul apa yang disebut nerd. Makna asli kata ini adalah cicak. Dalam Kamus Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “kutu buku”.
Jadi “kutu buku” itu orang yang tidak peduli dengan lingkungannya, yang merasa serba cukup dengan hidup sendirian. Saya percaya sikap ini bukan sebab, melainkan akibat. Saya tidak percaya orang dilahirkan untuk menjadi seorang nerd. Dia menjadi nerdish itu, salah satu sebabnya, karena faktor pengalaman masa kecil sehingga dia berkaya, “I don’t trust society.”
Dia merasa lebih aman dengan being alone, bergumul dengan buku, bergumul dengan alat, dia membuat dunianya sendiri. Kemudian, mengapa dia memilih menjadi nerd? Itu karena dia tidak percaya lagi akan society. Dia merasa akan lebih bermanfaat kalau tidak mengendalikan atau dikendalikan society. Hal itu membuat dia memilih hidup sendirian, tidak bersosialisasi dengan manusia lain.
Pilihan itu dia pilih karena merasa tidak punya kendali, atau tidak mau dikendalikan. Sementara itu, kalau dia bermain dengan buku, atau dengan alat-alat tidak bernyawa, dia merasa, “I have control.” Hal yang dia tidak dapatkan dari manusia, dia dapatkan dari situ.
Nah, saya ingin menjadi pelengkap dari para nerd ini. Saya percaya menjadi anggota society itu penting sekali. Bahkan dalam pernyataan yang sering saya lontarkan, saya sampaikan bahwa meskipun dari sudut pandang uang saya jauh di bawah orang yang paling kaya, tetapi dalam soal pertemanan saya boleh merasa bangga. Dan saya mengucapkan puji syukur. Saya adalah salah satu orang “terkaya” di dunia ini dalam hal kebertemanan.
Kebertemanan ini, kata kuncinya adalah interrelasi. Untuk saya, saya bentuk yang namanya interpersonal skill. Ini adalah soft skill yang mesti saya punya.
Lalu apa yang menjadi modal? Pertama adalah melihat sesuatu apa adanya, bukan dari kacamata saya. To see things as they are, not as the way I want. Itu yang menjadi falsafah.
Seorang yang “gaul” itu kalau saya kasih kertas dan pena, saya minta menuliskan 1.000 orang temannya, maka dalam orde menit dia akan bisa menulis 1.000 nama teman. Bagi mahasiswa ITB, mengenali 1.000 orang mestinya tidak sulit, oleh karena populasi total ITB kan mendekati 20.000 orang. Seribu orang itu kan hanya 5% dari 20.000 orang.
Kutipan:
Loving is the only sure road out of darkness, the only serum known that cures self-centeredness. (Roger M’Ckuen)
One of the most valuable things we can do to heal one another is: listen to each other’s stories. (Rebecca Falls)
***Kriteria insinyur
Saya memilih jurusan Teknik Fisika karena saya tidak tahu apa itu bidang Teknik Fisika. Sampai sekarang saya merasa kalau “salah jurusan”. Sebabnya saya tidak tahu sekarang bisa apa. Saya tidak tahu kekuatan saya sekarang ini dalam bidang apa. Namun, saya yakin, apa pun jurusan yang saya pilih pada waktu itu, tetap saja akan merasa “salah jurusan”.
Mestinya bidang Teknik Fisika adalah yang benar-benar bisa mencapai frontier dari bidang engineering. Sebenarnya sudah lama saya mengerti apa itu Teknik Fisika. Namun sampai sekarang saya merasa tidak mampu menjadi seroang engineering physicist. Menurut saya, ilmu seperti instrumentasi dan kontrol yang saya geluti sudah tidak cocok lagi di Departemen Teknik Fisika.
Kalau seseorang itu mengatakan dirinya insinyur, maka dia harus tahu apa sih kemampuan minimum yang harus dipunyi seorang insinyur. Menurut saya, seseorang hanya boleh menyebut dirinya insinyur kalau dia mempunyai kemampuan untuk merancang sesuatu.
“To design” adalah kata kunci yang tidak pernah lepas dari keinsinyuran. Nah, kalau kita bicara tentang Teknik Fisika, insinyur Teknik Fisika itu merancang apa? Kalau insiyur Teknik Sipil merancang konstruksi bangunan, insinyur Teknik Kimia merancang pabrik, jelas.
Bagaimana dengan Teknik Fisika? What kind of design yang bisa menjadi ciri khas seorang insiyur Teknik Fisika? Itulah yang menyebabkan sampai saat ini saya mengatakan bahwa saya salah jurunan.
Namun, kalau dikatakan saya insinyur instrumentasi dan kontrol, Im very proud of it. Namun menurut saya, it just a fraction dari spectrum Teknik Fisika yang begitu luas. Akan sangat takabur kalau saya yang hanya tahu sedikit tentang Teknik Fisika mengaku sebagai “insinyur Teknik Fisika”.
Jadi saya berani mengatakan “I'm an engineer in instrumentation and control, not in engineering physics. Not yet.”
Kutipan:
Engineering is not merely knowing and being knowledgeable. Engineers operate at the interface between science and society. (Dean Gordon Brown)
To educate a man in mind and not in morals is to educate a menace society. (Theodore Roosevelt)
Label:
alunkan simfoni,
beas,
bentang ego,
KK,
kusmayanto kadiman,
menristek,
rektor itb,
teknik fisika
25 Agustus 2009
Sang Pangeran dari Kerajaan Apple Inc

Steve Jobs merupakan pendiri sekaligus legenda Apple Inc, perusahaan pembuat iPod, iPhone, iMac, MacBook Air, dan perangkat keren lainnya.
Apple Inc yang berpusat di California, AS, dengan kapitalisasi pasar sebesar US$151 miliar itu, menurut Wolfram Alpha, karyawan lebih dari 35.000 orang.
Seperti apakah Steve Jobs sang legenda itu? Inilah gambaran yang saya baca dari buku The Apple Way tulisan Jeffrey L. Cruickshank.
Steve Jobs sering disamakan dengan Hendry Ford. Keduanya sama-sama muda, naïf, dan tidak berpengalaman ketika mereka mendapatkan popularitas yang menggemparkan di bidangnya masing-masing. Keduanya mulai dengan visi yang nyata kuat mengenai bagaimana produk mereka akan mengubah dunia kemudian membuat visi itu menjadi nyata.
***
Jobs lahir dengan hasrat kesempuranaan, yang artinya dia akan menuntaskan segalanya, mencemaskan setiap detail dari karyanya. Dia terobsesi pada setiap detail terkecil. Para teknisi datang kepadanya berulangkali, dan mengatakan bahwa mereka tidak dapat mendesain sebuah plastik yang sesuai dengan bentuk casing komputer Macintosh yang aneh. Padahal Jobs memaksa untuk menyatukan keduanya. Akhirnya tugas itu selesai juga, namun memerlukan sekitar 15 alat untuk membuat sepotong plastik yang sesuai dengan casing Mac.
Steve Jobs bukanlah orang yang menyenangkan. Dia sombong, kasar, dan banyak menuntut—seorang perfeksionis. Dia juga tidak dewasa, rapuh, sensitif, dan mudah tersinggung. Dia adalah orang yang dinamis, revolusioner, namun juga sering kali keras kepala, tidak bisa berkompromi, dan benar-benar sulit untuk dihadapi. (Sculley)
Bekerja dengan Steve merupakan pengalaman yang menakutkan sekaligus menimbulkan kecanduan. Dia akan mengatakan kepada Anda bahwa pekerjaan, gagasan, dan terkadang kehadiran Anda tidak berarti, tepat di depan Anda, tepat di depan semua orang. Melihatnya mencaci maki seseorang membuat Anda takut bekerja untuk waktu yang lama… (Guy Kawasaki)
***
Ada satu hal yang benar-benar saya yakini: Steve Jobs adalah orang yang tepat untuk memimpin Apple. Belum pernah ada satu orang pun di Apple yang memiliki pengaruh seperti yang dimiliki Steve Jobs semenjak dia kembali ke Apple.
Dia mungkin seorang tiran, penuntut, sulit memaafkan, dan bos paling buruk sepanjang masa. Akan tetapi dia juga seorang visioner. Seorang jenius. Seorang yang melakukan pekerjaan sampai selesai. Dan seorang yang membuat Apple ke luar dari kesulitan ketika orang-orang yang baik hati tak mampu melakukannya. (Scott Kelby)
***
Pada suatu rapat, Jobs mengenakan jeans dan bertelanjang kaki, duduk bersila di lantai ruangan konferensi. Di sempat dicaci maki terkait proyeknya memimpin Divisi Macintosh. Itu terjadi pada 1983.
Pada tahun yang sama, Steve Jobs memimpin Divisi Mac. Orang-orang yang bergabung dengannya adalah para insinyur dan programmer paling berbakat. Sesuai dengan permintaan Jobs, sehelai bendera bajak laut berkibar di atas gedung, seakan meneriakkan sisi pemberontakan Mac: “Kami mendobrak peraturan”. Berpikir seperti bajak laut ternyata merupakan dasar pemikiran yang baik bagi inovasi.
***
Ketika kita menggunakan iPod, iPhone, iMac, PowerBook, MacBook Air dan lain-lain yang keren itu, mari kita bayangkan betapa banyak penderitaan yang ditanggung orang-orang di Apple Inc untuk membangunnya, hehehe.
Gambar: amitbawani.com
24 Agustus 2009
Ketika konsumen diperdaya produsen

Kalau belanja di supermarket yang mewah menghabiskan lebih banyak uang, itu terjadi bukan karena kesalahan dalam memilih lokasi belanja, melainkan karena kurangnya pengendalian diri dan ketelitian si pembeli. Harford menyarankan pembeli untuk lebih jeli dan teliti, alih-alih memilih lokasi belanja yang kurang bagus.
***
Benarkan harga jual selalu sebanding dengan biaya produksi? Apakah operator kereta api menyediakan kelas dua dan kelas tiga untuk mengakomodasi orang miskian atau justru memanjakan orang kaya? Benarkan supermarket menyediakan produk dengan kemasan jelek harga murah agar pembeli berkantong tipis tetap bisa membeli produk?
Buku Detektif Ekonomi karya Tim Harford menjungkirbalikkan semuanya. Dia membayar trik-trik harga dalam industri TI, supermarket, maupun penyedia jasa transportasi.
***Bidang TI
Kita mengenal software versi mahal --kadang disebut versi profesional atau versi bisnis, atau sebutan lain yang keren-- dan ada versi lebih rendah (massal). Software versi profesional memiliki fitur lengkap dengan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan software versi massal yang dipasarkan dengan banderol harga lebih murah.
Benarkah biaya produksi software versi tinggi itu memang lebih besar daripada biaya produksi peranti lunak versi rendah? Ternyata, menurut Tim Harford dalam buku Detektif Ekonomi, pembuat peranti lunak justru software menghabiskan biaya lebih besar untuk versi murah daripada untuk versi mahal.
Menurut Harford, peranti lunak versi profesional dirancang lebih dahulu. Lalu, dibuatlah versi murah dari modifikasi atas versi profesional dengan menghilangkan fitur-fitur tertentu. Jadi, biaya untuk versi murah adalah biaya versi profesional ditambah biaya pemangkasan fitur.
Hal ini tidak hanya berlaku pada industri peranti lunak. Dalam industri peranti keras hal itu juga bisa terjadi. Suatu ketika, produsen prosesor komputer membuat dua chip komputer dengan desain yang mirip namun dipasarkan dengan harga jauh berbeda.
Chip inferior dibuat dari chip superior yang diberi perlakukan khusus sehingga sebagian fasilitasnya tidak bekerja. Produsen menghabiskan biaya produksi yang lebih besar untuk chip inferior.
Sebuah produsen printer terkemuka juga pernah melakukan hal serupa. Mereka merancang dua model printer yang pada dasarnya adalah sama. Printer yang lebih murah sebenarnya adalah printer mahal yang ditambah dengan chip khusus untuk membuatnya bekerja lebih lambat. Mereka sengaja menjual lebih murah barang yang biaya produksinya lebih tinggi.
Sebenarnya bisa saja produsen software, prosesor, atau printer membuat produk yang seragam, berlaku untuk semua orang dan dipasarkan dengan harga yang sama. Tetapi, ini agak bertentangan dengan prinsip mencari untung sebanyak-banyaknya dengan cara yang sesopan mungkin. Produsen ingin melakukan diversifikasi atau price targeting (atau apa pun istilah bagusnya) disesuaikan dengan daya beli.
Intinya, mereka ingin agar orang yang peka harga membeli sesuai kantong tipisnya, sementara orang yang royal dan bersedia membayar lebih diberi kesempatan untuk membayar banyak. Jika konsumen rela membayar Rp1 juta mengapa diberi harga Rp500.000?
Produsen, papar Harford, memandang orang-orang yang royal ini perlu ‘dilindungi’ agar tidak berpindah memilih barang yang dijual dengan harga murah. Maka dibuatlah perbedaan-perbedaan fitur yang tujuan utamanya membiarkan orang kaya nyaman dengan pembayaran lebihnya.
Bagi produsen, ini kesimpulan yang sangat sinis dan subversif. Akan tetapi, kadangkala, konsumen yang cerdas memang terpaksa harus banyak bercuriga, agar dapat membebaskan diri dari berbagai macam jebakan halus.
***Tiket kereta api
Trik-trik penetapan harga lebih menarik lagi dikaji di sektor jasa, transportasi, obat-obatan, serta toko serba ada. Mengapa fasilitas kereta api kelas dua di Inggris begitu buruk dan kelas tiga begitu menyedihkan? Mengapa ruang tunggu bandara dan stasiun kereta api banyak yang dibiarkan tidak nyaman dan membuat penumpang tidak kerasan?
Menurut Harford, itu terjadi karena para penyelenggara kereta api tidak rela penumpang yang banyak uang, gemar kemewahan, dan biasa duduk di kelas satu pindah ke kelas dua atau kelas tiga yang tarifnya lebih murah.
Jika ruang tunggu biasa dibuat nyaman maka orang kaya tidak lagi tertarik menggunakan ruang tunggu eksekutif. Jika kereta kelas dua dilengkapi fasilitas bagus, penumpang eksekutif akan pindah.
Ini adalah bagian dari upaya memperbesar selisih antara layanan biasa dan layanan terbaik. Hal itu diperlukan agar konsep price-targeting (harga terarah) tercapai.
Pada intinya, price targeting adalah penetapan harga yang berbeda dengan berdasarkan pada asumsi kesediaan membayar yang berbeda dari tiap-tiap kelompok konsumen. Orang yang peka harga diberi tawaran harga ekonomis, sedangkan orang yang bersedia membayar lebih diberi kesempatan untuk membayar lebih mahal.
Penetapan semacam ini bukan tanpa masalah. Mudah membuat orang yang peka harga menjauh dari produk yang diberi banderol harga tinggi. Namun, tidak mudah mencegah orang berduit untuk tidak memilih produk murah. Kalau orang berduit justru memilih produk yang murah, itu disebut terjadi kebocoran dalam price targeting. Sasaran tidak tercapai.
Untuk mencegah kebocoran semacam itu, menjaga agar orang berduit memilih produk yang lebih mahal, disusunlah bermacam strategi anti kebocoran. Salah satu contohnya, menurut buku itu, adalah memperbesar selisih fasilitas dalam kereta api di Inggris seperti paparan di atas.
“Orang miskin menjadi korban, bukan karena niat menyakiti mereka, melainkan untuk menakut-nakuti orang kaya,” begitu salah satu kesimpulan sangat lugas dan tajam pada salah satu bagian buku ini.
***Trik supermarket
Contoh lebih nyata dipaparkan Harford dalam kasus supermarket. Mereka kadangkala membuat produk dengan kemasan jelek. Bukan karena memreka tidak bisa membayar desainer yang bagus. Namun mereka sengaja menggiring konsumen yang memiliki uang lebih agar membeli produk lain dengan harga yang lebih tinggi –kendati isinya sebenarnya sama saja.
Para pengelola supermarket juga menata dagangan sedemikian rupa agar pembeli sulit sekali membanding harga barang yang mirip-mirip. Kadang sengaja dipisahkan jauh atau dicampuraduk dengan produk lain yang sulit diingat.
Cara dan waktu dalam menentukan harga diskon—seperti yang kita amat menjelang Lebaran—dibuat acak sedemikian rupa agar pembeli susah mengenali polanya.
Ada satu trik sangat menarik yang dipaparkan Harford. Dia mengamati orang yang ingin hemat cenderung memilih toko atau supermarket yang lebih kumuh. Padahal, menurut penelitiannya, untuk produk yang sama, harga yang ditetapkan oleh supermarket yang relatif kumuh sama saja dengan harga di supermarket yang megah dan mewah. Bedanya, supermarket yang megah menyajikan lebih banyak pilihan barang yang lebih mahal.
Jadi, kalau hasilnya adalah belanja di supermarket yang mewah menghabiskan lebih banyak uang, itu terjadi bukan karena kesalahan memilih lokasi belanja, melainkan karena kurangnya pengendalian diri dan ketelitian si pembeli. Dia menyarankan pembeli untuk lebih jeli dan teliti, alih-alih memilih lokasi belanja yang murang bagus.
***Tidak sederhana
Banyak konsumen yang begitu lugu memandang bahwa barang yang lebih mahal pasti lebih bagus. Seperti orang Jawa bilang ana rega ana rupa. Arti harfiahnya adalah ada harga ada rupa.
Maksudnya, dari sisi konsumen berharap bahwa harga yang dibayarkan sebanding dengan nilai yang diberikan oleh apa yang dibelinya. Kalau mau barang bagus belilah yang mahal. Kalau tidak mau mengeluarkan banyak uang silakan nikmati barang bermutu rendah.
Dalam dunia yang semakin canggih dan rumit ini, rumus sederhana itu sering tidak berlaku. Yang diperlukan adalah konsumen cerdas yang dapat memilah dan memilih secara teliti sebelum membeli.
Buku karangan mantan editor Financial Times ini semacam buku wajib untuk konsumen. Buku ini memberikan penjelasan gamblang tentang persoalan ekonomi sederhana yang kita hadapi sehari-hari baik sebagai konsumen maupun sebagai warga negara.
Paparan yang bergaya jurnalistik itu mudah dicerna dan dimengerti. Bahasanya tidak rumit, tidak menggurui, tidak menggunakan teori-teori ekonomi yang ruwet. Namun, apa yang disampaikannya sangat mengena dan mampu menyadarkan pembacanya untuk menjadi konsumen yang ‘lebih cerdas’.
Buku Detektif Ekonomi yang dijual dengan harga Rp60.000 ini terdiri atas sepuluh bab. Ada bab yang membahas persoalan sehari-hari sebagai konsumen, misalnya mengenai penetapan harga kopi di stasiun Waterloo, serta rik-trik penetapan harga di supermarket.
Ada juga yang mengupas masalah globalisasi, serta kesenjangan antarnegara, termasuk bagaimana China menjadi kaya. Hampir semua bagiannya sangat menarik. Uraiannya mengenai teori permainan dan lelang frekuensi sangat mengena.
Penjelasan mengenai kerugian yang diderita orang lain ketika kita naik mobil di kota yang macet, serta bagaimana cara menghitung kompensasinya, sangat penting disimak. Paparannya tentang harga mobil bekas dan asuransi yang mengandalkan “kesaling-tidak-tahuan” amat memikat.
Buku dengan judul asli The Undercover Economist ini merupakan bacaan segar yang penting bagi konsumen yang ingin lebih cerdas dan belajar ilmu ekonomi dengan cara sederhana. Sayangnya buku ini dikemas dengan cover yang pas-pasan, tidak seindah isinya. Saya jadi ingat petuah: don’t judge the book from the cover.
Bagaimana kaitan harga frekuensi dengan tarif layanan?

Dalam buku karangan Tim Harford berjudul Detektif Ekonomi (judul asli The Undercover Economist) saya menemukan paparan sangat menarik mengenai lelang frekuensi 3G di Inggris. Pada bab VII berjudul Orang yang Tahu Nilai di Balik yang Tidak Berharga, Harford secara panjang lebar mengulas teori lelang dan teori permainan.
Contoh kasus yang memikat adalah lelang frekuensi 3G di Inggris yang dianggap salah satu lelang paling sukses di dunia modern. Lelang frekuensi 3G di Inggris berlangsung alot dan menghasilkan dana 22 miliar pound sterling bagi pemerintah, sebuah nilai yang sangat besar.
Ada dua pertanyaan utama yang mengiringi lelang yang berlangsung pada tahun 2000 dan menjadi benchmark bagi lelang 3G di seluruh dunia. Pertama, apakah biaya frekuensi yang begitu besar membuat tarif layanan ke konsumen menjadi mahal? Pertanyaan kedua, apakah setoran yang begitu besar tidak akan membuat operator telekomunikasi kelebihan beban atau bahkan bangkrut?
Harford menyimpulkan bahwa biaya lisesni hasil lelang tidak berpengaruh terhadap tarif yang dibebankan konsumen. Menurut dia, hal yang lebih dominan dalam menentukan tarif layanan adalah persaingan dan kuasa kelangkaan (the power of scarcity).
Dengan lima operator yang mendapatkan lisensi 3G (empat di antaranya operator yang sudah mapan), dia berpendapat ada banyak pilihan bagi konsumen. Tidak ada kelangkaan layanan 3G di pasar. Sehingga biaya frekuensi yang dibayarkan kepada pemerintah tidak berpengaruh signifikan terhadap tarif ke konsumen. Secara ekstrem dia membandingkan seandainya pemerintah menggratiskan frekuensi, toh operator tidak akan menggratiskan layanan. Bahkan, kalau pemerintah membayar operator agar mendapatkan frekuensi, operator juga tidak akan membayar kepada konsumen.
Adapun mengenai kebangkrutan, Harford menyatakan sektor telekomunikasi memang menghadapi masalah yang berat sepanjang tahun 2000-2002 karena pasar saham yang sedang terpukul. Namun, dia beralasan sebagian besar perusahaan yang mengalami masalah serius pada masa itu (seperti NTL dan Telewest) bukanlah pemenang lelang 3G. Para pemenang lisensi, misalnya Vodafone, kendati mengalami pukulan, tetaplah perkasa.
Jadi, menurut Harford, lelang dengan hasil mahal itu tidak menimbulkan beban tambahan untuk konsumen dan tidak menyebabkan operator telekomunikasi bangkrut.
***
Soal yang paling hangat dalam kasus lelang frekuensi adalah WiMax. Benarkah hasil lelang yang 10 kali di atas harga penawaran awal akan membuat biaya Internet pita lebar nirkabel itu tidak bisa murah? Atau akankah biaya itu membuat operator (dan calon operator) bangkrut??
Dalam kondisi seperti apa nilai lelang WiMax itu berpengaruh signifikan terhadap tarif Internet ke konsumen? Dalam kondisi apa operator WiMax bisa bangkrut gara-gara biaya lisensi itu?
Label:
3G,
frekuensi,
seluler,
telekomunikasi,
tim harford
13 Agustus 2009
Ketika pengetahuan dikalahkan mitos

Candi Prambanan adalah produk nyata yang bisa kita lihat, namun cerita yang lebih berkembang dari mulut ke mulut mengenai proses pembangunannya adalah mitos tentang pria perkasa Bandung Bondowoso yang membangun 999 candi dalam satu malam karena permintaan Roro Jonggrang. Bagaimana mungkin popularitas mitos justru mengalahkan kenyataan?
***
Ini cerita tentang tiga wajah Kedu dikaitkan dengan waktu. Kedu masa kini, Kedu zaman penjajahan Belanda, serta Kedu pada 14 abad yang lalu.
Kedu masa kini adalah nama sebuah desa dan kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Posisinya antara Kota Temanggung dan Parakan. Kecamatan Kedu terdiri atas 13 desa dengan ibukota kecamatan di Desa Kedu.
Di daerah ini ada ayam unik yang disebut ayam cemani. Ayam cemani galur murni memiliki ciri khas serba hitam. Bulunya hitam, kulitnya hitam, jenggernya hitam. Konon, tulangnya pun hitam.
Di desa Kedu inilah pada tanggal 8 bulan 8, Densus 88 membekuk orang yang kemudian diumumkan sebagai Ibrohim, pengurus bunga di hotel Ritz Carlton. Selama satu pekan terakhir nama Kedu selalu muncul dalam pemberitaan di televisi karena kasus kekerasan yang mengatasnamakan perjuangan agama serta dibumbui dengan ledakan.
Adapun Kedu pada masa akhir penjajahan Belanda adalah nama sebuah karesidenan di sisi selatan Jawa Tengah. Bagian timur Karesidenan Kedu berbatasan dengan Yogyakarta, sedangkan sisi barat berbatasan dengan Banyumas.
Wilayah eks-karesidenan Kedu meliputi Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, serta Kabupaten Kebumen.
Wilayah yang ditandai dengan nomor polisi kendaraan dengan awalan AA ini secara ekonomi tidaklah menonjol di Jawa Tengah. Namun secara politik, posisinya cukup penting mengingat Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo serta Wakil Gubernur Rustriningsih berasal dari eks-karesidenan Kedu.
Pada pemilu legislatif lalu, eks-karesidenan Kedu—minus Kebumen—masuk dalam Dapil Jateng VI. Anggota parlemen yang terpilih dari daerah ini antara lain Angelina Sondakh, Catur Sapto Edy, serta Abdul Kadir Karding.
***
Wajah ketiga adalah Kedu di masa lalu. Bagi saya inilah yang paling menarik. Kedu adalah nama yang memiliki sejarah panjang di Tanah Jawa. Mungkin salah satu yang tertua yang tercatat dalam sejarah. Di sanalah, konon, kerajaan Mataram Lama berpusat.
Selama tiga abad, penguasa Mataram Lama memimpin peradaban di Jawa sebelum munculnya generasi baru yang dipelopori Mpu Sindok di Jawa Timur, 1.000 tahun yang lalu.
Prasasti Kedu yang dibuat pada masa Dyah Balitung memuat silsilah raja-raja Mataram Lama dari Sanjaya, Panangkaran, Panunggalan, Warak, Garung, Pikatan, Kayuwangi, Watuhumalang, hingga Dyah Balitung.
Prasasti Canggal di Magelang menyatakan bahwa kerajaaan Mataram Lama didirikan oleh Sanna. Dua wangsa yang paling populer adalah Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya. Peninggalan paling prestisius dari Mataram Lama adalah Candi Prambanan dan Candi Borobudur.
Pada akhir abad X, kerajaaan Mataram yang berpusat di (eks-karesidenan) Kedu berakhir setelah tiga abad yang mengesankan. Selama lima abad berikutnya, kekuasaan di Jawa berpusat di Jawa Timur melalui Mpu Sindok, Airlangga, Jenggala, Kediri, Singasari, maupun Majapahit. Pusat kekuasaan kembali ke Jawa Tengah melalui kerajaan Demak pada abad XV yang diteruskan oleh Pajang dan Mataram Baru. Tetapi tidak pernah kembali ke Kedu.
***
Para sejarawan berpendapat kerajaan yang berpusat di (eks-karesidenan) Kedu itu runtuh karena dua faktor. Faktor pertama adalah konflik dalam keluarga kerajaan yang melibatkan sentimen keagamaan, yaitu Hindu Syiwa dan Budha. Faktor lainnya adalah letusan Gunung Merapi, salah satu gunung api paling aktif dunia. Begitu dahsyatnya letusan Merapi pada akhir abad X atau awal abad XI itu sehingga menguburkan candi Borobudur.
Kita melihat mencuatnya nama Kedu dalam satu pekan terakhir juga disebabkan dua faktor yang mirip: konflik yang membawa-bawa nama agama, serta letusan (bom).
Mengemukanya nama Kedu menyisakan pertanyaan menarik tentang peradaban masa lalu yang begitu hebat. Kita sulit membayangkan bagaimana insnyur-insinyur di (eks-karesidenan) Kedu ini pada abad VII dan VIII mampu membuat bangunan dari batu yang begitu besar seperti Borobudur dan Prambanan.
Bangsa pernah memililiki teknologi tinggi pada zamannya, pengetahuan tinggi yang bahkan sulit untuk ditiru hingga saat ini. Bagaimana menyusun dan merekatkan batu-batu besar hingga mampu bertahan selama ratusan tahun? Apa alat trasportasi yang digunakan untuk membawa gelondongan batu-batu besar itu?
Pertanyaan utama adalah ke manakah teknologi dan peradaban begitu tinggi yang ditinggalkan oleh para insinyur itu.
Ah, sayang sekali bahwa para empu dan insinyur di masa lalu itu tidak bisa mendokumentasikan kesaktiannya sehingga dapat dengan mudah diwarisi oleh generasi yang lebih muda. Sayang mereka belum menerapkan apa yang belakangan ini populer sebagai knowledge management, dokumentasi pengetahuan, serta transfer pengetahuan dengan cara-cara yang mudah.
Kalau kita cermati, Prambanan adalah produk nyata yang bisa kita lihat, namun cerita yang lebih berkembang dari mulut ke mulut mengenai proses pembangunannya adalah mitos tentang pria perkasa Bandung Bondowoso yang membangun 999 candi dalam satu malam karena permintaan Roro Jonggrang. Ini mitos tentang pria yang dikecewakan wanita, mirip cerita Sangkuriang di Jawa Barat. Bagaimana mungkin popularitas mitos justru mengalahkan kenyataan.
Bagi saya pribadi, daripada membahas peristiwa dar-der-dor yang penuh duga-duga di Kedu, lebih menarik merangkai sejarah mengenai teknologi masa lalu di daerah ini yang ikut lenyap bersama runtuhnya peradaban Mataram Lama. Mari merdekakan diri dari mitos.
*) Versi ringkas tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 15 Agustus halaman 12
Label:
borobudur,
cemani,
kedu,
knowledge management,
merapi,
mitor,
pengetahuan,
teror
11 Agustus 2009
Kehilangan salah satu media darling

Tadi malam saya sempat ikut acara dinner spesial. Ini adalah dinner terakhir bagi Pak Johnny Swandi Sjam (JSS) dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama Indosat. Hari ini, 11 Agustus, saat serah terima jabatan, Pak JSS mengakhiri karirnya pada operator telekomunikasi kedua terbesar di Indonesia itu.
Pada kesempatan dinner itu saya didaulat mewakili teman-teman wartawan untuk menyerahkan kenang-kenangan. Konon karena saya adalah wartawan yang paling lama mengenal Pak JSS di antara belasan wartawan yang hadir malam itu. Sudah pasti bahwa saya bukanlah yang paling tua, umur saya baru 34, tapi mungkin benar bahwa sayalah yang mengenal beliau paling awal.
Saya kenal Pak JSS pada 2001 atau 2002 ketika heboh-heboh lisensi VoIP. Beliau adalah pejabat di Indosat yang menangani penerapan VoIP. Kalau tidak salah jabatannya setingkat VP. Lalu tak lama kemudian, ketika Indosat dapat lisensi telepon saluran tetap, pria Minang itu dapat tugas memimpin proyek penggelarannya. VoIP dan fixed line Indosat adalah isu sangat menarik ketika itu. Apalagi saat itu belum banyak koran harian yang punya rubrik TI.
Perkenalan paling intens adalah ketika Pak JSS jadi direktur Satelindo dan kemudian menjadi direktur utama sebelum operator seluler itu dimerger vertikal dengan IM3 dan Indosat.
Setelah Pak JSS kembali ke Indosat, intensitas komunikasi turun. Apalagi setelah itu saya tidak banyak liputan TI lagi. Meski begitu, di antara semua direktur utama Indosat yang saya kenal (Pak Hari Kartana, Pak Widya Purnama, Pak Hasnul, Pak JSS), ya beliau inilah yang secara personal, bagi saya, punya keterikatan paling dekat. Paling tidak ucapan selamat Lebaran, selamat berpuasa, say hello, masih terus mengalir.
Ketika ada pengumuman mengenai pergantian jabatan Dirut Indosat beberapa bulan lalu, saya langsung merasa bahwa salah satu “media darling” akan pergi. Tetapi kalau diingat bahwa usia Pak JSS masih muda (49 tahun pada Sabtu besok), ditambah lagi pernyataanya bahwa dunianya adalah dunia TI, saya kira masih akan mudah menemukan kiprahnya di masa-masa yang akan datang. Entah di mana dan apa posisisnya. Ya semoga Pak JSS menemukan tempat berkiprah yang semakin bermakna. Selamat umrah Pak.
Foto dari Mira Putri Wardhani
09 Agustus 2009
Cerita Kedu di masa lalu

Kedu memiliki akar sejarah yang panjang. Mungkin salah satu yang paling panjang di Tanah Jawa. Di sanalah, konon, negeri Mataram Lama bercokol.
Di tempat itulah Pikatan, Panangkaran, Syailendra, serta keturunannya membangun peradaban yang luar biasa pada abad VII, 14 abad yang lalu. Sebagian peninggalan dari generasi itu, sekaligus bukti peradaban yang tinggi, adalah candi Borobudur dan candi Prambanan.
Kedu pada jaman penjajahan Belanda adalah ibukota karesidenan. Karesidenan itu meliputi Kabupaten Temangggung, Kabupatan Wonosobo, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo, serta kabupaten Kebumen.
Nomor polisi kendaraan di eks karesidenan Kedu diawali dengan AA. Pada Pemilu Legislatif yang baru lalu, sebagian daerah ini, kecuali Kebumen, masuk ke Dapil Jateng VI.
Ada ayam khas daerah Kedu yang serba hitam. Namanya ayam cemani. Bulunya hitam, kulitnya pun hitam, jenggernya juga hitam. Serba hitam. Konon, tulangnya pun hitam.
Pada 2006, ketika melintas Kedu dari temanggung ke arah Parakan, saya bersama keluarga sempat membeli beberapa ekor ayam cemani muda.
***
Pada tanggal 8 bulan 8, Densus 88 membekuk apa yang diduga sebagai para pengebom. Pengebom itu terkait erat dengan kamar 18-08 hotel JW Marriot yang rebut-ribut tanggal 17 Juli lalu.
Bagi saya, daripada mengikuti berita dar der dor yang berisi duga1, dikalikan duga2, dikalikan duga3, lalu dirangkai menjadi duga pangkat delapan, lebih asyik menyimak kembali cerita Kedu masa lalu.
Lebih enak menyimak bagaimana Sannaha, Pikatan dan keturunannya membangun daerah yang kini secara politis ekonomis itu tidak lagi memiliki posisi kuat.
Lebih menarik mencari-cari tautan yang hilang (missing link) antara hancurnya kekuasaan Mataram Lama pada abad X dan hadirnya kekuasaan baru di Jawa Timur pada abad XI di bawah Mpu Sendok.
Silsilah antara Mpu Sendok yang dilanjutkan oleh Airlangga, lalu pecah menjadi Jenggala dan Kediri, diwarisi oleh Singasari, lalu Majapahit, hingga Pajang, Mataram, Surakarta dan Yogyakarta dapat dilacak dengan mudah. Akan tetapi kaitan antara raja Mataram Lama terakhir dengan Mpu Sendok sulit dilacak.
Ah Kedu, lebih menarik ceritamu tentang masa lalu.
05 Agustus 2009
Pembebasan absurd ala Mbah Surip

Mestinya ini bukan lagu tentang “menggendhong”, melainkan tentang “nggondheli” alias memegangi yang membuat orang tidak bisa bergerak.
***
Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya Black Swan membagi jenis pekerjaan dalam dua kelompok yaitu scalable dan nonscalable.
Gaji seorang karyawan pabrik mudah dihitung berdasarkan jumlah jam kerjanya. Gampang sekali mengetahui batas atas nilai pendapatan dari jenis pekerjaan semacam ini. Omzet pengelola restoran mudah untuk dihitung berdasarkan jumlah tempat duduk yang tersedia. Yang macam ini, masih masuk dalam nonscalable. Harus ada upaya dua kali lipat untuk mendapatkan gaji dua kali lipat (tempat duduk dilipatduakan, atau jam kerja dinaikkan dua kali lipat).
Di sisi lain ada pekerjaan yang scalable. Penambahan usaha yang sedikit (atau bahkan tanpa penambahan sama sekali) meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Hal ini, misalnya, terjadi pada pengarang buku serta artis dan penyanyi. Kita sulit membedakan seberapa besar selisih usaha antara pengarang buku yang best seller dan tidak best seller dalam menghasilkan karya. Begitu pula dengan penyanyi yang top dan tidak top.
“Profesi yang scalable hanya baik kalau Anda sukses. Situasinya sangat kompetitif, menghasilkan ketidaksamaan yang luar biasa antara yang sukses dan yang gagal. Disparitas sangat besar antara usaha dan imbalan. Sebagian kecil pemain dapat mengambil kue sangat besar sehingga sebagian besar pemain yang lain hanya kebagian kue sangat sedikit,” papar Taleb dalam buku itu.
***
Mbah Surip yang populer lewat lagu-lagu absurd semacam “Tak Gendhong” itu masuk dalam ranah scalable.
Saya kira sulit membedakan seberapa keras usahanya dalam membuat lagu dan menyanyi antara tahun 1997-an ketika dia belum dikenal luas, dengan upayanya di tahun 2009 ketika ketenaran mulai datang. Apakah lagunya lebih bagus? Apakah kualitas suaranya meningkat?
Jawabnya, hemat saya, pasti tidak. Lagu-lagunya sama-sama absurd. Lagu dan sosoknya tidak beda-beda amat dengan sepuluh tahun yang lalu. Memang belakangan kesibukannya meningkat. Tapi itu terjadi setelah ketenaran sudah datang dan terus meningkat secara akumulatif sehingga dia, konon, kelelahan.
Mbah Surip, tanpa memperbaiki lagunya puluhan kali lipat, tanpa menghasilkan karya yang mutunya meningkat ratusan kali, bisa mendapatkan imbalan yang berpuluh atau beribu kali lipat dibandingkan imbalannya sepuluh tahun yang lalu. Menurut kabar, Mbah Surip mendapat imbalan Rp4,5 miliar per bulan dari ringback tone saja. Ringback tone 'Tak Gendong' digunakan 500.000 pelanggan Telkomsel, 100.000 pelanggan Indosat, dan 70.000 pelanggan Excelcomindo Pratama (XL).
Akan tetapi, inilah karakter dari jenis pekerjaan yang scalable. Dan inilah pula, menurut buku Black Swan, bagian dari dunia extremistan.
***
Saya pertama kali ‘ngeh’ tentang Mbah Surip sekitar dua bulan lalu. Ketika itu saya lihat status seorang teman chatting Gtalk di kantor yang mengutip lagu “Tak Gendhong” disertai foto seorang pria gondrong. Saya tanya tentang pria tua gondrong yang sekilas mirip pemain bola Rudd Gullit itu. Maka mengalirlah penjelasan tentang sang seniman.
Beberapa hari kemudian pagi-pagi saya lihat teve dan muncullah lagu “Tak Gendhong”. Syairnya bagi saya absurd, tidak jelas maksudnya. Klip video yang melengkapi lagu itu berisi sosok gondrong yang seolah-olah tidak terlihat, seperti makhluk halus, sedang memegangi bagian tubuh seseorang. Itu khas gambar seekor hantu yang memegang anggota tubuh seseorang sehingga orang yang bersangkutan tidak bisa bergerak seperti yang dia inginkan.
Melihat gambar itu, saya pikir mestinya ini bukan lagu tentang “menggendhong”, melainkan tentang “nggondheli” alias memegangi yang membuat orang tidak bisa bergerak.
Kata gendhong, bagi saya, punya konotasi tersendiri yang terkait dengan hantu dan makhluk halus. Didesa-desa di Jawa, kalau ada orang menebang pohon besar atau mengusik tempat keramat, sering diiringi munculnya mitos tentang hantu.
Konon, hantu sering marah dan orang harus meminta hantu itu untuk pindah ke tempat lain yang jauh dari manusia. Banyak hantu yang menjengkelkan dan mengajukan macam-macam syarat. Syarat yang umum adalah dia minta digendhong ke tempat baru. Sang dukun biasanya harus mengerahkan segenap tenaga untuk menggendhong si hantu dari tempat asal ke tempat baru, sama beratnya seperti menggendhong orang.
Inilah kesan saya terhadap kata gendhong yang dipakai Mbah Surip dengan klip video yang menyangkut makhluk halus.
***
Kembali ke soal fenomena meroketnya ketenaran orang yang memiliki nama asli Urip Ariyanto itu. Saya kira penjelasan mengenai hal itu dapat samar-samar disimak pada buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell.
Ketenaran Mbah Surip beredar secara gethok tular versi modern yang bukan saja mengandalkan mulut melainkan mengandalkan teve, Internet, serta media massa. Dalam epidemi gagasan semacam penyebaran tren, menurut Gladwell, selalu ada komponen berupa para bijak bestari (the mavens), para penghubung (connectors), serta para penjaja (salesperson).
Saya kira, penyokong popularitas Mbah Sirup berhasil mengenali mana-mana elemen dari masyarakat yang mampu bertindak sebagai mavens, connectors, dan salesperson, sehingga berhasil mendongkrak popularitas secara cepat dan luar biasa.
Mereka berhasil menggali keunikan dan mengangkat hal-hal khas (seperti kesederhanaan, penderitaan, gaya apa adanya, orisinalitas, dan sebagainya) yang mampu menarik simpati publik. Bukankah seperti kata Distoyevsky, orang cenderung menghargai penderitaan.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga dan para pendukung atau pengagum Mbah Surip, saya menilai kepergian beliau juga merupakan pembebasan masyarakat dari lagu-lagu absurd yang bagi saya sulit dimengerti makna dan mutunya.
Semoga Mbah Surip diampuni dosa-dosanya dan bisa ber-hahahaha di dunia lain. Wallahu alam. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.
Versi lain tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 8 Agustus, halaman 12
Label:
black swan,
mbah surip,
scalable,
tipping point
03 Agustus 2009
Mencari nalar China dan nalar India

China memiliki kemampuan meniru yang luar biasa. Kadangkala hanya diperlukan waktu seminggu untuk memalsu produk-produk dengan tingkat kerumitan tinggi. Produk palsu pun seringkali sulit dibedakan dengan produk asli, seperti kata Alexander Theil, Direktur Investigasi General Motors Asia Pasifik. "Kami harus membongkarnya atau melakukan analisis kimia untuk mengetahui bahwa produk itu bukan produk asli."
Pemalsuan bukan hanya terjadi pada produk sederhana. Bahkan juga untuk antarmuka router buatan Cisco Systems. "Jika Anda bisa membuatnya, mereka bisa memalsukannya," kata David Fernyhough, Diretur Perlindungan Merek Hill & Associates Ltd Hong Kong.
Di sisi lain, India memiliki kemampuan memasok ahli-ahli di bidang teknologi informasi dan jasa. Bangalore, Pune, Hyderabad menjadi pusat-pusat penting bagi perusahaan seperti General Electric, Microsoft, SAP, Intel, Texas Instruments, dan lainnya.
Ketika IBM memecat 14.000 karyawan di Eropa Barat, AS dan Jepang, perusahaan itu tetap menambah tenaga kerjanya di India. Di negara itu, Accenture memiliki 14.000 karyawan dan Hewlett Packard memiliki 10.000 karyawan.
Saat sebagian besar orang Amerika tertidur, para profesional keuangan, pemasaran, dan teknologi India menyelesaikan banyak pekerjaan yang menuntut keahlian bagi perusahaan AS.
***
Uraian lengkap mengenai hal-hal di atas dapat kita temui dalam buku Chindia: Strategi China dan India Menguasai Bisnis Global karya Pete Engardio. Saya beli buku itu di Gramedia Bandung pada Sabtu lalu. Buku ini berisi cerita panjang tentang China dan India. Dua negara yang kalau jumlah penduduknya digabungkan akan mewakili sepertiga dari warga Bumi.
Paparan dalam buku seharga Rp125.000 ini bergaya jurnalistik. Populer namun sarat dengan data. Pilihan judul, pemenggalan bab dan subbab, semuanya khas laporan sebuah majalah. Memang pada dasarnya ini adalah versi panjang dari laporan komprehensif majalah Business Week.
Setiap premis utama selalu ditunjang dengan banyak bukti. Bahkan, saya kira, terlalu banyak bukti yang membuat seolah-olah terjadi banyak pengulangan pembahasan dalam buku setelah 446 halaman ini.
Sayangnya, dengan gaya uraian seperti itu, saya merasa akar kekuatan China dan India kurang tergali. Memang ada sangat banyak paparan mengenai keunggulan dan kehebatan dua negara itu beserta ciri khasnya masing-masing. Namun saya gagal menemukan akar penyebabnya di luar satu bab tentang Tantangan Pendidikan.
Saya merasa sulit menemukan model penguatan diri yang dapat ditiru oleh negara lain dengan penduduk yang sangat banyak di tengah belitan kemiskinan seperti Indonesia. Gambar besar proses menuju kondisi saat ini tidak terpapar dengan baik. Sebagian besar buku ini bercerita tentang apa yang sedang terjadi, bukan apa di balik yang terjadi atau bagaimana hal itu menjadi mungkin terjadi.
Buku ini terdiri atas 11 bab. Bagi saya, bagian yang paling menarik adalah Bab III Paradigma Global Baru, Bab IV Model Korporasi Baru, lalu Bab VI Lompatan ke Depan, BabVIII Tantangan Pendidikan, serta BabXI Tantangan Kompetitif Baru.
****
China dan India memiliki keunggulan yang serupa yaitu tenaga kerja yang murah. Begitu murahnya sehingga jika gaji tenaga kerja di China dan India dinaikkan 10% tiap tahun, dalam 20 tahun ke depan nilainya belum akan menyamai gaji tenaga kerja dengan kemampuan serupa di AS.
China menikmati ledakan investasi yang sangat tinggi sehingga mampu membangun menara-menara perkantoran, hotel mewah, jalan tol, terminal, pusat perbelanjaan dengan mencengangkan. Negara itu juga membangun pabrik-pabrik modern di bidang petrokomia, silikon, mobil, baja, kapal, dan barang padat modal lain.
Adapun pasar India tidak sebesar China. Pendapatan per kapita India hanya sepertiga China. Konsumen India lebih suka barang berkualitas dengan harga murah. "Siapa pun yang mampu menjual jasa global dengan harga India, dia bisa bersaing di mana saja."
India tidak sanggup membangun menara-menara kemewahan seperti dilakukan China. China sangat kuat dalam manufaktur termasuk baja, mobil, kimia, serta semikonduktor dan elektronika, sementara India sangat kuat dalam industri peranti lunak, jasa dan desain. Banyak perangkat dengan tulisan depan "made in China" di dalamnya mengandung peranti lunak dan teknologi multimedia buatan India.
China dan India memiliki tantangan kependudukan yang berbeda. China dalam 20 tahun ke depan akan memiliki 300 juta penduduk berusia di atas 60 tahun dan lima per enamnya tanpa jaminan pensiun. Komposisi yang tidak seimbang ini terjadi karena pelaksanaan kebijakan satu anak. India dalam 40 tahun ke depan akan memiliki 1,7 miliar penduduk namun tidak menghadapi masalah serumit China. Pendidikan menjadi masalah serius di India. Negara itu juga menghadapi kesenjangan sosial yang makin lebar.
Keduanya sama-sama menghadapi persoalan ekologis. Pabrik-pabrik di China menghabiskan bahana bakar lima kali lipat dari pabrik serupa di Barat. Sebanyak 20% kredit bank di China macet.
India yang membangun dengan kekurangan, lebih efisien. Akan tetapi India mengalami kekurangan investasi dari luar negeri sehingga tidak mampu membangun infrastruktur megah seperti halnya China. Tingkat polusi di berbagai kota India juga sangat tinggi.
China dan India sama-sama memiliki problem birokrasi. Di China, intervensi pemerintah dan partai terlalu kuat, sementara di India aturan yang sangat keras dan ketat membatasi gerak investor.
***
Judul buku ini saya rasa kurang lengkap. Mestinya judul yang dipakai adalah Chindias: China, India, serta AS. Sebab, hampir semua pembahasan mengenai China dan India dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap AS.
China dan India sama-sama mendapat limpahan pekerjaan dari AS. Manufaktur yang menjadi keunggulan China, mewakili 14% keluaran dan 11% serapan tenaga kerja AS. Adapun jasa yang menjadi keunggulan India, mewakili 60% ekonomi AS dan dua per tiga serapan tenaga kerja.
Keduanya sama-sama memiliki tenga ahli dengan IQ tinggi dan rela dibayar murah. Tenaga kerja India memiliki keunggulan dalam Bahasa Inggris dibandingkan tenaga kerja China.
Ada paparan sangat menarik dalam buku yang mengungkapkan bagaimana sudut pandang India dan AS bisa bertabrakan dalam merespons perkembangan industri teknologi informasi. Pete Engardio menggambarkan bagaimana perjalanan seorang anak muda India mendapatkan order dan pekerjaan di bidang TI dari AS. Sementara di sisi lain, digambarkan bagaimana anak muda di AS, yang juga kuliah di bidang teknologi informasi, pada saat yang bersamaan justru kehilangan peluang gara-gara 'serbuan' tenaga kerja India baik dalam bentuk fisik maupun outsourcing secara online.
Apakah itu berarti China dan India akan menjadi adidaya baru dan AS harus bersiap-siap menjadi calon "negara dunia ketiga" baru?
Engardio menghibur publik AS dengan menyatakan bahwa prediksi di atas kertas seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Prediksi serupa pernah juga dilekatkan ke Jepang pada dekade 1980-an. Prediksi negatif juga pernah dilekatkan ke Inggris pada dekade 1970-an. Tetapi yang terjadi pada Jepang tidak sehebat yang diperkirakan dan yang terjadi pada Inggris tidak seburuk yang dikhawatirkan.
Halaman di bagian akhir buku ini ditutup dengan rekomendasi bagi AS bagaimana mempertahankan diri terhadap serbuan China dan India.
Hal yang harus dilakukan oleh AS, menurut Pete Engardio, antara lain orang AS perlu menabung lebih banyak agar tidak bergantung pada pnjaman luar negeri; mencoba taktik baru menjinakkan yuan; menerapkan aturan perdagangan dengan lebih agresif misalnya untuk ; melindungi industri kecil; memperketat perlingdungan hak atas kekayaan intelektual; serta membuka kembali kesepatakan WTO.
(mudah-mudahan bisa bersambung, terutama dengan ulasan mengenai Tantangan Pendidikan)
02 Agustus 2009
Jumpa ketiga

Pekan lalu saya dipanggil kembali oleh Pak Menristek. Pertemuan kali ini menjadi pertemuan ketiga dalam jangka waktu satu pekan. Lebih intensif daripada bimbingan tugas akhir saya kira, hehehe.
Pak Menteri membawa saya masuk ke ruang pribadinya. Di sana ada meja dengan banyak buku di atasnya. Di sebelahnya ada almari. Dari tepi jendela kita bisa melihat pemandangan ke arah monas.
Kali ini kami ngobrol hanya berdua saja. Seolah-olah seperti perwalian jaman kuliah dulu. Beliau bercerita sangat terbuka tentang keluarganya, anak, cucu. Juga tentang perjalanan karirnya, mengapa memilih berhenti dari ITB. Beliau paparkan pengalamannya terpilih jadi dosen teladan ITB yang berpeluang menjadi profesor termuda, namun kemudian jalur kepangkatannya justru macet.
Sebagian cerita beliau sudah dapat disimak pada buku “Bentang Ego, Alunkan Simfoni,” sehingga saya berani tulis di blog ini. Akan tetapi, bagi saya, jelas berbeda mengetahui cerita dari buku dengan mendengar langsung oleh tokoh yang menjadi inti cerita.
Ada banyak hal yang beliau ceritakan dan beliau tanyakan dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu. Bagi saya ini hal yang sangat mengesankan dan sulit dilupakan. Sebagai orang yang pernah kuliah di Jurusan Teknik Fisika ketika beliau menjadi dosen, ini seperti perwalian sesungguhnya, dalam bentuk yang lain.
Saya merasa beliau sedang berusaha “membombong” hati saya yang sering mengkeret sekecil menir dan minder itu. Saya merasa bahwa beliau berharap saya bisa berprestasi baik, beliau mencoba mengungkit hal-hal yang mungkin selama ini tersembunyi dan tidak mampu saya lihat sendiri.
Pada kesempatan itu, Pak Menteri memberi saya hadiah sebuah baju batik motif fractal warna biru, dua buah buku, serta dua buah CD musik. Terima kasih banyak Pak Kus untuk segala sesuatunya.
Label:
KK,
kusmayanto,
kusmayanto kadiman,
menristek,
mentor,
perwalian,
rektor,
rektor itb,
teknik fisika
26 Juli 2009
Mencari sistem inovasi nasional

Kreatif tidak sama dengan inovatif, meskipun inovasi membutuhkan kreativitas. Seseorang yang kreatif belum tentu inovatif, apalagi jika kreativitas itu semata-mata bermotivasikan kesenangan diri sendiri, atau justru untuk merugikan orang lain. Jadi, teori tentang inovasi berbeda dengan teori tentang kreativitas.
Inovasi, jika terjadi, serang merupakan hasil kolektif, bukan hasil individual. Oleh karena itu, dalam literature akademik, teori-teori inovasi merujuk pada gagasan kesisteman melalui system inovasi (innovation system) atau jejaring inovasi (innovation network).
Itulah cuplikan yang sangat menggugah dalam prakata buku Simfoni Inovasi, Cita & Realita karya Kusmayanto Kadiman. Pak Kus alias Pak KK yang mantan Rektor ITB itu sekarang menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi.
Buku ini saya peroleh langsung dari beliau ketika mantan dosen Teknik Fisika ITB itu memanggil saya untuk ikut makan siang bersama di kantornya, pekan lalu.
Buku terbitan 2008 ini tidak tebal, hanya 224 halaman. Tapi sampul dan penampilannya lux karena menggunakan hard cover yang dilapisi pula dengan sampul luar terpisah. Formatnya unik. Sebagian besar berisi dialog antara Pak Kus dengan nara sumber yang dia pilih.
Kemudian pada bagian awal, tengah, serta akhir, Pak Kus berusaha menarik benang merah dari dialog dengan nara sumber, para pelaku di bidang industri dan social yang terkemuka, mengenai ide dasar pembentukan sistem inovasi nasional.
Ini format penulisan buku yang bagi saya agak baru. Buku yang mirip, misalnya, adalah karya para wartawan yang berisi kumpulan dialog dengan banyak nara sumber. Bedanya, kalau wartawan umumnya lebih banyak bertanya, kalau ini lebih banyak pertukaran pikiran antara dua atau tiga belah pihak.
Adanya pengantar dan upaya menjelaskan benang merah juga membuat dialog yang kadangkala melenceng ke sana dan ke sini bisa tetap menghasilkan kesimpulan yang selaras dengan topik utama.
**Kocak dan mendalam***
Ada keunggulan yang muncul dari format dialog ini. Yang paling menonjol adalah sikap atau pendapat spontan dari para nara sumber. Ini jelas berbeda jika yang bersangkutan diminta menulis tentang tema tertentu yang sifatnya searah. Selain itu ada diskusi, ada penggalian, ada pertukaran yang terjadi.
Format dialog semacam ini juga lebih mudah dicerna oleh akal saya yang pendek ini. Lebih menukik ke inti masalah, dengan contoh konkret berdasarkan pengalaman dan kearifan nara sumber.
Sifat spontan dalam dialog ini juga kadang memicu orang untuk berbicara lebih terbuka mengenai hal-hal yang tampak sensitive, misalnya menyangkut lambannya mesin birokrasi.
Karena sifatnya yang spontan, banyak juga dialog yang terkesan kocak. Misalnya, kata-kata Dirut PT Pindad Budi Santoso.
“Pesawat Hercules kita usianya sudah lebih tua dari pilotnya. Maka pilotnya harus baik-baik dengan pesawatnya [seperti baik-baik pada orang yang lebih tua].”
Banyak cerita yang menggugah, mengharukan, tapi juga membuat tertawa seperti cerita Dirut Pindad ketika belajar peluru kendali.
“Seluruh staf saya tidak ada yang tahu cara membuat peluru kendali. Sampai akhirnya saya minta peluru kendari dari TNI yang sudah tidak terpakai. Saya harus menandatangani perjanjian bahwa kalau peluru itu meledak, harus bertanggungjawab. Dan ketika peluru itu datang, kami semua bingung. Kami bingung bagaimana cara membongkarnya, mana bagian depannya, mana belakangnya. Kalau salah kan bisa meledak.”
Ada juga kutipan-kutipan filosofis seperti mengtip teori chaos bahwa kepakan kupu-kupu di satu belahan bumi bisa jadi berpengaruh besar terhadap kejadian di belahan bumi lain.
Ada kutipan Einstein bahwa penyederhanaan itu memberikan kepastian, tetapi bukan kenyataan. Kenyataan tidak bisa disederhanakan sehingga menimbulkan ketidakpastian. Dalam ketidakpastian itu terkandunglah banyak informasi tentang kehidupan.
Dialog dengan Arifin panigoro, CEO Medco, memberi saya banyak sekali informasi baru mengenai energi, pengembangan energi, energi alternatif, serta kebijakan yang tumpang tindih dalam mengaturnya.
Diskusi dengan Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Jamu Sido Muncul, membuka wawasan mengenai ilmu pengobatan yang berbeda paradigma dnegan ilmu kedokteran.
Apakah tidak lagi merasa sakit sama dengan sembuh dari sakit? Apakah kita tahu persis bagaimana cara obat itu bekerja dan bagaimana cara tubuh bereaksi? Bisakah kita mengukur “kadar kesakitan” itu? Dan banyak sekali hal menarik, pertanyaan-pertanyaan mengelitik tentang macam-macam hal.
*Beda pendekatan*
Pemaparan Pak Kus mengenai pendekatan instrumental dan pendekatan kapabilitas yang kita anut dalam beberapa dekade memberikan gambaran yang menarik.
Pendekatan instrumental menekankan perlunya alat, instrument, dalam hubungan manusia dengan iptek. Dalam pendekatan ini, ketika iptek sudah di tangan masyarakat, maka perubahan akan segera terjadi tanpa perlu upaya yang signifikan.
Pendekatan ini mirip dengan mengatakan bahwa dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ada bebarapa varian dalam pendekatan ini yang dijelaskan pada bagian awal buku itu.
Pendekatan lain adalah pendekatan kapabilitas yang dimotori Amartya Sen. Dalam konteks ini yang berlaku adalah “di balik bangsa yang maju terdapat iptek yang maju.” Dalam pendekatan ini, jiwa yang sehat merupakan faktor intrinsik yang diperlukan untuk menyehatkan badan.
Pak Kus juga memaparkan bagaimana lintasan inovasi yang ditempuh oleh AS dan China dengan melihatnya berdasarkan empat variable yang diwakili empat sumbu yaitu Tarikan pasar, kepentingan swasta, dorongan kebijakan, serta misi negara.
Penjelasan tentang itu sangat menarik dan membuka mata saya mengenai hubungan-hubungan antara elemen akademisi (A), bisnis dan industi (B), serta pemerintah (G). Dari dulu, Pak Kus memang selalu mengkampanyekan kerja sama ABG ini. Terima kasih Pak Kus.
Label:
inovasi,
inovatif,
kadiman,
kreatif,
kusmayanto,
menristek,
rektor itb,
teknik fisika
21 Juli 2009
Business as usual pascateror
“Sapa to ya yang main-main mercon saat long week end begini. Apa ada kaitan dengan pemilu?? Apa mercon itu akan menaikkan bunga KPR?”
Itulah yang pertama-tama terlintas dalam pikiran ketika saya mendengar informasi adanya bom yang meledak di Ritz-Carlton dan JW Marriot, Jakarta. Ketika itu saya sedang dalam bus yang melaju dari Cibinong ke Bandung.
Bagi saya, bom kali ini memang terasa lebih menyebalkan dibandingkan dengan bom-bom sebelumnya. Mungkin karena sekarang saya lebih mendambakan stabilitas ekonomi karena pengen mengajukan KPR ke bank, hehehe.
Entah apa pun alasannya, saya jadi lebih banyak berpikir tentang teror kali ini dibandingkan dengan teror-teror sebelumnya. Dan saya kira bangsa ini (melalui pemerintah) harus melakukan pendekatan yang sama sekali baru, sama sekali berbeda, dalam menghadapi teror. Sudah terbukti bahwa pendekatan konvensional yang dilakukan selama hampir satu dekade ini tidak berhasil.
***
Hemat saya, cara melawan teror yang paling gampang adalah mengabaikannya. Lakukan semua hal seperti rencana semula sebelum ada teror. Business as usual. Bahkan minimalkan berita atau info apa pun yang terkait teror. Maka teror itu kehilangan pengaruh.
Bukankah peneror itu mengikuti rumus "membelanjakan sedikit dan mengharapkan banyak perhatian". Jadi, harus ditekankan bahwa kita tidak akan memberikan "perhatian" kepada orang-orang yang butuh perhatian (aleman, ngalem) seperti itu.
Dalam soal terror yang berlaku justru: too much information will kill you. Makin banyak informasi akan membuat orang makin takut. Jadi, negara perlu meminimalkan dampak teror dengan meminimalkan informasi yang justru menakutkan. Ganti semua dengan pernyataan optimistik.
Saya kira orang-orang intelijen, militer, pemasaran, ahli psikologi massa (atau psikologi sosial) perlu merumuskan metode non-konvensional untuk melawan peneror. Lupakan metode-metode konvensional yang mudah ditebak para peneror.
Kita butuh cara-cara baru, cara-cara segar yang belum pernah dicoba di Indonesia dalam menghadapi teror. Cara-cara lama boleh sebagai cover saja. Cara baru harus ada.
Contoh cara lama adalah memeriksa semua tamu hotel dan bandara secara detil. Pemeriksaan seperti ini tidak akan tahan lama. Penerapannya pasti membuat macet di mana-mana. Banyak sekali dampak ikutannya.
Cara ini juga saya kira tidak disukai pebisnis hotel dan semacamnya yang mengutamakan layanan dan kenyamanan pelanggan. Yang menanggung biaya ikutannya bukan negara, tapi masyarakat. Akan ada ekonomi biaya tinggi karena banyak orang habis waktu, tenaga, dan biaya.
***
Kalau saya jadi Presiden atau pejabat yang memiliki otoritas tinggi, maka saya akan panggil para pejabat terkait dan meminta mereka hanya mengeluarkan pernyataan optimistik. Dalam setiap peristiwa politik besar selalu ada yang melambung dan terpelanting. Saya tidak akan memberi tempat kepada pejabat mana pun untuk mengambil keuntungan dari perkembangan informasi dan penanganan teror ini.
Saya akan panggil para pemimpin redaksi dan pemilik media massa, terutama televisi. Saya akan minta mereka meminimalkan berita-berita dan analisis yang tidak perlu. Makin banyak informasi, makin banyak pertanyaan orang. Dan semua itu sulit dijawab. Maka muncullah rasa khawatir. Jadi, abaikan teror seolah-olah tidak ada. Yang dimuat hanya pernyataan optimistik.
Saya akan minta semua pihak yang terkait public tetap menjalankan rencana seperti sebelum ada teror. Jangan ubah rencana yang sudah lama disusun. Dengan begitu para peneror akan kehilangan pengaruh. Yang boleh berubah rencana hanyalah pihak-pihak terkait keamanan.
Penerapan single identity number atau pengawasan melekat dan semacamnya saya kira tidak efektif dan justru berbahaya. Sebab, jika negara punya otoritas sangat besar dalam mengontrol warga, bisa terjadi penyelahgunaan kekuasaan sewaktu-waktu.
Belum lama ini kita dengar di koran, konon ketua komisi yang sangat berkuasa memerintahkan penyadapan kepada orang yang tidak terkait korupsi. Kalau suatu saat ada pemimpin yang agak fasis berkuasa ketika negara punya kemampuan kontrol yang tinggi, maka warga bisa berada dalam bahaya.
***
Saya usulkan pendekatan yang sama sekali baru. Benar-benar baru. Akan tetapi saya sendiri belum punya gambaran konkret mengenai pendekatan baru itu. Tapi saya yakin dalam teori-teori psikologi massa, hal-hal semacam itu sudah ada penjelasannya. Wallahu alam.
PS:
Dalam setiap pemboman selalu populer istilah "orang tidak berdosa". Bagi saya yang ndeso dan berpikir linier, istilah ini membingungkan, bertentangan dengan pemahaman keagamaan saya. Setahu saya semua orang, selain nabi yang maksum, pasti berdosa.
Mengapa tidak disebut sebagai orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam konflik? Mungkin memang repot, apalagi, menurut pelajaran PMP jaman dulu, ada pendekatan keamanan semesta sehingga semua bisa menjadi lawan atau kawan. Semua yang dalam semesta menjadi terlibat konflik. Ah, embuhlah adanya…
Itulah yang pertama-tama terlintas dalam pikiran ketika saya mendengar informasi adanya bom yang meledak di Ritz-Carlton dan JW Marriot, Jakarta. Ketika itu saya sedang dalam bus yang melaju dari Cibinong ke Bandung.
Bagi saya, bom kali ini memang terasa lebih menyebalkan dibandingkan dengan bom-bom sebelumnya. Mungkin karena sekarang saya lebih mendambakan stabilitas ekonomi karena pengen mengajukan KPR ke bank, hehehe.
Entah apa pun alasannya, saya jadi lebih banyak berpikir tentang teror kali ini dibandingkan dengan teror-teror sebelumnya. Dan saya kira bangsa ini (melalui pemerintah) harus melakukan pendekatan yang sama sekali baru, sama sekali berbeda, dalam menghadapi teror. Sudah terbukti bahwa pendekatan konvensional yang dilakukan selama hampir satu dekade ini tidak berhasil.
***
Hemat saya, cara melawan teror yang paling gampang adalah mengabaikannya. Lakukan semua hal seperti rencana semula sebelum ada teror. Business as usual. Bahkan minimalkan berita atau info apa pun yang terkait teror. Maka teror itu kehilangan pengaruh.
Bukankah peneror itu mengikuti rumus "membelanjakan sedikit dan mengharapkan banyak perhatian". Jadi, harus ditekankan bahwa kita tidak akan memberikan "perhatian" kepada orang-orang yang butuh perhatian (aleman, ngalem) seperti itu.
Dalam soal terror yang berlaku justru: too much information will kill you. Makin banyak informasi akan membuat orang makin takut. Jadi, negara perlu meminimalkan dampak teror dengan meminimalkan informasi yang justru menakutkan. Ganti semua dengan pernyataan optimistik.
Saya kira orang-orang intelijen, militer, pemasaran, ahli psikologi massa (atau psikologi sosial) perlu merumuskan metode non-konvensional untuk melawan peneror. Lupakan metode-metode konvensional yang mudah ditebak para peneror.
Kita butuh cara-cara baru, cara-cara segar yang belum pernah dicoba di Indonesia dalam menghadapi teror. Cara-cara lama boleh sebagai cover saja. Cara baru harus ada.
Contoh cara lama adalah memeriksa semua tamu hotel dan bandara secara detil. Pemeriksaan seperti ini tidak akan tahan lama. Penerapannya pasti membuat macet di mana-mana. Banyak sekali dampak ikutannya.
Cara ini juga saya kira tidak disukai pebisnis hotel dan semacamnya yang mengutamakan layanan dan kenyamanan pelanggan. Yang menanggung biaya ikutannya bukan negara, tapi masyarakat. Akan ada ekonomi biaya tinggi karena banyak orang habis waktu, tenaga, dan biaya.
***
Kalau saya jadi Presiden atau pejabat yang memiliki otoritas tinggi, maka saya akan panggil para pejabat terkait dan meminta mereka hanya mengeluarkan pernyataan optimistik. Dalam setiap peristiwa politik besar selalu ada yang melambung dan terpelanting. Saya tidak akan memberi tempat kepada pejabat mana pun untuk mengambil keuntungan dari perkembangan informasi dan penanganan teror ini.
Saya akan panggil para pemimpin redaksi dan pemilik media massa, terutama televisi. Saya akan minta mereka meminimalkan berita-berita dan analisis yang tidak perlu. Makin banyak informasi, makin banyak pertanyaan orang. Dan semua itu sulit dijawab. Maka muncullah rasa khawatir. Jadi, abaikan teror seolah-olah tidak ada. Yang dimuat hanya pernyataan optimistik.
Saya akan minta semua pihak yang terkait public tetap menjalankan rencana seperti sebelum ada teror. Jangan ubah rencana yang sudah lama disusun. Dengan begitu para peneror akan kehilangan pengaruh. Yang boleh berubah rencana hanyalah pihak-pihak terkait keamanan.
Penerapan single identity number atau pengawasan melekat dan semacamnya saya kira tidak efektif dan justru berbahaya. Sebab, jika negara punya otoritas sangat besar dalam mengontrol warga, bisa terjadi penyelahgunaan kekuasaan sewaktu-waktu.
Belum lama ini kita dengar di koran, konon ketua komisi yang sangat berkuasa memerintahkan penyadapan kepada orang yang tidak terkait korupsi. Kalau suatu saat ada pemimpin yang agak fasis berkuasa ketika negara punya kemampuan kontrol yang tinggi, maka warga bisa berada dalam bahaya.
***
Saya usulkan pendekatan yang sama sekali baru. Benar-benar baru. Akan tetapi saya sendiri belum punya gambaran konkret mengenai pendekatan baru itu. Tapi saya yakin dalam teori-teori psikologi massa, hal-hal semacam itu sudah ada penjelasannya. Wallahu alam.
PS:
Dalam setiap pemboman selalu populer istilah "orang tidak berdosa". Bagi saya yang ndeso dan berpikir linier, istilah ini membingungkan, bertentangan dengan pemahaman keagamaan saya. Setahu saya semua orang, selain nabi yang maksum, pasti berdosa.
Mengapa tidak disebut sebagai orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam konflik? Mungkin memang repot, apalagi, menurut pelajaran PMP jaman dulu, ada pendekatan keamanan semesta sehingga semua bisa menjadi lawan atau kawan. Semua yang dalam semesta menjadi terlibat konflik. Ah, embuhlah adanya…
Label:
bom,
massa,
media massa,
optimistik,
optimistis,
psikologi,
teror,
terror
20 Juli 2009
Kecilnya manusia, besarnya semesta, agungnya Pencipta

Menjelang libur Isra’ Mi’raj saya mendapat kesempatan untuk membaca-baca buku ‘Menjelajahi Tata Surya’ karya A. Gunawan Admiranto. Sebenarnya ini buku istri saya. Kebetulan penulis buku ini bekerja sebagai peneliti matahari dan astronomi di Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), sekantor dengan istri saya.
Buku setebal 302 halaman terbitan Kanisius ini sangat enak dibaca. Bahasanya ringan dan renyah. Cara pemaparannya mudah sekali dimengerti. Memang ada cukup banyak istilah matematika maupun fisika (serta astronomi) yang dipakai di sana. Akan tetapi saya kira asalkan kita pernah belajar dasar-dasar fisika dan astronomi dengan baik di masa SMA akan bisa mengikuti paparan buku ini dengan baik.
Saya menemukan banyak fakta-fakta mengejutkan yang digambarkan dengan sangat indah dalam buku ini. Sebagian di antaranya, seperti suhu inti matahari, sudah sering kita dengar. Akan tetapi penulis buku ini memberikan gambaran yang lebih mudah dicerna mengenai apa arti suhu sekian juta derajat celcius itu. Banyak juga fakta menarik mengenai massa jenis Saturnus dkk yang lebih rendah dibandingkan dengan massa jenis air.
Kutipan bebas atas beberapa hal menarik saya tulis di bawah ini.
“Andaikan Anda sedang mengendarai pasawat ruang angkasa melewati sebuah planet besar yang warna-warni lalu ingin mampir ke planet itu. Anda turun menembus atmosfernya dengan harapan dapat menemukan tempat yang tepat untuk pendaratan. Anda bergerak turun, terus turun, turun terus, tetapi tidak pernah menemukan tempat untuk mendaratkan pesawat.
Saat Anda menyadari hal itu, Anda sudah jauh menembus atmosfernya atau bahkan mungkin sudah “masuk” ke dalam planet itu. Begitulah situasi yang akan Anda alami jika mampir ke Yupiter, planet terbesar dalam tata surya kita. Ini terjadi karena kerapatan Yupiter yang renggang. Kerapatan Yupiter hanya 1,33 gram per cm kubik, jauh lebih rendah dibandingkan bumi yang 5,5 gram per cm kubik.
Begitu besarnya ukuran Yupiter sehingga kita bisa memasukkan 1.300 benda seukuran Bumi ke dalamnya. Yupiter memiliki massa 318 kali massa bumi atau setara dengan 2/3 massa tata surya di luar Matahari.”
“Merkurius, Venus dan Bumi memiliki massa jenis besar. Massa jenis Bumi sekitar 5x massa jenis air. Adapun Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus memiliki massa jenis rendah. Bahkan, Saturnus bisa mengambang di atas air kalau dicemplungkan ke kolam super besar.”
“Inti matahari bertemperatur 16 juta derajat Celcuis. Menurut George Gamow, jika sebuah ujung jarum memiliki panas setinggi itu maka daerah di sekitarnya akan ikut terbakar hingga radius 100 km.”
“Komet Halley memiliki massa 10 pangkat 16 kilogram. Setiap lewat dekat Matahari, komet ini kehilangan sekitar 100 triliun kilogram massa akibat hembusan angin surya.”
“Ekor sebuah komet bisa mencapai panjang 150 juta km sehingga komet dapat menjadi benda terbesar yang ada di tata surya kita.”
“Tata surya didominasi oleh Matahari karena massa seluruh planet hanya 0,0014 kali massa matahari. Konon, ditinjau dari fisika bintang, matahari tidak banyak memiliki aspek yg dpt menarik perhatian ahli astronomi penghuni bintang lain (kalau penghuni itu ada).”
“Ternyata, sejauh ini, tidak ada satu pun sistem keplanetan yang konfigurasinya mirip dengan tata surya kita. Setiap sistem keplanetan itu bersifat unik.”
Label:
antariksa,
bumi,
halley,
isra' mi'raj,
jupiter,
saturnus,
tata surya,
yupiter
16 Juli 2009
Empat kelompok dalam kabinet

Di tengah gencarnya rumors mengenai kabinet jilid-2 SBY, ingatan ini melayang pada apa yang saya tuliskan pada halaman belakang diary pada 1994. Lima belas tahun yang lalu, saya menulis pada halaman belakang buku “Inilah Jalanku” kalimat yang berbunyi “Akhirnya Jadi Presiden.”
Kala itu, saya memang terobsesi untuk menjadi seorang presiden. Maka, saat ini saya mencoba membayangkan seandainya diri ini menjadi seorang Presiden dan sedang menyusun sebuah kabinet.
***
Jika berhasil menjadi Kepala Negara yang dipilih secara langsung oleh rakyat dengan dukungan sejumlah partai politik, maka susunan kabinet yang akan saya bangun kira-kira terdiri atas empat kelompok
Empat kelompok itu meliputi kelompok teman dekat, kelompok garansi partai, kelompok garansi teman, serta kelompok experimental.
Kelompok teman dekat akan mewakili seperempat atau maksimal sepertiga dari isi kabinet. Posisi kunci yang akan menentukan “nasib” pemerintahan akan saya isi dengan teman dekat yang benar-benar tepercaya. Termasuk dalam posisi itu adalah seluruh menko atau menteri utama.
Adapun kelompok garansi partai sudah banyak dibahas di media massa. Pada intinya, ini merupakan semacam kompensasi atas dukungan partai yang telah diberikan selama masa pencalonan maupun selama pemerintahan berjalan. Secara keseluruhan, kelompok ini akan mewakili seperampat dari jumlah menteri. Sebagian memimpin departemen, dan sebagian lagi menteri negara.
Posisi untuk kelompok ini adalah departemen atau kementerian yang relatif rumit namun tidak menentukan “nasib” pemerintahan secara keseluruhan. Dengan demikian saya tetap bisa menjaga posisi aman jika partai melakukan maneuver-manuver yang tidak sejalan dengan target saya, misalnya ketika saya harus mengambil keputusan yang tidak populer. Saya tidak ingin memelihara “anak macan”.
***
Kelompok garansi teman adalah posisi yang akan saya isi dengan para professional di bidangnya. Sebagai manusia biasa, sudah barang tentu saya tidak mengenal semua ahli yang menonjol di berbagai bidang sehingga perlu penghubung dan penjamin para ahli yang akan saya tempatkan dalam kabinet. Ada ribuan doktor, belasan ribu master, serta puluhan ribu sarjana di negeri ini. Ada ratusan atau ribuan manusia unggul yang mungkin tepat untuk mengisi kursi departemen atau kementerian.
Dalam teori mengenai keterpisahan, konon, jarak antara satu manusia dengan seluruh manusia lain hanya terpaut maksimum enam langkah. Dalam lingkup kaum professional dan intelektual yang terbatas dan berpotensi masuk dalam kabinet, jarak maksimal saya perkirakan sekitar tiga atau empat penghubung. Kalau saya bisa minta garansi teman atas temannya teman, maka setidaknya saya bisa menjangkau sepersepuluh dari kaum intelektual berpotensi. Artinya, mungkin saya menjangkau 30% atau 50% dari seluruh orang yang berpotensi masuk kabinet.
Saya ingin meniru cerita tentang Pak SBY yang konon waktu memilih salah satu Menteri Perhubungan meminta pendapat dan garansi dari mantan presiden Habibie. Saya kira ini salah satu cara yang baik sekali dalam menyeleksi calon menteri yang secara personal tidak saya kenal langsung. Saya ingin memilih outliers di lini masing-masing dengan cara yang tepat dan tidak meleset. Kaum outliers akan mewakili seperempat hingga sepertiga posisi kabinet.
Berhubung saya sudah membaca buku Blink karya Malcolm Gladwell, saya sudah belajar untuk tidak mudah terpesona pada kesan pertama, namun juga tidak terkecoh pada tampilan luar yang kurang meyakinkan atas siapa-siapa yang sempat diusulkan untuk duduk dalam kabinet.
Kelompok keempat adalah kelompok eksperimental. Saya sebut demikian karena saya akan membuat sejumlah terobosan mengenai jabatan-jabatan baru dalam struktur organisasi pemerintahan. Ini berguna untuk menampung bermacam-macam ide liar yang saya dapatkan dari buku-buku, Internet, dan lintasan-lintasan pemikiran, yang barangkali banyak gunanya di masa depan. Porsi untuk kursi ini adalah 15%-20%. Ini saya umpamakan seperti CSR (country social responsibility) atau USO (universal service obligation) dalam volume yang besar.
Posisi ini juga berguna untuk menampung inovasi-inovasi baru serta kemungkinan-kemungkinan baru yang diadopsi dari negara lain. Pada posisi ini akan ditempatkan orang-orang muda yang paling inovatif dan kreatif. Syukur-syukur kalau posisi ini juga dapat digunakan untuk mengakomodasi partai politik pendukung.
***
Prinsip-prinsip yang akan saya pegang dalam menyusun kabinet adalah akomodasi, revitalisasi, regenerasi, dan reorientasi.
Akomodasi akan diwakili oleh kelompok partai, revitalisasi diwakili oleh kelompok garansi teman alias para professional. Regenerasi bisa diwakili oleh semua kelompok, sedangkan reorientasi diwakili oleh kelompok eksperimental.
Saya tidak mau disetir oleh rumors, namun sebagai orang yang pernah bekerja di media massa, saya akan melakukan uji publik melalui media massa. Saya juga akan mengoptimalkan fungsi jejaring sosial dan blog (ataupun blogger) dalam melakukan uji publik.
Publik akan saya biarkan untuk tahu persis calon menteri pada beberapa posisi. Namun saya akan menjaga penuh rahasia pada sebagian besar posisi sampai pada hari H pengumuman susunan kabinet.
Saya punya cukup banyak waktu untuk menyusun kabinet, jadi tidak perlu terburu-buru seperti Pak Habibie sewaktu membuat kabinet sebelas tahun yang lalu. Saya juga tidak ingin meniru cabinet 100 menteri seperti zaman Orde Lama.
14 Juli 2009
Kembali ke sepeda

Senin pagi saya membeli sepeda bekas di Jl Malabar, dekat pasar Kosambi, Bandung. Sepeda bekas dengan bentuk yang dulu saya kenal sebagai sepeda jenki itu saya beli seharga Rp250.000. Ini bisa disebut sebagai sepeda perempuan dengan keranjang di depan, boncengan di belakang, andang yang rendah, bentuk yang feminin.
Saya coba menggowesnya dari Kosambi hingga Gunungbatu melalui jalan Jawa, BIP, Wastukencana, Pasteur, Djundjunan, Sukaraja. Alhamdulillah, ternyata kaki ini tidak merasa pegal sama sekali.
Ini merupakan sepeda keempat di rumahku. Selain sepeda anak-anak untuk Sekar, ada tiga sepeda lain. Satu di antaranya di Gunungputri. Sepeda terakhir ini saya beli dengan harga yang lebih murah dibandingkan sepeda dengan bentuk sama yang saya beli di tempat yang sama beberapa bulan lalu.
***
Bagi saya, sepeda adalah kendaraan paling natural. Saya mengenalnya sejak kecil, melebih segala jenis kendaraan lain. Jadi, saya merasa mengenalnya benar-benar secara alamiah. Hal yang sangat berbeda dengan pengenalanku terhadap mobil maupun motor, apalagi pesawat terbang.
Konon, 200 tahun yang lalu, ketika pertama kali ditemukan, sepeda adalah kendaraan yang cukup berbahaya. Perbandingan roda depan dan belakang yang aneh, kemudi yang belum sebagus sekarang, serta rem dan rantai yang belum canggih, membutnya menjadi kendaraan yang hanya dapat dinaiki oleh sangat sedikit orang.
Penambahan berbagai system kendali membuatnya menjadi kendaraan personal yang nyaman, menyehatkan, aman, serta bebas polusi.
07 Juli 2009
Pepsi dan presiden tampan Warren Harding
(bagian ketiga review buku Blink)Harry Daugherty, seorang politisi kawakan yang pintar menilai peluang politik, suatu ketika bertemu dengan Warren Harding. Harding, ketika itu, adalah pria berusia 35 tahun, seorang redaktur pada surat kabar kecil di kota kecil Marion, Ohio.
Daugherty mengamati Harding dan dalam sekejab terpesona dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat Harding sebagai sosok yang layak diorbitkan ke panggung politik.
Harding yang tampan dan gagah itu bukanlah orang yang sangat cerdas. Dia gemar main poker, golf, minum-minum sampai mabok, dan hampir selalu memanfaatkan kelebihannya untuk merayu perempuan. Selama menjalankan karir politik, dia sama sekali tidak pernah sengaja menonjolkan diri. Dia peragu dan plin plan dalam hal-hal menyangkut kebijakan. Pidato-pidatonya, kelak digambarkan sebagai "serangkaian ungkapan kosong yang baru sampai tahap mencari gagasan."
Pada 1914 dia terpilih menjadi anggota senat, lalu pada 1920 dia terpilih menjadi presiden AS. Komentar yang sering muncul terhadap Harding sebelum dia terkenal adalah: "Lihat, tampangnya seperti senator" "Bukankah penampilannya mirip seorang calon presiden?"
Menurut buku Blink karya Malcoml Gladwell, sebagian besar sejarawan setuju bahwa Warren Harding adalah salah satu presiden sangat buruk dalam sejarah AS.
Gladwell berpendapat kesalahan bangsa Amerika sampai memilih Warren Harding sebagai presiden merupakan sisi gelap dari pemahaman cepat (rapid cognition). Pangkalnya sebagian besar adalah prasangka dan diskriminasi. Prasangka bahwa orang yang tepat menjadi pemimpin negeri haruslah sosok yang gagah, tampan, berbadan proporsional, dan seterusnya.
***
Kasus kesalaham memaknai kesan pertama sering juga terjadi pada para penjual yang kurang berpengalaman. Dalam penjualan mobil, orang yang berpenampilan petani dengan pakaian lusuh seringkali diabaikan. Padahal orang seperti ini justru mampu membeli kendaraan secara cash. Seorang anak muda yang datang siang hari dengan gaya tidak meyakinkan, ternyata malam harinya datang bersama orangtuanya untuk membeli sebuah mobil. Dan seorang gadis yang tampak centil ternyata adalah orang yang ditunjuk oleh keluarganya untuk memilih mobil keluarga yang tepat.
Dalam sebuah penelitian di Chicago terungkap bahwa para penjual mobil cenderung menawarkan harga yang lebih tinggi terhadap pembeli wanita dan pembeli kulit hitam. Alasannya, ada prasangka bahwa pembeli semacam itulah yang lebih mudah dibodohi.
Gladwell menyimpulkan bahwa para pemberi suara dalam pemilu 1920 di AS tidak mengira bahwa mereka "dibodohi" oleh ketampanan Warren Harding, sama seperti para penjual mobil di Chicago tidak sadar telah melakukan kejahatan karena berusaha "membodohi" para pembeli perempuan dan kulit hitam.
***
Gladwell dengan pintar sekali memberikan banyak sekali contoh ketika snap judgement serta rapid cognition berpeluang salah. Dalam kasus riset pemasaran, hal ini telah membawa korban perusahaan besar.
Coke dari Coca Cola merupakan minuman ringan paling populer di AS ketika Pepsi berusaha merebut pangsa pasarnya. Pepsi meluncurkan strategi pemasaran melalui apa yang disebut sebagai Tantangan Pepsi. Mereka menantang masyarakat untuk mencicipi produk minuman ringan dan menentukan mana yang lebih enak. Dalam sebagian besar testimoni terbukti bahwa Pepsi lebih disukai daripada Coke.
Pangsa pasar Pepsi meningkat. Hal ini menggelisahkan Coca cola. Bahkan dalam uji cicip yang sama yang dilakukan Coca cola, peserta memang cenderung memilih Pepsi. Maka Coca cola bekerja keras berusaha menemukan formula baru, resep baru, yang kemudian diberi nama New Coke
Ternyata produk baru ini justru membuat Coca cola semakin terpuruk. New Coke tidak disukai pelanggannya. Hal ini memaksa Coca cola kembali ke resep lama dengan label Classic Coke.
***
Menurut Gladwell, apa yang dialami oleh Coca cola menunjukkan respons yang keliru dalam memahami snap judgement. Pada kenyataannya, orang memang lebih senang dengan Pepsi ketika mencicipi. Akan tetapi, mencicipi tidak sama dengan meminum satu botol sampai tuntas. Apalagi meminumnya sehari-hari di rumah.
Uji cicip ini, menurut Gladwell, baru akan mencerminkan respons yang tepat jika pencicip diberi sekerat minum dan diminta membawa pulang, lalu baru diminta mengisi kuisioner setelah satu kerat itu habis.
Hal yang mestinya dilakukan Coca cola ketika menanggapi Tantangan Pepsi bukanlah mengubah resep, melainkan menciptakan srategi kampanye pemasaran lain yang bisa menangkal sistem cicip ala Pepsi itu.
***
Kasus lain di mana kesan pertama telah "menipu" adalah kasus produk kursi Herman Miller. Herman Miller berusaha menciptakan kursi yang ergonimis dengan desain yang sama sekali baru. Akan tetapi hasilnya adalah produk yang bertentangan sama sekali dengan stereotipe mengenai kursi nyaman yang ada dalam masyarakat AS seperti empuk, menggunakan busa, tebal, dan sebagainya.
Dalam berbagai uji pemasaran, produk ini selalu mendapat nilai jeblok. Penyebabnya, orang yang diuji tidak bisa membedakan mana yang disebut sebagai jelek dan mana yang disebut aneh. Apalagi kuisioner yang disedikan umumnya juga tidak menampung ungkapan "aneh". Ketika orang melihat desain yang aneh, ketika dituntut menjelaskan, maka yang keluar kemudian adalah kesimpulan bahwa produk itu jelek.
Gladwell mengajak kita berhati-hati dalam memaknai kesan pertama. Dalam banyak kasus, orang tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya pada kesan pertama, sama dengan kenyataan bahwa orang tidak bisa menggambarkan wajah orang lain semata-mata dari kata-kata. Jadi, ketika meminta mereka menjelaskan alasan di balik snap judgement, peluang terjadi kesalahan sangatlah besar.
***
Kembali ke kasus Warren Harding yang sangat relevan dengan pemilihan Presiden di Indonesia. Saya berpendapat bahwa "prasangka", "stereotip", "kesan" masih akan sangat menentukan hasil pemilu di Indonesia.
Prasangka suku ini suku itu, sosok yang seperti ini, kesantunan, kerendahatian, gaya yang pas atau tidak pas ketika berbicara, masih sangat menentukan bagi kebanyakan pemilih.
Mungkin ketika menimbang-nimbang, orang cenderung pada pilihan X yang agak radikal, menawarkan debirokratisasi, dan sebagainya. Akan tetapi, sampai bilik suara, kembali ke alam bawah sadar yang sangat dipengaruhi prasangka dan stereotip. Hehehehe. Wallahu alam.
Gambar: northvalleymagazine.com
Label:
blink,
coca cola,
kesan,
malcolm gladwell,
pepsi,
pilpres,
politik,
prasangka,
presiden,
snap judgement,
stereotip,
warren harding
03 Juli 2009
Dari Soros hingga nikah tanpa pacaran
(Bagian kedua dari review buku Blink)
Putra pemodal superkaya George Soros bercerita tentang cara ayahnya mengambil keputusan. “Ayah saya bisa duduk dan memberi Anda teori-teori untuk menerangkan mengapa dia berbuat begini dan begitu. Namun saya berpikir setidak-tidaknya separuh dari penjelasanya adalah konyol. Maksud saya, keputusan-keputusannya untuk menjual atau membeli saham adalah karena punggungnya tiba-tiba nyeri sekali. Dia betul-betul mengalami kejang, dan baginya ini sebuah peringatan dini.”
Ini merupakan salah satu penjelasan mengapa George Soros begitu hebat dalam pekerjaannya. Dia orang yang sadar tentang hasil-hasil pemikiran bawah sadarnya. Akan tetapi, di sisi lain, jika kita menanamkan uang bersama Soros, pasti akan selalu was-was kalau penjelasan yang diberikannya tentang pengambilan keputusannya adalah karena rasa nyeri di punggung.
Hal di atas menggambarkan banyak hal bawah sadar yang sulit dijelaskan oleh orang yang mengalaminya. Demikianlah yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell dalam buku Blink pada bab mengenai Pintu yang terkunci. Intinya, kita perlu menghormati kenyataan bahwa kita bisa mengetahui sesuatu tanpa tahu mengapa kita tahu dan menerima bahwa kita kadang-kadang lebih baik membiarkannya demikian.
Hal yang mirip itu juga dialami oleh pakar benda seni Bernard Berenson. Dia tidak bisa merumuskan bagaimana dia dapat melihat cacat kecil atau kelainan kecil yang menunjukkan bahwa karya itu palsu. Bahkan, dalam suatu persidangan, dia hanya mengatakan bahwa perutnya mulas, telinganya berdengung, dan dia merasa sangat tertekan ketika berhadapan dengan benda seni palsu.
Penulis buku Outliers dan Tipping Point itu menjelaskan bahwa kesimpulan sekejab (snap judgement) serta pemahaman cepat (rapid cognition) berlangsung di balik pintu terkunci. Gladwell dalam Blink memberikan penjelasan lebih menarik lagi ketika mengungkapkan apa yang terungkap dalam pencarian jodoh melalui program kencan kilat (speed dating)
***
Dalam sebuah program kencan kilat (atau mungkin lebih tepatnya disebut kenalan kilat), setiap peserta pria diberi kesempatan untuk bertemu dengan peserta wanita dalam waktu enam menit.
Jika dalam enam menit itu seorang wanita atau pria merasa tertarik dia diminta memberi tanda tertentu kepada penyelenggara. Jika si pria memberi tanda tentang seorang wanita dan si wanita juga memberikan tanda tentang si pria, mereka masing-masing diberi alamat e-mail untuk meneruskan proses mereka.
Proses ini pada prinsipnya banyak kemiripan dengan proses pada biro jodoh atau proses pernikahan tanpa pacaran. Hanya teknisnya tentu saja berbeda tergantung sistem nilai pergaualan yang dianut.
Menurut Gladwell, proses kencan kilat atau kenalan kilat yang kian populer itu merupakan penerapan dari kemampuan membuat kesimpulan sekejab dalam memilih pasangan.
Dalam sebuah eksperimen, seorang peserta wanita diminta menuliskan kriteria teman pria yang didambakannya. Dia menulis bahwa yang diharapkannya adalah pria yang cerdas dan tulus.
Akan tetapi, dalam praktiknya, lelaki yang dia pilih ternyata justru yang paling jenaka, sama sekali jauh dari kesan cerdas maupun tulus. Esok harinya, ketika ditanya kenapa memilih orang tersebut, sang wanita menjawab bahwa dia menyukai pria yang menarik dan jenaka. Masalahnya, ketika satu bulan ditanyakan kembali criteria pria macam apa yang dia sukai, sang wanita kembali menjawab bahwa dia suka pria yang cerdas dan tulus.
Tampaknya ini menjadi membingungkan. Dan kasus semacam ini, kasus di mana kriteria logis yang dapat dia jelaskan tidak sesuai dengan kenyataan yang dia pilih, terjadi pada banyak sekali peserta yang diamati.
***
Jadi, lelaki macam apa yang sebenarnya diinginkan oleh si wanita? Pribadi asli yang manakah yang sebenarnya ada pada si perempuan? Apakah pribadi yang mengajukan syarat awal atau pribadi yang menjatuhkan pilihan?
Ada yang berpendapat bahwa pribadi yang asli adalah yang terungkap dalam aksi, bukan ketika berpikir. Gladwell mencoba menjelaskan hal ini. Menurut dia, apa yang diungkapkan si wanita tentang kriteria lelaki idaman tidak salah, hanya kurang lengkap.
Apa yang diungkapkan sebelum acara dan sebulan kemudian adalah gagasan berdasarkan pikiran sadarnya. Itu adalah apa yang diyakininya sebagai keinginannya ketika dia merenung. Masalahnya, dia tidak menyadari adanya preferensi lain yang membentuk alam bawah sadarnya. Uraian mengenai apa yang ada dalam pilihan bawah sadarnya ada dalam pintu tertutup.
Hal yang sama sering terjadi pada orang-orang hebat, orang-orang sangat terkenal, ketika ternyata mereka tidak berhasil menjelaskan dengan jelas tentang pengambilan keputusan sekejab-nya.
Saya kira apa yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell ini penting untuk disimak oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang perjodohan atau mak comblang dari pernikahan tanpa pacaran. (semoga bisa bersambung)
Putra pemodal superkaya George Soros bercerita tentang cara ayahnya mengambil keputusan. “Ayah saya bisa duduk dan memberi Anda teori-teori untuk menerangkan mengapa dia berbuat begini dan begitu. Namun saya berpikir setidak-tidaknya separuh dari penjelasanya adalah konyol. Maksud saya, keputusan-keputusannya untuk menjual atau membeli saham adalah karena punggungnya tiba-tiba nyeri sekali. Dia betul-betul mengalami kejang, dan baginya ini sebuah peringatan dini.”
Ini merupakan salah satu penjelasan mengapa George Soros begitu hebat dalam pekerjaannya. Dia orang yang sadar tentang hasil-hasil pemikiran bawah sadarnya. Akan tetapi, di sisi lain, jika kita menanamkan uang bersama Soros, pasti akan selalu was-was kalau penjelasan yang diberikannya tentang pengambilan keputusannya adalah karena rasa nyeri di punggung.
Hal di atas menggambarkan banyak hal bawah sadar yang sulit dijelaskan oleh orang yang mengalaminya. Demikianlah yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell dalam buku Blink pada bab mengenai Pintu yang terkunci. Intinya, kita perlu menghormati kenyataan bahwa kita bisa mengetahui sesuatu tanpa tahu mengapa kita tahu dan menerima bahwa kita kadang-kadang lebih baik membiarkannya demikian.
Hal yang mirip itu juga dialami oleh pakar benda seni Bernard Berenson. Dia tidak bisa merumuskan bagaimana dia dapat melihat cacat kecil atau kelainan kecil yang menunjukkan bahwa karya itu palsu. Bahkan, dalam suatu persidangan, dia hanya mengatakan bahwa perutnya mulas, telinganya berdengung, dan dia merasa sangat tertekan ketika berhadapan dengan benda seni palsu.
Penulis buku Outliers dan Tipping Point itu menjelaskan bahwa kesimpulan sekejab (snap judgement) serta pemahaman cepat (rapid cognition) berlangsung di balik pintu terkunci. Gladwell dalam Blink memberikan penjelasan lebih menarik lagi ketika mengungkapkan apa yang terungkap dalam pencarian jodoh melalui program kencan kilat (speed dating)
***
Dalam sebuah program kencan kilat (atau mungkin lebih tepatnya disebut kenalan kilat), setiap peserta pria diberi kesempatan untuk bertemu dengan peserta wanita dalam waktu enam menit.
Jika dalam enam menit itu seorang wanita atau pria merasa tertarik dia diminta memberi tanda tertentu kepada penyelenggara. Jika si pria memberi tanda tentang seorang wanita dan si wanita juga memberikan tanda tentang si pria, mereka masing-masing diberi alamat e-mail untuk meneruskan proses mereka.
Proses ini pada prinsipnya banyak kemiripan dengan proses pada biro jodoh atau proses pernikahan tanpa pacaran. Hanya teknisnya tentu saja berbeda tergantung sistem nilai pergaualan yang dianut.
Menurut Gladwell, proses kencan kilat atau kenalan kilat yang kian populer itu merupakan penerapan dari kemampuan membuat kesimpulan sekejab dalam memilih pasangan.
Dalam sebuah eksperimen, seorang peserta wanita diminta menuliskan kriteria teman pria yang didambakannya. Dia menulis bahwa yang diharapkannya adalah pria yang cerdas dan tulus.
Akan tetapi, dalam praktiknya, lelaki yang dia pilih ternyata justru yang paling jenaka, sama sekali jauh dari kesan cerdas maupun tulus. Esok harinya, ketika ditanya kenapa memilih orang tersebut, sang wanita menjawab bahwa dia menyukai pria yang menarik dan jenaka. Masalahnya, ketika satu bulan ditanyakan kembali criteria pria macam apa yang dia sukai, sang wanita kembali menjawab bahwa dia suka pria yang cerdas dan tulus.
Tampaknya ini menjadi membingungkan. Dan kasus semacam ini, kasus di mana kriteria logis yang dapat dia jelaskan tidak sesuai dengan kenyataan yang dia pilih, terjadi pada banyak sekali peserta yang diamati.
***
Jadi, lelaki macam apa yang sebenarnya diinginkan oleh si wanita? Pribadi asli yang manakah yang sebenarnya ada pada si perempuan? Apakah pribadi yang mengajukan syarat awal atau pribadi yang menjatuhkan pilihan?
Ada yang berpendapat bahwa pribadi yang asli adalah yang terungkap dalam aksi, bukan ketika berpikir. Gladwell mencoba menjelaskan hal ini. Menurut dia, apa yang diungkapkan si wanita tentang kriteria lelaki idaman tidak salah, hanya kurang lengkap.
Apa yang diungkapkan sebelum acara dan sebulan kemudian adalah gagasan berdasarkan pikiran sadarnya. Itu adalah apa yang diyakininya sebagai keinginannya ketika dia merenung. Masalahnya, dia tidak menyadari adanya preferensi lain yang membentuk alam bawah sadarnya. Uraian mengenai apa yang ada dalam pilihan bawah sadarnya ada dalam pintu tertutup.
Hal yang sama sering terjadi pada orang-orang hebat, orang-orang sangat terkenal, ketika ternyata mereka tidak berhasil menjelaskan dengan jelas tentang pengambilan keputusan sekejab-nya.
Saya kira apa yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell ini penting untuk disimak oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang perjodohan atau mak comblang dari pernikahan tanpa pacaran. (semoga bisa bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)