07 Juli 2009

Pepsi dan presiden tampan Warren Harding

(bagian ketiga review buku Blink)

Harry Daugherty, seorang politisi kawakan yang pintar menilai peluang politik, suatu ketika bertemu dengan Warren Harding. Harding, ketika itu, adalah pria berusia 35 tahun, seorang redaktur pada surat kabar kecil di kota kecil Marion, Ohio.

Daugherty mengamati Harding dan dalam sekejab terpesona dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat Harding sebagai sosok yang layak diorbitkan ke panggung politik.

Harding yang tampan dan gagah itu bukanlah orang yang sangat cerdas. Dia gemar main poker, golf, minum-minum sampai mabok, dan hampir selalu memanfaatkan kelebihannya untuk merayu perempuan. Selama menjalankan karir politik, dia sama sekali tidak pernah sengaja menonjolkan diri. Dia peragu dan plin plan dalam hal-hal menyangkut kebijakan. Pidato-pidatonya, kelak digambarkan sebagai "serangkaian ungkapan kosong yang baru sampai tahap mencari gagasan."

Pada 1914 dia terpilih menjadi anggota senat, lalu pada 1920 dia terpilih menjadi presiden AS. Komentar yang sering muncul terhadap Harding sebelum dia terkenal adalah: "Lihat, tampangnya seperti senator" "Bukankah penampilannya mirip seorang calon presiden?"

Menurut buku Blink karya Malcoml Gladwell, sebagian besar sejarawan setuju bahwa Warren Harding adalah salah satu presiden sangat buruk dalam sejarah AS.

Gladwell berpendapat kesalahan bangsa Amerika sampai memilih Warren Harding sebagai presiden merupakan sisi gelap dari pemahaman cepat (rapid cognition). Pangkalnya sebagian besar adalah prasangka dan diskriminasi. Prasangka bahwa orang yang tepat menjadi pemimpin negeri haruslah sosok yang gagah, tampan, berbadan proporsional, dan seterusnya.

***
Kasus kesalaham memaknai kesan pertama sering juga terjadi pada para penjual yang kurang berpengalaman. Dalam penjualan mobil, orang yang berpenampilan petani dengan pakaian lusuh seringkali diabaikan. Padahal orang seperti ini justru mampu membeli kendaraan secara cash. Seorang anak muda yang datang siang hari dengan gaya tidak meyakinkan, ternyata malam harinya datang bersama orangtuanya untuk membeli sebuah mobil. Dan seorang gadis yang tampak centil ternyata adalah orang yang ditunjuk oleh keluarganya untuk memilih mobil keluarga yang tepat.

Dalam sebuah penelitian di Chicago terungkap bahwa para penjual mobil cenderung menawarkan harga yang lebih tinggi terhadap pembeli wanita dan pembeli kulit hitam. Alasannya, ada prasangka bahwa pembeli semacam itulah yang lebih mudah dibodohi.

Gladwell menyimpulkan bahwa para pemberi suara dalam pemilu 1920 di AS tidak mengira bahwa mereka "dibodohi" oleh ketampanan Warren Harding, sama seperti para penjual mobil di Chicago tidak sadar telah melakukan kejahatan karena berusaha "membodohi" para pembeli perempuan dan kulit hitam.

***
Gladwell dengan pintar sekali memberikan banyak sekali contoh ketika snap judgement serta rapid cognition berpeluang salah. Dalam kasus riset pemasaran, hal ini telah membawa korban perusahaan besar.

Coke dari Coca Cola merupakan minuman ringan paling populer di AS ketika Pepsi berusaha merebut pangsa pasarnya. Pepsi meluncurkan strategi pemasaran melalui apa yang disebut sebagai Tantangan Pepsi. Mereka menantang masyarakat untuk mencicipi produk minuman ringan dan menentukan mana yang lebih enak. Dalam sebagian besar testimoni terbukti bahwa Pepsi lebih disukai daripada Coke.

Pangsa pasar Pepsi meningkat. Hal ini menggelisahkan Coca cola. Bahkan dalam uji cicip yang sama yang dilakukan Coca cola, peserta memang cenderung memilih Pepsi. Maka Coca cola bekerja keras berusaha menemukan formula baru, resep baru, yang kemudian diberi nama New Coke

Ternyata produk baru ini justru membuat Coca cola semakin terpuruk. New Coke tidak disukai pelanggannya. Hal ini memaksa Coca cola kembali ke resep lama dengan label Classic Coke.

***
Menurut Gladwell, apa yang dialami oleh Coca cola menunjukkan respons yang keliru dalam memahami snap judgement. Pada kenyataannya, orang memang lebih senang dengan Pepsi ketika mencicipi. Akan tetapi, mencicipi tidak sama dengan meminum satu botol sampai tuntas. Apalagi meminumnya sehari-hari di rumah.

Uji cicip ini, menurut Gladwell, baru akan mencerminkan respons yang tepat jika pencicip diberi sekerat minum dan diminta membawa pulang, lalu baru diminta mengisi kuisioner setelah satu kerat itu habis.

Hal yang mestinya dilakukan Coca cola ketika menanggapi Tantangan Pepsi bukanlah mengubah resep, melainkan menciptakan srategi kampanye pemasaran lain yang bisa menangkal sistem cicip ala Pepsi itu.

***
Kasus lain di mana kesan pertama telah "menipu" adalah kasus produk kursi Herman Miller. Herman Miller berusaha menciptakan kursi yang ergonimis dengan desain yang sama sekali baru. Akan tetapi hasilnya adalah produk yang bertentangan sama sekali dengan stereotipe mengenai kursi nyaman yang ada dalam masyarakat AS seperti empuk, menggunakan busa, tebal, dan sebagainya.

Dalam berbagai uji pemasaran, produk ini selalu mendapat nilai jeblok. Penyebabnya, orang yang diuji tidak bisa membedakan mana yang disebut sebagai jelek dan mana yang disebut aneh. Apalagi kuisioner yang disedikan umumnya juga tidak menampung ungkapan "aneh". Ketika orang melihat desain yang aneh, ketika dituntut menjelaskan, maka yang keluar kemudian adalah kesimpulan bahwa produk itu jelek.

Gladwell mengajak kita berhati-hati dalam memaknai kesan pertama. Dalam banyak kasus, orang tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya pada kesan pertama, sama dengan kenyataan bahwa orang tidak bisa menggambarkan wajah orang lain semata-mata dari kata-kata. Jadi, ketika meminta mereka menjelaskan alasan di balik snap judgement, peluang terjadi kesalahan sangatlah besar.

***
Kembali ke kasus Warren Harding yang sangat relevan dengan pemilihan Presiden di Indonesia. Saya berpendapat bahwa "prasangka", "stereotip", "kesan" masih akan sangat menentukan hasil pemilu di Indonesia.

Prasangka suku ini suku itu, sosok yang seperti ini, kesantunan, kerendahatian, gaya yang pas atau tidak pas ketika berbicara, masih sangat menentukan bagi kebanyakan pemilih.

Mungkin ketika menimbang-nimbang, orang cenderung pada pilihan X yang agak radikal, menawarkan debirokratisasi, dan sebagainya. Akan tetapi, sampai bilik suara, kembali ke alam bawah sadar yang sangat dipengaruhi prasangka dan stereotip. Hehehehe. Wallahu alam.

Gambar: northvalleymagazine.com

03 Juli 2009

Dari Soros hingga nikah tanpa pacaran

(Bagian kedua dari review buku Blink)

Putra pemodal superkaya George Soros bercerita tentang cara ayahnya mengambil keputusan. “Ayah saya bisa duduk dan memberi Anda teori-teori untuk menerangkan mengapa dia berbuat begini dan begitu. Namun saya berpikir setidak-tidaknya separuh dari penjelasanya adalah konyol. Maksud saya, keputusan-keputusannya untuk menjual atau membeli saham adalah karena punggungnya tiba-tiba nyeri sekali. Dia betul-betul mengalami kejang, dan baginya ini sebuah peringatan dini.”

Ini merupakan salah satu penjelasan mengapa George Soros begitu hebat dalam pekerjaannya. Dia orang yang sadar tentang hasil-hasil pemikiran bawah sadarnya. Akan tetapi, di sisi lain, jika kita menanamkan uang bersama Soros, pasti akan selalu was-was kalau penjelasan yang diberikannya tentang pengambilan keputusannya adalah karena rasa nyeri di punggung.

Hal di atas menggambarkan banyak hal bawah sadar yang sulit dijelaskan oleh orang yang mengalaminya. Demikianlah yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell dalam buku Blink pada bab mengenai Pintu yang terkunci. Intinya, kita perlu menghormati kenyataan bahwa kita bisa mengetahui sesuatu tanpa tahu mengapa kita tahu dan menerima bahwa kita kadang-kadang lebih baik membiarkannya demikian.

Hal yang mirip itu juga dialami oleh pakar benda seni Bernard Berenson. Dia tidak bisa merumuskan bagaimana dia dapat melihat cacat kecil atau kelainan kecil yang menunjukkan bahwa karya itu palsu. Bahkan, dalam suatu persidangan, dia hanya mengatakan bahwa perutnya mulas, telinganya berdengung, dan dia merasa sangat tertekan ketika berhadapan dengan benda seni palsu.

Penulis buku Outliers dan Tipping Point itu menjelaskan bahwa kesimpulan sekejab (snap judgement) serta pemahaman cepat (rapid cognition) berlangsung di balik pintu terkunci. Gladwell dalam Blink memberikan penjelasan lebih menarik lagi ketika mengungkapkan apa yang terungkap dalam pencarian jodoh melalui program kencan kilat (speed dating)

***
Dalam sebuah program kencan kilat (atau mungkin lebih tepatnya disebut kenalan kilat), setiap peserta pria diberi kesempatan untuk bertemu dengan peserta wanita dalam waktu enam menit.

Jika dalam enam menit itu seorang wanita atau pria merasa tertarik dia diminta memberi tanda tertentu kepada penyelenggara. Jika si pria memberi tanda tentang seorang wanita dan si wanita juga memberikan tanda tentang si pria, mereka masing-masing diberi alamat e-mail untuk meneruskan proses mereka.

Proses ini pada prinsipnya banyak kemiripan dengan proses pada biro jodoh atau proses pernikahan tanpa pacaran. Hanya teknisnya tentu saja berbeda tergantung sistem nilai pergaualan yang dianut.

Menurut Gladwell, proses kencan kilat atau kenalan kilat yang kian populer itu merupakan penerapan dari kemampuan membuat kesimpulan sekejab dalam memilih pasangan.

Dalam sebuah eksperimen, seorang peserta wanita diminta menuliskan kriteria teman pria yang didambakannya. Dia menulis bahwa yang diharapkannya adalah pria yang cerdas dan tulus.

Akan tetapi, dalam praktiknya, lelaki yang dia pilih ternyata justru yang paling jenaka, sama sekali jauh dari kesan cerdas maupun tulus. Esok harinya, ketika ditanya kenapa memilih orang tersebut, sang wanita menjawab bahwa dia menyukai pria yang menarik dan jenaka. Masalahnya, ketika satu bulan ditanyakan kembali criteria pria macam apa yang dia sukai, sang wanita kembali menjawab bahwa dia suka pria yang cerdas dan tulus.

Tampaknya ini menjadi membingungkan. Dan kasus semacam ini, kasus di mana kriteria logis yang dapat dia jelaskan tidak sesuai dengan kenyataan yang dia pilih, terjadi pada banyak sekali peserta yang diamati.

***

Jadi, lelaki macam apa yang sebenarnya diinginkan oleh si wanita? Pribadi asli yang manakah yang sebenarnya ada pada si perempuan? Apakah pribadi yang mengajukan syarat awal atau pribadi yang menjatuhkan pilihan?

Ada yang berpendapat bahwa pribadi yang asli adalah yang terungkap dalam aksi, bukan ketika berpikir. Gladwell mencoba menjelaskan hal ini. Menurut dia, apa yang diungkapkan si wanita tentang kriteria lelaki idaman tidak salah, hanya kurang lengkap.

Apa yang diungkapkan sebelum acara dan sebulan kemudian adalah gagasan berdasarkan pikiran sadarnya. Itu adalah apa yang diyakininya sebagai keinginannya ketika dia merenung. Masalahnya, dia tidak menyadari adanya preferensi lain yang membentuk alam bawah sadarnya. Uraian mengenai apa yang ada dalam pilihan bawah sadarnya ada dalam pintu tertutup.

Hal yang sama sering terjadi pada orang-orang hebat, orang-orang sangat terkenal, ketika ternyata mereka tidak berhasil menjelaskan dengan jelas tentang pengambilan keputusan sekejab-nya.

Saya kira apa yang diungkapkan oleh Malcolm Gladwell ini penting untuk disimak oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang perjodohan atau mak comblang dari pernikahan tanpa pacaran. (semoga bisa bersambung)

30 Juni 2009

Tahu sedikit bisa berarti banyak



Blink mengungkapkan bahwa orang-orang yang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses informasi paling banyak atau sengaja menghabiskan waktu paling lama. Mereka adalah orang-orang yang telah terlatih untuk menyempurnakan seni membuat cuplikan tipis, menyaring sesedikit mungkin faktor terpenting dari segunung kemungkinan.

***
John Gottman, seorang psikolog yang pernah belajar matematika di MIT, mampu meramalkan apakah sebuah pasangan akan langgeng atau tidak hanya dengan mengamati video komunikasi antara anggota pasangan itu dalam sekejab.

Konon, jika dia sempat mengamati komunikasi sebuah pasangan dalam waktu satu jam, ketepatan ramalan Gottman adalah 95%. Kalau dia mengamati dalam waktu 15 menit, ketepatan ramalannya adalah 90%.

Gottman, dalam buku Blink: Kemampuan berpikir tanpa berpikir karya Malcolm Gladwell, dijadikan contoh bagaimana orang mengembangkan kemampuan pemahaman cepat (rapid cognition) serta cuplikan tipis (thin-slicing).

Cuplikan tipis merujuk pada kemampuan bawah sadar kita untuk menemukan pola-pola dalam situasi-situasi dan perilaku-perilaku berdasarkan pengalaman yang sangat singkat. Menurut eksperimen Gottman, sebuah perkawinan dapat dipahami melalui pengamatan sekilas. Begitu pula banyak situasi yang lain.

Bagi kebanyakan kita, melihat video percakapan sebuah pasangan tidak bisa menghasilkan informasi yang signifikan mengenai bagaimana masa depan hubungan pasangan itu. Kita umumnya memandang perkawinan sebagai hal yang kompleks sehingga butuh waktu pengamatan berminggu-minggu dalam berbagai situasi—bahagia, lelah, marah, tersinggung, tertekan, dan sebagainya—untuk memahami pasangan itu. Begitupun kesimpulan kita terhadap banyak hal lain.

***
Gottman yang menulis buku Mathematics of Divorce mengembangkan semacam teori matematis untuk menghitung potensi perceraian melalui pengamatan atas cara komunikasi pasangan yang direkam dalam video.

Dia mengembangkan sistem pengkodean yang menggambarkan emosi sesorang terhadap pasanganya. Misalnya, dia memberi nilai untuk rasa jijik dengan 1, merendahkan 2, marah 7, defensive 10, dan seterusnya.

Secara garis besar ada empat hal yang dapat diamati sebagai penentu ketidaklanggengan pasangan. Keempatnya adalah sikap defensive (defensiveness), tidak menjawab atau asal menjawab (stonewalling), sikap mencela (criticism), serta sikap merendahkan (contempt). Sikap keempat, merendahkan, adalah yang paling menentukan. Jika Gottman menangkap ada sikap merendahkan atau jijik dalam komunikasi itu, sudah cukup baginya untuk menyimpulkan adanya masalah.

Perempuan umumnya mudah mencela, sedangkan pria lebih sering asal menjawab. Adapun mengenai merendahkan tidak ada preferensi gendernya. Malcolm Gladwell dalam buku Blink memberikan penjelasan cukup panjang dan menarik mengenai teori yang dikembangkan oleh Gottman dalam mengamati cara komunikasi pasangan. Bagian ini sangat menarik.


***
Pada dasarnya Blink adalah buku mengenai dua detik pertama yang paling menentukan ketika kita mengamati sesuatu. Dua detik yang memberikan pemahaman dalam sekejab karena kemampuan bawah sadar.

Inilah yang disebut oleh Gladwell sebagai “kemampuan berpikir tanpa berpikir”. Keputusan sekejab ini didapat dari informasi yang sedikit namun akurat melalui snap judgment dan thin slicing.

Blink mengungkapkan bahwa orang-orang yang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses informasi paling banyak atau sengaja menghabiskan waktu paling lama. Mereka adalah orang-orang yang telah terlatih untuk menyempurnakan seni membuat cuplikan tipis, menyaring sesedikit mungkin faktor terpenting dari segunung kemungkinan.

Blink menyatakan bahwa kemampuan membuat cuplikan tipis bukanlah bakat yang langka. Kita melakukan cuplikan tipis setiap kali berjumpa dengan orang baru, atau harus memahami sesuatu dengan cepat, atau harus berhadapan dengan situasi baru.

Kita melakukan cuplikan tipis karena seharusnya demikian. Dan kita akan mengandalkan kemampuan tersebut karena banyak sekali informasi tersirat di dalamnya. Perhatian yang cermat dan rinci terhadap cuplikan setipis apa pun, bahkan yang tidak lebih dari satua atau dua detik, dapat berbicara banyak sekali.

***
Belum lama ini sekelomok psikolog meneliti lagi uji prediksi perceraian Gottman. Mereka meminjam sejumlah rekaman video Gottman dan menunjukkan rekaman itu ke kalangan yang bukan pakar.

Tapi, kali ini, mereka memberikan sedikit bantuan. Mereka memberikan semacam daftar emosi yang harus dicari. Mereka memecah-mecah rekaman menjadi semacam potongan sepanjang tiga puluh detik dan memperbolehkan setiap pemeriksa menonton dua kali, pertama untuk memusatkan perhatian pada pria dan kedua untuk memberikan perhatian pada wanita.

Lalu apa yang terjadi? Kali ini para pemeriksa mampu menebak mana pasangan yang sukses dalam perkawinan dengan ketepatan di atas 80%. Itu belum sehebat kemampuan Gottman. Namun, menurut Gladwell, hasil itu sangat mengesankan dan bukan suatu kebetulan. Dia menyimpulkan bahwa kita sebenarnya tidak asing dengan seni cuplikan tipis itu.

Gladwell dalam Blink menyimpulkan bahwa demikianlah cara kerja bawah sadar kita. Ketika kita tiba-tiba mengambil keputusan atau mendapatkan firasat tertentu, bawah sadar kita bekerja seperti yang dimaksudkan oleh Gottman.

Sistem itu menyaring situasi yang kita hadapi, mengabaikan banyak hal yang tidak penting, kemudian memustakan pada inti masalah. Dan sesungguhnya bawah sadar kita piawai sekali melakukan perkara ini. Sampai-sampai, metode cuplikan tipis sering bisa menghadirkan jawaban lebih baik ketimbang melalui proses berpikir yang lama dan melelahkan.

Wallahu alam. (semoga bisa bersambung)

28 Juni 2009

Perumahan di sisi barat kota Bandung


Saya tulis sedikit pengalaman ini, barangkali berguna untuk mereka yang sedang mencari rumah di kawasan barat Kota Bandung. Selama beberapa bulan terakhir ini saya memang mencermati rumah-rumah yang sedekat mungkin dengan pintu tol Pasteur akan tetapi dengan harga yang tetap terjangkau.

Saya membagi kawasan pengamatan secara umum menjadi dua. Pertama adalah daerah ‘gunung’ yang berhawa sejuk dengan kontur naik turun dan dekat tempat wisata. Wilayah ‘gunung’ ini meliputi Cihanjuang, Cipageran, Cimahi bagian utara, Sariwangi, dan sekitarnya.

Wilayah kedua adalah ‘kota’ yang relatif ramai, padat penduduk, banyak orang berjualan bermacam produk, dekat gerbang tol, dekat ITB. Wilayah yang saya maksud berada di sekitar Jalan Dakota, Jalan Mentor, Cimindi, Kebon Kopi, sisi belakang IPTN, dan sekitarnya.

***
Setelah ditinjau lagi, Cipageran tampaknya terlalu jauh. Jarak perumahan di sana bisa lebih dari 15 kilometer dari gerbang tol Pasteur, padahal sudah menerobos lewat Gunungbatu-Cimindi. Angkutan umum-nya juga tidak sebagus daerah lainnya. Jadi Cipageran dikeluarkan dari daftar.

Kawasan yang paling menarik adalah Cihanjuang. Cihanjuang sedang tumbuh pesat. Ujung depan jalan Cihanjuang berjarak 5 km dari pintu tol Pasteur kalau ditempuh lewat Gunungbatu-Cimindi.

Angkot menyusuri jalan Cihanjuang ada sampai sekitar jam 21.00. Minggu lalu saya mencoba pulang dari arah Cihanjuang jam 20.00 dan tidak mengalami kesulitan mendapatkan angkot.

Daerah ini konon lebih mudah diakses dengan angkutan umum dibandingkan Sariwangi-Ciwaruga yang sudah lebih dahulu tumbuh dan harga jual rumahnya sekarang gila-gilaan. Di Jalan Cihanjuang ada Kebun Strawberry yang jaraknya 8 km dari gerbang tol Pasteur.

***
Di Cihanjuang ada perumahan Artabaha (di jalan Artabahana). Unit yang tersisa tinggal beberapa kapling. Yang paling menarik dari perumahan ini adalah pembeli bisa memilih desain sendiri. Bahkan ukurannya pun bisa diubah. Misalnya, ukuran standar untuk tanah 120 meter adalah rumah tipe 60. Kita bisa nego menjadi tipe 50 dengan harga yang lebih murah. Untuk tipe 50/120 harganya sekitar Rp200 juta.

Perumahan di sini setahu saya termasuk paling murah dibandingkan dengan perumahan lain di sekitar Cihanjuang. Komplek berisi kurang dari 40 rumah ini bersebelahan dengan Perumahan Bumi Sariwangi yang terkenal itu, bahkan ada jalan tembus yang bisa diterobos dengan jalan kaki.

Konsep di perumahan ini adalah kuldesak, satu kluster dengan satu pintu dan ujungnya tembok jalan buntu. Salah satu masalah di sini adalah jauh dari masjid, dekat kuburan Cibaligo.

Perumahan lain yang juga tumbuh adalah Taman Cihanjuang, sekitar 1 km di sebelah utara Artabahana. Jalan masuk perumahan ini besar dan bagus.

Desain rumah-rumah di bagian depan tampak eksotik kendati kecil-kecil. Tapi harganya lumayan juga. Harga untuk tipe 29/93 adalah Rp171 juta, tipe 80/126 rp356 juta. Kapling yang tersisa adalah bagian belakang, berbatasan dengan Jalan Cisasawi. Posisi perumahan ini ada di sebelah barat Jalan Cihanjuang.

Sedikit lebih atas dari taman Cihanjuang ada Selaras Cihanjuang. Posisinya di sebalah timur Jalan Cihanjuang. Ini ready stock. Konsepnya minimalis dan keren. Ada gerbang di depan. Harganya untuk tipe 45/95 rp227 juta, untuk 60/117 rp292 juta, tipe 37/80 sebesar rp189 juta.

Dekat dengan Taman Cihanjuang ada juga Darul Fikri, dekat dengan SDIT Darul Fikri. Ini salah satu sekolah favorit di daerah itu. Pengembangnya sama dengan Artabahana, jadi harganya tidak terpaut terlalu jauh. Lebih murah daripada Taman Cihanjuang maupun Selaras Cihanjuang.

Masalahnya, jarak dari jalan raya Cihanjuang cukup jauh, capek juga kalau jalan kaki. Kontur tanahnya naik turun jadi kadangkala car port ada di bawah, lantainya ada di atas. Indah dan unik. Tapi butuh keahlian tersendiri untuk mengendalikan kendaraan ketika parkir atau maneuver atau bersimpang jalan.

***
Di Sariwangi ada banyak sekali perumahan yang sedang berkembang. Bumi Sariwangi konon akan membangun tipe-tipe kecil yang dipasarkan dengan kisaran Rp300 juta. Tapi, tanah di sana dihargai Rp2 juta per meter persegi dengan harga bangunan Rp2,75 juta per meter persegi.

Ujung barat Jalan Sariwangi yang bertemu dengan Jalan Cihanjuang berjarak sekitar 8,5 km dari pintu tol Pasteur. Saya belum sempat survey lebih banyak tentang daerah Sariwangi. Tetapi berhubung angkotnya tampaknya tidak semudah Cihanjuang, minat saya terhadap perumahan di sini turun.

***
Pengamata berikutnya di daerah kota. Di sana jarang ada perumahan dengan ukuran besar. Kalaupun ada yang besar, harganya tinggi sekali.

Di sekitar Jalan Dakota--Mentor ada pengembang bernama Kurjati membangun rumah ukuran mungil di daerah-daerah yang semula adalah kebon. Sebagian yang lain merupakan revitalisasi dari bangunan lama.

Pengembang semacam ini menarik sekali. Rumah yang saya kontrak sekarang ini adalah hasil karya Kurjati ini. Sekitar sembilan bulan lalu, ketika kami survey, rumah yang kami tempati ini masih berupa kebon. Sekarang sudah berjajar beberapa rumah.

Spanduk yang terpampang beberapa bulan lalu, spanduk terakhir, mencantumkan harga sekitar Rp117 juta untuk tipe 36/50. Tipe yang agak besar ada pada kisaran Rp150 juta. Bangunan dari Kurjati ini tersebar di berbagai penjuru sepanjang Dakota Mentor. Konon, harga perumahan Kurjati ini naik tiap bulan. Jadi entahlah berapa harga sekarang sebab tidak ada lagi spanduk yang terpampang.

Sayangnya, rumah-rumah itu dibangun di lokasi yang tidak bisa dijangkau mobil. Selain itu, skema pembayaran umumnya cash dan sulit mengakomodasi KPR.

Ada juga pengembang besar yang membangun perumahan eksklusif di daerah ini seperti Armala Pasteur serta beberapa bangunan baru di Mega Asri. Tapi harganya, untuk tipe kecil saja bisa di atas Rp300 juta.

***
Nah, di sela-sela hiruk pikuk itu ada juga perumahan kecil yang nyelip. Namanya Puri Matahari. Lokasinya di Google Earth atau Wikimapia masih berupa sawah. Posisinya persis di sebelah bekas pabrik Kerupuk Galunggung. Bisa masuk mobil baik lewat Dakota, Mentor, Babakan Cianjur, Babakan Radio.

Rumah ready stock di sana aslinya tipe 42 dengan ukuran tanah bervariasi antara 76 meter persegi dan 85 meter persegi. Harganya mulai Rp210 juta hingga Rp230-an juta. Konsepnya juga kuldesak alias jalan buntu. Dan kebetulan posisi perumahan ini juga di ujung Jalan Campaka yang buntu.

Jaraknya dengan garis lurus sekitar 700 meter dari gerbang tol Pasteur. Kalau mengikuti jalan yang bisa dilalui mobil jaraknya bervariasi antara 1,5 km dan 2,5km.
Menurut taksiran saya rumah di Puri Matahari relative murah dibandingkan perumahan lain di deerah itu. Tapi entah mengapa sudah setengah tahun, dari sembilan unit yang dibangun kok sampai dua pekan lalu masih tersisa 4 unit. Mungkin mereka tidak agresif berjualan sebab posisi harganya juga tidak banyak berbeda dibandingkan setengah tahun yang lalu.

Kalau mengamati masih banyak sawah di daerah ini, saya yakin dalam waktu dekat akan banyak bermunculan cluster-cluster kecil dengan sekitar 10 rumah di daerah ini. Wallahu alam.

Gambar: Rumah di Puri Matarahi, Babakan Cianjur, sebelah Bandara Hussein Sastranegara.

11 Juni 2009

Sepeda motor favorit




Sejak pertama kali melihat motor roda tiga di Jepang pada 2007, saya terus berharap motor semacam itu hadir di Indonesia. Di sini memang sudah banyak hadir motor roda tiga, terutama digunakan oleh tukang sayur dan keperluan semacam itu. Akan tetapi, bagi saya, motor roda tiga seperti yang berkembang di sini memiliki banyak kelemahan untuk digunakan keperluan sehari-hari bagi orang yang tidak berdagang. Ukurannya yang terlalu besar dan panjang (sebesar mobil pick up), desainnya yang tidak mungkin dikendarai perempuan, serta merek-nya yang tidak jelas, adalah beberapa di antara kelemahannya.

Saya ingin motor yang kecil, matic, mirip dengan Yamaha Mio atau Honda Vario, namun roda belakangnya ada tiga. Ringan dan kecil, sehingga bisa dipakai pria dan wanita, serta masih layak dibawa ke tempat kerja.

Adanya kaca depan, wiper, serta atap mengurangi risiko terkena angin, panas, serta hujan. Mesin motor membuatnya hemat. Roda tiga membuatnya lebih stabil tanpa harus menurunkan kaki ketika berhenti.

Saya berharap motor roda tiga semacam ini segera masuk ke Indonesia. Bukan motor roda tiga buatan Piaggio yang semahal mobil itu.

Akan tetapi, saya melihat masih ada potensi kendala. Misalnya di Jalan Diponegoro, Jakarta, ada tulisan roda tiga belok dilarang belok kiri. Tampaknya regulasi masih memandang bahwa yang dimaksud roda tiga adalah bemo atau bajaj. Mungkin ini pula yang membuat importir mengalami kendala?

08 Juni 2009

Peran Aturan 150 dalam epidemi sosial

(Bagian ketiga dari review buku Tipping Point)

“Angka 150 tampaknya menyatakan jumlah maksimum individu yang memungkinkan seseorang mempunyai hubungan sosial murni, yakni jenis hubungan yang memungkinkan seseorang saling mengenal dengan baik. Dengan kata lain, ini jumlah orang yang tidak akan membuat Anda merasa kikuk ketika datang ke sebuah pesta tanpa undangan resmi.”

Konon itulah yang mendasari mengapa unit-unit satuan tempur fungsional militer umumnya berisi tidak lebih dari 200 orang. Organisasi sosial yang tumbuh pesat perlu mewaspadai setiap mencapai titik kritis jumlah anggota sekitar 150 orang.

***
Dalam salah satu bagian buku Tipping Point, Malcolm Gladwell menjelaskan mengenai transactive memory. Sebagian besar hapalan sebenarnya berada di luar otak. Kita hanya menyimpan sedikit nomor telepon di otak, sedangkan ratusan nomor lain kita serahkan pengingatannya pada buku catatan atau phonebook atau addressbook. Dalam banyak hal kita saling berbagi tugas pengelolaan informasi dengan orang terdekat.

Sebuah pasangan yang sudah akrab, atau satu keluarga, umumnya cenderung melakukan “pembagian tugas” dalam mengingat sesuatu. Ada hal-hal yang seolah-olah secara otomatis langsung menjadi tugas sang pria untuk mengingat, ada hal lain yang otomatis menjadi tugas wanita untuk mengingat, serta ada hal-hal tertentu yang otomatis menjadi tugas anak remajanya.

Dalam banyak kasus kita bahkan hanya mengingat sedikit sekali rincian. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, kita tahu ke mana harus datang atau bertanya atau minta pertolongan ketika kita membutuhkannya.

Misalnya, seorang ibu mengandalkan anak lelakinya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan problem komputer dan Internet. Si anak juga secara otomatis, seolah-olah mendapatkan tugas untuk menangani setiap infortmasi baru yang terkait dengan computer dan semacamnya. Dia secara otomatis telah ditunjuk untuk menangani hal semacam itu.

Kaum wanita cenderung menjadi pakar dalam hal pengasuhan anak, bahkan dalam masayarakat modern di mana suami maupun istri sama-sama bekerja. Wanita umumnya diandalkan untuk menyimpan informasi seputar anak. “Masing-masing domain ditangani oleh sesedikit mungkin orang dengan kemampuan terbaik di bidangnya.”

Nah, kembali ke angka 150. Konon, pola pembagian mengikuti transactive memory hanya efektif untuk jumlah di bawah 150 orang. Lebih dari itu perlu melibatkan pembagian tugas yang njelimet.

Dalam kaitan dengan epidemi sosial, kata Gladwell, kita dapat meningkatkan secara dramatis penerimaan atas gagasan-gagasan baru dengan cara memanipulasi jumlah individu pada tiap-tiap kelompok sosial. Wallahu alam.

04 Juni 2009

Dorongan kecil memicu epidemi sosial


(Bagian kedua dari review buku Tipping Point)

"Coba perhatikan dunia sekitar Anda. Kelihatannya sulit untuk diubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian. Dengan dorongan seringan-ringannya, asal di tempat yang tepat, apa pun dapat diungkit."

***
Orang ekonomi sering berbicara mengenai hukum 80/20, yaitu gagasan bahwa pada umumnya, 80% "pekerjaan" dilakukan hanya oleh 20% orang yang terlibat. Dalam masyarakat pada umumnya, 80% kejahatan dilakukan oleh 20% penjahat; 80% kecelakaan lalu lintas dilakukan oleh 20% pengendara, 80% kekayaan dikuasai oleh 20% warga, dan seterusnya.

Akan tetapi, ketika berbicara mengenai epidemi, ketidakseimbangan itu semakin ekstrem. Seluruh pekerjaan hanya dilakukan oleh segelintir orang. Itulah yang disebut sebagai hukum tentang yang sedikit (the law of the few). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa epidemi gonore di Colorado yang berpenduduk 100.000 orang dipicu secara dramatis hanya oleh ulah 168 orang di empat kawasan permukiman yang senang berkunjung ke enam bar yang sama.

Epidemi sosial bekerja dengan cara yang sama, yaitu digerakkan oleh upaya dan ulah segelintir orang saja. Gladwell dan Tipping Point mengungkapkan setidaknya ada tiga kelompok penting yang menentukan menjalarnya sebuah epidemi sosial. Mereka adalah para penghubung (the connector), para bijak bestari (the mavens), serta para penjaja (salesmen).

****
Ada sebuah teori yang menyatakan manusia terkait satu dengan yang lain dalam enam tingkat (six degrees of separation). Intinya, kira-kira, kalau saya dan Anda tidak saling kenal dan berada dalam kota yang berbeda maka sangat mungkin bahwa kawan dari kawan dari kawan dari kawan dari kawan saya mengenal Anda. Jumlah penghubung ini bisa lebih pendek dari enam. Hampir semua orang di dunia terhubung dengan cara seperti ini.

Namun dalam enam derajat keterpisahan (atau keterhubungan) ini, ada orang-orang tertentu yang memiliki koneksi jauh lebih banyak dibandingkan yang lain. Mereka lah yang disebut sebagai penghubung, orang-orang dengan bakat khusus yang memungkinkan dunia saling terhubung. Di setiap kalangan selalu ada orang yang dikaruniai bakat luar biasa untuk bergaul dan berkenalan. Mereka lah yang dalam the law of the few bertindak sebagai para penghubung.

Ketika mengungkapkan mengenai keterhubungan ini Malcolm Gladwell menyinggung mengenai kekuatan koneksi lemah (weak ties). Dia menyatakan bahwa dalam mendapatkan informasi baru atau gagasan baru, koneksi lemah selalu lebih penting daripada koneksi kuat.

Koneksi kuat adalah orang yang menghabiskan banyak hidupnya bersama kita seperti teman kantor atau keluarga dekat. Sebagian besar informasi yang mereka ketahui juga sudah kita ketahui. Adapun koneksi lemah, seperti kenalan yang jarang bertemu, sangat mungkin tahu lebih banyak mengenai hal-hal yang tidak kita ketahui. Dalam hal mencari pekerjaan baru dan peluang baru, konon koneksi lemah sering lebih bermanfaat.

***
Selain para penghubung, elemen pemicu epidemi sosial, kata Gladwell, adalah para bijak bestari (the mavens) dan para penjaja (salesmen).

Dalam konteks pemasaran produk, mavens adalah orang-orang yang mempunyai informasi mengenai banyak produk, harga, atau tempat yang berbeda-beda. Mereka tahu banyak sekali mengenai spesifikasi suatu produk, kelebihan dan kekurangannya dibandingkan dengan produk lain, di mana bisa membeli dan mendapatkan produk itu, dan seterusnya. Orang ini senang berbagi informasi dengan konsumen dan menjawab pertanyaan orang-orang lain.

Mavens bukanlah pembujuk, mereka menyebarkan informasi dan menolong tanpa pamrih penjualan. Dalam pandangan saya, di era sekarang ini, banyak blogger atau aktivis mailing list yang bertindak sebagai mavens, mereka memberikan informasi yang sangat detil dan berguna tanpa bermaksud membujuk atau menjual.

Adapun elemen ketiga adalah para penjaja (salesmen). Mereka memang memiliki keahlian khusus dalam menjual, memasarkan ide, gagasan, atau produk.

***
Gladwell menyatakan jika kita ingin memicu sebuah epidemi sosial secara gethok tular (word of mouth), segala sumber daya harus dipusatkan pada tiga kelompok ini (connector, mavens, serta salesmen). Yang lain tidak terlalu penting.

Kemudian, seperti yang saya tulis pada review bagian pertama (kekuatan konteks dalam peidemi gagasan), perlu sekali menempatkan konteks yang benar. Dalam kasus banyak orang tahu terjadinya kejahatan, masing-masing orang tahu bahwa orang lain peduli, tetapi mengira bahwa orang lain pula yang turun tangan.

Tipping Point menegaskan bahwa dengan memanipulasin ukuran kelompok, penerimaan gagasan bisa meningkat drastis. Dengan penyajian informasi yang tepat, kelekatannya dapat meningkat pesat. Dengan memanfaatkan orang yang pergaulannya luas, sebuah epidemi sosial dapat dikembangkan.

Kutipan yang sangat menarik di bagian akhir adalah: "Coba perhatikan dunia sekitar Anda. Kelihatannya sulit untuk diubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian. Dengan dorongan seringan-ringannya, asal di tempat yang tepat, apa pun dapat diungkit."

***
Bagi saya, ide dasar dalam buku ini sangat menarik. Dari dulu saya selalu tertarik untuk belajar mengenai bagaimana penyebaran suatu gagasan terjadi. Sayang sekali, buku yang terbit pada 2007 sebelum Malcolm Gladwell populer di sini dengan buku Outliers dan Blink itu tidak banyak membahas peran alat-alat baru seperti Internet, email, maupun jejaring sosial (semacam Facebook, Friedster) dalam penyebaran gagasan.

Pasti menarik untuk membahas bagaimana Facebook menjadi epidemi (digunakan begitu banyak orang) dan bagaimana perannya sebagai alat merekayasa epidemi yang lain. Facebook berkembang lewat gethok tular dan sekaligus menjadi alat gethok tular.

Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini dicetak dengan kertas tebal yang berat serta ada banyak sekali salah ketik (bahkan di halaman cover belakang ada salah ketik).

Berpuluh-puluh halaman buku ini dihabiskan untuk menjelaskan siaran televisi di AS yang (meskipun sebagian dikenal pula di sini seperti Sesame Street dan Blue's Clues) bagi saya tetap sulit ditangkap konteksnya.

Bagaimana pun, buku ini tetap menarik.

03 Juni 2009

Dhuh Gusti…

Pada dasarnya saya suka lagu-lagu Jawa. Senang sekali ketika sekian tahun lalu saya menemukan semacam nasyid yang full Jawa. Sebenarnya bukan nasyid karena ada musik tradisionalnya. Betul bahwa sejak lama ada nasyid yang mengandung lagu Jawa, tapi tidak full, hanya beberapa lagu. Lagu kutipan seperti Tamba Ati, itu sudah biasa saya dengar sejak kecil lewat masjid di dekat rumah di kampung saya. Jadi tidak lagi menarik.

Nah, lagu-lagu dalam kaset ini benar-benar baru saya kenal. Dan enak sekali. Sayangnya cover kaset lagu Jawa ini sudah hilang. Saya senang karena pengucapannya benar-benar Jawa, tidak dibuat-buat seperti orang Jakarta yang kadang sok Jawa di tivi-tivi itu. Sayangnya lagi, beberapa lagu di sana agak berbau Syiah, terlihat dari penekanan pada Ahlul bait (Katanya, dua hal yang harus dipegang bukan Al-Quran dan As-Sunnah melainkan Al-Quran dan Ahlul bait)

Inilah kutipan lagu yang paling saya sukai

Dhuh Gusti, inkang damel gesang
Dosa kula sapirang-pirang
Taat kula namung arang-arang
Amal ibadah kadang-kadang, mboten karuan

Manah kula taksih pepet
Awak kula taksih ribet
Akal kula taksih cupet
Paringana dalan kang padhang
Ampun tambah dhedhet

Dhuh Gusti, nyuwun pitulungan
Gaman kula namung tangisan
Donga kula namung ketaatan
Pusaka kula mung panyuwunan lan pangarepan

Dadosaken kawula abdi
Ingkang sae nasibipun
Tambah jembar rejekinipun
Tansaya pareg anggene ngabekti dhateng sinuwun

Dhuh Gusti, kula nyuwun ngapura
Saking sedaya dosa
Ingkang ndadosaken mala

Dhuh Gusti, dosa kula sawiyaring segara
Namung ngapura Paduka punika luwih amba

Dhumateng sinten malih
Kajawi dhateng Sinuwun
Gusti Kang Maha Agung
Pangapuranipun

02 Juni 2009

Kekuatan konteks dalam epidemi gagasan


Suatu ketika di New York, seorang peserta kontes kecantikan bernama Ketty Genovese dikejar-kejar oleh para pembunuh bayaran. Dia dianiaya sampai tiga kali di jalanan selama setengah jam, sementara 38 tetangganya menyaksikan kejadian itu dari jendela masing-masing. Tidak seorang pun dari 38 saksi itu mengangkat telepon untuk menghubungi polisi.

Penjelasan paling umum mengenai kejadian semacam ini adalah ketidakpedulian orang kota terhadap tetangganya. Ini cermin dari gaya hidup individualis khas kota besar.

Akan tetapi, ada penjelasan lain yang dapat kita baca dalam buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Mengutip sebuah penelitian, hal semacam ini terkait erat dengan kekuatan konteks: sejauh mana para saksi mengerti konteks kejadian dan memperkirakan tindakan saksi-saksi lain.

Dalam sebuah penelitian, Bibb Latane dan John Darley mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura mengalami epilepsi.

Hasilnya:
1. Apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tidak tahu bahwa ada orang lain di tempat kejadian, peluang orang itu untuk memberikan bantuan adalah 85%.
2. Akan tetapi, jika orang itu tahu ada 4 tetangganya lain yang menurut perkiraannya mendengar gejala serangan epilepsy, peluang untuk menolong turun menjadi 31%

Dalam eksperimen lain, orang yang melihat asap mengepul dari sebuah pintu mempunyai peluang 75% untuk melaporkan kejadian itu ketika dia sendirian. Peluangnya tinggal 38% ketika saksi mata tahu bahwa di sekitarnya ada banyak saksi mata yang lain.

Dengan kata lain, ketika para saksi mata tidak sendirian, tanggung jawab untuk mengambil tindakan menyebar. Masing-masing mengandalkan orang lain untuk mengambil tindakan pertolongan.

Kembali ke kasus Ketty Genovese, psikolog berpendapat kalau saja dia diserang di jalanan sepi dan seseorang menyaksikan atau mendengar kejadian itu, sang gadis mungkin justru mendapat pertolongan.

Dengan kata lain, agar peduli dengan musibah tetangganya, barangkali orang perlu informasi sesedikit mungkin tentang situasi yang sesungguhnya. Informasi yang terlalu banyak, kadangkala justru membuat orang menempatkan diri pada konteks yang tidak tepat.

***
Bagitulah salah satu paparan menarik dari buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Dalam buku ini, Gladwell berupaya menjelaskan bagaimana sebuah gagasan, produk, dan pesan berkembang menjadi epidemi. Epidemi itu bisa berwujud tren fesyen, transformasi buku menjadi sangat laris, meredanya gelombang kejahatan, penyebaran kebiasaan merokok, dan sebagainya.

Penulis buku Outliers itu mencermati ada tiga karakteristis epidemi. Pertama, sifat menular. Kedua, perubahan kecil dapat bermakna besar. Ketiga, perubahan berlangsung dramatis, tidak bertahap.

Semua epidemi memiliki tipping point. Tipping point adalah istilah yang digunakan untuk menyebut massa kritis, saat tercapainya ambang batas atau titik pergolakan dari suatu gagasan, produk, maupun pesan. Fokus dari pembahasan dalam buku ini dalah penyebaran melalui gethok tular atau word of mouth.

Ada tiga kaidah dasar bagi menjalarnya epidemi yaitu hukum tentang yang sedikit, faktor kelekatan, serta kekuatan konteks. Bagian paling awal dalam tulisan ini, cerita mengenai kematian tragis Ketty Genovese, merupakan salah satu uraian dalam menjelaskan peran kekuatan konteks terhadap penerimaan orang atas suatu gagasan. (Mudah-mudahan bisa bersambung)

Mana yang lebih baik

Slogan yang diusung oleh pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) ‘lebih cepat lebih baik’ memang sangat menarik. Dan slogan ini mudah sekali untuk dimodifikasi serta disesuaikan dengan berbagai bidang yang lain. Kalau JK-Win menang, saya yakin slogan semacam ini akan dipakai beramai-ramai oleh bermacam produsen untuk mendongkrak penjualannya. Kalaupun tidak menang, slogan semacam ini masih dapat digunakan juga.

Saya mencoba membuat bermacam-macam varian atas slogan lebih cepat lebih baik itu.

kapitalis: lebih kaya lebih baik;
komunis: lebih kenyang lebih baik;
sosialis: lebih merata lebih baik;
individualis: lebih egois lebih baik;
populis: lebih disukai lebih baik;
darwinis: lebih fit lebih baik;
pluralis: lebih toleran lebih baik;
neoliberalis: lebih bebas lebih baik;
ekonomi kerakyatan-is: lebih banyak kuda lebih baik;
fasis: lebih taat lebih baik;
eksistansialis: lebih absurd lebih baik;
platonis: lebih teoritis lebih baik;
pragmatis: lebih menguntungkan lebih baik;
eksibisionis: lebih megah lebih baik;
kompromis: lebih banyak persamaan lebih baik;
santri-is: lebih taqwa lebih baik;

progressif-is: lebih muda lebih baik;
konservatif-is: lebih kuno lebih baik;
generalis: lebih luas lebih baik;
spesialis: lebih fokus lebih baik;
narsis: lebih bergaya lebih baik;
necis: lebih rapih lebih baik;
Javanese: lebih sopan lebih baik;
turis: lebih indah lebih baik;
selebritis: lebih cakep lebih baik;

sinetron: lebih cantik lebih baik;
dokter: lebih sehat lebih baik;
insinyur: lebih canggih lebih baik;
akuntan: lebih banyak kuitansi lebih baik;
auditor: lebih teliti lebih baik;
binaragawan: lebih kekar lbh baik;
kolumnis: lebih sering dimuat lebih baik;

teh celup: lebih kental lebih baik;
balsem: lebih panas lebih baik;
rumah: lebih besar lbh baik;
company: lebih flexibel lebih baik;
sambal: lebih pedas lebih baik;

31 Mei 2009

Jatah umur dan teori tentang menunggu

Momentum ulang tahun mengingatkan saya mengenai jatah umur. Selalu ada teman yang dengan bijak menyatakan bahwa saat ulang tahun adalah saat di mana pengurangan usia kita justru diperingati. Momentum makin dekat dengan kematian tidak selayaknya dirayakan.

Dengan matematika sederhana tentu saja kita semua setuju bahwa berjalannya waktu yang ditandai dengan bertambahnya umur mendekatkan kita pada waktu ajal. Akan tetapi, pikiran saya terusik mengenai asumsi bahwa waktu ajal yang dijadikan acuan itu fixed. Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa silaturahim memanjangkan umur?

Yang juga menggelitik saya adalah tulisan Nassim Nicholas Thaleb mengenai menunggu dalam bukunya Black Swan.

“Makin lama Anda menunggu, makin lama pula Anda diharapkan menunggu. Misalkan Anda mengirimkan sepucuk surat kepada seorang pengarang terkenal. Anda tahu bahwa dia sibuk dan mungkin baru dua pekan ke depan dapat menjawab pesan Anda. Jika tiga pekan ke depan kotak pos Anda masih kosong, jangan berharap surat balasan akan datang besok. Sebaiknya Anda berharap surat itu akan datang kira-kira tiga pekan lagi. Jika tiga bulan kemudian surat balasan itu tidak datang, Anda harus menunggu satu tahun lagi. Tiap hari akan membawa Anda makin dekat kematian, namun makin jauh dari menerima surat balasan.”

Ini pernyataan lainnya yang lebih menarik. “Di sebuah negara maju, seorang bayi yang baru lahir diperkirakan meninggal 79 tahun kemudian. Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-79, harapan hidupnya, berdasarkan asumsi kesehatannya normal, adalah 10 tahun (bukan nol tahun). Pada usia 90 tahun, dia diharapkan hidup 4,7 tahun lagi (bukan minus 11 tahun). Pada usia 100 tahun, dia diharapkan hidup 2,5 tahun lagi (bukan minus 21 tahun).”

Jadi, harapan hidupnya memang berkurang, akan tetapi acuan batas kehidupannya juga bergerak, sesuai dengan pergerakan usianya.

Nah, kalau banyak ajang silaturahim (termasuk silaturahim virtual pada saat ulang tahun), tidakkah ini juga bisa dimaknai bahwa ada kemungkinan batas acuan kehidupan ikut bergerak ke depan kendati sisa harapan hidupnya berkurang? Atau bahkan ada kondisi tertentu yang membuat angka harapan hidup juga meningkat seriing berjalannya waktu, misalnya karena hidupnya semakin sehat??

Wallahu alam.

26 Mei 2009

Mouse kok semahal keyboard?


Saya baru saja membeli mouse untuk Eee PC. Warnanya klop banget dengan warna Eee PC. Beli di salah satu toko di Ratu Plaza, Jakarta, harga Rp85.000, ukuran kecil, merek Touch Link, kabel gulung. Nyaman sekali digunakan bersama dengan papan ketik eksternal. Serasa mengetik pakai PC saja. Hanya ukuran layar yang lebih kecil. Ukuran mouse serta keyboard secara keseluruhan sedikit dipangkas, tapi ukuran per tombol tetap sama. Jadinya nyaman sekali.

Mengapa saya tidak dari dulu mendapatkan kenikmatan mengetik di Eee PC dengan bantuan mouse? Mengapa begitu berhemat atau begitu pelit? Bukankah saya sudah lama pakai mouse, sejak pertama kali mengenal komputer. Lalu mengapa tidak dari dulu membeli mouse untuk mendapatkan kemudahan dalam mengetik, memproduksi informasi? Jadi tidak perlu merana terlalu lama karena touch pad yang tidak intuitif, yang tidak nyaman itu?

Sebenarnya saya bukannya pelit. Saya sudah beberapa kali punya mouse untuk Eee PC sebelum sampai pada titik yang sekarang ini. Mouse saya yang pertama, kecil, putih, ringan, keren, ada lampunya. Tapi ada beberapa masalah. Masalah pertama, sering error ketika dipakai pada Eee PC ini. Saya tidak tahu persis apakah ada masalah dengan OS bawaannya. Masalah terakhir, ada bagian pada mouse yang koneksinya tidak mantap. Jadi putus nyambung, begitu deh.

Mouse saya yang kedua warna merah, harga murah, bukan optik, ukuran lebih besar, baru dipakai sebentar sudah error. Kali ini yang error bagian klik kirinya. Ya sudah, langsung pensiun. Kayaknya ada satu mouse lagi yang juga error tapi entah sudah di mana benda itu. Saya juga sudah lama warnya.

Beberapa pengalaman dengan mouse yang dibawa-bawa itu menyebabkan saya sebal. Saya bandingkan dengan mouse yang di kantor yang jarang rewel.

Ada hal yang masih mengganjal dan sulit saya mengerti. Harga mouse bermerek ternyata mahal. Masak sih harga mouse bisa sama atau bahkan lebih mahal daripada harga keyboard? Harga mouse bisa lebih mahal juga daripada dongle Bluetooth? Apakah sensor gerak dan semacamnya dalam mouse itu masih begitu mahalnya?

24 Mei 2009

Sukses adalah akumulasi keberuntungan


Orang-orang tidak berawal dari nol. Semua berutang pada orang tua dan dukungan orang lain. Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Itulah yang saya tangkap sebagai premis utama dari buku Outliers karya Malcolm Gladwell. Biasanya, kisah tentang orang yang amat sukses menonjolkan faktor kecerdasan dan ambisi. Gladwell yang keturunan Jamaika dan pernah bekerja sebagai reporter bidang bisnis dan sains di The Washington Post itu ingin menyatakan bahwa faktor penentu kesuksesan jauh lebih rumit, kompleks, dan lebih menarik daripada apa yang seringkali diungkap orang.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek tertinggi di hutan menjadi yang tertinggi bukan semata-mata karena dia paling gigih. Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

***
Outlier adalah istilah yang dipakai untuk menyebut orang yang berada di luar distribusi normal, orang yang pencapaian suksesnya di luar jangkauan normal.

Gladwell dalam buku setebal 340 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama berusaha menjelaskan mengapa orang-orang yang paling terkemuka di bidang peranti lunak seperti Bill Gates, Steve Balmer dan Paul Allen (pendiri Microsoft), Steve Jobs (pendiri Apple), Eric Schmidt (boss Novell dan CEO Google), Scott McNealy, Bill Joy, Vonid Khosla, Andy Bechtolsheim (pendiri Sun Microsystems) lahir sekitar tahun 1953-1955.

Salah satu argumentasi Gladwell, adalah bahwa orang-orang yang lahir sebelum tahun 1950 sudah terlalu tua dan mapan untuk menangkap revolusi komputasi yang terjadi pada 1975, sementara orang yang lahir setelah 1956 pada saat yang sama masih terlalu muda.

Dengan cara yang sama, Gladwell berusaha menjelaskan mengapa para pemain hoki top di Kanada sebagian besar lahir pada triwulan pertama (Januari-Maret). Menurut dia, sekolah hoki di Kanada menetapkan batasan usia masuk pada tanggal 1 Januari. Sehingga, anak yang lahir pada 2 Januari memiliki kesempatan untuk berada satu kelas dengan anak yang lahir pada 31 Desember di tahun yang sama. Dengan demikian, anak yang lahir pada Januari memiliki keungulan usia 11 bulan dibandingkan yang lahir pada Desember.

Mereka direkrut dalam usia 9 atau sepuluh tahun. Selisih 11 bulan bisa berarti perbedaan fisik yang signifikan. Wajar jika prestasinya dalam bidang hoki juga berbeda. Anak yang unggul pada tahap awal penyaringan berhak untuk mendapatkan latihan yang lebih banyak dibandingkan dengan anak yang kurang unggul, sehingga muncullah akumulasi keunggulan. Makin ke atas, fasilitas yang diperoleh anak unggulan dalam berlatih hoki semakin besar, sedemikian hingga jarak dengan mereka yang sejak awal sudah tersisih dalam persaingan menjadi semakin jauh.

Inilah yang menjelaskan mengapa sebagian besar pemain hoki top di Kanada lahir pada awal tahun. Goldwell mengandaikan, bila proses seleksi dilakukan secara lebih sering, misalnya dari semula satu tahun sekali menjadi tiga bulan sekali, maka penyebaran peluang untuk menjadi pemain hoki top pun akan meningkat.

Dia juga mengusulkan hal yang sama dalam proses penerimaan sekolah. Perbedaan awal dalam kedewasaan tidak menghilang seiring berjalannya waktu. Hal itu bertahan terus. Dan untuk ribuan siswa, keadaan yang merugikan itu akan menentukan perbedaan antara masuk kuliah (dan memiliki kesempatan menjadi warga kelas menengah) atau tidak.

***
Kaidah 10.000 jam. Berdasarkan pengamatannya terhadap beberapa orang yang memiliki keunggulan yang diakui di seluruh dunia, Malcolm Gladwell memaparkan bahwa mereka umumnya telah berhasil melalui latihan selama 10.000 jam.

Bill Joy (pendiri Sun Microsystems) serta Bill Gates (pendiri Microsoft) ternyata telah melalui latihan pemrograman selama kira-kira 10.000 jam kerja sewaktu remaja sebelum mereka menghasilkan produk yang mengguncang dunia. Penulis buku ini memaparkan perjalanan Gates dan Joy dan bagaimana mereka bisa mendapatkan latihan selama 10.000 jam selama masa remaja.

Gladwell menulis bagaimana The Beatles berhasil meraih latihan selama 10.000 jam. Sebuah proses penggodokan yang luar biasa selama beberapa tahun, delapan jam sehari, tujuh hari sepekan, yang berhasil mengangkat kualitas grup band itu menjadi luar biasa.

Dan 10.000 jam adalah waktu yang sangat banyak. Tidak mungkin meraih kesempatan latihan sebanyak itu di masa remaja tanpa dukungan lingkungan. Mereka harus punya orang tua yang mendorong dan mendukung. Mereka juga tidak boleh menjadi orang miskin karena, kalau harus nyambi bekerja, tidak akan tersisa waktu yang memadai untuk latihan yang cukup. Kebanyakan orang meraih jumlah tersebut karena masuk program istimewa atau mendapat kesempatan luar biasa.

Gladwell menegaskan bahwa yang membedakan orang-orang sukses itu bukan bakat yang luar biasa melainkan berbagai kesempatan istimewa yang telah diperolehnya. Orang hebat itu tentu gigih dan berbakat. Tetapi itu saja tidak cukup. Harus ada kesempatan untuk menjadi hebat. Di sinilah saya menangkap bahwa untuk sukses ternyata ada syarat perlu dan syarat cukup. Kegigihan, bakat, kecerdasan adalah syarat perlu. Tapi, untuk terwujud menjadi sukses, harus ada “momentum sejarah”, ada “kebetulan sejarah” yang memberikan kesempatan agar syarat perlu itu berguna secara optimal.

Di bagian akhir buku itu, Gladwell bercerita bagaimana akumulasi keberuntungan menyertai nenek moyangnya yang berada di Jamaika sehingga dirinya bisa dilahirkan di Inggris dan tumbuh dewasa di Kanada.

Latihan bukanlah hal yang dilakukan setelah mereka menjadi hebat. Latihan adalah hal yang membuat mereka hebat. Kata Gladwell: Sebelum dia menjadi ahli, harus ada orang yang memberikan kesempatan padanya untuk belajar bagaimana menjadi seorang ahli.

Saya menangkap pesan bahwa bagi siapa saja yang memiliki kekuasaan (entah sedikit atau banyak) bisa membuka lebih banyak kesempatan agar orang lain yang berada di bawah kekuasaanya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan tidak terganjal oleh momentun sejarah yang entah sengaja atau terencana. Itu berlaku untuk orang tua terhadap anaknya, guru terhadap murid, penguasa negara atas`rakyat, petinggi di perusahaan terhadap anak buah, dan seterusnya.


***
Dukungan lingkungan. Dukungan lingkungan adalah hal yang sangat ditekankan oleh Gladwell. Dia memberikan banyak contoh mengenai orang genius yang gagal. Salah satunya adalah kisah tentang Chris Langan, seorang pria dengan IQ 195 (lebih tinggi daripada IQ Einstein yang sebesar 150). Orang dengan IQ setinggi namun tidak tercatat sebagai manusia berprestasi di dunia, bahkan akhirnya berprofesi sebagai tukang pukul serta penjaga sebuah peternakan kuda.

Langan bukan tidak mencoba untuk sukses. Tetapi dia gagal mendapatkan kesempatan dan gagal mendapatkan dukungan yang diperlukan. Dia berasal dari keluarga broken home yang miskin. Suatu ketika, Langan yang jago kalkulus itu mencoba menyampaikan kritik kepada dosen kalkulusnya yang dia anggap tidak bisa mengajar dengan benar. Alih-alih mendapatkan teman diskusi, yang diperolehnya justru kesalahpahaman.

Ketika kuliah tingkat kedua, beasiswanya dihentikan karena ibunya lupa mengisi formulir yang diperlukan untuk memperpanjang beasiswa. Langan mencoba bernegosiasi dengan pihak kampus tapi ditolak.

Tahun berikutnya dia mencoba kuliah di kampus lain sambil bekerja. Dia mencoba memindahkan jam kuliahnya ke waktu lain agar bisa mendapatkan angkutan ke kampus dengan mudah karena dia memiliki kendala dengan kendaraan. Langan kembali gagal. Begitulah, yang dia peroleh adalah akumulasi “kegagalan” atau “kesialan”.

Menurut Gladwell, Langan tidak cukup memililiki kecerdasan praktis. Dia tidak berhasil mengatasi masalah-masalah praktis yang lazimnya dapat dipecahkan bahkan oleh orang-orang yang kecerdasan analitisnya di bawah dia. Sebenarnya dia membutuhkan dukungan sebagaimana yang diperlukan orang-orang cerdas lain untuk sukses. Dia tidak sanggup menghadapi keruwetan hidupnya itu sendirian.

Lebih jauh Gladwell mengaitkan kasus Langan ini dengan dukungan yang diberikan orangtua terhadap anak-anaknya. Dia melihat orangtua yang kaya umumnya sering berdiskusi dengan anaknya, mengajak anaknya berunding, sementara orangtua yang miskin hanya memberikan perintah.

Orangtua kaya mengharapkan anaknya untuk bernegosiasi, mengungkapkan pikiran, mempertanyakan orang dewasa yang memiliki kewenangan. Sebaliknya, orangtua dari kelompok miskin merasa terintimidasi oleh orang yang memiliki wewenang. (contoh orang yang memiliki wewenang adalah guru di sekolah).

Memang benar bahwa banyak anak dari keluarga miskin umumnya memiliki perilaku yang lebih baik, penurut, tidak merengek, lebih kreatif dalam menggunakan waktu, serta lebih mandiri. Namun anak orang kaya lebih banyak belajar bagaimana berinteraksi secara nyaman dengan orang dewasa dan mengungkapkan pikiran saat dibutuhkan.

Orang seperti Langan tidak belajar bagaimana berdebat dan bernegosiasi dengan mereka yang memiliki wewenang. Langan dan anak-anak semacam itu tidak mempelajari perasaan memiliki hak. Ketika dihadapkan pada berbagai rintangan, hal yang tampak sepele ini bisa menjadi faktor yang penting.

Di kampus-kampus terkemuka di Indonesia, kita juga mungkin dengan sangat mudah menemukan kasus semacam Langan. Banyak anak muda cerdas dari kota kecil atau desa gagal menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus di kota besar. Mereka mengalami gegar budaya. Menghadapi hal-hal yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya, tidak cukup memiliki kemampuan negosiasi, dan tidak memiliki orang tua atau kerabat yang bisa membantunya seketika.

***
Ada banyak hal menarik terkait dengan budaya yang diungkapkan Malcolm Gladwell dalam Outliers, termasuk kisah yang berawal dari investigasi atas kecelakaan Korean Air.

Salah satunya adalah kesimpulan bahwa sebuah kecelakaan umumnya melibatkan tujuh kesalahan secara beruntun. Salah seorang kapten pilot melakukan satu kesalahan bukanlah masalah. Akan tetapi, salah satu dari copilot melakukan kesalahan setelahnya, yang bila dikombinasikan dengan kesalahan pertama tidak akan mengakibatkan bencana. Sayangnya, mereka kemudian melakukan kesalahan ketiga, dan berikutnya, dan berikutnya lagi. Kombinasi berbagai kesalahan inilah yang menyebabkan bencana.

Dia menyimpulkan bahwa setiap bangsa atau kelompok suku tertentu memiliki sifat dan gaya komunikasi yang khas. Dan hal ini terbukti menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang berulangkali terjadi pada Korean Air pada dekade 1990-an.

Pesawat komersial besar setidaknya dikemudikan oleh seorang kapten pilot, seorang first officer (co-pilot), serta flight engineer. Pada bangsa-bangsa tertentu yang memiliki PDI (power distance index) yang besar seperti Korea, seorang first engineer tidak akan berani bicara lugas kepada kapten pilot. Bahkan dalam kondisi yang sudah sangat berbahaya. Itulah salah satu penyebab kecelakaan. Seandainya first officer dan flight engineer mampu bersikap asertif terhadap kapten pilot, ada banyak kecelakaan yang dapat dihindari.

Inilah contoh yan tersirat dan tersurat dalam percakapan dua orang Korea.
Kwacang: cuacanya dingin dan saya agak lapar (maksudnya: coba tolong belikan minum atau makanan).
Kim: bagaimana kalau segelas anggur (artinya: saya akan membelikan anggur untuk Anda).
Kwacang: Tidak usah repot-repot (artinya: saya akan menerimanya kalau kamu mengulangi tawaranmu).
Kim: Anda pasti lapar. Bagaimana kalau kita makan ke luar (artinya: saya memaksa untuk mentraktir Anda).
Kwacang: Apakah aku harus menerinya? (artinya: aku menerimanya).

Ini kasusnya mirip sekali dengan komunikasi model orang Jawa. Orang Korea dan kebanyakan orang Asia, konon, dalam berkomunikasi beroreintasi pada penerima. Artinya, pendengar bertanggungjawab penuh untuk mengartikan apa yang dikatakan. Ini berbeda dengan gaya komunikasi Barat yang berorientasi pemancar sehingga pembicara seringkali mengulang-ulang isi pesannya secara lugas sampai diterima dengan tepat.

Dan kalau model komunikasi dengan PDI tinggi itu diterapkan dalam kokpit maka menjadi sangat berbahaya. Ketika seorang first officer mengatakan: Apakah menurut Anda akan hujan lagi di daerah ini? Maka yang dimaksud adalah: Kapten, Anda telah memutuskan untuk mengambil pendekatan visual, tanpa adanya rencana cadangan, dan cuaca di luar benar-benar buruk. Anda pikir kita akan ke luar dari awan tepat pada waktunya dan bisa melihat landasan. Tetapi bagaimana kalau kita tidak melihatnya? Di luar sana benar-benar gelap gulita dan hujan turun dengan lebat, lalu glide scope sedang rusak.

Ketika flight engineer mengatakan: Kapten radar cuaca benar-benar menolong kita. Maka yang dimaksudkan adalah: Ini bukan malam di mana kita bisa mengandalkan mata kita ntuk mendaratkan pesawat. Lihat apa yang diinformasikan radar cuaca kita: ada cuaca buruk di depan.

Malcolm Gladwell dengan panjang lebar memaparkan bagaimana pola watak suatu kelompok manusia (seperti bangsa atau suku) bisa berpengaruh terhadap jenis pekerjaan atau bidang apa yang cocok digeluti.

Dia dengan bagus sekali menjelaskan mengapa bangsa-bangsa Asia (Timur) hebat dalam matematika, mengapa sebagian besar pengacara di New York memiliki silsilah hidup yang sama, dan mengapa banyak orang genius tidak sukses.

Wallahu alam.

21 Mei 2009

Menanti diary para politisi

Politisi adalah jenis pekerjaan dengan tingkat keacakan tinggi. Mereka berpeluang besar untuk dihantui rasa bersalah atau penyesalan yang berkepanjangan di masa mendatang. Konon, menulis diary adalah salah satu cara mengatasi masalah semacam ini.

***

Para politisi kelas atas, petinggi partai politik, orang-orang yang berada di teras kekuasaan negeri ini, sedang sibuk. Rapat sepanjang siang dan malam, lobby sana-sini, membangun koalisi. Mereka datang ke acara diskusi demi diskusi, terutama yang disorot kamera televisi.

Ada yang begitu percaya diri, ada yang tampak seperti oportunis. Ada yang ngotot, seolah-olah main gertak, menaikkan nilai tawar, dan ada pula yang terkesan plin-plan. Ada yang setia ada yang membelot.

Seusai pemilu legislatif dan menjelang pilpres, aktivitas elite politik memang tampak meningkat. Manuver jungkir balik terus berlangsung, sebagian besar berada di bawah sorotan media, sebagian lainnya di ruang-ruang tertutup entah di mana.

Meningkatnya suhu politik seusai pileg bisa dipahami karena perebutan sumber daya yang makin terbatas. Pemilu legislatif memperebutkan setidaknya 500 jabatan DPR dan ribuan jabatan DPRD I, DPRD II, serta DPD. Adapun dalam pilpres hanya ada satu lowongan presiden, satu wakil presiden (tidak seperti bank yang punya puluhan VP), serta beberapa menteri yang akan ikut terbawa dalam gerbong pemerintahan periode mendatang.

Pemilu legislatif melibatkan sangat banyak orang untuk melakukan kampanye dan sosialisasi calon anggota legistaltif, sementara lobi-lobi pilpres pada tahap sekarang lebih banyak dilakukan oleh elite parpol.

Sebagian upaya lobbi para petinggi itu berada dalam sorotan media. Ada yang berhasil memanfaatkan media sebagai sarana komunikasi, ada yang ingin tapi tampak gagal, dan ada yang barangkali tidak ingin dan memang gagal total.

Ada politisi yang seolah-olah tampak menggertak sana-sini, tapi tidak terbukti, bahkan tidak mengakui. Mungkin sebenarnya kalimat-kalimat “gertakan” itu ditujukan ke mitra atau lawan politik. Mereka yang disasar mungkin bisa menangkap dengan tepat. Akan tetapi, karena semua dilakukan di depan sorotan kamera televisi dan muncul di koran-koran, publik dan konsituen juga menangkap pesannya. Sayangnya, bisa jadi apa yang ditangkap itu berbeda dengan apa yang dimaksud oleh sang politisi.

***
Politisi adalah pekerjaan dengan tingkat keacakan yang tinggi. Kalau ada 50 orang elite politik dijejer, pasti relatif sulit bagi kita untuk memprediksi siapa yang benar-benar akan sukses sebagai pemenang dan siapa yang menjadi pecundang.

Dan orang yang bekerja dengan tingkat keacakan yang tinggi, mengacu pada kategorisasi dalam Black Swan-nya Nassim Nicholas Taleb, memiliki peluang besar untuk dihantui oleh penyesalan di masa mendatang.

Mereka bertindak berdasarkan data, informasi, dan pertimbangan yang tersedia saat ini. Namun jika gagal, di kemudian hari sangat berpeluang untuk terus dihantui oleh rasa menyesal karena mendasarkan pertimbangan dengan apa yang diketahui saat itu (saat mendatang itu ketika semua sudah terbukti, sudah nyata mana yang menang dan kalah).

Kalau mengacu pada seringnya politisi berusaha meluruskan apa yang dianggap sebagai kekeliruan, salah persepsi, salah tangkap dari apa yang beredar dalam opini public, tampak sekali bahwa peluang adanya penyesalan itu besar sekali.

Ada saran sederhana namun sangat mengenai dari Nassim Taleb soal cara mengatasi rasa bersalah dan penyesalan ini. Menurut dia, salah satu yang perlu dilakukan orang dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kecakan tinghi adalah menulis diary atau catatan harian. Diary adalah catatan pribadi yang ditulis ketika peristiwa itu, pengambilan keputusan penting (yang sangat mungkin berpengaruh besar terhadap nasib diri sendiri, nasib partai, nasib konstituen, nasib negara) dipertaruhkan. Ini berbeda dengan memoar yang seringkali ditulis sekian lama setelah peristiwa terjadi.

Diary adalah cara (yang tampaknya sederhana, tapi kadangkala terasa berat dilakukan) untuk mengobati banyak masalah psikologis, terutama menyangkut tekanan-tekanan yang berat. Saya sering mendengar psikolog menyarankan orang melakukan terapi diary untuk meringankan beban psikologis pasien.

Membaca diary orang lain juga membuat orang bisa lebih mengerti, empati, terhadap si penulis. Orang bisa melihat “dari dalam” atau “dari sisi sang politisi” sehingga mudah mengerti mengapa dia mengambil keputusan yang barangkali kontroversial atau tidak popular.

***
Nah, apakah para elite politik kita cukup memiliki waktu untuk menulis diary sehingga suatu saat kita, para rakyat yang hanya melihat aktivitas mereka lewat media mssa ini, menangkap apa yang bergolak dalam hati para elite tersebut ketika mengambil keputusan? Sayangnya, saya kok tidak yakin.

Sebenarnya di dunia yang sudah modern dengan bnayak peraatan canggih ini upaya menulis diary (yang terbuka maupun tertutup) sangat dimudahkan. Ada blog, ada jaringan social, ada microblogging, ada computer, ada alat perekam suara, pereka gambar, video dan sebagainya yang sangat mungkin digunakan sebagai sara untuk menulis digital diary.

Pak politisi tingkat tinggi, saya menanti diary Anda. Terima kasih.
Wallahu alam.

19 Mei 2009

Saatnya membeli ponsel QWERTY


Ponsel dengan fitur fasilitas papan ketik QWERTY dan akses jaringan 3G saat ini dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp2 juta (baru, branded, ada GPS pula). Jika mencari tambahan fitur 3G atau bahkan HSDPA, sudah dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp3 juta. Dengan tambahan touch screen, diperoleh dengan Rp3,5 juta. Jika tanpa 3G, bahkan dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp1 juta (baru, nonbranded, dual on).

***
Sejak awal mengenal ponsel, saya selalu menyukai fitur papan ketik QWERTY. Sebagai orang yang banyak berurusan dengan teks, dan lebih menyukai komunikasi tertulis dibandingkan omong-omong, adanya papan ketik QWERTY menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan bagi saya.

Sayangnya, ponsel dengan papan ektik QWERTY selama ini selalau ditempatkan untuk segmen bisnis dengan harga jual yang relative lebih mahal dibandingkan dengan ponsel lain. Fitur lain yang disertakan pada ponsel QWERTY pun umumnya lumayan banyak mengingat segmen yang disasarnya umumnya dianggap bisa mengalokasikan uang yang lebih banyak untuk ponsel. Jadinya, banyak fitur yang sebenarnya tidak perlu terpaksa harus ikut dibeli.

Oleh sebab itu, senang sekali rasanya saya mengamati perkembangan satu bulan terakhir yang menunjukkan gejala bahwa ponsel dengan papan ketik QWERTY mulai dipasarkan dengan harga yang jauh lebih masuk akal dibandingkan setengah tahun yang lalu.

Nokia e63, salah satu favorit saya, waktu awal diperkenalkan secara global sekitar setengah tahun yang lalu, sudah disebut bahwa harganya sekitar 250 euro. Harga yang diumumkan itu lebih murah dibandingkan harga e71. Akan tetapi, pas masuk ke Indonesia, harga jualnya masih mendekati (atau bahkan melampaui) Rp4 juta.

Sekarang, Nokia e63 dapat diperoleh dengan harga Rp2,85 juta. Sudah dekat sekali dengan 250 euro seperti yang digemborkan Nokia di pasar global. Dalam ponsel ini ada fitur ada 3G (bukan HSDPA), Wi-Fi, memori besar, kamera 2 mega piksel.

Yang mirip dengan itu, Samsung i600, dipasarkan dengan harga sekitar Rp2,9 juta. Saya mengenal pertama Samsung i600 itu di Hong Kong pada Desember 2006 di arena ITU World. Banyak sekali baliho tentang produk Samsung Black Jack seri II itu. Waktu masuk ke Indonesia pada 2007, ponsel ini dijual dnegan harga sekitar Rp6 juta. Ini salah satu favorit saya juga. Ada 3G, HSDPA, Wi-Fi, Windows Mobile. Bentuknya sangat mungil dan tipis. Warna hitamnya juga tampak elegan. Sayangnya tidak dilengkapi dengan layar touch screen.

Nah, versi pembaruan dari Samsung, dengan tambahan touch screen, muncul pada seri i780. Waktu awal masuk pasar, ponsel ini juga dijual dengan harga Rp6 jutaan. Kemarin saya lihat iklannya di koran, dijual dengan harga Rp3,49 juta dengan Simpati Pede. Menarik sekali.

Ada satu kejutan lagi terkait ponsel branded. LG K610 (yang pernah saya singgung juga dalam tulisan di blog ini tentang downgrade produk ala Nokia), kini turun harga secara signifikan. Ponsel QWERTY dengan 3G dan GPS buatan Korea Selatan itu sekarang seri barunya dijual dengan harga Rp1,9 jutaan. Pada awal kehadirannya, produk yang diklaim sebagai communicator mini ini dijual pada kisaran Rp4 juta.

Kalau puas dengan non-branded dan tidak butuh 3G namun mengidamkan QWERTY, bisa pilih Nexian G900 yang dipasarkan dengan harga Rp999.000.

Nah, barangkali sekarang saat yang tepat untuk berburu ponsel QWERTY?? Wallahu alam.

Foto dikompilasi dari berbagai situs

18 Mei 2009

Antara bisnis & masalah kejiwaan


Black Swan membuat minat saya untuk membaca buku tiba-tiba melonjak. Tulisan yang sangat menarik, mengalir, dan provokatif dari Nassem Nicholas Taleb benar-benar mampu membangkitkan ‘penyakit’ saya seperti 11 tahun atau 12 tahun yang lalu. Saya mencoba menghayati ini sebagai anugerah menjelang genapnya 34 kali saya mengelilingi matahari.

Pekan lalu, ketika saya berkesempatan mampir ke toko buku, yang paling teringat di kepala saya untuk saya baca setelah Black Swan adalah Outlier karya Malcolm Gladwell.

Akan tetapi, sebelum saya berjumpa dengan buku itu, masa saya terbentur buku berpenampilan tua: The Unwritten Laws of Business karya W.J. King, serta Catatan dari Bawah Tanah karya Fyodor Dostoyevski.

***
The Unwritten Laws of Business sebenarnya adalah buku kuno. Terbit pertama kali pada 65 tahun yang lalu, kemudian mengalami sedikit revisi (penyesuaian) pada 2001. Sangat mengejutkan bahwa isinya masih sangat cocok, pas, dengan kondisi sekarang. Mungkin hukum-hukum dasar dalam bekerja dan mengorganisasi orang-bisnis itu ya pada dasarnya begitu-begitu saja. Hanya alatnya saja yang berkembang.

Saya bahkan sampai berpikir bahwa buku ini merupakan buku yang paling cocok untuk dihadiahkan bagi siapa pun yang baru diterima bekerja, bekerja di tempat baru, mendapat promosi sebagai manager, atau ditempatkan pada posisi manajerial yang baru. Buku ini benar-benar universal dan dipaparkan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti serta diadopsi untuk lingkungan mana pun.

Nasihat-nasihat itu contohnya:
“Sekasar dan seremeh apa pun tampaknya tugas awal Anda, kerahkanlah upaya terbaik.”
“Hindari kesan bimbang”
“Jangan malu-malu, berbicaralah, ungkapkan ide-ide Anda”
“Sangat berhati-hatilah mengenai akurasi pernyataan Anda”
“Setiap manager harus tahu apa saja yang berlangsung di dalam wilayah kekuasaannya”
“Jadikan prioritas utama apa pun yang menurut supervisor Anda harus Anda selesaikan”
“Rapat sebaiknya tidak terlalu besar atau terlalu kecil”
“Pelajari keterampilan dan teknik manajemen proyek, lalu terapkan dalam kegiatan yang Anda kelola”

Sebenarnya semua itu biasa-biasa saja, hampir menjadi pengetahuan umum. Tetapi bagi saya yang miskin ilmu manajemen ini terasa betul bahwa sebagian besar yang tertulis dalam buku itu sangat membumi dan relevan. Buku ini bisa menjadi pengingat dan penasihat yang baik.

Dan, pilihan kertas serta ukurannya yang sama dengan Black Swan menambah sensasinya sebagai buku yang menarik. Saya rekomendasikan untuk dibaca oleh siapa saja yang baru mendapat pekerjaan baru atau posisi baru, sekadar sebagai pengingat hal-hal dasar yang perlu tetap dipegang.

***
Buku lain yang juga menarik adalah karya Dostoyevski. Catatan dari Bawah Tanah merupakan buku ketiga karya Dostoyevski yang pernah saya baca. Sebelumnya adalah Si Lembut Hati yang saya pinjam dari Perpustakaan Salman 11 tahun yang lalu, serta Kejahatan dan Hukuman yang masih tersimpan di rumah.

Seperti buku Dostoyevski lainnya, nada cerita dalam buku ini pilu dan suram, sangat suram. Penulis kelahiran 1821 itu memang sangat piawai dalam mengambarkan penderitaan jiwani manusia. Tampak sekali bagaimana penderitaan itu menjadi sangat dekat dengan kegilaan atau bahkan memicu sikap aneh-aneh seperti psikopat.

Sampai taraf tertentu buku ini mampu mewakili perasaan saya (sebenarnya saya ingin mengatakan perasaan kita semua, tapi tidak pede) tentang penderitaan batiniah. Tapi pada titik yang lain, ungkapannya menjadi begitu menakutkan dan agak sulit dimengerti. Dan karena buku ini sepenuhnya cerita mengenai orang yang tersisih dan sangat menderita maka terasa betul kengerian dan kekacauan pikiran orang yang tertekan.

Cara pengungkapan yang sangat jujur dan terbuka mengenai Aku, si tokoh dalam cerita tersebut, pasti mempengaruhi pembacanya untuk mengungakpakan diri dengan cara serupa. Caranya yang begitu lugas dan jujur mengungkapkan penilaian atas kelebihan dan kekurangan diri, jika diterapkan dalam dunia nyata saat ini, pastilah sering disalahpahami sebagai bentuk lain dari kesombongan, keangkuhan tiada tara. Juga bentuk lain dari narsisme terselubung (atau malah narsisme telanjang??)

Sayang sekali bahwa sejumlah latar belakang yang ada dalam buku ini seperti penjelasan mengenai Kaum Romantik, serta situasi sosial politik di Rusia pada saat novel ini dituliskan tidak mampu saya pahami dengan baik. Buku ini tidak cukup dilengkapi dengan deskripsi mengenai situasi Rusia ketika itu.

***
Dua buku yang saya beli secara bersamaan ini, The Unwritten Laws of Business dan Catatan dari Bawah Tanah, adalah buku yang nyaris bertolak belakang.

Yang satu adalah mengenai bagaimana bekerja, berkarya, mengambil keputusan secara cepat, efektif, jangan tampak ragu-ragu. Semua tentang hal yang konkret dan nyata. Adapun buku satu lagi tentang keragu-raguan, ketakutan, bayangan penderitaan, rasa minder yang mencekam, serta cara berpikir yang tidak lazim.

Buku yang satu tentang bertindak sesuai kewajaran, satu lagi tentang kejujuran mengungkapkan perspektif pribadi yang mudah sekali disalahpahami dan dianggap sebagai kesombongan. Wallahu alam.

17 Mei 2009

Mencari kesempatan dalam Black Swan (iii)


Saya tergoda untuk mengutip beberapa hal unik yang terungkap dalam buku Black Swan karya Nassem Nicholas Taleb.

Apabila Anda bekerja dalam sebuah profesi yang sarat dengan keacakan, Anda akan menderita rasa bersalah akibat terus menerus menilai kembali langkah-langkah yang sudah lewat berdasarkan yang kemudian Anda kerjakan. Menulis buku harian adalah cara paling baik dalam mengatasi situasi ini.

Makin lama Anda menunggu, makin lama pula Anda diharapkan menunggu. Misalkan Anda mengirimkan sepucuk surat kepada seorang pengarang terkenal. Anda tahu bahwa dia sibuk dan mungkin baru dua pekan ke depan dapat menjawab pesan Anda. Jika tiga pekan ke depan kotak pos Anda masih kosong, jangan berharap surat balasan akan datang besok. Sebaiknya Anda berharap surat itu akan datang kira-kira tiga pekan lagi. Jika tiga bulan kemudian surat balasan itu tidak datang, Anda harus menunggu satu tahun lagi. Tiap hari akan membawa Anda makin dekat kematian, namun makin jauh dari menerima surat balasan.

Jurnalis dan cendekiawan publik dalam masyarakat yang gemar membuat ringkasan tidak membuat dunia menjadi lebih sederhana. Justru sebaliknya, hampir semuanya membuat segala sesuatu tampak lebih rumit daripada yang sesungguhnya.

Berhati-hatilah dengan hasrat Anda. Bisa jadi Anda lebih bahagia sebelum mendapatkan Black Swan yang Anda impikan. Dan banyak hal bersifat asimetris. Drogo membutuhkan waktu 35 tahun untuk menunggu peristiwa beberapa jam yang entah di mana, dan ternyata tidak pernah terwujud.

Para pembaca tidak akan bersedia membayar 26,95 dolar untuk sebuah cerita tentang kegagalan, bahkan andai Anda meyakinkan bahwa buku itu mengandung trik yang lebih berguna ketimbang sebuah kisah sukses. Makanya lebih sulit berkaca dari kegagalan orang dibandingkan belajar dari kesuksesan yang banyak ditulis orang.

Spesies manusia dipengaruhi oleh kebiasaan meremehkan yang kronis tentang kemungkinan masa mendatang menyimpang dari arah yang ditetapkan atau diharapkan.

Informasi adalah pengetahuan yang buruk. Ketika Anda mengembangkan pandangan-pandangan berdasarkan bukti yang lemah, Anda akan kesulitan menfasirkan informasi selanjutnya yang bertentang dangan pandangan ini. Bahkan jika informasi baru ini jelas lebih akurat. Maka, menahan diri untuk tetap skeptis, tidak buru-buru membuat penilaian atau memberikan pandangan, lebih baik.

14 Mei 2009

Mencari kesempatan dalam Black Swan (ii)


Rumus utama dalam menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan adalah “terima takdir Anda”. Kata NNT, ketika Anda ketinggalan kereta, tidak perlu berlari-lari mengejarnya. Ketinggalan kereta hanya menyakitkan ketika Anda berusaha mengejarnya. Begitu pula, tidak memenuhi gagasan tentang sukses seperti yang diharapkan oleh orang lain dari Anda hanya menyakitkan jika memang itu yang Anda kejar.

***
NNT dalam buku Black Swan membagi dunia secara umum dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah ranah mediocristan, dan kelompok kedua berada dalam ranah extremistan.

Di ranah mediocristan, distribusi (serta jenis pekerjaan) umumnya nonscalable, keacakan tipe sedang, anggota paling tipikal bersifat medioker, pemenang mendapatkan sedikit bagian dari keseluruhan hasil (misalnya jumlah penonton biduan di era sebelum gramapon), dan peristiwa terdistribusi mengikuti kurva lonceng (distribusi normal?)

Pada ranah extremistan, distribusi umumnya scalable, keacakan tipe liar, tidak ada anggota yang tipikal, memiliki efek ‘pemenang mendapatkan semuanya’ (misal jumlah penikmat lagu di era pascagramapon), dan peristiwa terdistribusi secara sangat acak.

Contoh distribusi yang scalable adalah perbandingan antara pendapatan orang terkaya dunia dengan orang yang paling miskin. Perbandingannya bisa sangat ekstrem. Rasio semacam itu tidak bisa kita temua ketika kita membandingkan berat badan orang tergemuk dengan orang terkurus. Distribusi berat badan masuk mediocristan, sedangkan distribusi kekayaan masuk dalam extremistan.

***
Ada beberapa jenis pekerjaan yang dimasukkan oleh NNT dalam kelompok nonscalable. Gaji seorang karyawan pabrik mudah dihitung berdasarkan jumlah jam kerjanya. Gampang sekali mengetahui batas atas nilai pendapatan dari jenis pekerjaan semacam ini. Omzet pengelola restoran mudah untuk dihitung berdasarkan jumlah tempat duduk yang tersedia. Yang macam ini, masih masuk dalam nonscalable. Harus ada upaya dua kali lipat untuk mendapatkan gaji dua kali lipat (tempat duduk dilipatduakan, atau jam kerja dinaikkan dua kali lipat).

Ada juga jenis pekerjaan lain yang scalable. Penambahan usaha yang sedikit (atau bahkan tanpa penambahan sama sekali) meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Hal ini, misalnya, terjadi pada buku best seller. (Di Indonesia mungkin kita bisa berkaca pada kasus Laskar Pelangi Andrea Hirata atau Ayat-ayat Cinta Habiburrahman AS).

Pekerjaan lain, di Indonesia yang tampaknya masuk scalable adalah politisi. Orang yang semula tidak signifikan bisa meloncat menjadi sangat penting ketika menjadi politisi. Pekerjaan lainnya lagi yang masuk scalable, yang baru populer beberapa pekan belakangan, tampaknya adalah caddy golf, hehehe.
Sayangnya, beberapa jenis pekerjaan scalable yang saya sebut di atas umumnya berawal dari pekerjaan sampingan.

***
Sejumlah trik dianjurkan oleh NNT menghadapi Black Swan. Trik pertama, saya tulis pada paragraf pertama tulisan seri satu. Intinya, jangan sia-siakan setiap datangnya peluang besar yang muncul di depan mata.

Trik kedua, buat pembedaan antara Black Swan negatif dan positif. Kalau seseorang menjadi tentara, misalnya, risiko terbesarnya adalah kematian, sementara potensi keuntungan maksimalnya kita bisa hitung. Itu masuk Black Swan negatif. Menulis buku, potensi keuntungannya bisa besar sekali (bila menjadi best seller), dan potensi kerugian maksimalnya bisa kita hitung. Hal yang sama bisa berlaku untuk memilah-milah jenis Black Swan yang mungkin terjadi.

Trik ketiga, jangan mencari yang terlalu rinci di tempat yang terbatas. Jangan berpikiran sempit. Mengutip kata Pasteur: peluang berpihak pada siapa yang siap. Terbukalah terhadap peluang, jangan membatasi diri pada hal-hal yang terlalu detil dan sempit.

Trik keempat, berhati-hatilah dengan prediksi jangka panjang yang terlalu detil, apalagi jika itu datang dari pemerintah. Trik kelima, percayalah bahwa ketelitian perkiraan ekonom dan para analis saham umumnya menurun seiring berjalannya waktu.

***
Untungnya, di tengah berbagai kenyataan dunia extremistan di mana pemenang meraih hamper semuanya, masih ada peluang bagi pemain kecil untuk mengambil keuntungan. Itulah yang dikutip buku ini dari teori the long tail.

Kendati sebagian besar hanya membuka Google dan sejumlah situs khas lain ketika mengakses Internet, masih tersedia ruang pagi penyedia konten lain yang khas untuk maju. Ada lingkungan yang memungkinkan orang kecil tak bermakna untuk mencoba meraih sukses luar biasa. Selama hayat dikandung badan, masih ada harapan.

Dalam dunia Internet, misalnya, web mendorong munculnya inverse Google yang memungkinkan orang menemukan pelanggan yang mantap walaupun kecil. The long tail menyiratkan makna bahwa kaum yang kecil, secara kolektif, pastilah mengendalikan sebuah segmen besar kultur dan perdagangan.

***
Nassim Nicholas Taleb memberikan gambaran yang gamblang sekali mengenai bagaimana sulitnya memahami dunia, memahami sejarah beserta faktor-faktornya.

Dia memberikan contoh sebagai berikut:
Eksperimen 1: Bayangkan sebuah kubus es dan pikirkan bagaimana dia meleleh dalam dua jam ke depan. Cobalah bayangkan bentuk genangan yang muncul kemudian.

Eksperimen 2: Ada sebuah genangan air di lantai lalu cobalah rekonstruksi seperti apakah bentuk padatan es yang barangkali pernah berada di situ. Perhatikan bahwa genangan air itu bisa jadi bukan berasal dari genangan es.

Operasi yang kedua jauh lebih sulit dan mudah salah dibandingkan dengan operasi pertama.

Kehidupan berjalan seperti eksperimen yang kedua. Kita tidak bisa duduk-duduk saja sambil membaca persamaan yang mengatur jagad raya. Yang bisa kita lakukan adalah mengamati data dan membuat asusmsi mengenai proses yang harus ada, lalu melakukan “kalibrasi” dengan menyesuaikan persamaan yang kita buat dengan informasi tambahan.

Dengan cara inilah NNT benar-benar membuktikan bahwa dunia ini berjalan dengan mekanisme yang lebih banyak tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui. Sikap terlalu ‘sok tahu” dan mengandalkan teorema yang sudah ada untuk memahami keacakan dunia bisa jadi adalah sikap yang terlalu naïf.

Rumus utama dalam menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan adalah “terima takdir Anda”. Menurut NNT, ketika Anda ketinggalan kereta, tidak perlu berlari-lari mengejarnya. Ketinggalan kereta hanya menyakitkan ketika Anda berusaha mengejarnya. Begitu pula, tidak memenuhi gagasan tentang sukses seperti yang diharapkan oleh orang lain dari Anda hanya menyakitkan jika memang itu yang Anda kejar. Demikianlah saran NNT.

Wallahu alam.

Mencari kesempatan dalam Black Swan (i)


Carilah kesempatan atau apa pun yang mirip kesempatan. Yang seperti ini langka, jauh lebih langka dari yang Anda kira. Ingat bahwa untuk beruntung Anda harus berada di tempat yang tepat untuk menerimanya. Banyak orang tidak sadar bahwa mereka mendapatkan keberuntungan dalam hidup justru saat mendapatkannya. Jika seorang penerbit besar atau tokoh besar atau eksekutif besar mengusulkan sebuah pertemuan dengan Anda, batalkan apa pun kegiatan lain yang telah Anda rencanankan: Anda mungkin tidak akan pernah menemukan jendela seperti ini terbuka lagi.

Begitulah salah satu saran Nassim Nicholas Taleb dalam buku Black Swan. Pria kelahiran Lebanon keturunan Yunani ini mengungkapkan hal-hal yang bagi saya sangat mengejutkan dan memikat dalam buku setebal 480 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama itu. Bagi saya, ini salah satu buku yang sangat berguna untuk memahami betapa kehidupan ini tidak bisa diramalkan dan manusia sering terjebak untuk sok tahu.

Black Swan digunakan untuk menyebut peristiwa besar yang terjadi secara acak dan berdampak besar bagi kehidupan. Munculnya buku best seller, kehadiran Internet, Google, resesi ekonomi, perang besar, adalah sebagian di antara Black Swan.

Tiga karakteristik Black Swan yang disebut NNT adalah: tidak dapat diramalkan; memberikan dampak yang masif; dan setelah terjadi, mendorong kita untuk membuat penjelasan bahwa peristiwa itu bukan kebetulan, dan lebih bisa diramalkan daripada sesungguhnya.

Lalu, mengapa dipilih nama Black Swan untuk menyebut peristiwa besar yang tidak lazim itu? Konon, sebelum benua Autralia ditemukan oleh orang Eropa, mereka yakin bahwa semua angsa berwarna putih. Semua ahli di “Dunia Lama” meyakini hal itu didasarkan pada segala pengamatan dan data dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, cukup diperlukan seekor angsa hitam untuk meruntuhkan pandangan umum yang berasal dari pengamatan banyak ornag terhadap jutaan angsa putih selama berpuluh-puluh abad. Hal yang diperlukan hanya seekor angsa hitam. Itulah Black Swan.

NNT berusaha menjelaskan bahwa kehidupan berjalan lebih banyak ditentukan oleh hal-hal yang tidak kita ketahui daripada sebaliknya. Jenis pekerjaan yang kita jalani saat ini, pasangan hidup yang ada di sebelah kita, kondisi kota yang kita diami, menunjukkan bukti betapa semua itu tidak seperti yang kita ramalkan beberapa puluh tahun yang lalu. Kenyataan menunjukkan betapa lemah kemampuan manusia dalam meramal masa depan.

***
Ada beberapa cerita menarik yang diungkapkan NNT. Salah satunya adalah soal kalkun yang diadopsi dari tulisan Russel soal ayam.

Seekor kalkun dipelihara dengan penuh perhatian selama 1.000 hari lalu disembelih pada hari ke-1.001. Bagi kalkun, data selama 1.000 hari pertama menunjukkan bahwa ekstrapolasi untuk hari ke-1.001 adalah perlakuan yang sama baiknya atau lebih baik. Disembelih pada hari ke-1.001 adalah kejutan, bertentangan dengan semua data yang dihimpunnya mengenai perlakuan si tuan selama 1.000 hari pertama.
Akan tetapi, bagi peternak, perlakuan pada hari ke-1.001 sudah sesuai rencana, tidak bertentangan dengan perlakuan pada hari-hari sebelumnya. Ini hanya masalah jadwal dan cakupan pemahaman.

Seorang kawan berseloroh mengenai hal ini: bagi konsumen, kerusakan ponsel pada tahun ke-2 adalah musibah, sementara bagi produsen, hal itu sudah sesuai rencana. Dalam kehidupan nyata, banyak yang lebih rumit dibandingkan kerusakan ponsel yang (bagaimana pun) masih dapat diduga sebelumnya.
Jadi, penting untuk tetap skeptis, tidak terlalu percaya pada ramalan dan data-data yang sejauh ini menunjukkan semuanya baik-baik saja. Bisa jadi ada variable lebih penting, lebih besar, yang tidak atau belum diungkapkan.

***
Kisah lainnya yang juga menarik adalah mengenai Geovanni Drogo. Tokoh fiktif dalam novel karya (penulis fiktif) Yevgenia. Karakter utama dalam cerita Il Deserto itu begitu siap menghadapi Black Swan yang ternyata, tragisnya, tidak pernah datang. Drogo adalah seorang perwira muda yang penuh semangat. Pada awal karirnya ditempatkan di sebuah benteng perbatasan di pinggir padang pasir. Dalam penugasan selama empat bulan itu, semula dia merasa tidak nyaman. Akan tetapi, lama-lama dia menikmati penantian sebuah peristiwa besar.

Dia kerasan tinggal di benteng dan menantikan serbuan musuh yang akan membuatnya menjadi pahlawan. Dia terus menunggu dan menunggu hingga 35 tahun. Dan, tragisnya, dia justru tidak berada di tempat ketika peristiwa besar yang telah dinantikan bertahun-tahun itu terjadi.

Di dunia nyata, hampir semua orang mengira bahwa perang besar yang (akhirnya) terjadi bertahun-tahun (seperti Perang Dunia I & II) itu semula hanya akan berlangsung beberapa hari. Para korban mengungsi dengan harapan beberapa pecan kemudian dapat kembali ke tempat tinggalnya. Ternyata, berpuluh tahun kemudian, mereka masih tinggal di pengungsian.

Banyak orang menjadi pengamen dengan harapn sekian bulan ke depan dapat menemukan pekerjaan lain yang lebih baik. Ternyata, bertahun kemudian, dia masih juga mengamen. Banyak juga pilihan karir lain yang bentuknya serupa.

***
Cerita berikutnya mengenai Giacomo Cassanova. Cassanova yang menyebut dirinya sebagai Jaques, Chevalier de Seingalt, adalah sosok yang sangat ingin menjadi intelektual namun dikenal sebagai penggoda perempuan.

Dia digambarkan sebagai orang yang lebih licin daripada Teflon: kemalangan tidak pernah singgah kepadanya. Sastrawan yang dikenal dengan 12 jilid buku berjudul History of My life itu mengungkapkan cerita tentang serangkaian nasib baik yang mengubah jalan hidupnya.

Ketika sesuatu menjadi buruk baginya, entah bagaimana dia akan bertemu dengan seseorang di tampuk kekuasaan yang menawarkan kerja sama bisnis dengannya, seorang penyandang dana baru yang belum pernah dia khianati dalam perjumpaan sebelumnya, atau seorang yang cukup dermawan dengan ingatan yang cukup lemah untuk melupakan kesalahan-kesalahannya di masa lalu.

Cassanova seolah-olah dipilih oleh takdir untuk selalu lolos dari bahaya. NNT berusaha menjelaskan bahwa keberuntungan yang terus menerus seperti Cassanova itu mungkin terjadi dalam dunia yang pada hakekatnya adalah acak ini. (Bersambung, insya Allah)

Gambar: Gramedia Matraman

06 Mei 2009

Apa salahnya mendukung WiMax lokal?

Banyak kontroversi mengenai pemilihan pita frekuensi dan varian teknologi pita lebar nirkabel WiMax yang akan digunakan di Indonesia. Di sana ada standar internasional dengan pemain-pemain utama yang sudah tersohor, sementara di sini ada standar berbeda dengan pemain yang baru memulai.

Kekhawatiran yang sering muncul jika Indonesia memiliki standar (frekuensi) sendiri adalah tidak comply dengan standar internasional. Tapi, saya ingin membalik pertanyaan: apa ruginya sih sebenarnya kalau sekarang kita kembangkan standar sendiri yang agak unik sebagai entry barrier untuk pemain internasional?

Ada beberapa hal yang perlu dicermati
1. Bahwa pasar untuk WiMax di dunia ini belum matang. Nilainya masih sangat kecil dibandingkan dengan 3G dan GSM yang sudah menjangkau segala penjuru bumi. Bahkan dibandingkan dengan pasar untuk Wi-Fi pun WiMax masih kecil sekali. Saya yakin, butuh waktu paling tidak lima tahun ke depan untuk memungkinkan WiMax tumbuh menjadi raksasa (dengan asumsi yang sangat optimistis, berlaku di seluruh penjuru bumi)

2. Penetapan standar khas Indonesia toh tidak akan menghalangi perkembangan WiMax yang mengikuti standar internasional (WiMax Forum). Biar saja pemain internasional tetap menjalankan standar mereka, toh kita tidak diisolasi. Bukankah kita bisa setiap saat bergabung ke standar internasional kalaulah eksperimen dengan standar lokal gagal.


3. Katakanlah kita mencoba mengembangkan standar lokal ini untuk tiga tahun atau lima tahun ke depan. Mungkin kita bisa menguji dan mengoptimalkan sumber daya lokal untuk mengembangkan pasar domestik. Berapa besarnya investasi yang mungkin tersia-sia? Kita bisa lihat nilai pasarnya saja. Biaya langganan rata-rata yang bisa dianggap pas untuk kantong orang Indonesia kira-kira Rp100.000 per bulan. Dengan asumsi volume pasar yang matang adalah 2 juta sambungan, maka dalam keadaan pasar yang matang, omzet jasa yang tersedia sekitar Rp2 triliun per tahun. Katakanlah butuh lima tahun menuju volume pasar itu. Investasi sebelum masa itu saya kira di bawah Rp1 triliun per tahun (termasuk untuk riset, pabrikan, dan sebagainya). Artinya, nilai uang yang mungkin terbuang jika gagal adalah sekitar Rp5 triliun dalam 5 tahun. Nilai ini sebenarnya tidak besar-besar amat dibandingkan nilai uang yang sudah terbuang untuk pembangunan CDMA, 3G dan sebagainya. Jadi, siapa takut?

4. Apakah pengguna pada masa percobaan akan rugi? Mungkin saja rugi. Dia sudah beli dongle, access point dan sebagainya. Sama dengan orang beli handphone lalu layanannya mati. Tapi saya kira tidak terlalu besar kerugiannya. Toh pada saat yang sama pengguna individu masih bisa memakai 3G, dan pengguna korporasi bisa memakai Speedy.

Tentu saja lebih fair untuk membandingkannya dengan keuntungan apa saja yang mungkin kita dapatkan dari WiMax. Potensi keuntungan itu benar-benar perlu dieksplorasi dengan cerdas. Kalau memang mau pakai model proyek-proyekan seperti jaman dulu (asal tidak dikorupsi), kalau semua kantor pemerintah dan sekolah dilengkapi dengan koneksi WiMax, wah berapa besar pasar yang bisa diselamatkan?

Saya kira, sedekat dan sependek pengetahuan saya, dengan analisis yang sangat dangkal ini, tidak ada salahnya saat ini menetapkan standar WiMax yang khas Indonesia. Kondisinya mungkin berbeda kalau kita menetapkan standar unik itu tiga tahun mendatang. Wallahu alam.