21 Mei 2009

Menanti diary para politisi

Politisi adalah jenis pekerjaan dengan tingkat keacakan tinggi. Mereka berpeluang besar untuk dihantui rasa bersalah atau penyesalan yang berkepanjangan di masa mendatang. Konon, menulis diary adalah salah satu cara mengatasi masalah semacam ini.

***

Para politisi kelas atas, petinggi partai politik, orang-orang yang berada di teras kekuasaan negeri ini, sedang sibuk. Rapat sepanjang siang dan malam, lobby sana-sini, membangun koalisi. Mereka datang ke acara diskusi demi diskusi, terutama yang disorot kamera televisi.

Ada yang begitu percaya diri, ada yang tampak seperti oportunis. Ada yang ngotot, seolah-olah main gertak, menaikkan nilai tawar, dan ada pula yang terkesan plin-plan. Ada yang setia ada yang membelot.

Seusai pemilu legislatif dan menjelang pilpres, aktivitas elite politik memang tampak meningkat. Manuver jungkir balik terus berlangsung, sebagian besar berada di bawah sorotan media, sebagian lainnya di ruang-ruang tertutup entah di mana.

Meningkatnya suhu politik seusai pileg bisa dipahami karena perebutan sumber daya yang makin terbatas. Pemilu legislatif memperebutkan setidaknya 500 jabatan DPR dan ribuan jabatan DPRD I, DPRD II, serta DPD. Adapun dalam pilpres hanya ada satu lowongan presiden, satu wakil presiden (tidak seperti bank yang punya puluhan VP), serta beberapa menteri yang akan ikut terbawa dalam gerbong pemerintahan periode mendatang.

Pemilu legislatif melibatkan sangat banyak orang untuk melakukan kampanye dan sosialisasi calon anggota legistaltif, sementara lobi-lobi pilpres pada tahap sekarang lebih banyak dilakukan oleh elite parpol.

Sebagian upaya lobbi para petinggi itu berada dalam sorotan media. Ada yang berhasil memanfaatkan media sebagai sarana komunikasi, ada yang ingin tapi tampak gagal, dan ada yang barangkali tidak ingin dan memang gagal total.

Ada politisi yang seolah-olah tampak menggertak sana-sini, tapi tidak terbukti, bahkan tidak mengakui. Mungkin sebenarnya kalimat-kalimat “gertakan” itu ditujukan ke mitra atau lawan politik. Mereka yang disasar mungkin bisa menangkap dengan tepat. Akan tetapi, karena semua dilakukan di depan sorotan kamera televisi dan muncul di koran-koran, publik dan konsituen juga menangkap pesannya. Sayangnya, bisa jadi apa yang ditangkap itu berbeda dengan apa yang dimaksud oleh sang politisi.

***
Politisi adalah pekerjaan dengan tingkat keacakan yang tinggi. Kalau ada 50 orang elite politik dijejer, pasti relatif sulit bagi kita untuk memprediksi siapa yang benar-benar akan sukses sebagai pemenang dan siapa yang menjadi pecundang.

Dan orang yang bekerja dengan tingkat keacakan yang tinggi, mengacu pada kategorisasi dalam Black Swan-nya Nassim Nicholas Taleb, memiliki peluang besar untuk dihantui oleh penyesalan di masa mendatang.

Mereka bertindak berdasarkan data, informasi, dan pertimbangan yang tersedia saat ini. Namun jika gagal, di kemudian hari sangat berpeluang untuk terus dihantui oleh rasa menyesal karena mendasarkan pertimbangan dengan apa yang diketahui saat itu (saat mendatang itu ketika semua sudah terbukti, sudah nyata mana yang menang dan kalah).

Kalau mengacu pada seringnya politisi berusaha meluruskan apa yang dianggap sebagai kekeliruan, salah persepsi, salah tangkap dari apa yang beredar dalam opini public, tampak sekali bahwa peluang adanya penyesalan itu besar sekali.

Ada saran sederhana namun sangat mengenai dari Nassim Taleb soal cara mengatasi rasa bersalah dan penyesalan ini. Menurut dia, salah satu yang perlu dilakukan orang dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kecakan tinghi adalah menulis diary atau catatan harian. Diary adalah catatan pribadi yang ditulis ketika peristiwa itu, pengambilan keputusan penting (yang sangat mungkin berpengaruh besar terhadap nasib diri sendiri, nasib partai, nasib konstituen, nasib negara) dipertaruhkan. Ini berbeda dengan memoar yang seringkali ditulis sekian lama setelah peristiwa terjadi.

Diary adalah cara (yang tampaknya sederhana, tapi kadangkala terasa berat dilakukan) untuk mengobati banyak masalah psikologis, terutama menyangkut tekanan-tekanan yang berat. Saya sering mendengar psikolog menyarankan orang melakukan terapi diary untuk meringankan beban psikologis pasien.

Membaca diary orang lain juga membuat orang bisa lebih mengerti, empati, terhadap si penulis. Orang bisa melihat “dari dalam” atau “dari sisi sang politisi” sehingga mudah mengerti mengapa dia mengambil keputusan yang barangkali kontroversial atau tidak popular.

***
Nah, apakah para elite politik kita cukup memiliki waktu untuk menulis diary sehingga suatu saat kita, para rakyat yang hanya melihat aktivitas mereka lewat media mssa ini, menangkap apa yang bergolak dalam hati para elite tersebut ketika mengambil keputusan? Sayangnya, saya kok tidak yakin.

Sebenarnya di dunia yang sudah modern dengan bnayak peraatan canggih ini upaya menulis diary (yang terbuka maupun tertutup) sangat dimudahkan. Ada blog, ada jaringan social, ada microblogging, ada computer, ada alat perekam suara, pereka gambar, video dan sebagainya yang sangat mungkin digunakan sebagai sara untuk menulis digital diary.

Pak politisi tingkat tinggi, saya menanti diary Anda. Terima kasih.
Wallahu alam.

19 Mei 2009

Saatnya membeli ponsel QWERTY


Ponsel dengan fitur fasilitas papan ketik QWERTY dan akses jaringan 3G saat ini dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp2 juta (baru, branded, ada GPS pula). Jika mencari tambahan fitur 3G atau bahkan HSDPA, sudah dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp3 juta. Dengan tambahan touch screen, diperoleh dengan Rp3,5 juta. Jika tanpa 3G, bahkan dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp1 juta (baru, nonbranded, dual on).

***
Sejak awal mengenal ponsel, saya selalu menyukai fitur papan ketik QWERTY. Sebagai orang yang banyak berurusan dengan teks, dan lebih menyukai komunikasi tertulis dibandingkan omong-omong, adanya papan ketik QWERTY menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan bagi saya.

Sayangnya, ponsel dengan papan ektik QWERTY selama ini selalau ditempatkan untuk segmen bisnis dengan harga jual yang relative lebih mahal dibandingkan dengan ponsel lain. Fitur lain yang disertakan pada ponsel QWERTY pun umumnya lumayan banyak mengingat segmen yang disasarnya umumnya dianggap bisa mengalokasikan uang yang lebih banyak untuk ponsel. Jadinya, banyak fitur yang sebenarnya tidak perlu terpaksa harus ikut dibeli.

Oleh sebab itu, senang sekali rasanya saya mengamati perkembangan satu bulan terakhir yang menunjukkan gejala bahwa ponsel dengan papan ketik QWERTY mulai dipasarkan dengan harga yang jauh lebih masuk akal dibandingkan setengah tahun yang lalu.

Nokia e63, salah satu favorit saya, waktu awal diperkenalkan secara global sekitar setengah tahun yang lalu, sudah disebut bahwa harganya sekitar 250 euro. Harga yang diumumkan itu lebih murah dibandingkan harga e71. Akan tetapi, pas masuk ke Indonesia, harga jualnya masih mendekati (atau bahkan melampaui) Rp4 juta.

Sekarang, Nokia e63 dapat diperoleh dengan harga Rp2,85 juta. Sudah dekat sekali dengan 250 euro seperti yang digemborkan Nokia di pasar global. Dalam ponsel ini ada fitur ada 3G (bukan HSDPA), Wi-Fi, memori besar, kamera 2 mega piksel.

Yang mirip dengan itu, Samsung i600, dipasarkan dengan harga sekitar Rp2,9 juta. Saya mengenal pertama Samsung i600 itu di Hong Kong pada Desember 2006 di arena ITU World. Banyak sekali baliho tentang produk Samsung Black Jack seri II itu. Waktu masuk ke Indonesia pada 2007, ponsel ini dijual dnegan harga sekitar Rp6 juta. Ini salah satu favorit saya juga. Ada 3G, HSDPA, Wi-Fi, Windows Mobile. Bentuknya sangat mungil dan tipis. Warna hitamnya juga tampak elegan. Sayangnya tidak dilengkapi dengan layar touch screen.

Nah, versi pembaruan dari Samsung, dengan tambahan touch screen, muncul pada seri i780. Waktu awal masuk pasar, ponsel ini juga dijual dengan harga Rp6 jutaan. Kemarin saya lihat iklannya di koran, dijual dengan harga Rp3,49 juta dengan Simpati Pede. Menarik sekali.

Ada satu kejutan lagi terkait ponsel branded. LG K610 (yang pernah saya singgung juga dalam tulisan di blog ini tentang downgrade produk ala Nokia), kini turun harga secara signifikan. Ponsel QWERTY dengan 3G dan GPS buatan Korea Selatan itu sekarang seri barunya dijual dengan harga Rp1,9 jutaan. Pada awal kehadirannya, produk yang diklaim sebagai communicator mini ini dijual pada kisaran Rp4 juta.

Kalau puas dengan non-branded dan tidak butuh 3G namun mengidamkan QWERTY, bisa pilih Nexian G900 yang dipasarkan dengan harga Rp999.000.

Nah, barangkali sekarang saat yang tepat untuk berburu ponsel QWERTY?? Wallahu alam.

Foto dikompilasi dari berbagai situs

18 Mei 2009

Antara bisnis & masalah kejiwaan


Black Swan membuat minat saya untuk membaca buku tiba-tiba melonjak. Tulisan yang sangat menarik, mengalir, dan provokatif dari Nassem Nicholas Taleb benar-benar mampu membangkitkan ‘penyakit’ saya seperti 11 tahun atau 12 tahun yang lalu. Saya mencoba menghayati ini sebagai anugerah menjelang genapnya 34 kali saya mengelilingi matahari.

Pekan lalu, ketika saya berkesempatan mampir ke toko buku, yang paling teringat di kepala saya untuk saya baca setelah Black Swan adalah Outlier karya Malcolm Gladwell.

Akan tetapi, sebelum saya berjumpa dengan buku itu, masa saya terbentur buku berpenampilan tua: The Unwritten Laws of Business karya W.J. King, serta Catatan dari Bawah Tanah karya Fyodor Dostoyevski.

***
The Unwritten Laws of Business sebenarnya adalah buku kuno. Terbit pertama kali pada 65 tahun yang lalu, kemudian mengalami sedikit revisi (penyesuaian) pada 2001. Sangat mengejutkan bahwa isinya masih sangat cocok, pas, dengan kondisi sekarang. Mungkin hukum-hukum dasar dalam bekerja dan mengorganisasi orang-bisnis itu ya pada dasarnya begitu-begitu saja. Hanya alatnya saja yang berkembang.

Saya bahkan sampai berpikir bahwa buku ini merupakan buku yang paling cocok untuk dihadiahkan bagi siapa pun yang baru diterima bekerja, bekerja di tempat baru, mendapat promosi sebagai manager, atau ditempatkan pada posisi manajerial yang baru. Buku ini benar-benar universal dan dipaparkan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti serta diadopsi untuk lingkungan mana pun.

Nasihat-nasihat itu contohnya:
“Sekasar dan seremeh apa pun tampaknya tugas awal Anda, kerahkanlah upaya terbaik.”
“Hindari kesan bimbang”
“Jangan malu-malu, berbicaralah, ungkapkan ide-ide Anda”
“Sangat berhati-hatilah mengenai akurasi pernyataan Anda”
“Setiap manager harus tahu apa saja yang berlangsung di dalam wilayah kekuasaannya”
“Jadikan prioritas utama apa pun yang menurut supervisor Anda harus Anda selesaikan”
“Rapat sebaiknya tidak terlalu besar atau terlalu kecil”
“Pelajari keterampilan dan teknik manajemen proyek, lalu terapkan dalam kegiatan yang Anda kelola”

Sebenarnya semua itu biasa-biasa saja, hampir menjadi pengetahuan umum. Tetapi bagi saya yang miskin ilmu manajemen ini terasa betul bahwa sebagian besar yang tertulis dalam buku itu sangat membumi dan relevan. Buku ini bisa menjadi pengingat dan penasihat yang baik.

Dan, pilihan kertas serta ukurannya yang sama dengan Black Swan menambah sensasinya sebagai buku yang menarik. Saya rekomendasikan untuk dibaca oleh siapa saja yang baru mendapat pekerjaan baru atau posisi baru, sekadar sebagai pengingat hal-hal dasar yang perlu tetap dipegang.

***
Buku lain yang juga menarik adalah karya Dostoyevski. Catatan dari Bawah Tanah merupakan buku ketiga karya Dostoyevski yang pernah saya baca. Sebelumnya adalah Si Lembut Hati yang saya pinjam dari Perpustakaan Salman 11 tahun yang lalu, serta Kejahatan dan Hukuman yang masih tersimpan di rumah.

Seperti buku Dostoyevski lainnya, nada cerita dalam buku ini pilu dan suram, sangat suram. Penulis kelahiran 1821 itu memang sangat piawai dalam mengambarkan penderitaan jiwani manusia. Tampak sekali bagaimana penderitaan itu menjadi sangat dekat dengan kegilaan atau bahkan memicu sikap aneh-aneh seperti psikopat.

Sampai taraf tertentu buku ini mampu mewakili perasaan saya (sebenarnya saya ingin mengatakan perasaan kita semua, tapi tidak pede) tentang penderitaan batiniah. Tapi pada titik yang lain, ungkapannya menjadi begitu menakutkan dan agak sulit dimengerti. Dan karena buku ini sepenuhnya cerita mengenai orang yang tersisih dan sangat menderita maka terasa betul kengerian dan kekacauan pikiran orang yang tertekan.

Cara pengungkapan yang sangat jujur dan terbuka mengenai Aku, si tokoh dalam cerita tersebut, pasti mempengaruhi pembacanya untuk mengungakpakan diri dengan cara serupa. Caranya yang begitu lugas dan jujur mengungkapkan penilaian atas kelebihan dan kekurangan diri, jika diterapkan dalam dunia nyata saat ini, pastilah sering disalahpahami sebagai bentuk lain dari kesombongan, keangkuhan tiada tara. Juga bentuk lain dari narsisme terselubung (atau malah narsisme telanjang??)

Sayang sekali bahwa sejumlah latar belakang yang ada dalam buku ini seperti penjelasan mengenai Kaum Romantik, serta situasi sosial politik di Rusia pada saat novel ini dituliskan tidak mampu saya pahami dengan baik. Buku ini tidak cukup dilengkapi dengan deskripsi mengenai situasi Rusia ketika itu.

***
Dua buku yang saya beli secara bersamaan ini, The Unwritten Laws of Business dan Catatan dari Bawah Tanah, adalah buku yang nyaris bertolak belakang.

Yang satu adalah mengenai bagaimana bekerja, berkarya, mengambil keputusan secara cepat, efektif, jangan tampak ragu-ragu. Semua tentang hal yang konkret dan nyata. Adapun buku satu lagi tentang keragu-raguan, ketakutan, bayangan penderitaan, rasa minder yang mencekam, serta cara berpikir yang tidak lazim.

Buku yang satu tentang bertindak sesuai kewajaran, satu lagi tentang kejujuran mengungkapkan perspektif pribadi yang mudah sekali disalahpahami dan dianggap sebagai kesombongan. Wallahu alam.

17 Mei 2009

Mencari kesempatan dalam Black Swan (iii)


Saya tergoda untuk mengutip beberapa hal unik yang terungkap dalam buku Black Swan karya Nassem Nicholas Taleb.

Apabila Anda bekerja dalam sebuah profesi yang sarat dengan keacakan, Anda akan menderita rasa bersalah akibat terus menerus menilai kembali langkah-langkah yang sudah lewat berdasarkan yang kemudian Anda kerjakan. Menulis buku harian adalah cara paling baik dalam mengatasi situasi ini.

Makin lama Anda menunggu, makin lama pula Anda diharapkan menunggu. Misalkan Anda mengirimkan sepucuk surat kepada seorang pengarang terkenal. Anda tahu bahwa dia sibuk dan mungkin baru dua pekan ke depan dapat menjawab pesan Anda. Jika tiga pekan ke depan kotak pos Anda masih kosong, jangan berharap surat balasan akan datang besok. Sebaiknya Anda berharap surat itu akan datang kira-kira tiga pekan lagi. Jika tiga bulan kemudian surat balasan itu tidak datang, Anda harus menunggu satu tahun lagi. Tiap hari akan membawa Anda makin dekat kematian, namun makin jauh dari menerima surat balasan.

Jurnalis dan cendekiawan publik dalam masyarakat yang gemar membuat ringkasan tidak membuat dunia menjadi lebih sederhana. Justru sebaliknya, hampir semuanya membuat segala sesuatu tampak lebih rumit daripada yang sesungguhnya.

Berhati-hatilah dengan hasrat Anda. Bisa jadi Anda lebih bahagia sebelum mendapatkan Black Swan yang Anda impikan. Dan banyak hal bersifat asimetris. Drogo membutuhkan waktu 35 tahun untuk menunggu peristiwa beberapa jam yang entah di mana, dan ternyata tidak pernah terwujud.

Para pembaca tidak akan bersedia membayar 26,95 dolar untuk sebuah cerita tentang kegagalan, bahkan andai Anda meyakinkan bahwa buku itu mengandung trik yang lebih berguna ketimbang sebuah kisah sukses. Makanya lebih sulit berkaca dari kegagalan orang dibandingkan belajar dari kesuksesan yang banyak ditulis orang.

Spesies manusia dipengaruhi oleh kebiasaan meremehkan yang kronis tentang kemungkinan masa mendatang menyimpang dari arah yang ditetapkan atau diharapkan.

Informasi adalah pengetahuan yang buruk. Ketika Anda mengembangkan pandangan-pandangan berdasarkan bukti yang lemah, Anda akan kesulitan menfasirkan informasi selanjutnya yang bertentang dangan pandangan ini. Bahkan jika informasi baru ini jelas lebih akurat. Maka, menahan diri untuk tetap skeptis, tidak buru-buru membuat penilaian atau memberikan pandangan, lebih baik.

14 Mei 2009

Mencari kesempatan dalam Black Swan (ii)


Rumus utama dalam menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan adalah “terima takdir Anda”. Kata NNT, ketika Anda ketinggalan kereta, tidak perlu berlari-lari mengejarnya. Ketinggalan kereta hanya menyakitkan ketika Anda berusaha mengejarnya. Begitu pula, tidak memenuhi gagasan tentang sukses seperti yang diharapkan oleh orang lain dari Anda hanya menyakitkan jika memang itu yang Anda kejar.

***
NNT dalam buku Black Swan membagi dunia secara umum dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah ranah mediocristan, dan kelompok kedua berada dalam ranah extremistan.

Di ranah mediocristan, distribusi (serta jenis pekerjaan) umumnya nonscalable, keacakan tipe sedang, anggota paling tipikal bersifat medioker, pemenang mendapatkan sedikit bagian dari keseluruhan hasil (misalnya jumlah penonton biduan di era sebelum gramapon), dan peristiwa terdistribusi mengikuti kurva lonceng (distribusi normal?)

Pada ranah extremistan, distribusi umumnya scalable, keacakan tipe liar, tidak ada anggota yang tipikal, memiliki efek ‘pemenang mendapatkan semuanya’ (misal jumlah penikmat lagu di era pascagramapon), dan peristiwa terdistribusi secara sangat acak.

Contoh distribusi yang scalable adalah perbandingan antara pendapatan orang terkaya dunia dengan orang yang paling miskin. Perbandingannya bisa sangat ekstrem. Rasio semacam itu tidak bisa kita temua ketika kita membandingkan berat badan orang tergemuk dengan orang terkurus. Distribusi berat badan masuk mediocristan, sedangkan distribusi kekayaan masuk dalam extremistan.

***
Ada beberapa jenis pekerjaan yang dimasukkan oleh NNT dalam kelompok nonscalable. Gaji seorang karyawan pabrik mudah dihitung berdasarkan jumlah jam kerjanya. Gampang sekali mengetahui batas atas nilai pendapatan dari jenis pekerjaan semacam ini. Omzet pengelola restoran mudah untuk dihitung berdasarkan jumlah tempat duduk yang tersedia. Yang macam ini, masih masuk dalam nonscalable. Harus ada upaya dua kali lipat untuk mendapatkan gaji dua kali lipat (tempat duduk dilipatduakan, atau jam kerja dinaikkan dua kali lipat).

Ada juga jenis pekerjaan lain yang scalable. Penambahan usaha yang sedikit (atau bahkan tanpa penambahan sama sekali) meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Hal ini, misalnya, terjadi pada buku best seller. (Di Indonesia mungkin kita bisa berkaca pada kasus Laskar Pelangi Andrea Hirata atau Ayat-ayat Cinta Habiburrahman AS).

Pekerjaan lain, di Indonesia yang tampaknya masuk scalable adalah politisi. Orang yang semula tidak signifikan bisa meloncat menjadi sangat penting ketika menjadi politisi. Pekerjaan lainnya lagi yang masuk scalable, yang baru populer beberapa pekan belakangan, tampaknya adalah caddy golf, hehehe.
Sayangnya, beberapa jenis pekerjaan scalable yang saya sebut di atas umumnya berawal dari pekerjaan sampingan.

***
Sejumlah trik dianjurkan oleh NNT menghadapi Black Swan. Trik pertama, saya tulis pada paragraf pertama tulisan seri satu. Intinya, jangan sia-siakan setiap datangnya peluang besar yang muncul di depan mata.

Trik kedua, buat pembedaan antara Black Swan negatif dan positif. Kalau seseorang menjadi tentara, misalnya, risiko terbesarnya adalah kematian, sementara potensi keuntungan maksimalnya kita bisa hitung. Itu masuk Black Swan negatif. Menulis buku, potensi keuntungannya bisa besar sekali (bila menjadi best seller), dan potensi kerugian maksimalnya bisa kita hitung. Hal yang sama bisa berlaku untuk memilah-milah jenis Black Swan yang mungkin terjadi.

Trik ketiga, jangan mencari yang terlalu rinci di tempat yang terbatas. Jangan berpikiran sempit. Mengutip kata Pasteur: peluang berpihak pada siapa yang siap. Terbukalah terhadap peluang, jangan membatasi diri pada hal-hal yang terlalu detil dan sempit.

Trik keempat, berhati-hatilah dengan prediksi jangka panjang yang terlalu detil, apalagi jika itu datang dari pemerintah. Trik kelima, percayalah bahwa ketelitian perkiraan ekonom dan para analis saham umumnya menurun seiring berjalannya waktu.

***
Untungnya, di tengah berbagai kenyataan dunia extremistan di mana pemenang meraih hamper semuanya, masih ada peluang bagi pemain kecil untuk mengambil keuntungan. Itulah yang dikutip buku ini dari teori the long tail.

Kendati sebagian besar hanya membuka Google dan sejumlah situs khas lain ketika mengakses Internet, masih tersedia ruang pagi penyedia konten lain yang khas untuk maju. Ada lingkungan yang memungkinkan orang kecil tak bermakna untuk mencoba meraih sukses luar biasa. Selama hayat dikandung badan, masih ada harapan.

Dalam dunia Internet, misalnya, web mendorong munculnya inverse Google yang memungkinkan orang menemukan pelanggan yang mantap walaupun kecil. The long tail menyiratkan makna bahwa kaum yang kecil, secara kolektif, pastilah mengendalikan sebuah segmen besar kultur dan perdagangan.

***
Nassim Nicholas Taleb memberikan gambaran yang gamblang sekali mengenai bagaimana sulitnya memahami dunia, memahami sejarah beserta faktor-faktornya.

Dia memberikan contoh sebagai berikut:
Eksperimen 1: Bayangkan sebuah kubus es dan pikirkan bagaimana dia meleleh dalam dua jam ke depan. Cobalah bayangkan bentuk genangan yang muncul kemudian.

Eksperimen 2: Ada sebuah genangan air di lantai lalu cobalah rekonstruksi seperti apakah bentuk padatan es yang barangkali pernah berada di situ. Perhatikan bahwa genangan air itu bisa jadi bukan berasal dari genangan es.

Operasi yang kedua jauh lebih sulit dan mudah salah dibandingkan dengan operasi pertama.

Kehidupan berjalan seperti eksperimen yang kedua. Kita tidak bisa duduk-duduk saja sambil membaca persamaan yang mengatur jagad raya. Yang bisa kita lakukan adalah mengamati data dan membuat asusmsi mengenai proses yang harus ada, lalu melakukan “kalibrasi” dengan menyesuaikan persamaan yang kita buat dengan informasi tambahan.

Dengan cara inilah NNT benar-benar membuktikan bahwa dunia ini berjalan dengan mekanisme yang lebih banyak tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui. Sikap terlalu ‘sok tahu” dan mengandalkan teorema yang sudah ada untuk memahami keacakan dunia bisa jadi adalah sikap yang terlalu naïf.

Rumus utama dalam menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan adalah “terima takdir Anda”. Menurut NNT, ketika Anda ketinggalan kereta, tidak perlu berlari-lari mengejarnya. Ketinggalan kereta hanya menyakitkan ketika Anda berusaha mengejarnya. Begitu pula, tidak memenuhi gagasan tentang sukses seperti yang diharapkan oleh orang lain dari Anda hanya menyakitkan jika memang itu yang Anda kejar. Demikianlah saran NNT.

Wallahu alam.

Mencari kesempatan dalam Black Swan (i)


Carilah kesempatan atau apa pun yang mirip kesempatan. Yang seperti ini langka, jauh lebih langka dari yang Anda kira. Ingat bahwa untuk beruntung Anda harus berada di tempat yang tepat untuk menerimanya. Banyak orang tidak sadar bahwa mereka mendapatkan keberuntungan dalam hidup justru saat mendapatkannya. Jika seorang penerbit besar atau tokoh besar atau eksekutif besar mengusulkan sebuah pertemuan dengan Anda, batalkan apa pun kegiatan lain yang telah Anda rencanankan: Anda mungkin tidak akan pernah menemukan jendela seperti ini terbuka lagi.

Begitulah salah satu saran Nassim Nicholas Taleb dalam buku Black Swan. Pria kelahiran Lebanon keturunan Yunani ini mengungkapkan hal-hal yang bagi saya sangat mengejutkan dan memikat dalam buku setebal 480 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama itu. Bagi saya, ini salah satu buku yang sangat berguna untuk memahami betapa kehidupan ini tidak bisa diramalkan dan manusia sering terjebak untuk sok tahu.

Black Swan digunakan untuk menyebut peristiwa besar yang terjadi secara acak dan berdampak besar bagi kehidupan. Munculnya buku best seller, kehadiran Internet, Google, resesi ekonomi, perang besar, adalah sebagian di antara Black Swan.

Tiga karakteristik Black Swan yang disebut NNT adalah: tidak dapat diramalkan; memberikan dampak yang masif; dan setelah terjadi, mendorong kita untuk membuat penjelasan bahwa peristiwa itu bukan kebetulan, dan lebih bisa diramalkan daripada sesungguhnya.

Lalu, mengapa dipilih nama Black Swan untuk menyebut peristiwa besar yang tidak lazim itu? Konon, sebelum benua Autralia ditemukan oleh orang Eropa, mereka yakin bahwa semua angsa berwarna putih. Semua ahli di “Dunia Lama” meyakini hal itu didasarkan pada segala pengamatan dan data dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, cukup diperlukan seekor angsa hitam untuk meruntuhkan pandangan umum yang berasal dari pengamatan banyak ornag terhadap jutaan angsa putih selama berpuluh-puluh abad. Hal yang diperlukan hanya seekor angsa hitam. Itulah Black Swan.

NNT berusaha menjelaskan bahwa kehidupan berjalan lebih banyak ditentukan oleh hal-hal yang tidak kita ketahui daripada sebaliknya. Jenis pekerjaan yang kita jalani saat ini, pasangan hidup yang ada di sebelah kita, kondisi kota yang kita diami, menunjukkan bukti betapa semua itu tidak seperti yang kita ramalkan beberapa puluh tahun yang lalu. Kenyataan menunjukkan betapa lemah kemampuan manusia dalam meramal masa depan.

***
Ada beberapa cerita menarik yang diungkapkan NNT. Salah satunya adalah soal kalkun yang diadopsi dari tulisan Russel soal ayam.

Seekor kalkun dipelihara dengan penuh perhatian selama 1.000 hari lalu disembelih pada hari ke-1.001. Bagi kalkun, data selama 1.000 hari pertama menunjukkan bahwa ekstrapolasi untuk hari ke-1.001 adalah perlakuan yang sama baiknya atau lebih baik. Disembelih pada hari ke-1.001 adalah kejutan, bertentangan dengan semua data yang dihimpunnya mengenai perlakuan si tuan selama 1.000 hari pertama.
Akan tetapi, bagi peternak, perlakuan pada hari ke-1.001 sudah sesuai rencana, tidak bertentangan dengan perlakuan pada hari-hari sebelumnya. Ini hanya masalah jadwal dan cakupan pemahaman.

Seorang kawan berseloroh mengenai hal ini: bagi konsumen, kerusakan ponsel pada tahun ke-2 adalah musibah, sementara bagi produsen, hal itu sudah sesuai rencana. Dalam kehidupan nyata, banyak yang lebih rumit dibandingkan kerusakan ponsel yang (bagaimana pun) masih dapat diduga sebelumnya.
Jadi, penting untuk tetap skeptis, tidak terlalu percaya pada ramalan dan data-data yang sejauh ini menunjukkan semuanya baik-baik saja. Bisa jadi ada variable lebih penting, lebih besar, yang tidak atau belum diungkapkan.

***
Kisah lainnya yang juga menarik adalah mengenai Geovanni Drogo. Tokoh fiktif dalam novel karya (penulis fiktif) Yevgenia. Karakter utama dalam cerita Il Deserto itu begitu siap menghadapi Black Swan yang ternyata, tragisnya, tidak pernah datang. Drogo adalah seorang perwira muda yang penuh semangat. Pada awal karirnya ditempatkan di sebuah benteng perbatasan di pinggir padang pasir. Dalam penugasan selama empat bulan itu, semula dia merasa tidak nyaman. Akan tetapi, lama-lama dia menikmati penantian sebuah peristiwa besar.

Dia kerasan tinggal di benteng dan menantikan serbuan musuh yang akan membuatnya menjadi pahlawan. Dia terus menunggu dan menunggu hingga 35 tahun. Dan, tragisnya, dia justru tidak berada di tempat ketika peristiwa besar yang telah dinantikan bertahun-tahun itu terjadi.

Di dunia nyata, hampir semua orang mengira bahwa perang besar yang (akhirnya) terjadi bertahun-tahun (seperti Perang Dunia I & II) itu semula hanya akan berlangsung beberapa hari. Para korban mengungsi dengan harapan beberapa pecan kemudian dapat kembali ke tempat tinggalnya. Ternyata, berpuluh tahun kemudian, mereka masih tinggal di pengungsian.

Banyak orang menjadi pengamen dengan harapn sekian bulan ke depan dapat menemukan pekerjaan lain yang lebih baik. Ternyata, bertahun kemudian, dia masih juga mengamen. Banyak juga pilihan karir lain yang bentuknya serupa.

***
Cerita berikutnya mengenai Giacomo Cassanova. Cassanova yang menyebut dirinya sebagai Jaques, Chevalier de Seingalt, adalah sosok yang sangat ingin menjadi intelektual namun dikenal sebagai penggoda perempuan.

Dia digambarkan sebagai orang yang lebih licin daripada Teflon: kemalangan tidak pernah singgah kepadanya. Sastrawan yang dikenal dengan 12 jilid buku berjudul History of My life itu mengungkapkan cerita tentang serangkaian nasib baik yang mengubah jalan hidupnya.

Ketika sesuatu menjadi buruk baginya, entah bagaimana dia akan bertemu dengan seseorang di tampuk kekuasaan yang menawarkan kerja sama bisnis dengannya, seorang penyandang dana baru yang belum pernah dia khianati dalam perjumpaan sebelumnya, atau seorang yang cukup dermawan dengan ingatan yang cukup lemah untuk melupakan kesalahan-kesalahannya di masa lalu.

Cassanova seolah-olah dipilih oleh takdir untuk selalu lolos dari bahaya. NNT berusaha menjelaskan bahwa keberuntungan yang terus menerus seperti Cassanova itu mungkin terjadi dalam dunia yang pada hakekatnya adalah acak ini. (Bersambung, insya Allah)

Gambar: Gramedia Matraman

06 Mei 2009

Apa salahnya mendukung WiMax lokal?

Banyak kontroversi mengenai pemilihan pita frekuensi dan varian teknologi pita lebar nirkabel WiMax yang akan digunakan di Indonesia. Di sana ada standar internasional dengan pemain-pemain utama yang sudah tersohor, sementara di sini ada standar berbeda dengan pemain yang baru memulai.

Kekhawatiran yang sering muncul jika Indonesia memiliki standar (frekuensi) sendiri adalah tidak comply dengan standar internasional. Tapi, saya ingin membalik pertanyaan: apa ruginya sih sebenarnya kalau sekarang kita kembangkan standar sendiri yang agak unik sebagai entry barrier untuk pemain internasional?

Ada beberapa hal yang perlu dicermati
1. Bahwa pasar untuk WiMax di dunia ini belum matang. Nilainya masih sangat kecil dibandingkan dengan 3G dan GSM yang sudah menjangkau segala penjuru bumi. Bahkan dibandingkan dengan pasar untuk Wi-Fi pun WiMax masih kecil sekali. Saya yakin, butuh waktu paling tidak lima tahun ke depan untuk memungkinkan WiMax tumbuh menjadi raksasa (dengan asumsi yang sangat optimistis, berlaku di seluruh penjuru bumi)

2. Penetapan standar khas Indonesia toh tidak akan menghalangi perkembangan WiMax yang mengikuti standar internasional (WiMax Forum). Biar saja pemain internasional tetap menjalankan standar mereka, toh kita tidak diisolasi. Bukankah kita bisa setiap saat bergabung ke standar internasional kalaulah eksperimen dengan standar lokal gagal.


3. Katakanlah kita mencoba mengembangkan standar lokal ini untuk tiga tahun atau lima tahun ke depan. Mungkin kita bisa menguji dan mengoptimalkan sumber daya lokal untuk mengembangkan pasar domestik. Berapa besarnya investasi yang mungkin tersia-sia? Kita bisa lihat nilai pasarnya saja. Biaya langganan rata-rata yang bisa dianggap pas untuk kantong orang Indonesia kira-kira Rp100.000 per bulan. Dengan asumsi volume pasar yang matang adalah 2 juta sambungan, maka dalam keadaan pasar yang matang, omzet jasa yang tersedia sekitar Rp2 triliun per tahun. Katakanlah butuh lima tahun menuju volume pasar itu. Investasi sebelum masa itu saya kira di bawah Rp1 triliun per tahun (termasuk untuk riset, pabrikan, dan sebagainya). Artinya, nilai uang yang mungkin terbuang jika gagal adalah sekitar Rp5 triliun dalam 5 tahun. Nilai ini sebenarnya tidak besar-besar amat dibandingkan nilai uang yang sudah terbuang untuk pembangunan CDMA, 3G dan sebagainya. Jadi, siapa takut?

4. Apakah pengguna pada masa percobaan akan rugi? Mungkin saja rugi. Dia sudah beli dongle, access point dan sebagainya. Sama dengan orang beli handphone lalu layanannya mati. Tapi saya kira tidak terlalu besar kerugiannya. Toh pada saat yang sama pengguna individu masih bisa memakai 3G, dan pengguna korporasi bisa memakai Speedy.

Tentu saja lebih fair untuk membandingkannya dengan keuntungan apa saja yang mungkin kita dapatkan dari WiMax. Potensi keuntungan itu benar-benar perlu dieksplorasi dengan cerdas. Kalau memang mau pakai model proyek-proyekan seperti jaman dulu (asal tidak dikorupsi), kalau semua kantor pemerintah dan sekolah dilengkapi dengan koneksi WiMax, wah berapa besar pasar yang bisa diselamatkan?

Saya kira, sedekat dan sependek pengetahuan saya, dengan analisis yang sangat dangkal ini, tidak ada salahnya saat ini menetapkan standar WiMax yang khas Indonesia. Kondisinya mungkin berbeda kalau kita menetapkan standar unik itu tiga tahun mendatang. Wallahu alam.

15 April 2009

Palringo untuk chatting multiple platform


Saya mendengar nama Palringo pertama kali melalui mailing list id-bb. Waktu awal mendengarnya saya kadang tertukar dengan Palmringo atau Parlingo, hehe.

Salah satu keunggulan Palringo bagi pengguna Blackberry adalah kemampunanya untuk menangani chat sesama pengguna Facebook. harap maklum, para pengguna Blackberry sudah dapat melakukan chatting untuk Gtalk dan Yahoo Messenger melalui aplikasi yang tertanam, bawaan, tanpa install apa-apa. Tinggal facebook yang tertinggal.

Perkembangan jumlah pengguna Facebook yang konon dalam waktu beberapa bulan terakahir mencapai 1,4 juta orang di Indonesia, membuat chat sesama Facebook berpeluang menjangkau lebih banyak orang dibandingkan chat melalui Yahoo Messenger dan Gtalk.

Saya mencoba install Palringo di Blackberry (dengan sistem operasi kuno, 4.2.1.101) dan ternyata bisa jalan dengan baik.

Hal yang membuat saya lebih tertarik terhadap Palringo bukan hanya kemampuannya untuk menangani chat untuk FB, MSN, dkk, melainkan juga dukungannya terhadap berbagai jenis sistem operasi. Selama ini mungkin perhatian orang lebih banyak ke eBuddy yang mendukung ponsel Java nonsmartphone. Tapi saya punya sedikit masalah dengan eBuddy.

Seiring dengan keinginan untuk mengoptimalkan gadget lama iPAQ 4355 yang masih menggunakan Windows Mobile 2003, saya butuh aplikasi chat yang kompatibel. Dulu-dulu saya tidak suka chatting, jadi belum install aplikasi untuk menangani pesan instan (IM) pada iPAQ tua itu. Sempat sebentar pakai Agile, tapi terus tidak gratis lagi. Coba eBuddy tidak menemukan yang kompatibel. Eqo juga tidak jalan di Windows Mobile 2003 (bukan Second Edition). Layanan yang berbasis web seperti IMO atau Meebo rasanya tidak nyaman.

Nah, ketika coba buka-buka mengenai Palringo, saya menemukan pernyataan bahwa aplikasi ini kompatibel dengan Windows Mobile 2003. Saya coba dan, olala, alhamdulillah, berjalan dengan baik. Chat lewat FB, YM, maupun Gtalk, semua berjalan dengan baik pada iPAQ 4355.

***
Palringo dengan logo P dan dominasi warna hitam itu pada awalnya terasa kurang intuitif. Rasanya berbeda sekali dengan chat melalui YM atau Gtalk yang sudah tertanam di Blackberry, atau jika dibandingkan dengan Pidgin yang saya pakai di PC.

Untuk memulai chat dengan salah satu kontak online, jumlah tombol yang ditekan lebih banyak dibandingkan native application. Tombol yang harus ditekan pun tidak konsisten. Kalau pada iPAQ mungkin inkonsistensi muncul karena aplikasi ini didesain untuk Pocket PC yang sepenuhnya layar sentuh, sementara iPAQ yang saya punya juga memiliki keyboard. Dengan demikian, fungsi keyboard jadi tidak konsisten.

Problem lainnya adalah kalau kita terlanjur meninggalkan satu jendela chat untuk ngobrol dengan orang lain, daftar percakapan yang sebelumnya kadang hilang, lenyap entah di mana. Jadi kadang agak repot kalau harus chat dengan beberapa orang secara bersamaan. Pada Blackberry bahkan tidak ada menu untuk Switch atau Minimize, jadi susah kalau mau membuka aplikasi lain. Masalah selanjutnya, tidak ada pilihan untuk jenis alert. Bunyinya standar gitu-gitu saja.

Saya tidak tahu apakah masalah-masalah ini sudah terpecahkan pada sistem operasi yang lebih maju, misalnya Windows Mobile 6 atau Blackberry OS 4.6 dan yang lebih baru.

Bagaimana pun, Palringo sudah membuka cakrawala baru. Memberikan banyak kemungkinan baru baik buat Blackberry dengan 8100/OS 4.2.1.101 maupun iPAQ 4355/OS Windows Mobile 2003.

14 April 2009

Melirik gadget tua di pasaran



Kalau tidak segan main ke pusat-pusat penjualan ponsel serta gadget seperti Roxi Mas atau Mal Ambassador, Jakarta, kita akan menemukan banyak gadget bekas yang dipasarkan.

Ada setidaknya dua gadget yang sangat menarik perhatian saya belakangan ini karena, dalam penilaian saya, ini termasuk value for money. Yang pertama adalah PDA-phone iPAQ 6515. Adapun yang kedua adalah Dopod 900.

iPAQ adalah produk genersi kedua dari Hewlett Packard yang menggabungkan fungsi teleponi ke dalam PDA. Banyak sekali pembaruan dibandingkan dengan generasi pertamanya yang aneh dan lambat.

Desain iPAQ6515 sangat mirip dengan iPAQ 4355 yang saya gunakan, namun ukurannya lebih kecil. Lebarnya relatif sama namun tingginya dimampatkan. Ada keyboard QWERTY yang formatnya sama persis dengan iPAQ yang sudah empat tahun saya gunakan. Layarnya memang lebih kecil agar ukurannya lebih pendek, serta desainnya lebih tebal dibandingkan 4355.

Berbeda dengan 4355 yang still PDA, dalam 6515 sudah tertanam kemampuan sebagai telepon, GPRS, serta menggunakan sitem operasi Windows Mobile 2003 Second Edition Phone Edition yang lebih maju dari WM2003. Ada Bluetooth, kartu memori, inframerah yang sama dengan 4355. Saya berharap semua aplikasi yang berjalan di 4355 bisa berjalan juga pada PDA-phone ini. Sayang belum ada Wi-Fi. (Wi-Fi disempurnakan pada 6915 yang desainnya sama persis dengan 6515)

IPAQ 6515 adalah generasi kedua PDA-phone buatan Hewlett Packard. Desainnya jauh lebih baik dibandingkan generasi pertama, 6315. Saat dikeluarkan pada 2005, HP juga masih menyandang keunggulan sebagai penyedia PDA yang terkuat di pasaran melelaui brand iPAQ. Posisinya tidak lemah seperti sekarang.

Di beberapa toko, versi bekas iPAQ 6515 ditawarkan dengan harga Rp1,2 juta. kalau ditawar mungkin jatuhnya bisa lebih murah lagi. Saya pikir ini pilihan sangat menarik bagi pengguna gadget yang menekankan fungsi, bukan gaya.

Adapun Dopod 900 adalah PDA phone yang sudah mendukung 3G dan Wi-Fi, serta dilengkapi dengan kamera. Layar sentuhnya bisa diputar-putar. Benar-benar seperti Tablet PC ukuran kecil yang sudah dilengkapi modem 3G.

Desainnya mengingatkan saya padaSony Clie UX-50, PDA berbasis Palm yang prestisius pada 2003-2004.
Problemnya, saya kira, adalah ukurannya yang terasa memenuhi saku dan bobotnya yang di atas 200 gram, mirip Nokia 9210i yang populer sekian tahun lalu.
Produk ini ada beragam versi dan ditawarkan dari Rp2 juta-Rp2,5 juta. Kalau ditawar mungkin bisa turun lagi beberapa ratus ribu.

Menggunakan alat besar semacam ini bisa jadi dianggap kurang bergaya, namun bisa juga justru dianggap bergaya karena berbeda dengan yang lain. (Buktinya kalau saya pakai PDA lama, iPAQ 4355, banyak yang Tanya dan menganggapnya barang keren).

Selain itu, bisa jadi ada masalah dengan baterai. Dan kalau ini terjadi, agak repot menanganinya karena mencari spare part untuk produk spesifik dan sudah tua ini tentu tidak segampang mencari baterai cadangan untuk Nokia atau Sony Ericsson.

Namun, untuk penekanan dari sisi fungsi, saya masih merekomendasikan penggunaan gadget murah yang pada hakekatnya sudah termasuk canggih itu.

Wallahu alam.

Spesifikasi Dopod 900
Processor Intel Bulverde 520 Mhz, 64 Mb Ram / 128 Mb Rom, Pda Phone Gsm 3Band Wcdma, Display Tft 64 K Colours Display Res. 640x480
Camera 1.3 Mega Pixels w/ Flash, 3G Support, Wi-fi, Bluetooth, Irda, Sd/Mmc Slot, Integrated Qwerty keyboard w/ Flip & 180° Rotate-able Screen, Ring Tone : Polyphonic, Wma, Wav, Mp3, Batt Li-Ion 1620 mah, Data not loose If battery empty, Microsoft Windows Mobile 5.0 + Pocket Office

Spesifikasi HP 6515
Jaringan GSM 850 / 900 / 1800 / 1900, 118 x 71 x 18 mm, Weight 165 g, TFT resistive touchscreen, 65K colors, 240 x 240 pixels, 3.0 inches, 45 x 60 mm, QWERTY keyboard. 64 MB RAM, 64 MB ROM, SDIO/MMC + miniSD, Bluetooth 1.2, infrared, USB, Camera 1.3 MP, OS Microsoft Windows Mobile 2003 SE PocketPC Phone Edition, Intel PXA270 312 MHz processor, Pocket Office (Word, Excel, PowerPoint, PDF viewer).

Foto: GSM Arena

12 April 2009

Memanfaatkan gadget lama


Berapa masa pakai optimal sebuah gadget? Dua tahun, tiga tahun, lima tahun? Perkembangan teknologi yang pesat seringkali membuat barang yang mestinya masih dapat digunakan menjadi terkesan ketinggalan jaman. Ditambah adanya alasan fashion dan gaya hidup dalam pemilihan gadget, produk lama yang sebenarnya masih dapat dioptimalkan menjadi kurang menarik.

Hal yang sering tampak ketinggalan zaman dari gadget adalah ukuran, bobot, layar, serta aplikasi. Gadget terbitan lima tahun yang lalu umumnya memiliki bobot dua atau tiga kali lipat dibandingkan gadget berkemampuan serupa yang ada saat ini. Adapun ukuran layar yang pada perangkat genggam lima tahun lalu umumnya 3,5 inchi kini bergeser menjadi di bawah 2,8 inchi. Ukuran fisik keseluruhan biasanya menyesuaikan diri dengan ukuran layar.

***
Akan tetapi, kalau mau hemat dan jujur, serta mengorbankan sedikit masalah fashion, masih banyak gadget berusia lima tahun yang layak pakai. Masih banyak yang tidak ketinggalan zaman terutama dalam hal fungsi.

Contohnya adalah iPaq 4355 yang saya gunakan untuk mengetik tulisan ini. Produk yang still PDA ini memang dalam berbagai hal tampak ketinggalan zaman. Sebagai contoh, sekarang nyaris tidak ada lagi produk yang semata-mata PDA semacam ini, tanpa tambahan fungsi telepon, bahkan 3G. Ukurannya yang berlayar 3,5 inchi ditambah keyboard qwerty di bawahnya membuatnya jadi tampak besar sekali. Sistem operasinya, Windows Mobile 2003 juga tampak kuno.

Tapi kalau kita cermati lebih jauh, masih banyak hal yang dapat dioptimalkan dari produk yang terpilih sebafgai The Best PDA 2004 oleh Majalah Info Komputer.
Prosesornya yang 400MHz termasuk cepat. Sampai saat ini masih relevan. Bhakn banyak PDA-phone keluaran baru yang prosesornya lebih lambat. Ukuran RAM dan memorinya juga relatif tidak ketinggalan dibandingkan dengan peranti PDA-phone berbasis Windows Mobile yang lebih baru.

Layar 65.000 warna juga masih menjadi standar untuk produk Windows Mobile serta sejumlah tipe Blackberry. Layar sentuhnya memang tidak sehebat iPod atau HTC Touch, tapi cukup intuitif. Desainnya masih menarik, terutama karena sangat tipis. Kartu memori SD yang digunakan juga masih mendapat dukungan yang sangat luas dari para pembuat kartu memori.

Untuk browsing masih ada Wi-Fi. Selain itu, Bluetooth memungkinkan koneksi ke ponsel sebagai modem. Bahkan dengan aplikasi tertentu, masih bisa mengirimkan SMS melalui ponsel. POP3 mail client juga sangat membantu. Beberapa aplikasi seperti ebook reader, Moslem prayer (Pocket Islam), AlQuran dan sebagainya juga bisa berjalan dengan baik.

Ketika digabungkan dengan papan ketik lipat Palm, perangkat ini juga tidak kalah dari netbook. Bahkan masih memiliki keunggulan karena kemampuan layar sentuh serta bobotnya yang sangat ringan untuk dibawa-bawa.

Kemampuan yang optimal dan tidak ketinggalan zaman juga saya temukan pada produk Nokia 6820.

***
Pada intinya, saya percaya bahwa masih banyak gadget berusi lima tahunan yang layak kita gunakan. Kalau kita mau sedikit kreatif, mungkin kita bisa mendapatkan dengan harga bekas yang sangat murah dan tetap optimal.

Beberapa tips agar gadget tetap bermanfaat di usia tuanya antara lain:
- Lapisi dengan pelindung layar dan pelindung body agar tidak cepat cacat. iPaq 4355 saya yang sudah berusia 5 tahun dan hampir tiap hari saya bawa ini masih benar-benar mulus seperti baru karena adanya pelindung layar dan pelindung body.

- Install aplikasi2 yang membuatnya benar-benar optimal untuk jangka panjang.

- Lengkapi dengan aksesori pendukung seperti keyboard external, kartu memori, charger mobile, wadah untuk kenyamanan mengetik, dan sebagainya.

- Kenali kemampuannya secara detil. Jangan segan mengekplorasi hal-hal tersembunyi agar kita benar-benar tahu kemampuan perangkat sehingga tidak mudah tergoda untuk berganti ke perangkat yang lebih baru dan otomatis lebih mahal.

Wallahu alam.

Mesin waktu dan mesin uang


Ada setidaknya dua hal yang saya kenali sebagai mesin waktu dalam kehidupan yang belum benar-benar modern ini.

Mesin waktu pertama, sudah pernah saya tulis di sini, adalah Facebook. Mesin buatan Mark Zuckerberg ini mampu membawa para penggunanya ke masa lalu, bertemu dengan teman, kerabat, kolega, pacar, dan lain-lain yang pernah berurusan di masa lalu.

Facebook mampu membawa penggunanya berbelas atau berpuluh tahun ke belakang, menyajikan foto, cerita kenangan, dan sebagainya dari masa lalu.

Ada mesin waktu satu lagi yang baru saya kenali kemarin, yaitu quick count alias hitung cepat.

Hitung cepat yang populer seiring ramainya pemilu, memenuhi hasrat dan kehausan manusia akan pengetahuan mengenai masa depan. Informasi yang resmi mengenai hasil pemilu baru akan diumumkan oleh KPU beberapa pekan ke depan.

Akan tetapi, siapa yang tahan menunggu hasil (paling tidak hasil kasar, gambaran besar) mengenai hasil kerja yang telah menguras begitu banyak tenaga dan kantong itu hingga berpekan-pekan ke depan? Siapa sanggup terus bertanya-tanya tanpa panduan mengenai peta atau konstelasi besar politik nasional?

Hitung cepat menjadi mesin yang memungkinkan penontonya untuk melompat ke depan. Tidak perlu menunggu leletnya KPU untuk tahu gambaran umum.

***
Sayangnya, sebagaimana Facebook juga memiliki banyak kelemahan dalam menghadirkan masa lalu, quick count pun pun punya banyak kelemahan.

Mesin itu sama sekali tidak detil dalam menyajikan informasi hasil pemilu yang rumit. Ya bagaimana mungkin menyederhanakan sebuah proses rumit itu dalam hasil satu pie chart hasil perolehan suara?

Ada juga persamaan penting antara dua mesin waktu itu. Keduanya sama-sama menjadi mesin uang bagi pembuatnya, bagi penyedia layanannya.

Jadinya, mesin waktu, sekaligus mesin uang. Ayo, kita bikin mesin yang lain lagi, hehehe.

Matinya pull mail

Blackberry mengalami peningkatan popularitas yang luar biasa di Indonesia sejak pertengahan 2007. Popularitasnya semakin melonjak sejak kehadiran Bold pada pertengahan 2008. Hingga awal 2009 diperkirakan terdapat hampir 100.000 pengguna Blackberry dan jumlahnya akan melesat dengan cepat sepanjang tahun ini.

Seiring dengan peningkatan pengguna Blackberry, salah satu fitur yang melekat pada perangkat itu, yaitu push mail, ikut menikmati peningkatan popularitas.

Pada Blackberry, pengguna hanya perlu melakukan upaya sangat minimal dalam setting dan mendapatkan layanan yang optimal. Minimal karena tidak perlu setting GPRS, dan setting ruwet lainnya. Para penggguna Yahoomail dan Gmail juga dapat melakukan setting dengan sangat mudah. Adapun layanan optimal yang didapatkan adalah email yang didorong secara cepat, bisa dengan attachment, dan layanan data unlimited.

Adanya push mail membuka banyak peluang baru. Hal-hal yang semula hanya dapat dilakukan secara terbatas dan biaya mahal melalui SMS, kini dapat dilakukan dengan mudah melalui push mail.

Hebatnya lagi, Blackberry menjalin kerja sama dengan Yahoo dan Google sehingga pengguna Yahoomail serta Gmail bisa memanfaatkan layanan push mail dengan usaha yang sangat amat minimal.

***
Satu hal yang sangat mengherankan bagi saya adalah tidak adanya pihak lain yang serius menggarap potensi push email seperti RIM. Seven maupun Ventus memang pada tahap awal perkembangan Blackberry di Indonesia tampak seperti calon pesaing potensial, namun sejauh ini tidak tampak perkembangan yang serius.

Push mail Blackberry adalah layanan yang tertutup di sisi alat akses. Dapat diakses secara optimal hanya dengan handset Blackberry, dan dapat diakses secara terbatas pada handset lain yang menyediakan Blackberry Connect.
Namun push mail Blackberry justru terbuka dari sisi alamat email yang dapat digunakan, melalui dengan kerja sama
dengan Yahoo dan Google itu. Pengguna personal (non korporasi) tentu sangat diuntungkan oleh keterbukaan alamat email ini.


Adapun para pesaing justru terbuka dalam menyediakan alat akses, namun kurang terbuka dalam menyediakan alamat email yang dapat diakses. Biasanya para pesaing ini dapat diakses menggunakan bermacam ponsel cerdas yang tersedia di pasaran.
Namun implementasinya kadang justru tidak semudah dan seterbuka produk RIM. Harus install software dan menggunakan alamat tertentu.

Menarik pula untuk mencermati apakah push mail dianggap sebagai hal yang didambakan pengguna Blackberry atau sekadar dianggap bonus saja bagi pengguna. Kepastian mengenai pandangan para pengguna Blackberry ini mungkin bisa menjawab mengapa para penyedia push mail non-RIM kok tampak kurang serius menggarap pasar dan akibatnya kurang populer.

Wallahu alam.

02 April 2009

Bagaimana aturan iklan SMS

Saya sering menerima iklan dalam bentuk SMS terutama dari operator penyedia jasa telekomunikasi yang saya langgani. XL sering mengirimkan pemberitahuan mengenai produk-produk yang dapat saya gunakan seperti nada sambung pribadi dan lainnya. Telkomsel juga sering mengirimkan pesan, termasuk ketika operator itu mulai memasarkan iPhone 3G.

Sebenarnya bagaimanakah aturan mengenai iklan lewat SMS kepada pelanggan? Apakah mentang-mentang karena kita adalah pelanggan maka mereka berhak begitu saja mengirimkan iklan kepada kita?

Bukankah aturan bagi operator yang kita langgani sama dengan aturan bagi perusahaan lain? Apakah, misalnya, jika perusahaan otomotif menjalin kerja sama dengan operator yang bersangkutan lalu otomatis mereka punya hak untuk mengirim spam kepada pelanggan operator telekomunikasi itu?

Katakankah operator telekomunikasi tidak perlu membayar biaya apa-apa atas SMS itu sehingga bisa dianggap gratis. Tapi, apakah operator telekomunikasi juga membayar pajak atas iklan yang dikirimkannya berupa SMS kepada pelanggan itu? Bukankah kalau pihak lain (bukan operator) yang mengirimkan SMS itu mereka akan membayar pajak juga?

Bagaimana kah aturan main yang sebenarnya? Mohon pencerahan….

01 April 2009

Mencari rasionalitas iPhone 3G


Sasaran pertama yang paling potensial untuk memakai iPhone 3G adalah para pengguna Mac serta iPod (existing). Mereka sudah merasakan 'nikmatnya' memakai produk Apple dan umumnya menjadi fanatik. Masalahnya,berapa banyak jumlahnya saat ini?

***
Salah satu hal paling hangat di jadat gadget Indonesia bulan ini adalah hadirnya iPhone 3G. Telkomsel yang sejak awal tahun mengirimkan SMS kepada para pelanggannya mengenai akan hadirnya produk prestisius dari Apple itu akhirnya mewujudkan janjinya pada pertengahan Maret.

Operator dengan jumlah pengguna lebih dari 50 juta nomor itu menyediakan dua tipe iPhone 3G, yaitu versi 8GB dan versi 16 GB. Ada empat skema pembayaran yang disediakan untuk masing-masing tipe (jadi seluruhnya ada 8 skema). Tiga skema (atau 6 untuk 2 tipe) disediakan bagi pelanggan pascabayar Halo. Adapun satu (atau 2) skema sisanya untuk pengguna prabayar.

Agak rumit untuk menghitung nilai paket bundle beserta berbagai bonusnya. Jadi, yang paling gampang untuk menganalisis adalah menggunakan harga bagi pelanggan prabayar Simpati. Memang ada bonus akses data 500MB (per bulan?) untuk pengguna prabayar. Tapi, setidaknya, harga yang ditetapkan untuk prabayar adalah harga yang paling dekat dengan 'nilai keekonomian' iPhone 3G.

Harga untuk iPhone 3G versi 8GB adalah Rp9,6 juta, sedangkan untuk 16GB sebesar Rp11,2 juta.

***
Barangkali benar bahwa Indonesia pernah menjadi 'surga' bagi sebagian pembuat gadget mahal. Sekian tahun lalu, salah satu tipe Communicator Nokia dipasarkan dengan harga awalan sekitar Rp10 juta dan terbukti laris. Namun sekian bulan kemudian harganya turun menjadi jauh lebih rendah.

Adapun untuk iPhone, saya tidak yakin akan ada penurunan harga signifikan dalam satu tahun ke depan. HTC dan Dopod pernah juga meluncurkan gadget dengan harga sekitar Rp11 juta. Tapi, mini notebook dengan kemampuan teleponi buatan Taiwan itu tidak terdengar mengesankan di pasaran.

Betul sekali bahwa Apple memang berbeda dari produsen gadget lain. Dan iPhone merupakan salah satu master piece yang menyediakan banyak sekali pengalaman mengagumkan bagi penggunanya. Selain gengsi yang sangat tinggi, ada kenikmatan, keindahan dan hal-hal unik yang tidak dapat dinikmati pengguna gadget lain untuk saat ini.

Akan tetapi, bagi para pengguna yang benar-benar fokus mencari fungsi serta mencari alat untuk mendukung pekerjaan, tentu saja fungsi utama yang ada pada iPhone 3G bisa juga diperoleh dengan gadget lain. Bahkan mungkin memang lebih efektif menggunakan gadget lain dalam mendukung pekerjaan.

Bagi saya, harga yang ditetapkan ini sangat tinggi. Tadinya, ketika Telkomsel menyebarkan SMS mengenai pemesanan iPhone 3G saya menduga harga jualnya ada pada kisaran di bawah Rp7 juta supaya benar-benar mampu bersaing dengan produk yang sudah beredar di pasaran seperti Blackberry Bold maupun Nokia E90.

Dengan uang Rp11,2 juta, pengguna sebenarnya bisa mendapatkan dua unit Blackberry 8310, satu hampir satu unit sepeda motor, atau dua buah netbook layar 10 inchi, atau membeli 9 kulkas ukuran kecil, atau 6 mesin cuci, atau 13 unit televisi warna 14 inchi. Bahkan dengan uang sebesar itu,seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri bisa membayar SPP selama satu tahun (mungkin ditambah dengan biaya kos selama beberapa bulan atau bahkan satu tahun).

Bagi saya, sulit sekali mencari alasan rasional untuk memahami bagaimana orang akan berduyun-duyun membeli iPhone 3G. Jadi, sementara ini, saya tidak yakin bahwa iPhone 3G akan mampu berkembang sesukses Communicator sekian tahun lalu atau sesukses Blackberry Bold tahun lalu. Saya belum yakin Indonesia akan menjadi 'surga' berikutnya bagi iPhone. Maaf, saya merasa terlalu bodoh untuk bisa memahami harga jual iPhone 3G di Indonesia.

Wallahu alam. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

PS:
*) Mungkinkah akan muncul skema baru dalam cara penjualan iPhone 3G. Misalnya, operator lain juga menyediakan iPhone 3G dengan skema yang lebih murah, lalu operator lain lagi ikut nimbrung, kemudian harga semakin murah dan iPhone jadi booming? Hal seperti ini pernah terjadi pada Blackberry yang pada awal masuknya juga tampak sangat mahal. Lalu muncul persaingan dan akhirnya harga servicenya menjadi sangat terjangkau dan harga unitnya cukup terjangkau meskipun masih di atas kebanyakan ponsel. Tapi butuh lebih dari 4 tahun bagi Blackberry untuk booming. Bagaimana dengan iPhone?

*) Sasaran pertama yang paling potensial untuk memakai iPhone 3G adalah para pengguna Mac serta iPod (existing). Mereka sudah merasakan 'nikmatnya' memakai produk Apple dan umumnya menjadi fanatik. Masalahnya,berapa banyak jumlahnya saat ini?

*) Para pengguna Blackberry umumnya meninggalkan telepon biasa karena hampir semua fungsi telepon biasa (dan smartphone) sudah dapat ditemukan pada Blackberry. Saya menduga para pengguna iPhone justru mempertahankan ponsel lamanya untuk dipakai pada fungsi-fungsi teleponi tertentu.

Foto: letsgodigital.com

31 Maret 2009

Menunggu charger yang benar-benar universal


Kapan akan muncul charger universal untuk hampir semua gadget? Sampai kapan kita harus rela membawa satu charger untuk ponsel Nokia, satu charger untuk Blackberry, satu chargeer untuk pemutar musik MP3, serta satu lagi (dan besar) untuk notebook atau netbook. Mungkin juga harus membawa charger tambahan untukPDA (jadul), serta kamera (jadul).

***
Ada satu masalah yang cukup mengganggu saya setiap kali harus bepergian keluar kota. Masalah yang sebenarnya sepele, namun bisa sangat mengganggu ketika tertinggal. Benda yang saya maksud adalah charger.

Saya harus menyiapkan satu charger untuk Nokia, satu untuk Blackberry, satu untuk iPaq jadul, serta satu lagi untuk netbook. Beruntung bahwa charger Blackberry bisa saya gunakan untuk mengisi ulang baterai MP4 player. Guna mengatasi sebagian masaah ketika bepergian di lokasi yang rutin dikunjungi (yaitu kantor dan Bandung) saya menyimpan charger cadangan di lokasi-lokasi itu. Dengan demikian saya tidak perlu membebani tas, kecuali dengan charger netbook dan iPaq yang harga cadangannya mahal. Tapi ketika harus bepergian keluar kota selain Bandung, cara itu tidakbisa dilakukan. Semua charger harus dibawa.

Sebenarnya masalah ini bisa sedikit berkurang jika saya menggunakan ponsel Motorola tertentu, bukan Nokia, karena chargernya sama dengan Blackberry. Atau saya gunakan ponsel China yang chargingnya juga lewat slot mini USB.

***
Nah saya berharap para pembuat ponsel dan netbook serta notebook merumuskan standar universal untuk baterai dan charger. Ini saya kira soal sederhana yang akan sangat membantu konsumen.

Sekarang ini, baterai dan charger notebook sangat beragam dan sulit dipertukarkan. Di dunia ponsel halini sudah jauh lebih tertib dan mudah. Entah mengapa para produsen tidak serius memikirkan hal itu.

Dalam kasus notebook atau netbook, membawa charger jauh lebih menguntungkan daripada membawa baterai cadangan yang selain harganya mahal (paling tidak Rp600.000), juga bobotnya hampir sama dengan charger. Lebih enak membawa charger yang kabelnya ditambah sehingga panjangnya bisa mencapai 5 meter. Dan lebih enak lagi kalau charger sekaligus dapat digunakan untuk mengisi ulang ponsel dan sebagainya.

Sebenarnya bisa juga mengoptimalkan notebook sebagai terminal charging untuk mengisi ponsel dan PDA, tapi tetap saja lebih ruwet daripada sebuah charger universal yang benar-benar universal.

Semoga hal ini segera terwujud.

29 Maret 2009

Mencari persamaan Facebook dengan Facestreet

Facebook sedang booming, mewabah, berjangkit di segala penjuru melebihi penyakit menular yang paling berbahaya. Tentu saja Facebook bisa berkembang melampaui penyakit menular sebab, tidak seperti penyakit yang banyak dilawan, Facebook nyaris tidak mengalami perlawanan. Bagi FB, istilah lain Facebook, justru yang didapat adalah dukungan dan publikasi yang begitu luas.

Apa yang paling banyak kita saksikan di Facebook? Tentu saja parade wajah. Sebagian besar orang menampilkan gambar profil berupa foto diri yang dianggapnya paling keren. Sedikit yang lain melengkapi dengan gambar pasangan (suami, istri, pacar) atau anak kesayangan.

Lalu di sebelah foto diri itu ada status yang menggambarkan apa yang dipikirkan, atau apa yang sedang dilakukan, atau apa yang ingin dilakukan, atau apa yang sudah dilakukan oleh orang yang bersangkutan.

Selain status, kita juga bisa bisa menemukan data diri. Kalau kita ingin berkawan, kita bisa add yang bersangkutan baik melalui fitur "Orang yang mungkin Anda kenal" atau berdasarkan rekomendasi teman, atau melalui fasilitas pencarian, atau melihat daftar teman dari teman.

***
Dari dunia maya Facebook kita menengok dunia nyata. Dalam beberapa bulan terakhir ini kita juga melihat di hampir semua sudut jalan ada banyak sekali potret diri, gambar wajah, semacam foto profil orang. Karena mengingatkan saya akan Facebook maka saya sebut itu sebagai Facestreet.

Ada cukup banyak kesamaan antara Facebook dan Facestreet ini. Sama-sama menampilkan foto diri yang telah dipilih tampilan terbaik. Sebagian melengkapi dengan foto orang lain, kadang foto tokoh yang lebih terkenal, kadang foto orang tua, foto suami, atau foto anak.

Di dekat foto itu ada juga "status" yang menunjukkan ringkasan dari pemikiran, atau apa yang dilakukan, apa yang ingin dilakukan, apa yang dijanjikan dan sebagainya. "Status" pada Facestreet ini mirip sekali dengan status pada Facebook.

***
Di Facebook, ada sebagian orang yang ingin mengumpulkan friends sebanyak-banyaknya, baik benar-benar kenal maupun tidak. Ada pula yang selektif karena mengkhawatirkan banyak hal.

Dalam konteks Facestreet, yang dicari memang "friends" sebanyak mungkin. Makin banyak di-add atau diterima friend requestnya, makin beruntunglah dia. Maka banyak yang tidak segan memampang secara gamblang tulisan "silakan add saya", "orang cerdas add saya", dan seterusnya.

Sayangnya mekanisnya untuk add atau accept friend request pada Facestreet sangat terbatas. Harus datang ke TPS pada 9 April. Kalau di Facebook ada verifikasi dengan melihat foto orang yang di-add, maka pada Facestreet nantinya, saat nge-add (atau accept frend request) justru orang-orang tidak bisa melihat foto teman yang bersangkutan. Yang ada hanya nama dan nomor-nomor. Padahal di dunia Facebook, kadangkala kita lupa nama lengkap kawan lama, yang kita ingat hanya wajahnya. Jadi potensi salah add atau salah accept pada sistem Facestreet tampaknya jauh lebih besar daripada Facebook.

***
Bagaimana pun, kita belajar banyak dari sistem Facestreet ini. Walaupun banyak keluhan mengenai tidak kenalnya konstituen terhadap wajah yang muncul di Facestreet, sistem ini jauh lebih maju dari sistem lama. Zaman dulu kita malah sama sekali tidak tahu siapa saja yang sudah menjadi anggota DPR, siapa ketuanya, datangnya dari mana, kapan dipilihnya, fotonya seperti apa, dan seterusnya. Bahkan kita tidak tahu kalaupun rumahnya berdekatan.

Sekarang ada banyak kesempatan untuk "mengenal" kalau memang kita ingin dan mau.

Bagaimana pun ruwetnya, Facestreet tetap jauh lebih baik daripada sistem lama yang tidak ada namanya, sebagaimana Facebook jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan sebelum adanya karya Mark Zuckerberg itu.

Wallahu alam

17 Maret 2009

Communicator merek Karce?


Ketika bongkar-bongkar wadah barang lama, saya menemukan organizer merek Citizen yang saya beli sekitar 8 tahun atau 9 tahun yang lalu. Organizer yang tipis, sangat ringan, memiliki papan ketik qwerty ini benar-benar enak sekali untuk dimasukkan ke saku.
Bentuk dan harganya mirip-mirip dengan kalkulator merek Karce dan kawan-kawan itu. Saya lupa berapa persianya dulu membeli organizer dengan kapasitas memori hanya 32 kB itu.
Perangkat yang dulu terasa begitu penting sebelum era ponsel dan turunnya harga PC itu sekarang menjadi mainan anak saya yang sedang belajar menulis dan mengenal huruf itu.
Saya membayangkan kalau saja para pembuat ponsel bisa membuat ponsel semacam Communicator yang ukurannya tipis sekali, ringan, enak ditenteng seperti organizer Citizen atau kalkulator karce itu, alangkah nyamannya. Apalagi kalau harganya juga termasuk murah seperti organizer ketika itu.

10 Maret 2009

Bersyukur atas adanya Gtalk


Dalam satu bulan terakhir, jumlah kontak Gtalk saya meningkat lebih dari 50 orang. Hampir semuanya teman di kantor.

Gtalk dan sarana chatting lain menjadi alat yang sangat penting bagi saya karena saya dalam satu hari rata-rata harus menghubungi lebih dari 20 orang. Ini adalah sesuatu yang kadangkala dapat dilakukan dengan mudah melalui telepon ke nomor extensi. Akan tetapi lebih mudah lagi jika dilakukan dengan Gtalk.

Sebab, nomor telepon ekstensi dari banyak orang sulit dihapal, harus lihat dulu ke daftar. Belum lagi kalau orangnya berpindah nomor, repot lagi updatenya. Kalau orangnya tidak ditempat, tidak bisa ditinggali pesan. Telepon juga tidak memungkinkan copy paste, padahal banyak hal seringkali perlu fasilitas copy paste mengingat pekerjaan saya berurusan dengan teks.

Saya menggunakan dua akun Gtalk, satu untuk desktop dan satu untuk mobile. Akun mobile memungkinkan saya tetap terhubung setiap saat. Adapun akun desktop memungkinkan penanganan yang lebih mudah. Siapa pun tahu bahwa mengetik dan menangani pekerjaan di meja dengan PC lebih nyaman dibandingkan menangani pekerjaan teks dengan ponsel.

****
Manfaat chatting, sebagaimana jejaring sosial, akan meningkat eksponensial seiring penambahan anggota yang kita kenal.

Ada banyak manfaat dari model komunikasi ini, apalagi jika digabungkan dengan kemampuan untuk mobile (baik dengan Blackberry maupun dengan ponsel biasa), kemampuan menangani voice pada Gtalk, serta murahnya biaya pengiriman pesan.

Teman saya seorang wartawan di Istana Malacanang, Manila, sejak tahun lalu bercerita bahwa dia berkomunikasi dan berkoordinasi dengan redakturnya di kantor dengan cara chatting melalui Eee PC-nya. Sesuatu yang memang sudah seharusnya diterapkan di mana-mana di tengah perkembangan teknologi dan fasilitas pesan instan.

****
Secara pribadi sebenarnya saya lebih suka chatting dengan YM dibandingkan dengan Gtalk. Pengguna YM di Indonesia lebih banyak, jadi peluang untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan di luar kantor lebih besar. Selain itu, sepanjang pengamatan saya, YM pada Blackberry lebih stabil dibandingkan dengan Gtalk. Fasilitas gruping pada YM juga lebih memudahkan dibandingkan Gtalk.

Akan tetapi ada beberapa kendala teknis yang menebabkan pilihan jatuh ke tangan Gtalk. Penyatuan satu komunitas kecil dalam satu platform komunikasi yang sama juga memungkinkan optimalisasi fitur untuk keperluan khusus. Contohnya, ‘status’ dapat digunakan sebagai pengumuman mengingat sebagian besar kontak adalah orang-orang dalam satu komunitas.

Wallahu alam

09 Maret 2009

Dongle Bluetooth yang semakin memudahkan



Saya pertama kali membeli dongle Bluetooth sekitar lima atau enam lalu. Ada dua jenis yang cukup populer waktu itu. Versi pendek, kira-kita panjangnya seukuran jari telunjuk orang dewasa Indonesia. Versi yang agak panjang biasanya berukuran hampir sama akan tetapi dilengkapi dengan antena yang dapat dilipat. Jadi, ketika antena dibuka, ukurannya praktis menjadi lebih panjang.

Seingat saya, waktu itu, dongle Bluetooth tidak otomatis plug and play. Kita perlu menginstall driver melalui CD yang dipaketkan pada perangkat itu.

Pekan lalu saya membeli dongle Bluetooth. Pendorongnya adalah keinginan untuk mencari alternatif cara transfer file/ teks/ gambar dari ponsel ke PC yang paling mudah, murah, dapat diterapkan oleh semua orang, tanpa perlu dukungan teknis yang merepotkan.

Secara pribadi sebenarnya saya sudah tidak mengalami masalah dalam transfer file karena saya memiliki dua gadget yang terhubung ke PC melalui kabel data.

Akan tetapi, karena saya merasa perlu mencoba cara yang paling gampang untuk diterapkan oleh banyak orang dalam mendukung pekerjaannya, dongle Bluetooth masih jadi pilihan.

Kalau kita menyambungkan ponsel ke PC dengan kabel data, konsekuensinya adalah harus install driver (tidak semua pemilik ponsel masih menyimpan atau memiliki CD drivernya). Selain itu, harus ada kabel data (tidak semua ponsel kelas menengah dilengkapi dengan kabel data. Kalau beli yang asli juga mahal).

***
Maka demikianlah, dongle Bluetooth menjadi pilihan. Bentuknya ternyata sekarang sangat kecil. Hanya seujung jari pria dewasa Indonesia, tidak lebih dari dua kali lipat colokan USB. Dongle seharga Rp60.000 ini pun plug and play, tinggal colok langsung bekerja. Tidak perlu install apa-apa. Gampang sekali.

Begitu Bluetooth bekerja maka transfer file antara ponsel dengan PC menjadi sangat mudah. Bagi para wartawan, salah satu masalah yang dihadapi adalah bagaimana memindahkan SMS dalam ponsel ke dalam PC tanpa mengetik ulang.

Karena kebanyakan ponsel kelas menengah sudah dilengkapi Bluetooth, maka cara sambungan semacam ini menjadi pilihan paling gampang. Ketika dua-duanya sudah tersambung dengan Bluetooth, persoalan paling rumit sudah terpecahkan.

***
Masalah berikutnya adalah bagaimana mengubah teks SMS menjadi file teks yang bisa ditransfer. Untuk smartphone tentu saja tidak ada masalah, bisa Select, Copy, lalu Paste di new document atau new note.

Sedikit kerumitan terjadi untuk ponsel non-smartphone. Pada Nokia seri 40, ada menu untuk save message to Calender. Lalu masuk ke kalender dan SMS yang sudah jadi note di sana bisa dikirim lewat Bluetooth.

Pada ponsel Sony Ericsson non-smartphone, pesan yang masuk perlu diforward menjadi SMS baru. Nah ketika sudah menjadi calon SMS baru, ada menu Edit. Dari sana kita bisa Select dan Copy, kemudian Paste di new note. Akan tetapi cara ini tidak bisa digunakan pada ponsel-ponsel model lama seperti Sony Ericsson K700i dan K750i.

23 Februari 2009

Bukan Ki Ageng Sela kok dikirimi petir?

Bogor ini kota petir. Stereotipe itu terbukti sudah membuat saya menjadi korban. Jumat sore, 20 Februari, baru beberapa jam saya berada di rumah di bandung, tiba-tiba ada telepon dari nomor tetangga sebelah.

Saya diberitahu bahwa rumah kena petir. Lampu kamar hangus berantakan, lalu tiga rumah listriknya mati semua. Saya harus segera datang.

Panik benar mendengar kabar ini. Terbayang sudah bagaimana petir dengan tegangan ribuan (atau jutaan) Volt menghantam kabel listrik dan merusak semua yang terhubung dengan kabel. Terbayang juga dahsyatnya kalau sampai tiga rumah rusak semua listriknya. Terbayang juga kalau mengingat nada informasinya sayalah yang dianggap salah karena petir menghantam rumah saya dan menyebabkan kerusakan merembet ke tetangga.

Menelepon ke tetangga yang satu lagi, tidak ada orang dewasa yang bisa ditanya atau dimintai tolong secara jelas. Ya sudah deh, harus balik lagi ke Gunungputri, setelah menelepon PLN Citeureup untuk minta perbaikan.

Padahal saya belum bertemu istri karena dia masih di kantor. Padahal lagi saya masih pengen juga main dengan Sekar apalagi karena minggu lalu libur kami tersita oleh berbagai acara yang harus dikunjungi secara terpisah-pisah.

Begitulah. Di tengah hujan itu saya menuju ke BTC Bandung, mencari travel ke arah UKI. Untunglah sebelum travel berangkat masih sempat bertemu istri barang lima menit di ruang tunggu.

Selama dalam perjalanan saya benar-benar tidak bisa tersenyum sepanjang perjalanan. Saya merasa ini “ujian yang sempurna”. Betapa mungkin timingnya kok pas banget, hari di mana saya baru memulai libur bersama keluarga setelah pekan yang sangat melelahkan. Mengapa waktunya sore sehingga hanya tersedia waktu sangat pendek menuju kegelapan? Mengapa Bandung dan Cipularang juga diguyur hujan yang membuat perjalanan terasa begitu dinginnya.

Bagaimana mungkin rumah saya kena petir? Apakah yang diicar oleh petir di rumahku?

****
Tiba di rumah menjelang jam 11 malam setelah perjalanan dan penantian yang serba basah selama hampir 5 jam. Ternyata listrik di kanan kiri rumah menyala. Masuk rumah saya lihat memang ada lampu yang rusak yang mungkin membuat konslet. Saya lepas lampu yang rusak, nyalakan lagi meteran yang anjlok, sudah deh, hidup lagi.

Jadi bisa dipastikan bahwa ini bukan kena petir, tali listrik anjlok. Yang masih belum saya mengerti bagaimana mungkin lebih dari satu rumah anjlk bersamaan ketika hujan deras dan ada petir keras sekali di dekat sini.


****
Soal petir ini mengingatkan saya akan Ki Ageng Sela atau Selo. (Se-pada sela dibaca seperti se pada sehat. La dibaca seperti pada kata lo-mbok.)

Ki Ageng Sela yang disebut-sebut berkerabat dengan keluarga Karebet Hadiwijaya (Sultan Pajang) dan menurunkan keluarga Panembahan Senopati (Mataram)
Itu konon mampu menangkap petir. Mungkin karena begitu saktinya, atau begitu gesitnya geraknya seperti kilat, atau entah karena apa.

Lha, saya ini bukan Ki Ageng Sela, pasti pusing kalau dikirimi petir, meskipun hanya cuma konon…