18 Januari 2017

Berhentilah Bila Seharusnya Berhenti

Para motivator selalu mengingatkan untuk jangan pernah menyerah. Jangan berhenti, karena (bisa jadi) Anda sudah sangat dekat kepada tujuan. Akan tetapi, Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner justru punya saran sebaliknya. Berhenti dan menyerahlah bila memang seharusnya begitu.

Salah satu meme tentang motivasi jangan menyerah yang sering beredar adalah gambaran mengenai orang menggali terowongan mencari harta karun. Dia sudah bekerja keras, sangat keras, sampai kelelahan. Kemudian dia berhenti karena menganggap gagal, atau tidak bisa sampai tujuan, atau apa pun lah alasannya.

Si penggali terowongan tidak menyadari bahwa jaraknya terhadap apa yang dituju tinggal sejengkal. Sedikit lagi saja, asal dia tidak menyerah, tujuannya pasti tercapai dan dia bahagia mendapatkan harta karun. Demikianlah penyederhanaan mengenai jangan menyerah. (Lihat gambar).


Apakah kenyataan memang seperti itu? Kalau kita lihat dari sisi semangat dan berorientasi hasil, mungkin saja memang dalam segala hal kita tidak boleh berhenti atau menyerah.

Akan tetapi, bila kita sudah berhadapan pada kasus demi kasus, maka kita mesti melihat soal-soal teknisnya dengan detail, baru disimpulkan perlu menyerah atau tidak.

***
Steven Levitt dan Stephen Dubner, pengarang buku best seller Freakonomics dan Super Freakonomics, punya rumusan yang layak disimak soal berhenti atau menyerah ini.

Mereka memaparkannya dalam buku Think Like a Freak. Levitt dan Dubner bahkan menyediakan satu bab tersendiri mengenai Sisi Baik dari Berhenti. Mereka mengidentifikasi tiga hal menyebabkan orang susah untuk berhenti.

Pertama, anggapan bahwa berhenti adalah tanda kegagalan.

Kedua, ada biaya hangus bila seseorang atau sebuah perusahaan berhenti dari sebuah proyek atau pekerjaan yang sedang berjalan. Dia memberikan contoh soal Concorde, pesawat penumpang supersonic yang beroperasi melintasi Samudera Atlantik. Pemerintah Inggris dan Prancis merasa bahwa pengoperasian Concorde tidak ekonomis, akan tetapi proyek ini sudah menghabiskan terlalu banyak biaya. Sayang sekali bila dihentikan. Semacam adagium too big to fail. Perlu keberanian luar biasa untuk menanggung “biaya hangus”.

Ketiga, terlalu banyak orang memberi perhatian kepada biaya konkret dan melupakan “biaya kesempatan”. Ketika seseorang sekolah lagi dengan biaya katakanlah Rp80 juta, dia lebih fokus perhatiannya pada angka 80 juta itu dan sering lupa memperhitungkan kesempatan lain yang bisa diperoleh dengan biaya Rp80 juta ditambah alokasi waktu dan perhatian selama sekian tahun menjalani sekolah.

Biaya konkret mudah dihitung, biaya kesempatan sulit dihitung. “Berhenti itu sulit, sebagian karena hal ini disamakan dengan kegagalan, dan tidak ada yang suka gagal atau terlihat gagal,” begitu mereka menulis.

***
Dalam ilmu Fisika, dikenal pula Hukum Newton mengenai kelembaman. Intinya, benda yang diam cenderung tetap diam, benda bergerak cenderung untuk tetap bergerak. Dalam kenyataan, untuk menghentikan kendaraan yang melaju, kita memerlukan rem.

Rolf Dobelli menyoroti sulitnya berhenti atau menyerah ini dengan cara mengaitkannya dengan sunk cost fallacy atau sesat pikir mengenai biaya yang telah dikeluarkan. Dia menyebut itu dalam bab “Anda Harus Melupakan Masa Lalu” sebagai bagian dari buku “The Art of Thinking Clearly”.

Dia bercerita mengenai upaya-upaya perusahaan maupun perorangan yang telah begitu susah dilakukan dan tidak menunjukkan hasil menggembirakan. Meski demikian, hal itu sulit dihentikan.

Alasan yang sering muncul, kata Dobelli, adalah”
“Kita telah menginvestasikan begitu banyak uang di sini. Jika kita menyerah sekarang, semua akan sia-sia.”
“Saya sudah menghabiskan dua tahun mengikuti kelas ini, apakah harus berhenti?”
“Aku sudah menginvestasikan begitu banyak tenaga dan waktu ke dalam hubungan ini, aku merasa salah bila membuangnya begitu saja.”

Menurut Dobelli, itu semua adalah bias tentang “biaya yang sudah dikeluarkan”. Jika terjebak pada pemikiran seperti itu dan tidak mau berhenti, yang terjadi adalah biaya yang semakin besar lagi.

***
Konon, salah satu tanda kematangan orang bijak adalah tahu kapan harus berhenti. Tidak terus berjalan meski tepuk tangan terus bergemuruh.

Dalam berbisnis maupun dalam kehidupan pribadi, exit strategy itu penting ketika semua opsi lain sudah tertutup. Ini jelas beda dengan escape strategy alias melarikan diri atau kabur dari masalah.

Pengambilan keputusan yang rasional, jelas Dobelli, mengharuskan kita untuk melupakan berapa pun "biaya" yang telah dihabiskan pada masa yang lalu. Berapa pun "biaya" itu, yang lebih perlu diperhatikan adalah analisis mengenai masa depan.

*)Caption: Foto/ilustrasi diambil dari Internet, saya tidak tahu siapa yang membuat.

1 komentar:

Ibu Surthy mengatakan...

Saya ibu surthy tki singapore saya hadir berkomentar di dalam blog ini,cuma ingin menceritakan kisah nyata,sekaligus mau mengucapkan banyak terima kasih kepada Mbah Sero,atas bantuannya semua hutang2 saya sudah pada lunas,nomor togel yang Mbah berikan lansung 4d bocoran singapore,syukur alhamdulillah tembus dapat kemenangan 800.juta,itu dalam bentuk uang indo,kemarin saya sangat bingun karna hutang banyak,syukur sekarang sudah senang tidak memikirkan hutang lagi,saya tidak akan melupakan bantuan Mbah,apa bila saya sudah pulang ke indo saya akan berkunjung kepondok Mbah untuk silatu rahmi,bagi saudarah2 yang lagi terlilit hutang jangan anda putus asa,kalau mau sukses seperti saya silahkan tlpn atau sms Mbah Sero di nomor O82~370~357~999 beliau seorang paranormal yang bisa di percaya,karna sudah memberikan bukti,ingat kesempatan tidak akan datang untuk kedua kali,jadi giliran anda untuk membuktikannya terima kasih..