02 Februari 2010

Managing Your Boss


Ungkapan ‘mengelola atasan’ dalam pengertian tradisional biasa dianggap bernada negatif. Di dalamnya kadang ada konotasi menjilat atau main politik tertentu. Namun John J. Gabbaro dan John P. Kotter memaparkan cara mengelola atasan dalam pengertian yang sama sekali tanpa konotasi negatif.

Berikut ini kutipan bebas dari artikel Managing Your Boss tulisan dua orang itu yang dimuat Harvard Business Review. Edisi Indonesia saya baca melalui terbitan Amara Books suntingan A. Usmara. Dalam buku yang sama ada beberapa artikel yang diambil dari Harvard Business Review.

“Istilah managing your boss digunakan untuk merujuk pada proses bekerja secara sadar dengan atasan untuk mendapatkan hasil yang paling memungkinkan bagi Anda, atasan, serta perusahaan. Aspek ini justru sering diabaikan oleh manajer yang berbakat dan bersemangat. Sebagian manajer secara aktif dan efektif mengawasi bawahan, produk, pasar, dan teknologi, namun bersikap reaktif dan pasif terhadap atasan.

Mengelola atasan menuntut Anda untuk memiliki pemahaman tentang atasan dan konteksnya, seperti halnya situasi Anda sendiri. Seorang manajer melakukan ini pada taraf tertentu, tetapi sebagian tidak cukup menyeluruh.

Pada tingkat minimum, Anda perlu menghargai tujuan dan tekanan antasan Anda, kelebihan serta kekurangannya. Apa tujuan pribadi dan tujuan organisasi atasan Anda, dan apa tekanannya, khususnya tekanan dari atasannya dan orang lain pada tingkat yang sama. Apa kelebihan dan kekurangan atasan Anda? Gaya kerja apa yang disenangi? Apakah atasan Anda senang mendapatkan informasi melalui memo, rapat resmi, atau telepon? Apakah dia suka mengembangkan konflik atau berusaha meminimalkannya?

Tanpa informasi ini, seorang manajer kesulitan ketika berhubungan dengan atasan, sehingga konflik yang tidak perlu, kesalahpahaman, dan masalah menjadi tidak terelakkan.

Manajer yang efektif mencari informasi mengenai berbagai tujuan dan masalah serta tekanan atasan. Mereka siap mengambil kesempatan untuk bertanya kepada atasan dan kepada orang lain di sekitarnya untuk menguji asumsi mereka. Mereka menaruh perhatian pada tanda-tanda dalam perilaku atasan.

Meskipun penting sekali bahwa mereka melakukan hal ini khususnya ketika mereka mulai kerja dengan atasan baru, para manajer yang efektif juga melakukan hal ini terus-menerus. Mereka juga mengakui berbagai prioritas dan pertimbangan berubah.

Peka terhadap gaya kerja atasan menjadi sangat penting, khususnya ketika atasan tersebut baru. Misalnya, seorang presiden baru yang mengorganisir dan formal dalam pendekatannya ditunjuk menggantikan seorang yang bersifat informal dan intuitif. Ini bukan soal kemampuan adaptasi, melainkan kepekaan dalam memahami gaya kerja atasan.

Namun demikian, atasan hanyalah setengah dari hubungan. Setengah lainnya adalah Anda sendiri. Mengembangkan hubungan kerja yang efektif selanjutnya menuntut Anda untuk mengetahui kebutuhan, kelebihan, dan kelemahan, serta gaya pribadi Anda sendiri.”

Tidak ada komentar: