22 Desember 2009

Bekal ke China: gula & tissue


Kalau berkunjung di China, jangan lupa bawa banyak tissue dan gula. Jika perlu bawa pula teh bagi yang gemar teh (serta rokok bagi perokok berat).

Demikianlah kesimpulan saya setelah sepekan menjelajahi beberapa kota di China selatan. Sebenarnya pada 2003 saya sudah pernah ke China selama beberapa hari. Tapi kesan kunjungan ke Shanghai ketika itu tidak seperti kunjungan enam hari pada pecan lalu.

Gula adalah hal penting bagi saya sehingga saya sudah menyiapkan gula dalam kemasan sachet dari Indonesia. Demikian pula dengan teh. Tidak demikian halnya dengan tissue.
Biasanya, hotel-hotel yang bagus menyediakan gula di kamar serta, minimal, di tempat sarapan. Namun pengalaman mengunjungi hotel Days Inn di Shenzhen, White Dolphin di Qinzhou, serta Metro Park di Makau, saya tidak menemukan gula di tempat sarapan.

Satu hotel lainnya, yaitu Mingyuan Xindu (Majestic) di Nanning menyediakan gula di tempat sarapan, namun saya menduga itu dilakukan karena hotel tersebut menjadi tempat menginap utama delegasi dari Asean sehingga mereka menyediakan gula serta makanan-makanan khas Asean di lokasi itu. Dalam keadaan normal saya menduga soal gula akan menjadi masalah yang sama di hotel Majestic itu.

***
Kesulitan yang sama juga terjadi dalam mendapatkan tissue. Bahkan di sejumlah restoran yang cukup besar pun kita akan kesulitan mendapatkan tissue. Setidaknya itu yang saya lihat di Guangzhou, Nanning, Shenzhen, serta Qinzhou. Ini hal yang sangat kontras dengan Indonesia. Kalau sudah begitu, ya kita pakai cara bar-bar saja, menjadikan taplak meja sebagai tissue.

Soal hemat tissue ini tampaknya bisa benar-benar menjadi masalah serius, terutama di toilet. Di hotel-hotel besar tissue toilet mungkin tidak menjadi persoalan. Akan tetapi kalau kita harus menempuh banyak perjalanan darat selama berjam-jam, mampir ke toilet-toilet umum, maka itu bisa menjadi masalah serius.

Agaknya orang-orang di sana benar-benar jorok. Air di toilet pun sangat amat minimnya. Benar-benar kacau.

Adapun soal rokok, saya justru setuju dengan gaya China. Rokok di kaki lima di berbagai lokasi di China itu sangat mahal. Ada yang dijual sampai 60 yuan (hampir Rp100.000). sedikit saja yang dijual di bawah 30 yuan (Rp45.000).

Mungkin itu sebabnya jumlah perokok di China tidak sebanyak di Indonesia. Lha gaji mereka tidak lebih baik daripada gaji orang Jakarta sementara harga rokoknya mahal banget. Mana mungkin mereka menghambur-hamburkan uang untuk merokok.