01 Desember 2009

Gadget jadul tetap powerful


Jadul adalah singkatan dari jaman dulu. Ini akronim yang biasa dipakai anak gaul untuk menyebut produk atau fenomena yang ketinggalan zaman. Kadangkala anak-anak baru gede menuliskannya sebagai zadoel.

Gadget merupakan produk teknologi informasi yang memiliki siklus hidup relatif singkat sehingga cepat menyandang sebutan jadul.

Sebagai contoh, produk BlackBerry buatan Research In Motion dalam dua tahun terakhir mengalami siklus produk cepat sekali. Siklus yang cepat ditandai dengan penyediaan produk baru serta kejatuhan harga produk lama. Produk yang tersisih segera menjadi jadul.

Hingga pertengahan 2008, harga jual BlackBerry 8320, 8310, serta 8820 dan 8707v masih di atas rp6 juta. Ketika itu, pilihan bagi konsumen juga tidak banyak.

Setelah kehadiran BlackBerry Bold, harga jual produk di atas turun drastis. Harganya semakin tertekan setelah keluar produk Javelin yang kemudian diikuti dengan Gemini serta Onyx.

Sekarang, kita bisa mendapatkan harga untuk produk di atas pada kisaran harga di bawah rp3 juta untuk baru (meskipun sulit dan harus lewat distributor) serta di bawah rp2 juta untuk produk bekas.

Fungsi utamanya sebagai alat akses push e-mail, BBM, pesan instan, jejaring sosial, browser relatif sama saja dengan produk baru. Bagi mereka yang mengutamakan fungsi, saatnya untuk membeli BlackBerry edisi 2008 itu. Fungsinya dapat, sedangkan harga hanya setengah atau bahkan sepertiga dari model baru. Hanya saja, gensi serta beberapa fitur tambahan tidak bisa diperoleh.

Sejauh pengalaman dan pengamatan, alat-alat yang terkesan jadul itu juga masih sangat fungsional.

***Netbook
Contoh lain adalah netbook. Dalam satu tahun terakhir ini ada belasan tipe netbook yang diusung dengan belasan merek. Sebagian tergolong branded, sebagian lagi merupakan merek baru yang bermunculan dengan memanfaatkan popularitas produk notebook kecil nan murah itu.

Harga netbook baru masih bertengger di atas rp4 juta untuk branded dan di atas rp3 juta untuk merek yang kurang ternama. Harga ini relatif sama dengan harga waktu netbook pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2007. Waktu itu harga Eee PC 2GB masih di atas rp3 juta dengan layar 7 inci dan sistem operasi Linux Xandros.

Sekarang, kendati harganya sama, fitur yang diusung oleh netbook jauh lebih hebat. Layar lebih lebar, memori lebih besar, prosesor lebih cepat.
Apakah itu berarti sudah waktunya pemilik netbook generasi pertama untuk berganti ke netbook generasi mutakhir? Kesimpulan saya sejauh ini ternyata tidak perlu ganti.

Memang ada godaan besar sekali untuk berganti netbook. Akan tetapi, kalau benar-benar dikaji secara seksama, jika keperluannya hanya untuk mengolah kata atau mengisi waktu kosong di perjalanan, netbook generasi pertama masih memadai. Saya bahkan masih menggunakan netbook Asus versi 2GB dan sejauh ini baik-baik saja.

Produk jadul seringkali ketinggalan zaman, tapi masih banyak cara untuk mengoptimalkannya. Saya bahkan mengetik tulisan ini menggunakan produk sangat jadul, PDA iPaq 4355 yang pernah dipilih sebagai best product oleh PC Magazine pada 2004. Siapa takut mengoptimalkan produk jadul.

Gambar: iPaq 4350

Tidak ada komentar: